Anda di halaman 1dari 17

PERTUSIS 2013

BAB I PENDAHULUAN

Pertusis merupakan batuk yang sangat berat atau batuk yang intensif. Umumnya pertusis menyerang setiap orang yang rentan seperti anak yang belum diimunisasi atau orang dewasa dengan kekebalan yang menurun. Disebut juga whooping cough oleh karena penyakit ini ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodic dan paroksismal disertai nada yang meninggi, karena pasien berupaya keras untuk menarik nafas sehingga pada akhir batuk sering disertai bunyi yang khas. Uraian pertama epidemic penyakit ini ditulis pada tahun 157 penyebab baru diketahui pada tahun 1"# disebabkan kuman $ordetella pertusis. Pertusis masih merupakan penyebab terbesar kesakitan dan kematian pada anak, terutama dinegara berkembang. &'( memperkirakan lebih kurang )##.### kematian disebabkan pertusis setiap tahunnya terutama pada bayi yang tidak diimunisasi. Dengan kemajuan perkembangan antibiotik dan program imunisasi maka mortalitas dan morbiditas penyakit ini mulai menurun.*1,+,,,-. di Paris. !uman oleh $ordet dan %engou dimana pertusis

BAB II
SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A Page !

PERTUSIS 2013
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pertusis adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang ditandai dengan batuk hebat disebabkan oleh Bordetella pertusis. Pertusis disebut juga whooping cough, tussis /uinta, 0iolent cough. *1,+,,,-,5,),7. 2.2 Etiologi Bordetella pertusis adalah termasuk kokobasilus, bakteri %ram negati0e, kecil, o0oid, ukuran panjang #,511um dan diameter #,+1#,, um, tidak bergerak, tidak berspora dan ditemukan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring dan ditanamkan pada media agar $ordet1%engou. !uman B.pertusis dapat mati dengan pemanasan pada suhu 5##2 selama setengah jam, tetapi bertahan pada suhu rendah *#11#o2. %enus $ordetela mempunyai spesies yaitu B.pertusis, B.parapertusis, B.bronkiseptika, dan B.avium. Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis dan perlu dibedakan dengan sindrom pertusis yang disebabkan oleh Bordetella parapertusis dan adeno0irus. Dengan pewarnaan koloid biru, dapat terlihat granula bipolar metakromatik dan mempunyai kapsul. Untuk melakukan biakan B.pertusis, diperlukan suatu media pembenihan yang disebut bordet gengou *potato1blood1glycerol agar. yang ditambah penisilin % #,5ug3ml untuk menghambat pertumbuhan organisme lain*1,+,,,-,5,),7, ,". 2.3 Epidemiologi Pertusis merupakan salah satu penyakit yang paling menular yang dapat menimbulkan attack rate #11##4 pada penduduk yang rentan. 5ampai saat ini manusia merupakan satu1 satunya tuan rumah. Pertusis dapat ditularkan melalui udara secara kontak langsung yang berasal dari droplet penderita selama batuk. Pertusis adalah penyakit endemik.Penyebaran penyakit ini terdapat diseluruh udara, dapat menyerang semua golongan umur, yang terbanyak adalah anak umur dibawah 1 tahun. 6akin muda usianya makin berbahaya penyakitnya, lebih sering menyerang anak usia 7 ) bulan, termasuk bayi yang berumur , bulan. !urang lebih -54 penyakit terjadi pada usia 7 1 tahun dan ))4 7 5 tahun. !ematian dan jumlah kasus yang dirawat tertinggi terjadi pada usia ) bulan pertama kehidupan.
SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page "

PERTUSIS 2013
8ntibodi dari ibu *transplansental. selama kehamilan, tidaklah cukup untuk mencegah bayi baru lahir terhadap pertusis. Pertusis yang berat pada neonatus dapat ditemukan dari ibu dengan gejala pertusis ringan. *1,+,,,-,5. 2. P!tofisiologi Bordetella pertusis setelah ditularkan melalui sekresi udara pernafasan kemudian melekat pada silia epitel saluran pernafasan. $asil biasanya bersarang pada silia epitel thorak mukosa, menimbulkan eksudasi yang muko purulen, lesi berupa nekrosis bagian basal dan tengah epitel torak, disertai infiltrate netrofil dan makrofag.6ekanisme patogenesis infeksi oleh B. pertussis terjadi melalui - tingkatan yaitu 1 1 1 1 perlengketan perlawanan terhadap mekanisme pertahanan pejamu kerusakan lokal akhirnya timbul penyakit sistemik.

9ilamentous hemaglutinin *9'8.,pertusis to:in *P;. dan protein )"1!d berperan dalam perlekatan $.pertusis pada silia. 5etelah terjadi perleketan $.pertusis, kemudian bermultiplikasi dan menyebar ke seluruh permukaan epitel saluran pernafasan. Proses ini tidak in0asi0e, oleh karena itu pada pertusis tidak terjadi bakteremia. 5elama pertumbuhan $.pertusis, maka akan menghasilakan toksin yang akan menyebabkan penyakit yang kita kenal whooping cough. ;oksin pertusis mempunyai + sub unit yaitu 8 dan $. ;oksin sub unit $ selanjutnya berikatan dengan reseptor sel target, kemudian menghasilkan sel unit 8 yang aktif pada daerah akti0asi en<im membrane sel. =fek toksin pertusis menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke daerah infeksi. ;o:in mediated adenosine disphosphate *8DP. mempunyai efek mengatur sintesis protein di dalam membrane sitoplasma, berakibat terjadi perubahan fungsi fisiologis dari sel target termasuk limfosit *menjadi lemah dan mati., meningkatkan pengeluaran histamine dan serotonin, efek memblokir beta adrenergic dan meningkatjkan akti0itas insulin, sehingga akan menurunkan konsentrasi gula darah. *1,+,,,-,5,). ;oksin menyebabkan peradangan ringan disertai hiperplasia jaringan limfoid peribronkial sehingga meningkatkan jumlah mucus pada permukaan silia yang berakibat fungsi silia sebagai pembersih akan terganggu akibatnya akan mudah terjadi infeksi sekunder oleh sterptococos pneumonia, ' influen<ae, staphylococos aureus.

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page #

PERTUSIS 2013
Penumpukan mucus akan menyebabkan plug yang kemudian menjadi obstruksi dan kolaps paru. 'ipoksemia dan sianosis dapat terjadi oleh karena gangguan pertukaran oksigen saat 0entilasi dan menimbulkan apneu saat batuk. >endir yang terbentuk dapat menyumbat bronkus kecil sehingga dapat menimbulkan emfisema dan atelektasis. =ksudasi dapat pula sampai ke al0eolus dan menimbulkan infeksi sekunder, kelaina paru itu dapat menimbulkan bronkiektasis. *1,+,,,-,5,),7, ,". Dermonecrotic to:in adalah heat labile cystoplasmic to:in menyebabkan kontraksi otot polos pembuluh darah dinding trakea sehingga iskemia dan nekrosis trakea. 5itotoksin bersifat menghambat sintesis D?8 menyebabkan siliostatis dan diakhiri kematian sel. Komponen to"sin Pe%t&sis to'in (PT) A"tifit!s #iologi$ 6emproduksi eksotoksin sensitasi histamin Pe%!n !nti#odi 6encegah kerusakan napas intraserebral *il!mento&s +em!ggl&tinin (*HA) 6emegang peran untuk saluran dan pada

binatang percobaan melekatnya 6encegah kerusakan berperan intraserebral pada binatang percobaan berhubungan 6emicu pencegahan infeksi pada saluran napas saluran napas tetapi tidak

$.pertusis pada sel epitel saluran napas

Pe%t!$tine ,- "D! ?ofimbrial ./P

agglutinogen,

dengan adenilsiklase

Agl&tinogen

oleh $.pertusis 5urface antigen berhubungan dengan fimbriae 6emicu untuk melekatnya $. pertusis pada sel epitel pencegahan infeksi pada saluran napas

Aden0l$0$l!se T%!$+e!l $0toto'in

oleh $.pertusis 6enghambat fungsi fagosistosis $elum diketahui 6enyebabkanciliary stasis dan cytopathic $elum diketahui effect pada mukosa trakea

2.1 2e3!l! Klinis


SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A Page $

PERTUSIS 2013
6asa inkubasi pertusis )1+# hari, rata1rata 7 hari, sedangkan perjalanan penyakit ini berlangsung antara )1 minggu atau lebih. Perjalanan klinis penyakit ini dapat berlangsung dalam , stadium, yaitu stadium kataralis, stadium paroksimal3spasmodic, dan stadium kon0alesens. %ejala klinis tergantung dari etiologi spesifik, umur dan status imunisasi. %ejala pada anak yang berumur 7 + tahun yaitu batuk paroksismal *1##4., whoops *)#17#4., emesis *))1 #4., dispnea *7#1 #4. dan kejang *+#1+54.. Pada anak yang lebih besar manifestasi klinis tersebut lebih ringan dan lama sakit lebih pendek. !ejang jarang pada anak @ + tahun. 5uhu jarang @ , ,- o 2 padan semua golongan umur. Penyakit yang disebabkan $.parapertussis atau $. bronkiseptika lebih ringan daripada $.pertusis dan juga lama sakit lebih pendek. !etiga stadium pertusis di uraikan dibawah ini A 5tadium kataralis A selama 11+ minggu, ditandai dengan adanya batuk1batuk ringan, terutama pada malam hari, pilek, serak, anoreksia, dan demam ringan. 5tadium ini menyerupai influen<a. 5tadium spasmodik A selama +1- minggu. $atuk semakin berat sehingga pasien gelisah dengan muka merah, mata menonjol,lakrimasi, sali0asi,dan sianosis. $atuk terjadi paroksismal berupa batuk1batuk khas. 5erangan batuk panjang dan tidak ada inspirasi diantaranya dan diakhiri dengan whoop *tarikan nafas panjang dan dalam berbunyi melengking.. 5ering diakhiri muntah disertai sputum kental. 6untah sesudah batuk paroksisimal cukup khas, sehingga seringkali terjadi menjadi tanda kecurigaan pada anak apakah anak mederita pertusis walaupun tidak disertai bunyi whoop. 8nak menjadi apatis dan berat badan menurun.8nak1anak dapat sampai terberak1berak dan terkencing1kencing. 8kibat tekanan saat batuk dapat terjadi perdarahan subkonjungti0a dan epistaksis. ;ampak berkeringat, dilatasi pembuluh darah leher dan muka 5tadium kon0alesens selama + minggu. Bumlah dan beratnya serangan batuk berkurang, muntah berkurang, dan nafsu makan timbul kembali. Pada beberapa pasien akan timbul serangan batuk paroksisimal kembali. =pisode ini terjadi berulang1ulang. *1,+,,,-,5,),7, ,". 2., Di!gnosis

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page %

PERTUSIS 2013
Diagnosis ditegakan berdasarkan atas anamnesa , pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboraturium. An!mnes! Pada anamnesis penting ditanyakanA 1 1 1 1 adakah serangan batuk mula mula timbul pada malam hari tidak mereda malahan meningkat menjadi siang dan malam adakah batuk yang khas seperti batuk paroksismal riwayat kontak dengan penderita pertusis riwayat imunisasinya lengkap atau tidak

Peme%i"s!!n fisi" ;ergantung dari stadium saat pasien diperiksa Peme%i"s!!n pen&n3!ng Pemeriksaan >abotorium >eukositosis * 15.###11##.###3mm,. >imfositosis absolut Didapatkan antibodinya *Cg% terhadap toksin pertusis. Pemeriksaan bilasan nasofaring, diagnosis pasti ditemukannya organisme Bordetella pertusis *bahan media $ordet1%engou. Pemeriksaan 9oto ;oraks, dapat ditemukan A 8telektasis Cnfiltrat perihiler =mpiema

Diagnosis dapat dibuat dengan memperhatikan batuk yang khas bila penderita datang pada stadium spasmodik, sedang pada stadium kataralis sukar dibuat diagnosis karena menyerupai common cold. 2.4 Di!gnosis B!nding(1535 ) ;uberkulosis
*1,+,,,-.

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page &

PERTUSIS 2013
8sma Pneumonia Cnterstisialis Cnfeksi $ordetella parapertusis, $ordetella bronchispetica, dan adeno0irus $ronkiektasis Pneumothora: $enda asing

Di!gnosis #!nding #!t&" "%oni" 6 DIA2N.SIS T&#e%"olosis 2EJALA Diwayat kntak dengan pasie ;$ dewasa Uji tuberkulin positif *E 1# mm, pada keadaan imunosupresi E5 mm. ' ' ' ' Asm! ' ' ' ' Bend! !sing ' ' ' Pe%t&sis ' ' ' ' HI7 ' ' ' ' ' $erat badan meurun atau gagal tumbuh Demam E +minggu tanpa sebab yang jelas Pembengkakan kelenja limfe leher, aksila, inguinal yang spesisfik Pembengkakan tulang dan sendi punggung, panggl, lutut, falang ;idak ada nafsu makan dan keringat malam Diwayat whe<ing berulang, kadang tidak berhubungan dengan batuk dan pilek 'iperinflasi dinding dada =kspirasi memanjang Despon baik terhadap bronodilator Diwayat tiba1tiba tersedak 5tridor atau distress pernapasan tiba1tiba &hee<e atau suara pernapasan menurun yang bersifat fokal $atuk paroksisimal yang diikuti dengan whoop, muntah, sianosis dan apnu $isa tanpa demam $elum imunisasi DP; atau imunisasi DP; tidak legkap !linis baik diantara episode batuk Diketahui atau diduga infeksi 'CF pada Cbu Diwayat transfusi darah %agal tumbh (ral thrush

' '

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page (

PERTUSIS 2013
' ' ' ' B%on"ie"t!sis ' ' ' ' A#ses p!%& ' ' ' ' 2.8 Pengo#!t!n 8ntibiotika 1. =ritromisin dengan dosis ,# 15# mg3kgbb3hari dibagi dalam - dosis. (bat ini dapat menghilangkan Bordetella pertusis dari nasofaring dalam +17 hari * rata rata ,1- hari. dengan demikian memperpendek kemungkinan penyebaran infeksi. Parotitis kronis infeksi kulit akibat herpes <oster *riwayat atau sedang menderita. limfadenopai generalisata demam lama diare persisten riwayat tuberkulosis atau aspirasi benda asinga" Glgf tidak ada eaikan berat badan sputum purulen, napas bau jari tabuh suara pernapasan mnurun didaerah abses tidak ada kenaikan berat badan3 anak tampak sakit kronis pada foto dada tampak kista atau lesi berongga

+. 8mpisilin

dengan

dosis

1##

mg3kgbb3hari,

dibagi

dalam

dosis.

,. >ain lain A ro0amisin, kotrimoksa<ol, kloramfenikol dan tetrasiklin. Cmunoglobulin $elum ada penyesuaian pendapat mengenai pemberian immunoglobulin pada stadium kataralis. =kspektorans dan mukolitik !odein diberikan bila terdapat batuk batuk yang hebat sekali >uminal sebagai sedati0e. (ksigen bila terjadi distress pernapasan baik akut maupun kronik.
SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A Page )

PERTUSIS 2013
;erapi suportif A atasi dehidrasi, berikan nutrisi $etametasol dan salbutamol untuk mencegah obstruksi bronkus, mengurangi batuk paroksimal, mengurangi lama whoop *-. 2.- Kompli"!si !omplikasi utama adalah apnea, infeksi sekunder *seperti otitis media dan pneumonia., dan sekuele fisik batuk kuat. Demam, takipnea atau distress pernafasan antara paroksismal, dan neutrofilia absolut merupakan kunci terhadap pneumonia. $ronkietaksis dilaporkan jarang pascapertusis. !elainan fungsi paru mungkin menetap selama 1+ bulan pascapertusis tidak berkomplikasi pada anak sebelum berumur + tahun. !enaikan tekanan intratoraks dan intraabdomen selama batuk dapat menyebabkan perdarahan konjungti0a dan sclera, ptekie pada tubuh bagian atas, epistaksis, perdarahan pada sistem saraf sentral dan retina, pneumotoraks dan emfisema subkutan, dan hernia umbilikalisserta inguinalis, luka robek frenulum lidah tidak jarang. Prolaps rectum, pernah dilaporkan sebagai komplikasi pertusis yang la<im, mungkin karena pertusis pada anak malnutrisi atau salah didiagnosis dengan kistik fibrosis. ;erjadi tetani di sertai alkalosis pasca batuk yang berat. !elainan system saraf sentral terjadi relati0e sangat sering dan hamper selalu akibat hipoksemia atau perdarahan akibat batuk atau apnea pada bayi muda. 8pnea atau bradikardi atau keduanya dapat terjadi akibat laryngospasme atau rangsangan 0agus tepat sebelum episode batuk, dari obstruksi selama episode, atau dari hipoksemia pasca1episode. !ejang1 kejang biasanya disebabkan oleh hipoksemia.*1.

2.19 Pen$eg!+!n
SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A Page *

PERTUSIS 2013
2ara terbaik untuk mengontrol penyakit ini adalah dengan imunisasi. $anyak laporan mengemukakan bahwa terdapat penurunan angka kejadian pertusis dengan pelaksanaan program imunisasi. Pada tahun 1"+)11",# *era sebelum imunisasi. di amerika serikat dan inggris terdapat sebanyak ,).#1, kematian yang disebabkan pertusis dan setelah era imunisasi berjalan terdapat +) kematian disebabkan pertusis *1" )11" .. 6elalui program pengembangan imunisasi *PPC. indonesia telah melaksanakan imunisasi pertusis dengan 0aksin DP;.pencegahan dapat dilakukan melalui imunisasi pasif dan aktif. 1. Cmunisasi pasif Dalam imunisasi pasif dapat diberikan human hyperimmune globulin. ;ernyata berdasarkan beberapa penelitian di klinik terbukti tidak efektif sehingga akhir1akhir ini human hyperimmune globulin tidak lagi di berikan untuk pencegahan. +. Cmunisasi aktif Diberikan 0aksin pertusis dari kuman $. Pertusis yang telah dimatikan untuk medapatkan kekebalan aktif. Cmunisasi pertusis diberikan bersama1sama dengan 0aksin difteria dan tatanus. Dosis imunisasi dasar dianjurkan 1+CU. Dan diberikan tiga kali sejak umur+ blan, dengan jarak minggu. Bika pre0alensi pertusis di dalam masyarakat tinggi, imunisasi dapat dimulai pada umur + minggu dengan jarak minggu. 8nak berumur @ 7 tahun tidak lag memerukan munisasi rutin. 'asil imunisas pertusis tidak rmaen leh karena proteksi menurun selama adolesens. &alaupun demikian infeksi pada pasien yang lebih besar biasanya ringan hanya merupakan sumber infeksi $.pertusis pada bayi non imun. Faksin pertusis mono0alen *#,+5.i.m. telah dipakai untuk mengontrol epidemi diantara orang dewasa yang terpapar. 5alah satu efek sampig setela imunisasi pertusis adalah demam. Untuk mengurani terjadinya kejang demam dapat diberikan anti kon0ulsan setiap -1) jam untuk selama - 17+ jam. 8nak dengan kelainan neurologik yang mempunyai riwayat kejang 7,+: lebih mudah terjadi kejang setelah imunisasi DP; dan mempunyai kesempatan -,5: lebih tinggi bila hanya mempunyai riwayat kejang dalam keluarga. 6aka pada keadaan ni hendaknya tidak diberikan imunisasi pertusis, jadi hanya diberikan imunisasi D;. !ontra indikasi pemberian 0aksin pertusis yaitu anak yang ensefalopati dalam 7 hari sebelum imunisasi, enangis lebih dar , jam, high pitch cry dalam + hari, kolaps atau
SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page !+

PERTUSIS 2013
hipotensif hioresponsif dalam + hari, suhu yang tidak dapat diterangkan @-#,5 o2 dalam + hari. =ritomisn efektif untupencegahan pertusis pada bayi baru lahir dari ibu degan pertusis. !ontak erat pada anak usia 7 7 tahun yang sebelumnya telah diberikan imunisasi hendaknya diberi booster. $ooster tidak perlu diberikan bila telah diberikan imunisasi dalam waktu ) bulan terakhir, juga diberikan eritromisin 5#mg3kg$$3+- jam dalam +1 - dosis selama 1- hari. !ontak erat pada usia @ 7 tahun juga perlu diberikan eitromisin sebagai profilaksis. Pengobatan eritromisin awal beguna untukmengurangi penyebaran infeksi dan megurangi gejala penyakit. 5eseorang yang kontak dengan pasien tetapi belum pernah diberi imunisasi hendaknya diberi eritromisn selama 1- hari setelah kontak diputuskan. Bika kontak tidak dapat diputuskan hendaknya eritromisin diberikan sampai pasien berhenti batuk atau setelah pasien mendapat eritromisin selama 7 hari. Faksin pertusis mono0alen dan eritomisin diberikan pada waktu epidemi. *1,+,,,-,5.

2.11 P%ognos! ;ergantung usia, anak yang lebih tua mempunyai prognosis lebih baik.Prognosis juga tergantung ada tidaknya komplikasi terutama komplikasi paru dan saraf pada bayi dan anak kecil. *1,+,,.

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page !!

PERTUSIS 2013
STATUS PASIEN ANAK

I.

ANA/NESIS P:IBADI ?ama Umur Benis !elamin 8gama 8lamat ;anggal 6asuk $erat $adan 6asuk ;inggi $adan 6asuk A 9adia 6elinda A tahun 5 bulan A perempuan A Cslam A Balan $. 'amid %g. ;apika ?auli A 1+ Desember +#1+ A -# kg A 1,,,5 cm

II.

ANA/NESIS .:AN2 TUA Kete%!ng!n ?ama Umur 8gama 5uku Perkawinan Pendidikan Pekerjaan Diwayat Penyakit 8lamat A0!+ P. %ultom -# tahun Cslam $atak 1 ;amat 5>;8 &iraswasta H I#& 5umarni 5itompul -# tahun Cslam $atak 1 ;amat 5>;8 Cbu Dumah ;angga 1

Balan $. 'amid %g. ;apika ?auli

III.

:I;A<AT KELAHI:AN ;anggal lahir Benis persalinan A ++ Buli +##A 5eksio sesarea
Page !"

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

PERTUSIS 2013
Usia kehamilan ;empat lahir Ditolong $$ lahir Panjang $$ lahir I7. PE:KE/BAN2AN *ISIK saat lahir A menangis kuat dan bergerak aktif #1, bulan A sudah dapat mengikuti objek dengan mata, mengangkat kepala dan telungkup ,1) bulan A sudah bisa duduk dengan dibantu )1" bulan A sudah bisa duduk sendiri, mengangkat dan berdiri dengan dibantu "11+ bulan A sudah bisa berjalan sendiri 1 tahun1sekarang A sudah dapat mengikuti perintah dan bersosialisasi dengan baik A 2ukup bulan A Dumah sakit A Dokter A ,,## gram A -1 cm

7.

ANA/NESE /AKANAN saat lahir 1 ) bulan ) 1 " bulan 1# 1 1+ bulan 1 tahun 1 sekarang A 85C ekslusif A 85C I 5usu formula A 5usu formula I $ubur tim A 5usu formula I nasi biasa I lauk pauk

7I.

:I;A<AT I/UNISASI $2% DP; Polio 2ampak 'epatitis $ !esan A 1: A1 A +: A 1: A +: A Cmunisasi dasar tidak lengkap

7II.

:I;A<AT BE:SAUDA:A (s adalah anak tunggal

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page !#

PERTUSIS 2013

7III. ANA/NESA PEN<AKIT !eluhan utama ;elaah A 5esak nafas dialami os sejak , minggu yang lalu, 5esak nafas semakin memberat + hari terakhir terutama bila os batuk pada malam hari. 5esak nafas timbul biasanya diawali batuk terlebih dahulu. $atuk dialami os sejak , minggu yang lalu,batuk berdahak, batuk sangat mengganggu akti0itas, batuk sering berulang dan lama sampai os terkencing1kencing dan bibir os berwarna kebiruan 6untah dialami os sejak , minggu yang lalu, muntah terjadi setelah os batuk1batuk panjang Pada kedua mata os tampak kemerahan sejak + minggu yang lalu, ini terjadi setelah os mengalami batuk1batuk. Demam *1. $8$ *I. normal. $8! *I. sering, mengikuti batuk A 5esak nafas

DP; DP(

A os adalah penderita asma sejak os berumur , tahun A obat asma dari dokter yang os tidak tahu nama obatnya

=I. PE/E:IKSAAN *ISIK 1. St!t&s p%esens 5ensorium !U3!P3!% A 2omposmentis A sedang3sedang3baik 8nemis Ckterik =dema 5ianosis Dispnea A1 A1 A1 A1 AI

;ekanan darahA 11#3 # mm'g 9rek.jantung A 11":3menit 9rek.nafas $$ masuk 2. St!t&s lo"!lis!t!
SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

A -":3menit A -#kg

;emperature A ,7,#o 2

Page !$

PERTUSIS 2013
!epala 6ata A D2 *I3I., pupil isokor *I3I., conj. palp. Cnf.pucat *131., konjungti0a bulbi merah (D5. !esan A subconjungti0a bleeding 'idung ;elinga 6ulut A dalam batas normal A dalam batas normal A dalam batas normal

>eher

A pembesaran !%$ *1.

;hora: Cnspeksi Palpasi Perkusi 8uskultasi A simetris fusiformis, retraksi *1. A 59 !ananJ!iri A sonor pada kedua lapangan paru A suara pernafasan A bronkial 'D J 11":3menit, reguler, desah *1. DD J -":3menit, reguler, ronki *I., pada kedua lapangan paru 5uara tambahan A ronki *I., pada kedua lapangan paru 8bdomen Cnspeksi Palpasi Perkusi 8uskultasi A simetris A soepel, '3> tidak teraba A timpani A peristaltik usus *I. normal

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page !%

PERTUSIS 2013
=ktremitas 8tas Pols 11":3i, regular, ;3F cukup,akral hangat,2D;7,K $awah 8kral hangat

%enitalia A L, tidak ada kelainan, anus *I. normal

3. Peme%i"s!!nL!#o%!to%i&m (13 Desem#e% 2912) D!%!+ %&tin 'b >eukosit 'ematokrit ;rombosit 62F 62' 62'2 >=D A 15,7 gr3dl A 1#.,## 3mm, A -), 4 A ++7.### 3mm, A "# f> A ,#,, pg A ,,,) d> A 1, mm3jam >imfosit ?eutrofil 6onosit =osinofil $asofil A -,," 4 A -#,-4 A 1#,54 A ,, 4 A1,-4

=.

DI**E:ENSIAL DIA2N.SIS Pertusis I subkonjungti0a bleeding ods ;$ Paru I subkonjungti0a bleeding ods 2ommon 2old I subkonjungti0a bleeding ods

=I.

DIA2N.SA KE:JA Pertusis I subkonjungti0a bleeding ods

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page !&

PERTUSIS 2013

=II.

THE:AP< (+ ?asal kanul 1 >3menit CF9D D54 ?a2l #,-54 +) gtt3i mikro Cnj. 2efota:im 1 gr31+ jam CF*5;. Cnj. %entamycin +# mg31+ jam CF*5;. =rytromycin -:-## mg *pul0. Paracetamol , : 5## mg *!3P. 8mbro:ol 5yr ,: 2th C 2. Polyned =D -: 2th C (D5 2. 8stenof =D ,: 2th C (D5 Diet 6$ 1"## kkal dengan # gr protein

=III. USUL 2ek darah rutin, elektrolit 9oto ;hora: posisi P8 6antou: test

=I7. P:.2N.SIS $aik

SMF ILMU KESEHATAN ANAK PEMBIMBING: dr. Hj. Feraluna Nasution, S .A

Page !(