Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN HASIL ANATOMI MATA KULIAH ORNITOLOGI

ORGAN PENCERNAAN PADA KUNTUL KERBAU (Bubulcus ibis)

Disusun oleh : Ryan Kusuma Jaya Nugraha (1164000.) Risky Chandra S. I. (11640028) Haris R. Hamdani (116400..)

PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ornitologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang burung. Segala aspek mengenai burung dikaji dalam bidang keilmuaan ini, yang mencakup morfologi, anatomi, dan fisiologi burung. Namun kajian mengenai anatomi

burung belum banyak mendapat perhatian. Oleh karenanya sangat minim referensi mengenai anatomi burung. Mata kuliah ornitologi yang kami pelajari mendorong rasa pengetahuan akan anatomi berbagai jenis burung, karena setiap burung memiliki karakteristik yang berbeda. Burung kuntul kerbau merupakan burung pemakan daging yang mudah kita jumpai di area persawahan. Burung ini banyak disebut-sebut sebagai awal evolusi burung dari reptil.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana kondisi anatomi pada Burung Kuntul Kerbau? 2. Apa saja organ dalam Burung Kuntul Kerbau? C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui kondisi anatomi pada Burung Kuntul Kerbau.

2. Mengetahui organ-organ dalam pada Burung Kuntul Kerbau. D. Manfaat Penelitian 1. Mengetahui kondisi anatomi pada Burung Kuntul Kerbau. 2. Menambah pengetahuan dalam bidang anatomi khususnya organ dalam Burung Kuntul Kerbau.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kuntul

Kerbau (Bubulcus

ibis)

adalah

spesies

burung

dalam

famili Ardeidae atau Kuntul-kuntulan. Burung ini merupakan burung terkecil dari bangsa Kuntul-kuntulan yaitu sekitar 48 - 53 cm. Burung ini suka mencari makanan di dekat kerbau atau sapi yang merumput. Bentuk tubuhnya lebih ramping dari Blekok Sawah (Ardeola speciosa). Burung ini penyebarannya mulai dari India, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara. Memiliki bulun berwarna putih, tetapi saat musim kawin, bulu kepala, leher dan punggungnya berwarna kuning jingga. Memiliki paruh kuning dan lebih tebal daripada kuntul lain (Coates, Brian and Bishop, K, 2000). Menurut BirdLife International (2012) status

perlindungannya beresiko rendah (least concern) Klasifikasi : Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Aves : Ciconiiformes : Ardeidae : Bubulcus : B. ibis (BirdLife International, 2012)

Faring pada burung termasuk panjang dan biasanya cornified . Setidaknya beberapa jenis dari family burung sudah mengalami pelebaran permanen pada bagian bawah kerongkongan untuk membantu organ penyimpanan yang disebut

tembolok. Pelebaran biasanya secara ventral arah kerongkongan dan meruncing, tapi hal tersebut juga dapat terjadi secara dosral namun kurang jelas . Perut burung terbagi menjadi dua bagian . Bagian anterior , bermula dari fundus yang disebut proventiculus, memiliki kelenjar dan mampu menghasilkan enzim pencernaan . Bagian posterior mirip dengan daerah pyloric yang disebut ampela . Ampela memiliki banyak otot untuk menggiling makanan kasar (kadang-kadang dengan bantuan kerikil yang dimakan oleh burung). Lambung dan ampela yang paling berbeda terlihat pada burung karnivora dengan burung dari spesies granivorous ( Hildebrand , M., 1995). Sistem pencernaan pada burung menunjukkan banyak modifikasi yang menarik, beberapa di antaranya terkait tidak adanya gigi pada jenis ini. Evolusi pada bibir burung menjadi paruh menyebabakan tidak adanya kelenjar labial dan kelenjar intermaxillary di mulut, namun muncul kelenjar sublingual. Amilase dan ptyalin keduanya terdapat dalam air liur unggas , meskipun ada sedikit indikasi bahwa enzim ini berperan dalam konversi sttrach menjadi gula. Pada burung granivorous dan carnovorous , sebagian dari kerongkongan telah membesar menyerupai kantong disebut tembolok yang digunakan untuk penyimpanan sementara makanan. Tembolok pada dasarnya tidak memiliki kelenjar pencernaan , namun pada merpati mampu memproduksi zat bergizi yang disebut susu merpati yang dimuntahkan oleh induk dan diumpankan ke anaknya. Produksi kelenjar ini dirangsang oleh hormon yang disebut prolaktin, yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar dibawah otak selama musim berbiak (Orr , Robert T., 1976).

BAB III METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan sesuai jadwal matakuliah Ornitologi pada semester genap Tahun Ajaran 2013-2014, yaitu antara bulan Januari - Juli 2014. Bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan, Laboratorium Terpadu UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. B. Alat Dan Bahan 1. Alat a) Satu Set Alat Bedah b) Kamera c) Laptop d) Penggaris e) Bak Parafin f) Jarum pentul g) Kapas 2. Bahan a) Klorofom b) Burung Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) C. Metode Penelitian Metode pengamatan langsung dengan cara membius burung menggunaan klorofom kemudian membedah burung menggunakan alat bedah. Selanjutnya diambil gambar organ sistem pencernaan burung menggunakan kamera.

D. Prosedur Kerja 1. Pembiusan Burung yang akan dibedah dibius dengan klorofom. 2. Fiksasi Burung diatur posisinya agar saat difoto didapat gambar sesuai yang diinginkan dengan cara ditusuk dengan jarum. 3. Pengambilan Gambar Digunakan kamera yang dihubungkan dengan laptop agar gambar yang diperoleh dapat langsung diolah.

BAB IV HASIL 1. Anatomi sistem pencernaan dan morfologi Burung Kuntul Kerbau.

Pembahasan Dari hasil anatomi burung Kuntul Kerbau diketahui system pencernaan burung terdiri dari kerongkongan, tembolok, lambung, pancreas, usus, rectum, dan kloaka. Kerongkongan merupakan penghubung anatara rongga mulut dengan tembolok. Tembolok merupakan tempat sementara untuk menampung makanan, yang pada dasarnya tidak memiliki kelenjar pencernaan. Selanjutnya makanan diteruskan ke lambung yang memiliki kelenjar dan mampu menghasilkan enzim pencernaan . makanan selanjutnya dicerna di ampela yang memiliki banyak otot untuk menggiling makanan kasar. Lambung dan ampela yang paling berbeda terlihat pada burung karnivora dengan burung dari spesies granivorous ( Hildebrand , M., 1995) (Orr , Robert T., 1976). Sedangkan morfologinya terdiri dari paruh, dagu, mata, mahkota, leher, dada, sayap (bulu sekunder, bulu primer), tungging, tarsometatarsus, jari, dan kuku. Menurut Orr (1976) paruh adalah hasil evolusi gigi yang dimiliki oleh burung, oleh karena itu fungsi paruh sebagai pengganti gigi sangat penting yaituu digunakan untuk mencabik mangsannya. Bulu juga merupakan hasil evolusi yang berguna untuk menjaga suhu tubuh dan menghasilkan kelenjar minyak yang memiliki fungsi untuk menjaga bulu agar tetap kering. Higgins (1990) menyatakan bahwa bulu meloloskan air tanpa membasahinya. Publikasi

Hennemann (1984) yang lain menyebutkan bahwa lapisan bulu terluar dapat basah, namun tidak sampai menembus lapisan udara dan membasahi kulit burung. Tarsometatarsus merupakan sisik pada kaki burung yang diindikasikan sebagai ciri evolusi burung dari reptile.

DAFTAR PUSTAKA

Coates, Brian and Bishop, K (2000). Panduan Lapangan Burung-Burung di Kawasan Wallacea. Brisbane, Australia: BirdLife International-Indonesia Programme & Dove Publications Pty. ISBN 979-95794-2-2. Hennemann, W. W., III (1984). "Spread-winged behaviour of double-crested and flightless cormorants Phalacrocorax auritus and P. harrisi: wing drying or thermoregulation?". Ibis126 (2):230239. Hildebrand , M. (1995). Analisis Struktur Vertebrata, Edisi Keempat. New York : John Wiley & Sons.Inc : Hal 219 . Marchant, S. M. and P.J. Higgins (1990). Handbook of Australian, New Zealand and Antarctic Birds.Vol 1A.Oxford University Press. Orr , Robert T. (1976). VEREBRATE BIOLOGI , EDISI KEEMPAT. London : WB P. Saunders Corporation Hal : 120. BirdLife International (2012). Bubulcus ibis. Daftar Merah Spesies Terancam IUCN 2008. IUCN 2008. Diakses pada 26 Maret 2014.