Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA AIR

Oleh:

Nama NIM Jurusan Pembimbing

: Dhika Juliana S : P07134012009 : Analis Kesehatan : H. Haerul Anam, SKM.

KEMENTRIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MATARAM JURUSAN ANALIS KESEAHATAN

PRAKTIKUM III KESADAHAN TOTAL ( Ca 2+ dan Mg 2+ )

I.

DASAR TEORI Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat (Wikipedia, 2011). Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa. Penyebab air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+. Atau dapat juga disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn dalam bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil (O-fish, 2003).

Terdapat dua jenis kesadahan, yakni sebagai berikut: 1. Kesadahan sementara Kesadahan sementara merupakan kesadahan yang mengandung ion bikarbonat (HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2) Air yang mengandung ion atau senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawasenyawa tersebut akan mengendap pada dasar ketel (Wikipedia, 2011). Reaksinya: Ca(HCO3)2 dipanaskan CO2 (gas) + H2O (cair) + CaCO3 (endapan) Mg(HCO3)2 dipanaskan CO2 (gas) + H2O (cair) + MgCO3 (endapan)

2. Kesadahan Tetap Kesadahan tetap adalah kesadahan yang mengadung anion selain ion bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Air yang mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya dengan cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari kesadahan, harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan zatzat kimia tertentu. Kesadahan tetap dapat dikurangi dengan penambahan larutan soda- kapur (terdiri dari larutan natrium karbonat dan magnesium hidroksida) sehingga terbentuk endapan kaslium karbonat (padatan/endapan) dan magnesium hidroksida (padatan/endapan) dalam air. Reaksinya: CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + 2NaCl (larut) CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + Na2SO4 (larut) MgCl2 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaCl2 (larut) MgSO4 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaSO4 (larut) Metode yang dapat dilakukan untuk penentuan kesadahan adalah metode Titrasi EDTA ( Ethylene Diamene Tetra Asetat). EDTA berupa senyawa kompleks khelat dengan rumus molekul (HO2CCH2)2NCH2CH2N(CH2CO2H)2. Merupakan suatu senyawa asam amino yang secara luas dipergunakan untuk mengikat ion logam logam bervalensi dua dan tiga. EDTA mengikat logam melalui empat karboksilat dan dua gugus amina. EDTA membentuk kompleks kuat terutama dengan Mn (II), Cu (II), Fe (III), dan Co (III) (Anonim, 2008 dalam Ginoest, 2010). EDTA merupakan senyawa yang mudah larut dalam air, serta dapat diperoleh dalam keadaan murni. Tetapi dalam penggunaannya, karena adanya sejumlah tidak tertentu dalam air, sebaiknya distandardisasi terlebih dahulu.

Standar kesadahan air meliputi (Bakti Husada, 1995 dalam Resthy 2011): 1. Standar kesadahan menurut WHO, 1984, mengemukakan bahwa : a. Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3; b. Lunak mengandung 0-60 ppm CaCO3; c. Agak sudah mengandung 60-120 ppm CaCO3; d. Sadah mengandung 120-180 ppm CaCO3; e. Sangat sadah 180 ppm ke atas. 2. Standar kesadahan menurut E. Merck, 1974, bahwa : a. Sangat lunak antara 0-4 OD atau 0-71 ppm CaCO3; b. Lunak antara 4-8 OD atau 71-142 ppm CaCO3; c. Agak sadah antara 8-18 OD atau 142-320 ppm CaCO3; d. Sadah 18-30 OD atau 320-534 ppm CaCO3; e. Sangat sudah 30 OD keatas atau sekitar 534 ppm ke atas. 3. Standar kesadahan menurut EPA, 1974, bahwa : a. Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3; b. Lunak, antara 0-75 ppm CaCO3; c. Agak sadah, antara 75-150 ppm CaCO3; d. Sadah, 150-300 ppm CaCO3; e. Sangat sadah 300 ppm ke atas CaCO3. 4. Kesadahan merupakan salah satu sifat kimia yang dimiliki air. Kesadahan air disebabkan adanya ion ion Ca2+ dan Mg2+. Berdasarkan Standar kesadahan menurut PERMENKES RI, 2010 batas maksimum kesadahan air minum yang dianjurkan yaitu 500 mg/L CaCO3. Bila melewati batas maksimum maka harus diturunkan (pelunakan).

Dari data tersebut dapat dilihat jelas bahwa air yang dikatakan sadah adalah air yang mengandung garam mineral khususnya CaCO3 sekitar 120180 ppm menurut WHO, sedangkan menurut Merck air dikatakan sadah jika mengandung 320-534 ppm atau sekitar 18-30 OD, menurut EPA air yag dikatakan sadah jika mengandung CaCO3 sekitar 150-300 ppm, dan menurut PERMENKES RI, 2010 batas maksimum kesadahan air minum yang dianjurkan yaitu 500 mg/L CaCO3. Bila melewati batas maksimum maka harus diturunkan (pelunakan) (Bakti Husada, 1995 dalam Resthy, 2011).

II.

PRINSIP KERJA DAN REAKSI Kesadahan total di titrasi langsung dengan larutan EDTA menggunakan buffer PH 10 dengan indicator EBT. Sedangkan Kesadahan Ca2+ dititrasi langsung dengan larutan EDTA menggunakan buffer PH 13 dengan indicator murexid

III.

ALAT-ALAT DAN REAGENSIA Alat-alat Neraca analitik Buret dan stand Labu Ukur Buret dan stand Labu erlenmeyer Gelas beaker Pipet Volume Gelas Ukur Pipet tetes Botol Semprot Corong Kertas timbang Regensia EDTA 0,01 M indikator EBT CaCl2 0,01 M Sampel air sumur pak murad Larutan buffer PH 13 Larutan buffer PH 10 Murexide Aquadest Tissue dll

IV.

CARA KERJA 1. Pembuatan Larutan CaCl2 0,01 M Ditimbang + 0,3675 gram CaCl2 Dimasukkan ke dalam labu ukur volume 250 ml Ditambahkan dengan aquadest bebas CO2 sampai tanda batas Dilarutkan dan dicampur hingga homogen

2. Standarisasi Larutan EDTA Terhadap CaCl2 0,01 M Di isi buret dengan larutan EDTA 0,01 M sampai tanda batas Dipipet 10 mL larutan CaCl2 0,01 M Dimasukkan ke dalam labu erlenmayer Ditambah 5 mL buffer PH 10 dan 25 mL aqudest Ditambahkan sepucuk indikator EBT Dititrasi dengan larutan EDTA 0,01 M sampai larutan berubah menjadi warna biru Dihitung Moralitas larutan EDTA tersebut

3. Penentuan Kesadahan Total Dipipet 100 mL sampel kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer lalu ditambahkan 5 mL larutan Buffer pH 10 kemudian ditambahkan sedikit indikator EBT hingga berwarna merah muda dan dititrasi dengan larutan EDTA hingga berubah warna dari merah muda menjadi biru.

4. Penentuan Kadar Kalsium (Ca) Memipet 100 mL sampel air kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer kemudian ditmbahkan sebanyak 5 mL buffer PH 13 ditambahkan sedikit indikator murexide hingga berwarna merah muda dititrasi dengan larutan EDTA hingga berubah warna dari merah muda menjadi ungu.

V.

RUMUS PERHITUNGAN Moralitas EDTA Moralitas CaCl2 0,01 M = Kadar Kesadahan total = Kesadahan Ca2+ Kesadahan Mg2+ Keterangan BM M1 V2 Vt M2 = = : Berat Molekul : Molaritas baku primer Moralitas CaCl2 0,01 M : Volume larutan baku primer yang dipipet (mL) : Volume titrasi larutan baku sekunder (mL)
:

Molaritas baku Skunder EDTA

Vsampel : Volume larutan sampel yang dipipet (mL) VI. DATA PERCOBAAN

A. Standarisasi larutan EDTA 0,01 M dengan CaCl2 / CaCO3 0,01 M NO Baku Primer Yang Dipipet (ml) 1 2 3 10,00 10,00 10,00 Pembacaan Buret (ml) 10,00-14,70 14,70-18,90 18,90-24,30 Volume Titrasi (ml) 4,70 4,20 5,40

B. Penetapan Kadar Kesadahan total (Ca2+ dan Mg2+) dalam air sumur NO Baku Primer Yang Dipipet (ml) 1 2 100,00 100,00 Pembacaan Buret (ml) 0,00-18,90 18,90-38,70 Volume Titrasi (ml) 18,90 19,80

C. Penetapan Kadar Kesadahan total Ca2+ dalam air sumur

NO

Baku Primer Yang Dipipet (ml)

Pembacaan Buret (ml) 0,00-4,10 4,10-7,90

Volume Titrasi (ml) 4,10 3,80

1 2

100,00 100,00

VII.

PERHITUNGAN Molaritas CaCl2 0,0100 M Menghitung molaritas EDTA 1) Titrasi pertama M1 = = 2) Titrasi kedua M2 = = 3) Titrasi ketiga M3 = = = 0,0185 M = 0,0238 M = 0,0212 M

Molaritas rata-rata EDTA setelah 3 x titrasi adalah M EDTA = = = 0,0211 M

Menghitung kadar kesadahan total (Ca2+ dan Mg2+) dalam air sumur 1) Titrasi pertama Derajat PPM 1= = 2) Titrasi kedua Derajat PPM 2= = = 417,78 mg/L = 398,79 mg/L

Kadar rata-rata setelah 2 x titrasi Derajat PPM = = 408,28 mg/L

Menghitung kesadahan Ca2+ 1) Titrasi pertama Derajat PPM 1= = 2) Titrasi kedua Derajat PPM 2= = = 32,072 mg/L = 34,604 mg/L

Kadar rata-rata setelah 2 x titrasi Derajat PPM = = 33,338 mg/L Kadar kesadahan Mg2+ Derajat PPM = = = 77,98 mg/L

VIII.

HASIL PERCOBAN DAN KESIMPULAN A. Hasil o Standarisasi larutan EDTA terhadap larutan CaCl 0,01 M 10 mL larutan CaCl 0,01 M dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu di tambahkan dengan 5 mL larutan buffer pH 10, Setelah penambahan indikator Eriochrom Black Tea (EBT), selanjutnya dititrasi dengan EDTA. sampai larutan berubah dari warna merah muda menjadi warna biru. o Penentuan kesadahan total (Ca2+ dan Mg2+ ) 100 mL Sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu ditambahkan dengan 5 mL larutan buffer pH 10, Setelah penambahan indikator Eriochrom Black Tea (EBT), selanjutnya dititrasi dengan EDTA. sampai larutan berubah dari warna merah muda menjadi warna biru. o Penentuan kalsium (Ca2+) 100 mL sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer. ditambahkan dengan 5 mL larutan buffer pH 13 Selanjutnya ditambahkan dengan mureksid., Larutan kemudian dititrasi dengan EDTA sampai warna larutan berubah dari pink menjadi ungu. Kadar kalsium (Ca) sebesar 33,338 mg/L, artinya dalam 1 liter air mengandung 33,338 mg kalsium (Ca). o Penentuan Magnesium (Mg2+) Penentuan kadar magnesium dilakukan dengan cara mengurangi volume titran kesadahan total dengan kadar Ca dan diperoleh hasil kadar magnesium (Mg) sebesar 77,98 mg/L, yang artinya dalam 1 liter air mengandung 77,98 mg magnesium (Mg).

B. Kesimpulan Dari Praktikum yang kami lakukan , kami dapat menyimpulkan bahwa: 1. 2. 3. 4. Nilai kesadahan total sampel air adalah 408,28 mg/L CaCO3. Nilai kesadahan kalsium sampel air adalah 33,338 mg/L. Nilai kesadahan magnesium sampel air adalah 77,98 mg/L. Berdasarkan standar kesadahan menurut PERMENKES RI, 2010 batas

maksimum kesadahan air minum yang dianjurkan yaitu 500 mg/L CaCO3 (Bakti Husada, 1995 dalam Resthy, 2011). Jadi dapat disimpulkan bahwa air tersebut layak untuk dikonsumsi.

IX.

PEMBAHASAN Pada praktikum kesadahan ini, sampel diambil dari sumur di daerah sekitar Desa Abian tubuh tepatnya di sumur pak murad . Praktikan melakukan beberapa percobaan yakni untuk menentukan kesadahan total, kesadahan kalsium dan kesadahan magnesium terhadap sampel air sumur. Langkah pertama yang dilakukan yaitu penentuan kesadahan total. Sampel yang digunakan sama dengan sampel pada penentuan kalsium (Ca). Sampel ditambahkan dengan larutan buffer pH 10 karena indikator yang akan digunakan yaitu indikator EBT, Setelah penambahan indikator Eriochrom Black Tea (EBT) diperoleh larutan berwarna merah muda, selanjutnya dititrasi dengan EDTA. Jika EDTA dijadikan sebagai titran, maka larutan akan berubah dari warna merah muda menjadi warna biru. Pada titik akhir titrasi diperoleh kadar CaCO3 sebanyak 408,28 mg/L. Berdasarkan standar kesadahan menurut PERMENKES RI, 2010 batas maksimum kesadahan air minum yang dianjurkan yaitu 500 mg/L CaCO3 (Bakti Husada, 1995 dalam Resthy, 2011), dapat dikatakan bahwa air sumur yang diteliti layak konsumsi karena tidak melebihi nilai ambang batas yang dianjurkan. Langkah kedua adalah penentuan kalsium (Ca), pertama-tama sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Selanjutnya ditambahkan dengan mureksid. Mureksid berfungsi sebagai indikator, setelah penambahan indikator mureksid dihasilkan larutan warna merah muda. Menurut teori pada pH lebih tinggi 12, Mg akan mengendap sehingga EDTA hanya dapat diikat oleh Ca2+ dengan indikator mureksid. Larutan kemudian dititrasi dengan EDTA sampai warna larutan berubah menjadi ungu. kadar kalsium (Ca)

sebesar 33,338 mg/L, artinya dalam 1 liter air mengandung 33,338 mg kalsium (Ca). Sedangkan untuk penentuan Magnesium (Mg) pada praktikum kali ini dilakukan dengan cara mengurangi volume titran kesadahan total dengan kadar Ca dan diperoleh hasil kadar magnesium (Mg) sebesar 77,98 mg/L, yang artinya dalam 1 liter air mengandung 77,98 mg magnesium (Mg).

X.

CATATAN DAN DOKUMENTASI A. CATATAN Sebelum digunakan, alat-alat gelas dicuci dengan menggunakan aquadest terlebih dahulu Supaya perubahan warna dapat terlihat dengan jelas, kertas putih dapat ditaruh sebagai alas pada saat titrasi Kocokan pada erlenmeyer harus seirama dengan tetesas lautan dari buret ke erlenmayer. Setelah selesai menggunakan alat cuci bersih dengan aquadest lalu simpan di tempat penyimpanan. Bahan yang tersisa jangan di masukkan kembali ke botol reagen. Jarak antara titik equivalen dan titik akhir titrasi tidak boleh terlalu jauh sehingga akan mempengaruhi hasil akhir titrasi. B. DOKUMENTASI Standarisasi EDTA terhadap CaCl 0,01 M

Sebelum dan sesudah titrasi

Penetapan kadar kesadahan total

Sebelum titrasi Penetapan kadar Ca2+

Sesudah titrasi

Sebelum dan sesudah titrasi

Mataram, 20 November 2013 pembimbing praktikan

( H. Haerul Anam, SKM. )

( Dhika Juliana S )