Anda di halaman 1dari 4

KONSEP DIRI MAHASISWA BROKERN HOME

(Studi Fenomenologi Konsep Di i M!"!sis#! B o$en Home deng!n O !ng %u!n&! di Kot! B!ndung' Ditujukan: untuk memenuhi kriteria mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif

%im Peneliti ( EFFENDI )A*A+I % i! Isl!mi&!ti Sop"i! No0it! Anggi Aditi! P !t!m! Augusto A d& Anggo o Reind ! 4sm!n&!" KE+AS ( ) ,--.--,,/., ,--.--,,/.1 ,--.--,,/23 ,--.--,,/.,--.--,,/5,

FAK4+%AS I+M4 KOM4NIKASI 4NI6ERSI%AS IS+AM BAND4N) 1-,7

8udul

: KONSEP DIRI MAHASISWA BROKEN HOME (Studi Fenomenologi Konsep diri Mahasiswa Broken Home dengan Orang uan!a di Kota Bandung"

,9,9 +!t! Bel!$!ng M!s!l!" Komunikasi merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia, sejak ia lahir ke dunia sampai ia mati. Dalam kehidupan bermasyarakat manusia membutuhkan komunikasi dengan sesamanya untuk mencapai tujuan komunikasi yang diinginkan. Berbagai pola komunikasi di lakukan oleh manusia setiap harinya, tanpa komunikasi manusia tidak akan bisa hidup secara seimbang dan akan terasa hampa. Tentu saja, manusia tanpa melakukan aktifitas komunikasi akan terisolasi dari kehidupan bermasyarakat. Mulai dari kita bangun tidur, bekerja, belajar, makan, hingga akhirnya tertidur sebenarnya kita melakukan proses komunikasi. Dr. !erett Kleinjan dari ast "est #enter $a%aii, komunikasi sudah merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti halnya bernafas, sepanjang manusia ingin hidup maka ia perlu berkomunikasi. & "ilbur 'chramm menyebut bah%a komunikasi dan masyarakat adalah dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, sebab tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi ('chramm, &)*+:,-.. 'ebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Menurut teori dasar Biologi manusia ingin berkomunikasi dengan manusia lainnya itu karena adanya dua kebutuhan, yakni kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 'aat berada dimanapun manusia melakukan aktifitas komunikasi bersama kerabat, teman/ teman, guru, dosen, klien dan orang/orang disekitarnya. 0amun, komunikasi yang sangat akrab, dekat dan hangat komunikasi kelompok bersama keluarga. Komunikasi ini sangat mempengaruhi seseorang secara konatif, afektif dan beha!ioral karena bersama keluargalah komunikasi terjalin secara rutin dan tetap. Keluarga merupakan lingkungan social pertama di mana beberapa orang diantara mereka masih memiliki hubungan darah. Tentu saja tumbuh kembangnya seseorang dari anak/anak menuju remaja lalu de%asa itu sangat diperngaruhi oleh peran keluarga. Komunikasi dalam keluarga adalah bentuk komunikasi yang paling ideal. Karena hirarki antara orang tua dan anak ada tapi tidak menyebabkan formalitas komunikasi di antara mereka sehingga cenderung

kaku. 1erbedaan latar belakang budaya, pendidikan, usia, kebiasaan dan kepribadian antar anggota keluarga khususnya suami istri tidak menjadi penghalang mereka untuk berkomunikasi. Karena dari hubungan darah, ikatan mereka menjadi kuat. 1ada kenyataannya, tidak semua keluarga memiliki komunikasi yang ideal antara orangtua dan anak/anaknya. Banyak ditemukan kegagalan komunikasi dalam keluarga sehingga mengakibatkan hubungan antar anggota keluarga menajdi tidak harmonis dan saling bermusuhan. 1erubahan yang terjadi pada bidang teknologi komunikasi, budaya, social dan ekonomi memberikan efek yang sangat luar biasa membahagiakan bagi manusia, namun ternyata tidak memberikan kontribusi yang baik dan idel dalam hubungan komunikasi dalam kelaurga. Kesibukan seorang anak dan orang tua yang berbeda/beda, perceraian antar suami isteri, kelalaian orangtua dalam mengurus anak akibat sibuk di kantor merupakan sebab/sebab komunikasi dan interaksi antara sesama anggota keluarga menjadi kurang intens. 1ada akhirnya terciptalah kondisi broken home. Broken home merupakan keadaan dimana antara anggota keluarga tidak lagi memiliki keharmonisan, kedamaian, dan keselarasan. Mereka tidak merasa rukun, tentram lagi akibat lebih sering berselisih dan bertengkar. Kondisi ini sangat mempengaruhi pola perkembangan mental dan spiritual seorang anak yang sedang tumbuh dari anak/anak ke remaja dan dari remaja menuju de%asa. Mereka yang harusnya memiliki nilai/nilai integritas yang kuat, perkembangan emosi dan psikis yang ditanamkan oleh kelompok primer, ternyata tidak mereka dapatkan. Kondisi ini mengakibatkan seorang anak akan merasa malu, sedih berkepanjangan, tersiksa, murung, melihat keadaan kedua orangtuanya yang selalu berselisih.1ada akhirnya, 'eorang anak akan cenderung mencari sosok atau figure diluar keluarganya yaitu lingkungan dimana mereka beradaptasi. Misalnya, lingkungan kampus, tempat mereka bermain, nongkrong, berorganisasi. 2%al mula ketertarikan penulis meneliti komunikasi mahasis%a broken home bera%al dari semakin banyaknya anak yang harus mengalami situasi sulit dalam keluarga broken home. $al tersebut dibuktikan dengan adanya data bah%a jumlah perceraian yang merupakan salah satu penyebab kondisi broken home meningkat setiap tahunnya. Tahun +334, jumlah perceraian mencapai &.*5- kasus dan terus meningkat pada tahun +335 hingga angkanya mencapai &.)6, kasus. 2ngka perceraian menembus angka +.3*4 pada tahun +33-. &3 Tahun +33* kasus yang masuk sebanyak +.56&, sedangkan tahun +33) sebanyak 6.6+& kasus. 2da beberapa alasan yang menjadi penyebab perceraian itu. Mulai dari kekerasan rumah tangga, cacat fisik, tidak ada keharmonisan, selingkuh, namun yang paling besar persentasenya, yakni alasan ekonomi.

1sikolog anak 'te!en 1ont membenarkan, munculnya berbagai resiko setelah suatu perceraian. 7a pernah bekerja di sebuah rumah penampungan anak/anak yang bermasalah. $ampir semua anak disana berasal dari keluarga yang 8broken home8 alias rumah tangga yang berantakan. 9ebih lanjut dikatakan oleh Marieke !an de :ak, terbukti bah%a anak yang berasal dari broken home lebih besar kemungkinannya akan terjerumus dalam kriminalitas. 1erlu disadari bah%a komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Begitu banyak dampak atau efek yang diakibatkan oleh kegagalan komunikasi di dalam sebuah keluarga, unit terkecil dari masyarakat yang seharusnya memiliki intensitas dan kualitas komunikasi yang baik. Maka dari itu penulis tertarik untuk lebih meneliti, dan mengkajinya dalam judul K;0' 1 D7:7 M2$2'7'"2 B:;K 0 $;M < ,91 Identi:i$!si M!s!l!" Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti mengidentifikasikan masalah dalam penelitian ini adalah =Bagaimana Konsep Diri Mahasis%a Broken $ome dengan ;rang Tuanya di Kota Bandung>? yang akan dibahas sebagai berikut : &. Bagaimana mahasis%a dan orang tua memaknai pentingnya berkomunikasi di dalam keluarga> +. Bagaimana model konsep diri mahasis%a broken home dengan orangtuanya di kota Bandung> 6. Bagaimana kondisi keluarga broken home di kota Bandung > ,. Bagaimana realitas mahasis%a broken home di kota Bandung> 4. Bagaimana komunikasi mahasis%a broken home dengan orang tuanya di kota Bandung>