Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I

ELEKTROLISIS SENYAWA ALKALI

Nama Praktikan NIM Kelas / No. Urut Fakultas / Jurusan Nama Asisten

: Lutfi Septi Aksanantika : 111810301004 :A : MIPA / Kimia : Yasinta Sarosa

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2013

PERCOBAAN 5

I.

Identitas Percobaan: Elektrolisis Senyawa Alkali

II.

Tujuan Percobaan: Mahasiswa memahami cara menguraikan senyawa Mahasiswa dapat menerapkan konsep elektrokimia sebagai salah satu cara untuk menguraikan senyawa

III. Tinjauan Pustaka 3.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)

3.1.1 Larutan NaNO3 Natrium nitrat merupakan senyawa berwujud padat, berwarna putih, dan memiliki rasa pahit. Sifat fisik dari senyawa natrium nitrat yaitu memiliki berat molekul 84,99 gram/mol, titik didih 380 oC, serta titik leleh 308 oC. Natrium nitrat mudah larut dalam air panas, air dingin, sebagian larut dalam metanol, dan sedikit larut dalam aseton, serta sangat larut dalam ammonia cair (Anonim, 2013). 3.1.2 Larutan NaCl Natrium klorida merupakan senyawa berwujud padat atau berupa serbuk kristal padat, berwarna putih, dan memiliki rasa asin. Sifat fisik dari senyawa natrium klorida yaitu memiliki berat molekul 58,44 g/mol, titik didih 1413 oC dan titik leleh 801 oC. Sedangkan sifat kimianya, natrium klorida larut dalam air panas maupun air dingin, gliserol, dan tidak larut dalam asam klorida. Natrium klorida juga memiliki pH 7 (netral) dalam larutan (Anonim, 2013). 3.1.3 Indikator Phenolftalein (PP) Indikator phenolftalein sering digunakan dalam titrasi asam basa. Range pH indikator ini sekitar 8,2-10,1 dengan perubahan warna dari tak berwarna menjadi merah muda. Indikator phenolftalein tidak dapat larut dalam air. Senyawa ini memiliki titik leleh sebesar 262,5 oC. Rumus molekul senyawa ini adalah

C20H14O4. Massa molarnya sebesar 318,32 gram/mol dan rapat massanya sebesar 1,277 gram/cm3 pada suhu 32 oC (Anonim, 2013).

3.2

Elektrolisis senyawa alkali Reaksi kimia dapat ditimbulkan oleh arus listrik, sebaliknya reaksi kimia

dapat dipakai untuk menghasilkan arus listrik. Elektrolisis merupakan proses dimana reaksi redoks tidak berlangsung secara spontan. Proses pengisian aki merupakan salah satu contoh penerapan elektrolisis dan dapat disimpulkan bahwa apabila ke dalam suatu larutan elektrolit dialiri arus listrik searah maka akan terjadi reaksi kimia, yakni penguraian atas elektrolit tersebut. Peristiwa penguraian (reaksi kimia) oleh arus searah itulah yang disebut elektrolisis. Sel elektrolisis terdiri dari larutan yang dapat mengahantarkan listrik dan disebut sebagai elektrolit, sedangkan dua buah elektrodanya berfungsi sebagai katoda dan anoda (Keenan, 1984). Elektrolisis adalah peristiwa penguraian suatu elektrolit oleh suatu arus listrik. Jika dalam sel volta energi kimia diubah menjadi energi listrik, maka dalam sel elektrolisis yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu energi listrik diubah menjadi energi kimia. Arus listrik mengalir ke dalam suatu larutan atau leburan elektrolit, akan diperoleh reaksi redoks yang terjadi dalam sel elektrolisis. Faktor yang menentukan reaksi kimia elektrolisis antara lain konsentrasi (keaktifan) elektrolit yang berbeda, ada yang bersifat inert (tak aktif) dan elektroda tak inert (Hiskia, 1992). Perubahan energi yang terjadi dalam sel elektrolisis yaitu energi listrik menjadi energi kimia. Hubungan kuantitatif antara jumlah muatan listrik yang digunakan dan jumlah zat yang terlibat dalam reaksi telah dirumuskan oleh Faraday. Hal ini dapat terjadi karena melibatkan reaksi reduksi-oksidasi yang mengandalkan peran partikel bermuatan sebagai bahan pengantar bermuatan listrik. Air merupakan elektrolit sangat lemah, yang dapat mengalami ionisasi menjadi ion-ion H+ dan OHH2O(l) H+(aq) + OH-(aq)

Oleh karena itu, sangat dimungkinkan untuk dielektrolisis menjadi gas H2 dan O2. Gas H2 diperoleh pada katoda karena reaksi reduksi ion H+, sedangkan gas O2 diperoleh pada anoda karena terjadi reaksi oksidasi OH-. Berdasarkan perubahan kualitatif dalam sel elektrolisis maka dapat mempengaruhi perubahan kuantitatif zat yang ada dalam sel elektrolisis maupun perubahan kuantitatif zat yang ada dalam sel elektrolisis tersebut. Sejumlah arus listrik yang dialirkan dalam suatu sel elektrolisis pada waktu tertentu akan mengakibatkan terjadinya perubahan temperatur pada sistem yang menunjukkan bahwa telah terjadi suatu perubahan dalam sistem tersebut (Respati, 1992). Adapun perbedaan antara elektrokimia dan elektrolisis antara lain sebagai berikut: a. Elektrolisis merupakan proses dimana reaksi redoks tidak berlangsung secara spontan sedangkan elektrokimia merupakan proses dimana reaksi redoks berlangsung secara spontan. b. Adapun pada sel elektrokimia anoda bermuatan (-) dan katodanya bermuatan (+), sedangkan pada sel elektrolisis anoda bermuatan (+) dan katodanya bermuatan (-). c. Spesi yang bereaksi dalam reaksi elektrokimia yaitu kation dan anionnya, sedangkan reaksi elektrolisis dalam larutan elektrolit berlangsung lebih kompleks dimana spesi yang bereaksi belum tentu kation dan anionnya, tetapi mungkin saja air atau elektrodanya (Petrucci, 1987). Reaksi-reaksi elektrolisis bergantung pada potensial elektrodanya. Sel elektrolisis pada katoda bermuatan negatif, sedangkan anoda bermuatan positif. Kation direduksi di katode sedangkan anion dioksidasi di anode. Elektrolisis mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dalam melakukan praktikum ini mahasiswa dapat mengetahui dan dapat mempelajari proses elektrolisis. Elektrolisis mempunyai banyak kegunaan diantaranya yaitu dapat memperoleh unsur-unsur logam, halogen, gas hidrogen dan gas oksigen, kemudian dapat menghitung konsentrasi ion logam, serta salah satu proses

elektrolisis yang popular adalah penyepuhan dengan melapisi permukaan suatu logam dengan logam lain (Sastrohamidjojo, 2005).

IV. Metodologi Percobaan 4.1 Alat dan Bahan a. Alat: - Pipa U - Elekroda karbon - Kabel - Beaker glass 150 mL - Power supply - Korek api kayu - Pipet tetes b. Bahan: - Larutan NaNO3 0,5 M - Larutan NaCl 0,5 M - Indikator PP

4.2

Prosedur: NaNO3(aq) 0,5 M Dimasukkan atau diisikan ke dalam pipa U sampai kurang lebih 2 cm dari mulut pipa U Dicelupkan elektroda karbon ke dalam masing-masing mulut pipa U Dihubungkan kedua elekroda menggunakan kabel Diberikan arus listrik dengan beda potensial 3 volt

menggunakan power supply Dilakukan elektrolisis selama 20 menit Dicatat semua fenomena yang terjadi selama proses

berlangsung Diuji masing-masing mulut pipa menggunakan batang korek api yang membara Ditetesi masing-masing mulut pipa dengan indikator PP Diganti larutan dengan larutan NaCl 0,5 M, diulangi langkah kerca sama seperti larutan NaNO3 Diulangi percobaan bila perlu untuk mendapatkan hasil yang terbaik Hasil

V. 5.1

Hasil dan Pembahasan Hasil Percobaan Jenis Larutan Larutan NaNO3 Kuat Arus 2,1 2,3 mA Hasil Pengamatan Terbentuk gelembunggelembung kecil Katoda: sedikit gelembung Anoda: banyak gelembung Uji Bara Api Katoda: lebih cepat padam Anoda: nyala api lebih lama Uji warna indikator PP Katoda: Larutan berwarna merah muda (pink) Anoda: Larutan tetap bening 2. Larutan NaCl 2,2 2,3 mA Terdapat gelembung kecil Katoda: banyak gelembung Anoda: sedikit gelembung Uji bara api Katoda dan anoda : bara api padam secara bersama-sama Uji warna indikator PP Katoda: Larutan berwarna merah muda (pink) Anoda: Larutan tetap bening

No. 1.

5.2

Pembahasan Percobaan kali ini yaitu mengenai elektrolisis senyawa alkali dengan tujuan

dapat memahami dan menerapkan konsep elektrokimia sebagai salah satu cara untuk menguraikan suatu senyawa. Metode elektrokimia adalah metode yang didasarkan pada reaksi redoks, yakni gabungan dari reaksi reduksi dan oksidasi yang berlangsung pada elektroda yang sama/berbeda dalam suatu sistem

elektrokimia. Elektrolisis merupakan peristiwa penguraian (reaksi kimia) senyawa elektrolit akibat dialiri arus listrik searah. Komponen yang terpenting dalam proses elektrolisis tersebut adalah elektroda dan elektrolit. Elektroda yang disambungkan kepada terminal positif dinamakan anoda, sedangkan elektroda yang disambungkan pada terminal negatif dinamakan katoda. Logam-logam alkali dapat berikatan dengan unsur non logam membentuk ikatan ionik, sehingga senyawa yang terbentuk dapat diuraikan menjadi ion-ion. Natrium adalah salah satu unsur alkali yang sering ditemukan dalam senyawa garam (golongan senyawa ionik), misalnya natrium klorida (NaCl) dan natrium nitrat (NaNO3). Pemurnian natrium dari senyawa garam dapat menggunakan teknik elektrolisis. Jenis elektrolisis yang digunakan dalam pemurnian logam natrium yaitu elektrolisis lelehan, jadi bentuk fisik senyawa yang digunakan adalah garam padatan yang dapat meleleh. Natrium memiliki nilai potensial E0= -2,71 volt, sedangkan air memiliki nilai potensial reduksi sebesar -0,828 volt. Harga potensial reduksi air lebih positif daripada potensial reduksi natrium sehingga yang akan tereduksi adalah air. Pertimbangan tersebut mengakibatkan pemurnian logam natrium dalam industri menggunakan jenis elektrolisis lelehan. Larutan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan natrium nitrat (NaNO3) dan natrium klorida (NaCl) yang dielektrolisis dengan tegangan 3 volt dalam waktu 20 menit menggunakan power supply yang telah dihubungkan dengan kabel pada elektroda. Tujuan dilakukannya elektrolisis dengan tegangan 3 volt agar diperoleh harga overvoltase yaitu selisih harga potensial senyawa yang bereaksi pada elektroda dengan potensial yang telah ditetapkan. Sedangkan tujuan dari waktu yang digunakan selama 20 menit yaitu agar reaksi pada katoda dan anoda mencapai batas maksimum dimana semua senyawa habis bereaksi. Elektroda yang digunakan dalam percobaan ini yaitu elektroda karbon karena elektroda karbon bersifat inert atau tidak mudah bereaksi. Elektroda yang reaktif akan teroksidasi daripada senyawa anionnya sedangkan elektroda inert tidak akan mengalami reaksi. Percobaan pertama pada elektrolisis natrium nitrat (NaNO3) selama 20 menit menunjukkan fenomena yang terjadi yaitu pada katoda terdapat sedikit

gelembung gas sedangkan di anoda terdapat banyak gelembung gas yang menempel di bagian elektroda karbon. Hal ini, yang dapat mengalami reduksi adalah Na+ (aq) dan H2O, sedangkan yang mengalami oksidasi adalah NO3-(aq) dan H2O. Berdasarkan daftar potensial standar elektroda menunjukkan bahwa H2O lebih mudah direduksi daripada Na+(aq). Selain itu, daftar potensial standar juga menunjukkan H2O lebih mudah dioksidasi dari pada NO3-(aq), sehingga reaksi selnya adalah: Katoda (reduksi) : 4H2O(l) + 4e- 4OH-(aq) + 2H2(g) Anoda (oksidasi) : 2H2O(l) Reaksi sel : 6H2O(l) 4H+(aq) + O2(g) + 4e 4OH-(aq) + 2H2(g) + 4H+(aq) + O2(g)

Setelah diuji dengan bara api, menunjukkan bahwa bara api lebih cepat padam pada katoda. Hal ini disebabkan karena terbentuknya gas H2 yang dapat mempercepat padamnya nyala api sedangkan pada anoda nyala api lebih lama karena terbentuknya gas O2 yang dapat membantu proses pembakaran. Selanjutnya, diuji dengan meneteskan indikator PP pada kedua larutan di masingmasing mulut pipa U. Indikator phenolphthalein (PP) digunakan untuk menguji reaksi yang terjadi di katoda senyawa kation atau air. Jika reaksi reduksi di katoda adalah kationnya, maka tidak akan terbentuk ion hidroksida dan tidak akan menimbulkan warna saat direaksikan dengan indikator PP. Namun, jika yang tereduksi adalah air maka akan terbentuk ion hidroksida yang dapat menimbulkan warna merah muda saat direaksikan dengan indikator PP. Setelah dilakukan uji warna dengan indikator PP, warna larutan menjadi merah muda pada katoda dan larutan tetap bening pada anoda. Hasil elektrolisis natrium nitrat tersebut sesuai dengan literatur yang ada jika didasarkan pada terbentuknya gelembung gas, uji nyala, dan uji warna dengan indikator PP. Percobaan kedua pada elektrolisis natrium klorida (NaCl) selama 20 menit menunjukkan fenomena yang terjadi yaitu terdapat banyak gelembung kecil pada katoda dan sedikit gelembung pada anoda. Persamaan reaksi yang terbentuk yaitu: Katoda (reduksi) : 2H2O(l) + 2e- 2OH-(aq) + H2(g) Anoda (oksidasi) : 2Cl-(aq) Reaksi sel Cl2(g) + 2e: 2H2O(l) + 2Cl-(aq) 2OH-(aq) + H2(g) + Cl2(g)

Setelah diuji dengan bara api, menunjukkan bahwa bara api padam secara bersama-sama baik pada katoda maupun anoda. Hal ini disebabkan karena kurangnya tingkat ketelitian praktikan dalam mengamati bara api yang dimasukkan ke dalam masing-masing mulut pipa U. Sehingga sulit dibedakan fenomena yang terjadi pada katoda maupun anode saat diuji dengan menggunakan bara api tersebut. Selanjutnya, uji warna menggunakan indikator PP hanya bereaksi pada katoda sehingga menyebabkan larutan pada katoda berwarna merah muda karena terdapat ion hidroksi didalamnya sedangkan pada anoda larutan tetap bening. Hasil elektrolisis natrium sulfat yang diperoleh sesuai dengan literatur yang ada jika didasarkan pada terbentuknya gelembung gas dan uji warna dengan indikator PP. Sedangkan pada proses pengamatan dengan uji nyala tidak sesuai dengan literatur dikarenakan oleh human error. Arus listrik yang dihasilkan selama proses elektrolisis natrium nitrat dan natrium klorida menghasilkan nilai yang berbeda-beda. Arus elektrolisis natrium nitrat sebesar 2,1 2,3 mA sedangkan arus listrik natrium klorida sebesar 2,2 2,3 mA. Selisih dari nilai arus elektrolisis pada natrium nitrat lebih besar daripada selisih nilai arus elektrolisis pada natrium klorida. Hal ini dikarenakan proses elektrolisis natrium nitrat pada anoda membutuhkan energi yang lebih besar untuk menguraikan molekul air, sedangkan elektrolisis natrium klorida pada anoda hanya memanfaatkan elektron yang mengalir untuk mengoksidasi anion klorida.

VI. Penutup 6.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari percobaan mengenai elektrolisis senyawa alkali antara lain: - Metode penguraian suatu senyawa dapat dilakukan dengan metode elektrolisis dimana elektrolisis merupakan peristiwa penguraian (reaksi redoks) senyawa elektrolit akibat dialirinya arus listrik searah - Salah satu penerapan konsep elektrokimia yaitu pada pemurnian logam natrium dari senyawa garam menggunakan jenis elektrolisis lelehan

6.2

Saran Praktikan sebaiknya lebih teliti dan lebih cermat saat uji nyala

menggunakan korek api agar hasil pengamatan yang didapatkan sesuai dengan teori yang ada. Selain itu, sebelum memulai praktikum seharusnya praktikan telah memahami bahan dan prinsip kerja percobaan yang akan dikerjakan di laboratorium untuk memaksimalkan hasil yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA . Anonim. 2013. Natrium Klorida. [Serial Online].

http://id.wikipedia.org.wiki/Natrium_klorida.html. [30 November 2013]. Anonim. 2013. Natrium Nitrat. [Serial Online].

http://id.wikipedia.org.wiki/Natrium_nitrat..html. [30 November 2013]. Anonim. 2013. Phenolftalein. [Serial Online].

http://id.wikipedia.org.wiki/Phenolftalein..html. [30 November 2013]. Hiskia, Achmad. 1992. Elektrokimia dan Kinetika Kimia. Bandung: Citra Adiya Bakti. Keenan. 1984. Kimia Anorganik 1. Jakarta: Erlangga. Petrucci, H.Ralph. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 3. Jakarta: Erlangga. Respati, 1992. Dasar-Dasar Ilmu Kimia. Jakarta: Rienika Cipta. Sastrohamidjojo, H. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta: UGM Press. Tim Penyusun. 2013. Petunjuk Praktikum Kimia Anorganik I. Jember: FMIPA UNEJ.