Anda di halaman 1dari 26

DAFTAR ISI PENGUJIAN KARBOHIDRAT SECARA KUALITATIF PENGUJIAN KARBOHIDRAT BENIH JAGUNG SECARA KUANTITATIF EKSTRAKSI GENOMIK DNA

DARI JARINGAN TANAMAN PENGUJIAN PROTEIN DALAM BAHAN SECARA KUALITATIF DAN KUANTITATIF PENGUJIAN SUFAT LIPIDA ISOLASI DAN PENGUJIAN ENZIM ALFA AMILASE 02 04 07

10 16 22

PENGUJIAN KARBOHIDRAT SECARA KUALITATIF


Alat Dan Bahan:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 13 tabung reaksi Pipet tetes Pipet ukur Rak tabung reaksi Vortex Waterbath Mikro pipet

o Uji molish 1. Glukosa 2. Sukrosa 3. Xilase 4. Pati 5. H2SO4 6. Reagen molis o Uji benedict 1. Glukosa 2. Fruktosa 3. Sukrosa 4. Reagen benedict o Uji iod 1. Glukosa 2. Sukrosa 3. Pati 4. Iodin o Uji luff 1. Glukosa 2. Sukrosa 3. Pati 4. Reagen luff 1ml 1ml 1ml 1ml 15 tetes 2 tetes 1ml 1ml 1ml 2ml 3ml 3ml 3ml 1tetes 2ml 2ml 2ml 1ml

Cara kerja:
1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Uji molish: Tuangkan glukosa, sukrosa, xilase, dan pati masing masing 1ml kedalam tabung reaksi. Tambahkan masing masing 2 tetes molish. Tambahkan H2SO4 melalui dinding tabung sampai terbentuk cincin ungu. Amati dan catat perubahan yang terjadi. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya cincin ungu. Uji benedict: Tuangkan glukosa, fruktosa dan sukrosa masing masing 1 ml kedalam tabung reaksi. Tambahkan 2 mili reagen benedict pada masing masing tabung. Vortex/kocok masing masing tabung. Amati dan catat perubahan yang terjadi. Kemudian panaskan ketiga tabung pada waterbath. Amati dan catat perubahan yang terjadi. Reaksi positif di tandai dengan terbentuknya endapan warna merah.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Uji Iod: Tuangkan glukosa, sukrosa dan pati masing masing 3 ml kedalm tabung reaksi. Tambahkan 1 tetes iodin pada masing masing tabung. Vortex/kocok masing masing tabung. Amati dan catat perubahan yang terjadi. Panaskan ketiga tabung pada waterbat. Amati dan catat perubahan yang terjadi. Reaksi positif di tamdai dengan berubahnya warna menjadi biru kehitaman. Uji Luff Tuwangkan glukosa, sukrosa dan pati masing masing 2 ml pada tabung reaksi. Tambahkan 1 ml luff pada masing masing tabung. Vortex/kocok masing masing tabung. Amati dan catat perubahan yang terjadi. Panaskan ketiga tabung pada waterbat. Amati dan catat perubahan yang terjad. Reaksi positif ditandai dengan adanya endapan warna merah.

HASIL PENGAMATAN Hasil pengamatan :


No 1 Pengujian Uji molish Sampel Glukosa Sukorsa Xilase Pati 2 Uji benedict Glukosa Hasil pengamatan Setelah di tetesi 15 tetes H2SO4, terjadi reaksi psitif yang di tandai terbantuknya cicncin ungu. Setelah di tetesi 15 tetes H2SO4, terjadi reaksi psitif yang di tandai terbantuknya cicncin ungu Setelah di tetesi 15 tetes H2SO4, terjadi reaksi psitif yang di tandai terbantuknya cicncin ungu Setelah di tetesi 15 tetes H2SO4, terjadi reaksi psitif yang di tandai terbantuknya cicncin ungu Sebelum dipanaskan, tidak terjadi reaksi positif. Setelah di panaskan terbentuk endapan merah yang menandai terjadinya reaksi positif Sebelum dipanaskan, tidak terjadi reaksi positif. Setelah di panaskan terbentuk endapan merah yang menandai terjadinya reaksi positif Sebelum dipanaskan, tidak terjadi reaksi positif. Setelah di panaskan tidak terbentuk endapan merah (tidak terjadi reaksi positif) Sebelum di panaskan (setelah di vortex) terbentuk warna kuning. Setelah di panaskan tidak berwarna (tidak terjadi reaksi positif). Sebelum di panaskan (setelah di vortex) terbentuk warna kuning. Setelah di panaskan tidak berwarna. Sebelum di panaskan (setelah di vortex) terbentuk warna biru kehitaman,sebagai penanda reaksi positif. Setelah di panaskan tidak berwarna. Sebelum di panaskan (setelah di vortex) larutran berwarna biru, tidak terjadi reaksi positif. Setelah di panaskan terdapat endapan merah yang menandai terjadinya reaksi positif Sebelum di panaskan (setelah di vortex) larutran berwarna biru, tidak terjadi reaksi positif.

Fruktosa

Sukrosa

Uji iod

Glukosa

Sukrosa

Pati

Uji luff

Glukosa

Sukrosa

Pati

Setelah di panaskan larutan berwarna hijau. Sebelum di panaskan (setelah di vortex) larutran berwarna biru, tidak terjadi reaksi positif. Setelah di panaskan tetap berwarna biru.

Pembahasan :
1) Uji Molish Pada uji molish, masing masing sampel ditetesi dengan H2SO4. H2SO4 ini berfungsi sebagai pendegradasi dan sebagai pembentuk cincin ungu. / sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula untuk furfural dan turunan ya yang kemudian di kombinasikan dengan - naftol untuk membentik produk berwarna. Jadi dapat disimpulkan bahwa uji molish bereaksi positif untuk semua jenis kabohidrat (Monosakarida / Glukosa), Disakarida (Sukrosa, Xilosa), Polisakarida (Amilum / Pati). 2) Uji Benedict Uji Benedict merupakan uji umum untuk Kabohidrat (Gula) Pereduksi (Yang memiliki gugus aldehid / keton bebas)uji . Pada Benedict, sebelum di panaskan semua sampel tidak menunjukan reaksi positif (Tidak ada endapan). Setelah di panaskan glukosa dan suktosa menunjukan adanya endapan merah. Sedangkan pada sukrosa tidak terbentuk. Jadi dapt disimpulkan bahwa uji Benedict bereaksi positif pada kabohidrat jenis monoskarida (Glukosa, Fruktosa, Dll), dan reaksi positifnya terjadi setelah di panaskan 3) Uji Iod Pada Uji Iod, sebelum dipanaskan glukosa dan sukrosa tidak menunjukan terjadinya reaksi positif (Terbentuk warna biru kehitaman). Setelah di panaskan semua sempel tidak berwarna. Hal ini membutihkan bahwa uji iod beraksi positif terhadap polisakarida ( amilum / Pati), dan reaksi positifnya terjadi sebelum di panaskan. 4) Uji Luff Uji luff adalah uji kimia kualitatif yang bertujuan menguji adanya gugus aldehid (CHO) salah satu manfaat praktis ui luff adalah menetahui adanya gula pereduksi / aclosa , yang memmiliki gugus aldehid, pada uji luff sebelum dipanaskan semua sampel tidak menunjukan terjadi yang reaksi positif. Setelah dipanaskan, pada glukosa terbentuk endapan merah yang menandai terjadinya reaksi positif. Sedangkan pada sukrosa dan patitidak terbentuk endapan merah. Hal ini membuktikan bahwa uji luff beraksi positif terhadap monosakaida (Glukosa, Fruktosa, malta, dll), dan reaksi positifnya terjadi setelah di panaskan

PENGUJIAN KARBOHIDRAT BENIH JAGUNG SECARA KUANTITATIF


1.1 Dasar Teori Karbohidrat merupakan komponen pangan yang menjadi sumber energi utama yang terdiri dari 3 unsur, yaitu C, H, dan O. Untuk menguji karbohidrat dapat digunakan 2 cara : 1. Uji secara kualitatif, untuk menguji ada tidaknya karbohidrat pada suatu sampel 2. Uji secara kuantitatif, menguji kadar / jumlah karbohidrat pada suatu sampel Uji kuantitatif disebut juga uji Somogy Nealson, digunakan untuk mengukur kadar gula reduksi (mengandung gugus aldehid / keton bebas, seperti glukosa dan maltosa). Sampel yang mengandung gula dibagi menjadi 2, yaitu : 1. Mengandung gula reduksi (golongan monosakarida, glukosa, dan maltosa) 2. Mengandung gula total, yaitu monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Untuk memecah gula total menjadi gula reduksi diperlukan suatu tahapan yang disebut hidrolisis (dengan cara dipanaskan), memanaskan juga berfungsi untuk mempercepat reaksi kimia.

1.2 Alat dan Bahan 1. 9 tabung reaksi 2. Rak tabung reaksi 3. Kuvet + spektrofotometer 4. Vortex 5. Waterbath 6. Filtrat jagung yang telah diekstraksi 7. Standart glukosa (20, 40, 60, 80, 100, 120, 140 ppm) 8. Reagen Nelson 9. Reagen Asenmolybdat 10. Aquades

1.3 Cara Kerja 1. Siapkan 9 tabung reaksi a. Tabung 1 tidak usah diberi standart glukosa (0 ppm) b. Tabung 2 standart glukosa 20 ppm, sebanyak 1 ml c. Tabung 3 standart glukosa 40 ppm, sebanyak 1 ml d. Tabung 4 standart glukosa 60 ppm, sebanyak 1 ml

e. Tabung 5 standart glukosa 80 ppm, sebanyak 1 ml f. Tabung 6 standart glukosa 100 ppm, sebanyak 1 ml g. Tabung 7 standart glukosa 120 ppm, sebanyak 1 ml h. Tabung 8 standart glukosa 140 ppm, sebanyak 1 ml i. Tabung 9 filtrat jagung 200 l = 0,2 ml 2. Tambahkan 1 ml reagen Nealson pada masing-masing tabung 3. Vortex untuk menghomogenkan 4. Panaskan dalam waterbath selama 15 menit 5. Dinginkan selama 10 menit 6. Tambahkan 1 ml reagen arsenmolybdat pada masing-masing tabung 7. Vortex untuk menghomogenkan 8. Tambahkan 7 ml aquades pada masing-masing tabung 9. Vortex untuk menghomogenkan 10. Masukkan masing-masing sampel pada kuvet, lalu ukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm 11. Buat kurva regresinya, dan tentukan konsentrasi glukosanya (ppm)

TABEL.Hasil Standart Glukosa dan Absorbansi No


1 2 3 4 5 6 7 8 (x) Standart Glukosa (ppm) 0 ppm 20 ppm 40 ppm 60 ppm 80 ppm 100 ppm 120 ppm 140 ppm Sampel Kelompok 1 (y) Asorbansi 0 0,183 0,413 0,586 0,882 1,016 1,12 1,448 0,738

TABEL. HASIL PRAKTIKUM BIOKIMIA Uji Kuantitatif Kabohidrat Benih Jagung


No 1 2 3 4 Sampel Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Asorbansi
0,738

Kosentrasi Glukosa ppm


155,3

CURVA STANDART GLUKOSA


1.6 1.4 1.2

BAB III PEMBAHASAN


y = 0.2015x - 0.2008 R = 0.9907

Absorbansi

1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 2 4 6 8 10

Kosentrasi Glukosa

Y = ax + b Y = 0,201x 0,200 0,783 = 0,201x 0,200 0,783 + 0,200 = 0,201x 0,983 / 0,201 = x 4,66 ppm

X=

...... x FP BS

= ket : FP = Faktor pengeceran BS = Berat sampel saat ekstraksi X = Kosentrasi Glukosa

X= 4,66 x (20ml/0,2ml) = 4,66 x 100 = 155,3 ppm 3gr 3gr

Jadi, Kosentrasi Glukosa Filtrat Jagung 3gr = 155,3pm

EKSTRAKSI GENOMIK DNA DARI JARINGAN TANAMAN


1.1 Dasar Teori Genom adalah keseluruhan bhan genetik yang membawa semua informasi pendukung kehidupan pada suatu mahlukhidup, baik merupakan gen tau bukan. Pada semua mahlukhidup, genom mencakup semua informasi genetik yang dibawa DNA, baik di inti sel (nukleus), mitokondria, maupun plastid. Genom yang mengkode informasi genetik inti terletak di kromosom, genom yang mengkode informasi genetik organel terletak di mitrokondria dan plastid. Pada praktikum ini, kita akan mencoba mengisolasi DNA dari tanaman, jaringan yangdigunakan adalah tanaman yang mengandung sedikit kontaminan, misalnya daun yang masih muda. DNA yang diisolasi dari tanaman seringkali terkontaminasi oleh polisakarida dan metabolis sekunder sepertitgnin, pigmen alkaloid dan flafonoid. Kesulitan dari isolasi tanaman tinggi adalah proses elestruksi dinding sel untuk melepaskan isi sel, karena tanaman mempunyai dinding sel yang kuat, sehingga sulit dipisahkan dari ekstrak asam nukleat. 1.2 Alat dan Bahan 1. Daun (cabe, tomat, kedelai, belimbing)yang masih muda 2. Mortar dan pastle 3. Mikropipet 4. Falcon tube 5. Eppendorf tube 6. Sentrifuge 7. Buffer ekstraksi 8. PCI ekstraksi 9. Alkohol absolute (100%) 10. Alkohol 70% 11. TE buffer 12. Aquades 13. Loading buffer 14. Gel elektroforesis (ELBR) 15. Elektroforesis tank 16. UV trasluminator 1.3 Cara Kerja 1. Bagi masing masing daun pada 4 kelompuk - Kelompok 1 ekstraksi daun cabai - Kelompok 2 ekstraksi daun tomat - Kelompok 3 ekstraksi daun kedelai - Kelompok 4 ekstraksi daun belimbing A. Ekstraksi DNA genom 1. Timbang daun cabai sebanyak 2 gram 2. Gerus sampai benar benar halus dengan mortal, tambahkan buffer ekstraksi untuk menghomogenkan, sebanyak 8 ml 3. Pindahkan homogen ekstraksi pada falcon tube 4. Sentrifus 5000rpm selama 10 menit 5. Setelah selesai, akan terpisah supernatan dan pelet 6. Pindahkan supernatan (4 ml) ke falcon berikutnya 7. Tambahkan PCI ekstraksi sesuai dengan volume supernatan (4 ml) 8. Sentrifus 5000 rpm, selama 10 menit

9. Setelah di sentrifus akan terbentuk 3 lapisan, pindahkan lapisan paling atas ke 3 eppendorf tube, @600 ml 10. Tambahkan PCI ekstraksi sesuai dengan volume supernatan (600 ml) 11. Sentrifus 12. Pindahkan supernatan pada eppendorf baru, tambahkan alkohol absolud sampai volumenya 1500 ml (sampai garis teratas dari ependorf) 13. Simpan dalam freezer (-78 *C) sampai satu minggu B. Kuantifikasi dan elektro foresis DNA 1. Siapkan hasil presipitasi minggu lalu 2. Sentifus 12000 rpm, 4*c, selama 10 menit 3. Setelah terbentuk supernatan dan pellet, buang supernatan 4. Cuci pellet dengan alkohol 70% (600 ml) 5. Sentifus 12000 rpm,4*c, selama 10 menit 6. Buang supernatan, cuci dengan alkohol 70% 7. Keringkan pellet 8. Larutkan dengan TE Buffer 9. Vortex atau up and down dengan mikro pipet 10. Pindahkan 5 ml pada kuvet untuk spektro fotometer 11. Tambahkan aquades 12. Tutup kuvet, campur dengan membolak balikkan kuvet 13. Ukur arbsorbansinyadengan spektro fotometer 14. Setelah data di dapatkan, hitung berapa ml yang harus di ambil jika menggunakan 50 ml, pindahkan pada eppendorf tube 15. Tambah 2 ml loading buffer, tambahkan aquades 16. Sentrifus atau up end down dengan mikropipet 17. Ambil dan masukkan pada gel elektrofotoresis (masing masing kelompok 2 lubang) 18. Masukkan ke gelombang elektrofotorens tank 100 v, 15-20 menit 19. Foto gelombang elektro fotoresis dengan UV trasluminator

BAB II HASIL PENGAMATAN 1. Cabai No. Sampel 1. 2. 3. 2. Tomat No. Sampel 1. 2. 3. 3. kedelai No. Sampel 1. 2. 3. 260/230 0,76 0,79 0,88 260/280 1,05 1,07 1,11 Mg/Ml 14,57 13,09 15,06 50 Mg= ..... Ml 3,4 3,8 3,3 260/230 0.78 0,92 0,80 260/280 1,09 1,17 1,08 Mg/Ml 12,04 15,69 14,49 50 Mg= ..... Ml 4,15 3,18 3,45

260/230 0,84 0,83 0,86

260/280 1,11 1,11 1,1

Mg/Ml 14 14,41 16,08

50 Mg= ..... Ml 3,57 3,47 3,11

4. Belimbing No. Sampel 1. 2. 3.

260/230 0,54 0,41 0,01

260/280 1,00 0,93 1,00

Mg/Ml 11,86 11,46 13,62

50 Mg= ..... Ml 4,21 4,36 3,67

BAB III PEMBAHASAN

Pada ekstraksi genom DNA, daun digerus sampai halus bertujuan agar dinding sel pada daun benar benar rusak dan tidak menjadi kontaminan pada pengamatan genom tanaman. Tujuan penambahan buffer ekstraksi adalah untuk merusak komponen ain selalin DNA. Tujuan penambahan PCI adalah untuk memurnikan DNA (DNA terbebas dari kontaminasii kontaminan). Tujuan penambahan TE buffer loading buffer sebagai pemberat DNA. Pada saat meletakkan DNA pada gelombang elektroforesis, sebaiknya menggunakan sarungtangan karena gelombang ini (ETBr) dapat menyebabkan mutasi gen. Spektro fotometer adalah alat untuk mendeteksi suatu senyawa pada panjang gelombang tertentu Pada DNA murni, absorbansi pada 260/230 sekitar > 1,8. Pada 260/280 absorbasinya >1,8 2. Dari keempat sampel daun, tidakaada yang menunjukkan absorbasi DNA murni, hal ini memungkinkan karena DNA yangada terkontaminasi RNA. Sehingga DNA yang didapatkan bukan DNA murni. Dari hasil foto dengan UV traslumininator, dapat dilihat bahwa DNA yangpaling jelas adalah DNA tanaman kelompok 2 (tomat) dengan kelompok 3 (kedelai), sedangkan pada DNA tanaman kelompok 1 (cabe) dan kelompok 4 (belimbing) ada, namun tidak terlihat jelas. Halini mungkin diakibatkan kontaminasi yang terlalu tinggi dan dinding sel yang kurang rusak secara sempurna. Bagian bawah pada hasil foto UV transluminator adalah DNA, sedangkan bagian atas merupakan RNA dan kontaminasi lain.

10

PENGUJIAN PROTEIN DALAM BAHAN SECARA KUALITATIF DAN KUANTITATIF


PENDAHULUAN Dasar Teori Protein merupakan makro molekul turunan polipeptid. Protein tersusun dari atom atom C, H, O dan N ditambah unsur lainya seperti P dan S. Atom atom itu membentuk unit unit asam amino. Urutan asam amino dalam protein maupun hubungan antar asam amino satu dengan yang lain, menetukan sifat biologis protein. Protein mempunyai berbagai fungsi, diantaranya : merupakan katalis biokimia (enzim), alat pengangkut dan penyimpan, penunjang mekanisme tubuh, pertahanan tubuh perambatan impuls syaraf dengan pengendali pertumbuhan. Pengujian protein dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : 1. Secara kualitatif Adalah pengujian yang bertujuan mengetahui ada / tidaknya kandungan protein dalam suatu sampel. Pengujian kuantitatif dapat dilakukan dengan beberapa cara : a. Uji milon Adalah pengujian yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya senyawa purin yang mempunyai gugus fenol seperti tiroksin. Reaksi positif ditandai dengan terdapatnya endapan putih yang jika dipanaskan akan berubah menjadi merah. b. Uji biuret Adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya ikatan peptida dalam suatu sempel atau senyawa. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya cincin ungu. c. Uji pengendapan oleh alkohol Adalah pengujiana yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan protein dalam suatu sempel. Reaksi positifnya ditandai dengan terbentuknya gumpalan atau endapan (protein mengendap) setelah ditambah alkohol. 2. Secara kuantitatif Adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui kadar atau jumlah kandungan protein dalam suatu sempel. Uji kuantitatif dapat menggunakan metode bradford (uji bradford). uji bradford adalah suatu metode pengujian protein dengan pewarnaan protein yang didasarkan pada pengukuran absorbansi. Perubahan warna yang dilakukan oleh dyecommasie (componen reagen bradford) dari pewarna merah commasie ke pewarna biru commasie disebabkan oleh pengikatan protein. Selama pembentukan kompleks pengikatan protein ini, terjadi pelepasan elektron bebas dari pewarna merah commasie yang mempengaruhi lapisan hidrofobik. Lapisan hidrofobik ini mengikat wilayah non polar dari pewarna melalui gaya van der walls sehingga posisi amina positif tertarik pada muatan negatif dari pewarna tersebut. Pengikat protein ini diperkuat oleh interaksi ionic antar kedua muatan. Pengikatan protein menyebabkan zat pewarna biru commasie pada reagen bradford menjadi stabil. Jumlah protein yang mengompleks ini adalah ukuran untuk menentukan konsentrasi protein dengan membaca absorbansinya. Alat dan bahan 1. Uji milon a. Kasein, albumin dan gelatin masing masing 2 % b. Reagen milon c. Pipet tetes d. Pipiet ukur e. 3 tabung reaksi f. Water bath

11

g. Kertas label 2. Uji biuret a. Kasein, albumin dan gelatin masing masing 2 % b. NaOH 0,1 N c. CuSO4 0,1 N d. Pipiet ukur e. 3 tabung reaksi f. Kertas label 3. Uji pengendapan oleh alkohol a. Albumin dan kasein masing masing 2 % b. NaOH 0,1 M c. HCL 0,1 M d. Buffer acetat pH 4,7 e. Pipiet ukur f. 3 tabung reaksi g. Kertas label 4. Uji bradford a. Mikro pipet + tip b. Eppendorf tube c. Falcon tube d. Mortal dan pastel e. Reagen bradford f. Spektrofotometer g. Buffer ekstraksi h. BSA i. Tris buffer Cara kerja A. Uji kualitatif 1. Uji milon a. Labeli tabug reaksi dengan albumin, kasein, dan gelatin. b. Pipet kasein, albumin dan gelatin masing masing sebanyak 2 ml, letakkan dalam tabung reaksi. c. Tambahkan masing masing 4 tetes reaggen millon. d. Panaskan dalam water bath selama 10 menit. e. Amati perubahan yang terjadi. 2. Uji biuret a. Labeli tabug reaksi dengan kasein, gelatin dan albumin b. Pipet kasein, albumin dan gelatin masing masing sebanyak 2 ml, letakkan dalam tabung reaksi. c. Tambahkan masing masing 1 ml NaOH 0,1 N. d. Tambahkan masing masing 2 tetes CuSO4 0,1 N. e. Amati perubahannya. (karena ketiga sampel adalah protein, maka amati sampel yang membentuk cincin ungu paling prkat). 3. Uji penggendapan oleh alkohol a. Masukkan kedalam masing masing tabung 5 ml albumin. b. - Tambahkan 1ml HCL 0,1 M ketabung pertama. - Tambahkan 1ml NaOH ketabung kedua. - Tambahkan 1ml buffer acetad pH 4,7 ketabung ketiga. c. Tambahkan 6 ml etanol 95 % pada masing masing tabung.

12

d. Amati perubahan yang terjadi. (karena sampel adalah protein maka, amati dari ketiga perlakuan, pada perlakuan apakah protein lebih cepat menggumpal). e. Lakukan langkah yang sama untuk kasein. B. Uji kuantitatif 1. Tambahkan kedelai sebanyak 1 gr. 2. Letakkan dalam mortal lalu di gerus dengan menambahkan biffer ekstraksi untuk menghomogenkan. 3. Pindahkan ke falkontube, lalu sentrifuse 5000 rpm selama 5 menit. 4. Pindahkan supernatan 1,5 ml ke eppendorf tube. 5. Sentrifus 12.000 rpm, selama 5 menit. 6. Ambil supernatan 2 mikro liter, letakkan pada eppendorf tube, tambahkan 1 ml reagen bradford. 7. Buat larutan standart dengan komposisi BSA dan Tris Buffer. 8. Siapkan 6 eppendorf tube. a. Tandai eppendorf pertama dengan 0 (BSA yang diambil 0 mikro liter). b. Tandai eppendorf kedua dengan 0,1 (BSA yang diambil 10 mikro liter). c. Tandai eppendorf ketiga dengan 0,2 (BSA yang diambil 20 mikro liter). d. Tandai eppendorf keempat dengan 0,3 (BSA yang diambil 30 mikro liter). e. Tandai eppendorf kelima dengan 0,5 (BSA yang diambil 50 mikro liter). f. Tandai eppendorf keenam dengan 1 (BSA yang diambil 100 mikro liter). 9. Volume maksimal adalah 100 mikro liter, sehingga Tris Buffer yang ditambahkan : a. Eppendorf pertama : 100 0 = 100 mikro liter. b. Eppendorf kedua : 100 10 = 90 mikro liter. c. Eppendorf ketiga : 100 20 = 80 mikro liter. d. Eppendorf keempat : 100 30 = 70 mikro liter. e. Eppendorf kelima : 100 50 = 50 mikro liter. f. Eppendorf keenam : 100 100 = 0 mikro liter. 10. Ukur absorbansi larutan standart dan sampel dengan spektrofotometer. 11. Buat kurva standart protein. 12. Hitung kadar protein 1 gr kedelai. HASIL PENGAMATAN A. Uji kualitatif 1. Uji millon NO SAMPEL 1 2 3 Abumin 2 % Kasein 2 % Gelatin 2%

PENGAMATAN SEBELUM Warna awal putih Warna awal putih Warna awal jernih

SESUDAH PERLAKUAN Terbentuk endapan dan endapan berwarna mendekati merah Terbentuk endapan dan endapan tidak berwarna merah atau mendekati merah Takterjadi reaksi, tidak terbentuk endapan dan tidak terjani perubahan warna menjadi merah (tetap jernih)

2. Uji biuret N SAMPEL O NO 1 2 3 Abumin 2 % Kasein 2 % Gelatin 2% PENGAMATAN SEBELUM Warna jernih Warna putih keruh Warna jernih SESUDAH PERLAKUAN Terdapan cincin ungun pekat (+++) Terdapat cincin ungu (++) Terdapat cincin biru (+)

13

3. Uji pengendapan oleh alkohol a) Albumin SAMPEL b) N O NO 1 Abumin + buffer acetat pH 4,7 2 Abumin + HCL 0,1 M 3 Abumin + NaOH 0,1 M

PENGAMATAN SEBELUM Bening Bening Bening SESUDAH PERLAKUAN Paling cepat mengendap (+++) Tidak terjadi perubahan karena pH larutan terlalu rendah (++) Tidak terjadi perubahan karena pH larutan terlalu tinggi (+)

c) kasein SAMPEL d) N O NO 1 kasein + buffer acetat pH 4,7 2 kasein + HCL 0,1 M 3 kasein + NaOH 0,1 M

PENGAMATAN SEBELUM Tidak mengendap, pitih Tidak mengendap, pitih Tidak mengendap, pitih SESUDAH PERLAKUAN Paling cepat mengendap (+++) Cepat mengendap (++) Lamban mengendap (+)

B. Uji kuantitatif (uji bradford) Eppendorf Konsentrasi BSA 0 0,1 0,2 0,3 0,5 1 Sampel BSA yang diambil (1 mg / ml) 0 mikro liter 10 mikro liter 20 mikro liter 30 mikro liter 50 mikro liter 100 mikro liter Tris buffer Bradford AB Sorbansi

1 2 3 4 5 6 7 Kurva standar
1.2 a b s o r b a n s i 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0

100 90 80 70 50 0

1ml 1ml 1ml 1ml 1ml 1ml Kelompok 1

0 0,234 0,375 0,464 0,569 0,962 0,88

y = 0.8744x + 0.128 R = 0.9452

Series1 Linear (Series1)

0.5

1.5

konsentrasi BSA

PEMBAHASAN

Dalam percobaan ini, sampel yang digunakan adalah albumin 27, gelatin 27, kasein 27, semua sampel tersebut adalah protein yang diperoleh dengan :

14

a. Albumin 2% => 2 ml kulit hewan / minyak tanaman yang dilarkan dalam 100 ml air. b. Gelatin 2% => 2 ml putih telur yang dilarutkan dalam 100 ml air. c. Kasein 2% => 2 ml susu yang dilarutkan dalam 100 ml air. A. Uji kualitatif 1. Uji milon Digunakan untuk mengidentifikasi adanya senyawa protein yang mempunyai gugus fenol seperti tiroksin. Reagen milon terdiri dari merkuri nitrat yang dilarutkan dalam asam nitrat. Reaksi positifnya ditandai dengan munculnya endapan berwarna merah / mendekati merah setelah dipanaskan. Dari percobaan yang kami lakukan, sampel albumin 2% yang mempunyai gugus fenol (asam amino tiroksin) karena setelah pemanasan muncul endapan berwarna mendekati merah (reaksi positif).

Kelompok 1 2. Uji biuret Digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya ikatan peptida dalam suatu senyawa, sehimgga uji biuret dapat dipakai untuk menunjukkan adanya senyawa protein. Uji biuret menggunakan reagen biuret yang terdiri dari NaOH dan CuSO4 yang bissa menimbulkan warna ungu jika direaksikan dengan protein. Karena dalam percobaan ini semua sampel adalah protein, maka dapat dipastikan bahwa semua sampel mengalami reaksi positif (terbentuk cincin ungu). Oleh karena itu pada uji biuret kaliini mengamati kepekatan warna cincin ungu yang terbentuk. Semakin pekat cincin ungu yang terbentuk, semakin banyak protein yang terkandung dalam sampel tersebut. Dari percobaan yang kami lakukan, albumin 2% yang membentuk cincin ungu terpekat. Jadi albumin 2% mempunyai kandungan protein terbanyak dibanding kasein 2% dan gelatin 2%.

Kelompok 2

3. Uji pengendapan oleh alkohol

15

Protein dapat diendapkan dengan menambahkan alkohol, pelarut prganik akan mengurang. Konstanta dielektrik air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol berkomposisi degan protein terhadap air reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan. Kaeran dalam percobaan ini sampel adalah protein, maka yang diamati adlah kecepatan protein membentuk endapan pada berbagai perlakuan. Pengendapan protein oleh alkohol paling cepat pada sampel yang diberi perlakuan ditambah biffer acetat. Hal ini dikarenakan biffer acetat mempunyai pH 4,7 yang mendekati atau sama dengan pH isolitrik protein (44,5 4,90), penambahan buffer acetat bertujuan agar pH isolitrik tercapaisehingga protein dapat terdenaturasi. Pada perlakuan asam (HCL) dan basa (NaOH) pengendapan membutuhkan waktu yang lebih lama karena pH tidak mendekati pH isolitrik protein. Asan , < 7 sedangkan basa > 7. Namun antara HCL dan NaOH yang lebih cepat menghasilkan endapan adalah HCL, karena pH HCL lebih mendekati pH isolitrik protein yang juga < 7.

Kelompok 3 (albumin)

kelompok 4(kasein)

B. Uji kuantitatif Adalah pengujian yang digunakan untuk menentukan kadar atau jumlah protein dalam suatu sampel. Uji kuantitatif dapat menggunakan peujian bradfort. Dari percobaan yang kami lakukan terhadap 1 gr sampel kedelai dapat diketahui bahwa kandungan pritein dalam kedelai adalah : Y = 0,874x + 0,128 0,88 = 0,874x + 0,128 0,88 0,128 = 0,874x 0,752 = 0,874x

=x
0,860412 = x X = ............x FP Berat sampel

=
= 0,860412 x 2500 = 2151,03 mg/gr Jadi kandungan protein dalam 1 gr kedelai adalah 2151,03 mg

16

PENGUJIAN SUFAT LIPIDA


1. Dasar teori Istilah lipid berasal dari bahasa yunani yaitu lipos. Lipid adalah senyawa yang tidak larut dalam air, sehingga dapat dipisahkan dari sel dan jaringan dengan pelarut nonpolar, misalnya chloroform, eter, benzene, dan heksana. Lemak dan minyak adalah satu kelompok yang termasuk golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat dialam yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar, misalnya dletil eter (C2H5OC2H5), clorofom (CHC13), benzena dan hidro karbon lainya. Lemak berwujud padat pada suhu kamar, sedangkan minyak berbentuk cair pada suhu kamar. Contoh lemak : lemak hewan, metega, lemak manusia, dll. Contoh minyak : minyak kelapa, minyak jagung, minyak kedelai, dll. Lemak dan minyak merupakan senyawa trigliserida atau triasgliserol. Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam lemak dan gliserol. Sifat sifat umum dari reaksi lipida yaitu : Penyabunan Reaksi antara triasgliserol dengan basa dinamakan penyabunan atau saponifikasi. Reaksinya : triesgliserol + NaOH Gliserol + garam Na asam lemak (sabun). Saponifikasi adalah hidrolisa lemak dan minyak dengan suatu basa kuat. Hasilnya adalah gliserol dan garam dari asam lemak itu sendiri yang dikenal sebagai sabun. Angka penyabunan menunjukkan berat molekul lemak dan minyak secara kasar. Berat molekul terbanding terbalik dengan angka penyabunan. Addisi Asam lemak tidak jenuh mengandung satu atau lebih ikatan ganda. Sifat ini yang menyebabkan suatu asam lemak tidak jenuh dapat di reduksi, hidrogenasi, dioksidasi, dan mengadisi. Ketengikan Ketengikan timbul apabila minyak atau lemak disimpan disebabkan karena dua hal, yaitu hidrolisis dan oksidasi. Ketengikan hidrolisis pada umumnya diukur dari angka asam (angka penyabunan) ketengikan oksidatif ditentukan dengan uji kreis (reaksi warna dengan epihigrilnaldehida) atau angka peroksida. Pengujian lemak, dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara kualitatif dan secara kuantitatif. Uji kualitatif digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya lemak dan fifat sifat lemak pada suatu sempel. Uji kualitatif dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : Uji kelarutan lipida. Lipida pada umumnya tidak larut dalam air tetapi sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam pelarut seprti eter, klorofom, aseton, benzena atau pelarut nonpolar lainya. Uji pembentukan emulsi. Emulsi adalah dispersi atau suspensi menstabil suatu cairan lain yang keduanya tidak saling melarutkan. Supaya terbentuk emulsi yang stabil diperlukan suatu zat pengemulsi yang disebut emulsifier atau emulasifying agent yang berfungsi menutunkan tegangan permukaan antara kedua fusecairan. Bahan emulsi fier dapat berupa : protein, gum, sabun atau garam empedu. Uji noda lemak. Lemak atau minyak dapat membentuk noda translucent, sehingga kertas tulis yang tidak tembus pandang menjadi semi transparan.Noda yang terbentuk biasanya semakin melebar setelah disirami air dan dikerinkan.

17

Uji kuantitatif Digunakan untuk mengetahui kadar lemak atau berat molekul lemak dengan menggunakan reaksi penyabunan atau angka asam. Penyabunan atau angka asam adalah hidrolisolemak dan minyak dengan suatu basa kuat. Bilangan penyabunan lemak atau minyak adalah banyaknya mg KOH atau NaOH yang diburtuhkan untuk menyabunkan 1 gr lemak atau minyak. Angka penyabunan dirumuskan : Angka penyabunan = (tb ts) x N NaOH x BMNaOH Berat sampel (gr) Keterangan : tb = titrasi blangko (ml) ts = titrasi sampel (ml) N NaOH = normal NaOH BMNaOH = berat molekul NaOH 2. Alat dan bahan A. Uji kualitatif Uji kelarutan lipida a. 5 tabung reaksi b. 1ml H2O c. 1 ml etanol d. 1 ml eter e. 1 ml kloroform f. 1 ml Na2 CO3 g. Minyak sawit Uji pembentukan emulsi a. 5 tabung reaksi b. 2 ml H2O c. 2 ml H2O + 5 tetes Na2CO3 d. 2 ml H2O + 5 tetes larutan sabun e. 2 ml larutan protein f. 2 ml larutan empedu g. Minyak sawit Uji noda lemak a. 2 ml eter b. 10 tetes minyak sawit c. Kertas tulis, kertas minyak coklat, kertas minyak hijau d. Air e. Tabung reaksi f. Pipet tetes B. Uji kuantitatif Angka penyabunan a. 2 buah erlemayer b. 1 gr kedelai c. 5 gram minyak d. 25 ml alkohol absolut e. 25 ml NaOH 0,5 N f. Waterbath,buretdanstatis g. Indikator phenoftalin

18

3. Cara kerja A. Uji kualitatif Uji kelarutan lemak - Siapka semua alat dan bahan - Isi tabung dengan : a. Tabung 1 => 1 ml H2O b. Tabung 2 => 1 ml etanol c. Tabung 3 => 1 ml eter d. Tabung 4 => 1 ml kloroform e. Tabung 5 => 1 ml Na2CO3 - Tetesi masing masing tabung dengan 5 tetes minyak sawit - Vortex sampai homogel - Amati perubahan yang terjadi Uji pembentukan emulsi - Siapkan semua alat dan bahan - Isi masing masing tabung dengan 5 tetes minyak sawit - Tambahkan dengan : a. Tabung 1 => 2 ml H2O b. Tabung 2 => 2 ml H2O + 5 tetes Na2CO3 c. Tabung 3 => 2 ml H2O + 5 tetes larutan sabun d. Tabung 4 => 2 ml larutan protein e. Tabung 5 => 2 ml larutan empedu - Vortex sampai homogen - Amati perubahan yang terjadi Uji noda lemak - Siapkan semua alat dan bahan - Isi tabung dengan 2 ml eter - Tambahkan 10 tetes minyak sawit - Vortex sampai homogen - Teteskan 1 tetes campuran eter + minya sawit pada kertas minyak coklat, kertas tulis dan kertas minyak hijau - Biarkan pelarut menguap, lihat dan tandai noda yang terbentuk - Cuci noda dengan air - Keringkan - Amati perbahan yang terjadi B. Uji kuantitatif Uji angka penyabunan - Siapkan 2 erlemayer, 1 erlemayer untuk belangko dan satunya untuk sampel - Isi erlemayer sampel dengan 5 gr minyak - Tambahkan 25 ml alkohol absolut pada kedua erlemayer - Tambahkan 25 ml NaOH 0,5 N pada kedua erlemayer - Kocok sampai homogen - Panaskan pada air mendidih selama kurang lebih 20 menit - Dinginkan pada air yang mengalir - Tambahkan 500 mikro loter indikator phenoftalin hingga larutan berwarna pink - Titrasi kedua erlemayer dengan HCL 0,5 N - Hitung angka penyabunan dengan rumus angka penyabunan - Larutkan dengan larutan yang sama untuk sampel 1 gr kedelai

19

HASIL PENGAMATAN A. Uji kualitatif 1. Uji kelarutan lipida No Sampel 1 Minyak kelapa + Aquades 2 Minyak kelapa + etanol96% 3 Minyak kelapa + eter 4 Minyak kelapa + kloroform 5 Minyak kelapa + Na2CO3 0,5% 2. Uji pembentukan emulsi No Sampel 1 Minyak kelapa + Aquades 2 Minyak kelapa + (H2O + Na2CO3 0,5%) 3 Minyak kelapa + (H2O + larutan sabun) 4 Minyak kelapa + larutan protein 5 Minyak kelapa + larutan empedu 3. Uji noda lemak NO 1

Hasil Pengamaan Tidak terlarut, terbentuk dua lapiasan Tidak terlarut, terbentuk dua lapiasan Terlarut sempurna Terlarut sempurna Terlarut, membentuk emulsi

Hasil Pengamaan Jernih, tidak teremulsi Keruh, teremulsi Keruh, teremulsi total Keruh, teremulsi Keruh, teremulsi

Sampel

Hasil pengamatan I Nnoda tidak mengalami perluasan setelah dibilas dengan air (-) Mengalami perluasan noda transparan (++) Mengalami perluasan noda transparan (+) II Tidak mengalami perlebaran setelah dibilas dengan air Mengalami perluasan sangat sedikit dan transparan Tidak mengalami perlebaran

Kertas minyak coklat

Kertas minya hijau

Kertas tulis

B. Uji kuantitatif 1. Sampel minyak Diperoleh data sebagai berikut : tb = 19,8 ts = 18,8 N NaOH = 0,5 BM NaOH = 40 Berat sampel = 5 gr

Angka penyabunan = (tb ts) x N NaOH x BMNaOH Berat sampel (gr) = (19,8 18,8) x 0,5 x 40 5 = 4 ml/gr 2. Sampel kedelai Diperoleh data sebagai berikut :

20

tb ts N NaOH BM NaOH Berat sampel

= 23,4 = 19,5 = 0,5 = 40 = 1 gr

Angka penyabunan = (tb ts) x N NaOH x BMNaOH Berat sampel (gr) = (23,4 19,5) x 0,5 x 40 1 = 78 ml/gr PEMBAHASAN 1. Uji kelarutan lipida Lipidapada umumnya tidak terlarut dalam air tetapi sedikit terlarut dalam alkohol dan larutan sempurna dalam pelarut organik seperti eter, kloroform, aseton, benzena atau pelarut non polar lainya. Minyak dalam air akan membentuk emulsi yang tidak stabil karena bila dibiarna, kedua cairan terpisah menjadi dua lapisan. Karena berat jenis air lebih besar daripada berat jenis minyak, maka lapisan atas adalah minyak, sedangkan lapisan bawah adalah air. minyak dalam soda (Na2CO3) akan larut dan membentuk emulsi yang stabil karena Na2CO3 merupakan salah satu emulsifier yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan antara kedua keduan fase cair. Dalam percobaan yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwaminyak larutan dalam pelarut organik non polar seperti eter dan kloroform. 2. Uji pembentukan emulsi Emulsi adalah dispersi / suspensi metastabil suatu cairan lain yang keduanya tidak saling melarutkan. Supaya terbentuk emulsi yang stabil diperluka suatu zat pengemulsi yang disebut emulsifier atau emulsifiying agen yang berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan antara kedua fase cairan. Cara kerja emulsifier terutama disebabkan oleh bentuk molekulnya yang terikat baik pada minyak maupun air. Emulsifier akan membentuk lapisan disekeliling minyak sebagai akibat menurunya tegangan permukaan, sehingga mengurangi kemungkinan bersatunya butir butir minyak satu samalainya. Bahan emulsifier dapat berupa : protein, gum, sabun dan garam empedu. Dalam percobaan yang kami lakukan, minyak + larutan sabun dan Na2CO3 dapat membentuk emulsi total, sedangkan minyak + larutan protein dan larutan empedu, dapat membentuk emulsi sebagian, minyak + aquades tidak terbentuk emulsi, hal ini menunjukkan bahwa aquades bukan merupakan emulsifier. 3. Uji noda lemak Lemak atau minyak dapat membentuk noda translucent, sehingga kertas yang tidak tembus pandang menjadi semi transparan. Noda yang terbentuk biasanya semakin melebar setelah disirami air dan dikeringkan. Namun perlebaran ini dipengaruhi / tergantung pada jenis kertas yang digunakan. Pada percobaan yang kami lakukan, perlebaran noda terbesar terjadi pada kertas minyak hijau, hal ini dikarenakan kertas minyak hijau telah mengandung minyak (zat lilin) sehingga minyak yang diteteskan mudah berikatan dengan kertas minyak, sehingga terjadi pelebaran nodasetelah disiram air. Pada kertas tulis juga terjadi pelebaran noda walaupun tidak sebesar pada kertas minyak hijau, hal ini

21

dikarenakan pada kertas tulis tidak terdapat minyak sehingga minyak yang diteteskan lebuh sulit berikatan dengan partikel kertas tulis. Sedangka pada kertas minyak coklat, tidak terjadi pelebaran, hal ini dikarenakan lapisan minyak (lilin) pada kertas minyak coklatterlalu tebal yang mengakibatkan minyak yang di teteskasulit untuk masuk dan berikatan dengan partikel kertas minyak coklat, sehingga setelah disiram air dan dikeringkan tidak terjadi pelebaran noda. 4. Uji angka penyabunan Bilangan penyabunan suatu lemak / minyak adalah banyaknya MG KOH atau NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 gr lemak / minyak. Bilangan penyabunan berhubungan dengan berat molekul minyka / lemak. Berat molekul berbanding terbalik dengan bilangan penyabunan. Jika berat molekulnya kecil, maka angka penyabunannya besar, begitu juga sebaliknya. Dalm percobaan yang kami lakukan, diperoleh angka penyabunan minyak adalah 4 ml/gr. Artinya banyaknya NaOH yang diperlukan untuk menghidrolisis 1 gr minyak adalah 4 ml. Dan angka penyabunan kedelai adalah 78 ml/gr. Artinya banyaknya NaOH yang diperlukan untuk menghidrolisis 1 gr kedelai adalah 78 ml. Angka penyabunan kedelai lebihbesar dari angka penyabunan minyak. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa berat molekul kedelai lebih kecil dari berat molekul minyak. Halini dikarenakan berat molekul berbanding terbalik dengan angka penyabunan.

22

ISOLASI DAN PENGUJIAN ENZIM ALFA AMILASE


1. Dasar teori Enzim adalah sekelompok protein yang dalam tumbuhan berperan sebagai blokatalisator (pengkatalis reaksi reaksi biologi)yaitu zat yang dapat mempercepat reaksi reaksi biologis tanpa mengalami perubahan struktur kimia. Enzim dapat pula didefinisikan sebagai biokatalisator yang dihasilkan jaringan yang berfungsi meningkatkan laju reaksi dalam jaringan itu sendiri (suhtanry dan rubianty, 1985). Enzim meningkatkan laju reaksi sehingga terbentuk kesetimbangan kimia antara prodik dana pereaksi. Enzim dapat mempercepat satu reaksi biologis tanpa ikut bereaksi, yang dapat diilustrasikan dalam reaksi berikut : E+S Keterangan : ES E S ES P = enzim = subtrat = komplekss enzim subtrat = produk E+P

Dari reaksi diatas dapat disimpulkan bahwa setelah enzim berikatan dengan subtrat, membentuk kompleks enzim subtrat. Enzim akan menghasilkan produk, namun enzim tetap ada, artinya enzim tidak ikut bereaksi pada reaksi tersebut. Sebagai katalisator, enzim mempunyai sifat sifat sebagai berikut : a. Mempercepat reaksi kimia (katalis) Enzim bekerja sebagai katalisdengan cara menurunkan energi aktifasi, sehingga laju reaksi meninggkat. b. Bekerja secara khas (spesifik) Setiap enzim hanya berfungsi untuk satu sengawa (subtrat) tertentu saja. c. Susunan kimianya tidak berubah Enzim dapat mempercepat reaksi kimia tanpa ikut bereaksi, sehingga susunan kimia enzim tidak berubah. d. Hanya bekerja pada besaran suhu dan pH tertentu Enzim akan menjadi non aktif pada suhu tinggi, karena enzim mengalami denaturasi, sedangkan pada suhu rendah enzim tidak dapat bereaksi (terhambat). Enzim bekerja efektif pada pH optimum yang lazimnya atara pH 4,5 8,0. pH yang terlalu tinggi dan terlalu rendah mengakibatkan enzim menjadi non aktif secara irrevesibel (tidak dapat balik). e. Dapat bekerja bolak balik (irrevesibel) Enzim memiliki kemampuan untuk mengubah subtrat menjadi hasil akhir dan sebaliknya yaitu mengubah kembali hasil akhir menjadi sutrat. Faktor yang mempengaruhi kerja enzim anaralain : - Temperatur Temperatur yang terlalu tinggi dapat menyebabkan denaturasi enzim. Temperatur yang terlalu rendah dapat mengakibatkan reaksi. - Pengaruh pH (derajad asam basa ) Perubahan pH dapat mempengaruhi perubahan asam amino kunci pada sisi aktif enzim sehingga menghalangi sisi aktif bergabung dengan subtratnya. - Pengaruh zat penggiat (aktivator) Aktivator merupakan zat yang dapat memacu kegiatan suatu enzim - Pengaruh zat penghambat (inhibitor)

23

Inhibitor merupakan zat yang dapat menghambat kerja enzim . inhibitor dibagi menjadi 2, yaitu : Inhibitor kompetitif, bila inhibitor menempel pada sisi aktif enzim dan berkompetisi dengan subtrat untuk menempel pada enzim. Inhibitor non kompetitif, bila inhibitor menempel pada sisi pasif enzim, tidak berkompetisi dengan subtrat, namun mengubah susunan kimia enzim. Pengaruh konsentrasi enzim subtrat Agar reaksi berjalan optimum, maka perbandingan jumlah antara enzim dan subtrat harus sesuai. Makin tinggi konsentrasi enzim, makin cepat reaksi kimia berlangsung. Fungsi enzim sebagai katalis untuk reaksi kimia dapat menjadi baik didalam maupun diluar sel. Enzim yang dihasilkan dapat bersifat endoseluler ataupun ektraseluler.

Enzim endoseluler, diproduksi didalam sel atau didalam membran sitoplasma dan secara umum tidak didapat dalam media fermentasi. Contoh : enzim amilase Enzim eksoseluler, diproduksi oleh mikroorganisme dalam media fermentasi. 2. Alat dan bahan 10 gr biji kacang hijau Kecambah kacang hijau 24 jam Kecambah kacang hijau 48 jam Biji kacang hijau yang direndam semalam Mortar dan stamper Erlemeyer 8 buah tabung reaksi Waterbath Sentrifuse Falcon tube HCL 5 N Iodine 5% Vortex Pati Buffer acetat pH 5,5 3. Cara kerja Siapkan semua alat dan bahan. Ambil sampel kacang hijau. a. Kelompok 1 => 10 gr sampel kacang hijau kering. b. Kelompok 2 => sampel kecambah kacang hijau 48 jam. c. Kelompok 3 => sampel kecambah kacang hijau 24 jam. d. Kelompok 4 => sampel biji kacang hijau yang direndam selama 24 jam. Gerus sampel kacang hijau sampai benar benar halus dengan menggunakan stamper dan mortal. Tambahkan buffer acetat, untuk kelompok 1 sebanyak 30 ml sedangkan untuk kelompok 2, 3 dan 4 masing masing sebanyak 10 ml. Aduk hingga homogen, masukkan ke falkontube. Sentrifuse 5000 rpm selam 5 menit. Filtrat ditampung pada erlemayer. Kemudian bagi filtrat menjadi 4 bagian yang sama, letakkan pada 4 tabung reaksi (minimal 2 ml). Beri perlakuan yang berbeda pada 4 tabung reaksi tersebut. a. Tabung 1 => diinkubasi pada suhu ruang (RT) selama 10 menit. b. Tabung 2 => diinkubasi pada suhu ruang 50C selama 10 menit. c. Tabung 3 => diinkubasi pada suhu ruang 100C selama 10 menit. d. Tabung 4 => ditambahkan 2 tetes HCL 5 N selama 10 menit.

24

Sembari menunggu perlakuan pada tabung tabung diatas, isikan 0,5 ml pati pada 4 tabung reaksi lainnya, tandai masing masing tabung dengan 4 perlakuan diatas. Setelah 10 menit tambahkan 2 ml filtrat pada tabung reaksi yang berisi 0,5 ml pati sesuai dengan tanda perlakuan pada tabung yang berisi pati. Vortex untuk menghomogenkan. Tambahakan iodine 5% sebanyak 5 tetes atau 200 pada masing masing tabung hingga berwarna biru. Amati perubahan yang terjadipada interval 0 menit, 5 menit dan 10 menit. Catat perubahanyang terjadi pada tabel hasil pengamatan. BAB II HASIL PENGAMATAN Perlakuan wan waktu inkubasi Biji kering Suhu normal 0 5 Biru + Coklat Suhu 50C 0 5 Biru + coklat Suhu 100C 0 5 10 biru biru biru Ditambah HCL 0 5 10 biru biru biru

10 ++ Kuni ng cokla t

10 ++ Kuni ng jerni h ++ Kuni ng jerni h ++ Kuni ng jerni h + Cokla t keru h

Biji direndam semalam

biru

+ coklat

Biji dikecambah kan (24 jam)

Biru

Biji dikecambah kan (48 jam)

Biru gela p =+ ++

Keteranagan

++ + kuni biru kuning ng gela kecoklat cokla p an t + ++ + kuning Cokla Biru Kuning kecoklat t gela kecoklat an jerni p an h + ++ + coklat Cokla Biru Coklat susu t tua jerni h => tidak terjadi perubahan warna. => terjadi perunahan warna.

Biru

Biru

Biru

Biru

Biru

biru

Biru gela p Biru tua

Biru gela p Biru gela p

Biru gela p Biru gela p

Biru gela p Biru tua

Biru gela p Biru tua

Biru gela p Biru tua

=> terjadi perubahan warna yang lebih jelas. PEMBAHASAN

Salah satu komponen penyusun biji bijian tanaman yang terbesaradalah protein, yang didalamnya termasuk golongan protein fungsional yang berfungsi sebagai enzim. Salah satu enzim yang bekerja adalah alfa amilaseyang diperlukan pada proses metabolisme pati. Enzim ini berfungsi memecah senyawa pati menjadi dekstrin dan maltosa yang diperlukan untuk pertumbuhan / perkecambahan biji. Kerja enzim dipengaruhi beberapa aktor diantaranya ph dan suhu. pH dan suh yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan menghambat kerja enzim. Pada suhu normal dan suhu 50C, pada menit awal (10 menit) warna pati setelah ditambah 2 ml filtrat kacang hijau adalah biru. Hal ini menunjukkan bahwa pada menit awal (10 menit) enzim masih belum berikatan dengan subtrat, sehingga yang berikatan dengan ioddine 5% adalah pati (pati + iodine => biru). Pada menit ke 5, warna biru mulai berubah menjadi kuning atau coklat, hal ini menunjukkan

25

adanya aktivitas enzim yang berikatan dengan subtrat, sehingga pati kehilangan kemampuan untuk memberikan warna biru saat bereaksi dengan iodine 5%. Pada suhu 100C dalam kondisi asam (+ HCL), warna pati setelah ditambahkan 2 ml filtrat kacang hijau dan ditambah iodine 5%dari menit awal sampai 10 menit berwarna biru. Warna biru yang terbentuk menunjukkan bahwa yang bereaksi dengan iodine adalah pati. Karean dari menit awal sampai 10 menit warna yang terbentuk adalah biru, dapat disimpulkan bahwa suhu 100C dan kondisi asam tidak terdapat aktivitas enzim. Kemungkinan enzim yang dikondisikan pada kondisi tersebut rusak / terdenaturasi karena terpengaruh suhu tinggi dan pH yang tendah. Jika dilihat dari aktifitas enzim, enzim bekerja optimal pada kisaran waktu 5 10 menit. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanyaaktifitas enzim yang ditandai dengan perubahan warna pada rentang waktu 5 10 menit. Biji yang tidak dikecambahkan mengandung alfa amilase dengan aktifitas yang rendah, akan tetapi bila biji biji tersebut dikecacmbahkan maka akan diperoleh kecambah yang mengandung enzim dengan aktivitas lebih besar. Kadar enzim dapat dilihat pada perubahan warna yang terjadi pada kisaran waktu 5 10 menit. Pada biji kering, perubahan warna biru menjadi kering dan kuning jernih. Sedangkan pada biji yang direndam semalam, kecambah umur 24 jamdan kecambah 48 jamperubahan dari biru menjadi coklat, warna coklat yang lebih pekat terdapat pada sampelkecambah umur 48 jam. Hal ini menunjukkan bahwa kadar enzim amilase terbanya terdapat pada sampel kecambah umur 48 jam.

26