Anda di halaman 1dari 23

10

Tahun ke IV

2013

Kuota 2013 8 Bengkak, Subsidi Melonjak 10 12

[sajian utama] Juli 2013, Mobil Pribadi Tak Lagi Pakai BBM Subsidi [regulasi] Tender BBM PSO 2013 Pertamina, AKR dan SPN Pemenangnya [rona] Gerakan Nasional Sehari Tanpa BBM Bersubsidi Hemat 600 Miliar Tiap Minggu

[sambutan]

Bersihkan Tangan dan Hati dari Perbuatan

Dari Redaksi
Galau Subsidi BBM
BBM TAK NAIK DI TAHUN 2013. TAPI JANGAN SENANG DULU. PEMERINTAH MASIH MENIMBANGNIMBANG. PASALNYA, KUOTA BBM UNTUK TAHUN INI SUDAH SANGAT BESAR, MENCAPAI 46 JUTA KILOLITER (KL). BANDINGKAN DENGAN TAHUN 2012 YANG MENCAPAI 44,04 JUTA KILOLITER. ITU ARTINYA, TERDAPAT LONJAKAN YANG TINGGI DAN DIPERKIRAKAN TIDAK AKAN MENCUKUPI. NAH KALAU KONDISINYA SUDAH SEPERTI ITU, KENAIKAN BBM BISA TAK TERELAKAN.

KORUPSI

Tapi ada yang miris. Ternyata, dari subsidi BBM yang digelontorkan pemerintah, berdasarkan temuan Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, yang menikmati paling banyak justru mobil mewah, masyarakat kelas mampu. Besarannya hingga mencapai 70 persen. Kalau dihitung-hitung, masyarakat menengah atas pemilik mobil pribadi telah menikmati 115,6 triliun rupiah dari realisasi subsidi BBM yang sebesar Rp165,2 triliun di tahun 2011. Ini setara dengan 42 persen dari realisasi penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2011, kata Ekonom Drajat Wibowo. Fantastis bukan. Ya, subsidi BBM memang terus menyisakan masalah. Untuk itulah pada Sajian Utama, soal ini kami angkat kembali. Masalah pemberian subsidi BBM, memang menjadi domain pemerintah. Tapi jika dilihat dari efeknya secara nasional, akan menjadi masalah kita semua. Sedikit saja pemerintah menaikkan harga BBM, berarti subsidi berkurang, efeknya akan kemana-mana. Ujung-ujungnya, rakyat tak mampu juga yang bakal ketiban pulung. Harga-harga, termasuk kebutuhan pokok jadi serba mahal. Nah kalau sudah begini, tak gampang kan untuk menaikkkan harga BBM dengan mudah, alias galau. Sekedar berandai-andai, ceritanya akan menjadi lain, jika seluruh pemilik mobil mewah, semua bersepakat untuk menggunakan pertamax. Bila perlu, demi kepentingan nasional, demi ketahanan energi jangka panjang, seluruh masyarakat mampu mendeklarasikan diri siap menggunakan pertamax. Tentu, kebijakan menaikkan harga BBM akan jauh lebih mudah. Jadi subsidi BBM benarbenar hanya untuk masyarakat yang tak mampu. Kami memang tak bosan-bosan untuk terus mengingatkan ini. Pasalnya, berbagai kebijakan telah dilakukan pemerintah untuk menekan agar anggaran subsidi BBM tak kebablasan. Bahkan, BPH Migas juga telah mengupayakan, baik melalui pembatasan, pengawasan, maupun melalui upaya agar BBM bersubsidi benar-benar bisa tepat sasaran. Tapi kenyataannya, seperti kami turunkan juga beritanya pada edisi ini, masih banyak pengusaha nakal, para pemilik mobil mewah tetap saja cari-cari kesempatan menggunakan BBM bersubsidi. Tak bosannya kami mengingatkan, soalnya kalau kondisi itu terus dibiarkan nantinya yang repot juga kita semua. Tentu kita tak ingin terjadi, energi yang kita miliki sekarang habis di tengah jalan. Kita akan kehabisan tenaga, yang membuat generasi mendatang tak bisa melanjutkan.

Diterbitkan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi | Pembina Kepala BPH Migas | Pengarah Komite BPH Migas Pimpinan Umum Sekretaris BPH Migas | Redaktur Ahli Direktur BBM, Direktur Gas Bumi | Pimpinan Redaksi Susetyo Yuswono, SH. MH. | Redaksi Narcicy Makalew, Putu Suwardana, Ougy Dayyantara, Dedi Wijaya, Hendry Ahmad, Edi Moh. Suhariadi, Sri Purnomo | Editor Anwar Rofiq, Kurnia Putri F. | Peliputan Akhmad Safei, Okto Berbudi | Desain Grafis Yogi | Dokumentasi Sudiro, Robby Ferdian | Sirkulasi Iqra Krasnaya | e-mail: humas@bphmigas.go.id, website: www.bphmigas.go.id

Redaksi menerima tulisan seputar kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi. Kirimkan ke: Redaksional Buletin Hilir Migas Gedung BPH MIGAS, Jl. Kapten P . Tendean No: 28 Jakarta Selatan 12710 Indonesia, e-mail: redaksi@bphmigas.go.id Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, Telp : +62-21 5255500, +62-21 5212400, Fax : +62-21 5223210, +62-21 5255656

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

[daftar isi]

edisi 10 Tahun ke IV 2013

6-7

[sajian utama] Kuota 2013 Bengkak, Subsidi Melonjak Tapi Harga Belum Naik, Lho?
Mungkin, ini kabar gembira. Soalnya, tahun depan pemerintah belum berencana menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kabar itu, disampaikan pemerintah melalui menteri keuangan agus martowardoyo, beberapa waktu lalu di jakarta.

10-11
6

[regulasi] Tender BBM PSO 2013 Pertamina, AKR dan SPN Pemenangnya

Memasuki tahun 2013, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) kembali menggelar tender BBM PSO (Public Service Obligation) 2013. Seperti yang sudah-sudah, tender ini akan diikuti oleh perusahaan dalam negeri dan asing. Pemain utamanya tetap Pertamina dan Asing hanya sebagai pendamping.

8-9

[sajian utama] Juli 2013, Mobil Pribadi Tak Lagi Pakai BBM Subsidi
Mobil pribadi pengguna bahan bakar minyak (BBM) subsidi terbesar. Itu fakta. Atau setidaknya, itulah yang dikatakan Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa yang didasarkan pada data 2011 temuan pemerintah. Menurut Hatta, subsidi BBM yang dinikmati kelas mobil pribadi inipun tak tanggung-tanggung, mencapai 70 persen dari total anggaran subsidi yang digelontorkan pemerintah.

12-13

[[regulasi]] Gerakan Nasional Sehari Tanpa BBM Bersubsidi, Hemat 600 Miliar Tiap Minggu

[sajian utama] Kuota 2013 Bengkak, Subsidi Melonjak Tapi Harga Belum Naik, Lho? Juli 2013, Mobil Pribadi Tak Lagi Pakai BBM Subsidi

Gerakan Nasional Sehari Tanpa BBM Bersubsidi Hemat 600 Miliar Tiap Minggu

14 [lensa] Peristiwa dan Kegiatan BPH Migas

Gagasan satu hari dalam seminggu untuk tidak menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, layak kita dukung dan coba. Inilah yang akan dilakukan pemerintah, melalui program Gerakan Nasional Sehari Tanpa BBM bersubsidi. Menurut Direktur BBM Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Djoko Siswanto, gerakan ini rencananya akan dilaksanakan pada awal Desember 2012, langsung serentak di seluruh Indonesia.

10 [regulasi] Tender BBM PSO 2013 Pertamina, AKR dan SPN Pemenangnya

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi Jl. Kapten P. Tendean No. 28 Jakarta Selatan 12710 - Indonesia Telp : +62-21 5255500, +62-21 5212400 Fax : +62-21 5223210, +62-21 5255656 Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013
BPH Migas

[sajian utama]

Soal membengkaknya kuota, kita memang tengah mengalami masalah ini. Untuk tahun ini saja, kuota tambahan BBM bersubsdi sudah mencapai sebesar 4,04 juta kiloliter. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) meramalkan, kuota itu akan jebol kembali. Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng memperkirakan, konsumsi BBM bersubsidi sampai akhir 2012 akan mencapai 45,373 atau lebih tiga persen. Kami perkirakan sampai akhir tahun bakal berlebih tiga persen dari kuota APBN Perubahan 2012, jelas Andy. Tentu saja ini akan melebihi kuota APBN Perubahan yang ditetapkan sebesar 44,04 juta kiloliter. Maka sebagai solusi agar kuota pada 2013 mencukupi, menurut Rubini, harga BBM harus naik. Berat, 2013 bisa 46 juta kiloliter kalau harga BBM tidak naik, ujarnya. Dan kalau memang dinaikkan, kenaikan yang ideal dalam hitungan Rudi sebesar Rp 1.500 dari harga saat ini. Dengan kenaikan tersebut akan ada kompensasi jika harga minyak dunia naik sebesar 10 persen, dengan skema Rp 1.500,langsung, Rp 500 per tiga bulan, dan per bulan naiknya Rp 100,- atau Rp 200,Pemerintah Punya Kewenangan Yang pasti, naik tidaknya BBM tahun depan, pemerintah kini punya kewenangan. Berdasarkan UndangUndang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (UU APBN) 2013 Pasal 8 ayat 10 yang baru disahkan bersama DPR beberapa waktu lalu, pemerintah kini memiliki kewenangan untuk menaikkan harga BBM. Berbeda dengan ketentuan terdahulu. UU APBN 2012 begitu mengikat pemerintah untuk tak sembarangan menaikkan harga BBM bersubsidi. Pemerintah hanya boleh menaikkan, jika harga Indonesia Crude Price (ICP) berada di atas US$ 120,75 per barel. Dan soal bakal naik tidaknya harga BBM tahun depan, yang pasti bukan semata-mata karena Anggaran. Seperti dijelaskan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro, masalah subsidi BBM semata-mata bukan hanya masalah besar kecilnya defisit anggaran,

sebagai persiapan menghadapi dampak dari perubahan iklim. Misalnya, subsidi pangan untuk menjaga stabilitas harga beras, gandum, dan jagung. Selain itu, pemerintah juga harus memikirkan bagaimana mengembangkan sektor pertanian yang berkualitas. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga menyetujui jika pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi. Apindo menilai, subsidi itu tidak produktif. Wakil Sekretaris Umum Apindo Franki Sibarani mengatakan, subsidi untuk BBM sudah terlalu besar. Untuk itu sebaiknya subsidi tersebut bisa dialihkan untuk membiayai sektor lain yang lebih produktif. Namun jika pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi, katanya, kenaikannya harus dalam taraf kewajaran. Sebab berdasarkan hasil penelitian, jika harga BBM mengalami kenaikan dengan harga yang wajar maka tidak akan menimbulkan inflasi yang besar. Yang jelas, terlepas dari perdebatan bakal naik tidaknya harga BBM di tahun mendatang, masyarakat perlu memahami duduk persoalannya. Dengan demikian, ketika harga BBM tak naik, itu sematamata agar roda perekonomian terutama di sektor ril bisa terus menggeliat dan kemampuan daya beli masyarakat terus berjalan. Sementara kalaupun nantinya harga BBM harus naik, itu semata-mata lantaran pemerintah memang tak punya pilihan. Seperti dikemukakan pakar Minyak dan Gas Abdul Muin, jika BBM bersubsidi tidak dinaikan, maka akan menunda permasalahan yang terjadi saat ini. Namun jika pemerintah ingin menaikan pihaknya harus memperhatikan kondisi masyarakat dan memberikan pengertian dengan baik agar masyarakat tidak terprovokasi. Harus dinaikan, kalau tidak kita menyiksa ke depan. Kita hanya menunda penyakit cuma harus diberikan pengertian kepada rakyat. Penyampaian ini sebaik mungkin, agar tidak terprovokasi, ujarnya. Dan tentu saja, kita akan lebih memilih negara ini tidak bangkrut hanya karena dana APBN habis dibakar dengan pecuma melalui pemberian subsidi yang hingga kini sudah sangat membebani anggaran pemerintah.

melainkan bersangkut paut dengan soal kebijakan energi, konservasi energi dan kualitas penyerapan belanja negara. Jadi, tidak mesti dikaitkan dengan anggaran, kata Bambang. Akan tetapi, dengan kewenangan yang telah dimiliki, pemerintah bisa menaikan harga BBM kapan saja. Tak Terlekakan Dan kewenangan untuk menaikkan harga BBM di tahun mendatang itu bisa saja terjadi. Mengingat desakan berbagai pihak yang memang sudah menghendaki agar harga BBM segera dinaikan. Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti, misalnya, menilai kenaikan harga BBM saat ini sudah tidak bisa ditunda lagi. Menurut dia, saat ini distorsi harga sudah terlampau jauh dan konsumsi BBM sudah tidak terkendali. Karena orang melihat harganya murah, jadi tidak efisien, kata Destry. Menurutnya, pemerintah harus segera merespons UU APBN 2013 untuk segera menaikkan harga BBM. Alasannya, saat ini harga ICP sudah mencapai 100 dolar per barell. Subsidi ratusan triliun rupiah untuk energi sudah tidak sehat. Kenyataannya, 90 persen yang menikmati subsidi bukan orang yang berhak. Jadi memang sudah sangat mendesak, katanya. Dalam pengamatan Destry, pemerintah seharusnya lebih meningkatkan subsidi untuk sektor pangan dan pertanian

Kuota 2013 Bengkak, Subsidi Melonjak

Tapi Harga Belum Naik, Lho?


pemerintah. Opsi kenaikan, pemerintah belum punya kepastian, jelas Rudi. Rencana tidak adanya kenaikan harga BBM juga disampaikan Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini. Pemerintah, katanya, tahun 2013 belum memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Sebab untuk menaikkan harga BBM, ada pertimbangan yang harus dilakukan Kuota Bengkak Meski begitu, kita jangan senang dulu. Bisa saja tahun depan harga BBM naik. Pasalnya, jatah kuota BBM bersubsidi diprediksi Rudi, pada 2013 akan mencapai 46 juta kiloliter (kl). Bandingkan dengan tahun 2012 yang mencapai 44,04 juta kiloliter. Itu artinya, terdapat lonjakan yang tinggi. Dengan lonjakan itu, Rudi memperkirakan tidak akan mencukupi.

MUNGKIN, INI KABAR GEMBIRA. SOALNYA, TAHUN DEPAN PEMERINTAH BELUM BERENCANA MENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM). KABAR ITU, DISAMPAIKAN PEMERINTAH MELALUI MENTERI KEUANGAN AGUS MARTOWARDOYO, BEBERAPA WAKTU LALU DI JAKARTA.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

[sajian utama]

Juli 2013, Mobil Pribadi

Tak Lagi Pakai BBM Subsidi


Ekonom Dradjad Wibowo, coba menghitung-hitungnya. Jika data 70 persen itu benar, itu artinya pada 2011 masyarakat menengah atas pemilik mobil pribadi telah menikmati 115,6 triliun rupiah dari realisasi subsidi BBM yang sebesar Rp165,2 triliun. Ini setara dengan 42 persen dari realisasi penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2011, kata Drajat. Atas kenyataan itu, kebijakan pemberian subsidi BBM jelas tak sehat. Itu sebabnya, menurut Dradjad, seharusnya pemerintah mencabut saja subsidi BBM dari kaum menengah atas, tapi untuk kaum miskin tetap ada. Jangan kaum miskin ikut dibabat juga. Saya yakin kita semua sepakat jika kaum menengah dan atas tidak berhak menikmati subsidi, katanya. Pandangan serupa juga disampaikan Hatta. Mestinya subsidi BBM yang menikmati adalah golongan masyarakat yang tak mampu. Sebab kebijakan itu, kata Hatta, sesungguhnya dibuat pemerintah adalah untuk membantu masyarakat yang tak mampu. Namun yang jelas, dengan rendahnya harga BBM bersubsidi di Indonesia, telah membuat besaran subsidi semakin membengkak tak terkontrol serta telah memicu penyelundupan BBM di berbagai daerah. Untuk Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PKS, Kemal Azis, meminta kepada Pemerintah untuk bisa menekan angka subsidi energi dan mengalihkan sebagian untuk program strategis yang

Andy menambahkan, realisasi penyaluran BBM jenis solar pada periode tersebut jenis minyak solar sebesar 1,26 juta kl per bulan. Angka ini melampaui rencana kuota APBN-2012 sebesar 1,25 juta kl per bulan atau 100,8 persen. Dengan adanya penggunaan tersebut, Andi memperkirakan realisasi konsumsi BBM bersubsidi hingga akhir tahun mencapai 45,3 juta kl. Kementerian Keuangan juga memperkirakan realisasi subsidi bahan bakar minyak pada akhir 2012 akan mencapai Rp216,8 triliun atau 157,8 persen, melebihi target dalam APBNPerubahan 2012 sebesar Rp137,5 triliun. Berdasarkan paparan Kementerian Keuangan terkait realisasi asumsi dasar ekonomi makro semester I dan proyeksi

semester II 2012, hal itu menyebabkan realisasi subsidi energi mencapai Rp305,9 triliun atau 151,2 persen, melebihi target Rp202,4 triliun. Kementerian Keuangan mencatat kenaikan beban subsidi energi tersebut dikarenakan adanya kenaikan harga ICP minyak dari 105 dolar AS per barel menjadi 110 dolar AS per barel. Kemudian, meningkatnya beban subsidi juga dikarenakan ada kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari Rp 9.000 per dolar AS menjadi Rp 9.250 per dolar AS serta keterlambatan penyelesaian COD PLTU dan pemenuhan pasokan gas. Pembatasan kuota Menyikapi itu, maka pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) berencana akan melakukan pengaturan batasan kuota penggunaan jenis BBM tertentu berupa premium untuk kendaraan pribadi. Jika tak aral melintang, menurut Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng, pembatasan itu akan direalisasikan pada Juli 2013. Tentang rencana itu, BPH Migas sudah menyampaikan ke Komisi VII DPR-RI,

Oktober 2012 lalu, sebagai kelanjutan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2012. Untuk pelaksanaannya, BPH Migas akan menerbitkan peraturan mengenai pelarangan penggunaan jenis BBM tertentu berupa solar bagi mobil barang dan kapal barang non pelayaran rakyat untuk seluruh Indonesia mulai Desember 2012. Ketentuan kedua adalah pelarangan penggunaan jenis BBM tertentu berupa premium bagi kendaraan dinas pemerintah pusat dan daerah, BUMN dan BUMD untuk seluruh Indonesia mulai Januari 2013. BPH Migas juga berencana mulai melakukan pengaturan konsumen pengguna premium dan solar untuk mobil pribadi tertentu mulai Januari 2013. Salah satunya adalah mulai melakukan pengaturan batasan kuota penggunaan jenis BBM jenis premium untuk kendaraan pribadi mulai Juli 2013. Dengan berbagai rencana tersebut, BPH Migas juga telah menyiapkan segala sesuatunya. Antara lain dengan memperbanyak stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU non subsidi. Penambahan ini tak hanya untuk SPBU tetap, tapi juga SPBU portable yang diselenggarakan oleh Pertamina dan badan usaha lainnya.

MOBIL PRIBADI PENGGUNA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) SUBSIDI TERBESAR. ITU FAKTA. ATAU SETIDAKNYA, ITULAH YANG DIKATAKAN MENTERI KOORDINATOR (MENKO) PEREKONOMIAN HATTA RAJASA YANG DIDASARKAN PADA DATA 2011 TEMUAN PEMERINTAH. MENURUT HATTA, SUBSIDI BBM YANG DINIKMATI KELAS MOBIL PRIBADI INIPUN TAK TANGGUNG-TANGGUNG, MENCAPAI 70 PERSEN DARI TOTAL ANGGARAN SUBSIDI YANG DIGELONTORKAN PEMERINTAH.

lebih mendesak, seperti pembangunan infrastruktur, pengadaan perlindungan bagi kesejahteraan rakyat kecil lewat BPJS, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Saat ini, program penting nasional kurang mendapat perhatian karena anggaran dalam APBN tersedot untuk subsidi energi, ujarnya. Realisasi Sementara itu, dalam catatan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) realisasi penggunaan BBM bersubsidi hingga September tahun ini telah mencapai 32,9 juta kiloliter atau 75 persen dari volume kouta APBN-P 2012 BBM subsidi sebanyak 44,04 juta kiloliter. Realisasi itu, menurut Kepala BPH Migas Andi Noorsaman Sommeng terdiri dari

premium sebanyak 20,69 juta kiloliter, minyak tanah 871 ribu kiloliter, dan solar 11,33 juta kiloliter. Total realisasi BBM bersubsidi dari Januari hingga September 2012 mencapai 32,9 juta kl atau 75 persen dari kuota yang telah disetujui dalam APBN Perubahan 2012, kata Andi. Andy mengungkapkan, dari Januari hingga September 2012 penggunaan premium sebesar 2,30 juta kl per bulan. Angka ini masih di bawah rencana kuota APBN-P 2012 sebesar 2,32 juta kl per bulan atau 99,1 persen. Sedangkan BBM jenis minyak tanah Januari-September jenis minyak tanah sebesar 1,26 juta kl per bulan masih di bawah rencana kuota APBN-P 2012 sebesar 0,10 juta kl per bulan atau 96,8 persen.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

10

[regulasi]

Pertamina, AKR dan SPN Pemenangnya

Tender BBM PSO 2013

Anggota Komisi VII DPR Rofi Munawar sangat mendukung langkah yang ditempuh BPH Migas ini. Menurutnya, penetapan distributor BBM bersubsidi melalui mekanisme tender jauh lebih baik dibandingkan dengan penunjukan langsung. Alasannya, disatu sisi bisa mendorong peningkatan kualitas, transparansi, dan terbangunnya pengembangan infrastruktur pendukung serta iklim investasi migas yang kompetitif. Di sisi lain, mendorong Pertamina untuk berbenah diri dan meningkatkan kapasitasnya agar mampu menjawab berbagai kompleksitas masalah yang selama ini masih menjadi catatan seperti kebocoran dan penyeludupan. Disamping itu, menurut legislator dari Jawa Timur ini, pertumbuhan SPBU selama ini baru tersentralisasi di pusatpusat perkotaan dan tidak menyebar ke pelosok. Padahal alokasi BBM bersubsidi oleh Pemerintah setiap tahun lewat APBN cukup besar dan cenderung meningkat kuotanya. Tinggal Tiga Untuk tahun ini, ada empat perusahaan yang mengikuti ajang tender BBM PSO 2013. Menurut keterangan Direktur Bahan Bakar Minyak (BBM) BPH Migas Djoko Siswanto, keempat perusahaan itu adalah PT Pertamina (Persero), PT Aneka Kimia Raya Corporindo Tbk (AKR), PT Surya Parna Niaga (SPN) dan PT Shell Indonesia. Dari keempat peserta itu, dua diantaranya adalah pemain lama

yang pernah mendampingi Pertamina. Sementara Shell adalah pemain baru. Alih-alih mengatakan keikutsertaan Shell menggantikan Petronas, perusahaan minyak asal Malaysia yang untuk tahun depan tidak ikut serta lagi. Proses mekanisme untuk ikut tender ini sama seperti tender sebelumnya. Dan dalam tender ini, BPH Migas akan mengedepankan transparansi, accountable dan kompetitif, serta mengikuti ketentuan atau standar operation procedure (SOP). Itu dimaksudkn agar proses tender berlangsung fair dan memberi keadilan untuk semua. Dengan langkah itu, diharapkan akan mendorong peningkatan kualitas, transparansi, pengembangan infrastruktur pendukung dan membangun iklim investasi migas yang kompetitif. Saat ini BPH Migas tengah melakukan proses verifikasi infrastruktur. Dan dari proses verifikasi yang dilakukan, BPH Migas menyatakan PT Shell Indonesia tidak lolos sebagai badan usaha pendamping PT Pertamina (Persero) yang akan menyalurkan BBM bersubsidi (PSO) tahun depan. Dengan demikian, proses tender yang akan berakhir pada akhir 2012 ini, hanya mengikutsertakan tiga badan usaha, yaitu PT Pertamina (Persero), PT AKR dan PT SPN. Menurut Djoko, salah satu alasan tidak lolosnya Shell dalam tender BBM PSO 2013 adalah karena mereka tidak bersedia membangun infrastruktur

di luar Jawa-Bali. Shell minta alpha yang terlalu besar dan tidak bersedia membangun infrastruktur di luar JawaBali, jelasnya. Rencananya, sesuai dengan persetujuan DPR, BBM PSO pada RAPBN 2013 ditetapkan sebanyak 46 juta kiloliter. Adapun alokasi volume tender yang akan diberikan ke perusahaan non-Pertamina mencapai 2,4% dari alokasi BBM subsidi tahun 2013 sebanyak 46 juta kiloliter atau sekitar 1,1 juta kilo liter. Jumlah tersebut meningkat hingga 700% dibandingkan alokasi tahun 2012 yang 0,4% dari 40 juta kiloliter atau 160.000 kilo liter.

MEMASUKI TAHUN 2013, BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS (BPH MIGAS) KEMBALI MENGGELAR TENDER BBM PSO (PUBLIC SERVICE OBLIGATION) 2013. SEPERTI YANG SUDAH-SUDAH, TENDER INI AKAN DIIKUTI OLEH PERUSAHAAN DALAM NEGERI DAN ASING. PEMAIN UTAMANYA TETAP PERTAMINA DAN ASING HANYA SEBAGAI PENDAMPING.

Hal itu sesuai dengan ketentuan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM tertentu. Dalam Perpres ini disebutkan bahwa pendistribusian BBM bersubsidi dapat dilakukan melalui lelang atau penunjukan dan memperbolehkan perusahaan swasta, baik nasional maupun asing ikut serta dalam pelaksanaan tender. Tapi seperti yang sudah dilakukan tahun-tahun sebelumnya, BPH Migas sebagai Badan Pengatur, tetap memilih jalur tender.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

11

12

[regulasi]

mengalami kekurangan sekitar 500 ribu kiloliter untuk sampai akhir Desember 2012. Nah, untuk mengatasinya, itu sebabnya pemerintah termasuk BPH Migas mencoba mencanangkan Gerakan Nasional Sehari Tanpa BBM Bersubsidi. Jadi, pada Desember nanti, selain premium pemerintah juga mengenakan larangan untuk solar subsidi. Dengan begitu, untuk angkutan kehutanan, angkutan kapal barang non pelayaran rakyat dan non perintis, tak bisa lagi menggunakan solar subsidi pada hari Minggu. Itu sesuai dengan permintaan Menteri Perhubungan dan asosiasi kapal barang seluruh Indonesia. Ini baik sekali. Ada kemaunan yang positif dari pemilik barang, katanya. Hemat 600 miliar Dari dilakukannya gerakan nasional ini, harapan pemerintah kuota BBM subsidi

bisa terpenuhi hingga akhir Desember 2012. Kalau program ini sukses, kita bisa diterapkan setiap hari Minggu, kata Djoko. Dari segi penghematan, gerakan nasional ini jelas sangat siknifikan. Menurut Djoko, apabila rencana ini berjalan sukses di seluruh Indonesia, bisa menghemat BBM Subsidi sebanyak 120.000 kiloliter, dengan penghematan dana subsidi mencapai Rp 600 miliar. Untuk mewujudkan pelaksanaannya, BPH Migas sendiri telah melayangkan surat ke PT Pertamina. Sebagai perusahaan yang selama ini memasok kebutuhan BBM di SPBU-SPBU, diharapkan Pertamina bisa melakukan pengendalian harian BBM Bersubsidi. Jika biasanya satu hari SPBU mendapat alokasi sebanyak tiga truk tangki, nantinya SPBU hanya akan mendapat dua truk.Sehingga masyarakat yang datang ke SPBU apabila pada siang hari BBM bersubsidi di SPBU itu habis, silahkan saja mengisi BBM Non Subsidi. Besoknya datang lagi ada BBM Subsidi. Kita jamin itu, katanya. Selain ke Pertamina, menurut Djoko, untuk program ini BPH Migas juga telah membuat surat ke Menteri ESDM, dengan tembusan Presiden, Wakil Presiden, Menteri Perekonomian, UKP4, dan Hiswana Migas. Wakil menteri ESDM sangat setuju. Sampai saat ini belum ada komponen bangsa baik pemerintah, rakyat, maupun badan usaha yang menolak. Mereka semua setuju, pungkasnya.

Bahan Kajian Untuk suksesnya program, sejauh ini pemerintah melalui Sub Tim Analisis Sosial yang dikomandani Deputi VII Menkopolhukam, Marsekal TNI Agus Barnas, juga telah melakukan sosialisasi ke daerah-daerah. Sehingga, program ini nantinya bisa dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia. Berbarengan itu, tentu saja, sosialisasi tidak sekedar untuk memuluskan pelaksanaan program. Selain sosialisasi Tim juga berupaya untuk mendapatkan data dan masukan dari masyarakat dalam rangka kenaikan harga BBM ke depannya. Masukan dari daerah itu nantinya akan dibahas bersama pemerintah bersama tim monitoring pusat, sehingga bisa menentukan waktu yang tepat untuk menghapuskan subsidi BBM tersebut. Memang, pemerintah tak ingin gegabah untuk menaikan harga BBM bersubsidi. Untuk itulah, masukan data dari berbagai daerah menjadi sangat dibutuhkan. Dan yang pasti, kelak suatu saat harga BBM bersubsidi pasti akan naik. Pasalnya, harga BBM bersubsidi yang berlaku saat ini sudah sangat membebabni aanggaran pemerintah. Sekedar gambaran, harga bensin RON 88 di Vietnam Rp 10.000 per liter, di Belanda Rp 20.000 per liter, sementara di Indonesia tetap dipertahankan Rp 4.500 per liter. Sementara itu, pertumbuhan kendaraan roda dua setiap tahun mencapai sembilan juta unit dan kendaraan roda empat sebanyak 900 unit. Bila semuanya menggunakan BBM subsidi maka negara dirugikan antara Rp 137 - Rp190 triliun. Apabila dana sebesar itu untuk membangun sebuah jembatan, sudah bisa menyambungkan Sumatra dan Pulau Jawa atau digunakan untuk pembangunan bagi kesejahteraan masyarakat, sehingga tidak ada lagi warga miskin, kata Agus. Oleh karenanya, akan sangat strategis jika ke depannya subsidi BBM bisa dialihkan untuk pembangunan infrastruktur atau pendidikan, sehingga yang menikmatinya adalah orang banyak dan bukan pribadi. Untuk itulah, perlunya kita beri dukungan kongkrit terhadap program Gerakan Nasional Sehari Tanpa BBM Bersubsidi ini.

Gerakan Nasional Sehari Tanpa BBM Bersubsidi


GAGASAN SATU HARI DALAM SEMINGGU UNTUK TIDAK MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI, LAYAK KITA DUKUNG DAN COBA. INILAH YANG AKAN DILAKUKAN PEMERINTAH, MELALUI PROGRAM GERAKAN NASIONAL SEHARI TANPA BBM BERSUBSIDI. MENURUT DIREKTUR BBM BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS), DJOKO SISWANTO, GERAKAN INI RENCANANYA AKAN DILAKSANAKAN PADA AWAL DESEMBER 2012, LANGSUNG SERENTAK DI SELURUH INDONESIA. Hari yang dipilih untuk gerakan ini, akan dilaksanakan pada setiap hari Minggu. Dipilihnya hari Minggu tentu dengan banyak pertimbangan. Yang mendasar adalah, lantaran pada hari Minggu masyarakat lebih banyak di rumah. Diperkirakan, pada hari itu masyarakat lagi tak banyak menggunakan BBM terutama BBM bersubsidi. Dengan begitu, pelaksanaan gerakan sehari tanpa BBM Subsidi diharapkan tidak mengganggu perekonomian. Penghematan Energi Nasional Jika dirunut, Gerakan Nasional Sehari Tanpa BBM Bersubsidi merupakan kelanjutan dari Program Gerakan Nasional Penghematan Energi dan Air yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Mei 2012 silam. Gerakan itu bertujuan untuk meningkatkan ketahanan energi dan menjaga pertumbuhan ekonomi nasional ke depan, sehingga masyarakat bisa lebih sejahtera. Beberapa langkah dari program penghematan energi, antara lain, pelarangan menggunakan BBM subsidi bagi mobil dinas pemerintah, BUMN, BUMD, secara bertahap di seluruh Jawa dan Bali. Percepatan konversi BBM ke bahan baker gas (BBG) untuk transportasi jalan dan melarang penggunaan BBM solar bagi truk angkutan perkebunan dan pertambangan. Selain itu, PLN dilarang membangun pembangkit listrik baru menggunakan BBM dan lebih didorong untuk menggunakan tenaga matahari, batu bara, gas alam, panas bumi, air dan biogas. Namun yang mendorong dilaksanakannya gerakan sehari tanpa BBM bersubsidi lebih disebabkan adanya masalah kuota. Sampai akhir Desember 2012, realisasi penggunaan BBM bersubsidi jenis bensin premium diperkirakan mengalami kekurangan kuota sekitar 200 ribu kiloliter. Begitu pula dengan solar subsidi,

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

13

14

[lensa]

PT Shell Diarahkah Ditribusi Di luar Jawa


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) MEMBERI SINYAL AKAN MENOLAK USULAN PT SHELL INDONESIA UNTUK MENDISTRIBUSIKAN BBM BERSUBSIDI DI JAWA. SEBAGAIMANA DIKABARKAN SEBELUMNYA, SHELL MENAWARKAN UNTUK MENDISTRIBUSIKAN BBM BERSUBSIDI DI 70 TITIK DI JAWA TIMUR UNTUK MELAYANI SEPEDA MOTOR. Wakil Ketua Komite BPH Migas, Fahmi Harsandono mengatakan Shell akan diarahkan untuk mendistribusikan BBM di luar Jawa seperti kawasan Timur Indonesia. Kita inginnya peserta lelang, menyalurkan ke remote area, di luar Jawa, seperti di Gabion, di Medan dan Sulawesi, katanya, Rabu (30/10). Meski belum final, karena harus melalui rapat komite BPH Migas, ia menuturkan pihaknya akan merumuskan ini dengan Shell. Dikatakannya karena volume BBM bersubsidi yang disalurkan sebenarnya

hanya sedikit, pihaknya menginginkan persoalan ini tak mengganggu eksistensi perseroan. Saya kira Shell juga akan mengerti, katanya lagi. Jadi, kata dia, bukan berarti BPH Migas tak mau mengikuti asas internasional di mana ada keterbukaan untuk asing berusaha di Indonesia seperti sejumlah negara tetangga lainnya. Namun terkait berapa volume kuota BBM yang akan didistribusikan, ia belum mau memaparkan. Yang pasti, ia menekankan angkanya tak akan begitu signifikan. Sebelumnya untuk pendistribusian BBM bersubsidi 2013, ada empat perusahaan yang mengikuti proses lelang. Selain Shell dan Pertamina, ada pula PT AKR Corporindo Tbk dan PT Surya Parna Niaga (SPN). Hal senada juga pernah diungkapkan Ketua BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng. Kita sih inginnya pemenang menyalurkan ke Indonesia Timur, tapi kan anggota komite bukan saya saja. Ada sembilan orang, jelasnya.

Pembangunan Kilang Hendaknya Perusahaan Nasional


WAKIL KETUA BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS), FAHMI HARSANDONO, MENGATAKAN PENYAMARATAAN KEWAJIBAN MEMBANGUN KILANG BAGI ASING YANG INGIN MASUK KE BISNIS HILIR MIGAS BISA MENCELAKAKAN PERTAMINA.

BPH Migas Bantah Liberalisasikan Distribusi BBM Berubsidi


BADAN PENGATUR KEGIATAN HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) MEMBANTAH ADANYA RENCANA UNTUK MEMPERLUAS PENJUALAN DAN DISTRIBUSI BBM SUBSIDI JAWA-BALI TAHUN DEPAN KEPADA SPBU LAIN DI LUAR PERTAMINA. Tidak ada itu, itu fitnah, kata Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Someng ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan. Informasi BPH Migas akan meliberalisasikan pendistribusian BBM subsidi di Jawa-Bali pada 2013 pernah diungkapkan Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomo Hadi yang merupakan perhimpunan para pengusaha SPBU Pertamina. Jangan ngomong sembarangan, dia itu itu mantan Komite (di BPH Migas) loh, ucap Andy. Menurut Andy, dirinya sebagai akademisi memandang sesuatu kebijakan harus melalui ketentuan berlaku. Di BPH Migas, tugas kita adala menjara ketersedian, jangan sampai ada saudara kita se-suku bangsa kita di daerah tidak bisa mendapatkan BBM susbdi dengan harga Rp 4.500 per liter, ucapnya. Menurut Andy, kalaupun nantinya BPH Migas berencana membuka distribusi BBM subsidi, BPH Migas akan bertindak adil dan tidak boleh diskriminatif, dan pasti ada dasar hukumnya. Kalau mereka hanya boleh di daerah ini saja buka, sementara di daerah lain tidak boleh. Itu tidak boleh karena nanti kita (BPH Migas) keputusannya bisa di PTUN-kan, tidak boleh ada syaratsyarat tambahan. Dan kalaupun itu dibuka (liberalisasikan) harus diputuskan dalam sidang komite BPH Migas, jelasnya.

Perketat Pengawasan BBM Bersubsidi di Pertambangan dan Perkebunan


WAKIL KETUA BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) FAHMI HARSANDONO MENGAKU PIHAKNYA AKAN MENGGENJOT PENGAWASAN LARANGAN PENGGUNAAN BBM BERSUBSIDI DI KAWASAN PERTAMBANGAN DAN PERKEBUNAN. Ini dilakukan agar kuota BBM bersubsidi sebanyak 44,04 juta kilo liter (kl) mencukupi hingga akhir 2012. Banyak antisipasinya, salah satunya dengan mengoptimalkan pengawasan penggunaan BBM bersubsidi di pertambangan. Karena, sampai sekarang saja aturan ini masih sulit diaplikasikan. Bayangkan sampai jam 3.00 pagi masih ada yang mengisi delapan ribu liter, jelasnya. Sebelumnya dalam RDP dengan Komisi VII DPR, BPH Migas tak yakin kuota BBM bersubsidi yang sudah ditambah hingga 44,04 juta kilo liter (kl) cukup hingga akhir tahun. Bahkan lembaga itu memproyeksi BBM bersubsidi yang dianggarkan tetap akan kurang.

Kalau mereka menyanganggupi, habis Pertamina, katanya saat ditemui seusai Dialog Pertamina dan BPH Migas. Ia mengungkapkan, kalau langkah tersebut disetujui, maka posisi BUMN itu akan berada dalam bahaya. Pasalnya, pembangunan kilang itu merupakan bisnis hulu yang harus diserahkan pada perusahaan nasional, bukan ke asing. Lagipula, kata dia, asing menyalurkan sendiri minyak yang dibawanya dari luar untuk keamanan distribusi nasional. Kalau Anda datang ke sini. Bawa sendiri minyak anda tanpa perlu repot-repot, ya monggo, jelasnya. Hal itu malah baik untuk kedaulatan energi karena bukan minyak Indonesia yang dihabiskan, tetapi minyak dari luar negeri. Sebelumnya, DPR menyatakan akan memasukan poin penyamarataan kewajiban membangun kilang bagi peserta tender penyaluran BBM dari pihak swasta. Selain memperbaiki neraca perdagangan, DPR menilai pembangunan kilang sendiri akan membuat dana impor bisa ditekan. Seperti diketahui, minyak mentah bisa diolah sendiri menjadi BBM. Ini jelas memakan dana lebih minim dibanding dengan mengimpor langsung BBM dari luar.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

15

16

[lensa]

Alihkan Subsidi ke Pendidikan, Infrastruktur dan Kesehatan


SUBSIDI BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) PADA TAHUN 2013 DIUSULKAN SEBESAR RP 193,805 TRILIUN, TETAPI JIKA INGIN MENGURANGI RATUSAN TRILIUN HANYA UNTUK DIBAKAR, ADA SATU CARA PALING EFEKTIF, YAKNI MENAIKKAN HARGA BBM BERSUBSIDI.

Menurut Rudi, untuk mengurangi subsidi BBM yang mencapai Rp 193 triliun pada tahun depan, cukup dengan menaikkan harga BBM dari Rp 4.500 per liter menjadi Rp 6.000 per liter. Rudi menilai usulan beberapa partai politik dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang meminta agar subsidi BBM lebih baik dicabut dan dialihkan untuk subsidi infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan lainnya merupakan usulan yang bagus. Kalau dilihat dari sisi bisnis semata, betul harus dihapuskan, namun juga harus dilihat dari sisi sosial, keamanan ekonomi, daya beli masyarakat, apakah sudah siap untuk dihapuskan subsidi BBM-nya, ujarnya. Sebelumnya, Rudi mengungkapkan jika harga BBM subsidi dinaikan menjadi Rp 6.000 per liter, maka subsidi BBM dapat berkurang hingga Rp 56 triliun. Seperti diketahui, subsidi BBM tahun 2013 dalam nota keuangan diusulkan mencapai Rp 193,805 triliun atau naik 41% dari subsidi BBM tahun ini Rp 137,38 triliun. Sedangkan subsidi energi (BBM, Listrik, LPG dan LGV) 2013 diusulkan mencapai Rp 274,743 triliun atau naik 5,72% dibandingkan tahun ini Rp 202,4 triliun.

Wajar Kapal Roro Menggunakan BBM Bersubsidi


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) TAK MELARANG KAPAL RORO (ROLL ON ROLL OFF) MENGGUNAKAN BBM BERSUBSIDI. ITU BILA MUATAN KAPAL MERUPAKAN KEBUTUHAN ORANG BANYAK. Anggota Komite BPH Migas, Ibrahim Hasyim, mencontohkan, kapal RoRo mengangkut penumpang. Itu kan wajar bila pakai BBM yang disubsidi, ujarnya, kemarin. Bahkan, jika kapal RoRo memuat komoditas seperti beras pun, BPH Migas tetap menganggap wajar jika pakai BBM bersubsidi. Alasannya sama, dibutuhkan masyarakat. Padahal, penggunaan BBM bersubsidi yang dilakukan kapal RoRo, menuai protes. Salah satunya dari Asosiasi Perusahaan Pelayaran Niaga Indonesia/ Indonesian Shipowners Association (INSA). Sekretaris INSA Makassar, H Hamka, mengatakan, Kongres INSA di Batam, Juni lalu, semua kapal pelayaran, harus menggunakan BBM non-subsidi, kecuali kapal Pelni. Masih dibolehkannya kapal RoRo menggunakan BBM bersubsidi dianggap bisa menimbulkan persaingan tidak sehat. Sebab, marginnya sangat jauh. Kapal RoRo pun bisa memasang tarif yang jauh lebih murah. Bayangkan, harga BBM subsidi Rp4.500, sedangkan BBM non-subsidi yang dipakai kapal kontainer dan general cargo harus ditebus dengan Rp11.900, beber Hamka. Menanggapi hal itu, Ibrahim menuturkan bahwa INSA memiliki kewenangan mengatur anggota-anggotanya, termasuk kapal RoRo. BPH Migas, sebutnya, tidak bisa melarang karena menyangkut kepentingan publik. Sebelumnya, pihak INSA Makassar mengancam akan melakukan protes berupa mogok beroperasi. Kata Hamka, pendapatan pengusaha kapal kontainer menurun hingga 50 persen dengan bebasnya kapal RoRo.

Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini mengungkapkan subsidi BBM memang sangat besar dan habis hanya untuk dibakar. Namun, untuk mengurangi besarnya subsidi BBM tersebut, hanya ada satu cara yang efektif yakni menaikkan harga BBM subsidi.

Sangat mungkin BBM subsidi dialihkan ke sektor lain seperti pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan lainnya, tetapi optimumnya bukan dihapuskan (subsidi BBM-nya) tetapi cukup dinaikan harga BBM subsidinya, kata Rudi.

Subsidi Energi Pengusaha yang


KETUA UMUM KADIN SURYO BAMBANG SULISTO KEMARIN MENGATAKAN, SUBSIDI BBM TIDAK TEPAT LAGI. HARGA SELITER BBM SUBSIDI YANG LEBIH MURAH DARI 1 BOTOL AIR MINERAL, SUDAH TIDAK MASUK AKAL. SUBSIDI ENERGI (BBM DAN LISTRIK) YANG MENCAPAI HAMPIR RP 300 TRILIUN DINILAI TERLALU BESAR, DAN HABIS HANYA UNTUK DIBAKAR.

Diuntungkan
Bayangkan kalau Rp 300 triliun tersebut dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan. Banyak yang merasakan dampaknya, seperti pembangunan infrastruktur efeknya akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan geliat ekonomi, dan pengusaha pastinya akan memanfaatkannya juga. Bandingkan dengan subsidi BBM dan listrik saat ini, ya yang menikmati kita-kita ini (pengusaha) dan orang mampu, paparnya. Sebelumnya, menurut laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), seringkali terjadi penyelundupan BBM subsidi yang jumlahnya lumayan. Terakhir, ada sekitar 1.700 KL BBM subsidi diduga yang diselundupkan di Kalimantan. Bahkan ada juga oknum aparat keamanan yang juga membekingi BBM subsidi untuk diselundupkan ke industri. Bahkan Menteri ESDM Jero Wacik mengakui, selama ini penyelundupan BBM subsidi makin banyak karena harga BBM subsidi yang terlalu murah yaitu Rp 4.500 per liter dibandingkan BBM non subsidi sekitar Rp 9.700 per liter. Jero Wacik tak menampik adanya penyelundupan BBM subsidi. Bahkan menurut Jero, aksi penyelundupan BBM subsidi makin banyak walaupun sudah banyak yang tertangkap. Hal ini salah satunya disebabkan oleh makin lebarnya perbedaan harga antara BBM subsidi dengan BBM non subsidi. Kita sudah tangkap mereka, tapi yang menyelundup makin banyak lagi, semakin banyak akalakalan mereka, kata Jero.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

17

18

[lensa]

BPH Migas Menyelesaikan Verifikasi Kuota BBM


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) SUDAH MENYELESAIKAN VERIFIKASI TERKAIT JUMLAH KUOTA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) SUBSIDI DAN WILAYAH YANG AKAN DIDISTRIBUSIKAN OLEH PERUSAHAAN SWASTA. Kepala BPH Migas Andy Norsaman Someng mengatakan BPH Migas telah menyelesaikan verifikasi dan selanjutnya pihaknya akan menggelar sidang lanjutan penetapan tersebut. Setelah rapat verifikasi, kami akan melanjutkan dengan sidang komite, ya waktunya dalam minggu-minggu itu juga, kata Andy, di Gedung DPR. Andy menambahkan, untuk volume tender belum bisa diketahui karena masih akan diputuskan dalam sidang komite dan sidang komite dilakukan setelah rapat komite. Kepastian volumenya baru akan kami rapatkan Senin depan, ungkap Andi. Menurut Andy, BPH Migas sebagai stakeholder yang mewakili pemerintah, parlemen, dan masyarakat, harus serba wajar. Jadi mewakili tiga hal itu jadi serba wajar. Kalau badan usaha mengambil keuntungan, keuntungan yang wajar, masyarakat mendapat harga yang wajar, pemerintah juga membuat kebijakan yang wajar, begitu, jelas Andy. Sebagai informasi, terdapat empat perusahaan yang mengajukan proposal untuk mendistribusikan BBM bersubsidi di 2013. Yakni, PT Pertamina (Persero), PT Shell Indonesia, PT AKR Corporindo Tbk, dan PT Surya Parna Niaga (SPN).

Shell Tidak Lolos Seleksi Penyaluran Bahan Bakar Minyak


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) MENYATAKAN PERUSAHAAN MINYAK ASAL BELANDA SHELL TIDAK LOLOS SELEKSI PENYALURAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI PADA TAHUN DEPAN. BPH MIGAS MENYEBUT HANYA ADA DUA BADAN USAHA YANG LOLOS SELEKSI. Direktur BBM BPH Migas Djoko Siswanto mengatakan hanya ada dua badan usaha yang lolos tender distribusi BBM bersubsidi mendampingi Pertamina. Proses tender distribusi BBM bersubsidi masih berjalan, tetapi sudah ada beberapa hal yang sudah diputuskan, kata Djoko. Djoko mengungkapkan ada dua badan usaha yang lolos seleksi, yaitu AKR dan Surya Parna Niaga sedangkan PT Shell Indonesia, dinyatakan tidak lolos seleksi karena Shell meminta alpha yang terlalu besar dan tidak bersedia membangun infrastruktur di luar Jawa-Bali. Sebelumnya, Wakil Ketua Komite BPH Migas Fahmi H menyatakan tender badan usaha pembantu penyaluran BBM bersubsidi hanya akan diberlakukan di wilayah Idonesia bagian timur. Hal tersebut dilakukan karena di wilayah tersebut banyak daerah yang belum terjangkau dalam penyaluran BBM bersubsidi.

Kenaikan harga BBM Akan Membawa Pengaruh Positif


Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini mengatakan, pemerintah menyiapkan setidaknya tiga skenario kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi.Apakah dinaikkan langsung menjadi Rp6.000 per liter, naik bertahap Rp500 per liter, atau naik per bulan, katanya di Jakarta, Senin. Sesuai APBN 2013, pemerintah mempunyai kewenangan menaikkan harga BBM bersubsidi. Pertimbangan kenaikan harga BBM adalah besaran harga minyak mentah dan alokasi subsidi yang telah disiapkan. Kalau harga minyak rendah, maka tentunya tidak ada kenaikan harga BBM, kata Rudi. Menurut dia, pemerintah akan mempertimbangkan waktu kenaikan

TAMBAHAN KUOTA ITU BERDASARKAN REALISASI PENYALURAN BBM BERSUBSIDI HINGGA 30 AGUSTUS 2012 YANG SUDAH MENCAPAI 29,32 KILOLITER. DENGAN RINCIAN, PREMIUM 18,44 JUTA KILOLITER, SOLAR 10,06 JUTA KILOLITER, DAN MINYAK TANAH 700 RIBU KILOLITER. harga BBM yang tepat, sehingga tidak menimbulkan gejolak ekonomi dalam waktu dekat. Sementara, dalam jangka panjang, kenaikan harga BBM pastinya akan membawa pengaruh positif seperti infrastruktur jadi terbangun. Jadi, harus dicari jalan agar kenaikan harga BBM tidak menimbulkan `shock` terutama masyarakat kecil, ujarnya. Kenaikan harga BBM menjadi penting menyusul alokasi subsidi yang ditetapkan dalam APBN Perubahan 2012 sebesar Rp137 triliun, diperkirakan membengkak hingga Rp200 triliun.

BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS (BPH MIGAS) MENYATAKAN AKAN MENGADAKAN SIDANG KOMITE UNTUK MEMBAGI TAMBAHAN KUOTA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI YANG TELAH DISEPAKATI SEBESAR 4,04 JUTA KILOLITER (KL). Anggota Komite BPH Migas Ibrahim Hasyim mengatakan sidang komite yang akan dibentuk tersebut untuk membagi jatah tambahan BBM bersubsidi ke setiap daerah. Kemarin baru disepakati sama DPR jadi kita di BPH akan menunggu arahan dari pemerintah terus kita melakukan sidang komite. Sidang komite itu untuk membagi berdasarkan kebutuhan per daerah, kata Ibrahim. Menurut Ibrahim nantinya semua daerah di Indonesia akan mendapatkan tambahan BBM bersubsidi tersebut. Namun untuk volumenya akan berbeda. Semua daerah akan kita berikan karena semuanya enggak cukup khususnya

Sidang Komite untuk Tentukan Tambahan Kuota BBM


untuk premium. kalau untuk solar masih ada yang cukup tetapi per daerah nanti jumlah kuortanya enggak sama. Kita lihat berdasarkan kebutuhan daerah, ungkap Ibrahim. Ibrahim menambahkan, sidang komite tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat ini dalam sidang tersebut nantinya akan diikuti oleh pihak yang mengatur penggunaan BBM bersubsidi. Minggu depan kita sidang komite karena sekarang masih di daerah, untuk briefing daerah-daerah soal pembatasan BBM. Jadi untuk sidang komite sebanarnya sudah ada ancang-ancang, simulasi kan kita juga sudah bikin. Sudah ada bayangan derah yang akan dibagi tetapi belum sekarang dikasih tau, tutup Ibrahim.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

19

20

[lensa]

BPH Migas Temukan Tujuh Pelanggaran Penggunaan BBM Bersubsidi


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) MENGAKU TELAH MENEMUKAN TUJUH PELANGGARAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI DALAM SKALA BESAR SELAMA PERIODE JULI HINGGA AGUSTUS. Komite BPH Migas Martin S Ritonga mengatakan, pihaknya telah menemukan pelanggaran penggunaan BMM bersubsidi dengan cara menimbun, sehingga merugikan negara miliaran rupiah. Dari ketujuh lokasi tersebut, yang terbesar di Palembang dengan kerugian sebesar Rp120 miliar dari sebanyak 360 ton untuk BBM jenis solar, kata Martin di kantornya, Jakarta Selasa (4/9/2012). Martin menjelaskan beberapa daerah yang terlibat dalam penyelewengan BBM bersubsidi tersebut adalah Batam, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Jatim, Bali, Medan, dan Palembang. Sedangkan untuk mengatasi pelanggaran tersebut, saat ini kasus tersebut sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Dengan diserahkannya permasalahan tersebut ke pihak kepolisian, Martin berharap adanya tindakan tegas untuk pelaku pelanggaran, agar menimbulkan efek jera untuk melakukan hal serupa lagi.Beberapa pelaku sudah ditindak dan diadili, tutup Martin.

Penugasan Pendistribusian BBM Subsidi Tahun 2013


KEPALA BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MGIAS), ANDY NOORSAMAN SOMMENG MENYERAHKAN SURAT KEPUTUSAN (SK) PENUGASAN KEPADA 3 BADAN USAHA YANG DITUGASI MELAKSANAKAN PENYEDIAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI TAHUN 2013. Ketiga Badan Usaha yang diputuskan melalui Sidang Komite, Jumat, 9 Desember 2012, untuk melaksanakan penyediakan dan pendistribusian BBM Bersubsidi tersebut diantaranya, PT Pertamina (persero), PT Aneka Kimia Raya Corporindo Tbk., dan PT Surya Parna Niaga (SPN). Untuk PT Pertamina (Persero), SK penugasan penyediaan dan pendistribusian BBM Bersubsidi tersebut diterima oleh Direktur Utama PT Pertamina, Karen Agustiawan. Untuk PT AKR Corporindo diterima oleh Haryanto Adikoesoemo, dan PT SPN diterima oleh Artha Meris Simbolon. Dikatakan Andy, untuk penugasan tahun 2013 ini, BPH Migas menginstruksikan kepada Badan Usaha untuk melaksanakan penyediaan dan pendistribusian BBM Bersubsidi menggunakan sistem tertutup. Sesuai dengan Perpres Nomor 45 tahun 2009, pendistribusian BBM Jenis Tertentu akan dilakukan dengan sistem tertutup. Pelaksanaannya akan dilakukan

secara bertahap menggunakan sistem teknologi informasi yang terpadu melalui konsep Vendor Managed Inventory (VMI), katanya.

Pengendalian BBM Bersubsidi Terus Dilakukan


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) AKAN MELANJUTKAN PEMBATASAN VOLUME KUOTA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI JENIS PREMIUM PADA STASIUN BAHAN BAKAR UMUM (SPBU). Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng mengatakan, akan melanjutkan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi tersebut pada 2013. Hal tersebut merupakan tindak lanjut Peraturan Menteri nomor 12 tahun 2012 terkait pembatasan penggunaan BBM bersubsidi. Andi menambahkan, pembatasan tersebut akan dilakukan kepada pasokan SPBU, dengan membatasi pasokan dengan jumlah tertentu. Pengaturan batasan kuota pada SPBU atas penggunaan jenis BBM tertentu berupa bensin Ron 88 pada Juli 2013, katanya. Selanjutnya, pemerintah akan melakukan pembatasan pada penggunaan minyak solar untuk mobil barang dan kapal barang non-pelra untuk seluruh Indonesia mulai Desember 2012. Pemerintah juga akan melakukan pelarangan konsumsi premium untuk kendaraan dinas pemerintah, BUMN, dan BUMD di seluruh Indonesia pada Januari 2013. Selain itu, Andy menambahkan, akan ada pengaturan konsumen jenis BBM tertentu pada premium dan solar untuk mobil pribadi mulai Januari 2013 Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas bumi (BPH Migas) mengaku kendala di lapangan dalam melakukan pengendalian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Sulitnya Mengendalikan Penggunaan BBM Bersubsidi


KEPALA BPH MIGAS ANDY NOORSAMAN SOMMENG MENGATAKAN, BPH MIGAS MENDAPATKAN KENDALA DALAM MELAKSANAKAN PERATURAN MENTERI ENERGI SUMBER DAYA MINERAL (ESDM) NO 12 TAHUN 2012 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BBM BERSUBSIDI YANG MELARANG PENGGUNAAN BBM BERSUBSIDI UNTUK KENDARAAN DINAS, PERKEBUNAN, DAN PERTAMBANGAN. Andi mengungkapkan, kendala di lapangannya seperti kendala terhadap petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang tidak berani memberlakukan kepada TNI dan Polri. Selain itu, lanjut Andi, petugas juga tidak mengenali pelat khusus dan tidak memiliki kekuatan hukum untuk melindungi dirinya. Selain itu Andy menambahkan, ada pengguna mobil dinas berplat merah yang mengganti dengan plat hitam.Penggunaan kendaraan pelat dinas (merah) merubah plat hitam palsu, kata Andy dalam Rapat Dengar Pendapat Pengaturan & Pengawasan terhadap BBM Bersubsidi 2012, di Jakarta. Menurut Andi, ada juga modus yang dilakukan pengguna dengan batal mengisi di SPBU yang ada pengawasan atau diingatkan untuk tidak mengisi premium dan pindah ke SPBU lain. Selain itu, ada juga pengguna premium yang berpindah (migrasi) mengisi BBM di luar wilayah pengawasan bagi pengguna yang berada atau tinggal di perbatasan wilayah tersebut. Andi menjelaskan ada suatu kondisi dimana SPBU yang menjual BBM solar non subsidi mengalami penurunan omset penjualan yang sangat drastis khususnya solar non subsidi karena kendaraan pertambangan dan perkebunan mengisi di SPBU subsidi tempat lain.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

21

22

[lensa]

Wamen, Pengaturan BBM Bersubsidi Harus Lebih Ketat


WAKIL MENTERI ESDM RUDY RUBIANDINI MEMPERKIRAKAN DALAM BEBERAPA WAKTU MENDATANG AKAN TERJADI KERUSUHAN AKIBAT LANGKANYA BBM BERSUBSIDI DI MASYARAKAT. PASALNYA, DARI 40 JUTA KILO LITER OLEH YANG TELAH DINAIKAN DPR MENJADI 44,04 JUTA KILOLITER PREMIUM, TETAP TIDAK AKAN MAMPU MEMENUHI KEBUTUHAN MASYRAKAT. Pertamina pernah melaporkan dengan BPH Migas kelihatannya tidak akan sampai 31 Desember dan hanya akan berakhir di 22 Desember, kata Rudy. Akibatnya, menurut Rudy, dapat dipastikan masyarakat akan menjerit dan akan terjadi kerusuhan atas kelangkaan bahan bakar subsidi tersebut. Bisa dibayangkan kalau 8 hari tanpa BBM bersubsidi dan hanya menggunakan pertamax akan terjadi kerusuhan, ungkapnya. Karena khawatir tidak akan mencukupi hingga akhir tahun, menurut Rudi, Pertamina akhirnya harus mencicil pasokan BBM ke SPBU. Oleh karena itu ada upaya dari Pertamina dan BPH Migas untuk dicicil sedikit-sedikit. Kadang-kadang 2 jam dalam satu hari atau 3 jam dalam satu hari ditahan BBM bersubsidinya, ini untuk mencoba agar orang masuk menggunakan BBM non subisidi, kata Rudi. Artinya yang bersubsidi akan dikurangi yang BBM non subsidi yang harus diadakan di SPBU. Dengan begitu keberadaan energi tetap ada, keberadaan bensin tetap ada cuma keberadaan subsidinya saja yang ditahan dalam waktu tertentu dalam beberapa jam saja. Dengan begitu kita bisa menikmati sampai 31 Desember 2012, pungkasnya.

GTA Ruas Transmisi Kepodang Tambak Lorok Ditandatangani


BERTEMPAT DI AULA KANTOR BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) SENIN, (10/12) GAS TRANSPORTATION AGREEMENT (GTA) RUAS TRANSMISI KEPODANG-TAMBAK LOROK ANTARA PT BAKRIE & BROTHERS TBK DENGAN PETRONAS CARIGALI MURIAH DAN PT PLN (PERSERO) DITANDATANGANI. PENANDATANGANAN GTA TERSEBUT DISAKSIKAN LANGSUNG OLEH KEPALA BPH MIGAS, ANDY NOORSAMAN SOMMENG. dapat mempercepat terwujudnya pembangunan pipa Trans Jawa (Semarang-Gresik dan SemarangCirebon). Saya berharap pembangunan pipa ini dapat segera direalisasikan dan dapat selesai pada waktu yang telah direncanakan, tandasnya. Sementara itu, Direktur Utama PT Bakrie & Brothers Tbk, Bobby Gafur Umar, mengatakan dengan dibangunnya pipa Kalija fase 1 ruas KepodangTambak Lorok ini merupakan salah satu sumbangsih negara untuk mengurangi cost recovery yang biasanya menjadi beban Pemerintah akibat dari ekplorasi dan eksploitasi sumber daya alam migas. Menurut Andy, penandatanganan GTA ini merupakan awal dari pelaksanaan pembangunan pipa transmisi ruas Kepodang-Tambak Lorok, karena merupakan komitmen dari Shiper (pengguna pipa) dengan Transporter (pemilik/operator pipa) yang akan menjamin keberlangsungan dan keekonomian awal dari pipa transmisi. Ditambahkan Andy, pembangunan pipa transmisi Kepodang-Tambak Lorok ini, selain nantinya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Propinsi Jawa Tengah juga diharapkan Dirinya berharap dengan adanya pipanisasi Kalija fase satu ini, fase-fase berikutnya, baik dari Bontang menuju Semarang dan juga dari Semarang ke Gresik, dari Semarang ke Cirebon juga bisa segera di bangun. Dalam perjanjian ini telah disepakati akan diangkut sebanyak 354 Trillion Cubic Feet (TCF) selama 12 tahun mulai akhir 2014 sampai dengan 2026, katanya. Untuk diketahui bahwa BPH Migas telah melaksanakan proses lelang ruas transmisi Gas Bumi Bontang (Kalimantan Timur) Semarang (Jawa Tengah) pada 29 Desember 2005 sampai dengan Juli 2006, dan telah menetapkan PT Bakrie & Brothers Tbk. sebagai pemenang. Mengingat belum tersedianya pasokan Gas Bumi yang dapat diangkut melalui pipa transmisi Kalija pada saat itu, maka pembangunan ruas tersebut belum dapat di realisasikan. Saat ini dengan adanya pasokan Gas Bumi yang berasal dari lapangan Kepodang dan telah diterbitkannya Suart Keputusan Menteri ESDM Nomor: 2700K/11/MEM/2012 tentang RIJTDGBN tahun 2012-2015, dimana pembangunan ruas Kalija dapat dilakukan berahap dengan mempertimbangkan ketersediaan pasokan gas Bumi, maka pembangunan ruas Kalija dapat dilanjutkan. Padahal, lanjut Ifan, BPH Migas hanya memiliki sekitar 200 karyawan dan itu pun musti mengawasi sekitar 500 Kabupaten/Kota agar pendistribusian BBM tepat sasaran dan sesuai peruntukannya. Ini sudah luar biasa bila dibandingkan dengan KPK sekalipun. Cuma kadang-kadang KPK lebih seksi, pungkas Ifan.

BPH Sinergi dengan Pengusaha


WAKIL KETUA KOMITE BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS), FAHMI HARSANDONO, BERHARAP ADA SINERGI YANG BAIK ANTAR BPH MIGAS DENGAN PENGUSAHA. BPH MIGAS BERTUGAS MEMBINA PENGUSAHA, DAN PENGUSAHA MEMBANTU KESEJAHTERAAN BPH MIGAS. Pembinaan terhadap para pengusaha tersebut untuk menjadikan mereka tangguh dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari BPH Migas, ujarnya. Ketua DPP Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas), Erry Hadi Purnomo mengatakan BPH Migas sangat dibutuhkan para pelaku usaha Migas di sektor hilir. Sejujurnya kita ingin realistis, BPH Migas kita perlukan. Karena BPH Migas kan wasit dalam bidang usaha Migas, katanya kepada wartawan. Menurut Erry keberadaan lembaga seperti BPH Migas lazim di negaranegara maju. BPH Migas adalah regulator independen dalam usaha Migas. :Saya harap BPH Migas tetap eksis dan diperlukan dalam penerapan regulasi di sektor hilir sesuai dengan amanat undang undang katanya.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

23

24

[lensa]

Harga BBM di Indonesia Masih Sangat Murah


FAKTOR ENERGI SANGAT DIBUTUHKAN GUNA MENINGKATKAN PERTUMBUHAN PEREKONOMIAN SUATU BANGSA. BAGAIMANA APABILA SUATU BANGSA HANYA MENGGUNAKAN ENERGI YANG TIDAK TERBARUKAN SEPERTI BBM? TENTU AKAN BERDAMPAK NEGATIVE TERHADAP KETAHANAN ENERGI NASIONAL. TENTU PERLU DIKEMBANGKAN ENERGI ALTERNATIF ATAU ENERGI BARU TERBARUKAN. NAMUN BAGAIMANA MENGEMBANGKAN ENERGI BARU TERBARUKAN, SEDANGKAN HARGA BBM DI INDONESIA JUSTRU MASIH MURAH? Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Sommeng, saat menjadi pembicara dalam acara Seminar Ketahanan Energi yang digelar di Kampus Universitas Indonesia, mengatakan selama harga BBM murah masih ada (available) tidak akan mungkin yang namanya energi yang baru terbarukan itu akan muncul. Satu liter harga bahan bakar bio itu lebih mahal dari pada BBM Bersubsidi Rp 4.500. Jadi tidak akan tumbuh selama BBM itu masih dengan harga yang Rp 4.500. Itu hanya separu dari harga keekonomian, katanya. Untuk menuju ke harga keekonomian memang tidak mudah dan ada kekhawatiran dikatakan anti subsidi, padahal tidak. Subsidi itu, ditambahkan Andy, memang harus ada tapi jelas peruntukannya seperti untuk pendidikan, kesehatan dan energi. Kita tidak anti subsidi. Subsidi harus tapi jelas peruntukannya. Bukan subsidi kepada komoditi. Itu yang jadi permasalahan, ujarnya. Oleh karena itu, dirinya menghimbau agar masyarakat jangan lagi berpikir bahwa negara ini masih kaya akan minyak. Berbeda dengan tahun 70-an, dimana produksi minyak masih cukup besar sedangkan konsumsi masih rendah. Kita harus merubah paradigma jangan lagi berpikir bahwa kita ini kaya minyak. Sekarang kita lihat, sejak 1999 sampai 2000 terjadi declining dari produksi migas kita. Untuk dapat mencukupi konsumsi nasional, sekitar 40 sampai 45 persen itu bukan lagi hasil minyak kita, tapi impor, tandasnya.

Ibrahim Hasyim, Berharap SPDN untuk Nelayan Jangan Sampai Berhenti


KEBERADAAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR NELAYAN (SPDN) SANGAT DIBUTUHKAN BAGI PARA NELAYAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHANNYA MELAUT. NAMUN BAGAIMANA KETIKA SPDN TERSEBUT JUSTRU TUTUP ALIAS TIDAK LAGI BEROPERASI? Ini yang terjadi di Kampung Nelayan Kilangan Singkil, Aceh, saat Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim, melakukan kunjungan kerja pengawasan terhadap penyediaan dan pendistribusian BBM, mendapati sebuah SPDN justru berhenti. Menurut Ibrahim, berhentinya SPDN yang dikelola Koperasi tersebut dikarenakan mengalami kekurangan modal. Karena kurang modal, Penyalur (SPDN) yang dikelola Koperasi ini sudah berhenti sejak setahun yang lalu. Akhirnya nelayan pun harus membeli BBM di SPBU yang tersedia di Singkil, kata Ibrahim. Ditambahkan Ibrahim, masyarakat nelayan di sana sangat mengharapkan bahan bakar. Tapi karena SPDN-nya tutup akhirnya memaksa para nelayan untuk membeli bensin premium di SPBU. Untuk mendapatkan BBM akhirnya nelayan harus membeli di dua SPBU yang ada di Singkil, katanya. Untuk mengatasi hal itu, lanjut Ibrahim, Pertamina tengah berupaya untuk kembali mengoperasikan SPDN tersebut dengan menyelesaikan masalah kelembagaan, mempersiapkan fasilitas timbun dan pengisian serta memberikan alokasi Bensin Premium disamping minyak solar yang sudah diberi alokasi sebelumnya, sesuai kebutuhan masyarakat nelayan di daerah tersebut.

BPH Migas Rumuskan Kuota Untuk Tiap Kabupaten dan Kota


PEMERINTAH DAERAH (PEMDA) DIHIMBAU UNTUK SEGERA MENGIRIMKAN ANGKA PENDAPATAN DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KE BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS). ANGKA PDRB TERSEBUT NANTINYA AKAN DIJADIKAN DASAR DALAM PERUMUSAN PENETAPAN KUOTA MASING-MASING KABUPATEN/KOTA TAHUN 2013. Kepada Kabupaten/kota tolong angka PDRB ini segera dikirim ke BPH Migas karena kita akan jadikan dasar dalam perumusan penentapan kuota BBM tahun 2013, ujar Anggota Komite BPH Migas Ibrahim Hasyim, saat menjadi nara sumber dalam acara seminar pengawasan pendistribusian BBM Bersubsidi di Makasar, Sulawesi Selatan, belum lama ini. Ditambahkan Ibrahim, sementara ini pendekatan awal dalam rangka membagi kuota BBM Bersubsidi per Kabupaten/ Kota tersebut masih mengacu pada hasil realisasi lembaga penyalur yang ada di wilayah masing-masing. Padahal

dalam perjalanannya ada daerahdaerah yang mengalami pemekaran dan pengembangan yang tidak sama antara satu dan lainnya. Oleh karena itu, lanjut Ibrahim, BPH Migas telah mengirim surat kepada banyak

daerah untuk memasukan angka PDRB tiap-tiap Kabupaten/Kota sebagai dasar penentuan perumusan dan penetapan kuota BBM Bersubsidi di wilayah tersebut. Dengan memasukan angka PDRB ini penetapan kuota per Kabupaten/

Kota diharapkan akan lebih mendekati kebutuhan BBM Bersubsidi di suatu wilayah. Dari tahun ke tahun kita ingin memperbaiki kualitas perencanaan pembagian kebutuhan BBM ini, ungkapnya. Digambarkan Ibrahim, kebutuhan energi di banyak dunia itu akan selalu berkaitan dengan pembangunan ekonomi. Apabila tingkat pertumbuhan ekonominya mengalami kenaikan maka kebutuhan akan energi pun mengalami peningkatan. Untuk diketahui, bahwa untuk tahun 2013 ini, DPR dan Pemerintah telah menetapkan kuota nasional BBM Bersubsidi sebesar 46,01 juta kilo liter (KL). Oleh BPH Migas, kuota tersebut dibagi ke hampir 500 Kabupaten/Kota.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

25

26

[lensa]

BPH Migas Dampingi Komisi VII Kunjungi NTB


Seminar Pengawasan Pendistribusian BBM Bersubsidi di Makasar
BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) MENYELENGGARAKAN SEMINAR PENGAWASAN PENDISTRIBUSIAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI DI MAKASAR, SULAWESI SELATAN. Pelaksanaan seminar pengawasan pendistribusian BBM ini bertujuan untuk memperoleh informasi serta masukan dari para Pemerintah Daerah (Pemda) yang selama ini telah melakukan pengawasan terhadap penyaluran Jenis BBM Tertentu guna memenuhi kebutuhan BBM kepada masyarakat di wilayahnya masing-masing. Kepala BPH Migas, Andy Noorsaman Sommeng, dalam sambutannya yang disampaikan Anggota Komite BPH Migas, M. Fanshurullah Asa, mengatakan pengawasan terhadap pendistribusian BBM, khususnya BBM Bersubsidi perlu diciptakan kerjasama dengan Pemda. Untuk melakukan kerjasama itu, terlebih dulu BPH Migas perlu mengetahui aturan yang diperlukan agar dapat mendukung kerjasama tersebut. Menurutnya, pelaksanaan pendistribusian BBM di daerah-daerah tentunya tidak dapat langsung dilakukan oleh BPH Migas. Pemda dinilai lebih mengetahui kondisi di daerah masingmasing, terutama terkait dengan pendistribusian BBM Bersubsidi. BPH Migas menilai perlu berkumpul bersama dengan Pemda seluruh Indonesia untuk dapat merumuskan pola dan tata cara kerjasama yang optimal, katanya. Itu sebabnya ia berharap melalui seminar pengawasan pendistribusian BBM ini akan mendapatkan suatu perumusan yang lebih efektif. Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan, dalam sambutannya yang disampaikan Kepala Dinas Pertambangan Dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Sulawesi Selatan, Gunawan Palaguna, mengatakan kegaitan seminar pengawasan pendistribusian BBM Bersubsidi ini ini merupakan momen penting untuk lebih memantapkan kerjasama anatara BPH Migas dengan Pemda supaya lebih bersinergi untuk kemajuan bersama. Pengawasan BBM Bersubsidi dengan melibatkan semua pihak terkait penting untuk dilakukan agar pengawasan pendistribusian BBM bersubsidi dapat berjalan dan diharapkan dapat meminimalisir segala permasalahan yang timbul, jelasnya. Hadir dalam acara seminar tersebut diantaranya Anggota Komite BPH Migas, Ibrahim Hasyim, Martin S. Ritonga, GM Pertamina Makasar, serta Perwakilan dari Hiswana Migas, dan perwakilan dari beberapa Pemda seluruh Indonesia. ANGGOTA KOMITE BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS), SUMIHAR PANJAITAN, MENDAMPINGI KUNJUNGAN KERJA KOMISI VII DPR RI YANG DIKETUAI OLEH SUTAN BATUGANA KE MATARAM, NUSA TENGARA BARAT. ADAPUN MAKSUD KUNJUNGAN KERJA TERSEBUT DISAMPING UNTUK MELAKUKAN FUNGSI PENGAWASAN DAN MENDAPATKAN INFORMASI TENTANG PERKEMBANGAN JUGA PERMASALAHAN DALAM HAL PENYEDIAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BBM DI NUSA TENGGARA BARAT. Rombongan yang dipimpin politisi partai Demokrat Sutan Batugana diterima wakil Gubernur NTB H. Badrul Munir beserta sejumlah pejabat terkait. Dijelaskannya Sutan, selain fungsi pengawasan dan mendapatkan informasi permasalahan penyediaan dan pendistribusian BBM juga untuk mengetahui perkembangan kerjasama. Kita juga ingin mengetahui perkem bangan kerja sama, salah satunya pengembangan Sistem Inovasi Daerah (SID), khususnya dalam pengembangan sapi melalui inseminasi buatan Indonesia kata Sutan. Sementara terkait peran BPH Migas mengenai pengawasan dan pendistribusian BBM bersubsidi yang subsidi apa tidak di daerah yang diberikan izin operasi oleh Pemda. Kenapa bisa dilakukan sendiri oleh Pemda, karena Pemda yang memberikan izin operasi SPBU, sedangkan hubungan pengusaha SPBU dengan Pertamina hanyalah sebatas franchise dengan prinsipal untuk memasarkan produknya, ucap Fahmi. Fahmi menambahkan Pemda bisa saja melarang pemegang produk tertentu untuk memperdagangkan produk di wilayahnya, dalam hal ini dilarang menjual BBM subsidi. Sebagai contoh, Pemda dipertanyakan Anggota DPR, Sumihar menjelaskan, bahwa Peraturan BPH Migas nomor 4 dan 5 menyebutkan adanya kerjasama dengan Pemerintah Daerah. Kewenangan pengaturan dan pengawasan tersebut sebagian akan diserahkan kepada Pemerintah Daerah, dalam hal ni Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), jelas Sumihar. Sementara itu Wakil Gubernur NTB H. Badrul Munir menjelaskan kondisi pertambangan yang ada di NTB, khususnya mengenai izin dan status pengelolaan pertambangan yang dikeluarkan Pemda Kabupaten/Kota. Sebagian besar IUP yang ada di NTB merupakan IUP pertambangan logam, sedagka IUP non logam hanya 32 IUP. DKI melarang di wilayah Perumahan Elit seperti Pondok Indah dan lainnya ada SPBU di wilayah tersebut menjual BBM subsidi, hanya boleh jual BBM Non Subsidi, itu boleh, itu haknya Pemda. Jika itu dilakukan, lambat laun, orangorang kaya yang tinggal di wilayah tersebut akan beralih menggunakan BBM Non Subsidi. Selama itu tidak dilakukan, ya mereka (orang kaya) santai saja beli BBM subsidi, ungkapnya. Apalagi kata Fahmi, lebih bagus lagi kalau DKI Jakarta, Makassar, Balikpapan, Surabaya, Medan dan kota-kota besar di Sebagian besar masih dalam tahap eksplorasi, terang Badrul. Pada kesempatan yang sama, Anggota BPH Migas juga menyempatkan diri mengunjungi salah satu omprongan tembakau di desa Kilang, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur yan kabarnya sekitar bulan Juli sampai Oktober, petani tembakau terkadang mengkonsumsi solar sebagai salah satu bahan bakar alternatif proses pengeringan daun tembakau. Setelah NTB bebas dari minyak tanah, maka solar dicampur premium sebagai penggantinya. Perbandingannya antara solar dan premium 10-1. Perbandingannya solar 200 liter dan premium 20 liter kata Chairul ikhwan, pemilik omprongan tembakau. Pajak Bahan Bakar Minyak Kendaraan Bermotor (PBBKB) menjadi salah satu sumber pendapatan daerah. Data volume BBM yang didistribusikan di suatu daerah menjadi sesuatu yang penting untuk diketahui Pemerintah Daerah agar dapat mengetahui berapa besaran yang seharusnya di diterima dari PBBKB tersebut. Indonesia menghapus BBM subsidi di daerahnya. Sehingga, BBM subsidi bisa diberikan ke daerah-daerah berkembang, BBM subsidi lebih difokuskan untuk nelayan dan petani di daerah terpencil, sisanya bisa dihemat dan penghematannya bisa dialihkan ke sektor lain seperti pembangunan infrastruktur, jalan, sekolah dan rumah sakit serta pembangunan lainnya, tandas Fahmi.

Pemda Punya Hak Pembatasan BBM Bersubsidi Setiap SPBU


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) MENEGASKAN PEMERINTAH DAERAH BERHAK MENGELUARKAN KEBIJAKAN PENGHAPUSAN BBM SUBSIDI DI DAERAHNYA MASING-MASING.HAL INI MEMPERKUAT SIKAP ASOSIASI GUBERNUR SE-INDONESIA YANG MENDUKUNG UPAYA PENGHAPUSAN BBM SUBSIDI TANPA PERSETUJUAN PEMERINTAH PUSAT. WACANA INI PERNAH DIMUNCULKAN OLEH WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA BASUKI TJAHAJA PURNAMA.
Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

Pemda kalau mau menghapuskan BBM subsidi, mereka bisa lakukan sendiri tanpa harus menunggu izin pemerintah pusat, kata Wakil Kepala BPH Migas Fahmi (30/12). Menurut Fahmi, izin operasi SPBU ada di Pemda, Pemda mempunyai hak untuk mengatur setiap SPBU boleh jual BBM

BPH Migas

27

28

[lensa]

Penyerahan DIPA Tahun 2013


MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL (ESDM) JERO WACIK, SENIN (17/12) MENYERAHKAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) TAHUN 2013 KEPADA PARA PENGGUNA ANGGARAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN ESDM. SALAH SATUNYA DISERAHKAN KEPADA BPH MIGAS DITERIMA OLEH KEPALA BPH MIGAS, ANDY NOORSAMAN SOMMENG. Dijelaskan Jero, DIPA Kementerian ESDM untuk tahun 2013 sebesar Rp 18.80 triliun, dimana naik sekitar 18,98% dari alokasi anggaran tahun 2012 yang hanya sebesar Rp 15,80 triliun tersebut sengaja diserahkan lebih awal untuk percepatan pelaksanaan APBN di lingkungan Kementerian ESDM. Tujuannya adalah supaya bersiapsiap agar Januari tender sudah bisa dilakukan hingga lebih cepat serapannya. Saya minta per kuartal itu harus proporsional. Dulu DIPA-nya bulan April baru selesai sekarang di Desember sudah dikeluarkan. Ini maksudnya agar semua tender bisa dilakukan, ujar Jero. Jero berkeyakinan, Kementerian ESDM memiliki potensi yang luar biasa untuk maju dan sukses. Saya berkeyakinan sektor ESDM akan mempunyai peran yang tingggi terhadap pembangunan bangsa. Mari kita tunjukan kepada negara bahwa kita layak menjadi unggulan, layak bekerja keras dan harus tunjukan kepada bangsa ini bahwa kita akan berjuang maksimal, katanya. Di 2012, ungkap Jero, Kementerian ESDM telah menyerap dari total anggaran sebesar Rp 15,80 triliun sudah terserap sekitar 80 persen. Tahun depan anggaran sebesar Rp 18 triliun itu kita 18 trliun. Menurutnya kalau pembelanjaanpemerintah cepat dilakukan itu akan menambah pertumbuhan.

Sosialisasi Pengawasan dan Pengendalian Pendistribusian BBM Bersubsidi di Gorontalo


BERKAITAN DENGAN TELAH DIBERLAKUKANNYA PEMBATASAN PENGGUNAAN BBM BERSUBSIDI PADA ANGKUTAN PERKEBUNAN DAN PERTAMBANGAN YANG TELAH DILAKSANAKAN PER 1 SEPTEMBER 2012, BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) MENGGELAR SOSIALISASI PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PENDISTRIBUSIAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI DI GORONTALO. Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Sommeng, dalam sambutannya yang disampaikan Sekretaris BPH Migas Agus Budi Wahyono mengatakan, untuk mengantisipasi tidak mencukupinya BBM Bersubsidi hingga akhir tahun, Pemerintah telah mengajukan penambahan kuota BBM Bersubsidi sebanyak 4,04 juta kilo liter (KL). Tanggal 17 September 2012 Komisi VII DPR RI menyetujui penambahan kuota BBM Bersubsidi sejumlah 4,04 juta KL dan pengaliohan kuota kerosin karena konvesi ke gas LPG sebanyak 500 ribu KL. Sehingga rincian tambahan kuota sebanyak 3,43 juta KL untuk Bensin Premium dan 1.11 juta KL untuk Minyak Solar, katanya. Lebih lanjut dalam pesan yang dibacakan Andy mengatakan , penambahan kuota tersebut kemungkinan tidak dapat memenuhi semua kebutuhan BBM Bersubsidi sehingga diperlukan tindakan nyata dalam melakukan pengawasan dan pengendalian BBM Bersubsidi supaya kuota yang terbatas itu dapat disalurkan kepada masyarakt yang membutuhkan dan roda perekonomian bergerak dengan lancar. Sebagai bentuk pengendalian dan pengawasan terhadap penggunaan BBM Bersubsidi, sambung Andy, Kementerian ESDM melalui peraturan Menteri ESDM nomor 12 tahun 2012 melakukan tahapan pembatasan penggunaan BBM Bersubsidi. Terkahir per 1 September Peraturan Menteri ini melarang mobil barang yang digunakan untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan menggunakan BBM Subsidi Jenis Minyak Solar.

Hadapi Lonjakan Natal Dan Tahun Baru, 15 SPBU Disiagakan 24 Jam


ANGGOTA KOMITE BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) IBRAHIM HASYIM, MENGUNGKAPKAN KESIAPAN PERTAMINA UNTUK MENGHADAPI LONJAKAN KEBUTUHAN BBM JELANG NATAL DAN TAHUN BARU DI SULAWESI UTARA, SUDAH CUKUP BAIK. SEBANYAK 15 SPBU PUN DISIAPKAN BEROPERASI SELAMA 24 JAM. Demikian diungkapkan Ibrahim Hasyim, saat turun langsung ke lapangan memantau kesiapan Pertamina menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru, belum lama ini, di Manado. Pertamina sudah menyiagakan 15 SPBU buka 24 jam dijalur utama diseluruh Sulut untuk menghadapi lonjakan permintaan acara akhir tahun, ujar Ibrahim. Selain itu, upaya-upaya yang dilakukan Pertamina, imbuh Ibrahim, adalah membentuk posko untuk koordinasi dan komunikasi dengan semua pelaku yang terkait, meningkatkan ketahanan stock BBM dan LPG juga menambah kekuatan armada angkutan laut tanker dan puluhan mobil tanki serta menambah jam pelayanan di Terminal BBM Bitung. Sebelumnya, ditambahkan Ibrahim, saat melakukan pemantauan pengawasan lapangan, Pertamina hanya fokus pada persediaan Natal dan Tahun Baru. Namun, dengan banyaknya acara yang digelar di Sulut, pasokan untuk daerah ini pun mulai ditambah. Sejauh ini, upaya kesiapan Pertamina dalam mengamankan tersedianya dan terdistribusinya kebutuhan BBM dan LPG untuk kegiatan Natal dan Tahun Baru saya nilai sudah bagus dan dilakukan dengan baik, jelas Ibrahim.

Sosialisasikan Penggunaan BBM Non Subsidi di Palembang


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) TERUS MENSOSIALISASIKAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) NON SUBSIDI KEPADA MASYARAKAT DIBEBERAPA SPBU DI INDONESIA. KINI SOSIALISASI KEMBALI DILAKUKAN DIBEBERAPA SPBU DI PALEMBANG. Pelaksanaan sosialisasi yang mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) nomor 12 tahun 2012 tentang pengendalian BBM Bersubsidi ini diharapkan dapat menggugah masyarakat menengah ke atas, khususnya kendaraan plat merah yang masih menggunakan BBM Bersubsidi untuk beralih mengggunakan BBM Non Subsidi. Dari pantauan di lokasi SPBU tempat dilakukan sosialisasi penggunaan BBM Non Subsidi tersebut terlihat kendaraan dinas yang mengisi kendaraan mereka dengan BBM Subsidi. Namun, ada juga masyarakat yang langsung mengisi kendaraannya dengan BBM Non Subsidi, seperti pertamax. Salah seorang pengendara Honda Jazz, Lusy yang langsung mengisi kendaraannya dengan BBM Non Subsidi mengatakan telah sejak lama menggunakan BBM Non Subsidi. Dari dua kendaraan yang dimiliki, sambung Lusi, semuanya menggunakan bensin Pertamax. Dari dulu saya sudah menggunakan Pertamax. Dua kendaraan yang saya miliki semua menggunakan Pertamax. Dengan menggunakan Pertamax, mesin mobil saya jadi lebih awet dan tarikan lebih enteng, katanya.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

29

30

[lensa]

Propinsi Sumbar dan BPH Migas Sepakat Lakukan Pengawasan BBM Bersubsidi

Menjalin Sinergi antara BPH Migas dan Pemda


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) BEKERJASAMA DENGAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PENGEMBANGAN DAERAH, KEMENTERIAN DALAM NEGERI, MENYELENGGARAKAN SEMINAR PENGAWASAN PENDISTRIBUSIAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DI BATAM. Pelaksanaan seminar pengawasan pendistribusian BBM bertujuan untuk memperoleh informasi dan masukanmasukan dari para Pemerintah Daerah (Pemda) yang selama ini telah melakukan pengawasan terhadap penyaluran Jenis BBM Tertentu guna memenuhi kebutuhan BBM kepada masyarakat di wilayahnya masingmasing. Kepala BPH Migas, Andy Noorsaman Sommeng, mengatakan dalam rangka pengawasan terhadap pendistribusian BBM, khususnya BBM Bersubsidi perlu diciptakan kerjasama dengan Pemda. Untuk melakukan kerjasama itu, terlebih dulu BPH Migas perlu mengetahui aturan yang diperlukan agar dapat mendukung kerjasama tersebut. Untuk itulah BPH Migas menilai perlu berkumpul bersama dengan Pemda seluruh Indonesia untuk dapat merumuskan pola dan tata cara kerjasama yang optimal. Supaya perumusan dapat efektif tentunya dapat dilakukan dalam suatu forum yang berbentuk seminar, Katanya. Ditambahkan Andy, pelaksanaan pendistribusian BBM di daerahdaerah tentunya tidak dapat langsung dilakukan oleh BPH Migas. Pemda lebih mengetahui kondisi di daerah masingmasing, terutama terkait dengan pendistribusian BBM Bersubsidi. Sinergi antara BPH Migas dan Pemda dalam hal pengawasan pendistribusian BBM akan dapat memperoleh hasil yang lebih baik dibanding dengan pelaksanaan sendiri-sendiri, ujar Andy. Sementara itu, Ketua Panitia pelaksana seminar Djoko Siswanto menjelaskan, pelaksanaan seminar pendistribusian BBM Bersubsidi ini didasar oleh Peraturan Presiden nomor 15 tahun 2012, khususnya dalam rangka pengawasan BBM. Dipaparkan Djoko, terkait dengan pelaksanaan seminar pendistribusian ini, mengundang 33 Propinsi, namun

DALAM UPAYA MENGETAHUI DATA TENTANG PENDISTRIBUSIAN BBM YANG DIDISTRIBUSIKAN SERTA MEMPEROLEH INFORMASI MENGENAI PENDAPATAN DAERAH KHUSUSNYA DARI PBBKB, KETUA DPRD PROPINSI SUMATERA BARAT (SUMBAR) YULTEKHNIL BESERTA ROMBONGAN MENGUJUNGI KANTOR BPH MIGAS. Rombongan diterima langsung Anggota Komite Migas Mayjen, Karseno didampingi Direktur BBM BPH Migas, Djoko Siswanto serta Kasubag Pertimbangan Hukum dan Humas, Narcicy Makalew. Pada kesempatan tersebut Yultekhnil, mengatakan telah melakukan verifikasi namun hasilnya kurang memuaskan. Padahal, lanjutnya data penjualan BBM itu sangat berguna sebagai sumber pendapatan daerah. Belajar dari beberapa daerah yang tidak jauh berbeda dari segi geograpis, jumlah penduduk, sumber daya alam

dan jumlah kendaraannya koq berbeda. Padahal PBBKB dalam jumlah kilo liter BBM tersebut sangat berguna bagi pendapatan yang akan diterima Propinsi Sumbar, katanya. Menanggapi hal tersebut, Djoko menjelaskan, mengenai PBBKB dari tahun ke tahun selalu berubah, baik Undang-Undangnya, PP juga keputusan Menteri Dalam Negeri. Terakhir untuk BBM Bersubsidi sepakat untuk seluruh Indonesia sebesar 5%. Mengenai data BBM Subsidi, BPH Migas memiliki data yang lengkap termasuk data per Kabupaten. Untuk penjualan setiap 3 bulan sekali dilakukan verifikasi dan pembayaran subsidi setiap bulan. Jadi kalau data BBM Subsidi kita lengkap. Kenapa lengkap, karena mereka butuh untuk dibayar subsidinya oleh negara. Dulu kita memang lakukan verifikasi setiap bulan, namun karena keterbatasan personil sedangkan jumlah depot BBM begitu banyak sehingga kita lakukan per tiga bulan, katanya. Agar BBM yang keluar atau terjual ke masyarakat itu bisa kita dapatkan datanya sehingga iurannya bagus dan PBBKB juga bagus, tahun depan rencananya BPH Migas akan memasang

sistem IT di SPBU. Kita berencana memasang sitem IT di SPBU agar BBM yang keluar atau terjual ke masyarakat itu bisa kita dapatkan datanya sehingga iurannya bagus dan PBBKB juga bagus, tandasnya. Pada pertemuan tersebut juga membahas masalah penyelewengan BBM Bersubsidi yang masih saja terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Komite BPH Migas, Karseno mengatakan, disparitas harga yang cukup luar biasa antara BBM Subsidi dan Non Subsidi menjadi salah satu penyebab penyelewengan terhadap BBM Bersubsidi. Terjadinya selisih atau disparitas harga yang luar bisa sehingga terjadi penyelewengan. Penyelewengan BBM Subsidi ini sudah sitemik. Oleh karena dalam rangka pengawasan itu kita bekerjasama dengan Pemda, katanya. Terkait dengan pengawasan terhadap pendistribusian BBM Besubsidi tersebut, Propinsi Sumbar dan BPH Migas pun dalam waktu dengan ini berencana untuk melakukan Memorandum of Understanding (MoU) pengawasan penyediaan dan pendistribusian BBM Bersubsidi.

tidak semua hadir dalam acara seminar tersebut. Dari 33 Propinsi yang diundang melalui Kementerian Dalam Negeri hdir perwakilan dari 17 Propinsi dari pejabat Sekda dan pejabat Pemerintah Daerah lainnya, katanya. Hadir sebagai nara sumber pada seminar tersebut diantaranya Komite BPH Migas Ibrahim Hasyim dan Karseno, Kasubdit Sarana dan Prasarana Ekda Kemendagri Harul Fauzi, Muhammad Iskandar VP. Fuell Retail Marketing PT Pertamina (Persero) dan Ketua Hisawana Migas Eri Purnomohadi.
BPH Migas

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

31

32

[lensa]

Sosialisasi Pembatasaan Penggunaan BBM Subsidi untuk Perkebunan dan Pertambangan di Sulteng
BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) BEKERJASAMA DENGAN PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGAH, MENYELENGGARAKAN SOSIALISASI TERKAIT PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PENDISTRIBUSIAN BBM BERSUBSIDI. dengan sosialisasi tersebut diharapkan masyarakat bisa memahami akan pentingnya penghematan dan pengawasan BBM bersubsidi. Bahwa pemberian Subsidi BBM selama ini telah berjalan dari tahuh ke tahun. Namun pada kenyataannya tidak semua tepat sasaran. Karena sebagian digunakan untuk keperluan lain. Untuk itu upaya Pemerintah mengubah skema pemberian subsidi sangatlah mutlak guna menciptakan rasa keadilan, khususnya bagi masyarakat yang berkemampuan rendah, paparnya. Pada kesempatan yang sama, Anggota Komite BPH Migas, Karseno mengemukakan mengenai penjual bensin eceran menggunakan jerigen yang sudah menjadi masalah klasik hampir di semua daerah. Apabila sesuai dengan peruntukan itu boleh saja. Kita lihat peruntukannya, kalau untuk kepentingan masyarakat maka boleh-boleh saja, ujarnya. Ditambahkan Karseno, dalam peraturan yang diatur dalam Undang-Undang Migas, memang BBM tidak boleh dijual eceran, tapi harus mempertimbangkan peruntukan dan keadaan daerah tersebut. Misal daerah-daerah tersebut jauh dari SPBU. Namun, lanjut karseno, perlu koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan sesuai dengan Peraturan BPH Migas Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pedoman Penerbitan Surat Rekomendasi Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk Pembelian Bahan Bakar Minyak JenisTertentu.

Seminar Pengawasan Distribusi BBM Bersubsidi di Batam


BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) BEKERJASAMA DENGAN PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGAH, MENYELENGGARAKAN SOSIALISASI TERKAIT PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PENDISTRIBUSIAN BBM BERSUBSIDI. Pemberian surat rekomendasi oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tidak berlaku untuk selamanya. Surat rekomendasi hanya untuk sekali, untuk seminggu dan ada yang untuk satu tahun. Demikian dikatakan Anggota Komite BPH Migas, Ibrahim Hasyim, saat menjadi nara sumber dalam acara seminar pengawasan distribusi BBM Bersubsidi, di Batam. Ada masa surat rekomendasi yang hanya untuk sekali, ada yang hanya untuk seminggu, ada yang untuk setahun. Jadi tidak ada yang untuk selamanya. Setiap 3 bulan ada rekapitulasi kemudian dikumpulkan lewat Badan Usaha dan Badan Usaha mengirim ke BPH Migas. Sekarang kan ada yang diberikan untuk selamanya. Ini tidak bisa, paparnya. Selain itu, sambung Ibrahim, bahwa surat rekomendasi yang dikeluarkan oleh SKPD harus sesuai dengan bidang tugas masing-masing. Surat rekomendasi untuk perikanan mestinya dikeluarkan dari Dinas Perikanan. Jangan satu Distamben untuk semuanya, terangnya. Diakui Ibrahim, dari beberapa kunjungan kerja yang dilakukan dibeberapa daerah melihat berbagai macam bentuk surat rekomendasi sehingga menyulitkan pihak Kepolisian untuk mengidentifikasi sah atau tidaknya surat rekomendasi tersebut. Oleh karena itu, surat rekomendasi harus dalam format yang ditentukan. Surat rekomendasi harus dalam format yang ditentukan. Dibeberapa daerah kami melihat formatnya macammacam sehingga menyulitkan dari kawan-kawan Kepolisian, terutama mengenai sah atau tidaknya surat rekomendasi itu. Jadi nanti ada bentuk format yang akan dibuat tersendiri, tandasnya. Artinya SKPD harus bertanggung jawab atas pemberian konvensasi yang diberikan. Apabila ada pemberian surat rekomendasi yang salah itu bisa diperiksa. Harus diingatkan bahwa ada konsekuensi hukum didalamnya. Ada konsekuensi hukum. Ini harus kita ingatkan. Jadi apabila nanti dilihat pemberian surat rekomendasinya salah itu bisa diperiksa, tegas Ibrahim. Untuk diketahui bahwa BPH Migas telah menerbitkan Peraturan nomor 5 tahun 2012 tentang pedoman penerbitan surat rekomendasi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk pembelian Bahan Bakar Minyak Jenis Tertentu.

Sosialisasi ini dilakukan berkaitan dengan telah diberlakukannya pembatasan penggunaan BBM bersubsidi pada angkutan Perkebunan dan pertambangan mulai 1 September 2012. Sebab jika tidak dilakukan pembatasan, bukan tidak mungkin akan terjadi kelangkaan BBM sebelum akhir tahun. Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng, dalam sambutannya yang disampaikan Anggota BPH Migas, Martin S. Ritonga mengatakan mengacu pada Peraturan Presiden nomor 15 tahun 2012 tentang harga jual dan eceran dan konsumen, pengguna jenis BBM Tertentu bisa mengerem konsumsi BBM hingga 3 juta kilo liter. Makanya pengawasan itu harus dilakukan secara terkoordinir agar kuota BBM Bersusidi itu betul-betul tepat sasaran, katanya. Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Janggola, dalam sambutannya yang disampaikan oleh Asisten Perekonomian dan Pembagunan, Elim Somba, sangat mendukung pelaksanaan sosialisasi ini. Menurutnya,

Pemkot Bitung Dorong Dibangun SPBU Khusus BBM Non Subsidi


ANGGOTA KOMITE BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) IBRAHIM HASYIM MENJELASKAN, PEMERINTAH KOTA (PEMKOT) BITUNG SANGAT MENDORONG UPAYA PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) NON SUBSIDI DI WILAYAH TERSEBUT.
Walikota meminta agar dapat dibangun SPBU khusus non subsidi, agar penyeleweng BBM subsidi dapat digiring ke SPBU non Subsidi ini. Pemikiran ini untuk kepentingan jangka panjang, dimana kota Bitung akan jadi Kawasan Ekonomi Khusus dan kenderaan truk gandengan akan didorong untuk mengisi minyak solar non subsidi, . Ditambahkan Ibrahim, pada saat ini seluruh kendaraan Pemkot disana sudah harus mengisi Pertamax dan seluruh SPBU dilarang menjual BBM bersubsidi dari pukul 24.00 sampai dengan pukul 06.00. Larangan ini berlaku diseluruh Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Walikota Bitung meminta supaya segera dibangun SPBU khusus yang menjual BBM Non Subsidi, ujar Ibrahim, saat turun langsung ke lapangan memantau kesiapan Pertamina menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru, beberapa waktu lalu, di Manado, Sulawesi Utara. Permintaan supaya dibangun SPBU khusus Non Subsidi tersebut, lanjut Ibrahim, juga dilakukan untuk menekan terjadinya penyelewengan terhadap BBM Bersubsidi agar penyeleweng BBM Subsidi dapat digiring ke SPBU Non Subsidi.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

33

34

[lensa]

Ibrahim Hasyim Dampingi Anggota Komisi VII Kunjungan ke Aceh


KETERLIBATAN PEMERINTAH DAERAH MELALUI SATUAN KERJA PERANGKAT DESA (SKPD) DINILAI PENTING DALAM RANGKA PENGAWASAN PENYEDIAAN DAN PENDISTRIBUSIAN SERTA PEMBERIAN REKOMENDASI PENYALURAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) JENIS TERTENTU KEPADA SEKTOR USAHA PERTANIAN, PERIKANAN DAN USAHA MIKRO. DEMIKIAN DIKATAKAN ANGGOTA KOMITE BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) IBRAHIM HASYIM SAAT MELAKUKAN KUNJUNGAN KERJA MENDAMPINGI ANGGOTA KOMISI VII DPR RI KE ACEH. pemegang Izin Usaha perkebunan dan pertambangan. Selain itu, mobil barang pengangkut hasil kegiatan pertambangan dan perkebunan wajib ditempel stiker mobil menggunakan BBM Non Subsidi yang ditempel di kaca depan bagian atas dan sekitar lubang tangki pengisian BBM. Ditambahkan Ibrahim, dalam forum yang dihadiri Kapolres, Dandim, Kajati, DPRA, DPRK dan SKPD juga wartawan ini perlu digelar ditingkat Provinsi, karena materi Perpres, Permen dan Peraturan BPH Migas perlu diketahui lebih luas di daerah lain. Materi pemaparan sangat ditunggu dan diinginkan dalan forum yang lebih besar di tingkat Propinsi, katanya. Sementara itu, Bupati Aceh Barat, Ridwan Hasan ditempat yang sama mengatakan ketersediaan energi cukup diperlukan untuk mendukung aktivitas perekonomian masyarakat yang semakin meningkat di wilayahnya. Menurutnya, saat ini Aceh Barat telah menetapkan beberapa prioritas pembangunan, diantaranya peningkatan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi masyarakat, meningkatkan aksesibilitas daerah dan meningkatkan pendapatan daerah. Beberapa waktu ke depan Kabupaten Aceh barat akan terjadi peningkatan kegiatan perekonomian masyarakat, aktifitas pelabuhan semakin tinggi dan transportasi yang ramai. Untuk menopang aktifitas yang semakin meningkat tersebut maka diperlukan ketersediaan BBM yang cukup, kata dalam rapat yang dihadiri oleh semua unsur muspida termasuk kepala pengadilan tinggi, Pertamina, Kepala Dinas terkait dan para SKPD. Sedangkan Anggota Komisi VII Teuku Riefky Harsya, mengatakan masih diperlukan pembangunan SPDN di Aceh Barat guna menunjang penyediaan dan pendistribusian BBM. Menurut Riefky, hal ini karena belum tersedianya fasilitas lembanga penyalur untuk nelayan. Dia menghimbau agar Pemerintah Daerah dapat mendukung upaya pembangunan SPDN di wilayah tersebut.

Kunjungan Komite BPH Migas ke BPK


berkaitan dengan verifikasi BBM dan nelaya. Berkaitan dengan verifikasi BBM Subsidi yang dilakukan oleh BPH Migas. Andy mengatakan, untuk kegiatan verifikasi itu harus ada kompetensinya. Kiranya perlu ada penididikan bagi verifikator, papar Andy. Menanggapi hal tersebut, Ali Masykur menyarankan untuk diusulkan pelaksanaan diklat bagi verifikator yang nantinya akan memiliki sertifikat untuk memenuhi kualifikasi. Diklat kita itu boleh menerima siswa. Pelaksanaan diklat sekitar satu bulan. Sedangkan untuk verifikator BBM Subsidi nanti dibuatkan kelas khusus, papar Ali. Dalam pertemuan tersebut juga dibahas masalah kebutuhan BBM untuk nelayan.

Maksud dan tujuan kunjungan ke BPK tersebut adalah dalam rangka memperkenalkan BPH Migas sekaligus memperkenalkan Komite BPH Migas masa jabatan 2011-2015, yang telah di lantik oleh Menteri ESDM mewakili Presiden RI pada tanggal 11 Januari 2012 sekaligus untuk meningkatkan hubungan kerja sama yang selama ini telah terjalin dengan baik. Dalam pertemuan tersebut didiskusikan beberapa hal diantaranya adalah

KEPALA BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) ANDY NOORSAMAN SOMMENG, DIDAMPINGI ANGGOTA KOMITE FAHMI HARSANDONO, SUMIHAR PANJAITAN, SARYONO HADIWIDJOYO KARSENO, DAN IBRAHIM HASYIM MELAKUKAN KUNJUNGAN KEHORMATAN KE BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK). DALAM KUNJUNGAN TERSEBUT, KEPALA BPH MIGAS BESERTA ROMBONGAN DITERIMA OLEH ANGGOTA IV, ALI MASYKUR MUSA. Terkait dengan itu, Ibrahim mengatakan, bahwa musim melaut bagi para nelayan itu tidak sepanjang tahun tapi hanya 180 hari setahun. Dulu orang melaut bisa mencapai 300 hari setahun. Penelitian terakhir yang dilakukan secara objek nasional dikatakan itu hanya bisa dilakukan 180 hari, katanya.

Mengenai pemberian surat rekomendasi tersebut, Ibrahim mengatakan, BPH Migas telah mengeluarkan Peraturan BPH Migas nomor 5 tahun 2012 tentang pedoman penerbitan surat rekomendasi satuan kerja perangkat daerah untuk pembelian bahan bakar jenis tertentu. Tujuannya dari peraturan nomor 5 tersebut, selain untuk memberikan petunjuk teknis bagi SKPD dalam menerbitkan surat rekomendasi untuk pembelian BBM Jenis Tertentu sesuai peruntukannya juga untuk menjamin pendistribusian BBM yang tertib melalui pemantauan dan evaluasi atas penerbitan surat rekomendasi oleh SKPD dengan transparan dan akuntabel serta menjaga kuota BBM Bersubsidi per kabupaten/kota yang telah ditetapkan oleh Badan Pengatur. Pemberian surat rekomendasi, SKPD wajib melakukan koordinasi dengan Badan Usaha (BU). SKPD menyampaikan rekapitulasi terhadap suarat rekomendasi yang diterbitkan kepada Badan Pengatur. Surat rekomendasi yang diterbitkan oleh SKPD ditembuskan kepada BU dan

Kepolisian daerah setempat, kata Ibrahim, saat melakukan kunjungan kerja ke Aceh, mendampingi Anggota Komisi VII DPR RI di Kantor Bupati Aceh Barat, belum lama ini. Pada kesempatan tersebut, Ibrahim juga menyampaikan peraturan Menteri ESDM nomor 12 tahun 2012 mengenai pengendalian Jenis BBM Tertentu, dimana salah satunya adalah mengenai pelarangan penggunaan BBM Bersubsidi bagi kendaraan angkut di kegiatan pertambangan dan perkebunan yang telah berlaku per 1 September 2012. Penjelasan terperinci mengenai peraturan ini, BPH Migas telah menerbitkan Peraturan BPH Migas nomor 3 tahun 2012 tentang pengendalian bahan bakar jenis tertentu untuk mobil barang yang digunakan pada kegiatan pertambangan dan perkebunan. Dalam peraturan tersebut dijelaskan mobil barang untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan yang dilarang menggunakan jenis BBM tertentu merupakan kendaraan yang dimiliki atau dikuasai oleh BU

Masih Bayak Kendaraan Dinas Menggunakan BBM Bersubsidi


PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 12 TAHUN 2012 PERLU MENDAPAT PENGAWALAN DAN PERHATIAN YANG SERIUS DARI PIHAKPIHAK YANG TERKAIT. TIM SATGAS BPH MIGAS MENDAPAT TUGAS UNTUK MENGAWAL PERATURAN MENTERI ESDM TERSEBUT TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM). Permen tersebut telah dilakukan bertahap, sejak 1 Juni 2012 kendaraan instansi pemerintah, BUMN, BUMD untuk wilayah Jabodetabek. Selanjutnya per 1 Agustus untuk wilayah Jawa dan Bali dilarang menggunakan BBM Bersubsidi Jenis Premium. Dikatakan Anggota Komite BPH Migas, Karseno pelaksanaan penghematan BBM Bersubsidi untuk industri pertambangan dan perkebunan efektif telah diberlakukan sejak 1 September 2012. Ia menjelaskan, yang dimaksud industri pertambangan dan perkebunan yaitu kendaraan angkut tidak boleh menggunakan BBM Bersubsidi Jenis Solar. Kalau untuk industri dan perkebunan dari dulu sudah diatur. Jelas Karseno. Ditambahkan Karseno, pelaksanaan di lapangan, tim menemukan beberapa hal, diantaranya ada yang semula menggunakan BBM Non Subsidi (Pertamax) beralih ke BBM Bersubsidi. Hal ini, disamping penyelewengan BBM di daerah secara sistemik sehingga kurang dapat dukungan dari aparat di wilayah, juga karena selisih harga antara BBM Bersubsidi dan BBM Non subsidi terlalu jauh. Dari hasil pengawasan di lapangan Tim Satgas telah menemukan beberapa indikasi diantaranya masih terdapat Kendaraan Dinas yang menggunakan BBM Bersubsidi, menukar plat dinas menjadi plat hitam, kendaraan Dinas sebagian besar belum berstiker serta operator SPBU kurang memahami yang memakai plat nomor khusus, paparnya. Selanjutnya operator ragu untuk melarang kendaraan dinas khususnya kendaraan TNI/Polri, belum ada contoh tindakan terhadap kendaraan yang melanggar oleh atasannya secara administrasi dan kurang memanfaatkan media untuk mempublikasikan Kebijakan Pemerintah.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

35

36

[lensa]

Menteri ESDM Minta BPH Migas Kawal Distribusi BBM PSO

Banyak Faktor yang Menyebabkan Kuota BBM Bersubsidi 40 KL Tidak Mencukupi


Kemudian diperkeruh lagi ketika pembatasan yang kita lakukan mendapatkan penolakan,katanya. Pembatasan cuma bisa dilakukan dibeberapa sektor terbatas, seperti kendaraan pemerintah, BUMN, BUMD dan kendaraan angkut barang di kegiatan pertambangan dan perkebunan. Akhirnya BBM Bersubsidi menjadi tidak cukup hingga akhir tahun. Tidak benar ada anggapan bahwa perhitungan yang dilakukan Pemerintah salah. Hitungan sudah ada dan saat melakukan perhitungan sudah menggunakan segala macam asumsi. Namun, kenyataannya pertumbuhan lebih besar dari yang kita asumsikan. Memang diakhir tahun kita mematok kuota 40 juta KL. Tapi realitasnya banyak pembatasan yang seharusnya kita lakukan tak bisa direalisasikan, pungkasnya. Menurut Ibrahim, berbagai upaya lain sudah dilakukan agar penggunan BBM Bersubsidi dapat ditekan. Setidaknya sudah ada kendaraan transportasi yang menggunaan BBG walau porsinya masih minim. Biofuel juga sudah ada meski masih sedikit. Selain itu, porsi jaringan BBM Non Subsidi juga ditingkatkan. Tapi pas puasa kemarin, penggunaan BBM Bersubsidi naik hingga 10%. Harga minyak juga naik sekarang. Ini membuat banyak orang beralih ke BBM Bersubsidi, jelasnya.

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL, JERO WACIK MEMINTA KEPADA BPH MIGAS SELAKU INSTITUSI YANG MENGATUR DISTRIBUSI BBM BERSUBSIDI BEKERJASAMA DENGAN INSTITUSI TERKAIT UNTUK MENGHINDARI TERJADINYA OVER KUOTA. KUOTA BBM BERSUBSIDI TAHUN 2013 SEJUMLAH 46 JUTA KILOLITER HARUS DINTENSIFKAN PENGAWASAN DISTRIBUSINYA AGAR TEPAT SASARAN DAN VOLUMENYA.

KUOTA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI SEBESAR 40 JUTA KILO LITER (KL) DIPERKIRAKAN AKAN HABIS SEBELUM AKHIR TAHUN. FAKTOR APA SAJA YANG MENGAKIBATKAN KUOTA BBM BBM TERSEBUT TIDAK AKAN MENCUKUPI? Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim menjelaskan banyak faktor yang mengakibatkan kuota BBM Subsidi sebesar 40 juta KL diperkirakan akan habis sebelum akhir tahun. Selain persoalan asumsi, disparitas harga yang cukup tinggi antara BBM Subsidi dan Non subsidi, juga tumbuhnya transportasi yang sangat luar biasa. Pertama persoalan asumsi. Dulu kita memiliki asumsi sendiri tentang perkiraan kenaikan sepeda motor dan segala hal terkait kuota BBM Bersubsidi. Tapi kan ternyata asumsi ini tidak sama dengan kenyataan. Ada disparitas harga yang luar biasa antara BBM Subsidi dan Non Subsidi, kata Ibrahim belum lama ini, di Jakarta. Selain itu, faktor kurangnya BBM Subsidi juga diakibatkan karena transportasi tumbuh sangat luar biasa. Bukan hanya jumlah produksinya yang bertambah, tapi juga tumbuhnya kelas menengah yang membuat gaya hidup baru, dimana menggunakan kendaraan menjadi lifestyle. Pemekaran wilayah juga jadi penyebab lain karena membuat permintaan yang luar biasa akan BBM Bersubsidi. Terlebih lagi ketika lebaran lalu. Arus mudik pun membuat kuota BBM Bersubsidi seperti Premium melonjak cepat, bahkan lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Ada banyak hal yang membuat peningkatan pertumbuhan penggunaan BBM Bersubsidi hingga tidak sesuai dengan perhitungan Pemerintah.

Kuota BBM Bersubsidi tahun 2013 sejumlah 46 juta kiloliter itulah PR-nya BPH Migas sekarang, bagaimana caranya bekerja, mulai 1 Januari mengawal 46 juta itu, harus cukup sampai dengan 31 Desember 2013, harus cukup, gimana caranya. BPH Migas ujung tombaknya, tetapi ada pasukan-pasukan ada perusahaan-perusahaan. Pertamina mengawal sekitar 45 juta kiloliter dan sisanya ada PT AKR Corporindo Tbk dan PT Surya Parna Niaga mengawal 06 dan 0,3%, ujar Menteri ESDM dalam sambutannya saat menyaksikan Penyerahan Surat Keputusan Kepala BPH Migas Tentang Penugasan Badan Usaha Untuk Menyediakan Dan Mendistribusikan BBM Bersubsidi Tahun 2013, Kamis (17/12/2012).

Mari kita pastikan itu terkawal dengan baik, evaluasi pertama nanti. Juni 2013 itu, harusnya yang habis 23 juta kiloliter, sehingga sisanya cukup hingga akhir tahun. Mari kita bersama-sama amankan 46 juta kiloliter, yang kalau tidak kerja keras ini bahaya. mari kita awasi, imbuh Menteri. Kuota BBM Bersubsidi tahun 2012 melewati kuota yang sudah ditetapkan antara pemerintah dengan DPR RI hingga mencapai 1,2 juta kiloliter. Beberapa faktor diperkirakan telah memacu tingginya konsumsi BBM bersubsidi sehingga melebihi kuota yang sudah ditetapkan, faktor-faktor tersebut yaitu, bertambahnya sepeda motor yang mencapai 7 juta unit dan mobil

sebesar 800.000 unit dan ekonomi yang membaik. Terkait dengan terjadinya penyelewengan BBM Bersubsidi akibat disparitas harga yang terlampau tinggi antara BBM Bersubsidi dengan Non Subsidi. Pemerintah telah membentuk Satgas Pengawasan dan Pengendalian BBM Bersubsidi yang dipimpin BPH Migas. Anggota satgas terdiri dari unsur-unsur dari, BIN, TNI (Angkatan Darat dan Laut), Polri, Bais TNI, Bakorkamla, Kejaksaan Agung, Kemenhub, Kemendagri dan Ditjen Bea Cukai. Terbentuknya satgas tersebut diharapkan penyimpangan dan penyelewengan khususnya BBM Bersubsidi dapat berkurang.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

37

38

[lensa]

Sosialisasi Pengawasan BBM Bersubsdi di Balikpapan


Melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak telah dilakukan tahapan pembatasan BBM Bersubsidi. Mulai 1 Juni 2012 kendaraan instansi pemerintah, BUMN, BUMD untuk wilayah Jabodetabek. Selanjutnya per 1 Agustus 2012 untuk wilayah Jawa dan Bali dilarang menggunakan BBM bersubsidi jenis premium. Efektif per 1 September 2012, Peraturan Menteri ini juga melarang mobil barang yang digunakan untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan menggunakan BBM Bersubsidi Jenis Minyak Solar. Berkaitan dengan pelarangan penggunaan BBM Subsidi untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan, Komite BPH Migas, Ibrahim Hasyim mengatakan, bahwa perusahaan bergerak di kegiatan tersebut wajib menyediakan penyimpanan bahan bakar minyak dengan kapasitas sesuai kebutuhan. Saat ini realisasi BBM bersubsidi nasional hingga 31 Agustus 2012 mencapai 114 persen untuk Premium dan 110 persen untuk Minyak Solar. Diperkirakan jika tidak dilakukan tindakan nyata dalam pengawasan dan pengendalian, maka kuota volume BBM bersubsidi untuk Premium dan Solar akan habis November, kata Ibrahim.

BPH Migas Berhasil Gagalkan Penyelundupan 100 ton minyak solar

BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) MENGGELAR SOSIALISASI PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PENDISTRIBUSIAN BBM BERSUBSIDI DI BALIKPAPAN. SOSIALISASI DILAKUKAN BERKAITAN DENGAN TELAH DIBERLAKUKANNYA PEMBATASAN PENGGUNAAN BBM BERSUBSIDI PADA ANGKUTAN PERKEBUNAN DAN PERTAMBANGAN PER 1 SEPTEMBER 2012. JIKA TIDAK DILAKUKAN PENGENDALIAN ATAS BBM SUBSIDI INI, DIKHAWATIRKAN AKAN HABIS SEBELUM AKHIR TAHUN. Jika tidak dilakukan langkah nyata dalam pengawasan dan pengendalian BBM Bersubsidi, maka kuota volume BBM Bersubsidi akan habis pada akhir November 2012, kata Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng, yang disampaikan oleh Agus Budi Wahyono, Sekretaris BPH Migas, saat pembukaan sosialisasi. Dijelaskan, Andy, sesuai amanat Undangundang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2002 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi, BPH Migas merupakan instansi yang bertugas melakukan pengawasan dan pengaturan penyediaan dan pendistribusian BBM di seluruh wilayah Indonesia. Namun demikian, BPH Migas tidak mungkin melakukan pengawasan secara baik, tanpa didukung oleh semua pihak. Untuk itu kerjasama dengan Pemerintah Daerah juga sangat diperlukan. Tujuannya agar BBM bersubsidi tepat sasaran dan tepat volume sesuai peruntukkan.

BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) BERSAMA SATGAS OPERASI PEMBERANTASAN MAFIA BBM BERSUBSIDI BERHASIL MENEMUKAN PENYELUNDUPAN 100 TON MINYAK SOLAR TANPA DOKUMEN LENGKAP DI KECAMATAN LONG BANGUN, KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR. Wakil Komite BPH Migas, Fahmi Harsandono, menjelaskan, kasus ini akan dilimpahkan ke Polda Kaltim untuk dilakukan penyidikan. Bila terbukti melanggar aturan, maka perusahaan Niaga tersebut akan dicabut izin Niaganya. Hari ini kita akan limpahkan kasus ini kepada Polda Kaltim untuk melakukan penyidikan.Kalau memang nantinya terbukti perusahaan niaga itu akan dicabut izin niaga katanya. Fahmi menambahkan, timnya melakukan penangkapan terhadap satu unit Landing Craft Tan k (LCT) berisi 100 ton solar dan menahan seorang nahkoda kapal KM Mitra Kaltim, di sungai Mahakam, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat. Saat penangkapan kapal mengangkut BBM solar tidak dapat menunjukkan perlengkapan dokumen. Seperti dokumen receive tanpa nomor registrasi, kemudian dokumen Delivery Order(DO) dan tidak ada surat pengantar pengiriman. Tidak ada kejelasan sama sekali asal muasal solar tersebut, ujarnya. Indikasi lain dari kasus penyalahgunaan BBM jenis solar bersubsidi tersebut telah dicampur dengan minyak tanah, namun hal ini perlu dilakukan uji laboratorium terlebih dahulu. Selain kapal tersebut tidak dilengkapi dokumen resmi ternyata ada kegiatan pengoplosan dengan minyak tanah. Berkas perkara ini telah diserahkan ke Polda Kaltim untuk penyelidikan lebih lanjut agar dapat ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Berkas perkara diserahkan ke Polda untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut agar dapat ditindak sesuai dengan hukum dan ketentuan yang berlaku, terang Anggota Komite BPH Migas, Karseno.

Disisi lain, Polda Kaltim akan menindak dengan tegas atas kasus yang telah dilimpahkan Satgas Operasi Pemberantasan Mafia BBM Bersubsidi. Pihaknya tidak segan-segan atau tebang pilih untuk menuntaskan kasus tersebut. Apalagi kondisi saat ini aka ada pengumumam kenaikan harga BBM. Kadiv Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Antonius Wisnu Sutirta, menguraikan, pengungkapan kasus-kasus penyalahgunaan BBM bersubsidi selama tiga bulan terakhir terungkap 54 kasus. Barang bukti yang diamankan terdiri dari 147 ton BBM jenis solar, 24.812 liter BBM premium dan 600 liter minyak tanah. Barang bukti lain adalah 25 unit mobil, 11 unit dump truck dan uang tunai Rp 94 juta urainya. Sementara itu, Koordinator PPNS BPH Migas, Edy Moh. Suhariadi, mengatakan, jika terbukti, perusahaan tersebut melakukan tindak penyalahgunaan BBM, terancam denda paling tinggi Rp 70 Miliar dan penjara paling lama 6 tahun.Sesuai dengan UU Migas, ungkap Edy.

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

BPH Migas

39

40

[rona]

BPH Migas Terus Sosialisasikan Pengendalian BBM Berubsidi


Sosialisasi Pembangunan Ruas Transmisi Gas Bumi Bontang Semarang
KEPALA BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS), ANDY NOORSAMAN SOMMENG DIDAMPINGI ANGGOTA KOMITE BPH MIGAS, FAHMI HARSANDONO, A. QOYUM TJANDRANEGARA DAN SARYONO HADIWIDJOYO SERTA DIREKTUR GAS BUMI HENDRA FADLY, BEBERAPA WAKTU LALU MENGADAKAN KUNJUNGAN KEHORMATAN KE GUBERNUR PROVINSI JAWA TENGAH, BIBIT WALUYO. HADIR DALAM PERTEMUAN TERSEBUT PT BAKRIE & BROTHERS TBK. PETRONAS CARIGALI MURIAH LTD. DAN PLT. WALI KOTA SEMARANG HENDRAR PRIHADI. satunya berasal dari lapangan Kepodang, sehingga pembangunan ruas Kalija dapat dilanjutkan. Diharapkan pada akhir Triwulan IV 2014 kebutuhan gas bumi untuk keperluan pembangkit listrik, industri dan kebutuhan komersial lainnya di wilayah Semarang khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya dapat terpenuhi papar Andy Pada kesempatan yang sama Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengatakan, Pemprov mendukung penuh dengan rencana pembangunan ruas transmisi gas bumi Kepodang - Tambak Lorok. Pasti mendukung ujarnya. Karena Proyek ini sangat besar manfaatnya, baik bagi Jateng maupun Indonesia. Namun beliau juga mengingatkan secara tegas komitmen itu harus konsisten, jangan komat-kamit saja tapi gak jadi-jadi, itukan gak bagus selorohnya. Sementara itu, Direktur Chief Operating officer Bakrie Indo Infrastruktur AD Erlangga mengatakan, pihaknya akan membangun proyek pipa gas dari lapangan Kepodang sampai Tambak Lorok yang panjangnya sekitar 207 km, dimana sepanjang 200 km di dasar laut sedangkan 7 km di daratan. Untuk proyek itu dialokasikan anggaran sebesar 175 juta USD katanya. BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS) TERUS MENSOSIALISASIKAN PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) BERSUBSIDI KEBEBERAPA DAERAH DI INDONESIA. SOSIALISASI PENGENDALIAN INI PENTING UNTUK DILAKUKAN MENGINGAT KUOTA BBM BERSUBSIDI TERBATAS.

sektor pertambangan dan perkebunan masih ditemui berbagai kendala, seperti kriteria, jenis dan status kepemilikan kendaraan tersebut. Oleh karena itu, pelarangan penggunaan BBM Bersubsidi untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan yang telah diberlakukan per 1 September 2012 masih memerlukan adanya petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang jelas terhadap pengelompokan mobil barang untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan menggunakan BBM Bersbsidi, jelasnya. Di tempat yang sama, Komite BPH Migas, Karseno yang menjadi salah satu nara sumber dalam sosialisasi tersebut menegaskan, bahwa semua kendaraan atau mobil barang di sektor pertambangan dan perkebunan, termasuk yang outsoucing pun harus menggunakan BBM Non Subsidi. Semua kendaraan barang di sektor pertambangan dan perkebunan dilarang menggunakan BBM Bersubsidi, kecuali pertambangan dan perkebunan rakyat, tandasnya.

Kunjungan tersebut dalam rangka mensosialisasikan sekaligus meminta dukungan Gubernur Provinsi Jawa Tengah serta Pemerintah Kota Semarang berkaitan dengan rencana pembangunan ruas transmisi gas bumi Kepodang pembangunan ruas transmisi gas bumi Bontang SemarangTambak Lorok yang merupakan tahap pertama pembangunan ruas transmisi gas bumi Bontang Semarang/KALIJA yang akan dilaksanakan oleh PT Bakrie & Brothers Tbk. Pada kesempatan tersebut Kepala BPH Migas, Andy Noorsaman Sommeng selaku Ketua Tim Persiapan Pembagunan Pipanisasi Gas Bumi Kalimantan Timur Jawa Tengah menjelaskan, bahwa PT Bakrie & Brothers Tbk. telah ditunjuk sebagai pemenang Lelang Hak
Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

Khusus Ruas Transmisi Gas Bumi Kalija. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala BPH Migas Nomor : 042/Kpts/PL/BPH/Kom/ VII/2006 tanggal 27 Juli 2006, bahwa PT Bakrie & Brothers Tbk. telah ditunjuk sebagai pemenang Lelang Hak Khusus dimaksud. Diharapkan dengan adanya proyek Kalija ini tentunya akan mengurangi beban subsidi dan meningkatkan kegiatan ekonomi di Jawa Tengah jelas Andy. Lebih lanjut ia mengatakan, dengan adanya pasokan gas bumi yang berasal dari lapangan Kepodang dan telah diterbitkannya Keputusan Menteri ESDM Nomor : 2700/K/11/MEM/2012 tentang RIJTDGBN Tahun 2012-2025 yang menyatakan bahwa pembangunan ruas Kalija dapat dilakukan bertahap dengan mepertimbangkan ketersediaan pasokan gas bumi dan salah

Terkait dengan peranan Pemda dalam pengawasan ini, Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng, dalam sambutannya yang disampaikan oleh Sekretaris BPH Migas Agus Budi Wahyono, menjelaskan, Peraturan Presiden nomor 15 tahun 2012 tentang Harga Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis BBM tertentu, BPH Migas dimungkinkan melakukan kerja sama pengawasan dalam rangka menjamin kelancaran dan ketepatan pelaksanaan pendistribusian jenis BBM Tertentu bagi konsumen pengguna dengan Pemerintah Daerah (Pemda). Dalam Perpres 15 tahun 2012, BPH Migas dimungkinkan untuk melakukan pengawasan dalam rangka menjamin kelancaran dan ketepatan pelaksanaan pendistribusian jenis BBM Tertentu bagi konsumen pengguna dengan Pemerintah Daerah agar BBM Bersubsidi tepat sasaran, tepat volume sesuai dengan peruntukannya,katanya saat sosialisasi di Lampung, Rabu (11/12).

Untuk pengendalian dan penggunaan BBM Bersubsidi, Kementerian ESDM melalui Permen ESDM Nomor 12 tahun 2012 tentang pengendalian BBM Bersubsidi melakukan tahapan pembatasan penggunaan BBM Bersubsidi. Sejak 1 Juni 2012 berlaku pelarangan penggunaan BBM Bersubsidi bagi kendaraan dinas Pemerintah, TNI, Polri, BUMN dan BUMD. Kemudian pada 1 Agustus berlaku di seluruh Jawa-Bali. Sedangkan per 1 September 2012 Peraturan Menteri ini melarang mobil barang untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan menggunakan BBM Bersubsidi jenis Minyak Solar, papar Andy dalam acara sosialisasi Perpres 15 dan 12 tahun 2012 dan pengawasan pengendalian dan pendistribusian BBM Bersubsidi. Sementara itu, Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP dalam sambutannya yang disampaikan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan mengatakan bahwa pengendalian BBM Bersubsidi terhadap mobil barang di

BPH Migas

41

42

[rona]

[galeri foto]

Hikmahanto Juwana, Keberadaan Keberadaan BPH Migas BPH Migas Tetap Penting Sangat
BELUM LAMA INDUSTRI MIGAS DIKEJUTKAN DENGAN PEMBUBARAN BP MIGAS OLEH MAHKAMAH KONSTITUSI KARENA DINILAI INKONSTITUSIONAL. KABAR TAK SEDAP UNTUK MEMBUBARKAN BPH MIGAS PUN TELAH MENYERUAK KE PERMUKAAN. SALAH SATUNYA GUGATAN DARI SERIKAT PEKERJA BURUH PERTAMINA DAN MIGAS.

Strategis

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana menjelaskan selama ini banyak pihak yang tidak memahami keberadaan BPH Migas bila dikaitkan dengan BP Migas. BPH Migas itu berbeda dengan BP Migas. Masing-masing memiliki fungsi yang sangat berbeda dan tidak bisa disamakan. BPH Migas merupakan sebuah independen regulatory agency. Jadi unit di dalam pemerintahan tapi dia (BPH Migas) independen. Sedangan BP Migas merupakan Badan Hukum yang dibentuk pemerintah dan bertindak mewakili pemerintah dalam melakukan kontrak dengan kontraktor, ujarnya dalam acara Tata Kelola Industri Hilir Minyak dan Gas Bumi di Masa Depan, di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Rabu (19/12). Menurut Hikmahanto, keberadaan BPH Migas tidak dapat dihilangkan, apabila pemerintah menghendaki regulator yang memiliki business sense dan secara obyektif mewakili kepentingan semua para pemangku kepentingan. Sebenarnya bukan sesuatu hal yang aneh. Di banyak

negara, sambung Hikmahanto, sudah lama dikenal badan yang memiliki fungsi mengatur yang mengawasi pelaku usaha dalam suatu industri. Kewenangan mengatur dan mengawasi bersumber dari kewenangan pemerintah. namun, karena rumitnya suatu industri yang terkadang memerlukan business sense dan diperlukan pengawasan serta bisa merefleksikan pemangku kepentingan dalam industri maka tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah sendiri, katanya. Terkadang satu industri ini tidak bisa di manage oleh apa yang dipikirkan oleh pemerintah. Satu industri itu perlu juga diregulasi oleh merekameraka yang memiliki pemahaman dari sisi Pemerintah, dari sisi industri sendiri bahkan dari masyarakat. Inilah yang kemudian perlu dibuat menjadi independen tapi fungsinya tetap fungsi Pemerintah. Dalam konteks BPH Migas, Komite itu harus merefleksikan 3 unsur, yaitu pemerintah, industri dan masyarakat, ujar Hikmahanto.

KEPALA BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS), ANDY NOORSAMAN SOMMENG, MEMBANTAH KERAS KALAU LEMBAGA YANG DIPIMPINNYA DIKATAKAN INEFISIENSI DALAM PENGGUNAAN ANGGARAN. INEFISIENSINYA DIMANA?

Menurut Andy, pendapatan BPH Migas dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) hampir 1 triliun. Sedangkan anggaran yang diberikan negara kepada BPH Migas hanya sekitar Rp 270 miliar dan itupun termasuk gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan termasuk gaji Komite. Pendapatan kita (BPH Migas) dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) di tahun 2012 hampir 1 triliun. Sedangkan anggaran yang diberikan negara kepada kita hanya 270 miliar. Kita malah untung kok. 1 triliun kita pakai cuma Rp 260 miliar. Itupun termasuk gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan termasuk gaji Komite yang sesuai dengan standar biaya umum yang dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan. Jadi kalau ada yang menyatakan BPH Migas inefisiensi, inefisiensinya dimana? , katanya dalam acara Tata Kelola Industri Hilir Minyak dan Gas Bumi di Masa Depan, Rabu (19/12) di Jakarta. Sementara itu di tempat yang sama Anggota Komite BPH Migas, Fanshurullah Asa menegaskan, keberadaan BPH Migas cukup strategis dan penting untuk dijaga eksistensinya guna melakukan pengawasan terhadap penyediaan dan pendistribusian BBM

Bersubsidi agar tepat sasaran dan sesuai peruntukannya. Diungkapkan Ifan, setelah 6 bulan dilantik menjadi Komite BPH Migas untuk periode 2011-2014 saja BPH telah berhasil mengamankan uang negara senilai Rp 111,4 miliar dari upaya pencurian BBM. Sedangkan KPK yang saat itu juga baru 6 bulan dilantik hanya mengamankan Rp 40 miliar. Awal Juli, saya masih ingat betul konferensi pers KPK yang menyampaikan setelah 6 bulan kerja mampu mengamankan uang negara kurang lebih Rp 40 miliar. Saat itu, 6 bulan yang sama BPH Migas mampu mengamankan uang negara Rp 111,4 miliar, tandasnya. Padahal, lanjut Ifan, BPH Migas hanya memiliki sekitar 200 karyawan dan itu pun musti mengawasi sekitar 500 Kabupaten/Kota agar pendistribusian BBM tepat sasaran dan sesuai peruntukannya. Ini sudah luar biasa bila dibandingkan dengan KPK sekalipun. Cuma kadang-kadang KPK lebih seksi, pungkas Ifan.

Paguyuban Ibu-Ibu BPH Migas, Dengan Semangat 1 Muharram 1434 H, Tingkatkan Kecintaan Kepada Anak Yatim & Duafa untuk Mendapatkan Ridho Allah SWT.
BPH Migas

Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

43

Badan Pengatur Hilir Migas Menjamin Distribusi Bahan Bakar Minyak Hingga ke Pelosok Negeri...

Visi Misi
Hilir Migas | edisi 10 Tahun ke IV 2013

Terwujudnya penyediaan dan pendistribusian BBM di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan meningkatnya pemanfaatan Gas Bumi di dalam negeri melalui persaingan usaha yang wajar, sehat, dan transparan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat

Melakukan pengaturan dan pengawasan secara independen dan transparan atas pelaksanaan kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM dan peningkatan pemanfaatan Gas Bumi di dalam negeri

Anda mungkin juga menyukai