Anda di halaman 1dari 7

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI BENIH

Merencanakan Produksi Benih Kedelai

Disusun oleh : Lutfi Rachmawati Wardhani 115040101111224

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014

A. LATAR BELAKANG Kebutuhan benih kedelai terus meningkat di masa datang, sementara petani masih menggunakan benih bermutu rendah, sehingga menjadi penyebab atas rendahnya tingkat produktivitas kedelai nasional (1,3 t/ha). Lambatnya laju peningkatan penggunaan benih bermutu oleh petani, karena belum tersebarnya varietas unggul baru kedelai ke lokasi sentra produksi.Para penangkar benih kurang berminat mengusahakan benih kedelai karena keuntungannya yang lebih kecil dibanding mengusahakan benih padi atau jagung. Untuk itu perlu adanya cara-cara menumbuhkan minat penangkar benih melalui kelompok-kelompok tani pada sentrasentra produksi kedelai di Indonesia (DEPTAN,2012) Oleh karena tu, daam pengembangannya dilakukan peningkatan produksi kedelai yang berasal dari perluasan areal, peningkatan produktivitas, peningkatan stabilitas hasil, penekanan senjang hasil dan penekanan kehilangan hasil. Dalam penerapan lima aspek sumber pertumbuhan produksi kedelai tersebut terdapat pula beberapa kendala utama, salah satu diantaranya adalah ketersediaan benih tidak memenuhi tepat Mutu, Varietas, Jumlah, Tempat dan Harga ). Mutu benih ditentukan secara genetis, fisiologis, dan fisik. secara genetis, benih harus memiliki sifat-sifat sesuai dengan deskripsi varietas yang bersangkutan. sedangkan untuk mendapatkan benih bermutu secara fisiologis dan fisik diperlukan penanganan pra dan pascapanen yang balk, meliputi : teknik bercocok tanam, pengendalian hama dan penyakit, gulma, waktu panen, cara panen, pasca panen dan penyimpanan benih.Untuk memproduksi benih kedelai benih yang bermutu, diperlukan

pengetahuan praktis tentang teknik produksi benih seperti tersebut diatas serta pemahaman terhadap peraturan perbenihan. (DEPTAN,2000) B. BENIH BERMUTU Benih kedelai yang digunakan, pada dasarnya harus benih yang baik dan bermutu tinggi. Benih yang balk dan bermutu tinggi akan menjamin pertanaman yang bagus dan hasil panen yang tinggi, dan ini dicerminkan oleh tingginya tingkat keseragaman biji,daya tumbuh dan tingkat kemurnian. 1.Syarat Benih Bermutu a. Murni dan diketahui nama varietasnya b. Daya tumbuhnya tinggi( minimal 80% ), serta vigornya baik

c. Biji sehat, bernas, mengkilat, tidak keriput dan dipanen dari tanaman yang telah d. matang e. Dipanen dan tanaman yang sehat, tidak terkena penyakit virus f. Tidak terinfeksi cendawan, bakteri atau virus g. Bersih, tidak tercampur biji tanaman lain atau biji rerumputan. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mutu Benih a. Faktor bawaan ( kemurnian varietas ) b. Faktor fisiologi dan fisik benih 1)Tingkat kematangan benih 2)Benih harus dipanen dari tanaman yang sudah matang benar 3)Tingkat kerusakan mekanis benih 4)Tingkat keusangan benih, yaitu hubungan antara vigor awal benih dengan lamanya benih yang disimpan. 5)Patogen pada benih, terutama soybean mozaic virus (SMU) serta penyakit virus lainnya 6)Ukuran dan berat jenis benih 7)Komposisi kimia benih c.Faktor lingkungan 1)Musim tanam 2)Kultur teknik 3)Waktu panen 4)Cara tanam d.Faktor perlakuan pascapanen 1)Cara penimbunan serta lamanya penimbunan brangkasan sebelum pengeringan dan pembijian 2)Cara pengeringan 3)Keseragaman dan kesehatan benih sebelum disimpan 4)Cara pengepakan, khususnya volume dan jenis kemasan 5)Suhu dan kelembaban tempat penyimpanan 6)Lama, cara, dan proses pengangkutan benih 3.Mempertahankan Kemurnian Varietas a.Jaminan akan kebenaran varietas. b.Kejelasan sumber dari varietas tersebut.

c.Legalitas dari sumber varietas. d.Tingkat kemumian dan varietas asal. e.Menanam dengan jarak tanam teratur. f.Menanam dengan jarak tanam teratur. g.Lantai jemur, cara pembijian, dan wadah benih jenis atau varietas lain. h.Mencabut/membuang jenis tanaman/varietas lain.

C. TEKNIK PRODUKSI BENIH Dalam menghasilkan benih kedelai bermutu tinggi, diperlukan pengelolaan pertanaman maksimal meliputi pemilihan lokasi yang tepat, musim tanam, kultur teknik, waktu tanam, penanganan pascapanen, dan seleksi yang ketat. Beberapa varietas dapat dipilih dan diproduksi untuk memenuhi kebutuhan benih. 1. Varietas

Sebanyak 33 varietas unggul kedelai telah di lepas sejak tahun 1974. Semua varietas umumnya cocok untuk lahan kering dan 26 varietas di antaranya cocok untuk lahan sawah bekas padi. Khusus untuk varietas berumur genjah (P hari) seperti Lokon, Guntur, Tidar, Lawu, Dieng, Lumajang Bewok, Tengger, dan Malabar cocok untuk lahan sawah setelah panen padi kedua (MK II). Pada dasarnya pemilihan varietas disesuaikan dengan keinginan konsumen dan kebutuhan pasar. Varietas yang baru dilepas yakni Burangrang mutunya baik dan mempunyai ukuran biji besar tidak kalah dengan biji-biji kedelai eks. impor. 2. Pemiihan lokasi, musim tanam dan waktu tanam

Mengingat mutu benih kedelai yang dihasilkan dari penanaman awal musim hujan biasanya kurang baik, disarankan menanam kedelai untuk pembenihan dilaksanakan pada saat akhir musim hujan di lahan tegal (MH II) atau menjelang musim kemarau di lahan sawah (MK I dan MK II). Pemilihan lahan juga harus memiliki persyaratan sebagai berikut: Tanahnya cukup subur/gemuk, dengan tingkat kesuburan sedang sampai baik. Pengairan cukup dan atau dibuat saluran-saluran drainase yang baik. Mudah/terdapat sarana angkutan.

Tanah untuk pertanaman benih hendaknya bukan bekas tanaman kedelai sebelumnya agar percampuran varietas dapat dihindarkan. Sebaiknya pemilihan lahan tersebut, sudah sesuai dengan persyaratan sertifikasi benih untuk menjamin kelulusan lapang oleh BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih). Lahan bersih dari gulma dan jerami dibabat (dipotong) sampai dekat ke permukaan tanah Buat petakan dengan lebar petak 2-3 meter, dan jarak saluran antar-petak 2530 cm dengan kedalaman 25-30 cm. Panjang petakan tergantung dari luas panjang petakan. C. 1. KLASIFIKASI DAN SERTIFIKASI BENIH Klasifikasi Benih

Benih berdasarkan mutu genetik dibedakan menjadi empat kelas, yaitu: a. Benih Penjenis (Breeder Seed) atau ditingkat BS, diproduksi dan diawasi oleh pemulia tanaman sebagai sumber perbanyakan benih dasar (FS). Benih Penjenis biasanya ditandai dengan label putih. b. Benih dasar (Foundation Seed) atau disingkat BD merupakan keturunan pertama dari BS yang diproduksi bawah bimbingan intensif dan pengawasan ketat sehingga dapat terpelihara kemurniannya. Benih dasar ditandai dengan label putih. c. Benih Pokok (Stock Seed) atau disingkat BP merupakan keturunan dari BD yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan tingkat kemurniannya terpelihara dan memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Benih Pokok ditandai dengan ciri label ungu. d. Benih Sebar (Extention Seed) atau disingkat BR berasal dari benih penjenis, benih dasar, ataupun benih pokok yang di produksi dan dipelihara dengan baik sehingga identitas dan tingkat kemurniannya memenuhi standar mutu yang diterapkan. Benih sebar ditandai dengan label biru. 2. Sertifikasi Benih

Untuk menghasilkan benih bermutu dan bersertifikat diperlukan sertifikasi yang mencakup pemeliharaan di lapangan dan dilaboratorium. Persyaratan secara umum adalah sebagai berikut: a. Produksi benih bersertifikat harus terdaftar di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) b. Sertifikasi lapang dimulai pada saat penentuan lokasi fase vegetatif, fase generatif dan panen c. Petani bukan penangkar benih, dapat memproduksi benih bersertifikat melalui kerjasama dengan penangkar benih, seperti melalui sistem operasi lapangan (Oplap). d. Sertifikasi lapangan dilakukan oleh BPSBKriteria pemeriksaan benih sesuai dengan standar lapangan dan laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA DEPTAN. 2000. Teknologi Prosuksi Benih Kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Irian Jaya. DEPTAN. 2012. Percepatan Penyebaran Varietas Unggul Melalui Sistem Penangkaran Perbeniha Kedela Di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. http://balitkabi.litbang.deptan.go.id/hasil-penelitian/penelitian-perbenihan/582percepatan-penyebaran-varietas-unggul-melalui-sistem-penangkaran-perbenihankedelai-di-indonesia. Diakses pada 25 Februari 2014. DEPTAN. 2012. Pengembangan Sistem Perbenihan Kedelai berbasis Komunitas. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. http://balitkabi.litbang.deptan.go.id/hasilpenelitian/penelitian-perbenihan/602-pengembangansistemperbenihankedelaiberbasis komunitas. Diakses pada 25 Februari 2014. Mastro, Made Sunantora. 2000. Teknik Produksi Benih Kedelai. Pustaka DEPTAN. Denpasar.