Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

PEMBUATAN SENYAWA KOORDINASI [Ni{NH3}6]I2

KELOMPOK : NAMA
SRI DWIWATI FERI SETIAWAN ZULKANDRI APRIANSYAH AMALIAH AGUSTINA BERLY DWIKARYANI DITA DWI FEBRIANA

3 NIM
06111010023 06111010018 06111010019 06111010020 06111010021 06111010022 06111010024

PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA


2014

I. II.

NOMOR PERCOBAAN : V JUDUL PERCOBAAN : PEMBUATAN SENYAWA KOORDINASI, [Ni{NH3}6]I2

III.

TUJUAN PERCOBAAN : Mempelajari pembuatan senyawa koordinasi [Ni{NH3}6]I2

IV.

DASAR TEORI Senyawa Koordinasi adalah senyawa yang terbentuk dari ion sederhana

(kation maupun anion) serta ion kompleks. Unsur transisi periode keempat dapat membentuk berbagai jenis ion kompleks. Ion kompleks terdiri dari kation logam transisi dan ligan. Ligan adalah molekul atau ion yang terikat pada kation logam transisi. Interaksi antara kation logam transisi dengan ligan merupakan reaksi asam-basa Lewis. Menurut Lewis, ligan merupakan basa Lewis yang berperan sebagai spesi pendonor (donator) elektron. Sementara itu, kation logam transisi merupakan asam Lewis yang berperan sebagai spesi penerima (akseptor) elektron. Dengan demikian, terjadi ikatan kovalen koordinasi (datif) antara ligan dengan kation logam transisi pada proses pembentukan ion kompleks. Kation logam transisi kekurangan elektron, sedangkan ligan memiliki sekurangnya sepasang elektron bebas (PEB). Beberapa contoh molekul yang dapat berperan sebagai ligan adalah H2O, NH3, CO, dan ion Cl-. Bilangan koordinasi adalah jumlah ligan yang terikat pada kation logam transisi. Sebagai contoh, bilangan koordinasi Ag+ pada ion [Ag(NH3)2]+ adalah dua, bilangan koordinasi Cu2+ pada ion [Cu(NH3)4]2+ adalah empat, dan bilangan koordinasi Fe3+ pada ion [Fe(CN)6]3- adalah enam. Bilangan koordinasi yang sering dijumpai adalah 4 dan 6. Berdasarkan jumlah atom donor yang memiliki pasangan elektron bebas (PEB) pada ligan, ligan dapat dibedakan menjadi monodentat, bidentat, dan polidentat. H2O dan NH3 merupakan ligan monodentat (mendonorkan satu pasang elektron). Sedangkan Etilendiamin (H2N-CH2-CH2-NH2, sering disebut dengan istilah en) merupakan contoh ligan bidentat (mendonorkan dua pasang elektron).

Ligan bidentat dan polidentat sering disebut sebagai agen chelat (mampu mencengkram kation logam transisi dengan kuat). Muatan ion kompleks adalah penjumlahan dari muatan kation logam transisi dengan ligan yang mengelilinginya. Sebagai contoh, pada ion [PtCl6]2-, bilangan oksidasi masing-masing ligan (ion Cl-) adalah -1. Dengan demikian, bilangan oksidasi Pt (kation logam transisi) adalah +4. Contoh lain, pada ion [Cu(NH3)4]2+, bilangan oksidasi masing-masing ligan (molekul NH3) adalah 0 (nol). Dengan demikian, bilangan oksidasi Cu (kation logam transisi) adalah +2. Berikut ini adalah beberapa aturan yang berlaku dalam penamaan suatu ion kompleks maupun senyawa kompleks : 1. Penamaan kation mendahului anion; sama seperti penamaan senyawa ionik pada umumnya. 2. Dalam ion kompleks, nama ligan disusun menurut urutan abjad, kemudian dilanjutkan dengan nama kation logam transisi. 3. Nama ligan yang sering terlibat dalam pembentukan ion kompleks dapat dilihat pada Tabel Nama Ligan. 4. Ketika beberapa ligan sejenis terdapat dalam ion kompleks, digunakan awalan di-, tri, tetra-, penta-, heksa-, dan sebagainya. 5. Bilangan oksidasi kation logam transisi dinyatakan dalam bilangan Romawi. 6. Ketika ion kompleks bermuatan negatif, nama kation logam transisi diberi akhiran at. Nama kation logam transisi pada ion kompleks bermuatan negatif dapat dilihat pada Tabel Nama.

Kation pada Anion Kompleks. Tabel Nama Ligan Ligan Bromida, BrKlorida, ClSianida, CNNama Ligan Bromo Kloro Siano

Hidroksida, OHOksida, O2Karbonat, CO32Nitrit, NO2Oksalat, C2O42Amonia, NH3 Karbon Monoksida, CO Air, H2O Etilendiamin

Hidrokso Okso Karbonato Nitro Oksalato Amina Karbonil Akuo Etilendiamin (en)

Tabel Nama Kation pada Anion Kompleks Kation Aluminium, Al Kromium, Cr Kobalt, Co Cuprum, Cu Aurum, Au Ferrum, Fe Plumbum, Pb Mangan, Mn Molibdenum, Mo Nikel, Ni Argentum, Ag Stannum, Sn Tungsten, W Zink, Zn Nama Kation pada Anion Kompleks Aluminat Kromat Kobaltat Cuprat Aurat Ferrat Plumbat Manganat Molibdat Nikelat Argentat Stannat Tungstat Zinkat

Bentuk ion kompleks dipengaruhi oleh jumlah ligan, jenis ligan, dan jenis kation logam transisi. Secara umum, bentuk ion kompleks dapat ditentukan

melalui bilangan koordinasi. Hubungan antara bilangan koordinasi terhadap bentuk ion kompleks dapat dilihat pada tabel berikut : Bilangan Koordinasi 2 4 6 Bentuk Ion Kompleks Linear Tetrahedral atau Square Planar Oktahedral

Senyawa Nikel(II) Sebagian besar senyawa kompleks nikel mengadopsi struktur geometri

oktahedrom, hanya sedikit mengadopsi geometri tertrahedron dan bujursangkar. Ion heksaakuanikel(II) berwarna hijau; penambahan amonia menghasilkan ion biru heksaaminanikel(II) menurut persamaan reaksi : [Ni(H2O)6]2+ (aq) + 6NH3 (aq) [Ni(NH3)6]2+ (aq) + 6H2O (l) Penambahan larutan ion hidroksida ke dalam larutan garam nikel(II) menghasilkan endapan gelatin hijau nikel(II) hidroksida menurut persamaan reaksi: [Ni(H2O)6]2+ (aq) + 2OH- [Ni(OH)2] (s) + 6H2O (l) Seperti halnya kobalt(II), kompleks yang lazim mengadopsi geometri tertrahedron yaitu halide, misalnya ion tertrakloronikelat(II) yang berwarna biru. Senyawa kompleks ini terbentuk dari penambahan HCl pekat kedalam larutan garam nikel(II) dala air menurut persamaan reaksi: [Ni(H2O)6]2+ (aq) + 4Cl- (aq) [NiCl4]2- (aq) + 6H2O (l) Hijau biru Senyawa kompleks nikel(II) bujursangkar yang umum dikenal yaitu ion tetrasianonikelat(II). [Ni(CN)4]2-, yang berwarna kuning, dan bis

(dimetilglioksimato) nikel(II), [Ni(C4N2O2H7)2] yang berwarna merah pink. Warna yang karakteristik pada kompleks yang di kedua ini merupakan reaksi penguji terhadap ion nikel(II) ; senyawa kompleks ini dapat diperoleh dari penambahan larutan dimetilglikosim (C4N2O2H8 = DMGH) ke dalam larutan nikel(II) yang dibuat tepat basa dengan penambahan amonia menurut persamaan reaksi: [Ni(H2O)6]2+ (aq) + 2DMGH (aq) + 2OH- [Ni(DMG)2] (s) + 8H2O (l)

a. Sifat-Sifat Nikel berwarna putih keperak-perakan dengan pemolesan tingkat tinggi. Bersifat keras, mudah ditempa, sedikit ferromagnetis, dan merupakan konduktor yang agak baik terhadap panas dan listrik. Nikel tergolong dalam grup logam besi-kobal, yang dapat menghasilkan alloy yang sangat berharga.

b. Kegunaan Nikel digunakan secara besar-besaran untuk pembuatan baja tahan karat dan alloy lain yang bersifat tahan korosi, seperti Invar, Monel , Inconel , dan Hastelloys . Alloy tembaga-nikel berbentuk tabung banyak digunakan untuk pembuatan instalasi proses penghilangan garam untuk mengubah air laut menjadi air segar. Nikel, digunakan untuk membuat uang koin,dan baja nikel untuk melapisi senjata dan ruangan besi (deposit di bank), dan nikel yang sangat halus, digunakan sebagai katalis untuk menghidrogenasi minyak sayur (menjadikannya padat). Nikel juga digunakan dalam keramik, pembuatan magnet Alnico dan baterai penyimpanan Edison .

Senyawa Iodida Ditemukan oleh Courtois ada tahun 1811. Iod tergolong unsur halogen,

terdapat dalam bentuk iodida dari air laut yang terasimilasi dengan rumput laut, sendawa Chili, tanah kaya nitrat (dikenal sebagai kalis, yakni batuan sedimen kalsium karbonat yang keras), air garam dari air laut yang disimpan, dan di dalam air payau dari sumur minyak dan garam. Iod atau Yodium yang sangat murni dapat diperoleh dengan mereaksikan kalium iodida dengan tembaga sulfat. Ada pula metode lainnya yang sudah dikembangkan.

a. Sifat-sifat Iod adalah padatan berkilauan berwarna hitam kebiru-biruan, menguap pada suhu kamar menjadi gas ungu biru dengan bau menyengat. Iod membentuk senyawa dengan banyak unsur, tapi tidak sereaktif halogen lainnya, yang

kemudian menggeser iodida. Iod menunjukkan sifat-sifat menyerupai logam. Iod mudah larut dalam kloroform, karbon tetraklorida, atau karbon disulfida yang kemudian membentuk larutan berwarna ungu yang indah. Iod hanya sedikit larut dalam air. Ada 30 isotop yang sudah dikenali. Tapi hanya satu isotop yang stabil,
127 131

I yang terdapat di alam. Isotop buatan

I, memiliki masa paruh waktu 8 hari,

dan digunakan dalam proses penyembuhan kelenjar tiroid. Senyawa yang paling umum adalah iodida dari natrium dan kalium (KI), juga senyawa iodatnya (KIO3). Kekurangan iod dapat menyebabkan penyakit gondok.

b. Kegunaan Senyawa iod sangat penting dalam kimia organik dan sangat berguna dalam dunia pengobatan. Iodida dan tiroksin yang mengandung iod, digunakan sebagai obat, dan sebagai larutan KI dan iod dalam alkohol digunakan sebagai pembalut luar. Kalium iodida juga digunakan dalam fotografi. Warna biru tua dengan larutan kanji merupakan karakteristik unsur bebas iod.

V. ALAT DAN BAHAN Beaker gelas 100 mL Batang pengaduk Corong Hirsch Kertas saring Silinder pengukur 10 mL H2O2 3% Ammonia 1 M Etanol Nikel klorida heksahidrat Potassium iodide Indikator amilum Tabung reaksi dengan label

VI. PROSEDUR KERJA 1. Larutkan 1 gr nikel klorida heksahidrat dalam gelas beker yang berisi 5 mL air. 2. Letakkan gelas beker tersebut dalam lemari asam dan tambahkan 10 mL larutan NH3 pekat (15 M) 3. Tambahkan ke dalam campuran tersebut 2,6 gr potassium iodide. Biarkan campuran tersebut beberapa menit. 4. Kumpulkan kristal yang terbentuk dalam corong Hirsch, cuci 2 kali dengan 2 mL larutan etanol 1:1 dan kemudian tambahkan 2 mL etanol. 5. Keringkan kristal di udara terbuka dengan diangin-angin selama beberapa menit. 6. Pindahkan kristal-kristal yang telah kering tersebut ke dalam kertas saring. 7. Pindahkan kelebihan pelarut yang ada dengan menekan atau memampatkan kristal-kristal tersebut diantara 2 lembar kertas saring. 8. Pindahkan hasilnya ke dalam tabung yang telah ditimbang beratnya dan diberi label. Timbang berat tabung beserta isinya dan hitunglah persentase berat yang dihasilkan berdasarkan jumlah nikel klorida heksahidrat yang digunakan. 9. Lakukan tes pengujian adanya ion nikel dengan cara: larutkan sedikit sampel (0,1 gr dalam 0,5 mL air) tambahkan 2 tetes larutan NH3 (5 M) dan kemudian tambahkan 5 tetes larutan dimetil glioksim, maka akan terbentuk endapan merah strawberry bila larutan mengandung nikel (II). 10. Lakukan tes pengujian adanya ion iodide dengan cara: larutkan sedikit sampel (0,1 gr dalam 0,5 mL air) tambahkan 2 tetes larutan asam sulfat 5 M, kemudian tambahkan larutan H2O2 3%. Ujilah larutan tersebut dengan indikator amilum. Timbulnya warna biru kehitam-hitaman menunjukkan bahwa dalam larutan tersebut mengandung iodin.

VII. HASIL PENGAMATAN NO 1. PROSEDUR 1 gr nikel klorida + 5 mL air HASIL PENGAMATAN Nikel klorida (hijau) + air (tak berwarna) nikel larut dalam air dan larutan berwarna hijau. Campuran (hijau) + NH3 (tak berwarna) larutan berubah menjadi berwarna biru. (putih) KI larut

2.

Campuran no.1 + 10 mL NH3 15 M

3.

Campuran no.2 + KI 2,6 gr

Campuran (biru) + KI

(s)

dalam larutan dan larutan berwarna ungu muda. Diamkan beberapa menit Terdapat endapan berupa kristal berwarna ungu dan larutan bening. 4.

Kristal disaring dan dicuci dengan Kristal tetap berwarna ungu etanol

5.

Kristal dikeringkan beberapa menit

Kristal mengering dan tetap berwarna ungu

6.

Pindahkan kelebihan pelarut dengan Kristal menjadi lebih kering menekan Kristal diantara 2 lembar kertas saring lalu di oven.

7.

Pindahkan kristal pada wadah dan Hasil timbangan: ditimbang. Wadah porselen = 11,7585 gr Porselen + kristal = 14,1142 gr

Berat kristal = 14,1142 gr - 11,7585 gr = 2,3557 gr

8. Uji ion nikel 0,1 gr kristal larutkan dalam 0,5 mL air + 2 tetes NH3 + 5 tetes dimetil glioksim. Kristal (ungu) + air (tak berwarna) kristal tidak larut, larutan berwarna putih Campuran (putih keunguan) + NH3 (tak berwarna) kristal tidak larut, larutan berwarna putih Campuran (putih keunguan) + dimetil glioksim 9. Uji ion iodin 0,1 gr kristal larutkan dalam 0,5 mL air + 2 tetes H2SO4 5 M + H2O2 3% Kristal (ungu) + air (tak berwarna) kristal tidak larut, larutan berwarna putih Campuran (putih keunguan) + H2SO4 (tak berwarna) larutan berwarna biru muda dan kristal menjadi sedikit berkurang Campuran (biru) + H2O2 pekat (biru pekat) Uji dengan indikator amilum Campuran (biru) + 5 tetes indikator amilum (tak berwarna) larutan 3% (tak berwarna) warna larutan menjadi lebih (tak berwarna) kristal

berubah warna menjadi merah keunguan

berwarna biru, endapan tetap ungu.

VIII.

MEKANISME REAKSI Reaksi Pembentukan Senyawa Koordinasi NiCl3 (s) + 6 H2O (s) NiCl3.6H2O (aq) NiCl3.6 H2O (aq) Ni 3+ (aq) + 3 Cl- (aq) + 6H2O (aq)

Ni 2+ (aq) + 2 NH3 (aq) + 2 H2O (aq) Ni (OH)2 (s) + 2 NH3 (aq) Ni (OH)2 (s) + 6 NH3 (aq) [Ni{NH3}6] 2+ (aq) + 2 OH- (aq) [Ni (NH3)] 2+ (aq) + 2 KI (aq) + 2 OH- (aq) [Ni{NH3}6]I2 (s) + 2 KOH (aq)

Pengujian Ion Nikel [Ni{NH3}6]I2 (s) + 2 H2O (l) + NH3 (aq) Ni 2+ (aq) + 7NH3 (aq) + 2 I- (aq) + 2 OH-(aq) + 2H+(aq) CH3-C=N-OH Ni 2+(aq) + 2 + 2 OH- (aq) Ni(C4H7N2O2)2 (s) + 2H2O(l) CH3-C=N-OH (aq) (dimetil glioksim) (nikel dimetil glioksim)

Pengujian Ion Iod [Ni{NH3}6]I2(s) + H2O(l) + H2SO4(aq) [Ni{NH3}6]2+(s) + 2IH2SO4(aq) + H2O (aq) H2O2 (aq) + 2I- (aq) + 2H+ (aq) I2 (aq) + 2 H2O (aq)
(aq)

IX.

ANALISA DATA

Dik : Massa NiCl3 = 1 gr Mr NiCl3 n NiCl3 = 129,69 gr/mol = = 0,00771 mol

Massa H2O

=.V = 0,996 gr/ml. 5 ml = 4,98 gr

n H2O

= 0,277 mol

n NH3

= V. M = 0,01 L. 5 M = 0,05 mol

Massa KI n KI

= 2,6 gr = = 0,0157 mol

Reaksi Pembentukan : NiCl3 (s) + 6 H2O (s) Ni 3+ (aq) + 3 Cl- (aq) + 6H2O (aq) M R S 0,00771 0,00771 0,277 0,00771 0,026929 0,00771 0,00771 0,00771 0,00771 0,00771 0,00771

Ni 2+ (aq) + 6 NH3 (aq) [Ni{NH3}6] 2+ (aq) M R S 0,00771 0,00771 0,05 0,00771 0,04229 0,00771 0,00771

[Ni (NH3)] 2+ (aq) + 2 KI (aq) + 2 OH- (aq) [Ni{NH3}6]I2 (s) + 2 KOH (aq) M R S 0,00771 0,00771 0,0157 0,00771 0,00799 0,00771 0,00771 0,00771 0,00771 0,00771 0,00771

Massa [Ni{NH3}6]I2 secara teori

= n . Mr = 0.00771 mol . 414,69 gr/mol = 3,19 gr

Massa [Ni{NH3}6]I2 secara praktek Berat porselen = 11,7585 gr Berat porselen + kristal [Ni{NH3}6]I2 = 14,1142 gr Berat kristal = 14,1142 gr - 11,7585 gr = 2,3557 gr

% Kesalahan = produk secara teori produk secara praktek x 100 % Produk secara teori = 3,19 gr 2,3557 gr x 100 % 3,19 gr = 26,15 %

X.

PEMBAHASAN Percobaan pembuatan senyawa koordinasi [Ni{NH3}6]I2 bertujuan untuk

mempelajari langkah-langkah pembuatan senyawa koordinasi. Selain itu, melalui percobaan ini dilakukan pengujian nikel dan iodin pada senyawa koordinasi yang akan dibuat. Pertama, melarutkan serbuk nikel klorida dilarutkan dalam aquadest sehingga membentuk larutan NiCl3.6H2O, yang lama kelamaan nikel klorida tersebut terionisasi menjadi ion Ni 3+ dan Cl- dengan reaksi sebagai berikut : NiCl3 (s) + 6 H2O (s) NiCl3.6H2O (aq) NiCl3.6H2O (aq) Ni 3+ (aq) + 3 Cl- (aq) + 6H2O (aq) Nikel klorida larut dalam air yang menghasilkan larutan berwarna hijau. Selanjutnya larutan tersebut di tambahkan dengan larutan NH3 pekat 15 M dan menghasilkan larutan yang berwarna biru. Kemudian campuran ditambahkan lagi dengan KI sebanyak 2,6 gram menghasilkan larutan yang berwarna ungu, lalu didiamkan beberapa menit sehingga terlihat adanya endapan atau kristal yang berwarna ungu sedangkan larutannya tidak berwarna. Kristal yang terbentuk inilah yang merupakan senyawa koordinasi [Ni{NH3}6]I2. Setelah direaksikan, ion heksa amin nikel (II) yang bermuatan +2 ini akan berikatan dengan ion iodide yang berasal dari kalium iodide dan menghasilkan senyawa koordinasi [Ni{NH3}6]I2 yang berupa kristal ungu. Dengan reaksi: [Ni{NH3}6] 2+ (aq) + 2OH- + 2KI (s) [Ni{NH3}6]I2 (s) + 2KOH (aq) Karena produk utama yang inginkan adalah kristal [Ni{NH3}6]I2, maka dilakukan penyaringan untuk memisahkan endapan tersebut dari filtratnya. Untuk mendapatkan kristal yang lebih murni, dilakukan dua kali pencucian dengan menggunakan etanol. Etanol disini befungsi sebagai pelarut. Etanol memiliki titik didih rendah sehingga mudah menguap dan mengakibatkan mudah tebentuknya

kristal. Selain itu, etanol tidak bereaksi dengan endapan yang didapatkan. Larutan etanol ini akan membersihkan kristal-kristal [Ni{NH3}6]I2 yang terbentuk dengan mengikat sisa-sisa air dan KOH yang tersisa pada endapan tersebut. Setelah itu, kristal diangin-anginkan untuk menghilangan sisa-sisa air yang masih terkandung dalam kristal. Karena kristal belum benar-benar kering, maka kristal dikeringkan dengan menggunakan oven. Setelah benar-benar kering, didapat kristal [Ni{NH3}6]I2 sebanyak 2,3557 gr . Massa Kristal [Ni{NH3}6]I2 yang didapat secara praktek ini, berbeda dengan hasil yang didapat menurut perhitungan secara teori yang mana telah dihitung adalah 3,19 gr. Sehingga persentase kesalahan yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebesar 26,15 %. Kesalahan yang terjadi pada pembuatan kristal [Ni{NH3}6]I2 ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah : 1. Kekurangtelitian praktikan dalm mnimbang massa bahan seperti NiCl3 dan KI, atau kekurangtelitian dalam menukar volume larutan yang digunakan. 2. Terlalu lamanya waktu yang digunakan saat mendiamkan campuran setelah penambahan KI, sehingga ada kemungkinan endapan [Ni{NH3}6]I2 yang sudah terbentuk melarut kembali. 3. Kurang maksimalnya proses penyaringan yang dilakukan, misalnya masih terasa endapan dalam larutan sehingga jumlah endapan yang didapat berkurang. 4. Ada kemungkinan kurang maksimalnya reaksi yang terjadi, sehingga jumlah endapan atau produk yang dihasilkan tidak maksimal. Kedua adalah uji ion nikel, ke dalam kristal [Ni(NH3)6]I2 yang terlebih dulu dilarutkan dalam air ditambahkan larutan ammonia dan dimetil glioksim. Endapan yang dihasilkan dari reaksi ini adalah endapan berwarna merah keunguan. Endapan merah ini menunjukkan adanya ion nikel dalam larutan itu. Endapan merah ini terbentuk dari larutan yang tepat basa dengan ammonia. Jadi, fungsi penambahan ammonia adalah agar larutan berada dalam suasana basa. Endapan ini adalah nikel dimetilglioksim dengan rumus Ni(C4H7N2O2)3. Terakhir adalah uji iodide, kristal [Ni(NH3)6]I2 yang telah dilarutkan ke dalam air lalu ditambahkan dengan asam sulfat. Ketika ditambahkan dengan asam

sulfat endpan yang terbentuk sedikit larut. Fungsi asam sulfat disini sebagai pemberi suasana asam pada larutan, sehingga akan mudah dioksidasi menjadi iod bebas dengan sejumlah zat pengiksidasi. Kemudian ditambahkan larutan H2O2 3%, ketika ditambahkan dengan H2O2 3% perubahan warna biru yang dihasilkan menjadi lebih pekat. Selanjutnya ditambahkan dengan larutan amilum. Larutan amilum berfungsi sebagai indikator. Setelah ditambahkan amilum, tidak tampak adanya perubahan larutan tetap biru dan endapan tetap ungu. Seharusnya pada literatur terjadi perubahan pada larutan, yaitu berubah warna menjadi biru kehitaman. Warna inilah yang menunjukkan adanya ion iodide pada larutan. Tidak adanya perubahan ini dapat terjadi karena kesalahan yang dapat berasal dari praktikan maupun alat dan bahan yang digunakan.

XI.

KESIMPULAN 1. Pembuatan senyawa koordinasi [Ni(NH3)6]I2 adalah dengan proses kristalisasi. 2. Etanol berfungsi untuk mengikat sisa air dan larutan lain yang masih terkandung dalam kristal. 3. Endapan berwarna merah strawberry pada uji ion nikel menunjukkan adanya ion nikel dalam larutan. 4. Ammonia pada uji nikel berfungsi sebagai pemberi suasana basa. 5. Larutan berwarna biru kehitaman setelah ditambahkan indikator amilum pada uji iodide menunjukkan adanya ion iodide pada larutan tersebut. 6. Fungsi asam sulfat disini sebagai pemberi suasana asam pada larutan, sehingga akan mudah dioksidasi menjadi iod bebas dengan sejumlah zat pengiksidasi. 7. Kristal [Ni{NH3}6]I2 yang dihasilkan adalah sebanyak 2,3557 gr.

DAFTAR PUSTAKA

Atmojo,

Susilo

Tri.

2011.

Senyawa

Kompleks

Koordinasi,

(Online).

(http://chemistry35.blogspot.com/2011/11/senyawa-komplekskoordinasi.html, dikases 13 Maret 2014).

Azzahra, Fleur. 2011. Pembuatan Senyawa Koordinasi, [Ni(NH3)6]I2, (Online). (http://fleurazzahra.blogspot.com/2011/12/pembuatan-senyawakoordinasi-ninh36i2.html, dikases 13 Maret 2014).

Munika. 2011. Percobaan 4 Pembentukan Senyawa Koordinasi, (Online). (http://www.scribd.com/document_downloads/direct/69964588?extensio n=docx&ft=13947145, dikases 13 Maret 2014).

Zulaiha, Zila. 2011. Laporan Praktikum Kimia Anorganik 2 - Pembuatan Senyawa Koordinasi, [Ni(NH3)6]I2, (Online). -praktikum-kimia-

(http://zilazulaiha.blogspot.com/2011/11/laporan anorganik-2.html, dikases 13 Maret 2014).

LAMPIRAN