Anda di halaman 1dari 109

Karwandi, S.T.

Oleh:
Nama : Karwandi, ST.
Tempat/tanggal lahir : Kediri / 08 April 1976
Asal Instansi : Pusdiklat Migas
Pendidikan : S-1, Teknik Perminyakan ITB
Status : Menikah, 2 anak
Alamat Kantor : Jl. Sorogo No. 1 Cepu Kab. Blora,
Jateng
E-mail : karwandi@live.com
HP : 081322815201

BIODATA
Tujuan Pembelajaran :
Peserta mampu memahami dan
menjelaskan reservoir migas
secara umum, sifat fisik batuan
reservoir, sifat fisik fluida
reservoir, tekanan dan temperatur
reservoir, serta penentuan
cadangan migas.

1. Reservoir Migas
2. Sifat Fisik Batuan Reservoir
3. Sifat Fisik Fluida Reservoir
4. Tekanan dan Temperatur
Reservoir
5. Cadangan Migas
Kerangka Sajian :

I. RESERVOIR MIGAS
Proses Terjadinya Minyak dan Gas Bumi
Definisi Reservoir

Jenis-jenis reservoir



Teori proses pembentukan minyak yang dikenal
hingga saat ini ada dua teori besar yaitu :

1. Teori an-organik , dan

2. Teori organik

Proses Terjadinya Minyak dan
Gas Bumi
Saat ini yang lebih banyak digunakan adalah
teori organik, teori ini menjelaskan bahwa minyak
dan gas bumi berasal dari makhluk hidup di
masa lalu
Salah satu pengembang teori an-organik adalah
para penganut creationist atau penganut azas
penciptaan (anti teori evolusi ).
Teori an-organic sering juga dikenal abiotik,
atau abiogenic.

Proses Terjadinya Minyak dan Gas Bumi Menurut
teori Organik



Definisi Reservoir
Reservoir :
suatu formasi batuan berpori (porous) dan
tembus fluida (permeabel) di bawah permukaan
tanah pada kedalaman tertentu yang dapat
menyimpan minyak dan gas bumi
Komponen reservoir :
Wadah Batuan Reservoir
Isi Fluida Reservoir
Kondisi Tekanan, temperatur
Syarat batuan Reservoir :
porous (berpori) dan permeabel (dapat
melewatkan fluida)
Mempunyai lapisan penutup (cap rock)
Mempunyai Struktur jebakan fluida
(trap)
Cap rock : batuan unporous & impermeabel
letaknya diatas struktur
- Struktural (antiklin, sesar dan kubah)
- Stratigrafi (lensa pasir, terumbu karang/gamping)
- Kombinasi
- Ada Source Rock yang matang

Migrasi

. Baik migrasi primer dan sekunder

- Migrasi primer terjadi di dalam source rock
- Migrasi sekunder terjadi dalam batuan
reservoir menuju jebakan (trap)



K
Sg, So,Sw
Jenis Jenis Reservoir
A. Berdasarkan kondisi makro / geologi :
1. Reservoir Struktur
2. Reservoir Stratigrafi
3. Reservoir kombinasi
B. Berdasarkan kondisi awal fluida dalam Reservoir :
1. Reservoir gas (dry gas & kondensat gas)
2. Reservoir minyak (saturated & undersaturated)
C. Berdasarkan mekanisme pendorong Reservoir :
1. Reservoir water drive
2. Reservoir gas cap drive
3. Reservoir solution gas drive
4. Reservoir combination drive
-1. Reservoir Struktur : Reservoir yang terbentuk
karena adanya gaya-gaya geologi (gaya endogen)
sehingga terbentuk struktur perangkap

Contoh : Patahan dan Antiklin
A. Jenis Reservoir Berdasarkan Kondisi Makro /
Geologi
Reservoir Patahan
Reservoir Antiklin
2. Reservoir Stratigrafi : Reservoir yang terbentuk
karena adanya perbedaan permeabilitas batuan

Contoh : Lensa Pasir dan Lidah
Reservoir lidah
(Stratigrafi)
3. Reservoir Kombinasi : Reservoir yang
terbentuk secara kombinasi antara stratigrafi
dan struktur.

Contoh : Ketidakselarasan / Unconformity
Unconfirmity (Reservoir kombinasi)
B. Jenis Reservoir Berdasarkan Kondisi Awal Fluida
dalam Reservoir

1. Reservoir Minyak : Jika dalam reservoir terdapat
akumulasi minyak yang dapat dinilai ekonomis.
Biasanya juga terdapat akumulasi gas yang disebut
tudung gas

- Ada Dua macam jenisnya :
- a. Reservoir Minyak Tak Jenuh (Under Saturated
Reservoir) : Gas Terlarut dalam minyak

- b. Reservoir Minyak Jenuh ( Saturated
Reservoir) : Gas sudah terlepas dari minyak
sehingga terdapat fasa minyak dan fasa gas
yang terpisah.
a) oil-water system; b) gas-water
system and c) gas-oil-water system

C. Jenis reservoir Berdasarkan Mekanisme
Pendorong Reservoir


Dibedakan Menjadi :
1. Reservoir water Drive
2. Reservoir Gas Cap Drive
3. Reservoir Solution Gas Drive
4. Reservoir Combination Drive
Reservoir Water Drive
Minyak dalam pori-pori batuan mengalir ke
dalam lobang sumur diakibatkan oleh tenaga
dorongan dari aquifer yang mendorong ke
lapisan minyak di atasnya

Dengan diproduksinya minyak, maka pori-pori
batuan yang ditinggalkan minyak akan diisi oleh
air (proses water influx)
Reservoir Water drive
q
Ciri:
P relatif stabil
GOR rendah dan konstan
WOR meningkat kontinyu
Perilaku: Natural Flow sampai air berlebih
Recovery Factor 35-60%
Reservoir Gas Cap Drive
Tenaga pendorong yang menyebabkan minyak
mengalir ke permukaan adalah berekspansinya
tudung gas (gas cap) yang berada di atas
lapisan minyak.

Pori-pori batuan yang ditinggalkan minyak akan
diisi dengan gas sehingga GOC (Gas Oil
Contact) turun dengan cepat
Reservoir Gas cap drive
q
Ciri:
P turun lambat namun menerus
GOR meningkat terus
qw hampir tidak ada
Perilaku: Natural Flow tergantung pada ukuran gas cap nya.
Recovery Factor 20-40%
Reservoir Solution Gas Drive

Tenaga pendorong yang menyebabkan minyak
mengalir ke permukaan adalah berekspansinya gas
yang terlarut dalam minyak.

Gas yang terlarut yang berekspansi akan mendorong
minyak dalam pori-pori batuan bergerak menuju ke
lobang sumur.
Reservoir Solution
Gas drive
Ciri:
P turun cepat
GOR mula-mula rendah kemudian naik dengan cepat
qw kecil
Perilaku: memerlukan pumping pada tahap awal
Recovery Factor 5-30%
Reservoir Combination Drive

Tenaga pendorongnya merupakan
kombinasi dari water drive, gas cap drive,
dan solution gas drive.
Reservoir kombinasi (gas cap drive & water drive)
q
II. SIFAT FISIK BATUAN
RESERVOIR

Porositas
Permeabilitas
Saturasi


1. Porositas ( | ) : Perbandingan antara volume
pori dengan volume bulk batuan
Porositas dipengaruhi oleh:
- Ukuran Butiran
- Sorting
- Shape and roundness
- Packing
- Compaction
- Cementation


KUALITAS POROSITAS
1. Porositas dibedakan menjadi dua macam :
a. Porositas Absolut ( |abs ) :
Perbandingan antara volume pori dengan volume
total batuan
b. Porositas Efektif ( |eff ) :
Perbandingan antara volume pori yang
berhubungan dengan volume total batuan
% 100 =
Vb
Vt
abs
|
% 100 =
Vb
Vp
eff
|
Pori yang berhubungan dan Pori yang tidak
berhubungan
isolated
interconnected
Suatu batuan ditimbang di udara beratnya 50 gram ,
kemudian batuan tersebut direndam di dalam air lalu
ditimbang lagi beratnya menjadi 75 gram.
Jika berat jenis air = 1 gr/cm
3
, berat jenis batuan = 3
gr/cm
3

Hitunglah porositas batuan tersebut.

Contoh Kasus
2. Permeabilitas (k) :
Kemampuan batuan berpori untuk melewatkan
fluida melalui pori-pori yang berhubungan tanpa
mengakibatkan kerusakan pada batuan tersebut.
Penelitian Permeabilitas ini dilakukan pertama kali
oleh Darcy, seorang ilmuwan perancis abad sembilan
belas (Tahun 1856).

Darcy menyimpulkan bahwa kecepatan aliran fluida
melalui sistem saringan pasir sebanding dengan
perbedaan tekanan pada kedua ujung dan
berbanding terbalik dengan panjang dari sistem
saringan pasir tersebut
Darcy menyimpulkan bahwa kecepatan aliran
fluida melalui sistem saringan pasir yang
horizontal sebanding dengan perbedaan tekanan
pada kedua ujung saringan pasir dan berbanding
terbalik dengan panjang dari sistem saringan
pasir tersebut

Eksperimen Darcy
Satu darcy didefinisikan :

permeabilitas suatu batuan yang mampu
melewatkan suatu fluida dengan kekentalan
satu centipoise dan mengalir dengan laju
alir satu centimeter cubic per detik dengan
penampang batuan seluas satu centimeter
persegi dimana perbedaan tekanan /
gradien tekanan satu atmosfer per
centimeter
Bila dijabarkan ke dalam
Rumus :
darcy
atm P cm A
cm L cp q
k
dtk
cm
) ( ) (
) ( ) ( ) (
2
3
A
=

Permeabilitas Absolut (K)
Permeabilitas dimana fluida yang mengalir melalui
media berpori hanya 1 fasa (gas, minyak atau air)
Permeabilitas Efektif (Kw, Ko, Kg)
Permeabilitas dimana fluida yang mengalir melalui
media berpori lebih dari 1 fasa (minyak & gas, minyak
& air, air & gas atau ketiga-tiganya)
Permeabilitas Relatif (Kro, Krw, Krg)
Perbandingan antara Permeabilitas efektif dengan
Permeabilitas Absolut.

Kro = Ko/K, Krw = Kw/K, Krg = Kg/K
Macam-macam istilah Permeabilitas:
Pengelompokan Kualitas
Permeabilitas Batuan
Permeability (mD)
< 5 mD Tight
5 10 mD Fair
10 100 mD Good
100 1000 mD Very Good
Ilustrasi Porositas dan
Permeabilitas


Porosity pada umumnya tidak dipengaruhi oleh
ukuran butir batuan tetapi permeabilitas bertambah
jika ukuran butir batuan bertambah
Pengaruh ukuran butiran batuan terhadap permeabolitas
3. Saturasi (S) :
Kejenuhan fluida (minyak, air & gas) di dalam pori-
pori batuan
% 100 =
Vp
Vo
So
% 100 =
Vp
Vw
Sw
% 100 =
Vp
Vg
Sg
1 = + + Sg Sw So
Secara Matematis, dapat ditulis sebagai berikut:
Reservoir yang terisi gas-oil-water
V
p
= V
o
+ V
w
+ V
g
Reservoir yang terisi oil-water
V
p
= V
o
+ V
w

Reservoir yang terisi gas-water
V
p
= V
w
+ V
g

Untuk reservoir yang mempunyai sistem fluida
Minyak, air, dan gas berlaku hubungan :

w o g
p
w
w
p
o
o
S S S
V
V
S
V
V
S = = = 1
Komponen dan Komposisi Fluida
Diagram Fasa
Viskositas
Kelarutan Gas dalam Minyak
Faktor Volume Formasi


III. SIFAT FISIK FLUIDA
RESERVOIR
1. Komponen dan Komposisi Fluida

komponen adalah bagian-bagian murni (senyawa) yang
menyusun sehingga terbentuk minyak bumi

Komposisi adalah suatu cara untuk menyatakan berapa
besar atau berapa banyak suatu komponen murni
(senyawa) ikut menyusun terbentuknya suatu fluida cair
atau gas yang disusun dari banyak komponen

Komponen yang membentuk minyak bumi terbagi atas
komponen utama dan komponen ikutan.

Komponen utama adalah senyawa hidrokarbon
dari golongan parafin

Komponen ikutan (Impurities) adalah
komponen non hidrokarbon yang ikut menyusun minyak
bumi.

Termasuk komponen ikutan adalah:
1. Hidrogen sulfida (H
2
S), gas ini sangat berbahaya karena
sangat beracun
2. Nitrogen(N
2
)
3. Karbon dioksida (C0
2
)

Senyawa hidrokarbon sebagai
komponen utama yang menyusun
minyak dan gas bumi dapat
digolongkan menjadi:

a. Parafin
b. Naphtenik atau siklo parafin
c. Aromatik
Parafin, juga disebut senyawa
hidrokarbon jenuh (saturated), mempunyai
rumus umum C
n
H
2n+2
. Minyak mentah yang
disusun dari golongan parafin disebut
parafinic base crude (minyak mentah
dasar parafin). Contoh senyawa parafin
seperti Metana, Etana, Butana, dan
seterusnya (golongan Alkana).

Naphtenik atau siklo parafin,
senyawa hidrokarbon jenuh (saturated)
yang bersifat siklik, mempunyai rumus
umum C
n
H
2n
. Minyak mentah yang
disusun dari golongan naphta disebut
naphtenic base crude.

Contoh senyawa naphta atau siklo
parafin seperti siklo propana., siklo
butana, siklo pentana dan seterusnya.
Minyak golongan napthenic bila didistilasi
banyak menghasilkan asphalt

Aromatik, senyawa hidrokarbon tidak
jenuh (unsaturated) yang
tertutup/melingkar, mempunyai rumus
umum C
n
H
2n-6.
Minyak mentah yang disusun
dari golongan aromatik disebut aromatic
base crude

Untuk minyak bumi komposisi komponen
dapat dinyatakan dalam,
1. Fraksi atau persen berat
2. Fraksi atau persen Mol
Komposisi komponen pada
umumnya dinyatakan dalam
satuan fraksi atau persen
komponen
Berat komponen ke - i
Fraksi berat komponen ke-i =
Berat komponen
Mol komponen ke - i
Fraksi Mol komponen ke-i =
I Mol komponen
Komponen Minyak Cepu 15 psig,
86
0
F (persen mol)
Minyak Kaltim 203
psig, 143,6
0
F (persen
mol)
H
2
S 0.00 0.00
CO
2
0.15 2.17
Nitrogen Trace Trace
Metana 0.64 5.76
Etana 0.20 1.72
Propana 0.87 1.83
Iso Butana 0.58 0.65
Butana 1.06 1.04
Iso Pentana 0.94 0.59
Pentana 0.90 0.45
Heksana 2.46 0.42
Heptana plus 92.18 85.76


Komponen Komposisi Minyak Bumi Lapangan Cepu Pada Kondisi Tekanan
Dan Temperatur Tertentu
Menjelaskan fasa yang terjadi pada suatu
benda dalam kondisi Tekanan, temperature
dan volume tertentu.

Kita bisa mengidentifikasi fasa pada
keadaan lain apabila terjadi perubahan
parameter-parameternya.
2. Diagram Fasa
Diagram fasa meliputi diagram fasa satu
komponen dan diagram fasa beberapa
komponen yang merupakan fluida
reservoir
Diagram fasa bisa digambarkan dalam
tiga dimensi (P.V,T) ataupun dua
dimensi (P,T atau P,V) untuk
menyederhadakan pembacaan
Diagram Fasa Satu Komponen /
Senyawa
Diagram Fasa Multi Komponen
Diagram fasa dapat dibuat setelah
dilakukan analisa komposisi fluida
reservoir, maka dapat ditentukan jenis
reservoir (berdasarkan kondisi awal
fluida dalam reservoir) bila tekanan dan
temperatur awal reservoir diketahui

Berdasar gambar di atas, jenis reservoir
tersebut dapat diterangkan sebagai
berikut:

Jika kondisi awal reservoir pada titik F
(T
3
, P
F
) atau selama berada diluar daerah
dua fasa (dalam lengkung grafik) dan
temperatur reservoir lebih besar daripada
temperatur kritik, maka reservoar tersebut
adalah reservoir gas.

Jika kondisi awal reservoir pada titik A
(T
2
, P
A
) atau keadaan diluar grafik dua fasa
dan temperatur reservoir di antara
temperatur kritik dan krikondenterm
(temperatur tertinggi dimana masih
ditemukan fasa cair) akan diperoleh
reservoir gas kondensat retrograde.

Jika kondisi awal reservoir pada titik J
(T
i
, P
j
) atau keadaan diluar grafik dua fasa
dan temperatur reservoir Iebih kecil
daripada temperatur kritik akan diperoleh
reservoir minyak tidak jenuh
(undersaturated atau dissolved gas
reservoir).

Reservoir 2 fasa, yaitu reservoir minyak
dan gas berada dalam satu reservoir, di
antara minyak dan gas terpisah dengan
jelas. Reservoir ini juga disebut sebagai
reservoir jenuh (saturated reservoir),
dinyatakan pada titik L.

Diagram fasa tersebut sebenarnya diperoleh dari diagram
fasa setiap komponen murni yang digabung menjadi satu
seperti pada gambar di bawah ini :
1. Bubble Point Pressure.

Kondisi tekanan pada temperature tetap dimana
gas pertama kali terbentuk (Pb)


2. Dew -Point Pressure.

Kondisi tekanan pada temperature tetap dimana
tepat ketika semua cairan habis / pertama kali
terbentuk butir cairan(Pd)

Keterangan :

3. Critical Point

Titik dimana cairan dan gas hadir bersamaan atau
titik temu antara ujung bubble point line dengan
dew point line.


4. Cricondenbar & Cricondentherm

Tekanan dan temperature maksimum dimana
cairan dan gas pertama kali hadir.

Fluida di dalam reservoir umumnya
dikelompokkan menjadi lima macam, yaitu :

1. Black Oil atau juga disebut Low
Srinkage Oil
2. Volatile Oil atau juga disebut High
Srinkage Oil
3. Retrograde Gas Kondensat
4. Wet Gas
5. Dry Gas

Beberapa ciri khusus yang
membedakan fluida reservoir
jenis Black Oil, Volatile Oil,
Retrograde Condensate, Wet
Gas, dan Dry gas
Diagram Fasa Untuk Minyak bumi jenis Black Oil
(Low Shrinkage Oil)
Diagram Fasa Untuk Minyak bumi jenis Volatile
Oil (High Shrinkage Oil)
Diagram Fasa Untuk Gas Kondensat Retrograde
Diagram Fasa Untuk Gas Basah

Diagram Fasa Untuk Gas Kering


3. Spesifik Gravity, ,
Yaitu perbandingan densitas suatu fluida
terhadap densitas air (jika cairan ) atau
terhadap densitas udara (jika gas) pada
suhu dan tekanan standar (14,7 psia dan
60
0
F)

Untuk minyak , spesifik gravity biasa dinyatakan
dalam
0
API (American Petroleum Institute) dimana
dinyatakan :
4. Viskositas () :
ukuran kekentalan fluida atau keengganan fluida
untuk mengalir, dinyatakan dalam centipoise (cp)
Viskositas dipengaruhi oleh :
Tekanan, temperatur dan kelarutan gas
4. Kelarutan Gas (Rs) :
banyaknya gas yang terlarut (kondisi standar)
dalam tiap 1 STB
5. Faktor Volume Formasi Minyak(B
0
) :
Perbandingan volume minyak di dalam reservoir
terhadap volume dipermukaan (standard)
- Volume fluida dalam reservoir dipengaruhi oleh P
dan Rs
- Volume standard relatif lebih kecil daripada volume
reservoir karena gas sudah keluar dari cairan
Tekanan Reservoir

Temperatur Reservoir
IV. TEKANAN DAN
TEMPERATUR RESERVOIR
Reservoir minyak dan gas bumi
mempunyai tekanan disebut dengan
tekanan reservoir, yang menyebabkan
minyak dan gas bumi menyembur ke
permukaan (natural flow).

Adanya tekanan reservoir diakibatkan
oleh tekanan overbourden batuan yang
berada di atas lapisan reservoir.
Tekanan Reservoir
Pada kondisi awal, tekanan reservoir pada
suatu kedalaman sama dengan tekanan
hidrostatik yang diakibatkan oleh tinggi
kolom air formasi yang mengandung garam
sebesar 55.000 ppm atau gradient tekanan air
formasi sebesar 0.45 psi/ft disebut normal
gradient.

Adanya peristiwa geologi, yaitu sesar
(patahan) pada reservoir akan menyebabkan
gradient tekanan reservoir pada kondisi awal
tidak sama dengan 0.45 psi/ft.
- Pada sesar naik, lapisan yang terangkat
gradient tekanannya menjadi lebih
besar dari 0.45 psi/ft disebut abnormal
gradient
- Lapisan yang mengalami penurunan
gradient tekanannya menjadi lebih kecil
dari 0.45 psi/ft disebut subnormal
gradient.


-Pada kondisi awal tekanan reservoir
pada suatu lapisan / formasi
produktif dinyatakan dengan rumus:
Pr = G x TVD

Pr = tekanan reservoir (psi)
G = gradient tekanan (psi/ft)
TVD = kedalaman tegak lapisan (ft)
Suatu Reservoir mempunyai kedalaman tegak 4000
ft, hitunglah :
a. Tekanan reservoir pada normal gradient
b. Jika reservoir mengalami sesar naik, sehingga
lapisan yang terangkat kedalamannya menjadi
3000 ft dan yang turun menjadi 5000 ft, hitunglah
gradient tekanan di kedua lapisan tersebut.
Contoh :
- Dalam teknik reservoir temperatur reservoir
dianggap konstan (tidak berubah), adanya
temperatur di reservoir disebabkan oleh
gradient temperature panas bumi (gradient
geothermal) sebesar 2 F/100ft.

- Besarnya tekanan dan temperature
reservoir sangat berpengaruh terhadap
sifat fisik fluida reservoir seperti derajat
API, fasa fluida ke larutan gas dalam
minyak dll.
Temperatur Reservoir

- Temperatur reservoir pada suatu kedalaman
dihitung dengan rumus:
Tr = (Gt x TVD) + T

Tr = temperature reservoir ( F)
Gt = gradient temperature ( 2 F / 100 ft)
TVD = kedalaman tegak lapisan (ft)
T = Temperatur permukaan ( F)
- . Pengertian IOIP dan IGIP
. Perhitungan Cadangan Minyak Secara Volumetrik

Initial Oil In Place (IOIP) adalah cadangan minyak yang ada di
reservoir secara total,
Tidak semua minyak yang ada di reservoir dapat diproduksi,
yang dapat diproduksikan ke permukaan disebut
Recoverable Reserve.
Perbandingan antara Recoverable Reserve dengan IOIP
disebut Recovery Factor (RF).
Jadi nilai RF selalu lebih kecil dari satu.
Volume minyak pada kondisi reservoir dinyatakan dalam
satuan Reservoir Barrel (RB), apabila sudah diproduksikan ke
permukaan dinyatakan dalam Stock Tank Barrel (STB).
cadangan gas yang ada di reservoir secara keseluruhan
disebut IGIP (Initial Gas In Place), sama halnya dengan
minyak harga RF untuk Gas selalu lebih kecil dari satu.
Satuan untuk volume gas biasanya dinyatakan dengan
cubic feet,pada kondisi reservoir volume gas dinyatakan
dalam Reservoir Cubic Feet (RCF) sedangkan pada kondisi
permukaan dalam SCF (Standard Cubic Feet).
Untuk gas dengan massa yang sama volumenya di
reservoir jauh lebih kecil dibandingkan dengan volume di
permukaan.
Untuk menghitung cadangan dengan metoda ini diperlukan
data antara lain
- volume bulk reservoir (Vb)
- porositas effektif batuan (|),
- saturasi minyak (So),
- saturasi gas (Sg),
- factor volume formasi minyak awal (Bo) dan
- factor volume formasi gas awal (Bg).
- Volume bulk batuan diperoleh dari hasil perhitungan
menggunakan peta Isopach Peta isopach adalah peta yang
dibuat dengan cara menghubung kan titik-titik yang
mempunyai kedalaman yang sama dari hasil pemboran
deliniasi.

- Titik-titik yang dihubungkan membentuk suatu garis yang
disebut garis kontur.
- Untuk menghitung volume bulk batuan dalam suatu
reservoir secara lebih akurat maka pada suatu ketebalan
reservoir dibuat beberapa garis kontur dengan interval
ketebalan yang sama.

- Garis-garis kontur adalah garis yang membatasi luas area
reservoir pada kedalaman yang sama.
Cadangan Migas
Contoh peta isopach dan penampangnya
- Luas lapisan reservoir yang paling bawah biasanya
dinyatakan dengan A0, untuk lapisan yang ada di atasnya
A1 di atasnya lagi A2 dan seterusnya.

- Volume batuan antara 2 garis kontur dengan ketebalan
tertentu dinyatakan dengan Vb, maka total volume bulk
batuan adalah merupakan jumlah dari Vb.
Cadangan Migas
Untuk menghitung Vb berlaku ketentuan sebagai berikut:
Jika perbandingan luas daerah yang berurutan (A1/A0 atau
A2/A1) lebih kecil dari 0.5 maka digunakan persamaan
bentuk pyramid sbb:
An+1/An < 0.5 maka


Cadangan Migas
( )
3
2 1 2 1 A A A A h
Vb
+ +
= A
Jika luas daerah yang berurutan lebih besar dari
0.5 maka digunakan persamaan bentuk trapezoid
sebagai berikut:
An+1/An > 0.5





Jadi volume bulk batuan: Vb = EVb

2
) 2 1 ( A A h
Vb
+
= A
Untuk menghitung cadangan minyak di tempat dengan
metode volumetrik digunakan rumus sebagai berikut:
IOIP = (7758 x Vb x | x S)/Boi
Dimana:
IOIP = cadangan minyak di tempat (STB)
7758 = konversi dari acre.ft ke barrel
Vb = volume bulk batuan (acre.ft)
| = porositas effektif (fraksi)
S = saturasi minyak (fraksi)
Boi =factor volume formasi minyak awal (RB/STB)
Cadangan Migas
Untuk menghitung cadangan gas di tempat dengan
metode volumetric digunakan rumus:
IGIP = (43560 x Vb x | x S)/Bgi
Dimana:
IGIP = cadangan gas di tempat (SCF)
43560= konversi dari acre.ft ke cubic ft
Vb = volume bulk batuan (acre ft)
| = porositas effektif batuan (fraksi)
Sg = saturasi gas (fraksi)
Bgi = factor volume formasi gas awal (RCF/SCF)
Cadangan Migas