Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS OBAT, MAKANAN, DAN KOSMETIK

ANALISIS NILAI SUN PROTECTING FACTOR (SPF) PADA SEDIAAN SUNBLOCK

Disusun Oleh : Ajeng Septya A. Eradian Irma W. Beni Lestari Suci Ardina W. FA/08740 FA/08743 FA/08746 FA/08752

Hari/Tanggal Praktikum Golongan / Kelompok / Kelas Dosen Pengampu Dosen Jaga Asisten Jaga

: Selasa, 28 Mei 2013 : 11 / C / C 2011 : Dr. Rumiyati : Dr. Tatang Irianti, M.Si., Apt. : Aryo dan Aster

LABORATORIUM ANALISIS FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

PENETAPAN NILAI SUN PROTECTING FACTOR (SPF) PADA SEDIAAN SUNBLOCK


I. TUJUAN Menetapkan nilai Sun Protecting Factor (SPF) dalam sunblock menggunakan metode Spektrofotometri UV (kuantitatif).

II.

DASAR TEORI Indonesia adalah negara yang terletak di daerah tropis dengan paparan sinar matahari

sepanjang musim. Sebagian penduduknya bekerja di luar ruangan sehingga mendapat banyak paparan sinar matahari bahkan pada saat matahari sedang terik. Radiasi sinar matahari dapat mempengaruhi kesehatan kulit semua individu. Paparan sinar matahari yang melimpah dengan intensitas tinggi dapat mengganggu terhadap kesehatan kulit seperti hiperpigmentasi, kanker kulit dan menyebabkan kulit hitam dan bersisik. Efek tersebut disebabkan oleh adanya radiasi sinar ultraviolet, terutama radiasi sinar UV-A dan UV-B (Purwanti dkk, 2005). Untuk mencegah efek buruk pajanan sinar matahari dapat dilakukan dengan cara menghindari pajanan berlebihan sinar surya, yaitu tidak berada di luar rumah pada jam 10:00-16:00, memakai pelindung fisik seperti pakaian tertutup, payung, caping dan memakai tabir surya topikal apabila memang kegiatan mengharuskan berada di bawah terik matahari (Perwitasari, dkk, 1999). Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetika yang digunakan dengan maksud menyerap secara efektif cahaya matahari terutama pada daerah emisi gelombang ultraviolet, sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan kulit karena cahaya matahari (Soeratri dan Purwanti, 2004). Terhadap sinar ultraviolet manusia dapat melakukan berbagai cara untuk melindungi tubuhnya, memakai baju, topi, payung atau berlindung dibalik atap, tembok atau pepohonan. Namun perlindungan tersebut terkadang tidak mencukupi karena selain alat pelindung masih bisa ditembus sinar tersebut, ruang gerak kita juga akan terbatas karena selalu berlindung dibalik alat pelindung. Oleh karena itu dibuat kosmetika yang dapat menyerang sinar matahari (sunscreen) atau yang dapat menahan sinar matahari tersebut (sunblock). Kosmetika ini disebut kosmetika tabir surya. Ada 2 macam tabir surya : 1. Tabir surya kimia : misalnya PABA, PABA Ester, benzofenon, salisilat dan antranilat, yang dapat mengabsorbsi energi radiasi. Tabir surya kimia mengabsorbsi hampir 95% radiasi sinar UVB yang dapat menyebabkan sunburn (eritema dan kerut) namun tidak dapat menghalangi UVA penyebab direct tanning, kerusakan sel elastin, actinic skin damage dan timbulnya kanker kulit. 2. Tabir surya fisik : misalnya titanium dioksida , Mg silikat, seng oksida, red petrolatum dan kaolin, yang dapat memantulkan sinar. Tabir surya fisik dapat menahan UVA maupun UVB. Untuk mengoptimalkan kemampuan dari tabir surya sering dilakukan kombinasi antara tabir surya kimia dan tabir surya fisik, bahkan ada yang menggunakan beberapa macam tabir surya dalam suatu sediaan kosmetika.

Secara alami, manusia memiliki kulit yang berfungsi sebagai sawar utama antara tubuh dan lingkungan hidup yang terdiri atas berbagai macam agen, baik fisik maupun kimia yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan kulit. Pada umumnya kulit resisten terhadap efek toksik dari sebagian besar agen lingkungan tersebut, tetapi perlindungan tersebut tidak sempurna dilakukan oleh kulit sendiri. Banyak pengaruh lingkungan hidup secara cepat atau lambat masih dapat merusak jaringan kulit manusia, misalnya tekanan, tarikan, goresan,

kelembaban, panas, dingin, zat kimia, jasad renik dan lainnya lagi. Radiasi solar adalah agen fisik utama yang dapat membahayakan kulit kita. Kerusakan kulit tersebut terjadi akibat adanya komponen sinar ultraviolet dari sinar matahari yang mencapai bumi kita. Paparan sinar matahari yang melimpah dengan intensitas tinggi dapat mengganggu terhadap kesehatan kulit seperti hiperpigmentasi, kanker kulit dan menyebabkan kulit hitam dan bersisik. Efek tersebut disebabkan oleh adanya radiasi sinar ultraviolet, terutama radiasi sinar UV-A dan UV-B. Keadaan di atas dapat diatasi dengan menggunakan sediaan sunscreen. Sediaan sunscreen adalah sediaan kosmetika yang digunakan dengan maksud menyerap secara efektif cahaya matahari terutama pada daerah emisi gelombang ultraviolet, sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan kulit karena cahaya matahari. Bahan aktif yang banyak digunakan sebagai sunscreen adalah senyawa turunan sinamat, octocrylene, senyawa PABA (para amino benzoic acid) dan salisilat. Bahan aktif tersebut banyak digunakan karena dapat menghindarkan seseorang dari hiperpigmentasi dan serangan kanker kulit. Lembaga kanker kulit di Amerika memperkirakan bahwa terdapat setengah juta kasus kanker kulit per tahun dan 90 % diantaranya disebabkan oleh paparan sinar matahari. Dengan banyaknya kebutuhan terhadap sediaan tabir surya, maka perlu dilakukan penelitian sintesis senyawa aktif tabir surya dari bahan alam yang banyak terdapat di Indonesia. Dalam American Cancer Society (2001) sinar surya yang sampai di permukaan bumi dan mempunyai dampak terhadap kulit dibedakan menjadi sinar ultraviolet A atau UV-A ( 320400 nm), sinar UV-B ( 290-320 nm) dan sinar UV-C ( 200-290 nm). Menurut Satiadarma (1986) sebenarnya sinar UV hanya merupakan sebagian kecil saja dari spektrum sinar matahari namun sinar ini paling berbahaya bagi kulit karena reaksi-reaksi yang ditimbulkannya berpengaruh buruk terhadap kulit manusia baik berupa perubahan-perubahan akut seperti eritema, pigmentasi dan fotosensitivitas, maupun efek jangka panjang berupa penuaan dini dan keganasan kulit. Seseorang dapat terkena paparan sinar UV-C dari lampu-lampu buatan dan akibatnya adalah kemerahan kulit, peradangan mata dan merangsang pigmentasi. Sinar UV-B sering disebut sebagai sinar sunburn spectrum dan juga paling efektif menyebabkan pigmentasi. Sinar UV-A biasanya hanya menyebabkan pencoklatan walaupun dapat juga menimbulkan sunburn namun lebih lemah dibandingkan dengan UV-B. Meskipun demikian efek kumulatif jangka panjang sinar UV-A sama dengan sinar UV-B karena intensitas sinar UV-A yang sampai ke bumi kira-kira 10 kali UV-B. Efek buruk sinar UV dipengaruhi oleh faktor individu, frekuensi, lama pemejanan serta intensitas radiasi sinar UV. Berdasarkan struktur kimianya, ada dua bagian pada senyawa p-metoksi oktil sinamat yang dimungkinkan berperan penting yaitu bagian rantai alkil dan bagian rantai benzil.

Berdasarkan struktur kimia senyawa tersebut maka terdapat bagian benzena aromatis dan sisi alkil yang bersifat relatif non polar. Efek perlindungan sinar UV dari senyawa diakibatkan bagian cincin benzena, sedangkan bagian sisi alkil digunakan untuk kontribusi sifat non polar senyawa yang berakibat senyawa tak larut dalam air (Tahir, dkk, 2000). Salah satu contoh senyawa tabir surya yang saat ini banyak digunakan adalah senyawa p-metoksi oktil sinamat yang merupakan turunan dari ester sinamat. Berdasarkan struktur kimia senyawa tersebut, maka pengembangan senyawa-senyawa turunannya dapat dilakukan untuk mencari senyawa lain yang lebih efektif dan jika mungkin disintesis dari bahan-bahan alam yang banyak terdapat di Indonesia. Pengukuran dan pengujian aktivitas senyawa-senyawa sunscreen dapat dilakukan dengan banyak cara yakni pengujian secara in vitro dan in vivo. Pengujian aktivitas serapan sinar UV secara in vitro dapat dilakukan dengan teknik spektroskopi UV yang diukur pada rentang panjang gelombang sinar UV (200-400 nm). Pengukuran lain yang langsung diujikan pada sel biologis adalah teknik analisis secara in vivo. Teknik ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan salah satunya adalah dengan pengamatan eritema akibat terkena paparan sinar UV dan dibandingkan dengan suatu kontrol. Eritema merupakan salah satu tanda terjadinya proses inflamasi akibat pajanan sinar tersebut dan terjadi apabila volume darah dalam pembuluh darah dermis meningkat hingga 38% di atas volume normal. Kemampuan menahan sinar ultraviolet dari sunblock dinilai dalam faktor proteksi sinar (Sun Protecting Factor / SPF) yaitu perbandingan energi ultraviolet yang diperlukan untuk menghasilkan eritema minimum pada kulit yang diberi sunblock terhadap banyaknya energi ultraviolet yang diperlukan untuk menghasilkan eritema minimum pada kulit yang tidak diberi sunblock. Minimal erythema dose (MED) adalah dosis energi minimum ultraviolet yang

diperlukan untuk menghasilkan eritema kulit minimum yang seragam. Dosis minimum eritema (MED) diuji oleh setiap panelis pada tes SPF. Waktu/dosis pada simulasi cahaya UV dibutuhkan untuk menghasilkan keseragaman, yang hampir tidak menampakkan kemerahan pada kulit. Nilai MED berbeda-beda berdasarkan tipe kulit seseorang. Nilai SPF berkisar antara 0 sampai 100, dan kemampuan sunblock yang dianggap baik berada di atas 15. Tingkat kemampuan sunblock sebagai berikut: 1. Minimal, bila SPF antara 2 4 2. Sedang, bila SPF antara 4 6 3. Ekstra, bila SPF antara 6 - 8 4. Maksimal, bila SPF antara 8 15 5. Ultra, bila SPF lebih dari 15 (Wasitaatmadja, 1997) SPF hanya menunjukkan daya perlindungan terhadap UVB dan tidak terhadap UVA. Sebab, berbeda dengan UVB yang bekerja pada permukaan kulit dan menyebabkan kulit

terbakar, UVA meresap masuk ke dalam kulit dan merusak DNA. Ini membuat kekuatan UVA tidak bisa diukur dengan mudah karena efeknya tidak segera terlihat. Pengukuran dan pengujian aktivitas senyawa-senyawa tabir surya dapat dilakukan dengan banyak cara yakni pengujian secara in vitro dan in vivo. Penetapan harga SPF scara in vitro dapat dilakukan dengan 2 cara. Metode yang menghitung absorbsi dan transmisi penghantaran sinar UV selanjutnya dihitung harga SPF dengan rumus: A C

selain itu juga metode yang membaca absorbansi pada panjang gelombang spesifik (Fourneron et al., 1999; Gordon, 1993; Mansur et al., 1986; Pissavini, M. et al., 2003; Walters et al., 1997). Mansur et al. (1986), telah membuat persamaan matematika yang simpel pada pengujian in vitro:

Pengukuran lain yang langsung diujikan pada sel biologis adalah teknik analisis secara in vivo. Teknik ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan salah satunya adalah dengan pengamatan eritema akibat terkena paparan sinar UV dan dibandingkan dengan suatu kontrol. Eritema merupakan salah satu tanda terjadinya proses inflamasi akibat pajanan sinar tersebut dan terjadi apabila volume darah dalam pembuluh darah dermis meningkat hingga 38% di atas volume normal. Penentuan harga SPF dilakukan dengan cara membandingkan dosis sinar UV yang dibutuhkan untuk munculnya eritema pada sel biologis yang telah diolesi sunscreen dengan dosis yang dibutuhkan untuk munculnya eritema pada sel biologis tanpa sunscreen.

III.

CARA KERJA

Membuat Larutan Stock Menimbang kurang lebih 50 mg sampel dengan gelas timbang Menambahkan etanol ad 25 ml pada labu takar Menggojok hingga homogen, menggunakan sonikasi Menyaring larutan stock, kertas saring dijenuhi dengan etnol lebih dulu Dilakukan uji Kuantitatif

Uji Kuantitatif dengan Spektrofotometer UV

Mengambil 100 l larutan stock ad 5 ml Kadar menjadi 0,004mg/ml Replikasi masing-masing 2x Mengukur absorbansi larutan pada 290-320 nm dengan interval kenaikan 5nm Menganalisis hasil spektrofotometer UV dengan rumus : C ( ( A (

IV.

DATA DAN PERHITUNGAN

1. Data Sampel Nama Produk Merk : Sunblock : Nivea PT. Beiersdorf AG Malang Indonesia Isi Mengandung : SPF 50 PA ++ : Titanium dioksida, Ethylhexyl methoxycinnamate, Benzophenone 3 (oxybenzone) Khasiat : Melindungi kulit terhadap sinar matahari UV A dan UV B (dipakai pada muka dan leher sebagai alas bedak pagi/ siang hari) Organoleptis a. Warna b. Bau c. Rasa d. Volume : : Putih : Harum :: 22 gram

2. Uji kuantitatif Sampel 1 Berat gelas arloji Gelas timbang + sampel = 20,13 g = 20,18 g

Berat sampel

= 0,05 g

Sampel 2 Berat gelas timbang Gelas timbang + sampel Berat sampel = 25,95 g = 26,00 g = 0,05 g

Sampel 3 Berat gelas timbang Gelas timbang + sampel Berat sampel = 21,77 g = 21,82 gg = 0,05 g

Absorbansi sampel 290 295 300 305 310 315 320 Total I 0.490 0.514 0.531 0.546 0.53 0.500 0.447 3,567 II 0.636 0.668 0.695 0.717 0.698 0.659 0.591 4,664 III 0.491 0.515 0.532 0.546 0.531 0.500 0.449 3,564

Volume larutan stock = 25 ml dalam etanol Pengenceran = diambil masing-masing 100 l, diencerkan ad 5ml Faktor pengenceran =

Perhitungan SPF CF = 10 Sampel 1 SPF = 10 x 3,567 = 35,67 Sampel 2 SPF = 10 x 4,664 = 46,64 Sampel 3 SPF = 10 X 3,564 = 35,64 SPF rata-rata = 39,32 SD = 6,34 CV = V. PEMBAHASAN tidak presisi karena lebih dari 5% ( ( (

SPF atau Sun Protection Factor dikenal sejak tahun 1962 yang digunakan untuk mengukur efek sunscreen terhadap sinar UV. Sunscreen digunakan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV. Dalam jumlah yang tidak berlebihan, sinar ultraviolet sebenarnya berguna bagi tubuh, antara lain untuk membentuk vitamin D dari provitamin D agar tulang tidak keropos, membentuk tirosin menjadi melanin sehingga kulit berwarna, dan mampu membunuh bakteri jahat yang dapat menyebabkan penyakit seperti jamur. Sinar matahari terdiri dari 3 komponen, yaitu sinar UVA, UVB, dan UVC. Sinar UVA (panjang gelombang antara 315-400 nm) mampu lebih dalam menembus kulit dan memiliki jangka waktu yang lebih lama untuk menimbulkan kerusakan pada kulit, seperti kerutan, dan gejala-gejala penuaan dini. Sinar UVA ini akan membuat kulit menjadi hitam (tanning). Sedangkan sinar UVB (panjang gelombang 280 nm) hanya 0,2 % dari sinar matahari total. Paparan sekitar 15 menit/hari dari sinar UVB ini sebenarnya sangat penting untuk memicu pembentukan vitamin D3 (salah satu komponen Vitamin D) dari provitaminnya. UVB sebenarnya juga mampu melindungi kulit terhadap pembakaran lebih lanjut dengan cara menebalkan lapisan tanduk pada kulit. Namun, paparan sinar UVB yang terlalu lama dan terlalu sering bisa menyebabkan kulit terbakar yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker kulit akibat penekanan imunitas seluler kulit. Sinar UVC (panjang gelombang 100 nm) sebenarnya amat berbahaya dan sangat merusak kulit, tetapi sinar ini ditahan oleh lapisan ozon. Kebocoran lapisan ozon (O3) menyebabkan beberapa (sebagian kecil) sinar ini masuk ke bumi. Mencegah interaksi sinar UV dengan kromofor kulit merupakan fungsi utama dari tabir surya. Produk tabir surya sangat sederhana, tabir surya mengabsorbsi, memantulkan, atau menghamburkan radiasi UV dari sinar matahari sebelum energi ini diabsorbsi oleh residu kromofor dalam kulit. Tabir surya kimia yang biasa digunakan adalah oktil metoksisinamat sebagai UVB filter yang paling banyak digunakan. Bahan ini kurang efektif dalam mengabsorbsi UVB dibandingkan para-aminobenzoic acid (PABA) dan pada formulasinya dianjurkan penambahan UVB filter untuk memperoleh nilai SPF yang tinggi. UVA filter termasuk benzofenon, antranilat dan dibenzoilmetan. Oksibenzon adalah benzofenon yang paling luas digunakan, mengabsorbsi UVA dan UVB. Kedua bahan ini memiliki kekurangan yaitu bersifat fotolabil serta mudah terdegradasi dan teroksidasi. Dalam memilih tabir surya atau sunscreen yang perlu diperhatikan adalah nilai Sun Protecting Factor (SPF) yang terdapat dalam setiap produk tabir surya. Nilai tersebut menunjukkan kekuatan tabir surya dalam melindungi kulit dari sengatan sinar UVB. Lamanya kulit terlindungi oleh tabir surya sangat ditentukan oleh nilai SPF yang tertera pada produk tersebut. Terdapat banyak jenis SPF, ada SPF 15, SPF 30, bahkan sekarang ada SPF 70. SPF 15 artinya jika kita telah terpapar sinar matahari selama 10 menit, SPF 15 akan melindungi kulit kita dari kerusakan (akibat terbakar sinar matahari) selama 150 menit, begitu juga dengan SPF 30 dan SPF 70. SPF yang lebih tinggi berarti memiliki waktu yang lebih banyak bisa terpapar sinar matahari. Jenis tabir surya lainnya mengandung zat kimia yang disebut benzofenon. Banyak tabir surya yang mengandung PABA dan benzofenon atau zat kimia

lainnya; kombinasi ini memberikan perlindungan terhadap sinar UV dalam rentang yang lebih luas. Tabir surya lainnya mengandung penghalang fisik seperti seng oksida atau titanium dioksida; salep putih yang kental ini melindungi kulit dari sinar matahari dan bisa digunakan di daerah sensitif yang tidak terlalu luas (misalnya hidung dan bibir). Kekuatan tabir surya dikelompokkan berdasarkan angka SPF (sun protection factor); makin tinggi angka SPFnya maka makin kuat perlindungannya. Tabir surya dengan SPF 15 atau lebih bisa menghalangi sebagian besar sinar UV Kebanyakan tabir surya cenderung hanya menghalangi sinar UVB meskipun sinar UVA juga bisa menyebabkan kerusakan kulit. Saat ini ada beberapa tabir surya terbaru yang efektif dalam menghalangi sinar UVA. Dalam praktikum analisis kosmetika ini, sediaan yang ditetapkan nilai SPF-nya adalah sediaan sunblock dengan merek Nivea. Kandungan dari sediaan ini yang berfungsi sebagai tabir surya dari sediaan hand & body lotion ini adalah ethylhexyl methoxycinnamate , titanium dioxide, dan oxybenzon (benzophenon 3). Ethylhexyl methoxycinnamate

Ethylhexyl methoxycinnamate digunakan dalam sediaan sunscreen sebagai UV filter, dalam label produk sunscreen sering terdapat dengan nama Octinoxate. Ethylhexyl methoxycinnamate adalah cairan bening yang tidak larut dalam air. Ethylhexyl metoksisinamat digunakan dalam formulasi berbagai jenis produk termasuk tabir surya dan produk make-up yang mengandung bahan untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Di Amerika Serikat, produk ini diatur sebagai Over-the-Counter (OTC) obat-obatan. Ethylhexyl metoksisinamat juga melindungi kosmetik dan produk perawatan pribadi dari kerusakan yang disebabkan oleh sinar UV dan memungkinkan mereka untuk bertahan lebih lama dalam kondisi UV tinggi. FDA melakukan peninjauan obat OTC ethylhexyl metoksisinamat (juga disebut oktil metoksisinamat) dan menyetujui penggunaan bahan ini sebagai bahan aktif dalam produk tabir surya sampai dengan konsentrasi 7,5%. Ketika digunakan sebagai bahan aktif dalam produk tabir surya OTC, bahan ini akan dicantumkan pada label sebagai Octinoxate. Titanium dioksida merupakan oksida dari logam Titanium. Wujud tunggal senyawa ini berupa serbuk atau padatan berwarna putih, tidak berbau dan tidak berasa. Bobot molekulnya 79,9 gram per mol. Titik leleh senyawa ini yaitu 1855 derajat Celcius. TiO2 tidak larut dalam air dingin, HCl, Asam nitrat, asam sulfat encer, dan pelarut pelarut organic. Namun larut dalam asam sulfat pekat, asam fluoride dan alkali. Pada penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan mutasi pada sel somatic mamalia (Anonim, 2013). International Agency of Research on Cancer (IARC) memasukkan TiO2 sebagai zat yang dpat berpotensi menimbulkan kanker pada manusia. Mekanisme kerja TiO2 yaitu sebagai pengebok fisik sinar UV A dan UV B yang memancar ke kulit. Senyawa TiO2 yang tidak

larut dalam air dingin ini menguntungkan pada para pemakai karena tidak mudah hilang jika terkena air dan pertahanan kulit tetap lama. Beberapa ilmuwan mengembangkan TiO2 dalam bentuk nanoparticle sebagai zat aktif sediaan sunscreen. Nano TiO2 ini memiliki sifat menghamburkan dan menyerap cahaya sehingga dapat digunakan sebagai agen UV protector seperti pada sunscreen dan sunblock (Jacobs, Johannes F,dkk,2010). TiO2 emiliki ukuran partikel 150 300 nm dan 20 150 nm. TiO2 yang memiliki ukuran partikel lebih kecil lebih melindungi terhadap UV B dan sebagian UV A2 dan UV A1 (290 360 nm)

1. Oxybenzon atau benzophenon3 memiliki rumus kimia C14H12O3. Sinonimnya antara lain Uvinul 9 , Uvistat 24, Sunscreen UV 15, Uvinul M-40. Oxybenzone berupa zat padat, Kristal, atau serbuk berwarna putih hingga kekuningan, dengan bobot molekul 228,25 gram / mol,dan titik leleh 63 derajat Celcius. Oxybenzone tidak larut dalam air dingin , air panas. Namun larut dalam solven organic dan sangat mudah larut dalam alcohol dan touene (Anonim, 2013). Oxybenzone yang biasa terdapat dalam sunscreen dan sunblock ini ternyata dapat menyebabkan photoallergi pada kulit. Oxybenzone merupakan fotoallergen ke empat setelah fenotiazin dan fentichlor (Rietschel,dkk.,2008). Oxybenzone dapat menyerap sinar UV B dan memiliki penyerapan maksimal terhadap sinar dengan panjang gelombang 290 nm (Alldredge, Brian K., dkk., 2013). Dari hasil perhitungan diperoleh sediaan Nivea memiliki nilai SPF rerata 39,32 dari 2 kali replikasi. Oleh karena itu sediaan Nivea ini dapat dikatakan memiliki kemampuan sunblock yang dianggap baik karena nilai SPF berada di atas 15. Harga SD yang diperoleh adalah 6,34 dan menghasilkan CV sebesar 16,2%, karena itu data yang dihasilkan tidak presisi karena CV>5%.

VII. KESIMPULAN 2. Sampel yang dianalisis merupakan sediaan Nivea yang memiliki nilai SPF rerata 39,32 dari 2 kali replikasi. 3. Senyawa yang berfungsi sebagai tabir surya dari sediaan Nivea adalah Ethylhexyl Methoxycinnamate, oxybenzone, dan titanium dioksida. 4. Harga SD yang diperoleh dari percobaan sebesar 6,34 5. Harga CV yang diperoleh sebesar sehingga analisis kurang presisi

VI.

DAFTAR PUSTAKA

Alldredge, Brian K., dkk., 2013, Applied Therapeutics Tenth Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia Anonim, 2013, Titanium dioxideMSDS,www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9925268, diakses pada 18 Mei 2013 Anonim, 2013, Benzophenon-3 MSDS,www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9925268, diakses pada 18 Mei 2013 Jacobs, Johannes F., dkk., 2010, Sunscreens with Titanium Dioxide (TiO2) Nano-Particles :ASocietal Experiment, www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2933802/ diakses pada 18 Mei 2013 Mansur, J. S.; Breder, M. N. R.; Mansur, M. C. A.; Azulay, R. D., 1986, Determinao do fator de proteo solar por espectrofotometria. An. Bras. Dermatol., Rio de Janeiro, v. 61, p. 121-124 Perwitasari, I, Chandra, D.K., Etnawati dan Suyoto, 1999, Peran Tabir Surya Kombinasi Sinamat danBenzophenon pada Perubahan Warna Kulit Konstitutif Akibat Pajanan UV-B, Kupulan Jurnal Kosmetik Medik, FKU-UGM Rietschel,dkk., 2008, Contact Dermatitis, Decker Inc, Ontario Wasitaatmadja, S.M., (1997), Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, Penerbit UI-Press, Jakarta, Hal. 3,199 120 Kimbrough, DR., 1997, The Photochemistry of Sunscreens, J. Chern. Ed., 74, 1,5-53

Mengetahui, Dosen Pembimbing,

Yogyakarta, 28 Mei 2013 Praktikan, Ajeng Septya Alivianuyta/ Eradian Irma Wulandari/ 08740 08743

Beni Lestari/ Dr. Rumiyati

08746

Suci Ardina Widyaningrum/ 08752

Anda mungkin juga menyukai