Anda di halaman 1dari 2

.

5 Kutu Putih Daun Cabai (Aphys gosyphii) Morfologi Kutu dewasa berbentuk bulat memanjang (oval), lunak dengan segmen yang jelas, biasanya tertutup lilin yang berbentuk seperti tepung atau kapas. Warna badannya kuning kecoklatan, kuning muda atau kuning tua, panjang 3 4 mm dan lebar 1,5 2 mm. Telur berwarna kuning yang diletakkan di dalam kantong yang berbulu. Nimfa yang baru menetas dari telur berwarna hijau muda, kuning pucat atau merah tua tergantung stadianya. Serangga jantan lebih kecil dari yang betina, mempunyai dua sayap. Kutu aphis (Aphis gossypii) merupakan ordo homoptera karena banyak ditemukan di batang daun bunga dan kadang-kadang kulit buah berbagai tanaman (Anonim, 2009). Dengan siklus hidup sepanjang sebulan, (Aphis gossypii) bisa berbiak 11 sampai 12 generasi dalam setahun. Secara umum hama ini tidak banyak bergerak, kecuali larva instar-1 yang baru menetas dari telur yang memang tidak ditutupi lilin. Larva instar-1 ini dengan mudah melayang terbawa angin atau menempel pada burung, dan inilah yang membantu penyebaran kutu dari satu kebun ke kebun lain dan akan berkembang ada tanaman inang baru yang ditempelinya (Caspiati, 2009). Tanaman inang kutu putih (Aphys gosiphii) bukan hanya tanaman cabai saja namun tanaman inangnya juga dapat berupa tanaman Ubi kayu, jambu, pepaya, dan tanaman lainnya (Caspiati, 2009). Gejala serangannya adalah Serangga dewasa dan nimfa mengisap bagian tanaman, sehingga terjadi perubahan bentuk yang tidak normal. Pada tanaman yang terserang tampak dipenuhi oleh kutu-kutu putih seperti kapas (Anonim,2009). 2.6 Ulat Daun Kubis (Plutella xylostella) Morfologi ulat daun kubis (Plutella xylostella) terdiri atas caput, thorax, mulut, abdomen, dan mata faset. Ulat daun kubis (Plutella xylostella) larva sampai ke dalam tanaman. Larva yang baru menetas berlomba untuk menggerek buah kubis untuk pertumbuhan demi melangsungkan hidupnya. Larva terdiri atas empat instar. Tingkat kerusakan tergantung pada instar larva yang menyerang, semakin besar larva yakni pada instar 3 dan 4 bila populasi tinggi semakin berat kerusakan yang diakibatkan dengan memakan seluruh daun kecuali tulang daun pada tanaman yang belum membentuk krop (Mahfus, 2009). Siklus hidup hama ini dimulai dari telur hingga menjadi serangga (ngengat) berlangsung selama 2-3 minggu, tergantung dari keadaan temperatur udaranya. Pada daerah-daerah yang mempunyai ketinggian 1.250 m dari permukaan laut dan temperatur udaranya antara 14,5-24,6C, daur hidupnya bisa berlangsung hanya dalam 22 hari larva (Plutella xylostella) mengalami 4 instar yang berlangsung selama 12 hari. Tanaman inangnya ulat kubis (Plutella xylostella) adalah tanaman kubis, beberapa gulma dapat dijadikan inang kubis tidak ada (Faradita. Dkk 2005) Gejala serangan yang mudah diamati adalah daun kubis yang berlubang-lubang seperti jendelajendela yang menerawang, tinggal urat-urat daunnya saja. Jika jumlah larva (Plutella xylostella) relatif banyak, dapat menghabiskan tanaman kubis yang baru berumur 1 bulan dalam jangka waktu 3-5 hari. Umumnya larva menyerang tanaman muda, tetapi kadang-kadang merusak tanaman yang sedang membentuk bunga (Faradita, 2005). 2.7 Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella) Penggerek buah kakao memiliki bentuk morfologi seperti larva panjangnya sekitar 1 cm, tubuh bergaris, memiliki abdomen, dan alat pembuangan. Sekurangnya dibutuhkan waktu 35 45 hari oleh hama PBK untuk berkembang dari telur menjadi imago (serangga dewasa), sehingga wajar dalam waktu yang cukup singkat perkembangan hama PBK ini sangat cepat. Siklus hidup serangga PBK ini

sama seperti umumnya serangga lain yaitu : telur, larva, pupa dan imago (Hase, 2009). Siklus hidupnya dimulai dari. Telur telur berwarna kuning jingga berbentuk lonjong pipih dan berukuran 0.5 mm x 0.3 mm, diletakkan satu per satu oleh ngengat betina pada alur-alur permukaan buah. Enam-tujuh hari kemudian larva berwarna kekuningan yang panjangnya 1 mm ke-luar dari telur, langsung menggerek ke dalam buah dan tetap tinggal di dalam buah sampai menjelang berkepompong. Larva membuat liang gerekan di bawah kulit buah dan di antara biji serta memakan daging buah. Pada buah yang relatif muda hal itu menyebabkan biji melekat pada kulit buah dan melekat satu sama lain, sedang pada buah matang tidak me-nimbulkan kerusakan berarti pada biji tapi dapat menurunkan mutu biji. Gerekan pada buah muda menyebabkan biji tidak berkem-bang, lebih-lebih apabila terjadi perusakan pada saluran makanan yang menuju biji. Telur jarang diletakkan pada buah yang sangat muda. Apabila hal itu terjadi, larva PBK biasanya banyak yang mati atau tidak berkembang baik. Serangan larva PBK pada buah bagian anterior akan me-nyebabkan kerusakan lebih serius terhadap per-kembangan biji atau bahkan menyebakan pembu-sukan (Hase, 2009). Tanaman inang dari penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) adalah tanaman kakao, dan tanaman-tanaman disekitarnya, yang dapat memungkinkan induk ngengat dapat tumbuh menjadi ngengat dewasa (Anonim, 2009). Gejala baru tampak dari luar setelah ma-tang di musim panen, buah kakao yang terserang berwarna agak jingga atau pucat keputihan, buah menjadi lebih berat dan bila diguncang tidak terdengar suara ketukan antara biji dengan dinding buah. Hal itu terjadi karena timbulnya lendir dan kotoran pada daging buah dan rusaknya biji-biji di dalam buah. Kerusakan daging buah akibat serangan PBK disebabkan oleh enzim hek-so-kinase, malate dehidrogenase, fluorescent esterase and malic enzyme polymorphisms yang disekresi-kan oleh PBK (Suparno, 2009).