Anda di halaman 1dari 8

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wujud suatu zat dapat digolongkan menjadi padat, cair, dan gas.

Ketiga wujud zat tersebut dapat diubah dengan memberikan panas atau dengan menyerap panas yang ada. Zat padat dapat diubah menjadi wujud cair dengan cara memberikan panas hingga mencapai titik lelehnya. Pelarutan juga dapat digunakan untuk mengubah zat padat menjadi berwujud cairan. Sebagian besar reaksi yang terjadi didalam kimia dan pengukuran sifat zat, banyak dilakukan didalam suatu pelarut. Air merupakan pelarut yang paling penting dan sering kali digunakan dalam suatu larutan kimia, namun ada banyak pelarut lain yang telah dicoba dan ternyata berguna Senyawa-senyawa yang ditemukan di bumi berdasarkan kelarutan dalam air dibedakan menjadi dua, yaitu senyawa yang larut dan tidak larut dalam air. Setiap senyawa yang larut ataupun tidak larut mempunyai energi tersendiri yang biasanya disebut dengan entalpi. Entalpi adalah jumlah energi internal dari suatu sistem termodinamika ditambah energi yang digunakan untuk melakukan kerja pada sebuah materi. Ada berbagai jenis entalpi, tapi jenis entalpi dalam percobaan ini adalah entalpi

pelarutan, yaitu jumlah kalor yang diperlukan atau dibebaskan untuk melarutkan 1 mol zat pada keadaan standar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah jenis zat pelarut, jenis zat terlarut, temperatur dan tekanan. Percobaan entalpi pelarutan ini akan memberikan gambaran mengenai pengaruh temperatur terhadap proses pelarutan suatu zat. Selain itu, gambaran tersebut diharapkan menambah pemahaman tentang pelarutan zat serta meningkatkan ketrampilan dalam melakukan percobaan mengenai entalpi pelarutan. 1.2 Tujuan Praktikum Menentukan pengaruh temperatur terhadap kelarutan suatu zat dan panas kelarutannya. 1.3 Tinjauan Pustaka 1.3.1 Material Safety Data Sheet (MSDS) 1.3.1.1 Asam Oksalat Asam oksalat merupakan senyawa turunan dari asam karboksilat. Senyawa kimia ini memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam dikarboksilat paling sederhana ini biasa digambarkan dengan rumus HOOC-COOH. Asam etanadioat ini merupakan asam organik yang relatif kuat dan bila dibandingkan dengan asam asetat maka 10.000 kali lebih

kuat. Dianionnya dikenal sebagai oksalat, dan merupakan pereduktor yang baik. Banyak ion logam yang membentuk endapan tak larut dengan asam oksalat, misalnya adalah kalsium oksalat (CaOOC-COOCa), penyusun utama jenis batu ginjal yang sering ditemukan. Asam oksalat mempunyai titik didih berkisar antara 101-102oC dengan wujud padatan berwarna kristal putih. Massa molar untuk asam oksalat anhidrat (C2H2O4) adalah 90,03 gram/mol dan untuk asam oksalat dihidrat (C2H2O4.2H2O) adalah 126,07 gram/mol. Besarnya konstanta disosiasi (K1 = 6,24.10-2 dan K2 = 6,1.10-5). Massa jenis pada keadaan anhidrat adalah 1,90 gram/cm3 sedangkan pada keadaan dihidrat adalah 1,653 gram/cm3. Kepadatan dalam air dengan suhu 15oC adalah 9,5 gram/100 mL, 14,30 gram/100 mL pada suhu 25oC, dan 120 gram/100 mL pada suhu 100oC. Asam oksalat mempunyai toksisitas menengah bila terhirup ataupun tertelan. Asam ini juga bersifat korosif dan dapat menyebabkan luka bakar jika terkena kulit. Penanganan jika terkena mata, segeralah dibilas dengan air bersih selama kurang lebih 15 menit dan jika terhirup maka diusahakan agar menghirup udara yang segar dan beri bantuan pernafassan jika membutuhkan. Penyimpanan dari asam oksalat sebaiknya dikumpulkan bersama asam-asam yang lain, di tempatkan di daerah yang sejuk, tertutup, dan kering. Asam ini diusahakan jauh dari logamlogam (http://www.scienelab.com/msds/php?msdsld= 9924120, 2012). 1.3.1.2 Natrium Hidroksida Natium hidroksida (NaOH) yang biasa disebut dengan soda api atau soda kaustik merupakan basa kuat. Natrium hidroksida akan membentuk larutan alkali yang kuat ketika dilarutkan dalam air. Senyawa ini dalam bidang industri digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu, kertas, tekstil, air minum, sabun, maupun deterjen. NaOH mempunyai massa molar 39,99 gram/mol dan berwujud kristal putih padat. Kristal NaOH bersifat mudah menyerap air atau uap air dalam keadaan terbuka (higroskopis). Massa jenis NaOH adalah 2,1 gram/cm3 pada wujud padat. Titik leleh dan titik didih dari natrium hidroksida berturut-turut adalah 318oC dan 1390oC. NaOH sangat larut dalam air hingga 111 gram/100 mL air pada suhu 20oC. Tingkat kebasaan (pKb) dari senyawa ini adalah -2,43. Natrium hidroksida tersedia dalam bentuk pellet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50 %. Senyawa ini bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Senyawa ini sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan, dan senyawa ini juga larut dalam etanol dan methanol. Senyawa ini dapat menyebabkan luka bakar pada mata yang memu ngkinkan menimbulkan kebutaan atau menyebabkan kornea mata rusak. NaOH juga bisa menyebabkan luka bakar pada kulit. Natrium hidroksida juga menyebabkan iritasi saluran pernapasan, susah bernafas, dan memungkinkan terjadinya koma. Bahaya jika terkena kulit secara terus menerus

dan jangka waktu lama dapat menyebabkan dermatitis. Pertolongan yang seharusnya diberikan adalah segera membilas mata dan kulit dengan air bersih selama kurang lebih 15 menit. Penyimpanannya seharusnya diletakkan pada tempat yang tertutup agar tidak terkontaminasi dengan udara luar (http://www.scienelab.com/msds/ php?msdsld = 9924234, 2012). 1.3.1.3 Indikator PP Indikator asam-basa (phenol ptalein) menunjukkan bahwa suatu larutan bersifat asam atau basa. Indikator PP mempunyai warna tertentu pada trayek pH/rentang pH tertentu yang ditunjukkan dengan perubahan warna indikator. Indikator PP, merupakan indikator yang menunjukkan pH basa, karena berada pada rentang pH antara 8,3 hingga 10,0 (dari tak berwarna - merah pink). NaOH yang diberi fenoftalen, lalu warnanya berubah menjadi merah lembayung, maka trayek pH-nya mungkin sekitar 9-10. Senyawa ini dapat menyebabkan iritasi pada mata maupun kulit. Selain itu indikator PP tidak bersifat korsif pada kulit ataupun mata. Senyawa ini dapat menyebabkan mutagenik pada bakteri. Indikator PP akan beracun jika masuk ke dalam darah, sistem reproduksi, maupun liver. Pertolongan yang seharusnya dilakukan adalah segera membilas mata atau kulit yang terkena larutan ini dengan air bersih kurang lebih 15 menit. Penyimpanan seharusnya dilakukan pada tempat tertutup (http://wikipedia.org/indikator_pp.html, 2011). 1.3.1.4 Garam Dapur Garam dapur merupakan suatu mineral yang sering dikonsumsi manusia. Garam dapur berasal dari kristalisasi air laut yang kemudian dibersihkan dan diberi beberapa kandungan mineral lain. Garam dapur sangat diperlukan bagi tubuh namun pengonsumsian secara berlebih dapat menimbulkan penyakit tekanan darah tinggi. Garam dapur juga sering ditambahkan pada makanan sebagai bumbu. Garam yang ditambahkan iodium digunakan sebagai pencegah penyakit gondok. Garam dapur biasanya paling banyak mengandung garam natrium klorida atau NaCl. NaCl mempunyai massa molar 58,44 gram/mol. Kerapatan atau massa jenisnya adalah 2,16 gram/cm3.NaCl memiliki titik leleh 801oC dan titik didih 1465oC. Garam natrium klorida memiliki kelarutan dalam air sebesar 35,9 gram/100 mL air pada suhu 25oC. Natrium klorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam adalah zat yang memiliki tingkat osmotik yang tinggi. Zat ini pada proses perlakuan penyimpanan benih recalsitran berkedudukan sebagai medium inhibitor yang fungsinya menghambat proses metabolisme benih sehingga perkecambahan pada benih recalsitran dapat terhambat. Garam dapur tidak berbahaya bila tertelan namun jika dalam jumlah banyak dapat menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi dalam waktu yang lama. Pertolongan

yang harus dilakukan membilas mata dan kulit yang terkena garam dapur selama kurang lebih 15 menit (http://wikipedia.org/garam_dapur.html, 2012). 1.3.2 Dasar Teori Termodinamika kimia adalah ilmu yang mempelajari perubahan energi yang terjadi dalam proses atau reaksi. Studi ini mencakup dua aspek penting yaitu penentuan atau perhitungan kalor reaksi dan studi tentang arah proses dan sifat-sifat sistem dalam kesetimbangan. Bagian alam semesta yang dipilih untuk penelititan termodinamika disebut sistem, dan bagian alam semesta yang berinteraksi dengan sistem tersebut disebut dengan keadaan sekeliling lingkungan dari sistem. Perpindahan energi dapat berupa kalor (q) atau dalam beberapa bentuk lainnya secara keseluruhan disebut kerja. Perpindahan energi berupa kalor atau kerja yang mempengaruhi jumlah keseluruhan energi dalam sistem, yang disebut energi dalam (U) (Petrucci, 1996:194). Energi dalam (U) adalah keseluruhan energi potensial dan energi kinetik zat-zat yang terdapat dalam sistem. Energi dalam merupakan fungsi keadaan, besarnya hanya tergantung pada keadaan sistem. Setiap sistem mempunyai energi karena partikel-partikel materi (padat, cair atau gas) selalu bergerak acak dan beragam disamping itu dapat terjadi perpindahan tingkat energi elektron dalam atom atau molekul (Syukri, 1999:74). Kalor (q) adalah bentuk energi yang dipindahkan melalui batas-batas sistem, sebagai akibat adanya perbedaan suhu antara sistem dengan lingkungan.Sistem yang menyerap kalor, q bertanda positif dan q bertanda negatif bila sistem melepaskan kalor. Kalor (q) bukan merupakan fungsi keadaan karena besarnya tergantung pada proses. Kapasitas kalor adalah banyaknya energi kalor yang dibutuhkan untuk mengikatkan suhu zat 1oC. kapasitas kalor tentu saja tergantung pada jumlah zat. Kapasitas kalor spesifik dapat disederhanakan, kalor jenis adalah banyaknya energi kalor yang dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 1 gram zat sebesar 1oC. Kalor jenis molar adalah banyaknya energi kalor yang dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 1 mol zat sebesar 1oC (Petrucci, 1996:196). Pada tekanan tetap, kalor yang diberikan sama dengan perubahan dalam sifat termodinamika yang lain dari sistem, yaitu entalpi (H), yang dinyatakan dengan H = U + pV dimana p adalah tekanan sistem dan pV adalah sebagian dari definisi H untuk sembarang sistem dan tidak terbatas untuk gas sempurna. Entalpi hanya bergantung pada keadaan sistem sekarang, sehingga entalpi merupakan fungsi keadaan. Seperti halnya fungsi keadaan lainnya, perubahan entalpi antara setiap pasangan keadaan awal dan keadaan akhir tidak bergantung pada jalannya (Atkins, 1999:44).

Secara umum entalpi ada beberapa macam salah satunya yaitu entalpi pelarutan yang dapat diartikan sebagai perubahan entalpi pada peristiwa melarutnya 1 mol suatu zat dalam n mol pelarut (air) atau jika suatu zat yang dilarutkan (dalam air) yang disertai dengan pembebasan kalor (eksoterm) atau penyerapan kalor (endoterm). Efek kalor yang terdapat pada peristiwa tersebut disebut dengan Entalpi Pelarutan yang mana besarnya bergantung pada molalitas zat yang terbentuk dalam larutan (Suwandi,1995). Penentuan perubahan entalpi yang terjadi pada larutan maka konsentrasi larutannya perlu ditetapkan terlebih dahulu. Panas pelarutan suatu zat adalah perubahan entalpi yang terjadi bila 1 mol zat itu dilarutkan ke dalam suatu pelarutan untuk mencapai konsentrasi tertentu. Panas pelarutan tersebut dinamakan panas pelarutan integral atau panas pelarutan total. Panas pelarutan bukan bergantung pada jenis zat yang dilarutkan, jenis pelarut, suhu, dan tekanan, tetapi bergantung pada konsentrasi larutan yang hendak dicapai. Suatu zat terlarut yang dilarutkan dalam pelarut, kalor dapat diserap atau dilepaskan, kalor reaksi bergantung pada konsentrasi larutan akhir (Alberty, 1992: 33-34). Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh, dan lewat jenuh. Larutan disebut jenuh pada temperatur tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat terlarut kurang, disebut dengan larutan tidak jenuh dan bila lebih disebut lewat jenuh. Zat yang dapat membentuk larutan lewat jenuh adalah asam oksalat (Sukardjo, 1997:141-142). Pada larutan jenuh terjadi kesetimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat yang tidak terlarut. Pada keadaan kesetimbangan ini kecepatan melarut sama dengan kecepatan mengendap dan konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap (Sukardjo, 1997 : 142). Kesetimbangan terganggu jika ada perubahan temperatur yang mengakibatkan konsentrasi larutannya akan berubah. Menutur Vant Hoff pengaruh temperatur terhadap kelarutan dinyatakan sebagai berikut : d ln S/dt = (H)/RT2 ............................................................................(1) dengan mengintegralkan dari T1 ke T2 maka akan dihasilkan ln S2/S1 = (H/R) (T1-1-T2-1)....................................................................(2) Ln S = -(H)/RT + konstanta...................................................................(3) Dimana : S1,S2 = kelarutan masing masing zat pada temperature T1 dan T2 (g/1000gram solven). H = panas pelarutan (panas pelarutan/ g (gram)). R = konstanta gas umum.

Secara umum panas pelarutan adalah positif (endodermis) sehingga menurut Vant Hoff makin tinggi temperatur maka akan semakin banyak zat yang larut sedangkan untuk zat zat yang panas pelarutannya negatif (eksotermis), maka semakin tinggi suhu maka akan semakin berkurang zat yang dapat larut (Tim Penyusun, 2014 : 1).

BAB 2. METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1 Alat dan Bahan 2.1.1 Alat Termometer 50oC Buret 50 mL Erlenmeyer 250 mL Gelas ukur 250 mL Pipet volume 10 mL Pengaduk gelas Gelas beaker

2.1.2 Bahan Asam oksalat Larutn NaOH 0,5 N Indikator pp Es batu Garam dapur

2.2 Prosedur Kerja Kristal asam oksalat - dilarutkan dalam 100 ml akuades (Bj diketahui) sedikit demi sedikit sampai larutan menjadi jenuh pada temperatur kamar (25 C) -dimasukkan 100 mL larutan jenuh dalam tabung reaksi, dilengkapi dengan termometer dan pengaduk dan dimasukkan ke dalam termostat secara bergantian pada temperatur yang dikehendaki (5, 10, 15, 20, 25 C) - diaduk larutan tersebut supaya menjadi homogen - dimasukkan 5 mL larutan ke dalam erlenmeyer yang telah ditimbang sebelumnya - ditimbang erlenmeyer + larutan, sehingga didapat massa larutan - dititrasi dengan larutan NaOH 0,5 M dengan menggunakan indikator pp - dilakukan duplo
Hasil