Anda di halaman 1dari 13

1

Uji LD50 (LETHAL DOSE) SIPERMETRIN (SUTRIN 100ec) PADA TIKUS

Lisa Narulita, Dita Febrinasari, Dhinul Choir, Inayah Jurusan S1 Farmasi, Ilmu
Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang.

ABSTRAK

Pestisida merupakan suatu zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk
mengendalikan, mencegah dan menangkis gangguan serangga, binatang
pengerat, jasad renik yang dianggap hama serta semua zat atau campuran zat
yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman dan pengering tanaman.
Pestisida dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain adalah insektisida (racun
serangga), rodensida (racun tikus), fungisida (racun jamur), herbisida (racun
rumput), dan fumigan. Pestisida (Sipermetrin) bersifat toksik, pada mamalia efek
utama yang menimbulkan adalah menghambat asetilkolin esterase yang
menyebabkan aktifitas kolinergik yang berlebihan perangsangan reseptor
kolinergik secara terus menerus akibat penumpukan asetilkolin yang tidak
dihidrolisis. Penghambatan asetilkolin esterase juga menimbulkan polineuropati
(neurotoksisitas) mulai terbakar sampai kesemutan, terutama dikaki akibatnya
kesukaran sensorik dan motorik dapat meluas ketungkai dan tangan (terjadi
ataksia). Penilaian keamanan obat / zat kimia perlu dilakukan untuk menetukan
seberapa toksik zat tersebut untuk manusia. Hal tersebut dapat dilakukan dengan
tahap berikut: pertama; menentukan LD50, kedua; melakukan percobaan
toksisitas subakut dan kronis untuk menentukan no effect level. ketiga; melakukan
percobaan karsinogenitas, teranogenitas dan mutagenesis yang merupakan
bagian dari penyaringan rutin keamanan.

Kata kunci :Pestisida (Sipermetrin), asetilkolin, Penilaian keamanan.

PENDAHULUAN

Penilitian dari kasus-kasus yang dirawat di rumah sakit di kota-kota besar


di 14 propinsi di Indonesia selama periode 1979-1983 menunjukkan bahwa dari
8554 kasus keracunan yang dirawat 2386 diantaranya adalah keracunan pestisida.
penyebab terjadinya keracunan pestisida sebagian besar 73% adalah akibat
percobaan bunuh diri dan 4,8% karena tidak disengaja (accidental poisoning),
sedangkan karena kecelakaan kerja hanya 3,5%. pestisida yang paling banyak
menimbulkan keracunan berturut-turut adalah insektisida rumah tangga
(campuran karbamat dengan organofosfat atau piretroid) 68%; organofosfat
17,7%; rodentisida 6,5%; organoklorin 4,3%; karbamat 1,1%; dan parakuat 0,3%.
Penelitian pada tahun 1985-1986 menunjukkan telah terjadi keracunan di
kalangan petani pemakai pestisida, antara lain di Brebes 85,7 % dan di Klaten
2

54,8%, di Yogyakarta 17,0%4, di Tulungagung/Jatim 31%, di Karo Sumatera


Utara 38%, di Malang 11%, di Banyuwangi/Jatim 30%, dan di Bandung 12,3%
maka Setiap tahun Pemeritah berusaha menekan pemakaian pestisida (Kusnindar,
SKM. Departemen Kesehatan R.I., Jakarta). Maka pemeritah melakukan
penetapan tentang pengawasan atas peredaran, penyimpangan dan penggunan
pestisida diatur oleh peraturan pemerintah No.7 tahun 1973. Sementara itu, syarat
dan tata cara pendaftaran pestisida diatur oleh keputusan Menteri Pertanian
No.434.1 / Kpts / TP.270 / 7 / 2001 (Panut Djojosumarto, Panduan Lengkap
Pestisida & Aplikasinya 2008).
Salah satu tujuan melakukan uji toksisitas akut adalah untuk menentukan
LD50. LD50 (lethal dose 50) adalah dosis yang menimbulkan kematian pada 50%
individu. Uji toksisitas akut tidak hanya bertujuan untuk menentukan nilai LD50,
tetapi juga untuk melihat berbagai perubahan tingkah laku, adakah stimulasi atau
depresi SSP, perubahan aktivitas motorik dan pernapasan tikus, serta untuk
mendapat gambaran tentang kematian. Oleh sebab itu, uji toksisitas ini harus
dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium klinik dan pembuatan sediaan
histologik dari organ yang dianggap dapat memperlihatkan kelainan. Kematian
yang timbul oleh kerusakan pada hati, ginjal atau sistem hematopoisis tidak akan
terjadi pada hari pertama tapi timbul paling cepat pada hari ketiga (Katzung, BG.
2002).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan selama satu bulan terhitung sejak bulan November
sampai Desember 2008 di Laboratorium Farmakologi Universitas
Muhammadiyah Malang. Metode yang digunakan dalam penelitin ini adalah true
experiment. Populasi dalam penelitian ini adalah menggunakan binatang uji tikus
putih. Penelitian dilakukan dengan 15 perlakuan: dosis 25 mg/Kgbb, 100
mg/Kgbb, 400 mg/Kgbb. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali.
Perlakuan tersebut diamati respon postur tubuh, aktivitas motorik, ataksia,
righting reflex, tes kasa, analgesia, ptosis dan kematian pada tiap menit ke 5; 10;
15; 30; dan 60. Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode SPSS.
Tahap pertama menganalisis data yang diperoleh dari hasil penelitian untuk
3

mengetahui onset of action (mula kerja) dari perubahan perilaku. Tahap kedua
penentuan LD50 (dosis mati) dan tahap ketiga pembuatan persamaan garis regresi
y = a + bx. Parameter yang digunakan untuk menilai efek peracunan pestisida
terhadap mamalia dan manusia adalah nilai LD50 (lethal dose 50 %) yang
menunjukkan banyaknya pestisida dalam miligram (mg) untuk tiap kilogram (kg)
berat seekor binatang-uji, yang dapat membunuh 50 ekor binatang sejenis dari
antara 100 ekor yang diberi dose tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pada binatang uji tikus putih yang berada didalam
ruangan (laboratorim) dengan suhu kamar (270C). Dengan menyiapkan sonde
yang berisi Sutrin100ec untuk masing-masing tikus dengan dosis 25 mg/kgBB,
100 mg/kgBB, 400 mg/kgBB kemudian pegang tikus dalam posisi telentang
secara nyaman dengan memberikan Sutrin 100 ec personde pada masing-masing
tikus. Setelah itu, mengamati perubahan perilaku masing-masing tikus (seperti
yang tertera pada tabel).

Tabel 1. Hasil Uji Tikus dengan Derbandingan Berat Badan dan Dosis:
0,153 kg / 0,0763 cc; 0,177 Kg / 0,354 cc dan 0,181 Kg /1,448 cc.
menit Nomor Postur Aktivita Ataksia Righting Test analgesik ptosis mati
experiment tubuh s motor reflex kasa
5 1 + + - - + - -
2 + + - - + - -
3 +++ ++ +++ ++ +++ + + -
10 1 + + - - + - -
2 + + - - + - -
3 +++ +++ +++ ++ +++ + + -
15 1 + + - - + - -
2 + + + - + - -
3 +++ ++++ +++ ++ +++ + ++ -
30 1 + + + - + - -
2 ++ + ++ - ++ - -
3 +++ +++ +++ ++ +++ + ++ -
60 1 + + - - + - -
2 ++ + ++ - ++ - -
3 +++ +++ +++ ++ ++++ ++ +++ +
4

Menentukan onset of action dari perubahan perilaku


Hewan coba I: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan ataksia pada menit ke-30
mulai mengalami perubahan. Sedangkan, pada pengamatan yang lain tidak
mengalami perubahan perilaku.
Hewan coba II: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan postur tubuh pada menit
ke-30, ataksia pada menit ke-15 dan test kasa pada menit ke-30 mulai mengalami
perubahan. Sedangkan, pada pengamatan yang lain tidak mengalami perubahan
perilaku.
Hewan coba III: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan setelah obat diberikan
pada menit ke-5 dan pada menit ke-60 ptosis sudah mengalami perubahan pada
semua pengamatan.

Tabel 2.Hasil Uji Tikus dengan Perbandingan Berat Badan dan Dosis: 0,167
kg / 0,083 cc ; 0,185 Kg / 0,378 cc dan 0,199 Kg /1,592 cc.
menit Nomor Postur Aktivita Ataksia Righting Test analgesik ptosis mati
experiment tubuh s motor reflex kasa
5 1 + + - - + - -
2 + + + - + - -
3 +++ +++ +++ ++ ++++ + + -
10 1 + + - - + - -
2 ++ + + - + - -
3 +++ ++++ +++ ++ ++++ + ++ -
15 1 + + - - + - -
2 ++ ++ ++ + ++ - -
3 +++ ++++ +++ ++ +++ + ++ -
30 1 + + + - + - -
2 ++ ++ +++ + ++ - -
3 +++ ++++ +++ ++ +++ + ++ -
60 1 + + - - + - -
2 + ++ - + +++ + -
3 +++ +++ +++ ++ ++++ ++ +++ +

Menentukan onset of action dari perubahan perilaku


Hewan coba I: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan aktivitas motor, ataksia
pada menit ke-15 mulai mengalami perubahan. Sedangkan pada pengamatan yang
lain tidak mengalami perubahan perilaku.
Hewan coba II: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan ataksia pada menit ke-15
mulai mengalami perubahan pad ataksia, righting reflex, test kasa dan analgesik
5

pada menit ke-60, Sedangkan pada pengamatan yang lain tidak mengalami
perubahan perilaku.
Hewan coba III: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan dan pada menit ke-60
sudah mengalami perubahan antara analgesik dan ptosis.

Tabel 3.Hasil Uji Tikus dengan Perbandingan Berat Badan dan Dosis: 0,172
kg / 0,086 cc ; 0,222 Kg / 0,444 cc dan 0,224 Kg /1,792 cc.
menit Nomor Postur Aktivita Ataksia Righting Test analgesik ptosis mati
experiment tubuh s motor reflex kasa
5 1 + + - - + - -
2 + + + - + - -
3 - - - - - - - +
10 1 + + - - + - -
2 ++ ++ ++ - + - -
3 - - - - - - - -
15 1 + + + - + - -
2 ++ ++ ++ - + + -
3 - - - - - - - -
30 1 + + + - + + -
2 ++ ++ +++ - + + -
3 - - - - - - - -
60 1 + + + - + + -
2 + + - - + - -
3 - - - - - - - -

Menentukan onset of action dari perubahan perilaku


Hewan coba I: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan ataksia pada menit ke-15
dan analgesik pada menit ke-30, mulai mengalami perubahan. Sedangkan, pada
pengamatan yang lain tidak mengalami perubahan perilaku.
Hewan coba II: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan aktivitas motor, ataksia
pada menit ke-10 dan anlagesik pada menit ke-15 mulai mengalami perubahan.
Sedangkan, pada pengamatan yang lain tidak mengalami perubahan perilaku.
Hewan coba III: dianggap gagal karena kesalahan dalam mensonde.
6

Tabel 4.Hasil Uji Tikus dengan Perbandingan Berat Badan dan Dosis: 0,145
kg / 0,077 cc ; 0,178 Kg / 0,356 cc dan 0,191 Kg /1,528 cc.
menit Nomor Postur Aktivita Ataksia Righting Test analgesik ptosis mati
experiment tubuh s motor reflex kasa

5 1 + + - - + - -
2 + + + - + - -
3 +++ +++ +++ ++ ++++ + +
10 1 + + - - + - -
2 + + + - + - -
3 +++ ++++ +++ ++ ++++ + ++
15 1 + + - - + - -
2 + + + - + - -
3 +++ ++++ +++ ++ ++++ + ++
30 1 + + + - + - -
2 + + +++ - + - -
3 +++ ++++ +++ ++ ++++ + ++
60 1 + + - - + - -
2 + + - - + - -
3 +++ ++++ +++ ++ ++++ ++ ++ +

Menentukan onset of action dari perubahan perilaku


Hewan coba I: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan ataksia pada menit ke-30
mulai mengalami perubahan. Sedangkan, pada pengamatan yang lain tidak
mengalami perubahan perilaku.
Hewan coba II: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan ataksia pada menit ke-5
mulai mengalami perubahan. Sedangkan, pada pengamatan yang lain tidak
mengalami perubahan perilaku.
Hewan coba III: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan setelah obat diberikan
pada menit ke-5 sudah mengalami perubahan pada semua pengamatan dan mati
pada menit ke-60.
7

Tabel 5.Hasil Uji Tikus dengan Perbandingan Berat Badan dan Dosis: 0,202
kg / 0,101 cc ;0,194 Kg / 0,388 cc dan 0,265 Kg /2,12 cc.

Men Nomor Postu Aktivit Ataksi Rightin Test Analgesi ptosi mati
it experime r as a g kasa a s
nt tubuh motor reflex
5 1 + + - - + + - -
2 + ++ + - + - - -
3 + ++ + - + - - -
10 1 + + - - + + - -
2 ++ +++ + - + + - -
3 ++ +++ + - + + - -
15 1 + ++ - - + + - -
2 ++ +++ + - + + - -
3 ++ +++ + - + + - -
30 1 + ++ - - ++ + - -
2 ++ +++ + - + + + -
3 ++ ++++ ++ - +++ ++ - -
60 1 ++ ++ - - +++ + - -
2 ++ +++ + - + + + -
3 ++ ++++ +++ - +++ ++ + -

Menentukan onset of action dari perubahan perilaku


Hewan coba I: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan postur tubuh pada menit
ke-60 mulai mengantuk, aktivitas motornya stabil Sedangkan, pada pengamatan
yang lain tidak mengalami perubahan perilaku.
Hewan coba II: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan postur tubuh dan
aktivitas motor pada menit ke-10, serta ptosisnya pada menit-30 mengalami
perubahan. Sedangkan, pada pengamatan yang lain tidak mengalami perubahan
perilaku.
Hewan coba III: mula kerja dapat dilihat dari pengamatan postur tubuh dan
aktivitas motor setelah obat diberikan pada menit ke-10 sudah mengalami
perubahan pada semua pengamatan.

KETERANGAN
1. Postur tubuh
+ =jaga =kepala dan pungung tegak
++ =ngantuk =kepala tegak,punggung mulai datar
+++ =tidur =kepala dan punggung datar
8

2. Aktivitas motor
+ =gerak spontan
++ =gerak spontan bila dipegang
+++ =gerakan menurun saat dipegang
++++ =tidak ada gerak spontan pada saat dipegang
3. Ataksia=gerakan berjalan inkoordinasi
+ =inkoordinasi terlihat kadang-kadang
++ =inkoordinasi jelas terlihat
+++ =tidak dapat berjalan lurus
4. Righting reflex
+ =diam pada satu posisi miring
++ =diam pada dua posisi miring
+++ =diam pada waktu terlentang
5. Test kasa
+ =tidak jatuh apabila kasa dibalik dan digoyang
++ =jatuh apabila kasa dibalik
+++ =jatuh apabila kasa 90
++++ =jatuh apabila kasa 45
6. Analgesia
+ =respon berkurang pada saat telapak kaki dijepit
++ =tidak ada respon pada saat telapak kaki dijepit
7. Ptosis
+ = ptosis kurang dari ½
++ =½
+++ =seluruh palpebra tertutup
Dicatat causa kematian respirasi atau kardio arrest
LD50 (dosis mati) dari data seluruh

dosis Respon tikus (+/-) pada tikus no % indikasi yg berespon


1 2 3 4 5
25 mg - - - - - 0%
100 mg - - - - - 0%
400 mg + + * + - 60%

ket * : ( gagal )
9

Menentukan LD50 dengan menggunakan persamaan garis regresi:


Y= a + bx Supermetrin

PERHITUNGAN DOSIS :

grafik LD50

70
% indikasi yg berespon

60
50
40
Series1
30
20
10
0
0 200 400 600
dosis

Y = 0,9820 a = 0,1714 b =10


Y = a + bx 1 cc ~ 50 mg
0,9820 = 0,1714 – 10 x 0,02 cc ~ 1 mg

Dari data praktikum semua kelompok didapatkan bahwa hewan coba yang
mempunyai jenis kelamin yang sama dan dari jenis spesies yang sama pula,
setelah diberikan pestisida pada hewan coba secara personde dengan tiga dosis
yang berbeda yakni 25 mg, 100 mg, 400 mg didapatkan hasil yang berbeda. Pada
dosis 25 mg dan 100 mg pada hewan coba semua kelompok tidak didapatkan
hewan coba yang mati (% indikasi yang berespon = 0 %). Dan pada dosis 400 mg
dari ke-5 kelompok terdapat hanya satu hewan coba yang masih hidup (% indikasi
yang berespon = 60 %). Adanya hewan coba yang hidup itu diakibatkan karena
faktor variasi individu, metabolisme, mekanisme absorbsi, perbedaan genetika dan
berat badan yang berbeda. Pada praktikum setelah pemberian Supermetrin dosis
400 mg secara personde hewan coba tidak langsung mati dalam seketika akan
tetapi dari pengamatan postur tubuh, aktivitas motor, ataksia, refleting reflax, test
kasa, analgesia, pstosis langsung terlihat berbeda secara signifikan dari keadaan
10

normal.Dari hasil data keseluruhan kelompok didapatkan persamaan regresi y = a


+ bx;0,9820 = 0,1714 -10x dan dari hasil perhitungan serta grafik linieritas di
dapat dosis LD50 (dosis mati) = 350.
Efek toksik dari pestisida tersebut terlihat dari perubahan tingkah laku
berupa penurunan kesadaran yaitu postur tubuh (mengantuk), penurunan aktifitas
motor, ataksia, tes kasa, dan kematian. Efek toksik pestisida yang lain adalah
hipersalivasi, kontraksi ginjal, miosis, depresi pernafasan. Hal ini disebabkan oleh
mekanisme kerja pestisida yang menghambat pengeluaran asetilkolin esterase
pada aktifitas kolinergik sehingga reseptor kolinergik merangsang pengeluaran
asetilkolin terus menerus tanpa dihidrolisis yang menyebabkan terjadinya
akumulasi asetilkolin. Toksisitas pestisida sangat tergantung pada cara masuknya
pestisida kedalam tubuh.Pada pemberian pestisida secara peroral pada tikus
ditemukan LD50 terletak pada dosis 250 mg/KgBB. Semakin tinggi LD50 suatu zat
menunjukkan bahwa pestisida yang bersangkutan tidak begitu berbahaya bagi
manusia.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dapat ditarik kesimpulan, bahwa pestisida bersifat


toksik bahkan sampai dapat menyebabkan kematian. Pada mamalia efek utama
yang ditimbulkan adalah menghambat asetilkolin esterase yang menyebabkan
aktifitas kolinergik yang berlebihan perangsangan reseptor kolinergik secara terus
menerus akibat penumpukan asetilkolin yang tidak dihidrolisis sehingga
penghambat asetilkolin esterase juga menimbulkan polineropati (neurotoksisitas)
mulai terbakar sampai kesemutan, terutama dikaki akibatnya kerusakan sensorik
dan motorik dapat meluas ketungkai dan tangan (terjadi ataksia).
Dengan demikian, LD50 (Lethal Dose 50) merupakan dosis yang
menimbulkan kematian pada 50% individu. Dari hasil praktikum kami didapatkan
bahwa hewan LD50% = 350

UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak
terutama:
11

 dr.Fathiyah Safithri ahli Farmakologi Universitas Muhammadiyah Malang


yang telah menyempatkan waktunya untuk diskusi terbatas dengan
penulis/peneliti.
 Hidajah Rachmawati.S.Farm,Apt.SpFRS selaku dosen pembimbing.
 Segenap jajaran Laboratorium Farmakologi UMM dan Laboratorium
UMM yang telah membantu menyediakan tempat dan literatur.

DAFTAR PUSTAKA

Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1999. 2001.


Farmakologi dan Terapi Edisi-4. Jakarta : Gaya Baru. Hal 122-138.

Dr.rer.nat.Dr.med Ernst mutschchler.1991.Dinamika Obat Farmakologi dan


Toksikologi Edisi ke-5.Bandung: ITB.Hal 77-85.

Djojosumarto, Panut. 2008. Panduan Lengkap Pestisida & Aplikasinya.


Surabaya : AgroMedia.Hal 89-128.

Katzung, BG. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik ed 8. Jakarta : Salemba


Medika. Jakarta.Hal 130-154.

Kusnindar, SKM.Staf Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Departemen


Kesehatan R.I., Jakarta. download dari www.media Indonesia.com tanggal 23
desember 2008 pukul 18.00 WIB.

Shargel,Leon.1988.Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi ke-2.


Surabaya: Airlangga University Press.Hal 95-100

Tjay, T.H, Rahardja. 2002. Obat – obat penting khasiat, penggunaan, dan efek–
efek sampingnya. Jakarta: Elex Media Komputindo. Hal 376-382.

Undang-Undang .Keputusan Menteri Pertanian .Nomor :


222/Kpts/SR.140/4/2004.Di download dari www.undang-undang Indonesia.com
tanggal 27 desember 2008 pukul 13.00 WITA.
12

LAMPIRAN
Biodata Penulis Utama Dan Anggota
a. Penulis Utama
Nama Lengkap : Lisa Narulita
NIM : 06040026
Tempat Tanggal Lahir : Sampang 30 oktober 1987
Alamat : Desa kramat RT1 RW1 Tlanakan Pamekasan
Telp/HP : 085334007004
Pendidikan : 1. SD Tanjung II Camplong lulus tahun 2000
2. SLTP Negeri 1 Tlanakan Pamekasan lulus
tahun 2003
3. SMU Negeri 1 Pamekasan lulus tahun 2006
4. S1 Farmasi UMM sampai sekarang
Aktivitas Non Akademik:
- Sekretaris HMJ Farmasi UMM tahun 2006-2007
- Donatur Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi
se- JATIM Bali tahun 2008
- Anggota Beasiswa Djarum tahun 2008-2009

b. Anggota Penulis
. Nama Lengkap : Dita Febrinasari
NIM : 06040005
T.T.Lahir : Singkawang, 8 Februari 1988
Alamat : Jl. kenari no12 sukun malang
Telp/HP : 087859154522
Pendidikan : 1. SDN 05 Roban Singkawang
2. SLTP Negeri 3 Singkawang lulus tahun 2003
3. SMA Negeri 1 Singkawang lulus tahun 2006
4. S1 Farmasi UMM sampai sekarang
Aktivitas Non Akademik:
- Donatur Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi se-JATIM Bali
tahun 2008
13

2. Nama Lengkap : Dhinul Choir


NIM : 06040033
T.T.Lahir : Jakarta 13 januari 1988
Alamat : Jl.Sumber Sari No.292D malang
Telp/HP : 08889837900
Pendidikan :
1. MI Raudatul Falah jakarta
2. MTs.N 21 lulus tahun 2003
3. MAN 9 jakarta lulus tahun 2006
4. S1 Farmasi UMM sampai sekarang

3. Nama Lengkap : Inayah


NIM : 07040002
T.T.Lahir : Pamekasan, 13 Maret 1989
Alamat : Jl. Peayaman I/5 Pamekasan Madura
Telp/HP : 081931012442
Pendidikan :
1. SDI Al-Munawwarah lulus tahun 2001
2. SLTP Negeri 4 Pamekasan lulus tahun 2004
3. SMU Negeri 1 Pamekasan lulus tahun 2007
4. S1 Farmasi UMM sampai sekarang
Aktivitas Non Akademik:
- Tim kesehatan Fikes 2008-2009