Anda di halaman 1dari 4

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut.

Prevalansi periodontal di Indonesia mencapai 96.58% pada semua kelompok umur dan menduduki urutan kedua tertinggi setelah karies gigi (Indrasari, 2013 ; Wahyukundari, 2008). Sedangkan di dunia, prevalensinya mencapai 50% dari populasi dewasa (Pihlstrom et al, 2005). Periodontitis adalah salah satu penyakit jaringan periodontal yang merupakan inflamasi dan menyebabkan kerusakan jaringan lunak dan resorpsi tulang alveolar (Pihlstrom et al, 2005). Periodontitis yang tidak diterapi dapat menyebabkan kerusakan jaringan pendukung secara progresif dan mengakibatkan tanggalnya gigi geligi (Rai et al, 2008 ; Kasim, 2011). Diabetes Melitus merupakan faktor resiko utama terhadap insidens

periodontitis, suseptibilitas periodontitis meningkat tiga kali lipat pada penderita diabetes. Dilaporkan juga terdapat hubungan derajat hiperglikemia dan keparahan periodontitis (Preshaw et al, 2012). Periodontitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada penderita diabetes mellitus dengan prevalensi hingga mencapai 75% (Hidayati et al, 2008). Keparahan periodontitis meningkat dengan adanya penyakit diabetes mellitus (Tsai et al, 2002). Penelitian menunjukkan bahwa terapi periodontal pada pasien dengan penyakit sistemik berpotensi meningkatkan kondisi umum secara keseluruhan. Sehingga pengobatan dan pencegahan periodontitis menjadi hal penting dalam hal ini (Anil et al, 2012).

Kolagen merupakan komponen terbesar pada matriks ekstraseluler dan protein struktural utama pada jaringan periodontal. Sintesis kolagen di jaringan periodontal berkurang pada pasien diabetes dibandingkan dengan pasien nondiabetes (Shoulders et al, 2009 ; Al-Aysa & Majeva, 2008). Penelitian pasien periodontitis dengan diabetes mellitus menunjukkan peningkatan aktivitas kolagenolitik pada cairan sulkus dan penurunan sintesis kolagen pada jaringan periodontal (Daniel et al, 2012). Pada kondisi hiperglikemia terjadi gangguan metabolisme tulang dan peningkatan destruksi kolagen pada tulang alveolar (Ryan et al, 2003). Terapi periodontitis bertujuan untuk mengatasi mikroflora, plak, dan kalkulus (Krismariono, 2009). Penelitian menunjukkan, menghilangkan plak dan kalkulus dengan scaling and root planning (SRP) saja tidak cukup untuk menghilangkan bakteri secara keseluruhan. Sehingga tidak ada efek pada kontrol diabetes atau penurunan kadar glukosa darah (Schulze & Busse, 2008). Penggunaan debridemen SRP saja tanpa terapi ajuvan lain hanya memberikan efek sementara pada perkembangan bakteri (Signoretto, 2007). Terapi hiperbarik oksigen (HBO) adalah terapi dengan oksigen murni (100%) pada tekanan udara lebih besar dari 1 ATA (760 mmHg) (Mahdi, 2009). Mekanisme kegunaan terapi HBO diantaranya modulasi radikal bebas (Reactive Oxigen Species dan Reactive Nitrogen Spesies), efek bakteriostatik dan bakterisidal pada infeksi kuman, dan peningkatan vaskularisasi (Huda, 2010). Penelitian terapi HBO pada penyakit periodontal, telah dibuktikan terdapat penurunan kadar malondialdehid (MDA) pada pasien periodontitis dengan diabetes mellitus (Mulawarmanti & Widyastuti, 2008).

Kondisi patologis utama pada penderita diabetes melitus adalah gangguan pada proses penyembuhan. Pada diabetes melitus, kadar glukosa tinggi dapat menghambat proliferasi sel dan menurunkan produksi kolagen pada luka (Gurdol et al, 2010). Penyembuhan jaringan pada periodontitis dengan diabetes mellitus salah satunya ditunjukkan dengan adanya peningkatan sintesis kolagen (Pisoschi et al, 2009). Terapi HBO dapat meningkatkan sintesis kolagen pada tulang alveolar sehingga terjadi perbaikan jaringan (Gurdol et al, 2010). Terapi HBO menunjukkan efek penyembuhan dan memberikan hasil perbaikan klinis yang lebih cepat (Kumar, 2012). Berdasarkan kajian diatas, terapi HBO memiliki efek menguntungkan pada periodontitis dengan diabetes mellitus. Terapi HBO dapat menjadi salah satu terapi ajuvan pada penyakit periodontitis dengan diabetes mellitus. Penelitian terdahulu pada diabetes mellitus menggunakan terapi HBO dengan dosis 3 x 30 menit sehari dengan jeda 5 menit selama 5 hari berturur-turut lebih efektik dalam proses penyembuhan (Harnanik, 2008). Oleh karena itu penulis ingin melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh terapi HBO pada kolagen tulang alveolar yang diinduksi streptozotocin dan bakteri Porpyhromonas gingivalis.

1.2

Rumusan Masalah Apakah terdapat efek terapi hiperbarik oksigen 2.4 ATA selama 3 x 30

menit sehari dengan jeda 5 menit selama 5 hari pada kolagen tulang alveolar yang diinduksi streptozotocin dan bakteri Porphyromonas gingivalis?

1.3

Tujuan Penelitian Membuktikan efek terapi hiperbarik oksigen 2.4 ATA selama 3 x 30 menit

sehari dengan jeda 5 menit selama 5 hari pada kolagen tulang alveolar yang diinduksi streptozotocin dan bakteri Porphyromonas gingivalis?

1.4 1.4.1

Manfaat Penelitian Manfaat teoritis Mengetahui efek terapi hiperbarik oksigen pada kolagen tulang alveolar

Rattus novergicus galur Wistar yang diinduksi streptozotocin dan bakteri Porphyromonas gingivalis. 1.4.2 Manfaat praktis Terapi hiperbarik oksigen sebagai salah satu alternatif terapi ajuvan pada periodontitis dengan diabetes mellitus.