Anda di halaman 1dari 3

Latar Belakang Nilai ekonomi yang semakin tinggi memaksa masyarakat Indonesia bekerja lebih keras untuk mencukupi

kebutuhan hidup. Bekerja keras identik dengan bekerja seharian. Seharian penuh masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya untuk bekerja. Bagi mereka setiap detik dalam perjalanan hidup sangatlah berarti, sehingga mereka tidak akan menyianyiakan waktu. Akibat dari pemikiran seperti itu yang tertanam dalam masyarakat, membuat mereka ingin sesuatu yang cepat, sesuatu yang instan. Misalnya saja yang berkenaan dengan makanan. Makanan cepat saji dapat dibilang sudah menjadi hal yang harus tersedia di dalam rumah. Tujuan dari adanya makanan tersebut tidak lain untuk menghemat waktu agar jam kerja tidak terlalu banyak terpotong. Makanan cepat saji tidak akan lepas dari bahan pengawet. Tujuan dari penambahan pengawet ini, tidak lain untuk menjaga kualitas makanan agar tetap baik. Tidak sedikit pengawet yang digunakan berasal dari bahan-bahan kimia, meskipun sekarang juga telah berkembang pengawet dari bahan alami. Hampir seluruh masyarakat Indonesia telah mengetahui dampak negatif yang akan ditimbulkan akibat mengkonsumsi makanan cepat saji dengan pengawet buatan bagi kesehatan. Secara garis besar dampak negatif yang ditimbulkan antara lain, menyebabkan kanker, terjadi gangguan pada jantung, gangguan pada ginjal, gangguan pada alat pencernaan, gangguan pada kulit, gangguan otak, dan gangguan hati. Oleh karena itu, dalam mengkonsumsi makanan dengan pengawet ada aturannya. Misalnya saja nitrit, bahaya yang ditimbulkan adalah nitrit bias menjadi racun dan menyebabkan kanker jika dikonsumsi dalam jumlah banyak (Sebranex & Bacus, 2007). Menurut JECFA (1995), konsumsi nitrit tiap harinya sekitar 0-3,7 dan 0-0,06 mg/kg berat tubuh untuk kalium nitrit dan natrium nitrit. Selain nitrit, ada 2 contoh lainnya yaitu asam sorbik dan asam benzoic. Berdasarkan FSANZ 2010, jumlah maksimum asam sorbik yang ditambahkan dalam daging yaitu di atas 1500 mg/kg, dan menurut SNI (1995) sekitar 3000 mg/kg. Sedangkan WHO menjelaskan bahwa jumlah asam sorbik yang dapat dikonsumsi setiap harinya sekitar 25 mg/kg berat badan. Untuk asam benzoic, biasanya ditemukan secara alami di apel, kayu manis, cengkeh, cranberi, dan lain-lain. JUmlah maksimum asam benzoic yang diizinkan penggunaannya dalam pengawetan berdasarkan FSANZ (2010) dan BSN (1995) sekitar 400

mg/kg dan 1000 mg/kg. Sedangkan menurut Pollard (1990), rata-rata konsumsi asam benzoic tiap harinya sekitar 5 mg/kg berat badan. Berbicara tentang makanan, makanan yang sering ada ketika kumpul-kumpul bersama teman atau keluarga tidak lain adalah kacang, tepatnya kacang tanah. Kacang tanah yang telah diolah merupakan makanan yang merakyat. Kacang tanah atau Arachis hypogea merupakan tanaman polong-polongan yang dibudidayakan, serta menjadi kacang-kacangan kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Kacang tanah kaya akan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, diantaranya lemak, protein, zat besi, vitamin E dan kalsium, vitamin B kompleks dan Fosforus, Vitamin A dan K, lesitin, kolin dan kalsium. Kebutuhan akan kacang tanah terus meningkat, rata-rata setiap tahun kurang lebih 900.000 ton, produksi rata-rata setiap tahun 783.110 ton (87,01%). Volume impor setiap tahun sekitar 168.000 ton. Areal panen kacang tanah di Indonesia pada tahun 2011 seluas 539.459 ha dan produksi yang dicapai sebesar 691.289 ton dengan produktivitas sebesar 12,81 ku/ha. Jika dalam 1 kg kacang tanah menghasilkan 0.2 kg limbah kulit kacang tanah, maka untuk 900.000 ton kacang tanah terdapat 180.000 kg limbah kacang tanah. Tidak hanya bijinya saja yang mengandung nutrisi, kulit dari kacang tanah itu sendiri juga mengadung zak yang berguna dalam tubuh. Berdasarkan penelitan yang dilakukan mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Tonny Mulyadi ST menemukan kulit kacang tanah mengandung antioksidan setelah diekstraksi. Kandungan antioksidan yang terdapat pada kulit kacang tanah ini, mengakibatkan kulit kacang tanah ini bisa dimanfaatkan sebagai pengawet. Pemanfaatan kulit kacang tanah ini sebagai pengawet melalui beberapa tahap, yang pada akhirnya kulit kacang tanah diolah menjadi asap cair. Asap cair merupakan suatu hasi kondensasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa serta senyawa karbon lainnya. Asap cair mempunyai berbagai sifat fungsional, seperti untuk member aroma, rasa, dan warna karena adanya fenol dan karbonil; sebagai bahan pengawet alami karena mengandungsenyawa fenol dan asam yang berperan sebagai antibakteri dan antioksidan.

Bahan pengawet alami ini, kita terapakan dalam makanan tradisional salah satu daerah di Yogyakarta, yaitu geblek makanan khas daerah Kulon Progo. Makanan yang hanya bertahan sekitar 2 sampai 4 hari ini tidak cocok apabila dijadikan oleh-oleh dalam perjalanan yang lama, beberapa hari. Oleh karena itu, kita menciba mengawetkannya dengan asap cair hasil olahan dari limbah kulit kacang tanah. Bahan utama dari pembuatan geblek adalah tepung kanji atau pati singkong.