Anda di halaman 1dari 49

PEMBIMBING: dr. Ririe Fachrina M, Sp.

A(K)

Umur dan daya tahan tubuh meningitis purulenta >> bayi - anak sistem kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna Sekitar 600.000 kasus/tahun 180.000 kematian, 75.000 gang. pendengaran berat, 500.000 cacat neurologis lain(WHO)

Puncak insidensi kasus meningitis karena Haemophilus influenzae di Negara berkembang adalah pada anak usia kurang dari 6 bulan, sedangkan di Amerika Serikat terjadi pada anak usia 6-12 bulan RSUP H.ADAM MALIK MEDAN (2005 2008) 148 kasus anak 71 kematian RS SANTA ELISABETH (2000 2002) 116 26 kematian (>> banyak < 6 tahun) RSUP H.ADAM MALIK MEDAN (2006 2010) 102

DEFINISI
Meningitis adalah infeksi cairan otak/invasi kuman kedalam ruang subarakhnoid disertai radang yang mengenai piamater (lapisan dalam selaput otak) dan arakhnoid serta dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medula spinalis yang superficial disebabkan oleh bakteri, virus riketsia atau protozoa yang dapat terjadi secara akut dan kronis.

Tingkat insiden dan fatalitas kasus meningitis bakteri bervariasi menurut wilayah, negara, patogen dan kelompok umur. Insiden meningitis karena bakteri adalah sekitar 5-7 per penduduk 100.000 Meningitis karena virus berhubungan dengan musim, di Amerika sering terjadi selama musim panas Meningitis tuberkulosa dapat terjadi pada setiap kelompok umur tetapi lebih sering pada anak-anak usia 6 bulan-5 tahun.

1.

2.
3. 4. 5. 6. 7.

Umur <5 tahun dan >60 tahun. Penderita pasca splenektomi, Kekurangan gizi Penyakit sel sabit yang dikenal dengan thalasemia, Fraktur basis kranii, HIV Pasien dengan implan koklea memiliki 30 kali peningkatan risiko meningitis pneumokokus.

Kuman dapat mencapai selaput otak dan ruang subarachnoidea melalui yaitu :
1. Punksi

lumbal, 2. Anestesi lumbal, 3. Fraktur terbuka di kepala, 4. Komplikasi bedah otak, 5. Penyebaran langsung dari proses infeksi di telinga tengah dan sinus paranasalis,

Pembuluh darah pada keadaan sepsis, 7. Penyebaran dari abses ekstradural, 8. Abses subdural dan abses otak, 9. Lamina kribosa osis etmoidalis osis etmoidalis pada keadaan rinorea, 10. Penyebaran dari radang paru dan penyebaran dari infeksi kulit.
6.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Bakteri, Virus, Jamur, Parasit, Tumor, Iritasi kimia, dan Alergi obat.

Resiko dan/atau faktor predisposisi Umur 0-4 minggu

Bakteri pathogen S agalactiae (group B streptococci) E coli L monocytogenes S agalactiae E coli H influenzae S pneumoniae N meningitidis N meningitidis S pneumoniae H influenzae

Umur 4-12 minggu

Umur 3 bulan - 18 tahun

Resiko dan/atau faktor predisposisi Umur 18-50 tahun

Bakteri pathogen
S pneumoniae N meningitidis H influenzae

Umur > 50 tahun

Immunocompromised

S pneumoniae N meningitidis L monocytogenes Aerobic gram-negative bacilli S pneumoniae N meningitidis L monocytogenes Aerobic gram-negative bacilli

Resiko dan/atau faktor predisposisi


Umur 18-50 tahun

Bakteri pathogen S pneumoniae N meningitidis H influenzae S pneumoniae N meningitidis L monocytogenes Aerobic gram-negative bacilli S pneumoniae N meningitidis L monocytogenes Aerobic gram-negative bacilli

Umur > 50 tahun

Immunocompromised

Resiko dan/atau faktor predisposisi Fraktur basis tengkorak

Bakteri pathogen
S pneumoniae H influenzae Group A streptococci

CSF shunts

Coagulase-negative staphylococci S aureus Aerobic gram-negative bacilli Propionibacterium acnes

VIRUS Virus yang tersering menyebabkan meningitis adalah enterovirus, selain itu juga bisa disebabkan oleh virus herpes, mumps, HIV, dan west nile virus

Secara hematogen Perkontinuitatum

Gejala klinis
Meningitis

virus rasa sakit penderita tidak terlalu Tuberkulosa terdiri dari tiga stadium, yaitu :

berat.
Meningitis 1. 2.

Stadium prodormal selama 2-3 minggu. Stadium transisi selama 1 3 minggu dengan gejala nyeri kepala yang hebat dan kadang disertai kejang terutama pada bayi dan anak-anak. Stadium terminal ditandai dengan kelumpuhan dan gangguan kesadaran sampai koma.

3.

Meningitis bakteri non spesifik, seperti : 1. Didahului oleh gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas dan gastrointestinal. 2. Gejala infeksi akut 3. Gejala peningkatan tekanan intracranial 4. Gejala rangsangan meningeal

Pemeriksaan fisik : Gejala rangsangan meningeal berupa kaku kuduk dan dapat terjadi rigiditas umum. Tanda-tanda spesifik seperti kernig, brudzinsky I dan II positif. Pemeriksaan penunjang: Pemeriksaan Pungsi Lumbal Pemeriksaan darah Pemeriksaan Radiologis

Abses otak Empiema subdural

Triase untuk kegawatdaruratan pada anak sakit seperti meningitis antara lain: 1. Airway&breathing 2. Circulation, dan 3. Kejang.

Penanganan kejang menurut WHO dapat dilihat dari algoritma berikut ini:
Kejang 0-10 menit
Sebelum di RS

Kejang
Diazepam 5-10 mg/rektal maksimal 2 kali (jarak 5 menit) Kejang Ya Tidak Monitor : Airway, breathing, circulation Tanda vital, pemasangan akses IV gula darah, elektrolit serum (Na, K, Ca, Mg, Cl), AGD, darah rutin.

Kejang 10-20 menit

Diazepam 0,25 0.,5 mg/KgBb IV (kec 2mg/mnt, max 20mg) Atau Midazolam 0,2 mg/KgBb IV Atau Lorazepam 0,05 0,1 mg/KgBb IV (kec < 2mg/mnt, max 4 mg)

Hipoglikemi : D25% 2 ml/KgBb

Kejang 2030 menit


Ya

Kejang Tidak Stop

Fenitoin 15 20 mg/KgBb IV encerkan dgn NaCl 0,9% (kec 20-50 mg/mnt, max 30 mg/KgBb)

Fenitoin 5 10 mg/KgBb

Kejang 30-60 menit


Ya Status Konvulsivus

Kejang Tidak Intubasi Fenobarbital 5 - 10 mg/KgBb IV (setelah 10-15 menit) Tidak PICU

Ya Fenobarbital 10 20 mg/KgBb IV (kec 100 mg/mnt) Kejang

1.

2. 3.

4.

Hemophilus influenza : ampisilin 400mg/kgbb/hari dibagi 6 dosis dan kloramfenikol 100mg/kgbb/hari intravena dalam 4 dosis Pneumococcus : ampisilin 400mg/kgbb/hari Staphylococcus non penicillinase dan Streptococcus : linkomisin 50100mg/kgbb/hari Staphylococcus penicillinase : ampisilin 400mg/kgbb/hari ditambah oksasilin atau diklosasilin 50-100 mg/kgbb/hari atau metisilin 100-300mg/kgbb/hari

5.

6.

7.

Coliform : ampisilin ditambah amikasin 10mg/kgbb/hari atau gentamisin 6 mg/kgbb/hari Meningococcus : ampisilin ditambah dengan kotrimoksazol 10 mg TMP/kgbb/hari Salmonella : sefalosporin 200mg/kgbb/hari ditambah amikasin atau ampisilin ditambah kloramfenikol atau kotrimoksazol intravena.

Setelah kejang teratasi dan pemberian terapi empiris, rujuk ke dokter spesialis anak.

Akibat pengobatan yang tidak sempurna atau pengobatan yang terlambat. Komplikasi yang mungkin ditemukan adalah: 1. Efusi subdural, 2. Empiema subdural, 3. Ventrikulitis, 4. Abses serebri, 5. Sekuele neurologis berupa paresis atau paralisis sampai deserebrasi, 6. Hidrosefalus akibat sumbatan jalannya atau resorbsi atau produksi LCS yang berlebihan.

Pada pengawasan yang lama mungkin akan ditemukan tanda-tanda retardasi mental, epilepsi maupun meningitis berulang.

Nama : EM Jenis kelamin : Laki-laki Umur : 6 Tahun 6 Bulan Berat badan : 23 Kg Orang Tua : Tn. S/Ny.I Tanggal masuk : 15 November 2013 Riwayat klinis PBM Via IGD pada pukul 08.51 WIB dengan keluhan demam tinggi disertai kejang. Kejang pada malam hari sebelum masuk RS. Demam tinggi dan batuk sejak 3 hari yang lalu.

Tone : hipertonik (Tangan menggenggam dan terdapat kekakuan. Sendi lutut bisa diekstensikan tetapi tidak membentuk sudut 1800) Interactivenes : stupor dan derajat kesadaran respon dengan nyeri (responsive to painful) Consalability : pasien sulit untuk berinteraksi ketika pemeriksaan dan anak tidak menangis Look/gaze : pandangan kosong dan tidak fokus. Reflex pupil positif, isokor kanan dan kiri. Speech/cry : anak tidak menangis. Kesan : Penampilan terganggu.

Suara napas abnormal : gurgling (-), snoring (-), stridor (-) Posisi tubuh abnormal (-) Retraksi (-) Napas cuping hidung (-) Kesan : upaya nafas tidak terganggu

Pucat (-) Sianosis (-) Mottling (-) CRT < 2 detik Kesan : sirkulasi tidak terganggu

Sirkulasi

N
Kesimpulan : terdapat gangguan SSP/Metabolik

Airway : Evaluasi : Look :Gerakan dinding dada simetris, tidak terdapat pernafasan napas cuping hidung, dan tidak ada retraksi dinding dada. Listen : tidak terdengar suara nafas abnormal. Feel : terasa aliran udara keluar dari hidung. Kesan : Airway clear Tidak ada gangguan jalan nafas Tindakan : -

Breathing : Evaluasi : Frekuensi pernafasan : 38 kali permenit. Look : Gerakan dinding dada simetris, tidak terdapat pernafasan napas cuping hidung, dan tidak ada retraksi dinding dada Listen : Tidak terdengar suara nafas abnormal. Feel : terasa aliran udara keluar dari hidung. Tindakan : pemasangan O2 nasal kanul 2 L/menit.

Circulation : Evaluasi : Frekuensi nadi 120 x/menit, nadi teraba kuat, dan regular CRT < 2 detik Akral hangat Suhu : 400 C Tindakan : Pasien dipasang IVFD RL 15 tetes/menit Dumin 250 mg/4 ml rectal tube Dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan darah perifer lengkap, glukosa dan elektrolit.

Disability : Evaluasi : AVPU : Pain Pupil isokor (2 mm/2mm) dan refleks cahaya (+) pada kedua mata. Motorik : Tangan menggenggam, sendi lutut menekuk. Gerakan menggaruk2 badan dan memegang benda di sekelilingnya, pandangan mata tidak fokus dan kosong. Kaku kuduk positif. Kernig sign (D/S : -/+) Tindakan : -

Eksposure : Evaluasi : Suhu : 400 C Petechie (-) Ruam (+) dileher. Hematom (-) Ikterik (-) Tindakan : Menyelimuti pasien.

Reevaluasi :

Tanda vitalnya seperti suhu, pernafasan, CRT dan nadi. 15 menit pertama Suhu 2 = 39,80C, RR2 = 36x/menit, CRT < 2 detik, HR2 = 120x/menit 15 menit kedua Suhu 3 = 39,50C, RR3 = 36x/menit, CRT < 2 detik, HR3 = 120x/menit Setelah 30 menit di IGD pasien mengalami kejang kembali . Kejang sekitar 2 menit. Tindakan : diberikan Stesolid 10 mg/4 ml rectal tube.

Anamnesis: (alloanamnesis) Keluhan Utama Pasien demam tinggi disertai kejang. RPS : sejak 3 hari sebelum masuk RS pasien mengeluh sakit kepala, batuk kering dan demam tinggi. Demam tinggi disertai kejang, kejang sekitar 6 jam sebelum masuk RS. Saat kejang, leher pasien terasa kaku dan mata melihat ke arah kanan terus menerus, pasien tampak mengantuk dan masih menjawab jika dipanggil.

Sekitar jam 08.00 pagi, pasien dibawa ke RSUD PB, pasien juga mengalami kejang. Kemudian sekitar jam 09.00 pagi, pasien dirujuk ke RSUD AA. Sekitar 30 menit saat pasien di IGD RSUD AA, pasien mengalami kejang. Tangan dan kaki pasien kaku. Lengan ekstensi, tangan menggenggam dan bergerak-gerak seperti orang menggigil. Mata melihat kearah kanan atas dan pandangan kosong. Kejang sekitar 2 menit. Mual (+) sakit perut (+), diare (-).

RPD : Tidak pernah mengalami kejang sebelumnya RPK : RPO : RSUD Petala Bumi Dumin 250mg/4ml rectal tube pukul 08.25 Stesolid 10mg rectal pukul 08.25

Pemeriksaan Fisik Kesan Umum : Tampak Sakit Sedang. Kesadaran : Stupor, respon dengan nyeri Tanda-tanda Vital : HR : 120 x/menit RR : 36 x/menit T : 39,5 0C

Kepala : Inspeksi : DBN Palpasi : DBN Rambut : Hitam, tidak mudah di cabut Mata : Konjungtiva : Anemis -/Sklera : Ikterik -/Pupil : Isokor, 2 mm / 2mm Refleks Cahaya : +/+

Telinga Hidung Mulut Bibir Leher KGB Kaku Kuduk

: : : : : : :

DBN DBN Sianosis (-), Kering (+) Pembesaran KGB(-) Kaku kuduk positif

Toraks : Inspeksi

Perkusi Auskultasi

: Bentuk dan gerakan dada kiri dan kanan simetris, tidak ada retraksi dinding dada. : Sonor : Pernafasan vesikuler +/+. Bunyi jantung I & II normal, bising jantung (-) : Tampak datar : Supel, Organomegali (-) : Timpani : Bising usus (+) normal

Abdomen : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

Alat Kelamin : Laki-laki, tidak ada kelainan kongenital Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik Edema tungkai (-) Status neurologis : Kaku kuduk : + Tanda kernig -/+ Brudzinsky I : +/+ Brudzisky II : -/-

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium Hb : 11,5 gr/dl Ht : 30,9 % Eri : 3,82 mm Leu : 13.600 mm (meningkat) Tromb : 220.000 GDS : 125 mg/dl Ro. Thorax : Ct scan :-

Diagnosis klinis : Susp. Meningitis Rencana penatalaksanaan Pasien indikasi rawat PICU Paracetamol 500 mg 2 tablet Seftriakson 1 g inj