Anda di halaman 1dari 155

1

Juara 1

Sebuah Catatan Perjalanan : Catatan Mahasiswa Luar Biasa Hevi Metalika Aprilia

Lomba Menulis Kisah Inspiratif Tema : Sepenggal kisah bersama Bidik Misi Syarat : 1. Peserta adalah mahasiswa penerima beasiswa bidik misi angkatan 47 atau 48 (termasuk tambahan). 2. Mengumpulkan fotocopy KTM, dan mengisi formulir online disini 3. Tulisan merupakan hasil karya sendiri, kisah yang menginspirasi, implikasi dengan adanya beasiswa bidik misi terhadap penulis (kisah nyata) 4. Penulisan diketik menggunakan font TNR, spasi 1, minimal 3 halaman A4 dengan margins 4 3 3 3 5. Paling lambat pengumpulan berkas tanggal 10 Desember 2011 pk 16.00 di Loket beasiswa Direktorat Kemahasiswaan IPB 6. Lima tulisan terbaik akan mendapatkan sertifikat, piala, serta tabungan. Informasi: Fb ditmawa, Web Kemahasiswaan 085648xxxxxx 085710xxxxxx 085691xxxxxx Demikian bunyi pengumuman yang disampaikan melalui situs jejaring sosial itu. Menulis memang hobiku. Aku senang menulis. Tapi, apakah tulisanku bisa disebut Kisah Inspiratif? Setidaknya dari beberapa pengakuan temanteman, kisahku cukup menginspirasi mereka. Jadi, apa

2
salahnya jika aku berbagi dengan anda? Semoga anda sdapat terinspirasi juga seperti mereka. Dan semoga kisah ini dapat menginspirasi banyak orang setelah anda. Inilah kisahku.... *** Aku, yang sejak kecil bahkan tidak berani bermimpi. Aku, yang sejak SD bahkan tidak berani berangan untuk melanjutkan ke SMP, apalagi SMA. Aku, yang sejak berusia 9 tahun bahkan tidak merasakan lagi kehangatan sebuah keluarga. Aku, yang sejak berusia 10 tahun bahkan harus terpisah dari seseorang yang telah melahirkanku. Aku, yang sejak berusia 12 tahun bahkan harus menjalani kerasnya kehidupan ini sendirian. Aku, yang sejak SD-SMP hanya mengandalkan beasiswa untuk bisa sekolah. Aku, yang sama sekali tidak tahu harus kemana setelah lulus SMA. Aku, yang berangkat ke Bogor hanya bermodal niat, keberanian dan semangat. Aku, yang penuh dengan segala keterbatasan. Aku, Hevi Metalika Aprilia. Pemilik nama aneh yang selalu ditertawakan setiap kali memperkenalkan diri dalam sebuah forum baru. Saat ini, aku seorang mahasiswa semester tiga Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Setiap ditanya, bagaimana perasaanku menjadi bagian dari kampus hijau ini, aku selalu menjawab dengan sangat antusias, Aku bangga sekali !. Bagaimana tidak, aku yang awalnya tak pernah berani bermimpi sedikitpun untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ternyata bisa sampai ke sini. Sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Negara ini. Aku masih ingat perkataan ibuku melalui telepon tetangga saat itu, Nak, kan sudah melanjutkan sampai SMA, jadi sudah dulu ya? Berhenti dulu, kerja dulu. Perkataan yang sama ketika aku

3
baru lulus SMP. Bedanya, saat itu aku di sarankan untuk tidak melanjutkan ke SMA. Ah, betapa saat itu hatiku terasa sakit. Memang, Ibuku hanya lulusan SMP dan Bapakku lulusan SMA. Tapi, tidakkah aku memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi dari mereka? Berbagai perasaan sedih dan sakit berkecamuk dalam hatiku. Tapi aku tidak akan menyerah hanya dengan berkata iya begitu saja. Kalau dulu aku bisa berusaha hingga masuk SMA, kenapa ke perguruan tinggi tidak? Sungguh aku sangat mengerti, kenapa saat itu Ibu memintaku untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Tentu saja satu hal itu yang menjadi permasalahan utama. Uang. Aku tahu itu. Aku tak bisa berkata-kata lagi jika sudah menyangkut hal itu. Ibu memang bekerja sendiri untuk membiayai seluruh keperluan sekolahku dan adikku sejak dulu. Jangan tanya, kamana Bapakku? Tolong jangan tanyakan itu. Pertanyaan itu sangat menyiksaku. Pertanyaan itu benar-benar membawaku ke sebuah masa lalu yang teramat menyakitkan. *** 9 tahun yang lalu.... Perempuan itu begitu asing. Perempuan itu datang bersama Bapakku, masuk ke dalam rumah kami. Masuk ke dalam kehidupan kami. Aku masih begitu polos untuk sekedar bertanya, Siapa perempuan itu?. Yang aku tahu, betapa saat itu tetangga-tetangga sibuk membicarakan keluarga kami. Katanya, perempuan itu adalah istri muda Bapakku. Dengan polosnya, aku menanyakan hal ini kepada Ibu. Ya Allah, betapa aku ingin menangis melihat ekspresi wajah ibu. Aku ingin menangis. Bukan karena kesedihan Ibu. Bukan. Bahkan Ibu sama sekali tidak menunjukkan wajah sedihnya. Dengan senyum lembutnya Ibu berkata, Iya. Dia Ibu barumu, Nak. Sungguh aku tidak mengerti apa yang terjadi. Senyum Ibu. Ketegaran dan kekuatan hatinya membuatku ingin

4
menangis. Aku menahan tangisku dalam pelukannya. Dan hatiku semakin terluka ketika melihat wajah adikku dalam usianya yang baru menginjak tahun ke dua. Hanya beberapa minggu perempuan itu tinggal di rumah kami. Dia kembali ke tempat dimana dia berasal dengan membawa orang yang sebelumnya telah menjadi kepala keluarga kami. Ya, Bapak pergi meninggalkan rumah bersama perempuan itu. Tidak pernah kembali lagi. Kepergian Bapak menyisakan ribuan luka di hati kami. Bapak, lihatlah. Berapa banyak hati yang terluka a kibat tindakan itu ? *** Setelah kepergian Bapak, kondisi perekonomian keluarga kami semakin memburuk. Ibu bekerja sebagai pencuci ikan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang terletak di sebuah pelabuhan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, dengan gaji mingguan yang kurang dari seratus ribu rupiah. Saat itu aku duduk di kelas 5 MI (Madrasah Ibtidaiyah)setara SD (Sekolah Dasar), sedangkan adikku baru saja masuk TK (Taman Kanak-Kanak). Tentu saja gaji Ibu tidak mencukupi untuk kebutuhan kami bertiga. Ibu bermaksud ingin mencari pekerjaan lain, tapi Ibu yang hanya lulusan SMP sangat sulit mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih besar dari sebelumnya. Hingga tawaran itu datang, tawaran untuk menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Malaysia. Setelah memohon ijin dari kami, Ibu mengambil tawaran itu dengan syarat tidak mau bekerja di bagian rumah tangga meskipun gajinya besar. Karena kami takut terjadi sesuatu dengan Ibu, bagaimanapun juga banyak kasus TKW dianiaya yang bekerja di bagian rumah tangga. 28 Juli 2003, ibu pergi meninggalkan kami. Sejak hari itu aku tak pernah cukup kasih sayang, apalagi perhatian. Ibu menitipkan aku dan adikku di sebuah gubuk kecil bersama seorang nenek tiri dari keluarga Ibu. Namun, tidak sampai satu bulan nenek tiriku memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya, dengan membawa satu-satunya keluarga yang aku milikiadik laki-lakiku yang

5
saat itu berusia 3 tahun. Aku tidak mungkin ikut, karena aku harus tetap bersekolah. Saat itu aku baru menginjak awal tahun pelajaran kelas 6 MI. Akhirnya, aku tinggal sendirian di sebuah gubuk kecil satu-satunya peninggalan orangtuaku. Di situlah aku mulai merasakan dengan sadar, tentang kesedihan, kesepian, dan ketidaknyamanan hidupku. Ketika tiba saatnya untuk pelepasan siswa kelas 6 MI, aku merasa menjadi anak paling malang di seluruh dunia. Semua temanku datang bersama orangtua mereka. Sedangkan aku? Siapa walimuridku? Tak satupun keluargaku yang datang. Lengkaplah kemalangan yang aku rasakan, ketika kepala sekolah mengumumkan di atas panggung bahwa peraih nilai tertinggi adalah Hevi Metalika Apriliasiswanya yang paling menyedihkan. Ya Allah, untuk apa nilai tertinggi itu? Aku bahkan tak merasa bangga pada diriku. Aku tak peduli, saat semua yang hadir menganggapku sebagai anak paling pintar diantara teman-temanku. Aku samasekali tidak peduli. Apalah arti penghargaan itu tanpa kehadiran orangtuaku ? *** Begitulah kehidupanku berjalan hingga aku beranjak masuk SMP. Aku tinggal sendirian. Catat itu : sendirian ! Tapi tidak lagi di gubuk kecil-ku dulu. Gubuk itu kini diperbaiki dan dijadikan tempat tinggal oleh pamanku dan istrinya. Tapi, tunggu dulu ! Jangan berfikir pamanku sangat baik hati dengan mengajakku tinggal di rumah itu. Aku di usirnya. Ya, sekali lagi diusir. Pakaianku di letakkannya di depan rumah. Hingga aku dipungut oleh tetanggaku, yang kemudian mengajakku tinggal bersamanya. Hari-hariku terasa berat. Aku sadar sesadar-sadarnya, kalau aku cuma numpang . Sehingga setiap hari aku harus bekerja membantu pamilik rumah, cuci-cuci, membersihkan rumah, halaman, hingga memasak. Hidup penuh kesabaran adalah hal yang paling sulit aku jalani. Terkadang aku merasa iri dengan teman-temanku di sekolah. Mereka berangkat dengan kegembiraan di hati

6
mereka, dan pulang disambut ibu mereka di rumah. Lalu, dengan ceria mereka bercerita tentang hari-hari seru mereka di Sekolah. Sedangkan aku? Ketika aku pulang, tak ada siapapun di rumah. Aku menangis setiap saat sampai air mataku kering. Tetap saja tak ada yang peduli padaku. Begitulah aku menjalani dunia-ku, dunia-ku yang aku yakini tak seorangpun ingin hidup dalam dunia itu. Hingga suatu hari, Bu Yuyun guru di SMP Negeri 1 Palang memanggilku ke kantor. Beliau menyampaikan padaku bahwa ada orangtua murid yang sedang mencari salah satu murid lain untuk menemani putrinyayang nilai matematikanya kurangbelajar dirumah. Kebetula n saat itu aku sebagai siswa dengan nilai matematika tertinggi di sekolah (Allahu Akbar). Demikian orangtua murid itu menjemput dan mengajakku tinggal di rumahnya. Sebuah rumah yang seolah surga bagiku. Aku tinggal di rumah itu hingga aku duduk di kelas 2 SMA. *** Meski jarak yang begitu jauh memisahkan aku dan Ibu, tapi kami tetap menjaga komunikasi. Ibu sering meneleponku melalui telepon dari rumah tetangga, karena aku baru memiliki handphone ketika masuk SMA. Mengenai kabar adikku, aku sangat jarang bertemu dengannya. Aku hanya main ke sana jika Idul Fitri atau ada hari-hari libur tertentu. Status Ibu memang masih menjadi seorang istri, karena Bapak tidak pernah mau menceraikan Ibu. Tapi itu hanya sekedar status semu menurutku. Karena toh Bapak tidak pernah menafkahi keluarga kami lagi. Ibu masih teramat muda untuk diperlakukan Bapak seperti ini. Ibu kelahiran tahun 1972, masih muda bukan? Saat usiaku 16 tahun, aku sudah cukup untuk bisa berfikir dewasa. Aku sedih melihat kondisi keluargaku seperti ini. Dengan mengumpulkan segenap keberanian dan keteguhan hatiku, aku berniat mendatangi Bapakku di rumahnya. Nampaknya Bapak sangat terkejut dengan kedatanganku. Beliau mempersilahkan aku duduk di kursi

7
depan rumahnya. Sebelum Bapak berkata apapun, aku memberondongnya dengan kalimat-kalimatku yang entah aku dapatkan dari mana. Bapak mungkin heran dengan kedatanganku. Aku tidak ingin meminta apapun. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku rasakan selama ini. Bapak, lihat aku. Aku anakmu kan? Tapi pernahkah sedikit saja engkau berfikir: Bagaimana keadaanku? Di mana aku tinggal? Apa aku sudah makan? Bagaimana sekolahku? Pernahkah berfikir seperti itu? Tahukah kau bapak, di mana aku sekolah? Kelas berapa aku sekarang? Berapa nilai raportku? Tahukah? Bapak, sejak aku TK sampai sekarang bahkan engkau tak pernah sekalipun menginjakkan kakimu di sekolahku untuk sekedar mengambilkan raportku. Bahkan mungkin kau tidak tahu aku sekolah dimana? Tahukah, sejak kepergian Ibu ke Malaysia kehidupanku terlantar. Dari satu rumah ke rumah lain untuk menumpang tinggal. Tahukah, bagaimana perjuanganku untuk tetap bisa sekolah? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas hidupku? Atas pendidikanku? Tahukah, setiap kali tiba waktunya pengambilan raport aku harus menangis dan memohon kepada orangtua temanku agar sekalian mengambilkan raportku? Tahukah, setiap kali pertemuan wali murid di sekolah tidak pernah ada yang datang menjadi waliku? Pernahkah engkau memikirkan itu semua, Bapak? Pernahkah? Tak terbendung sudah air mataku. Aku menangis sejadi-jadinya. Setiap orang yang berlalu-lalang di depan rumah menatapku dengan pandangan iba. Sementara Bapak hanya diam mematung di hadapanku. Aku melanjutkan kalimatku, Dulu mungkin aku masih diam saja, karena aku masih terlalu polos untuk mengerti semua ini. Tapi sekarang tidak, Bapak. Aku tidak akan diam saja. Aku tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada adikku. Lihatlah, adikku sekarang berusia 9 tahun. Dia belum bisa baca-tulis. Tidak ada yang mengajarinya. Tidak ada yang mengontrolnya. Aku minta tolong, Bapak. Aku mohon. Ceraikan ibuku. Dulu menikah baik-baik kan? Jadi aku mohon berpisah juga dengan

8
cara yang baik-baik. Jangan mendzolomi Ibuku dengan tetap mengikatnya sebagai istri tapi tidak pernah engkau perlakukan sebagai istri, tidak pernah kau berikan hak-haknya. Ibuku masih terlalu muda. Biarkan Ibu menikah lagi. Biar Ibu bisa pulang dan mendampingi adikku di rumah. Aku mohon. Sunyi. Tidak ada yang bicara sepatah katapun. Setelah diam cukup lama, Bapak berkata, Pulanglah. Malu dilihat banyak orang ! Sejenak aku merasa marah dengan ucapan Bapak. Setelah perkataanku yang begitu panjang. Hanya itu tanggapannya? Ya Allah, ampuni Bapakku. Beri aku kesabaran dan kekuatan. Aku mengusap sisa air mata dengan jilbabku. Kemudian pergi meninggalkan rumah itu. *** Menjelang Ujian Akhir Nasional SMA, hampir seluruh teman-temanku sibuk mempersiapkan untuk mengikuti berbagai bimbingan belajar. Baik bimbingan belajar untuk menghadapi Ujian Akhir Nasional, maupun untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Semua seolah berlomba-lomba untuk masuk di perguruan tinggi favorit. Namun, tidak dengan yang aku alami. Sejak awal semester akhir di kelas 3 SMA, Ibu sudah mengingatkan aku, Nak, kan sudah melanjutkan sampai SMA, jadi sudah dulu ya? Berhenti dulu, kerja dulu. Kalimat itu benar-benar menghantuiku. Selalu terngiang di telingaku setiap kali aku tergabung dalam pembicaraan bersama teman-temanku tentang kuliah. Sehingga aku hanya bisa diam dan tetap berusaha tersenyum menahan kepahitan tiap kali ada yang bertanya, Mau kuliah dimana, Met? Hingga suatu hari datanglah kakak-kakak kelas dari berbagai perguruan tinggi ke sekolahkuSMA Negeri 2 Tuban. Sama seperti teman-teman yang lain, aku begitu antusias untuk mengikuti dan selalu bertanya-tanya tentang beasiswa. Tapi nampaknya begitu sulit mendapat beasiswa bagi seorang mahasiswa baru. Ya sudahlah, Allah pasti punya rencana lain yang jauh lebih indah untukku. Pikirku, setiap kali rasa pesimis itu datang.

9
Dan Allah benar-benar menunjukkan rencana indahnya. Akhir tahun 2010, Bu IdaGuru Bimbingan dan Konselingkumenyarankan agar aku mengikuti PMDK Prestasi (USMI) di IPB. Awalnya aku menolak, sungguh aku tak punya uang satu rupiah pun. Bagaimana mungkin aku akan mendaftar? Uang pendaftaran dua ratus ribu rupiah aku dapat darimana? Tapi bu Ida terus meyakinkan aku, beliau berkata, Hevi, berusahalah. Ibu yakin kamu pasti bisa. Ibu beri waktu 1 minggu untuk mengumpulkan uang. Kalau sampai 1 minggu masih belum dapat juga, datang temui Ibu. Akhirnya, dengan penuh semangat aku berusaha mencari dan mengumpulkan uang hingga tepat satu minggu setelah itu aku berhasil mengumpulkan Dua Ratus Ribu Rupiah. Berkasberkas pendaftaran pun dikirim. Kamis, 4 Februari 2010. Jam pertama sekolah....... Ketika aku sedang berada di lapangan mengenakan kaos olahraga, tiba-tiba Bu Ida berjalan menuju lapangan dengan tampang kesal, sambil teriak "Mana Hevi !!! Mana...???" Aku kebingungan, sungguh aku benar-benar bingung. dengan tampang tak berdosa aku balik bertanya, "Iya Bu, saya Hevi Bu, Kenapa Bu?", "Mana temanmu yang lain?" Tanyanya lagi dengan tampang yang tak berubah. "Yang lain? Siapa Bu?" Aku kembali mengajukan pertanyaan. "Itu... Fikri, Deviana... sama siapa satunya yang daftar IPB itu?", "Erna, Bu?", "Ya, panggil semua kesini". Dengan cepat aku segera berlari menuju tengah lapangan, tak lupa mengeluarkan jurus andalankuteriak. Tak peduli semua mengumpat ke arahku. Setelah semua kumpul, kami berjalan ke tepi lapangan menemui Bu Ida. Dengan raut muka yang tetap tidak berubah, bu Ida berkata "Kalian ini bagaimana? Masa 1 pun tidak ada yang lolos PMDK IPB ?? Demi Allah, aku benar-benar ingin menagis. Dengan tampang frustasi, kami berempat terduduk lesu di tepi lapangan. Tiba-tiba Bu Ida berkata,"Kalian sih, tidak mau syukuran. Ayo lah syukuran di kantin sana !" Dengan tampang bengong aku bertanya, "LHO? Maksudnya? Katanya tadi?

10
Bagaimana toh Bu?". Bu Ida malah nyengir lebar menanggapi pertanyaanku. "Kalian Semua DITERIMA masuk IPB" Subhanallah, aku menangis. Sungguh aku menangis. "Oh..iya, kelihatannya salah satu dari kalian ada yang dapat beasiswa" tambahnya, sebelum berlalu meninggalkan kami dalam kebingungan. Aku terduduk lesu di tepi lapangan, seketika semua teman-teman menghampiriku. Mereka memelukku. Usai olahraga, aku bergegas menuju Ruang BK mencari Bu Ida. Sepertinya Bu Ida tau maksud kedatanganku, beliau segera menyuruhku duduk di hadapannya dan menyerahkan MAP dari IPB kepadaku, Bu Ida menyuruhku membukanya. Di lampiran ke-3 (kalo tidak salah) ada lampiran Calon Penerima Beasiswa Bidik Misi. Allahu Akbar !!! Alhamdulillah, meskipun hanya formulir Calon Penerima Beasiswa Bidik Misi, tapi aku sangat bersyukur. Kesempatan itu semakin terbuka lebar. Meski aku belum berani memberi kabar kepada Ibu bahwa aku telah mendaftar ke IPB. Aku akan memberitahukannya nanti, nanti setelah beasiswa itu benar-benar nyata di genggamanku. Aku segera mengurus surat-surat dan berkas-berkas yang diperlukan untuk persyaratan beasiswa itu. Menjelang H2 deadline pengiriman formulir dan segala macam persyaratannya itu, semua sudah lengkap aku penuhi. Aku menyerahkannya pada pihak sekolah. Namun, ketika H-1 deadline pengiriman, aku mendapat telepon dari pihak sekolah bahwa berkas-berkasku hilang akibat kelalaian petugas sekolah. Astaghfirullah, ingin sekali aku menangis dan berteriak marah. Jarak rumah dan sekolahku tidak bisa dibilang dekat, aku sendiri nge-kost di rumah teman yang dekat sekolahku. Sore itu juga aku naik angkutan umum ke Desa tempat asalku. Yang pertama kali menjadi tujuanku adalah rumah Kepala Desa, tentu saja ingin meminta surat keterangan tidak mampu. Dua jam perjalanan ternyata masih kurang sebagai bagian dari perjuanganku, aku masih harus menunggu Kepala Desa yang ternyata sedang dalam perjalanan dari luar kota. Setelah 3 jam menunggu tak ada hasil, karena sudah lewat jam 9 malam juga, aku memutuskan untuk menginap di rumah salah satu temanku yang dekat

11
dengan rumah Kepala Desa itu. Esok paginya, setelah sholat shubuh aku langsung ke rumah Kepala Desa. Setelah itu aku bergegas mengurus berkas-berkas yang lain, karena pagi ini semuanya sudah harus dikirim ke IPB. Tetapi meski sudah berusaha semampuku, birokrasi yang begitu rumit membuat aku terlambat melakukan semuanya. Hampir jam 3 sore semua berkas-berkas baru bisa dipenuhi. Akhirnya, dengan mengharap keajaiban dari Allahsemoga tidak terlambatmenjelang malam berkas-berkas baru dikirim. *** Perjuangan itu indah, kawan. Lihatlah buah perjuangan sederhana itu. Beberapa bulan setelah pengiriman formulir dan berkas-berkas itu, pengumuman pun datang membawa kabar gembira. Bidik Misi pun hadir sebagai jawaban atas rencana indah-Nya. Aku menjadi Mahasiswa, kawan. Mahasiswa. Sebuah label yang dulu sama sekali tidak berani aku bayangkan. Aku segera mengirim SMS kepada Ibu, Assalamualaikum. Ibu, saya mau kuliah. Saya mau kuliah di Bogor. Seketika itu Ibu langsung meneleponku. Memberondongku dengan kalimat-kalimat marahnya, Waalaikumsalam. Nak, kenapa kamu tidak bisa mengerti kondisi Ibu. Kondisi kita. Keadaan keluarga kita. Ibu kan sudah bilang, Ibu tidak punya uang sepeserpun untuk biaya kuliahmu. Kenapa masih memaksa untuk kuliah juga? (aku sengaja membiarkan Ibu menegurku, memarahiku terlebih dulu. Sebelum aku menyampaikan kabar gembira itu) Ibu Mohon, Nak. Lebih baik kerja saja dul u. Setelah Ibu berhenti, aku mulai berbicara, Ibu, Ibu tahu kan aku bukan anak yang bisa melawan orangtua. Aku tahu sekali, aku sangat tahu keterbatasan kita. Bu, dengarkan aku ya, aku mendapat beasiswa. InsyaAllah Ibu bahkan tidak perlu mengirimkan uang satu rupiahpun untuk kuliahku. Alhamdulillah, Allah mendengar doaku. Doa kita, bu. Aku pun menangis. Sama seperti seseorang di seberang telepon sana. Kami sama-sama menangis penuh rasa syukur.

12
*** Mahasiswa luar biasa itu pun memulai perjalanannya. Ya, aku menyebut diriku sebagai Mahasiswa Luar Biasa. Luar biasa berati tidak biasa, bukan? Dan aku memang tidak biasa. Aku berbeda. Lihatlah, di dalam bus luar kota tujuan Bogor itu, ketika mahasiswa yang lain berangkat menuju Institut Pertanian Bogor ditemani orangtua yang duduk di samping mereka, mahasiswa luar biasa itu tengah duduk bersama orang asing di sampingnya. Dia berangkat sendiri, menyiapkan semuanya sendiri. Bahkan membawa 2 kopernya dengan tangannya sendiri. Lihatlah, Mahasiswa Luar Biasa itu dengan keberaniannya datang ke tempat yang begitu asing baginya. Tempat yang dia yakini akan menjadikannya menjadi orang besar. Sebesar kekuatan dan keteguhan di dalam hatinya. Lihatlah, dia begitu percaya dengan janji-janji Tuhan-Nya, bahwa Setelah kesusahan, selalu ada kemudahan *** Kedatanganku ke Bogor yang hanya bermodalkan niat dan semangat sempat membuatku minder sendiri. Aku takut tidak bisa mengimbangi teman-temanku di asrama. Aku takut tidak cocok bergaul dengan orang yang berbeda denganku. Tapi, ketakutan-ketakutan itu justru berujung pada pengalaman-pengalaman yang besar. Pengalaman bertemu dan mengenal sosok-sosok yang mengagumkan. Aku yang baru menyadari bahwa aku diterima di Fakultas Kehutanan, merasa sedikit ganjil. Ya, aku sama sekali tidak tertarik dengan jurusan ini. Pilihan pertamaku adalah Arsitektur Lanskap, sesuai hobi menggambarku. Awal kuliah di kehutanan, aku sangat tidak menikmati. Ya Allah, bahkan aku tidak mengerti mata kuliah di jurusanku sendiri. Tapi, berjalannya waktu aku mengerti, aku memahami. Allah punya rencana besar di balik semua ini. Juni 2011, sebuah pengalaman luar biasa itu di mulai. Berawal dari sebuah ajakan untuk menulis karya sederhana,

13
paper. Yang kemudian dikirimkan dan diterima di sebuah event ICEEA 2011 (International Conference on Environmental Engineering and Applications) di Shanghai, China. Dalam kelompok ini, perasaanku seringkali terlibat. Rasa minderku muncul lagi. Latar belakang yang berbeda benar-benar aku rasakan di sini. Registration author yang memerlukan biaya ratusan dolar benar-benar memeras otakku. Ketiga temanku dapat dana dari keluarga mereka, sedangkan aku? Siapa keluargaku? Sementara pengajuan proposal belum bisa dilakukan sebelum proses registrasi ini selesai. Mondar-mandir ke sana ke mari tidak ada hasil. Berniat mendanuskan tenaga, tapi tidak ada tanggapan. Sementara deadline pembayaran semakin mepet. Berkali-kali aku berfikir ingin mengikhlaskan kesempatan ini, toh dari awal aku tak pernah punya impian untuk ke luar negeri. Tapi katakata seorang kakak yang menjadi pembimbing kami benarbenar menjadi beban buatku, Kakak tidak merestui kalian pergi, jika ada salah satu yang tidak berangkat karena faktor ekonomi. Sungguh, sejak saat itu malam-malamku dipenuhi air mata. Ingin sekali aku ungkapan segalanya pada sosok Ibu. Tapi itu mustahil. Hingga hari-H itu datang, deadline registration author. Kembali Allah menunjukkan rencananya yang indah. Akhirnya, kami semua dapat membayar registration author yang totalnya 1600 dolar itu. Tapi perjuangan tidak berhenti sampai di situ, kawan. Justru setelah pembayaran registration author itu perjuangan yang lebih berat baru saja di mulai. Lihatlah, mahasiswa luar biasa itu bersama teman-temannya berkumpul dan rapat setiap hari. Dari pagi sampai larut malam. Setiap hari. Selama hampir 2 bulan. Tanyakanlah, apa yang mereka lakukan selama itu? Lihatlah, kawan. Dengan penuh semangat mereka mengumpulkan biaya keberangkatan. Mereka berjualan nasi kuning, kue, bunga, hingga parsel. Mereka tawarkan dagangannya dari satu rumah ke rumah lain. Mengetuk setiap

14
pintu yang mereka lewati. Lihatlah, mereka tidak malu melakukannya. Hasilnya? Lihatlah, 18 Agustus 2011 mereka berhasil mewujudkan impiannya. Mereka berhasil menginjakkan kakinya di sebuah Negeri yang maju. Shanghai, China. *** 23 Agustus 2011, 00:10 WIB Aku kembali menginjakkan kakiku di Negeri ini, Indonesia. Begitu sampai di kamar kostku, aku segera tertidur dengan lelapnya. Sore harinya langsung berangkat ikut rombongan teman-teman untuk mudik ke Tuban, Jawa Timur. Sebenarnya, aku malas sekali untuk pulang ke kampung halaman. Bukan karena sudah nyaman di Bogor, sama sekali bukan. Tapi karena aku sama sekali tidak tahu harus ke mana jika aku tiba di Tuban. Tidak ada rumah yang menjadi tujuanku. Tapi aku sudah terlanjur memesan tiket pulang. Akhirnya aku pulang. Setelah 17 jam lebih di perjalanan, aku sampai di Tuban. Tidak banyak yang berubah dari kota ini, hanya saja ada beberapa bangunan dan tempat wisata baru. Aku dijemput di dekat terminal bis oleh teman SMA-ku, kemudian istirahat sejenak di rumahnya. Kampungku masih jauh dari kota ini, harus naik angkutan umum kurang lebih satu jam, itupun kalau tidak macet. Jadi aku memutuskan untuk tidur siang dulu di rumah sahabat lamaku ini. Menjelang sore hari, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku. Selama perjalanan, aku dilanda kegalauan yang luar biasa. Entahlah, aku juga tidak tahu apa sebabnya. Yang pasti, saat itu hanya satu yang tidak bisa lepas dari pikiranku : Kemana aku menginjakkan kakiku setelah sampai? Ke rumah siapa?. Tepat setelah adzan maghrib berkumandang, aku sampai di jalan setapak menuju rumah sepupu ibuku yang dulu aku pernah sempat tinggal di

15
sana. Di rumah itu, masih ada beberapa barangku yang tertinggal, jadi sekalian saja aku ke sanapikirku. Aku masih ingat dengan jelas, saat itu masih bulan ramadhan, dan aku sedang berpuasa. Begitu aku menginjakkan kaki di rumah itu, tak satupun penghunianya menyapaku dengan ramah. Tentu saja aku tidak berani memasukkan koperku ke dalam, sehingga koper dan tas ranselku aku tinggal di depan pintu rumah. Melihat kondisiku yang begitu lelahnya, tak sedikitpun mereka menawarkan minuman. Ya Allah, aku belum berbuka puasa. Aku benarbenar menahan air mataku agar tidak keluar. Segera aku mencari warung terdekat untuk membeli minuman. Aku menghampiri sebuah warung minuman, yang dulu merupakan warung langganan di masa kecilku. Tetangga-tetanggaku kaget melihat kedatanganku. Banyak yang mengajakku berbincang tentang keadaanku selama di Bogor. Alhamdulillah, ada yang menawariku berbuka puasa, dan aku pun sholat di salah satu rumah mereka. Setelah itu, aku memberanikan diri membawa koper dan tas ranselku meuju rumah adik kelasku yang dulu sangat akrab denganku. Aku menceritakan kondisiku saat itu, dia menawariku untuk menginap di rumahnya selama aku liburan di sana. Aku tidak langsung menjawab iya, aku hanya mengucapkan terima kasih banyak atas tawarannya. Saat itu aku benar-benar tidak bisa berhenti menangis. Aku menangis dalam keheningan di sudut kamar adik kelasku ini. Aku membuka facebook dan langsung update status seperti ini : Sedih ga sih? Ketika mudik ga ada tempat yang bisa kita tuju? Sakit ga sih? Ketika pulang ga ada tempat yang bisa menerima kita untuk sekedar duduk istirahat? Pengen balik ke bogor. Seenggaknya aku punya kamar kost di sana Dalam hitungan detik, banyak komentar masuk secara bersamaan. Hingga saat itu, seseorang langsung

16
meneleponku. Teman SMP-ku, yang dulu pernah mengajakku tinggal di rumahnya. Rumahnya yang dulu seolah surga buatku. Bahkan hari itu kembali dia menelepon dan memintaku ke rumahnya setelah dia membaca statusku. Lihatlah, kawan. Lebaran yang umumnya dinikmati setiap orang bersama keluarganya, justru dinikmati bersama keluarga orang lain. Hidup memang aneh. Oh tidak ! Ralat : Hidupku memang aneh. Aneh. Tidak biasa. Luar biasa. *** Sehari setelah lebaran Idul Fitri aku segera kembali ke Bogor. Meskipun sebenarnya masih ada waktu libur satu minggu lagi, tapi aku tak berminat melanjutkannya. Aku lebih memilih menghabiskan sisa liburanku di kamar kost-ku sambil mengerjakan Laporan Pertanggung-Jawaban ICEEA 2011. Sebuah berita yang mengejutkan hadir di minggu terakhir bulan september. Tiba-tiba aku bersama dua orang temanku mendapat panggilan dari Humas IPB untuk wawancara. Katanya, kami sebagai mahasiswa Bidik Misi yang telah berhasil menorehkan prestasi di luar negeri. Prestasi? Ya Allah, apa yang harus aku katakan? Itu hal yang sangat biasa menurutku. Bukan apa-apa. Aku malu dengan kalimat itu, menorehkan prestasi di luar negeri ? Beberapa hari setelah itu, hal yang lebih mengejutkan berkali-kali lipat itu hadir lagi. Namaku, bersama dua orang temanku itu terpampang di Web Direktorat Kemahasiswaan IPB sebagai Mahasiswa Bidik Misi Berprestasi. Dan ternyata itu belum cukup, keesokan harinya tulisan yang sama termuat dalam Kompas.com dan Web Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional. Ya Allah, ini anugerah atau musibah? Aku bingung. Bingung sekali. Apalagi sebagai akibat dari tulisan-tulisan itu banyak sekali yang mengucapkan selamat melalui pesan facebook. Anehnya lagi, ucapan-ucapan itu sebagian besar datang dari mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi lain. Aku bingung, harus bagaimana

17
menanggapi pesan-pesan itu? karena kenyataannya sungguh jauh berbeda dari berita yang tersebar itu. Kawan, dengarlah. Aku tak sehebat apa yang ada di pikiran kalian. Aku memang mahasiswa luar biasa, tapi konotasinya sebagai mahasiswa yang memang bukan mahasiswa seperti kebanyakan mahasiswa lain. Aku bahkan tidak mengerti mata kuliah di jurusanku sendiri. Aku bahkan selalu mengantuk dan tidur di pojok kelas ketika dosen sedang memberi materi di depan. Aku bahkan sering bolos kuliah. Aku malu sekali. Berita-berita itu memang terlalu berlebihan menurutku. Tapi seseorang meyakinkanku, bahwa aku tidak boleh merasa malu atas berita itu. Justru aku harus menjadikannya sebagai alasan kuat agar aku bisa lebih baik lagi. Lebih baik lagi, menjadi mahasiswa luar biasa yang benar-benar luar biasa. Luar biasa dalam konotasi yang benar-benar tidak biasa dalam hal ke-tidakbiasa-an yang baik. *** Itulah kisahku. Kisah yang merupakan bagian dari proses kehidupan. Mungkin di awal banyak bagian pahitnya. Tapi aku percaya, bagian manisnya akan terasa di akhir. InsyaAllah. Kepada Bapakku, ingin sekali aku katakan langsung di depannya :''Bapak, terimakasih banyak untuk semuanya. Karenamu aku bisa seperti sekarang. Mungkin tanpa keputusan dan tindakanmu dulu yang meninggalkan kami, aku tak akan bisa menjadi sekuat, setegar, dan seteguh sekarang. Terimakasih karena pernah begitu membuatku sakit hati. Mungkin memang itu caramu untuk mengajarkan kehidupan padaku. Hingga aku bisa seluar biasa ini. Sedangkan kepada Ibu, aku selalu berbicara padanya melalui hatiku. Yah, tentu saja. Karena ibuku selalu di hatiku. Setiap saat. Setiap waktu. ***

18
Kawan, dengarlah. Hidup ini terlalu indah untuk dilewati dengan berbagai macam keluhan. Hidup ini terlalu indah untuk dibiarkan tanpa dihiasi dengan sesuatu yang berkesan. Hidup ini terlalu indah untuk sekedar diagungagungkan dengan impian-impian yang hanya dibiarkan tanpa perwujudan. Maka, bergeraklah ! Bergeraklah membuat suatu perubahan besar dalam hidupmu !

Bogor, 10 Desember 2011 Di tepi Sungai Cangkurawok, Balebak, Dramaga-Bogor

19
Juara 2

Persembahan Terbaik untuk Emak M.Mirwan Islamy


Pagi itu saya duduk di bangku pojok paling belakang, tepatnya di ruang laboratorium komputer SMAN 2 KS Cilegon. Saat itu adalah jam pelajaran kami belajar Web Design. Saya masih ingat sekali suasana ricuh saat itu, suasana yang mungkin tak akan saya temui lagi. Obrolan sana-sini seakan menyeruak masuk seluruhnya ke dalam gendang telinga ini. Tapi entahlah, setiap detik kejadian saat itu justru kini menjadi sesuatu yang paling indah dalam kehidupan saya, dan hal ini pula yang menjadi awal langkah saya menuju impian yang selama kurang lebih 18 tahun terpendam. Saat itu, Bu Erwina (guru BK) tiba-tiba masuk ke dalam lab komputer. Beliau menyampaikan suatu informasi kepada kami. Awalnya saya tak tahu informasi apa yang akan beliau sampaikan, karena memang selama 3 tahun saya mengenyam pendidikan di SMANDAKS, saya jarang sekali berinteraksi dengan guru-guru BK dan ruangannya itu. Beliau masuk dengan mimik wajah yang tak biasa dan membuat pikiran kami penuh tanda tanya. Entah mengapa tiba-tiba jantung ini berdetak kencang, seakan ada hal besar yang akan disampaikannya. Saat itu beliau mengumumkan beberapa nama siswa yang lolos untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Jalur Undangan. Mereka adalah siswa-siswi yang berhasil menduduki peringkat 75% tertinggi di kelas, mengingat sekolah ini adalah Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Dari beberapa nama tersebut, disebutlah nama Muhamad Mirwan Islamy yang menduduki peringkat kedua di kelas. Subhanallah, senangnya hati ini mendengar kabar seperti itu. Tapi ada satu hal yang tak bisa lepas dari pikiran saya saat itu, Mana mungkin saya melanjutkan pendidikan sampai

20
ke perguruan tinggi? Bisa bersekolah di SMA saja sudah sangat bersyukur, terlebih melihat keadaan ekonomi keluarga yang tak memungkinkan. Abah sudah 15 tahun lalu meninggal, sementara emak hanya seorang Ibu Rumah Tangga yang setiap bulannya memperoleh dana pensiun almarhum abah sebesar 1 juta rupiah. Saudara kandung saya sudah banyak yang berkeluarga, mereka tinggal bersama keluarganya masing-masing. Hanya tinggal kang Ferry dan Teh Ntu di rumah. Setiap harinya emak selalu berhutang ke warung untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Bahkan emak rela menghabiskan dana pensiun itu hanya untuk membayar tunggakan rumah sakit saat akang sedang sakit. Sementara, akang teteh yang lain hanya mampu membantu semampu mereka saja. Setiap kali emak mendapatkan dana pensiun, emak pasti langsung menggunakannya untuk membayar hutang-hutang tersebut. Seperti istilah Gali lubang tutup lubang. Entah sampai kapan keadaan ini akan terus berlangsung. Saya pun hingga kini belum bisa berbuat apaapa untuk emak, hanya berjuang melalui prestasi terbaik yang mungkin bisa saya persembahkan untuk emak. Semenjak pengumuman itu, rasanya pikiran ini tak mau berhenti berpikir mencari jalan agar saya bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Mengingat dari 8 saudara, hanya ada 1 orang yang bisa melanjutkan kuliah, itupun setelah ia memiliki pekerjaan dan gajinya digunakan untuk membiayai kuliahnya sendiri. Sementara, kesempatan ini adalah satu-satunya peluang besar yang mungkin akan bisa meloloskan diri ini ke perguruan tinggi ternama. Karena memang tidak semua orang bisa meraih prestasi ini, dan hanya mereka yang berjuang keras yang pantas mendapatkannya. Sejak itu, saya tak hentinya berdoa kepada Allah, semoga ada jalan keluar terbaik untuk semua ini. Hingga keesokan harinya, Bu Erwina mendatangi ruang kelas saya di XII IPA 5. Saat itu sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar bidang studi kimia. KBM pun sejenak terhenti. Ya, lagi-lagi beliau datang untuk menyampaikan informasi. Tapi informasi ini berbeda dari

21
biasanya. Beliau mengumumkan beberapa nama siswa-siswi yang berhak mengikuti SNMPTN Undangan melalui beasiswa Bidik Misi. Beasiswa yang khusus diperuntukkan bagi rakyat miskin berprestasi. Bagi yang namanya disebutkan, maka ia berhak mengikuti SNMPTN Undangan tanpa biaya sepeserpun dan jika lolos seleksi nantinya akan diberikan bantuan dana untuk biaya hidup selama menempuh kuliah 8 semester dan seluruh biaya akademik akan ditanggung oleh beasiswa bidik misi tersebut. Dan surprise, nama Muhamad Mirwan Islamy kembali terucap. Masyaallah, betapa senangnya saat itu. Rasanya seperti ada secercah harapan yang muncul dari setiap sudut kelas. Naufal (teman sebangku) menjabat tangan saya dan memberi ucapan Selamet ya wan, ini langkah besar yang bakal lo ambil, dan gue yakin lo pasti bisa dapetin PTN favorit lo wan!. Rezika dan Lina (teman depan bangku) pun demikian, dengan guraunya mereka memberi candaan yang membuat saya semakin semangat dan yakin akan keberhasilan saya nanti. Saat itu pula saya diberi formulir bidik misi oleh bu Erwina. Saya segera mengisi formulir tersebut dan mengembalikannya kepada beliau. Esoknya, saya mendatangi ruangan BK untuk mengetahui lebih lanjut mengenai prosedur program beasiswa bidik misi. Rasanya aneh sekali, sudah berapa lama saya tak menginjakkan kaki diruangan ini atau sudah berapa lama ruangan ini tak saya kunjungi. Tapi sudahlah, hal itu tak sangat penting untuk saya, yang sekarang harus dilakukan ialah memperoleh informasi sebanyak-banyaknya mengenai bidik misi. Lantas saya membuka buku panduan bidik misi, langsung saja saya baca seluruh prosedur-prosedurnya dan tak lupa saya lihat kuota bidik misi di masing-masing perguruan tinggi negeri. Bu Erwina pun menyarankan saya untuk segera daftar SNMPTN Undangan jalur bidik misi dan memilih satu PTN dengan maksimal 2 program studi yang bisa dipilih. Sebelumnya, Bu Erwina memberikan pin untuk melakukan registrasi tersebut. Saat melakukan registrasi SNMPTN Undangan, entah apa yang terlintas dalam benak saya. Tiba-tiba saya terdorong dan termotivasi untuk memilih Institut Pertanian Bogor (IPB)

22
dengan program studi Teknik Mesin dan Biosistem. Tapi sepengetahuan saya saat itu, IPB adalah kampus rakyat dan sangat ternama di Indonesia. Dikenal baik oleh masyarakat dan masyhur dikata orang. Mengabdi pada Indonesia untuk memajukan sektor pertanian Indonesia. Memberikan kontribusi yang baik guna mencukupi kebutuhan pangan di Indonesia. Setelah itu, saya kembali pulang menuju rumah tercinta dengan senyuman termanis. Dengan senangnya, saya menyapa setiap warga disekitar rumah dan sekeliling kampung. Bersenda gurau dengan emak, kang Ferry dan teh Ntu. Mungkin hari itu adalah hari yang sangat berkesan bagi saya. Selama ini saya tak pernah beranggapan untuk bisa mengikuti seleksi SNMPTN seperti yang dibayangkan. Bagaimana tidak, untuk mengikuti seleksi reguler diperlukan biaya sedikitnya 150.000 rupiah. Uang sebesar itu darimana saya dapatkan, sementara saat itu lahan kantong mulai mengering dan sedang banyak kebutuhan-kebutuhan yang menurut saya jauh lebih penting guna menunjang prestasi akademik di sekolah. Hingga akhirnya pengumuman seleksi SNMPTN Undangan pun tiba. Malam itu, seusai melaksanakan shalat isya, saya bergegas menuju warnet terdekat. Langsung saya buka web SNMPTN Undangan. Lagi-lagi nikmat itu datang. Saya dinyatakan lolos seleksi SNMPTN Undangan dan diterima di Institut Pertanian Bogor dengan program studi Teknik Mesin dan Biosistem. Tanpa pikir panjang saya bersujud untuk mensyukuri nikmat Allah yang besar ini. Dengan bangganya saya kembali kerumah dan memberikan kabar kepada emak, keluarga, dan tetangga sekitar bahwa saya diterima di IPB. Tak Cuma itu, saya juga lantas mengabarkan hal ini kepada teman-teman dan sahabat karib. Bahagianya saat itu laksana sedang tertimpa durian yang runtuh dari pohonnya. Sepertinya malam itu mata saya enggan terpejam untuk memandang senyuman emak dan keluarga. Terlebih emak seakan tak percaya, anaknya yang bungsu ini berhasil menembus impian keluarga untuk

23
melanjutkan perjalanan hidup ke jenjang yang lebih baik. Subhanallah. Esoknya saya mendatangi sekolah dan bergegas menuju ruangan BK. Saya langsung mengabari hal tersebut kepada Bu Erwina. Namun sayang, Bu Erwina berkata bahwasannya saya memang diterima di IPB tapi bukan berarti saya otomatis mendapatkan beasiswa bidik misi tersebut. Masih ada beberapa langkah lagi yang harus ditempuh untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Diantaranya ialah pengiriman berkas-berkas bidik misi dan seleksi wawancara yang akan dilakukan oleh pihak IPB. Hingga hari itu tiba. Dengan penuh harapan, saya meminta doa dan restu dari emak. Pukul 01.00 dinihari saya dan kang Opik bertolak dari Serang, Banten menuju kampus IPB Dramaga Bogor. Namun sayang, tak ada bis yang menuju Bogor malam itu. Jangankan tujuan Bogor, tujuan Jakarta saja tak ada satupun yang muncul. Akhirnya dengan sangat terpaksa kami beristirahat di terminal Pakupatan Serang menunggu esok tiba. Pukul 04.30 pagi kami bangun dan bersiap menunggu bis Bogor, tapi masih saja tak bermunculan. Sementara keresahan saya saat itu tak bisa terpendam lagi. Bagaimana tidak, persyaratan registrasi saat itu diwajibkan hadir di gedung Graha Widya Wisuda IPB pada pukul 08.00 wib. Jujur, saat itu saya takut sekali nama saya akan di diskualifikasi, dan dianggap hangus. Sementara air mata mulai membendung disetiap kelopak mata. Kang opik dengan lembutya menenangkan diri ini. Sabar wan, pasti nyampe kok ke Bogor mah paling cuma 3 jam-an katanya. Tapi tetap saja hati ini dongkol, rasanya kesalahan saya juga kenapa tidak berangkat kemarin sore bersama Ulya teman 1 SMA. Akhirnya kami berangkat dengan bis tujuan Kampung Rambutan Jakarta. Tiba di Jakarta dan segera mencari bis tujuan Bogor, dalam hati saya berkata Alhamdulillah, akhirnya ada juga bis yang ke Bogor. Saat itu kami tiba di IPB pukul 11.00 wib. Telat 3 jam dari yang seharusnya. Tapi untungnya proses registrasi saat itu masih berlangsung dan saya masih bisa mengikutinya. Alhamdulillah ya Allah.

24
Saat itu akan diadakan seleksi wawancara bidik misi. Sekitar kurang lebih 900 calon mahasiswa pelamar beasiswa bidik misi dipisahkan dan digolongkan sesuai dengan fakultasnya masing-masing. Hingga wawancara selesai, saya menemuni kang Opik yang sudah lama menunggu di luar. Rupanya besok ia ada urusan penting dengan pekerjaannya di Serang, jadi hari itu juga dia harus kembali ke Serang. Sementara, saya tetap di Bogor dan bermalam di Asrama Banten untuk mengikuti stadium general di GWW esoknya, sekaligus akan diumumkan nama-nama calon mahasiswa yang lolos seleksi wawancara bidik misi. Hingga tiba waktunya pengumuman, nama demi nama disebutkan di masing-masing fakultas. Tiap nama yang disebutkan maju ke depan meja panitia dan dipersilahkan untuk mengambil surat pemberitahuan diterima atau ditolak untuk mendapatkan beasiswa bidik misi tersebut. Dag dig dug dag dig dug dag dig dug rasanya jantung ini berdebar 100 kali lipat dari biasanya. Maka disebutlah nama saya pada saat itu, saya maju ke depan dan mengambil surat itu. Dan ternyata saya DITOLAK. Entah apa yang membuat saya ditolak saat itu, tapi mungkin karena pelamar bidik misi yang begitu banyak sementara kuota hanya 500 orang saja. Kecewa sekali saat mendengar berita itu. Air mata seakan tak bisa dibendung lagi. Seperti gunung meletus yang memuntahkan seluruh isinya. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya tidak tahu bagaimana reaksi Emak, kang Opik dan keluarga jika kabar itu sampai ditelinga mereka. Saya tidak mampu memberikan kabar saat itu. Sungguh kelamnya hari itu. Dengan perasaan sedih dan kecewa saya bertolak kembali menuju kampung halaman. Di dalam bis, masih saja terasa linangan air mata ini menetes di pipi. Asa dan harapan yang dahulu menggebu-gebu kini sirna bak ditelan bumi. Entah pergi kemana mereka, saya tak tahu. Tiba dirumah saya langsung masuk menuju kamar yang kecil itu. Emak lantas mendatangi saya dan bertanya Sudah belum registrasinya wan? Gimana beasiswa bidikmisinya dapet ga?. Rasanya saya tak sanggup

25
mengatakannya pada emak. Lagi-lagi air mata ini menetes dengan mudahnya saat melihat wajah tua itu. Wajah yang selama ini merawat dan membesarkan jiwa raga ini. Ya Allah, saya bingung sekali. Saya tak tahu harus berkata apa pada emak, saya takut emak dan keluarga kecewa akan berita ini. Saya terdiam dan lantas pergi keluar meninggalkan emak, emak pun kembali melakukan aktivitas sehari-harinya di dapur. Saya kembali ke kamar dan mengunci pintu kayu itu. Berniat menghabiskan seluruh air mata ini agar tak kembali mengalir. Galau sekali saat itu, laksana orang gila yang tak bisa berbuat dan berpikir apa-apa lagi. Terdengar suara pintu diketuk oleh kang Opik dan emak yang berada di balik pintu. Dengan sekuat hati saya buka pintu itu. Dengan penuh ketegaran hal itu terlontar dari lidah saya, Wawan ditolak mak, tapi katanya masih ada kesempatan untuk dapetin bidik misi lagi. Karena yang diterima baru 450 orang dan kuota ada 500 orang yang bakal dapet bidik misi. Doain aja ya mak, semoga Wawan bisa dapet bidik misinya. Tak kuat hati ini melihat wajah-wajah itu. Wajah yang tak sangat asing dalam hidup ini. Ya sudah, Wawan berdoa aja sama Allah semoga bisa dapetin beasiswanya. Kalau memang rejeki mah ga bakal kemana, Wan! kata kang Opik. Terlihat wajah emak menunduk membelakangi wajahnya. Terlihat ada kekecewaan yang tampak di wajah wanita penyabar itu. Tapi akhirnya kejadian menyedihkan itu langsung lenyap begitu saja. Mereka kembali beraktivitas dan meninggalkan diri ini. Ya Allah, besar sekali harapan saya untuk mendapatkan beasiswa bidik misi tersebut. Seakan menjadi hal terbesar yang akan saya berikan untuk keluarga dirumah jika diterima nanti. Tapi sudahlah, mungkin bukan jalannya. Tanggal 27 juni 2011 harus sudah berada di asrama putra TPB IPB. Saya tetap memaksakan diri berangkat menuju kampus IPB Dramaga tersebut, walau biaya yang dibayar baru 100.000 rupiah saja. Hanya berbekal uang 300.000 rupiah saja saat itu, kebetulan emak sedang dapat rejeki dari kerabatnya. Emak dengan sibuknya membantu mengemasi barang-barang yang akan saya bawa ke asrama. Tak tega rasanya pergi meninggalkan rumah, meninggalkan

26
emak dan keluarga, serta lingkungan Palas. Tapi ini satusatunya jalan yang harus dilewati. Saat itu saya menumpang di mobil Yenni, teman satu SMA yang juga diterima di IPB di departemen Ilmu Komputer. Diantarnya saya hingga depan GWW. Saya melakukan registrasi ulang guna melengkapi persyaratan akademik. Lagi, lagi dan lagi, air mata ini berlinang dengan derasnya. Tak kuat melawan perkataan salah seorang Dosen saat itu. Saya diminta untuk membayar biaya pendaftaran sebesar 6.580.000 rupiah, minimal saya harus bisa membayar setengah harga sebagai uang muka. Namun apa daya, saya tak punya uang sebanyak itu. Saudara pun tak sanggup membayarnya. Keluarga pun memutuskan kepada saya untuk mundur saja dari IPB. Tapi saat itu saya bertemu kak Reza Pahlevi, seorang Presiden mahasiswa IPB. Ia lantas menguatkan semangat saya untuk tetap bertahan di IPB dan berjuang. Sabar ya, masih ada kesempatan yang lain kok. Beasiswa lain juga masih banyak kok di IPB , katanya. Kemudian Kak Reza mengantar saya menuju meja registrasi untuk bertemu dengan salah seorang dosen dari Fakultas Kedokteran Hewan. Lantas saya diminta oleh mereka untuk menandatangani kontrak perjanjian pelunasan biaya yang diundur hingga bulan Oktober mendatang. Sebelumnya saya meminta persetujuan keluarga dan mereka menyetujuinya. Segera saya hapus air mata, dan menandatangani kontrak perjanjian berwarna kuning itu. Saya lantas meninggalkan GWW menuju asrama dengan barang bawaan yang begitu beratnya. Hari demi hari saya lewati di asrama. Hingga suatu hari saya mendapat sms dari BEM KM IPB yang menyatakan bahwa mereka masih mencari sekitar 15 orang untuk mendapat beasiswa bidik misi. Rupanya masih ada peluang untuk saya. Saya diminta untuk mengikuti wawancara di gedung rektorat IPB. Sampai suatu ketika saya diberitakan DITERIMA untuk mendapatkan beasiswa bidik misi terseb ut. Senang, gembira dan bahagia rasanya berbaur menjadi satu dalam benak ini. Tak tanggung-tanggung saya langsung mengabarkan hal itu pada Emak dan keluarga melalui telepon.

27
Alhamdulillah Wan, emak pasti seneng dengernya, suara itu terdengar dari suara kang Opik di rumah. Pastinya emak pun akan sebahagia seperti apa yang saya pikirkan. Entah doa apa yang emak dan keluarga panjatkan. Saya tak tahu dan tak mau tahu. Nikmat ini datang dengan indahnya. *** Ya Allah, terima kasih. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan beasiswa ini. Menempuh pendidikan dijenjang yang lebih tinggi bersama sahabat-sahabat baru. Dengan ini, setidaknya saya telah mempersembahkan hal terbaik yang saya berikan untuk Emak. Ya, mungkin juga hal ini adalah hal terbesar yang pernah saya berikan untuk Emak. Dan sekarang, tinggal bagaimana langkah saya selanjutnya menempuh pendidikan di IPB ini hingga tamat. Masih banyak hal yang harus saya lakukan untuk itu. Dan semoga saja apa yang saya cita-citakan dan apa yang emak harapkan bisa terwujud suatu saat nanti. Amiin. Sekali lagi, Terima Kasih saya ucapkan kepada Allah SWT dan Direktorat Kemahasiswaan IPB yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk mengenyam pendidikan di IPB ini. Semoga bisa menghasilkan sesuatu yang bermakna di kemudian kelak, Amiin Yaa Robbal Alamiin.

28
Juara 3

Air Mata Itu Mengalir untuk Kedua Kalinya


Yayat Nurhidayat Syahron
Sukaresmi, Januari 2011. Menjadi mahasiswa ibarat menduduki kasta tertinggi dalam dunia pendidikan. Menjadi mahasiswa laksana menyandang status sosial yang dipandang lebih oleh masyarakat. Menjadi mahasiswa itu Mahasiswa? Benarkah se-bergengsi itu? Pertanyaan itu masih menggelitikku hingga saat ini. Masih ku ingat guru mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas dua belas dulu. Begitu semangat beliau menyampaikan kalimat-kalimat tersebut. Petuah yang membangkitkan gairah teman-teman sekelasku untuk menjadi seorang mahasiswa. Di tengah gairah yang meluap di antara tiga puluh satu orang siswa di kelas tersebut, ada seorang siswa yang tertunduk dalam diam. Ia hanya menganggap kalimat-kalimat guru bahasa Indonesia itu sebagai angin lalu. Siswa itu adalah aku. Aku tenggelam di tengah luapan gairah teman-teman kelasku. Aku merasa terpencil. Tahukah kau mengapa? Masih ada ragu dalam benakku. Pantaskah aku, seorang yang berasal dari keluarga kurang mampu, berkhayal untuk menjadi seorang mahasiswa? Tidak! Ku jawab sendiri pertanyaan itu. Maka, ku tinggalkan semua khayalan. Ku tepis semua kalimat yang meluncur dari guru bahasa Indonesia itu. Hari-hari berlalu. Aku masih tak tahu saat orang-orang menyebut kata mahasiswa. Hingga suatu ketika, Bu Nani, wali kelasku, seorang guru yang sangat disegani di sekolah memanggilku ke kantornya. Bagaimana rencanamu setelah lulus sekolah nanti? Mau kuliah dimana?. Pertanyaan itu,

29
pertanyaan dari wali kelasku, adalah pertanyaan yang sedang ingin kuhindari saat itu. Namun aku tetap mencoba untuk menjawabnya. Nggak, Bu. Sepertinya saya nggak akan kuliah dulu tahun ini. Saya mau mencari pekerjaan dulu, mau membantu orang tua. Loh, kok gitu?, tanya bu Nani. Ku jelaskan pada beliau, aku tak ingin membebani kedua orang tuaku. Dengan keterbatasan ekonomi, aku merasa tak yakin untuk melanjutkan ke dunia perkuliahan. Beliau hanya tersenyum. Tahukah Kau, Nak. Di zaman sekarang ini, hilangkan pikiranmu yang semacam itu. Pendidikan tinggi bukan lagi milik orang berada. Pendidikan tinggi sekarang adalah milik orang-orang yang mau bekerja keras. Ketahuilah, di luar sana akan ada banyak pihak yang menyediakan beasiswa pendidikan tinggi untuk orang-orang yang kurang mampu. Berhari-hari bu Nani terus meyakinkanku. Hingga keyakinan itu tumbuh perlahan bersama asaku untuk menjadi seorang mahasiswa. Dorongan dari teman-teman kelas semakin menumbuhkan keyakinan. Aku mulai yakin. Aku harus mengenyam pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Semakin hari, asaku semakin tumbuh. Suatu hari, temanku mengajakku menonton sebuah video tentang impian. Ya, video itu adalah kisah jejak-jejak Danang Ambar Prabowo. Video yang sangat menggugahku untuk menuliskan semua mimpi. Aku mulai menulis mimpi-mimpi itu. Di urutan pertama, kutuliskan mimpiku untuk lulus ujian dengan jujur. Kedua, target nilai ujian. Ketiga, aku harus kuliah! Keempat, harus memperoleh beasiswa kuliah. Dan mimpi-mimpiku yang lain. *** Semakin ingin kita terhadap sesuatu, semakin Allah ingin tahu seberapa besar keinginan kita terhadap sesuatu itu. Ibuku, ibu paling luar biasa se-dunia, sedang menjahit pakaiannya saat aku pulang dari sekolah. Setelah mengganti seragam, aku mencium tangannya. Sambil menonton acara

30
televisi, kubicarakan baik-baik rencanaku untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Besar harapku agar ibu mau menerimanya. Namun, ibu hanya terdiam. Tak lama kemudian beliau menuju kamarnya, Di pintu kamar beliau berhenti sejenak. Mau biaya dari mana? Buat bayar SPP kamu di SMA saja susah. Sekarang malah minta kuliah. Hanya itu jawaban ibu. Simpel. Namun dapat kutangkap maknanya: jangan kuliah! Berhari-hari aku meyakinkan ibu. Namun ibu tetap tak bergeming. Aku sendiri merasa malu pada ibu. Saat itu, seperti ada orang lain dalam diriku. Aku yang biasanya selalu berkata ya kepada ibu, entah mengapa saat itu ingin kupaksa ibu berkata ya untukku. Aku terus memaksa. Terus mencoba. Suatu hari, ibu sedang menonton acara televisi sambil menyelesaikan jahitan bajunya. Kucoba lagi untuk menjelaskan keinginanku pada wanita mulia ini. Bu, saya ingin kuliah. Saya ingin menjadi sorang mahasiswa. Ibu kembali terdiam. Saat itu, adalah saat yang tidak akan pernah ku lupakan dalam hidupku. Kau tahu mengapa? Ibu mulai angkat bicara. Yat, lihatlah kakak-kakakmu yang hanya tamatan SMA. Tahukah kau mengapa mereka merasa cukup menjadi seorang tamatan SMA? Mereka merasa cukup karena mereka sadar. Mereka sadar akan keadaan orang tuanya. Mereka sadar bahwa orang tuanya tidak mampu membiayai kuliah. Tidakkah kau melihat mereka? Mata ibu mulai berkaca-kaca. Perlahan bongkahan kesedihan di ujung kelopak matanya mulai meleleh. Air matanya mengaliri pipi hingga jilbab yang beliau pakai. Aku tertunduk. Aku tahu, meskipun ibu terdiam, hatinya masih berbicara mengutukku. Mengutuk anaknya yang tak tahu diri. Kawan, saat itu, adalah saat yang tak mungkin ku lupakan sampai kapanpun. Saat seorang keras kepala sepertiku membuat ibu menangis. Astaghfirullah. Maafkan aku ibu. Beberapa hari aku merasa bimbang. Di sekolah, keinginanku untuk kuliah sangat menggebu. Namun saat di rumah, keinginan itu segera menguap. Aku mulai berpikir

31
untuk memasrahkan semuanya kepada Dzat Yang Maha Tahu. Hampir setiap sepertiga malam terakhir aku bangun. Satu baris doaku yang selalu kubaca: Yaa Rabb, tunjukkan dan berikanlah jalan terbaik untukku setelah aku lulus SMA. *** Semakin hari, aku semakin yakin, dan semakin banyak orang yang meyakinkanku. Aku harus kuliah! Suatu hari, guru BK memanggilku ke ruangannya. Beliau memberitahuku tentang prosedur SNMPTN jalur undangan dan informasi beasiswa Bidik Misi. Setelah mendengarkan penjelasan dari beliau, aku memutuskan untuk mengambil jatah SNMPTN jalur undangan. Aku pun berkonsultasi dengan guru BK tentang keadaan ekonomi keluarga. Akhirnya aku diusulkan pihak sekolah menjadi siswa pelamar Bidik Misi. Semua keputusan ini, keputusan untuk untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan, kuambil tanpa sepengatahuan ibu. Beberapa hari setelah itu, aku mulai mengatakan semua keputusanku kepada ibu. Awalnya ada satu hal yang aku takutkan. Aku takut kejadian itu terulang kembali, kejadian saat ibu meneteskan airmatanya. Aku tak ingin itu terulang. Dengan ucapan bismillah, kumulai pembicaraan dengan ibu. Masih dengan topik yang sama. Setelah kujelaskan bahwa aku telah memutuskan untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan, aku masih merasakan ketakutan itu. Kawan, ada yang berbeda saat itu. Meskipun renspon yang ditunjukan ibu masih sama: diam. Aku melihat diamnya kali ini mempunyai makna yang berbeda dengan diamnya ibu selama aku membicarakan keinginanku ini. Rasa takutku masih belum pergi. Ibu akhirnya angkat bicara. Yat, keputusan ini telah Kau ambil. Apa boleh buat. Jika kamu merasa itu jalanmu, perjuangkanlah. Ibu dan bapakmu hanya bisa mendoakanmu. Orang tua akan mersa senang jika melhat anaknya senang

32
Aneh. Rasa takutku mulai menguap perlahan. Benarkah yang dikatakan ibu itu? Yaa, Rabb. Meskipun kalimat ibu itu masih mengambang, setidaknya ibu memberikan isyarat positif. Alhamdulillah Hari penentuan itu tiba. Dua hari setelah aku dinyatakan lulus ujian nasional, aku lulus pula SNMPTN jalur undangan ke Institut Pertanian Bogor. Persyaratan kelengkapan berkas pendaftaran ulang dan pelamar Bidik Misi mulai aku persiapkan degan baik. Aku berangakat bersama kedua orangtuaku saat melakukan pendaftaran ulang. Setelah menemaniku melakukan pendaftaran ulang, ibu dan ayah pulang ke Cianjur, sementara aku masih harus mengikuti seleksi wawancara pelamar Bidik Misi. Keesokan harinya, pelamar bidik misi yang lolos seleksi berkas dan wawancara diumumkan. Alhamdulillah. Aku menjadi salah satu dari lima ratus penerima beasiswa Bidik Misi. Setibanya di rumah, langsung ku cium tangan kedua orang tuaku. Aku sampaikan kabar bahwa aku telah lolos seleksi sebagai penerima beasiswa bidik Misi. Kawan. Kau tahu apa yang terjadi? Mata yang sempat menagis itu berkaca lagi. Air mata itu mengalir untuk kedua kalinya. Namun aku menangkap rasa yang berbeda dari air mata ini. Air mata ini, rasanya lebih manis, Kawan. Ibu tak kuasa lagi menahan keharuannya. Selamat, Nak. Kau telah memperjuangkan keinginanmu. Kini jadilah mahasiswa, jadilah mahasiswa yang berguna. Jangan jau sia-siakan semua karunia ini *** Kawan, kata-kata itu akan selalu kuingat sampai kapanpun. Kini aku menjadi seorang mahasiswa. Tapi tentu, tujuanku menjadi seorang mahasiswa bukan untuk menduduki kasta tertinggi dunia pendidikan, bukan ingin menyandang status sosial yang dipandang lebih oleh masyarakat seperti yang dikatakan guru bahasa Indonesiaku. Aku ingin menjadi mahasiswa berguna. Aku ingin membuktikan kepada kedua

33
orang tuaku bahwa aku akan memperjuangkan semua mimpimimpiku. Lewat tulisan ini, dengan segenap syukur ke hadiratNya, kusampaikan rsa terimaksih kepada kedua orang tuaku yang luar biasa, orang tua paling luar biasa se-dunia, kepada guru-guruku, kepada teman-teman motivatorku, dan kepada Bidik Misi, semoga apa yang telah kalian berikan dibalas durga oleh-Nya. Aamiin. *** Kawan, itulah sepenggal kisahku bersama Bidik Misi. Semoga kisah ini bisa menginpirasi jiwa-jiwa yang masih ragu. karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyiroh: 5,6)

34
Juara Harapan 1

Bidik Misi Mengantarkanku untuk Menjadi Seorang Dokter Hewan Suwarti


Kutuliskan kisah ini dengan sebuah laptop tua yang dipinjamkan oleh seorang dosen pembimbing akademik di Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Ingin rasanya kuungkapkan sebuah kebahagiaan karena aku dapat melanjutkan kuliah dengan adanya bantuan dari Beasiswa Bidik Misi. Harapanku, teruntuk adik-adik kelas sang penerus bangsa yang memiliki nasib sepertiku dapat merasakan indahnya mengenyam bangku kuliah dengan adanya bantuan dari Beasiswa Bidik Misi. Masa-masa kelas 3 SMA merupakan masa-masa rumit yang telah kujalani. Saat itu, terdapat 3 buah pilihan yang menghiasi benakku. Kuliah, kerja atau menjadi pengangguran? Yang terpenting di sini adalah jangan sampai aku memilih pilihan ke-3, menjadi pengangguran adalah sebuah hal yang mendatangkan kemudharatan dan sedikit manfaatnya. Tuntutan dari keluarga yang mengurusku saat ini adalah setelah lulus SMA nanti, aku harus bekerja. Mengingat usia ayah yang telah lanjut dan kesulitan dalam mencari nafkah. Ayahku berprofesi sebagai pemulung gelas plastik, botol plastik dan kardus bekas kemasan air minum. Ibundaku tecinta wafat ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMA. Aku merupakan anak satu-satunya yang tak berkakak maupun beradik. Rasanya miris memang. Aku sedih melihat ayah mengurusku seorang diri. Kami tinggal di sebuah rumah yang beratapkan genting dengan tanpa langit-langit rumah. Lantainya pun hanya dilapisi karpet yang telah tersobek-sobek karena setiap hujan deras turun, rumah kami pasti kebanjiran. Rumah kami hanya memiliki dua ruangan. Satu ruang kamar, dan ruangan yang satu lagi adalah ruang keluarga yang merangkap menjadi dapur. Rumah kami pada awalnya terdiri dari empat ruangan. Dua ruangan harus menjadi korban

35
keganasan tanah longsor yang terjadi ketika aku masih duduk di bangku kelas 4 SD. Hingga saat ini, dua ruangan itu pun masih belum dapat dibangun kembali karena kami sekeluarga tidak mempunyai biaya. Untuk bisa makan saja itu masih sudah beruntung. Belum lagi jika ayahku tidak mendapatkan uang, meminta kepada saudara terdekat atau pun memungut makanan dari tempat sampah adalah solusinya. Namun kini, ayahku telah wafat meninggalkanku seorang diri. Beliau wafat pada tanggal 30 Agustus 2011. Saat itu bertepatan dengan tanggal 30 Ramadhan 1432 H dimana semua umat Islam merayakan takbiran. Untung saja Idul Fitri tahun ini diundur sehari, sehingga tetangga-tetangga di sekitar rumahku dapat mengurusi proses pemakaman ayah. Masih banyak kisah hidup keluarga kami yang cukup memilukan, namun kita harus optimis dengan adanya masa depan. Allah SWT menjanjikan : Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah nasibnya sendiri. Aku pun optimis dengan adanya janji tersebut bahwa aku dapat menjadi seorang Dokter Hewan yang sukses. Dapat membanggakan keluarga, agama, bangsa dan negara serta almamaterku tercinta, Institut Pertanian Bogor. Berawal dari pertemuanku dengan seorang sahabat yang merupakan pindahan dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dialah yang membuat aku harus berjanji padanya untuk meneruskan kuliah setelah lulus SMA nanti. Dia pindah ke sekolahku, SMA Negeri 6 Bogor pada saat kelas 3 SMA. Kedua orang tuanya dipindahtugaskan ke Jakarta. Aku putus asa pada masa-masa awal kelas 3. Mengingat beberapa bulan lagi aku akan lulus dari bangku SMA dan mengabulkan keinginan keluargaku untuk bekerja. Aku bingung, pekerjaan apa yang dapat aku tekuni nanti. Mengingat lulusan SMA tidak memiliki softskil spesifik untuk bekal bekerja. Keputusasaan membuatku semakin terpuruk di awal kelas 3. Untung saja, aku berteman baik dengan murid baru itu. Kesehariannya membuatku bersemangat kembali untuk terus berjuang menuntut ilmu. Kedua orangtua sahabatku ini merupakan alumni IPB. Ayahnya adalah seorang insinyur pertanian dan ibunya merupakan alumni Fakultas Kedokteran Hewan, IPB.

36
Keduanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kedua bidang yang berbeda. Aku takjub mendengar ceritacerita dari sahabatku tentang kesuksesan karir kedua orang tuanya. Hal ini merupakan sebuah motivasi positif yang diterima oleh akal sehatku. Aku tertarik dengan profesi ibunya yang merupakan dokter hewan. Profesi yang cukup jarang ditemukan di masyarakat Indonesia. Meskipun beliau berkarir, namun kewajibannya sebagai ibu rumah tangga tidak terbengkalai. Beliau masih mampu mengurus keluarganya dikala kesibukan menghadang. Oleh karena itu, aku memilih Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor sebagai pijakanku setelah lulus SMA nanti. Lagi-lagi masalah keuangan. Ketika USMI IPB datang ke sekolahku, aku mengalami sebuah keraguan. Ingin sekali aku mendaftar USMI, namun keuanganku saat ini tidak mendukung. Saat aku mengadu pada kakak almarhumah ibuku, beliau malah memarahiku dan tidak memperbolehkanku untuk mendaftar USMI. Aku pun tidak mungkin mengadu kepada ayahku. Mengingat saat itu ayahku sedang kesulitan uang. Aku pun menangis di hadapan sahabatku itu. Aku menceritakan semua yang sedang aku rasakan. Akhirnya, aku pun menemukan sebuah solusi yang cukup berisiko. Aku meminjam uang kepada organisasi yang sedang aku tekuni sebesar dua ratus ribu rupiah untuk membayar uang formulir USMI. Aku berani mengambil risiko karena aku masih mempunyai uang beasiswa Sampoerna Foundation yang masih belum turun ketika bulan itu. Beasiswa tersebut hanya dapat membiayai studiku sampai lulus SMA. Dengan semangat aku mengisi formulir dan mengurus berkasberkasnya, hingga pada akhirnya ayahku pun bersedia untuk menanda tangani formulir tersebut. Aku melihat wajahnya yang penuh dengan kekhawatiran dan kebimbangan. Namun, akhirnya aku berhasil meyakinkan beliau untuk terus optimis dan tidak putus asa dengan biaya kuliah yang nanti harus dibayar. Aku mengetahui bahwa IPB menawarkan banyak beasiswa yang tentunya dengan izin Allah dapat membantuku. Selain itu, aku pun mencoba searching beasiswa di internet. Uang saku yang kumiliki aku tabung untuk membayar sewa

37
warnet hingga akhirnya aku mengetahui bahwa pemerintah memiliki program Beasiswa Bidik Misi. Aku mengetahui bahwa Beasiswa Bidik Misi ini adalah beasiswa untuk mahasiswa angkatan 2010 yang miskin namun memiliki prestasi. Beasiswa ini tersebar luas di seluruh perguruan tinggi negeri se-Indonesia. Aku pun bersemangat membaca berita ini dengan harapan IPB memberikan kursi untukku. Kursi untuk aku menimba ilmu dan kursi untuk mendapatkan beasiswa Bidik Misi. Setiap hari aku berdoa dan berusaha selama menunggu pengumuman hasil USMI yang selama ini sangat dinanti-nanti. Alhasil, namaku tercantum dalam sebuah print out yang tergeletak di atas meja seorang guru Bimbingan konseling. Disitu tercantum : Nama NIM Mayor Biaya Suwarti B04100042 Kedokteran Hewan Rp 0,Melihat print out tersebut aku pun senang tiada terkira. Alhamdulillahi rabbil alamin janji Allah memang nyata. A ku bersyukur melihatnya. Berita ini aku sampaikan kepada keluargaku. Ayahku bukan main berbinar-binar wajahnya. Apalagi kakak almarhumah ibuku yang menangis melihat cahaya kegembiraan yang aku pancarkan. Sahabatku pun tersenyum gembira melihat aku bahagia. Ternyata, beasiswa Bidik Misi lah yang membayar biaya kuliahku. Ingin rasanya aku menghadap rektor ataupun pihak yang terkait yang telah membantuku, mewujudkan mimpi seorang anak pemulung yang ingin kuliah. Aku ingin berterima kasih yang sebanyakbanyaknya kepada mereka. Terutama pemerintah, pejabat yang telah mencetuskan ide program beasiswa Bidik Misi. Semoga Allah SWT memberikan kepada kalian balasan yang setimpal dan pahala yang tiada putusnya. Pertama kali melihat kampus IPB Darmaga, hatiku berdebar kencang. Aku tidak percaya bisa menginjakan kakiku di kampus rakyat yang tercinta ini. Meskipun aku warga Bogor, namun aku hanya bisa menatap kampus IPB Baranang siang, kampus IPB Gunung Gede dan kampus IPB Taman Kencana. Aku pun bergumam dalam hati Akhirnya, aku dapat menimba ilmu di kampus yang asri ini. Pagi-pagi sekali ayahku

38
berangkat dari rumah untuk menghadiri undangan POM di RK. FKH A, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Sampai-sampai ayahku meninggalkanku hingga akhirnya aku pergi registrasi seorang diri. Pertama kali aku registrasi di Gedung Graha Widya Wisuda, aku melihat ribuan mahasiswa baru. Senang rasanya dapat berkenalan dengan sesama mahasiswa baru dengan asal daerah yang berbeda. Belum lagi suguhansuguhan acara yang dipersembahkan oleh panitia Open House 47 menambah keceriaanku dan semangat untuk segera menimba ilmu akademik maupun non-akademik di kampus baru ini. Lelahnya berkeliling menjelajah stand-stand UKM di IPB, aku pun melepas lelah di Asrama Putri TPB IPB, tepatnya Gedung A2. Aku melihat hiruk pikuknya para mahasiswa yang memasuki gedung, memindahkan barangbarang pribadi untuk mengisi kamar mereka dengan bantuan keluarga besar yang menemani. Di sana, aku hanya bisa menahan tangis, tertegun melihatnya. Andai saja ayah dan ibuku menemaniku saat aku masuk asrama, pasti bukan kepalang bahagianya hati ini. Sesuatu yang tidak disangkasangka, ayahku pulang ke rumah lebih dahulu karena acara dari POM hanya berlangsung beberapa jam. Kakak almarhumah ibuku meneleponku dan mengatakan bahwa ayahku akan mengantarkan barang-barang pribadiku yang sejak semalam sudah kukemas. Beliau membawa barangbarangku dengan sepeda tua miliknya, berangkat dari Kota Bogor (rumahku) menuju Asrama Putri TPB IPB karena ayahku tidak memiliki ongkos lagi. Aku hanya bisa menahan tangis dan bergumam, Yaa Allah, berikan keselamatan kepada ayahku dan pahala yang tiada putusnya. Jadikanlah aku anak sholehah yang bisa membahagiakannya dan menjadi tabungan amal kebaikan bagi kedua orang tuaku. Tingkat pertama di IPB merupakan Tingkat Persiapan Bersama. Selama satu tahun penuh aku tinggal di asrama. Biaya asrama dan biaya hidupku dibiayai oleh beasiswa Bidik Misi. Semua fasilitas terbaik yang dipersembahkan IPB dapat aku nikmati. Mulai dari semua fasilitas asrama, sepeda mahasiswa, bus mahasiswa, fasilitas-fasilitas penunjang akademik dan semua program akademik maupun non-

39
akademik dapat kurasakan manfaatnya. Kini, aku pun sedang menimba ilmu di tingkat dua. Menjalani rutinitas, belajar dan menempa diri untuk menjadi seorang dokter hewan. Sampai saat ini beasiswa Bidik Misi masih menemaniku untuk mengukir mimpi-mimpi agar menjadi lebih indah nantinya. Semoga beasiswa ini dapat dinikmati oleh adik-adik kelasku sang pewaris peradaban yang memiliki nasib yang sama denganku. Mari kita bersama-sama membangun bangsa dan negara. Aku pun mengucapkan penghargaan yang setinggitingginya kepada pihak Direktorat Kemahasiswaan IPB maupun Direktorat lain yang terkait karena telah mampu mengelola dana beasiswa Bidik Misi yang diamanahkan oleh pemerintah dengan profesionalitasnya dan dengan segala sistem yang telah dirancang sebelumnya. Semoga pengelolaan beasiswa Bidik Misi IPB dapat dijadikan teladan ataupun contoh untuk perguruan tinggi yang lain. Sesungguhnya, segala sesuatu yang baik dan direncanakan sebelumnya akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

40
Juara Harapan 2

Celupan Warna Ilahi, Pengubah Nasib Anak Negeri


Anita Aprilia
Sebuah perjalanan dimulai dari sini. Di sebuah perkampungan sederhana yang terletak di tengah hiruk pikuk kota Bekasi. Salah satu kota yang menjadi saksi bisu betapa kejamnya kekuasaan melumat kebebasan anak negeri. Sebuah asa dan harapan tertulis nyata di setiap langkah diri menapaki pelosok kota ini. Namun tak ada perlindungan, hanya bualan dan janji kosong penguasa yang senantiasa hadir mewarnai impian kami akan secercah harapan hidup indah di masa yang akan datang. Biarlah angin dan debu jalanan yang mengaminkan doa kami. Aku terlahir dalam sebuah keluarga besar. Anak kelima dari sembilan bersaudara. Aku dan keluarga hidup di sebuah rumah usang milik Ibunda dari Ayah, mengingat rumah kami telah jatuh ke tangan seorang saudagar karena masa lalu hitam Ayah hingga terlilit hutang yang besar. Hari-hariku tidaklah mudah, mengingat Ibu telah mendahului aku dan keluarga menuju keharibaan-Nya. Sejak dua tahun lalu saat usiaku menginjak 16 tahun. Jika aku menyebut sosok Ayah, aku menyebut beliau sebagai pahlawan tangguh. Beliau adalah sosok sederhana yang senantiasa memperjuangkan hak anak-anaknya. Tidak peduli kemiskinan senantiasa membayangi gerak langkah kami, namun selama nyawa masih bersemayam dalam diri beliau senantiasa ada untuk kami. Pengabdian pada profesi sebagai buruh keamanan sebuah perumahan elit yang sangat memporsir waktu tidak membuatnya kehilangan daya untuk senantiasa mengalirkan kasih dan sayangnya untuk kami. Telah kutuliskan dalam hati sanubari bahwa suatu saat nanti akan kubayar tenaganya dengan kebahagiaan meski

41
takkan penuh. Kutukar tetesan peluhnya dengan kedamaian meski takkan pernah terganti. Kan kuusap dahinya dengan ketentraman disaat aku dan anak-anaknya telah tumbuh menjadi manusia sesungguhnya. Aku masih berharap kebaikan Allah untuk dapat mengizinkan aku membayar itu semua suatu saat nanti. Kubuka kisahku dengan perjalananku sebagai pelajar pemburu beasiswa. Sejak duduk di bangku Taman Kanakkanak, aku tergolong anak yang berprestasi. Untuk itu saat menginjak bangku SD, pemilik Yayasan Taman Kanak-kanak tersebut memutuskan untuk memberiku tunjangan pendidikan SD dan membiayaiku hingga lulus. Sebuah sekolah dasar berbasis islam, Sekolah Dasar Islam Al Falaah yang saat itu menjadi awal kendaraan ilmu yang siap mengantarkanku menuju samudera peradaban. Beralih menuju Sekolah Menengah Pertama, tunjangan itu dilepas. Ibuku yang saat itu masih setia mengiringi langkahku bingung akan kelanjutan studiku mengingat penghasilan Ayah yang memang sangat tidak cukup untuk menyekolahkan aku dan semua saudaraku sekaligus. Terlebih sejak saat itu memang biaya sekolah terkenal sangatlah mahal. Namun, tangan Allah memang tidak pernah berhenti menaburkan rahmat dan rezeki untuk para hamba-Nya. Saat aku dinyatakan telah diterima di sebuah sekolah berbasis negeri, Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 kota Bekasi, Ibu mendampingiku untuk mencari info tunjangan di sekolah itu. Dan benar saja, dengan hanya bermodalkan rapor SD usang dan sertifikat dengan predikat NEM terbaik di sekolahku, lagi-lagi aku mendapat biaya tunjangan hingga dibebaskan dari seluruh iuran hingga aku lulus. Di akhir pendidikan inilah, ujian terberat bahwa orang yang selama ini mendampingiku menjalani terjal kehidupan harus meninggalkan aku lebih cepat. Ialah Ibuku. Sempat terpikir olehku untuk tidak melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMA. Namun pikirku saat itu, adik-adikku masih kecil. Separuh kebahagiaan mereka telah menghilang dari warnawarni keseharian kami. Aku masih punya banyak waktu untuk

42
membahagiakan mereka di masa yang akan datang. Aku tak mungkin tega membiarkan mereka hidup kekurangan suatu saat nanti, padahal sebenarnya aku dapat berbuat lebih untuk membahagiakan mereka. Aku hanya bisa melakukannya jika aku telah menjadi seorang yang sukses. Untuk itu, perjuanganku harus dilanjutkan. Berbekal niat, tekad, dan ikhtiar seraya tetap bersandar pada goresan takdir Illahi, aku mendaftar di sebuah sekolah menengah atas negeri, SMA Negeri 6 kota Bekasi. Dengan tegas Ayah menekankan bahwa beliau tidak bisa membiayai sama sekali karena tanggung jawab pada pendidikan keempat adikku, namun aku tak putus asa. Usai diterima, aku bersekolah seperti anak lain pada umumnya. Hingga tiba sembilan bulan setelahnya, pihak Tata Usaha memanggilku karena tunggakan biaya. Di sebuah ruangan ber-AC yang kutahu itu adalah ruangan orang nomor satu di sana. Ya, ruang Kepala Sekolah. Aku duduk terdiam, membayangkan mungkin sepulang dari ini aku akan mengadukan hal ini pada Ayah dan memaksanya bekerja lebih keras untuk membayar biaya tunggakan sekolahku. Pria setengah baya itu datang dan berdiri di hadapanku yang telah duduk terkulai seraya menunduk. Beliau adalah wakil kepala sekolah. Dengan sangat lembut, beliau menanyakan tentang kejelasan masalah ini padaku. Satu-satunya yang dapat kulakukan saat itu adalah menjelaskan tentang kesungguhanku untuk bersekolah yang telah dapat aku buktikan dengan rapor semester pertamaku yang menjadi peringkat satu di kelas. Tak lupa aku menegaskan akan kedudukanku yang memang bukan berasal dari kalangan orang berada, namun ingin tetap mengenyam pendidikan tinggi yang wajar seperti anak lainnya. Aku memang tak bermateri, tapi aku punya mimpi. Aku memang tak memiliki apa-apa, namun aku masih punya asa akan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Dan benar saja, kulihat ujung matanya mengkilat karena haru. Beliau terdiam. Ada sebuah suasana haru yang saat itu menyelimuti ruangan segiempat bercat hijau redup itu. Seketika aku tidak dapat menahan tangisku ketika beliau

43
memutuskan untuk membebaskanku dari biaya sekolah hingga tiga tahun mendatang. Tidak hanya itu, beliau pula memberiku sarana berupa buku-buku penuntun pelajaran secara gratis. Di sana aku merasakan begitu kuat cinta-Nya, begitu nyata kasih-Nya pada hamba-hamba yang senantiasa tegar melalui zona kehidupan yang begitu berwarna. Aku memulai permulaan tahun 2011 dengan penuh tanda tanya. Akan segera tiba waktu kelulusan SMA. Apakah perjuanganku menuntut hak mssemperoleh pendidikan harus usai sampai di sini dan berganti dengan aktivitas baru bergelut dengan surat lamaran kerja, mondar-mandir ke sana ke sini untuk mencari pekerjaan demi menyambung hidup untuk memperoleh sesuap nasi dan membantu kerja keras Ayahku dengan upah yang kecil. Jika aku bersandar pada kenyataan saat itu, sangat mustahil aku dapat membiayai pendidikan tingkat kuliah mengingat biaya yang begitu melangit tak sepadan dengan penghasilan keluarga. Meski kakak-kakakku telah bekerja, namun penghasilan mereka hanya cukup untuk menyekolahkan adik-adikku. Dari silsilah keluargaku belum ada yang menamatkan pendidikan tingkat perguruan tinggi. Pernah salah satu dari kakakku mencoba namun pupus di tengah jalan, karena lagi-lagi benturan biaya sebagai penyebab utama. Kerja keras Ayah tetap hanya cukup untuk sebatas menjadi penyulut aroma masakan masih keluar dari dapur kami. Sementara aku saat itu lagi-lagi hanya memiliki sekotak keinginan akan penghidupan yang lebih layak suatu saat nanti. Saat aku bersandar pada asa dan harapan masa depan yang begitu mulia aku merasa bagai makhluk hina jika menyerah begitu saja. Aku masih memiliki dua kaki untuk terus melangkah, dua tangan untuk senantiasa berdoa, dan keluarga yang senantiasa memberi dukungan moril. Kubulatkan tekad saat itu untuk terus belajar dan menyiapkan diri apapun yang terjadi. Aku masih meyakini bahwa Allah senantiasa hadir dalam desah napasku. Kehadiran-Nya senantiasa menegakkan sendi-sendi yang terasa enggan berdiri jika dihadapkan dengan kenyataan hidupku yang pahit. Saat ini, aku memang tak punya rumah

44
mewah sebagai tempat beristirahat, hanya rumah tua di tepi kota yang siap roboh di kala badai menerpa. Aku juga tak punya brankas uang yang siap dibuka untuk mengabulkan setiap permintaanku, hanya orangtua tunggal yang datang sebagai pelipur jiwa dengan sejuta permasalahan dalam batin sebenarnya. Tetapi aku masih punya Allah, keluarga, dan kerabat yang senantiasa berdoa untuk kebaikanku. Kami berjalan beriringan, laksana iringan semut yang berjalan untuk mencapai rumahnya. Begitu pun kami, tujuan kami hanya satu. Hidup tentram, tetap di jalan-Nya. Untuk memperoleh buah semanis itu, tentu tidak mudah. Ada jalan berbatu, jembatan licin yang siap menggelincir kami jika kami tidak hatihati. Menengok ke belakang, kusadari bahwa riwayat pendidikanku dihidupkan oleh beasiswa. Sayembara tahunan setiap perguruan tinggi negeri adalah mencari calon mahasiswa baru melalui teknik PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan). Namun kebijakan terbaru Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2011 PMDK digantikan dengan sistem jalur Undangan, yaitu pendaftaran kolektif calon mahasiswa berprestasi yang diadakan terpusat dan online di seluruh perguruan tinggi. Ini adalah kesempatan emas untukku. Terlebih ketika itu ada info yang merebak bahwa Pemerintah telah memberdayakan jalur beasiswa Bidik Misi sejak tahun 2010 yang pendaftarannya dapat dimulai sejak awal pendaftaran pada masing-masing perguruan tinggi. Beasiswa ini memang ditujukan bagi lulusan cerdas dan berpotensi yang terbentur masalah biaya untuk keberlanjutan pendidikannya. Mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ini diberi kelonggaran berupa uang kuliah dan uang saku sebagai bekal menyambung hidup. Aku bagai mendapat semilir angin surga. Kesempatan dan peluangku untuk menjemput asa masa depan semakin terbuka lebar. Dengan tiket yang sudah kukantongi dengan menjadi bagian dari 50% siswa peringkat atas tingkat sekolahku, aku bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan. Atas dasar hal brilian ini, semakin menguatkan prinsipku bahwa tak selamanya orang-orang yang berkuasa saja yang dapat menelurkan kesuksesan pada anak-anaknya.

45
Ya, karena kesuksesan juga milik kami. Kesuksesan juga milik kami, rakyat tingkat bawah yang memiliki asa, yang selama ini baru bisa menelan ludah ketika mendengar yang di atas semakin berjaya, sedangkan yang di bawah semakin menderita. Kami, remaja potensial yang hanya berbekal ilmu dan tekad juga punya asa untuk mengubah dunia. Kebijakan ini tak hanya membantu mengeluarkan kami dari lingkup keterbatasan ekonomi, namun menghilangkan garis tebal yang selama ini membedakan antara lulusan ber-uang yang biasanya sudah dapat jaminan kursi perguruan tinggi dengan lulusan tanpa modal materi yang biasanya langsung berurusan dengan surat lamaran kerja dan siap menerima slip gaji. Berbicara tentang bidang yang akan kugeluti, ada seorang tokoh ilmuwan yang kehadirannya mengubah pandanganku tentang sains. Tokoh yang kehadiran karyakarya ilmiah, buku-bukunya, begitu menggugah. Seorang ilmuwan yang bukan hanya menyajikan fakta-fakta dalam bidang sains, namun mengaitkannya dengan penciptaan alam semesta. Begitu tampak harmoni antara kecemerlangan Allah dalam menciptakan alam dengan sejuta rahasia alam yang terkuak lewat otak-otak ahli di muka bumi. Dialah Adnan Oktar, seorang ilmuwan muslim asal Turki. Karya-karyanya yang begitu terkenal antara lain Runtuhnya Teori Evolusi, Hikmah di Balik Ujian, Proses Penciptaan Manusia, Bencana Kaum Sodom, Deep Thinking, The Sign of The Last Day, dll. Karya-karyanya begitu apik dan natural. Begitu nyata dalam pengungkapannya bahwa tak ada sedikit pun keraguan pada setiap bagian-bagian dari Al Quran sebagai kalamullah yang telah dianugerahkan kepada manusia sebagai pedoman hidup. Berawal dari sini, aku mulai menyukai dunia sains. Dari titik tolak inilah aku ingin melanjutkan pendidikanku pada bidang sains. Aku ingin meniti jejak beliau. Aku ingin menjadi orang berguna yang dapat bermanfaat bagi keluarga, bangsa, terutama agama. Dan jurusan yang terpikir saat itu adalah Biologi. Dari ilmu biologilah aku menemukan segalanya. Biologi adalah ilmu alam yang menjadi cikal bakal munculnya

46
ilmu-ilmu alam terapan lainnya seperti ilmu pertanian, perikanan, gizi dan nutrisi, peternakan, geosains, teknologi dan lainnya. Biologi adalah ilmu alam yang senantiasa bergerak dinamis menjawab misteri-misteri yang terjadi di alam melalui ilmu terapan. Universitas pilihanku saat itu adalah sebuah universitas ternama berbasis pendidikan. Selain masalah jarak yang dekat dengan kota tinggalku, banyak juga kakak kelasku yang studi di sana. Ini dapat menjadi salah satu titik untuk bersilahturahmi dengan mereka. Tak ada sedikit pun minatku pada IPB kala itu. Terlebih karena namanya saja Institut Pertanian Bogor, aku tak mau hidup konyol usai menyelesaikan perguruan tinggi dengan menjadi petani. Aku terus mengukuhkan niat sambil terus istikharah meminta jawaban dari-Nya. Aku senantiasa membulatkan tekad untuk memilih universitas yang telah aku yakini sebagai universitas pilihan dan terbaik dengan jurusan Biologi. Seiring berjalannya waktu, pendaftaran online akan dilaksanakan. Di sebuah kursi di ruang BK, di depan sebuah monitor 14 inci dari sebuah komputer bermodem, aku terdiam sejenak. Data tahun ini menyebutkan bahwa universitas pilihanku hanya menerima 15 kursi untuk jurusan biologi. Apakah dengan nilai raporku yang seadanya, aku mampu bersaing dengan pemburu jurusan yang sama se-Nusantara. Dilema seketika mengoyak batin dan keyakinanku. Tiba-tiba seorang teman, yang kini tengah bersama berjuang di IPB di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan datang dan duduk di sampingku. Ia tersenyum melihat aku yang terdiam. Dengan sedikit sihir dalam ucapannya saat itu, ia menganjurkanku untuk memilih IPB. Ia mengatakan, IPB memberi 70 tiket kepada calon mahasiswa se-Indonesia untuk jurusan Biologi. Dengan santun ia menjabarkan bahwa jika aku tetap pada pendirianku, itu sama artinya aku hanya membuang tiket. Ia juga mengatakan bukan berarti ia meragukan kemampuanku. Namun, ini masalah keberuntungan. Setidaknya peluang masukku lebih besar di IPB jika dibandingkan universitas pilihanku. Ia juga menjabarkan bahwa yang terpenting saat ini adalah

47
keterampilan. Aku dapat menjadi apapun yang aku mau berbekal ilmu dan keterampilan. Tidak peduli kampus mana yang menularkan ilmunya padaku, namun inti dari semuanya sebenarnya adalah untuk mencerdaskan anak bangsa. Entah mengapa, seketika aku mengiyakan kata-katanya. Tanpa berpikir panjang aku segera mengarahkan pilihanku pada IPB dengan pilihan jurusan Biologi. Akhirnya dilema itu terselesaikan sudah. Aku dan temanku melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Seketika aku tersentak dan sadar bahwa aku baru saja menangkis keyakinan yang telah aku bangun sejak lama. Hanya dalam kurun waktu hitungan menit, temanku berhasil membelokkan pendirianku. Dari situlah aku kembali tersadar, bahwa pertolongan Allah selalu ada bagi hamba-hamba yang meyakini kebesaran-Nya. Aku yakin inilah jawaban atas shalat istikharah yang telah aku lakukan. Allah menjawab kegalauanku lewat sebuah cara yang sangat indah dan mengejutkan. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS. Ath Thalaq: 2-3) Kini, aku telah menjadi salah satu mahasiswa beruntung penghuni kampus hijau Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor dengan berpredikat sebagai mahasiswa penerima Bidik Misi. Apa itu salah? Tentu saja tidak. Apakah aku merasa gengsi dan malu? Tentu saja kutegaskan tidak. Aku hanya menjadi salah satu dari mahasiswa beruntung yang mendapat buah kebaikan negeri ini. Aku hanya salah satu siswa yang kurang beruntung dalam basis ekonomi keluarga, namun diberi kesempatan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Jika dahulu aku menyerah dengan keadaan, mungkin nasibku tak sebaik ini. Aku meyakini bahwa ia yang menyerah pada nasib dan mencari-cari alasan untuk menghentikan

48
perjuangan dalam pencapaian sebuah tujuan adalah orang yang telah siap dinyatakan gagal. Aku tak sebodoh itu untuk menyerahkan sisa umurku diombang-ambing oleh kehampaan yang berkelanjutan di tengah negeri potensial ini. Insya Allah, jalan hidupku masih panjang. Institut Pertanian Bogor, kampus dengan berjuta kebaikan di dalamnya. Kampus yang dinamis dan sangat cocok untuk mengembangkan kreativitas. Kampus yang sangat mendukungku dalam segi pembenahan diri mulai dari segi akademik, segi pergaulan bahkan segi agama. Kampus berbasis pertanian dengan penerapan kemajuan teknologi yang sedang berkembang dinamis pada era globalisasi masa kini. Kampus unggulan yang menyandang titel Institut Pesantren Bogor karena berhasil melahir kan lulusan yang kompeten dalam bidangnya serta berakhlak budi pekerti yang baik. Kampus yang berhasil menyihir kebiasaan hedonisme remaja menjadi pemuda robbani lewat proses penempaan diri yang begitu islami. Jika saja saat itu aku bukan memilih IPB sebagai universitas pilihan, mungkin kisahku tidak seindah ini. Sungguh, Bidik Misi adalah celupan warna Ilahi, pengubah nasib anak negeri. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini, tak akan kuabaikan amanah ini, tak akan kuremehkan karunia ini. Kuyakinkan dalam hati bahwa suatu saat nanti dengan izin Allah, semua dapat aku raih. Indonesia sebagai negara agraris, namun masih mengimpor beras dari negeri tetangga. Indonesia sebagai negara maritim, namun masih mengimpor hasil kekayaan laut dari negeri seberang. Mengapa itu bisa terjadi? Jawabnya karena Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan ahli di bidangnya. Untuk itu, IPB hadir untuk menjawab keluh kesah bangsa saat ini. Ya, melalui dosen-dosen handal dan mumpuni serta sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan para mahasiswa menghadapi kemajuan IPTEK, IPB melalui slogan andalan mencari dan memberi yang terbaik siap melahirkan lulusan berkualitas yang siap menyelesaikan sengketa bangsa ini. Kami, mahasiswa baru angkatan 48, memikul separuh

49
beban ini di pundak kami. Dengan asa di hati, bersama Bidik Misi, kami siap beraksi !

50
Juara Favorit ke-1

Aku dan Bidik Misi Segala Cerita antara Kerinci-Bogor


Yoni Elviandri
Bismillahirrohmanirrohim Kutulis ini bukan untuk mengurai kesedihan. Bukan untuk membasahi retina dengan segala butir air mata yang menyala. Bukan juga untuk mereka-reka hanya sekedar pemanis dalam rangkaian kata. Namun bait-bait kata ini kususun agar tak ada satu kisah yang terlupa. Agar ia tetap menjadi mozaik terindah yang pernah ada, menyertai perjalanan hidup ini menyusuri lembah kehidupan yang terselip antara ruang dan waktu yang terjaga. Benar-benar menjadi sebuah kenangan yang tak pernah bisa dihapus oleh sejarah dan waktu. Sekarang dan kapanpun itu. Karena ini semua cerita kita. Tentang kita, Aku dan Bidik Misi. BIDIK MISI DAN WAKTU Bidik Misi. Jika teringat dua rangkai kata ini ,tentu saja aku harus menyusuri ruang waktu yang telah berputar jauh meninggalkanku ke masa sekarang. Waktu yang kaku bak pendulum besi raksasa yang berayun maju-mundur, maju membawa kita melangkah untuk menyelami tiap lembar demi lembar mozaik yang ada, antara ribuan peristiwa yang telah terjadi di setiap detik dan mundur seperti aliran air yang hendak bermuara. Terkadang ia akan terbelokkan oleh secuil puing yang beterbangan, kadang lagi ia akan tertiup angin sepoi-sepoi yang membawanya dalam keheningan. Entah kini, nanti atau kapanlah itu gangguan kosmis akan menyebabkan aliran anak sungai itu berbalik dari aliran utama menuju ke aliran sebelumnya. Dan ketika hal itu benar-benar telah terjadi maka kita akan menemukan diri kita terbawa ke masa silam.

51
Masa silam. Ya, masa yang telah tergulung-gulung oleh waktu dengan telah melewati ribuan detik yang terjadi dan masa inilah yang sangat kunantikan, karena masa inilah yang mempertemukan aku dengan kedua kata ini, masa ini yang ingin ku ulang kembali agar bisa kurangkai ia menjadi cerita di masa kini. Masa inilah yang membuatku sekarang menjadi ada di masa sekarang,dan karena masa inilah yang membuatku percaya akan mimpi dan pertolongan Allah, bahwa tak pernah ada usaha yang tak membuahkan hasil sedikitpun karena semuanya akan terbayar walau ia tak sepenuhnya seperti apa yang kita inginkan. Namun waktulah yang mempertemukan aku dengan kehidupan, waktulah yang mempertemukan aku dengan Bidik Misi. Karena begitulah skenario Allah jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Andaikan waktu adalah suatu lingkaran yang mengitari dirinya sendiri, maka seperti itulah dunia mengulang dirinya sendiri,setepat-tepatnya dan selama lamanya. Waktu dan Bidik Misi, dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Mungkin tidak bagi orang kebanyakan, namun iya bagiku. Karena aku yakin semua hal di dunia telah diciptakan berpasangan dan ini adalah sebuah pasangan yang pas untuk memulai kehidupan baru. Karena waktu, aku mengenal Bidik Misi. Dan karena Bidik Misi, aku belajar banyak tentang waktu, belajar menunggu, belajar menyampaikan pesan terbaiknya, dan menunggu ia memberikan keajaiban dalam dunia karena waktu itu adalah dimensi yang terlihat. Bidik Misi dan waktu ah bagaikan sebuah serenade yang pas menlantunkan bait tiap bait menyenandungkan syair kehidupan, merangkainya dalam untaian kata.sekali lagi bukan untuk memperindah dan mempermanis kata dan bukan jua untuk memperpanjang cerita namun inilah segelintar kisah penguat makna, karena aku memang cinta dan tak bisa telepas dari keduanya.Bidik Misi dan Waktu. SEBUAH HARAPAN Mari kita kembali ke masa silam,menyelami betapa indahnya kita telah mengarungi kegetirannya.

52
Ketika itu tepat jam 10.30 pagi. Bel sekolah dibunyikan pertanda waktu istirahat telah datang, aku ketika itu memang masih terlihat polos ketika SMA setidaknya aku merasakan sendiri. Hanya berani mengangguk, diam dan tanpa banyak bicara ,setidaknya hal ini juga dikatakan oleh orang lain pada ku. Ketika seluruh isi kelas telah berhamburan menuju surga perut mereka memenuhi tiap kantin dan warung-warung kecil yang ada di sekitar sekolah. Aku masih mematung di sudut kelas. Memang begitulah aku, penuh kemisteriusan kata orang-orang. Ku buka bekal yang kubawa dari rumah, sepotong telor mata sapi dengan sedikit sambal terpampang di atas bulir-bulir nasi yang menyergap minta dimakan.ini memang kebiasaan ku tiap hari membawa bekal dari rumah, hitung-hitung buat penghematan, toh uang jajan bisa untuk di tabungkan, lagian masakan ibuku tetaplah yang paling lezat sedunia apapun itu, walau hanya sepotong telor dadar, ada cinta dan kasihnya yang melekat disana yang menyiratkan sebuah harapan untuk selalu hidup sederhana. Tak jarang ada yang mengejekku karena sudah sebesar ini masih saja membawa bekal dari rumah. Ah, tak peduli aku. Toh mereka juga tidak mengerti bagaimana kondisiku. Ketika sedang dengan enaknya melahap masakan ibu, datanglah teman sekelasku menghampiri sebut saja Adi. Dia mengatakan bahwa aku dipanggil oleh Guru BP sebut saja pak Hamzah. Tentu saja aku kaget ada apakah gerangan? karena beliau terkenal sedikit galak, aku pun memikirkan apa kesalahan yang telah ku perbuat. Sudahlah, kataku. Toh jika tak salah apapun mengapa harus takut pikirku. Aku pun melangkah menyusuri koridor kelas yang di penuhi anak-anak yang sedang bergurau memamerkan tawa menikmati masa muda yang indah.tanpa beban sekali terlihat,terasa bahwa jalan di depan mereka sudah sangat lurus kemana arah yang harus mereka tuju, hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk memantapkan diri berjalan di atasnya, sedangkan aku harus meruncingkan otak setiap hari meyakinkan diri ku bahwa akan ada suatu jalan paling benar yang akan di tunjukkan Allah padaku, tentang kemana aku akan terdampar setelah tamat dari bangku

53
sekolah ini. Ah, elok sekali tawa mereka ingin ku menumpang menyumbang canda, namun kutahu waktuku jauh lebih berharga dari pada itu,ahh kapan ku bisa seperti mereka? biarlah waktu yang akan menjawabnya. Setelah sampai di ruang beliau, dunia seolah terasa berputar. Banyak senyum yang merekah di dalamnya, senyum yang mekar bagai mawar liar dimusim semi. Aku pun semakin bingung ada apa lagi ini. Jarang sekali kulihat beliau tersenyum seperti ini. Selain beliau juga ada wali kelas,beberapa guru dan tentu saja kepala sekolah yang sangat menyayangiku hadir di dalamnya. Sayang? entahlah aku tak dapat membedakan antara rasa sayang dan iba. Bapak hamzah tanpa berlama-lama langsung mengutarakan alasan beliau memanggilku bergetar bibir ini kelu tak dapat berucap. Setelah sekitar 10 menit mendengarkan dan menjawab pertanyaan beliau, sampailah kepada satu titik yang menghubungkan aku dengan dunia luar, yang membuat harapan dan cita-cita ini kian melayang, melalang buana menyusuri tiap ruang yang ada seolah-olah ingin bercerita pada dunia bahwa anak seorang tukang ojek dan penjual lontong ini masih ada dan ia akan menjemput dunia lebih cepat dari apa yang mereka harap, menepis segala keraguan bahwa mimpi besar tak boleh di punya oleh si miskin. Yah, lagi lagi waktu yang telah menjawabnya bahkan terlampau lebih cepat dari apa yang kita harapkan. Setelah menunggu hasil seleksi yang cukup lama, aku dinyatakan diterima untuk melanjutkan perjuangan hidupku di kota hujan. Kota yang sebelumnya tak pernah ku impikan. Diterima di fakultas Pertanian departemen Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor. Dunia terasa sangat indah hari itu, jabat tangan dengan para guru yang tak kalah bahagia karena ada satu diantara muridnya yang berhasil menembus hidup untuk mengadu nasib dan ilmu di pulau jawa. Ku peluk erat mereka bahwa akhirnya doa ku di ijabahkan Tuhan. Bahwa perjuangan mereka untuk memperjuangkan aku untuk mendapat beasiswa agar dapat terus sekolah tak percuma tak dibawa angin lalu yang hanya menyisakan air mata. Terpancar banyak harapan di mata mereka berbinar bak surya di sore

54
hari ketika ia menyemburat senja,memamerkan senyum sumringahnya, bersama sekawanan camar ketika ia hendak menjemput malam. Ada banyak harapan yang tersirat agar selalu ada cahaya penerang malam begitu juga dengan harapan mereka,karena rata-rata lulusan dari sekolah ini hanya segelintir saja yang dapat menimba ilmu di negeri seberang. Karena jika dilihat dari apapun itu secara kualitas dan kuantitas memang sekolah kami kalah dari sekolah tetangga sebelah. Namun secara perjuangan sekolah kami jauh lebih menang. Bagaimana tidak, bangunan bertingkat dua ini sudah sangat rapuh dengan lantai kayu yang menua, besi-besi yang telah karatan bahkan meja yang telah berlubang-lubang pun masih setia hidup bersama kami mengarungi hari. Namun ia tetap berdiri kokoh sekokoh pendirian kami, teguh seteguh mimpi-mimpi kami. Rata-rata siswa di sekolahku adalah anakanak yang secara ekonomi tingkat menengah ke bawah, berbeda sekali dengan sekolah sebelah yang mentereng dengan cat warna birunya. Ah, tidak masalah. Toh ilmu yang kita dapatkan tetap sama, bukan? Namun di tengah euforia itu, aku terdiam sejenak memikirkan bagaimana dengan uang kuliah nanti. Perguruan tinggi sekelas IPB tidaklah murah. Sangat tidak mungkin jika berharap dari orang tuaku, tak ingin aku menambah beban mereka. Harapan itupun mulai sedikit memudar, karena jauh hari sebelum mendaftar ibuku telah mewanti-wanti bahwa tak ada uang untuk kuliah. Hanya tekadku saja yang terlampau kuat mengantarkanku pada mimpi-mimpiku untuk kuliah di Jawa terlepas dimanapun itu. Untuk formulir saja yang seharga dua ratus ribu rupiah aku harus membongkar semua tabungan ku selama SMA. Oh tuhan secepat inikah waktu mengambil bahagia ini kembali? Lho ko jadi bingung gitu? semangatlah calon anak Bogor. kata pak Hamzah dengan sedikit tawanya. Beliau ternyata melihat bingung yang kurasa. Hmm mau nanya pak, biayanya berapa ya? Untuk daftar ulang sama spp tiap semester?. Dengan sedikit tergagap-gagap aku memberanikan diri bertanya pada beliau.

55
Oh iya, bapak lupa menyampaikan,kamu mendapatkan beasiswa Bidik Misi jadi biaya kuliah kamu nol rupiah, dari pendaftaran awal sama uang spp tiap bulan, selama 8 semester. jawab pak Hamzah.aku masih ingat betul rangkaian kata yang di ucapkan pak Hamzah ini Selain itu kamu juga bakal mendapat uang bulanan sebesar enam ratus ribu rupiah tiap bulannya . Masih ingin tidak semangat? lanjut pak Hamzah. Aku hanya terdiam, tak tahu entah apa lagi yang harus ku katakana. Aku tak tahu ekspresi saat itu apakah sedang sedih, tertawa atau entah apa. Yang aku tahu dunia sedang sangat baik menyambut kedatanganku. Sebegitu cepat pertolongan Allah menghampiri, dan begitu cepat waktu menjawab harapanku kembali. Dunia semakin indah saja. Tak lupa aku sujud syukur akan semua yang terjadi hari ini akan semua hal yang tak terduga, pertolongan Allah datang dari sebuah beasiswa yang bernama Bidik Misi yang tak pernah kusangka. Ternyata ia yang akan bersamaku dalam mengarungi petualangan mimpi ini selanjutnya. Harapan itu kini menjadi nyata tak hanya menjadi bingkai kisah pelipur duka. dengan semangat yang membara kutekadkan diri menjelajah dunia. PENGEMBARAAN KERINCI-BOGOR Dari sini kujelajah dunia hingga sampai di batas cakrawala Kususun rangkaian kata itu sembari menengok rumah mungil tempat kediamanku ini. Aku tatap ia dalam-dalam, rumah yang hanya berukuran 3x9 m dengan satu kamar tidur ini, sebagai saksi bisu kisah perjalananku selama ini. Hari-hari kujalani di sini bersama orangtua dan adikku. Rumah di pinggiran jalan raya yang berdiri di antara rumah-rumah megah di sebelahnya. Tempat keseharianku mengukir mimpimimpi indah di tiap dindingnya yang tak terlalu kuat, dinding bata tanpa semen dan cat inilah yang sering kali aku gunakan untuk menempel keping-keping kertas yang berisi semangat dan harapanku. Waktu berlalu tanpa mau menunggu hari. Setiap detik pun telah ku habiskan di desa pinggiran sumatera ini. Lembar

56
demi lembar daun telah berguguran seiring berganti senja. Hanya tinggal memupuk kenangan dan peristiwa yang telah terjadi tiap tarikan nafas yang ada. Hingga 21 juni 2010 pun tiba. Aku harus meninggalkan rumah kecil tercinta ini, memulai mengarungi samudera kehidupan dengan biduk layar seadanya. Setelah meyakinkan kedua orangtua, keluarga dan tentu saja meyakinkan diriku sendiri, hari itu untuk pertama kalinya aku akan menginjakkan langkah ke luar Sumatera. Meninggalkan kerinci tempat kelahiran dan tumbuhku. Bukan untuk waktu yang cepat namun dalam rentang waktu entah kapan lagi aku akan kembali. Ku masuki bus yang akan mengantarkanku ke Jakarta. Tak lupa ku perhatikan sekelilingku dengan seksama, rumah mungil itu, orang-orang yang mengantarkan perjalananku, semua melambai tangan menderu biru bagai angin yang kesepian karena telah di tinggal hujan, menitikkan bulir kristal yang tertanam ke bumi, semerbak harapan-harapan pun kembali menyeruak di dalam dada. Kutatap kembali mata mereka ,seperti para guruku banyak sekali secercah harapan yang kulihat disana. Ya aku pergi dengan membawa sejuta mimpi mimpiku dan juga berjuta mimpi mereka yang membuatku tetap dapat bermimpi hari ini. Gunung Kerinci tak luput melambaikan tangan dari puncaknya yang menjulang, mengintai perjalanan ku melepas dingin pagi yang selalu di pancarkannya ketika fajar menyingsing, aroma padang teh di sekeliling nya mengikutiku bersama samar aungan harimau sumatera yang telah hampir tiada. Semua seolah hampir tak percaya, anak pegunungan yang sering dicap tukang mimpi ini akhirnya akan memulai jejak baru menyusuri ruang waktu meninggalkan lembah bukit barisan yang selama ini sebagai tempat berdiam diri menuju sebuah kota yang tak pernah terbayang sebelumnya. Pengembaraan dimulai, menyusuri tiap jengkal tanah bersama deru mesin ini, menyusuri tiap aspal yang kini sudah mulai berbeda dengan tempatku. Tak ada lagi jalan berlubang dengan genangan air di dalamnya. kini kami sampai di jalan raya Sarolangun kabupaten di sebelahku. Aku hanya ditemani oleh seorang kakek dan keponakan ku, kakek ku memang

57
sosok luar biasa, mungkin karena terlalu kasihan jika melihat aku berangkat sendiri, maka ia pun menemaniku dalam perjalanan sampai di Jakarta. Cukup sedih memang ketika teman-teman lain diantar oleh kedua orang tua mereka, aku hanya ditemani seorang kakek dan keponakan. Tapi tak apa, kelak suatu hari kan kubawa mereka menuju tempat yang sama hendak ku capai ini. Malam pun menjelang, tak terasa sepuluh jam perjalanan telah dilalui di dalam bus. Cukup capek rasanya, namun ini adalah suatu rangkaian pengembaraan yang harus dinikmati tentunya. Hingga sampai jam 21.20 kami sampai di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Mulailah para pengamen yang menamakan dirinya para musisi jalanan beraksi menaiki bus kami untuk menyumbangkan suara emas nya, aku masih tertidur ketika itu, jalanan yang kami lalui cukup sepi untuk sebuah kota di pinggiran hutan. Tak ada lampu jalanan yang menghiasi yang ada hanyalah pohon-pohon besar dan pohon sawit di sisi jalan, hanya bercahayakan temaram bulan yang cukup indah malam itu. Hingga tak lama kemudian terdengar lah suara jeritan dari kursi paling belakang bus, hentak saja sang sopir langsung menghentikan bus yang tengah melaju, namun ternyata itu bukan pilihan yang tepat, karena dari pintu paling belakang masuklah kira-kira sepuluh pria yang memakai penutup muka sehingga wajahnya sama sekali tak kelihatan. Menyatu bersama gelap. Gadis di kursi paling belakang itu ternyata tengah di todong oleh seorang pengamen yang bertubuh kekar. Sontak seisi bus kaget dengan jeritan itu, kepanikan pun tak dapat dihindari, perampok yang ternyata menyamar sebagai pengamen itu langsung menjarahi semua barang-barang yang ada pada penumpang, termasuk tas ku yang berisi dokumendokumen penting untuk pendaftaran ulang nanti termasuk juga surat keterangan penerima Bidik Misi ada disana. Aku tak kuasa melawan, karena memang akan kalah dari segi apapun, baik postur maupun kekuatan, para penumpang lain juga sama mereka hanya dapat menahan rasa takut dan kesal,para perampok itu memakai sebilah pisah masing-masing nya untuk menyergap kami. Seumur hidup baru kali ini aku

58
merasakan bagaimana rasanya di todong pisau dengan perampok yang asli, bukan rekaan yang biasa hanya kulihat di TV. Bus kami rata-rata memang di isi oleh para gadis muda, ibu-ibu serta bapak-bapak yang telah lanjut usia seumuran dengan kakekku, tujuan mereka rata-rata untuk berdagang di Jakarta. Sehingga jika mengadakan perlawanan pun percuma, hanya menyumbang nyawa pada mereka. Daerah ini memang terkenal rawan karena jalur panjang yang jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk. Aku hanya bisa pasrah, bagaimana pula nasibku selanjutnya? Apakah pihak IPB akan tetap menerima ku sebagai mahasiswa barunya dan juga sebagai penerima Bidik Misi tanpa berkasberkas pendukung lainnya? Apakah mereka bisa percaya dengan cerita yang akan ku ceritakan nanti sebagai bukti kehilangan? Entahlah, yang jelas pada saat itu aku benarbenar putus asa. Namun aku tak ingin menangis, karena tak ingin kakek ku tahu bahwa tas yang dibawa rampok itu berisi dokumen semuanya. Ku pasrahkan semuanya pada Allah jika memang aku telah ditakdirkan untuk kuliah di IPB dengan Bidik Misi, maka aku yakin akan ada cara pertolongan Allah dari segala arah. Malam semakin merangkak pelan, sedangkan bulan sabit masih terlihat indah melengkung di kaki langit, memedarkan cahaya terpantul antara bias air di muka tanah. Ketika para kawanan srigala malam rampok itu satu persatu keluar dari bus kami, dari arah yang sama ternyata ada dua bus yang sedang bergerak, spontan saja sopir kami berteriak dalam dialek Kerinci desaku Rampok, rampok, tuluah kamai, golo-golo bareang diamik. Tuluah dengan kencangnya. Yang dalam bahasa Indonesia berarti Rampok, rampok, tolong kami, semua barang diambil. Tolong . Para penumpang lain pun ikut berteriak agar bus-bus itu berhenti. Kawanan rampok itu kelabakan karena bus itu semakin mendekat, para penumpang pun memberanikan diri turun dari bus mengejar kawanan maling, karena percaya akan ada pertolongan bus dari belakang itu, benar saja karena bawaan yang terlalu berat sebagian rampok itu melepaskan hasil

59
rampokan mereka agar bisa berlari lebih cepat dan langsung berlari ke tengah padang sawit yang sangat luas itu. Para penumpang pun, langsung menyergap barang-barang itu berharap ada barang mereka disana. Dan nasib baik ternyata belum ingin menghindar dariku, tas ku yang berisi dokumen Bidik Misi itu salah satu yang terlempar di jalanan. Kembali ku ucapkan terimakasih pada Allah atas pertolongan yang tak henti ini, namun sayang tas kakek ku yang juga dibawa rampok tak ditinggalkannya. Aku hanya dapat menghela dada, atas kejadian yang barusan aku alami tak pernah terduga sebelumnya. Allah masih membuka jalan untuk ku kuliah di IPB dengan beasiswa Bidik Misi. Setelah kejadian itu, ketiga bus pun jalan beriringan untuk menghindari hal seperti ini. Kewaspadaan mutlaklah harus dimiliki setiap orang yang ingin bepergian melintasi kawasan ini. Seperti angin badai di padang sahara, kita tak melihatnya namun kita dapat sedikit merasakannya. Merasakan segelintir peluh yang bercucur hangat saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun atau aungan keras gelombang di samudera lepas. Tak dapat mencegahnya mengalir seperti aliran sungai yang hendak bermuara,namun jua tak dapat membuatnya tenang tertampung dalam telaga. Tak terasa ratusan puluhan kilometer tanah telah terlewati, mengarungi selat sunda yang menyisakan kehangatan, tertampung di dermaga baru pemisah pulau yang kita diami. Setelah sampai di pelabuhan merak,sebelum melanjutkan kembali perjalanan kami menuju Cililitan. Bus berhenti untuk sejenak melemaskan otot-otot pinggang yang telah menegang karena duduk berjam-jam dalam bus. Aku memutuskan untuk ke mushola yang terletak pas di samping rumah makan disana. Ku taruh tas di dalam mushola sedangkan aku keluar untuk mengambil wudlu.setelah shalat .Entah karena memang sedang sangat mengantuk saat itu setengah kesadaran ku belum pulih benar, mata terasa ada yang menyangkut disana berat sekali untuk membuatnya tetap terbuka. Aku langsung mengambil tas yang ada didepanku shalat dan bergegas

60
menuju Bus kami karena pak sopir telah membunyikan klakson pertanda bus sebentar lagi akan berangkat. Ketika di dalam bus ketika perjalanan mulai memasuki arah jakarta, aku tersadar ternyata tas yang kubawa ini bukanlah tas ranselku. Isi-isinya berbeda, namun bentuk tas nya hampir sama. Kuperiksa lagi dokumen-dokumen penting yang ada di dalamnya, dan benar ternyata ia tak ada, surat keterangan Bidik Misi sudah benar-benar raib. Kembali rasa cemas ini datang. Kemanakah semua lembaran-lembaran kertas itu? Apakah telah diambil orang? Ah, tapi apakah ada orang yang menginginkan itu? Apa kepentingan mereka? Ia sama sekali tak bisa diuangkan. Ku periksa tas satu lagi yang berisi khusus dokumen untuk mendaftar sabagai mahasiswa baru dan ternyata masih ada. Memang setelah kejadian tempo hari aku sengaja memisahkan kedua dokumen ini agar jika pun terjadi lagi iya tidak hilang berbarengan. Dan sekarang kejadian itu terulang lagi dengan skenario dan jalan cerita yang berbeda pula ternyata. Ya Allah bingung ini kembali menyergap kemana harus kucari Bidik Misiku? Jika pun nanti setelah registrasi aku menjadi mahasiswa IPB, bagaimana aku harus membiayai semuanya? Aku kembali memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi aku tidak akan bisa kuliah tanpa bidik misi. Namun lagi- lagi aku ingat bahwa pertolongan Allah akan datang dari segala arah yang yang tak terduga. Dan ternyata benar saja, selang beberapa menit ketika hendak keluar dari bus, seorang bapak-bapak menyapaku. Dek, kayaknya tas kita tertukar deh. Coba kamu lihat ini, isinya punya kamu bukan? Bapak-bapak itu menyodorkan tas nya padaku. Langsung saja ku sambar bak kilat yang ingin segera menyambar langit tanapa aba-aba sedikitpun. Sementara itu orang-orang mulai berdesakan untuk turun aku memilih untuk menepi dan memeriksa barang dari tas bapak tadi. Oh iya pak, ini tas saya. Dokumen-dokumen yang saya cari ada di sini. Kok ada sama bapak ya? Aku menyambutnya dengan girang.

61
Mungkin kemarin salah bapak dek, ketika di mushola buru-buru mau keluar jadi salah ambil tas, ini sama kan tas nya? Balas sang bapak. Terlihat kedua tas kami memang hampir sama. Iya pak, terimakasih ya? Untung sekali sudah ketemu pak, saya bingung mencarinya kemarin kok bisa sampai hilang Balasku lagi. Iya, sama-sama. Selamat menjadi mahasiswa ya dek. katanya. (percakapan ini dalam bahasa Kerinci ) Setelah berjabat tangan, bapak itu pun turun lebih dahulu dari bus sedangkan aku masih di dalam kembali memikirkan, sungguh kuasa Allah sangat lah besar. Sudah dua kali hampir dokumen bidik misi ini hilang, namun ia selalu kembali dalam waktu yang tepat. Setelah sampai di tempat pemberhentian di Cililitan, perjalanan dilanjutkan ke rumah saudara yang ada di Bekasi lalu ke Bogor bersama kakek dan keponakan serta paman yang telah sebelumnya menjemput kami di Cililitan. Allah memang memberikan kesempatan aku untuk menunaikan segala mimpi dan harapan bersama beasiswa Bidik Misi. Entahlah apakah Allah sedang menguji kesabaranku, atau Allah sengaja memberi pesan agar menjaga amanah ini dengan baik. Karena Bidik Misi ini adalah amanah dari jutaan rakyat indonesia yang mungkin tak mendapatkan kesempatan seperti ku, aku mewakili mereka sebagai anak muda yang di beri kepercayaan dan menangggung amanah demi perbaikan bangsa nantinya. Sungguh indah sekali skenario Allah yang telah dijalankan nya. Ia mengalir bak banjir yang sangat deras. Kita tak kuasa mencegahnya.kita hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai yang ada. Menjamah bumi,menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya.kita hanyalah setitik kecil tak ada apa-apanya dihadapan-Nya. Dalam sekejap ia akan merengkuhnya kembali dalam kelembutan. Begitulah skenario Allah ia ditakdirkan jadi makna paling sederhana yang menyimpan kekuasaan besar. Aku pun semakin sadar bahwa disetiap kesulitan pasti ada kemudahan. Allah pun pernah mengatakan hal itu dalam wahyu nya di Alquran.

62
Bidik Misi. Banyak hal yang telah kulalui bersama mu, banyak cerita yang belum tersampaikan selama pengembaraan Kerinci hingga mencapai Bogor ini. Bersyukur tak henti-hentinya kulakukan karena menjadi salah satu dari ribuan mahasiswa lain yang menerima mu. Sekarang aku melangkah dengan pasti. Aku harus berprestasi melebihi orang-orang kebanyakan. Dengan menyandang predikat mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi aku tidak akan mempermalukanmu. Aku akan melalang buana lagi melakukan pengembaraan yang tak henti. Menunjukkan pada dunia bahwa kami orang-orang kecil juga akan bisa berkarya melebihi manusia rata-rata.bersamamu Bidik Misi. Ya seperti yang pernah ku ucapkan: Dari sini ku jelajah dunia hingga sampai di batas cakrawala *** Di ujung Babakan Lio, Dramaga Bogor 2 desember 2011

63
Juara Favorit ke-2

Sebuah Tinta Perjuangan dalam Jembatan Impian


Rudi Hartomo
Salam semangat ! Diriku adalah anak terakhir dari 4 bersaudara. Bersyukur dilahirkan dalam keluarga yang harmonis dengan kesederhanaan. Dilahirkan di sebuah rumah yang berukuran 54 m2 yang menjadi tempat diriku dan keluarga berteduh dan beristirahat melepas penat. Meski ketika hujan deras tiba, airair berkah memaksa menyelinap masuk melalui atap rumahku. Namun rumahku tetap menjadi surgaku di dunia. Di sana kurasakan ketenangan hati dan jiwa. Istana itulah yang selalu menyediakan makanan favoritku, yang hampir setiap hari aku nikmati bersama keluarga. Makanan yang memiliki cita rasa yang tinggi, karena dimasak oleh orang yang luar biasa dengan keikhlasannya. Sayur bayam dan olahan kedelai (tempe dan tahu) itulah makanan yang sering dimasak Ibu yang menjadi favoritku. Dilahirkan oleh orang yang sangat luar biasa. Ayah adalah pendidik yang tegas namun tidak keras serta komitmen terhadap tugas utama mencari nafkah untuk orang yang beliau sayangi. Ibu yang tiada henti mencurahkan kasih sayangnya untuk anak-anaknya. Mereka adalah orang yang sangat berpengaruh dalam hidupku, kebahagiaannya adalah kebahagiaanku pula. Oleh karena itu, impian terbesar yang utama dalam hidupku mewujudkan kebahagiaan mereka. Saat ini diriku melanjutkan studi di sebuah Fakultas Matematika dan IPA, Institut Pertanian Bogor. Salah satu keajaiban yang sudah lama diimpikan. Meskipun impian ini mustahil diwujudkan pada saat itu, karena aku ketahui biaya kuliah sangat mahal. Kondisi ini tidak berimbang dengan pendapatan keluargaku yang hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Tetapi kondisi ini tidak membuatku

64
pesimis, tantangan ini akan menjadi pembakar semangat untuk mewujudkan impian-impianku. Pasti Allah mempunyai jalan yang terbaik bagi hamba-Nya yang semangat berusaha. Studiku di masa putih abu-abu akan segera berakhir, aku harus berfikir masa depan dan mewujudkan impian-impian yang telah ku tanam. Pendaftaran mahasiswa baru pun dibuka, sistem baru dalam seleksi tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Ini merupakan peluang yang sangat besar untuk mewujudkan impianku karena jalur penerimaan ini lebih mudah dari jalur seleksi yang lainnya. Jalur itu adalah SNMPTN Undangan. Berdasarkan informasi yang didapatkan ada biaya untuk bisa mendaftar, setelah dihitung ternyata tabungan yang telah lama ku kumpulkan belum cukup untuk mendaftar. Tidak ingin membebankan orang tua, aku berusaha mencarinya sendiri dengan menyambi jualan roti di sekolah ketika waktu luang. Saat bel istirahat berbunyi ...tet...tet...tet..., tiba-tiba sosok guru yang biasa dekat denganku memanggil dan bergegas diriku menemuinya. Diriku bertanya-tanya dalam hati Apakah ada yang salah dengan diriku? Atau nilai ujianku yang kurang baik? Atau berjualan di sekolah melanggar peraturan? banyak pertanyaan muncul dipikiranku. Namun, Allah menunjukkan kemudahan bagiku. Beliau menyampaikan informasi yang sangat membuat hatiku tenang, ternyata aku bisa mendaftar dengan jalur beasiswa. Sangat bersyukur atas kemudahan yang telah diberikan-Nya. Beliau juga siap membantu untuk mencari informasi yang lebih dalam tentang beasiswa. Sungguh sosok guru yang luar biasa, dapat menyempatkan waktu saat aktivitasnya yang sangat banyak. Aku pun berusaha mencari informasi tersebut bersama temanteman seperjuangan yang mendukungku sepenuhnya. Diriku mendapatkan banyak informasi baik dari guru, teman, serta kakak kelas yang telah mendapatkan beasiswa ini. Ternyata beasiswa ini sangat luar biasa selain meberikan biaya kuliah juga memberikan uang saku untuk kebutuhan sehari-hari. Lagi-lagi tidak ingin membebankan orang tua. Diriku harus berjuang untuk melengkapi persyaratan beasiswa tersebut. Karena hampir seluruh persyaratan belum ku miliki.

65
Meskipun harus keluar masuk sekolah, karena untuk mendapatkan dokumen itupun ada syarat yang harus ku lengkapi. Sungguh perjuangan yang luar biasa, namun tidak ku anggap hal ini sebagai beban tetapi sebagai jalan menuju keberhasilan. Pernah dilarang untuk keluar sekolah tetapi atas bantuan guru diriku dapat diizinkan keluar. Ketika pendaftaran dibuka diriku harus memilih dua jurusan dalam satu universitas. Ketika yakin dengan pilihan yang telah ku ambil, orangtuaku kurang setuju dengan menyarankan untuk memilih universitas yang terdekat. Sedangkan umiversitas yang ku pilih harus menyebrangi pulau sebuah tempat yang sangat jauh dari istanaku. Dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit, antara orang-orang yang ku cintai atau mengejar impianku. Terjadi perdebatan yang sangat keras dalam hatiku Di satu sisi aku ingin bersamasama orang-orang yang ku cintai, di sisi lain impian ku sudah ingin berbuah. Setelah hati dan pikiranku mencapai kesepakatan, ku bulatkan tekad untuk memilih institut yang jago pertanian dan berusaha meyakinkan pilihanku kepada orangtua. Aku memilih institut ini, karena kondisi pertanian daerahku yang belum termanfaatkan secara optimal, serta pertanian Indonesia yang kurang memanfaatkan teknologi pada umumnya. Padahal dengan memanfaatkan teknologi informasi dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas yang dihasilkan. Inilah yang menjadi latarbelakang mengapa diriku memilih Ilmu Komputer, Institut Pertanian Bogor. Hampir tiga tahun masa putih abu-abu terlewati, perjuangan telah ku lakukan untuk menanam impian-impian itu, kini tiba saaatnya menunngu masa memetik buahnya. Malam itu merupakan malam yang sangat menegangkan yaitu pengumuman SNMPTN Undangan. Setelah selesai Sholat Isya, memberanikan diri untuk melihat pengumuman itu, ketika itu teman-teman ku bergembira dan kecewa yang telah melihat lebih dulu. Aku di terima di Institut ini, Ya institut inpianku, sungguh nikmat yang sangat luar biasa. Wajah bahagia dan khawatir pun jelas terpancar dari wajah orangtuaku. Bahagia dengan sejarah yang akan terukir namun

66
rasa khawatir dengan biaya karena mereka tidak memiliki uang yang cukup. Menjelaskan tentang keputusan yang telah ku ambil untuk menenangkan hati mereka. Masih ada dua pengumuman lagi yang akan menentukan keberadaaanku di Institut yang berlandaskan pertanian ini. Pengumuman basiswa ini dan ujian nasional, pengumuman yang tidak kalah pentingnya. Setelah beberapa minggu berselang pengumuman ujian nasional tiba. Aku pun lulus dengan nilai yang memuaskan. Perjuangan sesungguhnya baru di mulai ketika aku harus berangkat ke IPB untuk registrasi, ketika itu Ayah menderita sakit yang cukup serius, sebuah keadaan yang seharusnya diriku membutukkan semangat yang lebih. Namun aku berusaha menyemangati diriku sendiri, aku harus bisa membuat orangtuaku bahagia. Dengan sisa tabungan yang telah lama ku kumpulkan sejak SMA dan hasil berjualan, aku berangkat bersama teman-teman seperjuangan yang diterima pula di IPB dengan keyakinan penuh. Membulatkan tekad untuk berangkat, diriku hanya meminta doa restu dari mereka. Kami berangkat dengan hati yang bersemangat untuk memulai sejarah baru. Seperti mimpi yang tidak ingin terbangunkan hati ini berucap ketika sampai di depan gerbang utama IPB. Namun inilah kenyataan yang sedang kualami. Ya ini pencapaian yan g sungguh luar biasa atas semangat yang tak sia-sia. Impian yang telah ku bangun sejak lama dapat terwujudkan. Kami pun bertemu dengan kakak kelas di IPB yang bersedia membantu selama registrasi. Kami diantar ke penginapan yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 3 hari. Waktu menunjuk pukul delapan, diriku bergegas untuk menuju Graha Widya Wisuda (Grawida) sebuah gedung yang sangat megah tempat diriku registrasi. Aku melihat kanekaragaman suku, bahasa, dan wajah yang nampak jelas terlihat dari gaya mereka tunjukkan.Seperti dalam sebuah seni pertunjukan dunia, dengan keahlian yang unik. Sungguh pemandangan luar biasa yang belum pernah ku temui sebelumnya. Proses registrasi di mulai, melewati tahap demi tahap yang panjang mulai dari verifikasi berkas hingga

67
wawancara. Terdapat perlakuan khusus bagi diriku dan pendaftar beasiswa yaitu wawancara beasiswa. Kami harus bersabar menunggu pengumuman beasiswa itu. Sampai tiba pengumuman kami tetap sabar menunggu. Kami harus berbesar hati jika diantara kami ada yang tidak diterima. Karena jumlah pendaftar yang mencapai lebih dari 800 mahasiswa sedangkan kuota beasiswa hanya 500 mahasiswa. Saat-saat yang menegangkan dimulai, awalnya kami mendapat pengarahan kemudian satu demi satu kami maju untuk mengambil selembar kertas yang menentukan kami diterima atau tidak. Tiba saat diriku maju, ketika itu panitia berusaha menenagkan hatiku agar bersabar karena masih ada jalan yang lain. Padahal di kertas itu tidak ada kata atau tanda yang menerangkan bahwa diriku diterima atau tidak. Terdiam dalam gedung Grawida diriku pun bertanya dalam hati mungkinkah ini akhir perjuanganku? Tidak tahu apa yang harus ku lakukan selanjutnya, air pun hampir keluar dari mataku namun aku coba menahannya. Ketika kulihat sekelilingku tawa dan tangis terlihat di wajah mereka, begitu pula dengan teman seperjuangan yang mendaftar beasiswa. Air matanya sudah jatuh di pipi dan bajunya, ku tahu air mata itu bukan air mata kebahgiaan melainkan kekecewaan. Ketika kulihat kertasnya sedikit berbeda denganku memang benar ia tidak diterima. Berusaha menenangkan hatinya, namun Aku pun bingung mengapa ada perbedaan dengan kertas kami, segera berlari menuju ruang panitia menanyakan tentang kertas yang kumiliki. Memang benar ada kekurangan dalam kertasku. Panitia belum menandai diriku diterima atau tidak. Hatiku berbisik Apakah diriku belum terdaftar dalam beasiswa ini. Padahal ketika mendaftar semua prosedur telah ku lakukan. Panitia meminta ku menunggu karena untuk mencarinya dibutuhkan waktu yang cukup lama. Beliau memperbolehkan untuk pulang dulu dan akan dihubungi nanti jika dokumen sudah ditemukan. Diriku memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat karena saat itu sudah waktunya sholat Dzuhur. Dalam sholatku aku berdoa agar Allah mempermudah

68
perjalananku dan semoga diriku diterima beasiswa ini. Diriku makan bersama teman-teman seperjuangan, menceritakan kisah-kisah yang terjadi hari itu. Mereka memberi semangat ketika mendengar kisah yang telah kualami, namun hatiku belum tenang karena belum ada sms ataupun panggilan yang masuk Apakah memang benar diriku tidak terdaftar h ati ini gelisah. Diriku memutuskan kembali ke Grawida setelah sholat Ashar untuk memastikan. Bergegas dengan berlari kecil berharap panitia masih menjaga Grawida. Sampai disana diriku hanya menemui sekumpulan orang yang sedang merapihkan kursi-kursi. Detak jantungku semakin cepat , keringat mengalir sampai telapak kaki Apakah pendaftaran sudah ditutup dan diriku tidak diterima? Memberanikan diri untuk masuk dan bertanya. Salah seorang menginformasikan bahwa panitia sudah pindah ke Rektorat. Diriku pun bergegas dengan menambah kecepatan lariku menuju Gedung Andi Hakim Nasoetion, sebuah gedung bersejarah yang pertama kali kutemui ketika diriku menapakkan kaki di Institut ini. Sampai disana, diriku bertanya tentang ruang panitia kepada petugas yang sedang berdiri setia menjaga gedung itu. Ketika bertemu dengan salah satu panitia aku menyampaikan maksud kedatanganku, beliau melontarkan pertanyaan bagaimana jika diriku tidak diterima. Hatiku terkejut Bagaimana jika memang benar diriku tidak diterima? Bagaimana dengan impian-impianku? Bagaimana dengan hati orangtua dan keluarga mendengar hal itu? Tidak dapat melukiskan jika hal itu terjadi. Belum sempat diriku menjawab kami sudah sampai ditempat pencarian kertas itu. Diriku sangat berdebar menunggu kertas itu. Panitia-panitia yang lain ikut mencari kertas itu, ketika kertas itu ditemukan mereka mengucapkan selamat kepada diriku. Salah satu panitia memberi tahu bahwa ketika namaku di panggil diriku sedang berada di penginapan. Aku diterima beasiswa ini beasiswa Bidik Misi. Ya beasiswa yang telah memberikan banyak pelajaran berharga tentang arti dari sebuah tinta perjuangan. Rasa syukur aku ucapkan atas nikmat yang telah Allah berikan kepadaku. Teman-teman seperjuanganku tak lupa mengucapkan selamat kepada diriku.

69
Aku pulang kerumah dengan rasa bahagia, keluarga pun menyambut dengan kehangatan, rasa tenang dalam wajah orangtuaku mendengar kabar bahagia ini. Sebuah sejarah baru akan terukir, karena akan ada anaknya yang akan menjadi seorang sarjana, serta beasiswa yang akan menjadi jembatan penghubung impian -impianku. Rasa syukur selalu ku panjatkan kepada Allah atas nikmat dan keajaiban yang telah Dia berikan. Sebuah impian yang telah terukir dari perjuangan yang luar biasa.

70
Juara Favorit ke-3

Sepenggal kenangan aku dan Bidik Misi


Prawito Hudoro

Masa Penantian Institut Pertanian Bogor, kampus ini adalah kampus pertama yang aku jadikan tujuan hidup ku menempuh jenjang perguruan tinggi ketika aku kelas XII SMA dulu. Mempersiapkan foto, surat-surat, dan berkas-berkas lain telah aku lakukan waktu itu untuk mengikuti seleksi undangan masuk ke IPB. Entah berapa bulan waktu itu aku menunggu, berharap dan berdoa untuk bisa mas uk ke salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Waktu itu memang terdengar isu-isu bahwa IPB masuk ke urutan 5 perguruan tinggi yang diakui kualitasnya di kancah Nasional. Berita seperti itu membuat ku semakin berdebar-debar penuh harap untuk bisa masuk IPB. Waktu itu ILKOM adalah jurusan pertama yang menjadi pilihan dalam memilih jalur USMI tersebut. Sempat terbesit dalam hati keyakinan akan diterima di jurusan ILKOM IPB. Bagaimana tidak, waktu itu guru BK ku selalu memberikan semangat yang lebih pada ku. Karena memang waktu itu aku sering mengikuti perlombaan-perlombaan computer di tingkat SMA. Olimpiade Sains Nasional pun pernah aku ikuti waktu itu, berlaga ditingkat provinsi, masuk perempat final lomba programming di ITS menambah rasa bangga dan percaya diri untuk masuk ILKOM IPB. Maka tak luntur waktu itu semangat ku untuk terus berdoa agar bisa masuk IPB dengan jurusan yang ku harapkan tentunya. Menanti sesuatu memang suatu yang membosankan bagi beberapa orang, termasuk aku waktu itu. Bagai mana tidak, lama sekali aku menunggu hasil seleksi undangan yang dilaksanakan oleh IPB. Namun tak kunjung nampak di papan

71
BK. Waktu itu memang setiap pengumuman yang berhubungan dengan perguruan tinggi di pajang di BK. 15 orang bernasib sama seperti ku juga tengah menunggu pengumuman USMI ini. Entah hari apa waktu itu ketika pelajaran bahasa Indonesia ibu Yuni guru BK ku datang ke kelas untuk memberikan informasi bahwa seleksi masuk IPB telah datang dan akan diumumkan selepas jam istirahat. Ketika bel istirahat berbunyi, dengan hati was-was aku dan teman ku Rani berjalan menuju kantor BK. Rasa takut dan penasaran bergabung menjadi satu. Terkadang terlintas dipikiran ku untuk tidak usah saja melihat pengumuman itu. Jujur takut sekali waktu itu namun apa boleh buat dilihat ataupun tidak pengumuman tersebut tidak akan berubah.Deg-degan ya, To?, teman ku Rani membuyarkan lamunan ku waktu itu .Iya Ran, deg-degan banget nih, nada ku mulai melemas menjawab pertanyaan dia. Tak banyak perbincangan waktu itu, hanya fokus berjalan dan sedikit berdoa dalam hati agar aku bisa diterima di IPB. Aku melihat ke papan pengumuman belum nampak ada tempelan yang baru disana, sempat bingung dimana sebenarnya pengumuman itu berada. Namun ketika itu aku melihat teman-teman dari kelas yang lain tengah berbaris di ruang konseling. Tanpa komando dan pikir panjang aku sudah tahu bahwa pengumuman berada di dalam. Ibu Yuni guru BK ku seperti biasa datang menyapa kami dengan ramah. Kemudian kami ber 15 dituntunnya masuk ke ruang konseling. Suasana konseling nampak berbeda saat itu. Ada yang tertawa, ada yang terdiam, ada pula yang biasa saja menunggu pengumuman USMI tersebut. Aku termasuk golongan yang terdiam waktu itu. Sempat heran juga waktu itu, bisa-bisanya aku diam membisu padahal seantero SMA pun tahu aku ni orangnya jarang banget terlihat pendiam. Ibu Yuni mulai nampak berjalan menuju kearah kami yang tengah duduk di ruang konseling. Tangan kanannya yang tengah memegang sebuah berkas membuat ku menjadi tambah waswas serasa dalam mimpi bahwa ternyata pengumuman yang ku tunggu-tunggu selama ini sudah di depan mata dan siap untuk diumumkan siang itu.

72
Harapan yang besar ku taruh di USMI ini, tawaran untuk pergi kuliah ke Turki waktu itu aku tolak, dengan salah satu alasannya adalah karena aku memang masih ingin sekolah di dalam negeri khususnya di IPB. Lama sekali terasa prosesi pengumuman USMI waktu itu. Mungkin kalau bisa aku gambarkan layaknya seorang ayah yang tengah menanti sang buah hatinya lahir. Tak jauh beda perasaan ku waktu itu. Waswas, gelisah, takut dan harap bercampur menjadi satu. Sampai-sampai apa yang dikatakan oleh guru BK ku banyak yang tak ku gubris. Ah, mana bisa waktu kaya gini aku tenang dalam hati aku menggumam seolah-olah menolak dengan mentah-mentah saran yang diberikan oleh guru BK ku yang baik hati. Tiba waktu itu ada beberapa kata yang keluar dari mulut guru ku yang sangat aku perhatikan dan menjadi ujung perkataan yang mebuatku tambah merasa panas dan dingin. Tahun ini SMA kita tidak bisa menyumbang ban yak mahasiswa di IPB. Hanya 5 orang saja yang lolos masuk ke IPB lewat jalur USMI ini, dengan nada khasnya guru BK ku menyampaikan berita duka itu pada kami semua. Buat kami berita itu adalah berita duka, karena tahun ini memang mengherankan sekali. Biasanya kita menyumbang 7-11 mahasiswa tiap tahunnya di IPB. Namun tahun ini hanya 5 saja, tidak kurang dan tidak lebih. Rentetan nama-nama disampaikan oleh guru ku dan tiba saatnya pada nama yang terakhir diucapkan olehnya. Doa yang tak kunjung berhenti mengalir terucap dalam hati ku waktu itu karena dari keempat orang yang disebutkan, tak ada satu nama pun namaku disebutkan. Gelisah sekali waktu itu, bahkan kalau aku bukan lelaki mungkin aku udah nangis disitu, karena takut namaku tidak disebutkan. Dan ternyata nama yang terakhir disebutkan bukan juga Prawito Hudoro. Hati ku hancur rasanya, sedih, dan sakit aku rasakan. Ternyata harapan yang begitu besar untuk bisa kuliah di kampus IPB pupus. Gagal sudah yang terbayang dalam pikiran ku waktu itu. Berasa seorang prajurit yang sudah patah arang tak mampu lagi mengangkat pedangnya untuk berjuang. Terpikir sudah oleh ku aku akan menjadi seorang

73
pengangguran yang tidak bisa kuliah karena tidak bisa diterima di IPB. Berulang kali aku mencoba untuk berfikir bahwa ini semua adalah mimpi, hanya mimpi. Namun apa daya namaku Prawito Hudoro memang tidak tertera dalam list mahasiswa baru yang diterima di IPB. Sontak waktu itu aku berusaha tampak tegar dan menyalami teman-teman ku yang diterima di IPB. Kampus impian ku yang tak kesampaian. Lilin Harapan Hari itu memang sangat menyakitkan buatku, lilin harapan yang telah menyala berbulan-bulan lamanya kini telah padam, mati bagai tertiup angin badai dan berasa tidak akan pernah menyala lagi. Kesedihanku waktu itu aku curahkan semuanya pada penciptaku, Alloh SWT. Aku terus saja bercerita padaNya menyesali manangisi dalam hati apa yang telah aku lalui. Aku masih belum percaya aku tidak diterima di Institut Pertanian Bogor. Waktu itu terlintas pula dalam pikiran ku untuk menceritakan semua ini pada ibu ku dirumah. Waktu itu aku menelepon ibuku dengan kondisi sedih dan ingin rasanya aku pulang hari itu juga ke daerah ku. Karena memang waktu itu aku bersekolah di luar daerah yang lumayan jauh dari rumah ku. Perjalanan setengah hari lebih bisa habis untuk pulang kerumah, karena memang jaraknya yang sangat jauh.Waktu itu seperti dugaan ku ibuku pasti khawatir dan menanyakan hasil pengumuman seleksi masuk IPB. Ibu ku tak kalah semangatnya berharap agar aku bisa diterima di IPB. Bagi ibu ku yang hanya seorang pedagang nasi pastilah sangat setuju sekali aku bisa diterima disana. Biaya kuliah yang relative murah jika dibandikan kampus di dareah SMA ku sekarang menjadi salah satu alasan aku masih diperjuangkan untuk bisa meneruskan jenjang pendidikan ku. Waktu itu aku pun menyadari bahwa jika aku tidak diterima di IPB mungkin aku tidak dapat melanjutkan pendidikanku di kampus mana pun. Mengingat mau biaya dari mana aku kuliah, untuk sekolah SMA ku sekarang saja aku masih sangat bergantung dari beasiswa alumni.

74
Jalur USMI adalah jalur termurah yang aku ketahui untuk masuk ke IPB, maka ketika aku tahu lewat jalur ini saja aku sudah tidak masuk maka pupus sudah harapanku untuk bisa meneruskan jenjang pendidikan ku ke jenjang yang lebih tinggi. Entah apa yang aku ucapkan waktu itu pada ibu ku,yang teringat oleh ku hanyalah permintaan maaf padanya karena aku gagal masuk universitas. Aku merasa aku gagal, dan sudah berakhir sudah perjuangan ku mengenyam bangku pendidikan. Terbayang kembali dalam pikiran ku, usai lulus dari SMA ini mungkin aku hanya akan membantu ibuku berjualan di warung. Dan aku sampaikan pula pikiran ku dan keputus asaan ku pada Ibu ku. Namun tiba-tiba layaknya sebuah ruangan yang gelap tanpa ada cahaya sedikitpun,kini tiba-tiba saja ada sebuah lilin besar yang menyala sangat terang sekali menerangi selurh hati ku. Kata-kata penyemangat yang diucapkan ibuku menjadi sebuah lilin harapan yang kini menyala kembali. Ibu ku hanya berkata, Semangat ya, jangan bersedih. Kan masih bisa tes di universitas lain, untuk masalah dana insyaalloh mamah akan berusaha. Sebagai seorang single parent dalam pikiranku, aku tak terbayang mau dapat uang dari mana untuk membiayai tesku di universitas lain. Biaya kehidupanku di SMA saja susah, mana bisa ku ikut tes lagi. Tapi ternyata itulah dasyatnya seorang ibu, tak pernah sedikitpun ia menginginkan anaknya patah arang, dengan seribu cara pasti ia akan berusaha untuk dapat mengukir kembali semangat dan senyum anaknya. Hanya air mata saja yang dapat keluar waktu itu. Aku berasa bisu tak mampu aku berkata apa-apa. Yang ingin ku lakukan waktu itu hanyalah memeluk ibu ku, meskipun itu tidak mungkin karena jarak yang memisahkan kami. Sempat terlontar sepatah kata dari ku, ucapan terima kasih dengan nada yang sangat lemah karena suara ku tertahan oleh isak tangis yang coba ku tahan sekuat-kuatnya agar aku nampak tegar dihadapan ibu ku. Lambat laun aku mulai bisa menenangkan diri karena masalah ini. Seorang ibu yang begitu dasyat telah membangkitkan semangat ku yang telah jatuh dan kini tegak

75
kembali. Tak lama setelah itu aku berpamitan pada ibuku dan memohon doanya meskipun hanya melalui telepon genggam. Aku bertekad dalam hati untuk terus berusaha dan harus bisa membanggakan ibuku yang tengah berjuang mati-matian demi aku seorang anak bungsunya. Rasanya setelah menelepon Ibu, ribuan lilih harapan kembali menyala meskipun sedih masih tersa dalam hati. Hari itu akan jadi hari bersejarah bagi hidupku dan akan menjadi sebuah catatan kehidupan yang akan selalu aku pegang. Bahwa begitu besar perjuangan seorang ibu dan begitu dasyat seorang ibu membangkitkan semangat anaknya. Bahakan jika diurutkan dalam sebuah majalah, rentetan sebuah nama motivator terhebat di negeri ini layaknya buku karangan Michael H.Hart Seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Pastilah nama ibu ku Lilis Yunaningsih yang akan terpampang paling atas. Motivator terhebat negeri ini. Meminum Susu Di atas Bara Selang berapa hari setelah masa kehancuran itu menerpa diriku, aku kembali menjadi Prawito yang biasa, Prawito yang selalu ceria dalam setiap kehidupannya. Aku pun kembali mengencangkan ikat pinggang mempersiapkan Ujian Nasional yang mungkin tinggal diitung dengan jari pelaksanaannya. Belajarku waktu itu sedikit terpecah karena adanya tragedi aku tidak lolos seleksi USMI maka aku pun harus berusaha jalur lain untuk masuk universitas, bukan IPB tentunya. Waktu itu entah kenapa aku mempunyai sebuah kekesalan sendiri kepada IPB, bisa-bisanya aku gak lolos masuk IPB. Secara otomatis aku pun mem black list IPB dalam list daftar perguruan tinggi yang akan aku masuki. Tinggalah waktu itu 2 Universitas unggulan lain yang jadi sasaran ku, satu di daerah Yogyakarta, dan satu lagi di daerah Depok. Ruang sekretariat rohis dalam sekejap aku rubah layaknya sebuah ruangan laboratorium percobaan. Banyak sekali buku-buku bertebaran dimana-mana. Buku yang bertuliskan Ujian Nasional, buku yang bertuliskan Seleksi masuk Perguruan Tinggi dan lain-lain. Waktu SMA tempat tinggal ku memang di secretariat rohis, selain sebagai

76
secretariat tempat itu pun berfungsi sebagai tempat kost bagi ku. Sehingga dalam waktu kurang lebih 3 tahun aku mempunyai tempat kost gratis yang sangat membantu sekali keuangan keluargaku yang memang tidak semapan orangorang disekitar ku waktu itu. Ruangan kost ku sekaligus ruang secretariat rohis bertempat disamping sebelah kanan masjid At-Tahrim. Masjid ini masih masuk dalam lingkup SMA. Sehingga kalau malam datang aku pun merasa tidak begitu takut akan hal yang terjadi karena masjid At-Tahrim ini berada tertutup didalam SMA. SMA Negeri 2 Purwokerto adalah salah satu tempat yang sangat familiar sekali bagi ku. Setiap malam ketika aku jenuh belajar, aku pergi berjalan-jalan mengelilingi SMA ku yang sangat horror dengan banguan cirri khas belandanya. Maklum SMA ku adalah salah satu SMA peninggalan belanda pada waktu itu, sehingga SMA ku yang cukup luas akan nampak seperti lorong-lorong rumah sakit yang panjang dan menyeramkan di malam hari. Namun pada waktu itu ketakutan dan kesunyian sudah menjadi kehidupanku selama 3 tahun menjadi penunggu masjid At-Tahrim itu. Orang bilang SMA ku banyak hantunya, namun rasanya belum sekali pun aku melihat hal-hal aneh terjadi di SMA ku, baik siang maupun malam hari. Semua terasa biasa saja. Tak kalah hebatnya denga laboratorium-laboratorium di TV, secretariat ku juga dipenuhi dengan tulisan-tulisan target ku. Ada yang bertuliskan masuk universitas ternama, ada yang bertuliskan Lulus Ujian Nasional dan masih banyak lagi yang lainnya. Waktu itu Ujian Nasional masih menjadi momok yang menakutkan bagi ku, meskipun waktu itu SMA ku termasuk SMA terbaik di Jawa Tengah namun tetap saja ketakutan selalu menyelimuti hati ku. Terkadang aku takut mengecewakan orang tua ku yang kedua kalinya, terkadang aku takut juga mempermalukan SMA ku ketika aku tidak lulus Ujian Nasional. Singkat cerita hidupku, kala itu waktu ujian nasional telah tiba. Materi-materi ujian terasa sudah matang dalam otak ku. Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris terasa sudah menjadi susu-susu yang selalu aku minum

77
setiap hari. Soal-soal ujiang masuk perguran tinggi layaknya sebuah roti isi coklat yang selalu menemani ku dalam meminum susu-susu ujian nasional itu. Waktu itu seperti kebiasaanya daerah ku, pengawas datang dari luar sekolah agar tidak terjadi kecurangankecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Tak kalah ketatnya polisi yang berseragam gagah pun selalu siap sedia menjaga naskah ujian nasional yang waktu itu disimpan dalam sebuah ruangan berteralis besi layaknya sebuah penjara. Sudah barang pasti keaslian naskah sangat terjaga di SMA ku. Ujian nasional berlangusung sangat khitmat dan menegangkan selama kurang lebih satu minggu itu. Ceritacerita konyol sering kali keluar setelah ujian nasional usai. Tak kalah hebohnya, meskipun belum pengumuman hasil ujian nasional masih saja ada anak yang bergembira dan bersorak karena ujian Nasional telah usai. Ada pula yang menangis dan menyesal ketika teringat ada beberapa soal yang tidak bisa ia kerjakan. Aku tergolong orang yang biasa saja setelah Ujian Nasional, tidak terlalu banyak yang berubah dalam kehidupanku setelah ujian Nasional karena aku pun harus mempersiapkan diri untuk menempuh ujian-ujian mauk perguruan tinggi. Waktu itu selang bebarapa hari dari ujian nasional,ujian masuk perguruan tinggi yang pertama dilaksanakan. Yaitu berada di Yogyakarta. Merasa belum siap dengan ujian yang akan dilaksanakan aku was-was juga menghadapi ujian pertamaku itu. Bagaimana bisa siap, waktu itu hanya berjarak beberapa hari saja sudah disusul ujian masuk perguruan tinggi. Sedangkan dalam belajrku masih sering aku selingi dengan belajar mempersiapkan Ujian Nasional. Aku pergi ke Yogyakarta dengan beberapa teman-teman sekelasku, ikut mobil salah satu teman kelsku waktu itu. Dengan sangat spesialnya temanku ini diantarkan oleh orang tuannya sehingga aku pun bisa ikut dengannya dengn gratis lagi. Tiba di Yogya pun aku mendapat tumpangan tidur gratis di kostan salah satu kaka kelas ku yang sudah lebih dulu kuliah di kampus sana.

78
Hari pertama ujian terasa sangat was-was sekali, bangunan yang megah dan ruangan yang luas menjadi cambuk penyemangat bagi ku yang saat itu sudah kehilangan semangat untuk masuk perguruan tinggi karena masalah tidak lolosnya seleksi masuk IPB. Ujian-ujian pun aku ikuti dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Bagi ku soal-soal itu tergolong tidak begitu rumit namun cukup dua level diatas ujian nasional waktu itu. Namun ternyata tidak hanya aku yang merasa demikian, ternyata teman-teman ku ada yang menganggap soal itu sangat gampang sekali. Takut bukan kepalang lagi menyelimuti diriku. Buatku itu sudah cukup repot ternyata buat orang lain itu semua belum ada apa-apanya. Lalu bagai mana dengan nasib ku? Masih bisa diterima diperguran tinggi tersebut tidak? Usai sudah ujian pertama ku. Tiba saatnya bagi ku menanti sebuah anak yang lahir dari dua hal yang sangat menentukan hidupku yaitu ujian Nasional dan juga masuk Universitas. Menanti menjadi suatu rutinitas tesendiri bagi diriku ternyata. Karena tidak ada lagi yang bisa aku kerjakan selain menunggu dan menunggu hasil pengumumanpengumuan ujian ku. Setelah lama aku menanti sebuah pengumuman akhirnya datang pula pengumunan itu. Pengumuman yang pertama membuatku kembali jatuh terpuruk meratapi nasib. Lagi-lagi aku harus gagal dalam sebuah perjuangan masuk universitas. Apa yang menjadi ketakutan ku selama ini terasa semakin dekat. Aku semakin takut tidak bisa masuk perguruan tinggi. Hancur sehancur-hancurnya lagi hati ku. Gagal dan gagal kembali aku rasakan. Hanya tinggal satu pengumuman lagi yang aku tunggu yaitu pengumuman ujian nasional yang aku tunggu-tunggu yang mudah-mudahan bisa menjadi sebuah penghibur hati yang kini tengah terpuruk. Tak lama usai pengumuman kedua yang menyakitkan bagi ku, akhirnya tiba pula pengumuman Ujian Nasional. Kami seluruh siswa SMA Negeri 2 Purwokerto di bariskan dilapangan untuk mendengarkan petuah kepala sekolah kami. Pak Dayono waktu itu menjabat sebagai Kepala Sekolah. Beliau menyampaikan pesan-pesan moral yang pastinya

79
sangat bermanfaat bagi kehidupan kami. Seluruh siswa yang mendengar dan menyaksikan kegiatan ini beraneka ragam ekspresi. Ada yang biasa saja, ada pula yang menangis karena takut tidak lulus, dan ada juga yang kalem, karena mungkin sudah tahu akan kelulusannya. Tiba siang itu, usai beliau menyampaikan petuah, kepala sekolahku pun membuka sebuah pengumuman yang berasal dari amplop coklat bergaris merah biru disampingsampingnya. Dengan wajah yang mendebarkan dari sorot mata kepala sekolah ku, aku pun mulai was-was. Apakah kami akan gagal dalam ujian Nasional ini? Apakah kami tidak akan lulus 100%? Sungguh mendebarkan waktu itu. Sejenak semua guru, dan siswa yang ada dilapangan tersebut terdiam dan menyaksikan kepala sekolah akan mengucapkan sebuah kata. Dan akhirnya, SMA Negeri 2 Purwokerto Kembali LULUS 100%. Spontan sorak soray siswa kelas tiga menyelimuti lapangan sekolah yang sangat luas. Ada yang menangis, ada yang berpelukan, ada yang bersujud, bahkan ada pula yang lari-lari keliling lapangan. Begitu meriah dan menyenangkan sekali waktu itu. Tak bisa terlukiskan dengan detail suasana yang begitu menggembirakan hati. Namun bagiku peristiwa kelulusan ini bagai meminum susu diatas bara. Semanis apapun susu yang kuminum, masih saja terasa sakit dikaki ku. Ingin rasanya cepat-cepat berpindah kesakitan itu ketitik kenyamanan dengan diterimanya aku di perguruan tinggi negeri. Efek Domino Kegagalanku yang bermula dari pengumuman USMI, ternyata terus berembet bagaikan efek sebuah kartu domino yang di bariskan rapai, ketika satu kartu dijatuhkan maka akan jatuh pula kartu-kartu yang lain. Gagalnya masuk IPB ternyata terus berembet hingga aku gagal pula dalam 3 kali tes perguruan tinggi negeri. Dari timur hingga barat telah aku tempuh untuk berusaha agar masuk perguruan tinggi, namun hasil tetap saja nol besar. Entah berapa biaya yang orang tua keluarkan untuk biaya aku mengikuti tes-tes disetiap universitas. Dan pastinya ibu ku tercinta harus menanggung

80
malu meminjam uang agar aku bisa ikut tes di universitas. Namun kembali bukan sebuah hasil yang manis yang aku berikan kepada Ibu ku. Kekecewaan saja yang selalu aku berikan. Hingga suatu hari aku memutuskan untuk berhenti saja berusaha. Mungkin lebih baik aku kembali kekampung dan mulai membantu ibu ku berjualan nasi di desa. Entah kenapa keberuntungan masih saja berada dipihak ku. Kesempatan unutk masuk perguruan tinggi kembali terbuka. Meskipun kali ini bukan dari orang tua, karena Ibu ku sudah tidak bisa lagi memberikan tamabahan dana untuk urusan kuliah ku ini. Kaka ku yang pertama datang meberikan pertolongan yang tak diduga-duga. Kaka ku begitu percaya bahwa aku akan sukses dan harus terus berusaha untuk bisa masuk perguran tinggi ternama. Sepontan mendengar spirit yang diberikan kaka ku, semangat ku pun kembali menggebugebu. Kaka ku yang saat itu hanya CPNS yang memiliki anak 3 dan berada di perantauan menyempatkan diri menghubungi ku untuk memberikan semangat. Kaka ku akan berusaha memberikan dana untuk usaha ku masuk perguruan tinggi negeri. Ujian masuk perguran tinggi pun kembali aku coba. Kali ini layaknya seorang Panji sang penakluk. Aku mencoba menaklukan IPB sekaligus melawan rasa trauma ku karena pernah ditolak mentah-mentah oleh IPB. Dengan bermodalkan buku kuning berisi soal-soal ujian masuk perguruan tinggi. Aku pergi ke Bogor untuk bertempur menaklukan kampus ternama di Indonesia, IPB. Kondisiku sedang tidak fit waktu itu. Meriang, pusing dan demam menyerang ku tiba-tiba. Hingga pada saat pelaksanaan Ujian Talenta Mandiri perfoma ku tidak semaksimal yang ku bayangkan. Sempat patah arang kembali aku alami. Aku takut kembali mengecewakan keluargaku. Dalam kondisi sakit aku harus berperang mati-matian. Mau ditaruh dimana lagi muka ku jika kali ini kembali aku harus menelan pil pahit kegagalan. Harus ku bayar dengan apa jika aku gagal dalam usaha ku ini. Namun hari Ujian masuk IPB pun tetap aku jalani meski dalam kondisi sakit. Waktu itu hanya bermodalkan ongkos untuk berangkat dan biaya makan bebarapa hari saja, aku nekat ikut ujian di

81
IPB. Meskipun ketika itu aku masih selamat karena masih bisa menjadi benalu ditempat tinggal kaka ku yang kedua. Kakaku pun tak kalah perhatiannya pada ku. Dalam kondisi sakit aku dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Ingat sekali waktu itu ketika masih tersisa satu hari aku harus menyelesaikan ujian ku. Suhu badan ku malah semakin tinggi. Aku diberinya bubur, buah-buahan dan beberapa obat penurun panas anak bodrexin namanya. Entah kenapa jika aku terkena demam obat yang manjur untuk ku malah obat untuk anak-anak. Mungkin waktu itu aku masih mirip dengan anak-anak sehingga obat anak-anakpun cocok untuk ku. Tak kalah khawatirnya kaka ku ketika aku meronta-ronta kedinginan, bukan lagi aku diselimuti dengan selimbut tebal, namun saat itu langsung aku diselimuti dengan kasur tempat tidurnya. Akupun tak mungkin menolak, karena aku memang sangat kedinginan meskipun suhu badanku sangat panas. Entah selang beberapa jam aku tertidur dalam kondisi berselimutkan kasur milik kaka ku. Ketika aku terjaga badan dan kasur milik kaka ku telah basah kuyup oleh keringat ku. Suhu badan ku pun mulai turun dan kaka ku mulai lebih tenang dari sebelumnya. Hari itu memang sangat mengerikan, disamping aku tidak bisa belajar, aku pun malah terserang demam yang sangat mengkhawatirkan. Hari terakhir aku mengikuti ujian hidung-hidungku rasanya dipenuhi dengan air. Tidak konsentrasi dalam mengerjakan soal-soal membuatku tambah terpuruk dan ingin rasanya menangis dan minta maaf kepada kaka dan orang tua ku karena aku takut gagal kembali dalam mengikuti tes masuk IPB. Namun apa yang terjadi setelah aku minta maaf karena takut gagal. Kembali aku diberikan semangat oleh kaka ku yang benar-benar menjadi ilmu kehidupan yang akan sangat bermakna sekali bagi hidup ku. Bertahan Hidup Kondisi keuangan keluargaku memang tidak selancar orang-orang lain. Maka ketika aku menanti hasil dari tes Ujian Talenta Mandiri IPB, untuk mencari uang untuk makan aku perlu melakukan sesuatu. Akhirnya bersyukur aku diberi kesempatan untuk mengajar private computer. Alhamdulillah

82
biaya private itu bisa aku gunakan untuk membiayai kehidupanku dibogor. Karena tidak mungkin aku terus menjadi benalu untuk kaka ku. Singkat cerita kehidupan ku, Alhamdulillah ternyata Alloh memberikan aku kesmpatan untuk menuntut ilmu di IPB khususnya di bidang Ekonomi Syariah. Aku mulai menyesuaikan diri dengan iklim dan kebudayaan kampus yang ternyata sangat berbeda jauh dengan budaya ketika di SMA. Penyesuaian itu sendiri terjadi pada penyesuaian angaran keuangan harian ku. Waktu Asrama dulu mungkin sebulan aku hanya bisa diberi uang saku oleh kaka ku kurang lebih Rp.300.000,- entah waktu itu aku juga bingung bagai mana menyesuaikan uang seperti itu untuk kehidupan dilingkungan kampus yang bagi ku biaya makan saja cukup tinggi. Sekali makan saja uang yang harus aku keluarkan berisar RP.5000,- bagaimana aku bisa mengalokasikan dana ku. Maka ilmu dari The Power of Kepepet pun berjalan pada waktu itu. Aku ternyata bisa membagi uang saku ku untuk keperluan hidup setiap bulannya. Ketika pagi aku membeli Nasi dikantin asrama ku, porsinya bisa dikatakan porsi tukang bangunan. Aku harus membagi nasi itu untuk makan ku diwaktu siang. Untuk sayur dan lauk pauknya, akupun tak boleh protes, cukup dengan orek tempe ataupun mie rebus. Saat itu yang terpenting adalah perut tidak boleh sampai kosong. Beberapa bulan aku harus melakukan ritual seperti itu dan akhirnya akupun harus berfikir lebih mandiri lagi. Aku tidak boleh terus-terusan menunggu uang makan dari kaka ku. Hingga penyemangat hidup kembali aku kobarkan. Aku tulis sebuah mimpi-mimpiku dalam atap tempat tidur ku. Tanpa malu dengan teman sekamar aku tulis dengan huruf yang besar bergamabarkan hati didalamnya. Aku tuliskan. IPK 4.00, Dapat Pekerjaan, Dapat Beasiswa. Terus setiap malam sebelum tidur pasti aku melihat tulis itu. Entah sihir apa yang terjadi kehidupanku merasa semakin penuh tantangan, selain akademis akupun harus terus mengejar beasiswa dan bekrja. Alunan doa tidak kalah membanjiri mimpi -mimpiku yang ku

83
tulis di secarik kertas itu. Dan entah bulan apa saat itu. Alloh menjawab salah satu doa ku. Dibuka kembali pendaftaran calon penerima beasiswa bidik misi IPB. Dengan penuh semangat dan doa aku siapkan setiap kebutuhan untuk menjadi penerima beasiswa bidik misi. Harap dan cemas kembali menghampiri ku. Aku sangat berharap bidik misi dapat menjadi salah satu penolongku agar aku tidak terus merepotkan kaka ku. Untuk Ibu ku sendiri meskipun tidak terlalu membantu dalam bidang financial namun aku pun ingin membuat hati ibu ku tenang, bahwa aku bisa hidup di IPB dengan sehat dan lancar. Terkadang sempat terharu ketika ibuku menyampaikan minta maaf tidak bisa mencukupi kebutuhan keuangan ku. Padahal jika di renungkan kenapa malah ibu ku yang minta maaf? Bukanya aku sudah dewasa. Kenapa ibu harus repot-repot memikirkan keuangan ku? Namun ternyata itulah ibu, tidak akan pernah bisa tenang ketika tidak melihat anaknyanya dalam kondisi nyaman. Mungkin ibuku merasa bersalah tidak bisa membantu keuanganku. Namun justur akulah yang sebenarnya bersalah. Kenapa aku masih saja membuat ibuku khawatir tentang kehidupan ku. Sehingga bidik misi inilah yang menjadi salah satu harapan terbesarku untuk menghapuskan kegelisahan dihati ibu ku. Seiring beriringnya waktu, ternyata kembali Alloh memberikan aku kesempatan untuk menerima beasiswa bidik misi. Rasa syukur begitu besar dalam hati ku. Kegelisahan dihati ibuku kini sedikit terhapuskan, ibuku tidak lagi perlu khawatir akan kebutuhan makanku. Kebutuhan makan ku tengah ditanggu pemerintah dan rakyat Indonesia. Rasa syukur itu kembali ternyata aku harus merenungkannya. Sebagai penerima bantuan pemerintah ternyata akupun sadar bahwa aku bukannya bisa bermalas-malasan dengan adanya bantuan ini. Justru aku harus lebih giat lagi dalam berusaha meskipun sudah dapat bantuan financial. Semenjak saat itu aku pun mulai berjualan donat, kue kurma, dan beberapa makanan lainnya. Aku harus tetap mandiri meski bidik misi bisa membantu keuangan ku. Setahun berjalan, usaha-usaha silih berganti diasrama

84
mewarnai kehidupanku dan bidik misi. Uang saku bidik misi terkadang aku gunakan untuk modal usaha, dan Alhamdulillah setiap keuntungannya bisa meringankan anggaran untuk membeli buku dan keperluan kampus lainnya. Seiring waktu berjalan, ketika aku lulus asrama kini aku semakin memikirkan sumbangsih apa yang dapat aku berikan untuk rakyat Indonesia ketika aku kini tengah dibantu oleh mereka. Apa yang sudah aku berikan? Maka sejak menginjak tingkat dua di IPB mulailah aku mengabdikan diriku kepada masyarakat Indonesia melalui tenaga mengajar yang bisa aku berikan kepada ade-ade kelas ku di Sekolah Dasar. Dalam pendirian ku, mereka juga memerlukan pendidikan yang layak dan berkualitas, dan salah satu solusinya mahasiswa bisa ikut andil didalamnya. Mereka masih memerlukan tenaga pengajar yang masih fresh untuk membimbing mereka dalam belajar. Semoga dengan tenaga yang bisa aku sumbangankan ini bisa sedikit bisa membalas budi baik masyarakt Indonesia. Meskipun aku sadar bahwa apa yang diberikan masyarakat Indonesia untuku itu jauh lebih besar dari apa yang telah aku berikan untuk mereka.

85
Juara Favorit ke-4

Sepenggal Cerita tentang Seorang Anak Desa


Jauharotul Khasanah
Jauharotul Khasanah, ya! Itu namaku. Aku anak bungsu dari keluarga pas-pasan yang bisa melanjutkan SMA sampai kelas 3 karena mendapat beasiswa. Orang tuaku sudah tua sehingga mereka sudah tidak mampu lagi membiayai sekolahku. Selama ini yang berkontribusi besar untuk membiayai sekolahku adalah kakak sulungku yang ada di Kalimantan Barat. Jika kami ada kesulitan apapun, ia lah yang paling bekerja keras untuk membantu kami. Sebenarnya aku sudah tidak punya harapan untuk melanjutkan kuliah, namun karena aku mempunyai mimpi, aku masih terus berharap ada keajaiban sehingga aku bisa kuliah. Aku tidak terlalu berharap bisa kuliah di perguruan tinggi ternama, yang penting aku bisa mendapat gelar sarjana agar bias mendapat kerja yang layak dan mengangkat perekonomian orang tuaku. Namun melihat keadaan orang tuaku, terlebih ayahku yang langsung jatuh sakit bila harus bekerja keras, aku pun tidak bisa memaksakan keinginanku. Ketika ada banyak promosi dari kakak-kakak kelas tentang perguruan tinggi di Indonesia, aku tidak berminat untuk memperhatikannya toh aku tidak akan melanjutkan kuliah ini, pikirku dalam hati. Ketika ada pengumuman dari Bu Cici yang adalah seorang guru BK tentang SNMPTN undangan yang mewajibkan siswa peringkat 50% terbaik untuk mengikutinya, teman-temanku pun sangat antusias mendengar kabar ini hingga mereka sibuk keluar masuk ruang BK untuk mengurus pendaftaran.Berbeda dengan diriku yang masih tetap tenang karena memang tidak mempunyai rencana untuk kuliah.

86
Akhirnya ada beberapa teman yang bertanya padaku karena aku masih terlihat santai, tidak sibuk seperti mereka. Na, kamu mau kuliah dimana? tanya salah satu temanku. Dengan santai aku menjawab Aku tidak kuliah, aku mau langsung kerja saja. dan tanggapan teman-temanku kompak sama. Kan sayang Na kalau kamu nggak melanjutkan kuliah, kamu kan pintar, peringkat satu lagi di kelas. Aku sedih mendengar tanggapan teman-temanku itu, ironi sekali rasanya. Kalian semua tidak tahu betapa aku sangat ingin kuliah. Tapi apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memaksa orang tuaku untuk membiayai aku kuliah?. Tidak, orang tuaku sudah sangat berkorban selama ini demi membiayai anaknya untuk sekolah dan bisa menyekolahkanku hingga SMA ini sudah lebih dari cukup. Saat jam istirahat, Bu Cici menyuruhku ke ruangannya. Ternyata beliau tahu masalahku, sepertinya ada salah satu temanku yang melapor ke guru BK tersebut. Beliau bertanya banyak hal, tentang keluargaku, tentang keinginanku dan lainlain. Akhirnya beliau menyarankanku untuk tetap ikut SNMPTN undangan dan mendaftar beasiswa BIDIKMISI. Kata beliau jika kita mendapat beasiswa ini maka selama 8 semester kita bebas biaya kuliah, selain itu kita juga dapat uang saku setiap bulannya. Tapi orang tua menghendaki saya untuk bekerja dulu bu, setelah punya cukup uang saya baru boleh kuliah, sehingga saya tidak lagi membebani mereka dengan biaya kuliah bu . Aku coba memberikan alasan. Tapi kesempatan cuma datang sekali nduk, karena tahun depan kamu tidak bisa lagi mengikuti SNMPTN undangan. Kata beliau. Aku diam, tertunduk dan hampir menangis hingga beliau berkata lagi Kamu coba ngomong dulu ke orang tua kamu. Kalau masih tidak diperbolehkan ya sudah, yang penting kamu sudah berusaha. Aku keluar dari ruangan beliau dan mengucapkan terima kasih karena telah memberikan motivasi kepadaku. Sebenarnya aku tertarik dengan saran Bu Cici tersebut.

87
Ketika pulang sekolah aku coba membicarakan masalah ini dengan orang tuaku dan kakak-kakakku yang ada di rumah. Aku sudah memperkirakan, mungkin responnya tidak seperti yang aku harapkan. Tapi yang penting aku sudah mencoba. Dengan hati-hati aku berbicara di depan mereka. Ayah, ibu.. aku boleh daftar kuliah ya? K ata guruku ada program beasiswa dari pemerintah namanya BIDIKMISI. Jadi selama 4 tahun nanti kuliah saya gratis. Boleh ya? kataku pelan. Dan respon mereka tepat seperti yang aku bayangkan. Terserah lah kamu memang susah dibilangin. Lagian ngapain sih sekolah tinggi-tinggi? Mending langsung kerja dapat duit. Kata kakakku sinis. Ya sudah nduk, kalau mau daftar ya daftar saja, yang penting jangan membebani orang tua. Kata ibuku dengan suaranya yang lembut. Sedangkan ayahku tidak mempedulikan omonganku, beliau tidak memberi respon apapun. Aku mencoba menyabarkan hati agar tidak menyesal dan sakit hati. Aku putuskan untuk tetap mengikuti SNMPTN undangan untuk memenuhi kemauan Bu Cici, bukan karena aku benar-benar ingin kuliah. Jadi aku memilih universitasnya pun tanpa pertimbangan. Akhirnya aku memilih universitas yang menurutku mustahil aku bisa masuk kesana. Aku memilih IPB, karena IPB termasuk universitas favorit di Indonesia yang mempunyai great tinggi sehingga kemungkinannya sangat kecil aku diterima di sana. Setelah pendaftaran itu selesai, aku tidak lagi memikirkan masalah kuliah, karena dalam pikiranku aku tidak mungkin lolos SNMPTN undangan ini. Aku lebih tertarik untuk mencari informasi kerja sehingga setelah lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja karena itulah yang diinginkan orang tuaku. Ujian nasional telah selesai, teman-temanku mulai was-was menanti pengumuman SNMPTN undangan. Lain halnya dengan diriku yang sudah 100% yakin tidak akan lolos SNMPTN ini. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku mendapat kabar dari temanku bahwa aku lolos SNMPTN undangan dan diterima di IPB. Aku masih tidak percaya

88
dengan kabar ini hingga akhirnya aku cek sendiri ke warnet dan membuka website SNMPTN undangan ternyata benar aku diterima di IPB. Semua orang memberiku selamat, guru dan teman-teman turut senang atas keberhasilanku. Antara senang dan bingung menerima kenyataan ini senang karena aku diterima di salah satu universitas terbaik di Indonesia, bingung karena aku tidak tahu harus mrngatakan apa ke orang tua. Aku memutuskan untuk bilang dulu ke kakak sulungku. Ia sangat senang mendengar kabar ini. Tapi saat aku bilang ke orang tua dan kakakku yang ada di rumah ternyata responnya berbeda. Mereka masih tetap tidak merestuiku untuk kuliah. Aku mencoba untuk rela melepas kesempatanku ini tapi aku tidak bisa, dalam hati rasanya berat. Aku terus membujuk dan memohon kepada mereka hingga mereka jenuh dan sangat marah. Berhari-hari ayah bersikap dingin kepadaku. Ibu terus mengomeliku jika mendapati diriku sedang melamun. Ya, selama beberapa hari aku terlihat sering melamun karena meratapi nasibku dan terkadang sampai menangis. Kakak sulungku pun akhirnya turun tangan, ia membicarakan masalah ini dengan ayah dan ibu lewat telepon. Ia berusaha meyakinkan mereka, bilang bahwa ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu masalah kuliahku sehingga tidak akan membebani mereka. Dan hasilnya aku mendapat restu dari mereka. Bukan main senangnya diriku. Aku mulai menjalani hari-hari dengan semangat. Mempersiapkan segala sesuatunya untuk registrasi ulang. Namun ketika semuanya telah siap, tiba-tiba ayahku berubah pikiran. Beliau kembali melarangku. Beliau mendapat kabar dari tetangga-tetangga kalau hidup di Bogor itu serba mahal dan kakakku yang ada di rumah dengan gencarnya terus menghasut orang tuaku dengan bilang bahwa tidak mungkin kalau kuliah itu akan selamanya gratis, bisa saja beasiswa itu hanya berlaku untuk satu semester atau satu tahun selain itu berangkat ke Bogor itu tidak cukup uang sedikit. Rasanya diriku seperti dihempaskan ke tanah setelah

89
jauh melambung tinggi. Sakit hati rasanya melihat kakakku yang tidak mau mendukungku untuk maju. Baiklah, akhirnya aku putuskan untuk menyerah dan pasrah. Kakak sulungku pun sudah tidak bisa berbuat apa-apa jika ayah sudah mantap dengan keputusannya. Ia menghiburku dengan akan mendaftarkan aku kuliah di Pontianak, Kalimantan Barat. Walaupun begitu, jika teringat nama IPB aku refleks menangis sampai orang tuaku bosan memarahiku dan akhirnya mengacuhkanku. Dua hari sebelum registrasi, teman-teman dari Bojonegoro yang diterima di IPB berangkat rombongan menuju Bogor. Disinilah akhir usahaku untuk memperjuangkan masa depan karena aku tidak bisa ikut rombongan tersebut. Itu artinya aku tidak punya kesempatan lagi untuk pergi ke Bogor. Aku simpan kesedihanku dalam hati, tidak ingin menunjukkannya ke orang tuaku lagi karena ayah sampai jatuh sakit memikirkan masalah ini. Aku kabarkan masalah ini kepada wali kelasku, Bu Yuni, tentang ayahku yang sakit, tentang beliau yang tidak mengijinkanku kuliah, tentang semuanya, aku keluarkan semua isi hatiku kepada bu Yuni. Keesokan harinya yang berarti satu hari sebelum registrasi ulang bu Yuni menghubungiku dan menyuruhku datang ke sekolah. Beliau bertanya lebih detail masalahku dan aku ceritakan semuanya dengan mata berkaca-kaca. kenapa kamu bilangnya telat? Tau begitu kan ibu bisa coba untuk berbicara dengan orang tua kamu. Sayang nduk kalau kesempatan ini dilepas begitu saja. BIDIKMISI itu benar-benar gratis. Kata beliau dengan nada menyesal. maaf ibu.... hanya itu yang bisa aku katakan. Akhirnya beliau mengajakku ke stasiun untuk membeli tiket kereta. Beliua membelikanku dua tiket sekaligus, berharap ada anggota keluargaku yang mau mengantar. Sebelum aku pulang beliau berpesan, Kamu coba ngomong lagi ke orang tua kamu, minta ijin kepada mereka. Jika masih tetap tidak diijinkan ya sudah nurut saja, jangan sampai membangkang. Yang penting kamu sudah berusaha ya, nduk. Kata beliau dengan mata nanar.

90
Tak ku sangka ternyata guruku sangat peduli padaku. Aku terharu dan aku pun menangis. Satu lagi, ini ada sedikit uang untuk bekal ke Bogor jika diperbolehkan orang tua. Tambah beliau sambil menyodorkan sejumlah uang. Ingin aku menolaknya tetapi beliau memaksa. Uang itu terlalu banyak bagiku, aku merasa tidak berhak menerimanya. Sesampainya di rumah, aku sodorkan semua uang yang diberi guruku dan tiket yang beliua belikan. Keluargaku menatapnya dengan heran, kenapa ada guru yang sepeduli itu kepadaku. Akhirnya ayahku berkata Ya sudah, berangkat saja nduk. Guru kamu sudah berkorban seperti ini masa ayah masih saja mau melarangmu. Betapa girangnya diriku mendengar pernyataan ayahku. Tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah atas kemurahan-Nya. Tapi masalahnya sekarang adalah siapa yang akan mengantarku berangkat. Aku meminta tolong kakak-kakakku ternyata mereka tidak ada yang mau mengantar dengan berbagai alasan mereka. Aku memohon pada mereka tapi mereka tetap tidak mempunyai rasa iba kepadaku. Akhirnya ayahku memutuskan bahwa beliau sendirilah yang akan mengantarku. Posisi ayahku saat itu sedang sakit dan lemas, aku tidak tega dan aku menolak, lebih baik aku tidak berangkat dari pada harus melihat keadaan ayah semakin memburuk, tapi ayahku tetap memaksakan diri. Tak terasa air mataku jatuh lagi, ayah yang selama ini menentang keinginanku, di saat genting seperti ini beliau menunjukan betapa masih sayangnya beliau kepadaku. Setelah sholat maghrib kami berangkat ke stasiun dengan diliputi rasa khawatir kepada ayah. Aku berdoa kepada Allah semoga ayahku tidak apa-apa, semoga Allah terus menjaga beliau. Keesokan harinya kami sampai di Jakarta dan sampai di Bogor sekitar jam 10 pagi. Kami langsung menuju GWW, kakiku gemetar ketika melihat semua bangunan yang ada di IPB, rasanya seperti mimpi aku bisa ada disini, aku terus mengucapkan syukur kepada Allah. Aku masuk GWW untuk melakukan serangkaian registrasi, sedangkan ayah menungguku di luar.

91
Setelah registrasi selesai, Ayahku pulang ke rumah kerabat yang ada di Jakarta, sedangkan aku ikut kakak kelasku yang juga ada di IPB karena keesokan harinya aku harus mengikuti Stadium General dan pengumuman BIDIKMISI. Saat Stadium General kami mendengarkan sambutan dari Wakil Menteri Pertanian RI, sungguh betapa bangganya diriku bisa berada disini dan di akhir acara adalah pengumuman BIDIKMISI, hasilnya adalah aku di TERIMA. Terima kasih Ya Allah, karena atas kasih sayangmu aku masih tetap berada disini, tempat yang bagaikan mimpi bagiku. Aku akan buktikan kepada keluargaku bahwa aku akan sukses denagn jalan awal menjadi seorang sarjana.

92

Juara Favorit ke-5 Berlayar Bersama Bidikmisi di Kampus Hijau IPB

Ilham Muhammad
Seberkas cahaya masa depan mulai nampak dalam kehidupanku. Setitik harapan telah datang di hadapanku. Sebuah jalan menuju kebangkitan dalam sejarah keluargaku. Akhirnya, sebuah impian besar dari seorang anak buruh bangunan mulai sedikit terbuka tuk menggapai masa depan yang lebih baik. Pada tanggal 18 Mei 2011, tepat pada hari pengumuman SNMPTN Jalur Undangan, semua hal tersebut sedikit mulai terwujud. Sebuah masa yang amat bersejarah dalam bagian hidupku. Ku ingin berteriak mengucap rasa bahagia serta syukurku pada Sang Khalik yang telah memberiku nikmat yang luar biasa. Nikmat hidup dalam fasefase kehidupan remajaku. Sebuah tembok gerbang kejayaan telah datang menghampiriku. Kampus hijau nan asri akan segera menjadi tempatku menimba ilmu dan belajar arti hidup yang sebenarnya. Kampus impian setiap orang, Institut Pertanian Bogar telah memberi kesempatan padaaku untuk menjadi salah satu mahasiswanya. Bersamaan dengan itu, aku pun bertanya-tanya dengan khawatir dan cemas, bagaimana dengan beasiswaku? Pada saat pendaftaran, aku telah mendaftar pula untuk mendapatkan beasiswa agar aku dapat meneruskan belajar di bangku kuliah. Sebuah beasiswa yang cukup besar, yaitu Beasiswa Bidikmisi. Namun, aku tak melihat sedikit pun tulisan yang menyebutkan aku telah mendapatkan beasiswa itu. Karena tanpa beasiswa itu, mustahil bagiku untuk dapat meneruskan sekolahku. Aku hanyalah anak dari seorang buruh bangunan yang berpenghasilan pas-pasan untuk

93
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan empat orang saudaraku lainnya. Hanya cukup untuk makan sehari-hari dan untuk membayar uang sekolah adikku serta jajannya yang sedang di bangku sekolah dasar. Terkadang pula kalau bapakku sedang tidak bekerja karena memang tidak ada yang harus dikerjakan, kakak perempuanku pun yang harus membiayai semua itu dengan bekal tenaga menjadi seorang karyawan toko. Mulai dari makanan hingga perawatan rumah. Makanan dengan lauk seadanya yang memang sudah menjadi kebiasaan kami mengonsumsinya setiap hari. Dua kakakku yang lainnya dengan pekerjaan yang tak menentu, terkadang dalam jangka waktu yang lama tidak bekerja apalagi mendapatkan penghasilan. Dua kakaku tersebut sempat cukup lama merantau di Kota Metropolitan, tetapi sekarang sudah tinggal lagi di sebuah bangunan rumah yang sudah cukup lama berdiri dan kami tinggali. Sebuah bangunan kebanggaan keluargaku yang menjadi kebanggaan kami sekian lama. Walaupun begitu, aku bangga dengan bapakku karena dengan susah payah ia telah membawaku sampai seperti ini. Sedikit ke belakang, bahwa ibu kandungku telah meninggal dunia ketika aku sedang di bangku sekolah dasar kelas tiga dan adikku yang baru berusia empat tahun. Sungguh duka yang mendalam bagi keluargaku pada saat itu. Namun, seiring berjalanya waktu, kami menjalani hidup ke depan dan telah terbiasa tanpa seorang ibu. Walaupun dengan segala rintangan dan tantangan itu, aku tetap bertekad kuat untuk menyongsong masa depanku kelak. Dengan tetap masih bertanya-tanya, aku pun tidak berfikir panjang lagi, aku lalu dengan tegasnya memantapkan hati bahwa InsyaAllah aku telah mendapat beasiswa tersebut walau belum ada pengumuman resminya. Malam itu, aku larut dengan kegembiraan. Aku beritahukan kabar gembira itu kepada semua orang-orang dekatku, kepada keluarga, guruguru, dan teman-temanku tercinta. Pada saat itu, aku tinggal bersama dengan teman satu kelasku yang sebelumnya aku telah memikirkan matangmatang untuk tinggal bersamanya. Saat itu, aku tidak bisa

94
mengatakan apa-apa pada orangtua temanku, karena aku merasa bersalah karena tanpa sepengetahuan mereka aku memiih kampus di luar kota yang mereka pikir biaya yang akan dikeluarkan sangat besar. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku bermaksud menyembunyikannya karena aku takut jika mereka mengetahui mereka akan berfikir yang macam-macam tentang diriku. Padahal aku berani memilih kampus IPB karena adanya beasiswa yang menyertainya. Dengan kata lain, dengan tegas aku memantapkan sikap bahwa jika aku tidak mendapatkan beasiswa maka aku akan rela tidak memilih kampus IPB walaupun aku diterima. Aku tidak mau merepotkan orangtua temanku yang telah baik hati menerimaku menjadi bagian dari keluarganya. Malam itu pun aku terdiam, hanya temanku yang menyampaikan kabar itu kepada orang tuanya, tetapi dengan terpaksa tanpa ada kepastian yang nyata, aku meyakinkan hati mereka bahwa aku telah diterima di kampus IPB dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh beasiswa. Jadi mereka tidak susah payah membiayaiku untuk sekolah di kampus baruku. Sebelum pengumuman SNMPTN Jalur Undangan malam itu, aku bersama teman seperjuangan disibukkan dengan berbagai macam persyaratan-persyaratan terkait pendaftaran jalur tersebut. Berminggu-minggu aku dan temantemanku mempersiapkan segala sesuatunya. Dibantu dengan tim-tim panitia guru yang mengurusi pendaftaran tersebut. Dengan harapan terbesar kami adalah diterima di universitas yang akan kami pilih. Seiring dengan itu, aku pun bingung akan meneruskan kuliah di universitas mana. Bukan hanya bingung menentukan universitas tetapi aku juga bingung mengenai biaya kuliahku di universitas. Tak pantang menyerah untuk meneruskan sekolahku, itulah kalimat yang aku tanamkan dalam hatiku. Aku yakin, dengan kemampuan akademik yang aku miliki, aku dapat melanjutkan sekolah ke jenjang tertinggi seperti teman-teman lainnya. Tak lupa ibadah dan berdoa selalu aku panjatkan pada Illahi Rabbi. Pada saat itu, aku sibuk mencari solusinya. Aku bercerita kendala yang aku hadapi kepada teman-temanku dan guru-guru dengan

95
harapan aku menemukan jalan keluarnya. Akhirnya, salah seorang guruku menawariku untuk mengikuti seleksi untuk mendapatkan beasiswa. Beasiswa tersebut adalah Beasiswa Bidikmisi. Beasiswa yang diperuntukkan kepada mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik yang memadai tetapi dari kalangan keluarga miskin. Aku pun dengan perasaan senang hati, menerima tawaran tersebut dan mulailah aku sibuk dengan dua pendaftaran tersebut. Pendaftaran SNMPTN Jalur Undangan dan pendaftaran Beasiswa Bidikmisi. Senang sedih aku lewati. Mulai dari persyaratan surat keterangan tidak mampu yang saat itu, orangtuaku mengurusinya dengan susah payah, bolak-balik ke kantor kelurahan demi mendapatkan itu hingga mengisi dan mengirim formulir pendaftaran dengan segala macam embelembelnya. Semua itu aku dan orangtuaku lakukan dengan harapan akan mendapatkan beasiswa dan diterima di universitas, yang pada dasarnya aku adalah harapan satusatunya keluargaku dimana aku anak yang pertama kalinya dari keluarga besarku yang dapat menempa ilmu di universitas. Akhirnya, hasil semua jarih payah orangtua dan aku berbuah manis. Sekarang, aku di terima di Institut Pertanian Bogor melalui Jalur Undangan serta mendapatkan Beasiswa Bidikmisi. Waktu berputar dengan cepatnya. Hari berganti hari dan dan tak terasa waktu pendaftaran ulang telah tiba. Pada tanggal 27 juni telah di jadwal untuk pendaftaran ulang mahasiswa baru jalur Undangan di Institut Pertanian Bogor. Sebelum kakiku menginjakkan di kampus hijau ini, aku bersama dengan teman-temanku telah siap mempersiapkan segala persyaratan daftar ulang yang diperintahkan. Saat itu, aku berangkat ke IPB bersama dengan teman-temanku satu SMA beserta orangtua kami masing-masing. Saat itu, aku bersama dengan bapakku. Aku senang bapakku bisa menemani ke kampus baruku. Saat itu, aku mendapatkan uang transportasi yang cukup untuk hidup beberapa hari di Bogor dari bapakku. Dari usahanya bekerja membanting tulang demi aku, seorang anak kebanggaanya agar dapat

96
menginjakkan kaki di kampus barunya, walaupun saat itu aku tahu bahwa bapakku memegang uang tak kurang dari 50 ribu rupiah. Di samping uang itu, aku memiliki tabungan sedikit untuk menambahkan biaya tersebut yang aku kumpulkan dari pemberian orang-orang terdektku, guru-guru yang aku sayangi, sahabat baikku, dan kerabat dekatku. Sungguh baik hati mereka mau memberi aku uang. Aku tak akan melupakan segala kebaikan mereka. Aku juga bersyukur berkat Beasiswa Bidikmisi aku tak perlu membayar uang daftar ulang yang berjumlah sekitar 12 juta rupiah. Tak bisa ku bayangkan uang dari mana itu aku dapatkan dengan pekerjaan bapakku yan seperti itu. Awal memasuki kampus, sudah kulihat gerbang yang megah dengan rerimbunan pohon lebat, mengidentikkan bahwa IPB adalah kampus hijau. Kesan pertama yang menakjubkan yang membuat aku semakin tak sabar ingin segara menjadi salah satu mahasiswanya. Keesokan harinya pendaftaran ulang dimulai. Kulihat banyak sekali anak-anak bangsa dari bebagai pelosok Indonesia yang ingin mendaftar ulang. Luar biasa!, itulah yang aku rasakan pada saat itu. Akupun memasuki Gedung Graha Widya Wisuda dengan hati berdebar-debar menanti giliranku untuk mendaftar ulang. Tak kusangka pada saat itu, aku hanya membutuhkan waktu tak kurang dari 15 menit untuk mendaftar ulang, Sungguh teknis yang sangat bagus dalam mengatur ribuan orang yang mendaftar ulang. Ketika itupun aku teringat tentang beasiswaku. Belum ada sama sekali aku mendengar kabar mengenai beasiswa itu. Seketika itu setelah mendaftar ulang, terlihat sekumpulan mahasiswa dengan almamater kebanggaan IPB sibuk mengurusi sesuatu. Kulihat sebuah tulisan di atas meja Pendaftaran Ulang Beasiswa Bidikmisi. Hatiku berdetak kencang, lalu aku menghampirinya. Aku mendapat info bahwa sesegera mungkin aku harus mengisi beberapa daftar pertanyaan yang menjadi salah satu persyaratan beasiswa tersebut. Setelah itu, aku memasuki salah satu ruang untuk tahap wawancara dengan salah satu panitia. Aku gugup, tetapi aku berusaha tetap tenang menjawab semua

97
pertanyaan yang diberikan. Pada saat itu, aku baru mengetahui bahwa aku belum pasti mendapatkan beasiswa itu sebab pendaftar beasiswa tersebut melebihi kuota yang ditentukan sehingga harus ada seleksi lagi agar sesuai dengan kuota yang ada. Hatiku pun mulai sedih dan bertanyatanya, bagaimana jika aku tidak mendapatkan beasiswa tersebut ? apakah aku harus pulang dan tidak bisa meneruskan sekolah ku di tingkat universitas ? Aku mulai panik dan terus pertanyaan itu berkecamuk dalam hatiku. Namun, aku mencoba menenangkan diri, berfikir positif dan tak lupa selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT. Setelah semua itu berakhir, aku kembali bersama teman-temanku ke penginapan yang telah kami sewa di belakang kampus. Esok harinya, aku harus segera datang ke gedung tersebut untuk mengikuti Stadium General oleh Mantan Menteri Pertanian Indonesia dan melihat pengumuman hasil seleksi beasiswa yang aku laksanakan kemarin. Pagi hari, sekali lagi, gedung kebanggaan IPB telah ramai dikunjungi oleh mahasiswa baru yang telah mendaftar ulang kemarin. Beberappa menit kemudian, semua pintu masuk gedung serentak dibuka dan segera aku dan ribuan mahasiswa lainnya menyerbu masuk ke dalam. Namun, sama sekali aku tak melihat kericuhan berdesak-desakan. Semua masuk secara tertib dengan di kawal oleh para Resimen Mahasiswa. Tak lama kemudian, gedung tersebut telah ramai dipadati mahasiswa. Tak ada bangku yang kosong, semua terisi penuh dan bahkan banyak mahasiswa yang duduk di lantai karena tak cukupnya kapasitas tribun atas. Sorak sorai bergemuruh mengawang di dalam ruangan tersebut. Semua larut dalam kebahagiaan menyambut kuliah umum bapak menteri. Ketika bapak menteri naik ke podium, seketika para mahasiswa baru terdiam, menyaksikan dengan seksama segala perkataan yang disampaikan oleh bapak menteri. Semua bangga saat itu karena hal itu adalah kuliah pertama yang kami dapat sebagai mahasiswa baru di Institut Pertanian Bogor. Acara pada hari itu membuat kesan pertama kami bangga terhadap IPB. Acara yang disuguhkan kepada kami

98
sungguh menarik dan kreatif. Kami tak bosan mengikuti semua rangkain acara pada saat itu. Kuliah umum pun telah selesai. Semuanya keluar secara tertib. Namun, salah satu panitia yang aku tak mengenalnya seketika berbicara di depan dan mengatakan, Bagi para calon penerima Beasiswa Bidikmisi diharapkan tidak meninggalkan gedung karena akan segera diumumkan siapa saja yang berhak mendapat beasiswa tersebut. Kembali jantungku berdetak kencang, tak kuat rasanya aku menerima kenyatan pahit kalau aku tidak mendapat beasiswa tersebut. Mungkin bukan hanya aku saja tetapi mahasiswa yang lain yang saat itu sebagai calon penerima beasiswa itu. Doa dan zikir tak lupa aku selalu dengungkan dalam hatiku berharap aku mendapat Beasiswa Bidikmisi. Saat itu, teknis pengumumannya dilakukan dengan memberikan surat pernyataan yang bertuliskan diterima atau ditolak. Semua berbaris rapi sesuai fakultas masing-masing, lalu mulai satu per satu mengambil lembaran kertas masing-masing. Saat itu aku mendapat barisan yang agak belakang, jadi lama rasanya aku menunggu. Aku pun telah melihat berbagai macam ekspresi yang keluar dari raut wajah para mahasiswa. Ada yang senang, sedih, gembira, muram dan bahkan ada yang menangis. Semakin hatiku berdebar-debar menunggu giliran untuk membuka surat tersebut. Ketika giliranku sampai, dengan mengucap Bismillah aku membuka surat tersebut lalu aku melihat pada kotak yang di contreng, Anda akan dipertimbangkan untuk diseleksi pada tahap selanjutnya dengan memeriksa keabsahan semua dokumen yang telah diserahkan. Tak bisa ku berkata-kata. Senang hatiku melihat pengumuman tersebut, walaupun agak janggal masih ada tahap selanjutnya, tetapi aku tetap larut dalam kegembiraan. Tak henti-hentinya aku mengucap rasa syukurku pada Allah SWT atas nikmat yang luar biasa aku dapatkan. Tak sabar aku menyampaikan kabar gembira ini pada bapakku yang pada saat itu sedang berada di penginapan. Saat itu, temanku juga mendapat beasiswa itu tetapi ada satu lagi temanku yang ditolak. Aku kembali bersama dengan teman-temanku

99
membawa selembar pengumuman yang memberikan aku kesemptan untuk dapat bersekolah di bangku perkuliahan. Pada tanggal 2 Juni 2011, aku bersama dengan rombongan teman-temanku meninggalkan kampus IPB karena masa pendaftaran telah usai. Kami pulang dengan membawa kebahagiaan bahwa kami telah menjadi mahasiswa IPB. Kami harus menunggu sampai tanggal 27 Juni 2011 untuk kembali berangkat ke IPB untuk memasuki asrama untuk kali pertama dan mengikuti perkuliahan di kampus baru kami. Sempat beberapa hari sebelum keberangkatan, aku mengalami kendala. Aku belum mendapat pesangon uang transportasi dan uang hidup untuk aku tinggal di asrama. Untungnya saat itu, aku masih memiliki tabungan dari sisa uang pada saat pendaftaran ulang awal bulan lalu. Aku terus merengek meminta uang dari bapakku. Akhirnya, dua hari sebelum keberangkatan, aku telah mendapat uang dari orangtuaku yang menurutku itu tidak cukup untuk tinggal dalam waktu yang lama di IPB sebelum aku mendapatkan Beasiswa Bidikmisi. Aku agak kesal dengan bapakku, tetapi aku segera sadar diri bahwa bapakku adalah seorang yang berpenghasilan sedikit. Aku berpikir, jika semua gajinya diberikan kepadaku lalu bagaimana keluargaku bisa makan? Aku mencoba untuk tenang. Aku berfikir bahwa yang memberi uang adalah Allah. Bapakku adalah perantaranya. Jadi kalau aku mau uang aku harus meminta pada Allah, bukan meyalahkan bapakku. Aku terus berdoa disertai salatku, disetiap ibadah-ibadah yang aku lakukan. Tak henti-hentinya memanjatkan doa dan mengucap rasa syukur kepada Allah SWT. Tanggal 26 Juni 2011, hari keberangkatann telah tiba. Aku bersama dengan teman-temanku beserta orangtua masing-masing. Aku bersama bapakku lagi. Ia menemaniku karena aku memintanya. Aku ingin bapakku yang mengantar untuk terakhir kalinya aku meninggalkan rumahku dan mengawali tempat baruku di Kampus IPB. Sesampai di

100
kampus, aku ke penginapan dulu, kemudian aku ke tempat baruku di Asrama TPB IPB. Senang hatiku menapakkan kakiku di asrama. Awal mula mimpiku akan kurajut di sini. Keesokan harinya, saatnya bapakku dan orangtua temantemanku pulang ke rumah di Bandarlampung. Suasana haru menyapa kami. Tak kuasa kami rasanya menahan hati ini untuk berpisah. Namun, kami mencoba tetap tegar menghadapinya. Ini bukanlah akhir, tetapi awal dari segalanya. Seketika itu aku teringat. Aku bertanya pada bapakku dengan menggunakan bahasa jawa,Pak, due duet ora?. Ora enenglah, kan wes tak kei kue kabah. Jawabnya. Lalu aku terdiam sejenak, rasa hati sedih melihat orangtuaku tak memegang uang sedikitpun. Lalu aku mengambil uang dari sakuku dan memberikan pada bapakku untuk ongkos pulang ke rumah. Aku mencium tangan bapakku, tanda perpisahan terakhir. Ia berpesan untuk terakhir kalinya,Seng ati-ati yo, belajar seng pinter. Lagi-lagi, hati sedih menghampiriku. Ku coba tetap tegar menghadapinya. Akan selalu kuingat pesan bapakku itu. Kehidupan baruku di Kampus IPB dimulai. Satu bulan aku dan teman-teman baruku melakukan Perkuliahan Matrikulasi. Saat itu, tepat pada awal bulan Agustus, uang Beasiswa Bidikmisi ku turun. Hatiku senang mendapatkan uang itu. Lalu aku segera memberi kabar kepada keluargaku. Senang hati mereka mendengar hal tersebut. Setiap bulan aku mendapatkan uang hidup dari beasiswa itu. Aku senang karena bapakku tidak usah repot-repot memikirkan biaya hidupku selamu di kampus ini. Sekarang, sudah lima bulan aku hidup di IPB. Hidup dengan uang Bidikimisi. Tepat saat ini, aku menuliskan sedikit kisah hidupku ini dalam sebuah perlombaan menulis esai sepenggal kisah inspiratif bersama Bidikmisi. Dengan berbekal Laptop pinjaman teman, aku menuliskan sekelumit kisah hidupku dari awal pendaftaran sampai saat ini. Aku berharap dan selalu berdoa agar dapat melakukan yang terbaik. Menjaga amanah Beasiswa Bidikmisi ini agar beasiswa ini tidak sia-sia diberikan kepadaku. Ku ucapkan rasa syukurku pada Allah tak henti-hentinya. Ku

101
ucapkan terima kasih kepada Dikti yang telah memberiku beasiswa ini. Terima kasih kepada Kampus Institut Pertanian Bogor yang telah memberikan kesempatan aku kuliah di sini. Terima kasih kepada Panitia Bidikmisi yang telah memilihku dari ratusan mahasiswa lainnya. Aku akan berusaha maksimal untuk menjaga amanah ini. Aku akan meraih impianku dan impian keluarga besarku. Memotong tali rantai kemiskinan yang telah lama mendera keluargaku. Aku akan berlayar bersama Bidikmisi di Kampus Hijau Institut Pertanian Bogor. Menjadi sarjana pertama dalam keluargaku dan menggoreskan sejarah dalam sekenario hidupku.

Bogor, 10 Desember 2011

102

Sepotong Episode; Bidik Misi Membuka Cakrawala


Acep Muhammad
Vonis dokter mengenai penyakit yang aku derita sungguh menciutkan impian. Dua minggu lagi ujian nasional (UN) tingkat sekolah menengah atas (SMA) akan dilaksanakan serentak seluruh Indonesia. Tiga perkara menyangkut masa depan harus aku dan keluarga pikirkan. Penyakit yang aku derita, ujian nasional dan rencana setelah lulus SMA, akan kemana aku berlabuh, kuliah, kerja atau menjadi gelandangan. Dua minggu sebelum ujian nasional kejadian tragis menimpaku. Selagi membersihkan kolam ikan yang kotor di sekolah, aku terpeleset dan jatuh. Nasib naas menimpa pangkal paha yang menghantam batu di tengah kolam kecil berukuran tiga meteran itu. Rasa ngilu awalnya aku tutupi dengan tertawa, karena aku sadari teman-temanku melihat kejadian itu. Namun dalam hatiku berkata sakitnya... keesokan harinya tak sanggup aku menahan rasa ngilu itu. Tak ingin aku membiarkan rasa khawatir dengan kondisi yang aku derita, aku memberanikan diri untuk datang ke dokter. Tidak cukup sekali aku datang ke dokter spesialis. Setelah beberapa pemeriksaan dilalui, akhirnya dokter itu berkata Ada tumor yang harus diangkat. Tegas sang dokter. Maksudnya operasi, dok?. kakak langsung memotong ucapan dokter. Iya bu. Kami tidak menyimpulkan apakah Acep ini memiliki tumor ini sebelum atau sesudah jatuh, karena acep sendiri tidak tahu pasti kapan munculnya benjolan itu. Tapi,kemungkinannya tumor itu ada sebelum acep jatuh. Dokter membalas dengan pasti. Aku diam seribu bahasa. Pikiranku tak fokus lagi.

103
Banyak hal terpikirkan setelah mendengar vonis itu. Entah itu tentang biaya operasi, ujian nasional yang tinggal menghitung hari, dan tentang pendaftaranku ke IPB lewat jalur undangan. selama ini menjadi IPB merupakan impian besarku.kini mimpi itu seperti menciut saat aku ingat vonis itu. Aku,sedikit gelisah dengan hadirnya vonis itu. Dan harus aku sadari juga Semuanya butuh kerja keras dan butuh materi. Biaya kuliah sekarang tidak murah. Apalagi untuk seorang tanpa ayah sepertiku. Biaya operasi pun tidak murah,dan aku harus menjaga kesehatan dengan baik sebelum masuk ruang operasi. Bertolak belakang dengan kewajibanku belajar keras,memforsir waktu agar siap menghadapi UN tahun ini. Semuanya menjadi bagian-hidupku yang mungkin menentukan masa depanku. Tanpa sepengetahuan,kak dan suaminya pergi ke rumah sakit untuk menentukan jadwal operasi yang akan aku jalani. Saat itu aku masih berada di sekolah. Baru setelah pulang,aku mendapat kabar tentang kapan operasi itu akan aku lalui. Selama ini tak terbersit sedikitpun aku akan dioperasi. Setiap hari olahraga,menjaga asupan makanan,tidak merokok. Tapi semua itu tak cukup jika Tuhan berkehendak lain. Yang lebih membuatku shock adalah bagian mana dari tubuhku yang akan di operasi. Cukup membuat aku merinding saat mengingat dokter yang akan mengangkat benolan dari dalam scrotum. Siapapun yang mengenal tentang itu, akan ngilu jika memikirkan apa yang akan aku lalui saat operasi. Cep, tanggal 30 mei masuk ruang operasi. Ucapan yang keluar dari lisan kakak membungkam mulut yang tadinya cerah. Mau tidak mau aku harus melewati ini. Sekalipun jujur aku takut. Bukan aku tak ingin menjalani pengobatan lain seperti terapi dan tradisional. Tapi aku akan kuliah dan itu butuh kepastian tentang kondisiku. Dengan operasi mudahmudahan Allah menyembuhkan aku dan tidak akan ada yang mengganjal lagi tentang kesehatan saat aku duduk di bangku kuliah. Awalnya jadwal itu aku iyakan. Namun keesokan harinya aku merassa ada yang janggal dengan tanggal itu. Ternyata, di tanggal itu aku harus registrasi ke IPB andai aku

104
di terima. Di hari itu pula wawancara seleksi penerima beasiswa bidik misi dilaksanakan. Aku bingung. Operasi penting, tapi datang ke IPB juga penting. Akhirnya aku memutuskan andai di terima di IPB, aku akan menunda jadwal operasiku. Dan kakak menyetujuinya. Ujian nasional aku lalui penuh kegelisahan. Bukan tentang soal-soal yang memang sulit, tapi tentang penyakit yang aku derita. Apakah operasi bisa berjalan sukses dan aku sembuh kembali, atau sebaliknya masa depanku tanda tanya?. Aku galau. Ujian nasional dua hari berlalu. Kabar yang semestinya istimewa sedikit hambar aku rasakan. Aku di terima di IPB. Aku dan seluruh keluarga beryukur akan hal itu. Apalagi aku satu-satunya di keluarga yang bisa kuliah. Setelah mendengar kabar itu. Kakak lekas mengganti jadwal operasi. Tanggal 20 juni aku akan masuk keruang operasi. Dengan status pasien aku keluar masuk puskesmas, kantor desa, kecamatan dan rumah sakit. Beberapa surat keterangan aku buat. Diantara surat-surat tersebut adalah surat keterangan tidak mampu (SKTM) sebagai persyaratan penerima beasiswa bidik misi dan surat keterangan miskin (SKM) untuk permohonan biaya operasi yang akan aku jalani di rumah sakit. Kalau bukan dengan jalan seperti itu, aku tidak tahu darimana semua biaya yang harus aku bayar baik untuk operasi, juga untuk kuliah di IPB. Hampir setiap orang yang mendengar kabar aku di terima di IPB, mereka sepertinya ragu. Mungkin yang ada di benak mereka kuliah itu mahal,hanya untuk orang menengah ke atas yang cerdas. Tidak mungkin anak yatim yang numpang di rumah kakaknya, dengan kemampuan seadanya seperti aku bisa kuliah. Melihat keraguan itu, kadang terbersit di pikiran, dengan uang darimana aku bisa membiayai kuliah. Dan apa aku pantas? Sebagai seorang yang mendapat pendidikan agama dari kecil. Baik dari orang tua,guru dan lingkungan terutamanya, mereka mengajariku sebuah keyakinan. Keyakinan seorang hamba pada khaliknya. Jika dalam diri tertanam niat yang tulus dan suci dalam hidup, malaikat di dunia dan dilangit akan mencatat semua itu, kemudian ikut mendoakan agar niat tersebut dikabulkan Allah

105
SWT. Apalagi menuntut ilmu yang merupakan sebuah kewajiban yang utama. Dengan keyakinan itu, Aku,seorang yatim dari keluarga petani, akan menunjukan bahwa tidak hanya mereka yang memiliki kekayaan, kecerdasan lebih yang bisa kuliah. Tapi anak kampung dengan kesungguhan dan mimpinya pun berhak duduk di bangku perkuliahan seperti mereka. Hari menegangkan itu tiba. Aku terkapar memakai baju berwarna hijau yang sedikit kotor dengan wrna darah. Di sampingku berjajar terbaring 3 orang kakek-kakek yang pucat. Kami semua menunggu giliran operasi. Ketiga kakek tersebut dioperasi dengan jenis operasi yang sama yaitu hernia. Bahkan diantara mereka ada yang komplikasi dengan kangker prostat. Sementara aku, aku menyimpan tumor scrotalis. Ketiga kakek tersebut lebih dahulu masuk ruang operasi. Silahkan bapak Acep!. aku berjalan didampingi du perawat di sampingku. Menuju ruang operasi yang di dalamnya telah menunggu tim bedah dan anestesi. Aku berbaring di atas meja operasi. Beberapa suara gesekan gunting terdengar menyayat di telinga. Sorot lampu di atas ubun-ubunku amat terang. Aku mulai tak mendengar apapun,cahaya lampu mulai meredup, sakit. Sepertinya jarum menusuk kulitkku, Ahhhhh dan aku tak tahu apa yang selanjutnya. Bekas operasi yang dibalut perban pada awlanya tidak terasa sama sekali. Mungkin efek obat bius yang masih berlanjut. Empat, lima jam kemudian saat aku terkapar di kamar inap, ngilu sekali rasanya seluruh tubuh yang ditambah rasa mual di atas lidah. Sama sekali aku tak bisa berbuat apa apa, hanya terkapar. Ketiga kakek yaang dari awal bersama-sama dari awal aku menjalani operasi,berada satu ruangan denganku. Merekalah yang selama lima hari benar-benar menghibur masa sakitku. Sering sekali aku menjadi bahan candaan akiaki tujuh mulud seperti mereka. Beberapa kerabat dekat dan teman-teman dekatku datang menjenguk. Dalam tas,aku telah menyimpan beberapa amplop dari mereka. Pangkal pahaku sakit , ngilu.

106
Izin untuk pulang aku dapatkan setelah lima hari aku menginap di rumah sakit. Biaya operasi dan perawatan selama di rumah sakit gratis. Berkat surat-surat keterangan yang aku buat sebelum aku dioperasi. Syukur tiada kira kupanjatkan kehadirat Allah SWT. Tiga hari seterlah pulang dari rumah sakit,aku sudah harus berada di IPB. Dan langsung menjalani masa-masa asrama TPB. Sementara kondisiku belum sembuh total. Keluargaku yang paling khawatir akan hal itu. Sehari setelah operasi aku kontrol ke dokter yang mengoperasi. Sekaligus bertanya apakah aku sudah bisa melakukan kegiatan perkuliahan atau masih harus beristirahat. Alhamdulillah dokter itu membolehkan. Hanya saja keluargaku seperti tak yakin dengan itu. Sebenarnya, di hari registrasi sekaligus wawancara bidik misi yang aku lalui, aku sudah mendapat kepastian lolos seleksi. Dan tinggal menyerahkan bukti fisik saja sebagai barang bukti bahwa aku layak menjadi penerima beasiswa tersebut. Inilah yang selama ini aku nantikan. Aku tidak perlu membuat emak pusing memikirkan biaya kuliah. Sebelum kepastian aku mendapat beasiswa, emak cemas. Darimana ia harus membiayai aku kuliah sedang emak hany ibu rumah tangga. Akhirnya aku bisa membuktikan ke emak bahwasanya Allah itu maha luas kasih sayangnya. Selama hambanya mau berusaha dan berdoa pasti ada jalan. Selain ke emak,semua orang awalnya meragukan aku bisa kuliah pun kini mereka tersenyum manis kepadaku. Aku harus berjuang di masa registrasi. Dengan kondisi jahitan yang masih basah, aku mengantre di gedung yang luas untuk registrasi kedua, cek kesehatan dan menyerahkan berkas foto dan data rumah, diri, orang tua dan kondisi ekonomi keluaraga. Sebulan sebelumnya, aku datang dengan membawa penyakit yang aku tahan rasa ngilunya, dan kini dengan perban yang menempel basah di bekas operasi. Semoga sakit yang aku alami adalah bagian dari kasih sayang Allah untuk aku yang selama hidup banyak berbuat dosa, semoga dengan sakitlah dosa-dosa itu melebur. Sekalipun aku sudah pasti menerima beasiswa bidik misi, tapi beasiswa itu belum bisa aku gunakan untuk

107
keperluan makan dan kuliah. Karena pemerintah belum mencairkan dana tersebut. Sementara emak dan kakak hanya sedikit memberi bekal untuk aku kuliah, aku makan dengan uang yang aku dapat saat aku tergeletak di rumah sakit. Selama satu bulan, aku bisa bertahan dengan uang yang sengaja Allah beri lewat keabat dan teman yang menjenguk saat aku di rumah sakit itu. Bukannya keluar biaya operasi,malah dapat pemberian. Terima kasih, Allah. Dengan sakit itu, banyak sekali hal luar biasa yang aku rasakan. Merasa diri kotor dan hina di hadapan Allah sekaligus merassakan betapa besar nikmat Allah yang diberikan untuku. Bisa masuk perguruan tinggi yang diimpikan merupakan nikmat yang sangat indah, malah Allah memberi lebih dengan memberikan beasiswa sehingga selama menempuh delapan semester, tidak mengeluarkan biaya SPP, DSP dan lainnya. Perban masih rapat menempel di daerah operasi. Dokter bilang jangan terkena air. Aku jalani minggu-minggu pertama dengan kaku. Aku tidak bisa berjalan cepat,belum bisa beraktifitas agak berat, namun harus tetap kuliah. Matrikulasi tepatnya. Tiga minggu jahitan itu menghiasi kulit. Control ketiga barulah bisa terbebas dari jahitan yang seminggu terakhir sangat menyiksa. Lima jahitan di tempat terlarang itu,cukup membuat cara berjalanku berbeda dengan yang lain. Uang yang kumiliki habis.Tak tahu lagi harus meminta kesiapa. Aku belum bisa berwirausaha sendiri,kondisi fisik belum pulih total. Sedikit yang bisa aku kerjakan. padahal ingin sekali aku berjualan untuk mennambah uang makan sehari-hari. di saat gundah yang akun alami ,uang bidik misi cair. di saat aku benar-benar membutuhkannya. Aku tidak perlu meminjam sana-sini untuk biaya makan. Tak perlu minta ke emak. Sejak saat itu, aku merasa beasiswa ini lebih dari cukup andai aku bisa memanfaatkannya dengan baik. Aku harus benar-benar tanggung jawab dengan beasiswa yang aku peroleh karena itu merupakan amanah yang harus aku jaga dengan baik. Jangan sampai aku gunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Kalaulah aku bisa menyisakan uang

108
makan perbulan yang aku dapat, akan aku pergunakan untuk proyek besar yang ingin aku capai. Menulis buku dan mencoba menerbikannya. Tentunya banyak hal yang harus aku siapkan untuk bisa mncapainya. Dan banyak juga yang harus aku korbankan. Dengan cara menyisihkan uang tiap bulan, aku akan gunakan itu untuk membeli buku,observasi dan lainnya. Selama beberapa bulan dikampus, aku bisa berkarya dan menambah soft skill yang banyak. Aku juga mulai bisa menulis walau masih dalam kertas-kertas pribadi. Ternyata uang yang aku peroleh dari bidik misi benar benar bermanfaat. Selain untuk kuliah,juga untuk membangunkan mimpi-mimpi yang mungkin dulu masih tertidur. Dengan adanya bidik misi, tirai-tirai cakrawala menjadi terbuka lebar untuk aku arungi. Sekalipun aku merasa bahagia dengan nikmat beasiswa yang aku peroleh,dalam hati kecil aku berontak. Sebenarnya aku ingin bisa membiayai kuliah sendiri, atau aku dibiayai orang tua. Karena bagikua itu jauh lebih bermakna, namun apa mau dikata. Aku harus berjuang dengan keadaan. Dan tetap berusaha untuk bisa mencukupi kebutuhan diri sendiri. Tak bergantung pada bantuan orang lain. Semoga aku bisa melakukannya. bidik misi telah membuka tabir kebahagiaan yang akan aku lalui. Semoga proyek novel dan buku yang aku tulis cepat menghasilkan sesuatu. Dan siapa tahu aku bisa melepas bidik misi dan memberikannya kepada mereka yang tirai cakrawalanya tertutup agar terbuka lebar seperti aku yang pernah merasakannya.

109

AnugerahMu datang, Saat Aku Mulai MeragukanMu Masuk IPB Ternyata Bukan Hanya Mimpi Agus Harianto

Sahabat, ketika Allah SWT memberi kita anugerah kesehatan maka ucapkanlah puji syukur. Bersandarlah kepadanya yang telah menciptakan kita dari ketidakadaan agar hati menjadi tenang mari kita gunakan hari-hari kita untuk hal-hal yang bermanfaat, dan selalu ingatkan diri kita akan setiap hari yang kita lalui adalah kesempatan yang diberikanNya kepada kita untuk membuka lembaran yang baru yang lebih bersyukur, berjuanglah dengan semangat yang sungguh-sungguh untuk mengejar cita-cita, jalani kesulitan hidup dengan senyuman agar hati tetap tenang, dan tetap dalam usahamu demi menjemput cita-cita yang kadang kita berfikir tidak mungkin akan dicapai, maka ketahuilah, Dialah dzat yang maha kuasa, selalu menyayangimu, selalu mengawasimu, selalu punya rencana yang terbaik untukmu di luar imajinasimu, selalu mencintaimu lebih dari apapun, bahkan lebih dari yang kau tahu, dan memang kau tidak akan pernah memahaminya. Hari itu aku merasakan semua katakata ini. Sahabat, aku akan menyibak kisahku di sini sebelum menyentuh tanah IPB dan mencium aroma Bogor yang indah ini. Semoga bermanfaat!!! Tidak pernah terfikir olehku akan menginjakkan kaki di Bogor, belajar, menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor bersama ribuan orang-orang pintar di seluruh Indonesia dari sabang sampai merauke. Bukannya aku tidak punya cita-cita ke sana, tapi keadaan yang memaksaku untuk mengubur niatku itu. kadang saat aku membayangkan indahnya saat anganku mengembara menembus langit berkata Andai aku bisa mencapainya, seraya senyum menghiasi bibirku dan saat aku tersentak dalam lamunan hampa itu, senyuman yang

110
ku bangun melonjak pergi meninggalkanku, Astagfirullah, fikiranku terlalu jauh menerawang. Dengan cepat kembali aku terbangun dari lamunan. Itulah yang kadang aku lakukan saat jenuh di kelas. Pernah juga ibu guru menanyakan cita-cita kami sekelas, semuanya menjawab berbeda-beda, ada yang ingin menjadi dokter, ketua MPR, ketua DPR, guru, president, bekerja di perusahaan asing, dan lain-lain. Aku sendiri dengan lantang menyebutkan cita-citaku adalah ingin menjadi seorang pengusaha. Pengusaha adalah orang yang bekerja mandiri, tidak terpaku pada peraturan kantor. Seorang pengusaha sudah pasti orang yang kaya, orang yang pintar, selalu pakai jas rapi, banyak teman, dan pekerjaannya gampang. Itulah isi otakku saat itu. Aku bukan pasrah dengan keadaan dan bukan pula aku menyerah dengan nasib. Tetapi karena pertimbangan yang aku fikirkan terlalu mendalam. Saat itu aku berfikir sangat tidak mungkin bagiku merasakan manisnya bangku kuliah. Lagi-lagi semua itu masalah biaya. Mari sahabatku dengarkan cerita dan kisah keluargaku yang damai dalam perjuangan ini hingga kau akan tahu arti perjuangan dalam hidupku. Aku tinggal di desa kecil yang disebut desa Ladanghutan. Desa ini terletak di antara pegunungan di daerah Bukittinggi, Sumatera Barat. Desa yang indah, damai dan masih kental dengan kemasyarakatan dan kegotongroyongannya. Desaku terletak di antara gunung dan lembah. Ketika pagi hari, saat embun masih menutupi pucuk pinus di pegunungan yang mengapit desa itu, para petani lalu lalang di jalanan, yang kerap kali aku temui di perjalanan menuju sekolah. Tegur sapa dan lempar senyum yang tidak pernah aku dapati dimanapun selain di desaku dan tidak akan pernah bisa aku lupakan selalu kutemui setiap pagi tatkala aku berangkat sekolah. Sepanjang jalan dari rumahku ke sekolah semasa SMA yang kutempuhi sejauh 5 km dengan jalan kaki banyak sekali kutemui petani yang baru beranjak dari rumah mereka menuju sawah dan ladang. Jalan penuh dengan orang-orang rajin yang sedang menuju tempat kerja mereka masing-masing. Jalan yang aku tempuh semasa SMA ini

111
belum seberapa jika dibandingkan dengan perjalananku semasa SD. Jalanku meunuju sekolah waktu itu sungguh menguji kesabaran dan kegigihanku.. Aku masih ingat tatkala pagi hari embun belum hilang dari pematang sawah dan kaki petani belum dibasahi oleh dinginnya air sawah, aku dan kakakku sudah lebih dulu menyapu embun pematang sawah menuju sekolah kami. Pagi buta, saat matahari belum menampakkan diri, aku dan 3 kakakku yang lain berjalan menelusuri pematang sawah. Jarak yang kutempuh menuju sekolah saat itu lebih kurang 15 km. walaupun jalan yang kami tempuh jauh namun semuanya terasa mudah dan indah ketika kami jalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Memang tidak jarang aku terlambat sampai di sekolah, bahkan bisa dikatakan hampir selalu, wajar dengan perjalanan ini dan tanpa kendaraan apapun. Keadaan seperti ini hanya ada padaku dan kakak-kakakku. Sedangkan untuk siswa lain tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh dengan sekolah, toh walaupun jauh mereka bisa mengguanakan motor. Aku? Boroboro motor, uang jajan saja bisa dikatakan tidak pernah di beri oleh orangtuaku. Begitulah keadaan keluarga kami saat itu. Dengan modal keyakinan dan perjuangan yang ikhlas, akhirnya aku berhasil menyelesaikan sekolahku di sana tentu saja dengan hasil yang membanggakan. Aku merasa senang sekali. Aku telah merasakan manisnya hasil perjungan itu. Namun, kebahagianku hilang saat salah satu dari kakakku harus berhenti sekolah. Kami tidak punya biaya jika harus menanggung beban semuanya. Ayahku akhirnya memutuskan di antara kami harus ada yang berhenti sekolah. Akhirnya kakakku yang perempuan mengalah. Saat itu aku dan kakakku satu tingkat. Sehingga biaya yang dibutuhkan besar karena kami tamat dalam waktu bersamaan. Mungkin karena Tuhan Yang Maha Kuasa menganugrahkan aku kepintaran yang sedikit lebih di atas dari mereka sehingga walaupun aku anak yang paling bungsu aku dapat menyamai mereka. Dengan berhentinya kakakku dari sekolah menjadi cambuk bagiku bahwa aku harus membayar semua pengunduran itu dengan prestasiku. Di SLTP, dengan semangat dan usaha gigihku, aku mendapatkan nilai yang bagus dan

112
membanggakan ayah dan ibuku. Dari kelas satu hingga kelas 3 SLTP aku selalu menggaet minimal ranking 4 umum. Aku yakin semua ini tidak terlepas dari doa dan dorongan yang diberikan oleh orang tuaku. Aku sangat bersyukur sekali walaupun dengan keterbatasan yang aku miliki aku tetap dapat meraih peringkat. Jika teman-temanku setelah pulang sekolah dapat belajar dengan tenang, maka ketika aku pulang sekolah, kambing-kambing ku sudah menunggu untuk di carikan rumput. Ya, setiap pulang sekolah aku selalu mencarikan rumput untuk makanan kambing. Biasanya aku mencarinya ketika agak sore. Andaikan ketika malam temantemanku yang lain dapat belajar dengan tenang tentang apa yang harus di pelajari besok di sekolah, maka saat malam aku selali disibukkan oleh kedatangan anak tetangga yang telah menungguku di rumah sebelum aku kembali dari kali selesai mandi setelah mencari rumput kambing. Dari SLTP aku terbiasa mengajar anak tetangga. Biasanya anak-anak tingkat sekolah dasar. Ketika sehabis magrib, mereka datang kerumahku untuk belajar. Sebagai tetangga ya, itu adalah hal yang biasa. Aku sendiripun senang bisa mengajari mereka. Tentu saja gratis, ya hitung-hitung menambah amal. Setelah mereka selesai, biasanya jam Sembilan malam barulah aku dapat belajar. Jika teman-temanku yang lain dapat menikmati terang dan nyamannya belajar dengan lampu listrik maka aku hanya ditemani lampu minyak yang kobarnya melambai lunglai seolah telah lelah menemaniku setiap hari dari sore hingga tengah malam. Tapi, walaupun api lampu itu lunglai seolah akan padam, hatiku tetap menyala. Mungkin dengan semua keterbatasan ini aku menjadi lebih menghargai waktu. Aku merasa hal-hal kecil semestinya dimanfaatkan sebaik mungkin karena akan menjadi hal yang besar. Apalagi dorongan yang keluargaku berikan tiada taranya. Ayahku yang selalu memberiku semangat. Ibuku yang selalu menasehatiku tatkala aku salah dan mengobarkan api dalam dadaku saat mulai redup dan selalu membangunkanku dan menyalakan lampu minyak untukku tatkala subuh datang semua itu benarbenar telah membakar semangatku. Ingin segera aku keluar dari kegelapan ini. Ingin segera menyelesaikan ketidak

113
nyamanan ini. Hanya dengan satu cara jalani dan hadapi. Mungkin ini arti kata-kata yang baru-baru ini aku dengar dari para aktifis kampus ini, Pejuang itu tidak lahir dalam keadaan yang aman dan nyaman, akan tetapi lahir pada saat keadaan yang darurat. Ternyata aku telah membuktikan kebenaran kata-kata ini bahkan sebelum aku menemukannya. Saat keadaan darurat dan menuntut kreativitas kita saat itulah otak kita dan semangat kita mulai menyala. Mengenai tentang jajanku, aku tahu dan sadar dengan keadaan orangtuaku yang hanya bergantung pada hasil perkebunan pisang. Tiap minggu kami hanya bisa panen 3-4 tandan dengan harga satu tandannya Rp.25000. Tidak mungkin aku menambah beban mereka dengan minta jajan rutin tiap minggunya. Saat itulah pikiranku mulai berjalan dan berputar. Untuk memenuhi jajan aku berjualan kue-kuean di sekolah. Dengan hasil penjualan itu aku dapat jajan seperi anak-anak yang lain. Tidak jauh dengan masa SMP kondisiku pun sama dengan SMA. keluargaku makin terpuruk dalam kesusahan. Semakin hari biaya yang kami keluarkan selau bertambah. Tapi pada saat itu yang tidak kami mengerti walaupun susah Alhamdulillah bisa terpenuhi, pasti selalu ada jalan untuk membayar SPP yang menunggak dan pasti selalu ada jalan untuk membayar hutang-hutang lain ke sekolah. Dengan melihat keadaan ini, jangankan bercita-cita untuk kuliah pemikiran untuk keliah saja telah aku urungkan. Aku sudah memutuskan akan menjadi seperti ayahku. Petani yang baik, ulet, sabar, dan bertanggung jawab kepada keluarganya dan yang terpenting lagi memberikan rezeki yang halal untuk keluarganya. Namun demikian, ayahku tidak pernah mematahkan semangatku untuk kuliah. Beliau selalu memberikan semangat kepadaku untuk melanjutkan kuliah. Walaupun aku tahu itu tidak mungkin tetapi cukup bagiku untuk menghibur. Aku masih ingat ketika setiap sehabis shalat magrib ayahku bercerita tentang orang-orang yang berkerja di perminyakan caltex (di Duri, Sumatera). Beliau mengatakan bahwa orang-orang yang berkerja di sana adalah orang-orang yang pintar. Gaji yang akan di dapatkan di sana besar-besar.

114
Aku disuruh untuk bekerja di sana. Kalau mau kuliah, kuliahnya di Intsitut Teknologi Bandung. Katanya orang-orang yang bekerja di sana banyak yang berasal dari lulusan dari sana. Berkali-kali beliau meyakinkan aku kalau aku pasti bisa. Kadang aku tersenyum sendiri dengan angan ayahku terlalu tinggi, kadang aku malu, aku yang masih muda yang punya jalan yang masih panjang kalah dengan semangat beliau, beliau memiliki cita-cita yang lebih tinggi dariku. Bahkan aku sendiri tidak sesemangat beliau menatap masa depan. Tapi, sepesimis apapun aku, karena beliau selalu mengulang-ulang perkataan beliau hampir setiap hari membuat semangatku menyala. Walaupun aku tidak tahu harus jalan yang mana aku tempuh meunuju ke sana, setidaknya aku sudah punya niat untuk menujunya. Akhir-akhir masa SMA, hatiku tambah murung. Keinginanku untuk kuliah semakin kuat. Aku sudah mencoba untuk menguburnya akan tetapi ayahku selalu mengobarkan api itu sehingga aku tak sanggup lagi untuk memadamkannya. Di saat kegundahan itu, aku dipanggil oleh salah satu guruku. Guruku yang tahu akan keadaan keluargaku. Beliau menyarankan agar aku tetap kuliah. Beliau juga mengatakan tentang tata cara masuk kuliah tanpa test, yang kita sebut saat ini dengan PMDK. Lalu beliau mentodorkan kepadaku sebuah formluir. Walaupun dengan harapan hampa, aku tetap mengisi formulir pendaftaran itu. aku isi seadanya dan sesuai dengan minat dan keadaanku. Aku lengkapi semua persyarataaan lain dengan serius. Ayah dan Ibuku berharap aku dapat tembus. Aku sendiri malah berfikir jika aku tembus bagaimana lagi mereka akan mencarikan uang kuliah untukku. Ayah, Ibu, cukuplah aku jadi petani. Aku akan menjadi petani yang baik seperti kalian. Aku yakin aku juga bisa membuat kalian bahagia dengan menjadi seorang petani. Ya tuhan, engkau yang maha tahu, maha besar, maha kuasa, jika kau takdirkan aku menjadi petani maka jadikanlah aku seorang petani yang baik, dan jika kau izinkan aku jadi yang lain maka jadikanlah aku yang baik juga, hari ini kuserahkan semuanya padamu. Sebenarnya akupun tidak berharap banyak dengan hasil seleksi itu. aku merasa sangat tidak yakin jika harus

115
bertarungg dengan ribuan bahkan puluhan ribu orang seluruh Indonesia untuk tembus di sana. Namun, bukan berarti optimisku hilang. Sungguh tak kusangka ternyata Allah maha adil dan maha penyayang. Tidak bisa aku percaya saat surat dari IPB datang ke sekolahku di tengah-tengah kepasarahanku, di sana di sebutkan aku diterima sebagai mahasiswa IPB angkatan 47. Rasa syukurku sudah tak bisa aku ungkapkan lagi, apalagi ketika aku juga membaca surat keterangan bebasa biaya kuliah bahkan di bserikan uang saku. Rasa syukurku benar-benar sudah tidak bisa aku ungkapkan lagi. Api semangatku untuk kuliah yang selama ini sudah redup kini kembali menyala seolah seperti api yang sedang menyala pada matahari. Kabahagiaan menyelimuti keluarga kami. Fikiran kolotku akan ketdakadilanNya aku buang jauh-jauh. Aku tersadar selama ini aku telah meragukan keuasaNya. Saat harapanku mulai hilang Dia malah memberikanku berjuta pintu untuk kumasauki menuju sebuah apa yang selama ini aku anggap sebgai mimpi belaka. Masuk IPB bukan hanya mimpi, aku anak petani dan aku bisa kuliah. Ya Allah terima kasih. Sujudku hanya padamu, kau tahu yang terbaik untukku. Terima kasih juga kepada IPB dengan bea siswa ini aku dapat melanjutkan kuliah. Aku dapat melanjutkan cita-citaku yang pernah ku kubur sendiri. Terima kasih kepada bidik misi atas bantuan dana ini. Tak banyak yang dapat aku katan. Mungkin aku hanya salah satu dari sekian juta orang di Indonesia yang beruntung dan masih banyak di luar sana yang meiliki nasib dan kondisi sama bahkan lebih dariku. Semoga dengan program ini benar-benar dapat mencapai tujuannya yaitu memutuskan rantai kemiskinan. Mungkin tanpa ada keringan ini, sangat mustahil sekali bagimu dapat merasakan menempuh pendidikan di sini. Tapi, dengan rahmatNya melalui bea siswa bidik misi ini aku aku merasakan mimpi yang tidak pernah aku berfikir akan menggapainya ternayat benar-benar nyata. Untuk sahabatku, jangan pernah menyerah dengan keadaan. Jangan pernah menyalahkan takdir. Keadaan selalu membimbing kita pada sebuah proses pematangan.

116
Sahabat..Tetaplah tenang dalam menjalani hidup setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Hiburlah hatimu dengan mengatakan, "hidup adalah anugrah terindah yang aku miliki". Jangan pernah kamu menuduh bahwa kehidupan tidak pernah adil karena keadilan dimata tuhan berbeda dengan apa yang disebut adil oleh manusia, keadilan dimata manusia biasanya hanya sebatas materi tetapi keadilan dimata Allah SWT adalah sesuatu yg tidak pernah bisa kita mengerti. Sungguh..Allah telah memberi setiap manusia akal, fikiran dan hati agar kamu bisa merasakan betapa kasih sayang sang pencipta tidak pernah pudar, dan pupus terhempas oleh masa semoga kita semua bisa menjadi hamba yang selalu bersyukur atas segala nikmatnya. Ingatlah .."Bukan beban kehidupan yang memberati dan menyedihkan hatimu, tapi caramu memikulnya." Sahabat..Jika kamu ingin hidup ini indah jalanilah hari-harimu dengan keberanian kepada segala hal yg menghamabat potensi dirimu sehingga kamu bisa menjadi orang yang kuat dan selalu percaya diri menghadapi ritme kehidupan yang kadang-kadang mengalun lembut, dan kadang-kadang mengalun keras hingga memekakkan telinga. Jangan pernah mengeluh selagi kita dikaruniai akal dan fisik yg sehat. Tetap optimis, untuk menghadapi masa depan. Kata Pak Mario Teguh, "Bukan besarnya masalah yang membekukanmu, tapi kecilnya keberanianmu". Sahabatku, hidup adalah anugrah terindah dari Allah SWTcoba bayangkan jika jantung tak lagi berdetak mata tak lagi berkedip dan akal tak lagi bisa menunjukkan fungsinya, apa yang akan terjadi? "Kematian" itulah yang akan terjadi sahabatku, mari kita semua bersyukur atas anugrah hidup yang Allah Berikan sekecil apapun itu, dengan selalu berbuat baik, berdamai dengan semua umat manusia, dan menjaga lidah kita agar tidak membahayakan diri kita sendiri. Ketika musibah selalu menghentammu bertubi-tubi ingatlah selalu kata-kata berikut ini sahabatku, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar ,dan mentari selalu bersinar, tapi Dia selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di

117
setiap doa. Jangan pernah menyerah sahabatku karena sesungguhnya Allah SWT adalah perancang sekenario yang terbaik dan terindah". Salam semangat !!!

118

Man Jadda Wa Jada


Ahadyah Ayu Umaiya

Apa yang Anda dapatkan hari ini adalah keputusan Anda memilih pilihan-pilihan di masa lalu. Maka putuskan pilihan-pilihan terbaik hari ini untuk mendapatkan hasil terbaik di masa depan. (Aris Ahmad Jaya) Poster besar bertuliskan Selamat Datang PuteraPuteri Terbaik Bangsa di Kampus IPB menyambutku saat aku pertama kali datang di kampus tercinta ini. Aku begitu takjub melihat tulisan besar itu. Ada terselip rasa bangga di dalam hati kecilku. Spontan aku tersenyum sendiri hingga tak kusadari ibuku memandangku sambil menepuk pundakku. Di dalam angkot biru yang mengantarkanku mendaftar ulang di GWW bersama rombongan orang tua dan teman-teman Pati, tak henti-hentinya aku mengucap syukur alhamdulillah pada Sang Illahi Rabbi. Subhanallah, aku sendiri saat itu masih merasa deja vu, seolah-olah ini hanya sebuah ilusi. Rasanya baru kemarin aku berada dalam masa dilemma yang hebat. Aku mencoba menyadarkan diri ini bahwa diterima di IPB melalui jalur SNMPTN Undangan adalah sebuah takdir dari Sang Pembuat Skenario. Aku telah memilih pilihan-pilihan hidup dan inilah jalanku sekarang. Sembilan bulan yang lalu, saat pendaftaran SNMPTN Undangan online, aku dengan mantap dan optimis memilih IPB di pilihan pertama. Pilihan universitas kedua dan ketiga? Hehehe kosong. Ya, aku hanya memilih IPB, jurusan pertama adalah Ilmu Gizi dan Biologi jurusan kedua. Itu tok. Aku pun mengikuti Beasiswa Bidik Misi karena kondisi ekonomi keluargaku yang kurang. Saat mendaftar, banyak orang yang

119
meremehkanku, masa to orang yang serba pas-pasan begini bisa diterima di IPB jurusan favorit pula? Pas-pasan hidupnya, pas-pasan ilmunya, pas-pasan segalanya. Serba ngepas. Begitulah komentar mereka terhadapku. Aku hanya tersenyum malah sebentar kemudian tertawa lebar. Ya, alhamdulillah saja to, berarti tandanya kan mereka perhatian sama saya, ya to ya? Hehehe Tetapi, subhanallah dari itu semua banyak guru-guruku, tetangga, sahabat dan orang tak dikenal mendoakanku semoga dimudahkankan jalanku di IPB. Senang sekali rasanya mendengar doa -doa baik mereka. Ternyata tanggal 18 Mei 2011 Allah mengabulkan doa itu, ketika aku melihat pengumuman SNMPTN Undang an melalui internet, aku spontan meloncat dari tempat dudukku, Kawan. Tahukah kalian, impianku masuk IPB diamini oleh Allah SWT? Alhamdulillah, gadis dari desa di Kecamatan Tayu ini akhirnya bisa diterima di Biologi, tidak di Ilmu Gizi. Meskipun pilihan jurusan kedua tidak apa-apa. Aku juga tak kalah sukanya dengan ilmu tentang makhluk hidup ini. Justru di Biologi-lah Allah menjawab mimpiku. Kok begitu? Begini Kawan, masuk IPB adalah cita-citaku sejak aku duduk di bangku SMP dan jujur aku ingin sekali masuk di departemen Biologi. Setelah masuk SMA, aku belajar giat selama tiga tahun agar prestasi semester I sampai dengan V rata-ratanya bisa di atas 80. Setiap hari dalam doaku, aku selalu mengulang kalimat mujarab, Impianku di Biologi semoga Engkau kabulkan, Ya Allah.. Lalu, sekarang?? Alhamdulillah kesampaian. Yes! Namun sayangnya, ketika kuperhatikan lebih jeli lagi pada keterangan lulus, tidak dicantumkan bahwa Bidik Misi yang kuikuti lolos seleksi, hanya ada tulisan regular dan diharapkan tanggal 26 sampai 28 Mei mendaftar ulang di IPB. Seketika itu, kata alhamdulillah berubah jadi kalimat istighfar astagfirullahaladzim. Nyebut, nyebut, Nduk! Sebenarnya aku sadar bahwa ungkapan itu tak pantas terlontar dari mulutku. Apa Bidik Misi tidak jadi diberikan pada calon mahasiswa serba ngepas seperti saya tahun ini? Aku sudah merasa waswas seandainya Bidik Misi tidak jadi ada. Aku mungkin sudah berspekulasi terlalu berlebihan tentang Bidik Misi. Bagaimana

120
tidak, Kawan? Sebab, aku kuliah di IPB nantinya mengandalkan uang beasiswa Bidik Misi. Jika tidak ada Bidik Misi, maka aku akan kesulitan membayar uang kuliah yang menurutku begitu besar nominalnya. Jika tidak ada biaya, maka kemungkinan besar aku ndak jadi kuliah. Jika ndak jadi kuliah, maka cita-cita terbesar yang kuimpikan akan sulit tercapai. Demikianlah, Kawan, teori implikasi pada logika matematika yang kupelajari di SMA dulu apabila diterapkan dalam dilemma Bidik Misi saat itu. Kegelisahan ini kuceritakan pada Ibu. Ibu mengerti apa yang aku rasakan. Persoalan utama tentang biaya. Namun, Ibu berusaha menguatkan bahwa aku harus mengambil kesempatan terbaik yang telah dihadiahkan Allah SWT kepadaku. Meski ekonomi keluarga mepet, harus tetap diambil. Kesempatan tidak datang dua kali. Ibu menyakinkanku bahwa ke depannya pasti ada jalan. Sapa sing tenanan bakal kasil. Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Mungkin di awal jalan yang dilalui terasa pahit dan sulit, namun di situlah indahnya sebuah perjuangan. Di akhir nanti pasti kita akan menemui seberkas pelangi setelah badai. There is rainbow after storm. Ibu, akan selalu berdoa untuk kesuksesanmu, Nduk. Insyaallah kamu bisa diterima Bidik Misi. Air mataku seketika itu mengalir mendengar kata-kata bijak dari wanita yang melahirkanku yang kini telah berusia 56 tahun. Semangatku kembali terpompa. Ibu tersenyum padaku, Ibu, akan ikut mengantarkanmu ke IPB, Nduk. Tiga hari setelah itu, apa yang dikatakan Ibu benar. Aku mendapatkan kabar dari kakak IKMP (Ikatan Keluarga Mahasiswa Pati) bahwa Beasiswa Bidik Misi akan diseleksi saat pendaftaran ulang pertama, yaitu melalui seleksi berkas asli dan wawancara pribadi. Alangkah senangnya hatiku, ada rasa plong yang menghiasi dadaku. Alhamdulillah ternyata masih ada kesempatan untuk mendapatkan Beasiswa Bidik Misi. Tanggal 27 Mei 2011 pukul 09.00 WIB, aku menuju gedung GWW (Graha Widya Wisuda) untuk seleksi berkas tahap I. Ratusan calon mahasiswa SNMPTN Undangan dari

121
berbagai daerah di Indonesia sudah memadati pelataran gedung. Di sana, kuulihat banyak anak yang berkemeja necis dan sangat bagus antri menaiki tangga. Menurut hematku, mereka berasal dari kota-kota besar, wajah mereka juga khas wajah anak kota. Jujur Kawan, memandangi mereka kala itu membuatku cukup minder. Aku tersenyum kecut mengamati diriku yang bernampilan terlalu sederhana untuk hari bersejarah dalam hidupku. Diterima di IPB, Kawan, seharusnya dapat berpakaian special lah untuk hari itu saja, ya to? Tapi, ya memang beginilah keadaanku. Harus tetap bersyukur bukan? Segera kubuang jauh-jauh pikiran negatif itu, Aku kembali berpikir positif. Aku jauh-jauh merantau dari Pati (Jawa Tengah) ke IPB hanya untuk mencari ilmu yang bermanfaat bukan untuk mempermasalahkan soal penampilan. Kaya atau miskin berhak mendapatkan pendidikan yang sama, berhak pula untuk menjadi orang yang berprestasi di IPB. Aku sudah berusaha keras selama ini untuk dapat diterima di IPB, alhamdulillah bila aku bisa kuliah gratis karena Bidik Misi. Bisa membantu meringankan beban Ibu dan saudaraku yang telah bersusah payah membiayai sekolahku sampai SMA. Aku selalu mengingat pesan Ibu sapa sing tenanan bakal kasil. Itulah prinsip yang senantiasa kupegang, Kawan. Sekitar satu setengah jam menunggu antrian, akhirnya aku menghadap salah satu dosen untuk menyerahkan berkas syarat calon mahasiswa baru IPB. Syukur Alhamdulillah tiada halangan yang berarti. Setelah penyerahan berkas selesai, aku menuju ruang wawancara calon penerima Bidik Misi. Aku deg-degan bukan main, Kawan. Detak jantung ini terasa berdangdutan ria, tak mau tenang. Aku langsung dipersilahkan salah seorang panitia Bidik Misi untuk duduk di kursi yang kosong. Seorang dosen wanita menyambutku dengan senyuman ramah. Beliau mengenakan jilbab merah jambu dan baju putih. Kupandangi papan nama yang terpasang di jilbab beliau. Ternyata beliau bernama Mega Simanjutak. Ya, Ibu Mega panggilannya. Langsung saja Ibu Mega menyapaku, Silahkan duduk Dik, jangan berdiri, ayo silahkan! Aku pun duduk masih dengan

122
jantung yang berdebar- debar. Aku tak henti-hentinya membaca sholawat agar tidak semakin grogi. Beliau bertanya lagi, Siapa namanya, Dik? Aku menjawab, Ahadyah Ayu Umaiya, Bu. Beliau kemudian berkata, Hmm ya ya.. Adik lahirnya hari Ahad ya? Bapak kerjanya apa, Dik? Subhanallah lembut sekali Ibu ini, Aku mengangguk sambil tersenyum kemudian menjawab, Maaf Bu, Bapak sudah meninggal delapan tahun yang lalu. Jadi tidak bekerja lagi. Ibu Mega menggangguk mengerti sembari tersenyum kecil mendengar jawabanku. Beliau mungkin saat itu mengomentari jawabanku dalam hati, orang yang sudah meninggal ya memang tidak bisa kerja lagi to, Nak. Ibu Mega kembali memeriksa keterangan yang kuberikan pada berkas Bidik Misi. Beliau tampaknya mengamati keterangan tentang keluargaku. Ya, ya Ibu mengerti. Lalu, apa kamu pun ya prestasi di SMA, Nak? Coba beritahu Ibu prestasi apa saja yang telah kamu dapatkan? Beliau menanti jawabanku dengan antusias. Aku agak malu menjawab pertanyaan jenis ini dari Ibu Mega. Aku tidak mau sombong, Kawan. Sebenarnya untuk menceritakan prestasiku pada kalian aku merasa sungkan. Aku kemukan pada beliau tentang prestasi yang telah ku peroleh selama di SMA, Sepuluh besar LKTI SMA/MA se DIY Jateng di UNY tahun 2009, Bu. Lalu, Finalis LKTI Pelajar Berprestasi se-Jateng di PT. Honda Internasional Semarang tahun 2009. Kemudian tahun 2010 lalu, saya juara 3 Lomba Mapel Astronomi Tingkat SMA/MA se-Kabupaten Pati dan maju ke Provinsi Jawa Tengah memakili Kabupaten Pati, tetapi saya peringkat 21 dari 103 peserta lomba Astronomi. Terus, ketika kelas XII saya mendapatkan kesempatan mengikuti lomba bidang Geografi se-Region Jawa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi UNY dan alhamdulillah masuk sebagai finalis 10 besar. Sudah itu saja, Bu. Ibu Mega terlihat puas mendengar jawabanku. Ibu senang mendengar presatasi kamu. Di sini, ibu lihat kamu juga aktif di organisasi bukan? Ibu pesan, ketika nanti kamu sah diterima sebagai mahasiswa IPB, jaga prestasi kamu,

123
belajar lebih giat lagi. Atur waktu dengan baik! Jangan sampai ketika kamu ikut organisasi, belajarmu terbengkalai. Jangan sampai itu terjadi ya. Oke, tunggu panggilan Ibu selanjutnya ya. Wawancara sudah selesai. Alhamdulillahirabbilalamin, ternyata wawancaranya tidak seperti yang kubayangkan. Akhirnya seleksi berkas tahap satu selesai juga. Aku merasa lega. Aku kemudian mengucapkan terima kasih dan permisi pada beliau. Aku lega. Esok harinya Direktur Direktorat Kemahasiswaan IPB, Bapak Rimbawan, mengumumkan informasi tentang penerima Beasiswa Bidik Misi di akhir acara penyambutan mahasiswa baru jalur SNMPTN Undangan. Beliau mengatakan bahwa calon pendaftar Bidik Misi melebihi kuota sehingga harus diseleksi lagi dari sekitar 800 orang pendaftar menjadi sekitar 400 orang penerima. Mendengar informasi itu, aku merasa cemas dan bimbang. Bagaimana seandainya bila aku tidak termasuk ke dalam 400 penerima Beasiswa Bidik Misi? Mampukah ibu dan keluargaku membayar biaya kuliah tersebut? Jujur saja saat mendaftar ulang ke IPB, ibuku tidak membawa uang apa-apa selain uang menginap selama tiga hari di Bogor ini. Ya Allah, ujian apa lagi ini? Tolong hambaMu, Ya Allah. Sujud syukur aku panjatkan pada Allah SWT setelah antri sekitar satu jam, akhirnya aku menerima selembar kertas yang berisi tulisan Anda direkomendasikan menerima Beasiswa Bidik Misi. Aku hampir tak percaya. Sungguh Allah SWT telah menolongku. Aku segera menemui Ibu setelah acara di GWW selesai. Tahu tidak, Kawanku, mata ibuku ikut berkaca-kaca karena aku masuk ke dalam 400 orang yang direkomendasikan Bidik Misi. Selamat, Nduk. Tetaplah berjuang! ucapnya lirih. Bulan Juni tanggal 26, aku dan teman-teman Pati kembali lagi ke IPB dan untuk pertama kalinya kami akan menghuni Asrama TPB IPB selama dua semester ke depan. Bersamaan itu pula, daftar ulang calon mahasiswa baru kedua dijadwalkan, termasuk Bidik Misi. Alhamdulillah seleksi berkas Bidik Misi tahap kedua berjalan dengan lancar. Akhirnya aku resmi menjadi mahasiswa IPB dan penerima Beasiswa Bidik

124
Misi. Berkat beasiswa ini, sekarang aku bisa berada di IPB untuk mendapatkan ilmu dari dosen-dosen hebat yang ada di institut pertanian ini. Selama satu bulan di IPB, aku dan teman-teman menjalani program matrikulasi. Aku mendapatkan mata kuliah Fisika plus praktikumnya. Subhanallah, jujur satu bulan di IPB terasa lebih berat karena harus menyesuaikan dengan lingkungan, tempat tinggal, sistem pendidikan dan orang-orang yang serba baru. Apalagi jauh dari Ibu dan keluarga, itulah kendala terberat. Untungnya di Asrama Putri TPB aku tidak merasa minder karena di sana semua mahasiswa diajarkan hidup sederhana. Mahasiswa kaya dan miskin tidak begitu ada gap yang besar. Aku juga mempunyai banyak teman dari penerima Beasiswa Bidik Misi yang lain. Aku semakin merasa bersyukur bisa melanjutkan kuliah di IPB. Lima bulan telah berjalan. Telah banyak aktivitas yang kulewatkan di sini baik senang dan sudahnya. Selama lima bulan pula, Bidik Misi turut membiayai kuliahku. Uang untuk makan, membeli buku mata kuliah dan keperluan sehari-hari juga dari uang saku Bidik Misi yang kuterima. Sekali lagi aku tak henti-hentinya berucap syukur pada Allah SWT. Ada satu pertanyaan yang sering muncul di otakku, Kawan. Apa yang dapat kuberikan sebagai balas jasaku karena telah menerima Bidik Misi? Kalau memberikan balas jasa kepada negara secara langsung tentu belum bisa tercapai saat ini. Aku dan kalian pasti tahu bukan bahwa Bidik Misi itu beasiswa dari DIKTI yang berasal dari uang rakyat? Ya, rakyat Indonesia, Kawanku! Sekarang aku berjuang keras menggapai cita-citaku di IPB. Kalian tahu cita-citaku, Kawan? Benar, aku ingin menjadi seorang dosen dan guru bagi anak-anak tidak mampu di Indonesia. Aku ingin seperti Ibu Sri Nurdiati, Dekan FMIPA sekaligus dosen Landasan Matematika kelasku. Karena beliau selalu membangkitkan semangat setiap kali mengajar mahasiswanya, maka aku mengidolakannya. Aku ingin anakanak tidak mampu merasakan manisnya ilmu di bangku sekolah. Aku ingin mereka mendapatkan kesempatan

125
pendidikan yang sama seperti orang kaya lainnya. Melihat mereka cerdas dan setidaknya menjadi ilmuwan pengganti Albert Enstein alangkah bangganya hati ini. Itu imajinasiku, Kawan. Mungkin agaknya terlalu muluk ya. Tapi, siapa bilang tidak bisa? Bisa, pasti bisa asal ada kesungguhan tekad dan niat. Implikasi untuk meraih cita-citaku adalah aku akan belajar giat selama delapan semester untuk mendapatkan IPK di atas 3 dan mengembangkan kemampuanku di bidang Biologi. Di TPB ini, aku juga mengikuti UKM FORCES, klub asrama Tutor Sebaya dan pengajar Bina Baca Quran( BBQ). Bukan untuk mendapatkan sanjugan karena ikut organisasi, tetapi niatku supaya ilmu yang telah kuperoleh selama ini tidak sia-sia. Memang aku akui aku tidak sepintar teman TPB lain. Aku biasa saja. Namun, selagi aku mempunyai ilmu, apa salahnya jika ilmu itu diberikan kepada orang lain? Kawanku, sebaik-baiknya manusia itu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain, bukan? Aku senang bila melihat orang lain bisa dan paham tentang suatu ilmu. Ada kepuasan tersendiri di hati kecil ini. Itu semua kulakukan sebagai balas jasaku terhadap kemudahan melanjutkan kuliah di IPB yang telah diberikan Allah SWT melalui Bidik Misi ini. Semoga impian dan cita-cita gadis desa ini dikabulkan oleh-Nya. Aku percaya pada kekuatan kata man jadda wa jada. Sapa sing tenanan bakal kasil. Aku yakin suatu saat nanti aku bisa berdiri di depan mahasiswa sambil berkata, Apa kabar kuliah kalian hari ini? Ibu, doakan aku di sini Jika aku sukses nanti, kupersembahkan prestasi ini untukmu, Wahai Ibundaku.

126

Masalah Teratasi, Menuju Prestasi Terima Kasih Bidik Misi


Ahmad Iqbal

Setelah kesusahan pasti ada kemudahan dan Percayalah Allah bersama kita Manusia diciptakan Allah berbeda-beda. Namun, dari pandangan-Nya semua manusia adalah sama. Hal itu yang menguatkan diriku untuk tetap berdiri tegak, percaya diri dan tetap sabar. Manusia terkadang menyalahi aturan Tuhan tersebut. Membuat tingkatan-tingkatan kedudukan sosial yang akan menimbulkan rasa minder bagi kalangan menengah kebawah. Hanya masyarakat yang strata atas saja yang bisa mendapatkan pelayanan dengan mudah . Mulai dari pelayanan pendidikan, transportasi, kesehatan, informasi dan komunikasi. Saya akan menekankan di bidang pendidikan. Pendidikan merupakan kebutuhan primer. Setiap manusia membutuhkan pendidikan unuk menghadapi kehidupan yang semakin maju dan berkembang. Besarnya biaya pendidikan akan selaras dengan semakin tingginya jenjang pendidikan. Sebagian orang tua akan berfikir bahwa anak-anaknya cukup baca tulis dan berhitung saja sudahlah cukup. Tetapi orang tuaku berbeda. Mereka akan menyekolahkan kami setinggi yang kami mau. Sekolahlah setinggi yang kau mau. Belajarlah yang benar. Jangan fikirkan biaya, ayah akan menyanggupinya. Begitu pesannya. Sebagai anak aku pun tahu diri. Melihat perekonomian keluarga yang pas-pasan, aku anak kedua dari lima bersaudara tidak mengecewakan orang tua dengan selalu menduduki peringkat lima besar di kelas mulai dari SD hingga

127
SMA. Saat lulus SMA aku bingung akan melanjutkan studi atau langsung bekerja. Sudah ada tetangga yang menawarkan pekerjaan sebagai asisten di suatu bank swasta daerah. Membiaya kuliah bukanlah perkara mudah. Karena keempat saudaraku yang lainnya juga sedang menempuh jenjang pendidikan. Kakak saya yang sedang menempuh semester lima di UNY Yogyakarta. Adik perempuan yang akan menanjak ke kelas tiga SMA. Kemudian adik laki-lakiku yang akan melanjutkan ke SMP dan terakhir adik laki-lakiku yang sedang duduk di kelas empat SD. Ayahku tidak akan menarik kata-katanya yang menyanggupi biaya studi asalkan kami mau dan bersungguh-sungguh. Beliau memotivasiku untuk melanjutkan kuliah. Ayah saja lulusan Diploma III Akuntansi Universitas Sumatra Utara, kau harus lebih dari itu. Ujarnya. Ayah memang telah menjalani pendidikan tinggi. Sehingga Ia berbeda dengan petani-petani lainnya di desa pelosok Provinsi Riau, desa kami. Ia lebih bijaksana dan menjadi tokoh yang dihormati oleh masyarakat sekitar. Dulunya ayah adalah pegawai Bank Rakyat Indonesia (BRI) Medan. Namun, karena menurutnya kerja di bank banyak mendapat gaji yang bukan haknya, Ia mengundurkan diri pada tahun 2002. Kakak yang laki-laki ku memotivasi untuk terus kuliah. Apalagi aku diterima di salah satu perguruan tinggi di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB). Sebenarnya, ayah mengharapkan aku mendapat beasiswa karena keuangan keluarga akan agak kesusahan apabila aku kuliah. Aku tidak mengetahui bahwa pemerintah telah mengadakan program Bidik Misi, yaitu beasiswa pendidikan bagi calon mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Ini karena kurangnya informasi yang ada di sekolah dan lingkungan rumah yang belum ada aliran listik PLN. Ketika saya mendaftarkan diri lewat jalur SNMPTN Undangan. Setelah selesai menginput data di situ tercantum namaku dan ada beberapa nama teman dianjurkan untuk direkomendasikan oleh kepala sekolah mengikuti program Bidik Misi. Tetapi guru yang mendampingi ketika pendaftaran

128
tersebut mengatakan bahwa Ia tidak tahu tentang program Bidik Misi. Dan aku pun mengikuti jalur SNMPTN Undangan. Ketidaktahuanku masalah Bidik misi akhirnya tejawab ketika aku bertanya kepada kakak kelas satu tingkat diatasku. Ia adalah mahasiswa Universitas Riau (UR). Ia menjawab, Bidik Misi itu beasiswa bagi calon mahasiswa yang berprestasi tapi kurang mampu. Teman kakak mendapatkan beasiswa itu dan mendapatkan biaya hidup yang besarnya 600 ribu per bulannya. Kakak itu menambahkan, Kau kan Ketua OSIS, juga peringkat kelas. Kenapa tidak ikut ? Aku pun terdiam. Kemudian ingat keadaan keuangan keluargaku yang kurang baik. Serta keinginan Ayah yang menginginkan aku ikut beasiswa untuk meringankan beban orang tua. Namun Bidik Misi tidak dapat saya ikuti karena sudah telah terlambat. Pendaftaran Bidik Misi telah ditutup. Nasi telah menjadi bubur. Aku mengutuki diri sendiri akan ketidaktahuanku karena kurangnya mencari informasi. saya tidak menyalahkan sekolah dan lingkungan yang kurang memadiai untuk mendapatkan jaringan yang luas. Ini salahku yang tidak peka dan kurang bertindak menuruti harapan kedua orang tuaku untuk mendapatkan beasiswa. Ayahku adalah orang yang luar biasa. Penyabar, disiplin, dan bijaksana.berkali-kali ditipu orang ia tetap tabah. Mulai dari penjualan tanah yang bersengketa hingga hasil pertanian yang dijual ayahku kepada seorang agen dibawa kabur sehingga tidak dibayar. Beliau tetap memperbolehkanku kuliah dimana pun yang kuinginkan dengan syarat kesungguhan dan ketekunan. Karena aku lulus di IPB. Aku memutuskan untuk berangkat menuju Kota Bogor. Masalah biaya seperti biasa Ayah mengatakan tidak perlu aku fikirkan. Karena yang terpenting adalah kemauanku untuk menuntut ilmu maka akan ada pemecahan segala masalah itu. Alhamdulillah, Allah menyayangi hamba Nya. Uang pensiun Ayah dari BRI keluar. Sekitar 12 juta Rupiah. Dengan menggunakan sebagian uang tersebut aku pun akhirnya bisa berangkat ke Bogor. Pertama kalinya aku naik pesawat terbang. Dengan rute penerbangan dari Bandara Sultan Syarif

129
Kasim II, Pekanbaru menuju Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Harga tiket pesawat cukup mahal. Tak pernah terbayangkan aku menghabiskan uang ratusan ribu rupiah hanya dalam satu jam. Aku bertekad akan berjuang di kampus hijau ini dengan mempertaruhkan pengorbanan orang tua yang begitu luar biasa kepadaku.. Kehidupan sebagai mahasiswa mulai kutorehkan disini. Aku agak sedih melihat biaya masuk ke IPB yang cukup besar, yaitu Rp. 13.080.000, dengan menggunakan sisa uang pensiun ayahku aku hanya bisa membayar sebanyak 70% dari biaya keseluruhan. Itu merupakan biaya minimal yang menjadi syarat untuk menjadi mahasiswa IPB.Untuk sisanya paling lambat tanggal 23 Oktober 2011 pembayarannya. Dan lagilagi ayahku mengatakan jangan difikirkan. Ia yakin bahwa nanti akan bisa membayarnya. Biaya hidup di Kota Hujan ini cukup murah menurutku. Jauh berbeda dengan biaya hidup di Riau sana yang relatif lebih mahal. Sehingga aku bisa berhemat disini. Ditambah lagi aku ada di asrama yang akan mengurangi biaya untuk tempat tinggal karena unuk perhitungannya sebulannya biaya untuk tinggal di asrama seratus ribu rupiah dan itu sudah di bayar saat awal pembayaran masuk. Untuk dua bulan pertama kehidupan cukup lancer. Namun setelah itu, uang kiriman agak tersendat karena ternyata pohon kakao yang menjadi penghasilan keluarga terserang hama. Telah terjadi wabah penyakit buah yang bangka. Sehingga produksinya menurun. Ibuku pusing, Ia harus bias membagi keuangan yang mminim pemasukan dengan tututan pengeluaran yang besar. Mulai dari biaya pendidikan kelima anaknya dan biaya rumah tangga. Aku diminta untuk lebih berhemat. Aku sempat berfikir Bagaimana aku melunasi sisa biaya kuliahku dan melanjutkan kehidupan kuliahku? Aku terus memikirkannya. Solusinya aku harus berusaha sendiri untuk mendapatkan beasiswa. Seperti yang kudengar dari kakak-kakak kelas bahwa di IPB sangat banyak beasiswa yang dapat kita peroleh. Mulai dari yang tidak mampu hingga beasiswa mahasiswa berprestasi. Aku sempat beranganangan, Andaikan aku menjadi salah satu penerima bidik misi

130
maka masalah ini akan teratasi. Namun itu sedikit mustahil karena kuota untuk IPB pada tahun 2011 adalah lima ratus calon mahasiswa dan itu telah dipenuhi oleh teman-teman yang lulus seleksi.. Aku pun terkadang iri dengan temanteman yang mendapatkan Bidik Misi. Walaupun dari keluarga yang kurang mampu, namun mereka dapat kuliah dengan tenangnya dari beasiswa Bidik Misi. Rezeki adalah kekuasaan-Nya. Ternyata IPB membuka pendaftaran Bidik Misi tambahan. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Alhamdulillah aku lulus untuk menjadi mahasiswa penerima Bidik Misi tambahan. Walaupun biaya awal masuk ke IPB tidak dikembalikan secara penuh karena adanya sistem subsidi silang. Aku tetap bersyukur . Kami dijanjikan akan mendapatkan uang awal masuk IPB sebesar Rp4.800.000. Alhamdulillah ya Allah. Aku menangis bahagia dan juga orang tuaku juga tak henti-hentinya berucap syukur. Allah mengabulkan doa hamba-Nya yang sedang kesusahan. Dan aku menyadari pernyataan orang tuaku yang pernah menyatakan bahwa orang yang bersungguh-sungguh akan dilancarkan jalannya. aku langsung mengatakan kepada orang tua untuk segera mengirimkan uang sekitar Rp 4.000.000. dengan meminjam kepada tetangga untuk pelunasan biaya masuk IPB dan aku katakan akan diganti dengan uang yang aku peroleh dari Bidik Misi. Akhirnya, aku dapat kuliah dengan tenang seperti teman-teman yang lain. Masalah kemiskinan telah dihancurkan dengan Bidik Misi. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan menunjukkan akan hidup mandiri, berorientasi pengabdian pada negeri, serta meningkatkan berprestasi. Kepada teman-teman sesama penerima Bidik Misi ayo tingkatkan prestasi. Karena kita telah mendapat difasilitasi. Jadi tunggu apalagi, ayo bersama membangun negeri. Sebagai mahasiswa pertanian mari tingkatkan pertanian Indonesia. Kemudian, terima kasih Ya Allah dengan jalan -Mu aku bisa berjalan dengan langkah yang pasti. Terima kasih Ayah, Ibu kau selalu memotivasi dan mendoakanku juga kepada saudara-saudaraku. Dan terakhir Terima Kasih Bidik Misi.

131

Lilin Penerang dari Kegelapan yang Membangkitkan Semangat Untuk Meraih Masa Depan Ahmad Sidik

Sesungguhnya Allah Tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri, dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia( QS. Ar-rad: 11). Sejarah tidak akan pernah mencatat orang yang biasa, akan tetapi orang yang sangat luar biasa (Aditya Syahri). Ujian adalah salah satu syarat agar kita bisa naik kelas. Sebaikbaik bagi manusia jauh lebih baik bagi Allah, meskipun awalnya terasa pahit, tetapi yakinlah suatu saat pasti akan indah pada waktu nya. (Ahmad Sidik). Perjalanan yang penuh dengan tantangan satu per satu datang dan silih berganti, kejadian-kejadian itu saya mulai semenjak masih kecil. Sejak sekitar umur lima tahun saya sudah ditinggal sosok seorang bapak yang pergi entah kemana. Akhirnya, saya tinggal dengan sosok ibu yang sangat luar biasa dan seorang kakak yang sangat kusayangi. Masa kecil saya lalui dengan ke tidak tahuan tetang sosok seorang bapak, dan tidak terasa aku sudah mau lulus SD. Akhirnya dengan peringkat empat di kelas, saya di daftarkan ibu ke SMP yang sama seperti kakak. Disinilah saya mulai mengenal kehidupan anak-anak kota, dan disana saya telah salah pergaulan saya pun tenggelam dalam kelompok preman. Saya disana tidak pernah yang namanya belajar, kerjaanya hanya malakin orang, berkelahi, merokok, membolos, dan masuk ke BK pun sering karena berbagai masalah. Hidup saya pun seperti tidak ada batasannya sama sekali.

132
Peristiwa yang sangat menyengangkan terjadi pada hidupku, tepatnya kelas dua SMP semester akhir ibu saya meninggal dunia karena sakit kanker payudara. Saya langsung jatuh tersungkur dan menangis histeris, pertanyaan yang selalu saya ucapkan pada saat itu dengan sangat keras disamping jenazah ibu saya akan ikut siapa..siapa..siapa..?. Setelah ditinggalkan Ibu, kami selanjutnya diasuh oleh paman dan bibi. Hidup saya seakan sudah tidak ada gunanya lagi, hari-hari aku lewati dengan penuh penyesalan, merenungmerenung ,dan merenung Apakah ini semua balasan atas kejahatan-kejahatan yang saya lakukan. sambil befikir hidup saya terasa sudah sangat hancur, saya dan kakak seperti anak ayam yang kehilangan bapak-ibunya, tidak jelas masa depan mau jadi apa?. Jawaban yang sangat menakjubkan dalam setiap doa saya selama ini, perkataan yang diucapkan seorang ilmuan yang diwawancarai di suatu acra televisi, dia mengatakan bahwa dirinya bangkit setelah semasa SMP kelas tiga, dia pernah mendapat nilai matematika paling jelek di kelasnya dan dia pun terus-terusan diejek oleh temen-temennya bahkan gurunya pun ikut mengejek beliau. Akhirnya dia pun sekarang menjadi master matematika. Dia berkata,Tidak ada yang bisa merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mau merubahnya. Hal itu lah memberi suatu inspirasi yang sangat luar biasa di dalam hidup saya yang kelam. Mulai saat itulah saya mau untuk belajar dengan sangat keras, saya sadar bahwa sudah ketinggalan banyak pelajaran, dengan aktivitasaktivitas seperti seorang preman, akhirnya saya mendapatkan peringkat tiga besar di kelas dan temen-temen saya pada tidak percaya, saya pun dengan tenang mengatakan Mungkin nilanya tertukar . Setelah kejadian itu saya mulai menjauh dari kelompok saya, walaupun banyak sekali ajakan dan ancaman datang hampir setiap hari. Banyak musuh-musuh saya yang mau balas dendam setelah mendengar bahwa saya sudah tidak punya kawan lagi, untungnya saya mempunyai seorang kakak, dia pun terus melindungi dan mendukung atas perubahan yang saya lakukan. Akhirnya saya lulus dangan

133
nilai yang sangat memuaskan, dan saya berjuang dengan nilai itu berkeinginan melanjutkan ke SMA yang pernah di inginkan Almarhum Ibu saya tercinta. Berbagai usaha yang saya bisa, kulakukan dengan sangat maksimal dan tidak ketinggalan saya imbangi dengan doa. Setiap hari saya di kunci kakak di kamar berbagai buku disuguhkan diatas meja, dan kata-kata kakak yang masih saya ingat sampai saat ini adalah Allah hanya melihat usaha yang maksimal, sebaik-baik bagi manusia lebih baik bagi Allah walau awalnya terasa pahit pasti akan indah pada waktu nya. Setelah sekitar satu bulan menanti, akhirnya pengumuman penerimaan siswa baru di SMAN 1 Purwodadi akan ditempel di SMA. sengaja datang lebih awal satu jam dari jadwal, supaya tidak berdesakan. Pagi yang sepi, bangunan sekolah tua berdiri sangat kokoh, jalan depan sekolah yang terasa energi sebagai tempat aktivitas orangorang pintar membuat saya merinding dan terbayang saya juga akan beraktivitas ditempat ini pun terbesit dalam benak. Waktu menunjukkan pukul 10.00 siang, suasana sudah mulai ramai dengan calon-calon siswa dan didampingi orang tuanya masing-masing. Sebaliknya saya datang hanya sebatang kara, akan tetapi saya berusaha tidak sedih, tersenyum dan tetap positif thinking. Satu persatu daftar nama, aku cari mulai dari urutan paling bawah sendiri, sempat ragu karena hampir tiga puluh menit mencari tidak ada nama saya dalam daftar, akhirnya saya keluar dari kerumunan dan berfikir bahwa saya tidak diterima. Saya mulai lemas dan lesu, terdengarlah teriakan dari kerumunan Saya diterima, saya pun mendatangi kesana dan mencari lagi tidak disangka-sangka nama saya ada didaftar, berkali-kali saya lihat untuk memastikannya dan dengan reflek saya berteriak Saya diterima. Terbayanglah, ini awal untuk membuktikan bahwa saya bias, saya pulang dengan mengayuh sepeda sangat kencang, kurang lebih enam kilometer untuk sampai ke rumah. Saya langsung memeluk kakak saya dan menangis Akhirnya saya diterima kak. Kakak saya pun juga menangis. Semua keluarga dan tetangga mengucapkan selamat kepada

134
saya, teman-teman dan guru-guru SMP saya tidak percaya, dan saya bicara Saya juga tidak tahu, kok bisa masuk Bu. Akhirnya saya bisa jadi siswa SMAN 1 Purwodadi, yang notabene adalah sekolah terfavorit didaerah saya. Disinilah saya mulai mengenal Islam, dan saya mulai belajar mengaji dari kakak-kakak kelas setelah selesai sekolah. Tiga tahun berjalan tidak terasa, tahu-tahu sudah mau lulus SMA saya pun mulai pusing berpikir mau kemana lagi perjalanan saya selanjutnya..?. Kesedihan pun kemudian datang lagi, paman dan bibi yang awalnya saya rasa baik ternyata malah jahat. Mereka menjual sawah peninggalan Ibu saya dan uangnya pun tidak jelas kemana, padahal biaya sekolah saya sudah mendapat bantuan pemerintah lewat BKM (Bantuan Keluarga Miskin) sehingga hanya membayar sebagian saja. Kebun pekarangan rumah tidak selang beberapa waktu juga dijual, tabungantabungan saya dari uang saku juga diminta. Akhirnya saya tertekan di dalam rumah saya sendiri. Tetapi, Alhamdulillah kakak saya diterima menjadi TNI. Akhirnya saya berfikir untuk pergi dari rumah, sudah ada fikiran untuk menjadi penjaga masjid didekat sekolah. Saya berusaha membakar semua itu untuk jadi semangat dan motivasi, tidak beberapa lama saya mendengar informasi bahwa ada perkumpulan alumni dari SMA yang membuka kontrakan untuk ditinggali para siswa yang rumahnya jauh dengan gratis. Tanpa berfikir panjang saya pun tinggal disana yang pertama kali, tidak ada teman dan terkadang seharian tidak makan. Perasaan ingin pulang pun terbesit lagi, akhirnya besoknya ada temen yang mau bergabung. Lama kelamaan akhirnya kita ada tujuh orang dan disini lah saya merasakan adanya keluarga baru, perasaan senang pun tidak bisa terlupakan hingga saat ini. Meninggalkan cerita di luar kehidupan sekolah sebentar. Mendekati UN (Ujian Nasional) semua siswa selain sibuk untuk mempersiapkan ujian mereka juga sibuk untuk mencari Universitas-universitas yang terbaik, disisi lain saya hanya terdiam dan membisu. Saya sadar tidak mampu melanjutkan kuliah, untuk bisa makan saja sudah Alhamdulilah. Saya hanya fokus untuk jadi TNI. Tiap selesai

135
sekolah dan hari libur saya gunakan untuk latihan fisik (jogging, bersepeda ke bukit, bahkan juga ikut pelatihan militer di KODIM) itu semua dalam rangka usaha, urusan hasil di tangan Allah. Sampai setiap hari di kelas saya dipanggil Kapten Sidik akan tetapi yang namanya takdir itu di tangan Allah. Kurang lebih satu bulan setelah latihan fisik saya mendaftar Akmil di kota Semarang, teryata saya gagal tidak memenuhi syarat karena tinggi badan kurang 0,8 cm. Meskipun demikian saya tidak yakin, karena di rumah telah diukur sudah memenuhi syarat yaitu 167 cm. Oleh karena itu saya mendaftar lagi di kota Solo dan hasilnya sama kurang tinggi, tetapi di Solo kurang 0,2 cm. Akhirnya saya menerima hasil itu, berbagai usaha untuk meninggikan badan saya lakukan, yaitu melalui renang, minum suplemen, dll. Setelah kurang lebih dua minggu kemudian saya mendaftar AkaBRI TNI AU di Kota Jogja, akhirnya tinggi badan bisa lolos dan kurang lebih satu minggu saya mingikuti tes pertama ( fisik dan kesehatan), dari rumah ke Jogja kurang lebih lima sampai enam jam jadi tidak mungkin di laju, karena untuk setiap tes masuk pukul 05.30 pagi. Akhirnya saya memutuskan untuk menginap di masjid selama satu minggu, setelah di umumkan ternyata saya gagal di kesehatan karena keringat dingin di telapak tangan. Setelah itu saya menarik kesimpulan bahwa rezeki saya bukan di TNI, dan saya mulai menutup mimpi untuk menjadi TNI. Setelah itu saya mulai mencari kuliah gratis yaitu: STAN, IPDN, dan STIS. Saya padahal sudah mendaftar di IPDN, pada suatu ketika di sekolah ada promosi IPB dari kakak kelas alumni bahwa beliau juga mendapat Bidik Misi. Beliau berkata jika kita mau kaya yaitu lewat wirausaha, kalau kita mau bersaing dengan Negara lain yaitu dengan cara memajukan sektor yang sudah pasti kita miliki yaitu pertaniana, dan IPB lah gudang semuanya itu. IPB adalah termasuk empat besar kampus terbaik di Indonesia. Akhirnya saya konsultasi ke BK untuk mengajukan Bidik Misi di IPB, ternyata beliau mendukung saya untuk ke IPB saja, temanteman saya pun juga demikian, dan akhirnya saya mendaftar Bidik Misi di IPB. Tibalah waktu pengumuman itu, dan saya

136
diterima. Walaupun demikian saya masih galau antara IPB ataukah IPDN yang baru akan tes, saya masih menunggu keputusan dari kakak saya selaku satu-satunya keluarga yang masih saya miliki dunia saat ini, selain Allah SWT. Akhirnya kakak memberikan kebebasan kepada saya untuk mengambil keputusan, dan beliau mendukung apa yang menjadi keputusan saya. Ditengah-tengah kebimbangan saya terus meminta petunjuk Allah lewat Sholat Tahajud, Istikharoh, dan memperbanyak dzikir. Perjalanan tidak berhenti disini, setelah sampai di IPB pun kegelisahan seakan tumbuh kembali, Bidik Misi ternyata masih diseleksi lagi dari seribu lebih pendftar baru atau pun lama. Saya langsung berfikir seandainya gagal menerima Bidik Misi otomatis saya harus mengubur dalam-dalam keinginan untuk kuliah. Timbullah pertanyaan, apakah saya akan menjadi sampah yang tidak jelas mau jadi apa aku ini?. Setelah diseleksi akhirnya saya diberi amanat untuk menerima Bidik Misi, ini sungguh luar biasa. Penerang dari kegelapan untuk melihat masa depan, inilah sebutan yang saya rasa paling tepat untuk Bidik Misi. Jawaban yang Insyaallah adalah yang terbaik dan tidak pernah ada mimpi sebelumnya untuk menjadi mahasiswa apalagi di kampus yang sangat luar biasa ini IPB. Perasaan kekhawatiran itu di mantapkan lagi setelah mengikuti Stadium General oleh berbagai pembicara yang sangat luar biasa, bahwa rasanya saya benar-benar tersesat di jalan yang benar, dan kuputuskan IPB lah yang akan menjadi tempat kisahku selanjutnya bersama Bidik Misi. Akhirnya, bapak kutemukan pada saat saya kelas dua SMA, setelah saya berjuang mencari kesana-kemari di tempat kakek untuk mendapatkan informasi, kurang lebih hampir sebelas kilometer dari rumah bersepeda dengan sepeda buntut saya, yang setia menemani sejak SMP sampai SMA disetiap pagi untuk mencari ilmu. Ternyata bapak sudah berkeluarga lagi dan sekarang beliau di kota Solo, dan saya berusaha menerima kenyataan itu. Keluarga beliau pun baik dan sekarang tidak jarang saya juga pergi kesana walaupun dalam hati masih sulit untuk memaafkan beliau, karena sudah meninggalkan kami sangat lama, sejak saya kecil dan sampai

137
Ibu meninggal dunia. Sedangkan kabar dari kampung, rumah peninggalan Ibu sekarang sudah di atas namakan paman, gaji pensiun Ibu sebagai pengajar SD pun jaga di ambil paman, saya hanya bergantung pada kakak, Bidik Misi sebagai sumber dana, dan tidak lupa Allah yang senantiasa memberikan nikmat sehingga saya masih bisa hidup sampai saat ini.

138

BM Kuadrat
Ahmad Syafiih

Kasurku yang tipis semakin pipih seperti badanku yang semakin ramping karena sering kurang makan. Sudah seminggu lebih tapi beasiswa yang aku nanti-nantikan tidak kunjung turun juga. Kalau tidak waktu pagi hari, maka selesai kuliah aku sempatkan ke ATM untuk mengecek, tapi belum turun juga. 5.250, itulah nilai rupiah yang selalu aku lihat tiap mengecek tabunganku. Sungguh mengenaskan. Meski pulang dengan wajah suram, tapi aku selalu ucapkan Alhamdulillah karena aku masih bisa membeli sesuap nasi dengan laukpauk tahu-tempe seadanya. Sesampainya di kosan, aku ambil tabunganku di lemari. Alhamdulillah, masih ada Rp200.000 cukup buat aku gunakan dua minggu kedepan. Disisi lain aku hanya menggeleng-geleng kepala. Kalau uang ini aku pakai, gimana nanti aku bisa meringankan Bapak buat bayar kosan? Tapi kalau tidak aku pakai, mau makan apa aku besok? Masak mau minta sama Bapak lagi? Kapan aku bisa mandiri kalau kayak gini terus. Gumamku dalam hati. Dengan terpaksa aku pakai uang tabunganku. Menabung inginnya bisa membayar uang kost sendiri tanpa minta ke Bapak, tapi malah dibuat makan juga. Keadaan seperti ini menuntutku super irit dalam mengatur keuangan. Tiap hari aku catat apa saja pengeluaranku. Dengan bermodalkan berani dan man jadda wajadah (siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses) serta man shabara zhafira (siapa yang sabar akan beruntung) aku tegarkan hati ini. Aku bulatkan tekat untuk berjuang melawan penderitaan ini demi

139
sebuah impian. Sejenak ku termenung di kamar. Tiba-tiba terngiang-ngiang di kepalaku sebuah syair dari Imam Syafii: Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halamannya. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Hatiku terasa semakin tegar dan semangatku semakin berbinar teringat syair tadi. Kaki terasa ingin lari sejauh kaki melangkah, dan mulut terasa ingin teriak sekuat mulut menganga. Ku langkahkan kaki keluar mencari sebuah inspirasi menyelesaikan masalahku ini. Siapa tahu dapat petunjuk. Aha, Ebo dan donat bateng (babakan tengah). Pikiranku tiba-tiba mengarah kesana. Ebo julukannya yang akrab dengan anak-anak Madura pada khususnya. Beliau adalah seorang penjual nasi uduk dan nasi goreng kalau pagi hari. Makanannya enak dan murah sehingga jualannya cepat laris. Jam 8 pagi jualannya sudah habis. Ya jelaslah, harganya saja satu porsi nasi uduk hanya Rp1.500 dan satu porsi nasi goreng hanya Rp2.500. Mungkin Ebo bisa bantu aku menyelesaikan masalahku ini. Jika ada kemauan pasti ada jalan. Allahu akbar Allahu akbar Ternyata hari begitu cepat. Tidak terasa petang pun tiba menjemput siang. Ku bergegas melangkahkan kaki ini menuju panggilan-Nya Yang Maha Agung itu untuk menyejukkan hati ini. InsyaAllah, Allah akan memudahkan jalanku nanti, harapku dalam hati. Sekarang sudah jam 7 malam, tapi satu langkah pun belum aku lakukan. Aku hanya merenung dan termenung. Diriku selalu dihantui rasa malu dan takut gagal. Gimana ni ya aku takut. Terus nanti aku mau bilang gimana sama Ebo? mau tidak ya Ebo bantu aku?, gumamku dalam hati yang selalu diselubungi rasa takut. Bismillah. Aku buang jauhjauh pikiranku itu. Aku langkahkan kaki ini menuju rumah Ebo.

140
Sambil komat-kamit aku di jalan menghafal apa yang nanti aku akan katakan samaEbo. Assalamualaikum,sapaku sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka. Waalaikumsalam, siapa?,jawab seorang laki-laki menuju ke arahku. Ternyata dia adalah anaknya Ebo yang sudah duduk di bangku SMA. Ada Ebo? saya Syafiih dari Madura , jawabku. Oh,,,bentar mas, saya panggilin dulu, jawabnya. Sambil aku menunggu Ebo datang, hatiku sudah berdebar-debar tidak karuan. Mulutku rasanya sulit sekali untuk bicara. Tidak tahu jawaban apa yang akan aku dapatkan nanti dari Ebo. Ada apa ya nak?, Ebo mengagetkanku dari belakang. Panjang lebar aku ceritakan keadaanku sama Ebo seperti seorang jual jamu yang komat-kamit mulutnya agar jamunya bisa laris terjual. Sampai akhirnya sudah tidak ada lagi katakata yang keluar dari mulutku. Ebo hanya mengangguk anggukkan kepala yang membuatku bingung. Ini tandanya setuju apa gimana ya?, ucapku dalam hati. Ya sudah, Ebo akan bantu. Lagi pula Ebo juga senang kalau jualan Ebo ada yang jualin, ujarnya sambil menepuk-nepuk bahuku. Alhamdulillah terima kasih Bo, terima kasih. Aku sangat berutang budi sama Ebo., ucapku sambil menjabat tangannya. Kini rasanya lega dada ini. Aku sekarang pulang dengan wajah berbinar-binar karena harapanku dikabulkan. Tak heran disana-sini sejauh mata memandang, orang-orang melihatku karena aku jalan sambil senyum-senyum sendirian tanpa ada yang menemani. Seperti orang gila saja. Tapi aku belum puas kalau hanya jualan nasi uduk. Pastinya nanti yang beli hanya sedikit. Terus pendapatanku pasti juga sedikit. Aku harus jualan donat juga biyar penda patanku bertambah, begitulah aku komat-kamit dalam hati agar diri ini tetap semangat. Besok hari kamis, wah pas banget nih buat jualan. Besok kuliah sampai sore, ucapku dalam hati sambil senyumsenyum. Pulang kuliah nanti aku harus beli pulsa untuk mulai

141
promosi sama teman-teman sekelas. Malam ini aku akan bikin teman-teman tersenyum dan berminat untuk membeli nasi udukku. Halo kawan ceriaada program Nasi Uduk Murah Ceria nih yang bikin ketagihan khusus dari Syafiih. Hehehe Nasi uduk : Rp2.000 Tongkol : Rp1.000 Telor : Rp1.500 Urap : Rp500 Kacang : Rp500 Mendoan : Rp500 Omlet : Rp500 Krupuk GRATISss murah kan? Ayok kawan pesan sekarang juga. Nanti nyesel lho tidak beli. Dijamin uenak deh Begitulah aku gencar-gencar promosi sama temanteman. Aku saja senyum-senyum sendiri saat mengirim sms seperti itu. Tapi tidak sia-sia aku mengirim sms itu. Selang beberapa menit sudah ada tiga orang yang mesan. Alhamdulillah. Sampai jam 8 malam ada empat orang yang mesan nasi uduk. Meski hanya beberapa tapi itu rezeki bagiku. Manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang , begitulah syair Imam Syafii yang tiba -tiba membangkitkan semangatku. Aku catat semua yang dipesan teman-temanku tadi dan aku antarkan ke rumahnya Ebo agar bisa dibungkusin duluan besok nasi uduknya. Hari ini aku bangun awal agar bisa menyambut hari pertamaku ini berjualan nasi uduk dan donat. Aku bergegas mandi agar tidak didahului teman-teman kosanku. Jam 6 aku sudah siap berangkat menjemput rezekiku yakni menuju rumahnya Ebountuk mengambil nasi uduk dan ke Bateng untuk beli donat. Karena masih pertama kalinya, aku hanya berani jualan 10 donat cokelat. Kini tanganku sudah tidak ringan lagi. Tangan kiri memegang kardus berisi donat dan tangan kanan memegang nasi uduk. Rasanya kakiku semakin bersemangat melangkah menuju kampus seakan jualanku akan cepat habis dibeli. Kini aku tiba di kelas 30 menit sebelum jam kuliah dimulai. Ruangan begitu sepi. Tapi tiba-

142
tiba ada suara dari belakangku. Ciepromosi nih tadi malam. Gimana, banyak yang mesan nas i uduknya?, seorang cewek mengagetkanku dari belakang, Kiki namanya. Aku membalasnya hanya dengan senyuman dan menyapanya juga. Selang beberapa menit, teman-teman yang lainnya juga berdatangan memenuhi bangku kuliah yang tersusun membentuk setengah lingkaran itu. Sambil menunggu dosen datang, aku dagangkan donatku ke teman-teman. Dan, Alhamdulillah, dalam waktu kurang lebih 30 menit daganganku habis terjual. Selesai kuliah aku hitung uangku hasil daganganku. Alhamdulillah, sekarang aku untung Rp7000, lumayan untuk beli makan tanpa mengambil uangku di dompet. Besok aku harus lebih semangat lagi berjualan demi mengatasi masalah keuanganku kedepannya. Kalau tiap hari untungku seperti ini pasti sebulan sudah tidak lagi makan dengan mengambil uang beasiswaku. Wah, seperti dapat beasiswa double nih. Tidak salah aku dulu waktu TPB dapat matakuliah kewirausahaan. Ternyata manfaatnya dapat aku rasakan sekarang. Fii..bidikmisi sudah keluar kemaren sore. Coba cek deh, Irvan temanku mengagetkanku dari belakang sambil menepuk bahuku keras. Aduhsakit boy, santai dong. Yang benar bidikmisi sudah keluar? Tidak percaya aku kan kamu suka bercanda terus, ujarku sambil membalikkan badanku. Ehini beneran, kali ini aku serius, balasnya dengan wajah menyakinkanku. Alhamdulillah. Pasti teman-teman yang lainnya senang sekali mendengar kabar ini, jawabku. Sekarang aku semakin berbinar-binar karena selain beasiswaku sudah turun, aku juga dapat tambahan dari hasil jualanku. Nanti aku kabarin Bapak sama Ibu juga di rumah, pasti mereka senang mendengarnya. Akhir-akhir ini aku selalu sedih karena Bapak sudah tidak punya biaya lagi untuk mengirimiku uang makan. Apalagi di rumah sedang ditimpa musibah dengan meninggalnya nenekku beberapa hari yang lalu. Aku harus lebih semangat dan hemat sekarang menantang kerasnya maut sebagai seorang perantau yang

143
jauh dari kampung halamannya. Beasiswa sudah turun, berarti aku sudah punya modal lebih sekarang untuk membeli donat lebih banyak lagi. Pasti nanti semakin seru. Hari-hariku semakin membaik bahkan sehari aku makan dengan hasil jualanku dan aku juga semakin akrab dengan teman-teman sekelasku. Kadang aku sering dipanggil Pak Uduk sama mereka. Lucu ya. Yang penting semuanya ceria dan jualanku laris manis. Terima kasih Tuhan. Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Disaat kurang senanglah kalian perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelum sampai di tujuan. Setelah berada di titik terbawah, ruang kosong hanyalah ke atas. Bersabar untuk menjadi lebih baik. Tuhan sudah berjanji bahwa sesungguhnya Dia berjalan dengan orang yang sabar. Man jadda wajadah : siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Man shabara zhafira : siapa yang bersabar akan beruntung. Man sara ala darbi washala : siapa yang berjalan di jalanNya aka sampai tujuan.

144

Aku Ingin Kuliah


Amiril Mukminin

Dengan segenap jiwa, saya torehkan tulisan ini dalam lembaran putih sebagai inspirasi bagi anak-anak bangsa yang memiliki impian dan masa depan yang cerah. Anak-anak yang dengan segala keterbatasannya dalam mengarungi dunia pendidikan berusaha untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi dan harapan yang pasti. Tidak ada kata putus asa bagi anakanak yang yakin dan berani mewujudkan impiannya. Tekad kuat dan usaha maksimal yang disertai dengan doalah yang menjadi tumpuan untuk mengantarkan anak-anak bangsa menuju kesuksesan yang diinginkan. Bermimpilah karena impian yang mulia akan menjadi langkah awal tercapainya kesuksesanmu. Tanpa impian, pasti seseoarang tidak akan dapat mencapai kesuksesannya. Hal ini menjadi landasan saya untuk mencoba menerawang tentang masa depan yang saya inginkan. Saya memiliki citacita menjadi seorang ilmuwan muslim yang hebat dan mampu menciptakan karya spektakuler yang bermanfaat bagi umat manusia. Dalam pemikiran saya, untuk menggapai cita-cita tersebut tidak mungkin dapat dilakukan oleh seseorang yang hanya belajar hingga tingkat SLTA. Oleh karena itu, saya juga memiliki keinginan untuk dapat merasakan atmosfir dunia perkuliahan. Keinginan saya untuk bisa menginjakkan kaki di kampus perkuliahan berawal dari sebuah lamunan tentang masa depan yang indah. Saat itu, saya sedang duduk di lantai atas asrama sekolah yang berada d tengah-tengah barisan bukit Gorontalo, tempat saya mengukir jejak-jejak ilmu Alloh Yang Maha Luas. Padang rumput yang hijau, bukit-bukit yang berjajar rapi, dan awan-awan putih yang menghiasi perbukitan merupakan nuansa alam yang menyadarkan manusia tentang

145
kekuasaan Alloh SWT. Hembusan angin pagi membawa saya terbang ke alam khayalan yang tergambar dengan jelas akan masa depan yang indah. Dengan segenap jiwa, saya melangkahkan kaki dengan pasti di atas karpet merah diiringi tepukan tangan audiens yang menggetarkan seluruh sel-sel dalam tubuh saya. Senyum yang indah tergambar jelas di raut wajah teman-teman saya. Segala macam ucapan selamat terdengar merdu di setiap hentakan kaki saya. Tetesan air mata bangga orang tua saya turut menghiasi momen yang sangat indah tersebut. Saat itu, saya akan mendapatkan sebuah nobel sebagai penghargaan terhadap karya saya yang spektakuler. Namun, semilir angin pagi membangunkan saya dari lamunan yang indah tersebut. Dalam hati saya bertanya: mungkinkah saya bisa mewujudkannya?. Saat itu, dalam diri saya terjadi perang batin yang luar biasa antara keyakinan dan keputusasaan dalam menggapai cita-cita yang tinggi tersebut. Saya mencoba meyakinkan diri saya bahwa saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Kesuksesan tidak bisa diperoleh secara gratis, tetapi dibutuhkan pengorbanan dan biaya yang tinggi untuk mendapatkannya. Dewasa ini, banyak para lulusan SMA yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Hal tersebut sangat mengganggu hati saya. Saya sadar bahwa saya berasal dari kalangan masyarakat yang ekonominya lemah. Ayah saya hanyalah seorang petani gurem dan ibu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Dari hal tersebut, muncul pertanyaan dalam diri saya Apakah saya bisa melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi?. Pertanyaan tersebut selalu menghantui pikiran saya. Ketakutan pun mulai menjalar di setiap pembuluh saraf dalam tubuh saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menelepon orang tua saya dan menyampaikan keinginan saya untuk kuliah. Ketika saya berbicara kepada ayah saya, beliau terdiam mendengar keinginan saya tersebut. Saya tahu dan sadar bahwa ayah saya tidak sanggup untuk membiayai perkuliahan saya. Namun, ayah tetap mendukung dan menyetujui keinginan saya meskipun dia harus membanting tulang untuk mencari

146
biaya kuliahnya. Tak terasa air mata menetes di pipi ini. Saya terharu dengan keputusan ayah. Kemudian saya berbicara kepada ibu dan memberitahukan hal yang sama. Beliau juga terdiam mendengar setiap kata yang saya ucapkan mengenai keinginan saya untuk kuliah. Setelah menyadari sikap orang tua saya tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya mereka tidak sanggup membiayai kuliah saya. Saat itu, matahari mulai terbenam. Suara pengajian pun mulai bergema di setiap sudut alam ini. Hembusan angin sore yang dingin turut menyertai kegelisahan hati ini. Matahari yang mulai memerah menjadi pertanda bahwa malam akan tiba. Saya pun mengakhiri pembicaraan saya dengan orang tua saya dan tetap bertekad bagaimanapun caranya saya harus kuliah. Di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Kata-kata tersebut selalu memotivasi diri saya untuk senantiasa berusaha mendapatkan apa yang saya inginkan. Keesokan harinya, saya mulai berkonsultasi dengan guru konselor saya mengenai masalah yang saya hadapi. Beliau terharu dengan tekad saya untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi yang saya inginkan dengan menggunakan biaya sendiri. Kemudian beliau pun menawarkan kepada saya untuk mengikuti beasiswa bidik misi. Beliau menjelaskan tentang persyaratan dan berkas-berkas yang harus dilengkapi. Dengan senang hati saya menerima saran beliau. Saya merasa sikap keputusasaan ini mulai teredam dengan semangat dan optimisme yang tinggi dalam meraih cita-cita saya. Setelah itu, guru konseling tersebut menegaskan bahwa saya harus berusaha sendiri untuk mendapatkan beasiswa bidik misi. Saya harus melengkapi berkas-berkas yang harus di kirim ke Dikti sebagai bahan pertimbangan. Keeseokan harinya, saya menelepon orang tua saya dan menyampaikan informasi mengenai beasiswa tersebut. Waktu itu, saya berbicara dengan ibu saya. Beliau sangat bahagia dengan informasi yang saya sampaikan. Kemudian saya meminta kepada orang tua saya untuk mengirimkan berkas-berkas yang berhubungan dengan keluarga saya. Keyakinan saya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri pun bertambah. Saya

147
merasa alam pun mendukung keinginan orang-orang yang mau berusaha mewujudkannya. Seiring berjalannya waktu, tak terasa pendaftataran SNMPTN jalur undangan pun dimulai. Seluruh teman-teman saya sibuk menentukan Universitas apa yang harus dipilih. Hampir setiap hari mereka keluar-masuk dari ruang konseling untuk meminta saran dari guru konselor tentang Universitas yang pantas untuknya. Waktu itu, saya sudah memilh perguruan tinggi yang saya inginkan. Saya ingin masuk ke perguruan tinggi negeri Institut Teknologi Bandung. Saya ingin menjadi seperti pak Habibi yang mampu menciptakan pesawat terbang pertama kali di Indonesia. Namun, setelah menjalani serangkaian proses pendaftaran SNMPTN jalur undangan tersebut, saya menemui kendala mengenai biaya yang harus dibayar untuk masuk ke perguruan tinggi tersebut. Biaya yang disyaratkan terlalu mahal bagi saya meskipun ada keringanan biaya dari universitas tersebut. Kemudian teman saya memberitahu saya bahwa disebelah form SNMPTN terdapat form pengajuan beasiswa bidik misi. Saya pun langsung menikutinya. Dalam form tesebut, terdapat syarat bahwa siswa yang mengajukan beasiswa tersebut hanya boleh memilih satu perguruan tinggi negeri saja. Saya merasa cemas setelah melihat hal tersebut karena menurut saya peluang beasiswa bidik misi di Institut Teknologi Bandung sangatlah kecil. Tiba-tiba teman saya datang menghampiri saya dan mengajak saya kuliah di Institut Pertanian Bogor. Dia menjelaskan bahwa menurut kakak kelas yang kuliah di sana, IPB adalah perguruan tinggi yang berkualitas dan biaya perkuliahannya murah. Saya pun mulai mencari informasi mengenai perguruan tinggi tersebut baik dari sisi prestasi yang telah diraih maupun biaya perkuliahan yang harus dibayar. Setelah mengetahui informasi tentang Institut Pertanian Bogor, saya merasa tertarik untuk mencoba masuk ke sana. Saya juga menyadari bahwa sektor yang sangat menonjol di Indonesia adalah sektor pertanian. Akhirnya saya memilih Fakultas Teknologi Pertanian yang ada pada perguruan tinggi negeri tersebut.

148
Apapun pilihanmu yang terpent ing adalah menjadi yang terbaik di sana, begitulah kata kakak kelas saya ketika beliau memberikan motivasi kepada adik-adik kelasnya. Saya juga yakin bahwa Alloh pasti memberikan jalan yang terbaik bagi kita walaupun saat itu jalan tersebut tidak sesuai dengan keinginan kita. Waktu pun berjalan dengan cepat, membius orang-orang yang lalai dalam memanfaatkan waktunya. Akhirnya pengumuman hasil SNMPTN jalur undangan pun tiba. Seluruh siswa yang ikut tes tersebut sangat cemas dengan hasil yang akan diperolehnya. Saya juga merasakan hal yang sama. Saat itu, atmosfir sekolah saya berubah tidak seperti biasanya. Harapan dan keinginan menghiasi wajahwajah teman seperjuangan saya. Detik-detik menjelang pengumuman pun terasa lama bagaikan satu hari yang berjalan dengan lambat. Jarum jam terasa berhenti. Seluruh perasaan bercampur aduk antara cemas, takut, keyakinan, dan harapan. Ketika pengumuman telah ada di website SNMPTN, saya dan teman-teman saya berbondong-bondong menuju cyber library untuk melihat hasilnya. Banyak ekspresi yang muncul dari wajah teman-teman. Ada yang senang, ada yang sedih, ada yang kecewa dengan hasilnya, ada yang sampai teriak kegirangan dan ada pula yang biasa-biasa saja. Segala puji syukur saya panjatkan kepada Alloh SWT karena saya berhasil lolos di Institut Pertanian Bogor di departemen Teknik Mesin dan Biosistem. Namun, ada sedikit hal yang membuat saya cemas, yaitu pengumuman hasil beasiswa bidik misi tidak ada. Walaupun informasi mengenai beasiswa bidik misi itu belum ada, saya yakin Alloh pasti akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Malam itu bintang memancarkan sinar yang bermacam-macam mengikuti suasana hati orang yang melihatnya. Setelah melihat hasil pengumuman SNMPTN, saya langsung menelepon orang tua saya untuk memberitahukan informasi tersebut. Ketika saya memberitahukan informasi tersebut, mereka sangat bahagia. Namun, setelah saya memberitahukan bahwa pengumuman beasiswa bidik misi belum keluar, ibu saya terdiam tetapi ayah saya tetap mendukung saya untuk melanjutkan pendidikan saya di perguruan tinggi yang saya inginkan. Beliau berjanji

149
akan berusaha sekuat tenaga untuk membiayai kuliah saya. Tak terasa air mata menetes di pipi saya. Ayah saya sangat antusias dengan keinginan anaknya. Setelah mendengar pernyataan ayah saya tersebut, jiwa perjuangan dan semangat saya tergugah. Saya bertekad untuk menempuh pendidikan saya tanpa meminta biaya kuliah kepada orang tua saya. Apabila kamu memiliki impian dan harapan yang tinggi, yakinlah bahwa tuhan melihat seluruh usahamu. Kalimat tersebut menjadi motivasi saya untuk berusaha mendapatkan beasiswa di Institut Pertanian Bogor. Setelah tiga tahun saya merantau di Gorontalo, akhirnya saya menginjakkan kaki di Kampus IPB. Saya sangat bahagia karena saya dapat merasakan pendidikan di bangku kuliah. Namun, saya teringat akan biaya yang harus dibayar untuk menempuh pendidikan kuliah tersebut. Saya mulai mencari segala macam informasi mengenai beasiswa bidik misi di perguruan tinggi tersebut. Banyak berkas-berkas saya yang belum lengkap karena berkas-berkas tersebut harus dikirim terlebih dahulu melalui jasa pos surat oleh keluarga saya. Hal tersebut membuat saya cemas karena keesokan harinya adalah jadwal pendaftaran sekaligus penyerahan berkasberkas bidik misi. Saya pun berulang kali menelepon orang tua saya dan meminta kepada mereka untuk mengirimkan berkas-berkas tersebut melalui e-mail tapi orang tua saya tida mengetahui tata cara penggunaan e-mail. Akhirnya saya hanya bisa berharap kemudahan dari Alloh SWT dan berkasberkasnya bisa sampai esok hari. Keesokan harinya, berkasberkas tersebut belum sampai. Dengan penuh kekhawatiran, saya melakukan pendaftaran dengan membawa berkas seadanya. Ketika sampai giliran saya untuk melakukan registrasi, staf yang menangani registrasi saya memaklumi kekurangan berkas saya dan menyuruh saya untuk melengkapinya saat registrasi kedua. Saya sangat lega mendengar hal tersebut. Setelah melewati seluruh proses pendaftaran bidik misi, saya terpilih menjadi salah satu mahasiswa yang direkomendasikan IPB untuk mendapatkan beasiswa bidik misi. Sungguh saat itu, kebahagiaan saya sulit

150
untuk diungkapkan dengan kata-kata. Segala puji syukur saya panjatkan kehadirat Alloh SWT. Menurut kakak kelas saya yang sudah mendapatkan beasiswa tersebut, mahasiswa yang sudah direkomendasikan IPB untuk mendapatkan beasiswa bidik misi kemungkinan besar akan mendapatkan besiswa tersebut. Setelah pengumuman rekomendasi beasiswa bidik misi selesai, saya langsung memberitahukan kepada orang tua saya bahwa saya telah di rekomendasikan mendapat beasiswa bidik misi. Orang tua saya pun sangat bahagia mendengar hal tersebut. Saat itu, bulan dan bintang terasa bersinar dengan indahnya, udara mengalir lembut di setiap helai rambut saya, membawa setiap insan terlarut dalam kebahagiaan atas nikmat yang telah diberikan oleh tuhannya. Sungguh maha besar Alloh yang telah mengabulkan permohonan hamba-Nya. Seiring berjalannya waktu, daftar penerima beasiswa bidik misi pun telah diumumkan. Setelah saya melihat pengumuman tersebut, saya termasuk salah satu mahasiswa yang diterima sebagai penerima beasiswa bidik misi. Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu saya. Terima kasih kepada teman-teman, kakak kelas, guru konseling, orang tua saya hingga staf pengurus beasiswa bidik misi. Tidak ada kata putus asa bagi orang yang berani berusaha mewujudkan impiannya. Jadikanlah setiap masalah dan ujian yang kita alami sebagai tantangan yang harus dilewati. Berusaha dan berdoa adalah jalan yang harus ditempuh untuk menggapai impian kita. Yakinlah Alloh pasti akanmewujudkan impian kita.

151

Episode : Bersama IPB dan BIDIKMISI, Wujudkan Mimpi Raih Prestasi


Anggil Sendi Eriza
Aku bukan manusia langit, yang bercerita tentang awan dan hujan. Aku juga bukan terumbu karang yang pernah melihat birunya lautan. Aku bukan pula pohon yang yang bisa bermain dengan burung, menyampaikan kabar tentang alam. Namun, aku adalah potongan kehidupan.Aku memiliki rasa, bernafas dengan realita, dan menjadi detak syair nurani bumi. Ibuku adalah kehidupan, Ayahku kebijaksanaan. Aku terlahir dari proses antara keduanya, dan perwujudanku adalah kata. Ya,aku adalah sebuah kata. SELAMAT ANDA LULUS SELEKSI, atas nama Anggil Sendi Eriza jurusan Proteksi Tanaman di Institut Pertanian Bogor. Itulah kalimat yang menjadi tonggak awal menuju impianku, tepatnya pada tanggal 18 Mei 2011 pukul 19.30 WIB, aku dinyatakan lulus seleksi SNMPTN Jalur Undangan. Bukan main senangnya hingga aku tidak bisa mengutarakan satu katapun, aku hanya terdiam dan menangis. Akupun bergegas pulang, dan segera mengabarkannya pada Orang tua, karena tidak memiliki komputer ataupun laptop jadi saat melihat pengumuman itu aku berada di warnet. Setibanya di rumah, dari pintu rumah yang agak lapuk,aku berteriak Ibuk anggil keterima di IPB Ibukku pun memelukku dengan haru,adikku memberikan ucapan selamat dengan gayanya yang cuek namun penuh kasih sayang. Tiga tahun lalu, kuliah adalah sesuatu yang mustahil bagiku. Bagaimana tidak? SMA saja orang tuaku sudah kewalahan, apalagi dengan kedua adik-adikku yang masih SLTP dan TK. Lalu, sekuat itukah kemiskinan? dan selemah itukah diriku? menyandang status anak Indonesia adalah kebanggaan, tentu tidak ada ruginya jika aku bermimpi untuk

152
meninjak dunia kampus. Kalaupun orangtua sudah angkat tangan, suburnya pertanian Indonesia pasti mau membiayai pendidikanku. Berawal dari ketertarikan, saat beberapa kakak alumni datang ke sekolah dan ternyata mereka adalah mahasiswa IPB. Merekapun menerangkan dan mengenalkan IPB lebih jauh. Mendengar cerita dan informasi mengenai banyak Pengusaha Muda Mandiri yang dilahirkan oleh IPB,seperti : kak Gigin (penemu boneka horta), kak Ance (pemilik bumbu wangi resto), Elang Gumilang dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu, serta beberapa tokoh pemerintahan dan direktur perusahaan pun adalah para alumni IPB. Aku makin tertarik dan tertantang untuk kuliah di IPB. Everything begin from dream, begitu pepatah mengatakan. Semua dimulai dari mimpi, semua yang diciptakan berasal dari sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Sejak saat itu,aku bertekad bulat untuk masuk IPB melalui jalur USMI/Undangan. Karena menurutku IPB adalah Intitut Paling Bermutu, dan bermutu dari segala aspek,selain bermutu IPB pun sangat perhatian dengan kondisi mahasiswa-mahasiswanya terutama dalam hal biaya kuliah, akademik, softskill, dan masih banyak lagi yang dapat aku banggakan dari IPB. Saat memasuki kelas 2 SMA aku sudah mempersiapkan untuk pendaftaran masuk IPB. Tapi ada satu hal yang membuatku down, yaitu saat memusyawarahkan dengan orangtua masalah biaya pendidikan di kuliah nanti, beliau tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Beliau tidak mengijinkanku untuk melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi. Kata beliau, Ngurusin kamu di SMA saja sudah kelabakan, apalagi nanti kalau kamu kuliah, adik-adikmu juga masih butuh sekolah, jangan terlalu banyak berharap bisa kuliah, lihat kondisi kita. Jawaban itu membuat sedikit putus asa. Berhari-hari aku pun tidak konsen dengan pelajaran di sekolah. Tapi semua itu tidak memadamkan semangatku untuk tetap bisa kuliah. Dengan kondisi keluarga yang seperti ini, siapa lagi orang yang bisa diandalkan untuk mengubah derajat

153
keluargaku ini? Sudah cukup melihat keluargaku terus-terusan seperti ini. Aku tetap mencoba untuk meyakinkan orangtua agar diizinkan mendaftar di IPB. Meski orangtua belum yakin dan belum merestui, tapi aku akan tetap mencoba.Aku ingin sekali melanjutkan pendidikan. Selagi belum ada Undang-Undang yang menyatakan bahwa ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH maka aku akan tetap terus berusaha untuk itu. Akhirnya aku pun tetap mendaftarkan diri tanpa sepengetahuan orangtua. Saat itu aku bingung harus pinjam uang siapa untuk biaya pendaftaran? Uang sebesar Rp.175.000 bisa aku dapatkan dengan apa? Aku terus berusahaberusaha dan berusaha, tadinya aku sempat ditawari guru untuk bekerja di rumahnya sebagai tukang setrika. Tapi ternyata Allah menjawabnya dengan menunjukkan kemurahan-Nya, karena Pelamar Beasiswa Bidik Misi jadi biaya pendaftaran di tiadakan. Alhamdulillah aku bisa mendaftar di IPB. Waktu pun berlalu, dan jawaban orangtua masih menghantui fikiranku, aku akan terus dan tetap berusaha untuk tidak membebankan orangtua lagi, apapun yang terjadi. Sampai pada akhirnya, pengumuman pun tiba dan Subhanallah aku diterima menjadi mahasiswa IPB. Dan Allah telah telah menunjukkan jalan padaku, Dia memberi salah satu jalan agar aku bisa kuliah, selain diterima menjadi mahasiswa IPB, aku pun mendapat formulir beasiswa BIDIK MISI. Aku sangat senang karena ada satu peluang harapan agar aku dapat meringankan beban orangtua. Setelah pengumuman, aku menanti jawaban dari beasiswa BIDIK MISI itu. Kalau saja tidak mendapat beasiswa itu, kecil harapan untuk bisa kuliah, bahkan tidak ada peluang untuk kuliah, tidak tau apa yang harus di lakukan agar bisa membayar biaya masuk yang lumayan cukup besar bagi keluargaku.Tapi Allah ternyata berkata lain, setelah aku tak banyak berharap lagi dengan beasiswa itu, Allah memberikan jawaban atas kekhawatiranku selama ini, alhamdulillah, Aku mendapat beasiswa BIDIK MISI itu .

154
Ya, semua itu berawal dari mimpi, setelah mimpi kita miliki barulah kita merencanakannya dan bagaimana merealisasikan mimpi tersebut. Mahasiswa-Wirausahawati Sukses Tanpa Batas (MWSTP) adalah mimpiku dalam jangka dekat ini setelah memasuki dunia perkuliahan. Dari mimpi tersebut ,aku ingin menjadi seseorang yang Luar Biasa dari kehidupanku yang biasa.Ya,benar sekali kedengarannya berlebihan, imajiner,dan impossible. Namun aku akan tetap membawa dan mewujudkan mimpi-mimpiku bersama IPB, BIDIK MISI, untuk meraih prestasi. Semoga bersamamu, akan kulalui episode-episode hidupku dengan prestasi prestasi yang ku raih di masa kini dan masa depan, amin. Akhirnya dua coretan mimpi terbesar sudah dapat ku rengkuh, menuntut ilmu di IPB dan mendapatkan beasiswa BIDIK MISI. Terima kasih ya Allah, terima kasih IPB, dan terima kasih beasiswa BIDIK MISI. Aku harus bisa menjaga kepercayaan dan menjadi yang terbaik dari kumpulan yang terbaik. InsyaAllah IPB dan BIDIK MISI tidak salah memberikan kepercayaannya kepadaku. Yang aku yakini adalah Allah sudah menciptakan kita kedunia dengan melalui sejumlah tahapan. Dia tidak mungkin akan meninggalkan kita dalam keadaan buruk dan tentunya Allah bertanggung jawab dengan memberikan kita hak menjadi sukses layaknya manusia Sang Pemenang. Episode ini akan saya tutup dengan meminjam kalimat Anton Iriant Kita tak mampu mengubah arah angin,tetapi yakinlah kita bisa mengubah bentangan layar supaya perahu tetap melaju ke arah pelabuhan Harapan. Semangat berjuang, BERSAMA IPB DAN BIDIK MISI, WUJUDKAN MIMPI RAIH PRESTASI.

Anda mungkin juga menyukai