Anda di halaman 1dari 22

Referat

KOLITIS
Oleh: Mohammad Taufiq Alamsyah, Sked.

Pembimbing: dr. Yuniza, SpPD.

Latar Belakang

Kolitis adalah peradangan akut atau kronik yang mengenai kolon. Terbagi atas:
Infeksi Kolitis amebik Shigelosis Kolitis tuberkulosa Kolitis pseudomembran Kolitis karena virus/bakteri/parasit lain seperti Eschericia coli Non infeksi Kolitis ulseratif Penyakit Crohns Indeterminate colitis Kolitis radiasi Kolitis iskemik

Gejala kolitis infeksi hampir sama dengan kolitis non infeksi. Untuk mendiagnosis kolitis diperlukan pemeriksaan penunjang berupa endoskopi yaitu kolonoskopi, rektosigmoidoskopi atau sigmoidoskopi untuk menegakkan diagnosis.

Kolitis Infeksi

Kolitis amebik
Infeksi pada kolon yang disebabkan oleh protozoa Entamoeba hystolytica (E. hystolytica). Diperkirakan sekitar 10% populasi dunia terinfeksi. Prevalensi tertinggi adalah di daerah tropis, yaitu sekitar 50-80%. Gejala : 90% asimptomatik;
Derajat : karier, ringan, sedang, berat, kronik.

Amebisidal:
Iodoquinol Tetrasiklin Metronidazol Emetin

Shigelosis
Infeksi akut pada ileum terminalis dan kolon yang disebabkan oleh bakteri genus Shigella. Terdapat 4 spesies Shigella dengan berbagai serotipenya, yaitu S. dysentriae, S. boydii, S. flexneri, dan S. Sonnei Gejala klinis: nyeri pada abdomen bawah, rasa panas pada rektal, dan diare yang sering disertai lendir serta darah, kejang. Diagnostik baku emas: kultur tinja. Tatalaksana : rehidrasi dan antibiotik (ampicillin, kotrimoksazol, tetrasiklin)

Kolitis Tuberkulosa.
Infeksi kolon oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Gejala klinis : tidak khas (diare ringan tercampur darah, konstipasi, anoreksia, demam ringan, penurunan berat badan dan terdapat massa abdomen kanan bawah). Diagnosis baku emas : Ditemukannya kuman M. tuberculosis melalui pemeriksaan mikroskopik langsung ataupun kultur biopsi jaringan Tatalaksana : sama dengan TB paru.

Kolitis Pseudomembran
Peradangan kolon akibat toksin yang ditandai dengan terbentuknya lapisan eksudatif (pseudomembran) yang lekat di permukaan mukosa. Disebut pula sebagai kolitis terkait antibiotik sebab umumnya timbul setelah menggunakan antibiotik. 75-90% kuman adalah Clostridium difficile. Gejala timbul setela 3-9 hari penggunaan antibiotik. Diagnosis : kultur feses, pemeriksaan toksin kuman dan kolonoskopi. Sebagai gold standard adalah ditemukannya toksin B (sitotoksin) pada tinja. Tatalaksana : stop antibiotik, berikan

Kolitis akibat Escherichia coli


Gastroenteritis yang disebabkan oleh strain bakteri Escherichia coli (E.coli), yang menginfeksi usus besar dan menghasilkan racun (toksin) yang secara tibatiba. Stereotype E. Coli yang dapat menyebabkan kolitis adalah E. Coli 0157:H7. Gejala : asimtomatik, diare tanpa darah, diare berdarah (kolitis hemoragika), purpura trombositopenia. Diagnosis pasti : Ditemukannya strain E. Coli 0157:H7 melalui kultur tinja menggunakan agar MacConkey. Kira-kira 5% dari orang yang terinfeksi E.coli berkembang menjadi SHU yang gejalanya terdiri dari: - anemia karena penghancuran sel darah merah (anemia hemolitik) - trombosit yang menurun (trombositopenia) - gagal ginjal akut.

Inflamatory bowel disease (IBD)

Kolitis ulseratif
Suatu penyakit inflamasi menahun yang mengenai kolon dan rektum dengan karakteristik eksaserbasi intermiten dan remisi. Biasanya dimulai di rektum atau kolon sigmoid, menyebar --> pankolitis. Gejala yang sering ditemukan berupa diare berdarah dan kram perut.

Diagnosis :
Berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan tinja. Pemeriksaan penunjang : sigmoidoskopi dan kolonoskopi.

Tatalaksana:
5-aminosalicyclic acid (5-ASA), seperti sulfasalazin, olsalazin, mesalamin dan balsalazid Obat Imunosupresif, seperti azatioprin dan 6-merkapto purin (6-MP) Kortikosteroid, seperti prednison, metilprednison dan hidrokortison

Indikasi pembedahan pada kolitis ulseratif


Emergensi : perforasi kolon, perdarahan masif dan kolitis fulminan yang gagal bersepon dengan terapi medis Elektif : kanker kolon, penyakit menahun yang tidak sembuh-sembuh sehingga membuat penderita tergantung kepada kortikosteroid dosis tinggi.

Penyakit Chron
Seperti kolitis ulseratif. Terdapat 3 gejala khas:
Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di perut kanan bawah, malabsorpsi, penurunan berat badan. Fibrostenotik (striktur) gejala awal penyumbatan parsial, berupa nyeri hebat di dinding usus, nausea, muntah, kembung dan distensi perut. Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung infeksi berisi nanah (abses), yang sering menyebabkan diare profus, demam, adanya massa dalam perut yang terasa nyeri.

Gejala klasik dari penyakit Crohn adalah nyeri kolik perut kanan bawah dan diare.

Diagnosis :
Berdasarkan pemeriksaan laboraturium: gejala-gejala dan hasil tinja. Pemeriksaan

Leukositosis dan trombositosis ringan, anemia dan peningkatan laju endap darah. Hipoalbuminemia menunjukkan keadaan yang berat dan kronik.

Penemuan khas pada pemeriksaan barium enema : skip lesions, cobblestone appearance dan penyempitan lumen usus (string sign).

Perbedaan Gambaran klinis penyakit perianal Fistula Abses Striktur Toksik megakolon

Kolitis ulseratif

Penyakit Crohn

jarang jarang jarang jarang sering

sering (1/3 pasien) sering (>40% pasien) 20% pasien sering jarang

Kolonoskopi Keterlibatan rektum Pola

selalu jarang kontiniu, perluasan ke diskontiniu (skip lesion) arah proksimal dari rektum jarang 75% pasien

Radiologis Keterlibatan ileum


Histopatologi Kedalaman inflamasi Granuloma

biasa terbatas pada Transmural mukosa dan submukosa, 20% dari endoskopi kecuali kolitis fulminan hanya pada kripta pada

biopsi

Kolitis radiasi.
Penyakit peradangan kolon sebagai komplikasi abdominal dan pelvis akibat terapi radiasi terhadap kanker ginekologi (karsinoma serviks), urologi (karsinoma prostat, kandung kemih dan testis) serta rektum. Gejala umum :
Gejala akut berupa mual, muntah-muntah, diare dan tenesmus. Terjadi dalam 6 minggu setelah radiasi. Gejala kronik berupa hematoskezia, diare, kolik dan tenesmus. Terjadi dalam 2 tahun pasca radiasi, umumnya 6-9 bulan setelah terapi radiasi selesai.

Pada umumnya terapi dimulai pemberian steroid enema, sulfasalazin/mesalazin dan

Kolitis Iskemik
Inflamasi kolon yang disebabkan oleh inadekuat suplai darah ke kolon. Gejala klinis:
Nyeri perut (78%) Perdarahan saluran cerna bawah (62%) Diare (38%) Demam lebih tinggi dari 38oC (34%)

Diagnosis kolitis iskemik ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Hasil laboratorium menunjukkan leukositosis (>15.000/mm3) dan penurunan kadar bikarbonat <24 mmol/L.

Tatalaksana :
IVFD (Intravenous fluid drift) Puasa Antibiotik Analgesik

Simpulan
Kolitis dapat diklasifikasikan menjadi kolitis infeksi dan non infeksi. 2. Kolitis infektif terdiri dari kolitis amebik, shigelosis, kolitis tuberkulosa, kolitis pseudomembran dan kolitis oleh parasit serta bakteri lain seperti E. coli. 3. Kolitis noninfektif antara lain berupa kolitis ulseratif, penyakit Crohn, kolitis radiasi, kolitis iskemik, kolitis mikroskopik, maupun kolitis nonspesifik. 4. Pemeriksaan endoskopi dapat membantu dalam menegakkan diagnosis masingmasing kolitis.

Daftar Pustaka

Oesman N. Kolitis Infeksi. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2007. 368-72

Sing J. Colitis 2006; http://emedicine.medscape.com [Diakses tanggal 7 April 2009]


Mangesti U, Simanibrata M. Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Kolitis Infektif dengan Komplikasi Hematokezia; klinikmedis.com/archive/artikel/art_diag_kolitis_infektif [Diakses tanggal 7 April 2009] Reed SL. Amebiasis and Infection with Free-Living Amebas. In: Harrisons Principles of Internal Medicine. 16th Edition. USA: McGraw-Hill, 2005.1214-8 Keusch GT. Shigellosis. In: Harrisons Principles of Internal Medicine. 16th Edition. USA: McGraw-Hill, 2005. Naval GR, Chua ML. Diagnosis of Intestinal Tuberculosis Among Patients with Chronic Diarrhea : Role of Intubation Biopsy; http://www.psmid.oiy.ph/vol27/vol27numltopics.pdf [Diakses tanggal 7 April 2009] Aditama TY, dkk. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006. Theresia E. Kolitis Pseudomembran; http://health.dir.groups.yahoo.com [Diakses tanggal 7 April 2009] Kolitis Hemoragika; http://medicastore.com [Diakses tanggal 7 April 2009] Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Pollack RE. Schwartzs Principles of Surgery. 8th Edition. 1076-81

Djojoningrat D. Inflamatory Bowel Disease: Alur Diagnosis dan Pengobatannya di Indonesia. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2007. 384-8 The National Digestive Diseases Information Clearinghouse (NDDIC). Ulcerative Colitis 2006; http://digestive.niddk.nih.gov [Diakses tanggal 7 April 2009] Kolitis Ulseratif; http://medicastore.com [Diakses tanggal 7 April 2009] Judge TA, Lichentenstein. Inflamatory Bowel Disease. In: Friedman SL, McQuaid KR, Grendell JH (ed). Current Diagnosis & Treatment in Gastroenterology. 2nd Edition. Singapore: McGraw Hill, 2006. 10830 Geboes K, Jouret A. Macroscopy and Microscopy the Inflamatory Bowel Disease (IBD); http://documents.irevues.inist.fr/bitstream [Diakses tanggal 7 April 2009] Penyakit Crohn (Enteritis Regionalis, Ileitis Granulomatosa, Ileokolitis); http://medicastore.com [Diakses tanggal 7 April 2009] Makmun D. Kolitis radiasi. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2007. 379 Ischemic Colitis; http//www.wikipedia.org [Diakses tanggal 7 April 2009] Rasyad SB. Penyakit Vaskular Mesenterika. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I dkk, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid