Anda di halaman 1dari 140

Makalah Metode Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang

Salah satu tugas guru adalah mengajar. Hal ini menyebabkanadanya tuntutan kepada setiap guru untuk dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana seharusnya mengajar. Dengan kata lain, setiap guru dituntut untuk memiliki kompetensi mengajar. Guru akan memiliki kompetensi mengajar jika, guru paling tidak memiliki pemahaman dan penerapan secara taktis berbagai metode belajar mengajar serta hubungannya dengan belajar disamping kemampuan kemampuan lain yang menunjang. Bertolak dan bermuara pada kebutuhan sebagai guru, maka makalah ini di sajikan tentang berbagai metode belajar mengajar agar mampu melaksanakan tugas utama guru yaitu mengajar. Apabila telah memiliki kemampuan dalam penguasaan penggunaan metode pembelajaran IPS secara mendalam. Pengajaran IPS pada pendidikan dasar menengah dengan cara mengenalkan masalah masalah social melalui pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan kepekaan untuk menghadapi dan memecahkan masalah social tersebut. Sesuai dengan karakteristik anak SD dan seusianya, metode ceramah akan menyebabkan siswa bersikap pasif dan tentunya menjadi pelajaran hafalan yang membosankan. Oleh karena itu, guru di harapkan mampu menguasai metode metode yang cocok untuk pembelajaran IPS agar siswa lebih tertarik pada peljaran tersebut.

I.2.

Masalah

Banyak sekali teori teori yang menjelaskan tentang metode untuk pembelajaran, namun kita belum mengetahui metode apa yang baik dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran Pendidikan IPS khususnya di SD.

I.3.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka masalah Metode Pembelajaran IPS di SD dapat di rumuskan sebagai berikut :

1. 2.

Bagaimana metode pembelajaran Pendidikan IPS SD ? Apasajakah macam macam metode pembelajaran PIPS SD ?

I.4.

Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan dan manfaat dari pembuatan makalh ini yaitu :

1. 2. 3.

Untuk mengetahui apa itu metode pembelajaran Pendidikan IPS di SD Untuk mengetahui macam macam metode pembelajaran Pendidikan IPS di SD Diharapkan dapat menerapkan metode yang cocok dan baik untuk peserta didik.

BAB II PEMBAHASAN

II. 1

Pengertian Metode Pembelajaran

Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu Methodos yang berarti cara berani atau cara berjalan yang di tempuh. Menurut Winarno Surakhmad, metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan ( 1976 : 74 ). Sedangkan pengertian pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut Nursid Suaatmadja, metode pembelajaran adalah suatu cara yang fungsinya merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan ( 1984 : 95 ). Menurut S Hamid Hasan, metode pengajaran adalah suatu cara yang digunakan untuk memberikan kesempatan seluas luasnya kepada siswa dalam belajar ( 1992 : 4). Dari dua pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa metode pengajaran IPS itu adalah suatu cara yang digunakan oleh guru agar siswa dapat belajar seluas luasnya dalam rangka mencapai tujuan pengajaran secara efektif. Didalam proses belajar mengajara di perlukan suatu metode yang sesuaidengan situasi dan kondisi yang ada. Metode pembelajaran seharusnya tepat guna yaitu mampu memfunfsikan si anak didik untuk belajar sendiri sesuai dengan Student Active Learning (SAL). II. 2 Macam macam metode

Metode metode untuk mata pelajaran IPS cukup beraneka ragam. Keanekaragaman meliputi klasifikasi maupun penamaan suatu metode bahkan juga tingkat daya guna dan hasil guna suatu metode. Secara garis besar, metode pembelajaran IPS dapat di klasifikasikan atas dua macam yaitu : a. 1. Metode Interaksi Edukatif didalam kelas, meliputi Metode Ceramah

Metode ceramah adalah suatu bentuk pengajaran dimana dosen atau guru mengalihkan informasi kepada sekelompok besar atau siswa dengan cara yang terutama bersifat verbal. ( Tjipto Utomo dan Ruitjer ; 1985:184 ). Ada tiga unsure di dalam metode ceramah, yaitu : Adanya sekelompok siswa yang akan menerima informasi. Adanya guru yang memberian informasi secara lisan. Adanya sejumlah informasi yang akan disampaikan ke kelompok siswa.

Metode ceramah ini lebih tepat digunakan bila proses pembelajaran memiliki kondisi sebagai berikut:

Tujuan dasar pembelajaran adalah menyampaikan informasi baru. Isi pembelajaran bersifat langka, misalnya berupa penemuan baru. Isi pelajaran harus diorganisasikan dan disajikan dalam sebuah cara khusus keompok tertentu. Membangkitkan minat terhadap pelajaran. Isi pelajaran tidak diingat dalam waktu yang lama. Sebagai pengantar penggunaan metode yang lain dan pengarah penyelesaian tugas mengajar.

Metode ceramah ini kurang sesuai digunakan jika : Tujuan pelajaran bukan tujuan perolehan informasi. Isi pelajaran perlu diingat dalam waktu yang cukup lama. Isi pelajaran komplek, rinci, dan abstrak. Pencapaian tujuan yang merprasyaratkan partisipasi siswa. Tujuan yang hendak dicapai adalah tujuan kognitif tingkat tinggi seperti analisis, sintesis dan evaluasi. Para siswa yang intelegensinya atau pengalaman pendidikannya rata rata atau dibawah rata rata.

Metode ceramah ini juga memiliki keunggulan dan kelemahan. Adapun keunggulan metode ceramah adalah sebagai berikut : Murah, dikarenakan efisien dalam emanfaatan waktu, dapat menyajikan ide ide secara lebih jelas. Seorsng guru dapat menguasai sejumlah siswa dan memudahkan penyajian sejumlah materi pelajaran. Mudah di sesuaikan (adaptebel), hal ini dikarenakan dapat di sesuaikan dengan para siswa tertentu, pokok permasalahan, keterbatasan waktu, dan keterbatasan peralatan. Selain itu daapat disesuaikan dengan jadwal guru ketidaksediaan bahan bahan tertulis. Dapat mengembangkan kemampuan mendengar para siswa. Merupakan penguatan bagi guru dan siswa.

Dapat mengkaitkan secara langsung isi pelajaran dengan siswa maupun guru pengalaman dalam kehidupan sehari hari.

Adapun kelemahan dari metode ceramah, yaitu : Cenderung terjadi proses komunikasi di kelas yang sifatnya satu arah. Centering kearah pembelajaran berdasarkan keinginan guru atau yang disebut dengan guru sentries. Menurunnya perhatian siswa saat pembelajaran berlangsung, bila ceramah dilakukan lebih 20 menit. Dengan ceramah hanya mampu menghasilkan ingatan dalam diri siswa dalam jangka waktu yang pendek. Merugikan bagi sisa yang memiliki tipe pengamatan auditif. Merugikan siswa yang mampu belajar sendiri dari pada diceramahi secara klasikal. Tidak efektif untuk mengajarkan ketrampilan motorik dan menanamkan sifat kepada siswa.

Prosedur pemakaian metode ceramah yaitu sebagai berikut : 1. Tahap persiapan ceramah, meliputi :

Mengorganisasikan isi pelajaran yang akan diceramahi. Mempersiapkan penguasaan isi pelajaran yang akan di ceramahkan. Memilih dan mempersiapkan media instruksional dan atau alat bantu yang akan digunakan dalam ceramah.

2.

Tahap awal ceramah, meliputi :

Meningkatkan hubungan guru dan siswa. Meningkatkan perhatian siswa.

Mengemukakan pokok pokok isi ceramah.

3.

Tahap pengembangan ceramah, meliputi :

Keterangan yang akan diberikan hendaklah secara singkat dan jelas. Penggunaan papan tulis sebagai upaya visualisasi pokok pokok masalah yang akan di terangkan. Keterangan ulang dengan menggunakan istilah atau kata kata lain yang lebih jelas. Perinci dan perluas isi pelajaran. Carilah balikan (feed back) sebanyak banyaknya dalam berceramah. Harus dapat mengatur alokasi waktu ceramah.

4.

Tahap akhir ceramah, meliputi :

Pembuatan rangkuman dari garis garis besar isi pelajaran yang diceramahkan Penjelasan hubungan isi pelajaran yang diceramahkan dengan isi pelajaran berikutnya. Penjelasan tentang kegiatan pertemuan berikutnya.

Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan ceramah, Tjipto Utomo Ruijter menyarankan agar guru bersedia : 1. 2. Menyadari apa kehendak akan dicapai dengan ceramah yang diberikan dalampelajarannya. Menganalisis hal hal yang dilakukannya sebagai guru pada waktu memberikan ceramah.

3. Berlatih terus berceramah, karena tidak satu perubahan pun yang berhasil dengan sekali jadi .

2.

Metode Tanya Jawab

Pertanyaan dapat dilihat dari beberapa model belajar mengajar. Baik itu metode cermah,diskusi kerja kelompok atau metode yang lainnya. Pertanyaan boleh berasal darisiswa maupun guru.. untuk mengerti metode Tanya jawab, ada tiga istilah yang perlu dimengerti terlebih dahulu. Tiga istilah ini adalah pertanyaan, respon, dan reaksi. Pertanyaan dapat ditandai dengan kata kata atau kalimat yang digunakan untuk memperoleh respon verbal. Respons dapat menunjuk kepada pemenuhan dari yang diharapkan sebuah jawaban. Sedangkan reaksi dapat menunju kepada perubahan dan penilaiaan terhadap pertanyaan dan respons (Hyman, 1974 : 289-290). Metode Tanya jawab adalah sebagai format interaksi antara guru dan siswa melalui kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respons lisan, sehingga dapat menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa. Ada beberapa alasan mengapa seorang guru menggunakan metode Tanya jawab dalam proses pembelajaran IPS, yaitu : I. Membangkitkan atau menimbulkan keingintahuan siswa terhadap isi permaslahan yang sedang dibicarakan, sehingga mendorong minat siswa yang berprestasi dalam proses belajar mengajar. II. Membangkitkan, mendorong, menuntun dan atau membimbing pikiran siswa yang sitematis, kreatif, dan kritis pada diri siswa. III. Membangkitkan keterlibatan mental siswa, dengan menjawab pertanyaan dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat mewujudkan cara belajar siswa aktif. IV. untuk mengekspresikan diri V. Memberikan kesempatan siswa menggunakan pengetahuan sebelumnya untuk belajar sesuatu yang baru. Memberikan kesempatan kepada siswa

Tujuan pemakaian metode tanya jawab yaitu sebagai berikut: 1. Mengecek pemehaman siswa sebagai dasar perbaikan proses pembelajaran.

2. Membimbing para siswa untuk memperoleh suatu ketrampilan yang kognitif maupun sosial. 3. 4. 5. Memberikan rasa aman kepada siswa melalui pertanyaan yang dipastikan menjawabnya. Mendorong siswa untuk melakukan penemuan (inquiri) dalam memperjelas suatu masalah. Membimbing dan mengarahkan jalannya diskusi kelas.

Jenis jenis pertanyaan Sadker mengklasifikasikan pertanyaan itu berdasarkan Taksonomi Bloom, yaitu 6 (enam) jenis pertanyaan dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi, diantaranya yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pertanyaan pengetahuan atau ingatan (knowledge or recall quetions) Pertanyaan pemahaman (comprehension quetions) Pertanyaan penerapan (apllication quetions) Pertanyaan analis (analisysis quetions) Pertanyaan sintesis (synthesis quetions) Pertanyaan evaluasi (evaluation quetions)

Dari enam jenis pertanyaan berdasarkan Taksonomi Bloom diatas, maka tiga dari atas dapat dikatagorikan pertanyaan kognitif tingkat rendah dan tiga pertanyaan berikutnya termasuk pertanyaan tingkat tinggi.

3.

Metode Diskusi atau metode Musyawarah

Metode diskusi dalam pengajaran IPS yaitu suatu cara penyajian materi pelajaran dimana siswa dibedakan kepada suatu masalah, baik berupa pertanyaan maupun berupa pertanyaan yang bersifat problemik untuk dibahas atau dipecahkan oleh siswa secara bersama sama. Dalam suatu metode pembelajaran biasanya memiliki kekurangan dan kelebihan. Adapun kekurangan dan kelebiahan dari metode diskusi yaitu : Kelebihan metode diskusi yakni : Dapat menggarap kreativitas dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.

Siswa dapat mengeluarkan pendapat, sikap, dan aspirasi secara bebas dalam rangka mengembangkan sikap demokratis. Hasil diskusi (pemikiran bersama) lebih baik bila dibandingkan dengan pendapat sendiri

Sedangkan kelemahan dari metode diskusi yaitu:

Tidak mudah menentukan atau mencari masalah yang akan didiskusikan. Pembicaraan sering didominasi oleh siswa tertentu. Diskusi lebih banyak memerlukan waktu.

Bila kegiatan ini tidak terarah, maka pembahasan masalah sering mengembang (tidak tuntas).

Metode diskusi memiliki jenis yang berbeda beda adapun jenis jenis metode diskusi yaitu : Diskusi kelompok kecil Diskusi kelompok besar atau kelas Diskusi umum (masal)

Untuk melakukan metode diskusi ini harus memperhatikan langkah langkah pelaksanaanya. Adapun langkah langkah untuk melakukan metode diskusi yaitu : a. Tahap persiapan

Menentukan masalah yang akan didistribusikan Merumuskan tujuan yang akan dicapai dalam diskusi Menentukan peserta diskusi Menentukan waktu dan tempat diskusi.

b.

Tahap pelaksanaan diskusi

Menentukan perangkat organisasi diskusi Mengemukakan topik dan tujuan diskusi Mengembangkan pengantar dan masalah yang akan didiskusikan Pelaksanaan diskusi yang dipandu oleh pimpinan diskusi.

c.

Tahap tindak lanjut

Membuat rumusan, kesimpulan hasil diskusi Pembahasan ulang, penilaian terhadap pelaksanaan diskusi, sebagai masukan untuk diskusi berikutnya.

4.

Metode Penugasan ( pemberian tugas )

Metode pemberian tugas dapat disamakan dengan metode resitasi (recitation method). Dimana metode resitasi ini bersama dengan metode ceramah, merupakan dua metode yang paling tua, yang digunakan oleh guru yang bekerja dengan kelompok kelompok siswa. (Hyman, 1974 : 189). Metode penugasan dalam pengajaran IPS adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan laporan sebagai hasil tugas yang dikerjakan. Metode ini mengacu kepada penerapan unsur unsur Learning by doing Didalam metode penugasan memiliki kelibihan dan kelemahan. Adapun kelebihan dari metode penugasan ini yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Relevan dengan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA) Dapat mengembangkan sifat kemandirian pada diri siswa Dapat memperdalam materi pembelajaran Dapat merangsang gairah belajar siswa Dapat mengembangkan kreativitas melatih rasa tanggung jawab pada diri siswa Dapat mengembangkan kreativitas dan aktivitas siswa.

Adapun kelemahan dari metode ini yaitu : 1. 2. Kadang kadang tidak terjadi ke relevanan antara tugas dengan materi yang dipelajari. Kurang adanya balikan bagi guru.

3.

Pengerjaan tugas kurang kontrol bila dilaksanakan di luar jam pelajaran.

Ada berberapa jenis tugas yang dapat diberikan diantara yaitu : a. b. c. d. Membuat rangkuman materi pelajaran yang telah diberikan oleh guru didalam kelas. Membuat makalah atau laporan hasil observasi. Melakukan observasi ke lapangan. Mengadakan latihan latihan ketrampilan.

Metode penugasan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Adapun cara pelaksanaan metode penugasan yaitu : a. Melakukan persiapan dengan cara :

Merumuskan masalah dengan jelas Mengemukakan tujuan pelaksanaan tugas Menentukan jenis tugas baik kelompok maupun individu Memberikan penjelasan atau pengarahan sebelum pengarahan tugas Menentukan limit waktu pelaksanaan

b.

Pelaksanaan tugas dengan cara :

Mengadakan bimbingan dalampelaksanaan tugas Memberikan motivasi atau dorongan Memberikan pelayanan kebutuhan

c.

Pertanggung jawaban dari penilaian tugas :

Pelaporan secara lisan maupun tulisan, tindakan atau demonstrasi

Melakukan penilaian terhadap tugas berdasarkan laporan yang telah disampaikan. 5. Metode Kerja Kelompok

Kerja kelompok merupakan salah satu metode belajar mengajar yang memiliki kadar CBSA yang tinggi. Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar mengajar yang menitik beratkan kepada interaksi antara anggota yang satu dengan anggota yank lain dalam satu kelompok guna menyelesaikan tugas tugas secara bersama sama.

Adapun tujuan dari pengguanaan metode kerja kelompok yaitu : Memupuk kemauan dan kemampuan berkerja sama bagi siswa. Untuk meningkatkan keterlibatan sosial emosional siswa. Untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap PBM.

Pengelompokan di bagi beberapa jenis yaitu : Pengelompokan berdasarkan perbedaan perbedaan individu. Pengelompokan berdasarkan ketersediaan siswa. Pengelompokan berdasarkan partisipasi siswa. Pengelompokan berdasarkan pembagian pekerjaan.

Peranan guru dan variabel lain sangat mempengaruhi keberhasilan kerja kelompok diantaranya yaitu : Tujuan harus jelas sebagai pedoman. Adanya interaksi positif dan kondusif diantara anggota kelompok. Adanya kepemimpinan kelompok untuk mengatur kerjasama dalam kelompok. Adanya suasana kerja kelompok yang baik dan menyenangkan. Mengetahui kesulitan tugas yang harus dikerjakan secara kelompok.

Peranan guru dalam pelaksanaan kerja kelompok Sebagai pengelola, mengorganisir dan mengatur tempat duduk siswa. Sebagai pengamat, pengenal dan membantu siswa jika diperlukan. Sebagai pemberi saran dan penilai. Adapun prosedur dari pemakaian metode kerja kelompok yaitu : a) Rambu rambu yang harus diperhatikan

Cara pengamatan masalah atau penuaian tugas. Kemampuan kelompok. Sarana pemikiran yang akan dilakukan. Ciri ciri yang harus diperhatikan dalam kerja.

b)

Prosedur pemakaian kerja kelompok

Pemilihan topik atau tugas yang perlu di selesaikan secara kelompok. Pembentukan kelompok sesuai dengan tujuan. Pembagian topik yang harus dikerjakan setiap kelompok. Melakukan proses kerja kompok. Melakukan penilaian terhadap hasil kerja kelompok.

6.

Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi yaitu merupakan format belajar mengajar yang secara sengaja, menunjukan atau memperagakan tindakan, proses atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada seluruh atau sebagian siswa. Metode demonstrasi disertai dengan penjelasan, ilustrasi, dan pertanyaan lisan atau peragaan secara tepat. (dalam Canci, 1986 : 38).

Adapun tujuan dari penerapan metode demonstrasi adalah sebagai berikut : Untuk menggunakan prosedur tertu dalam mengajar (prosedur kerja, prosedur pelaksanaan). Dapat meningkatkan kepercayaan diri bagi siswa. Dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam menggunakan prosedur.

Tujuan pengajaran demonstrasi menurut Winanarno Surachnat, yaitu : Untuk mengajarkan suatu proses. Untuk menginformasikan bahan yang di perlukan didalam proses pembelajaran. Untuk mengkongkritkan informasi yang disampaikan kepada siswa.

Kelebihan dari metode demonstrasi yaitu: Dapat memberikan gambaran kongkrit. Siswa dapat memperoleh pengalaman langsung. Dapat memusatkan perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Dapat merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan baru.

Kekurangannya atau kelemahan dari metode demonstrasi yaitu Memerlukan persiapan yang matang. Menurut peralatan yang mengacu untuk semua siswa. Menentukan kegiatan lanjutan (follow up).

Langkah langkah pelaksanaan metode demonstrasi : a. Persiapan

Menentukan adanya kesesuaian antara metode dengan tujuan yang akan dicapai. Menganalisa kebutuhan peralatan yang diperlukan. Mencoba peralatan dan menganalisis waktu. Merangsang jenis jenis besar tentang langkah langkah demontrasi.

b.

Pelaksanaan Mempersiapkan peralatan dari bahan yang akan digunakan. Memberikan pengantar tentang demonstrasi yang akan dilaksanakan. Meragakan tindakan, proses sesuatu yang disertai pelajaran.

c.

Tindak lanjut (follow up) Mendiskusikan tentang beragam tindakan (petunjuk).

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan. kegiatan sesuai dengan tindakan yang telah diragakan.

7.

Metode Karyawisata

Merupakan suatu kegiatan belajar mengajar dimana siswa dibawa ke suatu objek di luar kelas untuk mempelajari suatu masalah yang berhubungan dengan materi pelajaran.

Tujuan dari metode karyawisata yaitu : Agar siswa dapat membandingkan apa yang mereka pelajari di dalam kelas secara teoritis dengan keadaan nyata di lapangan atau membandingkan antara teori dengan praktik penggunaannya. Untuk menghilangkan kejenuhan belajar siswa. Sebagai reaksi stabil belajar.

Kelebihan metode karyawisata yaitu : Siswa akan memperoleh pengalaman langsung. Dapat meningkatkan minat perhatian siswa dalam mempelajari sesuatu. Dapat memperkaya dan menyempurnakan pengetahuan yang diperoleh siswa dalam kelas.

Kekurangan metode karyawisata yaitu : Memelihara persiapan yang relative lama dan cukup matang. Memerlukan sarana dan biaya yang relative tinggi. Biasanya persiapan kurang matang untuk dapat menggabungkan tujuan. Memiliki resiko yang tinggi. Langkah langkah pelaksanaan metode demonstrasi : a. Persiapan

Merumuskan tujuan pelaksanaan. Membentuk tempat, waktu, biaya pelaksanaan. Membentuk krituk pelaksanaan dan pembagian tugas. Mempersiapkan lembar observasi atau pertentangan pertentangan untuk merekam data di lapangan.

b.

Pelaksanaan

Mengadakan pengawasan dan bimbingan terhadap siswa. Menunjukkan hal hal yang penting pada saat karyawisata yang berhubungan dengan materi pelajaran. Menjaga ketertiban dan sopan santun di lapangan.

Mencatat hal hal penting untuk bahan lapangan.

c.

Tindak lanjut

Membuat laporan karyawisata untuk tiap kelompok atau tiap individu untuk bahan diskusi. Melaksanakan diskusi hasil karyawisata. Kemudian membuat laporan lengkap hasil diskusi.

8.

Metode Simulasi

Metode simulasi merupakan format interaksi belajar mengajar dalam pengajaran IPS yang didalamnya menampakkan adanya perilaku pura pura dari orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Jenis jenis simulasi yaitu Permainan simulasi (simulation games). Permainan peran (role playing). Sosio drama dan psiko drama.

Adapun tujuan dari penggunaan metode simulasi yaitu : Untuk mendorong partisipasi dan pengembangan sikap siswa. Mengembangkan persuasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran. Dapat menimbulkan interaksi yang sehat dan hangat antar siswa. Memperkenal dan melatih peranan kepemimpinan pada diri siswa. Memanfaatkan bakat dan kemampuan siswa sebagai sumber belajar.

Keuntungan dari pengguanaan metode simulasi yaitu :

Dapat menciptakan kesenangan dan kegembiraan pada diri siswa dalam proses pembelajaran. Dapat mengurangi keabstrakan pada diri siswa dalam proses pembelajaran. Dapat memberikan pengarahan dan petunjuk sederhana dalam proses pembelajaran. Dapat melatih siswa berfikr secara kritis. Adapun kelemahan dari penggunaan metode simulasi : Memerlukan waktu relatif lebih lama dan biaya yang relatif mahal. Memerlukan sistem pengelompokan yang cakap luwes dan kompleks Banyak menuntut imajinasi dan improfisasi guru dan siswa dalam pelaksanaannya Sulit bagi siswa berperan sesuai dengan peranan tokoh yang dimainkan Adapun langkah langkah pelaksanaan metode simulasi yaitu sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 9. Memiliki situasi, masalah atau pemain yang tepat Mengorganisasi kegiatan sehingga jelas dan tepat Memberikan petunjuk yang jelas kepada siswa yang menjadi simulator Menjawab pertanyaan pertanyaan yang ada kaitanya dengan materi pelajaran Membantu mempersiapkan para pemain Menetapkan alokasi waktu Melaksanakan simulasi sesuai yang telah direncanakan Mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan simulasi Mengadakan kegiatan ulang Metode Inquiri dan Discovery ( mencari dan menemukan )

Metode penemuan ( discovery methode) sebagai prosedur yang menekankan belajar secara individual, manipulasi objek atau pengaturan atau pengondisian objek, dan eksperimentasi lain oleh siswa sebelum generalisasi atau penarikan kesimpulan dibuat. Adapun tujuan dari metode penemuan adalah sebagai berikut :

Meningkatkan ketertiban siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Mengarahkan siswa sebagai pelajar seumur hidup. Mengurangi ketergantungan siswa kepada guru dalam proses pembelajaran. Melatih siswa memanfaatkan sumber informasi dalam lingkungan.

Kentungan menggunakan metode penemuan yaitu : Membantu untuk memperbaiki proses penguasaan pengetahuan dan ketrampilan bagi para siswa. Pengetahuan yang diperoleh setiap siswa bersifat individual, oleh karena itu lebih erat melekat pada diri siswa, Dapat menimbulkan kegairan belajar belajar siswa. Memberi kesempatan siswa maju terus dalam belajar. Memperkuat konsep diri siswa dengan lebih percaya diri. Metode ini kegiatanya lebih berpusat kepada siswa.

Kelemahan metode penemuan yaitu : Memerlukan persiapan, kemampuan berfikir yang tinggi. Keberhasilan sulit dicapai bila diikuti oleh siswa dengan jumlah yang besar. Membutuhkan peralatan dan fasilitas yang memadai.

Langkah langkah pelaksanaan dengan menggunakan metode penemuan menurut Gilstrap, Richard Surachman dan Dermo M. yaitu : Mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa. Memilih konsep, penertian dan prinsip yang akan di pelajari. Pemilihan masalah dan bahan pembelajaran.

Menjelaskan tugas tugas yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Mempersiapkan alat alat dan suasana belajar. Mengecek pemahaman siswa. Melaksanakan proses penemuan dengan mengumpulkan data. Membantu dan membimbing siswa dalam menganalisa data. Membentuk siswa dalam menemukan masalah, kaidah, prinsip dan ide ide berdasarkan hasil penemuan.

10. Bermain Peran ( role playing ) Bermain adalah sebuah proses belajar melalui bermain peran yang dapat mengembangkan pemahaman, dan identifikasi terhadap nilai. Siswa dalam bermain peran menempatkan diri pada posisi orang lain, apabila ia memenghayati peran itu, ia akan memahami tidak saja apa yang telah dilakukan orang tersebut. Dalam bermain peran dituntut siswa yang berkualitas, yang diharapkan mampu menghayati posisi yang diinginkan. Siswa harus mengetahui dan memahami terlebih dahuluinformasi tentang tujuan dan peran yang akan dimainkan, untuk itu perlu didiskusikan dulu dengan antar anggota kelompok untuk membangun simpati terhadap suatu nilai, yaitu nilai nilai yang sudah dinyatakan secara lebih spesifik.

11. Social Drama ( socio drama) Drama sosial merupakan bermain peran yang berhubungan dengan isu sosial yang disebut dengan Joyce and Well (1980 ; 254) dengan istilah interpersonal conflict. Drama sosial hanya membatasi diri dari pada permasalahan yang berkenaan dengan aspeksosial masyarakat. Permasalahan yang mungkin muncul antara siswa setelah suatu sosial akan sama halnya dengan apa yang sudah dikemukakandalam bermain peran. Oleh karena itu, selain aspek positif yang tercapai dalam penanamannilai melalui drama sosial, guru harus berupaya untuk menghilangkan aspek negatif yang mungkin terjadi diantara siswa yang memegang peranan tersebut b. Pendekatan Pembelajaran IPS

Pendekatan pembelajaran IPS dibedakan menjadi dua yaitu : 1. Pendekatan Pembelajaran tradisional

Pembelajaran tradisional adalah suatu pendekatan dimana didalam proses pembelajaran hanya menyampaikan materi pembelajaran didalam dengan metode pendekatan yang monoton dan relative tetap setiap kali mengajar. Dalam pendekatan tradisional guru lebih memegang peranan penting dengan siswanya. Hal ini menjadikan siswa kurang aktif bahkan lebih cenderung bersifat pasif. Untuk itu guru dituntut lebih mengembangkan pendekatan yang menjanjikan, agar siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar.

2.

Pendekatan Inquiry

Penggunaan pendekatan pembelajaran Inquiry akan memberikan suasana atau iklim yang lebih semangat yang membuat siswa menjadi aktif didalam kelas. Peran guru dalam proses pembelajarannya hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator, siswa lebih di prioritaskan sebagai student center Ciri ciri pendekatan inkuiri yaitu : 1. Dalam proses belajar mengajar lebih banyak melemparkan permasalahan kepada siswa untuk dianalisa dan kemudian mencari beberapa alternatif perpecahanya. 2. Interaksi dan komunikasi antara guru dan siswa lebih bersifat multi arah

3. Guru lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswanya yang berfikir secara kritis dan ilmiah. 4. Dalam proses belajar mengajar guru dalam menyampaikan informasi materi bukan hanya bersifat pengetahuan, tetapi menanamkan sifat dan memberikan ketrampilan praktis kepada siswa 5. Strategi, metode dan teknik mengajar yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar lebih bervariatif. 6. Dalam proses pembelajaran lebih memperlihatkan kadar cara belajar siswa aktif (CBSA) yang tinggi. BAB III

PENUTUP

III. 1. Kesimpulan Metode pembelajaran adalah suatu cara yang digunakan oleh guru agar siswa dapat belajar seluas-luasnya dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran secara efektif. Secara garis besarnya metode pembelajaran IPS itu dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu: 1. a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Metode Interaksi Edukatif didalam kelas: Metode ceramah Metode tanya jawab Metode diskusi Metode kerja kelompok Metode demonstrasi Metode karyawisata Metode simulasi Metode Inquiry dan Discovery Metode bermain peran ( Role Playing ) Metode sosial drama

2. a. b.

Pendekatan pembelajaran IPS: Pembelajaran tradisional Inquiry

III.2.

Saran

Yang perlu diingat bahwa tidak ada suatu model pengajaran yang paling baik dan sempurna. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi metode yang paling baik adalah metode yang cocok dan relevan dengan materi dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Sehingga guru disarankan untuk memahami dan dapat menginovasikan metodemetode dalam penerapan belajar mengajar.

metode pembelajaran IPs di SD

Salah satu tugas guru adalah mengajar. Hal ini menyebabkan adanya tuntutan kepada setiap guru untuk dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana seharusnya mengajar. Dengan kata lain, setiap guru dituntut untuk memiliki kompetensi mengajar. Guru akan memiliki kompetensi mengajar jika, guru paling tidak memiliki pemahaman dan penerapan secara taktis berbagai metode belajar mengajar serta hubungannya dengan belajar disamping kemampuan - kemampuan lain yang menunjang. Bertolak dan bermuara pada kebutuhan sebagai guru, maka makalah ini di sajikan tentang berbagai metode belajar mengajar agar mampu melaksanakan tugas utama guru yaitu mengajar. Apabila telah memiliki kemampuan dalam penguasaan penggunaan metode pembelajaran IPS secara mendalam. Pengajaran IPS pada pendidikan dasar menengah dengan cara mengenalkan masalah masalah social melalui pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan kepekaan untuk menghadapi dan memecahkan masalah social tersebut. Sesuai dengan karakteristik anak SD dan seusianya, metode ceramah akan menyebabkan siswa bersikap pasif dan tentunya menjadi pelajaran hafalan yang membosankan. Oleh karena itu, guru di harapkan mampu menguasai metode metode yang cocok untuk pembelajaran IPS agar siswa lebih tertarik pada peljaran tersebut. Banyak sekali teori teori yang menjelaskan tentang metode untuk pembelajaran, namun kita belum mengetahui metode apa yang baik dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran Pendidikan IPS khususnya di SD. A. Rumusan Masalah 1. Bagaimana metode pembelajaran Pendidikan IPS SD ? 2. Bagaimana macam macam metode pembelajaran IPS SD ? B. Tujuan 1. Mengetahui metode pembelajaran Pendidikan IPS SD 2. Mengetahui macam macam metode pembelajaran IPS SD

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Metode Pembelajaran Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu Methodos yang berarti cara berani atau cara berjalan yang di tempuh. Menurut Winarno Surakhmad, metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan ( 1976 : 74 ). Sedangkan pengertian pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut Nursid Suaatmadja, metode pembelajaran adalah suatu cara yang fungsinya merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan ( 1984 : 95 ). Menurut S Hamid Hasan, metode pengajaran adalah suatu cara yang digunakan untuk memberikan kesempatan seluas luasnya kepada siswa dalam belajar ( 1992 : 4). Dari dua pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa metode pengajaran IPS itu adalah suatu cara yang digunakan oleh guru agar siswa dapat belajar seluas luasnya dalam rangka mencapai tujuan pengajaran secara efektif. Didalam proses belajar mengajara di perlukan suatu metode yang sesuaidengan situasi dan kondisi yang ada. Metode pembelajaran seharusnya tepat guna yaitu mampu memfunfsikan si anak didik untuk belajar sendiri sesuai dengan Student Active Learning (SAL). B. Macam macam metode Metode metode untuk mata pelajaran IPS cukup beraneka ragam. Keanekaragaman meliputi klasifikasi maupun penamaan suatu metode bahkan juga tingkat daya guna dan hasil guna suatu metode. Secara garis besar, metode pembelajaran IPS antara lain : 1. Metode Ceramah Metode ceramah adalah suatu bentuk pengajaran dimana dosen atau guru mengalihkan informasi kepada sekelompok besar atau siswa dengan cara yang terutama bersifat verbal. Metode ceramah ini lebih tepat digunakan bila proses pembelajaran memiliki kondisi sebagai berikut: a. Tujuan dasar pembelajaran adalah menyampaikan informasi baru. b. Isi pembelajaran bersifat langka, misalnya berupa penemuan baru. c. Isi pelajaran harus diorganisasikan dan disajikan dalam sebuah cara khusus keompok tertentu.

d. Membangkitkan minat terhadap pelajaran. e. Isi pelajaran tidak diingat dalam waktu yang lama. f. Sebagai pengantar penggunaan metode yang lain dan pengarah penyelesaian tugas mengajar.

2. Metode Tanya Jawab Pertanyaan dapat dilihat dari beberapa model belajar mengajar. Baik itu metode cermah,diskusi kerja kelompok atau metode yang lainnya. Metode Tanya jawab adalah sebagai format interaksi antara guru dan siswa melalui kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respons lisan, sehingga dapat menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa. Tujuan pemakaian metode tanya jawab yaitu sebagai berikut: a. Mengecek pemehaman siswa sebagai dasar perbaikan proses pembelajaran. b. Membimbing para siswa untuk memperoleh suatu ketrampilan yang kognitif maupun sosial. c. Memberikan rasa aman kepada siswa melalui pertanyaan yang dipastikan menjawabnya. d. Mendorong siswa untuk melakukan penemuan (inquiri) dalam memperjelas suatu masalah. e. Membimbing dan mengarahkan jalannya diskusi kelas. 3. Metode Diskusi atau metode Musyawarah Metode diskusi dalam pengajaran IPS yaitu suatu cara penyajian materi pelajaran dimana siswa dibedakan kepada suatu masalah, baik berupa pertanyaan maupun berupa pertanyaan yang bersifat problemik untuk dibahas atau dipecahkan oleh siswa secara bersama sama. Kelebihan metode diskusi yakni : a. Dapat menggarap kreativitas dan aktivitas siswa dalam proses belajar b. Siswa dapat mengeluarkan pendapat, sikap, dan aspirasi secara bebas dalam rangka mengembangkan sikap demokratis. c. Hasil diskusi (pemikiran bersama) lebih baik bila dibandingkan dengan pendapat sendiri Sedangkan kelemahan dari metode diskusi yaitu: a. Tidak mudah menentukan atau mencari masalah yang akan didiskusikan. b. Pembicaraan sering didominasi oleh siswa tertentu. c. Diskusi lebih banyak memerlukan waktu. d. Bila kegiatan ini tidak terarah, maka pembahasan masalah sering mengembang (tidak tuntas). 4. Metode Penugasan ( pemberian tugas )

Metode pemberian tugas dapat disamakan dengan metode resitasi (recitation method). Dimana metode resitasi ini bersama dengan metode ceramah, merupakan dua metode yang paling tua, yang digunakan oleh guru yang bekerja dengan kelompok kelompok siswa. (Hyman, 1974 : 189). Metode penugasan dalam pengajaran IPS adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan laporan sebagai hasil tugas yang dikerjakan. Metode ini mengacu kepada penerapan unsur unsur Learning by doing Adapun kelebihan dari metode penugasan ini yaitu : a. Relevan dengan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA) b. Dapat mengembangkan sifat kemandirian pada diri siswa c. Dapat memperdalam materi pembelajaran d. Dapat merangsang gairah belajar siswa e. Dapat mengembangkan kreativitas melatih rasa tanggung jawab pada diri siswa f. Dapat mengembangkan kreativitas dan aktivitas siswa. Adapun kelemahan dari metode ini yaitu : a. Kadang kadang tidak terjadi ke relevanan antara tugas dengan materi yang dipelajari. b. Kurang adanya balikan bagi guru. c. Pengerjaan tugas kurang kontrol bila dilaksanakan di luar jam pelajaran. 5. Metode Kerja Kelompok Kerja kelompok merupakan salah satu metode belajar mengajar yang memiliki kadar CBSA yang tinggi. Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar mengajar yang menitik beratkan kepada interaksi antara anggota yang satu dengan anggota yank lain dalam satu kelompok guna menyelesaikan tugas tugas secara bersama sama. Adapun tujuan dari pengguanaan metode kerja kelompok yaitu : a. Memupuk kemauan dan kemampuan berkerja sama bagi siswa. b.Untuk meningkatkan keterlibatan sosial emosional siswa. c. Untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap PBM. Peranan guru dalam pelaksanaan kerja kelompok a. Sebagai pengelola, mengorganisir dan mengatur tempat duduk siswa. b. Sebagai pengamat, pengenal dan membantu siswa jika diperlukan.

c. Sebagai pemberi saran dan penilai. 6. Metode Demonstrasi Metode demonstrasi yaitu merupakan format belajar mengajar yang secara sengaja, menunjukan atau memperagakan tindakan, proses atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada seluruh atau sebagian siswa. Kelebihan dari metode demonstrasi yaitu: a. Dapat memberikan gambaran kongkrit. b. Siswa dapat memperoleh pengalaman langsung. c. Dapat memusatkan perhatian siswa dalam proses pembelajaran. d. Dapat merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan baru. Kekurangannya atau kelemahan dari metode demonstrasi yaitu a. Memerlukan persiapan yang matang. b. Menurut peralatan yang mengacu untuk semua siswa. c. Menentukan kegiatan lanjutan (follow up).

7. Metode Karyawisata Merupakan suatu kegiatan belajar mengajar dimana siswa dibawa ke suatu objek di luar kelas untuk mempelajari suatu masalah yang berhubungan dengan materi pelajaran. Kelebihan metode karyawisata yaitu : a. Siswa akan memperoleh pengalaman langsung. b. Dapat meningkatkan minat perhatian siswa dalam mempelajari sesuatu. c. Dapat memperkaya dan menyempurnakan pengetahuan yang diperoleh siswa dalam kelas. 8. Metode Simulasi Metode simulasi merupakan format interaksi belajar mengajar dalam pengajaran IPS yang didalamnya menampakkan adanya perilaku pura pura dari orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Keuntungan dari pengguanaan metode simulasi yaitu : a. Dapat menciptakan kesenangan dan kegembiraan pada diri siswa dalam proses pembelajaran. b. Dapat mengurangi keabstrakan pada diri siswa dalam proses pembelajaran.

c. Dapat memberikan pengarahan dan petunjuk sederhana dalam proses pembelajaran. d. Dapat melatih siswa berfikr secara kritis. Adapun kelemahan dari penggunaan metode simulasi : a. Memerlukan waktu relatif lebih lama dan biaya yang relatif mahal. b. Memerlukan sistem pengelompokan yang cakap luwes dan kompleks c. Banyak menuntut imajinasi dan improfisasi guru dan siswa dalam pelaksanaannya d. Sulit bagi siswa berperan sesuai dengan peranan tokoh yang dimainkan 9. Metode Inquiri dan Discovery ( mencari dan menemukan ) Metode penemuan ( discovery methode) sebagai prosedur yang menekankan belajar secara individual, manipulasi objek atau pengaturan atau pengondisian objek, dan eksperimentasi lain oleh siswa sebelum generalisasi atau penarikan kesimpulan dibuat. 10. Bermain Peran ( role playing ) Bermain adalah sebuah proses belajar melalui bermain peran yang dapat mengembangkan pemahaman, dan identifikasi terhadap nilai. Siswa dalam bermain peran menempatkan diri pada posisi orang lain, apabila ia memenghayati peran itu, ia akan memahami tidak saja apa yang telah dilakukan orang tersebut. Dalam bermain peran dituntut siswa yang berkualitas, yang diharapkan mampu menghayati posisi yang diinginkan. Siswa harus mengetahui dan memahami terlebih dahuluinformasi tentang tujuan dan peran yang akan dimainkan, untuk itu perlu didiskusikan dulu dengan antar anggota kelompok untuk membangun simpati terhadap suatu nilai, yaitu nilai nilai yang sudah dinyatakan secara lebih spesifik. 11. Social Drama ( socio drama) Drama sosial merupakan bermain peran yang berhubungan dengan isu sosial yang disebut dengan Joyce and Well (1980 ; 254) dengan istilah interpersonal conflict. Drama sosial hanya membatasi diri dari pada permasalahan yang berkenaan dengan aspeksosial masyarakat. Permasalahan yang mungkin muncul antara siswa setelah suatu sosial akan sama halnya dengan apa yang sudah dikemukakandalam bermain peran. Oleh karena itu, selain aspek positif yang tercapai dalam penanamannilai melalui drama sosial, guru harus berupaya untuk menghilangkan aspek negatif yang mungkin terjadi diantara siswa yang memegang peranan tersebut

BAB III KESIMPULAN

1. Metode pembelajaran adalah suatu cara yang digunakan oleh guru agar siswa dapat belajar seluasluasnya dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran secara efektif. 2. Secara garis besarnya metode pembelajaran IPS itu antara lain : a. Metode ceramah b. Metode tanya jawab c. Metode diskusi d. Metode kerja kelompok e. Metode demonstrasi f. Metode karyawisata g. Metode simulasi h. Metode Inquiry dan Discovery i. j. Metode bermain peran ( Role Playing ) Metode sosial drama

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta,. 2002. http://de-referencia.blogspot.com/2010/01/jenis-bentuk-belajar-menurut-van.html. http://syaifworld.blogspot.com/2009/11/efisiensi-dan-efektifitas-belajar.html. Ismail. 2003. Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran), Modul Diklat Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Direktorat PLP. Rahmadi Widdiharto. 2006. Model-model Pembelajaran Matematika. Makalah diklat guru pengembang matematika SMP. Yogyakarta: PPPG Matematika. Sagala, Syaiful, Konsep dan Makna Pembelajaran (untuk membantu memecahkan problematika belajar dan mengajar), Bandung: CV Alfabeta, 2005. Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatanf Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003. Wahab,Rohmat dan Solehuddin.1999.Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi.

Macam-macam Model Pembelajaran Untuk Mengatasi Masalah Pendidikan IPS di SD


BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada jenjang pendidikan dasar memfokuskan kajiannya kepada hubungan antar manusia dan proses membantu pengembangan kemampuan dalam hubungan tersebut. Pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dikembangkan melalui kajian ini ditunjukan untuk mencapai keserasian dan keselarasan dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan IPS sudah lama dikembangkan dan dilaksanakan dalam kurikulum-kurikulum di Indonesia, khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan ini tidak dapat disangkal telah membawa beberapa hasil, walaupun belum optimal. Secara umum penguasaan pengetahuan sosial atau kewarganegaraan lulusan pendidikan dasar relatif cukup, tetapi penguasaan nilai dalam arti penerapan nilai, keterampilan sosial dan partisipasi sosial hasilnya belum menggembirakan. Kelemahan tersebut sudah tertentu terkait atau dilatarbelakangi oleh banyak hal, terutama proses pendidikan atau pembelajarannya, kurikulum, para pengelola dan pelaksananya serta faktor-faktor yang berpengaruh lainnya. Beberapa temuan penelitian dan pengamatan ahli memperkuat kesimpulan tersebut. Dalam segi hasil atau dampak pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial atau IPS terhadap kehidupan bermasyarakat, masih belum begitu nampak. Perwujudan nilai-nilai sosial yang dikembangkan di sekolah belum nampak dalam kehidupan sehari-hari, keterampilan sosial para sosial para lulusan pendidikan dasar khususnya masih memprihatinkan, partisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan semakin menyusut. Banyak penyebab yang melatarbelakangi pendidikan IPS belum dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan. Faktor penyebabnya dapat berpangkal dari kurikulum, rancangan, pelaksana, pelaksanaan ataupun faktor-faktor pendukung pembelajaran. Berkenaan dengan kurikulum dan rancangan pembelajaran IPS, beberapa penelitian memberi gambaran tentang kondisi tersebut. Hasil penelitian Balitbang, Depdikbud tahun 1999 menyebutkan bahwa Kurikulum 1994 tidak disusun berdasarkan

basic competencies melainkan pada materi, sehingga dalam kurikulumnya banyak memuat konsepkonsep teoritis (Boediono, et al. 1999: 84). Hasil evaluasi kurikulum IPS SD tahun 1994 menggambarkan adanya kesenjangan kesiapan siswa dengan bobot materi sehingga materi yang disajikan, terlalu dianggap sulit bagi siswa, kesenjangan antara tuntutan materi dengan fasilitas pembelajaran dan buku sumber, kesulitan menejemen waktu serta keterbatasan kemampuan melakukan pembaharuan metode mengajar (Depdikbud, 1999). Dalam implementasi materi Muchtar, SA. (1991) menemukan IPS lebih menekankan aspek pengetahuan, berpusat pada guru, mengarahkan bahan berupa informasi yang tidak mengembangkan berpikir nilai serta hanya membentuk budaya menghafal dan bukan berpikir kritis. Dalam pelaksanaan Soemantri, N. (1998) menilai pembelajaran IPS sangat menjemukan karena penyajiannya bersifat monoton dan ekspositoris sehingga siswa kurang antusias dan mengakibatkan pelajaran kurang menarik padahal menurut Sumaatmadja, N. (1996: 35) guru IPS wajib berusaha secara optimum merebut minat siswa karena minat merupakan modal utama untuk keberhasilan pembelajaran IPS. Selanjutnya Como dan Snow (dalam Syafruddin, 2001: 3) menilai bahwa model pembelajaran IPS yang diimplementasikan saat ini masih bersifat konvensional sehingga siswa sulit memperoleh pelayanan secara optimal. Dengan pembelajaran seperti itu maka perbedaan individual siswa di kelas tidak dapat terakomodasi sehingga sulit tercapai tujuan-tujuan spesifik pembelajaran terutama bagi siswa berkemampuan rendah. Model pembelajaran saat ini juga lebih menekankan pada aspek kebutuhan formal dibanding kebutuhan real siswa sehingga proses pembelajaran terkesan sebagai pekerjaan administratif dan belum mengembangkan potensi anak secara optimal. Berdasarkan hal-hal di atas nampak, bahwa pada satu sisi betapa pentingnya peranan pendidikan IPS dalam mengembangkan pengetahuan, nilai. Sikap, dan keterampilan sosial agar siswa menjadi warga masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang baik namun di pihak lain masih banyak masalah-masalah tersebut diperlukan penelitian berkaitan dengan pembelajaran IPS. Salah satu upaya yang memadai untuk itu adalah dengan melakukan model pembelajaran. 2. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi pokok permasalahan dari penulisan makalah ini adalah : 1) Apa itu pendidikan IPS?

2) Apa saja permasalahan pendidikan IPS di sekolah dasar? 3) Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran? 4) Bagaimana mengembangkan model pembelajaran untuk mengatasi masalah pendidikan IPS di sekolah dasar? 3. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah: 1) Untuk menjelaskan tentang pendidikan IPS. 2) Menggambarkan permasalahan pendidikan IPS di SD. 3) Untuk menjelaskan tentang model pembelajaran. 4) Mendeskripsikan pengembangan model pembelajaran untuk mengatasi masalah pendidikan IPS di SD. 4. Manfaat Penulisan Dengan adanya penulisan makalah yang bertajuk tentang pengembangan model pembelajaran untuk mengatasi masalah pendidikan IPS di Sekolah Dasar maka seluruh pihak yang memiliki keterkaitan dengan masalah tersebut bisa memahami apa yang menjadi pokok permasalahan yang terjadi. Agar nantinya masalah tersebut tidak menjadi masalah yang menghambat maksud ataupun tujuan yang ingin dicapai. Selain itu dalam penulisan makalah ini apa yang menjadi solusi dalam pemecahan masalah bisa ditemukan dan pihak-pihak yang terkait dapat mengembangkan potensi diri dalam mengelolah teknik model pembelajaran yang baik dan efisien. BAB II PEMBAHASAN 1. Pendidikan IPS IPS adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan Sejarah, Geografi,

Sosiologi, Antropologi, dan Ekonomi (Puskur, 2001: 9). Geografi, Sejarah dan Antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran Geografi memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dengan wilayah-wilayah, sedangkan Sejarah memberikan kebulatan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai kepercayaan, struktur sosial, aktivita-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekpresi dan spritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu Ekonomi tergolong kedalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitasaktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Muriel Crosby menyatakan bahwa IPS diidentifikasi sebagai studi yang memperhatikan pada bagaimana orang membangun kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan anggota keluarganya, bagaimana orang memecahkan masalah-masalah, bagaimana orang hidup bersama, bagaimana orang mengubah dan diubah oleh lingkungannya (Leonard S. Kenworthi, 1981:7). IPS menggambarkan interaksi individu atau kelompok dalam masyarakat baik dalam lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Interaksi antar individu dalam ruang lingkup lingkungan mulai dari yang terkecil misalkan keluarga, tetangga, rukun tetangga atau rukun warga, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara dan dunia. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan IPS adalah disiplin ilmu-ilmu sosial ataupun integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, dan antropologi yang mempelajari masalah-masalah sosial. Pendidikan IPS di SD telah mengintegrasikan bahan pelajaran tersebut dalam satu bidang studi. Materi pelajaran IPS merupakan penggunaan konsep-konsep dari ilmu sosial yang terintegrasi dalam tema-tema tertentu. Misalkan materi tentang pasar, maka harus ditampilkan kapan atau bagaimana proses berdirinya (sejarah), dimana pasar itu berdiri (Geografi), bagaimana hubungan antara orangorang yang berada di pasar (Sosiologi), bagaimana kebiasaan-kebiasaan orang menjual atau membeli di pasar (Antropologi) dan berapa jenis-jenis barang yang diperjualbelikan (Ekonomi). Dengan demikian Pendidikan IPS di sekolah dasar adalah disiplin ilmu-ilmu sosial seperti yang disajikan pada tingkat menengah dan universitas, hanya karena pertimbangan tingkat kecerdasan,

kematangan jiwa peserta didik, maka bahan pendidikannya disederhanakan, diseleksi, diadaptasi dan dimodifikasi untuk tujuan institusional didaksmen (Sidiharjo, 1997). 2. Permasalahan Pendidikan IPS di SD Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998). 1) Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan mastarakat. 2) Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial. 3) Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat. 4) Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat. 5) Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat. Menurut Noman Sumantri bahwa tujuan Pendidikan IPS pada tingkat sekolah adalah: 1) Menekankan tumbuhnya nilai kewarganegaraan, moral, ideologi negara dan agama. 2) Menekankan pada isi dan metode berfikir ilmuwan. 3) Menekankan reflective inquiry.

PIPS menurut NCCS mempunyai tujuan informasi dan pengetahuan (knowledge and information), nilai dan tingkah laku (attitude and values), dan tujuan keterampilan (skill): sosial, bekerja dan belajar, kerja kelompok, dan keterampilan intelektual (Jarolimele, 1986: 5-8). Secara umum, pencapaian tujuan Pendidikan IPS lulusan pendidikan SD belumlah optimal. Kelemahan tersebut dilatarbelakangi oleh banyak hal, terutama proses pendidikan dan

pembelajarannya. Dalam proses pendidikan IPS di SD, pembelajarannya kurang memperhatikan karakteristik anak usia sekolah dasar, yakni terkait dengan perkembangan psikologis siswa. Menurut Jean Piaget (1963), anak dalam kelompok usia SD (6-12 tahun) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan konkrit operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (=konkrit) dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (=abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity) arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD. Jika hal ini dibiarkan terus, maka pembelajaran IPS dapat menjadi pelajaran yang membosankan bagi siswa. Dan baik secara langsung maupun tidak akan berdampak pada tujuan pendidikan IPS yang diharapkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukanlah model pembelajaran yang sesuai untuk materi IPS di SD dan memperhatikan karakteristik anak usia SD. 3. Model Pembelajaran 1) Pengertian Model Belajar-Mengajar Dalam keseharian istilah model dimaksudkan terhadap pola atau bentuk yang akan menjadi acuan. Dalam konteks pendidikan agaknya tidak jauh juga maknanya, yakni sebagai kerangka konseptual berkenaan dengan rancangan yang berisi langkah teknis dalam kesatuan strategis yang harus dilakukan dalam mendorong terjadinya situasi pendidikan; dalam wujud perilaku belajar dan mengajar dengan kecenderungan berbeda antara satu dengan lainnya atau dengan yang biasanya. Dengan demikian sebuah model dalam konteks pembelajaran, tidaklah dapat diterima sebagai

sebuah model jika tidak memperliahatkan ciri khususnya sebagai sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Adapun menurut Sarifudin (Wahab, Azis, 1990: 1) yang dimaksud dengan model belajar mengajar adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang terorganisasikan secara sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, yang berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Dengan demikian, model belajar-mengajar khususnya dapat diartikan sebagai satuan cara, yang berisi prosedur, langkah teknis yang harus dilakukan dalam mendekati sasaran proses dan hasil belajar hingga mencapai efektifitasnya, menurut kesesuaian dengan setting waktu, tempat dan subjek ajarnya. 2) Macam-macam Model Mengajar a. Model-model Pemrosesan Model-model yang berorientasi pada kemampuan pemrosesan informasi dari siswa dan cara memperbaiki kemampuannya dalam menguasai informasi, merujuk pada cara orang menangani stimulus dari lingkungannya, mengorganisasikan data, menginderai masalah, melahirkan konsep dan pemecahan masalah, dan menggunakan simbol verbal da non-verbal. Sungguhpun modelmodel yang termasuk ke dalam rumpun ini berkesan akademik namun tetap peduli akan hubungan sosial dan pengembangan diri. Model-model yang termasuk dalam rumpun ini antara lain adalah; Model Berpikir (Inquiry Training Model), Inkuiri Ilmiah (Scientific Inquiry), Perolehan Konsep (Concept), Model Advance Organizer (Advance Organizer Model), dan Ingatan (Memory). Model berpikir yang dikembangkan Hilda Taba, dirancang terutama untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran akademik atau pembentukan teori, namun kapasitasnya berguna pula untuk pengembangan personal dan sosial. b. Model-model Personal Model-model yang termasuk ke dalam rumpun personal berorientasi pada pengembangan diri individu, model-model ini menekankan proses pembentukan individu dalam

mengorganosasikan realitasnya yang unik. Fokus pengembangan diri berkesan menekankan pada pembinaan emosional antara individu dalam hubungan produktif dengan lingkungannya hingga diharapkan menghasilkan hubungan interpersonal yang lebih kaya dan kemampuan pemrosesan yang lebih efektif lagi. Terliput ke dalam rumpun ini adalah; Pengajaran Non-

Direktif (Non-directive Teaching), Pelatihan Kesadaran (Awraness Training), Sinektic (Synectics), Sistem Konseptual (Conceptual System) dan Pertemuan Kelas (Classroom Meeting). c. Model-model Interaksi Sosial Model-model pembelajaran yang termasuk rumpun Interaksi Sosial, menekankan hubungan antara individu dengan masyarakat dan dengan individu lainnya. Fokus model ini terletak pada proses di mana dengan proses ini realitas dinegosiasi memberikan prioritas pada perbaikan kemampuan individu untuk berhubungan dengan yang lainnya, bergelut dengan proses demokratik dan bekerja secara produktif dalam masyarakat. Termasuk ke dalam rumpun model ini, antara lain : Investigasi Kelompok (Group Investigation), Inkuiri Sosial (Social Inquiry), Metode Laboratorium (Laboratory Method), Yurisprudensial (Yurisprudential), Bermain Peran (Role Playing) dan Simulasi Sosial (Social Simulation). d. Model Behavioral Model-model yang termasuk ke dalam rumpun behavioral berpijak pada landasan teoritis yang sama, yakni teori tingkah laku (Behavioral Theory). Dalam penerapannya, model ini banyak menggunakan istilah lain seperti teori belajar, teori belajar sosial, modifikasi tingkah laku, dan terapi tingkah laku. Ciri pokoknya menekankanpada usaha mengubah tingkah laku teramati ketimbang struktur psikologis yang mendasarinya dan tingkah laku yang tidak teramatinya. Model ini mendasarkan pada prinsip kontrol stimulus dan penguatan (Stimulus Control and Reinforcement). Lebih dari model lainnya model behavioral memiliki keterpakaian yang luas dan teruji keefektifannya pada aneka tujuan seperti pendidikan, pelatihan, tingkah laku interpersonal da pengobatan. Tercakup kedalam model ini, antara lain: Manajemen Kontingensi (Contingency Management), Kontrol Diri (Self Control), Relaksasi (Relaxation), Reduksi Stres (Stress Reducation), Pelatihan Asertif (Assertive Training), Desentisasi (Desensitization) dan Pelatihan Langsung (Direct Training). 4. Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Mengatasi Masalah Pendidikan IPS di SD Sejumlah model pendekatan pembelajaran tersebut diatas, masing-masing mengedepankan keunggulan dalam mengupayakan pencapaian sasaran yang diyakini oleh setiap pengembangannya, namun untuk penerapan praktis di tempat yang sangat mungkin berbeda, harus dikalkulasikan dengan

berbagai aspek kondisional yang tentu tidak sama. Sekurang-kurangnya dimana, oleh, atau dengan dan terutama untuk siapa proses pembelajaran dilakukan. Khusus berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran pada anak usia pertumbuhan, dari sejumlah model tersebut tentunya dapat dirujuk model pendekatan yang menjadi rujukan di atas dengan sebutan model Cognitive Emotion and Social Development. Dasar pandangannya adalah anak merupakan produk berbagai pengaruh, mulai dari keluarganya, kesehatan, kondisi sosial ekonomi dan sekolah. Bahwa masing-masing pendekatan pada pandangan teoritis berkenaan dengan stressingnya, dalam praktisnya dapat terjadi saling berkait antara satu pendekatan dengan pendekatan lain secara bersamaan. Untuk itu, memenuhi keperluan teknis operasional dalam mengembangkan pembelajaran Pengetahuan Sosial berbasis pendekatan nilai khususnya, berikut dipetikan langkah teknis sejumlah model pilihan yang dipandang mewakili tuntutan karakteristik materil, peserta didik dan setting sosial yang menjadi lingkungan kultur dan belajar SD/MI umumnya di tanah air. Beberapa dari sejumlah pendekatan yang menjadi rujukan tersebut, secara parsial terliput dalam kerangka teknis model pilihan berikut, antara lain: Model Inkuiri, VCT, Bermain Peta, ITM (STS), Role Playing, dan Portofolio. 1) Model Inkuiri a) Makna Pembelajaran Inkuiri Model inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang memfokuskan kepada pengembangan kemampuan siswa dalam berpikir reflektif kritis, dan kreatif. Inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang dipandang modern yang dapat dipergunakan pada berbagai jenjang pendidikan, mulai tingkat pendidikan dasar hingga menengah. Pelaksanaan inkuiri di dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial dirasionalisasi pada pandangan dasar bahwa dalam model pembelajaran tersebut, siswa didorong untuk mencari dan mendapatkan informasi melalui kegiatan belajar mandiri. Model inkuiri pada hakekatnya merupakan penerapan metode ilmiah khususnya di lapangan Sains, namun dapat dilakukan terhadap berbagai pemecahan problem sosial. Savage Amstrong mengemukakan bahwa model tersebut secara luas dapat digunakan dalam proses pembelajaran Social Studies (Savage and Amstrong, 1996). Pengembangan strategi pembelajaran dengan model inkuiri dipandang sanagt sesuai dengan karakteristik materil pendidikan Pengetahuan Sosial yang bertujuan mengembangkan tanggungjawab individu dan kemampuan berpartisipasi aktif baik sebagai anggota masyarakat dan warganegara.

b) Langkah-langkah Inkuiri Langkah-langkah yang harus ditempuh di dalam model inkuiri pada hakekatnya tidak berbeda jauh dengan langkah-langkah pemecahan masalah yang dikembangkan oleh John Dewey dalam bukunya How We Think. Langkah-langkah tersebut antara lain: Langkah pertama, adalah orientation, siswa mengidentifikasi masalah, dengan pengarahan dari guru terutama yang berkaitan dengan situasi kehidupan sehari-hari. Langkah kedua hypothesis, yakni kegiatan menyusun sebuah hipotesis yang dirumuskan sejelas mungkin sebagai antiseden dan konsekuensi dari penjelasan yang telah diajukan. Langkah ketiga definition, yaitu mengklarifikasi hipotesis yang telah diajukan dalam forum diskusi kelas untuk mendapat tanggapan. Langkah keempat exploration, pada tahap ini hipotesis dipeluas kajiannya dalam pengertian implikasinya dengan asumsi yang dikembangkan dari hipotesis tersebut. Langkah kelima evidencing, fakta dan bukti dikumpulkan untuk mencari dukungan atau pengujian bagi hipotesa tersebut. Langkah keenam generalization, pada tahap ini kegiatan inkuiri sudah sampai pada tahap mengambil kesimpulan pemecahan masalah (Joyce dan Weil, 1980). 2) Model Pembelajaran VCT a) Makna Pembelajaran VCT VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan pancapaian pendidikan nilai. Djahiri (1979: 115) mengemukakan bahwa Value Clarification Technique, merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali/ mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Karena itu, pada prosesnya VCT berfungsi untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai; b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulannya; c) menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara

yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya. Dengan kata lain, Djahiri (1979: 116) menyimpulkan bahwa VCT dimaksudkan untuk melatih dan membina siswa tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum untuk kemudian dilaksanakannya sebagai warga masyarakat. b) Langkah Pembelajaran Model VCT Berkenaan dengan teknik pembelajaran nilai Jarolimek merekomendasikan beberapa cara, antara lain: a. Teknik evaluasi diri (self evaluation) dan evaluasi kelompok (group evaluation) Dalam teknik evaluasi diri dan evaluasi kelompok pesertadidik diajak berdiskusi atau tanyajawab tentang apa yang dilakukannya serta diarakan kepada keinginan untuk perbaikan dan penyempurnaan oleh dirinya sendiri: 1) Menentukan tema, dari persoalan yang ada atau yang ditemukan peserta didik 2) Guru bertanya berkenaan yang dialami peserta didik 3) Peserta didik merespon pernyataan guru 4) Tanya jawab guru dengan peserta didik berlangsung terus hingga sampai pada tujuan yang diharapkan untuk menanamkan niai-nilai yang terkandung dalam materi tersebut. b. Teknik Lecturing Teknik lecturing, dilalukan guru gengan bercerita dan mengangkat apa yang menjadi topik bahasannya. Langkah-langkahnya antara lain: 1) Memilih satu masalah / kasus / kejadian yang diambil dari buku atau yang dibuat guru. 2) Siswa dipersilahkan memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan menggunakan kode, misalnya: baik-buruk, salah benar, adil tidak adil, dsb.

3) Hasil kerja kemudian dibahas bersama-sama atau kelompok kalau dibagi kelompok untuk memberikan kesempatan alasan dan argumentasi terhadap penilaian tersebut. c. Teknik menarik dan memberikan percontohan Dalam teknik menarik dan memberi percontohan (example of axamplary behavior), guru membarikan dan meminta contoh-contoh baik dari diri peserta didik ataupun kehidupan masyarakat luas, kemudian dianalisis, dinilai dan didiskusikan. d. Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan, dalam teknik ini peserta didik dituntut untuk menerima atau melakukan sesuatu yang oleh guru dinyatakan baik, harus, dilarang, dan sebagainya. e. Teknik tanya-jawab Teknik tanya-jawab guru mengangkat suatu masalah, lalu mengemukakan pertanyaanpertanyaan sedangkan peserta didik aktif menjawab atau mengemukakan pendapat pikirannya. f. Teknik menilai suatu bahan tulisan Teknik menila suatu bahan tulisan, baik dari buku atau khusus dibuat guru. Dalam hal ini peserta didik diminta memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan kode (misal: baik - buruk, benar tidak-benar, adil tidak-adil dll). Cara ini dapat dibalik, siswa membuat tulisan sedangkan guru membuat catatan kode penilaiannya. Selanjutnya hasil kerja itu dibahas bersama atau kelompok untuk memberikan tanggapan terhadap penilaian. g. Teknik mengungkapkan nilai melalui permainan (games). Dalam pilihan ini guru dapat menggunakan model yang sudah ada maupun ciptaan sendiri. 3) Model Bermain Peta Keterampilan menggunakan dan menafsirkan peta dan globe merupakan salah satu tujuan penting dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial. Keterampilan menginterpretasi peta maupun

globe perlu dilakukan peserta didik secara fungsional. Peta dan globe memberikan manfaat, yaitu: a) siswa dapat memperoleh gambaran mengenai bentuk, besar, batas-batas suatu daerah; b) memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai istilah-istilah geografi seperti: pulau, selat, semnanjung, samudera, benua dan sebagainya; c) memahami peta dan globe, diperlukan beberapa syarat yaitu : (a) arah, siswa mengerti tentang cara menentukan tempat di bumi seperti arah mata angin, meridian, paralel, belahan timur dan barat; (b) skala, merupakan model atau gambar yang lebih kecil dari keadaan yang sebenarnya; (c) lambang-lambang, merupakan simbo-simbol yang mudah dibaca tanpa ada keterangan lain; (d) warna, menggunakan berbagai warna untuk menyatakan hal-hal tertentu misalnya: laut, beda tinggi daratan, daerah, negara tertentu dsb. 4) Pendekatan ITM (Ilmu-Teknologi dan Masyarakat) a) Kebermaknaan Model Pendekatan ITM Pendekatan ITM (Ilmu, Teknologi, dan Masyarakat) atau juga disebut STS (ScienceTechnology-Society) muncul menjadi sebuah pilihan jawaban atas kritik terhadap pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang bersifat tradisional (texbook), yakni berkisar masih pada pengajaran tentang fakta-fakta dan teori-teori tanpa menghubungkannya dengan dunia nyata yang integral. ITM dikembangkan kemudian sebagai sebuah pendekatan guna mencapai tujuan pembelajaran yang berkaitan langsung dengan lingkungan nyata dengan cara melibatkan peran aktif peserta didik dalam mencari informasi untuk meemcahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan kesehariannya. Pendekatan ITM menekankan pad aktivitas peserta didik melalui penggunaan keterampilanproses dan mendorong berpikir tingkat tinggi, seperti; melakukan kegiatan pengumpulan data, menganalisis data, melakukan survey observasi, wawancara dengan masyarakat bahkan kegiatan di laboratorium dsb. Oleh karena itu, permasalahan tentang kemasyarakatan sebagaimana adanya tidak terlepas dari perkembangan ilmu dan teknologi, dapat dijawab melalui inkuiri. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut peserta didik menjadi lebih aktif dalam menggali permasalahan berdasarkan pada pengalaman sendiri hingga mampu melahirkan kerangka pemecahan masalah dan tindakan yang dapat dilakukan secara nyata. Karena itu, pendekatan ITM dipandang dapat memberi kontribusi langsung terhadap misi pokok pembelajaran pengetahuan sosial, khusus dalam mempersiapkan warga negara agar memiliki kemampuan: a) memahami ilmu pengetahuan di masyarakat, b) mengambil keputusan

sebagai warga negara, c) membuat hubungan antar pengetahuan, dan d) mengingat sejarah perjuangan dan peradaban luhur bangsanya. b) Langkah Pendekatan ITM Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran pendekatan ITM antara lain: 1. Menekankan pada paham kontruktivisme, bahwa setiap individu peserta didik, telah memiliki sejumlah pengetahuan dari pengalamannya sendiri dalam kehidupan faktual di lingkungan keluarga dan masyarakat. 2. Peserta didik dituntut untuk belajar dalam memecahkan permasalahan dan dapat menggunakan sumber-sumber setempat (nara sumber dan bahan-bahan lainnya) untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah. 3. Pola pembelajaran bersifat kooperatif (kerja sama) dalam setiap kegiatan pembelajaran serta menekankan pada keterampilan proses dalam rangka melatih peserta didik berfikir tingkat tinggi. 4. Peserta didik menggali konsep-konsep melalui proses pembelajaran yang ditempuh dengan cara pengamatan (observasi) terhadap objek-objek yang dipelajarinya. 5. Masalah-masalah aktual sebagai objek kajian, dibahas bersama guru dan peserta didik guna menghindari terjadi kesalahan konsep. 6. Pemilihan tema-tema didasarakan urutan integratif. 7. Tema pengorganisasian pokok dari sejumlah unit ITM adalah isu dan masalah sosial yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. c) Tahapan Metode Pendekatan ITM (1) Tahap Eksplorasi

Kegiatan eksplorasi merupakan tahap pengumpulan data lapangan dan data yang berkaitan dengan nilai. Peserta didik dengan bantuan LKS secara berkelompok melakukan pengamatan langsung. Eksplorasi dilakukan guna membuktikan konsep awal yang mereka miliki dengan konsep ilmiah. (2) Tahap Penjelasan dan Solusi Dari data yang telah terkumpul berdasarkan hasil pengamatan, diharapkan peserta didik mampu memberikan solusi sebagai alternatif jawaban tentang persoalan lingkungan. Peserta didik didorong untuk menyampaikan gagasan, menyimpulkan, memberikan argumen dengan tepat, membuat model, membuat poster yang berkenaan dengan pesan lingkungan, membuat puisi, menggambar, membuat karangan, serta membuat karya seni lainnya. (3) Tahap Pengambilan Tindakan Peserta didik dapat membuat keputusan atau mempertimbangkan alternatif tindakan dan akibat-akibatnya dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperolehnya. Berdasar pengenalan masalah dan pengembangan gagasan pemecahannya, mereka dapat bermain peran (Role Playing) membuat kebijakan strategis yang diperlukan untuk mempengaruhi publik dalam mengatasi permasalahan lingkungan tersebut. (4) Diskusi dan Penjelasan Berikutnya guru dan peserta didik melakukan diskusi kelas dan penjelasan konsep melalui tahapan sebagai berikut: Masing-masing kelompok melaporkan hasil temuan pengamatan lingkungannya. Guru memberikan kesempatan kepada anggota kelas lainnya untuk memberikan tanggapan atau informasi yang relevan terhadap laporan kelompok temannya. Guru bersama peserta didik menyimpulkan konsep baru yang diperoleh kemudian mereka diminta melihat kembali jawaban yang telah disampaikan sebelum kegiatan eksplorasi.

Guru membimbing peserta didik merkonstruksi kembali pengetahuan langsung dari objek yang dipelajari tentang alam lingkungannya. (5) Tahap Pengembangan dan Aplikasi Konsep Guru bertanya pada peserta didik tentang hal-hal yang diliahat dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan aplikasi konsep baru yang telah ditemukan. Guru dan peserta didik mendiskusikan sikap dan kepedulian yang dapat mereka tumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan konsep baru yang telah ditemukan. (6) Tahap Evaluasi Pada tahapan evaluasi, guru memperlihatkan gambar suasana lingkungan yang berbeda yaitu lingkungan yang terpelihara dan yang tidak terpelihara. Kemudian menggunakan pertanyaan pancingan pada peserta didik sehingga mampu memberikan penilaian sendiri tentang keadaan kedua lingkungan tersebut. (7) Kegiatan Penutup Kegiatan penutup merupakan kegiatan penyimpulan yang dilakukan guru dan peserta didik dari seluruh rangkaian pembelajaran. Sebagai bagian penutup, guru menyampaikan pesan moral. 5) Model Role Playing a) Kebermaknaan Penggunaan Model Role Playing Role Playing adalah salah satu model pembelajaran yang perlu menjadi pengalaman belajar peserta didik, terutama dalam konteks pembelajaran Pengetahuan Sosial dan Kewarganegaraan didalamnya. Sebagai langkah teknis, role playing sendiri tidak jarang menjadi pelengkap kegiatan pembelajaran yang dikembangkan dengan stressing model pendekatan lainnya, seperti inkuiri, ITM, Portofolio, dan lainnya. Secara komprehensif makna penggunaan role playing dikemukakan George Shaftel (Djahiri, 1978: 109) antara lain:

1) untuk menghayati sesuatu/hal/kejadian sebenarnya dalam realitas kehidupan; 2) agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya; 3) untuk mempertajam indera dan perasaan siswa terhadap sesuatu; 4) sebagai penyaluran/pelepasan tensi (kelebihan energi psykhis) dan perasaan-perasaan; 5) sebagai alat diagnosa keadaan; 6) ke arah pembentukan konsep secara mandiri; 7) menggali peran-peran dari pada dalam suatu kehidupan/kejadian/keadaan; 8) menggali dan meneliti nilai-nilai (norma) dan peranan budaya dalam kehidupan; 9) membantu siswa dalam mengklarifikasikan (memperinci) pola berpikir, berbuat dan keterampilannya dalam membuat/ mengambil keputusan menurut caranya sendiri; 10) membina siswa dalam kemampuan memecahakan masalah. b) Langkah-langkah Role Playing Adapun langkah-langkahnya, Djahiri (1978: 109) mengangkat urutan teknis yang dikembangkan Shaftel yang terdiri dari 9 langkah dalam tabel berikut. No. 1. Urutan Langkah Penjelasan umum Kegiatan dan Pelakunya 1.1. Mencari atau mengemukakan permasalahan (oleh guru atau bersama siswa). 1.2. Memperjelas masalah/ topik tersebut (guru). 1.3. Mencari bahan-bahan, keterangan atau penjelasan lebih lanjut, dengan menunjukan sumbernya (guru & siswa). 1.4. Menjelaskan tujuan, makna dari role playing. 2. Memilih para pelaku 2.1. Menganalisis peran yang harus dimainkan (guru bersama siswa). 2.2. Memilih para pelakunya (dibantu guru). 3. Menentukan Observer 3.1. Menentukan observer dan menjelaskan tugas dan peranannya (guru & siswa).

4.

Menentukan jalan cerita

4.1. gariskan jalan ceritanya. 4.2. tegaskan peran-peran yang ada didalamnya. 4.3. berikut gambaran situasi keadaan cerita tersebut (guru + siswa).

5.

Pelaksanaan (bermain)

5.1. Mulai melakonkan permainan tersebut 5.2. Menjaga agar setiap peran berjalan. 5.3. Jagalah agar babakan-babakan terlihat jelas.

No. 6.

Urutan Langkah Diskusi dan permainan

Kegiatan dan Pelakunya 6.1. Telaah setiap peran, posisi, dan permainan. 6.2. diskusikan hal tersebut berikut saran perbaikannya. 6.3. Siapkan permainan ulangan.

7.

Permainan

ulang

dan 7.1. Seperti sub 5 dan sub 6

diskusi serta penelaahan 8. Mempertukarkan pikiran, 8.1. Setiap pelaku mengemukakan pengalaman, pengalaman dan membuat kesimpulan 8.2. Observer mengemukakan penilaian pendapatnya. 8.3. Siswa dan guru membuat kesimpulan dan merangkainya dengan topik / konsep yang sedang dipelajarinya. 6) Model Portofolio a) Makna Pembelajaran Portofolio perasaan dan pendapatnya.

Protofolio dalam pendidikan mulai dipergunakan sebagai salah satu jenis model penilaian (Assesment) yang berbasis produk, yakni penilaian yang didasarkan pada segala hasil yang dapat dibuat atau ditunjukan peserta didik, kemudian dihimpun dalam sebuah map jepit (portofolio) untuk dijadikan bahan pertimbangan guru dalam memberikan asesmen otentik terhadap kinerja peserta didik. Sapriya (Winataputra, 2002: 1.16) menegaskan bahwa: portofolio merupakan karya terpilih kelas/siswa secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif membuat kebijakan publik untuk membahas pemecahan terhadap suatu masalah kemasyarakatan. Makna pembelajaran berbasis portofolio dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial adalah memperkenalkan kepada peserta didik dan membelajarkan mereka pada metode dan langkah-langkah yang digunakan dalam proses politik kewarganegaraan/kemasyarakatan. b) Langkah-langkah Penbelajaran Portofolio Secara teknis pendekatan portofolio dimulai dengan membagi peserta didik dalam kelas ke dalam beberapa kelompok, lajimnya dilakukan menjadi 4 atau sesuai menurut keadaan dan keperluannya. Berdasarkan urutannya, setiap kelompok membidangi tugas dan tanggungjawab masing-masing, antara lain: (1) Kelompok portofolio-satu; Menjelaskan masalah, dalam tugasnya kelompokini bertanggung jawab untuk menjelaskan masalah yang telah mereka pilih untuk dikaji dalam kelas. (2) Kelompok portofolio-dua; Menilai kebijakan alternatif yang diusulkan untuk memecahkan masalah, dalam tugasnya kelompok ini bertanggung jawab untuk menjelaskan kebijakan saat ini dan atau kebijakan yang dirancang untuk memecahkan masalah. (3) Kelompok portofolio-tiga; Membuat satu kebijakan publik yang didukung oleh kelas, dalam tugasnya kelompok ini bertanggung jawab untuk membuat satu kebijakan publik tertentu yang disepakati untuk didukung oleh mayoritas kelas serta memberikan pembenaran terhadap kebijakan tersebut. (4) Kelompok portofolio-empat; Membuat satu rencana tindakan agar pemerintah (setempat) dalam masyarakat mau menerima kebijakan kelas. Dalam tugasnya kelompok ini

bertanggung jawab untuk membuat suatu rencana tindakan yang menujukkan bagaimana warganegara dapat mempengaruhi pemerintah (setempat) untuk menerima kebijakan yang didukung oleh kelas.

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Pendidikan IPS adalah disiplin ilmu-ilmu sosial ataupun integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, dan antropologi yang mempelajari masalah-masalah sosial. Dalam proses pendidikan IPS di SD, pembelajarannya kurang memperhatikan karakteristik anak usia sekolah dasar, yakni terkait dengan perkembangan psikologis siswa. Anak dalam kelompok usia SD (6-12 tahun) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan konkrit operasional. Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, lingkungan, ritual, akulturasi, demokrasi, nilai, peranan merupakan konsepkonsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD. Jika hal ini dibiarkan terus, maka pembelajaran IPS dapat menjadi pelajaran yang membosankan bagi siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukanlah model pembelajaran yang sesuai untuk materi IPS di SD dan memperhatikan karakteristik anak usia SD. Adapun model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah pendidikan IPS di SD adalah : a. Model Inkuiri b. Model Pembelajaran VCT c. Model Bermain Peta

d. Pendekatan ITM (Ilmu-Teknologi dan Masyarakat) e. Model Role Playing f. Model Portofolio 2. Saran Dalam mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, kita harus memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, program-program pelajaran IPS di sekolah haruslah diorganisasikan secara baik. Sejumlah model pendekatan pembelajaran yang telah dijelaskan diatas, masing-masing mengedepankan keunggulan dalam mengupayakan pencapaian sasaran yang diyakini oleh setiap pengembangannya, namun untuk penerapan praktis di tempat yang sangat mungkin berbeda. Oleh karena itu harus dikalkulasikan dengan berbagai aspek kondisional yang tentu tidak sama.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Lamri Ichas Hamid dan Tuti Istianti Ichas. 2006. Pengembangan Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional http://educare.e-fkipunla.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=10 http://massofa.wordpress.com/2008/02/27/pendekatan-konsep-ilmu-teknologi-dan-masyarakatdalam-pembelajaran-ips-di-sd/ http://pardi74.multiply.com/video/item/1 http://pips-sd.blogspot.com/2008_09_01_archive.html http://re-searchengines.com/0805arief7.html

http://www.puskur.net/produkpuskur/form/upload/52_Kajian%20Kebijakan%20Kurikulum %20IPS.pdf

PENERAPAN METODE DISKUSI KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS Oleh: Savitri Purbaningsih Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (UPI) savitripurbaningsih@yahoo.com ABSTRAK Berpikir kritis sangat penting dikembangkan dan dimiliki oleh setiap peserta didik, agar peserta didik mampu menghadapi setiap permasalahan didalam hidupnya. Namun, berdasarkan data yang didapatkan oleh peneliti pada pra-penelitian bahwa peserta didik di kelas VIII-E SMP Negeri 44 Bandung memiliki kemampuan berpikir kritis yang sangat kurang. Hal tersebut dapat terlihat pada aktivitas peserta didik yang sangat pasif didalam pembelajaran IPS ketika berlangsung. Berdasarkan dari landasan permasalahan tersebut, peneliti berinisiatif untuk melakukan penelitian tindakan kelas sesuai dengan judul yang tertera diatas. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Dalam pelaksanaan penelitian ini dilakukan sebanyak 3 kali siklus, setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan terhadap peserta didik kelas VIII-E SMP Negeri 44 Bandung, tahun ajaran 2012/2013 sebanyak 40 orang peserta didik. Dalam pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini yaitu (1) observasi untuk mengamati aktivitas peserta didik dalam pembelajaran; (2) wawancara untuk mendapatkan data mengenai pendapat peserta didik dan pendidik mengenai penerapan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran IPS; (3) tugas kelompok (LKS) untuk mengetahui sejauh mana keterampilan berpikir kritis yang telah dimiliki peserta didik dalam pembelajaran IPS; dan (4) dokumentasi untuk mendapatkan data mengenai suasana kelas secara mendetail tentang aktivitas-aktivitas yang terjadi didalam kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS. Pada tindakan II terlihat bahwa mayoritas indikator berpikir kritis yang diperoleh oleh peserta didik adalah B (baik), lebih baik dibandingkan pada tindakan I yang mayoritas indikator berpikir kritis yang diperoleh peserta didik C (cukup baik). Selanjutnya pada tindakan III sebagian besar perolehan tingkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik yang diperoleh adalah B (baik), dibandingkan pada tindakan II. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode diskusi kelompok dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran IPS. Kata Kunci: Metode Diskusi Kelompok, Kemampuan Berpikir Kritis

PENDAHULUAN Penelitian ini dilatarbelakangi dari hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di kelas VIII-E SMP Negeri 44 Bandung, tentang pembelajaran IPS teridentifikasi beberapa masalah sebagai berikut: (1) pembelajaran IPS di kelas masih memiliki kecenderungan pendidik yang aktif di dalam kelas (teacher center). Kesan pendidik yang menguasai kelas sangatlah menonjol, peserta didik hanya menerima informasi dari pendidik saja, sehingga kurang mengarah kepada pengembangan peserta didik untuk berpikir kritis; (2) Buku paket dan pendidik seringkali dijadikan sebagai satu-satunya sumber belajar, dampaknya mereka akan terbelenggu oleh satu buku itu saja yang selalu dianggap kebenaran mutlak; (3) peserta didik tidak memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat, berekspresi, berfikir kreatif, berpikir kritis dan ilmu yang mereka dapat akan cepat dilupakan serta dianggap kurang bermakna; (4) sejumlah peserta didik mengganggap bahwa mata pelajaran IPS itu merupakan mata pelajaran yang monoton, tidak menantang, dan kurang sesuai dengan kebutuhan hidup peserta didik. Padahal, IPS harus mempersiapkan peserta didik dalam berpartisipasi secara efektif di lingkungan kelas, sekolah, masyarakat, negara dan dunia (Effendi dalam Soemantri, 2010: 34). Dengan adanya kondisi dimana peserta didik tidak memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat, berargumen, dan berekpresi, yang mengindikasikan bahwa peserta didik kurang memiliki kemampuan dalam berpikir kritis dalam pembelajaran IPS. Padahal, IPS memiliki tujuan yang tercantum pada PERMENDIKNAS no 22, 23, dan 24 tahun 2006 (Sapriya, 2007), memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis, dan kritis, rasa ingin tahu, inquiry, memecahkan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sosial. Berpikir kritis adalah menjelaskan apa yang dipikirkan (Fisher, 2008:65). Dengan berpikir kritis peserta didik dapat mengembangkan keterampilan interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, dan regulasi diri. Berpikir kritis sangat penting dikembangkan dan dimiliki oleh setiap peserta didik agar peserta didik ini dapat memikirkan strategi-strategi yang tepat dalam memecahkan suatu masalah. Sebab pada abad ke-21 ini, permasalahan-permasalahan di masyarakat semakin runyam sehingga menuntut warga negaranya bisa lebih memikirkan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan dengan bijak. Selain itu, menurut Santrock dalam Desmita (2010:158), perubahan kognitif yang memungkinkan terjadinya peningkatan pemikiran kritis pada peserta didik apabila dilatih sejak dini, yaitu: (1) Meningkatkan kecepatan, otomatisasi dan kapasitas pemrosesan informasi, yang membebaskan sumber-sumber kognitif untuk dimanfaatkan bagi tujuan lain; (2) Bertambah luasnya isi pengetahuan tentang berbagai bidang; (3) Meningkatkan kemampuan membangun kombinasi-kombinasi baru dari pengetahuan; (4) Semakin panjangnya rentang dan spontannya penggunaan strategi atau prosedur untuk menerapkan atau memperoleh pengetahuan, seperti perencanaan, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan pemantauan kognitif Terkait dengan rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS, maka perlu adanya pemilihan metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, agar tidak hanya terpaku kepada pendidik atau pun buku pelajaran. Salah satu jenis metode pembelajaran itu adalah metode diskusi. Menurut Arends (2008:75), diskusi adalah situasi pendidik dan peserta didik atau peserta didik dan peserta didik lainnya bercakap-cakap

dan berbagi ide dan pendapat. Hal ini sejalan dengan Sunaryo dalam Trianto (2010:122), diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam satu kelompok, untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan, mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah. Dengan demikian diskusi merupakan suatu metode pembelajaran yang di dalamnya terdapat percakapan antara pendidik dengan peserta didik, dan peserta didik dengan peserta didik yang lainnya untuk mendapatkan pemecahan masalah yang benar. Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimana pendidik mendesain rancangan metode diskusi kelompok untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS?; (2) Bagaimana pelaksanaan penerapan metode diskusi kelompok untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS?; (3) Apakah metode diskusi kelompok dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS?; (4) Bagaimana kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan metode diskusi kelompok pada pembelajaran IPS? Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Untuk menganalisis rancangan pembelajaran metode diskusi kelompok dalam meningkatkan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS; (2) Untuk menganalisis penyusunan tahapan-tahapan metode diskusi kelompok untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS; (3) Untuk menganalisis apakah metode diskusi kelompok dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS; (4) Untuk menganalisis kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan metode diskusi kelompok pada pembelajaran IPS. 1. 1. Metode Diskusi Kelompok

Menurut Arends (2008: 75), diskusi adalah situasi pendidik dan peserta didik atau peserta didik dan peserta didik lainnya bercakap-cakap dan berbagi ide dan pendapat. Samani (2012:150), mengungkapkan bahwa diskusi adalah pertukaran pikiran (sharing of opinion) antara dua orang atau lebih yang bertujuan memperoleh kesamaan pandang tentang sesuatu masalah yang dirasakan bersama. Dengan demikian diskusi merupakan suatu metode pembelajaran yang di dalamnya terdapat percakapan antara individu dengan individu lainnya yang terbentuk ke dalam suatu wadah atau kelompok yang dihadapkan oleh suatu permasalahan sehingga mereka dapat bertukar pikiran untuk mendapatkan pemecahan masalah yang benar melalui kesepakatan bersama. Sagala dalam Ernasari (2011:28), lebih lanjut menyebutkan bahwa: Diskusi ialah percakapan ilmiah yang responsif berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematis pemunculan ide-ide dan pengujian ide-ide ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalahnya dan untuk mencari kebenaran. Namun, untuk membatasi pengertian diskusi yang luas ini, maka peneliti memberikan konsep kelompok dalam pembahasan ini. Kelompok adalah kumpulan orang yang terdiri dari dua atau

tiga orang, bahkan lebih. Menurut Sunjana dalam Sofyanti (2011:19), menyatakan bahwa kelompok adalah suatu kumpulan orang dalam jumlah terbatas, setiap anggota melakukan hubungan dan saling membutuhkan serta kegiatan mereka didasarkan pada aturan atau normanorma yang ditaati bersama. Jadi, kelompok adalah suatu kumpulan orang yang telah direncanakan sebelumnya dan dibentuk dengan tujuan tertentu. Mulyasa (2005:89), menyatakan bahwa diskusi kelompok meruapakan suatu proses teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam berinteraksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah. Suryosubroto dalam Yuniati (2007:15), bahwa diskusi kelompok adalah suatu percakapan oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok atau saling tukar pendapat tentang sesuatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode diskusi kelompok adalah suatu cara yang diterapkan oleh pendidik untuk mengajar di kelas dengan cara pendidik memberikan suatu permasalahan dan peserta didik mencari pemecahannya secara bersama-sama dalam sebuah kelompok. Dalam kegiatan tersebut maka, peserta didik di tuntut untuk berpikir kritis dalam memecahkan permasalahn yang ada. 1. 2. Berpikir Kritis

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki potensi dalam berpikir sehingga, manusia sering disebut dengan makhluk berpikir. Hal ini dikarenakan hanya manusia-lah yang dikaruniai akal dan pikiran. Dengan akal inilah manusia mampu untuk berpikir dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan tidak hanya sebatas itu saja, manusia mampu menelusuri kenapa itu baik dan kenapa itu buruk, kenapa itu benar atau kenapa itu salah. Presseinsen dalam Costa (1985:10), mengelompokkan keterampilan berpikir menjadi keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berpikir kompleks atau tingkat tinggi. Dalam hal ini, keterampilan berpikir dasar meliputi menghubungkan sebab akibat, mentransformasi, menemukan hubungan dan memberikan kualifikasi. Proses berpikir tingkat tinggi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu pemecahan masalah, membuat keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis. Berpikir kritis adalah salah satu proses berpikir tingkat tinggi. Dalam proses pembelajaran, berpikir kritis ini sangat penting, karena dengan keterampilan berpikir kritis ini diharapkan peserta didik akan mampu menganalisis terhadap berbagai persoalan yang menyangkut materi pelajaran, memberikan argumentasi, memunculkan wawasan dan mampu memberikan interpretasi. Pengembangan berpikir kritis perlu dikembangkan dalam semua mata pelajaran termasuk dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Hal ini diperjelas oleh Herman (1977), Shaver Davis and Helburn (1977), Fancett an hawke (1982), Goodlod (1983). Mereka berpendapat bahwa . Critical thinking is gaining renewed attention and endorsement while typical patterns of social studies classroom practice appear less than conductive to critical thought (Al Muchtar, 2007:278).

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa berpikir kritis adalah keterampilan seseorang dalam merefleksikan permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka bagi berbagai pendekatan dan perspektif yang berbeda, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber (lisan ataupun tulisan), sehingga dapat mengambil keputusan secara cermat. Adapun indikator berpikir kritis adalah memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, menyimpulkan, memberi penjelasan lanjut, dan mengatur strategi dan teknik. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan dalam situasi yang wajar atau apa adanya (natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif. Dalam metode kualitatif, memahami dan menafsirkan makna dalam suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif penelitian sendiri. Adapun pengertian kuantitatif adalah sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik (Sugiyono, 2012; 7). Bentuk penelitian yang dilaksanakan adalah suatu kajian reflektif, dalam mengatasi masalah pembelajaran berupa rendahnya keterampilan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS, maka teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom Action Research. Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran sesuai dengan permasalahan yang ada. Dalam hal ini pengertian kelas tidak terbatas pada empat dinding kelas atau ruang kelas, tetapi lebih pada adanya aktivitas belajar dua orang atau lebih peserta didik (H.E. Mulyasa: 2010). Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) observasi untuk mengamati aktivitas peserta didik dalam pembelajaran; (2) wawancara untuk mendapatkan data mengenai pendapat peserta didik dan pendidik mengenai penerapan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran IPS; (3) tugas kelompok (LKS) untuk mengetahui sejauh mana keterampilan berpikir kritis yang telah dimiliki peserta didik dalam pembelajaran IPS; dan (4) dokumentasi untuk mendapatkan data mengenai suasana kelas secara mendetail tentang aktivitaaktivitas yang terjadi didalam kelas. HASIL PENELITIAN Berdasarkan dari data-data yang telah terkumpul dan dari hasil pengamatan peneliti dari tindakan I sampai tindakan III bahwa pertama, desain rancangan merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh seorang pendidik. Hal ini dapat terlihat ketika tindakan I berlangsung, pendidik mengalami banyak kekurangan yang disebabkan oleh perencanaan yang dibuat oleh peneliti kurang dipersiapkan dengan maksimal, sehingga tujuan yang diharapkan tidak dapat tercapai dengan baik. Akan tetapi pada tindakan II dan tindakan III desain pelaksanaan diskusi kelompok yang dilakukan oleh pendidik sudah membaik. Hal tersebut dapat terlihat pada LKS (media)

yang dipersiapkan oleh pendidik sudah membaik dan peserta didik pun dapat mengerjakan LKS tersebut dengan baik. Pada pelaksanaan diskusi kelompok didalam kelas, pendidik lebih memperhatikan aktivitas peserta didik dalam berdiskusi kelompok yang menunjukkan kemampuan berpikir kritis didalam pembelajaran IPS, peneliti menganalisis seluruh kegiatan peserta didik dari tindakan I sampai tindakan III. Pada tindakan I terlihat bahwa peserta didik belum mencapai hasil yang baik dalam kemampuan berpikir kritis yang mereka miliki. Hal ini terlihat dari peserta didik yang memberikan penjelasan sederhana masih pada posisi D (kurang baik), membangun keterampilan dasar pada posisi C (cukup baik), menyimpulkan pada posisi C (cukup baik), memberi penjelasan lanjut pada posisi C (cukup baik), dan mengatur strategi dak teknik pada posisi B (baik). Perolehan data tersebut disebabkan oleh peserta didik yang masih belum terbiasa dengan metode yang diterapkan oleh pendidik. Selanjutnya pada tindakan II terlihat peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hal ini terlihat dari peserta didik yang memberikan penjelasan sederhana masih pada posisi B (baik), membangun keterampilan dasar pada posisi C (cukup baik), menyimpulkan pada posisi B (baik), memberi penjelasan lanjut pada posisi B (baik), dan mengatur strategi dak teknik pada posisi B (baik). Perolehan data tersebut mengambarkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik mengalami peningkatan, namun peningkatan ini belum mencapai hasil yang maksimal. Dengan demikian, peneliti melakukan tindakan selanjutnya. Pada tindakan III terlihat peningkatan yang tipis pada kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hal ini terlihat dari peserta didik yang memberikan penjelasan sederhana pada posisi B (baik), membangun keterampilan dasar pada posisi B (baik), menyimpulkan pada posisi B (baik), memberi penjelasan lanjut pada posisi B (baik), dan mengatur strategi dak teknik pada posisi B (baik). Berdasarkan perolehan data pada tindakan III ini memperlihatkan bahwa data sudah mulai jenuh, peningkatan yang terjadi hanya pada satu indikator saja, sehingga kegiatan tindakan penerapan metode diskusi kelompok diakhiri. Setiap tindakan yang dilakukan oleh peneliti tidak berjalan dengan mulus, ada beberapa kendalakendala selama dilakukannya penerapan metode diskusi kelompok didalam kelas. Kendalakendala tersebut ditimbulkan baik dari pendidik maupun dari peserta didik. Dimana keduanya belum terbiasa dengan pelaksanaan penerapan metode diskusi kelompok ini. Namun, pada setiap tindakan kendala-kendala tersebut mampu ditangani oleh pendidik dengan baik, hal tesebut disebabkan oleh sudah terbiasanya pendidik menerapkan metode diskusi kelompok ini sehingga pendidik telah mampu mengira-gira dan memperhitungkan segala kekurangan dan kelebihan dari metode diskusi kelompok ini. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan peneliti dengan judul Penerapan Metode Diskusi Kelompok untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis menghasilkan data sebagai berikut.

Pertama, dalam suatu pembelajaran sangat penting dilakukan perencanaan mengenai mendesain rancangan metode diskusi kelompok agar tujuan utama penelitian ini dapat dicapai dengan baik. Perencanaan tersebut dapat melalui langkah-langkah, yaitu: (1) membuat silabus pembelajaran; (2) membuat RPP sesuai dengan SK-KD yang ada; (3) mempersiapkan media pembelajaran termasuk LKS yang sesuai dengan SK-KD; serta (4) merencanakan langkah-langkah pada pelaksanaan pembelajaran. Kedua, tahapan pelaksanaan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran IPS pada penelitian ini merupakan implementasi dari desain rancangan pembelajaran yang telah dibuat. Sama halnya dengan mendesain rancangan, dalam pelaksanaan metode diskusi kelompok pun harus memiliki pengalaman dalam melaksanakannya. Sebab apabila tidak memiliki pengalaman maka, pelaksanaan didalam kelas akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dalam pelaksanaan metode diskusi kelompok harus selalu ada kegiatan yaitu: (1) kegiatan awal; (2) kegiatan inti. (3) kegiatan penutup. Kegiatan tersebut harus berjalan secara sistematis dan terarah agar tujuan dari pembelajaran itu dapat tercapai sesuai dengan keinginan. Ketiga, berdasarkan hasil penelitian ini peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPS setelah diterapkannya metode diskusi kelompok dapat meningkat secara signifikan. Hal tersebut dapat terlihat pada saat peneliti melakukan observasi pada saat tindakan berlangsung, Setiap indikator-indikator berpikir ktitis yang telah ditetapkan dalam penelitian ini mengalami peningkatan pada setiap tindakan penelitian ini. Selain itu, perolehan skor kegiatan diskusi dan skor LKS pada setiap kelompok pun mengalami peningkatan pada setiap tindakan yang dilakukan peneliti. berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada pendidik dan peserta didik pun merasakan hal yang sama, dimana peserta didik merasakan bahwa mereka dapat memahami materi pembelajaran dengan baik setelah diterapkan metode diskusi kelompok, selain itu mereka pun merasa lebih berani dalam mengungkapkan pendapatnya. Keempat, peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik setelah diterapkannya diskusi kelompok tidak berjalan dengan mulus, peneliti seringkali menghadapi kendala-kendala dalam perlaksanaannya. Kendala-kendala tersebut muncul pada setiap tindakan berlangsung. Kendalakendala yang timbul bukan hanya dialami oleh pendidik, namun dialami oleh peserta didik juga. Kendala utama yang dihadapi pendidik adalah pembagian waktu selama pelaksanaan pembelajaranberlangsung kurang diperhatikan, sehingga pelaksanaan pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan seharusnya. Dan kendala yang dialami oleh peserta didik adalah motivasi belajar peserta didik yang sangat kurang, sehingga dalam proses pelaksanaan diskusi berlangsung banyak peserta didik yang hanya mengobrol. Dalam menghadapi permasalahan ini pendidik menerapkan sistem reward dan hukuman. Sistem itu mampu memotivasi peserta didik untuk belajar dengan baik. DAFTAR PUTAKA Al Muchtar. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT Imperial Bhakti Utama. Arends, R. (2008). Learning To Teach: Belajar Untuk Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Costa, A. (1985). Developing Minds: A Resours Bool for Teaching Thinking. Alexandria: ASCD.

Desmita.(2010). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Rosdakarya. Ernasari.(2011). Efektivitas pembelajaran model inquiry dengan metode diskusi dalam meningkatkan hasil belajar (studi eksperimen pada pembelajaran akutansi pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Rancaekek). Tesis Magister pada PIPS UPI Bandung: Tidak Diterbitkan. Fisher, A. (2008). Berpikir Kritis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Erlangga. Mulyasa.(2010). Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya. Samani, M. (2007). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sapriya, et al. (2007). Konsep Dasar IPS. Bandung: Labotarium Pendidikan Kewarganegaraan. Sofyanti. (2011). Penerapan Metode Diskusi Kelompok Kecil Untuk Menumbuhkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa dalam Pembelajaran Sejarah (Penelitian Tindakan Kelas di SMA Negeri 14 Bandung. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Sejarah UPI Bandung: Tidak Diterbitkan. Somantri, N. at all. (2010). Inovasi Pembelajaran IPS. Bandung: Rizqi Press. Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progres: Konsep, Landasan, Dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana. Yuniati, L. (2007). Efektivitas penggunaan metode diskusi terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Sejarah (Penelitian Tindakan Kelas di kelas VIII-E SMP Kartika Siliwangi II Bandung Tahun Ajaran 2006-2007). Skripsi pada Jurusan Pendidikan Sejarah UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.
http://pips.upi.edu/artikel-6-penerapan-metode-diskusi-kelompok.html 1:54pm

METODE, MEDIA, DAN SUMBER PELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR


By susilofy

1 Vote

METODE, MEDIA, DAN SUMBER PELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR Rasional Pencapaian pembelajaran yang optimal adalah sesuai dengan tujuan pendidikan. Pendidik harus mampu menyusun program pengajaran dengan baik. Dalam penyusunan Program Pengajaran yang baik, pendidik harus memahami dan menguasai beberapa komponen yang ada, diantaranya adalah metode, media dan sumber pembelajaran. Dengan menguasai seperangkat komponen tersebut, perencanaan program pengajaran yang direncanakan akan menjadi sempurna dan proses pembelajaran akan berjalan dengan terarah, teratur dan sistematis. Tujuan Pembelajaran Dengan mempelajari metode, media dan sumber pembelajaran mahasiswa diharapkan dapat : 1. Membedakan pegertian strategi dengan metode dan tehnik pengajaran 2. Menjelaskan metode-metode pengajaran IPS 3. Menentukan kreteria pemilihan dan penentuan media dalam pengajaran IPS 1. 1. Segi Siswa yang patut diperhitungkan pada saat perencanaan pengajaran adalah a. 1. Agar siswa mempunyai kesempatan untuk : Menampilkan keberanian dan minat mengemukakan pendapat dan permasalahan.

2. Mendorong minat belajar, motivasi, mempelajari program tersebut serta rasa penasaran untuk belajar lebih lanjut. b. Siswa dapat menggunakan cara-cara (style) belajar menurut keadaan dan kemampuan serta kebiasaannya. c. Agar siswa tidak merasakan adanya suasana paksaan, tekanan atau ketakutan 1. Segi Guru yang patut diperhatikan pada saat menyusun program antara lain :

1. 2.

Rencana untuk memberikan dorongan belajar dan partisipasi. Penerapan prinsip Guru Inkuiri dalam program yang disusun.

3. Kemampuan menggunakan berbagai jenis pariasi mengajar dan dimasukan ke dalam program kesemuanya harus dapat dibaca dalam program pengajaran yang disusun. Khususnya dalam : 1. 1. Pilihan konsep dan bahan pelajaran b. c. d. Pilihan metode/tehnik belajar mengajar sub tersebut Pilihan kegiatan Pilihan media pengajaran yang mendukung hal di atas.

Lawrence Stenhouse pernah mengetengahkan pedoman tentang kegiatan siswa. Di dalam mengutamakan bahan suatu kegiatan akan lebih berharga apabila: 1. 2. Siswa diizinkan memilih kegiatan dan cara melaksanakannya. Kegiatan itu menciptakan kegiatan partisipasi aktif dalam belajar

3. Kegiatan itu mambina siswa untuk terlibat dalam realita (kehidupan atau objek studi normal (riil) 4. Kegiatan itu mengenai pencapaian keberhasilan belajar siswa yang kemampuan dan tingkat kemajuannya berlainan 5. Melibatkan siswa dalam penerapan sesuatu yang sudah dikuasai, baik kemampuannya maupun prosesnya. 2. Metode dan Tehnik Mengajarkan IPS 1. Hakekat Belajar Mengajar Mengajar ialah suatu sistem kegiatan yang secara sengaja berkehendak mengubah perilaku seseorang. Mengajar merupakan kegiatan yang dipolakan dan ditampilkan dengan tujuan untuk mengembangkan perilaku yang berharga bagi anak-anak didik sehingga bermanfaat bagi hidupnya. Belajar merupakan niat siswa untuk mengubah perilakunya menjadi perilaku yang berharga atau bermanfaat (Stones dan Morris, 1972) untuk dapat belajar diperlukan suatu kekuatan psikologis atau motivasi.

Beberapa aspek kekuatan psikologis : a. Gairah merupakan aspek efektif yang ditumbuhkan oleh situasi, dimanfaatkan oleh guru untuk membawa siswa pada kegiatan belajar. b. Contoh atau model, dapat merupakan contoh perilaku sendiri yang akan ditiru siswa untuk dijadikan perilaku sendiri c. Pengetahuan guru yang dikembangkan berlandaskan latar belakang pengalaman siswa sangat memotivasi belajar. Dari uraian diatas, jelaslah bahwa kegiatan pendidikan itu dilaksanakan melalui proses belajarmengajar. Dalam proses tersebut perlu adanya pihak yang mengajar dan diajar (guru dan siswa). Maka terjadi suatu interaksi antara guru dan siswa yang dapat diungkapkan melalui suatu model interaksi guru siswa pada diagram berukut : Dari diagram diatas, dapat disimpulakan bahwa : 1. 2. Proses mengajar dan belajar merupakan suatu sistem di dalam proses pendidikan Niat atau tujuan guru digariskan berdasarkan kurikulum yang berlaku

3. Proses belajar harus ada relepasinya dengan proses belajar, dengan kata lain kurikulum harus beroriantasi pada kebutuhan yang diharapkan siswa dan masyarakat. 4. Rasa keterbukaan antara guru dan siswa harus diwujudkan, umpan balik akan timbul dari adanya rasa keterbukaan tersebut yang akan meningkatkan mutu proses belajar mengajar, hingga dapat menjadi lebih efisien. 2. Pegertian Metode Mengajar Agar menghasilkan hasil belajar yang baik dan mampu bertahan bertahun-tahun masih diingat dan dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi, guru/pendidik hendaknya menggunakan upaya pendekatan, metode, dan tehnik di dalam pengembangan program pengajaran. Dan yang dimaksud dengan kemponen tersebut dapat diartikan sebagai berikut : Pendekatan adalah gagasan atau kerangka berfikir dalam memecahkan suatu masalah

Setrategi merupakan hal yang menyangkut bagaimana urutan-urutan langkah gagasan tersebut dilaksanakan ( the what) Metode merupakan lengkah-langkah yang akan dilakukan (the how) Tehnik/taktik murupakan cara-cara yang akan digunakan (the way)

Di dalam proses belajar mengajar berbagai pendekatan, strategi, metode, dan tehnik dilaksanakan sesuai dengan berbagai faktor perkembangan dari komponen-komponen pendidikan seperti perkembangan materi, media pendidikan dan sebagaiannya. f. Alokasi waktu yang tersedia

g. Fasilitas yang tersedia h. Situasi pada suatu saat i. j. Media dan sumber Sistem evaluasi

Penguasaan metode yang baik sangat tergantung pada : a. b. c. d. e. Tujuan Bahan pengajaran Siswa yang belajar Kemampuan guru yang mengajar Besarnya jumlah siswa

Pada dasarnya metode mengajar terentang dari bentuk penelitian mandiri dan ceramah. 3. Metode-Metode Pengajaran IPS Sehubungan dengan pemilihan dan penggunaan metode yang ada untuk pengajarkan IPS, maka perlu lebih dahulu diketahui apa yang menjadi tujuan pengajaran IPS. Edwin Fenton menyebutkan tiga tujuan pendidikan IPS sebagai berikut : 1. 2. 3. Pemerolehan pengetahuan Pengembangan keterampilan inkuiri Pengembangan sikap-sikap dan nilai-nilai

Ketiga tujuan ini didasarkan pada taksonomi. Tujuan penididikan menurut Benjamin S. Bloom dan Kawan-kawan mengenai tujuan pendidikan kognitif (cognitif domain) dan klasifikasi David R. Krathwohl mengenai tujuan pendidikan afektif (affective domain). Dua tujuan pertama menurut Fenton termasuk kognitif dan yang terakhir termasuk aspek afektif.

Berkaitan dengan tujuan-tujuan pendidikan IPS di atas, maka guru harus memilih metode yang dapat digunakan agar tujuan-tujuan pendidikan itu tercapai. Metode-metode tersebut diantaranya sebagai berikut : 1. Metode ceramah adalah metode yang umum dipakai. Di dalam bentuknya yang klasik guru memberi ceramah (expository), sedangkan siswa duduk mendengar, mencatat, dan menghapal 2. Metode diskusi, jika metode ceramah belum dinilai cukup efektif, maka setelah guru selesai berceramah dapat diikuti dengan diskusi antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa lainnya mengenai materi yang dibahas. 3. Metode Tanya Jawab berlangsung dalam interaksi antara guru dan siswa setelah guru selesai berceramah/membahas materi. Dalam metode tanya jawab terdapat beberapa jenis pertanyaan yang harus dikenali oleh guru, diantaranya : a. Pertanyaan mengingat/hafalan tujuannya untuk mengungkap apakah siswa telah memperoleh dan menguasai sejumlah informasi faktual yang diperlukan. b. Pertanyaan deskriptif, siswa-siswa diminta untuk memberikan penjelasan/jawaban (deskripsi) yang lebih rinci fakta yang mereka ketahui, membandingkannya, kemudian menghimpun dan megorganisasikannya. c. Pernyataan menjelaskan, siswa tidak saja mengingat dan mengorganisasikan jawaban tetapi juga membuat kesimpulan d. Pertanyan sintesis, siswa diminta untuk menghimpun, menghubungkan, atau menyambung bagian-bagian isi atau fakta mengkombinasikan,

e. Pertanyaan memilih, siswa diminta untuk memilih di antara alternatif-alternatif, membuat pertimbangan atas dua atau lebih kemungkinan terbaik menurut kriteria yang kemungkinan terbaik menurut kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. f. Pertanyaan terbuka, siswa diminta mencari dan menentukan jawaban yang dapat diterima.

4. Metode Proyek, pegertian proyek di sini ialah semacam penelitian (inkuiri) yang dilakukan di luar kelas/sekolah yang dilakukan oleh siswa kemudian hasil akhir dibawa dan dibicarakan bersama di dalam kelas. 5. Metode Karya Wisata. Siswa dibawa menggunjungi objek-objek pemukiman transmigrasi, situs sejarah, museum atau tempat wisata yang relevan. 6. Metode bermain peran (tole playing). Termasuk simulasi atau sosio drama

7. Metode inkuiri/discovery, termasuk metode yang paling canggih yang menuntut fakta-fakta dan generalisas-generalisasi.

3. Kreteria Pemilihan dan Penentuan Media dalam Pengajaran IPS Sebelum membahas tentang kreteria pemilihan media akan diungkapkan secara ringkas tentang media pada umumnya. Media (tunggalnya medium) merupakan saluran yang dilalui pesan dalam suatu peristiwa komunikasi. Dalam pembelajaran, media memegang peranan sebagai alat yang diharapkan dapat mendorong belajar lebih efektif. Yang tergolong dalam sarana untuk membantu pengajaran biasanya terbagi atas media komunikasi bahasa dan media komunikasi nan verbal. Yang termasuk kedalam media bahasa ialah bahasa lisan bahasa tulis, sedangkan yang tergolong kedalam yang non verbal misalnya : gambar, diagram, dll. Pembagian media menurut perkembangannya adalah sebagai berikut : a. Media Pengajaran yang sifatnya umum dan masih pada tingkat tradisional, misalnya : papan tulis, buku-buku (baik buku teks, buku rujukan maupun majalah). b. c. Media yang sifatnya canggih, misalnya : media audio, media visual, ataupun audio-visual. Yang bersifat pembaharuan, misalnya : pengunaan mesin komputer

Masing-masing alat media mempunyai kelebihan dan kekurangannya, akan tetapi secara umum dapat pula kita menelaah beberapa kriteria yang dapat dijadikan pegangan dalam memilih media pengajaran. Hendaknya dalam pemilihan media yang dipilih dapat mendorong pencapaian tujuan pengajaran dan dapat meningkatkan kemampuan berfikir dalam pembelajaran serta dapat memberikan pengembangan tingkat belajar bermakna untuk masing-masing siswa yang berbeda daya serapnya. Apabila terdapat media yang baru perlu direnungkan keuntungan dan kerugiannya. Mungkin media baru lebih unggul akan tetapi harganya lebih mahal, maka kita perlu mempertimbangkan penggunaan media yang kurang unggul tetapi lebih murah, lebih mudah dan cocok dengan saran yang telah ada. Dari uraian di atas dapat dikemukakan kreteria pemilihan media yang baik adalah sebagai berikut : Dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien Dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritrs Dapat melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda Tidak memilih media hanya karena media tersebut baru, canggih dan atau populer

Alasan Penggunaan Media Pengajaran Media memungkinkan kita dapat mencapai peristiwa yang langka dan sukar dicapai.

Media dapat lebih memungkinkan pengamatan Dengan media penelitian tidak terhalang oleh waktu

3. Pengembangan Media Pengajaran IPS Dalam pembuatan media pembelajaran IPS haruslah memperhatikan kelancaran proses mengajar supaya anak-anak dapat belajar dengan sebaik-baiknya. Guru sendiri tentulah perlu mempersiapkan berbagai alat yang dapat dikerjakan. Sekarang ini mungkin sekolah telah mampu membeli kamera yang cukup baik, sehingga guru dapat merancang seteliti dan secermat mungkin pembuatan slide atau mungkin penggunaan Overhead Pojektor (OHP) dalam hal ini perlu penanganan yang baik agar persiapannya menjadi optimal, sehingga pemakaian biaya dapat seefesien dan sekreatf mungkin sehingga tidak terkesan seolah-olah hanya sebagai pengganti papan tulis biasa. Setidaknya pengembangan media pembelajaran IPS haruslah disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam penerimaan pembelajaran yang baik.
http://susilofy.wordpress.com/2010/11/22/metode-media-dan-sumber-pelajaran-ips-di-sekolah-dasar/ 1:55pm

http://hamiddarmadi.blogspot.com/2011/04/pembelajaran-ips-melalui-metode-inquiri.html

PEMBELAJARAN IPS MELALUI METODE INQUIRI PADA SISWA SMP NEGERI DI KABUPATEN BENGKAYANG (Studi Pengembangan Model Pembelajaran IPS Di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang Tahun Pelajaran 2010/2011)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha

Esa karena dengan berkat dan

perkenanNya jualah penelitian kerjasama antara Lembaga Pendidikan Pentaloka Khatulistiwa Kalimantan Barat dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkayang yang berjudul Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Melalui Metode Inquiry Pada SMP Negeri Kabupaten Bengkayang dengan Studi Pengembangan Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang Tahun Pelajaran 2010/2011 dapat dislesaikan. Latar belakang diadakannya penelitian ini adalah karena Adanya keprihatinan

masyarakat terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah-sekolah karena pelajaran IPS sering kali dianggap sebagai suatu bidang studi yang kurang populer dan kurang menarik perhatian di kalangan siswa karena berbagai faktor antara lain; Faktor cara penyampaian materi Ilmu Pengetahuan Sosial oleh guru kepada siswa kurang menyentuh pada kebutuhan siswa. Pengajaran IPS merupakan pengajaran yang kompleks. Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah secara umum masih di dominasi dengan metode ceramah. Pemberlakuan RPP IPS oleh guru belum sepenuhnya mengarah kepada pembelajaran berpikir kritis, melainkan lebih banyak menekankan pada aspek yang bersifat menghafal. Penggunaan metode pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial secara komtemporer klasik 89,66% masih di dominasi oleh metode ceramah. Dalam proses pembelajaran siswa kurang/tidak diberi kesempatan untuk ber- latihan memecahkan masalah-masalah sosial. Dalam pembelajaran IPS guru lebih banyak menekankan pada masalah yang bersifat hafalan, tidak sampai pada asfek mengaktifkan siswa berpikir kritis dan menganalisa masalah seperti yang diisyaratkan oleh metode inquiry. Dalam penyelesaian penelitian ini Tim Peneliti banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak, untuk itu seyogyanyalah apabila dalam lembaran ini Tim Peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada; 1. Bupati Kepala Daerah Kabupaten Bengkayang yang telah dengan antosias memberi kesempatan kepada Tim Peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah-sekolah 2. Ketua DPRD dan Staf DPRD Kabupaten Bengkayang yang sangat konsen kepada dunia pendidikan dan kekonsenannya senantiasa bersedia berkolaborasi bersama Tim

Peneliti untuk mencari dan mengungkap data dan fakta yang melambankan kemajuan dunia pendidikan 3. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkayang yang punya cara tersendiri untuk memadu kolaborasi dan kerjasama dengan Tim Peneliti guna mencari selah yang tepat dan akurat untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang terjadi saat ini. 4. Kepala-Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP Negeri) Kabupaten yang yang telah dengan semangat kerjasama yang tinggi, memberikan informasi dan data yang diperlukan oleh Tim Peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. 5. Kepada semua pihak yang telah ikut serta mewarnai penelitian ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga amal baik dan kerjasama yang telah terbina tetap terjaga dan Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan limpahan rahmatNya kepada kita semua. Amin Menyadadari kekurangan dan kelemahan selaku manusia biasa, Tim Peneliti bersemboyan kecil telapak tangan nyiru kami tadahkan menunggu perbaikan dan saran yang bersifat konstruktif dari semu pihak demi perbaikan penelitian ini. Akhirnyanyha semoga penelitian ini bermanfaat dalam membangun dunia pendidikan Indonesia umumnya dan pendidikan di Kabupaten Bengkayang khususnya. Bengkayang, 8 Desember 2010 Tim Peneliti,

ABSTRAK

Penelitiaan ini berjudul Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Melalui Metode Inquiry Pada SMP Negeri Kabupaten Bengkayang dengan Studi Pengembangan Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang Tahun Pelajaran 2010/2011. Latar belakang penelitian ini adalah ; Adanya keprihatinan masyarakat terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah-sekolah karena pelajaran IPS sering kali dianggap sebagai suatu bidang studi yang kurang populer dan kurang menarik perhatian di kalangan siswa karena berbagai faktor antara lain; Faktor cara penyampaian materi Ilmu Pengetahuan Sosial oleh guru kepada siswa kurang menyentuh pada kebutuhan siswa. Pengajaran IPS merupakan pengajaran yang kompleks. Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah secara umum masih di dominasi dengan metode ceramah. Pemberlakuan RPP IPS oleh guru belum sepenuhnya mengarah kepada pembelajaran berpikir kritis, melainkan lebih banyak menekankan pada aspek yang bersifat menghafal. Penggunaan metode pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial secara komtemporer klasik 89,66% masih di dominasi oleh metode ceramah. Dalam proses pembelajaran siswa kurang/tidak diberi kesempatan untuk ber- latihan memecahkan masalah-masalah sosial. Dalam pembelajaran IPS guru lebih banyak menekankan pada masalah yang bersifat hafalan, tidak sampai pada asfek mengaktifkan siswa berpikir kritis dan menganalisa masalah seperti yang diisyaratkan oleh metode inquiry.

Pemecahan masalah dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah: Memperbaiki rencana pembelajaran guru, terutama yang sesuai dengan pengembangan kemampuan berpikir siswa menggunakan pendekatan inkuiri sosial. Memperbaiki kemampuan guru dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran, terutama dengan pendekatan inkuiri sosial. Memperbaiki kemampuan guru dalam melatih siswa untuk belajar memecahkan masalah-masalah sosial.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah: untuk Membantu guru mengatasi kesulitan dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran,yang mampu membentuk anak berpikir kritis, terutama dalam pembelajaran IPS. Membantu guru dalam mengembangkan pendekatan inkuiri sosial untuk mencapai ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada tingkat SLTP. Melatih serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SLTP. Prosedur penelitian ini dengan langkah-langkah: Justifikasi Rencana Pembelajaran: Guru bersama instruktur melakukan urun rembug atau brainstorming untuk memulai rencana pembelajaran yang telah dibuat oleh guru untuk diperbaiki sesuai dengan standar minimal.Monitoring Pelaksanaan

Proses Pembelajaran: Guru teman sejawat dan instruktur melakukan monitoring atau pengamatan di kelas terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru bidang studi. Hasil monitoring direfleksikan kepada guru bidang studi lainnya untuk diperbaiki pelaksanaan pembelajaran di kelas pada siswa yang akan dilaksanakan. Mengidentifikasi Temuan Masalah: dari hasil kegiatan justifikasi rencana pembelajaran dan monitoring pelaksanaan proses pembelajaran, ditemukan masalah yang terdapat dalam pembelajaran di kelas. Urun Rembug Cara-cara Pemecahan Masalah Dan Menentukan Langkah-langkah Tindakan Mengatasinya: masalah yang telah ditemukan bersama oleh guru sejawat dan dosen, kemudian dianalisis bersama-sama dengan pendekatan brainstorming untuk dapat ditentukan penyebab timbulnya masalah. Apabila telah ditemukan penyebab masalah, kemudian penyebab ini didiskusikan pula cara-cara untuk mengatasi penyebab timbulnya masalah tersebut. Menyusun Rencana Tindakan: Rencana tindakan disini dimaksudkan sebagai suatu urutan langkah-langkah tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini. Urutannya terdiri dari beberapa siklus tindakan yang disusun oleh guru bersama tim peneliti yang digunakan sebagai acuan yang dirinci dalam bentuk skenario tindakan pembelajaran di kelas. Rencana pembelajaran itu sendiri dapat dimaksudkan sebagai bagian dari skenario tindakan. Namun demikian pelaksanaan pembelajaran tetap mengacu kepada apa yang telah dituangkan dalam rencana pembelajaran.

Populasi dalam penelitian ini teridi dari dua kelompok yaitu kelompok guru dan siswa. Guru Ilmu Pengetahuan Sosial sebanyak 12 orang dan siswa kelas VIII berjumlah 30 orang. Teknik dan alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Mengumpulkan dan memeriksa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Memantau Pelaksanaan Metode Inquiry Memantau Keaktifan belajar Siswa Memeriksa Kendala Penerapan Metode Inkuri

Penelitian ini melakukan dua kali siklus tindakan yaitu siklus pertama dan siklus kedua dengan membandingkan hasil antara sebelum dan setelah dilakukan treatment terhadap obyek penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di 12 SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 30 orang, jumlah guru yang mengajar sebanyak 12 orang, sekaligus menjadi partisipan dalam penelitian ini, yaitu guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 22 s/d 25 Oktober 2010 siklus kedua pada tanggal 26 dan 30 Nopember 2010 Sesuai dengan kesepakatan pada tahap perencanaan bahwa yang melaksanakan tindakan adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tahun pelajaran 2010/2011.

Berdasarkan pengolahan dan analisis data, tim peneliti menyimpulkan bahwa : Kemampuan siswa dalam praktek mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sebelum diterapkan metode inkuiri tergolong baik. Hal ini terbukti dengan perolehan hasil penelitian sebesar 6,23. Kemampuan siswa menyerap pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sesudah diterapkan metode inkuiri tergolong baik dengan perolehan hasil penelitian sebesar 7,73.

Pewlaksanaan siklus kedua menunjukkan hasil 8,12 kategori baik sekali, Terdapat perbedaan mutu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sebelum dan sesudah diterapkan metode inkuiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang baik pada siklus pertama maupun pada siklus kedua.

ABSTRACT

This Research entitled Learning Through Social Sciences Inquiry Methods Secondary Schools In County Bengkayang with Learning Model Development Study of Social Sciences in Secondary Schools Bengkayang District Academic Year 2010/2011. The background of this research are: The existence of public concern against the Social Science subjects in schools because of social studies lessons are often regarded as a field of study is less popular and less interest among students due to various factors, among others; factor means the delivery of material science Social Knowledge by teachers to students is less touched on the needs of students. Teaching IPS is a complex instruction. Lessons of Social Sciences at the school in general is still dominated by the lecture method. Entry Draft IPS by teachers not fully lead to learning critical thinking, but more emphasis on aspects that are memorized. The use of learning methods in contemporary Social Sciences 89.66% classic still is dominated by the lecture method. In the process of student learning is less / not given the opportunity to exercise her solve social problems. In social studies teacher learning more emphasis on issues that are rote, not to the asfek enable students to think critically and analyze problems such as that implied by the method of inquiry. Solving problems in the study conducted by the steps: Improving teacher lesson plans, especially in accordance with the development of thinking skills students use social inquiry approach. Improving teachers' ability to develop and master the methods of learning, especially with social inquiry approach. Improving the ability of teachers to train students to learn to solve social problems.

The main purpose of this study are: to help teachers overcome the difficulties in developing and mastering methods of learning, which is capable of forming a child's critical thinking, especially in social studies learning. Assist teachers in developing a social inquiry approach to achieve mastery learning students in Social Sciences at the junior level. Train and improve students' critical thinking skills through the study of Social Sciences in secondary school. The procedure of this study with the steps: Justification Lesson Plan: Teacher with instructors do urun rembug or brainstorming to start learning plan that was created by teachers for service in accordance with standard minimal.Monitoring Learning Process Implementation: Teacher peers and instructor monitoring or observation in the classroom to the learning process conducted by the teacher field of study. The results reflected the teacher monitoring other areas of study for improved implementation of learning in the classroom in which students will be implemented. Findings Identify Problems: the results of the justification for lesson plans and monitoring implementation of the learning process, found problems inherent in learning in the classroom. Dialog Troubleshooting Ways And Determine Action Steps fix: problems that have been found together by peer teachers and lecturers, and then analyzed together with a

brainstorming approach to be determined the cause of the problem. If have found the cause of the problem, then this causes were also discussed ways to overcome the causes of the problem. Develop Plan of Action: Action plan here is intended as a sequence of action steps undertaken in this study. The order consists of several cycles of action drawn up by teachers with the research team used as a reference scenario specified in the form of action learning in the classroom. Lesson plan itself can be intended as part of a scenario action. However, the implementation of learning still refer to what has been stated in the lesson plan.

The population in this study teridi of two groups: the group of teachers and students. Master of Social Sciences as many as 12 people and eighth grade students numbered 30 people. Techniques and data collection tool used in this study were: To collect and examine Learning Implementation Plan (RPP) Monitor the Implementation of Inquiry Method Activity Monitor the Implementation of Constraint Checking Students learn Inkuri Method

This research was conducted two times a cycle of action is the first cycle and second cycle by comparing the results between before and after treatment to the object of research. The research was conducted in 12 Junior High School District Bengkayang 2010/2011 school year with student numbers 30 people, the number of teachers who teach as many as 12 people, as well as a participant in this research, namely teachers and students of State Secondary School in the District Bengkayang academic year 2010 / 2011. The first cycle performed on 22 s / d October 25, 2010 the second cycle on 26 and 30 November 2010 In accordance with an agreement at the planning stage of implementing the actions that are the subjects of Social Sciences academic year 2010/2011.

Based on the processing and data analysis, the research team concluded that: The ability of students in practical subjects of Social Sciences before coming into force inquiry method is fair. This is evidenced by the acquisition of research results by 6.23. Student's ability to absorb the lessons of Social Sciences is applied after the inquiry method is fair to the acquisition of research results by 7.73. Implementation second cycle shows the results of 8.12 category very well, There is a difference in the quality of teaching Social Studies before and after the inquiry method is applied to the State Junior High School students in the District Bengkayang good on first cycle and second cycle.

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR................. ABSTRAK INDONESIA ..................................... ABSTRAK INGGRIS ...................................... viii iii iv-v vi-vii

DAFTAR ISI................

BAB
A. B. C. D. E.

I PENDAHULUAN

..................................................................
1 3 6 6 7

Latar Belakang Penelitian.................. Tindakan Pemecahan Masalah yang Dipilih....... Tujuan Penelitian................ Ruang Lingkup................................................ Manfaat dan Signifikasi Hasil Penelitian......

BAB II PEMBELAJARAN INQUIRY........................................................


A. B. C. D. E. F. Metode Pembelajaran Inquiry............................................ Tahap-tahap Pemodelan Inquiry............................ Orientasi Model.......................................... Implikasi Inquiry............................................................................ Dampak Instruksional dan Penyerta............................................. Tahap Diskusi................................................................................ 9 12 15 17 19 20

A. B. C. D. E. F. G. H.

BAB II I PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN............................................ Setting Penelitian................................... 22 Presedur Penelitian Tindakan.......... 22 Gambar Umum Penelitian................ 24 Rincian Prosedur Penelitian.......... 24 Populasi dan Sampel Penelitian........... 29 Teknik dan Alat Pengumpul Data................................................. 29 Teknik Analisis Data...................................................................... 31 Jadwal Penelitian........................................................................... 33 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN................................................ Deskripsi Hasil Penelitian.......... 35 Analisis Data Sebelum Dilakukan Treatment............. 36 Analisis Data Siklus Pertama........... 39 Analisis Data Siklus Kedua........ 49 Pembahasan.................................... 59 63

22

35

A. B. C. D. E.

BAB V PENUTUP............................................................................................. A. Kesimpulan................... 63 B. Rekomendasi........................................................ . 63

DAFTAR PUSTAKA.........

65

LAMPIRAN................................................................................................... PANDUAN WAWANCARA GURU.............................................................. PANDUAN OBSERVASI.............................................................................. BIO DATA.....................................................................................................

68 68 70 73

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian Adanya keprihatinan terhadap mata pelajaran IPS di sekolah-sekolah mendasari diadakannya penelitian ini. Pelajaran bidang studi IPS sering kali dianggap sebagai suatu bidang studi yang kurang populer di kalangan siswa. Banyak faktor yang menyebabkan anggapan demikian, faktor utama diduga karena cara penyampaian materi IPS kepada siswa yang dirasa kurang menyentuh kepada kebutuhan siswa. Pengajaran IPS merupakan pengajaran yang kompleks. Pada tingkat SLTP tujuan pembelajaran IPS adalah memberikan bekal kemampuan akademik pada siswa agar mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di samping itu bertujuan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis sehingga dapat menganalisis dan memecahkan masalah sosial yang dihadapinya. Berdasarkan hasil pemantauan peneliti, maka sebagian besar mengatakan bahwa dalam pelajaran IPS di sekolah (SLTP) secara umum masih di dominasi dengan metode ceramah tau ceramah bervariasi dengan tanya jawab. Apabila dicermati lebih jauh tujuan pengajaran IPS yang mengarah kepada kemampuan berpikir kritis dan analitis, tentu metode ceramah dan tanya jawab belum cukup untuk melatih siswa berpikir kritis dan analitis. Temuan di lapangan yang diungkapkan oleh para guru IPS dalam pembelajaran di kelas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Rencana pembelajaran IPS yang dibuat guru belum sepenuhnya mengarah kepada pembelajaran berpikir, lebih banyak kepada menghafal. Sehingga dalam memecahkan soalsoal berbentuk uraian banyak mengalami kelemahan. 2. Metode pembelajaran masih di dominasi oleh metode ceramah (89.66%) atau divariasikan dengan tanya jawab.

3.

Siswa kurang diberi latihan untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Guru lebih banyak bertanya mengenai sub-sub yang sifatnya hafalan, bukan analisa.

Dengan adanya temuan-temuan tersebut, lalu secara bersama didiskusikan dengan seluruh anggota tim penelitian, dan diperoleh kesepakatan atau disimpulkan bahwa penyebabnya adalah guru kurang mampu merancang rencana pembelajaran yang mengarah kepada kemampuan berpikir kritis siswa. Keadaan ini apabila tidak segera diperbaiki tentu akan mempengaruhi mutu pembelajaran atau mutu kelulusan sekolah, selain itu juga pencapaian tujuan pembelajaran IPS yang sesuai dengan tuntutan kurikulum tidak akan dapat tercapai dengan baik. Pembelajaran berpikir kritis lebih banyak melibatkan siswa dalam suatu proses penemuan dan pemecahan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian rencana pembelajarannya diarahkan lebih banyak mengaktifkan siswa melalui Inkuiri Sosial. Sebagai suatu pendekatan mengajar membantu melatih siswa mengembangkan kemampuan untuk menemukan dan merefleksikan sifat kehidupan sosial melalui pengembangan kemampuan inkuiri siswa. Orientasi pendekatan mengajar inkuiri sosial adalah: 1. Adanya aspek-aspek sosial dalam kelas yang dapat menumbuhkan terciptanya suasana diskusi. 2. 3. Adanya hipotesis sebagai arah dalam pemecahan masalah. Menggunakan fakta sebagai pengujian hipotesis (Bruce Joyce dalam Dahlan, 1984)

Pembelajaran berpikir kritis pada taraf pendidikan SLTP penting dalam membentuk sikap kritis bagi siswa dalam menghadapi masalah-masalah sosial sehingga mampu memecahkan masalah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menyadari akan pentingnya pembelajaran berpikir kritis bagi siswa pada pembelajaran IPS di SLTP tersebut, maka masalah yang perlu diatasi oleh guru dalam mengimplementasikan metode inkuiri sosial adalah sebagai berikut:

1.

Mengembangkan dan memperbaiki rencana pembelajaran IPS dengan membuat strategi yang mengarah kepada kemampuan berpikir siswa aktif terutama yang sesuai dengan

pengembangan kemampuan berpikir siswa menggunakan pendekatan inkuiri sosial. 2. Menetapkan dan melatih penggunaan metode pembelajaran yang mengarah kepada kemampuan berpikir siswa guna memperbaiki kemampuan guru dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran, terutama dengan pendekatan inkuiri sosial. 3. 4. Meningkatkan pemberian latihan memecahkan soal-soal yang berbentuk uraian atau essay. Melatih siswa untuk belajar memecahkan masalah-masalah sosial dalam kehidupan sehari-hari serta memperbaiki kemampuan guru dalam melatih siswa untuk belajar memecahkan masalahmasalah sosial.

B. Tindakan Pemecahan Masalah Pembelajaran IPS selama ini masih pada tingkat penggunaan ulangan atau mengatakan kembali atau mengungkapkan kembali sebagai cara pembelajaran, cara demikian sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan pendekatan berpikir kritis, dan tidak efisien. Dalam melaksanakan pembelajaran IPS diperlukan adanya langkah-langkah yang sistematis sehingga mencapai hasil belajar siswa yang optimal. Langkah yang sistematis dan optimal dalam proses pembelajaran IPS merupakan bagian penting dalam strategi mengajar, yakni usaha guru dalam mengatur dan menggunakan variabel-variabel pembelajaran agar dapat mempengaruhi siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Teaching is the guidance of learning activities (Sudjana, 1996). Pandangan atau pengertian mengajar tersebut pada hakekatnya adalah memberi tekanan kepada optimalnya kegiatan belajar siswa. Dengan kata lain, mengajar tidak semata-mata berorientasi kepada hasil (by product) tetapi berorientasi juga kepada proses (by proces). Atas dasar pemikiran tersebut maka, tidak ada pilihan lain bagi guru agar mengupayakan pengembangan strategi mengajar yang diarahkan kepada optimal belajar siswa. Ini berarti bahwa salah satu usaha peningkatan kualitas hasil belajar dapat ditempuh melalui penggunaan strategi mengajar yang mampu mengembangkan cara belajar siswa aktif yang berpusat pada siswa (studen centred).

Metode pembelajaran Inkuiri sosial merupakan salah satu pendekatan yang sesuai dengan CBSA tersebut. Pendekatan inkuiri dalam proses pembelajaran mencakup pendekatan modern yang sangat didambakan untuk dilaksanakan di setiap sekolah. Adanya tuduhan bahwa sekolah menciptakan kultur bisu tidak akan terjadi apabila pendekatan inkuiri sosial ini digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Secara teoritis istilah inkuiri telah lebih dari satu abad lamanya mengandung makna sebagai salah satu usaha ke arah pembaharuan pendidikan. Ada beberapa kelompok/institusi yang menggunakan istilah inkuiri dalam hubungannya dengan pengertian strategi belajar yang berpusat pada siswa (child centered learning) yang memberikan lebih banyak pembentukan segi-segi pendidikan berdasarkan adanya sifat inkuiri pada anak. Ada juga yang

menghubungkan istilah inkuiri dengan pengembangan kemampuan siswa untuk menemukan dan merefleksikan sifat kehidupan sosial, terutama sebagai latihan berkehidupan sosial dalam masyarakat. Disamping praktisi di atas Byron Massialas dan Benyamin Cox (dalam Dahlan, 1984) juga menggambarkan bahawa pendekatan inkuiri sosial sangat cocok dan layak diguna guna melatihan kehidupan sosial siswa dalam menjalankan kehidupan sosial bermasyarakat. Pandangan tersebut terutama ditujukan pada perbaikan pergaulan hidup bermasyarakat dalam pemecahan masalah-masalah sosial dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut berpandangan bahwa sekolah mempunyai peranan yang aktif dan kreatif membangun kehidupan sosial yang disebut creative reconstruction tentang kebudayaan. Sekolah tidak hanya berkewajiban memelihara nilai-nilai dan norma dalam masyarakat, tetapi juga harus memberi keaktifatn kepada siswa dan secara kritis membawa/menggiring siswa agar mampu menghadapi masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Pendekatan inkuiri ini dapat dilakukan oleh guru/pembelajar apabila memenuhi syaratsyarat sebagai berikut: 1. Guru harus terampil memilih permasalahan yang cock dan relevan untuk diajukan kepada siswa di kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa atau problementasi) serta sesuai dengan daya nalar pikir siswa; 2. Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa serta mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan; 3. Tersedianya fasilitas dan sumber belajar yang cukup memadai;

4. 5. 6.

Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, dan berdiskusi; Adanya partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar; dan Guru tidak banyak campur tangan terhadap kegiatan belajar siswa. (Sudjana, 1999). Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pemecahan masalah dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1.

Memperbaiki rencana pembelajaran guru, terutama yang sesuai dengan pengembangan kemampuan berpikir siswa menggunakan pendekatan inkuiri sosial.

2.

Memperbaiki kemampuan guru dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran, terutama dengan pendekatan inkuiri sosial.

3.

Memperbaiki kemampuan guru dalam melatih siswa untuk belajar memecahkan masalahmasalah sosial.

Pemecahan masalah di atas dilakukan dengan cara brainstorming dan kolaborasi dengan guru lain yang sama-sama mengajar bidang studi IPS, terutama dalam hal ini adalah guru yang terlibat dalam tim penelitian tindakan kelas.

C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan konteks dan permasalahan yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini, maka tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk: 1. Membantu guru mengatasi kesulitan dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran,yang mampu membentuk anak berpikir kritis, terutama dalam pembelajaran IPS. 2. Membantu guru dalam mengembangkan pendekatan inkuiri sosial untuk mencapai ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada tingkat SLTP. 3. Melatih serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran IPS di SLTP.

D. Lingkup Penelitian Penelitian tindakan ini utamanya ditujukan kepada usaha untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan metode-metode mengajar untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Dengan demikian lingkup penelitian ini dibatasi pada: 1. Kemampuan guru untuk menguasai dan menggunakan metode pembelajaran IPS yang mengarah kepada peningkatan kemampuan siswa untuk berpikir. Kemampuan berpikir siswa di sini diartikan sebagai suatu kemampuan siswa untuk berpikir kritis, dapat memecahkan soalsoal berbentuk uraian atau essay. Dalam hal ini berarti terkandung makna: a. b. Urutan kegiatan yang direncanakan guru yang sesuai dengan metode yang digunakan. Media pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan oleh guru maupun siswa dalam kegiatan pembelajaran. c. 2. Penetapan masalah-masalah yang harus diselesaikan oleh siswa. Kemampuan menguasai dan menggunakan metode pembelajaran untuk keperluan penelitian ini, metode pembelajaran yang dikembangkan dalam mencapai tujuan pembelajaran berpikir kritis siswa difokuskan pada pengembangan metode tanya jawab dan diskusi kelompok.

E. Manfaat dan Signifikansi Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan signifikansi hasil penelitian kepada semua pihak khususnya kepada: 1. a. Bagi Pihak sekolah, yaitu: Memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan dan meningkatkan kinerja profesi, terutama dalam penguasaan metode pembelajaran IPS. b. Memberikan kesempatan siswa untuk melatih diri dalam bergaul, berkehidupan sosial serta bekerja sama antar siswa, menghargai serta menghormati pendapat dan hasil karya orang lain. c. Sekolah berkesempatan untuk melatih siswa berani berpikir kritis dalam memecahkan masalahmasalah sosial kemasyarakatan .

2. a.

Bagi Pihak LPTK dan Lembaga Peneliti Dosen memperoleh informasi yang bermanfaat tentang pendalaman dan pengembangan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang akurat dan berguna dalam meningkatkan kinerjanya untuk menyiapkan calon guru melalui LPTK dan Lembaga Peneliti.

b.

LPTK dan Lembaga Peneliti dapat memperoleh masukan yang sangat berharga guna pengembangan lembaga dalam rangka mempersiapkan calon-calon guru yang profesional.

3. Bagi Dinas Pendidikan dan Pemda dapat dijadikan sebagai pedoman acuan dalam rangka membina kemampuan profesional guru-guru guna menghidupkan suasana proses belajar mengajar yang menyenangkan, membina kemampuan profesional guru-guru dalam

menggunakan metode mengajar yang tepat dan akurat serta dalam rangka membina dan melatih kemandirian guru dalam mengambil kebijakan yang tepat guna mencapai ketuntasan belajar maksimal

BAB II PEMBELAJARAN INQUIRY

A. Metode Pembelajaran Inquiry

Metode pembelajaran inquiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan. Langkah-langkah kegiatan inquiri menurut Depdiknas (2002: 19) adalah sebagai berikut: 1) Merumuskan masalah 2) Mengamati atau melakukan observasi 3) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya 4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiens yang lain

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa inkuiri adalah bagian inti kegiatan yang berasal dari penemuan sendiri siswa dari materi yang telah disampaikan. Salah satu model pembelajaran yang sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai model yang cukup efektif adalah model inquiry. David L. Haury (1993) mengutip definisi: inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inq uiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu.

Alasan rasional penggunaan model inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai sains dan akan lebih tertarik terhadap sains jika mereka dilibatkan secara aktif dalam melakukan sains. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung model inquiry. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsepkonsep Sains dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berfikir ilmiah tersebut (Blosser, 1990). Model inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap sains (Haury, 1993). Dalam makalahnya Haury menyatakan bahwa model inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa model inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam sains saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa. Model inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasardasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benarbenar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan model inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi (Sagala, 2004).

Walaupun dalam praktiknya aplikasi model pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan model inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005). Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini sesuai dengan Taxonomy Bloom siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi. Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi. Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar. Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai

permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi. Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dan lain-lain.

B. Tahap -Tahap Pemotodelan Inquiry Tahap-tahap pemodelan Inquiri menurut Made Wena (2009:81) terdiri atas 6 tahapan, yaitu: 1. Orientasi 2. Hipotesis 3. Definisi 4. Eksplorasi 5. Pembuktian 6. Generalisasi

Tahapan-Tahap pelaksanaan metode pembelajaran Inquiry selanjutnya dijabarkan dalam bentuk bagian demi bagian sebagai berikut:

1. Tahap Orientasi Tahap orientasi ini merupakan tahap awal dari model Inquiry ilmu sosial. Dalam tahap ini guru dituntut mampu membangun/ mengembangkan rasa peka siswa terhadap masalah-masalah sosial atas objek yang dibahas. Kepekaan siswa mungkin akan muncul dari pengamatan situasi kehidupan sosial sehari-hari dari hasil refleksi terhadap suatu bacaan/topik, dari situasi konflik yang ada di masyarakjat, di kelas dan dari sejumlah sumber lain. Menurut Cardielo (1996:14)

bahwa kriteria paling penting dalam tahap ini adalah semua aspek harus berpusat dari suatu masalah yang menjadi subjek pembelajaran. Dalam tahap ini guru diminta membantu siswa menjadi peka dan membantu siswa untuk mengembangkan kepekaannya terhadap permasalahan sosial yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik yang terjadi di sekolah maupun yang terjadi di masyarakat luas.

2. Tahap Pengembangan Hipotesis Dalam tahap pengembangan hipotesis ini guru diminta mmebantu siswa mengembangkan hipotesis yang berhubungan dengan masalah yang telah dirumuskan. Hipotesis-hipotesis yang diajukan oleh siswa kemudian diuji oleh guru dan oleh kelompok siswa lain terkait dengan validitas, kompabilitas, dan kesesuaian dengan fakta dan bukti yang mendukung atau bukti yang tidak mendukung.

3. Tahap Melakukan Definisi Dalam tahap melakukan definisi ini, hipotesis yang diajukan diklarifikasi dan didefinisikan, sehingga semua kelompok siswa dapat memahami dan mengkomunikasikan permasalahan yang dibahas. Untuk tahap ini pendefinisian suatu konsep/teori harus menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami oleh siswa.

4. Tahap Melakukan Eksplorasi Dalam tahap ini hipotesis yang diajukan diperluas/ dianalisis, implikasinya, asumsi-asumsinya, dan deduksi yang mungkin dilakukan dari hipotesis tersebut. Dalam hal ini dilakukan kajian

terhadap kualitas dan kekurangan hipotesis, yang diuji tingkat validitas logisnya dan konsistensi internalnya. Menurut Willen (1996:29) bahwa salah satu tujuan pembelajaran ilmu sosial adalah menumbuhkembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam melakukan eksplorasi terhadap gejala-gejala sosial yang multi kompleks.

5. Tahap Pembuktian Pada tahap pembuktian ini data yang didapat dimaksudkan untuk mendukung hipotesis yang telah dikumpulkan, sesuai dengan karakteristik hipotesis yang diajukan. Dalam tahap ini siswa dibimbing cara-cara mengumpulkan bukti, fakta, data yang berhubungan dengan hipotesis yang diajukan. Menurut Joice &Weil (1992:12) bahwa siswa didorong untuk belajar memverifikasi, mengklasifikasikan, mengkategorikan, dan mereduksi data-data.

6. Tahap Generalisasi Tahap terakhir ini adalah pengungkapan penyelesaian masalah yang dipecahkan. Dari datadata (bukti, fakta) yang telah dikumpulkan dan dianalisis, siswa didorong untuk mencoba mengembangkan beberapa kesimpulan, dan dari berbagai kesimpulan yang telah dibuat, siswa diajar bagaimana memilih pemecahan masalah yang paling cepat.

C. Orientasi Model
Ada tiga ciri pokok dalam model mengajar inkuiri sosial. 1. Adanya aspek-aspek sosial dalam kelas yang dapat menumbuhkan terciptanya suasana diskusi kelas. 2. Adanya penetapan hipotesis sebagai arah dalam pemecahan masalah.

3. Mempergunakan fakta sebagai pengujian hipotesis.

1. Tahap Sistem Sosial Dalam pelaksanaan model mengajar dengan inkuiri sosial, para siswa diatur dalambentuk struktur sosial yang sederhana. Mereka akan membentuk system sosial yang berubah atau bergerak dari tiap tahap ke tahap berikutnya. Norma-norma dalam inkuiri diusahakan agar tercipta diskusi secara bebas dan terbuka, serta memiliki rasa tanggung jawab untuk berusaha mengadakan penemuan sendiri.

2. Tahap Prinsip Reaksi Selama proses inkuiri, guru harus berperan sebagai seorang pembimbing, yaitu memberikan bantuan kepada para siswa dalam menjelaskan kedudukan mereka dalam proses belajarnya, cara-cara belajarnya dan dalam setiap penyusunan rencana yang akan mereka lakukan. Demikian pula guru harus dapat membantunya dalam merumuskan dan menjelaskan setiap istilah yang ada pada hipotesis maupun masalah, membantu dalam memilih dan menyusun asumsi-asumsi yang akan digunakan, serta cara diskusi dan berpikir efektif dan objektif. Peranan guru yang utama adalah sebagai reflector bukan sebagai Instruktor

Tahap pertama Orientasi

Tahap Kedua Hipotesis

Menetapkan masalah sosial sebagai mencari beberapa hipotesis dan Pokok bahasan yang dirumuskan merumuskan hipotesis yang Dalam bentuk pernyataan atau dijadikan sebagai acuan dalam

Pertanyaan, dan dibatasi dalam ruang inkuiri, serta yang dapat diujikan Lingkup yang tidak luas

Tahap ketiga Definisi

Tahap Keempat Eksplorasi

Menjelaskan dan menguraikan

menguji hipotesis dengan Logika Istilah-istilah yang ada dalam deduksi, yaitu menghubungkan

Rumusan hipotesis

hipotesis dengan implikasionya Dan asumsi-asumsinya

Tahap Kelima Pembuktian

Tahap Keenam Generalisasi

Membuktikan hipotesis dengan

Menyatakan pemecahan masalah

Fakta-fakta

yang dapat digunakan

Bagan : Tahapan Model Mengajar Inquiri Sosial

3. Tahap Sistem Pendukung Hal yang sangat penting dalam melaksanakan model inkuiri adalah adanya kepercayaan dari guru, bahwa : a. Pengembangan sesuatu penemuan dilakukan dengan tidak tergesa-gesa. b. Pemecahan masalah dilakukan dengan pendekatan terhadap kehidupan c. Banyak sumber-sumber kepustakaan yang dapat digunakan dalam pengumpulan informasi yang diperlukan d. Mempergunakan pendapat ahli dan sumber lain di luar sekolahnya. e. Suatu sumber yang kaya akan informasi yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan inkuiri sosial yang betul-betul.

D. Implikasi Inqury
Para siswa SMP menemukan masalah dari sumber bacaan surat kabar. Setelah masalah urbanisasi ditanggapi bersama oleh para siswa, timbullah pokok masalah lain, yaitu kependudukan di kota. Mereka memutuskan masalah urbanisasi dijadikan pokok pembahasan dalam pelajaran kelas. Dengan bantuan guru, pada tahap orientasi ini para siswa mengembangkan masalah urbanisasi dalam bentuk perumusan masalah dan pembatasan masalah. Sebagai langkah awal (starting point) dalam inkuiri. Mereka merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan mengapa orang-orang desa mengalir pergi ke kota ? pertanyaan ini mengandung ajakan kepada para siswa untuk berpikir mengadakan penelitian dan pemecahan. Para siswa mulai berpikir berdasarkan kemampuan dan pengalamannya masingmasing. Mereka mengajukan bermacam-macam jawaban. Kemudian diadakan

pengklasifikasian jawaban yang disetujui oleh para siswa, dan merumuskan hipotesis bersama yang dapat dipahami oleh semua siswa. Hipotesis yang mereka rumuskan adalah : a. Lapangan pekerjaan di kota lebih banyak daripada di desa sehingga orang desa mudah dapat pekerjaan di kota.

b. Lapangan pekerjaan di desa kurang memberikan peningkaan taraf hidup sehingga orang desa banyak pergi ke kota. c. Uang lebih mudah diperoleh di kota sehingga orang desa banyak mencari uang ke kota. d. Kebutuhan hidup lebih mudah dipenuhi di kota sehingga orang desa lebih senang tinggal di kota. e. Pergaulan di kota lebih luas dan lebih bebas daripada di desa sehingga orang desa senang hidup dalam pergaulan di kota.

Setelah perumusan hipotesis diadakan penjelasan istilah sebagai usaha agar terdapat persepsi yang sama pada semua siswa. Demikian pula terhadap rumusan masalah diberikan penjelasan. Pada tahap berikutnya, para siswa mengadakan pengujian hipotesis dengan teori atau asumsi secara logis. Mereka mencoba melihat hubungan antara yang satu dengan yang lain. Lapangan pekerjaan mudahnya mendapat pekerjaan. Lapangan pekerjaan -- peningkatan taraf hidup. Mencari uang di kota mencari uang di desa. Kebutuhan hidup kebahagiaan hidup Pergaulan kesenangan hidup Untuk menguji hipotesis, para siswa mengadakan pengumpulan data empirik. Mereka melakukan kunjungan dan mengadakan wawancara dengan orang-orang desa yang baru tinggal di kota maupun kepada orang-orang desa yang sudah lama tinggal di kota. Setelah para siswa melakukan pengujian dengan data empiris, mereka dapat menyimpulkan jawaban bahwa orang-orang desa mengalir pergi ke kota disebabkan karena di kota lebih banyak lapangan pekerjaan, mudah mencari uang dan kebutuhan hidup yang lebih terjamin. Dengan diperolehnya jawaban, maka para siswa dapat merumuskan pemecahan masalah urbanisasi. Misalnya, di desa perlu diciptakan lapangan pekerjaan yang lain dari

pekerjaan tani dan dibangun sarana-sarana kebutuhan hidup. Diharapkan orang-orang desa tidak lagi pergi ke kota, dan masalah kependudukan di kota dapat teratasi.

E. Dampak Instruksional dan Penyerta


Tujuan belajar yang eksplisit diusahakan dengan tindakan instruksional tertentu dinamakan dampak instruksional. Dampak instruksional dalam inkuiri sosial adalah : 1. Dapat melakukan penelitian masalah-masalah sosial 2. Dapat mengembangkan tanggung jawab dalam perbaikan masyarakat

Tujuan yang lebih merupakan hasil ikutan dari instruksional tertentu dinamakan dampak penyerta. Dampak penyerta yang dapat dicapai melalui inkuiri sosial adalah : 1. Akan timbul rasa hormat para siswa terhadap martabat semua orang. 2. Para siswa akan memiliki sikap toleran terhadap orang lain. 3. Para siswa akan membiasakan berprilaku yang diharapkan oleh masyarakat

MODEL INQUIRY SOSIAL

Dapat meneliti masalah-masalah sosial Bertanggung jawab terhadap perbaikan masyarakat Rasa Hormat terhadap martabat manusia Kebiasaan akan tindakan sosial Toleran terhadap orang lain

Dampak Instruksional Dampak Penyerta

Bagan : Dampak Model Mengajar dengan Inkuiri Sosial

F. Tahap Diskusi
Model mengajar dengan inkuiri sosial mempunyai kelebihan dan kelemahan. 1. Kelebihan inquiri

Ditinjau dari segi ilmu pengetahuan, khususnya mengenai prinsip-prinsip penelitian ilmiah, model inkuiri sangat cocok untuk penelaahan gejala-gejala sosial. Suatu kebenaran ilmiah dilakukan dengan pengujian logis dan pembuktian empiris. Dalam inkuiri sosial hal ini dilakukan oleh para siswa. Dengan demikian keuntungan lain dari inkuiri sosial, para siswa terlatih dalam menemukan dan mempergunakan prinsip-prinsip penelitian ilmiah. Kelebihan lain dari inquiri sosial adalah para siswa dapat berpikir dan mencari sendiri dalam situasi bebas yang terarah (adanya hipotesis), sehingga hal ini akan menimbulkan semangat belajar pada siswa.

2. Kelemahan Inquiry Pelaksanaan inkuiri sosial memerlukan waktu yang lama serta usaha yang tinggi dari para siswa. Jika para siswa tidak memiliki kesadaran dan usaha yang tinggi, pelaksanaan inkuiri sosial tidak akan mencapai hasil sebagai model mengajar yang baik. Dengan waktu yang lama para siswa tidak akan segera mendapatkan pengetahuannya. Padahal para siswa dituntut untuk belajar memperoleh pengetahuan yang luas ruang lingkupnya. Masih banyak model PBM pengembangan intelektual lainnya. Berikut contoh model PBM pengembangan kreativitas, suatu kecerdasan siswa lainnya yang jarang disentuh pada sekolah-sekolah biasa. Pada SMP Unggulan model ini perlu dikembangkan.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN

A. Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di beberapa Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Bengkayang. Sekolah tempat penelitian ini merupakan sekolah-sekolah yang disukai dan menjadi rebutan untuk dapat diterima, sehingga siswa-siswa yang masuk ke Sekolah Menengah Pertama Negeri tersebut memiliki rata-rata nilai yang baik.

B. Prosedur Penelitian Tindakan Penelitian tindakan ini mengikuti prosedur kerja yang terdiri dari beberapa rencana tindakan. Langkah-langkah yang ditempuh terdiri dari kegiatan-kegiatan berikut: 1. Justifikasi Rencana Pembelajaran: Guru bersama instruktur melakukan urun rembug atau brainstorming untuk memulai rencana pembelajaran yang telah dibuat oleh guru untuk diperbaiki sesuai dengan standar minimal. 2. Monitoring Pelaksanaan Proses Pembelajaran: Guru teman sejawat dan instruktur melakukan monitoring atau pengamatan di kelas terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru bidang studi. Hasil monitoring direfleksikan kepada guru bidang studi lainnya untuk diperbaiki pelaksanaan pembelajaran di kelas pada siswa yang akan dilaksanakan. 3. Mengidentifikasi Temuan Masalah: dari hasil kegiatan justifikasi rencana pembelajaran dan monitoring pelaksanaan proses pembelajaran, ditemukan masalah yang terdapat dalam pembelajaran di kelas. 4. Urun Rembug Cara-cara Pemecahan Masalah Dan Menentukan Langkah-langkah Tindakan Mengatasinya: masalah yang telah ditemukan bersama oleh guru sejawat dan dosen, kemudian dianalisis bersama-sama dengan pendekatan brainstorming untuk dapat ditentukan penyebab timbulnya masalah. Apabila telah ditemukan penyebab masalah, kemudian penyebab ini didiskusikan pula cara-cara untuk mengatasi penyebab timbulnya masalah tersebut.

5.

Menyusun Rencana Tindakan: Rencana tindakan disini dimaksudkan sebagai suatu urutan langkah-langkah tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini. Urutannya terdiri dari beberapa siklus tindakan yang disusun oleh guru bersama tim peneliti yang digunakan sebagai acuan yang dirinci dalam bentuk skenario tindakan pembelajaran di kelas. Rencana pembelajaran itu sendiri dapat dimaksudkan sebagai bagian dari skenario tindakan. Namun demikian pelaksanaan pembelajaran tetap mengacu kepada apa yang telah dituangkan dalam rencana pembelajaran. Skenario tindakan hanya diperlukan pada waktu guru bersama tim peneliti untuk memberikan tindakan terhadap masalah yang ditemukan dalam pembelajaran di kelas. Dalam rencana tindakan dibuat instrumen yang terdiri dari:

a. b.

Skenario tindakan Ketentuan observasi; isinya tentang segala ketetapan aturan observasi tim peneliti dan sasaran yang diobservasi serta cara merefleksinya.

c. 6.

Indikator Kinerja Tindakan; yaitu untuk mengukur keberhasilan rencana tindakan. Melakukan Observasi Pelaksanaan Tindakan Dan refleksi : instrumen rencana tindakan dijadikan dasar dalam melakukan observasi yang dilaksanakan oleh guru sejawat dan dosen. Hasil observasi atau pengamatan segera direfleksikan bersama oleh tim untuk menentukan perubahan pembelajaran dalam bentuk penyusunan siklus tindakan berikutnya.

C. Gambaran Umum Penelitian Pada bagian ini akan diuraikan bahasan hasil temuan penelitian yang terinci berdasarkan siklus tindakan. Supaya lebih jelas laporan ini, maka sistematika dalam penyajian hasil penelitian ini dibahas dengan urutan seperti berikut ini: 1. Paparan temuan awal sebelum pemberian tindakan, di sini akan dijelaskan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh tim untuk memperoleh gambaran tentang setting kelas, masalah yang ditemukan dan penyebab masalah. 2. Uraian tentang siklus tindakan bagi setiap tindakan yang dilakukan selama penelitian tindakan yang berisikan uraian tentang: a. Rencana Tindakan

b. c. d. e. f.

Skenario Tindakan Indikator Kinerja Tindakan Cara Observasi Hasil Observasi dan Refleksi Rencana Tindakan Selanjutnya

Siklus tindakan dalam penelitian yang telah dilakukan terdiri dari dua siklus tindakan. Setiap siklus tindakan mempunyai pola umum prosedur.

D. Rincian Prosedur Penelitian 1. Persiapan Tindakan Masalah: Dalam penelitian tindakan ini yang melaksanakan skenario tindakan adalah guru bidang studi IPS yang ada di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang. Hasil refleksi setelah melakukan diskusi bersama guru dan dosen diperoleh kesepakatan tentang masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: a. Siswa lemah dalam berpikir kritis untuk memecahkan soal-soal berbentuk uraian atau essay. Hal ini terlihat dari kemampuan siswa dalam menguraikan jawaban yang sangat terbatas atau jawaban siswa sangat dangkal. b. Siswa kurang bergairah dalam mengikuti pelajaran. Apabila diberi pertanyaan yang sifatnya uraian, hampir tidak ada siswa yang menunjukkan jari untuk menanggapi. c. Guru kurang memotivasi siswa untuk memecahkan soal-soal berbentuk uraian.

Penyebab Masalah: Hasil diskusi bersama tim peneliti disepakati bahwa penyebab masalahnya adalah sebagai berikut:

a.

Guru masih terfokus pada penggunaan metode ceramah, belum ada kemampuan guru untuk mengembangkan pendekatan inkuiri sosial dengan metode-metode mengajar yang lain.

b.

Guru kurang melakukan inovasi atau pengembangan dan perubahan dalam pembelajaran.

2.

Setting Kelas Kondisi kelas dan siswa yang diberi tindakan dalam penelitian tindakan dapat digambarkan sebagai berikut:

a.

Sebagian besar guru-guru yang mengajar di SMP umumnya menggunakan metode ceramah, sedikit sekali yang menggunakan metode yang melatih anak untuk berpikir kritis dan mengembangkan daya nalarnya.

b.

Siswi-siswi yang berada di kelas II ini, jika dilihat dari nilai rata-rata harian secara umum mempunyai kemampuan di atas cukup.

3.

Implementasi Tindakan

Siklus Tindakan I 1. Rencana Tindakan : Melatih kemampuan guru dalam menggunakan pendekatan inquiry sosial Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 2. a. Skenario Tindakan: Berdasarkan tujuan dan bahan pengajaran guru merencanakan pembelajaran, merumuskan tujuan yang harus dicapai atau menyusun strategi pembelajaran yang mengacu pada pendekatan inquiry sosial. b. Guru menyajikan pokok bahasan dengan urutan sebagai berikut: : Koperasi Indonesia : Penyelenggaraan Koperasi Sekolah

1)

Melakukan pendahuluan, tujuannya adalah untuk memberikan motivasi awal kepada siswa sebelum pembahasan lebih lanjut dari seluruh pokok bahasan. Kegiatan pendahuluan ini meliputi:

a) b)

Deskripsi singkat tentang pokok bahasan yang akan disajikan. Relevansi: guru menghubungkan pokok bahasan yang akan disajikan dengan lingkungan kehidupan anak, ataupun dengan pokok bahasan yang telah dikuasai oleh siswa.

c)

Menyampaikan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK); di sini guru menjelaskan secara singkat mengenai tujuan dari pokok bahasan yang akan dipelajari siswa.

2) a)

Menyajikan materi dari pokok bahasan; Pada langkah ini guru melakukan kegiatan: Menyajikan materi dari pokok bahasan, dalam hal ini hanya konsep-konsepnya atau prinsipprinsip.

b)

Memberi kesempatan bertanya; apabila ada siswa yang belum jelas mengenai konsep, prinsip yang dijelaskan guru memberi kesempatan untuk bertanya.

c)

Berdasarkan konsep, prinsip, hukum atau kaidah yang telah dijelaskan, guru merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan.

d)

Bersama-sama dengan siswa menentukan dugaan masalah yang diajukan berdasarkan pemahaman konsep, prinsip, yang telah diajarkan. Dalam penentuan jawaban sementara, sebaiknya guru memberi seluas-luasnya kesempatan kepada siswa untuk merumuskan dugaan sendiri. Guru lebih berperan memberikan arah dan membimbing pendapat siswa (merumuskan hipotesis)

e)

Siswa diminta untuk mencari informasi, keterangan, bahan, data dan lain-lain yang diperlukan untuk menguji jawaban terhadap masalah yang diajukan.

f)

Berdasarkan data, informasi, keterangan yang diperoleh siswa mendiskusikan keterangan itu, apakah data itu benar atau salah, kemudian menghimpun data tersebut untuk dicocokkan dengan jawaban atau dugaan sementara (menguji hipotesis).

g)

Siswa dengan bantuan guru mencoba menarik kesimpulan. Kesimpulan yang dibuat adalah menerima atau menolak jawaban sementara atau dugaan sementara yang telah ditetapkan.

3)

Menutup Pelajaran; Kegiatan menutup pelajaran tidak selalu harus memberikan soal untuk keperluan evaluasi. Dalam kegiatan ini guru memberi komentar terhadap pekerjaan siswa.

3.

Indikator Kinerja Tindakan Untuk mengkur keberhasilan pelaksanaan rencana tindakan ditetapkan indikasinya, yaitu:

a.

Apabila dari seluruh siswa 50 persen telah mampu merumuskan hipotesis terhadap pemecahan masalah sosial yang dihadapi.

b.

Keberhasilan penggunaan pendekatan ini apabila minimal 75 persen dari seluruh siswa telah menunjukkan kemampuan berpikir kritis yang dibuktikan dengan hasil jawaban tes uraian atau essay yang diberikan setelah pemberian tindakan.

4.

Cara Melakukan Observasi Pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan oleh tim peneliti. Cara melakukan observasi:

a.

Tim peneliti bersama-sama menetapkan cara mengobservasi. Observasi disepakati dalam penelitian ini dilakukan di dalam kelas. Tim peneliti berada di dalam kelas yang diberi tindakan.

b. 1. 2.

Menyepakati hal-hal yang diobservasi, yaitu: Pelaksanaan rencana pembelajaran. Interaksi kelas selama proses pembelajaran. Apakah guru telah lancar menerapkannya. Bagaimana partisipasi siswa selama mengikuti pelajaran.

3. 4.

Partisipasi siswa yang berani merumuskan jawaban sementara. Cara siswa membuat argumentasi, mengkritik teman, dugaan sementara yang dirumuskan.

5.

Hasil Observasi dan Refleksi

Hasil observasi terhadap pelaksanaan rencana pembelajaran dan pendekatan yang dikembangkan diamati oleh tim peneliti. Setiap anggota tim yang melakukan observasi terlibat untuk mendiskusikan hasil temuannya masing-masing sebagai refleksi bagi guru bidang studi. Berdasarkan catatan yang dibuat atau temuan yang diperoleh didiskudikan bersama-sama dan hasil diskusi tersebut diperoleh kesimpulan sebagai berikut: a. Guru dalam melaksanakan rencana pembelajaran masih banyak menggunakan metode ceramah saja, belum berupaya untuk menanamkan konsep dan memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan pemikirannya. Seharusnya setelah guru memberikan konsepkonsep siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang konsep yang telah dijelaskan. b. Masalah yang dilontarkan guru pada siklus I sudah relevan dengan pokok bahasan, namun pada pelaksanaan tindakan awal ini terkesan siswa agak bingung dan kurang memahami maksud guru. Hal ini terlihat ketika terjadi kevakuman untuk beberapa menit. Setelah guru menegaskan kembali masalah yang dilontarkan kepada siswa, baru terlihat 2 orang dari 2 kelompok yang berani mengemukakan jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan guru.

E. Populasi dan Sampel Penelitian Peneliti menentukan populasi penelitian dengan seleksi sederhana yaitu mencari subyek yang relevan dengan kedudukan atau jabatan yang disandangnya serta melihat

keikutsertaannya dalam masalah yang diteliti. Populasi yang dijadikan acuan dalam penelitian ini yaitu mencari informasi yang dibutuhkan dan untuk memudahkan penelitian ini, yaitu: 1. Guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berjumah 12 orang. 2. Siswa kelas VIII berjumlah 30 orang.

F. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik adalah cara yang digunakan dalam mengumpulkan data dan informasi. Sehubungan dengan itu Hadari Nawawi (2003: 94-95) mengatakan bahwa untuk

mengumpulkan data dalam suatu penelitian ada beberapa teknik atau cara yang dapat dipergunakan. Dalam penelitian ini, data yang diambil adalah: 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Untuk mengambil data ini, peneliti menggunakan cara dokumentasi atau teknik studi dokumenter. Cara ini digunakan selain untuk melihat mutu pembelajaran IPS melalui metode inkuiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang juga untuk mendukung argumentasi pada bab II. Teknik dokumenter ini digunakan karena dalam penelitian ini terdapat data yang diperlukan melalui dokumen seperti Rencana Pembelajaran dan dokumen Program Kerja Sekolah untuk gambaran umum penelitian. 2. Pelaksanaan Metode Inquiry Untuk mengambil data ini, peneliti menggunakan cara observasi dalam kelas secara langsung atau dengan kata lain menggunakan teknik observasi partisipan dengan alat berupa pedoman observasi. Observasi dilakukan terhadap guru yang mengajar Data yang diambil melalui observasi ini untuk melihat pelaksanaan pembelajaran IPS melalui metode inquiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang. 3. Keaktifan Siswa Untuk mengambil data keaktifan siswa ini, peneliti menggunakan cara yang sama seperti pada bagian b, yaitu observasi dalam kelas secara langsung atau dengan kata lain menggunakan teknik observasi partisipan dengan alat berupa pedoman observasi. Observasi dilakukan terhadap siswa yang mengikuti pelajaran. Data yang diambil melalui observasi untuk

melihat keaktifan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran IPS memalui metode inquiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Menegeri di Kabupaten Bengkayang. 4. Kendala Penerapan Metode Inquri Untuk mengambil data ini, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah dipersiapkan alatnya berupa pedoman wawancara atau dengan kata lain menggunakan teknik komunikasi langsung dengan alat berupa pedoman wawancara. Wawancara dilakukan terhadap guru untuk mengetahui kendala penerapan metode inquiri dalam penyampaian materi pada mata pelajaran IPS di Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang. 5. Hasil Belajar Siswa Untuk mengambil data ini, peneliti menggunakan cara dokumentasi atau teknik studi dokumenter. Cara ini digunakan untuk melihat hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang.

G. Teknik Analisis Data Di bab Hasil dan Pembahasan Penelitian, peneliti terlebih dulu menyajikan paparan data yang mendeskripsikan secara ringkas apa saja yang dilakukan peneliti sejak pengamatan awal (sebelum penelitian) yaitu kondisi awal guru dan siswa diikuti refleksi awal vang merupakan dasar perencanaan tindakan, dilanjutkan dengan paparan mengenai pelaksanaan tindakan, hasil wawancara terhadap guru dan siswa, observasi situasi dan kondisi kelas dan hasil observasi kegiatan siswa. Paparan data itu kemudian diringkas dalam bentuk temuan penelitian yang berisi pokok-pokok hasil observasi dan wawancara. Penelitian ini melakukan dua kali siklus tindakan. Jadi peneliti hanya membandingkan hasil antara sebelum dan setelah dilakukan treatment terhadap obyek penelitian. Untuk

mengetahui mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri, peneliti menggunakan rumus sebagai berkut: M= Dimana : M X N = (Mean) rata-rata

= Jumlah skor total siswa = (Number) jumlah siswa Kemudian skor rata-rata siswa diinterpretasikan dengan menggunakan kategori seperti

pada tabel berikut: Tabel 1 Kategori Kemampuan Siswa Interval 0,00 - 1,99 2,00 - 3,99 4,00 - 5,99 6,00 - 7,99 8,00 - 10,00
Sumber : David P. Harris (1986:136)

Kategori Buruk sekali Buruk Sedang Baik Baik sekali

Sementara untuk menvanalisa mutu pembelajaran IPS dalam hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah penerapan metode inquiri, peneliti pertamatama menyajikan tabel hasil penelitian sebelum dan sesudah siklus tertentu. hasil penjumlahan pada tabel dimasukkan ke dalam rumus berikut. SD =

Kemudian diadakan perhitungan SD standar kesalahan perbedaan antara dua rata-rata dengan rumus sebagai berikut: SD = Untuk mendapatkan nilai t adalah dengan mengunakan rumus sebagai berikut: t= selanjutnya t hitung tersebut dibandingkan dengan t tabel dengan terlebih dahulu menentukan derajat kebebasannya atau disingkat dk dan taraf kesalahan 5 %. Dalam ha ini berlaku ketentuan bila t hitung lebih besar dari t tabel maka hipotesis tindakan diterima, begitu sebaliknya.

H. JADWAL KEGIATAN PENELITIAN Penelitian ini akan dilakukan dari bulan Oktober hingga Nopember 2010 dengan rincian sebagaimana tertera pada tabel berikut ini.

JADWAL PENELITIAN

JENIS KEGIATAN

B U L A N
Okt

Nop

A. PERSIAPAN 1. Penyusunan Proposal Penelitian 2. Pengembangan Instrumen Penelitian 3. Pengurusan Izin Penelitian 4. Pengumpulan Data Awal (Need Assessment) Siswa. xx xx xx xx

B. PELAKSANAAN 1. Studi Kepustakaan (Bibliografi) 2. Pengumpulan Data/Survey lapangan 3. Penyusunan Mode/l Awal Model Pembelajaran 4. Uji-cobaTerbatas, Revisi Model Model Belajar 5. Pelatihan Guru/Pemodelan 6. Uji-coba Model Pembelajaran 7. Revisi Model Pembelajaran 8. Seminar dan Desiminasi xx xx xx xx xx xx xx Xx

C. PENYUSUNAN LAPORAN 1. Penyusunan Draft Awal Penelitian 2. Seminar Hasil Penelitian 3. Penyusunan Laporan Akhir Penelitian xx xx xx

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di 12 Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 30 orang, jumlah guru yang mengajar sebanyak 12 orang, sekaligus menjadi partisipan dalam penelitian ini, yaitu guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011. Pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak dua siklus dengan materi RPP, pelajaran meliputi: perencanaan atau persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada siklus pertama dan ketentuan-ketentuan sama dengan pada siklus ke dua, yaitu dengan melihat mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri. Pada bagian penutup. kesimpulan yang dibuat guru, evaluasi, tindak lanjut. memberi motivasi kepada siswa dan salam penutup dengan doa. Sehubungan dengan penelitian ini paparan deskripsi hasil penelitian meliputi mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri sesudah diterapkan metode inquiri dan sebelum diterapkan metode inquiri oleh guru dalam menghadapi kendala penerapan penerapan metode inquiri, serta perbedaan mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri . Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 22 s/d 25 Oktober 2010 siklus kedua pada tanggal 26 dan 30 Nopember 2010 Sesuai dengan kesepakatan pada tahap perencanaan bahwa yang melaksanakan tindakan adalah mata pelajaran IPS tahun pelajaran 2010/2011. Dalam pelaksanaan tindakan kelas ini tidak diikuti secara lengkap oleh seluruh siswa yang berjumlah 30 siswa.

B. Analisis Data Sebelum Dilakukan Treatment Pada bagian ini peneliti akan menganalis data sebelurn diterapkan metode inquiri di Sekolah Menengah Pertama tahun pelajaran 2010/2011. Mutu Pembelajaran IPS melalui metode inquiri di Kabupaten Bengkayang Tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut: Tabel 2 Mutu Pembelajaran IPS Sebelum diterapkan Metode Inquiry No. 1 2 3 4 5 6 Aspek kemampuan Siswa Penyebab terjadinya gempa bumi Kaitan interaksi sosial dan proses sosial Penyebab terjadinya perubahan musim Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk Ciri-ciri negara maju dan berkembang Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda

Jumlah Nilai 188 157 185 186 184 191

Nilai Rata-Rata 6,27 6,23 6,17 6,20 6,13 6,37

Sumber: Rekapitulasi Data Hasil Observasi tentang kemampuan siswa dalam menerima materi pelajaran sebelum diterapkan metode inquiry.

Interpretasi: a. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanvak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,00, berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 1 adalah 6,27 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara dengan merujuk pada tabel 1 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjawab terjadinya gempa buki sebelum

diterapkan metode inkuiri dalam praktek mata pelajaran IPS di Kelas VII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik. b. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 2 adalah 6,23 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00-799 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam kaitan interaksi sosial dengan proses sosial sebelum diterapkan metode inquiri dalam praktek mata pelajaran IPS di Kelas VII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong, baik. c. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 3 adalah 6,17 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam penyebab terjadinya perubahan iklim sebelum diterapkan metode inquiry dalam praktek mata pelaiaran IPS di Kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik. d. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 4 adalah 6,20 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00-799 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk sebelum diterapkan metode inquiry dalam praktek mata pelajaran IPS Kelas VIII SMP Negeri Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong, baik.

e. Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor rnaksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 5 adalah 6,13 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab III perolehan ini berkisar antara tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam ciri-ciri Negara maju dan berkembang sebelum diterapkan metode inkuiri dalam praktek mata pelajaran IPS Kelas IX tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik. f. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10.0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 6 adalah 6,317 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 6,00-799 tergolong baik. Dengan kemampuan siswa dalam faktor-faktor penyebab konflik Indoneia dengan Belanda sebelum diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS di Kelas XI SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik. Secara keseluruhan aspek, kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum diterapkan metode inkuri di Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut: M= = = 6, 23 Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, maka peroleh ini berkisar antara 6,00-7,99 tergolong baik. Hal ini berarti bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum diterapkan metode inkuri di Sekolah Menengah Pertama Kabupaten bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dikategorikan baik.

C. Analisis Data Siklus Pertama Persiapan untuk siklus pertama ini, peneliti dengan dibantu oleh guru IPS yang lain di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 20108/2011 membuat dua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus pertama. Siklus pertama dilakukan dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama, materi pokoknya adalah 1) Menjelaskan penyebab terjadinya gempa bumi, 2) Menjelaskan penyebab terjadinya perubahan musim, 3) Menyebutkan ciri-ciri negara maju dan berkembang,. Standar Kompetensinya adalah 1) Memahami kehidupan soaial manusia, 2) memahami pranata dan penyimpangan soaial, 3) dan memahami usaha mempertahankan kemerdekaan. Dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Pendahuluan a. Memberi salam b. Menyapa dan mengabsen siswa c. Melakukan appersepsi d. Memulai pelajaran 2. Kegiatan Inti a. Membantu siswa mengidentifiikasi pengertian kehidupan sosial, pranata dan penyimpangan sosial dan usaha mempertahankan kemerdekaan b. Membacakan dalil yang berkenaan dengan materi tersebut di atas c. Mengidentitikasi penyebab (materi tsb)

d. Tanya jawab tentang materi yang disampaikan e. Mengelompokkan siswa f. Memberikan tugas untuk masing-masing kelompok g. Mendemontrasikan h. Setiap kelompok rnelakukannya dan kelompok yang lain mengamatinya i. Menjelaskan perbedaan 3. Penutup a. Menyimpulkan bersama-sama b. Memberitahukan tugas yang harus dilakukan oleh siswa di rumah c. Melakukan refleksi tentang materi yang telah dipelajari Pada pertemuan kedua, materi pokoknya adalah 1) Kaitan interaksi sosial dan proses sosial, 2) Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, 3) Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda. Kompetensinya adalah 1) Menjelaskan kehidupan sosial manusia, 2) Menjelaskan pranata dan penyimpangan sosial, 3) Menjelaskan usaha mempertahankan kemerdekaan, dengan Kompetensi Dasar 1 ) Mendeskripsikan kaitan interaksi sosail dan proses sosial; 2) Mendeskripskan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, 3) Mendeskrispsikan faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. 1. Pendahuluan a. Memberi salam

b. Menyapa dan mengabsen siswa c. Melakukan appersepsi d. Memulai pelajaran dengan berdoa 2. Kegiatan Inti a. Membantu siswa mengidentifikasikan pengertian kehidupan sosial manusia, pranata dan penyimpangan sosial, dan usaha mempertahankan kemerdekaan b. Mengidentfikasi manfaat kehidupan sosial, pranata dan penyimpangan sosial serta usaha mempertahankan kemerdekaan c. Mendemonstrasikan tata cara kehidupan sosial, pranata dan penyimpangan sosial, serta usaha mempertahankan kemerdekaan d. Mengelompokkan siswa e. Mengsimulasikan f. Setiap kelompok mengamati praktek kelompok lainnya g. Tanya jawab sekitar materi 3. Penutup a. Menyimpulkan materi bersama-sama b. Memberitahukan tugas yang harus dilakukan oleh siswa di rumah c. Melakukan refleksi tentang materi yang di pelajari Setelah dilakukan treatment di atas sambil melakukan observasi sehingga diperoleh 1) Skor kemampuan siswa pada mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri siklus

pertama melalui observasi; 2) Perbedaan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS antara sebelum diterapkan metode inquiri dengan melihat hasil pretest dan sesudah diterapkan matode inquiri melalui observasi pada siklus pertama dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Kemampuan siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sesudah diterapkan metode inquiri siklus pertama Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri siklus pertama Sekolah menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/'2011 seperti terlihat dalam tabel dibawah ini :

Tabel ; 3 Kemampuan Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Sesudah diterapkan Metode Inquiri Siklus Pertama No. 1 2 3 4 5 6 Aspek kemampuan Siswa Penyebab terjadinya gempa bumi Kaitan interaksi sosial dan proses sosial Penyebab terjadinya perubahan musim Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk Ciri-ciri negara maju dan berkembang Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda Jumlah Sumber: Jumlah Nilai 229 233 231 236 232 230

Nilai Rata-Rata 7,63 7,77 7,70 7,87 7,73 7,67

1391

46,37

Rekapitulasi Data Hasil Observasi tentang Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS setelah diterapkan Metode Inquiri siklus pertama

Interpretasi a. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0.00 berarti sangat rendah Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 1 adalah 7,63 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00 - 7.99 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjawab penyebab terjadinya gempa bumi sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik. b. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 3,0 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksirnal adalah 10.0 berarti sangat baik. sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 2 adalah 7,77 dengan merujuk pada tabel ( pada Bab II) perolehan ini berkisar antara 6.00 - 7.99 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam kaitan interaksi sosial dan proses sosial sesudah diterapkan metode inkuri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik. c. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 dipero1eh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item s adalah 7,70 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00 - 7,99 tergolong balk. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan penyebab terjadinya perubahan musim sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik.

d. Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal) adalah 10.0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 4 adalah 7,87 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00-799 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan penduduk sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik e. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebayak 6 diperoleh skor maksimal adalah (0,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembaiikan pada nilai rata-rata item 5 adalah 7,7; dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00 - 7,99 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menyebutkan ciri-ciri Negara maju dan berkembang sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun peiajaran 2010/2011 tergolong sangat baik. f. Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah ,Iika dikembalikan pada nilai rata-rata item 6 adalah 7,67 dengan merujuk pada tabel I pada Bab II perolehan ini berkisar antara 6,00-7,99 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda sesudah diterapkan metode inkuiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong, baik.

Secara keseluruhan aspek, kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut

M= = = 7, 73 Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, maka perolehan ini dengan merujuk pada tabel I pada Bab III berkisar antara 6,00 - 7,99 tergolong, baik. Hal ini berarti bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dikategorikan baik. 2. Perbedaan Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS antara sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada Siklus Pertama Perbedaan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut: Tabel 4 Perbedaan Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS antara Sebelum dan Sesudah Diterapkan Metode Inquiry Pada Siklus Pertama
No. Sebelum (X1) Sesudah Siklus Pertama (X2) D = (X2 X1) D
2

1 2 3 4 5 6

6,27 6,23 6,17 6,20 6,13 6,37 X1 = 37,37

7,63 7,77 7,70 7,87 7,73 7,67 X2 = 46,37

1,36 1,54 1,53 1,67 1,60 1,30 D = 9,00

1,85 2,37 2,34 2,79 2,56 1,69 D = 13,60


2

Hasil penjumlahan pada tabel di atas dimasukkan ke dalam rumus berikut: SD = = = = = = 0,184 Perhitungan SD standar kesalahan perbedaan antara dua rata-rata adalah sebagai berikut: SD = = = =

0,075

Untuk mendapatkan nilai t adalah sebagai berikut: t = = = = 20,00 Hasil perhitungan nilai t 20,00. Jika dicek distribusi t tabel pada signifikansi 5% dengan db = n 1, diperoleh: db = n 1 =61 =5 db 5 = 2,571

Karena nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (20,00>2,571), maka ini berarti bahwa hipotesis dalam penelitian ini berbunyi, Mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bengkayang dapat meningkatkan kemampuan siswa mata pelajaran IPS secara signifikan diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri dalam mata pelajaran IPS antara sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011.

D. Analisis Data Siklus Kedua Persiapan untuk siklus kedua ini, peneliti masih dibantu oleh guru IPS kelas VIII dan kelas IX Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 membuat dua buah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk dua pertemuan. Pada pertemuan pertama, materi pokoknya adalah 1) penyebab terjadinya gempa bumi, 2) kaitan interaksi sosial dan proses sosial, 3) penyebab terjadinya perubahan musim, 4) faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, 5) ciri-ciri negara maju dan berkembang, 6) faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda. Kompetensinya adalah memahami kehidupan sosial manusia, pranata dan penyimpangan sosial, serta usaha mempertahankan kemerdekaan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. Pendahuluan a. Memberi salam b. Menyapa dan mengabsen siswa c. Melakukan apersepsi d. Memulai pelajaran dengan berdoa 2. Kegiatan Inti a. Membantu siswa mengidentifikasi materi b. Mengidentifikasi materi c. Berdiskusi tentang materi dan mencari perbedaannya d. Berdiskusi tentang perbedaan materi

e. Mengelompokkan siswa untuk mengidentifikasi tentang materi . f. Setiap kelompok mempresentasikan materi 3. Penutup a. Menyimpulkan materi bersama-sama b. Memberitahukan tugas yang harus dilakukan oleh siswa di rumah Melakukan refleksi tentang materi yang telah dipelajarinya

Pada pertemuan kedua, materi pokoknya adalah 1) penyebab terjadinya gempa bumi, 2) kaitan interaksi sosial dan proses sosial, 3) penyebab terjadinya perubahan musim, 4) faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, 5) ciri-ciri negara maju dan berkembang, 6) faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda. Standar Kompetensinya adalah memahami kehidupan sosial manusia, memahami pranata dan penyimpangan sosial, dan memahami usaha mempertahankan kemerdekaan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. Pendahuluan a. Memberi salam b. Menyapa dan mengabsen siswa c. Melakukan apersepsi d. Memulai pelajaran dengan berdoa 2. Kegiatan Inti

a. Membantu siswa mengidentifikasi pengertian tentang materi b. Membaca materi c. Mengidentifikasi materi d. Berdiskusi tentang tata materi e. Mengelompokkan siswa untuk mengidentifikasi materi f. Setiap kelompok mempresentasikan materi g. Mendemonstrasikan materi 3. Penutup a. Menyimpulkan materi bersama-sama b. Memberitahukan tugas yang harus dilakukan oleh siswa di rumah Melakukan refleksi tentang materi yang telah dipelajarinya

Setelah dilakukan treatment di atas sambil melakukan observasi atau pengamatan, pada kesempatan berikutnya dilakukan post test siklus kedua, sehingga diperoleh: 1) Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua; 2) Perbedaan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS antara sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Kemampuan siswa dalam pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua.

Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut:

Tabel 5 Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS Sesudah Diterapkan Metode Inquiri Pada Siklus Kedua

No,

Aspek Kemampuan siswa

Jumlah Nilai 246 247 242 241 242 243 1461

Nilai Rata-rata

1 2 3 4 5 6

Penyebab terjadinya gempa bumi Kaitan interaksi sosial dan proses sosial Penyebab terjadinya perubahan musim Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk Ciri-ciri negara maju dan berkembang Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda Jumlah

8,20 8,23 8,07 8,03 8,07 8,10 48,70

Sumber : Rekapitulasi Data Hasil Observasi tentang Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS Setelah Diterapkan Metode Inkuiri Siklus kedua

Implementasi a. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 1 adalah 8,20 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan penyebab terjadinya gempa bumi sesudah diterapkan strategi metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas VII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik. b. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 2 adalah 8,23 dengan merujuk

pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 10,00 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan kaitan antara interaksi sosial dan proses sosial sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas VII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik. c. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 3 adalah 8,07 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan penyebab terjadinya perubahan musim sesudah diterapkan metode inkuiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik d. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 4 adalah 8,03 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik. e. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 5 adalah 8,07 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menyebutkan ciri-ciri negara maju dan berkembang

sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas IX SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik. f. Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 6 adalah 8,10 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas IX SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik. Secara keselurhan aspek, kemamuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua di Sekolah menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut: M = = = 8,12

Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, maka perolehan ini dengan merujuk ada tabel 1 pada Bab II berkisar antara 8,00 10,00 tergolong baik sekali. Hal ini berarti bahwa Mutu Pembelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dikategorikan baik sekali.

2. Perbedaan Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS antara Sebelum dan Sesudah Diterapkan Metode Inquiry pada Siklus Kedua.

Perbedaan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut: Tabel 6 Perbedaan Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS antara Sebelum dan Sesudah Diterapkan Metode Inquiri Pada siklus Kedua No. 1 2 3 4 5 6 Sebelum (X1) 6,27 6,23 6,17 6,20 6,13 6,37 X1 = 37,37 Sesudah Siklus Kedua (X2) 8,20 8,23 8,07 8,03 8,07 8,10 X2 = 48,70 D = (X2 X1) 1,93 2,00 1,90 1,83 1,94 1,73 D = 11,33 D2 3,72 4,00 3,61 3,35 3,76 2,99 D2 = 21,43

Hasil penjumlahan pada tabel di atas dimasukkan ke dalam rumus berikut: SD = = = = = = 0,279 =

Perhitungan SD standar kesalahan perbedaan antara dua rata-rata adalah sebagai berikut: SD = = = 0,11 =

Untuk mendapatkan nilai t adalah sebagai berikut : = = = 17,18

Hasil perhitungan nilai t adalah 17,18 jika dicek distribusi t tabel pada singnifikasi 5% dengan db = n-1, diperoleh : db = n-1 = 6-1 =5 Db 5 =2,571 Karena nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (17,18>2,271), maka ini berarti bahwa Hipotesis dalam penelitian ini berbunyi, Mutu Pembelajaran IPS Melalui Metode Inquiri Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bengkayang dapat meningkatkan

kemampuan siswa pada mata pelajaran IPS secara signifikan, diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan Mutu Pembelajaran IPS Melalui Metode Inquiri Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bengkayang antara sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang Tahun Pelajaran 2010/2011.

E. Pembahasan 1. Mutu Pembelajaran IPS Sebelum dan sesudah diterapkan Metode Inquiri. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dalam mata pelajaran IPS termasuk baik pada siklus pertama dan baik sekali siklus kedua. Hal ini disebabkan siswa termotivasi dengan metode inquiri yang diterimanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Syaiful Bahri Djamarah (2002 :38) bahwa dalam belajar, seorang siswa tidak akan dapat menghindari dari suatu situasi motivasi. Motivasi ini akan menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan dalam rangka belajar. Bahkan motivasi itulah yang akan mempengaruhi dan menentukan aktivitas belajar apa yang akan dilakukan kemudian. Setiap motivasi dimanapun dan kapanpun memberikan kesempatan belajar kepada siswa. Oleh karena itu berikut ini dibahas beberapa aktivitas belajar siswa tahun pelajaran 2010/2011 dalam mata pelajaran IPS. a. Penyebab terjadinya gempa bumi Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan siswa dalam menjelaskan terjadinya gempa bumi termasuk baik setelah diterapkan metode inquiri. Hampir seluruh siswa sesudah diterapkan matode inquiri dapat menjelaskan materi ini. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian 6,27 sebelum diterapkan menjadi 7,63 setelah diterapkan metode tersebut.

b. Kaitan interaksi sosial dan proses sosial Sebelum diterapkan metode inquiri kemampuan siswa dalam menjelaskan kaitan interaksi sosial dan proses sosial dalam mata pelajaran IPS termasuk baik. Kemudian ada kemajuan setelah dilakukan treatment. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan siswa dalam menjelaskan interaksi sosial dan proses sosial termasuk baik sesudah diterapkan metode inquiri. Hal ini di buktikan dengan hasil penelitian sebelum diterapkan metode tersebut 6,23 menjadi 7,77 setelah diterapkan. c. Penyebab terjadinya perubahan musim Sebelum diterapkan metode inquiri kemampuan siswa 6,17 setelah diterapkannya metode inquiri tersebut menjadi 7,70. hal ini terbukti kemampuan siswa dalam menyebutkan penyebab terjadinya perubahan musim meningkat sesudah diterapkan metode inquiri. d. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Penduduk Hasil penelitian menunjukan kemampuan siswa dalam menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk meningkat dari 6,20 setelah diterapkan metode inquiri menjadi 7,87 setelah diterapkan metode tersebut. e. Ciri-ciri negara maju dan berkembang Hasil penelitian yang menunjukan bahwa penyebutan ciri-ciri negara maju dan berkembang oleh siswa tergolong baik pada siklus pertama dan baik sekali pada siklus kedua, meskipun sebelum diterapkan matode inquiri memang sudah tergolong baik. Hal ini disebabkan karana guru IPS disekolah menggunakan metode inquiri dan masih teringat oleh pendidikan yang mereka peroleh pada saat mereka belajar dulu ditambah dengan kondisi sekolah yang sangat memungkinkan mereka belajar dengan metode baru.

f. Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda Berdasarkan temuan dalam peneltian ini, maka kemampuan siswa dalam menjelaskan konflik antara Indonesai dengan Belanda meningkat tajam dari 6,37 sebelum diterapkan metode inquiri menjadi 8,10 setelah diterapkan metode pembelajaran tersebut.

2. Mutu Pembelajaran IPS sebelum dan sesudah. diterapkan Metode Inquiri pada siklus kedua

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kemampuan siswa dalam dalam Mata Pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inkuiri pada siklus kedua di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang termasuk baik sekali sedangkan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum diterapkan metode inquiri termasuk baik. Perbedaan hasil pembelajaran ini disebabkan siswa sesudah diteapkan metode inquiri lebih termotivasi secara ekstrinsik dengan strategi inquiri yang diterimanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Syaiful Bahri Djamarah (2002: 38) bahwa dalam belajar, seorang siswa tidak akan dapat menghindar dari situasi motivasi. Motivasi ini akan menentukan hasil belajar siswa melalui aktivasi belajarnya yang lebih baik.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan analisis data pada bab III, peneliti menyimpulkan sebagai berikut: 1. Kemampuan siswa dalam praktek mata pelajaran IPS sebelum diterapkan metode inquiri baru hanya tergolong baik. Hal ini terbukti dengan perolehan hasil penelitian sebesar 6,23. 2. Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri tergolong baik pada siklus pertama yang diterapkan dengan cara mensimulasikan praktek dengan perolehan hasil penelitian sebesar 7,73. pada siklus kedua hasilnya baik sekali, hal ini terbukti dengan perolehan hasil penelitian sebesar 8,12. Pada siklus ini inquiri diterapkan dengan cara praktek langsung. 3. Terdapat perbedaan mutu pembelajaran IPS sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang baik pada siklus pertama maupun pada siklus kedua. Hal ini terlihat dari nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (20,00 > 2,571) pada siklus pertama dan (17,8 > 2,571) pada siklus kedua.

B. Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti dapat memberi rekomendasi dalam penelitianini sebagai berikut: 1. Hasil mata pelajaran IPS siswa sebelum diterapkan metode inquiri di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik. Hal

tersebut dilakukan dengan cara banyak demonstrasi sedikit praktek, sehingga waktu terbuang dalam kegiatan demonstrasi. Oleh karenanya tim peneliti merekomendasikan kepada guru agar tidak terlalu sering menggunakannya. 2. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan mutu pembelajaran IPS sesudah diterapkan metode inkuiri dan sebelum diterapkan metode inquiri. 3. Guru mata pelajaran IPS seharusnya menggunakan metode inquiri, terutama yang berupa praktek langsung (tidak hanya berupa simulasi). 4. Oleh karenanya kepada pihak sekolah untuk lebih giat lagi mencarikan sumber dana bagi penerapan metode inkuiri.

DAFTAR PUSTAKA

Andi H. Nasution. (1991) Kurikulum Pendidikan Dasar dan Struktur Pendidikan Dasar Lanjutan. Surabaya: Gema Kliping Service.

----------------, (1986) Metodologi Pengajaran IPS. Jakarta: P2LPTK

Badan Pusat Statistik (BPS) (2005) BPS Provinsi Kalimantan Barat., Kalimantan Barat Dalam Angka, 2004 - 2005; 2005 2006; 2006 - 2007 Pontianak; Badan Pusat Statistik

Brenda, Dorn Conard. (1988) Cooperative Learning and Prejudice Reduction. USA: Social Studies Journal. Aplir/May.

Departemen P dan K RI. (1993) Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di Sekolah Dasar. Jakarta.

---------------,(1994) Kurikulum Sekolah Dasar: GBPP. Bidang Studi IPS. Jakarta.

---------------,(1992) UU RI Nomor 2 Tahun 1989 (UUSPN) dan Peraturan Pelaksanaan-nya. Jakarta: Sinar Grafika. ] Depdiknas (2003) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

------------------- (2004)Departemen Pendidikan Nasional RI, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, Jakarta ; Depdiknas

Dunkin, Michael J. and Bruce J. Biddle. (1974). The Study of Teaching. USA: Holy, Rinehart and Winston, Inc.

Finch, Curtis R. et.al. (1979) Curriculum Development in Vocational and Technical Education: Planning, Content, and Implementation. Boston: Allyn and Bacom, Inc.

Hopkins, David. (1993) A Teachers Guide to Classroom Research. Philadephia: Open University Press.

Hamid Darmadi (2005) Himpunan Data sekolah TK,SD, SMP,SMA,SMK dan SLB di Kalimantan Barat Tahun 2005. Pontianak ; STKIP-PGRI. Lemlit

Hamid Darmadi (2006) Pendidikan Ilmu Sosial; Landasan Konsep dan Implentasi; Pontianak STKIP-PGRI; Lemlit Hamid Darmadi (2006) Pembelajaran IPS (Model Pembelajaran IPS Berbasis Lingkungan) Pidato Pengukuhan Guru Besar ; Diucapkan pada Rapat Terbuka Senat STKIP-PGRI Pontianak November 2006; Pontianak STKIP-PGRI; Lemlit Hamid Hasan, S. (1996) Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial (buku I). Bandung: Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung.

---------------, (1996) Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial (buku II) Bandung: Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung.

Jarolimek, John. (1967) Social Studies in Elementary Education. 5th. edition. NY: McMillan Co. Inc.

Kosasih H. Djahiri. (1994) Buku Pedoman Guru Pengajaran IPS. Jakarta: Departemen P dan K.

----------------,(1996) Teknik Pengembangan Program Pengajaran Pendidikan Nilai-Moral. Bandung: Lab Pengajaran PMP IKIP Bandung.

----------------,(1992) Dasar-dasar Metodologi Pengajaran. Bandung: Lab Pengajaran PMP IKIP Bandung.

Krathwohl, dkk (1977) Taxonomy of Educational Objectives, Handbook II : affective domain, New York : Mckay

Krugg, M.M (1982) Hiestory and the social sciences : New approach to the teaching of social science. Waltham, Massachussetts : Blaisdell Publishing

Mathew B. Milles and A. Michael Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif (terjemahan). Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Shaver, J.P. (1991) Handbook of Research on Social Studies Teaching and Learning. NY: McMillan Publishing Co.

Skeel, Dorothy J. (1994). Elementary Social Studies: Challenges for Tommorrows World. USA: Harcourt Brace and Co.

Schuncke, George M. (1988). Elementary Social Studies: Knowing, Doing, Caring. NY: McMillan Pub. Co.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 ; Baltbang Depdiknas Jakarta

Sukamto, (1994) Panduan Penelitian Tindakan: Sri Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Lembaga penelitian IKIP Yogyakarta. Suwarma Al Muchtar, (1992) Pengembangan Kemampuan Berfikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS (Disertasi) Tidak Diterbitkan. Bandung.

Suwarsih, Madya, dkk.(1994) Panduan Penelitian Tindakan. Jogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Jogyakarta.

Semiawan. Conny R. (1996) Pendidikan IPS Ditinjau dari Perspektif Pendidikan. Jakarta: Dedikbud.

Sumantri, M. Numan. (1996). Pendidikan IPS ditinjau dari Perspektif Aktualisasinya: Strategi dan Pengembangan Pendidikan IPS dalam Menghadapi Abad XXI jakarta: IKIP Jakarta.

Suwarsih, Madya, dkk.(1994) Panduan Penelitian Tindakan. Jogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Jogyakarta.

Shaver, J.P. (1991) Handbook of Research on Social Studies Teaching and Learning. NY: McMillan Publishing Co.

Weiner,B. (1979) Theory of Motivation for Some Classroom Experiences, Journal of Abnormal Psychology, 71, 1-12

Weiner,B. (1986) Attribution Theory and Attribution Therapy : Some Theoritical Observation and Suggestions. British Journal of Clinical Psychology, 27, 93-104.

Weiner,B.(1990) History of Motivational Research in Education, Journal of Personality and Social Psychology, 55, 738-748

Weiner,B. (1992) Motivation dalam Marvin C. Alkin.(Ed), Encyclopedia of Educatiol Research, 3, 860 865.