Anda di halaman 1dari 36

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Token Economy 1.

Pengertian Token Economy Token ekonomy adalah sistem perlakuan kepada tiap individu untuk mendapatkan bukti target perilaku setelah mengumpulkan sejumlah prilaku tertentu sehingga mencapai kondisi yang diharapkan. Contoh seperti pada lembar bukti prestasi. Siswa mendapatkan bukti dalam bentuk rewads atau hadiah dari pekerjaan yang dapat ditunjukannya. (Jason, 2009 ; 35). Token Economy merupakakan sistem perlakuan pemberian penghargaan kepada siswa yang diwujudkan secara visual. Token Economy adalah usaha mengembangkan prilaku sesuai dengan tujuan yang diharapkan melalui penggunaan penghargaan. Setiap individu mendapat penghargaan setelah menunjukan prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah hadiah terkumpul ditukar dengan penghargaan yang bermakna. (Joson, 2009 ; 66). Menurut Wallin (1991), Token Economy yang diberikan kepada siswa merupakan dukungan sekunder untuk memperkuat suasana belajar supaya lebih kondusif. Oleh karena itu, penghargaan harus menjadi rangsangan yang netral atau tidak berpihak. Siswa berkompetisi untuk memperolehnya dengan cara mengumpulkan token sebanyak-banyaknya dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa Token economy adalah sistem perlakuan kepada tiap individu untuk mendapatkan bukti target perilaku

setelah mengumpulkan sejumlah prilaku tertentu sehingga mencapai kondisi yang diharapkan, dengan cara subyek mendapat penghargaan setelah menunjukan prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah hadiah terkumpul ditukar dengan penghargaan yang bermakna. 2. Tujuan Token Economy Bukti Token Economy dapat digunakan untuk memenuhi berbagai tujuan pendidikan dalam membangun perilaku siswa. Penggunaan sistem time token ekonomi memiliki tujuan : a. Meningkatnya kepuasan dalam mendorong peningkatan kompetensi siswa melalui penghargaan yang kongkrit atau visual sehingga tingkat kesenangan siswa melakukan sesuatu prestasi benar-benar tampak. b. Meningkatnya efektivitas waktu dalam pelaksanaan pembelajaran. Belajar yang efektif adalah yang menggunakan waktu yang pendek dengan hasil yang terbaik dan terbanyak. Siswa harus menyadari berapa lama mereka telah belajar dan berapa banyak waktu yang telah mereka gunakan secara efektif untuk melaksanakan aktivitas belajar. c. Berkurangnya kebosanan Suasana belajar yang kolaboratif, rivalitas, kompetitif yang diberi penguatan oleh pendidik dapat meningkatkan menurunkan tingkat di kebosanan siswa sehingga siswa dapat

berpartisipasi dalam jangka waktu yang yang lama. d. Meningkatnya daya respon Suasana belajar yang kompetitif akan meningkatkan kecepatan siswa meberikan respon. Setiap respon yang

sesuai dengan tujuan akan segera mendapat penguatan sehingga suasana belajar menjadi cair, komunikatif dan lebih menyengkan. e. Berkembangnya penguatan yang lebih alami, melalui pemberian penguatan yang tepat waktu akan dan disesuaikan dengan tingkat prestasi setiap siswa atau setiap kelompok siswa memungkinkan f. Meningkatnya penguatan untuk sehingga motivasi belajar berkembang setiap siswa atau setiap kelompok siswa dalam kelas selalu dalam keadaan terpacu untuk mewujudkan dan daya pacu ini akan semakin berkembang jika siswa juga mendapat layanan untuk mengabadikan daya kompetisinya seperti dengan dukungan rekaman video. 3. Komponen Token Economy Sebelum kegiatan belajar dilaksanakan pendidik menyiapkan beberapa komponen yang dibutuhkan, di antaranya: a. Token atau simbol praktis dan atraktif untuk memicu tumbuhnya motivasi belajar. Yang dapat digunakan sebagai simbol penghargaan seperti stiker, guntingan kertas, simbol bintang, atau uang mainan. Token sendiri tidak selalu dalam bentuk yang berharga, namun setelah siswa mengoleksinya setelah menunjukan prilaku yang diharapkan mereka dapat menukarkan token itu dengan sesuatu yang berharga. Dengan demikian setelah satu rentang waktu tertentu guru harus menyediakan barang penukar token yang berharga untuk siswa. Yang paling mudah seperti permen, alat tulis atau benda berharga lain yang dapat sekolah biayai.

b. Definisi target prilaku jelas. Hal itu berarti guru maupun siswa perlu memahami dengan baik prilaku yang diharapkan. Siswa memahami benar prilaku seperti apa yang harus ditunjukannya sebagai hasil belajar. Penjelasan harus singkat namun cukup sebagai dasar pemahaman siswa mengenai hadiah yang dapat diperlehnya setelah menunjukan prestasi. c. Dukungan penguatan (reinforcers) dengan barang yang berharga. Dukungan itu dapat dalam bentuk barang berharga, hak istimewa, atau aktivitas individu yang dapat ditukar dengan makanan, perangkat permainan, waktu ekstra. d. Sistem penukaran token atau simbol. Sukses penyelenggaraan token ekonomi sangat bergantung pada sukses dalam memberikan penguatan yang dapat ditukarkan dengan nilai yang sebanding dengan prestasi yang dicapai. e. Sistem dokumentasi atau perekaman data. Pemberian penghargaan yang tepat sangat bergantung pada ketepatan menghimpun data. Oleh karena itu alat perekam dapat membantu meningkatkan proses ini sehingga informasi dari proses pembelajaran dapat dikelola dengan tingkat akurasi yang tinggi. f. Konsistensi dalam implementasi, untuk menjunjung konsistensi itu sebaiknya terdapat panduan teknis yang tertulis sebagai pegangan pelaksanaan tugas sehingga apa yang direncanakan itulah yang dilaksanakan.

4. Langkah-langakah pelaksanaan Token Economy Mengacu pada pemikiran Robinson T.J. Newby dan S.L. Ganzell, (1981) merumusakan bahwa langkah utama dalam pelaksanaan sistem token ekonomi dapat dikembangkan sebagai berikut : a. Menentukan target prilaku atau kompetensi yang dapat siswa tunjukan. Guru memilih masalah penting sebagai target. Definisikan dengan jelas, harus dalam bentuk penyataan positif, dan harus dalam prilaku hasil belajar yang dikembangkan dalam bimbingan pembelajaran dalam kelas. b. Menentukan motode bagaimana langkah-langkah untuk memperoleh penghargaan dan nilai dari setiap penghargaan. Barkley (1990) memberi contoh untuk anak-anak umur 4-7 thaun menggunakan guntingan kartu berbentuk bintang, model perangko atau stiker. Setiap perangkat penghargaan diletakan siswa di atas meja belajarnya dalam kelas. c. Identifikasi nilai atraktif penghargaan. Mengembangkan penghargaan sebagai sesuatu yang berarti, praktis dan atraktif sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal penting yang dapat

meningkatkan makna adalah keterlibatan siswa dalam proses memilih dan menyusun jenis dan nilai penghargaan. Dalam hal ini siswa dapat memperoleh kebebasan menentukan waktu d. Menentukan Tujuan, jumlah token yang dapat diperoleh serta nilai yang diperoleh untuk setiap penghargaan yang diperoleh. Implementasi kegiatan ini memerlukan langkah lanjut :

a. Penjelasan Program Kepada Siswa. Penjelasan mengenai program harus jelas. Siswa harus memahami aturan main sebelum belajar dimualai agar mereka dapat memanfaatkan waktu belajar secara optimal. Sejumlah penghargaan kepada siswa diberikan di antaranya karena ketepatan dan kecepatan menunjukan prilaku positif yang diharapkan. b. Guru memberikan masukan. Guru harus menentukan kapan hadiah akan didistribusikan, dengan ketentuan seperti apa, dan bagaimana siswa dapat memperoleh penghargaan, tata tertib seperti bagaimana? Pemberian penghargaan dapat guru lakukan tidak hanya sebatas dalam kurun waktu satu dua jam pelajaran, namun dapat pula menggunakan waktu berharihari, berminggu-minggu atau dalam satu semester sepanjang guru dapat memelihara kondisi tingkat revalitas, persaingan dan daya kolaborasi dapat terus dikobarkan sehingga berdampak positif terhadap hasil belajar siswa. c. Guru pengatur penghargaan. Guru memberikan penghargaan dengan memperhatikan tercapainya tujuan pembelajaran. Kejuaraan diperoleh dari pengumpul hadiah terbanyak. Hal itu berarti menjadi siswa yang berlajar paling efektif sehingga mencapai prilaku yang diharapkan. Jika siswa berhasil dalam satu hari dan ia tidak mendapatkan di waktu lain adalah sesuatu yang baiasa. B. Motivasi Belajar 1. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi belajar terdiri dari dua kata yang memepunyai pengertian sendirisendiri. Namun kedua pengertian tersebut membentuk satu pengertian

pembahasan. Untuk lebih jelasnya penulis menguraikan satu persatu diantara keduanya. Motivasi berasal dari bahasa inggris motive yang diambil dari kata asalnya mation yang berarti gerak atau sesuatu yang bergerak (Rusyan, 1998). Sedangkan menurut Sardiman. Motive diartikan sebagai daya dan upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (A.M, 2005). Motif dapat diartikan sembagi daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern ( kesiapsiagaan). Berawal dari motif itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak. Menurut Sumadi (1990: 70) dalam buku Psikologi Pendidikan, motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai tujuan. Dalam pengertian ini motif bukanlah yang dapat diamati, akan tetapi dapat diketahui karena adanya suatu aktivitas itu dapat kita lihat atau saksikan. Sedangkan pengertian motivasi hampir sama dengan pengertian motif yang berbeda hanya kalimatnya saja. Sebagaimana pengertian motivasi yang dikemukakan oleh Martin Handoko, motivasi adalah suatu tenaga atau faktor yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan, mangarahkan, dan

mengorganisasikan tingkah laku (Handoko, 1992: 9).

Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar (Dimyati,1999:80). Motivasi dapat didefinisikan dengan segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan (Abdul R.S, 2008:182). Oemar Hamalik (2001:158) menyatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Menurut Ustman Najati, motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, yang menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu (Hamalik,2001:183). Sartain menggunakan kata motivasi atau dorongan sebagai suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive) (Purwanto, 1988:70). Hoyt dan Miskel memandang motivasi sebagai kekuatan-kekuatan yang kompleks, dorongan-dorongan, kebutuhan-kebutuhan, pernyataan-pernyataan ketegangan (tension states), atau mekanisme-mekanisme lainnya yang memulai dan menjaga kegiatan-kegiatan yang diinginkan ke arah pencapaian tujuan-tujuan personal (Abdul R.S, 2008:184). Motivasi, sikap dan minat yang memberikan kemungkinan untuk mendorong dalam berbuat dan bertingkah laku. Untuk mendorong seseorang mencapai aktivitas dari tujuan yang diinginkan.

Winkel (W.S Winkel, 1996:151) menyatakan bahwa motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif pada saat tertentu. Sedangkan maksud dari motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu. Motivasi merupakan pendorongan suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu (Purwanto, 2004:71). James O. Whitteker (dalam Wasty Soemanto, 1990:193) memberikan pengertian secara umum mengenai penggunaan motivasi dibidang psikologi, menurutnya motivasi ialah kondisi atau keadaan yang mengakibatkan atau memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut. Sedangkan Sumadi Suryabrata (2002:114) mengatakan motivasi sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Maslow (dalam Djaali, 2007:101) mengungkapkan bahwa kebutuhan dasar hidup manusia itu terbagi atas lima tingkatan, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan harga diri dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Manusia memerlukan motivasi yang dapat memberikan semangat dan kemampuan untuk mengerjakan sesuatu, begitu juga dengan pelajar atau siswa sangat memerlukan adanya motivasi untuk belajar lebih giat lagi. Dengan motivasi yang didapat dari orang tua dan guru maka siswa dapat terdorong untuk melakukan kegiatan belajar.

Sebelum menguraikan apa yang dimaksud dengan motivasi belajar terlebih akan diuraikan tentang beberapa pengertian tentang belajar. Pada hakekatnya belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya sendiri, baik dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan baru maupun dalam bentuk sikap dan nilai yang positif. Winkel mendefinisikan belajar sebagai : Suatu aktivitas mental psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas. Winkel (1991:36) memandang bahwa peristiwa belajar terjadi karena adanya interaksi aktif antara individu dengan lingkungannya. Individu yang dimaksud harus aktif sendiri, melibatkan diri dengan segala pemikiran, kemauan dan perasaannya agar perubahan yang terjadi pada dirinya bersifat konstan dan wajar. Witherington (1992, dalam Usman Effendi dan S. Praja, 1985:103) merumuskan pengertian belajar sebagai suatu perubahan dalam kepribadian, sebagaimana yang dimanifestasikan dalam perubahan penguasaan pola-pola respon atau tingkah laku yang baru, yang ternyata dalam perubahan keterampilan, kebiasaan, kesanggupan atau pemahaman. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.

Untuk

lebih

jelasnya

ada

beberapa

pendapat

para

ahli

yang

mengemukakan tentang pengertian belajar; a. Menurut Slameto belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Syaiful, 1990:193). b. Cronbach mengatakan (dalam Sumadi Suryabrata, 2002:231) belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu si pelajar menggunakan panca inderanya. c. Sedangkan Oemar Hamalik berpendapat bahwa belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara tingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Syaiful, 2004:13). Belajar adalah suatu usaha untuk melakukan perubahan dengan cara-cara tertentu seperti pengalaman, latihan, ketrampilan dan pemahaman yang dilakukan untuk memperoleh suatu pengetahuan dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik. Setelah mengetahui definisi motivasi dan belajar, untuk lebih jelas maka terdapat suatu pendapat yang dikemukakan para ahli mengenai motivasi belajar: Dimyati dan Mujiono (1999;97) memberikan pengertian bahwa motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya yang terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa.

Sedangkan menurut Sardiman (1992;73) mendeskripsikan bahwa motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual, peranan yang khas adalah dalam hal menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang mempunyai motivasi belajar kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi belajar menurut W.S.Winkel (1991:92) adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Dapat diambil pengertian bahwa motivasi belajar adalah suatu usaha untuk mendorong keinginan individu agar tercapai suatu hasil yang diinginkan dalam belajar. Motivasi belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pelajaran di sekolah. Seseorang akan berhasil apabila dalam belajar, kalau pada dirinya ada keinginan untuk belajar. Keinginan atau dorongan inilah yang disebut dengan motivasi belajar. Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu dorongan atau keinginan kuat untuk belajar yang terpengaruh oleh kondisi psikologis dan fisiologis, untuk melakukan suatu tujuan yang sudah ditentukan. Jadi seseorang akan berhasil jika melakukan suatu usaha dengan perasaan senang dan tumbuh kegairahan dalam belajar, keinginan yang kuat untuk melakukan tujuan dan mendapatkan hasil yang baik. Dalam proses belajar, motivasi belajar sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Dasar

pertimbangan pemilihan teori motivasi menggunakan teori dari W.S. Winkel, alasan mengapa dalam penelitian peneliti memilih teori dari W.S.Winkel ini karena teorinya cukup sederhana, penjelasan yang singkat akan tetapi sudah mencakup semua dan kalimatnya mudah dipahami. Dari pengertian-pengertian tersebut dapat diketahui bahwa Motivasi belajar adalah suatu dorongan yang dapat mengubah tingkah laku individu untuk melakukan suatu aktivitas belajar sehingga dapat mencapai tujuan tertentu. Bentuk motivasi tersebut meliputi motivasi intrinsik yang timbul dari dalam diri individu tanpa adanya pengaruh dari orang lain dan ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul dari luar diri individu karena adanya paksaan, ajakan sehingga terpaksa untuk melakukan kegiatan belajar. 2. Teori-teori Motivasi Dibawah ini disebutkan beberapa teori motivasi yaitu : a. Teori Hedonisme Hedonisme adalah bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan, atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran di dalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan yang bersifat duniawi. Implikasi dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa semua orang cenderung menghindari hal-hal yang menyulitkan dan lebih menyukai melakukan perbuatan yang mendapatkan kesenangan. Siswa di kelas merasa gembira dan bertepuk tangan mendengar pengumuman dari kepala sekolah bahwa guru matematika yang mereka benci tidak dapat mengajar karena sakit.

Menurut teori Hedonisme, para siswa harus diberi motivasi secara tepat agar tidak malas belajar matematika, dengan cara memenuhi kesenangannya. b. Teori Naluri Naluri merupakan suatu kekuatan biologis bawaan, yang mempengaruhi anggota tubuh untuk berlaku dengan cara tertentu dalam keadaan tepat. Sehingga semua pemikiran dan perilaku manusia merupakan hasil dari naluri yang diwariskan dan tidak ada hubungannya dengan akal. Menurut teori naluri, seseorang tidak memilih tujuan dan perbuatan, akan tetapi dikuasai oleh kekuatan-kekuatan bawaan yang akan dilakukan. c. Teori Reaksi yang Dipelajari Menurut teori ini, apabila seorang pemimpin atau seorang pendidik akan memotivasi anak buah atau anak didiknya, pemimpin atau pendidik itu hendaknya mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang dipimpinnya. d. Drive Theory Teori ini merupakan perpadanan antara teori naluri dengan teori reaksi yang dipelajari. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya sesuatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya suatu daya pendorong pada lawan jenis. Semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada lawan jenis. Namun cara-cara yang digunakan berlainlainan bagi tiap individu, menurut latar belakang dan kebudayaan masingmasing.

e. Teori Arousal Teori ini dikemukakan oleh Elizabeth Duffy. Menurutnya, organisme tidak selalu berusaha menghilangan ketegangan tetapi justru tidak sebaliknya, di mana organisme berusaha meningkatkan ketegangan dalam dirinya f. Teori Atribusi Teori ini dikemukakan oleh kelompok teori kognitif yang berusaha menggambarkan secara sistematik penjelasan-penjelasan perihal kenapa seseorang berhasil atau gagal dalam suatu aktivitas. Misalnya, guru yang tidak enak mengajar, kesehatan yang tidak optimal, pelajaran tidak menarik,

ketidakberuntungan, kurang usaha, kurangnya kemampuan, pekerjaan terlalu sulit, salah strategi dan lain-lain (Purwanto, 1988:187-192). g. Teori Kebutuhan Menurut Maslow, manusia memiliki lima tingkatan kebutuhan, yaitu: 1) Kebutuhan Fisiologis Yaitu kebutuhan dasar yang bersifat primer dan vital, menyangkut fungsifungsi biologis, seperti kebutuhan akan pangan, sandang dan papan, kesehatan dan kebutuhan seks. 2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security). Seperti perlindungan dari bahaya dan ancaman, penyakit, perang, kelaparan,dan perlakuan tidak adil. 3) Kebutuhan sosial

Yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan dan kerja sama. 4) Kebutuhan akan penghargaan Termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, status, pangkat. 5) Kebutuhan akan aktualisasi diri Seperti antara lain kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, mengembangkan diri secara maksimum, kreativitas dan ekspresi diri. Dari teori motivasi tersebut dapat disimpulkan bahwa teori motivasi itu terdapat tujuh teori yaitu, teori hedonisme yang mengatakan bahwa manusia itu memiliki tujuan hidup yang utama yaitu untuk mencari kesenangan. Sedangkan teori naluri mempunyai naluri yang bersifat bawaan sehingga semua pemikiran dan perilaku manusia merupakan hasil dari naluri, teori reaksi yang dipelajari merupakan teori apabila akan memotivasi seseorang maka terlebih dahulu harus mengetahui latar belakang baik kehidupan ataupun kebiasaannya. Drive theory yaitu pendorong untuk melakukan kepada arah yang umum. teori arousal yaitu peningkatan ketegangan pada seseorang. teori atribusi yang menggambarkan penjelasan perihal keberhasilan dan kegagalan seseorang. teori kebutuhan yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, social, penghargaan dan aktualisasi diri. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syam ayat 8:

Artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) dan ketaqwaannya (Surat Asy-Syam 8). Dijelaskan bahwa jiwa itu hidup dan memiliki berbagai kebutuhankebutuhan psikologis dan fisiologis. Dalam diri manusia tingkatan kebutuhan tersebut selalu ingin dapat terpenuhi dan tidak akan puas dengan satu kebutuhan saja. 3. Komponen Motivasi Belajar Di bawah ini terdapat dua bentuk motivasi belajar menurut W.S Winkel (1991:95) yaitu: a. Motivasi Instrinsik Bentuk motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri, misalnya siswa belajar karena ingin mengetahui seluk beluk suatu masalah selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang yang terdidik, semua keinginan itu berpangkal pada penghayatan kebutuhan dari siswa berdaya upaya, melalui kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan itu. Namun sekarang kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi dengan belajar giat, tidak ada cara lain untuk menjadi orang terdidik atau ahli, lain belajar. Biasanya kegiatan belajar disertai dengan minat dan perasaan senang.

W.S. Winkel mengatakan bahwa: Motivasi Intrinsik adalah bentuk motivasi yang berasal dari dalam diri subyek yang belajar (W.S Winkel, 1991:95). Namun terbentuknya motivasi intrinsik biasanya orang lain juga memegang peran, misalnya orang tua atau guru menyadarkan anak akan kaitan antara belajar dan menjadi orang yang berpengetahuan. Biarpun kesadaran itu pada suatu ketika mulai timbul dari dalam diri sendiri, pengaruh dari pendidik telah ikut menanamkan kesadaran itu. Kekhususan dari motivasi intrinsik ialah kenyataan, bahwa satu-satunya cara untuk mencapai tujuan yang ditetapkan ialah belajar. b. Motivasi Ekstrinsik Jenis motivasi ini timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau belajar. Winkel mengatakan Motivasi Ekstrinsik, aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri (W.S. Winkel, 1991:94). Perlu ditekankan bahwa dorongan atau daya penggerak ialah belajar, bersumber pada penghayatan atau suatu kebutuhan, tetapi kebutuhan itu sebenarnya dapat dipengaruhi dengan kegiatan lain, tidak harus melalui kegiatan belajar. Motivasi belajar selalu berpangkal pada suatu kebutuhan yang dihayati oleh orangnya sendiri, walaupun orang lain memegang peran dalam menimbulkan motivasi itu, yang khas dalam motivasi ekstrinsik bukanlah ada atau tidak adanya

pengaruh dari luar, melainkan apakah kebutuhan yang ingin dipenuhi pada dasarnya hanya dapat dipenuhi dengan cara lain. Berdasarkan uraian di atas maka motivasi belajar ekstrinsik dapat digolongkan antara lain : 1. Belajar demi memenuhi kewajiban. 2. Belajar demi menghindari hukuman. 3. Belajar demi memperoleh hadiah materi yang dijanjikan. 4. Belajar demi meningkatkan gengsi sosial. 5. Belajar demi memperoleh pujian dari orang yang penting (guru dan orang tua). 6. Belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang atau demi memenuhi persyaratan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk motivasi meliputi, motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang tumbuh dari dalam individu sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain. Timbulnya motivasi yang ada dalam diri individu merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mencapai apa yang diinginkan untuk meraih cita-cita dan menjadi orang yang terdidik, misalnya belajar tanpa disuruh untuk belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul dari pengaruh orang lain. Jadi motivasi timbul karena adanya suatu paksaan, suruhan dan ajakan, misalnya belajar karena diajak oleh teman, gengsi, untuk mendapatkan pujian, untuk memenuhi kewajiban, sehingga individu terpaksa untuk belajar.

4. Bentuk-bentuk Motivasi dalam Belajar Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik, sebagai berikut: a. Pemberian angka atau grade Angka adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Pemberian angka atau grade biasanya bervariasi, didasarkan atas perbandingan interpersonal dalam prestasi akademis atau dari hasil ulangan, ada anak yang mendapat angka baik dan anak yang mendapat angka jelek. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan pada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi belajar mereka di masa mendatang. Angka atau nilai yang baik mempunyai potensi yang besar untuk memberikan motivasi kepada anak didik untuk belajar lebih giat. b. Pemberian penghargaan atau ganjaran Teknik ini dianggap berhasil bila menumbuhkembangkan minat siswa. Pemberian penghargaan dapat membangkitkan minat anak untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu. Tujuan pemberian penghargaan dalam belajar adalah bahwa setelah seseorang menerima penghargaan karena telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, ia akan terus termotivasi untuk melakukan kegiatan belajarnya sendiri di luar kelas. c. Kompetisi Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar. Persaingan, baik

dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif. Untuk menciptakan suasana yang demikian, metode mengajar memegang peranan. Guru bisa membentuk anak didik ke dalam beberapa kelompok belajar di kelas, ketika pelajaran sedang berlangsung. Semua anak didik dilibatkan ke dalam suasana belajar, dengan guru bertindak sebagai fasilitator, sementara setiap anak didik aktif belajar sebagai subjek yang mempunyai tujuan tertentu, sehingga masingmasing anak termotivasi sendiri untuk mencapai tujuannya itu. d. Ego-Involvement Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri. Begitu juga dengan anak didik sebagai subjek belajar. Anak didik akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya. e. Memberi ulangan Ulangan bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Oleh karena itu, ulangan merupakan strategi yang cukup baik untuk memotivasi anak didik agar lebih giat belajar.

f. Keberhasilan dan tingkat apresiasi Istilah tingkat apresiasi menunjuk kepada tingkat pekerjaan yang diharapkan pada masa depan berdasarkan keberhasilan atau kegagalan dalam tugas-tugas yang mendahuluinya. Konsep ini berkaitan erat dengan konsep seseorang tentang dirinya dan kekuatan-kekuatannya. Dalam hubungan ini guru dapat menggunakan prinsip bahwa tujuan-tujuan harus dapat dicapai dan para siswa merasa bahwa mereka akan mampu mencapainya. Dengan mengetahui hasil yang mereka capai, anak didik akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi bila hasil belajar itu mengalami kemajuan, maka anak didik akan berusaha untuk

mempertahankannya atau bahkan meningkatkan intensitas belajarnya. g. Pujian Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik, guru bisa memanfaatkan pujian untuk memuji keberhasilan anak didik dalam mengerjakan pekerjaan di sekolah. Pujian diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuat-buat atau bertentangan sama sekali dengan hasil kerja anak didik. Pujian harus diberikan secara merata kepada anak didik sebagai individu, bukan kepada yang cantik atau yang pintar. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap guru, tetapi menganggapnya sebagai figure yang disenangi dan dikagumi.

h. Hukuman Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam. Pendekatan edukatif dimaksud sebagai hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman yang diberikan itu anak didik tidak mengulangi kesalahan atau pelanggaran. Minimal mengurangi frekuensi pelanggaran, namun akan lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya di hari mendatang. i. Hasrat untuk belajar Hasrat untuk belajar berarti ada unsure kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga perlu dikembangkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif sebagai pendukung utamanya. Disini motivasi ekstrinsik sangat diperlukan, agar hasrat untuk belajar itu menjadi perilaku belajar. j. Minat Minat berpengaruh besar terhadap aktivitas belajar. Anak didik yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya. Anak didik mudah menghafalkan pelajaran yang menarik minatnya. Proses belajar akan

berjalan lancer bila disertai minat. Minat merupakan alat motivasi yang utama yang dapat membangkitkan gairah belajar anak didik. k. Tujuan yang diakui Rumusan tujuan yang ingin dicapai oleh guru, sebaiknya diberitahukan kepada anak didik, sehingga tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar. 5. Motivasi Belajar Dalam Perspektif Islam Motivasi adalah suatu keinginan atau dorongan yang terjadi didalam setiap individu untuk memperoleh suatu tujuan yang diinginkan. Setiap manusia mempunyai suatu dorongan yang ingin dicapainya. Dalam kitab suci Al-Quran yang berbunyi:

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (allah); (tetapkan atas) fitrah allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum : 30) Sebuah motif dalam wujud fitrah, sebuah potensi dasar. Potensi dasar yang memiliki makna sifat bawaan, mengandung arti bahwa sejak diciptakan manusia

memiliki sifat bawaan yang menjadi pendorong untuk melakukan berbagai macam bentuk perbuatan, tanpa disertai dengan peran akal, sehingga terkadang manusia tanpa disadari bersikap dan bertingkah laku untuk menuju pemenuhan fitrahnya. Motivasi itu akan melahirkan tujuan belajar, minat terhadap belajar, kepercayaan pada diri sendiri dan keuletan yang dimiliki oleh siswa. Oleh sebab itu motivasi memiliki pengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa di sekolah. Motivasi apapun yang dilakukan siswa maka dialah yang berhak mengenyam buah keberhasilan sesuai dengan jerih payahnya. Hal itu sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Zilzilah: 7-8, yang menjelaskan tentang pentingnya setiap orang bertanggung jawab terhadap setiap niat atau motivasi, usaha dan hasil karyanya:

Artinya: Barang siapa yang mengerjakan sesuatu amal kebajikan seberat atom pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan perbuatan jahat seberat atom pun niscaya dia akan melihat balasannya pula. Kata niat jika disejajarkan lebih tinggi daripada motivasi karena motivasi seorang muslim harus timbul karena niat pada Allah. Pada prakteknya kata motivasi dan niat hampir sama-sama dipakai dengan arti yang sama, yaitu bisa kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dorongan (drive) atau

kekuatan. Walaupun dalam bahasa inggris intention diartikan niat dan motivation dengan motivasi namun dalam berbagai penelitianpun kata motivasi yang digunakan. Memurnikan niat karena Allah semata merupakan landasan amal yang ikhlas. Maksud niat disini adalah pendorong kehendak manusia untuk mewujudkan suatu tujuan yang dituntutnya. Allah SWT menyebutkan pada sebagian ayat Al-Quran tentang motivasi-motivasi fisiologis terpenting yang berfungsi menjaga individu dan kelangsungan hidupnya. Misalnya lapar, dahaga, bernapas dan rasa sakit. Dalam Surat Thaha ayat 117-121 tiga motivasi terpenting untuk menjaga diri dari lapar, haus, terik matahari, cinta, kelangsungan hidup, ingin berkuasa. Sebagian ayat al-Quran menunjukkan pentingnya motivasi memenuhi kebutuhan perut dan perasaan takut dalam kehidupan. Allah SWT menyebutkan pada sebagian ayat Al-Quran tentang motivasi-motivasi fisiologis terpenting yang berfungsi menjaga individu dan kelangsungan hidupnya. motivasi psikologis yang dipelajari manusia di tengah pertumbuhan sosialnya, di dalam fase pertumbuhan, berkembang kecenderungan individu untuk memiliki, berusaha memiliki harta yang dapat memenuhi kebutuhan dan jaminan keamanan hingga masa yang akan datang. Motivasi adalah kuatnya dorongan dari dalam diri yang membangkitkan semangat pada manusia yang kemudian hal itu menciptakan adanya tingkah laku dan mengarahkannya pada suatu kesuksesan. Motivasi itu menjalankan fungsi

utama bagi manusia di mana ia mendorong untuk lebih bertanggung jawab dengan memenuhi kebutuhan hidup yang hakiki dan eksistensi dirinya. Al-Quran memerintahkan orang-orang beriman, yang mempunyai kemampuan fisik untuk bekerja keras dan selalu mencari ilmu. Allah juga menjanjikan pertolongan bagi siapa saja yang berjuang dan berlaku baik dalam kehidupannya seperti yang difirmankan oleh Allah dalam Surat Al-Ankabut ayat 69 :

Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benarbenar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. Al-Quran Surat Al-Qashas ayat 77 di jelaskan bahwa:

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan

bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dijelaskan bahwasannya setiap manusia berusaha untuk mencari apa yang sudah dianugerahkan kepada Allah, dengan dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup yaitu kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologis di dunia, maka manusia berusaha mencari semua apa yang berguna dan yang diinginkan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT di dunia. Dan manusia tidak boleh melupakan kebahagiaan di akhirat ketika Allah telah

menganugerahkan kenikmatan. Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang manusia sebagai makhluk yang direncanakan Allah SWT untuk berusaha. Dalam beberapa ayat Al-Quran tersebut dapat disimpulkan tentang potensi manusia untuk memotivasi diri dan mencapai tujuan yang diinginkan. C. Pembelajaran Bahasa Indonesia 1. Pengertian Pembelajaran Bahasa Indonesia Untuk mengetahui pengertian bahasa, kita meninjau dari dua segi, yaitu dari segi teknis dan segi praktis. Secara teknis, bahasa adalah seperangkat ujaran yang bermakna, yang dihasikan dari alat ucap manusia. Pengertian secara praktis, bahasa merupakan alat komunikasi antara anggota masyarakat yang berupa sistem lambing bunyi yang bermakna, yang dihasilkan dari alat ucap manusia. Dari pengertian secara praktis ini dapat kita ketahui bahwa bahasa dalam hal ini mempunyai dua aspek, yaitu aspek sistem (lambang) bunyi dan aspek makna. Bahasa disebut sistem bunyi atau sistem lambang bunyi karena bunyibunyi bahasa yang kita dengar atau kita ucapkan itu sebenarnya bersistem atau memiliki keteraturan.

Dalam hal ini istilah sistem bunyi hanya terdapat didalam bahasa lisan, sedangkan didalam bahasa tulis bahasa sistem bunyi itu digambarkan dengan lambang-lambang tertentu yang disebut huruf. Dengan demikian bahasa selain dapat disebut sistem bunyi, juga disebut system lambang. (Mustakim, 1994 : 2) 2. Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia Fungsi Bahasa Indonesia adalah sebagai wahana komunikasi bagi manusia, baik komunikasi lisan maupun komunikasi tulis. Fungsi adalah fungsi dasar bahasa yang belum dikaitkan dengan status dan nilai-nilai sosial. Dalam kenyataan sehari-hari, bahasa tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat, yang didalamnya sebenarnya terdapat status dan nilai-nilai sosial. Bahasa selalu mengikuti dan mewarnai kehidupan manusia sehari-hari, baik manusia sebagai anggota suku maupun bangsa. (Imam, 1990 : 1) Didalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai berikut: a. Sebagai lambang kebangaan nasional b. Sebagai lambang jati diri atau identitas nasional c. Sebagai alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial,budaya, dan bahasanya d. Sebagai alat perhubungan antarbudaya dan antar daerah. (Mustakim, 1990 : 14) Adapun fungsi pembelajaran Bahasa Indonesia seperti dipaparkan dibawah ini:

a. Untuk

meningkatkan

produktivitas

pendidikan,

denagan

jalan

mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina

danmengembangkan gairah belajar siswa. b. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, denganjalan perencanaan program pendidikan yang lebih sistematis, serta

pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi pleh penelitian oleh prilaku. d. Lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan menongkatkan kemampuan manusia dengan berbagai media komunikasi, serta penyajian informasi dan data secara lebih konkrit. e. Memungkinkan belajar secara seketika, karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkrit, serta memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. f. Memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas, terutama dengan alat media massa. (Solchan, 1996 : 4) 3. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pembelajaran bahasa indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: a. Berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis b. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara c. Memehami bahasa indonesia dan menggunakan dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan d. Menggunakan bahasa indonesia untuk meningkatkan kemampuan

intelektual, serta kematangan emosionaldan sosial e. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemapuan bahasa f. Menghargai dan membanggakan sastra indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia indonesia. .(Solchan, 1996 : 6) 4. Aspek-Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia Pembelajaran bahasa indonesia terdiri dari beberapa aspek-aspek sebagai berikut: a. Mendengarkan Kegiatan mendengar adalah kegiatan yang utama dan pertama bagi orang yang belajar bahasa. Anak sejak semula belajar bahasa dari orang tuanya dengan jalan mendengar. Dengan kegiatan mendengar maka siswa-siswa

dapat melakukan kegiatan meniru,menangkap, dan melakukan yang didengarkannya.

b. Berbicara Kegiatan berbicara adalah kegiatan yang sifatnya produktif setelah kegiatan mendengar dilakukan. Tujuan pembelajaran berbicara pada umumnya ialah agar menggunakan bahsa secara lisan. Supaya kegiatan berbicara itu efektif. c. Membaca Kegiatan membaca dapat dimulai setelah siswa mengenal huruf. Membaca dalam pengertian bahasa pemulaan seringkali siswa-siswa diajar membaca gambar atau menceritakan yang dilihatnya pada gambar sebelum mengenal huruf. Kegiatan demikian disebut kegiatan membaca gambar. d. Menulis Kegiatan belajar yang tercangkup dalam kegiatan menulis adalah: 1) Menyalin Kegiata menyalin adalah kegiatan yang ditujukan kepada keterampilan menulis. 2) Mengarang Mengarang berarti merangkai atau menyusun hasil pikiran dalam bahasa tulis. Dapat diartikan juga mengarang adalah menuliskan hasil pikiran-pikiran mengenai yang didengar, dilihat atau dialami. 3) Dikte

Pelajaran dekte juga termasuk kegiatan menulis. Yang ditulis adalah bahasa lisan yang diungkapkan oleh guru. Oleh karena itu dekte juga termasuk kegiatan mendengar. ( Broto, 1980 : 208 ) D. Pengaruh Token Economy Terhadap Motivasi Belajar Seorang Guru, seringkali merasa kebingungan bagaimana harus

mengontrol perilaku anak didiknya. Kadang kali guru dan orang tua merasa frustasi dengan tingkah laku anak. Mereka sungguh kebingungan bagaimana cara menghentikan perilaku negatif anak. Sering dijumpai reaksi guru atau orang tua yang muncul adalah membentak, menaikan tekanan suara, berteriak, bahkan melakukan kekerasan fisik pada anak misalnya mencubit, menampar, menarik rambut, memukul atau menekan bagian tubuh anak dengan kencang dan berbagai tindak keras lainnya. Tindak kekerasan ini baik secara fisik ataupun mental kini dikenal sebagai bullying. Dan di Indonesia tindakan ini sudah dipikirkan sebagai tindakan melanggar hukum. Anak masih belajar mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Apabila kita hanya memberikan reaksi negatif saja pada anak maka banyak resiko dan dampak buruk yang yang akan muncul. Mulai self-concept, percaya diri, selfefficacy akan menjadi lemah, menjadi agresif ; berperilaku keras pada lingkungannya, mengalami hambatan yang serius dalam perkembangannya dan bisa jadi anak akan mengalami gangguan jiwa apabila terus menerus mengalami kekerasan mental maupun fisik. Anak juga perlu dihargai, layaknya seperti kita merasa perlu dihargai atas pekerjaan atau perilaku baik yang kita lakukan (golden rules), kita sering berpikir

kita ingin diperlakukan orang seperti kita memperlakukan orang dengan baik, begitu pula anak-anak juga ingin dihargai diberikan penguatan. ( Eko, 2005 : 2) Pola didik guru dan orang tua di Indonesia menurut saya masih dibilang primitif karena sikap guru dan orang tua masih reaktif menanggapi perilaku anak dengan perilaku yang tanpa dipikirkan lebih jauh lagi. Apabila saat ini generasi Indonesia dibilang tidak kompetitif dengan negara lain ini juga karena pengaruh pola didik yang masih primitif, sehingga kualitas soft-skiil masih tertinggal karena sisi afektif anak tidak pernah diperhatikan dengan baik. Tentu kita ingin menyelamatkan anak dan bangsa kita, dengan salah satu teknik Token Economy kita dapat mendidik dengan baik. Menurut De Decce dan Grawford (1974), menyatakan bahwa ada empat fungsi guru sebagai pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan motivasi belajar anak didik, untuk tercapainya tujuan pengajaran: 1. Menggairahkan anak didik Dalam proses belajar mengajar, guru harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Guru harus memelihara minat anak didik dalam belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu kepada anak didik untuk berpindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi belajar. 2. Memberikan harapan realistis Guru harus bisa memelihara harapan-harapan anak didik yang realistis dan memodifikasi harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Harapan yang diberikan harus yang bisa dijangkau oleh anak didik dan dengan pertimbangan yang matang.

3. Memberikan insentif Guru diharapkan memberikan hadiah kepada anak didik yang mengalami keberhasilan, baik berupa pujian, angka yang baik, dan sebagainya. Sehingga anak didik terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pengajaran. 4. Mengarahkan perilaku anak didik Guru dituntut untuk bisa mengarahkan perilaku anak didik dengan cara memberikan respon terhadap anak didik yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan belajar di kelas, misalnya anak yang pendiam, yang membuat keributan, yang berbicara semaunya dan sebagainya, harus diberikan teguran secara arif dan bijaksana. Menghentikan perilaku anak didik yang negatif dengan memberi gelar yang tidak baik adalah kurang manusiawi. Cara mengarahkan perilaku anak didik adalah dengan memberikan penugasan, mendekatinya, memberikan hukuman yang mendidik, menegur dengan sikap lemah lembut dan dengan perkataan yang baik. E. Penelitian Terdahulu Hasil studi kepustakaan pelaksanaan token ekonomy tidak selalu berhasil menghasilkan prilaku siswa sebagaimana yang diharapkan. Di Amerika sistem ini hanya dapat berhasil dilakukan oleh 40% guru saja (Rosen, Taylor, OLeary, & Sanderson, 1990). Hasil kajian itu menunjukan bahwa program intensifikasi

belajar Token economy dalam kelas tidak selalu siswa perlukan bahkan tidak diperlukan oleh sebagian besar siswa. Dalam Penelitian Anita Aisah, Prasetyo Budi Widodo, Imam Setyawan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Dalam Jurnalnya Yang Berjudul pengaruh penerapan metode modifikasi perilaku Token economy terhadap regulasi diri siswa Peserta mata pelajaran matematika Menunjukkan bahwa Perlakuan Modifikasi Perilaku Token Economy Dapat Meningkatan Regulasi Diri Siswa Yaitu Siswa Peserta Mata Pelajaran Matematika Di SDN Srondol 02 Banyumanik. Pada dasarnya program ini tidak mudah dilaksanakan, memerlukan banyak waktu, memerlukan banyak latihan serta perlu panduan konsultan serta melakukan perbaikan berulang-ulang sehingga guru terampil memacu siswa melalui pemberian penghargaan yang dihargai oleh para siswa sehingga siswa benar-benar menyukainya, dan dapat termotivasi.
F. Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2006:71). Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh metode token economy terhadap motivasi belajar siswa. Artinya apabila metode token economy baik untuk diterapkan maka motivasi belajar siswa akan bernilai tinggi. Dan sebaliknya apabila metode token economy buruk untuk diterapkan maka motivasi belajar siswa akan bernilai rendah.