Anda di halaman 1dari 36

http://fandagri.blogdetik.

com/resensi-buku-99-cahaya-di-langit-eropa-karya-hanumrais/
MENJELAJAHI JEJAK ISLAM DI EROPA Judul Penerbit Penulis Kategori Tebal Harga : Rp. 69.000,Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, penulis merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Sebuah pengalaman yang makin memperkaya spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda. Tinggal di Eropa selama 3 tahun merupakan arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya, penulis menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma atau gondola-gondola di Venezia. Pencarian ini pun telah mengantarkan putri kesayangan Bapak M. Amien Rais ini pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Dirinya tak menyangka jika sesungguhnya Eropa juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam. Eropa dan Islam. Keduanya pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Penulis pun merasakan adamanusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya ini. Buku 99 Cahaya di Langit Eropa : Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa ini bermula dari pertemuan penulis dengan seorang perempuan muslim bernama Fatma Pasha. Seorang imigran Turki yang tinggal di Wina, Austria. Sebagai seorang Turki di Austria, Fatma mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini, Fatma mencobanya lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati. Hanum dan Fatma lalu mengatur rencana. Keduanya mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Hingga akhirnya perjalanan pertama ini justru mengantarkannya ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban di Eropa. Di Paris, Hanum bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepada penulis bahwa Eropa adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Penjelasan Marion ini telah membukakan mata hati penulis dan membuatnya jatuh cinta lagi dengan agamanya, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh kasih dan damai. Ditulis dengan gaya bertutur personal, buku yang ditulis oleh Hanum Salsabila Rais dan sang suami tercinta, Rangga Almahendra ini akan membawa kita ke dalam lingkungan hidup yang riil. Penuh dengan nuansa dan gemuruh perjalanan sejarah peradaban Islam Eropa, baik pada masa silam maupun pada saat ini. Cara penyampaiannya pun sangat jelas, ringan, dan lancar mengalir. Lewat kisah menarik ini juga, penulis akan : : : : Hanum : 99 Cahaya Gramedia Salsabila Rais, Novel 412 di Pustaka Rangga Langit Eropa Utama Almahendra Islami Halaman

membuka mata kita akan pernak-pernik kehidupan Islam di Eropa dan merefleksikannya untuk memperkuat keimanan. Berbeda dari buku-buku traveling sebelumnya, akhir dari perjalanan penulis selama 3 tahun di Eropa ini justru mengantarkannya pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan diri pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna, Allah SWT.

http://as-syauqii.faa.im/resensi-novel-99-cahaya-langit-di-eropa.xhtml

Resensi Novel: 99 Cahaya Langit di Eropa


Posted by Neng Admin on 03:35 PM, 22-May-13 Under: Resensi

Kesempatan kali ini eneng mau share resensi novel yang puengen buanget neng baca, nah pas di daerah surabaya eneng nemu ni buku... Simak ya.!!!

Judul Buku : 99 Cahaya di Langit Eropa Penulis : Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : Kelima, Desember 2012 Tebal : 392 hal

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Almahendra memiliki tema menapak jejak islam di Eropa. Buku ini berisi kisah-kisah perjalanan kedua penulis selama berada di Eropa. Hanum dan Rangga tinggal selama 3 tahun di Eropa saat Rangga mendapat beasiswa program doktoral di Universitas di Austria. keduanya berkesempatan menjelajahi eropa dan menemukan keindahan eropa yang tidak sekadar hanya Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma atau gondola-gondola di Venezia. Namun, mereka menemukan keindahan lain dari Eropa, mereka menjelajah sejarah dan menemukan bahwa Islam pernah berjaya di tanah itu. Eropa dan islam pernah menjadi pasangan serasi. Namun, ketamakan manusia membuat dinasti itu runtuh. melalui buku ini, penuli ingin menceritakan tentang beberapa tempat dimana Islam mempunyai kisah yang cukup menarik didalamnya. kisah-kisah dari beberapa tempat didalamnya yang bisa membuat penulis dan pembaca enggan untuk melakukan kesalahan yang sama. tempat itu antara lain Wina (austria), Paris (Perancis), Granada dan Cordoba (andalusia/Spanyol), dan Istanbul (turki). Selama kursus itulah Hanum berkenalan dengan Fatma, wanita asal Turki yang berhasil menggugah jiwa kelana Hanum untuk menyusuri jejak Islam di Eropa. Fatma yang notabene hanya seorang ibu rumah tangga ternyata memiliki wawasan luas tentang sejarah Islam di Eropa. Bukan hanya itu, kebesaran hati seorang Fatma yang menerima cerca dari kalangan non muslim menyadarkan Hanum, bahwa Islam seharusnya dimaknai luar dan dalam. Bukan sekedar casing yang Islam, namun jiwa dan pikiran kaum bar-bar. Sayangnya Fatma tiba-tiba menghilang setelah mereka mengikat janji akan berkelana bersama menapaki jejak Islam yang ada di Spanyol, Perancis, dan Turki yang pernah berjaya pada masanya. Demi memenuhi janji itu Hanum kemudian mulai menjelajah sendiri bersama suami. Tempat kedua yang diceritakan penulis adalah Paris, Perancis. kota ini dikenal City of lights, yang berarti pusat peradaban Eropa. Di Paris, Hanum bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepada penulis bahwa Eropa adalah pantulan

cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Seperti kufic-kufic pada keramik yang berada di musse louvre. Yang lebih mencengangkan Hanum, pada lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus, hijab yang dipakai Bunda Maria bertakhtakan kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah. Selain benda-benda 'kecil' didalam musee louvre, Marion juga memberi tahu tentang Voie Triomphale atau Jalan kemenangan yang dibuat Napoleon Bonaparte, tempat dua gerbang kemenangan (arc du triomphe) yang sangat megah. menurut Marion, bila ditarik garis lurus imajiner maka akan menghadap arah kiblat. Mungkin akan menjadi konspirasi apabila Eropa mengakui Napoleon beragama Islam, tp kedekatan beliau dengan Islam tak terbantahkan. Selain itu, Jenderal kepercayaan Napoleon, Francois Menou mengucapkan Syahadat setelah menaklukan mesir dan syariat- syariat islam juga menginspirasi Napoleonic Code. Setelah ke Paris, mereka selanjutnya menjelajahi Cordoba dan Granada. Dua kota di andalusia yang menurut beberapa ahli adalah True City of Lights. Cordoba merupakan ibukota Andalusia dimana peradaban Eropa dimulai. pada kota ini berkembang ilmu pengetahuan dan menginspirasi kota-kota lain di Eropa. Pada masa keemasan itu, Cordoba bukan negara islam seluruhnya, namun toleransi antar agama menjadi suatu landasan kuat hingga menjadi kota yang sangat dikagumi sekaligu membuat iri kota- kota lai. di Cordoba terdapat Mezquita, yaitu masjid besar yang menjadi Kathedral setelah jatuh ke tangan Raja Ferdinand dan ratu Isabela. Sementara itu Granada adalah kota terkahir dimana islam takluk di daratan Eropa. di Granada terdapat benteng megah yang menjelaskan betapa megahnya Islam di masa keemasan. Selanjutnya mereka berkesempatan menjelajahi Istanbul. Istanbul/ kontatinopel adalah saksi sejarah dimana Islam pernah memiliki masa keemasan. Pada masa itu, luas wilayah Islam lebih luas dari kerajaan Romawi. Namun, di Turki tidak ditinggalkan istana yang megah, bukan karena tidak mampu melainkan karena Sultan mereka mencontohkan kesederhanaan. Sesuatu hal yang mulai dilupakan pemimpin-pemimpin saat ini. di Turki juga terdapat Hagia Sophia, bekas gereja besar dan sempat dijadikan masjid. Namun kini telah dijadikan museum oleh pemerintah Turki. Kelebihan :

-Membaca buku 99 Cahaya di Eropa, serasa ikut mengembara langsung ke Eropa

dan sekaligus belajar sejarah Islam di Eropa yang begitu membanggakan dan mengharukan. -Mengajak kita untuk mengamalkan Islam secara total melalui perilaku yang mencerminkan Islam, lewat contoh tokoh yang bernama Fatma. Kelemahan :

-Pemotongan sub bab dalam buku terkesan dipaksakan. Ketika telah sampai pada akhir sub bab, tiba-tiba kita masuk kembali pada rangkaian cerita sebelumnya yang terputus. Bagian awal epilog yang kurang memberikan kesan. Saran :

-Pemotongan sub bab agar diperhatikan sehingga tidak membuat pembaca terjebak pada akhir kalimat menggantung, namun kemudian kalimat berlanjut pada sub bab berikutnya. -Pada bagian Epilog, akan terasa lebih berkesan jika epilog langsung masuk ke sub bab Kabah, the cube tanpa embel-embel cerita lain, meski bagian tersebut merupakan penjelas mengapa penulis ingin berhaji. Kehancuran Islam di Eropa adalah karena setitik nila perang saling menguasai yang menyebabkan trauma berkepanjangan. Jika proses masuknya Islam terus konsisten melalui cara damai seperti di Indonesia tentulah, Eropa hingga kini masih bercahaya sebagaimana Cordoba berhasil menerangi abad gelap di Eropa. Kini minoritas Islam di Eropa harus berjuang untuk mengembalikan citra Islam yang keras menjadi lembut, seperti Fatma yang tetap santun meski mendengar hujatan dari orang-orang Eropa non muslim. Itulah sejatinya Islam, agama yang cinta damai. Sayang, selalu dan masih saja ada yang memaknai Islam harus ditegakkan dengan jalan yang keras, menebar teror melalui hembusan jihad, atau demo yang berujung anarkhis seperti di Indonesia. Sudah saatnya umat Islam belajar dari kegagalan Islam berjaya di Eropa. Nafsu untuk menjadi lebih, nafsu untuk menguasai, dan nafsu merasa paling benar atas nama agama hanya akan memperburuk citra Islam di mata dunia.

http://sabanalibrary-novel.blogspot.com/2012/03/judul-buku-99-cahaya-di-langit-eropa.html

Resensi Novel Islami '99 Cahaya Islam di Langit Eropa'

Judul Buku : 99 Cahaya di Langit Eropa Penulis : Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : Kelima, Desember 2012 Tebal : 392 hal

Sinopsis Cerita :
Hanum menyusul suaminya ke Wina, Austria yang mendapat beasiswa studi doktoral. Kemampuan bahasa Jerman yang minim membuat Hanum menjalani kursus bahasa Jerman. Selama kursus itulah Hanum berkenalan dengan Fatma, wanita asal Turki yang berhasil menggugah jiwa kelana Hanum untuk menyusuri jejak Islam di Eropa.

Fatma yang notabene hanya seorang ibu rumah tangga ternyata memiliki wawasan luas tentang sejarah Islam di Eropa. Bukan hanya itu, kebesaran hati seorang Fatma yang menerima cerca dari kalangan non muslim menyadarkan Hanum, bahwa Islam seharusnya dimaknai luar dan dalam. Bukan sekedar casing yang Islam, namun jiwa dan pikiran kaum bar-bar.

Sayangnya Fatma tiba-tiba menghilang setelah mereka mengikat janji akan berkelana bersama menapaki jejak Islam yang ada di Spanyol, Perancis, dan Turki yang pernah berjaya pada masanya. Demi memenuhi janji itu Hanum kemudian mulai menjelajah sendiri bersama suami.

Paris the Light of City, kota yang paling terang cahayanya di Eropa. Kota yang menjadi pusat peradaban paling maju di Eropa. Kota yang pertama kali Hanum kunjungi untuk mengendus keberadaan Islam pada jaman dulu.

Hanum sungguh tercengang ketika mengunjungi Museum Louvre, museum dengan koleksi paling lengkap di dunia, museum yang menyimpan lukisan Monalisa yang terkenal itu. Bagi Hanum, Monalisa dengan senyum misterius kalah menarik dengan lukisan Bunda Maria yang ujung kain kerudungnya terdapat tulisan kalimat tauhid atau piring-piring hias bertulis Arab Kufic.

Marion Latimer seorang pemandu yang baik, seorang Perancis yang memeluk Islam. Seorang peneliti di Arab Institut Paris berhasil menjawab rasa penasaran Hanum akan berbagai hal dalam museum yang mengandung nafas Islam, termasuk makna tulisan pada hijab Maria dan arti kata pada piring-piring bertuliskan Arab Kufic.

Bukan hanya itu, Marion juga menunjuki sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri bahwa bangunan pada masa Napoleon Bonaparte berkuasa mulai dari La Defense, Arc du Triomphe de Ietoile, Champ Elyses, Obelisk, Arc du Triomphe du Carrousel, Louvre jika ditarik garis lurus imajiner akan menembus langsung ke arah Kabah. Timbul sebuah praduga, mungkinkah Napoleon Bonaparte seorang muslim?

Cordoba di Spanyol merupakan kunjungan kedua Hanum untuk melihat Mezquita. Sebuah masjid yang beralih fungsi menjadi gereja dengan nama The Mosque Cathedral. Siapa sangka Cordoba dulu adalah kota seribu cahaya. Kota yang menginspirasi banyak orang di Eropa. Kota yang menerangi abad kegelapan di Eropa. Kota yang memiliki ilmu pengetahuan dan keharmonisan antar umat beragama pada masanya. Kota yang melahirkan the double truth doctrine dari seorang filsul Ibnu Rushd atau Averroes, dua kebenaran yang tidak terpisahkan antara agama dan ilmu

pengetahuan/sains.

Sayangnya orang Eropa menjadi trauma karena agama yang mereka anut sebelumnya menyebabkan kegelapan pada masa kekuasaan gereja bersifat mutlak. Sekarang, orang Eropa lebih percaya sains. Seperti ajang balas dendam siapa yang lebih menguasai siapa. Jika dulu agama khususnya Kristen menguasai sains, kini giliran sains yang memberangus agama. Tak heran jika kini mayoritas masyarakat Eropa menganut paham sekuler yang melahirkan golongan ateis.

Belum lengkap rasanya jika ke Spanyol tanpa mengunjungi Granada, Istana Al-Hambra. Tempat terakhir Islam bertahan di Eropa. Sayang,the royal couple, Isabella-Ferdinand yang memiliki kekuasaan besar berhasil membuat Granada jatuh ke tangannya untuk kemudian melakukan pembaptisan masal orang-orang muslim yang menjadi mayoritas masyarakat Granada.

Sebuah email mengejutkan datang dari Fatma membuat Hanum ingin segera mengunjungi imperium Islam terakhir pada masa Dinasti Usmaniyah atau Ottoman di Turki sekaligus menengok kawan lama Fatma Pasha. Ini menjadi perjalanan terakhir Hanum dalam mengarungi samudera peradaban Islam di Eropa.

Pada akhirnya, kata-kata Paulo Coelho dalam buku The Alchemist, Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apa pun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal. Membawa Hanum menjejak ke titik awal dari sebuah perjalanan panjang Islam di sebuah kota Mekah di satu titik pusat Kabah. Di mana kalimat tauhid masih bergema dari jutaan manusia pencari cahaya.

Kelebihan :
-Membaca buku 99 Cahaya di Eropa, serasa ikut mengembara langsung ke Eropa dan sekaligus belajar sejarah Islam di Eropa yang begitu membanggakan dan mengharukan. -Mengajak kita untuk mengamalkan Islam secara total melalui perilaku yang mencerminkan Islam, lewat contoh tokoh yang bernama Fatma.

Kelemahan :
-Pemotongan sub bab dalam buku terkesan dipaksakan. Ketika telah sampai pada akhir sub bab, tiba-tiba kita masuk kembali pada rangkaian cerita sebelumnya yang terputus. -Bagian awal epilog yang kurang memberikan kesan.

Saran :
-Pemotongan sub bab agar diperhatikan sehingga tidak membuat pembaca terjebak pada akhir kalimat menggantung, namun kemudian kalimat berlanjut pada sub bab berikutnya. -Pada bagian Epilog, akan terasa lebih berkesan jika epilog langsung masuk ke sub bab Kabah, the cube tanpa embel-embel cerita lain, meski bagian tersebut merupakan penjelas mengapa penulis ingin berhaji.

Kesimpulan :
Kehancuran Islam di Eropa adalah karena setitik nila perang saling menguasai yang menyebabkan trauma berkepanjangan. Jika proses masuknya Islam terus konsisten melalui cara damai seperti di Indonesia tentulah, Eropa hingga kini masih bercahaya sebagaimana Cordoba berhasil menerangi abad gelap di Eropa. Kini minoritas Islam di Eropa harus berjuang untuk mengembalikan citra Islam yang keras menjadi lembut, seperti Fatma yang tetap santun meski mendengar hujatan dari orang-orang Eropa non muslim. Itulah sejatinya Islam, agama yang cinta damai. Sayang, selalu dan masih saja ada yang memaknai Islam harus ditegakkan dengan jalan yang keras, menebar teror melalui hembusan jihad, atau demo yang berujung anarkhis seperti di Indonesia. Sudah saatnya umat Islam belajar dari kegagalan Islam berjaya di Eropa. Nafsu untuk menjadi lebih, nafsu untuk menguasai, dan nafsu merasa paling benar atas nama agama hanya akan memperburuk citra Islam di mata dunia.

http://media.kompasiana.com/buku/2012/08/27/resensi-buku-99-cahaya-di-langit-eropa489063.html

Resensi Buku: 99 Cahaya di Langit Eropa


OPINI | 27 August 2012 | 12:02 Dibaca: 6028 Komentar: 3 1

99 Cahaya di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa) Oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra Penerbit Gramedia Pustaka Utama Cetakan VIII, Mei 2012 Tebal 412 halaman ISBN 978-979-22-7274-1 Eropa dan Islam. Terlepas dari on and off relationship keduanya selama satu dekade terakhir ini, mereka sangatlah erat dan serasi di masa lalu. Eropa, sungguh, lebih dari sekadar Menara Eiffel, Colosseum Roma, atau Tembok Berlin. Mengutip kata-kata George Santayana: Those who dont learn from history are doomed to repeat it. Barang siapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya. Banyak di antara umat Islam kini yang tidak mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. (hlm. 4) 99 Cahaya di Langit Eropa adalah sebuah novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata mengenai perjalanan spiritual Hanum Salsabiela Rais dan suaminya, Rangga Almahendra, dalam mengulik sejarah Islam selama 3 tahun mereka menetap di bumi Eropa. Dalam buku ini, perjalanan mereka terbagi menjadi empat rute utama: Wina (Austria), Paris (Prancis), Cordoba dan Granada (Spanyol), serta Istanbul (Turki).

Petualangan mereka dimulai dari Rangga yang mendapat beasiswa untuk studi S3 di WU Vienna dan memboyong serta istrinya, Hanum, yang menyusul 4 bulan kemudian. Selanjutnya, Hanum bekerja untuk proyek video podcast Executive Academy di kampus suaminya. Di tengahtengah kesibukannya mengerjakan projek tersebut, Hanum pun mengikuti kursus bahasa Jerman. Dan di tempat itulah ia menjalin persahabatan dengan Fatma Pasha, seorang Muslimah asal Turki. Melalui penuturan Fatma, kita pun paham bahwa menjadi seorang Muslim di negara yang umat Islamnya menjadi minoritas bukanlah hal mudah. Fatma berkali-kali ditolak bekerja di berbagai perusahaan karena ia berhijab. Belum lagi kesulitan menemukan ruang ibadah di tempat umum. Meskipun demikian, Fatma telah bertekad untuk menjadi agen Muslim yang baik di tempatnya berada. Seperti ketika sekelompok turis asing mengolok-olok Turki dengan croissant, yang merupakan roti untuk merayakan kalahnya Turki di Wina, ia justru membayari makan turis tersebut dan mengajaknya berteman supaya ia dapat belajar bahasa Inggris darinya. Bersama tiga kawannya: Latife, Ezra, dan Oznur, Fatma menetapkan tiga poin penting dalam syiar Islamnya di Austria: tebarkan senyum indahmu, kuasai bahasa Jerman dan Prancis, serta jujur dalam berdagang. Terbukti, salah satu kawannya jatuh cinta pada Islam karena mengenal keramahan dan senyum Latife, hingga kemudian ia menjadi mualaf. Subhanallah. Fatma membukakan mata bahwa lima pilar inti ajaran agama Islam juga harus tersuguh dengan akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dimaknai sebagai tata cara beribadah. Fatma menghadapi tantangan lebih beratdi tengah penduduk nonmuslimyaitu di Eropa yang umatnya semakin bangga melepas semua atribut agama, mengabaikan keniscayaan terhadap Tuhan alias ateis. Sama sekali bukan perkara mudah. Akan tetapi, dia percaya keteladanan berbicara lebih keras dari kata-kata. (hlm. 63) Buku ini pun tak lepas dari kunjungan penulis ke tempat-tempat bernafaskan sejarah Islam di Eropa. Seperti Museum Wina dan kisah tentang Kara Mustafa Pasha, panglima perang khalifah Ottoman. Kemudian Museum Louvre di Paris, yang menyimpan berbagai bukti sejarah jayanya Islam di abad pertengahan. Siapa yang menyangka bahwa penemu lensa kamera serta peta antariksa pertama adalah ilmuwan Muslim? Atau pinggiran hijab Bunda Maria yang ternyata bertuliskan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illalah? Belum lagi, fakta bahwa di masa Masjid Agung Paris pernah menyelamatkan puluhan warga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman.

Aku merasa imam masjid ini, siapa pun dia, juga mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan orang-orang yang sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya. Namun, ia yakin akan perintah Allah dalam Alquran tentang kewajiban menyelamatkan jiwa umat manusia yang lain, apa pun agama mereka, apa pun kepercayaan mereka. Karena dengan demikian dia sama saja menyelamatkan seluruh manusia di bumi. (hlm. 193) Begitupun halnya dengan Hagia Sophia di Istanbul, bangunan yang dulunya adalah sebuah Katedral Byzantium terbesar di Eropa yang kemudian menjadi masjid. Masjid itu memajang kaligrafi Allah, Muhammad, serta ayat-ayat suci Alquran, tetapi tetap membiarkan lukisan-lukisan Yesus dan Bunda Maria serta elemen kekristenan lainnya berada di sana. Berkebalikan dengan bangunan Mezquita Cordoba di Spanyol, yang dulunya adalah masjid, tetapi kini menjadi katedral. Dan masih banyak cerita lainnya yang menggugah kita untuk memelajari Islam labih dalam lagi. Sungguh, saya merasa belajar banyak hal seusai membaca buku ini. Tidak hanya tentang sejarah kejayaan Islam di Eropa pada masa lalu. Namun juga tentang bagaimana menjadi Muslim yang baik, tentang bagaimana agama dan ilmu adalah saling menguatkan, tentang hakikat sebuah perjalanan, tentang mensyukuri sebuah keyakinan, tentang bagaimana pada akhirnya, kita pergi dan kembali hanyalah untuk-Nya. Buku ini pun dilengkapi peta penjelajahan penulis ke tempat-tempat bernafaskan sejarah Islam di Eropa serta halaman lux berwarna di bagian belakang, lengkap dengan foto tempat-tempat yang disinggahi penulis selama berpetualang di Eropa. Buku ini ditulis dengan bahasa yang begitu lancar mengalir dan mudah dipahami. Meskipun ditulis dengan gaya novel, tetap tak mengurangi esensinya sebagai buku yang sarat akan ilmu dan pengetahuan agama. Saya amat menyukai buku ini dan sejauh ini sudah tiga kali dibaca ulang. Sayangnya, setelah dibaca beberapa kali, bercak-bercak hitam bermunculan pada pinggiran kertas buku ini. Padahal buku ini belum pernah mengalami kecelakaan apa pun selama saya baca (jatuh, terkena air, noda makanan, dsb.) Akhir kata, 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan bacaan yang layak bagi mereka yang ingin memelajari sejarah Islam dengan mudah. Tidak salah bila buku ini menjadi salah satu bestseller Penerbit Gramedia dan sudah dicetak ulang sebanyak delapan kali dalam kurang dari satu tahun. Tentang Penulis

Hanum Salsabiela Rais, adalah putri Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Mengawali karir menjadi jurnalis dan presenter di TRANS TV. Hanum memulai petualangannya di Eropa selama tinggal di Austria bersama suaminya Rangga Almahendra dan beke rja untuk proyek video podcast Executive Academy di WU Vienna selama 2 tahun. Ia juga tercatat sebagai koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya. Tahun 2010, Hanum menerbitkan buku pertamanya, Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta. Sebuah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga dan mutiara hidup. Rangga Almahendra, suami Hanum Salsabiela Rais, teman perjalanan sekaligus penulis kedua buku ini. Menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di Yogyakarta, berkuliah di Institut Teknologi Bandung, kemudian S2 di Universitas Gadjah Mada, keduanya lulus cumlaude. Memenangi beasiswa dari Pemerintah Austria untuk studi S3 di WU Vienna, Rangga berkesempatan berpetualang bersama sang istri menjelajah Eropa. Pada 2010 ia menyelesaikan studinya dan meraih gelar doktor di bidang International Business & Management. Saat ini ia tercatat sebagai dosen di Johannes Kepler University dan Universitas Gadjah Mada. Rangga sebelumnya pernah bekerja di PT Astra Honda Motor dan ABN AMRO Jakarta. Untuk mengontak penulis, silakan mengirim email ke hanumrais@gmail.com atau ralmahen@yahoo.com. Kunjungi juga situs resmi buku ini di www.hanumrais.com
http://www.mediatadulako.com/index.php/2012-10-23-17-27-33/kreativitas/137-resensi-buku-99cahaya-di-langit-eropa

RESENSI BUKU : 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA


Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal : 99 Cahaya di Langit Eropa : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra : PT Gramedia Pustaka Utama : Pertama, Juli 2011 : x + 412 halaman

Buku yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais bersama sang suami Rangga Almahendra ini menceritakan tentang kisah perjalanan wisata ruhani keduanya di dataran Eropa . Perjalanan wisata ruhani tersebut bukan tujuan utama mereka pergi ke Eropa melainkan untuk menyelesaikan program doktoral yang diterima oleh Rangga melalui beasiswa. Di sela-sela perkuliahan mereka berwisata ruhani yang terkadang dilakukan oleh Hanum dan beberapa teman yang baru ia kenal ketika di Eropa. Buku ini berlatar belakang berbagai tempat bersejarah di Eropa, dimana Hanum dan Rangga menceritakan secara detail tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi seperti museum Louvri, Katedral Mezquito Cordoba, Mesjid Agung Paris, Museum Wien Stadt hingga Hagia Sophia. Diceritakan pula mengenai seorang toko yang bernama Kara Mustafa Pasha dan dakwah para muslimin yang merupakan kaum minoritas di dataran Eropa. Cerita dalam buku ini dikemas apik sehingga para pembaca mampu membayangkan apa yang dilihat oleh Hanum dan Rangga ketika mereka berada di Eropa. Rute perjalanan mereka bermula di Wina berlanjut ke Paris, Cordoba, Granada hingga Istanbul Turki. Dalam buku ini diuraikan pula bukti-bukti kejayaan Islam yang tertuang secara detail mulai dari bangunan, lukisan Kara Mustafa Pasha hingga mantel Raja Roger II yang berkaligrafi arab sehingga tidak terbantahkan bahwa Islam pernah cahaya di langit Eropa.

http://indosinema.com/2013/11/sinopsis-99-cahaya-di-langit-eropa/
99 Cahaya di Langit Eropa menceritakan pengalaman nyata sepasang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Eropa. Bagaimana mereka beradaptasi, bertemu dengan berbagai sahabat hingga akhirnya menuntun mereka kepada rahasia besar Islam di benua Eropa. Sebuah film yang diangkat dari novel laris karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, film ini mengambil lokasi di 4 negara yaitu di Vienna(Austria), Paris (Perancis), Cordoba (Spanyol) dan Istanbul (Turki). Film produksi ke-40 Maxima Pictures dan akan ditayangkan pada hari jadi ke tujuhnya yang jatuh pada tanggal 5 Desember 2013. Genre : Drama Produksi : Maxima Pictures Pemain : Acha Septriasa, Abimana Ariasatya, Nino Fernandez, Dewi Sandra , Raline Shah, Marissa Nasution, Alex Abbad, Hanum Salsabiela Sutradara : Guntur Soeharjanto REMAJA

http://www.masanwar.com/2013/10/Sinopsis.dan.Trailer.Film.99.Cahaya.Di.Langit.Eropa.html
Genre : Drama Tanggal Rilis : 05 Desember 2013 Produksi : Maxima Pictures PEMAIN & CREW Sutradara : Guntur Soeharjanto Penulis Naskah : Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra Pemeran : Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Dewi Sandra, Nino Fernandez, Fatin Shidqia Lubis, Marissa Nasution, Alex Abbad, Gecchae

RATING FILM

0 Rating : 8

Sinopsis FILM 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA


Film 99 Cahaya di Langit Eropa menceritakan perjalanan dari Hanum Rais (Acha Septriasa) serta sang suami Rangga Almahendra (Abimana Aryasatya) dalam memperoleh cahaya Islam ketika menjelajahi benua Eropa. Tinggal di Eropa sepanjang tiga thn. untuk menemani sang suami yang sedang memperdalam ilmu pengetahuan, dua anak manusia itu malah menemukan beberapa hal menarik. Bukan hanya meneemukan keindahan dari Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Tetapi Hanum serta Rangga meneemukan sangat banyak area di Eropa yang menaruh sejuta misteri perihal Islam. Dalam perjalananya menjajaki area ziarah di benua Eropa, mengantarkan Hanum bersua dengan wanita muslim asal Turki diAustria bernama Fatma Pasha (Raline Shah) yang memberikan luasnya kedamaian Islam. Di Paris, Hanum bersua dengan seseorang mualaf, Marion Latimer (Dewi Sandra) yang bekerja untuk ilmuwan di ArabWorld Institute Paris. Marion tunjukkan bahwasanya Eropa juga yaitu pantulan cahaya kebesaran Islam. Sama halnya dengan sang suami, Rangga Almahendra tiga thn menunut ilmu pengetahuan di benua Eropa membuatnya jadi lebih cinta dengan Islam. Rangga sadar bahwasanya Eropa banyak menaruh juga Eropa menaruh harta karun histori Islam yang mengagumkan berharganya. Terlebih ketika dia mesti belajar bertoleransi waktu belajar berbarengan wanita non muslim bernama Marjaa (Marissa Nasution), seseorang teman dekat yg tidak mempunyai agama bernama Stefan (Nino Fernandez). Sampai belajar memdalami Islam dari seseorang rekan asal Pakistan bernama Khan (Alex Abbad).

Fatin di 99 Cahaya Di Langit Eropa

Selain penampilan beberapa pemeran 99 Cahaya di Langit Eropa tersebut, ada juga penampilan khusus dari designer muslimah, Dian Pelangi, dan juara X Factor Indonesia, Fatin Shidqia Lubis. Seanjutnya bagaimana perjalanan Hanum Rais serta Rangga Almahendra dalam mencari 99 cahaya kesempurnaan Islam dibenua Eropa? Bagaimana Eropa buka mata mereka untuk jadi seseorang agen muslim yang baik? Dapatkan jawabannya dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa yang segera dapat disaksikan dibioskop kesayangan Anda pada tanggal 5 Desember 2013 yang akan datang.

Trailer Film 99 Cahaya Di Langit Eropa


Pada tanggal 30 Oktober 2013 hari ini secara resmi Official Trailer Film 99 Cahaya Di Langit Eropa telah diluncurkan, bagaimana cuplikan film tersebut? Saksikan dalan Trailer 99 Cahaya Di Langit Eropa yang berdurasi 2 menit 38 detik berikut ini.

http://keykokeyo.wordpress.com/2012/07/27/resensi-novel-99-cahaya-di-langit-eropa/

Resensi Novel : 99 Cahaya di Langit Eropa


BY KIESTIKO SARI ON 27 JULY 2012

Detail Novel:

Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa) ISBN: 978-979-22-7274-1 Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra Penerbit: PT. Gramedia, Jakarta Terbit: Juli 2011 Isi: 392 halaman Sinopsis Novel 99 Cahaya di Langit Eropa 99 Cahaya di langit Eropa adalah sebuah novel perjalanan ditulis oleh putri Amien Rais yang bernama Hanum Salsabiela Rais bersama teman perjalanan sekaligus suaminya, Rangga Almahendra. Hanum yang lahir dan menempuh pendidikan di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM ini memulai petualangan di Eropa selama tinggal di Austria menemani sang suami, lulusan cumlaude di ITB Bandung dan UGM (S2), menempuh beasiswa S3 dari Pemerintah Austria di WU Vienna. Sepintas lalu, novel ini seperti novel travelling kebanyakan yang mencoba menceritakan tempattempat dan bangunan indah pun menarik perhatian seantero dunia, namun setelah dibaca lebih lanjut ternyata novel perjalanan ini menguak hal-hal yang mungkin selama ini tidak pernah kita, sebagai muslim, bayangkan dan duga sebelumnya ada di ranah Eropa. Dengan kata lain, novel ini mencoba menunjukkan bahwa Eropa menyimpan misteri peradaban luhur sejarah Islam, tak hanya terbatas pada Eiffel atau Colosseum belaka. Novel ini bercerita tentang perjalanan Hanum menjelajah Eropa yang terbagi dalam 4 bagian besar tempat-tempat yang dikunjungi Hanum, yaitu Vienna (Wina) Austria, Paris, Cordoba Granada, dan Istanbul. Terselibnya cerita pertemuan dan persahabatan Hanum dengan

saudara-saudara muslim di tempat itu seakan mengajak pembaca untuk turut merasakan persahabatan pun kebersamaan selama perjalanan spiritual ini. Wina Magst du Schokolade Maukah kau coklat ini? Pada waktu itu Hanum mencoba cara yang lebih menarik dalam berkenalan dengan seorang muslimah asal Turki yang bernama Fatma Pasha dalam kelas bahasa Jermannya di Austria. Karena perasaan sesama muslimah itulah yang makin mendekatkan mereka dalam persahabatan di negara mayoritas non muslim tersebut. Perjalanan pertama Hanum berkeliling Wina adalah karena ajakan Fatma untuk melihat keindahan kota Wina dari atas bukit Kahlenberg. Dari atas bukit ini, Hanum dapat melihat dengan jelas Kota Wina seutuhnya, termasuk sebuah sungai terkenal, Donau atau Danube, yang membelah dua Kota Wina. Tanpa dinyana oleh Hanum, ternyata di tepi Sungai Danube itu berdiri sebuah bangunan berwarna hijau dengan kubah blenduk dan minaret, Masjid Vienna Islamic Center Pusat Peribadatan umat Islam terbesar di Wina. Di bukti inilah Hanum pertama kali belajar memahami konsep Fatma tentang bagaimana menjadi agen muslim yang baik di Eropa. Selain itu juga mengetahui sejarah Islam bahwa Turki pernah hampir menguasai Eropa Barat sebelum akhirnya dipukul mundur oleh gabungan Jerman dan Polandia di atas bukit Kahlenberg. Bersama Fatma, Hanum merencanakan mengunjungi beberapa tempat peradaban Islam di Eropa. Namun kemudian, Fatma menghilang secara tiba-tiba sehingga rencana tersebut sulit diwujudkan. Paris Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat Laa Ilaaha Illallah Perjalanan Hanum di Paris dilakukan bersama mualaf Muslimah Prancis, Marion Latimer, lulusan Studi Islam Abad Pertengahan dari Universitas Sorbornne. Bersama Marion, Hanum menjelajahi Museum Louvre dengan koleksinya yang terlengkap di dunia mencakup hasil karya maestromaestro dunia dan tentu saja lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci yang sangat tersohor. Di Museum ini jualah terdapat lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus dengan penemuan yang mengejutkan. Tak kalah menarik adalah misteri Axe Historique, garis lurus imajiner yang tepat membelah kota Paris dimana bangunan-bangunan penting Paris tepat berdiri di garis tersebut (monument Obelisk Luxor Mesir, Jalan Champs Elysses, dan berujung di Monumen Arc de Triomphe de lEtoile) dalam kaitannya dengan arah Kiblat di Mekkah. Di Paris ini juga Hanum mendapat

kesempatan menunaikan ibadah sebagai seorang muslim di Masjid Besar Paris, Le Grande Mosquee de Paris serta mengetahui sejarah Islam lainnya di Eropa. Cordoba dan Granada yang lebih penting kau harus mengunjungi 2 tempat spesial di Eropa The true city of lights. Kota seribu cahaya, Cordoba. Di kota ini kita diajak oleh Hanum dan Rangga mengunjungi The Mosque Cathedral yang berarti masjid atau Mesquita dalam bahasa Spanyol, namun bangunan ini kini telah dialih fungsi menjadi gereja. Dalam perjalanannya mengelilingi Mesquita dengan dipandu oleh pensiunan tour guide mesquita, kita diajak untuk memahami lebih dalam betapa Cordoba pernah menorehkan masa keemasan Islam. Perjalanan dilanjutkan ke Istana Al Hambra dengan latar belakang Pegunungan Sierra Nevada yang berwarna putih salju di Gordoba. Istana yang diserahkan oleh Mohammad Boabdil (sultan terakhir di Granada) kepada Isabella dan Ferdinand, the royal couple yang menorehkan sejarah kelam bagi Islam di Spanyol. Sebuah istana dengan tiga ruangan berbeda yaitu benteng pertahanan Alcazaba, Pertamanan Generalife dan istana utama The Nasrid Palace. Nasrid Palace lah yang menjadi daya tarik Al Hambra karena menyuguhkan sebuah pemandangan menakjubkan berupa ukiran-ukiran kalligrafi Qurani kayu dan dinding yang menyerupai helai-helai kain berbordir halus dan berbelitbelit. Istanbul Disini, Hanum mengajak kita untuk melihat lebih dekat tentang Hagia Sophia, sebuah bangunan yang bernasib hampir sama dengan Mezquita di Spanyol. Musem yang pada awalnya adalah sebuah gereja namun dialih fungsi sebagai masjid setelah kejatuhan Byzantium ke tangan Turki Ottoman. Dilanjutkan dengan Blue Mosque, Masjid Sultan Ahmed yang berdiri tepat di depan Hagia Sophia. Di Istanbul pulalah, Hanum akhirnya bertemu kembali dengan Fatma yang mengajak mereka mengunjungi Topkapi Palace. Istana ini menggambarkan kesedarhanaan kehidupan sultansultan Turki serta bangunan-bangunan asimetris yang tidak lazim dijumpai. Karena, menurut Sultan, kesempurnaan itu hanya milik Allah (hlm 350) Perjalanan dengan Hanum, Rangga dan Fatma di Istanbul menorehkan filosofi dan pengetahuan baru mengenai peradaban Islam di Turki dan menguak beberapa hal yang akan membuat kita, umat muslim, merasa bangga. Kelebihan

Cerita yang disampaikan begitu santai dengan bahasa yang lugas dan sederhana sehingga seakan mengajak pembaca turut serta dalam perjalanan spiritual yang dilakukan. Manfaat Memberikan gambaran baru tentang Eropa selain keindahan dan kemegahan bangunan yang masyur di seantero dunia. Dengan membaca novel ini kita dapat mengetahui perkembangan Islam di Eropa sehingga dapat menjadi agenda wajib apabila kita diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki kesana.

Satu kalimat Hanum yang begitu close to home buat saya: Hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Makna sebuah perjalanan harus lebih besar dari itu. Perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. (hlm 6-7)

http://cencen.guru-indonesia.net/artikel_detail-40458.html

MENJELAJAHI JEJAK ISLAM DI EROPA

Judul : 99 Cahaya di Langit Eropa Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Penulis : Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra Kategori : Novel Islami Tebal : 412 Halaman Harga : Rp. 69.000,Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, penulis merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Sebuah pengalaman yang makin memperkaya spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda. Tinggal di Eropa selama 3 tahun merupakan arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya, penulis menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma atau gondola-gondola di Venezia. Pencarian ini pun telah mengantarkan putri kesayangan Bapak M. Amien Rais ini pada daftar

tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Dirinya tak menyangka jika sesungguhnya Eropa juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam. Eropa dan Islam. Keduanya pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Penulis pun merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya ini. Buku 99 Cahaya di Langit Eropa : Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa ini bermula dari pertemuan penulis dengan seorang perempuan muslim bernama Fatma Pasha. Seorang imigran Turki yang tinggal di Wina, Austria. Sebagai seorang Turki di Austria, Fatma mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini, Fatma mencobanya lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati. Ia menyebarkan misi menjadi agen muslim yang baik , meluruskan arti jihad sebenarnya bukan dengan gencatan senjata dan berperang namun lebih luas dengan perantaraan kalam ( pengetahuan ). Hanum dan Fatma lalu mengatur rencana. Keduanya mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Hingga akhirnya perjalanan pertama ini justru mengantarkannya ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban di Eropa. Di Paris, Hanum bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepada penulis bahwa Eropa adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Penjelasan Marion ini telah membukakan mata hati penulis dan membuatnya jatuh cinta lagi dengan agamanya, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh kasih dan damai. Ditulis dengan gaya bertutur personal, buku yang ditulis oleh Hanum Salsabila Rais dan sang suami tercinta, Rangga Almahendra ini akan membawa kita ke dalam lingkungan hidup yang riil. Penuh dengan nuansa dan gemuruh perjalanan sejarah peradaban Islam Eropa, baik pada masa silam maupun pada saat ini. Carapenyampaiannya pun sangat jelas, ringan, dan lancar mengalir. Lewat kisah menarik ini juga, penulis akan membuka mata kita akan pernak-pernik kehidupan Islam di Eropa dan merefleksikannya untuk memperkuat keimanan. Berbeda dari buku-buku traveling sebelumnya, akhir dari perjalanan penulis selama 3 tahun di Eropa ini justru mengantarkannya pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan diri pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna, Allah SWT. Posted by Cindrakasih~Astrie at 21:01

http://hiburan.kompasiana.com/film/2013/12/05/resensi-film-99-cahaya-di-langit-eropa615902.html

Resensi Film 99 Cahaya di Langit Eropa


OPINI | 05 December 2013 | 16:17 Dibaca: 1414 Komentar: 3 3

Film 99 Cahaya di Langit Eropa yang tayang mulai 5 Des

Jujur saja saya tertarik menonton film ini,langsung di hari pertama penayangannya tanggal 5 Desember 2013, adalah karena saya telah menamatkan novelnya yang dikarang oleh putri Amien Rais salah seorang politikus ternama negeri ini yang pernah mendobrak kejenuhan iklim politik diktator rejim Soeharto 15 tahun lalu. Tak disangka, tak dinyana, putri beliau, Hanum Salsabiela Rais dibantu suaminya Rangga Almahendra adalah penulis novel berbakat. Tulisan Hanum sebagaimana dalam novel 99 Cahaya Langit Eropa menjadi novel Orang Indonesia Bertualang Di Eropa ketiga yang sukses menjadi best seller lalu difilmkan, setelah Laskar Pelangi Edensor karya Andrea Hirata yang filmnya juga akan tayang tanggl 19 Desember 2013 lalu Negeri 5 Menara nya A. Fuadi yang filmnya tayang tahun 2012 lalu.

Buku

Dari novel best seller yang inspiratif itulah rasa penasaran saya akan film ini pun membuncah, sehingga bela-belain cari bioskop terdekat dari kantor,.tepat di hari pertama penayangannya di Indonesia. Oke, kita mulai resensi nya. Film ini dibuka dengan adegan kota Wina, Austria yang menjadi tempat tinggal pasangan muda Rangga (diperankan oleh Abimana Aryasatya) dan Hanum (diperankan oleh Acha Septriasa) di tahun 2008. Rangga adalah seorang mahasiswa Magister dari Indonesia yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di negerinya Mozart tersebut, dan Hanum yang saat itu adalah reporter Trans TV, mau tak mau meninggalkan pekerjaannya untuk ikut serta mendampingi sang suami kuliah di Eropa. Suami kuliah, maka istri pun jalan-jalan daripada bengong sendirian di apartemen, apalagi di negeri yang bahasa ibu nya tidak kita pahami. Yap..di awal film itu, dikisahkan bahwa Hanum harus mengambil kursus bahasa Jerman yang merupakan bahasa ibu di negara Austria, agar ia dapat berkomunikasi dengan penduduk sekitar selama petualangannya hidup mendampingi suami di sana.

Dari kelas kursus bahasa Jerman inilah, Hanum berkenalan dengan seorang wanita Turki bernama Fatma Pasha yang dalam film ini diperankan oleh (Raline Shah, aktris yang terkenal dengan film 5 cm) , yang setiap berjalan-jalan dengan Hanum, hampir selalu tak lupa menjemput dari sekolah dan mengajak serta putri kecilnya Ayse (diperankan oleh pendatang cilik yang memukau akting nya, Geccha Qeaghaventa). Teman-teman Rangga di kampus diperankan juga secara menarik yaitu mahasiswa Muslim dari India bernama Khan (Alex Abbad) seorang Muslim fanatik yang bahkan rela tak lulus ujian demi ikut sholat Jumat, Steffan (Nino Fernandez) seorang agnostik/atheis yang terus mencecar Rangga dengan pertanyaan logika seputar Apakah Tuhan itu ada?..lalu sosok Maarja (Marissa Nasution) yang merupakan seorang gadis cantik Eropa Timur yang menaruh hati dengan Rangga tak peduli bahwa Rangga tealh beristri. Menarik di sini adalah akting Alex Abbad yang sering tampil sebagai bajingan bejat dalam film-film sebelumnya, terutama film Merantau nya Iko Uwais yang membuat namanya go international, pun dikenal sebagai VJ MTV yang jahil di akhir tahun 90-an. Dalm film ini tampil begitu dingin, begitu tenang, dan terlihat mampu memerankan seorang Muslim India yang fanatik,.kebetulan secara fisik dia memang keturunan Timur Tengah.heheheno mean to be racist dude. Sementara dari teman-teamnnya Hanum, selain Fatma di atas, ada temanteman Turki nya yang juga tinggal di Osterreich, yang di dalam novel sebenarnya adalah teman-teman pengajian Fatma, yaitu Latife dan Ezra. Menarik tokoh Ezra dalam film ini diperankan oleh Hanum Rais sendiri. Dan aktingya pun lumayan, sampai-sampai saya bertanya-tanya kok, gak sekalian saja si Hanum memerankan dirinya sendiri? Wajahnya pun belum terlalu jauh berbeda dengan Hanum tahun 2008 sebagaimana di novel ini. Mungkin Rangga asli keberatan jika Hanum asli harus memerankan adegan kecup kening yang kerap dilakukan oleh Abimana dan Acha dalam film ini.hehehe.yo wis, koe bojo nekarep mu mas

Rangga dan Hanum asli (detik.com)

Ketika pasangan ini bertualang ke Paris, mereka juga bertemu seorang tokoh menarik dan simpatik yaitu Marion Latimer yang diperankan oleh aktris Dewi Sandra dengan lumayan berkarakter. Dan jika Raline saya rasa secara fisik kurang bule untuk memerankan wanita Turki, maka Dewi saya rasa tampang nya cukup bule untuk memerankan seorang mualaf Prancis. Tak kalah menarik, kehadiran cameo (tokoh yang bermain film memerankan dirinya sendiri), Fatin Shidqia bintang X-Factor yang dalam film ini, diceritakan sedangshooting video clip terbarunya.

Rangga dan Hanum bertemu Fatin di Paris (detik.com)

Dari segi gambar, film ini cukup baik dalam mengambil setting keindahan kota-kota Wina dan Paris. Bahkan adegan Rangga adzan Maghrib di atas menara Eiffel, dengan background kota Paris di senja yang matahrinya masih terang benderang, cukup menyentuh. Tapi dari segi cerita.saya agak sedikit kecewa dengan Sutradara Guntur Soeharjanto.

Ia seperti memperlakukan semua penonton film ini, adalah orang seperti saya, yang telah tamat baca novel 99 Cahaya di Langit Eropa Sehingga, beberapa scene diambil dengan kurang mendetil. Contoh: 1) Adegan dua warga bule Austria menceritakan asal muasal Roti Croissant yang mereka makan Dalam novel diceritakan dengan jelas, si bule bercerita kepada temannya, bahwa penamaan roti Croissant adalah berdasarkan sejarah kemenangan pasukan Eropa dalam mengalahkan invasi pasukan Muslim Kesultanan Ottoman Turki. Sedemikian dendamnya masyarakat Eropa yang non Muslim, sehingga mereka membuat roti berbentuk bulan sabit untuk dimakan, bukan untuk dihormati. Bulan Sabit adalah lambang negara Turki, yang awalnya sebelum jaman Attaturk malah merupakan simbol kekaisaran Islam Eropa di bawah kekuasaan Turki. Dan memang salah satu simbol agama Islam pula bersama bintang. Attaturk menghilangkan lambang bintang nya dalam bendera Turki saat ini, karena ia anti atribut Islam. Dalam film hanya diceritakan bahwa roti Croissant adalah berasal dari lambang bendera Turki. Lahsaya jamin 80% warga Indonesia yang menonton film ini mungkin belum terlalu hafal dengan bendera Turki, bisa saja salah menerjemahkan dialog dalam film itu..sehingga mereka jika melihat adegan ini bisa bertanya, Memang nya lambang bendera Turki berbentuk Roti ya? atau berbentu Roti Croissant ya?.padahal yang benar bentuk bulan sabit nya yang harus dijelaskan, bukan langsung dari roti dikaitkan dengan bendera Turki. Dalam film tiba-tiba saja, Fatma menahan Hanum untuk membalas secara emosional omongan mereka yang dianggap menghina Islam.menghina dari mananya ya?kata sepasang penonton yang duduk di sebelah saya. Wong cuma ngomong bendera Turki, kok langsung dikaitkan dengan menghina Islam? 2) Berkali-kali dalam film ini disebut-sebut nama Kara Mustapha Pasha. Tapi tidak pernah benar-benar dijelaskan siapa dia sebenarnya, kecuali hanya sedikit di bagian awal film. Bahkan ada sebuah adegan Hanum, Fatma dan Ayse sedang berkunjung ke Museum Kota Wina, tiba-tiba Fatma terlihat sedih memandangi lukisan

Kara Mustapha. Tapi di film hanya dijelaskan bahwa Fatma sedih karena Kara adalah nenek moyang nya. Namun alih-alih menjadi pahlawan Turki, ia malah membawa aib bagi bangsa Turki. Kenapa? Tidak dijelaskan secara detil dalam film ini, walau di sebelah lukisannya terlihat jelas lukisan dinding besar menggambarkan pertempuran pasukan Kara melawan pasukan Austro-Hongaria-Prusia. Namun penonton seperti disuruh menerjemahkan sendiri apa arti lukisan tersebut. Saya juga tahunya jika itu lukisan perang era Kara Mustapha, karena telah baca novel nya, sulit untuk merejemahkan sendiri dari film, karena gambarnya hanya sekilas. Tapi tidak pernah dijelaskan siapa dia, kecuali bahwa ia adalah seorang Panglima Perang Turki yang pernah bertempur di Austria, lalu mati dalam keadaan menyesal. Menyesal kenapa? Dalam novel diceritakan, bahwa penyerangan Kara Mustapha sekitar 400 tahun lalu ke kota Wina, berakhir dengan kegagalan, karena ia telah meremehkan pasukan musuhnya, salah strategi, dan akhirnya pasukannya kalah. Sudahlah kalah perang, bukannya dilindungi oleh Sultan Turki, tapi ia malah akhirnya dihukum mati di Beograd yang sekarang menjadi ibukota negara Serbia. Terus terang, jika kita terbiasa dengan film-filmnya Hanung Bramantyo, Riri Riza, atau sutradara tahun 80-an yang pernah membuat film-film kisah orang Indonesia di Eropa seperti Arifin C. Noer atau Syumandjaya, kualitas cerita Guntur masih kalah jauh. Dan jangan kecewa, jika pada akhir film ini, ternyata pasangan Rangga dan Hanum belum sampai ke Cordoba dan Istanbul yang merupakan bagian akhir dari novel nya. Juga keduanya belum sampai bertemu lagi dengan Fatma taoi filmnya telah usai. Karena ternyata, eh ternyata.judi itu haraaaam(hehehe ini sih nyanyian Bang Haji Rhoma Irama) Ternyata scene yang tidak ada di atas itu semua, baru akan tampil dalam lanjutan film 99 Cahaya di Langit Eropa yang baru akan tampil di bioskop tahun 2014 mendatang.hahahaha. Oiya ada sedikit kaitan menarik antara film 99 Cahaya di Langit Eropa dengan film Laskar Pelangi 3: Edensor. Ketiganya sama-sama ada setting di kota Paris dalam waktu yang cukup lama, dan detil adegan yang bermain di sekitar icon nya kota Paris, yaitu

Menara Eiffel, Gerbang Arc de Triomphe, Museum Louvre..yang kurang dari film 99 Cahaya di Langit Eropa dibandingkan film Laskar Pelangi 3: Edensor adalah tidak adanya adegan kuliah di Universitas Sorbonne Paris yang terkenal sebagai Harvard nya Eropa itu. Satu lagi kaitannya adalah penampilan aktor Abimana Aryasatya yang dalam 99 Cahaya di Langit Eropa memerankan tokoh pendamping Hanum yaitu Rangga, maka dalam film Laskar Pelangi 3: Edensor ia memerankan Arai, temannya Ikal. Sang aktor sedang ketiban rejeki nomplok, dalam setahun memerankan dua film Indonesia yang mengambil setting keliling Eropa, dan salah satunya di kota Paris yang melegenda itu. Secara keseluruhan, jika Anda bukan seorang penikmat film yang senang detil adegan, karena takut detil bisa bikin pusing kepala, maka film 99 Cahaya di Langit Eropa ini sudah cukup menghibur. Dan, cukup menyampaikan pesan mengenai menyebarkan citra baik Islam dengan tetap bertoleransi dengan agama lain, walau menurut saya masih kurang menyentuh jika dibandingkan film Ayat-Ayat Cinta.
http://sejarah.kompasiana.com/2012/04/22/resensi-buku-99-cahaya-di-langit-eropa-456599.html

Resensi buku 99 cahaya di Langit Eropa


OPINI | 22 April 2012 | 16:33 Dibaca: 780 Komentar: 1 0

Judul buku :

99 cahaya di Langit Eropa

Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Pengarang : Penerbit Tebal : Tahun : : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra PT Gramedia Pustaka Utama 412 Halaman Cetakan pertama Juli 2011

Buku kali ini diluar dugaan , aku beli pas liat sampul belakang, dan kebetulan diskon ! memang cari yang diskonan J Tidak disangka ternyata buku best seller, sudah cetakan ke 6 ( telat juga ya bacanya ), dan pengarangnya anak dari seorang tokoh terkenal, Amien Rais.

Buku ini berkisah tentang perjalanan di eropa, tepatnya Wina, Austria dimana penulis sempat merasakan serunya melanglang buana ke negeri orang. Yang membuat kisah ini berbeda, yaitu memperkenalan sejarah eropa islam kepada para pembacanya. Pembaca diajak mengenal historis kejayaan Islam yang massif saat itu di eropa. Selain menceritakan seluk beluk kota Wina, tempat ibadah di Wina, keindahan dan panorama kota, juga banyak membahas isi museum dari berbagai tempat, juga kota lainnya di eropa. Nah, ini yang membuatnya semakin menarik, ternyata penulis juga berkesempatan mengunjungi kota lain yang tak jauh dari Wina. Seperti mengunjungi Paris, Spanyol tepatnya Cordoba, Granada, Istanbul Turki dan yang terakhir mengunjungi Kota Suci Mekkah, Arab Saudi. Secara tak langsung buku ini juga tanpa bermaksud mengajari, diselipi dengan mengenalkan ajaran islam yang rahmatan lil alamin. Yaitu membalas penghinaan dengan cara yang tak terbayangkan. Emosi dan perasaan tersinggung terkadang terlalu kelam dalam diri menutupi cara berpikir membalas dendam dengan cara luar biasa elok, elegan , dan jauh lebih berwibawa daripada sekedar membalas dengan perbuatan atau sikap antipati. Cara menahan diri yang belum tentu bisa dilakukan sembarang orang. Perjuangan menjadi agen islam yang damai, teduh, indah yang membawa keberkahan dikomunitas non muslim juga tak luput disampaikan penulis. Dengan perkawanan 4 saudara muslim dari Negara yang berbeda, para agen musli ini juga mencatat mimpi mimpi yang akan mereka capai bersama. Diantaranya yaitu : Syiar muslim di Austria :

1. Tebarkan senyum indahmu 2. Kuasai bahasa Jerman dan Inggris 3. Jujur dalam berdagang
Dimana cita cita ini seperti menembus keinginan kakek buyut Kara Mustafa yang kandas Juga mimpi untuk mengunjungi tempat tempat bersejarah yang meninggalkan jejak kebesaran Islam. Berikut nama tempat tempat yang dikunjungi penulis Kahlenberg adalah sebuah bukit / pegunungan di winna yang masih menjadi bagian kecil dari gugusan Alpen yang mengitari 7 negara Eropa. Kahl dalam bahasa jerman berarti telanjang, sementara berg pegunungan. Maksudnya orang bisa menelanjangi kota winna tanpa batas dari sini. 1 jam dari pusat kota. Donau / Danube adalah sungai yang membelah kota winna jadi dua

Restoran Der Wiener Deewan ( restoran ala pakistan ) All you can eat. Pay as you wish . Letaknya di jantung kota Wina yang bernama Schottentor. Restoran dengan konsep ikhlas memberi dan menerima. Makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Istana ikon di Wina, Schoenbrunn tandingan Versailles di Paris, Perancis Wien Stadt Museum Vienna Islamic Center Museum Harta kerajaan, istana Hofburg . Schatzkammer, Wien Stasiun Saint Michel > patung malaikat mikail Place de la Sourbonne Pantheon : kuburan orang terkenal seperti Voltailr, marie curie, Braille Museum Louvre : museum dengan koleksi terlengkap di dunia . Mona Lisa, karya Michel angelo, rembrant. Ada section Islamic art gallery. Lukisan bunda maria dan bayi yesus. Ada inskrpsi Arab di kain hijab bunda maria. Jardin des Tuileries, taman besar tepat ditengah kota paris yang bersebelahan dengan kompleks Louvre. Monumen Arc de triomphe du Carrousel Le Grande Mosquee de Paris Sungai Seine Kota pertama di eropa yang dibangun oleh imperium islam The Mosque Cathedral / mezquita Juderia _ komplek orang orang Yahudi Jembatan Puente Romano Sungai Guadalquivir Patung Averroes Dinasti islam terakhir yang bertahan di Spanyol Istana Al hambra Kota yang berada di 2 benua, eropa dan asia

Museum Hagia Sophia, dulu gereja termegah pada zamannya yang kemudian berubah menjadi masjid raya yang menjadi ikon kemenangan Dinasti Usmaniyah atas Byzantium Romawi. Blue Mosque, masjid Sultan Ahmed Topkapi *** Pergilah, jelajalihilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia rahasia hidup ; niscaya jalan apapun yang kau pilih akan mengantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kau temukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan. Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apapun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal ( Paulo Coelho ) *** Baru kusadari ternyata menulis resensi sebuah buku seusai kita membacanya jadi sedemikian penting. Mengapa?

1. Karena secara tak sengaja kita merangkum isi buku yang telah kita baca, mengetik ulang versi kita ( yang kita anggap penting ) 2. Karena buku ini akan saya putar , karena sayang kalau cuma jadi pajangan di rak buku saya saja. Agar lebih bermanfaat akan saya berikan kepada taman bacaan agar semua orang juga dapat membaca dan mengambil manfaat dari buku ini, yang dengan begitu kita dapat passive pahala yaitu mendapat pahala terus dari buku yang sudah saya hibahkan. Karena buku ini tidak mungkin akan kembali kepada saya lagi, makanya supaya bisa kita baca lagi ya dengan cara meresensi-nya sendiri. 3. Hal hal penting yang sudah kita tandai tadi bisa jadi acuan kita untuk melakukan hal yang sama untuk mengejar impian kita kelak : ) Amiiiiiiiin

Laporkan Tanggapi

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/o

Anda mungkin juga menyukai