Anda di halaman 1dari 8

Pembahasan

A. Uji Tollens 1. Analisa Prosedur Pada uji tollens langkah pertama yaitu dimasukkan 1 ml larutan AgNO3 5% ke dalam tabung dengan menggunakan pipet ukur. Larutan AgNO3 ini adalah reagen berfungsi sebagai oksidator yang mengoksidasi sampel. Kemudian, ditambahkan beberapa tetes NaOH sampai endapan menghilang. NH4OH ini merupakan larutan yang dapat mencegah endapan perak. Lalu ditambahkan masing masing 1 ml sampel (aseton, fruktosa, glukosa, sukrosa dan formalin) ke dalam tabung reaksi menggunakan pipet ukur yang telah diberi label nama masing masing sampel. Pemberian nama pada pipet ukur ini penting dilakukan karena jika hanya ada satu pipet ukur digunakan maka larutan satu dengan larutan lain akan tercampur sehingga menyebabkan ketidakakuratan hasil pengamatan. Selanjutnya setiap tabung reaksi dipanaskan diatas pembakar bunsen kurang lebih selama dua menit. Pembakaran ini bertujuan untuk mempercepat reaksi karea jika suhu semakin tinggi maka energi kinetik pada larutan akan meningkat sehingga reaksi antara sampel dengan pereaksi juga semakin cepat. Lalu diamati perubahan yang terjadi pada tiap sampel dan dicatat sebagai hasil pengamatan. 2. Analisa Hasil Prinsip uji Tollens adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan menambahkan reagen Tollens yaitu AgNO3 dimana akan terjadi reaksi oksidasi reduksi. Gugus aldehid dioksidasi menjadi asam karboksilat sementara ion Ag+ dalam reagen tollens direduksi menjadi logam Ag. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding tabung reaksi. Reaksi umum antara aldehid dengan pereaksi Tollens adalah sebagai berikut O O RCH + Ag2O RCOH + 2Ag Pada saat sampel glukosa ditambahkan dengan NH4OH sebanyak 9 tetes larutan warna larutan bening. Kemudian glukosa ditambah dengan pereaksi tollens belum terbentuk cermin perak. Lalu, setelah dilakukan pemanasan antara gluktosa dan Ag2O terdapat cermin perak pada bagian tabung reaksi. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi reaksi positif dan di dalam glukosa terdapat gugus fungsi aldehid. Reaksi antara glukosa dengan Ag2O adalah sebagai berikut : D-glukosa + Ag2O asam karboksilat + 2Ag Pada saat sampel formalin ditambahkan dengan NH4OH sebanyak 11 tetes larutan warna larutan bening. Kemudian fruktosa ditambah dengan pereaksi tollens sudah terbentuk cermin perak pada bagian bawah tabung reaksi. Sehingga, pada formalin tidak dilakukan pemanasan karena tanpa pemanasan sudah menghasilkan uji postif . Reaksi positif ini menunjukkan bahwa di dalam formalin terdapat gugus fungsi aldehid. Reaksi antara formalin dengan Ag2O adalah sebagai berikut formalin + Ag2O asam karboksilat + 2Ag Pada saat sampel fruktosa ditambahkan dengan NH4OH sebanyak 11 tetes larutan warna larutan bening. Kemudian fruktosa ditambah dengan pereaksi tollens belum terbentuk cermin perak. Lalu, setelah dilakukan pemanasan antara fruktosa dan Ag2O terdapat cermin perak pada bagian bawah tabung reaksi. Hal

ini menunjukkan bahwa terjadi reaksi positif namun di dalam fruktosa tidak terdapat gugus fungsi aldehid. Hasil uji positif ini dikarenakan fruktosa merupakan gula pereduksi yang didalamnya mengandung gugus OH bebas. Gugus OH bebas ini akan berikatan dengan reagen sehingga membentuk cermin perak pada dasar tabung. Reaksi antara fruktosa dengan Ag2O adalah sebagai berikut Fruktosa + Ag2O asam karboksilat + 2 Ag Pada saat sampel aseton ditambahkan dengan NH4OH sebanyak 14 tetes larutan warna larutan bening. Kemudian aseton ditambah dengan pereaksi tollens belum terbentuk cermin perak. Lalu, setelah dilakukan pemanasan antara aseton dan Ag2O tidak terdapat cermin perak pada bagian bawah tabung reaksi. Hasil uji negatif ini menunjukkan bahwa di dalam aseton tidak terdapat gugus fungsi aldehid. Pada aseton terdapat gugus fungsi keton sehingga tidak terjadi reaksi antara aseton dengan Ag2O. Reaksi antara aseton dengan Ag2O adalah sebagai berikut Aseton + Ag2O tidak terdapat reaksi Pada saat sampel sukrosa ditambahkan dengan NH4OH sebanyak 13 tetes larutan warna larutan bening. Kemudian aseton ditambah dengan pereaksi tollens belum terbentuk cermin perak. Lalu, setelah dilakukan pemanasan antara aseton dan Ag2O tidak terdapat cermin perak pada bagian bawah tabung reaksi. Hasil uji negatif ini menunjukkan bahwa di dalam sukrosa tidak terdapat gugus fungsi aldehid. Hal ini dikarenakan sukrosa merupakan disakarida yang terdiri dari glukosa dan fruktosa. Gugus OH bebas dalam fruktosa ini akan berikatan dengan H pada glukosa sehingga tidak terdapat ikatan antara sampel dengan reagen. Hal ini yang menyebabkan tidak terdapat cermin perak pada dasar tabung antara sukrosa dengan Ag2O. Reaksi antara sukrosa dengan Ag2O adalah sebagai berikut Sukrosa + Ag2O tidak terdapat reaksi Menurut Brown dan Cristopher, 2011 saat reagen tollens ditambahkan ke larutan yang memiliki gugus fungsi aldehid, aldehid akan teroksidasi menjadi anion asam karboksilat dan Ag(I) akan tereduksi menjadi logam perak. Biasanya, formaldehid dan glukosa merupakan sampel yang digunakan sebagai aldehid untuk mereduksi Ag(I). Jika reaksi ini dilakukan dengan benar, maka akan terbentuk cermin perak yang pada tabung reaksi. Dalam proses ini, aldehid juga teroksidasi asam karboksilat oleh molekul oksigen dan hidrogen peroksida. Berdasarkan keterangan tersebut maka, hasil pengamatan yang telah kami lakukan sesuai dengan literatur yaitu senyawa yang mempunyai gugus fungsi aldehid adalah formalin dan glukosa karena terbentuk cermin perak saat direaksikan dengan pereaksi tollens. B. Uji Fehling 1. Analisa Prosedur Pada uji fehling langkah pertama yaitu dimasukkan 5 tetes Fehling A ke dalam masing masing tabung reaksi dengan menggunakan pipet tetets. Larutan Fehling A yaitu CuSO4 ini yang merupakan reagen berfungsi sebagai oksidator lemah yang mengoksidasi sampel. Kemudian, ditambahkan 5 tetes NaOH. NaOH ini merupakan larutan yang dapat memberikan suasana basa. Langkah selanjutnya ditambahkan 10 tetes Fehling B yang merupakan oksidator sampel. Fehling B yang digunakan adalah campuran NaOh dan natrium kalium tatrat. Lalu ditambahkan masing masing 1 ml sampel (aseton, fruktosa, glukosa, sukrosa dan formalin) ke dalam tabung reaksi menggunakan pipet ukur yang telah diberi

label nama masing masing sampel. Pemberian nama pada pipet ukur ini penting dilakukan karena jika hanya ada satu pipet ukur digunakan maka larutan satu dengan larutan lain akan tercampur sehingga menyebabkan ketidakakuratan hasil pengamatan. Selanjutnya setiap tabung reaksi dipanaskan diatas pembakar bunsen kurang lebih selama dua menit. Pembakaran ini bertujuan untuk mempercepat reaksi karea jika suhu semakin tinggi maka energi kinetik pada larutan akan meningkat sehingga reaksi antara sampel dengan pereaksi juga semakin cepat. Lalu diamati perubahan yang terjadi pada tiap sampel dan dicatat sebagai hasil pengamatan. 2. Analisa Hasil Prinsip pada uji fehling yaitu membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan reagen fehling A dan Fehling B dimana fehling A adalah CuSO4 dan fehling B adalah campuran NaOH dengan natrium kalium tatrat, Aldehid akan dioksidasi menjadi asam karboksilat, sementara ion Cu2+ akan tereduksi menjadi Cu+. Reaksi positif ditandai dengan terdapatnya endapan merah bata. Reaksi antara aldehid dan pereaksi fehling adalah O O RCH + 2CuO RCOH + Cu2O Pada saat sampel glukosa ditambahkan dengan reagen fehling warna larutan berubah menjadi hijau muda dan terdapat endapan. Kemudian setelah dilakukan pemanasan kurang lebih selama 2 menit, terdapat endapan merah bata pada dasar tabung reaksi. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi reaksi positif dan di dalam glukosa terdapat gugus fungsi aldehid. Reaksi antara glukosa dengan pereaksi fehling adalah sebagai berikut : D-glukosa + 2CuO asam karboksilat + Cu2O Pada saat sampel formalin ditambahkan dengan reagen fehling warna larutan berubah menjadi biru kehijauan dan terdapat endapan. Kemudian setelah dilakukan pemanasan kurang lebih selama 2 menit, terdapat endapan merah bata pada dasar tabung reaksi. Reaksi positif ini menunjukkan bahwa di dalam formalin terdapat gugus fungsi aldehid. Reaksi antara formalin dengan Ag2O adalah sebagai berikut formalin + 2CuO Asam karboksilat + Cu2O Pada saat sampel fruktosa ditambahkan dengan reagen fehling warna larutan berubah menjadi hijau dan terdapat endapan Lalu, setelah dilakukan pemanasan antara fruktosa dan fehling terdapat merah bata pada bagian bawah tabung reaksi. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi reaksi positif namun di dalam fruktosa tidak terdapat gugus fungsi aldehid. Hasil uji positif ini dikarenakan fruktosa merupakan gula pereduksi yang didalamnya mengandung gugus OH bebas. Gugus OH bebas ini akan berikatan dengan reagen sehingga membentuk endapan merah bata pada dasar tabung. Reaksi antara fruktosa dengan fehling adalah sebagai berikut Fruktosa + 2CuO asam karboksilat + Cu2O Pada saat sampel aseton ditambahkan dengan reagen fehling warna larutan berubah menjadi biru kehijauan dan terdapat endapan. Kemudian setelah dilakukan pemanasan kurang lebih selama 2 menit, tidak terdapat endapan merah bata pada dasar tabung reaksi. Hasil uji negatif ini menunjukkan bahwa di dalam aseton tidak terdapat gugus fungsi aldehid. Pada aseton terdapat gugus fungsi

keton sehingga tidak terjadi reaksi antara aseton dengan Cu2O. Reaksi antara aseton dengan Ag2O adalah sebagai berikut Aseton + 2CuO tidak terdapat reaksi Pada saat sampel sukrosa ditambahkan dengan reagen fehling warna larutan berubah menjadi biru kehijauan dan terdapat endapan. Kemudian setelah dilakukan pemanasan kurang lebih selama 2 menit, tidak terdapat endapan merah bata pada dasar tabung reaksi. Hasil uji negatif ini menunjukkan bahwa di dalam sukrosa tidak terdapat gugus fungsi aldehid. Hal ini dikarenakan sukrosa merupakan disakarida yang terdiri dari glukosa dan fruktosa. Gugus OH bebas dalam fruktosa ini akan berikatan dengan H pada glukosa sehingga tidak terdapat ikatan antara sampel dengan reagen. Hal ini yang menyebabkan tidak terdapat cermin perak pada dasar tabung antara sukrosa dengan Cu2O. Reaksi antara sukrosa dengan fehling adalah sebagai berikut Sukrosa + 2CuO tidak terdapat reaksi Menurut Brown dan Cristopher, 2011 reagen Fehling merupakan campuran dari Fehling A dan Fehling B dengan jumlah volume yang sama. Fehling A adalah larutan tembaga(II) sulfat dan Fehling B adalah sodium hidroksida yang mengandung sodium potassium tatrat (Rochelle salt). Saat reagen Fehling yang mengandung ion tembaga(II) (Cu2+) di dalam larutan basa dipanaskan dengan aldehid, ion tembaga(II) berwarna biru tersebut akan tereduksi menjadi ion tembaga(I) dan membentuk endapan merah bata, Cu2O. Pada saat yang sama, aldehid akan teroksidasi menjadi asam karboksilat. Berdasarkan keterangan tersebut maka, hasil pengamatan yang telah kami lakukan sesuai dengan literatur yaitu senyawa yang mempunyai gugus fungsi aldehid adalah formalin dan glukosa karena terbentuk endapan merah bata saat direaksikan dengan pereaksi fehling.

C. Hasil Percobaan Dan Pengamatan : 1. Uji Tollens No. Nama Sampel Reagen Tollens+NH4OH Sampel+Reage n Tollens (Tanpa pemanasan Belum terbentuk cermin perak Belum terbentuk cermin perak Belum terbentuk cermin perak Terbentuk cermin perak Sampel+Reage n Tollens (Setelah Pemanasan) Terbentuk cermin perak Tidak terbentuk cermin perak Tidak terbentuk cermin perak Terbentuk cermin perak Terbentuk cermin perak Hasil Uji (+) / (-) + + +

1 2 3 4 5

Fruktosa Aseton Sukrosa Glukosa Formalin

11 tetes NH4OH Warna larutan menjadi bening 14 tetes NH4OH Warna larutan menjadi bening 13 tetes NH4OH Warna larutan menjadi bening 9 tetes NH4OH Warna larutan menjadi bening 11 tetes NH4OH Terbentuk Warna larutan cermin perak menjadi bening

1. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Tollens dari beberapa sampel

dalam percobaan ini!

Uji Tollens merupakan uji yang digunakan untuk membedakan gugus aldehid dengan keton dalam sampel dengan menambahkan reagen tollens. Hasil uji positif antara sampel dengan reagen tollens jika terdapat cermin perak yang menandakan adanya gugus aldehid. Pada uji Tollens penambahan NH4OH bertujuan untuk mencegah terbentuknya endapan perak. Penambahan NH4OH pada fruktosa membutuhkan 11 tetes sampai larutan berubah menjadi bening. Pada aseton ditambahkan 14 tetes NH4OH, sukrosa ditambahkan 13 tetes NH4OH, glukosa ditambahkan 9 tetes NH4OH dan formalin ditambahkan 11 tetes NH4OH. Reaksi positif tanpa pemanasan terjadi pada sampel glukosa dan formaldehid atau formalin. Sedangkan reaksi positif setelah pemanasan terjadi pada fruktosa. Dan reaksi negatif terjadi pada sampel aseton dan sukrosa. Di dalam glukosa dan formalin terdapat gugus aldehid sehingga menghasilkan reaksi positif dan membentuk cermin perak pada dasar tabung. Pada fruktosa tidak terdapat gugus aldehid namun hasil uji positif. Hal ini dikarenakan fruktosa merupakan gula pereduksi yang didalamnya mengandung gugus OH bebas. Gugus OH bebas ini akan berikatan dengan reagen sehingga membentuk cermin perak pada dasar tabung. Sedangkan di dalam aseton terdapat gugus keton sehingga jika aseton direaksikan dengan reagen tollens tidak membentuk cermin perak (tidak ada reaksi). Dalam sukrosa tidak terdapat gugud fungsi aldehid dan membuat hasil uji negatif. Hal ini dikarenakan sukrosa merupakan disakarida yang terdiri dari glukosa dan fruktosa. Gugus OH bebas dalam fruktosa ini akan berikatan dengan H pada glukosa sehingga tidak terdapat ikatan antara sampel dengan reagen. Hal ini yang menyebabkan tidak terdapat cermin perak pada dasar

tabung antara sukrosa dengan Ag2O. Sehingga, sampel yang mengandung gugus aldehid berdasarkan uji tollens adalah glukosa dan formalin.
2. Uji Fehling No. Nama Sampel Fruktosa Aseton Sukrosa Glukosa Formalin

1 2 3 4 5

Sampel+Reagen Fehling (Tanpa pemanasan) Larutan berwarna hijau, terdapat endapan Ada endapan berwarna biru

Sampel+Reagen Hasil Uji Fehling (Setelah (+)/(-) Pemanasan) Terdapat endapan + merah bata

Tidak terdapat endapan merah bata Larutan berwarna Tidak terdapat biru kehijauan endapan merah bata Larutan berwarna Terdapat endapan + hijau muda merah bata Larutan berwarna Terdapat endapan + biru kehijauan, merah bata terdapat endapan

2. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Fehling dari beberapa sampel

dalam percobaan ini! Uji Fehling merupakan uji yang digunakan untuk membedakan gugus aldehid dengan keton dalam sampel dengan menambahkan reagen Fehling A dan Fehling B. Reaksi positif ditunjukkan dengan tebentuknya endapan merah bata pada tabung reaksi. Pada fruktosa setelah ditambahkan reagen fehling, larutan berubah menjadi hijau dan terdapat endapan. Setelah pemanasan, terdapat endapan pada tabung reaksi dengan sampel fruktosa. Warna larutan glukosa berubah menjadi hijau muda setelah ditambahkan pereaksi fehling. Seletah dilakukan pemanasan, terdapat endapan merah bata pada tabung reaksi. Warna larutan formalin berubah menjadi biru kehijauan dan terdapat endapan setelah ditambahkan pereaksi fehling. Seletah dilakukan pemanasan, terdapat endapan merah bata pada tabung reaksi. Pada aseton setelah ditambahkan reagen fehlung terdapat endapan namun setelah dilakukan pemanasan tidak terdapat endapan merah bata. Warna sukrosa larutan berubah menjadi biru kehijauan setelah ditambahkan reagen fehling dan tidak terdapat endapan merah bata setelah dilakukan pemanasan. Hasil uji positif terjadi pada sampel fruktosa, glukosa dan formalin karena terbentuk endapan berwarna merah bata setelah dilakukan pemanasan. Di dalam glukosa dan formalin terdapat gugus aldehid sehingga

menghasilkan reaksi positif dan membentuk endapan merah bata pada dasar tabung jika direaksikan dengan fehling. Pada fruktosa tidak terdapat gugus aldehid namun hasil uji positif. Hal ini dikarenakan fruktosa merupakan gula pereduksi yang didalamnya mengandung gugus OH bebas. Gugus OH bebas ini akan berikatan dengan reagen sehingga membentuk endapan merah bata pada dasar tabung.

Sedangkan hasil reaksi negatif terjadi pada sampel sukrosa dan aseton. Di

dalam aseton terdapat gugus keton sehingga jika aseton direaksikan dengan reagen fehling tidak membentuk endapan merah bata (tidak ada reaksi). Dalam sukrosa tidak terdapat gugus fungsi aldehid dan membuat hasil uji negatif. Hal ini dikarenakan sukrosa merupakan disakarida yang terdiri dari glukosa dan fruktosa. Gugus OH bebas dalam fruktosa ini akan berikatan dengan H pada glukosa sehingga tidak terdapat ikatan antara sampel dengan reagen. Hal ini yang menyebabkan tidak terdapat endapan merah bata pada dasar tabung.
PERTANYAAN 1. Apa fungsi penambahan larutan AgNO3 5% dalam percobaan uji Tollens? Hampir setiap reagen yang dapat mengoksidasi alkohol juga dapet mengoksidasi aldehid. Hal ini dikarenakan aldehid merupakan hasil oksidasi dari alkohol primer. Pereaksi Tollens yang digunakan dalam uji tollens adalah AgNO3 yang merupakan oksidator lemah. Penambahan AgNO3 bertujuan sebagai oksidator. AgNO3 ini mengoksidasi sampel yang memiliki gugus fungsi aldehid, -CHO menjadi asam karboksilat COOH. (Sudarmo, 2006) 2. Apa fungsi penambahan larutan NH4OH 6M dalam percobaan uji Tollens? NH4OH digunakan untuk mencegah pengendapan ion perak sebagai oksida pada suhu tinggi. Amonia membentuk kompleks larut air dengan air sehingga pada saat AgNO3 direaksikan dengan beberapa tetes amonia warna larutan akan berubah menjadi jernih atau tidak berwarna (Willbriam, 2007)

KESIMPULAN

Dari praktikum Identifikasi Gugus Fungsi Aldehid dan Keton dapat disimpulkan bahwa prinsip uji Tollens adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan menambahkan reagen Tollens yaitu AgNO3 dimana akan terjadi reaksi oksidasi reduksi. Gugus aldehid dioksidasi menjadi asam karboksilat sementara ion Ag+ dalam reagen tollens direduksi menjadi logam Ag. Reaksi uji positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada tabung reaksi. Sedangkan prinsip uji fehling yaitu membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan reagen fehling A dan Fehling B dimana fehling A adalah CuSO4 dan fehling B adalah campuran NaOH dengan natrium kalium tatrat, Aldehid akan dioksidasi menjadi asam karboksilat, sementara ion Cu2+ akan tereduksi menjadi Cu+. Reaksi uji positif pada uji fehling ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata pada dasar tabung reaksi. Pada uji Fehling dan Tollens hasil uji positif terjadi pada sampel glukosa, formalin dan fruktosa. Di dalam glukosa dan formalin terdapat gugus fungsi aldehid sehingga kedua sampel bereaksi dengan reagen. Sedangkan pada fruktosa terbentuk uji reaksi positif karena fruktosa merupakan gula pereduksi yang memiliki gugus OH bebas yang dapat bereaksi dengan reagen.

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN Brown, William dan Christpher. 2011. Organic Chemistry : The OWL Series. Canada : Cangage Learning

Sudarmo, Unggul. 2006. Kimia Organik Jilid III. Jakarta: Erlangga Willbraham and Michael S.Matta. 2007. Kimia Organik dan Hayati. Bandung: ITB