Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Kimia Bahan Alam Vol.

5 (11A), Desember 2013

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI PADA EKSTRAK BUNGA BOUGENVILLE (Bougainvillea spectabilis)


Ridhia Hafiyyani 1111096000014 Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat Telp 021-7401925 Fax 021-7402982 ABSTRACT One of the plants that can be used as traditional medicine is Bougenville. Part of the interest Bougenville that can be used is the interest, in this section can be used for antibacterial activity. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of the extracts of Bougenville flowers the agar diffusion test method. This study was conducted by observing a clear area, which indicates the growth of microorganisms by antimicrobial barrier on the surface of agar media (Jawetz et al., 2005). Based on the results of the study, the antibacterial activity test Bougenville flower extract cant inhibit the growth of gram-positive bacteria (Staphyloccoccus aureus) and gram-negative bacteria (Escherichia coli). Keyword: Antibacterial, Inhibition Zone, Bougenville Flower, E. coli, S. aureus ABSTRAK Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah bougenville. Bagian dari bunga bougenville yang dapat dimanfaatkan adalah bunganya, pada bagian ini dapat dimanfaatkan untuk aktivitas antibakteri. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak dari bunga bougenville dengan pengujian metode difusi agar. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati daerah yang bening, yang mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh antimikroba pada permukaan media agar (Jawetz et al., 2005). Berdasarkan hasil penelitian, Uji aktivitas antibakteri ekstrak bunga bougenville tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif (Staphyloccoccus Aureus) dan bakteri gram negatif (Eschericia Coli). Kata Kunci : Antibakteri, Zona Hambat, Bunga Bougenville, E.Coli, S.Aureus

PENDAHULUAN Indonesia terletak pada garis 6 LU 11 LS dan 95 BT 141 BT. Dengan demikian, Indonesia terletak di daerah beriklim tropis dan dilewati oleh garis khatulistiwa. Letak ini menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia diperkirakan berjumlah 25.000 jenis atau lebih dari 10% dari flora dunia.

Tumbuh-tumbuhan tersebut, telah dimanfaatkan sebagai obat terhadap berbagai jenis penyakit. Pemanfaatan tanaman tersebut sebagai obat tradisional pada umumnya hanya didasarkan atas pengalaman dan warisan yang diwariskan secara turun temurun, tanpa diketahui kandungan kimianya secara pasti. Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah

Jurnal Kimia Bahan Alam Vol.5 (11A), Desember 2013

bougenville. Bagian dari bunga bougenville yang dapat dimanfaatkan adalah bunganya, pada bagian ini dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan penyakit/aktivitas antibakteri. Antibakteri adalah jenis bahan tambahan yang digunakan dengan tujuan untuk mencegah kebusukan atau keracunan oleh mikroorganisme pada bahan pangan. Beberapa jenis senyawa yang mempunyai aktivitas antibakteri adalah sodium benzoat, senyawa fenol, asam-asam organik, asam lemak rantai medium dan esternya, sulfur dioksida dan sulfit, nitrit, senyawa kolagen dan surfaktan, dimetil karbonat dan metil askorbat. Antibakteri alami baik dari produk hewani, tanaman maupun mikroorganisme misalnya bakteriosin (Luthana, 2008). Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam Bougenville di antaranya : betanidin, isobetanidin, 6-0-b saphoroside, dan 6-0-rhamnosysophoroside. Daun, bunga, akar dan kulit batang Bougainvillea glabra mengandung tanin, saponin dan polifenol (Widiastuti, 2008). Tanin diduga berperan sebagai antibakteri karena memiliki kemampuan membentuk senyawa kompleks dengan protein melalui ikatan hidrogen, jika terbentuk ikatan hidrogen antara tanin dengan protein kemungkinan protein akan terdenaturasi sehingga metabolisme bakteri menjadi terganggu (Makkar, 1991). Pengujian aktivitas antibakteri adalah teknik untuk mengukur seberapa besar potensi atau konsentrasi suatu senyawa dapat memberikan efek bagi mikoorganisme (Dart, 1996). Metode pengujian aktivitas antibakteri secara garis besar terdiri dari dua macam yaitu metode difusi dan dilusi. Metode difusi yang sering digunakan salah satunya adalah metode disc diffusion (test Kirby dan Bauer), pada metode ini piringan atau kertas cakram yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media Agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada

media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan media agar (Pratiwi, 2008). Diameter zona hambatan yang terbentuk diukur menggunakan penggaris dengan cara mengurangi diameter keseluruhan (cakram + zona hambatan) dengan diameter cakram (Volk and Wheeler, 1993). Pada penelitian ini akan dilakukan uji antibakteri pada senyawa bahan alam yang terdapat dalam bunga bougenville. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak dari bunga bougenville dengan pengujian metode difusi agar. METODOLOGI PERCOBAAN ALAT Peralatan yang digunakan adalah alat-alat gelas, kertas saring whatman no.1, pipet mikro, pinset, pembakar bunsen, laminar air flow, plat TLC silika gel GF254, chamber, dan inkubator. BAHAN Bahan yang digunakan adalah ekstrak bunga bougenville, metanol, kloroform, aseton, nutrient agar, biakan Staphyloccoccus Aureus dan Eschericia Coli, dan nutrient broth. PROSEDUR KERJA Uji Antibakteri dengan Metode Difusi Agar Mula-mula suspensi bakteri NB yang telah berumur fase midlog diambil 0,1 ml kemudian dimasukkan ke dalam 10 ml NA agar tegak yang telah dicairkan, divortex, dan dituangkan ke dalam cawan petri steril. Setelah agar membeku dimasukkan kertas cakram (diameter 16 mm) yang telah dibasahi ekstrak bunga bougenville dengan

Jurnal Kimia Bahan Alam Vol.5 (11A), Desember 2013

konsentrasi berbeda-beda yaitu 75%, 50% dan 25%. Selanjutnya dibiarkan bakteri ini diinkubasi dengan cara terbalik selama 24 jam pada suhu 35-37oC. Daerah bening disekitar kertas cakram menunjukkan uji positif, sebagai kontrol negatif digunakan kertas cakram yang dibasahi metanol. Setelah itu, daerah bening yang terbentuk diukur. Identifikasi Senyawa Bahan Alam dari Bunga Bougenvill dengan Kromatografi Lapis Tipis Mula-mula ekstrak bunga bougenvill ditotolkan pada plat TLC silika gel GF254 dengan bantuan mikropipet garis start berjarak 1,5 cm dari dasar. Lalu spot dikering udarakan kemudian dielusi dengan pelarut dengan perbandingan tertentu. Sebanyak 5 ml eluen dengan perbandingan tertentu dimasukkan ke dalam chamber. Setelah itu, dimasukkan plat TLC yang telah diberi spot kemudian wadah ditutup dan dibiarkan sampai pelarut pada garis akhir. Plat TLC kemudian dikeringudarakan dan diamati spot pada plat TLC dibawah sinar UV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian aktivitas antibakteri dalam penelitian ini menggunakan bakteri gram positif dan gram negatif yaitu Staphyloccoccus Aureus dan Eschericia Coli, hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah ekstrak senyawa bahan alam dari bunga bougenville dapat menghambat terhadap dua jenis bakteri gram positif dan negatif karena pada kandungan fitokimia dari bunga bougenville terdapat tanin dan polifenol. Dalam penelitian Ummah (2010) menyatakan senyawa tanin dari daun belimbing wuluh dapat menghambat aktivitas bakteri. Dalam penelitian Uun (2008) menyatakan Polifenol sebagai metabolit

sekunder proses fermentasi kefir, mempunyai fungsi sebagai antibakteri. Uji aktivitas antibakteri pada ekstrak bunga bougenville menggunakan metode difusi agar. Metode ini kerjanya dengan mengamati daerah yang bening, yang mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh antimikroba pada permukaan media agar (Jawetz et al., 2005). Tabel 1. Hasil pengukuran zona hambat kontrol positif dari antibiotik (kloramfenikol 20%)
Bakteri Zona Hambat (mm) 75% 50% 21 33 25% 25 27

Staphyloccoccus 25 Aureus Eschericia Coli 30

Hasil penelitian pada tabel 1. menunjukkan bahwa pada uji antibakteri dari antibiotik sebagai kontrol positif dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif (Staphyloccoccus Aureus) dengan zona hambat 25 mm, 21 mm, 25 mm pada konsentrasi ekstrak 75%, 50%, 25% dan bakteri gram negatif (Eschericia Coli) dengan zona hambat 30 mm, 33 mm, 27 mm pada konsentrasi ekstrak 75%, 50%, 25%. Jadi, antibiotik ini dinilai efektif pada bakteri gram positif (Staphyloccoccus Aureus) dan bakteri gram negatif (Eschericia Coli). Hal ini sesuai literatur bahwa suatu antibiotik dapat dinilai efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri apabila zona hambatan yang ditunjukkan adalah 14 mm (Cappuccino, 1978). Hal ini terjadi, pada antibiotik yang digunakan adalah kloramfenikol 20% yang merupakan jenis dari antibiotika bakteriostatik yang bekerja dengan

Jurnal Kimia Bahan Alam Vol.5 (11A), Desember 2013

mencegah atau menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi tidak membunuh bakterinya. Tabel 2. Hasil pengukuran zona hambat ekstrak bunga bougenville
Bakteri Staphyloccoccus Aureus Eschericia Coli Zona Hambat 75% 50% 25% -

Metanol : air (1:1)

Alkohol : metanol (3:2) Metanol : kloroform (1:1) Aseton : kloroform (1:1)

Hasil penelitian pada tabel 2. menunjukkan bahwa pada uji aktivitas antibakteri ekstrak bunga bougenville tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif (Staphyloccoccus Aureus) dan bakteri gram negatif (Eschericia Coli). Hal ini dikarenakan metanol merupakan pelarut universal yang dapat melarutkan hampir sebagian besar komponen senyawa yang terdapat dalam ekstrak bunga bougenville sehingga konsentrasi senyawa antibakteri terlalu kecil. Akibatnya aktivitas terhadap bakteri gram positif (Staphyloccoccus Aureus) dan bakteri gram negatif (Eschericia Coli) tidak terlihat (Kusmiyati & Sri Agustini, 2006). Jadi, ekstrak bunga bougenville tidak bisa berfungsi sebagai senyawa antibakteri. Karena sampai saat ini, belum ada yang melakukan penelitian tentang bunga bougenville dapat berfungsi sebagai senyawa antibakteri. Tabel 3. Hasil Identifikasi senyawa bahan alam dari bunga bougenvill dengan KLT Eluen Metanol : aseton (1:1) Metanol : etil asetat (1:2) Warna Rf -

Hasil penelitian pada tabel 3. menunjukkan bahwa pada identifikasi senyawa bahan alam yang terdapat dalam bunga bougenville tidak dapat dipisahkan senyawanya dengan menggunakan kromatografi lapis tipis. Hal ini terjadi, karena belum ditemukan eluen yang tepat untuk memisahkan komponen senyawa yang terdapat dalam ekstrak bunga bougenville. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasilnya dapat disimpulkan pada senyawa yang terkandung dalam ekstrak bunga bougenville tidak dapat berfungsi sebagai antibakteri. Pada identifikasi senyawa bahan alam dengan menggunakan kromatografi lapis tipis belum ditemukan eluen yang tepat untuk memisahkan senyawa yang terdapat dari bunga bougenville. DAFTAR PUSTAKA Cappuccino, J.G., dan Sherman, N. 1978. Microbiology A Laboratory Manual. Rockland Community College. Suffern, New York. Dart. 1996. Microbiologi of the Analitical Chemist. The royal society of chemistry London Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Penerbit Djambatan

Jurnal Kimia Bahan Alam Vol.5 (11A), Desember 2013

Jawetz, et al. 2007. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 23. Salemba Medika, Jakarta. Kusmiyati dan Sri Agustini, N. W. 2006. Uji Aktivitas Senyawa Antibakteri dari Mikroalga Porphyridium cruentum. Biodiversitas, Vol. 8, No. 1, hal. 48-53 Makkar H.P.S. 1991. Effects and fate of tannins in ruminant animals, adaptation to tannins, and strategies to overcome detrimental effects of feeding tannin-rich feeds, Animal Production and Health Section, Joint FAO/IAEA Division. International Atomic Energy Agency. Vienna, Austria. Pratiwi, S. T. 2008. Mikrobiologi farmasi. Jakarta : Erlangga Uun, K. 2008. Pengaruh Lama Fermentasi Dan Konsentrasi Glukosa Terhadap Aktivitas Antibakteri, Polifenol Total dan Mutu Kimia Kefir Susu Kacang Merah. Tesis. Universitas Diponegoro, Semarang Ummah, M. K. 2010. Ekstraksi dan Pengujian Aktivitas Antibakteri Senyawa Tanin Pada Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa blimbi L.). Skripsi. UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang. Volk, Swisley A & Margareth F Whceler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga Widiastuti, W. S. 2009. Makalah Morfologi Tumbuhan Tanaman Obat Keluarga Nyctaginaceae. Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta