Anda di halaman 1dari 9

REVALUASI AKTIVA TETAP

Revaluasi aktiva tetap dapat digunakan sebagai sarana bagi pemerintah atau Direktorat Jenderal Pajak untuk meningkatkan penerimaan negara yang berasal dari Pajak Penghasilan Badan, sedangkan bagi wajib pajak sendiri penilaian kembali aktiva dapat dijadikan sebagai sarana untuk melakukan perencanaan perpajakannya dengan tujuan untuk menghemat pembayaran pajak penghasilan badan. Penilaian aktiva tetap memberikan keuntungan dan kerugian bagi perusahaan. Salah satu keuntungannya adalah sebagai berikut : neraca akan menunjukkan posisi kekayaan yang wajar sehingga pemakai laporan keuangan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat dan tepat. Selisih lebih penilaian kembali juga akan meningkatkan struktur modal sendiri, yang artinya perbandingan antara pinjaman (debt) dengan modal sendiri (equity) atau DER membaik. Dengan membaiknya DER, perusahaan dapat menarik dana melalui pinjaman dari pihak ketiga maupun emisi saham. Kekurangan dari revaluasi aktiva tetap antara lain : Naiknya beban penyusutan aktiva tetap yang dibebankan dalam laba rugi atau dibebankan ke harga pokok produksi. Dari sisi perpajakan, selisih lebih yang diakibatkan dari revaluasi aktiva tetap merupakan objek pajak yang dikenai pajak final 10%. Dengan adanya berbagai kelebihan dan kekurangan yang ditimbulkan oleh revaluasi, pihak manajemen perusahaan harus mempertimbangkan secara baik-baik manfaat dan kerugian yang akan dialami perusahaan di masa sekarang dan masa depan apabila memutuskan untuk melakukan revaluasi aktiva tetap.

LANGKAH-LANGKAH MELAKUKAN REVALUASI AKTIVA TETAP


1. Ada Laporan Laba Rugi Tahun Pajak 2. Peredaran Bruto menentukan tarif (mana yang akan dipilih) PPh Badan Tarif Pasal 17 ayat 1b : Pasal 17 ayat 2b : Pasal 31 E

3. Dihitung PPh Badan terutang sebelum Revaluasi & setelah Revaluasi 1) Hitung Kenaikan biaya penyusutan ( mengakibatkan laba turun) 2) Hitung penurunan labanya ( mengakibatkan PPh Badan terutang turun ) 3) Hitung PPh badan setelah Revaluasi 4) PPh final atas selisih lebih revaluasi 5) Jumlahkan PPh badan & PPh Final 6) Bandingkan Total PPh Badan sebelum Revaluasi dengan total PPh Badan Revaluasi ( termasuk PPh Final ) PPh Final dibayarkan secara bertahap ( ada persyaratan yang harus dipenuhi/dasar pajak ) Mana yang lebih menguntungkan, dalam keadaan L/R ? (R) alasan ? Jenis L/R , jika Laba bisa dilakukan Revaluasi tetapi kurang maksimal

Kesimpulan : Berapa revaluasi yang dapat di tentukan Tepat atau tidak ? perusahaan melakukan revaluasi

KETENTUAN PENILAIAN KEMBALI (REVALUASI)


Pada tanggal 23 Mei 2008 Menteri Keuangan telah menandatangani Peraturan Menteri Keuangan No. 79/PMK.03/2008 tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Untuk Tujuan Perpajakan. Peraturan Menteri Keuangan ini menggantikan Keputusan Menteri Keuangan No. 486/KMK.03/2002. Di PMK ini terdapat kententuan baru yang sebelumnya belum diatur. Menurut catatan saya, peraturan yang baru tersebut : [a.] Revaluasi hanya bisa dilakukan setelah lima tahun dari revaluasi sebelumnya, Pasal 3 ayatk(2); Sebelumnya, batasan revaluasi hanya menyebutkan satu kali dalam tahun buku yang sama. Artinya, revaluasi bisa dilakukan berkali-kali sebelum lima tahun asal tahun buku yang beda. Tapi sekarang hanya boleh lima tahun sekali. Kurang dari lima tahun tentuSsajaktidakkbolehk:D [b.] Revaluasi dilakukan paling lambat satu tahun sejak tanggal laporan penilai, Pasal 4 ayatk(3); Walaupun sebelumnya tidak disebutkan tetapi untuk daerah yang dinamis seperti Jakarta, tentu saja nilai aktiva tetap tahun ini akan berbeda dengan nilai aktiva tetap tahun depan. Misalnya nilai pasar atas tanah. Karena itu sangat wajar jika revaluasi dilakukan tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan penilai karena jika lebih lama lagi kemungkinan besar nilainya akan berubah lagi. Sesuai dengan ketentuan di Pasal 4 ayat (2), jika revaluasi tidak mencerminkan nilai wajar pasar yang sebenarnya, maka nilai revaluasi hasil perusahaan penilai atau ahli penilai bisa dikoreksi [ditetapkan kembali] DirektoratkJenderalkPajak. [c.] Aktiva yang telah direvaluasi tidak boleh dijual atau dialihkan sebelum habis masa manfaatnya,sPasalk8; Untuk aktiva tepak kelompok 1 dan kelompok 2, tidak ada perubahan ketentuan periode larangan dijual. Diketentuan sebelumnya memang diatur bahwa aktiva tetap hasil revaluasi tidak boleh dijual sebelum habis masa manfaatnya. Tetapi ketentuan baru ada perbedaan perlakuan untuk kelompok 3, kelompok 4, bangunan dan tanah. Khusus untuk

kelompok 3, kelompok 4, bangunan dan tanah, batas waktu tidak boleh dijual selama 10 (sepuluh) tahun. Jika pada batas waktu tersebut telah terjadi pengalihan aktiva hasil revaluasi,smakakdikenakanktambahankPPh. Selisih lebih revaluasi kenakan PPh final sebesar 10%. Tetapi jika aktiva telah hasil revaluasi dijual sebelum batas waktu diatas, maka dikenakan PPh Tambahan sebesar tarif tertinggi PPh Badan dikurangi 10%. Berdasarkan UU NO. 17 tahun 2000 tarif tertinggi Pasal 17 adalah 30%. Maka tarif PPh Tambahan adalah 30% - 10% = 20% dan bersifat final! Ketentuan sebelumnya, PPh Tambahan tersebut tarifnya ditentukan, yaitu 20%. Selain itu, batasan tidak boleh dijual juga hanya masa manfaat. Contoh, masa manfaat bangunan 20 tahun. Ketentuan sebelumnya, bangunan yang telah direvaluasi tidak boleh dijual sebelum 20% sejak revaluasi [habis masa manfaatnya]. Tetapi sekarang, batasan bangunan hanya 10 tahun saja. Pada tahun yang ke 11 [sebelas] aktiva hasil revaluasi untuk kelompok 3, kelompok 4, bangunan dan tanah bebas dijual tanpa ada PPh Tambahan! [d.] Atas selisih lebih hasil revaluasi diatas nilai buku dikenakan PPh Final sebesar 10%, PasalS5; Sebelumnya bunyi tarif PPh final sebagai berikut: (1) Atas selisih lebih penilaian kembali di atas nilai sisa buku fiskal semula setelah dikompensasikan terlebih dahulu dengan sisa kerugian fiskal tahun-tahun sebelumnya berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan yang berlaku, dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 10% (sepuluh persen). (2) Kompensasi kerugian fiskal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tetap harus dilakukan terlebih dahulu, meskipun dalam tahun pajak dilakukannya penilaian kembali terdapat penghasilan kena pajak dari keuntungan usaha dan atau sumber lainnya.

Sedangkan bunyi ketentuan baru : Atas selisih lebih penilaian kembali aktiva perusahaan di atas nilai sisa buku fiskal semula dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 10% (sepuluh persen).

Artinya, untuk menghitung PPh revaluasi sekarang tidak boleh memperhitungkan kompensasi kerugian fiskal. Selisih lebih langsung dikalikan tarif 10%. Karena itu, mungkin saja Wajib Pajak yang sedang mengalami kerugian dan memiliki kompensasi kerugian fiskal tetap diharuskan membayar PPh final atas selisih lebih revaluasi. [e.]vAngsurankPPhkFinal,sPasalk6; Wajib Pajak yang mengalami kesulitan keuangan dapat mengangsung PPh final yang terutang. PPh final tersebut dapat diangsur paling lama 12 bulan. Ketentuan sebelumnya, masa angsuran bisa sampai lima tahun. Untuk PPh final yang terutang di atas Rp2.trilyun s.d. Rp4.trilyun boleh mengangsur 2 (dua) tahun. Untuk PPh final yang terutang di atas Rp4.trilyun s.d. Rp6.trilyun boleh mengangsur 3 (tiga) tahun. Untuk PPh final yang terutang di atas Rp6.trilyun s.d. Rp8.trilyun boleh mengangsur 4 (dua) tahun. Untuk PPh final yang terutang di atas Rp8.trilyun boleh mengangsur selama 5 (lima) tahun.ANah,Ssekarangkmahkangsurankcumaksatuktahunksaja.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan revaluasi : 1. Revaluasi parsial atau menyeluruh Revaluasi parsial berarti perusahaan hanya melakukan revaluasi atas sebagian aktiva tetap yang ada atas pertimbangan perusahaan. Bagi perusahaan perkebunan, revaluasi tanah tidaklah menarik karena selisih revaluasi akan terkena pajak final sebesar 10% padahal tanah tidak disusutkan sehingga tambahan biaya penyusutan tahun-tahun berikutnya hanya dari selisih lebih revaluasi atas aktiva tetap selain tanah. Karena hal tersebut maka perusahaan lebih untung jika tidak merevaluasi tanah. 2. Pembayaran PPh 10% yang bersifat final Bagi perusahaan yang akan melakukan revaluasi perlu melakukan penghitungan apakah membayar PPh 10% itu lebih menguntungkan dibanding dengan tariff PPh badan sebesar 25%. Aktiva tetap yang sudah direvaluasi dan biaya penyusutan akan mengurangi Penghasilan Kena Pajak (PKP). Umur aktiva akan kembali seperti semula, meskipun sebenarnya telah digunakan lebih dari separuh umur. 3. Pembayaran pajak lebih dari lima (5) tahun untuk perusahaan yang melakukan penggabungan.

Perencanaan Pajak Terhadap Revaluasi Aktiva Tetap Pertimbangan yang harus diperhatikan dalam perencanaan pajak terhadap revaluasi aktiva tetap antara lain : a) Kondisi perusahaan, b) Laba dan rugi perusahaan, c) Dampak revaluasi, dan d) Apakah perusahaan mempunyai atau tidak mempunyai rugi fiskal. 5. MANFAAT REVALUASI Revaluasi aktiva tetap mempunyai manfaat bagi perusahaan, diantaranya yaitu: 1. Dapat menciptakan performance of balance sheet yang lebih baik, sebagai akibat meningkatnya nilai aktiva dan modal;
2. Meningkatkan kepercayaan para pemegang saham, karena kenaikan nilai aktiva dapat dicatat sebagai tambahan nilai saham (saham bonus); 3. Meningkatkan kepercayaan kreditur, sebagai dampak membaiknya beberapa rasio keuangan perusahaan, khususnya yang ditunjukkan oleh debt to assets ratiodan debt to equity ratio. 4. Penghematan pajak yang terjadi sebagai akibat bertambah besarnya nila i penyusutan aktiva, yang dapat memberikan penghematan pajak sebesar 30% dari nilai tambah penyusutan. Sementara keuntungan dari revaluasi aktiva hanya dikenakan pajak final sebesar 10%

CONTOH KASUS Revaluasi Hotel Montana Dua Malang Selisih nilai pada aktiva tetap sebelum dan sesudah revaluasi sebesar Rp. 5.420.090.031,24. Dari selisih revaluasi tersebut dikenakan pajak 10% bersifat final, sehingga pajak yang harus dibayar akibat adanya revaluasi adalah sebesar Rp. 542.009.003,12. Selisih revaluasi akan tampak pada neraca sisi pasiva di bagian modal. Sedangkan pengaruhnya terhadap laporan laba rugi perusahaan terlihat pada biaya usaha pada poin depresiasi aktiva tetap. Perhitungan penghematan pajak nilai komersial per 31 Desember 2001 sebagai berikut : - Tanah Rp 900.000.000. - Bangunan permanent (20 tahun) Rp 1.200.000.000. - Akumulasi penyusutan bangunan 7 tahun (Rp 420.000.000) - Peralatan dan kendaraan kelompok 2 Rp 1.600.000.000. - Akumulasi penyusutan peralatan dan kendaraan 7 tahun (Rp 1.400.000.000). Hasil penilaian sesuai harga pasar - Tanah Rp 3.960.000.000 - Bangunan Rp 2.420.000.000 - Peralatan / kendaraan Rp 920.000.000 Prediksi laba tahun 2002 (sebelum penyusutan) : Rp 350.000.000

Jika melakukan revaluasi Aktiva Nilai Buku Tetap (dalam Rp) Tanah Bangunan Peralatan dan Kendaraan PPh final 10% Laba

Harga Pasar (dalam Rp)

900.000.000 3.960.000.000 780,000,000 2.420.000.000 200,000,000 920.000.000

Selisih Lebih Revaluasi (dalam Rp) 3.060.000.000 1.640.000.000 720.000.000

1.880.000.000

5.420.000.000 542.000.000

Rp

350.000.000

Penyusutan Bangunan = Rp 3.960.000.000 x 5% Peralatan&kendaraan = Rp920.000.000 12,5% Penghasilan Kena Pajak Pajak PPh badan 25% Jumlah pajak yg harus dibayar

(Rp x (Rp

198.000.000) 115.000.000)

Rp 37.000.000 Rp 9.250.000 Rp 551.250.000

Jika tidak melakukan revaluasi Laba Penyusutan - Bangunan - Peralatan&kendaraan Penghasilan Kena Pajak Pajak PPh badan 25%

Rp 350.000.000 (Rp 60.000.000) (Rp 20.000.000) Rp 270.000.000 Rp 67.500.000

BAB III SIMPULAN Revaluasi aktiva tetap merupakan penilaian kembali aktiva tetap yang tercatat dalam buku perusahaan dan masih digunakan untuk kegiatan perusahaan agar nilai yang tercantum dalam buku/laporan keuangan tersebut sesuai dengan nilai pasar wajar yang berlaku pada saat dilakukannya revaluasi tersebut. Bagi pemerintah, revaluasi dapat digunakan sebagai salah satu

sarana untuk meningkatkan pendapatan negara melalui pajak. Sedangkan bagi wajib pajak revaluasi aktiva dapat digunakan untuk melakukan perencanaan perpajakan dengan tujuan untuk menghemat pembayaran pajak penghasilan badan. Manfaat revaluasi antara lain : a. Dapat menciptakan performance of balance sheet yang lebih baik, sebagai akibat meningkatnya nilai aktiva dan modal; b. Meningkatkan kepercayaan para pemegang saham, karena kenaikan nilai aktiva dapat dicatat sebagai tambahan nilai saham (saham bonus); c. Meningkatkan kepercayaan kreditur, sebagai dampak membaiknya beberapa rasio keuangan perusahaan, khususnya yang ditunjukkan oleh debt to assets ratio dan debt to equity ratio.