Anda di halaman 1dari 13

MENGELOLA KEKAYAAN ALAM INDONESIA SESUAI SYARIAH

BIMA SETIAJI (F0212024)

UNIVERSITAS SEBELAS MARET


2013/2014

I.

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG Dilihat dari sudut jumlah penduduk, Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dibandingkan dengan negara-negara lainnya di dunia. Dewasa ini, penduduk dunia telah mencapai sekitar 500 miliar, Cina merupakan negara terbesar penduduknya yaitu sekitar 1,3 miliar, India menduduki urutan kedua dengan jumlah penduduk sekitar 1 miliar, urutan ketiga adalah Rusia dengan jumlah penduduk sekitar 350 juta jiwa, urutan keempat adalah Amerika Serikat dengan jumlah penduduk sekitar 300 juta jiwa, dan Indonesia menduduki urutan kelima dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa. 1 Kemudian dari segi sumberdaya alam, Indonesia juga merupakan salah satu negara terkaya di dunia. Potensi kekayaan alam berupa kekayaan hutan, lautan, BBM, emas dan barang-barang tambang lainnya berlimpah ruah. Kawasan hutannya termasuk yang paling luas di dunia sehingga dalam tahun 1993 saja, rata-rata setiap tahun hasil hutannya mencapai 2,5 miliar dollar AS. Untuk tahun-tahun terakhir ini, hutan Indonesia memberikan hasil sekitar 7 8 miliar dollar AS. Kekayaan minyak Indonesia sangat banyak, ladang minyaknya mencapai 60 ladang minyak (basin), 38 di antaranya telah dieksplorasi dengan cadangan sekitar 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik gas.2 Akhmad Fauzi mengungkapkan bahwa salah satu potensi yang dimiliki bangsa Indonesia yang sangat besar nilainya dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia adalah sumberdaya alam (renewable dan nonrenewable). Dengan demikian, bangsa kita perlu berbangga sekaligus bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia-Nya itu sehingga kehidupan bangsa Indonesia dapat berlangsung hingga saat ini. Oleh karena itu, hilangnya atau berkurangnya ketersediaan sumberdaya ini akan berdampak besar bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia pada khususnya dan umat manusia di muka bumi pada umumnya3. Kekayaan sumberdaya alam Indonesia ini pula yang menyebabkan negara kita dijajah berabad-abad lamanya oleh Belanda dan tiga setengah tahun lamanya oleh Jepang. Sumberdaya alam pada umumnya sebagai kekayaan yang tak ternilai harganya tersebut wajib dikelola secara bijaksana agar dapat dimanfaatkan secara berdaya guna, berhasil guna, dan berkelanjutan demi kesejahteraan rakyat, baik generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Harapan-harapan seperti inilah menjadi pertanyaan bagaimana prinsip-prinsip hukum pengelolaan sumberdaya alam tambang sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia?

II.

PEMBAHASAN
1. Sumberdaya Alam dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan

Konstitusi UUD RI 1945 tidak mendefiniskan secara eksplisit tentang arti sumberdaya alam, namun pada Pasal 33 ayat (3) secara garis besar mengidentifikasi sumberdaya alam dengan rumusan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Artinya, sumberdaya alam dalam bentuk apapun yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara dengan catatan mutlak, penggunaan dan pemanfaatannya harus demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, batasan sumberdaya alam hanya dapat ditemukan melalui teori-teori yang dikembangkan oleh para ahli di bidangnya masing-masing dan batasan-batasan yang dirumuskan melalui undang-undang organik, khususnya undang-undang pengelolaan sumberdaya alam. Rees yang dikutip oleh Akhmad Fauzi mengemukakan bahwa sesuatu untuk dapat dikatakan sebagai sumberdaya harus : 1. ada pengetahuan, teknologi atau keterampilan untuk memanfaatkannya; 2. harus ada permintaan (demand) terhadap sumberdaya tersebut. Dengan kata lain sumberdaya alam adalah faktor produksi yang digunakan untuk menyediakan barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi 4. Dengan demikian, secara umum sumberdaya alam dapat diklasifikasi ke dalam dua kelompok, yaitu : 1. Kelompok Stok (non Renewable). Jenis sumberdaya ini dianggap memiliki cadangan yang terbatas, sehingga eksploitasinya terhadap sumberdaya tersebut akan menghabiskan cadangan sumberdaya, sumber stok dikatakan tidak dapat diperbaharui (non renewable) atau terhabiskan (exhaustible). 2. Kelompok Flow. Kelompok sumberdaya ini, jumlah dan kualitas fisik sumberdaya berubah sepanjang waktu. Berapa jumlah yang dimanfaatkan sekarang, bisa mempengaruhi atau tidak mempengaruhi ketersediaan sumberdaya di masa mendatang. Sumberdaya ini dikatakan dapat diperbaharui (renewable) yang regenerasinya ada yang tergantung pada proses biologi dan ada yang tidak. Salah satu yang termasuk dalam golongan sumberdaya tidak dapat terbarukan adalah tambang minyak dan nikel. Tambang nikel memerlukan waktu ribuan bahkan jutaan tahun untuk terbentuk karena ketidakmampuan sumberdaya ini untuk melakukan regenerasi, sehingga sumberdaya ini sering juga disebut sebagai sumberdaya yang mempunyai stok yang tetap.

Sifat-sifat tersebut menyebabkan masalah eksploitasi sumberdaya alam tidak terbarukan (non renewable) berbeda dengan ekstrasi sumberdaya terbarukan (renewable). Pengusaha pertambangan harus memutuskan kombinasi yang tepat dari berbagai faktor produksi untuk menentukan produksi yang optimal dan juga seberapa cepat stok harus diekstrasi dengan kendala stok yang terbatas. Dari sudut yuridis, pengertian sumberdaya alam telah dirumuskan dalam Rancangan Undang-undang tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam, melalui Pasal 1 bahwa Sumberdaya alam adalah kesatuan tanah, air, dan ruang udara, termasuk kekayaan alam yang ada di atas dan di dalamnya yang merupakan hasil proses alamiah baik hayati maupun nonhayati, terbarukan dan tidak terbarukan, sebagai fungsi kehidupan yang meliputi fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kemudian dalam penjelasan umum Rancangan undang-undang tersebut dijelaskan bahwa Sumberdaya alam merupakan karunia dan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia sebagai kekayaan yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu sumberdaya alam wajib dikelola secara bijaksana agar dapat dimanfaatkan secara berdaya guna, berhasil guna, dan berkelanjutan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat, baik generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Ketersediaan sumberdaya alam baik hayati maupun nonhayati sangat terbatas, oleh karena itu pemanfaatannya baik sebagai modal alam (stock resources) maupun komoditas (product) harus dilakukan secara 2. Sumberdaya Alam dalam Perspektif Islam

Dampak krisis lingkungan hidup yang melanda akhir-akhir ini, bukanlah saatnya kita menyalahkan satu sama lain yang melewati batas dalam pengolahan Sumber Daya Alam. Akan tetapi lebih pantasnya merujuk pada diri kita sendiri yang secara tidak sadar telah semena-mena menggunakan fungsi lingkungan hidup bahkan mengekploitasi Sumber Daya Alam dan mencemari perabot alam. Ironisnya peran syariah dalam permasalahan ini dianggap sebelah mata yang kemudian menjadikan sekularisme sebagai paham yang sangat mengerti, memahami dan menjaga stuktur kehidupan manusia.

Alam sumber vital kehidupan manusia Allah menunjukkan keagungan ciptaan-Nya dalam Al-Quran secara ekplisit akan kebesaran alam semesta. Segala isi bumi yang berupa air, udara, tanah, barang tambang dan makhluk ciptaan lainnya di alam semesta ini adalah sebuah ekosistem yang

kesinambungannnya amat bergantung pada moralitas manusia yang ditugaskan sebagai khalifah di bumi.

Bumi sebagai tempat penopang manusia 22)

"Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buahbuahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqoroh:22) Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gununggunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. (QS. Luqman 10 Menurut penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al Quran. Salah satunya tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah magma menghancurkan kerak bumi.

Air sebagai sumber kehidupan

"Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." (QS. Al hajj: 5)

"Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS. Al Anbiya': 30) Dan beberapa Nash yang menyinggung hal tersebut diantaranya dalam (QS. Al Mukminun: 18), (QS.Ar Ra'du: 17), (QS.Az Zukhruf: 11), (QS.Al Qomar: 12). Pentingnya air dalam kehidupan manusia menjadikan Khalifah Umar bin Khattab pernah ber-tawasul kepada sungai nil dengan harapan rakyat Mesir mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran dari Allah.

"Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang

yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal." (QS. Al Jatsiyah: 3-5)

Dalam pandangan sistem ekonomi Islam, harta kekayaan yang ada di bumi ini tidaklah bebas untuk dimiliki oleh individu, sebagaimana yang ada dalam pemahaman sistem ekonomi kapitalisme. Sebaliknya, juga tidak seperti dalam pandangan sistem ekonomi sosialisme, yang memandang bahwa harta kekayaan yang ada di bumi ini harus dikuasai oleh negara. Dalam sistem ekonomi Islam, status kepemilikan terhadap seluruh harta kekayaan yang ada di bumi ini dapat dikategorikan dalam 3 kelompok, a. Kepemilikan individu, yaitu hukum syara yang berlaku bagi zat atau manfaat tertentu, yang memungkinkan bagi yang memperolehnya untuk memanfaatkannya secara langsung atau mengambil kompensasi (iwadh) dari barang tersebut. b. Kepemilikan umum, yaitu ijin Asy-Syari kepada suatu komunitas untuk bersamasama memanfaatkan suatu benda. c. Kepemilikan negara, yaitu harta yang tidak termasuk kategori milik umum melainkan milik individu, namun barang-barang tersebut terkait dengan hak kaum muslimin secara umum. 3. Pengolahan Sumber Daya Alam di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar didunia yang memiliki jumlah penduduk 240 juta jiwa menyamai jumlah penduduk Uni Eropa, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar tentunya memiliki kekayaan alam yang melimpah, potensi kekayaan laut Indonesia saja sekitar 6,4 juta ton ikan, mutiara, minyak dan mineral lain, didarat terkandung barang tambang emas, nikel, timah, tembaga, batubara dsb, dibawah perut bumi tersimpan gas dan minyak ditambah lagi Indonesia adalah negara tropis, luas hutan Indonesia saja pada tahun 2010 sekitar 94.432.000 Hektar (World Bank) . Namun sumber daya alam yang melimpah ini ternyata tidak dibarengi dengan kesejahteraan rakyatnya jumlah orang miskin tahun 2010 saja sekitar 31 juta (BPS), belum lagi jika kita memakai standar PBB 2 dollar perhari jumlah orang miskin diindonesia bisa mencapai 100 juta jiwa (World Bank) berarti hampir setengah dari penduduk Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan. Ketika kita

melihat APBN Indonesia ternyata sumber pemasukan negara yang terbesar pun bukan dari kekayaan alam melainkan dari pajak, coba kita perhatikan APBN tahun 2012 penerimaan negara sekitar Rp.1358,2 T , sumber pemasukan dari pajak sekitar 74,5% (1.012 T pemasukan terbesar) kemudian belanja negara sekitar 1.548,3 T terjadi defisit sekitar 190,1 T, lalu kemanakah sumber daya alam Indonesia selama ini kenapa negeri yang begitu kaya sumber daya alamnya tetapi rakyatnya tidak sejahtera, jumlah orang miskinnya saja hampir setengah dari penduduk Indonesia , inilah hal yang coba akan saya jelaskan dan memberikan solusi yang fundamental atas permasalahan ini. Ternyata kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia selama ini tidak dinikmati oleh rakyat Indonesia, kekayaan alam Indonesia banyak dinikmati oleh para kapitalis yang bersekongkol dengan para pejabat dinegeri ini, lihatlah kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah tentang pengelolaan sumber daya alam, kebijakan tersebut hanya menguntungkan para pengusaha swasta dan juga asing sedangkan perusahaan anak negeri seakan-akan dibiarkan sekarat contoh seperti UU Migas yang menjadikan ekonomi Indonesia menjadi ekonomi liberal yang membuat perusahaan anak negeri seperti Pertamina menjadi sekarat, perusahaan anak negeri tapi hanya menguasai 16% minyak diindonesia sungguh ironis. Belum lagi kekayaan alam yang lain yang banyak dikuasai oleh perusahaan swasta dan asing seperti Tambang Grasberg yang terletak di Tembagapura memiliki cadangan 2.5 miliar ton metrik, yang mengandung 1,13 persen tembaga, 1,05 gram per ton emas, dan 3,8 gram per ton perak dimiliki oleh PT.Freeport Indonesia yang notabennya adalah perusahaan milik Amerika Serikat,belum lagi Tambang Batu Hijau yang terletak di Sumbawa, NTB memiliki cadangan 1 miliar ton metrik terdiri dari tembaga 0,52 persen dan emas 0,4 gram per ton dimiliki oleh perusahaan asing juga yaitu PT.Newmont, ada lagi Tambang di kawasan Toka Tindung, Minahasa yang terletak di Minahasa Utara, berproduksi di atas delapan ton emas pada tahun 1998 sama perusahaan ini juga adalah milik asing miliknya PT.Newmont, jika tadi fakta tentang emas dan batu bara disektor migas pun Indonesia dengan PT.Pertaminanya hanya menguasai 16% minyak selebihnya dikuasai oleh perusahaanperusahaan asing. Itu hanya beberapa fakta saja tentang sumber daya alam kita yang dirampok oleh asing masih banyak lagi fakta tentang perampokan sumber daya alam kita oleh perusahaan asing, inilah akibat kesalahan pengelolaan sumber daya alam dan buruknya sistem politik

ekonomi diindonesia tentunya kesalahan ini bukanlah kesalahan individual atau kesalahan salah satu kementerian saja tapi ini lebih diakibatkan oleh kesalahan struktural atau kesalahan sistem.Kesalahan fundamental yang dilakukan oleh negeri ini adalah karena mengadopsi ideologi kapitalisme sebagai asas negara mau diakui atau tidak tapi begitulah fakta menunjukan kita bisa lihat hal tersebut dari system politik Indonesia yang mengadopsi system demokrasi dan system ekonomi yang mengadopsi system ekonomi liberal ini adalah bukti nyata negeri ini mengadopsi ideology kapitalisme karena baik sistem demokrasi maupun sistem ekonomi liberal itu sama-sama lahir dari rahim ideology kapitalisme. Sistem ekonomi liberallah yang mengakibatkan sumber daya alam Indonesia dirampok oleh asing dengan UU Migas memberikan kesempatan bagi perusahaan asing untuk bermain diindonesia karena salah satu doktrin system ekonomi liberal adalah tidak bolehnya negara untuk mengintervensi ekonmi, ekonomi dibiarkan berjalan sesuai dengan mekanisme pasar bebas artinya negara tidak boleh ikut serta dalam mengelola sumber daya alam atau memberikan subsidi kepada salah satu perusahaan tapi negara hanya menjadi pengawas atau sebagai regulator saja dan membiarkan sumber daya alam berjalan sesuai dengan mekanisme pasar bebas atinya yang kuatlah yang menang tentunya dengan system seperti ini membuat perusahaan anak negeri tidak bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing yang akhinya tersingkirkan. Di tambah lagi dengan Indonesia mengadopsi system demokrasi yang salah satu pilarnya adalah kebebasan kepemilikan pilar ini mengakibatkan siapa pun berhak dan bisa menguasai sumber daya alam inilah yang membuat banyak sumber daya alam kita dikuasai oleh swasta dan asing, belum lagi pembuat kebijakan didalam demokrasi sarat sekali dengan kepentingan individu dan kelompok karena mahalnya demokrasi ketika pemilu partaipartai yang mengikuti pemilu akan meminta bantuan modal kepada para pemilik modal untuk maju dalam pemilu tentunya para kapitalis ini mengajukan beberapa syarat ketika kelak partai tersebut terpilih dipemilu yang intinya menguntungkan para kapitalis, inilah yang membuat kebijakan para dewan terhormat itu tidak berpihak kepada rakyat tapi malah berpihak kepada para kapitalis.

4. Peran syariah terhadap Sumber daya alam dan lingkungan

Sebelum ribuan tahun lamanya agama Islam telah sangat peduli terhadap lingkungan hidup dan keselamatan manusia, terbukti bahwasanya Allah SWT menganjurkan pada Nabi

Ibrahim dan putranya Ismail untuk menjaga masjidil haram yang merupakan pusat peradaban yang disucikan keberadaannya. Allah SWT berfirman:

"Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud"." (QS. Al Baqarah: 125) Kemudian kesucian dan kebersihan (thoharoh) merupakan syarat sah ibadah. Tanpa thoharah sholat, thowaf dan ibadah lainnya tidak akan diterima. Dalam pandangan Islampun kebersihan merupakan sebagian dari iman sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah saw : ( . Dan ini merupakan partisipasi Syariah dalam pembinaan lingkungan. Selanjutnya selain dalam bab thoharoh, fikih-fikih klasik juga membahas lingkungan dalam bab ihyaul mawat (penghidupan tanah kosong), asshoid (berburu), assyirbah, al 'ath'imah, al kala' (rumput), al ma'adin wal kunuz (barang tambang) dan lain sebagainya. Syariah sifatnya komperehensif tidak hanya seperangkat hukum yang dibuat untuk mengatur bagaimana seseorang beribadah secara mahdlah (murni) pada Allah SWT, tetapi bagaimana pula interaksi sosial dengan lainnya dalam berbagai bentuk dimensi : politik, ekonomi, hukum, budaya, dan lingkungan. Prinsip pengelolahan lingkungan terdapat dalam syariah, meski hal ini belum sepenuhnya diketahui oleh orang awam. Nushus syariah telah memaparkan bagaimana seharusnya manusia berinteraksi pada alam yang telah memberikan kemanfaatannya. Dan ajakan konservasi lingkungan hidup yang terdapat dalam nushus jangan dipahami secara tekstual atau literal, namun perlu adanya metodologi dan pendekatan baru sebagai tindakan preventif agama agar manusia tidak semena-mena dalam memanfaatkan alam. Meski para ulama salaf tidak begitu memaparkan secara gamblang akan esensial dari teks Al-Quran dan sunnah dalam menanggulangi kerusakan lingkungan karena keadaan lingkungan dan kondisinya yang berbeda dengan saat ini namun ulama sekarang mengatakan bahwa pemeliharaan dan pelestariaan alam merupakan mashlahah umum (public interest) yang terdapat dalam maqoshid syariah. Dalam ini berlaku kaidah kemashlahatan umum atau kolektif lebih didahulukan daripada kepentingan individu (al mashlahah al 'ammah muqoddam 'ala al mashlahah al fardliyyah). Karena bila krisis kerusakan lingkungan dibiarkan begitu saja akan mengancam eksisitensi lima unsur pokok kemashlahatan yang telah dipaparkan Imam Assyathibi bahwa pemeliharaan total terhadap lima kebutuhan primer seperti ;

Perrlindungan terhadap agama (hifzh al-din) Perlindungan jiwa (hifzh al-nafs) Perlindungan akal (hifzh al-'aql)

Perlindungan keturunan (hifzh al nasl) Perlindungan harta (hifzh al-mal) Misalnya tanah (bumi), air dan udara yang menjadi bagian elemen untuk menopang berlangsungnya kehidupan makhluk. Maka bumi dan sebagainya menempati posisi sebagai mashlahah dlaruriyyah. Baik bumi yang terletak didataran tinggi ataupun didataran rendah memiliki wilayah geografis yang mempunyai dampak negatif dan positif, namun saling berkesinambungan. Begitu juga fungsi air yang merupakan sumber asal adanya kehidupan. Meski perlindungan lingkungan (hifzh al-bia'ah) tidak termaktub mashlahah dalam maqoshid syariah namun secara otomatis masuk dalam kategori mashlahah dlaruriyyah. Seperti contohnya emisi karbon yang berasal dari kegiatan produksi dan konsumsi manusia bila kadarnya berlebihan akan berdampak negatif, yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global (global warming). Hal ini menjadi lampu merah bagi manusia dalam upaya preventif (pencegahan). Dan kewajiban manusia sudah pasti menjaga invetaris yang diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Setiap manusia wajib menjaga kesehatan lingkungannya dan menghindari dari segala yang membahayakan baik kesehatan untuk masyarakat secara umum ataupun untuk dirinya pribadi. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT :

"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al Baqarah: 195) Meski ayat tersebut turun dalam masalah nafaqoh namun secara umum menunjukkan bahwa upaya harakiri (perusakan terhadap diri sendiri). Bahkan sebagian ulamapun mengharamkan hal tersebut. Islam bukanlah sekedar agama ritual namun juga sebagai ideology (aqidah yang memancarkan sistem). Banyak nash-nash qathi dari Al Quran dan As Sunnah menjelaskan kesempurnaan Islam (Al Maidah : 3), sebagai penjelas bagi segala sesuatu (An Nahl : 89), yang memberi cap bagi orang-orang yang tidak mau menggunakan aturan-aturannya sebagai orang kafir, fasiq, dan zhalim (Al Maidah : 44, 47, 48). Maka tidaklah asing jika dikatakan bahwa Islam juga memberikan aturan dalam hal pengelolaan SDA sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat. Dalam masalah pengelolaan SDA khususnya dan permasalahan ekonomi pada umumnya Islam telah menata terlebih dahulu tentang konsep hak milik (al milkiyah). Kejelasan konsep hak milik ini akan berakibat pada kejelasan siapa yang berhak memanfaatkan hak milik tersebut (at tasharruf fi al milkiyah). Kemudian dijelaskan pula

tentang masalah distribusi harta di tengah manusia (tauziu al tsarwah baina al nas). Ketiga hal itulah yang menjadi pilar ekonomi Islam. Syariat Islam telah menjelaskan bahwa seluruh benda yang oleh Allah SWT telah diperuntukkan bagi suatu komunitas di mana mereka masing-masing saling membutuhkan terkategori sebagai barang milik umum. Benda-benda tersebut nampak dalam tiga hal, yaitu, pertama, merupakan fasilitas umum, ,yang kalau tidak ada di suatu negeri akan menyebabkan kesulitan dan sengketa dalam mencarinya. Rasulullah SAW telah menjelaskan sifat kebutuhan umum tersebut dalam hadits dari Ibnu Abbas : Manusia berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput, dan api. (HR. Abu Dawud). Juga hadits lain dari Abu Hurairah : Tidak hal yang tidak akan pernah dilarang (untuk dimiliki siapa pun), yaitu air, padang, dan api. (HR. Ibnu Majah). Kedua, barang tambang yang depositnya tidak terbatas. Telah diriwayatkan dari Abyadl bin Hamal bahwa dia pernah datang kepada Rasulullah SAW lalu meminta kepada beliau agar memberinya tambang garam, lalu Rasulullah SAW pun memberinya. Ketika Abyadl pergi, seorang sahabat berkata kepada Rasulullah SAW : Wahai Rasulullah, tahukah anda apa yang telah anda berikan kepadanya ? Sesungguhnya anda telah memberikan kepadanya sesuatu (yang bagaikan) air mengalir. Rasulullah SAW kemudian menarik kembali pemberian tersebut. Salah seorang sahabat tadi menyerupakan tambang garam dengan air mengalir karena banyaknya deposit pada tambang garam tersebut. Ini mencakup pula setiap barang tambang dengan deposit yang banyak seperti minyak bumi, gas, fosfat, tembaga, emas, perak, timah, dan lain-lain. Dan, barang-barang yang dilihat dari tabiat bentuknya tidak mungkin dimiliki oleh individu seperti laut, sungai, atmosfer udara, dan sebagainya. Barang-barang milik umum tersebut dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat atau dikelola oleh negara di mana hasilnya (dalam bentuk produk) dikembalikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmatinya secara gratis atau dijual dengan harga wajar dan hasilnya (dalam bentuk keuntungan penjualan) dikembalikan kepada masyarakat baik berupa dana maupun sarana-sarana kebutuhan umum seperti sarana pendidikan dan kesehatan.

III.

PENUTUP

Prinsip-prinsip hukum pengelolaan sumberdaya alam tambang seharusnya didasarkan pada asas-asas: Tanggung jawab negara, asas manfaat, asas keadilan, asas keseimbangan, dan asas keberlanjutan. Prinsip-prinsip hukum tersebut seyogyanya dibarengi dengan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya alam (tambang) sebagaimana diajarkan Islam, sehingga tujuan pengelolaan sumberdaya alam tambang benar-benar tercapai yakni mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat.

1. Kesimpulan Setelah kita meliahat berbagai fakta tadi maka tidak ada solusi yang tepat dan fundamental selain kita tinggalkan sumber masalahnya yaitu ideologi kapitalisme dan seluruh cabang pemikirannya seperti demokrasi dan ekonomi liberal, sejak Indonesia merdeka tahun 1945 M negeri ini telah menerapkan berbagai macam ideologi dari mulai sosialismekomunisme sampai ideologi kapitalisme tetapi tidak memberikan kesejahteraan kepada rakyat Indonesia justru sebaliknya hanya membuat sengsara rakyat. Ada satu ideology yang belum pernah diterapkan yaitu ideology islam, islam memberikan solusi yang sangat fundamental baik dalam ekonomi, politik, social-budaya, dalam masalah ekonomi islam berpandangan bahwa hutan, air, api (energi) adalah milik umum, hadits Rasulullah SAW: Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api (HR Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah) 2. Saran Pengelolaannya tidak boleh diserahkan kepada swasta (corporate based management) tapi harus dikelola sepenuhnya oleh negara (state based management) dan hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam berbagai bentuk.Dengan politik ekonomi islam sumber daya alam Indonesia akan menjadi pos penerimaan negara terbesar, bahkan ketika kita bandingkan dengan APBN 2012 yang terjadi defisit jka dikelola oleh islam justru terjadi surplus karena SDA dijadikan sebagai sumber utama penerimaan negara belum lagi didalam islam ada lagi sumber penerimaan seperti zakat,ghanimah,kharaj, dll. Sektor energy,minyak bumi Rp.160,4 T,Gas (LNG) Rp.268 T,Batu Bara Rp.191 T,akumulasi dari sector energy sekitarRp.619.4 T, akumulasi penerimaan negara dari kekayaan alam sekitar Rp.1.642 T bandingkan dengan APBN 2012 penerimaan negara Rp.1.548,3 T surplus belum lagi zakat,ghanimah,dll. Sudah jelaslah yang membuat SDA dirampok asing dan menyesngarakan rakyat adalah karna diterapkannya ideologi kapitalisme, kita tinggalkan ideologi kapitalisme dan menjadikan islam sebagai satu-satunya ideologi negara yang mensejaterahkan.

IV.

DAFTAR PUSTAKA

1. Alquran dan Hadits 2. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 3. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara. 4. Majelis Ulama Indonesia, Fatwa MUI Tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam, http://dkmfahutan.wordpress.com, diakses pada 26 Juni 2010. 5. http://arabunpad13.blogspot.com/2013/07/mengelola-kekayaan-alamindonesia_1630.html 6. http://www.himmahfm.com/artikel/430-urgensi-konservasi-alam-dalam-perspektifsyariah