Anda di halaman 1dari 279

RESUSITASI

APNEA
OLEH:
PEMBI MBI NG :
ANATOMI
DEFINISI
Ulkus kornea adalah hilangnya
sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea, yang ditandai
dengan adanya infiltrat supuratif disertai
defek kornea bergaung, dan diskontinuitas
jaringan kornea yang dapat terjadi dari
epitel sampai stroma.
I n f e k s i
B a k t e r i
J a m u r
V i r u s
a c a n t h a m o e b a
N o n I n f e k s i
B a h a n k i m i a
a d i a s i ! s u h u
" i n d r o m " j o r g e n
# e f i s i e n s i $ i t a m i n
%
& b a t ' o b a t a n
( e l a i n a n m e m b r a n
b a s a l
) a j a n a n
N e u r o t r o p i k
" i s t e m i m u n * r e a k s i
h i p e r s e n s i t i $ i t a s +
, r a n u l o m a
- a g e n e r
h e u m a t o i d
% r t h r i t i s
ETIOLOGI
. Ulkus kornea sentral

Ulkus kornea bakterialis

Ulkus kornea fungi

Ulkus kornea $irus

Ulkus kornea acanthamoeba


Ulkus kornea perifer

Ulkus marginal

Ulkus mooren *ulkus serpinginosa kronik!ulkus roden+

Ulkus cincin *ring ulcer+


KLASIFIKASI
UL;KUS KORNEA
BAKTERIALIS
Ulkus Streptokokus
Ulkus Pseudomonas
ULKUS KORNEA FUNGI
ULKUS KORNEA VIRUS
Ulkus #endritik
Ulkus .erpetik
ULKUS KORNEA
ACANTHAMOEBA
ULKUS KORNEA PERIFER
Ulkus /arginal
Ulkus /ooren
ing Ulcer
RESUSITASI JANTUNG
DAN PARU (RJP)
TUJUAN :

UN0U( /1N,%0%"I .1N0I N%2%" #%N .1N0I J%N0UN,

/UN,(IN /%"I. #%)%0 #I0&3&N, %,% 010%) .I#U)

U"%.% J) ! 4)
HENTI NAFAS (APNEU)
a5al henti nafas 6 oksigen masih dapat masuk ke
dalam darah

Jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke


otak dan organ $ital lainnya

resusitasi membantu menjalankan sirkulasi


lebih baik dan cegah kegagalan perfusi organ
terlambat akan berakibat henti jantung
HENTI JANTUNG :
* HIPOKSEMIA
* GANGGUAN ELEKTROLIT
* PENYAKIT JANTUNG ( ARITMIA )
* PENEKANAN MEKANIK
(TENSION PNEUMOTORAKS, TAMPONADE JANTUNG)
TINDAKAN

1 ORANG PENOLONG
NAFAS BUATAN : PIJAT JANTUNG LUAR

2 : 15

2 ORANG PENOLONG
NAFAS BUATAN : PIJAT JANTUNG LUAR

1 : 5
CPCR / RJPO (Peter Safar)
1. Basic Life Support emergency oxygenation
A : Airway
B : Breathing
C : Circulation
2. Advanced Life Support Restoration of spontaneous
circulation
D : Drugs and luids
E : E!"
: i#rillations treat$ent
3. Prolonged Life Support post resuscitation brain
oriented t!erapy
" : "auging
% : %u$ani&ation
I : Intensi'e care
Istilah

I L C O R (International (iaison Co$$ittee on


Resuscitation)

A H A - A$erican %eart Association

Basic (i*e Su++ort , B ( S


, -alan na*as . Na*as #uatan . Pi/at /antung 0A1B1C)

Ad'anced (i*e Su++ort , A ( S


, Drug 0.*luid) . E ! " . de1i#rilasi 0D1E1)

Cardio Pul$onary Resuscitation , CPR

"ardio Pulmonary "erebral Resuscitation


# "P"R # "PR # R$P%
# BLS & ALS
Se$ua tinda2an
yang harus segera dila2u2an
dan #ertu/uan
untu2 $enghenti2an
+roses yang $enu/u 2e$atian3
Basic Life Support
DEINISI
!EADAAN
"A4AT DARURAT
!EADAAN 5AN" APABI(A TIDA!
6ENDAPAT PERT7(7N"AN CEPAT
!7RBAN A!AN !E%I(AN"AN
SEBA"IAN AN""7TA TUBU% ATAU
6ENIN""A(
A B C - BLS

A 1 airway : #e#as2an /alan na*as

B 1 #reathing : #eri na*as #antuan8 0.o2sigen)

C 1 circulation : +i/at /antung8 +osisi shoc2


%arus dila2u2an SE"ERA di te$+at 2e/adian
!ondisi gawat darurat
Prioritas +ertolongan +erta$a adalah :

Peredaran darah 0sir2ulasi) yang #erhenti 9 1 : $enit
ota2 $ulai $engala$i 2erusa2an 2arena hi+o2sia3
-i2a +asien $engala$i 2e2urangan o2sigen 0hi+o2sia)
se#elu$nya8 #atas wa2tu itu /adi le#ih +ende23
B(S yang dila2u2an dengan cara yang #enar
$enghasil2an cardiac out +ut
9;< dari cardiac out +ut nor$al

Aliran darah yang #erhenti
= 1 > $enit
a2an $enga2i#at2an 2erusa2an ota2
yang +er$anen3
-antung #erhenti #erdenyut
!a+an Resusitasi -antung Paru
di+erlu2an ?

-i2a +asien Cardiac Arrest

A+a tanda Cardiac Arrest ?


@
TIDA! TERABA nadi carotis

Cardiac Arrest , Nadi Carotis tida2 tera#a

Cardiac Arrest EC" *lat suara /antung 01)


!unci 2e#erhasilan CPR

Early Access to B(S


@
Call *or hel+

Early 0correct) CPR


@
to #uy ti$e

Early De*i#rillation
@
to restart the heart

Early A(S
@
to sta#ili&e
Peri2sa 2esadaran
2or#an dengan
$ene+u2 #ahu
dan
$e$anggil dengan
suara 2eras
ASia+a
na$anya???BBBC
ACo#a #u2a $ataBBBC
LANGKAH 1
A!"!# "$%&!' (!)!% *
( C#+," "+(!)!%!' )
LANGKAH 2
P!'--./ &!'01!'
P!'--./ !2&1/!'(
D3 Panggil #antuan
dari orang se2itar8
$e$inta $ere2a untu2
i2ut $enolong
dan
E3 Tele+on DDF1I"D atau
Radio 6edi2
$inta #antuan $edi2G
A$#ulans
Se#ut lo2asi 2e/adian
dengan /elas
LANGKAH 3
P$(.(. "$%&!'
-i2a 2or#an telung2u+8
#ali22an +elan1+elan
agar terlentang3
!or#an harus ditolong
dala$ +osisi terlentang
diatas alas 2eras3
Korban tidak perlu diturunkan
dari tempat tidur
LANGKAH 4
B+&!("!' 5!/!' '!6!(
)!%. (12&!0!' !'-"!/ /.)!#
Dengan satu tangan
didahi 2or#an3

Doronglah dahi
2e#ela2ang8 agar 2e+ala
$enengadah dan
$ulut sedi2it ter#u2a
#+!) 0./0
B+&!("!' 5!/!' '!6!(
)!%. (12&!0!' !'-"!/ /.)!#
Dengan satu tangan
didahi 2or#an3

Doronglah dahi
2e#ela2ang agar 2e+ala
$enengadah dan $ulut
sedi2it ter#u2a
#+!) 0./0
Pertolongan da+at
dita$#ah dengan
$engang2at dagu3

,#.' /.60
Pada 2or#an yang tida2
sadar
+osisi 2e+ala cenderung
*le2si
su$#atan a2i#at +ang2al
lidah /atuh 2e#ela2ang
-alan na*as #e#as 2arena
2e+ala di+osisi2an e2stensi
dengan %ead tilt8 Chin li*t
*le2si
e2stensi
$A' ()R*S(
#ila head tilt dan chin li*t 8
/alan na*as teta+
Dengan 2edua tangan 2ita
dagu 2or#an diang2at sehingga
deretan gigi rahang #awah #erada
dide+an deretan gigi rahang atas
cara ini sebagai pilihan terakhir jika cara lain
tidak berhasil.
Untuk orang awam tidak dianjurkan

AIR4A5
@
-angan nec21li*t se$ua +asien
@
%ead1tilt8 /uga untu2 +asien trau$a
@
Chin li*t8 /uga untu2 +asien trau$a
@
-aw1thrust8 +ilihan +aling a2hir
0untu2 awa$ : TIDA! B7(E% )
@
+asang oroG naso1+haryngeal tu#e
@
+erti$#ang2an intu#asi dini
I(C7R @ New "uidelines
6e$#e#as2an /alan na*as
0 $anual )
head tilt
neck lift
chin lift
H
Head-tilt, juga untuk pasien trauma
Chin lift, juga untuk pasien trauma
Neck lift, tidak boleh dilakukan
sama sekali.
Bu2a $ulut 2or#an
Bersih2an #enda asing
yang ada didala$
$ulut 2or#an
dengan $engore2
dan $enya+u2an
dua /ari +enolong
yang telah di#ung2us
dengan secari2 2ain
LANGKAH 5
Bebaskan jalan naas
!a"# s$%ba&an
ben!a as#n'
LANGKAH 1 Apakah korban sadar ?
LANGKAH 5
Panggil bantuan
Panggil ambulans
LANGKAH 4
Bebaskan jalan nafas
dari sumbatan pangkal lidah
head tilt
chin lift
jaw thrust
LANGKAH 2
LANGKAH 3 Posisikan korban terlentang
Bebaskan jalan nafas
dari sumbatan benda asing
LANGKAH 7
Pe"#ksa a(aka) k*"ban be"naas
De2at2an +i+i +enolong
2e$ulut dan hidung
2or#an3
6ata +enolong $elihat
2e1arah dada 3
L+)A(
,-./AR
RABA
LANGKAH 8
Pera#aan nadi carotis
Untu2 awa$
tida2 $utla2 dila2u2an8
langsung lang2ah F
LANGKAH 9
6enentu2an
lo2asi +i/at /antung3
Titi2 tu$+u +i/at
/antung adalah
ditengahE sternu$
Tu$it D tangan
dileta22an diatas
sternu$8
2e$udian
tangan satunya
dileta22an diatas
tangan yang sudah
#erada di1titi2
+i/at /antung
0di1tengahE sternu$)

-ari1/ari 2edua tangan dira+at2an
dan diang2at +ada wa2tu dila2u2an tiu+an na*as8
agar tida2 $ene2an dada3
Titi2 tu$+u +i/at /antung
(iti0 tumpu
pi1at 1antung
%ld /uidelines 2
3enentu0anbatas rusu0 a0an
mema0an 4a0tu
.e4 /uidelines 2
(enga!5tenga! sternu
Penolong
$enga$#il
+osisi
tega2 lurus
di atas
dada
2or#an
dengan
si2u
lengan lurus
6ene2an
tulang
dada
sedala$
2ira12ira:1
I c$3
LANGKAH :
P.5!0 5!'01'-
Setia+ $ele+as D +i/atan 8
tangan /angan $asih $ene2an dada 2or#an
D;;H +er $enit
657 cm
LANGKAH 1;
Saat +i/at /antung8
%itung dengan suara 2eras
Satu8dua8tiga8e$+at8 SATU
Satu8dua8tiga8e$+at8 DUA
Satu8dua8tiga8e$+at8 TI"A
Satu8dua8tiga3e$+at8 E6PAT
Satu8dua8tiga8e$+at8 (I6A
Satu8dua8tiga8e$+at8 ENA6
Total , 9; H +i/atan
5ang disela dengan E H tiu+an na*as
P.5!0 5!'01'- '!6!( &1!0!'
30 : 2
I34& 7 Ne5 ,uidelines

Circulation

1 Titi2 tu$+u +i/at /antung ditengahE sternu$
1 Pi/at /antung D;;H +er $enit8 di+rioritas2an agar
tida2 ada sela3
1 Pi/at /antung D;;H G$en8 na*as #uatan D;H G$en
1 Bila $asih #elu$ terintu#asi :
Ratio +i/at /antung dan na*as 9; : E
1
Dua atau satu +enolong tida2 di#eda2an
1
-i2a trachea sudah intu#asi ta2 usah sin2ronisasi
Pijat jantung nafas buatan

(a2u2an 9; 2ali +i/at /antung


dengan diselingi
E 2ali na*as #uatan ini #erulang
sela$a E $enit

Setelah E $enit 0J1F si2lus) ra#a


nadi leher3

Bila $asih #elu$ tera#a denyut


nadi leher8 lan/ut2an 9; H +i/at
/antung dan E H na*as #uatan

(a2u2an tinda2an ini terus sa$+ai


datang #antuan atau a$#ulans
30 : 2
Cara $e$#eri na*as #uatan

Pertahan2an +osisi 2e+ala teta+ tengadah

-e+it hidung dengan tangan


yang $e$+ertahan2an 2e+ala teta+ tengadah

Bu2a $ulut +enolong le#ar1le#ar sa$#il $enari2 na*as


+an/ang
Te$+el2an $ulut +enolong diatas $ulut 2or#an dengan
ra+at3

%e$#us2an udara 2e$ulut 2or#an sa$+ai terlihat


dada terang2atG #ergera2 nai2

(e+as2an $ulut +enolong8 #iar2an udara 2eluar dari


$ulut 2or#an8 dada 2or#an ta$+a2 #ergera2 turun3

Beri2an he$#usan na*as 2edua dengan cara yang sa$a3


Ana2 ana2
in*ant
I34& 7 Ne5 ,uidelines

BREAT%IN"
1 E 2ali tiu+an setelah /alan na*as #e#as
1 Tia+ 2ali he$#usan D deti28 disusul dengan
he$#usan 2e1dua8 setelah e2shalasi
1 Na*as #uatan D; 2aliG $enit 0 #ila sudah
ter1intu#asi )
1 Usaha2an dada terang2at3
1 K I;;1=;; $l atau Lolu$e Tidal =1F ccG2gBB
1 Beri o2sigen D;;< le#ih dini
Tiu+an na*as yang
#erle#ihan #era2i#at
te2anan intra1thora2al
$ening2at dan #erda$+a2
$engha$#at aliran darah
yang diti$#ul2an a2i#at
+i/atan /antung3
Tiu+an na*as cu2u+
asal dada $enge$#ang
D; 2aliG $enit3
Tehnik pemberian nafas buatan (1)
mouth to mouth mouth to mask
Tehnik pemberian nafas buatan (2)
Ambu bag
Jackson Rees
LANGKAH 6
LANGKAH 9
LANGKAH 7
LANGKAH 8
LANGKAH 1
Periksa apakah korban bernafas
Menentukan denyut nadi leher
( untuk awam, tidak perlu )
umit satu tangan langsung
diletakkan ditengah! dada"
( diatas sternum )
Melakukan #$% pijatan jantung
&angsung disusul dengan
pemberian ! % tiupan nafas
Mengakhiri resusitasi
1. Sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif telah
timbul
2. RJP diambil alih oleh bertanggung jawab
melanjutkan RJP
3. idak sadar! pernapasan spontan "#$! dilatasi
pupil 1%#3& menit
'. (sistole selama 3& menit setelah RJP dan
obat optimal
%. Stadium terminal suatu penyakit
). Penolong terlalu lelah


Hal-hal baru dalam RJPO
Airway :
Jangan ne*k lift
+ukup jaw thrust , *hin lift
Pasang oro - nasopharyn. tube
Segera intubasi tra*hea
Breathing :
/afas jangan 0&&#12&& ml
+ukup 2 nafas 1 %&&#)&& ml! dada
terangkat
2eri sela ekshalasi
2eri oksigen 1&&3 lebih dini
Circulation :
Pijat jantung lebih *epat! 0&#1&& . - menit
4sahakan 5+#Sho*k lebih dini
Hal-hal baru dalam RJPO
Drugs :
(drenaline 1#1#1 - 3#%6
(tropin 1#1#1 - 3#%6
/a#2i*arb hanya 1 me7-kg dan paling akhir
Fibrilation Rx :
5+#Sho*k sedini mungkin
5rug#Sho*k#5rug#Sho*k
2&& ## 2&&#3&& ## 3)& Joule
8 9arly a**ess 8 9arly
defibrilation
8 9arly +PR 8 9arly (:S
nadi *arotis ";$ < )& mm=g
nadi radialis ";$ < 0& mm=g
A!re"a#$"e (e%$"e%&r$"e)
'(/')

Beri adrenaline 1 mg/iv bila V/VT menetap sesudah


!"#shock $ang kedua kali%

&langi pemberian adrenaline setiap '#( menit bila


V/VT menetap%
P*#+e#e++ ,#e-tr$-a# A-t$.$t/ (P,A) / A+/+t0#e

Beri adrenaline 1 mg/iv segera )alur intra vena sudah


didapat* dan ulangi setiap '#( menit sampai dengan
kembalin$a sirkulasi spontan (+,-"* return of
spontaneous circulation)
O1at201at a"t$2arr&/t3$a

Bila V/VT bertahan setelah ' kali !"#shock* beri


.miodarone '// mg/iv* bolus% dosis selan)utn$a 1(/
mg dapat diberikan bila V/VT rekuren atau refrakter*
diikuti dengan dosis 0// mg/iv#infusion/21#)am

Bila amiodarone tidak tersedia* sebagai pengganti


adalah 2idocaine 1 mg/kgBB/iv* tetapi )angan beri
2idocaine bila .miodarone telah diberikan% !osis total
adalah ' mg/kgBB dalam 1 )am pertama%
)era%$ t&r0310#$t$4 %a!a &e"t$
5a"t*"6

bila henti )antung diduga karena emboli paru*


atau pada kasus +34 gagal dengan dugaan
henti )antung karena thrombotik akut% +34
tidak merupakan indikasi kontra terhadap
thrombol$sis%

Bila thrombolitik telah diberikan* +34


dilakukan sampai dengan 5/#0/ menit%
>? - >
nadi *arotis tak teraba
( # 2 # +
sampai defibrilator terpasang
2&& J ## 2&&#3&& J ## 3)& J
>? - > P 9 ( (S@SA:9 R A S +
( # 2 # +
intubasi! B> line
(drenaline 1#1#1 mg tiap 3#%6
5+ sho*k 3)& J dalam 3&#)&66
Abat klas BBa
5+ sho*k 3)& J dalam 3&#)&66
PA:( C obat#5+#obat#5+
:ido*ain 1!& # 1!% mg-kg
tiap 3#%6 sp 3 mg-kg
DgSA' 1#2 gm u-torsades
Pro*ainamide 3&mg-min
/a#bi*arb 1 me7-kg
Jaga jalan nafas
2antu nafas
Abat u- tekdarah!
nadi! irama
Early defibrilation
DC-Shock
on-Synch Synchroni!ed
"husus #$%#&
tidak ada ERS yang baik
S#& % P#C
ada ERS yang baik
DC-Shock Discharge
Denunggu gelombang R
dikenali
DC-Shock Discharge
idak menunggu gelombang R
( # 2 # +
intubasi! B> line
(drenaline 1#1#1 mg tiap 3#
%6
Abat klas BBa
/a#bi*arb u- hiperkalemia - asidosis - overdose obat
(drenaline 1#3#% mg selang 3 menit
SINGKIRKAN :
=ipovolemia
=ipoksia
=ipotermia
=iperkalemia
amponade jantung
ension pneumothora.
9mboli paru luas
Bnfark jantung luas
(sidosis
Averdose 2#blo*k!
+a#blo*k! 5igitalis!
risiklik
Jika bradikardia
(tropin 1#1#1 mg tiap 3#
%6 sampai 3 mg
P'(SE(ESS E(EC&R)C*(
*C&)#)&+
ada kompleks 9+F tetapi
nadi *arotis tak teraba
9le*trome*hani*al 5isso*iation
Bdioventri*ular rhythm - es*ape
2rady#asystoli* rhythm
Bila berhasil +,-"
*return of spontaneous circulation+

(an/ut2an o2sigenasi8 2alau +erlu na*as #uatan


0 +rota+ : 'entilator )

%i+otensi diatasi dengan inotro+i2 dan o#at


'aso1a2ti* 0adrenalin8 do+a$in8 do#uta$in8
e+hedrin)

Teta+ di in*us untu2 /alan o#at ce+at

Tera+i arit$ia

!ore2si ele2trolit8 cairan8 gula darah dls#

Awasi di ICU

Awas: cardiac arrest sering terulang lagi


KEHAMILAN

perubahan patofisiologi selama 8 9:


minggu, berbaring posisi terlentang ;
curah jantung <

= kejadian sulitnya intubasi terutama


kehamilan dengan obesitas ; resusitasi
lebih sulit
henti jantung setelah analgesia spinal
dalam beberapa kehamilan

&besitas

>barbotage> dari cairan cerebrospinal

blok subdural

o$erdosis obat'obatan spinal

pengulangan blok spinal ! epidural

penyuntikan spinal yang >gagal?

o$erdosis obat' obatan epidural

reaksi toksik o$erdosis anastesi lokal

injeksi intra$askular.
/ofifikasi resusitasi pada bumil

)osisi lateral kiri

penekanan pada krikoid selama $entilasi dan


intubasi

Ventilasi bag-mask @'A: lpm

kompresi dilakukan sedikit di atas tengah sternum


*ele$asi diafragma dan abdomen

resusitasi jantung segera dalam B'C menit

mengeluarkan janin, mengosongkan uterus ;


mengembalikan aliran balik $ena dan aliran aorta
(-R+3A8AS+)
ULKUS KORNEA
PEMBI MBI NG :

OLEH:
(&N1% . Bagian mata yang tembus cahaya D
menutup bola mata bag. depan
)embentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab
utama kebutaan dan ganguan penglihatan di seluruh dunia
(ebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah, namun
hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan
diobati secara memadai
EPIDEMIOLOGI

Insidensi ulkus kornea di Indonesia *AEEF +


C,F per A::.::: penduduk

)redisposisi terjadinya ulkus kornea trauma,


pemakaian lensa kontak terutama yang dipakai
hingga keesokan harinya, dan kadang'kadang
tidak diketahui penyebabnyaG

#i Inggris6 insidens terjadinya ulkus kornea


meningkat sehingga @ kali pada mereka yang
tidur sambil memakai lensa kontak berbanding
dengan mereka yang memakai lensa kontak
ketika jaga

Ulkus kornea dapat mengenai semua umur.


A.A(%3+ 9
:+S+%L%/+
ANATOMI
DEFINISI
Ulkus kornea adalah hilangnya
sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea, yang ditandai
dengan adanya infiltrat supuratif disertai
defek kornea bergaung, dan diskontinuitas
jaringan kornea yang dapat terjadi dari
epitel sampai stroma.
I n f e k s i
B a k t e r i
J a m u r
V i r u s
a c a n t h a m o e b a
N o n I n f e k s i
B a h a n k i m i a
a d i a s i ! s u h u
" i n d r o m " j o r g e n
# e f i s i e n s i $ i t a m i n
%
& b a t ' o b a t a n
( e l a i n a n m e m b r a n
b a s a l
) a j a n a n
N e u r o t r o p i k
" i s t e m i m u n * r e a k s i
h i p e r s e n s i t i $ i t a s +
, r a n u l o m a
- a g e n e r
h e u m a t o i d
% r t h r i t i s
ETIOLOGI
. Ulkus kornea sentral

Ulkus kornea bakterialis

Ulkus kornea fungi

Ulkus kornea $irus

Ulkus kornea acanthamoeba


Ulkus kornea perifer

Ulkus marginal

Ulkus mooren *ulkus serpinginosa kronik!ulkus roden+

Ulkus cincin *ring ulcer+


KLASIFIKASI
UL;KUS KORNEA
BAKTERIALIS
Ulkus Streptokokus
Ulkus Pseudomonas
ULKUS KORNEA FUNGI
ULKUS KORNEA VIRUS
Ulkus #endritik
Ulkus .erpetik
ULKUS KORNEA
ACANTHAMOEBA
ULKUS KORNEA PERIFER
Ulkus /arginal
Ulkus /ooren
ing Ulcer
Gejala
Sujekt!"
Gejala
Ojekt!"
MANIFESTASI
KLINIS
%namnesis
)emeriksaa
n 2isik
)emeriksaa
n
)enunjang
DIAGNOSIS
PEMERIKSAAN
PENUN+ANG
#i rumah
#i
fasilitas
pelayanan
medis
primer
#i
fasilitas
pelayanan
medis
sekunder
#i
fasilitas
pelayanan
medis
tersier
PENATALAKSANAA
N
TATALAKSANA !#
RUMAH
A. Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya
9. Jangan memegang atau menggosok'gosok mata yang
meradang
F. /encegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan
sesering mungkin dan mengeringkannya dengan handuk atau
kain yang bersih
B. Berikan analgetik jika nyeri
TATALAKSANA !#
FASILITAS MEDIS
PRIMER
+i6a$at trauma (7) dan*
atau ditemukann$a
abrasi kornea pada
pemeriksaan fisik
Tetes mata kloramfenikol
'#(8 dipakai '9/hari
selama minimal ' hari
-embuh Tidak
sembuh
+u)uk ke fasilitas
kesehatan sekunder
TATALAKSANA !#
FASILITAS MEDIS
SEKUNDER
TATALAKSANA !#
FASILITAS MEDIS
TERSIER
KOMPLIKASI ,
PROGNOSIS

(omplikasi yang paling sering timbul berupa6


7
(ebutaan parsial atau komplit dalam 5aktu sangat singkat
7
(ornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan
panopthalmitis
7
)rolaps iris
7
"ikatrik kornea
7
(atarak
7
,laukoma sekunder

)rognosis H 0ingkat keparahan dan kecepatan penanganan


ULKUS KORNEA
Irma nur sukma5ati, ".ked
9:A:9:B:A:AA:CB
#alam keadaan normal kornea adalah transparan.
)enyakit kornea adalah penyakit yang serius karena penanganan yang
tidak sempurna atau terlambat akan mengakibatkan gangguan penglihatan
permanen berupa peglihatan yang kabur ringan hingga kebutaan.
Ulkus kornea termasuk kasus kega5at daruratan pada penyakit mata.
#imana mata terancam akan kehilangan fungsi penglihatan atau terjadi
kebutaan bila tidak dilakukan tindakan ataupun pengobatan secepatnya.
Ulkus kornea yang sembuh akan menimbulkan kekeruhan kornea dan
merupakan penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia.9
PENDAHULUAN
Anatom! dan "!s!olo#! kornea

(ornea adalah jaringan


transparan, yang ukurannya
sebanding dengan kristal
sebuah jam tangan kecil.

(ornea de5asa rata'rata


mempunyai
7
0ebal sentral :,CB mm
7
0ebal tepi :,IC mm
7
#iameter AA,C mm dari anterior
ke posterior

(ekuatan refraksi sebesar J BF


dioptri.
De"!n!s!

Ulkus (ornea adalah


keadaan patologik kornea
yang ditandai oleh
adanya infiltrat supuratif
disertai defek kornea
bergaung, diskontinuitas
jaringan kornea dapat
terjadi dari epitel sampai
stroma.
E$IOLOGI

In"eks!

Infeksi Bakteri 6 P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies


Moraxella merupakan penyebab paling sering. .ampir semua ulkus
berbentuk sentral.
Infeksi Jamur 6 disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus,
Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides.

Infeksi $irus
Ulkus kornea oleh $irus herpes simpleK cukup sering dijumpai.

%canthamoeba
%canthamoeba adalah protoLoa hidup bebas yang terdapat didalam air
yang tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik.
E$IOLOGI

Non!n"eks!

Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung )..

adiasi atau suhu

"indrom "jorgen

#efisiensi $itamin %

&bat'obatan 6 &bat'obatan yang menurunkan mekanisme imun

(elainan dari membran basal, misalnya karena trauma.

)ajanan *eKposure+

Neuroparalitik

S!stem Imun %Reaks! H!persens!t!&!tas'


eaksi homograft, .erpes stroma,
dan auto'immune keratitis
0rauma kimia dan kalor,
infeksi bakteri, dan defisiensi
nutrisi
.g: .b kompleks .ktivasi Komplemen
!enaturasi 3aringan
DES$RUKSI KOLAGEN DAN
PRO$EOGLIKAN
4elepasan ;n<im 2isosom
(kolagenase dan hidrolase lainn$a
Kemotaksis 2eukosit
EPI$ELIUM ( KERA$O)I$
a2ti'asi
hidrolase
KLASI*IKASI

Berdasarkan lokasi , dikenal ada 9 bentuk ulkus


kornea , yaitu6
A. Ulkus kornea sentral

Ulkus kornea bakterialis

Ulkus kornea fungi

Ulkus kornea $irus

Ulkus kornea acanthamoeba


9. Ulkus kornea perifer

Ulkus marginal

Ulkus mooren *ulkus serpinginosa kronik!ulkus roden+

Ulkus cincin *ring ulcer+


Ulkus kornea sentral

Ulkus Streptokokus :
7
Ulcus menjalar dari tepi kornea.
7
Be5arna kuning keabu'abuan.
7
Ulkus cepat menjalar perforasi kornea, karena
eksotoksin.

Ulkus Sta"!lokokus 6
7
Ulkus be5arna putik kekuningan disertai infiltrat berbatas
tegas.
7
%pabila tidak diobati abses kornea yang disertai edema
stroma dan infiltrasi sel leukosit.

Ulkus Pseudomonas6
7
)enyerbukan ke dalam dapat
mengakibatkan perforasi kornea dalam
5aktu B@ jam
7
Ber5arna abu'abu dengan kotoran yang
dikeluarkan ber5arna kehijauan,
hipopion.
Ulkus kornea sentral

Ulkus Kornea *un#!


7
/ata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari
sampai beberapa minggu sesudah.
7
)ermukaan lesi terlihat bercak putih dengan 5arna keabu'
abuan. 0epi lesi berbatas tegas irregular.
7
0erlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian
sentral sehingga terdapat satelit'satelit disekitarnya.
7
#apat terjadi neo$askularisasi akibat rangsangan radang.
0erdapat injeksi siliar disertai hipopion.
Ulkus kornea sentral

Ulkus Kornea +!rus

Ulkus Kornea Herpes ,oster 6


7
,ejala ini timbul satu A'F hari sebelum timbulnya gejala kulit.
7
)ada mata ditemukan $esikel kulit dan edem palpebra, konjungti$a
hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat subepitel dan
stroma.
7
Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang bentuknya berbeda dengan
dendrit herpes simpleK.
7
#endrit herpes Loster ber5arna abu'abu kotor dengan fluoresin
yang lemah.
Ulkus kornea sentral

Ulkus Kornea Herpes s!mple- :


7
Infeksi primer dapat terjadi tanpa gejala klinik.
7
Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda injeksi
siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran
sel di permukaan epitel kornea disusul dengan
bentuk dendrit atau bintang infiltrasi.
7
.ipestesi pada kornea secara lokal menyeluruh.
Ulkus kornea sentral

Ulkus Kornea A.ant/amoea


7
%5al dirasakan sakit yang tidak sebanding
dengan temuan kliniknya, kemerahan dan
fotofobia.
7
0anda klinik khas adalah ulkus kornea indolen,
cincin stroma, dan infiltrat perineural.
Ulkus kornea sentral

Ulkus Mar#!nal
7
Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin.
7
Bentuk simpel berbentuk ulkus superfisial yang
ber5arna abu'abu dan terdapat pada infeksi
stafilococcus.
7
Mang berbentuk cincin atau multiple dan biasanya
lateral.
Ulkus kornea per!"er

Ulkus Mooren
7
/erupakan ulkus yang berjalan progresif
dari perifer kornea kearah sentral.
7
0erutama terdapat pada usia lanjut.
7
)enyebabnya sampai sekarang belum
diketahui.
7
(adang meninggalkan satu pulau yang
sehat pada bagian yang sentral.
Ulkus kornea per!"er
MANI*ES$ASI KLINIS
a0 Gejala Sujekt!"
1ritema pada kelopak mata dan konjungti$a

"ekret mukopurulen

/erasa ada benda asing di mata


)andangan kabur
/ata berair

Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus

"ilau
Nyeri

Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada
perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel kornea.
0 Gejala Ojekt!"

Injeksi siliar
.ilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat

.ipopion
DIAGNOSIS

#iagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik


dan pemeriksaan klinis dengan 6

(etajaman penglihatan 6 $isus menurun

0es air mata 6 epifora

)emeriksaan slit-lamp : 4VIJ, infiltrat pada kornea, hipopion.

(eratometri *pengukuran kornea+

)e5arnaan kornea dengan Lat fluoresensi: positif pada tepi ulkus

,oresan ulkus untuk analisa atau kultur


PENA$ALAKSANAAN

)engobatan pada ulkus kornea tergantung


penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang
mengandung antibiotik, anti $irus, anti jamur,
sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan
dengan steroid.

"ulfas atropine

"kopolamin sebagai midriatika.

%nalgetik
)emilihan antibiotik
U2uran ul2us (o2asi +ada 2ornea Penatala2sanaan
9 $$ Tida2 +ada su$#u
$ata
Rawat /alan
Anti#ioti2 to+i2al G/a$
9$$ Pada su#u $ata Rawat ina+
Anti#ioti2 to+i2alGDG:
/a$
9$$.hi+o+ion Di segala te$+at Rawat ina+
Anti#ioti2 to+i2al G M
/a$
Anti#ioti2
su#2on/uncti''a
Anti#ioti2 +arenteral
6or*ologi
ha+usan
ANTIBI7TI!
To+i2al Su#2on/uncti'a intra'ena
!o2us gra$
+osit*
Ce+haloridin I;
$gG$l
Ce+haloridin
D;; $g
6ethicilin E;;
$gG2g BBGhr
Batang gra$
+ositi*
"enta$ycin D:
$gG$l
"enta$ycin E;
$g
"enta$ycin 91J
$gG2g BBGhari
ila$en gra$
negati*
Penicillin "
D;;3;;;UG$l
Penicillin "
I;;3;;;UG$l
Penicillin " E1=
UGhr
Batang gra$
negati*
"enta$ycin D:
$gG$l
"enta$ycin E;
$g
"enta$ycin 91J
$gG2g BBGhari
Basil tahan
asa$
A$i2acin D;
$gG$l
A$i2acin EI $g
A$i2acin I
$gG2g BBGhari
7rganis$e
ANTIBI7TI!
To+i2al Su#2on/uncti'a intra'ena
Sta+hylococcus
resisten
+enisillin
Ce*a&olin I;
$gG$l
Ce*a&olin I;
$gG$l
6ethicilin
Stre+tococcus8
+neu$ococcus
Penicillin "
D;;3;;;UG$l
Penicillin "
I;;3;;;UG$l
Penicillin " E1=
UGhr
S+eecies
Pseudo$onas
"enta$ycin D:
$gG$l
"enta$ycin E;
$g
"enta$ycin 91J
$gG2g BBGhari
Untuk menghindari penjalaran ulkus
dapat dilakukan 6
Kauter!sas!
Pen#erokan ep!tel 1an# sak!t
Keratoplast!
(eratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan
penatalaksanaan diatas tidak berhasil. Indikasi
keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu
penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan
kemunduran tajam penglihatan.
KOMPLIKASI
(omplikasi yang paling sering timbul berupa6C
7 (ebutaan parsial atau komplit dalam 5aktu sangat
singkat
7 (ornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis
dan panopthalmitis
7 )rolaps iris
7 "ikatrik kornea
7 (atarak
7 ,laukoma sekunder
PROGNOSIS
)rognosis ulkus kornea tergantung pada
tingkat keparahan dan cepat lambatnya
mendapat pertolongan, jenis
mikroorganisme penyebabnya, dan ada
tidaknya komplikasi yang timbul.
Ulkus kornea yang luas memerlukan 5aktu
penyembuhan yang lama, karena jaringan
kornea bersifat a$askular.
ULKUS
KORNEA
ULKUS
SEN$RAL
ULKUS
PERI*ER
D!seakan ole/ !n"eks!
Les! terletak d! sentral2 jau/
dar! l!mus &askuler0
H!pop!on %t!dak selalu'
men1erta! ulkus
ULKUS SEN$RAL
ULKUS
3AK$ERIALIS

sangat akut, biasanya timbul 9B'B@ jam setelah bakteri masuk kornea
melalui kerusakan epitel

,ambaran ulkus terbatas, ber5arna putih abu'abu. "edangkan daerah


kornea yang tidak terkena akan tetap ber5arna jernih dan tidak terlihat
infiltrasi sel radang.
"ekitar ulkus 6 bening
.ipopion *J+, steril
(erokan diplokokus bentuk lancet, gram *J+
Ulkus kornea pneumokokus
Ulkus kornea pseudomonas

infiltrat kelabu atau kuning

"angat akut, sakit sangat hebat.

4epat menyebar ke segala arah enLim proteolitik

.ipopion *J+ besar

1ksudat 6 hijau'kebiruan

1tiologi 6 pemakaian softlens yang lama, tetes mata yang terkontaminasi

(erokan gram *'+ batang, halus, panjang

0h! 0obramycin, gentamycin, atau polymyKin B, carbenicillin


KERA$I$IS 4AMUR
)%0&2I"I&3&,I
0rauma
#efek pada epitel
)enetrasi ke membran descement yang intak
bermultiplikasi
Nekrosis jaringan dan inflamasi
/%NI21"0%"I (3INI(

Jamur
7
i5ayat trauma oleh tumbuh'tumbuhan
7
Infiltrat ber5arna abu dikelilingi infiltrat
halus di sekitarnya berupa bercak *lesi
satelit+ dengan pinggiran yang tidak rata
7
.ipopion kental, permukaan tak rata*ada
hifa jamur+

)enyebab 6 candida, fusarium, aspergillus,


penicillium, cepalosporium

#engan pe5arnaan giemsa terlihat gambaran


hifa *jamur non candida+! bentuk ragi.
(eratitis $iral

)erjalanan klinik dapat berlangsung lama karena


stroma kornea kurang $askuler, sehingga
menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke
tempat lesi

)ada yang imunokompeten H sembuh sendiri

)ada immunocompromised *steroid+ dapat


menahun dan merusak

1!6 $irus .erpes "impleks , .erpes Nooster

Virus *umumnya ."VA+


Infeksi primer
/enetap di ganglion trigeminum
2aktor pencetus 6 menstruasi, demam, stress, sinar matahari
(ambuhnya penyakit
gejala

Iritasi

2otofobia

Berairmata

,angguan penglihatan

"ensibilitas kornea menurun

i5ayat lepuh'lepuh demam atau infeksi herpes


lain

eaksi hipersensiti$itas di sekitarnya

%danya gangguan penglihatan karena lesi yang timbul


pada kornea dalam bentuk bintik'bintik, bintang *stellate+,
filamen, dendrit yang bercabang'cabang dan bentuk
diskiform.
Ulkus /arginal

merupakan peradangan kornea bagian perifer


berbentuk khas yang biasanya terdapat daerah
jernih antara limbus kornea dengan tempat
kelainannya

1!6 "tafilokokussekunder dari konjungti$itis


stafilokokus

/erupakan reaksi hipersensiti$itas terhadap


protein tuberculin, $irus, autoimun, dan alergi
terhadap toksin ankilostoma
Ulkus /ooren

bukan disebabkan infeksi oleh mikroba, tapi diduga


merupakan reaksi alergi *penyakit autoimun+

/erupakan ulkus bergaung yang terjadi sekeliling limbus,


terjadi unilateral bersifat progresif sehingga terlihat
pencekungan limbus yang meluas ke bagian sentral.
(eratomalasia

ulkus kornea bilateral J pelunakan kornea


karena penyakit defisiensi $itamin %
*Keroftalmia+

Ulkus berbentuk cekungan seperti tusukan


jarum pada kornea yang tenang

kekeringan kornea, akibat terjadinya


keratinisasi epitel

Umumnya terjadi pada anak balita (urang


(alori )rotein *k5arshiorkor+ J infeksi
campak
Ulkus Neuroparal!t!k

Ulkus yang terjadi akibat gangguan N. V atau


ganglion ,aseri

kornea atau mata menjadi anestetik dan refleks


mengedip hilang

0erjadi pengelupasan epitel dan stroma kornea


sehingga terjadi ulkus kornea.

)engobatan dengan melindungi mata dan


memerlukan tindakan blefarorafi
)emeriksaan (husus

)emeriksaan 2luorescein

)emeriksaan "eidel ! 0es 2istel

)emeriksaan "ensibilitas (ornea

)emeriksaan 3aboratorium *pe5arnaan gram !


giemsa+
)enatalaksanaan

0idak boleh dibebat

"ekret yang terbentuk dibersihkan B kali satu hari

#iperhatikan kemungkinan terjadinya glaukoma sekunder

#ebridement sangat membantu penyembuhan

Indikasi ra5at 6
' ancaman terjadinya perforasi
' pasien tidak dapat memberi obat sendiri
' tidak terdapat reaksi obat
' perlunya obat sistemik.
/edikamentosa

S!klope#!k top!kal *%tropin AO 9 7 F


kali!hari P "kopolamin :,9C O+
0ujuannya 6
7
mengistirahatkan iris dan corpus siliar, sehingga
dapat mengurangi rasa sakit dan lakrimasi
7
menghambat timbulnya reaksi radang pada
traktus u$ealis, sehingga perjalanan penyakit ke
bagian mata yang lebih dalam dapat dicegah.

%ntibiotik!antijamur !anti$iral yang sesuai dengan


agen penyebab *topikal, subkonjungti$a+ 6
' bakteri P spektrum luas
' jamur 6
%mphoterisin B A,: 7 9,C mg ! ml
0himerosal A: mg ! ml
Natamycin *)iramycin 9,C 7 C O+
' $irus 6 IdoKuridine, Vidarabine, %cyclo$ir

Stero!d, untuk menenangkan inflamasi yang terjadi. "ediaan


steroid biasanya digabungkan dengan sediaan antibiotik.

+!tam!n A, dosis tinggi untuk keratomalacia

Der!dement, untuk membersihkan debris, eksudat dan sisa 7


sisa ulkus yang terdapat pada kornea dengan menggunakan
aplikator kapas steril atau spatula

Keratoplast! atau pemeda/an


Indikasi 6
' dengan pengobatan tidak sembuh
' terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan
Komplikasi Ulkus Kornea

Bulging kornea

Descemetocele

Perforasi ulkus

Prolapsus Iris

Perdarahan Intraokulerruptur pembuluh


darah

Glaukoma sekunder akumulasi sel


radang
(%;%PLAS3A
Anatom! 3ola Mata
Anatom! Kornea
Gamar:Ulkus kornea marginal akibat infeksi
bakteri
Infeksi *bakteri jamur, $irus atau protoLoa akantamuba+
%berasi atau benda asing
)enutupan kelopak mata yang tidak sempurna
/ata yang sangat kering
#efisiensi $itamin %
)enyakit alergi mata yang berat
Berbagai kelainan inflamasi lain
)enggunaan lensa kontak 9B jam
Et!olo#!
PA$O*ISIOLOGI AKI3A$
PENGGUNAAN LENSA KON$AK

Hipoksia dan Hiperkapnia

Alergi Dan Toksisitas

Kekuatan Mekanik

Efek Osmotik
Gamar: Ulkus kornea akibat penggunaan lensa
kontak selama 9B jam
Nyeri yang ekstrim diperberat oleh gesekan
palpebra pada kornea menetap sampai
sembuh
)englihatan kabur terutama jika letaknya di
pusat
2otopobia akibat kontraksi iris yang
meradang
#ilatasi pembuluh darah
.iperlakrimasi
Gejala Kl!n!s
D!a#nos!s

#iagnosis ditegakkan dengan6


'
%namnesis
'
)emeriksaan fisik
'
Visus
'
"lit 3amp
'
)emeriksaan penunjang
'
0es fluoresein
'
)e5arnaan gram dan (&.
'
(ultur
Penatalaksanaan
)engobatan ulkus diobati secara umum 6

Bila terdapat ulkus yang disertai dengan pembentukan secret


yang banyak jangan dibalut karena dapat menghalangi
pengaliran secret infeksi Q memberikan media yang baik
untuk perkembangbiakan kuman penyebabnya

"ekret yang terbentuk dibersihkan B kali sehari

%ntisipasi kemungkinan terjadinya glaucoma sekunder

#iberi antibiotika yang sesuai dengan kausa biasanya


cukup diberi lokal kecuali pada kasus yang berat.
Penatalaksanaan
(riteria pemberian kortikosteroid yang direkomendasikan6

(ortikosteroid tidak boleh diberikan pada fase a5al pengobatan


hingga organisme penyebab diketahui Q organisme tersebut
secara in $itro sensitif terhadap antibiotik yang telah digunakan

)asien harus sanggup datang kembali untuk kontrol untuk


melihat respon pengobatan

0idak ada kesulitan untuk eradikasi kuman dan tidak berkaitan


dengan $irulensi lain
Kompl!kas!

)erforasi kornea jarang

Jaringan parut kornea dapat berkembang


glaukoma Q katarak

Neo$askularisasi Q endoftalmitis,

)enipisan kornea perforasi, u$eitis,


sinekia anterior, sinekia posterior, glaucoma
Q katarak
Pro#nos!s

)rognosis tergantung dari cepat lambannya pasien mendapat pengobatan,


jenis mikroorganisme penyebab, Q adanya komplikasi

Ulkus kornea biasanya mengalami perbaikan tiap hari Q sembuh dengan terapi
yang sesuai

Jika penyembuhan tidak terjadi atau ulkus bertambah berat, harus


dipertimbangkan diagnosis Q terapi alternatif
"<(%3-/AL%=+
R*S
*L8*S
8%R.-A
ULKUS KORNEA
/!lan#n1a sea#!an permukaan
kornea ak!at kemat!an jar!n#an
kornea2 1an# d!tanda! den#an
adan1a !n"!ltrat supurat!" d!serta!
de"ek kornea er#aun#2 dan
d!skont!nu!tas jar!n#an kornea 1an#
dapat terjad! dar! ep!tel sampa!
stroma0

u.k. bakterial

u.k. fungi

u.( $irus

u.k. acanthamoeba
sentral

marginal

/ooreen

ring perifer
klasifikasi
infeksi

Bakteri

jamur

Virus

acanthamoeba
Non infeksi

bahan (I/I%

adiasi

"indrom sjorgen

#efisiensi $it %

&bat'obatan
eaksi
hiprsensiti$itas

,ranulomatos
a 5agener

"31

heumatoid
arteritis
etiologi
R*B-LA
ANA$OMI DAN *ISIOLOGI KORNEA

(ornea adalah jaringan transparan.

(ornea de5asa rata'rata mempunyai tebal :,CB mm di tengah,


sekitar :,IC di tepi, dan diameternya sekitar AA,C mm dari
anterior ke posterior.

Batas antara sclera dan kornea disebut limbus.

(ornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi


sebesar J B: dioptri.
%natomi kornea

(ornea terdiri dari C lapisan 6


A. lapisan epitel
9. /embran bo5man
F. Jaringan "troma
B. /embran descement
C. 1ndotel
DE*INISI
Ulkus (ornea adalah keadaan patologik
kornea yang ditandai oleh adanya infiltrate
supuratif disertai defek kornea bergaung,
diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari
epitel sampai stroma.
E$IOLOGI
A. In"eks!
Bakteri6 P. aeraginosa,
Streptococcus pneumonia dan
spesies Moraxella paling sering+
Jamur6 Candida, Fusarium,
Aspergilus, Cephalosporium, dan
spesies mikosis fungoides.
Virus6 .erpes simpleK, $aricella'
Loster, $ariola, $acinia *jarang+
%canthamoeba
9. Non !n"eks!

Bahan kimia, bersifat asam atau


basa tergantung )..

adiasi atau suhu

"indrom sjorgen

#efisiensi $itamin %

&bat'obatan

(elainan dari membran basal,


misalnya karena trauma.

)ajanan *eKposure+

Neurotropik
F. S!stem Imun %Reaks!
H!persens!t!&!tas'

,ranulomatosa 5agener

heumathoid arthritis
Klas!"!kas!
Berdasarkan lokasi 6
A. Ulkus kornea sentral

Ulkus kornea bakterialis

Ulkus kornea fungi

Ulkus kornea $irus

Ulkus kornea acanthamoeba


9. Ulkus kornea perifer

Ulkus marginal

Ulkus mooren *ulkus serpinginosa kronik!ulkus roden+

Ulkus cincin *ring ulcer+


)atofisiologi
Ulkus kornea sentralis

Ulkus Kornea 3akter!al!s


50 Ulkus Streptokokus
1
0anda (has6 ulcus menjalar dari tepi ke tengah kornea
*serpinginous+.
1
Ber5arna kuning keabu'abuan bentuk cakram dengan tepi
menggaung.
1
4epat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea,
karena eksotoksin dari "treptokokus pneumonia.
60 Ulkus Sta"!lokokus
1
%5alnya6 ulkus yang
be5arna putih kekuningan
disertai infiltrat berbatas
tegas tepat diba5ah defek
epitel.
1
Bila tidak diobati secara
adekuat, terjadi abses kornea
yang disertai edema stroma
dan infiltrasi sel leukosit.
1
-alaupun terdapat hipopion
ulkus seringkali indolen
yaitu reaksi radangnya
minimal.
70 Ulkus Pseudomonas
1
3esi dari sentral dapat ke
samping dan dalam kornea.
1
)enyerbukan ke dalam
mengakibatkan perforasi
kornea dalam B@ jam.
1
,ambaran6 ulkus ber5arna
abu'abu dengan kotoran
yang dikeluarkan ber5arna
kehijauan.
1
#alam bilik mata depan
dapat terlihat hipopion yang
banyak.
Ulkus Kornea 3akter!al!s
Ulkus Kornea Pseudomonas
80 Ulkus Pneumokokus 6
1
Ulkus kornea sentral yang dalam.
1
0epi ulkus terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga
disebut Ulkus "erpen.
1
Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh dan ber5arna
kekuning'kuningan.
1
)enyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang
menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman.
1
Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya
sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat.
1
#iagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis.

Ulkus Kornea *un#!

)ada permukaan terlihat bercak putih dengan 5arna keabu'abuan


yang agak kering.

0epi lesi berbatas tegas, irregular dan terlihat penyebaran seperti


bulu pada bagian epitel yang baik.

0erlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral


sehingga terdapat satelit'satelit disekitarnya.

)ada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan


naik.

#apat terjadi neo$askularisasi akibat rangsangan radang.

0erdapat injeksi siliar disertai hipopion.

Ulkus Kornea +!rus


50 Ulkus Kornea Herpes ,oster
1
Biasanya dia5ali dengan
perasaan lesu, timbul A'F hari
sebelum timbul gejala kulit.
1
)ada mata6 $esikel dan edem
palpebra, konjungti$a hiperemis,
kornea keruh.
1
Infiltrat berbentuk dendrit
ber5arna abu'abu kotor dengan
fluoresin yang lemah.
1
(ornea hipestesi tapi dengan rasa
sakit.
60 Ulkus Kornea Herpes
s!mple-
1
%5alnya dimulai injeksi siliar
disertai terdapatnya dataran sel
di permukaan epitel kornea
bentuk dendrit atau bintang
infiltrasi.
1
0erdapat hipertesi kornea
1
0erdapat pembesaran kelenjar
preaurikel.
1
Bentuk dendrit kecil, ulceratif,
jelas di5arnai dengan fluoresin
dengan benjolan diujungnya

Ulkus Kornea A.ant/amoea

%5al6 sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya,


kemerahan dan fotofobia.

0anda khas6 ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat


perineural.
Ulkus kornea perifer

Ulkus Mar#!nal

Bentuk simpel6 ulkus superfisial


yang ber5arna abu'abu terdapat
pada infeksi stafilococcus, toksik
atau alergi dan gangguan
sistemik pada influenLa disentri
basilar gonokok arteritis nodosa,
dan lain'lain.

Bentuk cincin atau multiple dan


lateral pada leukemia akut,
sistemik lupus eritromatosis dan
lain'lain.

Ulkus Mooren

berjalan progresif dari perifer


kornea ke sentral.

0.u pada usia lanjut.

)enyebabnya belum diketahui


diduga hipersensiti$itas
tuberculosis, $irus, alergi, autoimun.

"ering menyerang seluruh


permukaan kornea dan kadang
meninggalkan satu pulau yang sehat
pada bagian yang sentral.

R!n# Ul.er

0erlihat injeksi perikorneal sekitar limbus.

#i kornea terdapat ulkus yang berbentuk melingkar dipinggir


kornea, di dalam limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang'kadang
perforasi.

Ulkus marginal yang banyak kadang'kadang dapat menjadi satu


menyerupai ring ulcer.

0etapi pada ring ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan dengan
konjungti$itis kataral.

)erjalanan penyakitnya menahun.


/anifestasi klinis
Gejala Sujekt!"

1ritema kelopak mata dan


konjungti$a

"ekret mukopurulen

/erasa ada benda asing di mata

)andangan kabur

/ata berair

Bintik putih pada kornea


"ilau
Nyeri
Infiltat dapat menimbulkan
sedikit nyeri.
Gejala Ojekt!"

Injeksi siliar

.ilangnya sebagian jaringan


kornea, dan adanya infiltrat

.ipopion
)erjalanan ulkus kornea dibagi menjadi B
stadium, yaitu 6
A. "tadium infiltrasi progresif
9. "tadium ulserasi aktif
F. "tadium regresif
B. "tadium penyembuhan!sikatrisasi
#iagnosis banding ulkus kornea
(ondisi Infeksi bakteri ! jamur Infeksi $irus
"akit
2otofobia
Visus
Infeksi okular
0ak ada sampai hebat
Ber$ariasi
Biasanya menurun
mencolok
#ifus
asa benda asing
"edang
/enurun ringan
ingan'sedang
D!a#nos!s

#iagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan
laboratorium.

#isamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti 6

(etajaman penglihatan

0es refraksi

0es air mata

)emeriksaan slit-lamp

(eratometri *pengukuran kornea+

espon reflek pupil

)e5arnaan kornea dengan Lat fluoresensi.

,oresan ulkus untuk analisa atau kultur


Kornea ul.er den#an "luoresens!
Pe9arnaan #ram ulkus
kornea "un#!
Pe9arnaan #ram ulkus kornea
/erpes s!mple-
Pe9arnaan #ram ulkus kornea /erpes :oster
)ara pen#oatan ulkus kornea akter!al!s

Bila tidak didapat kuman dengan ,ram6 topikal Basitrasin atau


"efalosporin dan %minoglikosida, ditambah dengan
subkonjungti$a /etisilin atau ,entamisin tiap 9B jam selama
F hari.

Basil ,ram negatif6 sama dengan bila tidak didapat kuman,


hanya suntikan subkonjungti$a diberikan setiap A9 jam selama
F hari.

kokus atau batang ,ram positif6 topikal Basitrasin atau


"efalosporin, dan subkonjungti$a metisilin atau ,entamisin.

kokus ,ram negatif6 topikal Basitrasin atau 1ritromisin dan


subkonjungti$a atau intra$ena )enisilin ,.
)engobatan tambahan, yaitu 6
A. "ikloplegik, mengurangi spasme siliar dan
mencegah sinekhia, diberikan bila terdapat reaksi
radang pada bilik mata depan.
9. Inhibitor kolagenase diberikan pada infeksi akibat
)seudomonas.
F. (ortikosteroid, penggunaannya pada ulkus masih
kontro$ersi.
)ara pen#oatan ulkus kornea ole/ jamur

)engobatan stadium a5al diberikan


NatamycinJ %mphotericin B.

Bila terapi tidak efektif, terapi dihentikan


selama 9B jam, ambil spesimen untuk dilakukan
kultur.

Jika tidak respon, infiltrasi kornea dan ulkus


meluas, timbul descemetokel atau perforasi,
maka keratoplasti diindikasikan untuk ulkus
kornea.
)ara pen#oatan ulkus kornea ole/ &!rus

#ebridemen

#ebridemen dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus.

&bat sikloplegik seperti atropin AO atau homatropin CO di


teteskan ke sakus konjungti$a, ditutup dengan sedikit tekanan.

0erapi obat

%nti$irus topikal yang dipakai adalah IdoKuridine, 0rifluridine,


Vidarabin dan %cyclo$ir.

0rifluridine dan %cyclo$ir jauh lebih efektif untuk penyakit


stroma.

Umumnya sembuh sendiri dan pembentukan parut minimal.

(ortikosteroid topikal tidak perlu.


)encegahan

3indungi mata dari segala benda yang mungkin bisa


masuk kedalam mata

Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak


mata tidak bisa menutup sempurna, gunakan tetes mata
agar mata selalu dalam keadaan basah

Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan


cara memakai dan mera5at lensa tersebut.
(omplikasi
7
(ebutaan parsial atau komplit dalam 5aktu sangat
singkat
7
(ornea perforasi dapat berlanjut endoptalmitis dan
panopthalmitis
7
)rolaps iris
7
"ikatrik kornea
7
(atarak
7
,laukoma sekunder


)rognosis

)rognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan


dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis
mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya
komplikasi yang timbul.

"emakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat


pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka
prognosisnya menjadi lebih buruk.

)enyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi


ketaatan penggunaan obat.
)-RP-S
1pidemiologi

)ada tahun AEEF insiden ulkus kornea C,F!A::.:::


penduduk di Indonesia.

)enyebab utama adalah peningkatan pemakaian lensa


kontak
%natomi
(ornea terdiri atas lima
lapisan6

1pitel tiga jenis sel


dengan banyak saraf
sensoris di dalamnya

3apisan bo5man struktur


aseluler

"troma *E:O ketebalan


kornea+ terdiri dari serat
kolagen

/embran decemen
mengandung serat kolagen

1ndotel satu lapisan yang


mengandung sel yang
berbentuk heksagonal.
Kansk$ 3%3% Clinical Ophtalmology% ( ed% 2//'
2isiologi
2ungsi kornea 6
' %lat transmisi sinar
' %lat refraksi
' #inding bola mata
"ifat tembus cahaya disebabkan 6
' "truktur uniform
' %$askular
' #eturgesens
keadaan dehidrasi relati$e jaringan kornea, dipertahankan oleh ? pompaR bikarbonat aktif
pada endotel dan oleh fungsi sa5ar epitel dan endotel.
1ndotel lebih penting dari epitel dalam mekanisme dehidrasi, dan cedera kimia5i atau fisik
pada endotel jauh lebih berat daripada cedera di epitel.
(erusakan sel'sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan.
cedera pada epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat stroma kornea yang akan
menghilang bila sel'sel tersebut telah beregenerasi
#eturgesen
keadaan dehidrasi relati$e jaringan kornea, dipertahankan oleh ?
pompaR bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sa5ar
epitel dan endotel.
1ndotel lebih penting dari epitel dalam mekanisme dehidrasi, dan
cedera kimia5i atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada
cedera di epitel.
(erusakan sel'sel endotel menyebabkan edema kornea dan
hilangnya sifat transparan.
cedera pada epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat
stroma kornea yang akan menghilang bila sel'sel tersebut telah
beregenerasi
1tiologi

Ulkus kornea sentral timbul akibat


7
Bakteri
7
staph!lococcus aeureus
7
streptococcus pneumonia
7
Pseudomonas dan enterobactericeae.
7
Bakteri gram negatif lainnya
7
Jamur
7
Aspergillus "#.$%
7
Fusarium Sp $#.&%
7
4andida
7
%kantamuba
7
Virus .erpes simpleks

Ulkus perifer akibat defisiensi $it %, keratitis neurotropik


=ie 2*et al% .ntifungal susceptibilit$ for common pathogens of fungal keratitis in -handong 4rovince "hina% In: .m 3ournal of
,phthalmolog$% 2//>
Bharathi ? 3*et al% ?icrobial Keratitis in -outh IndiaIn: ,phtalmic ;pidemiolog$%2//@
Ulkus
kornea
Non higienic
use contact
lens
keratitis,
neurotopik
keratopik, tear
deficiency
0raumatic of
eye
'mmunodeficienci
)redisposition factor
Kornea avaskuler* +espon imun seluler
tidak segera datang
Badan kornea* dan sel#sel lain $ang terdapat
dalam stroma kornea* beker)a sebagai
makrofag
-elan)utn$a baru ter)adi infiltrasi dari sel#sel
mononuclear* sel plasma* leukosit
polimorfonuklear (4?A)*
-elan)utn$a ter)adin$a pembentukan infiltrat*
$ang tampak sebagai bercak ber6arna
kelabu%
Kemudian dapat ter)adi kerusakan epitel dan
timbullah ulkus kornea%
)atogenesis
,ejala subjektif
1ritema )alpebrae dan
konjungti$a
"ekret mukopurulent
/erasa ada benda asing
dimata
)andangan kabur
3akrimasi
Bintik putih pada kornea,
sesuai lokasi ulkus
"ilau
Nyeri
,ejala objektif
Injeksi siliar
.ilangnya sebagian jaringan kornea,
dan adanya infiltrat
.ipopion
/anifestasi (linis
,ejala klinisS.lanj

)seudomonas ulcer

*!#ure 50880 "e$ere Pseudomonas ulcers typically are associated 5ith


adherent mucopurulent discharge and can ha$e a ring appearance caused
by dense infiltration and edema at the periphery of the ulcer and central
corneal thinning.
Kansk$ 3%3 "linical ,phtalmolog$%2//'
,ejala klinisS.lanj

"treptococcal ulcer

*!#ure 508;0 "treptococcal infection can be associated 5ith crystalline


keratopathy 5ithout significant inflammation, usually in patients 5ho
are on a regimen of topical steroids after corneal transplantation.
Kansk$ 3%3 "linical ,phtalmolog$%2//'
,ejala klinisS.lanj

"taphylococcal corneal ulcer

*!#ure 50870 Infected corneal ulcers are characteriLed by corneal


infiltrates associated 5ith o$erlying epithelial defects and an anterior
chamber reaction. 0his ulcer caused by Staph!lococcus
aureus eKtends to5ard the center of the cornea and is associated 5ith
surrounding corneal edema
Buidelines for the management of corneal ulcer %CD,% 2//1
,ejala klinisS.lanj

/oraKella corneal ulcer

*!#ure 508<0 A: Moraxella ulcers are associated 5ith dense, full


thickness corneal infiltrates. 3: In this case, the cornea perforated, and
the anterior chamber is flat. Blood tinged infiltrate and
radial folds to5ards the ulcer are signs associated 5ith perforation.
-cholete T% 4ocket .tlas of ,phthalmolog$%2//51
,ejala klinisS.lanj

*!#ure 50=>0 (ocardia infection de$eloped in this patient after a


partial'thickness laceration at the time of a farm'related injury. *2rom
#onnenfeld 1#, 4ohen 1J, BarLa /, Baum J. 0reatment
of (ocardia keratitis 5ith topical trimethoprim'sulfamethoKaLole. Am
) *phthalmol AE@CPEE6I:9, 5ith permission.+
,ejala klinisS.lanj

*!#ure 50=50 A: 0his recalcitrant corneal ulcer 5as diagnosed by


corneal biopsy and cultures to be caused by atypical
mycobacteria. 3: 0his se$ere atypical mycobacteria infection
occurred follo5ing laser in situ keratomileusis.
)enegakan diagnosis

%namnesis
7
2aktor presdisposisi
7
,ejala klinis pada pasien

)emeriksaan 2isik
7
2ungsi penglihatan berkurang
7
1ritem, Injeksi siliar.
7
1ksudat yang purulen, kekeruhan kornea
7
Bentuk dan batas ulkus
7
.ipopion
7
)e5arnaan fluoresensi gambaran khas dendritik pada ulkus
*."V+.
7
3ampu 5ood Ulkus pseudomonas akan berfluoresensi dengan
lampu UV
#iagnosis lanjS

)emeriksaan penunjang
7
2istel test
7
(ultur bakteri
7
)e5arnaan gram
7
Uji sensiti$itas
(U 6
/ata merah
$isus turun
mendadak
(eratitis
Ulkus (ornea
,laukoma %kut
1ndolftalmitis
U$eitis
%nterior
0erapi

#isesuaikan dengan etiologi

"teroid
7
(ontraindikasi ulkus fungal
7
ulkus bakterial masih kontro$ersial

sikloplegik mencegah sinekia posterior dan dapat mengurangi


nyeri akibat spasme silier

analgesik

&bat anti glaukoma jika ada indikasi

air mata buatan

)embedahan keratoplasti pada tukak kornea dapat dilakukan jika


pengobatan tidak sembuh dan timbul jaringan parut.
Kansk$ 3%3% Clinical Ophtalmology% ( ed% 2//'
0erapi lanj
Buidelines for the management of corneal ulcer %CD,% 2//1
0erapi lanjS

)embedahan
7
#ebridemen
7
(eratektomi superfisial
7
keratoplasti penetrasi
Buidelines for the management of corneal ulcer %CD,% 2//1
Indikasi a5at Inap

Ulkus sentral

3uas ulkus T C mm

Ulkus dengan ancaman perforasi *descementocele


seperti mata ikan+

Ulkus dengan hipopion


(omplikasi

(ebutaan parsial atau komplit dalam 5aktu sangat singkat

(ornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis


dan panopthalmitis

)rolaps iris

"ikatrik kornea

(atarak

,laukoma sekunder
)rognosis

0ergantung
7
#erajat keparahan ulkus
7
espon pasien terhadap terapi
7
2aktor lokal dan sistemik
Aarad<a$ 3 =% "orneal &lceration and &lcerative Keratitis%
0&U&)3%"/% ,&N#II

proto+oa intraselular obligat

.idup pada6
A. .ospes definitif *kucing+
9. .ospes perantara *mamalia, burung, /anusia+
.
F bentuk 6
A.takiLoit *bentuk proliferatif+
9.kista *berisi bradiLoit+
F.ookista*berisi sporoLoit+
.
9 "iklus hidup6 seksual dan aseksual
%natomi kornea
Ulkus kornea

defenisi
hilangnya sebagian permukaan
kornea akibat kematian jaringan
kornea, yang ditandai dengan adanya
infiltrat supuratif disertai defek
kornea bergaung, dan diskontinuitas
jaringan kornea yang dapat terjadi
dari epitel sampai stroma.

u.k. bakterial

u.k. fungi

u.( $irus

u.k. acanthamoeba
sentral

marginal

/ooreen

ring perifer
klasifikasi

Bakteri dan ppseudomonas


2ungi dan herpetik
Ulkus marginal dan ulkus
mooren
infeksi

Bakteri

jamur

Virus

acanthamoeba
Non infeksi

ba.%N
(I/I%

adiasi

"indrom
sjorgen

#efisiensi $it %

&bat'obatan
eaksi
hiprsensiti$itas

,ranulomatosa
5agener

heumatoid
arteritis
etiologi
/anifestasi klinik
Gejala sujekt!" ojekt!"

1ritema kelopak mata !


konjungti$a

"ekret mukopurulen

Beda asing dimata

Visus turun

/ata berair

Bintik putih pada kornea

"ilau

nyeri

(ekeruhan lensa

%da infiltrat

Injeksi silier

hipopion
diagnosa
%namnesa

i5ayat trauma

Benda asing

)enyakit kornea spt keratitis

)emakaian obat topikal

5yt pemakaian kontak lensar5yt penyakit


sistemik
lanjutanS.

.
,ejala objektif
,ejala subjektif
#iagnosa pasti
dengan kultur
#iferensial diagnosis

(eratitis

,laukoma akut

U$uitis anterior

1ndoftalmitis

panofthalmitis
tatalaksana
umum
khusus
komplikasi

(ebutaan parsial dalam 5aktu singkat

)erforasi kornea

"ikatrik kornea

(atarak

,laukoma sekunder
)akai pelindung mata
Jaga kebersihan mata dan
kontak lensa
/enjaga kelembaban mata
pencegahan
AN+URAN (MERIL GRA-SON.
*L8*S

L%8AS+ "ARA (x
D3
N / %% T#!ak
!#a0#al
'
P*l#kl#n#s
'
an&#b#*&#k &*(#kal 1

ja%
E3
N / %% a0#al
'
MRS
'
an&#b#*&#k &*(#kal 1

ja%2 s$bk*nj3
93
/ %% 4
H#(*(#*n
D# %ana
saja
Ide$ E . anti#ioti2
siste $i2
+AMUR
'
Pe&an# 55
'
Can!#!a 2 as(e"'#l$s 2 $sa"#$%
'
Kl#n#s $lk$s #n!*len
#n#l&"a& ab$6ab$
sa&el#& n*!$l
'
P"e!#s(*s#s# 7 s&e"*#! 555
'
Ha($san &e(# $lk$s = 8a& '"a% (as3
'
B#akan =saba$"a$n!
"ra$ cocus Sta*3 +neu$ "enta$isin
2lora$*eni2ol
"ra$ #atang Pseudo$ 2le#s3 "enta$isin
Tetracyclin
"ra$ cocus Nies3"o Penisilini
,ejala klinis 0oKoplasmosis
$o-oplasmos!s Aku!s!ta %dapatan'
$oksoplasmos!s Kon#en!tal
Indikasi keratoplasti6
A. &ptik 6 siktarik di aKial kornea
9. 0herapi 6 keratitis .."!ulkus kornea
sentral cenderung prolaps
F. (osmetik 6 leukoma kornea
/etode 6 keratoplasti tembus
keratoplasti lamellar
)enyulit6
B. Infeksi
C. Iritis
I. Blok pupil = glaukoma sekunder
D. )enolakan graft *F minggu 7 C thn +
0oksoplasmosis kongenital
R!n#an :

0ak memberikan gejala, lahir normal.


3erat :

(ematian janin, gangguan pertumbuhan,


hidrosefalus, anensefalus, mikrosefalus, hidrops
non imun, korioretinitis.
Gejala lamat : * lahir tanpa gejala +

(orioretinitis, katarak, ikterus, mikrosefali,


hidrosefalus, pneumonia, diare, kejang, retardasi
mental, gangguan penglihatan, kerusakan otak
berat, kematian.
$oksoplasmos!s kon#en!tal
Fejala timbul beberapa hari-bulan setelah
kelahiran
Sindrom Sabin:
1. =idro*ephalus-mikrosefalus
2. +horoidoretinitis
3. kalsifikasi *erebral
'. Gonvulsi
#I%,N&"I"
A. )emeriksaan langsung tropoLoit !kista
9. isolasi parasit
F. Biopsi kelenjar
B. )emeriksaan serologi
C. )emeriksaan radiologi
)encegahan infeksi
7
/emasak daging sampai suhu AC:V2 *IIV4+,
7
Jangan menyentuh mukosa mulut bila sedang memegang
daging mentah
7
/encuci buah!sayur sebelum dimakan
7
(ebersihan dapur
7
4egah kontak dengan kotoran kucing
7
"iram bekas piring makanan kucing dengan air panas
7
"eleksi 5anita hamil dengan tes serologis
7
)emantauan U",
7
)engobatan adekuat bila ada infeksi selama hamil
7
Vaksinasi pada kucing
)1N,&B%0%N
"132 3I/I0IN, 0%( )13U 01%)I
01,%N0UN,6
O
U"I% (1.%/I3%N
O
#%M% 0%.%N 0UBU.
tidak bisa mengeliminasi kista

SPIRAMISIN terutama bila terjadi infeksi pada kehamilan


-
F gram!hari F'B dd
-
kurang efektif tetapi e.s. minimal
-
kombinasi imunomodulator isoprinosine! le$amisol

(ombinasi PIRIME$AMIN ( SUL*ADIA,INE dengan


leu.o&or!ne %asam "olat'

es obat leukopenia dan trombositopenia, teratogenik

infeksi janin J, U(T AI minggu kehamilan


p!rimethamine ialah 9C 7 C: mg per hari selama sebulan
trisulfap!rimidine dengan dosis 9.::: 7 I.::: mg sehari selama
sebulan
Pen#oatan pada !u /am!l
Pen#oatan pada a1!

)irimetamin 9 mg!kg selama dua hari, kemudian A


mg!kg!hari selama 9'I bulan, diikuti dengan A
mg!kg!hari F kali seminggu
"ulfadiaLine A:: mg!kg!hari yang terbagi dalam dua
dosis, ditambah lagi
%sam folinat C mg!dua hari, atau dengan pengobatan
kombinasi
*<derajat infeksi kongenital+

"piramisin dosis A:: mg!kg!hari dibagi F dosis,


selang'seling setiap bulan dengan pirimetamin,
ubella
Virus N% golongan 0oga$irus
&rang normal 6

0idak berbahaya

/orbiditas dan mortalitas rendah


(ehamilan 6

,angguan pembentukan organ

%kibatkan kecacatan Q kematian hasil


konsepsi
0erdistribusi secara luas di seluruh dunia
)enularan 6 droplet, transplasenta, kontak
langsung
(elainan fetus F:O pada minggu pertama
kehamilan
@CO bayi terinfeksi rubella kongenital
mengalami defek
EPIDEMIOLOGI
,1J%3% (3INI(
50 Masa inkubasi
2. Masa prodromal
3. Masa eksantema
O
,-.A/ 01A2A 1 (AS* 3 *2* FA2'(4
O
'(506AS' ""-78 9A2' 1 setelah itu ge:ala ;
O
<'2-M'A MA/-2(A, 1 9-MA/*4-( 1 6A2'-2
P,AS-(/A 1 '(F-5S' PA1A 9AS', 5*(S-PS'
O
<'2-M'A F-/A, 1 5-,A'(A( *24A( ,0AS
O
=# % '(F-5S'0S 6-260,A(-60,A(
)enyebaran
/%"% 1("%N01/%

B:O eksantema *'+, F:'C:O gejala *'+

AI'A@ hari setelah terpapar


1
e-ant/ema kraniokaudalQsentrifugal *F'Bhr+,
J!' gatal, J!'mengelupas halus
1 artralgia >7minggu, limfadenopati ?"minggu

#erajat penyakit terhadap ibu tidak berdampak


terhadap resiko infeksi janin

/akin muda U( *0risemester pertama, U(WAAminggu+


X = kelainan berat Q = abortus

/enetapnya $irus dalam sel uterus ; kelainan


)eriode neonatal
anemia hemolitika, hepatitis, nefritis,
ensefalitis, pankreatitis, osteomielitis
1. Sindroma rubella kongenital
2. Extended
3. Delayed
GE4ALA RU3ELLA KONGENI$AL
F kategori
)?$OMEGALO+IRUS
+!rus DNA #olon#an /erpes&!r!dae

6asa in2u#asi : 91F $inggu

(arakteristik 6 mampu adaptasi 1 masa


laten! dormant.

#aya tahan 1 = resiko kambuh

*:,F'9 O+ )enyebab utama infeksi kongenital


0%N/I"I

(ontak langsung *sali$a, urin,


sekresi ser$iks dan $agina, sperma,
%"I, airmata+, 2espirator!
droplets, 0ransplantasi organ,
tranfusi darah

/akin muda U(X = kelainan


berat Q = abortus

Infeksi primer; plasenta;


transmisi ke janin
/anifestasi klinis pada Ibu .amil

TE:O asimpomatik

W C O /ononukleosis'like syndrome
major 6 biasanya tidak terdeteksi
demam, adenopati cer$ical, sakit
tenggorokan, splenomegali,
hepatomegali, dan rash
/inor6 malaise, fatigue, pusing, dan myalgia
/anifestasi klinis pada Bayi

Jarang simtomatis pada bayi baru lahir

demam, :aundice, gangguan paru,


pembengkakan kelenjar limfe, pembesaran
hati dan limpa, ash, mikrosepali, %nemia,
0rombositopenia

menyebabkan buta, tuli, retardasi mental,


kematian

Baru tampak gejala ; masa pertumbuhan


1"I(& 6

33LR

Prematur 7>@8>A

Kemat!an !ntra uter!n

Mortal!tas 6>@7>A

Aortus
KOMPLIKASI

In"eks! SSP 6 meningoencephalitis, kalsifikasi,


mikrosefali, gangguan migrasi neuronal, kista matriks
germinal, hidrosefalus
,ejala 6 kelesuan, hypotonia, kejang, dan
"ensorineural hearing defisit *"N.#+

Kela!nan mata 6 korioretinitis, neuritis optik,


katarak, koloboma, mikroftalmia

Hepatome#al! 6 = serum bilirubin direk transaminase


#I%,N&"I"

0es serologi

%mniosentesis * paling baik U( 9A'9Fminggu+


-
Isolasi $irus *cara terbaik tapi 5aktu lama+
tenggorokan, urin, dan cairan tubuh
-
)4

)emeriksaan radiologi

)emeriksaan laboratorium
Pen!la!an Has!l Serolo#!
In"eks! Pr!mer :

0iter antibodi anti 4/V 7 T B U

,o@ 'g4 AAidit!

Isolasi $irus

%ntibodi Ig/ ibu *J+


In"eks! Kon#en!tal :

Ig/ spesifik serum janin *J+

Isolasi $irus

(onfirmasi imunologi spesifik


)1/1I("%%N %#I&3&,I
%USG2 )$ s.an2 MRI'
Identifikasi6

)J0 simetri, hidrop, asites, kelainan ""),


oligohidramnion, polihidramnion, hidrops
nonimun, asites janin, mikrosefali,
hidrosefalus, kalsifikasi intrakranial,
hepatosplenomegali, dan kalsifikasi
intrahepatik
)1N41,%.%N

mengendalikan infeksi 4/V 6 YY

/enjaga kebersihan

.indari kontak dengan sumber infeksi

"creening pada transfusi darah atau transplantasi organ

%ntibodi tak dapat lindungi kemungkinan infeksi


berikutnya 1 $aksinasi Y

menunda kehamilan bila J infeksi primer 4/V


$ERAPI
o
0idak ada pengobatan yang efektif.
o
meredakan gejala dan mencegah komplikasi
-
)ilihan terbaik dan pencegahan6 #ans!klo&!r dan
&al#ans!klo&!r.
-
lini kedua6 foscarnet dan cidofo$ir

efek samping terhadap janin


o
4ytomegalo$irus Intra$enous Immune ,lobulin
*.uman+ *4/V'I,IV+
imunisasi pasif , profilaksis
Herpes Gen!tal Rekuren

ekurensi bersifat ?self limitingR dengan


terapi suportif

ekurensi ringan;pemberian sedini mungkin


terutama erupsi belum muncul

#osis 6
7
%cyclo$ir C dd 9:: mg selama C hari
7
2amciclo$ir 9 dd A9C mg selama C hari
7
Valaciclo$ir A dd C:: mg selama C hari
)engobatan

%cyclo$ir 6
7
)enghambat kompetitif polimerase #N%
$irus dan merusakrantai #N%
7
"elektif terhadap sel terinfeksi
7
(eamanan tinggi, termasuk bayi

Vaksin 6 belum ada yang efektif


(-R+3A8AS+)