Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Obat adalah alat utama terapi yang digunakan oleh dokter untuk mengobati klien yang mengalami masalah kesehatan. Obat dapat menguntungkan bagi klien dan dapat juga menimbulkan efek samping bila tidak tepat diberikan. Proses pemberian obat kepada klien adalah tugas perawat yang merupakan hasil kolaborasi dari proses keperawatan dalam pemberian obat. Perawat punya peran dan tanggung jawab dalam memberikan obat bagi klien. Tanggung jawab perawat dalam pemeberian obat adalah: Memahami kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan Memberikan obat dengan tepat Memantau respon klien Membantu klien menggunakan obat dengan benar dan dengan pengetahuan Memahami masalah kesehatan klien saat ini dan sebelumnya untuk menentukan apakah obat tertentu aman untuk diberikan. Dalam melaksanakan pemberian obat kepada klien, perawat harus mengetahui prinsip 6 benar pengobatan yaitu: Benar klien Benar obat Benar dosis obat Benar waktu pemberian Benar cara pemberian Benar dokumentasi Untuk mengetahui seberapa jauh perawat berperan dalam pemberian obat dapat dilihat pada kutipan Kep Menkes 1239/2001 Bab IV : pasal 12: praktik perawat perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berwenang untuk : a. Melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi: pengkajian, penetapandiagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
1

b. Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud dalam butir a meliputi: intervensi keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan. c. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b harus sesuai dengan standar praktek keperawatn yang ditetapkan oleh organisasi profesi. d. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaan tertulis dokter. Untuk mengetahui seberapa jauh perawat berperan dalam pemberian obat, maka perawat harus bersikap sesuai dengan profesi dan standar praktek keperawatan, dan harus dapat mengukur sejauhmana pengetahuan atau pemahamannya tentang pengobatan. Hal yang harus diketahui oleh perawat dalam pengobatan adalah penggunaan obat yang rasional dan algoritma klinik. Peran dan tanggung jawab perawat dalam pemberian obat mengalami perubahan seiring dengan perubahan keperawatan dan sistem pelayanan kesehatan dalam menanggapi tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

B.

Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah: 1. Mengetahui golongan obat pada gangguan sistem neorologi. 2. Mengetahui farmakokinetik obat pada gangguan sistem neorologi. 3. Mengetahui farmakodinamika obat pada gangguan sistem neorologi. 4. Mengetahui efek samping dan tanda-tanda gejala dari pemberian obat, serta cara mencegah efek sampingnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Golongan Obat pada Gangguan Sistem Neorologi Sistem saraf merupakan jaringan yang sangat vital dalam sistem kinerja tubuh manusia. Walaupun jaringan syaraf dilindungi oleh tengkorak dan tulang yang keras, tetap ada saja gangguan yang bisa terjadi. Gangguan pada sistem saraf manusia sangat beragam macamnya, tergantung jenis penyebabnya. Secara umum, penyebab gangguan pada sistem saraf bisa dikarenakan paparan bahan kimia, benturan (trauma) benda-benda keras, toksikasi virus atau bakteri atau adanya radang yang disebabkan oleh regenerasi sel saraf itu sendiri. Beberapa gangguan pada sel-sel saraf adalah seperti: Meningitis yaitu peradangan selaput otak (meninges), yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitis atau bakteri dan virus lainnya yang dapat menyebabkan peradangan. Golongan obat antibiotik dapat diberikan pada gangguan ini, seperti kloramfenikol efektif untuk meningitis karena H.influenza maupun karena N. meningitidis dan Streptomyses pneumoniae. Neuritis yaitu gangguan pada saraf sistem saraf tepi (perifer) yang disebabkan adanya peradangan, paparan bahan kimia beracun, ataupun tekanan (trauma) fisik. Penyakit Parkinson yaitu gangguan atau penyakit kemunduran otak akibat kerusakan bagian otak yang mengendalikan gerakan otot. Ciri-ciri penderita penyakit ini adalah tubuh yang selalu gemetar, mengalami kesakitan dalam berjalan, bergerak, dan berkoordinasi. Golongan obat pada penyakit Parkinson, yaitu Levodopa, Bromokriptin, Amantadin, Deprenil, Triheksifenidil, Benzotropin, Biperidin (Golongan

Antimuskarinik). Epilepsi kelainan pada neuron-neuron di otak akibat kelainan metabolism, infeksi, toksin, atau kecelakaan. Penderita epilepsi tidak dapat merespon rangsang pada saat kambuh. Bahkan otot-otot rangka berkontraksi dan tidak terkontrol. Golongan obat antiepilepsi, yaitu Fenitoin, Karbamazepin, Fenobarbital, Asam valproat,

Benzodiazepin, Gabapentin, Lamotrigen.


3

Masih banyak jenis penyakit atau gangguan lain yang disebabkan oleh gangguan pada sistem saraf. Gangguan pada sistem saraf dapat mempengaruhi gerakan motorik tubuh (kelumpuhan) ataupun gangguan pada sistem kognisi dan gangguan sosial, tergantung area dan parahnya gangguan yang dialami. Obat yang bekerja terhadap SSP dapat dibagi dalam beberapa golongan besar, yaitu: 1. Psikofarmaka (psikotropika), yang meliputi Psikoleptika (menekan atau menghambat fungsi-fungsi tertentu dari SSP seperti hipnotika, sedativa dan tranquillizers, dan antipsikotika); Psiko-analeptika (menstimulasi seluruh SSP, yakni antidepresiva dan psikostimulansia (wekamin)). 2. Untuk gangguan neurologis, seperti antiepileptika, MS (multiple sclerosis), dan penyakit Parkinson. 3. Jenis yang memblokir perasaan sakit: analgetika, anestetika umum dan lokal. 4. Jenis obat vertigo dan obat migrain (Tjay, 2002).

Beberapa contoh obat yang bekerja pada sistem saraf otonom yaitu simpatomimetik, simpatolitik, parasimpatomimetik, parasimpatolitik.

Dalam makalah ini kami memilih salah satu jenis gangguan pada sistem saraf yaitu meningitis, dan golongan obat antibiotik dapat diberikan pada gangguan ini karena penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Antibiotik yang diberikan kepada penderita tergantung dari jenis bakteri yang ditemukan. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis dapat diberikan Cephalosporin (ceftriaxone atau cefotaxime), sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes akan diberikan Ampicillin, Ceftriaxone. Salah satu jenis obat untuk mengobati penyakit meningitis yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah obat dari golongan antibiotik yaitu kloramfenikol dengan nama dagang Chloramex, Chlorbiotic, Cloramidina, Colme, Colsancetine, Combicetin, Empeecetin, Enkacetyn, Fenicol, Grafacetin, Ikamicetin, Isotic Salmicol, Kalmicetine,
4

Vancomycin

dan

Carbapenem

(meropenem),

Chloramphenicol

atau

Kemicetine, Lanacetine, Licoklor, Microtina, Neophenicol, Palmicol, Reco, Spersanicol, Suprachlor, Xepanicol.

B.

Farmakokinetik Obat Kloramfenikol merupakan antimikroba berspektrum luas yang efektif terhadap bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Mekanisme kerjanya adalah menghambat sintesa protein sel mikroba. Kloramfenikol termasuk ke dalam golongan antibiotik penghambat sintesis protein bakteri. a. Absorbsi Setelah pemberian oral kloramfenikol diabsorpsi dengan cepat. Kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 2 jam. Kloramfenikol palmitat atau stearat dihidrolisis menjadi kloramfenikol oleh lipase pankreas dalam duodenum. Ketersediaan hayati kloramfenikol lebih besar dari pada bentuk esternya, karena hidrolisis esternya tidak sempurna. Untuk pemakaian parenteral digunakan kloramfenikol dihidrolisis di jaringan menjadi kloramfenikol. Pemberian intramuscular sulit diabsorpsi sehingga tidak dianjurkan. Pemberian intravena kadar maksimum kloramfenikol aktif sama seperti pada pemberian oral. suksinat yang akan

b. Distribusi Distribusinya luas termasuk ke jaringan otak, cairan serebrospinal dan mata. Kloramfenikol ditemukan dalam empedu, ASI dan melewati sawar plasenta.

c. Metabolisme Metabolisme : hati dan ginjal Half-life kloramfenikol berhubungan dengan konsentrasi bilirubin. Kloramfenikol terikat dengan plasma protein 50%; menurunkan pasien sirosis dan pada bayi.

d.

Ekskresi Kloramfenikol dan metabolitnya diekskresi melalui urin dengan cara filtrasi glomerulus dan sekresi. Dalam waktu 24 jam 75-90% dosis oral diekskresi dalam bentuk metabolit dan 510% dalam bentuk asal. Waktu paruh pada orang dewasa kira-kira 4 jam. Pada pasien yang mengalami gangguan hati waktu paruh lebih panjang menjadi 5-6 jam karena metabolismenya terlambat. Pada pasien gagal ginjal waktu paruh koramfenikol tidak berubah tetapi metabolitnya mengalami akumulasi.

C.

Farmakodinamika Obat Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein bakteri. Obat dengan mudah masuk ke dalam sel melalui proses difusi terfasilitas. Obat mengikat secara reversibel unit ribosom 50S, sehingga mencegah ikatan asam amino yang mengandung ujung aminoasil t-RNA dengan salah satu tempat berikatannya di ribosom. Pembentukan ikatan peptida dihambat selama obat berikatan dengan ribosom. Kloramfenikol juga dapat menghambat sintesis protein mitokondria sel mamalia disebabkan ribosom mitokondria mirip dengan ribosom bakteri. Mekanisme resistensi : Secara invivo resistensi bakteri gram terhadap kloramfenikol disebabkan adanya plasmid khusus yang didapat pada konjugasi. Ada asetil transferase khusus yang menginaktivasi obat dengan menggunakan asetil koenzim A sebagai donor gugus asetil. H.influezae yang resisten terhadap kloramfenikol mengandung faktor resisten yang dapat dipindahkan ke E.coli dan galur H.influenzae lainnya.

D.

Efek Samping Obat dan Tanda-Tanda Gejala 1. Reaksi Hematologik Terdapat dua bentuk reaksi:

a. Reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang. Berhubungan dengan dosis, progresif dan pulih bila pengobatan dihentikan. b. Prognosisnya sangat buruk karena anemia yang timbul bersifat ireversibel. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan.

2. Reaksi Alergi Kemerahan pada kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis. Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam typhoid.

3. Reaksi Saluran Cerna Mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis.

4. Gray Baby Sindrom Efek ini terjadi pada neonatus bila regimen dosis kloramfenikol tidak disesuaikan secara akurat. Neonatus memiliki kapasitas rendah dalam mengglukuronidasi antibiotika dan fungsi ginjalnya belum sempurna sehingga kemampuannya untuk mengekskresi obat menurun, yang menumpuk sampai tingkat yang mengganggu fungsi ribosom mitokondria. Hal ini menyebabkan masuknya makanan terganggu, menekan pernafasan, kardiovaskular kolaps, sianosis dan kematian. Pada neonatus terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200mg/kg BB) dapat terkena gray sindroma pada hari ke 4 terapi. Gejala gray sindroma adalah: - mula-mula bayi muntah, - tidak mau menyusu, - pernafasan cepat dan tidak teratur, - perut kembung, - sianosis, - feses berwarna hijau dan diare, - selanjutnya bayi lemas dan berwarna abu-abu, - hipotermia, 40% kasus terjadi kematian.
7

5. Reaksi Neurologis Depresi, bingung, delirium dan sakit kepala. Neuritis perifer atau neuropati optik dapat juga timbul terutama setelah pengobatan lama.

6. Interaksi dengan Obat Lain Kloramfenikol menghambat enzim sitokrom P450 irreversibel memperpanjang T (dicumarol, phenytoin, chlorpopamide, dan tolbutamide). Mengendapkan berbagai obat lain dari larutannya, merupakan antagonis kerja bakterisidal penisilin dan aminoglikosida. Phenobarbital dan rifampin mempercepat eliminasi dari kloramfenikol.

Untuk mencegah terjadinya efek samping yang tidak diharapkan maka perlu memantau kadar kloramfenikol dalam plasma selama penggunaan obat ini dan pada penderita gangguan fungsi hati dosis obat ini diturunkan.

E.

Peringatan dan Perhatian Obat 1. Tidak dianjurkan penggunaan untuk wanita hamil dan menyusui karena keamanannya belum dapat dipastikan. 2. Pada pemakaian jangka panjang perlu dilakukan pemeriksaan hematologi secara berkala. 3. Hanya digunakan untuk infeksi yang sudah jelas penyebabnya, kecuali bila ada kemungkinan infeksi berat. 4. Perlu dilakukan pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya superinfeksi oleh bakteri dan jamur. 5. Hati-hati bila dipergunakan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan hati, bayi yang lahir prematur dan bayi baru lahir (2 minggu pertama).

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Kloramfenikol merupakan golongan obat berspektrum luas yang efektif terhadap bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Kloramfenikol termasuk ke dalam golongan antibiotik penghambat sintesis protein bakteri. Farmakokinetik obat kloramfenikol terdiri dari absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Sedangkan farmakodinamiknya terdiri dari efek biokimia dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya. Kloramfenikol dapat menimbulkan efek samping reaksi hematologik, reaksi alergi, reaksi saluran cerna, Syndrom Gray, dan reaksi neurologis. Cara mencegah efek samping tersebut adalah dengan memperhatikan aturan pakai dan dalam mengkonsumsi obat harus dengan resep dokter.

B.

Saran Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada para tenaga kesehatan khususnya perawat agar dapat mengaplikasikan tindakan kolaborasi dalam pemberian obat atau terapi farmakologi untuk asuhan keperawatan yang sesuai pada gangguan sistem neorologi. Kemudian, untuk lebih maksimalnya dalam memahami tentang asuhan keperawatan dalam pemberian obat pada gangguan sistem neorologi ini diharapkan kepada para tenaga kesehatan untuk mencari bahan-bahan bacaan lain yang berkenaan dengan hal ini. Sehingga diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai asuhan keperawatan dalam pemberian obat pada gangguan sistem neorologi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Kee, Joyce L. Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan.EGC.1996 ISO. INDONESIA. Volume 47 2012-2013 http://CHLORAMPHENICOL-Buku Saku Dokter.htm

10