Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH AUDITING II

PENGUJIAN SUBTANTIF TERHADAP PERSEDIAAN

Disusun oleh: Kelompok 7


Eka Wulandari Novrita Anggani Tiara Puspadewi Vinda Erryana

Dosen Pengajar: Edy S,SE,Msi,Akt Tahun Akademik 2013/2014 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung

KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah mata kuliah AUDITING II yang berjudul PENGUJIAN SUBTANTIF TERHADAP PERSEDIAAN di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan oleh karenanya penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Semarang, Maret 2014

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Persediaan merupakan unsur aktiva yang disimpan dengan tujuan untuk dijual dalam kegiatan bisnis yang normal atau barang-barang yang akan dikonsumsi dalam pengolahan produk yang akan dijual. Kekayaan perusahaan yang tidak dimasukkan ke dalam kelompok persediaan karena kekayaan tersebut tidak dijual dalam kegiatan bisnis normal perusahaan adalah persediaan yang menunggu saat penjualan dan surat berharga yang disimpan untuk dijual di kemudian hari. Di dalam perusahaan dagang, persediaan terutama terdiri dari persediaan barang dagangan. Sedangkan dalam perusahaan manufaktur, persediaan terdiri dari persediaan bahan baku dan bahan penolong, persediaan produk dalam proses, persediaan produk jadi, persediaan suku cadang, dan bahan habis pakai pabrik (factory supplies). Persediaan umumnya mendapat perhatian yang lebih besar dari auditor di dalam auditnya karena berbagai alasan berikut ini: 1. Umumnya persediaan merupakan komponen aktiva lancar yang jumlahnya cukup material dan merupakan objek manipulasi serta tempat terjadinya kesalahankesalahan besar. 2. Penentuan besarnya nilai persediaan secara langsung mempengaruhi kos barang yang dijual (cost of good sold) sehingga berpengaruh pula terhadap perhitungan laba tahun yang bersangkutan. 3. Verifikasi kuantitas, kondisi, dan nilai persediaan merupakan tugas yang lebih kompleks dan sulit dibanding dengan verifikasi sebagian besar unsur laporan keuangan yang lain. 4. Seringkali persediaan disimpan di berbagai tempat sehingga menyulitkan pengawasan dan penghitungan fisiknya. 5. Adanya berbagai macam persediaan menimbulkan kesulitan bagi auditor dalam melaksanakan auditnya.

BAB II PEMBAHASAN

1.1

PRINSIP

AKUNTANSI

BERTERIMA

UMUM

DALAM

PENYAJIAN

PERSEDIAAN DALAM NERACA 1. Laporan keuangan harus menjelaskan bahwa persediaan dinilai dengan lower of cost or market dan harus menyebutkan metode yang digunakan dalam menentukan kos persediaan. 2. Jika persediaan dinyatakan pada kosnya, nilai pasarnya pada tanggal neraca harus dicantumkan dalam tanda kurung, dan jika persediaan diturunkan nilainya pada harga pasarnya, kosnya harus dicantumkan dalam tanda kurung. Kos pengganti kini (current replacement cost) harus dicantumkan dalam laporan keuangan untuk persediaan yang kosnya ditentukan berdasarkan metode masuk terakhir, keluar pertama. 3. Akibat perubahan metode penilaian persediaan terhadap perhitungan rugi laba tahun yang diaudit harus dijelaskan dalam laporan keuangan dan auditor harus menyatakan perkecualian mengenai konsistensi penerapan prinsip akuntansi berlaku umum dalam laporan audit. 4. Penjelasan yang lengkap harus dibuat dalam laporan keuangan jika persediaan digadaikan sebagai jaminan utang yang ditarik oleh klien. 5. Jika jumlahnya material, persediaan dalam perusahaan manufaktur harus dikelompokkan menurut kelompok utama berikut ini : persediaan produk jadi, persediaan produk dalam proses, dan persediaan bahan baku. Penyajian kelompok persediaan tersebut dalam neraca berdasarkan urutan likuiditasnya. 6. Perjanjian pembelian harus dijelaskan dalam laporan keuangan, jika jumlahnya material atau bersifat luar biasa. 7. Cadangan untuk menghadapi kemungkinan turunnya harga persediaan setelah tanggal neraca harus dibentuk dengan menyisihkan sebagian laba yang ditahan. Cadangan ini tidak boleh dikurangkan dari persediaan, namun harus disajikan sebagai pengurang akun Laba Ditahan.

1.2

TUJUAN PENGUJIAN SUBTANTIF TERHADAP SEDIAAN keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang

Memperoleh

bersangkutan dengan persediaan. Sebelum auditor melakukan pengujian substantif terhadap kewajaran saldo persediaan yang dicantumkan di neraca, ia harus memperoleh keyakinan mengenai ketelitian dan keandalan catatan akuntansi yang mendukung informasi persediaan yang disajikan di neraca. Untuk itu auditor melakukan rekonsiliasi antara saldo persediaan yang dicantumkan di neraca dengan akun persediaan di buku besar dan selanjutnya ke jurnal pembelian atau register bukti kas keluar (jika klien menggunakan voucher system dengan basis waktu), jurnal pengeluaran kas atau check register (jika klien menggunakan voucher system dengan basis tunai), jurnal pemakaian bahan baku, jurnal umum, dan ke buku pembantu persediaan. Membuktikan asersi keberadaan persediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan persediaan. Dalam pengujian substantif terhadap aktiva pada umumnya, pengujian ditujukan untuk membuktikan apakah aktiva yang dicantumkan di neraca sesuai dengan aktiva sesungguhnya yang dimiliki oleh klien. Untuk tujuan ini, auditor melakukan berbagai prosedur audit guna membuktikan eksistensi aktiva yang bersangkutan dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan aktiva tersebut, membuktikan kelengkapan aktiva yang disajikan di neraca dan transaksi yang berkaitan dengan aktiva tersebut, membuktikan kepemilikan atas aktiva tersebut, membuktikan kewajaran penilaian aktiva tersebut pada tanggal neraca,

membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tersebut di dalam laporan keuangan. Dalam hubungannya dengan pengujian substantif terhadap persediaan, salah satu tujuan auditnya adalah untuk membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan persediaan. Untuk membuktikan asersi tersebut, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini: a. Prosedur analitik
5

b. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan persediaan. c. Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan persediaan. d. Pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan. e. Konfirmasi persediaan yang berada di tangan pihak luar. Membuktikan

asersi

kelengkapan

transaksi

yang

berkaitan

dengan

persediaan yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo persediaan yang disajikan di neraca. Untuk membuktikan bahwa saldo persediaan yang dicantumkan di neraca mencakup semua persediaan pada tanggal neraca dan mencakup semua transaksi yang berkaitan dengan persediaan dalam tahun yang diaudit, auditor melakukan berbagai pengujian substantif berikut ini: a. Pengujian analitik. b. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan persediaan. c. Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan persediaan. d. Pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan. e. Konfirmasi persediaan yang berada di tangan pihak luar. Transaksi yang berkaitan dengan timbul dan berkurangnya persediaan mempunyai pengaruh yang langsung terhadap perhitungan saldo persediaan pada tanggal neraca, sehingga ketidaktepatan dalam penetapan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan persediaan akan berdampak langsung terhadap perhitungan saldo akun persediaan dan kos barang yang dijual (cost of goods sold). Oleh karena itu, salah satu pengujian substantif untuk membuktikan asersi kelengkapan persediaan adalah pemeriksaan terhadap ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan persediaan.

Membuktikan

asersi

hak

kepemilikan

klien

atas

persediaan

yang

dicantumkan di neraca. Persediaan yang ada pada tanggal neraca belum tentu merupakan hak milik klien, karena persediaan yang ada di tangan klien merupakan barang titipan perusahaan lain atau digadaikan sebagai jaminan penarikan utang. Untuk membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas persediaan yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini: a. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan persediaan. b. Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan persediaan. c. Konfirmasi persediaan yang berada di tangan pihak luar. d. Pemeriksaan perjanjian konsinyasi. Membuktikan asersi penilaian persediaan yang dicantumkan di neraca. Seperti tersebut dalam prinsip akuntansi berlaku umum dalam penyajian persediaan di neraca, persediaan harus disajikan di neraca pada nilainya pada tanggal neraca. Nilai persediaan yang disajikan di neraca harus dipilih di antara mana yang lebih rendah antara kos dengan harga pasar persediaan tersebut pada tanggal neraca. Oleh karena itu, salah satu tujuan pengujian substantif persediaan adalah membuktikan kewajaran inventory costing dan inventory pricing yang digunakan oleh klien dalam mencantumkan nilai persediaan di neraca. Untuk membuktikan asersi penilaian persediaan yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini: a. Pengujian analitik. b. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan persediaan. c. Pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan. d. Permintaan informasi mengenai metode penilaian persediaan yang digunakan oleh klien. e. Pemeriksaan kesesuaian kos per satuan persediaan dengan prinsip akuntansi berlaku umum. f. Pemeriksaan catatan pendukung yang berkaitan dengan data kos per satuan persediaan.
7

g. Pelaksanaan gross-profit test. h. Meminta surat representasi persediaan dari klien. Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan persediaan di neraca. Penyajian unsur-unsur laporan keuangan dan pengungkapannya harus didasarkan pada prinsip akuntansi berlaku umum. Pengujian substantif terhadap persediaan diarahkan untuk mencapai salah satu tujuan membuktikan apakah unsur persediaan telah disajikan dan diungkapkan oleh klien di neracanya sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum. Untuk membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan persediaan yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini : a. Pemeriksaan terhadap perjanjian konsinyasi. b. Pemeriksaan penggolongan persediaan dalam neraca. c. Pemeriksaan pengungkapan persediaan di neraca.

1.3

PROGRAM PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP PERSEDIAAN 1. Prosedur Audit Awal Sebelum membuktikan apakah saldo persediaan yang dicantumkan oleh klien di neracanya sesuai dengan persediaan yang benar-benar ada pada tanggal neraca, auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi persediaan yang dicantumkan di neraca dengan catatan akuntansi yang mendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor memperoleh keyakinan bahwa informasi persediaan yang dicantumkan di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, auditor melakukan 5 prosedur audit berikut ini dalam melakukan rekonsiliasi informasi persediaan di neraca dengan catatan akuntansi yang bersangkutan:

1. Usut saldo persediaan yang tercantum di neraca ke saldo akun Persediaan yang bersangkutan di dalam buku besar. Untuk memperoleh keyakinan bahwa saldo persediaan yang tercantum di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya kebenaran

mekanisme pencatatannya, maka saldo persediaan yang dicantumkan di neraca diusut ke akun buku besar berikut ini:

Persediaan Bahan Baku Akun ini digunakan untuk menampung transaksi pembelian bahan baku, retur pembelian, transaksi pemakaian bahan baku, retur bahan baku ke gudang, dan adjustment hasil penghitungan fisik persediaan.

Persediaan Produk dalam Proses Akun ini digunakan untuk mencatat kos produk dalam proses pada tanggal neraca.

Persediaan Produk Jadi Akun ini digunakan untuk mencatat kos produk jadi yang ditransfer dari Bagian Produksi ke Bagian Gudang, kos produk jadi yang dikirim ke pembeli, dan adjustment hasil penghitungan fisik persediaan.

Persediaan Suku Cadang Rekening ini digunakan untuk mencatat transaksi pembelian dan pemakaian suku cadang, serta adjustment hasil penghitungan fisik persediaan.

Persediaan Bahan Habis Pakai Pabrik (Factory Supplies) Akun ini digunakan untuk mencatat transaksi pembelian dan pemakaian bahan habis pakai pabrik (seperti minyak pelumas) serta adjustment hasil penghitungan fisik persediaan.

2. Hitung kembali saldo akun Persediaan di buku besar. Untuk memperoleh keyakinan mengenai ketelitian penghitungan saldo akun persediaan, auditor menghitung kembali saldo akun persediaan, dengan cara menambah saldo awal dengan jumlah pendebitan dan mengurangnya dengan jumlah pengkreditan tiap-tiap akun kontrol tersebut.

3. Usut saldo awal akun Persediaan ke kertas kerja tahun yang lalu. Sebelum auditor melakukan pengujian terhadap transaksi rinci yang menyangkut akun Persediaan, ia perlu memperoleh keyakinan atas kebenaran saldo awal kedua akun tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, auditor melakukan pengusutan saldo awal akun Persediaan ke kertas kerja tahun yang lalu. Kertas kerja tahun lalu dapat menyediakan informasi tentang berbagai koreksi yang diajukan oleh auditor dalam audit tahun yang lalu, sehingga auditor dapat mengevaluasi tindak lanjut yang telah ditempuh oleh klien dalam menanggapi koreksi yang diajukan oleh auditor tersebut.

4. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun Persediaan ke jurnal yang bersangkutan. Pendebitan di dalam berbagai akun persediaan tersebut kemudian diusut ke jurnal pembelian (atau register bukti kas keluar), atau ke jurnal pengeluaran kas (atau check register), dan pengkreditan ke akun tersebut diusut ke jurnal pemakaian bahan baku dan jurnal umum untuk memperoleh keyakinan bahwa mutasi penambahan dan pengurangan persediaan berasal dari jurnal-jurnal yang bersangkutan.

5. Lakukan rekonsiliasi buku pembantu Persediaan dengan akun kontrol Persediaan di buku besar. Saldo akun kontrol Sedlaan dl dalam buku besar tersebut kemudian dicocokkan dengan jumlah saldo akun pembantu persediaan yang bersangkutan untuk memperoleh keyakinan bahwa catatan akuntansi klien yang bersangkutan dengan persediaan dapat dipercaya ketelitiannya. 2. Prosedur Analitik Prosedur analitik ini merupakan pengecekan secara menyeluruh mengenai kewajaran persediaan yang disajikan di neraca. Dalam prosedur ini, auditor menghitung berbagai ratio yang bersangkutan dengan persediaan, misalnya tingkat perputaran berbagai kelompok persediaan, dan jika terdapat fluktuasi ratio tertentu dari ratio tahun sebelumnya, auditor berkewajiban mendapatkan penjelasan mengenai penyebab terjadinya fluktuasi ratio tersebut. Hubungan antara tingkat perputaran persediaan, tingkat persediaan pada tanggal neraca, dan volume

10

penjualan semuanya harus mendukung pengujian-pengujian substantif yang telah dilakukan oleh auditor.

3. Pengujian terhadap Transaksi Rinci Keandalan saldo Persediaan sangat ditentukan oleh keterjadian transaksi berikut ini yang didebit dan dikreditkan ke dalam akun Piutang Usaha: a. Transaksi pembelian b. Transaksi penjualan, dan c. Transaksi pemakaian. Di samping itu, keandalan saldo akun Persediaan ditentukan pula oleh ketepatan pisah batas yang digunakan untuk mencatat berbagai transaksi tersebut di atas. Oleh karena itu, auditor melakukan pengujian substantif terhadap transaksi rinci yang mendebit dan mengkredit akun Persediaan dan pengujian pisah batas yang digunakan untuk mencatat transaksi yang berkaitan dengan akun tersebut.

Periksa Sampel Transaksi yang Tercatat dalam Akun Persediaan ke Dokumen yang Mendukung Timbulnya Transaksi Tersebut Prosedur audit ini dimulai oleh auditor dari buku pembantu persediaan. Pengujian dilaksanakan dengan mengambil sampel berikut ini: Sampel akun persediaan yang akan diperiksa transaksi mutasinya. Sampel transaksi yang dicatat dalam akun persediaan pilihan.

Periksa Pendebitan Akun Persediaan ke Dokumen Pendukung : Bukti Kas Keluar, Faktur Pembelian, Laporan Penerimaan Barang, dan Surat Order Pembelian. Auditor mengambil sampel transaksi yang dicatat di sebelah debit akun persediaan yang terpilih dalam sampel, kemudian melakukan prosedur audit berikut ini:

11

Mengambil dari arsip klien bukti kas keluar beserta dokumen pendukungnya: faktur pembelian, laporan pengiriman barang dan order penjualan.

Memeriksa kelengkapan dokumen yang mendukung bukti kas keluar. Memeriksa kesesuaian data yang tercantum dalam bukti kas keluar dan dokumen pendukungnya.

Memeriksa kebenaran data yang di-posting ke dalam akun persediaan berdasarkan hukti kas keluar.

Memastikan bahwa semua bukti kas keluar yang disampel telah dicatat di sebelah debit akun persediaan.

Periksa Pengkreditan Akun Persediaan ke Dokumen Pendukung : Faktur Penjualan, Laporan Pengiriman Barang, Bukti Pemakaian Barang Gudang, Memo Debit Untuk Retur Pembelian. Auditor mengambil sampel transaksi yang dicatat di sebelah kredit akun persediaan yang terpilih dalam sampel, kemudian melakukan prosedur audit berikut ini: Mengambil dari arsip klien faktur penjualan, bukti pemakaian barang gudang dan memo debit beserta dokumen pendukungnya: surat permintaan barang (material requisitions) dan laporan pengiriman barang. Memeriksa kelengkapan dokumen yang mendukung faktur penjualan, surat pemakaian barang gudang, dan memo debit. Memeriksa kesesuaian data yang tercantum dalam faktur penjualan, surat pemakaian barang gudang, dan memo debit dan dokumen pendukungnya. Memeriksa kebenaran data yang di posting ke dalam akun persediaan berdasarkan faktur penjualan, surat pemakaian barang gudang, dan memo debit. Memastikan bahwa semua faktur penjualan, surat pemakaian barang gudang, dan memo debit yang disampel telah dicatat di sebelah kredit akun persediaan.

12

Pengujian Pisah Batas Transaksi yang Berkaitan dengan Persediaan Verifikasi pisah batas dimaksudkan untuk membuktikan apakah klien menggunakan pisah batas yang konsisten dalam memperhitungkan transaksi pembelian, penjualan, dan pemakaian persediaan yang termasuk dalam tahun yang diaudit dibanding dengan tahun sebelumnya. Jika klien tidak menggunakan tanggal pisah batas yang konsisten, akibatnya adalah transaksi pembelian, penjualan, dan pemakaian persediaan yang seharusnya diakui sebagai pendapatan atau biaya dalam tahun berikutnya, dicatat oleh klien sebagai pendapatan atau biaya dalam tahun yang diaudit. Di lain pihak, transaksi pembelian, penjualan, dan pemakaian dalam tahun yang diaudit dapat diakui oleh klien sebagai pendapatan atau biaya tahun berikutnya. Dengan demikian, jika klien tidak konsisten dalam menggunakan tanggal pisah batas, perhitungan rugi laba tahun yang diaudit akan terpengaruh langsung. Oleh karena itu, auditor melakukan pemeriksaan terhadap transaksi pembelian, penjualan, dan pemakaian persediaan dalam beberapa minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca, untuk menentukan perlakuan yang tepat terhadap pengakuan pendapatan dan biaya.

Periksa Dokumen yang Mendukung Transaksi Pembelian Dalam Minggu Terakhir Tahun yang Diaudit dan Minggu Pertama Setelah Tanggal Neraca. Prosedur audit ini dilakukan oleh auditor dengan cara memilih transaksi pembelian yang dicatat di dalam register bukti kas keluar dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca. Dari jurnal ini kemudian auditor memeriksa dokumen sumber berupa bukti kas keluar dan dokumen pendukungnya berupa surat order pembelian, laporan penerimaan barang, dan faktur dari pemasok. Informasi yang diperlukan oleh auditor untuk menguji ketepatan pisah batas adalah: syarat pembelian (f.o.b shipping point, f.o.b destination), yang dapat diperoleh auditor dari surat order pembelian dan faktur dari pemasok,

13

tanggal penerimaan barang, yang dapat diperoleh auditor dari laporan penerimaan barang, dan

tanggal pencatatan ke dalam catatan akuntansi (register bukti kas keluar).

Periksa Dokumen yang Mendukung Berkurangnya Persediaan (Karena Transaksi Penjualan atau Pemakaian Sendiri) Dalam Minggu Terakhir Tahun yang Diaudit dan Minggu Pertama Setelah Tanggal Neraca. Prosedur audit lnl dilakukan oleh auditor dengan cara memilih transaksi penjualan yang dicatat di dalam jurnal penjualan dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca. Dari jurnal ini kemudian auditor memeriksa dokumen sumber berupa faktur penjualan dan dokumen pendukungnya berupa surat order pengiriman, laporan pengiriman barang, dan surat muat (bill of lading). Informasi yang diperlukan oleh auditor untuk menguji ketepatan pisah batas transaksi penjualan persediaan adalah: syarat penjualan (f.o.b shipping poirlt, f.o.b destination), yang dapat diperoleh auditor dari surat order pengiriman dan faktur penjualan, tanggal pengiriman barang, yang dapat diperoleh auditor dari laporan pengiriman barang, dan tanggal pencatatan ke dalam catatan akuntansi (jurnal penjualan). Untuk transaksi pemakaian persediaan, auditor memeriksa transaksi pemakaian barang dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca.

Dari jurnal ini kemudian auditor memeriksa dokumen sumber berupa bukti permintaan dan pemakaian barang gudang. Untuk mengetahui ketepatan pisah batas yang diterapkan oleh klien terhadap transaksi pemakaian persediaan, auditor membandingkan tanggal pencatatan di dalam jurnal pemakaian bahan baku atau jurnal umum dengan tanggal yang tercantum di dalam bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang.

14

4. Pengujian Terhadap Saldo Akun Rinci Pengamatan terhadap Penghitungan Fisik Persediaan untuk membuktikan asersi (a) keberadaan dan keterjadian, (b) kelengkapan, dan (c) penilaian persediaan,

Auditor melakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan. Prosedur audit yang ditempuh oleh auditor dalam melaksanakan pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan adalah: (a) memeriksa instruksi tertulis mengenai penghitungan fisik persediaan Instruksi tertulis mengenai penghitungan fisik persediaan sebaiknya disusun bersama antara klien dengan auditor independen, sehingga jika instruksi tersebut digunakan untuk melaksanakan penghitungan fisik

persediaan, tidak terjadi pengajuan keberatan-keberatan oleh auditor karena pertimbangan ketelitian dan keandalan prosedur penghitungan atas persediaan. Auditor harus memeriksa instruksi tertulis yang dibuat oleh klien untuk memperoleh keyakinan mengenai ketelitian dan keandalan data hasil penghitungan fisik persediaan.

(b) melakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan yang dilakukan oleh klien Penghitungan fisik persediaan merupakan prosedur yang harus dilaksanakan oleh klien untuk menjamin ketelitian data persediaan yang dicatat di dalam catatan akuntansinya. Biasanya karena penyimpanan di gudang, persediaan mengalami perubahan kondisi fisiknya, rusak, atau kemungkinan hilang karena dicuri. Oleh karena itu, secara periodik klien harus menyelenggarakan penghitungan fisik persediaan yang disimpan di gudang untuk menyesuaikan data persediaan di dalam catatan akuntansinya dengan keadaan fisik persediaan yang ada di gudang. Prosedur audit ini dilaksanakan oleh auditor dengan dua tujuan: untuk menguji efektif atau tidaknya struktur pengendalian intern terhadap persediaan dan untuk menguji kewajaran informasi persediaan yang dicantumkan di neraca.
15

Oleh karena itu, pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan disebut dengan Dual Purpose Test, yaitu pengujian yang mempunyai tujuan ganda seperti tersebut di atas. Pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan dalam pengujian substantif ini bertujuan untuk membuktikan bahwa klien telah mengadjust catatan akuntansinya berdasarkan data hasil penghitungan fisik persediaan yang andal. Dalam prosedur pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan ini, auditor melakukan kegiatan berikut ini: a. Melakukan hitung uji (test count) terhadap penghitungan fisik yang dilakukan oleh klien. Penghitungan uji ini dilakukan untuk mengecek ketelitian penghitungan fisik yang dilakukan oleh klien. b. Melakukan compilation test, yaitu pengujian penyalinan data di dalam kartu penghitungan fisik (inventory tags) ke dalam daftar hasil penghitungan fisik (inventory summary sheets). Prosedur audit ini dimaksudkan untuk mengecek ketelitian penyalinan data dari kartu penghitungan fisik ke dalam daftar hasil penghitungan fisik. c. Melakukan pricing test, yaitu pengujian pencantuman kos per satuan setiap jenis persediaan yang dicantumkan di dalam daftar hasil penghitungan fisik dan perkalian kos per satuan tersebut dengan kuantitas hasil penghitungan fisik persediaan. Prosedur audit ini dimaksudkan untuk mengecek ketelitian

pencantuman harga per satuan dan hasil perkalian kos per satuan tersebut dengan kuantitas persediaan yang dicantumkan di dalam daftar hasil penghitungan fisik. d. Melakukan adjustment test, yaitu pengujian adjustment yang dilakukan oleh klien terhadap data persediaan di dalam kartu persediaan atas dasar data yang tercantum di dalam daftar hasil penghitungan fisik. Prosedur audit ini dimaksudkan untuk mengecek apakah catatan akuntansi persediaan telah di-adjust dengan data yang benar dari hasil penghitungan fisik persediaan.

Kirimkan Surat Konfirmasi Persediaan yang Disimpan di Gudang Pihak Luar Adakalanya klien memiliki persediaan yang disimpan di gudang luar, di bawah wewenang penyimpanan perusahaan lain. Untuk memperoleh keyakinan tentang eksistensi persediaan klien yang disimpan di gudang luar, auditor perlu

16

mengirimkan surat konfirmasi kepada perusahaan yang menyimpan persediaan tersebut. Prosedur audit ini ditujukan untuk membuktikan asersi berikut ini: 1. 2. 3. Keberadaan dan keterjadian. Kelengkapan. Hak kepemilikan.

Persediaan yang dicantumkan di neraca perlu diverifikasi hak kepemilikannya, karena adakalanya di gudang klien terdapat persediaan yang merupakan barang titipan milik perusahaan lain, atau terdapat persediaan klien yang dititipkan kepada perusahaan lain sebagai barang konsinyasi, atau persediaan klien yang dicantumkan di neraca telah digadaikan dalam penarikan utang. Untuk memverifikasi hak pemilikan klien terhadap persediaan yang disajikan di neraca, auditor melakukan pemeriksaan terhadap dokumen pendukung pemerolehan persediaan, meminta informasi dari klien mengenai barang titipan milik perusahaan lain yang ada di tangan klien dan barang konsinyasi klien yang dititipkan perusahaan lain, serta meminta informasi dari klien mengenai persediaan yang dijaminkan dalam penarikan utang.

Mintalah informasi mengenai barang-barang klien yang dijual secara konsinyasi dan barang-barang titipan yang ada di tangan klien Informasi mengenai barang titipan milik perusahaan lain yang ada di tangan klien dan barang milik klien yang dititipkan perusahaan lain sebagai barang konsinyasi dapat diperoleh auditor dengan cara mewawancarai manajer bagian pemasaran dan memeriksa arsip korespondensi antara klien dengan perusahaan yang menitipkan barang kepada klien dan perusahaan yang dititipi barang oleh klien. Laporan penjualan barang konsinyasi yang diterima oleh klien dari perusahaan yang dititipi barang merupakan sumber informasi untuk mengetahui persediaan klien yang berada di tangan perusahaan lain. Copy laporan penjualan barang titipan yang dibuat oleh klien untuk perusahaan yang menitipkan barang merupakan sumber informasi untuk mengetahui persediaan yang ada di tangan klien namun bukan merupakan milik klien.

17

Mintalah informasi mengenai persediaan yang dijadikan jaminan penarikan utang. Informasi mengenai persediaan klien yang dijaminkan dalam penarikan utang dapat diperoleh auditor dengan cara mewawancarai manajer keuangan dan mereview jawaban konfirmasi dari bank.

Lakukan Pengujian terhadap Penilaian Persediaan Menurut prinsip akuntansi berlaku umum persediaan harus disajikan di neraca sebesar nilainya yang lebih rendah di antara nilai pasar dan kosnya pada tanggal neraca. Oleh karena itu, pengujian terhadap penilaian persediaan dimaksudkan untuk menilai kewajaran penentuan nilai pasar dan kos persediaan pada tanggal neraca.

Mintalah Informasi Mengenai Metode Penilaian Persediaan yang Digunakan Oleh Klien Menurut prinsip akuntansi berlaku umum, persediaan disajikan di neraca sebesar nilainya pada tanggal neraca. Terdapat 3 metode penilaian persediaan: a. Metode harga pasar (market value method), b. Kos historis, (historical cost method) dan c. The lower of cost or market.

Langkah permulaan untuk memverifikasi penilaian persediaan adalah meminta informasi mengenai metode penilaian persediaan yang digunakan oleh klien dalam menyajikan persediaannya di neraca. Dalam prosedur audit ini, auditor, di samping mengumpulkan informasi mengenai metode penilaian persediaan yang digunakan oleh kliennya, juga menilai apakah metode penilaian persediaan yang digunakan oleh klien cocok dengan kondisi persediaannya.

Periksa Kesesuaian Kos Per Satuan Persediaan Dengan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum Prinsip akuntansi berlaku umum mengharuskan jika persediaan dinyatakan pada kosnya, nilai pasarnya pada tanggal neraca harus
18

dicantumkan di dalam tanda kurung, dan jika persediaan diturunkan nilainya pada harga pasarnya, kosnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung. Oleh karena itu, auditor perlu memperoleh informasi mengenai metode penentuan kos persediaan (inventory costing method) yang digunakan oleh klien dan menilainya apakah metode penentuan kos persediaan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum. Metode penentuan kos persediaan yang sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum adalah: a. Metode identifikasi khusus (Special identification method); b. Metode kos rata-rata (Average method); c. Metode masuk pertama keluar pertama (FIFO); dan d. Metode masuk terakhir keluar pertama (LIFO).

Periksa Catatan Pendukung yang Bersangkutan Dengan Data Kos Per Satuan Persediaan Untuk persediaan bahan baku, persediaan suku cadang, dan persediaan bahan habis pakai pabrik, data kos per satuan dapat diverifikasi oleh auditor dengan memeriksa kartu persediaan yang bersangkutan. Untuk persediaan produk dalam proses dan persediaan produk jadi, data kos per satuannya dapat diverifikasi oleh auditor dengan memeriksa kartu persediaan dan kartu kos produk yang bersangkutan (jika perusahaan menggunakan metode kos pesanan/job order cost method) atau ke laporan kos produksi (jika perusahaan menggunakan metode kos proses/process cost method).

Bandingkan Laba Bruto Tahun yang Diaudit Dengan Laba Bruto Tahun Sebelumnya Pembandingan laba bruto tahun yang diaudit dengan laba bruto tahun sebelumnya digunakan sebagai dasar untuk menilai kewajaran nilai persediaan barang dagangan dengan menggunakan metode laba bruto (gross profit method). Sebagai contoh, misalnya rata-rata persentase laba bruto tahun yang lalu sebesar 30%. Jika diketahui persediaan awal tahun yang diaudit sebesar Rp 60.000.000, pembelian dalam tahun yang diaudit sebesar Rp 200.000.000,
19

dan hasil penjualan dalam tahun tersebut Rp 280.000.000, maka persediaan barang dagangan pada akhir tahun dapat diperkirakan seperti tercantum pada Gross Profit Test berikut ini :

Persediaan awal (pada kosnya) Pembelian (pada kosnya) Barang tersedia untuk dijual

Rp 60.000.000,Rp 200.000.000,Rp 260.000.000,-

Hasil penjualan (pada harga pasar/jual) Dikurangi laba bruto: 30% x Rp 280.000.000 Hasil penjualan (pada kosnya)

Rp 280.000.000,Rp 84.000.000,- (-) Rp 196.000.000,- (-)

Taksiran persediaan akhir (pada kosnya)

Rp 64.000.000,-

Angka taksiran persediaan akhir tersebut kemudian dibandingkan dengan angka persediaan yang dicantumkan oleh klien di neracanya untuk menilai kewajaran penilaiannya.

Lakukan Pengamatan Terhadap Unsur Persediaan yang Rusak Persediaan yang rusak akan mengurangi nilai persediaan yang disajikan di neraca. Oleh karena itu, pada waktu melakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan klien, auditor perlu melakukan pengamatan terhadap kondisi fisik persediaan.

Hitung Tingkat Perputaran Persediaan dan Bandingkan Dengan Tingkat Perputaran Persediaan Tahun Sebelumnya Informasi mengenai tingkat perputaran persediaan dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah suatu persediaan lambat dalam proses penjualan atau pemakaiannya dalam kegiatan perusahaan. Auditor perlu menghitung tingkat perputaran semua kelompok persediaan dan

membandingkan hasil perhitungannya tersebut dengan tingkat perputaran persediaan tahun sebelumnya.

20

Biaya Bahan Baku setahun Inventory turnover bahan baku = --------------------------------------Persediaan rata-rata setahun

HPP setahun Inventory turnover barang jadi = -----------------------------------------Persediaan rata-rata setahun

Menghitung kecepatan peredarannya yaitu dengan membagi 365 hari : inventory turnover

Lakukan

Pengamatan

Terhadap

Persediaan

yang

Almbat

Pemakaiannya atau Penjualannya Persediaan yang lambat penjualan dan pemakaiannya akan mempunyai nilai yang berkurang dari kos pemerolehannya. Oleh karena itu, dalam pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan auditor melakukan pengamatan terhadap barang-barang yang lambat penjualannya dan

pemakaiannya.

Mintalah Surat Representasi Dari Klien Surat representasi digunakan oleh auditor untuk menyadarkan klien bahwa tanggung jawab atas kewajaran informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan berada di tangan klien, bukan di tangan auditor. Surat representasi persediaan berisi pernyataan klien mengenai persediaan yang di sajikan di neraca.

5. Pemeriksaan Penyajian dan Pengungkapan Persediaan di Neraca Di atas sudah dicantumkan 7 butir prinsip akuntansi berlaku umum dalam penyajian unsur persediaan di neraca. Atas dasar prinsip akuntansi berlaku umum tersebut, auditor melakukan verifikasi penyajian persediaan di neraca dengan cara: a. memeriksa klasifikasi persediaan di neraca, b. memeriksa penjelasan yang bersangkutan dengan persediaan, dan c. melakukan analytical review terhadap persediaan.

21

Periksa Klasifikasi Persediaan di Neraca Menurut prinsip akuntansi berlaku umum, jika jumlahnya material, persediaan dalam perusahaan manufaktur harus disajikan menurut unsur-unsur utama persediaan: produk jadi, produk dalam proses, bahan baku, suku cadang, dan bahan habis pakai pabrik. Urutan penyajian unsur utama persediaan tersebut didasarkan pada urutan likuiditasnya. Auditor harus memeriksa apakah klien telah melakukan klasifikasi persediaan di neracanya sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum tersebut.

Periksa Pengungkapan yang Bersangkutan Dengan Persediaan Dalam prinsip akuntansi berlaku umum, klien diharuskan menjelaskan di dalam laporan keuangannya mengenai metode penentuan kos dan metode penilaian yang digunakan dalam menyajikan persediaan di neraca. Begitu juga klien diharuskan mencantumkan penjelasan yang lengkap jika persediaannya digadaikan dalam penarikan utang dan jika klien mempunyai komitmen pembelian yang material dan bersifat luar biasa. Auditor harus memeriksa apakah klien telah cukup mencantumkan penjelasan yang berkaitan dengan persediaan di dalam laporan keuangannya sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum tersebut.

Lakukan Analytical Review Terhadap Persediaan Review analitik ini merupakan review secara menyeluruh mengenai kewajaran persediaan yang disajikan di neraca. Dalam prosedur ini auditor menghitung berbagai ratio yang bersangkutan dengan persediaan, misalnya tingkat perputaran berbagai kelompok persediaan, dan jika terdapat fluktuasi ratio tertentu dari ratio tahun sebelumnya, auditor berkewajiban mendapatkan penjelasan mengenai penyebab terjadinya fluktuasi ratio tersebut. Hubungan antara tingkat perputaran persediaan, tingkat persediaan pada tanggal neraca, dan volume penjualan semuanya harus mendukung pengujianpengujian substantif yang telah dilakukan oleh auditor.

22

BAB III PENUTUP


Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.

23