Anda di halaman 1dari 12

Def, fungsi, Alur pembuatan ver

VISUM ET REPERTUM
Terhadap suatu perkara, di dalam sidang pengadilan penghimpunan alat bukti merupakan bagian penting utk memberikan keyakinan pd hakim dlm pengambilan keputusan hukum. Alat bukti yang sah, antara lain: 1.Pengakuan terdakwa 2.Keterangan saksi/saksi ahli 3.Alat bukti petunjuk 4.Alat bukti terdakwa

KETERANGAN AHLI
Keterangan ahli (KUHAP Ketentuan Umum pasal 1

butir 28) adalah keterangan yang diberikan oleh


seorang yang memiliki keahlian khusus tentang

hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu


perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan Keterangan ahli (KUHAP pasal 186) ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

KETERANGAN AHLI
Lisan
yang disampaikan saksi ahli dlm kesaksiannya di dalam sidang pengadilan

Tertulis (Visum et repertum)


yaitu hasil pemeriksaan medis yang dilakukan oleh seorang dokter atau sebuah tim dokter dan ditujukan utk kepentingan peradilan sebagai sarana pembuktian.

Visum et Repertum untuk bidang psikiatri disebut

Visum et Repertum Psyciatricum

Fungsi VeRP
Membantu menentukan apakah terperiksa mengalami gangguan jiwa dengan upaya menegakkan diagnosis
Membantu menentukan kemungkinan adanya hubungan antara gangguan jiwa pada terperiksa dengan peristiwa hukumnya.

Membantu menentukan kemampuan bertanggung jawab pada terperiksa


Membantu menentukan cakap tidaknya terperiksa bertindak dalam lalu lintas hukum.

Alur Pembuatan VeR


Pelaku/korban tindak pidana Diduga menderita kelainan jiwa*

BAP Polisi

Institusi pelayanan kesehatan

Surat Permohonan pembuatan VeRP**

* Minta pendapat ahli


1. Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus. (KUHAP pasal 120 ayat 1). 2. Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya. (KUHAP pasal 65) 3. Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.(KUHAP pasal 180 ayat 1).

**Yang Berhak Menjadi Pemohon


1. Penyidik ( KUHAP pasal 120 ) : Polisi, KPK 2. Penuntut umum dalam hal tindak pidana khusus ( pasal 120, pasal 284) : Jaksa, KPK 3. Hakim pengadilan (pasal 180 ayat 1) 4. Tersangka/terdakwa/korban melalui pejabat sesuai dengan tingkat an proses pemeriksaan (pasal 65, pasal 180 ayat 1,2,3,4) 5. Penasehat hukum/pengacara melalui pejabat sesuai dengan tingkatan proses pemeriksaan ( pasal 180 ayat 1,2)

Alur Pembuatan VeR


Institusi Pelayanan Kesehatan Psikiater + tim pemeriksa (psikolog, dll)

Observasi 2 minggu

Penyusunan VeRP

Pemeriksaan tambahan

Jangka Waktu Observasi


UU Kesehatan Jiwa tahun 1965 menyebutkan : jangka waktu observasi antara 3 minggu sampai 6 bulan, yang didasarkan pada kemungkinan penyesuaian diri (adaptasi) terperiksa pada lingkungan perawatan. KUHAP berdasarkan atas Hak Asasi Manusia yang masa penahanan tidak boleh melebihi 90 hari maka jangka waktu observasi harus diperpendek. Pedoman pembuatan VeRP dari Direktorat Kesehatan Jiwa menyesuaikan jangka waktu observasi dengan yang ditentukan KUHAP.

Jangka waktu observasi


Tersangka diobservasi selama-lamanya 14 hari dan dapat diperpanjang bila diperlukan dengan persetujuan tertulis pemohon, dengan memperhatikan masa tahanan. Permohonan surat perpanjangan observasi dilakukan secara resmi dan tertulis

Selama observasi tidak dilakukan terapi, kecuali dalam keadaan darurat medik tertentu. Selama proses observasi, tersangka dilarang dibawa keluar dari sarana yankeswa kecuali untuk pemeriksaan penunjang medis.

Setelah proses observasi selesai, terperiksa harus dibawa kembali oleh instansi pemohon dan VeRP harus diserahkan dalam 7 hari pasca observasi selesai. Dokter/psikiater akan berusaha menerbitkan VERP dalam jangka waktu 14 hari kecuali diperlukan waktu yang lebih panjang dan dengan izin instansi yang meminta.