Anda di halaman 1dari 35

1 BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Tanaman tebu tumbuh di daerah tropika dan subtropika di sekitar khatulistiwa sampai batas garis isotherm 20 yakni kurang lebih antara 30 lintang utara dan 35 lintang selatan (Notojoewono 1967). Tanaman tebu (Saccharum officinarum) dimanfaatkan sebagai bahan baku utama dalam industri gula. Pengembangan industri gula mempunyai peranan penting bukan saja dalam rangka mendorong pertumbuhan perekonomian di daerah serta penambahan atau penghematan devisa, tetapi juga langsung terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat dan penyediaan lapangan kerja (Farid, 2003). Hasil evaluasi akhir tahun 2009 dan sementara tahun 2010 menunjukan bahwa pencapaian sasaran produksi secara nasional memang beium sepenuhnya tercapai yaitu produksi pada tahun 2009 sebesar 2,6 juta ton masih 96 % dari target sebesar 2,8 juta ton sedangkan produksi tahun 2010 sesuai retaksasi September 2010 sebesar 2,29 juta ton atau 76,59 % dari target sebesar 2,99 juta ton. Akan tetapi jika dilihat keragaannya dari tahun 2003 sejak awal pelaksanaan program akselerasi peningkatan produktivitas tebu menunjukan angka kenaikkan yang menggembirakan yaitu dari produksi gula sebesar 1,632 juta ton pada tahun 2003 meningkat 40,9% menjadi 2,29 juta ton pada tahun 2010. Produksi yang cenderung menurun tersebut disebabkan antara lain oleh anomali perubahan iklim global yang berdampak pada penurunan kualitas panen dan rendemen (Dirjenbun, 2013). Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa produksi gula di Indonesia masih kurang untuk memenuhi seluruh permintaan pasar. Oleh karena produksi tebu yang rendah, maka diperlukan suatu jalan keluar yakni dengan menanam varietas terbaik dan unggul untuk mendapatkan rendeman terbanyak guna memenuhi konsumsi tebu. Perlakuan dan sistem yang digunakan untuk budidaya tebu pun harus sesuai dengan pola pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu supaya menghasilkan rendemen yang maksimal dan optimal.
0 0 0

2 1.2 Tujuan Mengetahui perlakuan yang sesuai dan tepat untuk diterapkan terhadap tanaman tebu yang dibudidayakan sehingga mampu memproduksi tanaman yang sehat yang memiliki rendemen yang maksimal.

1.3 Manfaat Mengetahui varietas yang terbaik untuk pembudidayaan tanaman tebu sehingga mampu meningkatkan rendemen tebu.

3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Klasifikasi Regnum : Plantae Divisio : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Subkelas : Monocotyledoneae Ordo : Glumaceae Famili : Graminae Genus : Saccharum Spesies : Saccharum officinarum (IPB, 2013) Morfologi a) Batang Tebu

Gambar 2.1 Struktur Batang Tebu (James 2004)

Batang tebu merupakan bagian yang penting karena bagian inilah yang akan dipanen hasilnya. Pada bagian ini banyak terdapat nira yang mengandung gula dengan kadar mencapai 20%. Kandungan gula pada batang tebu optimal terjadi setelah fase pertumbuhan vegetatif dan menurun sebelum fase kematian (Sutardjo, 1994). Bagian ujung atau pucuknya memiliki kandungan gula yang lebih tinggi daripada bagian pangkal batang. Gula pada tebu berupa sukrosa yang

4 akan mencapai kadar maksimum jika tebu berumur 12 14 bulan atau telah mencapai masak fisiologis. Bagian internode (ruas batang) dibatasi oleh node (buku) yang merupakan tempat duduk daun tebu. Pada ketiak daunnya terdapat mata atau kuncup, letak mata pada ketiak daun berseling. Begitu juga dengan letak daun pada batang juga berseling. Panjang batang tebu pada saat panen berkisar antara 2 4 m dengan diameter 2.5 5 cm. Pada kondisi ini batang tebu sudah layak untuk diproses menjadi gula. Secara morfologi batang tebu dibagi menjadi 2 bagian yaitu node dan internode. Bagian node terdiri dari lingkaran tumbuh (growth ring), bagian akar (root band), bagian daun (leaf scar), sedangkan bagian internode terletak di antara node berjumlah 20-30 ruas. Di bagian akar (root promordia) akan tumbuh tunas baru yang berupa kuncup yang merupakan cikal bakal batang tebu di mana batang tebu akan tumbuh lebih dari satu batang. Mekanisme tumbuh dari batang tebu berasal dari tunas yang tumbuh di bagian akar di mana batang tebu ditanam secara horizontal. Apabila batang tebu dipotong maka batang tebu dibagi menjadi tiga bagian yaitu batang primer, batang sekunder dan batang tersier.

b) Daun Tebu

Gambar 2.2 Struktur Daun Tebu (James 2004).

5 Tanaman tebu memiliki daun yang terdiri dari pelepah daun dan helai daun. Pelepah daun berfungsi sebagai pembungkus ruas daun, batang muda yang masih lunak dan mata. Helai daunnya berbentuk pita dengan panjang 1 2 m dan lebarnya 2 7 cm sesuai dengan varietas masing-masing dan keadaan lingkungan (Setyamidjaja dan Azharni, 1992). Daun tanaman tebu mengandung silikat. Permukaan daun kasap dengan tulang daun memanjang pada bagian tengah. Tepi daunnya tidak rata atau bergerigi. Posisi daun tebu melekat pada batang dan tumbuh pada pangkal node. Setiap daun terdiri dari bagian yang melekat (sheath) dan bagian yang tidak melekat (blade or lamina). Bagian yang melekat (sheath) berbentuk seperti pipa yang menyelimuti batang dengan panjang dari bawah sampai atas batang. Daun tebu mempunyai struktur yang tipis dan mudah sobek (James 2004).

c) Pucuk Tebu

Gambar 2.3 Pucuk tebu pada masa tebu siap dipanen (James 2004)

Pucuk tebu terdiri dari beberapa daun tebu, untuk satu pucuk tebu terdiri dari 3 sampai 4 daun.

6 d) Bunga Tebu

Gambar 2.4 Bunga tebu pada masa tebu siap dipanen (James 2004)

Seperti halnya famili Graminae pada umunya, bunga pada tanaman tebu tersusun berupa malai. Tipe penyerbukan pada tanaman ini adalah menyerbuk silang yang secara alami dibantu oleh angin. Pembungaan terjadi setelah tebu mencapai umur dewasa yaitu antara 12 14 bulan. Bunga tebu terjadi pada perubahan dari fase vegetative ke fase reproduktif. Menurut Steven 1965 bunga tebu tumbuh setahun dua kali dengan penyinaran matahari yang baik (James 2004).

2.2 Syarat Tumbuh Tanaman tebu dapat tumbuh baik pada daerah beriklim tropis namun masih dapat tumbuh pada daerah beriklim sedang dengan daerah penyebarannya antara 350 LS dan 390 LU. Tanaman ini membutuhkan air dalam jumlah besar. Curah hujan yang optimum untuk tanaman tebu adalah 2000 2500 mm per tahun dengan hujan tersebar merata. Produksi yang maksimum akan dicapai pada kondisi dimana terdapat perbedaan yang ekstrim antara musim hujan dan musim kemarau. Suhu yang baik untuk tanaman ini berkisar antara 22 270 C. Kelembaban nisbi yang dikehendaki adalah 65 85 % (Sudiatso, 1981). Penyinaran matahari langsung sangat baik untuk pertumbuhan tanaman tebu. Sinar matahari tidak hanya penting dalam pembentukan gula dan tercapainya kadar gula yang tinggi pada batang, tetapi juga mempercepat proses pemasakan. Pada lama penyinaran 7 9 jam per hari akan dicapai kandungan sukrosa maksimum (Setyamidjaja dan Azharni, 1992). Menurut Sudiatso (1981),

7 pertumbuhan pada tebu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kultivar, suhu, intensitas sinar matahari, kelembaban, kesuburan dan keberadaan gulma. Semua tipe tanah cocok untuk pertanaman tebu, namun tanah yang baik untuk pertumbuhan tebu yaitu tanah dengan jaminan kecukupan air yang optimum dengan pH tanah antara 5.5 7.0 (PT. BRI bekerjasama dengan LMAA-IPB, 2001). Pada pH tanah diatas 7.0, tanaman sering mengalami kekurangan unsur fosfor. Pada pH tanah dibawah 5.5 dapat menyebabkan terhambatnya proses penyerapan unsur hara dan air dari tanah oleh akar tanaman. Tebu dapat hidup dengan baik pada ketinggian 5 500 meter di atas permukaan laut, daerah beriklim panas dan lembab dengan kelembaban lebih dari 11-70%, hujan yang merata setelah tanaman berumur 8 bulan dan suhu udara berkisar antara 28 340 C (Slamet, 2004). Faktor tanah yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tebu adalah fisik tanah, drainase, kimia tanah dan jenis tanah. Struktur tanah yang ideal adalah tanah yang gembur sehingga aerasi udara dan perakaran berkembang sempurna. Tekstur tanah ringan sampai agak berat dengan berkemampuan menahan air cukup dan porositas 30% merupakan tekstur tanah yang ideal bagi pertumbuhan tanaman tebu. Kedalaman tanah untuk pertumbuhan tebu minimal 50 cm dengan tidak ada lapisan kedap air dan permukaan air 40 cm. Tanaman tebu akan tumbuh baik pada tanah dengan kedalaman yang cukup dengan drainase yang baik dan dalam, lebih kurang satu meter dalamnya. Tanah dengan sistem drainase yang baik dapat menyalurkan pembuangan air selama musim penghujan. Kelebihan air pada daerah perakaran juga dapat dikurangi. Kimia tanah meliputi kandungan unsur hara, pH tanah dan bahan racun dalam tanah. pH tanah untuk pertumbuhan tanaman tebu yang paling optimal berkisar antara 6,0 7,5. Bahan racun dalam tanah utamanya adalah unsur Clor (Cl), Fe dan Al. kadar Cl 0,06 - ),1 % telah bersifat racun bagi akar tanaman. Tanaman tebu dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah seperti tanah alluvial, grumosol, latosol dan regusol. Tanah yang baik untuk ditanami tebu adalah tanah endapan abu kepulan seperti yang terdapat di Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Jombang dan Jember. Tanaman tebu dapat tumbuh baik dipantai sampai dataran tinggi antara 01400 m diatas permukaan laut, tetapi mulai ketinggian 1200 m diatas permukaan

8 laut pertumbuhan tanaman relatif lambat. Lahan terbaik bagi tanaman tebu dilahan kering/tegalan adalah lahan dengan kemiringan kurang dari 8% sampai 10% dapat juga digunakan untuk areal yang dilokalisir. Syarat lahan tebu adalah berlereng panjang, rata dan melandai sampai 2% apabila tanahnya ringan dan sampai 5% apabila tanahnya lebih berat. Faktor iklim yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman tebu adalah curah hujan, temperatur, sinar matahari, angin dan kelembaban udara. Tanaman tebu memerlukan curah hujan yang berkisar antara 1.000 1.300 mm pertahun dengan sekurang-kurangnya tiga bulan kering. Daerah dengan curah hujan tahun terbesar 1500-3000 mm diikuti dengan penyebaran sesuai dengan kebutuhan tanaman tebu merupakan daerah yang baik untuk pengembangan tebu. Daerah dengan jumlah curah hujan terbesar 1200 1300 mm dengan bulan kering 6-7 bulan masih dapat dikembangkan asalkan kelembaban tanah cukup tinggi dan dapat diusahakan pengairan. Selama periode pemanasan tebu dibutuhkan bulan kering, curah hujan diatas evapotranspirasi mengakibatkan kemasakan tebu terlambat dan kadar gula rendah. Suhu udara minimum yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman tebu adalah 240 C dan maksimum adalah 340 C sedangkan temperatur optimum adalah 300 C. Pertumbuhan tanaman akan terhenti apabila suhu dibawah 150 C. Pembentukan sukrosa terjadi di siang hari dan berjalan secara optimal pada suhu 300 C. Sukrosa yang terbentuk pada malam hari akan ditimbun/disimpan pada batang dimulai dari ruas yang paling bawah. Penyimpanan sukrosa yang paling efektif dan optimal pada suhu 150 C. Tanaman tebu merupakan tanaman tropik yang membutuhkan penyinaran 12-14 jam setiap harinya. Pada kondisi seperti itu tanaman akan tumbuh baik dan dapat menghasilkan bunga. Cuaca yang berawan pada malam hari menaikkan suhu udara, karena panas yang dilepas oleh bumi tertahan oleh awan. Suhu yang meningkat dimalam hari akan mengakibatkan pernafasan dan menurunkan penimbunan sukrosa pada batang tebu. Angin yang berhembus di perkebunan tebu berperan untuk kelancaran pertukaran udara di dalam kebun tebu, keseimbangan kelembaban udara dan mengatur kadar zat asam arang (CO2) disekitar tajuk untuk proses fotosintesa. Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam disiang hari akan berdampak positif bagi pertumbuhan tebu, angin keras atau angin dengan kecepatan melebihi

9 10 km/jam disertai hujan lebat akan mengganggu perumbuhan tanaman tebu. Tanaman tebu yang tinggi dapat patah dan roboh sehingga mengganggu fotosintesa dan penebangan. Kelembaban udara ralatif tidak banyak

mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman tebu asal tersedia air yang cukup. Kelembaban yang rendah (45-65%) sangat baik untuk pemasakan karena tebu sangat cepat kering (IPB, 2013).

2.3 Fase Pertumbuhan Fase perkecambahan ditandai dengan berkecambahnya ruas-ruas muda lebih cepat kurang lebih selama dua minggu. Kecepatan berkecambah tergantung pada jumlah kadar air didalam ruas/mata tebu. Pada fase ini jangan mengelupas pelepah daun, karena berfungsi sebagai pelindung alami untuk mencegah penguapan. Sebelum masa tanam, benih di kebun bibit sebaiknya disiram dan diberi pupuk (mes). Jika pertumbuhan ruas-ruas tebu kurang baik maka dapat dilakukan perlakuan sebagai berikut: 1) merendam benih dalam air mengalir; 2) merendam benih dengan larutan kimia seperti kapur, larutan Canitrat 1%, larutan Ethyl-alkohol 10% atau larutan amonium fosfat 1%; 3) memberi perlakuan benih dengan larutan fungisida (fungisida-triscabol 1/6% dan trifungol); 4) dapat dilakukan dengan insektisida (benzee-hexa-chlorida) bersama-sama dengan pupuk. Fase pertumbuhan anakan masa pertumbuhan anakan dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain kadar air dalam pelepah daun. Kadar air didalam pelepah daun mempunyai korelasi positif dengan kecepatan tumbuh, sehubungan dengan hal tersebut tanaman harus diberi cukup air dan unsur hara (pupuk). Pemberian pupuk nitrogen (ZA/urea) dapat menambah jumlah anakan dan pemberian pupuk fosfat (DS/TSP) pada tanah yang kekurangan fosfat. Pada umur sekitar 2-3 bulam merupakan waktu tumbuhnya jumlah anakan, jadi saat inilah tanaman harus mendapat perhatian. Fase pertumbuhan merupakan fase tumbuhnya perakaran yaitu akar benih yang tumbuh pada akar-akar stek dan akar biasa yaitu akar yang tumbuh dari tunas tanaman baru. Selanjutnya perakaran mengalami perkembangan di tiga

10 bagian yaitu: 1) akar dangkal yaitu akar yang letak dan tumbuhnya dekat dengan permukaan tanah; 2) akar penegak yaitu akar yang letak dan tumbuhnya bersudut 45-60 ke bawah, akar ini merupakan akar yang paling besar; dan 3) akar dalam yaitu akar yang tumbuh dan tegak lurus ke bawah dan menerobos tanah sampai dalam (Hunsigi, 1993). Fase pemanjangan batang berkisar antara 3-9 bulan. Fase ini merupakan fase paling dominan dari keseluruhan fase pertumbuhan tebu. Proses pemanjangan batang merupakan pertumbuhan yang didukung dengan perkembangan beberapa bagian tanaman yaitu perkembangan tajuk daun, akar dan pemanjangan batang. Fase ini terjadi pada saat fase pertumbuhan tunas mulai melambat dan terhenti. Terdapat dua unsur dalam pemanjangan batang yaitu diferensiasi ruas dan perpanjangan ruas-ruas tebu. Fase ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama sinar matahari, kelembaban tanah, aerasi, ketersediaan hara nitrogen dalam tanah dan faktor inheren tebu. Fase kemasakan/fase generatif maksimal berkisar antara 10-12 bulan. Fase ini diawali dengan semakin melambat dan terhentinya fase pertumbuhan vegetatif. Tebu yang memasuki fase kemasakan, secara visual ditandai dengan pertumbuhan tajuk daun berwarna hijau kekuningan, pada helaian daun sering dijumpai bercak berwarna cokelat. Pada kondisi tebu tertentu kadang ditandai dengan keluarnya bunga. Selain sifat inheren tebu, faktor lingkungan yang berpengaruh cukup dominan untuk memacu kemasakan tebu antara lain kelembaban tanah, panjang hari dan status hara tertentu seperti nitrogen (Satuan Kerja Pengembangan Tebu Jatim, 2005) . 2.4 Teknik Budidaya Tebu Perbanyakan tanaman tebu dilakukan secara vegetatif dalam bentuk stek, yakni stek batang tebu yang mempunyai ruas dengan bakal tunasnya. Perbanyakan melalui vegetatif akan mempunyai konsekuensi diperolehnya karakteristik keturunan yang identik dengan tetuanya. Pada dasarnya bibit yang digunakan harus baik, yakni harus sehat dan segar. Kemurnian varietas harus diatas 99% dan daya tumbuh 95%.

11 Usaha budidaya tebu bergantung pada kualitas bibit yang digunakan. Komposisi varietas masak awal, tengah, dan akhir perlu diperhatikan agar rendemen tebu giling dapat diperoleh hasil yang terbaik. Idealnya bibit dipanen pada umur tujuh bulan agar hasil yang diperoleh maksimal. Bibit tebu tidak memerlukan rendemen yang tinggi sehingga dosis nitrogen dan penggunaan komposnya dapat ditingkatkan, sehingga pertumbuhannya lebih baik dan produktivitas tebu meningkat. Pembukaan dan penanaman dimulai dengan pembuatan got-got. Ukuran got standar untuk got-got keliling atau mujur lebar 60 cm dan dalam 70 cm sedangkan untuk got malang atau palang lebar 50 cm dan dalam 60 cm. Tanah yang akan digunakan untuk menanam diberikan TSP sebanyak 1 kuintal/ha. Tanah digaris menggunakan alat yang runcing dengan kedalaman 5-10 cm kemudian bibit dimasukkan ke dalam bekas garisan dengan mata bibit menghadap ke samping. Bibit tersebut ditimbun dengan tanah. Waktu tanam yang tepat di lahan kering atau tegalan pada periode I adalah awal musim bulan Mei-Agustus sedangkan periode II adalah awal musim hujan bulan September-Nopember. Sulam dilakukan 5-7 hari setelah tanam untuk mengetahui bibit yang mati. Memasuki minggu 3-4 dilakukan pembumbunan tanah dengan cara

membersihkan rumput dan membalik tanah. Pelepasan daun kering dari ruas-ruas tebu dilakukan selama tiga kali agar ruas-ruas tebu bersih dan akar-akar baru segera tumbuh dari ruas-ruas yang paling bawah. Batang-batang tebu yang roboh atau miring perlu diikat, baik silang dua maupun silang empat. Pemupukan dengan memberikan pupuk ZA dengan ketentuan standar tebang I 0,5-1 kuintal/ha dan tebang II (tebu tunas) 1,5-2 kuintal/ha. Panen tebu dilakukan pada tingkat kemasakan optimum, yaitu pada saat tebu dalam kondisi mengandung gula tertinggi. Umur panen tanaman tebu berbeda-beda tergantung jenis tebu. Varietas genjah masak optimal pada umur lebih dari 12 bulan, varietas sedang masak optimal pada umur 12-14 bulan,dan varietas dalam masak optimal pada umur lebih dari 14 bulan. Panen dilakukan pada bulan Agustus saat rendemen maksimal dicapai. Tanaman tebu yang telah memasuki umur cukup untuk panen kemudian dilakukan tebang angkut. Kegiatan tebang angkut harus tepat karena penanganan

12 yang tidak tepat dapat menimbulkan kerugian cukup besar. Panen tebu dilakukan dengan menebang batang-batang tebu yang sehat, mengumpulkan dan mengangkut ke pabrik gula untuk digiling. Penebangan dapat dilakukan secara manual maupun secara mekanis atau tenaga mesin. Penebangan tebu secara manual dilakukan dengan caramembongkar guludan tebu dan mencabut batangbatang tebu secara utuh kemudian dibersihkan dari akar, pucuk, daun kering, dan kotoran lainnya. Tebangan yang baik harus memenuhi standar kebersihan tertentu yaitu kotoran tidak lebih dari 5% (IPB, 2013).

2.5 Hubungan Perlakuan yang Digunakan Dengan Komoditas Tebu Tebu termasuk family Graminae, genus Saccharum. Terdapat tiga spesies tebu, meliputi S. officinarum, S. robustum, dan S. spontaneum, serta dua sub spesies, yaitu S. sinense dan S. barberi (Fauconnier, 1993). Saccharum officinarum adalah jenis tebu yang paling banyak dikembangkan dan dibudidayakan karena kandungan sukrosa yang tinggi (Sudiatso, 1982). Bibit tebu dapat berupa batang stek, baik yang matanya belum berkecambah atau yang sudah tumbuh (Satuan Kerja Pengembangan Tebu Jatim, 2005). Akselerasi penggunaan benih unggul tebu dengan Pembibitan bud chip terus digalakkan pada tingkat penangkar Kebun Benih Datar (KBD) dan petani pengembang untuk memenuhi permintaan bibit dalam mendukung program bongkar ratoon dan tanam tebu baru (plan cin). Penggunaan bahan tanam tebu bud chip merupakan penerapan teknologi budidaya tebu dalam upaya pencapaian program swasembada gula nasional. Perlakuan yang kami aplikasikan di lapang adalah sistem budchip. Pembibitan tebu budchips merupakan langkah maju pada penerapan program bongkar ratoon yang sering mendapat kesulitan memenuhi kebutuhan bibit bersertifikat yang diperoleh dari Kebun Bibit Datar (KBD). Penggunaan benih unggul tebu bud chips dalam 1 hektar kebun Bibit Datar (KBD) menghasilkan benih 50-60 ton setara 350.000- 420.000 mata tunas budchips. Kebutuhan bibit budchips dalam satu hektar pertanaman baru plane cin diperlukan 12000-18000 batang bibit setara 2-2,5 ton bagal. Sehingga dalam 1 ha luasan kebun bibit datar (KBD) mampu memenuhi kebutuhan areal tanam baru (plane cin) mencapai 29 -

13 35 ha. Pembuatan kebun bibit datar memerlukan biaya besar dengan penggunaan bibit tebu bud chips ini lebih evisien dan mampu menekan luas areal Kebun Bibit Datar ( KBD) mencapai 75-80%. Kurang tercapainya sasaran program bokar ratoon selama ini akibat terbatasnya bibit bersertifikat dari KBD karena kebutuhan bibit untuk tanam baru (plane cin) dari bagal memerlukan 8-10 ton bibit bagal perhektar sehingga 1 ha bibit dari KBD hanya mencukupi luas tanam baru 7-8 ha saja. Keunggulan bibit tebu budchip bagaikan pendekar satu mata karena bud chips setelah dipindahkan kelapang tebu mampu membentuk anakan 10-20 anakan. Anakan tersebutakan tumbuh sempurna sampai panen 8-10 batang per rumpun sedangkan bibit dari bagal anakan yang terbentuk 1-4 anakan saja. Yang lebih membanggakan bahwa bibit budchip dalam pembentukan anakan serempak pada umur 1-3 bulan. Pertumbuhan tanaman tebu sejak awal tumbuh seragam menjadikan tingkat kemasakan tebu dilapang sama mampu meningkatkan rendemen dan produksi persatuan luas tanam. Penanaman tebu diwilayah pengembangan dari bibit bud chips ini ditekankan pada areal yang berpengairan teknis atau daerah yang sebaran curah hujannya jelas dengan harapan dapat menekan resiko kematian dan jumlah penyulaman akibat mati kekeringan diawal tanam (Balittas, 2013).

PUSTAKA KURANG TOTAL, LIHAT SKRIPSI!

14 BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu Pelaksanaan : Senin, 30 September Senin, 25 November 2013

Tempat Pelaksanaan : Kebun Ngijo Universitas Brawijaya Malang 3.2 Alat dan Bahan Alat 1) Cangkul 2) Ember : untuk menggemburkan lahan budidaya tanaman : untuk mengambil air yang digunakan untuk irigasi lahan

3) Penggaris : untuk mengukur tinggi tanaman 4) Tugal 5) Alat tulis 6) Meteran 7) Kamera : untuk membuat lubang tanam dan lubang pemupukan : untuk mencatat hasil pengamatan : untuk menentukan jarak tanam : untuk mendokumentasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman untuk mendokumentasi hama/penyakit yang menyerang tanaman untuk mendokumentasi gejala atau tanda pada tanaman 8) Plastik Bahan 1) Pupuk kompos 2) Pupuk urea : untuk menambah bahan organik pada lahan pertanian : untuk mencukupi kebutuhan hara N pada tanah untuk mempercepat fase vegetatif tanaman 3) Pupuk KCl : untuk mencukupi kebutuhan hara K pada tanah untuk mempercepat fase generatif tanaman 4) Pupuk SP36 : untuk mencukupi kebutuhan hara P pada tanah untuk mempercepat fase generatif tanaman 5) Air 6) Bibit bud chip : untuk mengairi lahan pertanaman tanaman : sebagai bahan perlakuan bibit tebu yang ditanam : sebagai wadah menempatkan pupuk

15 3.3 Cara Kerja Persiapkan Alat dan Bahan

Pemilihan tempat penanaman

Lahan

Screen House

Gemburkan tanah menggunakan cangkul

Persiapkan media tanamnya

Tambahkan pupuk kompos pada lahan secara merata

Buat lubang tanam kemudian tanam benih bud chip

Atur jarak tanam (50x30 cm)

Siram benih tanaman

Buat lubang tanam kemudian tanam bibit tebu bud chip

Amati pertumbuhan mata tunas

Lakukan pemupukan (urea, KCL, dan SP36)

Lakukan perawatan dan pengamatan setiap minggu

Catat hasil pengamatan

16 3.4 Parameter Pengamatan Parameter pengamatan tanaman tebu 1. Tinggi tanaman Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan tanaman yang paling mudah dilihat. Dengan semakin tingginya tanaman dapat disimpulakan bahan asimilat hasil fotosintesis dan pupuk yang diberikan tersebar dan berpengaruh nyata pada pertumbuhan tanaman. 2. Jumlah daun Daun merupakan organ utama yang melakukan fotosintesis yang selanjutnya akan menyusun biomassa (berat kering) tanaman. Akumulasi bahan kering mencerminkan kemampuan tanaman dalam mengikat energi dari cahaya matahari melalui proses fotosintesis, serta interaksinya dengan faktor-faktor lingkungan lainnya. Distribusi akumulasi bahan kering pada bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun dan bagian generatif, dapat mencerminkan produktivitas tanaman. Dengan semakin banyaknya jumlah daun dapat disimpulakan bahan asimilat hasil fotosintesis dan pupuk yang diberikan tersebar dan berpengaruh nyata pada pertumbuhan tanaman.

17 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Data Pengamatan Tinggi Tanaman dan Bud Chip Tabel 1. Tinggi Tanaman Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelompok Bud Chip Senin Kelas A TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 11 8 10.5 10.5 9 6 11 5 7 6 8.4 PD 28 11 14 13.5 14.5 15 10.5 12.5 9 13.5 10 12.4 PT 35 17 19 17 22 18.5 14 16 12 17 14 16.7 PE 42 20 24 19 22 20 17 20 16 20 18 19.6 PL 49 27 25 23 29 23 18 24 18 22 20 22.9 PN 56 32 34 31 38 29 24 33 23 28 25 29.7 Mata Bud Chip K -

18 Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelompok Bagal Senin Kelas B TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 PD 28 6 8.5 21 24 18 60 38 55 28.8 PT 35 27.5 21 25 40 41.5 28 74 60 60 41.9 PE 42 36 13.5 19.5 67 51 29 89 77 69 50.1 PL 49 45 34 22 73 68 25 118 87 80 61.3 PN 56 70 42 25 89 106 20 47 151 125 103 77.8 Mata Bud Chip K -

Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelompok Bud Chip Senin Kelas C TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 28.4 18 27.2 36.4 34.7 35.3 52.2 49.5 38.5 44.6 36.48 PD 28 45 30 39 41 44 54 60 50 47 54 46.4 PT 35 50 34 49 62 55 68 72 57 53 57 55.7 PE 42 57 43 56 73 80 78 79 84 73 81 70.4 PL 49 86 59 61 81 85 90 85 86 77 84 79.4 PN 56 110 70 93 84 104 106 100 130 99 114 101

Mata Bud Chip K -

19 Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelompok Bud Chip Senin Kelas D TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 33 38 37 34 33 33 30 37 28 32 33.5 PD 28 63 67 76 82 75 72 81 82 67 83 74.8 PT 35 68 83 80 105 92 90 97 102 70 98 88.5 PE 42 70 86 87 110 105 104 106 115 85 115 98.3 PL 49 73 88 89 114 110 110 112 118 90 120 102.4 PN 56 78,5 90 124 131 140 120 125 120 126 137 123.7 Mata Bud Chip K -

Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelompok Bagal Senin Kelas E TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 PD 28 11 8 7 10 7 9 12 6 7 8.6 PT 35 16 14 11 17 11 16 21 16 13 15.0 PE 42 55 43 63 39 47 48 42 50 46 48.1 PL 49 90 68 72 65 77 92 80 72 22 85 72.3 PN 56 124 112 117 109 116 139 138 132 60 107 115.4

Mata Bud Chip K -

20 Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelompok Bud Chip Senin Kelas F TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 35 58 27 10 12 28 20 29 33 31 28.3 PD 28 42 68 36 19 18.5 39 29.5 38.5 41 44 37.6 PT 35 94.5 57.5 52.5 34.5 46 35 56 65 41 90 57.2 PE 42 99.5 85 60 48.5 74.3 47 99 68 52 48 68.1 PL 49 109 116 97 76 88 87 90 96 77 77 91.3 PN 56 120 149 108 107 108.5 111.5 118 115.5 105 97.3 114.0 Mata Bud Chip K -

Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelompok Bagal Senin Kelas G TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 PD 28 62 60 69 52 62 56 66 54 60 46 58.7 PT 35 78 80 77 60 74 58 75 60 80 65 70.7 PE 42 83 91 88 66 81 65 85 62 85 61 76.7 PL 49 107 99 106 75 105 77 96 76 110 80 93.1 PN 56 120 126 136 96 120 116 128 100 132 103 117.7

Mata Bud Chip K -

21 Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelompok Bagal Senin Kelas H TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 PD 28 57.5 65.4 61.2 53.4 68.5 53.3 15.3 24.3 5.6 2.2 40.7 PT 35 87 92 82.5 84.4 92 82.6 21 65.5 13.5 68.9 PE 42 94.5 104.8 98 95 109.6 95.5 28.6 81.5 15.2 80.3 PL 49 106 112 106.9 104.2 132.2 110.1 40 99 17.2 92.0 PN 56 111 133.1 119.5 124 152.1 132.6 55.8 105.6 25.2 10.4 96.9 Mata Bud Chip K -

Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Kelompok Bud Chip Senin Kelas I TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata 21HST 44 46.5 59 53.5 64 67 59 45 48 60 54.6 28HST 67 83 67 74 80 85 67 70 71 80 74.4 35HST 77 105 73 94 105 100 90 95 96 100 93.5 42HST 84 109 71 95 110 113 100 98 102 105 98.7 PL 49 103 120 75 119 127 110 113 118 115 128 112.8 PN 56 102 140 90 136 150 129 135 140 125 143 129

Mata Bud Chip K -

22 Keterangan: TS = tanaman sampel

PP 21 = pengamatan pertama umur tanaman 21 HST PD 28 = pengamatan kedua umur tanaman 28 HST PT 35 = pengamatan ketiga umur tanaman 35 HST PE 42 = pengamatan keempat umur tanaman 42 HST PL 49 = pengamatan kelima umur tanaman 49 HST PN 56 = pengamatan keenam umur tanaman 56 HST HST K = hari setelah tanam = keterangan

Grafik 1. Grafik Rata-rata Tinggi Tanaman


140 120 Tinggi Tanaman 100 80 60 40 20 0 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST Pengamatan ... HST 56 HST Bagal Bud Chip

4.1.2 Data Pengamatan Jumlah Daun Tabel 2. Jumlah Daun Tabel jumlah daun bibit bud chip

23 Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kelompok Bud Chip Senin Kelas A TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 5 5 4 4 4 4 4 5 4 4 4.3 PD 28 6 7 5 6 6 5 6 7 6 6 6 PT 35 7 9 7 7 7 7 7 6 7 5 6.9 PE 42 8 9 7 9 7 8 7 7 7 7 7.6 PL 49 11 9 8 9 9 9 7 7 8 9 8.6 PN 56 11 10 9 10 9 9 9 8 8 9 9.2 Mata Bud Chip K -

Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kelompok Bagal Senin Kelas B TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 PD 28 2 2 4 5 4 6 6 4 4.1 PT 35 4 4 4 6 6 3 7 7 5 5.1 PE 42 3 3 4 6 6 3 7 7 6 5.0 PL 49 4 5 5 8 7 3 9 8 5 6.0 PN 56 7 6 5 9 8 2 4 9 9 6 6.5

Mata Bud Chip K -

24 Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kelompok Bud Chip Senin Kelas C TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 5 6 8 5 5 7 8 9 5 6 6.4 PD 28 8 7 10 8 7 7 8 10 8 8 8.1 PT 35 10 9 11 10 14 9 13 13 9 16 11.4 PE 42 15 9 16 16 18 12 14 13 13 18 14.4 PL 49 35 15 33 30 31 17 17 22 19 23 24.2 PN 56 38 21 48 36 46 30 26 35 39 43 36.2 Mata Bud Chip K -

Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kelompok Bud Chip Senin Kelas D TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 4 5 5 6 5 4 5 4 5 5 4.8 PD 28 5 4 7 7 6 6 6 6 5 6 5.8 PT 35 5 8 9 5 7 6 6 5 6 5 6.2 PE 42 7 7 6 6 8 7 6 6 6 5 6.4 PL 49 7 7 7 7 7 7 7 7 7 6 6.9 PN 56 7 7 7 7 7 7 6 7 7 7 6.9

Mata Bud Chip K -

25 Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kelompok Bagal Senin Kelas E TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 PD 28 4 5 6 4 5 5 5 4 4 4.7 PT 35 6 6 7 5 5 6 8 5 6 6.0 PE 42 7 6 7 5 6 7 8 7 6 6.6 PL 49 7 7 7 6 6 8 8 7 2 7 6.5 PN 56 9 8 8 7 8 9 9 9 4 7 7.8 Mata Bud Chip K -

Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kelompok Bud Chip Senin Kelas F TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 4 3 5 3 2 4 3 2 6 2 3.4 PD 28 5 5 6 4 3 5 4 3 7 4 4.6 PT 35 16 10 9 9 6 13 3 8 4 9 8.7 PE 42 24 26 13 12 15 6 23 11 7 6 14.3 PL 49 37 24 26 15 27 15 7 37 17 23 22.8 PN 56 38 25 27 16 35 18 39 17 23 8 24.6

Mata Bud Chip K -

26 Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kelompok Bagal Senin Kelas G TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 PD 28 11 8 12 8 9 5 18 6 9 11 9.7 PT 35 28 26 28 15 16 9 24 6 28 21 20.1 PE 42 33 31 33 23 25 13 34 12 37 26 26.7 PL 49 35 30 39 26 33 19 35 20 39 27 30.3 PN 56 47 45 48 35 42 28 49 27 42 40 40.3 Mata Bud Chip K -

Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kelompok Bagal Senin Kelas H TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 PD 28 5 4 4 3 4 4 4 2 3.8 PT 35 6 6 5 4 5 5 7 4 2 4.9 PE 42 7 6 7 6 6 6 8 5 2 5.9 PL 49 8 9 10 9 8 8 10 8 5 8.3 PN 56 9 9 10 10 10 9 11 8 5 2 8.3

Mata Bud Chip K -

27 Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Kelompok Bud Chip Senin Kelas I TS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata PP 21 5 5 5 6 6 6 5 5 6 5 5.4 PD 28 6 8 11 10 10 8 7 6 6 8 8 PT 35 8 10 12 14 11 14 9 10 10 10 10.8 PE 42 15 19 23 25 28 29 17 19 27 17 21.9 PL 49 19 25 30 27 30 30 19 20 22 20 24.2 PN 56 27 22 30 25 28 32 29 26 29 29 27.7 Mata Bud Chip K -

Keterangan: TS = tanaman sampel

PP 21 = pengamatan pertama umur tanaman 21 HST PD 28 = pengamatan kedua umur tanaman 28 HST PT 35 = pengamatan ketiga umur tanaman 35 HST PE 42 = pengamatan keempat umur tanaman 42 HST PL 49 = pengamatan kelima umur tanaman 49 HST PN 56 = pengamatan keenam umur tanaman 56 HST HST K = hari setelah tanam = keterangan

28 Grafik 2. Grafik Rata- rata Jumlah Daun


45 40 35 Jumlah Daun 30 25 20 15 10 5 0 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST Pengamatan ... HST 56 HST Bagal Bud Chip

4.2 Pembahasan 4.2.1 Pembahasan Parameter Tinggi Tanaman Berdasarkan grafik parameter tinggi tanaman sistem bud chip

menunjukkan bahwa terjadi kenaikan tinggi tanaman untuk setiap minggunya. Dari pengamatan pertama tinggi tanaman rata-rata adalah 28,3 cm, hal tersebut dikarenakan pada waktu penanaman ke lahan bud chip sudah berupa mata tunas yang sudah berdaun dan berakar (sudah mengalami pertumbuhan dan perkembangan) karena sebelum ditanam ke lahan bud chip disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Untuk bagal, berdasarkan grafik parameter tinggi tanaman sistem bagal menunjukkan bahwa terjadi kenaikan tinggi tanaman untuk setiap minggunya. Namun, pada pengamatan minggu pertama tidak terjadi pertumbuhan tanaman, pertumbuhan terlihat terjadi pada pengamatan minggu kedua. Hal tersebut karena pada saat ditanam ke lahan bentuk bagal adalah batang bermata tunas. Batang tersebut dapat tumbuh dan berkembang untuk menghasilkan akar dan daun jika di dalam media tanamnya terkandung zat pengatur tumbuh, vitamin, dan nutrisi tanaman yang dapat menunjang pertumbuhannya. Menurut Brady (1990) bahwa bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah menyediakan zat pengatur tumbuh tanaman yang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman seperti vitamin, asam amino, auksin dan giberelin yang terbentuk melalui dekomposisi bahan organik.

29 Berdasarkan tabel dan grafik tinggi tanaman sistem bagal dan sistem bud chip menunjukkan bahwa kedua sistem tersebut menghasilkan tinggi tanaman rata-rata pada pengamatan keenam yang berbeda, yakni rata-rata tinggi tanaman sistem bagal 117,7 cm dan sistem bud chip 114 cm. Berdasarkan data ini dapat disimpulkan bahwa sistem bagal dengan sistem bud chip menghasilkan tinggi tanaman yang sama. Namun, keefisienan pemakaian bibit adalah bibit bud chip karena hanya memerlukan satu mata tunas sedangkan bagal memerlukan sekitar 2-3 mata tunas dalam satu bibit dan mata tunas tersebut masih menempel pada batang tebu. Keuntungan lain penggunaan sistem bud chip adalah bud chip mampu memproduksi anakan yang jauh lebih banyak dibandingkan sistem bagal sehingga akan dapat meningkatkan produk rendemen untuk pembuatan gula. Adapun faktor yang mempengaruhi perbedaan tinggi tanaman pada sistem bud chip dan bagal adalah kelebihan dan kekurangan masing-masing bibit. Kelebihan penggunaan bibit bud chip, antara lain: areal lahan untuk perbanyakan tebu lebih sedikit (efeisiensi lahan), kualitas bibit lebih tinggi (kemurnian, keseragaman, dan vigornya), persentase bibit tumbuh di lapangan lebih tinggi, penggunaan bibit lebih efisien (karena menggunakan 1 mata tunas), jumlah anakan tebu lebih banyak dibanding metode konvensional, menekan kematian bibit di lapangan, dan pemakaian bibit dari bud chips dapat meningkatkan kadar glukosa dan hasil batang tebu dibandingkan metode konvensional (2-3 mata tunas), serta ketersediaan bibit lebih terjamin karena penjenjangan kebun bibit lebih efektif dan efisien. Kekurangan penggunaan bibit bud chip, antara lain: memerlukan tenaga kerja yang terampil, umur bibit siap tanaman lebih pendek (sekitar 3 bulan), diperlukan alat untuk mengambil mata tunas (bor bud chip), dan diperlukan penyesuaian bibit dari persemaian/pembibitan sebelum ditanaman di lapangan (Prasetyo, 2013). Di lihat dari segi efektif dan efisien dalam proses pembibitan sebenarnya metode konvensional (bagal) tidak kalah dengan budchip apabila faktor-faktor pembatas yang ada selama ini di perbaiki terutama dalam hal penyediaan bibit yang berkualitas. Penggunaan bibit bagal yang dari sumber yang tidak jelas lah yang menyebabkan produksi tebu dari bibit bagal masih rendah.

30 Untuk kebun yang menggunakan bibit bagal kebutuhan bibit untuk 1 Ha tanam berkisar 80 ku/Ha atau setara dengan 54 ribu mata dengan asumsi panjang juring 9000 m/ha dan kebutuhan mata per meter adalah 6 mata), apabila di asumsikan tingkat kematian per ha adalah 10% dan 1 mata nanti akan keluar 2 batang maka dalam 1 ha akan ada 97 ribu batang. Melihat asumsi produksi kebun bibit dari bagal terlihat bahwa sebenarnya bibit bagal pun apabila di manage dengan baik hasilnya tidak kalah dengan yang dari bibit budchip. Dari uraian di atas belum bisa menjadikan budchip sebagai metode alternatif yang menggeser penggunaan bibit bagal karena secara ekonomis bibit budchip belum memberikan tambahan nilai ekonomi dan dari segi produksinya pun tidak lebih tinggi dari bibit bagal. Jadi dapat di simpulkan bahwa permasalahan bukan pada metode penyiapan bahan tanam tapi pada kualitas bahan tanam itu sendiri. Penyiapan bibit yang berkualitas yang sehat, murni dan terhindar dari hama penyakit dan seleksi mata bibit untuk mendapatkan mata tumbuh per meter adalah kunci dari keterpurukan industri gula (Aji, 2013).

Faktor-faktor yang memengaruhi sistem bagal dan bud chip ... ???

4.2.2 Pembahasan Parameter Jumlah Daun Pengaplikasian bud chip dilapang adalah ketika bud chip sudah mengalami pertumbuhan dan perkembangan perakaran dan munculnya daun di tempat persemaian. Setelah ditanam di lahan jumlah daun bud chip meningkat. Meningkatnya jumlah daun tidak terlepas dari adanya aktifitas pemanjangan sel yang merangsang terbentuknya daun sebagai organ fotosintesis terutama pada tanaman tingkat tinggi (Gardner et al, 1991). Pada bagal pun terjadi peningkatan jumlah daun untuk setiap minggunya namun, kenaikan pertama terjadi pada pengamatan minggu kedua hal tersebut dikarenakan perakaran bagal belum muncul pada pengamatan minggu pertama. Persentase jumlah daun rata-rata antara bagal dan bud chip terlihat berbeda. Pada bagal, jumlah daun untuk pengamatan keenam mencapai 40,3 helai sedangkan pada bud chip hanya mencapai 24,6 helai hal tersebut dapat dikarenakan kandungan N pada tanah yang

31 digunakan untuk lahan budidaya berbeda. Unsur N dibutuhkan tanaman dalam merangsang proses pertumbuhan vegetatif tebu secara keseluruhan (batang, cabang, daun) sehingga dibutuhkan dalam jumlah besar (Putri, et.al 2013). Apakah hanya unsur N saja .. ??? Jumlah batang pada saat awal pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh kualitas mata tunas bibit tebu dan ketersediaan pupuk N (Ismail, 2013). Mengingat stabilitas dan keseimbangan hara N dalam tanah sangat pendek (dijelaskan !!!!) (Tisdale et al., 1990), hal ini dapat dilihat dengan dibutuhkannya rotasi tanam berupa tanaman legum yang mampu mengikat N dari udara atau dilakukannya penambahan N menggunakan pupuk urea, sebab kandungan N dalam tanah semakin hari semakin menurun akibat unsur tersebut banyak digunakan oleh tanaman untuk metabolisme dalam perkembangannya. Menurut Lingga (1986), peran nitrogen bagi tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya batang, cabang, dan daun, serta mendorong terbentuknya klorofil sehingga daunnya menjadi hijau, yang berguna bagi proses fotosintesis. Selain itu menurut Suriatna (1988), nitrogen berfungsi mempercepat pertumbuhan tanaman, menjadikan daun tanaman menjadi lebih hijau dan segar serta banyak mengandung butir-butir hijau daun yang penting dalam proses fotosintesis. Selain itu nitrogen mempunyai fungsi dapat menambah kandungan protein dalam tanaman. Sedangkan menurut Soepardi (1983), menyatakan bahwa hampir pada semua berbagai jenis tanaman, nitrogen merupakan pengatur terhadap penggunaan kalium, fosfat dan bahan penyusun lainnya. Tanaman yang kekurangan nitrogen akan tumbuh kerdil, daun hijau kekuning-kuningan dan mudah rontok, akan tetapi jika kelebihan nitrogen, tanaman akan mudah rebah dan mudah terserang penyakit. Pengaruh penggunaan unsur ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah daun yang terbentuk. Pada kedua perlakuan memperlihatkan bahwa ada perbedaan jumlah daun yang mengasumsikan bahwa kandungan N dalam masing-masing lahan berbeda. Hal tersebut dapat disebabkan oleh pemberian pupuk N pada lahan berbeda atau kandungan N dalam masing-masing lahan berbeda. Namun, kemungkinan kandungan N pada lahan berbeda adalah kecil sebab penanaman dilakukan dalam petak yang sama yang membedakan hanya bedengan yang

32 digunakan untuk menanam. Semakin banyak jumlah daun mengakibatkan tempat fotosintesis bertambah sehingga fotosintat yang dihasilkan juga semakin meningkat. Fotosintat tersebut didistribusikan ke organ-organ vegetatif tanaman sehingga memacu pertumbuhan tanaman (Putri, et.al 2013). Salah satu organ vegetatif yang merespon pendistribusian fotosintat adalah daun dan batang, sehingga jumlah daun dan tinggi batang akan mengalami peningkatan seiring dengan terjadinya proses fotosintetis. Keberadaan gulma juga menjadi salah satu faktor yang bisa menurunkan hasil tanaman termasuk jumlah daun. Gulma ialah tumbuhan yang ada pada suatu areal tanaman yang mengganggu tanaman utama dan tidak dikehendaki keberadaannya. Kehadiran gulma di antara tanaman budidaya dapat menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsur hara, air, cahaya dan ruang tumbuh. Menurut Brown dan Brooks (2002), gulma menyerap hara dan air lebih cepat dibanding tanaman pokok. Tingkat persaingan antara tanaman dengan gulma bergantung pada curah hujan, varietas, kondisi tanah, kerapatan gulma, lamanya tanaman, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman saat gulma mulai bersaing (Jatmiko et al., 2002). Jumlah daun yang terbentuk pun dipengaruhi oleh faktor eksternal, antara lain temperatur udara. Menurut Dwijoseputro (l978) temperatur yang rendah dapat mempercepat pengubahan amilum menjadi gula hasil fotosintesis, dan juga translokasinya ke akar terhambat. Hal ini diduga mempengaruhi pertumbuhan apeks dan primordia daun yang sangat memerlukan hasil asimilat sebagai substrat metabolisme yang menghasilkan ATP yang mengakibatkan penurunan jumlah daun dan anakan per tanaman. Adapun pengaruh lain yaitu intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman. Intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan rusaknya struktur kloroplas yang membantu proses metabolisme tanaman, sehingga menyebabkan produktifitas tanaman menurun (Salisbury & Ross, l992). Pengaruh intensitas cahaya ini dapat dilihat pada ketidakserempakkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman kami, khususnya jumlah daun yang terbentuk pada sepuluh sampel tanaman.

33 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Rerata tinggi tanaman pada pengamatan keenam menunjukkan bahwa tinggi tanaman sistem bud chip berbeda jika dibandingkan dengan tinggi tanaman sistem bagal, yakni 114 cm untuk sistem bud chip dan 117,7 cm untuk sistem bagal. Hal tersebut dikarenakan kandungan bahan organik pada masing-masing lahan budidaya diasumsikan hampir sama. Rerata jumlah daun pada pengamatan keenam menunjukkan bahwa jumlah daun sistem bud chip berbeda nyata jika dibandingkan dengan jumlah daun sistem bagal, yakni 24,6 helai untuk sistem bud chip dan 40,3 helai untuk sistem bagal. Hal tersebut diasumsikan karena kandungan N dalam lahan budidaya sistem bud chip lebih sedikit jika dibandingkan dengan lahan budidaya sistem bagal, adanya kompetisi antara tanaman induk dengan gulma, temperatur yang rendah (tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman budidaya), dan intensitas cahaya yang tidak sesuai kebutuhan. (perlu ditambahi faktor lain). . 5.2 Saran Untuk asisten lapang mohon penjelasan atas materi perlakuan yang harus diterapkan beserta dampak positif-negatifnya lebih dijelaskan secara terperinci, mungkin ini dikarenakan asisten lapang memegang dua komoditas sehingga sangat kurang efektif untuk memperhatikan kedua komoditas secara imbang. Untuk asisten kelas mohon lebih santai lagi saat menerangkan materi praktikum sebab terkesan cukup galak, penjelasan dari materi yang disampaikan lebih banyak dan meluas sehingga tidak sepenuhnya dari PPT yang disajikan. Untuk kegiatan praktikum mohon jangan hanya melakukan pengamatan saja yang menyebabkan kami pulang lebih cepat dari jadwal sebenarnya, bisa saja selain pengamatan kami melakukan evaluasi keadaan tanaman dan lahan yang dipandu oleh asisten praktikum sehingga disamping kami menyimpulkan sendiri keadaan yang dialami tanaman dan lahan kami, kami mendapat kepastian yang akurat dari evaluasi yang dilakukan oleh asisten praktikum.

34 DAFTAR PUSTAKA Aji, Purnomo. 2013. Budchip Dilihat Dari Aspek Ekonomi.

http://fabriksuiker.wordpress.com/2013/02/17/budchip-di-lihat-dari-aspekekonomi/. Diakses 26 Desember 2013. Balittas, Litbang Kementerian Pertanian. 2013. Pengertian Pembibitan Sistem Budchip.http://balittas.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_cont ent&view=article&id=302:tebu&catid=15:benih&Itemid=43. Diakses 26 Desember 2013. Brown, K., and Brooks. K. 2002. Bushland Weeds: a Practical Guide to their Management, Environmental Weeds Action Network (WA) Inc. Perth WA. Dwidjoseputro,D.l978. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia: Jakarta Fauconnier, R. 1993. Sugarcane. The Macmilian Press LTD. London and Basing stoke. Gardner, P. F., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia (UI-Press): Jakarta Hunsigi, G. 1993. Production of sugarcane. Theory and practice. SpringerVerlag.Berlin. Ismail, I. 2013. Pengujian Pupuk N-alternatif Pada Tebu Tanaman Pertama (PC) Di PG Pesantren Baru dan PG Jombang Baru. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Jurnal Online, (Online), diakses pada 8 Desember 2013. Jatmiko, S.Y., Harsanti S., Sarwoto dan A.N. Ardiwinata. 2002. Apakah herbisida yang digunakan cukup aman? dalam J. Soejitno, I.J. Sasa, dan Hermanto (Ed.). Prosiding Seminar Nasional Membangun Sistem Produksi Tanaman Pangan Berwawasan Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.(3):337-348. Lingga, P. 1986. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar Swadaya. Prasetyo, Hari. 2013. Kekurangan dan Kelebihan Penggunaan Bibit Bud Chip. http://id.scribd.com/doc/135311443/Produksi-Bibit-Tebu-Metode-Budchiphariprasetyo-2013 Putri, A. D., Sudiarso, Islami, T. 2013.Pengaruh Komposisi Media Tanam Pada Teknik Bud Chip Tiga Varietas Tebu (Saccharum officinarum L.), Jurnal Online, (Online), diakses pada 7 Desember 2013.

35 Repository.ipb.ac.id.diakses pada tanggal 7 Desemeber 2013. Sallisbury F.B and C.W. Ross,l992. Plant Physiologi. Wadsworth Publishing Company Belmont, California. Satuan Kerja Pengembangan Tebu Jatim. Pertumbuhan Tebu. Jawa Timur. Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian. Bogor. Sudiatso, S. 1982. Bertanam Tebu. Departemen Agronomi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Suriatna, S. 1988. Pupuk dan Pemupukan. Mediatama Sarana Perkasa. Jakarta. Sutardjo, RME. 1994. Budidaya Tanaman Tebu. Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara.
th

2005. Standar

Karakteristik

Tisdale, S.L., W. L. Nelson, and J. D. Beaton. 1990. Soil Fertlity and Fertlizers.4 ed. MacMillan Publishing Company: New York.