Anda di halaman 1dari 14

BIOLISTRIK PADA SISTEM SARAF A. TUJUAN Mengukur kecepatan impuls pada saraf katak.

. Mengetahui perambatan impuls pada saraf katak. B. LANDASAN TEORI POTENSIAL AKSI Karena aliran arus pasif yang menyertai suatu potensial bertingkat akan cepat hilang bila menjauhi tempat asalnya, maka harus ada suatu mekanisme yang dapat merambatkan sinyal untuk jarak jauh. Bila perambatan sinyal jarak jauh dinalogikan dengan pembicaraan antara dua orang dengan menggunakan telepon, maka potensial aksi dapat diartikan sebagai perambatan suatu sinyal listrik jarak jauh melalui serabut saraf dalam tubuh dengan kekuatan sinyal yang harus dijaga konstan selama perjalanan menjauhi tempat asalnya. Bila membran sel saraf dipicu secara tepat, maka membran sel saraf akan mengalami perubahan potensial membran secara singkat dan cepat yang dikenal sebagai potensial aksi, yang mampu tersebar ke seluruh membran tanpa melemah. Untuk memahami proses yang terjadi selama suatu potensial aksi, maka diperlukan pemahaman beberapa istilah berikut: 1. Polarisasi. Pada membran yang sedang istirahat, terdapat pemisahan muatan antara sebelah luar membran dan sebelah dalam membran, sebelah luar membran lebih positif daripada sebelah dalam membran, dalam keadaan demikian dikatakan membran mengalami polarisasi, dan memiliki potensial istirahat. !. Depolarisasi. Pada membran yang mengalami depolarisasi potensial membran dikurangi dari potensial istirahat potensial membran menurun atau bergerak ke arah " m#, lebih sedikit muatan terpisah dibandingkan dengan saat potensial istirahat. $. Hiperpolarisasi. Pada membran yang mengalami hiperpolarisasi, potensial membran lebih besar daripada potensial istirahat potensial

meningkat atau menjadi lebih negatif lebih banyak muatan terpisah daripada saat istirahat %saat polarisasi&. '. Repolarisasi. Membran mengalami repolarisasi, artinya membran kembali ke potensial istirahat setelah depolarisasi. Aliran ion selama potensial a si Konduktan ion adalah kebalikan dari tahanan listrik pada membrane dan merupakan ukuran permeabilitas membrane terhadap ion tersebut. Peningkatan sedikit pada potensial membran istirahat menimbulkan peningkatan efluks K( dan influks )l*, mengembalikan potensial membran istirahat. Meskipun demikian, bila depolarisasi melampaui +m,, saluran -a( begerbang ,oltage mulai terbuka dengan kecepatan yang meningkat %penggiatan saluran -a(& dan bila ambang letup tercapai, influks -a( bersama dengan gradient konsentrasi dan elektris yang mengarah kedalam demikian besarnya sehingga untuk sementara menahan kekuatan repolarisasi. .aya keseimbangan terhadap -a( pada saraf mamalia, dihitung dengan persamaan -ernst, kurang lebih (/" m,. Potensial membran bergerak mendekati nilai ini, tetapi tidak mencapainya selama potensial aksi, terutama karena peningkatan konduktan -a( hanya berlangsung sebentar. 0aluran -a( segera menutup yang dinamakan keadaan tidak aktif dan menetap pada keadaan ini beberapa milidetik sebelum kembali ke keadaan istirahat. .isamping itu arah beda muatan listrik untuk -a( terbalik selama kaduk julang, karena potensial membrane terbalik, dan hal ini mengakhiri influks -a(. 1aktor ketiga yang menimbulkan repolarisasi adalah membukanya saluran K( begerbang ,oltage. Pembukaan ini berlangsung lebih lambat dan lebih lama dari pada pembukaan saluran -a (, akibatnya sebagian besar peningkatan konduktan K( terjadi setelah peningkatan konduktan -a(. 2otal pergerakan ion positip keluar sel yang disebabkan oleh efluks K( pada saat ini membantu melengkapi proses repolarisasi. Kembalinya saluran K( secara lambat ke keadaan tertutup juga menjelaskan mengenai hiperpolarisasi ikutan. Penurunan kadar -a( eksterna akan menurunkan besar potensial aksi tetapi hampir tidak berpengaruh terhadap potensial membran istirahat. 2idak adanya

pengaruh terhadap potensial membrane istirahat dapat dihitung dengan persamaan 3oldman, karena permeabilitas membrane terhadap -a( saat istirahat relatif rendah. 0ebaliknya, peningkatan kadar K( eksrasel akan menurunkan potensial membran istirahat. Meskipun -a( masuk kedalam sel saraf dan K ( meninggalkan sel selama potensial aksi, jumlah ion yang terlibat relati,e sedikit dibandingkan jumlah keseluruhan ion yang ada. 1akta bah4a saraf memperoleh -a ( dan kehilangan K( selama kerja telah diperlihatkan pada percobaan, tetapi perbedaan kadar ion yang signifikan hanya dapat diukur setelah perangsangan yang lama dan berulang* ulang. Penutupan yang lambat dan penundaan penutupan saluran K( begerbang ,oltage juga menjelaskan mengenai akomodasi. Bila depolarisasi terjadi dengan cepat, pembukaan saluran -a( menutupi kekuatan saluran repolarisasi, tetapi bila depolarisasi buatan berlangsung lambat, pembukaan saluran K ( menyeimbangkan pembukaan saluran -a( yang berlangsung berangsur*angsur, dan potensial aksi tidak terjadi. Penurunan )a!( ekstrasel meningkatkan kepekaan saraf dan sel*sel otot dengan menurunkan jumlah depolarisasi yang diperlukan untuk memicu perubahan konduktan -a( dan K( yang menghasilkan potensial aksi. 0ebaliknya, peningkatan )a!( ekstrasel 5menstabilkan membrane6 dengan menurunkan kepekaan. PERAMBATAN IMPULS MELALUI SERABUT SARAF Potensial aksi tunggal melibatkan hanya sebagian kecil dari keseluruhan permukaan membran sel. 7arus ada mekanisme untuk mengkonduksikan atau menyebar poetnsial aksi ke seluruh permukaan membran sel. 0elanjutnya sinyal harus dirambatkan dari satu sel ke sel berikutnya. Pada kebanyakan sel saraf, membran plasma badan sel dan dendrit mengandung protein reseptor tempat melekatnya 8at kimia duta dari sel saraf yang lain. 9kson dari setiap sel saraf hanya satu, merupakan penonjolan tubuler yang mengonduksikan potensial aksi keluar dari badan sel dan akhirnya berujung pada sel yang lain. Bagian permulaan dari akson ditambah bagian badan sel tempat

akson keluar disebut akson hilok. ini merupakan tempat dimana potensial aksi dimulai pada suatu sel saraf %dengan perkecualian sel saraf yang secara khusus memba4a informasi sensoris&. :mpuls kemudian disebarluaskan sepanjang akson yang pada umumnya memiliki percabangan yang banyak yaitu terminal akson. 2erminal*terminal tersebut membebaskan 8at kimia duta yang secara simultan mempengaruhi sel*sel yang lain. 0ekali potensial aksi dimulai pada akson hilok, impuls secara otomatis disalurkan ke seluruh sel saraf tanpa perubahan. 9da dua cara perambatan impuls pada serabut saraf, yaitu: (1) konduksi arus lokal (local current flow) atau (2) konduksi loncatan (saltatory conduction). Kon!" si Ar"s Lo al #Local Current Flow)

Gambar 1. Konduksi impuls secara arus lokal pada akson tidak bermielin. A= daerah yang mengalami repolarisasi (telah ditinggalkan poetnsial aksi), B=daerah yangs edang mengalami depolarisasi, C= daerah yang masih istirahat

Konduksi impuls secara arus lokal terjadi pada serabut saraf tidak bermielin. 3ambar 1 menggambarkan konduksi arus lokal. 3ambar tersebut merupakan gambar skematik potongan memanjang suatu akson tidak bermielin dimulai dari akson hilok. 9kson hilok yang berada pada puncak suatu potensial aksi disebut daerah aktif. .i daerah aktif, sisi membran sel sebelah dalam adalah positif dan sisi membran sebelah luar negatif. 7al ini disebabkan karena pada titik tersebut -a( telah masuk memba4a muatan positifnya dan meninggalkan muatan

negatif ion pasangannya. Keadaan ini disebut peristi4a !epolarisasi. .aerah berikutnya masih tetap pada potensial istirahat %daerah inaktif&. Untuk menyebarkan potensial aksi ke daerah inaktif, maka daerah inaktif harus didepolarisasikan ke ambang sebelum menjadi potensial aksi. .epolarisasi ini terlaksanan karena arus lokal antara daerah yang mengalami potensial aksi %daerah aktif& ke daerah inaktif yang berabatasan. Karena muatan yang berlaa4anan tarik menarik arus akan mengalir secara lokal antar titik*titik aktif dan inaktif sebelahnya baik di sebelah dalam maupun sebelah luar membran. 9liran arus lokal ini memberi efek menetralkan atau menghilangkan sebagian dari ketidakseimbangan muatan di daerah inaktif. 0ementara itu daerah yang semula aktif akan kembali ke potensial istirahat sebagai akibat dari keluarnya K(. kejadian ini yang disebut repolarisasi. 0elanjutnya di sebelah daerah aktif yang baru akanmengalami depolarisasi, begitu seterusnya. 0iklus ini akna trerus beralngsung sampai potensial aksi mencapai ujung akson. 0ekali potensial aksi dimulai di satu bagian membran sel saraf, suatu siklus terus*menerus terjaadi sehingga potensial aksi secara otomatis dirambatkan ke seluruh bagian serabut yang istirahat. Kon!" si Lon$atan #Saltatory Conduction% Kecepatan konduksi potensial aksi pada suatu serabut saraf tergantung pada dua faktor: %1& ada atau tidaknya sel ubung mielin pada serabut saraf, dan %!& diameter seraburt saraf.

Gambar . !erambatan impuls secara konduksi loncatan pada serabut sara" bermielin.

9da dua macam serabut saraf, yaitu serabut saraf telanjang dan serabut saraf berselubung mielin. 0elubung mielin tersebut tidak utuh, namun bersegmen* segmen %3ambar !&. Mielin terutama tersusun atas lipid. Karena ion yang larut dalam air tidak dapat menembus mielin, maka selubung mielin berperan sebagai insulator, seperti selubung karet pada kabel listrik, maka mielin berperan melindungi kebocoran arus pada membran yang diselubunginya. .i antara dua segmen mielin, membran aksonal terbuka dan berhubungan dengan cairan ekstraseluler. Bagian ini disebut no!"s Ran&ier, yang memiliki potensial membran dan memungkinkan terjaadinya aliran ion. 0aluran -a( dan K( berada di daerah nodus ;an,ier ini. Pada serabut bermielin impuls 5meloncat6 dari satu nodus ke nodus berikutnya. Peristi4a ini disebut konduksi loncatan. 0erabut bermielin merambatkan impuls kurang lebih <" kali lebih cepat dariapda serabut nonmielin. Pen'ar"( Diameter Sera)"t Sara* .i samping dipengaruhi selubung mielin, kecepatan perambatan potensial aksi juga dipengaruhi oleh diameter serabut saraf. Makin luas diameter serabut saraf, maka potensial aksi akan merambat lebih cepat. 0erabut bermielin yang besar, seperti yang mensarafi otot rangka, dapat mengkonduksikan potensial aksi dengan kecepatan 1!" m=detik, bila dibandingkan dengan kecepatanm konduksi serabut kecil yang tidak bermielin seperti serabut yang mensarafi saluran pencernaan makanan, hanya ",+ m=detik. Perjalanan impuls dapat diblokir oleh rangsang dingin, panas, atau tekanan pada serabut saraf. Pemblokiran yang sempurna dicapai dengan memberikan 8at anestetik %bius&. TRANSMISI SINAPTIK 2ransmisi impuls dari satu sel saraf ke sel saraf lain terjadi di sinaps. 0inaps adalah hubungan tempat akson atau bagian lain dari satu sel saraf %sel presinaps& berakhir pada dendrit, soma atau akson dari neuron yang lain, atau pada keadaan*keadaan tertentu, pad sel otot atau sel kelenjar %sel postsinaps&. 2ransmisi di sebagian besar hubungan sinaps bersifat kimia4i: impuls di akson presinaps menimbulkan pelepasan neurotransmitter seperti asetilkolin atau

serotonin. -eurotransmitter tersebut berikatan dengan reseptor di permukaan sel postsinaps, dan hal ini memicu berbagai peristi4a membuka atau menutup saluran*saluran di membran sel postsinaps. 2etapi, pada sebagian sinaps, transmisi bersifat listrik, dan di sebagian kecil sinaps campuran, transmisi bersifat listrik dan kimia4i. Bagaimanapun transmisi bukan merupakan lompatan sederhana satu potensial aksi dari sel presinaps ke sel postsinaps. Pada sinaps bersifat listrik membran sel presinaps dan postsinaps saling berdekatan, dan terbentuk hubungan antar sel. 0eperti hubungan antar sel di jaringan*jaringan lain, sinaps*sinaps ini membentuk jembatan bertahanan rendah, yang dilalui oleh ion*ion dengan relatif mudah. 2ransmisi dari sel saraf ke otot menyerupai transmisi sinaps antar sel saraf. 7ubungan saraf*otot, daerah khusus tempat berakhirnya saraf motorik pada serat otot rangka, merupakan tempat proses transmisi yang strereotipik. Ton+olan sinapti .i ba4ah mikroskop elektron, tonjoilan sinaptik pada sinaps tempat transmisi kimia4i, ternyata terpisah dari badan sel postsinaps oleh celah sinaptik selebar $"*<" nm.setiap tonjolan sinaptik dan badan sel mempunyai membran yang utuh. 0etiap tonjolan dan badan sel mempunyai membran yang utuh. .i dalam tonjolan tersebut terdapat banyak mitokondria dan ,esikel*,esikel bergranula yang kecil dan bening %3ambar 1&, ,esikel*,esikel bening sangat banyak di bagian tonjolan sinaptik yang terdekat dengan celah sinaptik. #esikel* ,esikel tersebut mengandung 5paket*paket6 kecil transmitter kimia4i yang berperan pada transmisi sinaptik. 2ransmitter dilepaskan dari tonjolan sinaptik ketika potensial aksi berjalan sepanjang akson ke ujung*ujungnya. Membran ,esikel atau granula tersebut menyatu dengan membran sel, dan daerah penyatuan pecah, melepaskan isinya melalui proses eksositosis. )a!( memicu proses ini, dan potensial aksi membuka saluran*saluran )a!( dengan gerbang tegangan di tonjolan sinaptik %3ambar !&. )a!( memasuki ujung akson, meningkatkan eksositosis. Kerja )a !( berakhir melalui pengisian yang cepat di ujung*ujung tersebut. >umlah transmitter yang dilepaskan sebanding dengan influks )a!(.

Kon!" si Sat" Ara( 0inaps umumnya meemungkinkan penghantaran rangsang hanya pada satu arah, dari neuron presinaptik ke neuron postsinaptik. ;angsang yang dihantarkan secara antidromik sepanjang akson akar depan menghilang setelah menimbulkan depolarisasi badan sel neuron motorik spinal.karena kson menghantarkan rangsang ke semua arah dengan fasilitas yang sama, gerbang satu arah pada sinaps penting untuk fungsi persarafan normal. PERISTI,A LISTRIK DI SINAPS Peristi4a*peristi4a listrik yang terjadi di sinaps dapat diamati dengan melakukan percobaan yaitu memberikan rangsang elektroda pada saraf sensorik. ;angsang tunggal yang diberikan pada saraf sensorik pada percobaan itu, tidak menyebabkan timbulnya penghantaran potensial aksi di neuron postsinaptik. 0ebaliknya, perangsangan itu menghasilkan depolarisasi parsial sementara atau hiperpolarisasi sementara. ;espon depolarisasi a4al yang dihasilkan oleh satu rangsang tunggal dimulai kira*kira ",< mdet setelah impuls aferen memasuki medula spinalis. Mencapai puncaknya 1*1,< mdet kemudian dan menurun mengikuti garis lengkung, dengan konstanta 4aktu yang beragam bergantung kepada transmitter dan membran postsinaptik. 0elama berlangsungnya potensial aksi, kepekaan saraf terhadap rangsang lain meningkat, dan dengan demikian potensial aksi itu dinamakan potensial postsinapti e sitasi #EPSP%. ?P0P disebabkan depolarisasi membran sel postsinaptik yang terletak tepat di ba4ah tonjolan sinaptik aktif. Pada sinaps penghambat, interaksi antara neurotransmitter dengan reseptor subsinaps akan meningkatkan permeabilitas membran subsinaps terhadapp K( dan )l* dengan mengubah konformasi dari masing*masing saluran tersebut. 7asil gerakan ion menyebabkan suatu hiperpolarisasi kecil dari sel saraf postsinaps. 7iperpolarisasi ini menggerakkan potensial membran menjauhi potensial ambang, merupakan pengurangan kemampuan sel saraf postsinaps itu mencapai ambang dan potensial aksi. Membran dalam keadaan ini disebut dihambat, dan hiperpolarisasi kecil dari sel postsinaps disebut suatu potensial pen'(am)at sinaps #inhibtory postsinaptic potensial =IPSP%.

TRANSMISI SARAF-OTOT Berbagai peristi4a yang terjadi selama transmisi impuls dari saraf motorik ke otot agak menyerupai apa yang terjadi di sinaps*sinap lain. :mpuls yang tiba di ujung neuron motorik meningkatkan permeabilitas ujung*ujung saraf tersebut terhadap )a!(. )a!( masuk ke ujung saraf dan membangkitkan suatu peningkatan eksositosis ,esikel yang mengandung asetilkolin. 9setilkolin berdifusi ke reseptor*reseptor asetilkolin nikotinik jenis otot, yang terdapat sangat banyak di lipatan hubungan saraf*otot pada membran lempeng ujung motorik. Persenya4aan asetilkolin dengan reseptor*reseptor tersebut meningkatkan konduktans membran terhadap -a( dan K(, dan influks resultan -a( menghasilkan suatu potensial depolarisasi, yaitu potensial lempeng ujung. 9rus yang dihasilkan oleh potensial lokal ini mendepolarisasi membran otot yang bersebelahan sehingga mencapai ambang letup. Potensial aksi timbul di kedua sisi lempeng ujung dan diteruskan menjauhi lempeng ujung di kedua arah sepanjang serat otot. Potensial aksi otot kemudian memicu kontraksi otot.

D. ANALISIS DATA Ke'iatan . / Men'" "r Ke$epatan Peram)atan Imp"ls Pada percobaan mengukur kecepatan perambatan impuls, perlakuan terhadap serabut saraf diberikan dengan cara memberi rangsangan listrik pada serabut saraf yang menuju ke tungkai belakang kanan. .ari hasil pengamatan dapat dilihat terjadinya tanggapan berupa gerak cepat %fleksi& pada kedua tungkai belakang, namun tungkai belakang kanan lebih cepat bergerak yaitu dalam 4aktu ",$' detik. Percobaan ini tidak sesuai dengan prosedur karena seharusnya perangsangan listrik diberikan dengan menghubungkan dua kutub positif dan negatif baterai pada dua saraf yang berbeda, misalnya saraf tungkai depan dan tungkai belakang, sedangkan percobaan yang kami lakukan rangsangan diberikan hanya pada satu saraf saja yaitu saraf yang menuju tungkai belakang sehingga respon yang terjadi adalah sama seperti gerak refleks pada ekstremitas katak, yaitu saat diberikan rangsangan berupa arus listrik pada saraf sensorik maka impuls aferen akan menyampaikannya pada medula spinalis %pusat refleks& sehingga respon yang diberikan sangat cepat. Perangsangan listrik yang diberikan tersebut merupakan rangsang tunggal. ;angsang tunggal yang diberikan pada saraf sensorik pada percobaan ini, tidak menyebabkan timbulnya penghantaran potensial aksi di neuron postsinaptik. 0ebaliknya, perangsangan itu menghasilkan depolarisasi parsial sementara atau hiperpolarisasi sementara. ;espon depolarisasi a4al yang dihasilkan oleh satu rangsang tunggal dimulai kira*kira ",< mdet setelah impuls aferen memasuki medula spinalis. Mencapai puncaknya 1*1,< mdet kemudian dan menurun mengikuti garis lengkung, dengan konstanta 4aktu yang beragam bergantung kepada transmitter dan membran postsinaptik. 0elama berlangsungnya potensial aksi, kepekaan saraf terhadap rangsang lain meningkat, dan dengan demikian potensial aksi itu dinamakan potensial postsinapti e sitasi #EPSP%. ?P0P disebabkan depolarisasi membran sel postsinaptik yang terletak tepat di ba4ah tonjolan sinaptik aktif. %3anong, 1@@A&. Balaupun percobaan yang kami lakukan tidak

sesuai dengan prosedur namun dari percobaan ini membuktikan bah4a perambatan impuls pada serabut saraf terjadi sangat cepat. Pecobaan yang selanjutnya adalah melakukan pemblokiran pada serabut saraf yaitu dengan memberikan alcohol +"C sebagai 8at anestetik %bius&. 0etelah diberikan alkohol +"C pada serabut saraf yang menuju tungkai belakang kanan, respon terhadap rangsangan listrik menjadi lambat yaitu ',"@ detik. 7al ini disebabkan perjalanan impuls saraf dihambat atau diblokir sehingga impuls menjadi lebih lama sampai ke medulla spinalis. Ke'iatan 0. Peram)atan Imp"ls Pada percobaan perambatan impuls kami mengisolasi serabut saraf yang mempersarafi otot gastrocnemius sepasang tungkai belakang katak bersama dengan otot tersebut, selanjutnya kedua serabut saraf tersebut disambungkan dan ditaruh di kaca arloji. 0ebelumnya kedua preparat tersebut diberikan lrutan ringer untuk mempertahankan efek fisiologis saraf. .ari hasil percobaan setelah diberikan rangsangan listrik di kedua ujung preparat terjadi kontraksi atau kedutan pada saraf dan otot di preparat sebelah kiri yaitu pada saat detik ke ','!, kedutan yang kedua saat detik ke 1",/$ di preparat sebelah kanan, kedutan ketiga 1/,<! dan kedutan keempat !<,@/ secara bergantian antara preparat saraf sebelah kanan dan kiri. .ari hasil percobaan ini menunjukkan adanya perambatan impuls dari kutub positif ke kutub negatif pada kedua saraf yang dihubungkan. Menurut ;eferensi %0oe4olo, 1isiologi Manusia&, pada kebanyakan sel saraf, membran plasma badan sel dan dendrit mengandung protein reseptor tempat melekatnya 8at kimia duta dari sel saraf yang lain. 9kson dari setiap sel saraf hanya satu, merupakan penonjolan tubuler yang mengonduksikan potensial aksi keluar dari badan sel dan akhirnya berujung pada sel yang lain. Bagian permulaan dari akson ditambah bagian badan sel tempat akson keluar disebut akson hilok. ini merupakan tempat dimana potensial aksi dimulai pada suatu sel saraf %dengan perkecualian sel saraf yang secara khusus memba4a informasi sensoris&. :mpuls kemudian disebarluaskan sepanjang akson yang pada umumnya memiliki percabangan yang banyak yaitu terminal akson. 2erminal*terminal tersebut

membebaskan 8at kimia duta yang secara simultan mempengaruhi sel*sel yang lain. 0ekali potensial aksi dimulai pada akson hilok, impuls secara otomatis disalurkan ke seluruh sel saraf tanpa perubahan. :mpuls yang tiba di ujung neuron motorik meningkatkan permeabilitas ujung*ujung saraf tersebut terhadap )a!(. )a!( masuk ke ujung saraf dan membangkitkan suatu peningkatan eksositosis ,esikel yang mengandung asetilkolin. 9setilkolin berdifusi ke reseptor*reseptor asetilkolin nikotinik jenis otot, yang terdapat sangat banyak di lipatan hubungan saraf*otot pada membran lempeng ujung motorik. Persenya4aan asetilkolin dengan reseptor*reseptor tersebut meningkatkan konduktans membran terhadap -a( dan K(, dan influks resultan -a( menghasilkan suatu potensial depolarisasi, yaitu potensial lempeng ujung. 9rus yang dihasilkan oleh potensial lokal ini mendepolarisasi membran otot yang bersebelahan sehingga mencapai ambang letup. Potensial aksi timbul di kedua sisi lempeng ujung dan diteruskan menjauhi lempeng ujung di kedua arah sepanjang serat otot. Potensial aksi otot kemudian memicu kontraksi otot. %3anong, 1@@A& 0edangkan cara perambatan impuls pada serabut saraf ini adalah melalui on!" si lon$atan (saltatory conduction), karena serabut saraf yang mensarafi otot gastrocnemius %otot rangka& merupakan serabut saraf bermielin %0oe4olo, !""$&. 0elain itu penggunaan serabut saraf pada otot gastrocnemius juga disebabkan diameter serabut sarafnya yang besar sehingga perambatan impuls akan terjadi jauh lebih cepat dibanding serabut saraf kecil lainnya. 7al ini memudahkan kita untuk mengetahui adanya perambatan impuls pada serabut saraf. .ari hasil percobaan didapatkan hasil bah4a jarak 4aktu antara kedutan saraf pertama dengan kedutan selanjutnya mengalami penurunan %semakin lama&, hal ini disebabkan rangsangan yang terus menerus pada sel*sel saraf sehingga membran sel saraf tidak mengalami repolarisasi membran tetapi hiperpolarisasi dan untuk mencapai depolarisasi lagi membutuhkan 4aktu yang lebih lama. Percobaan selanjutnya adalah melakukan pemblokiran yaitu dengan meneteskan alkohol +"C tepat di tengah kedua preparat saraf yang dihubungkan.

.ari hasil percobaan tidak terdapat respon atau tanggapan berupa kontraksi atau kedutan pada kedua preparat. 7al ini dikarenakan perambatan impuls telah diblokir tepat di tengah sehingga impuls tidak dapat berjalan dari preparat yang satu ke preparat selanjutnya. E. JA,ABAN PERTAN1AAN Beda sinapsis yang ?P0P %eDcitatory post sinaps potential& dan :P0P %inhibitory post sinaps potential& dilihat dari biolistrik di neuron pos sinaps: Pada suatu sinaps ?P0P, respon trehadap interaksi reseptor neurotransmitter adalah terbukanya saluran -a( dan K( pada membran subsinaps sehingga meningkatkan permeabilitas terhadap dua ion tersebut. Baik gradien konsentrasi maupun gradien kelistrikan untuk -a( menyebabkan perpindahan ion ini ke dalam sel saraf post sinaps pada potensial istirahat, sedangkan perpindahan K( ke luar hanya disebabkan oleh gradien konsentrasinya saja. 0ehingga perubahan permeabilitas mengakibatkan suatu perpindahan simultan: sedikit K( ke luar sel saraf post sinaps dan lebih banyak -a( masuk. Kejadian ini membuat membran sel saraf pos sinaps mengalami depolarisasi kecil %membran dibangkitkan&. 0edangkan pada sinaps penghambat, interaksi antara neurotransmitter dengan reseptor subsinaps akan meningkatkan permeabilitas membran subsinaps terhadapp K( dan )l* dengan mengubah konformasi dari masing*masing saluran tersebut. 7asil gerakan ion menyebabkan suatu hiperpolarisasi kecil dari sel saraf postsinaps. 7iperpolarisasi ini menggerakkan potensial membran menjauhi potensial ambang, merupakan pengurangan kemampuan sel saraf postsinaps itu mencapai ambang dan potensial aksi. Membran dalam keadaan ini disebut dihambat, dan hiperpolarisasi kecil dari sel postsinaps disebut suatu potensial pen'(am)at sinaps #inhibtory postsinaptic potensial =IPSP%. Perbedaan ini akan lebih terlihat pada grafik di ba4ah ini.

F. KESIMPULAN 1. Bila membran sel saraf dipicu atau diberi rangsangan secara tepat, maka membran sel saraf akan menglami perubahan potensial secara singkat dan cepat yang dikenal dengan potensial aksi. !. Untuk memulai potensial aksi, diperlukan suatu kejadian yang memicu depolarisasi pada membran. $. Perambatan impuls pada sel saraf terjadi sangat cepat yaitu hanya beberapa detik. '. Kecepatan konduksi potensial aksi suatu serabut saraf tergantung pada dua faktor, yaitu ada atau tidaknya selubung mielin pada serabut saraf dan diameter serabut saraf. <. :mpuls yang merambat pada sel saraf bermielin jauh lebih cepat dibanding dengan sel saraf tanpa mielin. /. Perambatan impuls pada serabut saraf yang berdiameter lebih besar lebih cepat dibanding serabut saraf yang diameternya kecil. 2. DAFTAR PUSTAKA 3anong, Billiam 1. 1@@A. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. >akarta: Penertbit Buku Kedokteran. ?3) 3uyton, 9rthur. 0oe4olo, dkk. !""$ Fisiologi Manusia. Malang: Uni,ersitas -egeri Malang.