Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH KENAKALAN REMAJA

Makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Dosen Pengampu : Esti Swastika Sari, M.Pc

Disusun oleh : Fauzi Styobudi (13416244013)

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2013

Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah Kenakalan remaja saat ini sudah dalam titik memprihatinkan. Hal itu terbukti dari maraknya penyimpangan sosial yang dilakuakan oleh remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pelaku penyimpangan tidak hanya dilakuakan oleh remaja putra, tapi remaja putri pun sudah ikut terlibat dalam kenakalan remaja. Entah itu perkelahian antar siswa putri ataupun melakukan seks bebas. Masa-masa remaja adalah masa dimana seorang manusia sedang mencari jati dirinya. Pada masa ini, remaja akan mencoba hal-hal yang baru, entah itu kemauan sendiri atau diajak oleh teman sebayanya. Jika pada masa remaja, guru ataupun orang tua kurang memberikan perhatian dan bimbingan, ini akan berpotensi membentuk kepribadian remaja kearah yang negative. Sebenarnya dalam kasus kenakalan remaja ini kita tidak bisa seratus persen menyalahkan remaja itu sendiri. Ada banyak faktor yang

menyebabakan kenakalan remaja, salah satunya sistem pengajaran di Indonesia yang masih mengedepankan akademis tanpa disertai pengajaran tentang moral dan kepribadian. Adanya kurikulum 2013 yang mengedepankan pembelajaran tentang moral, diharapkan akan membentuk kepribadian siswasiswi kearah yang lebih baik. Kurikulum yang mulai diterapakan pada tahun ajaran 2013/2014 ini baru masa percobaan yakni hanya diterapkan pada kelas VII (tujuh).

B. Rumusan Masalah 1. Apa itu kenakalan remaja ? 2. Apa sajakah faktor penyebab kenakalan remaja ? 3. Bagaimana cara menanggulangi kenakalan remaja ?

C. Tujuan 1. Untuk mengenal lebih jauh tentang kenakalan remja 2. Untuk mengetahui faktor penyebab kenakalan remaja 3. Untuk mengetahui macam-macam kenakalan remaja 4. Untuk membantu mencegah kenakalan remaja

Bab II Pembahasan

A. Mengenal Remaja Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Menurut Konopka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi (a) remaja awal: 12-15 tahun; (b) remaja madya: 15-18 tahun, dan (c) remaja akhir: 19-22 tahun. Sementara Salzman dalam Syamsu Yusuf mengemukakan bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua kearah kemandirian

(independence), minat- minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai- nilai estetika dan isu- isu moral. (Syamsu Yusuf. 2009:184).

B. Pengertian Kenakalan Remaja Kenakalan Remaja atau Juvenile Delinquency terdiri dari dua kata yaitu Juvenile yang berasal dari bahasa Latin juvenilis yang artinya anak anak,anak muda (yang berusia antara 13-21 tahun), ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat pada periode remaja. Delinquent berasal dari kata Latin delinquere yang artinya menjadi jahat, asosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana,dursila, dan lain- lain. 1 Menurut Simanjuntak, sebagaimana yang dikutip oleh Sudarsono, suatu perbuatan disebut delinquency apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup atau suatu perbuatan yang anti sosial dimana didalamnya terkandung unsur-unsur anti normatif. 2

Kartini Kartono, Patologi Sosial 2: Kenakalan Remaja (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm 6 2 Sudarsono, Kenakalan Remaja (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm.10

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongandorongan baru yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis. Pada masa remaja usia awal, perkembangan emosinya menunjukan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat negatif dan temperamental. Dalam menghadapi ketidaknyamanan emosional yang terjadi pada remaja usia awal, tidak sedikit remaja yang mereaksikannya secara depensif, sebagai upaya untuk melindungi kelemahan dirinya. Reaksinya itu tampil dalam malasuai (maladjustment), seperti 1) agresif: melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi dan senang mengganggu; dan 2) melarikan diri dari kenyataan: melamun, pendiam, senang meyendiri, dan meminum minuman keras atau obat-obat terlarang. 3

C. Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Faktor penyebab kenakalan remaja dibagi menjadi dua, yaitu faktor Intern dan faktor Ekstern 1. Faktor Intern : a. Reaksi frustasi diri Dengan semakin pesatnya usaha pembangunan, modernisasi yang berakibat pada banyaknya anak remaja yang tidak mampu menyesuaikan terhadap berbagai perubahan sosial itu. Mereka lalu mengalami banyak kejutan, frustasi, ketegangan batin dan bahkan sampai kepada gangguan jiwa. b. Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak remaja Adanya gangguan pengamatan dan tanggapan di atas sangat menganggu daya adaptasi dan perkembangan pribadi anak yang sehat. Gangguan

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja , (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), hlm 197

pengamatan dan tanggapan itu, anatara lain: halusinasi, ilusi dan gambaran semua. Tanggapan anak tidak merupakan pencerminan realitas lingkungan yang nyata, tetapi berupa pengolahan batin yang keliru, sehingga timbul interpretasi dan pengertian yang salah. Sebabnya ialah semua itu diwarnai harapan yang terlalu berlebihan dan kecemasan yang berlebihan. c. Gangguan berfikir dan intelegensi pada diri remaja Berfikir mutlak perlu bagi kemampuan orientasi yang sehat dan adaptasi yang wajar terhadap tuntutan lingkungan. Berpikir juga penting bagi upaya pemecahan kesulitan dan permasalahan hidup sehari- hari. Jika anak remaja tidak mampu mengoreksi pekiran-pekirannya yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang ada, maka pikirannya terganggu. d. Gangguan perasaan pada anak remaja Perasaan memberikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebahagiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia. Jika semua tadi terpuaskan, orang merasa senang dan bahagia. 2. Faktor Ekstern a. Keluarga Hasil dari beberapa penelitian menunjukan bahwa anak/remaja yang dibesarkan dalam lingkungan sosial keluarga yang tidak baik, maka resiko anak untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi kepribadian antisocial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dalam keluarga sehat atau harmonis (sakinah). b. Sekolah Kondisi sekolah yang tidak baik dapat menganggu proses belajar mengajar anak didik, yang pada gilirannya dapat memberikan peluang pada anak didik untuk berperilaku menyimpang. Misalnya, kurikulum sekolah yang sering berganti-ganti, muatan agama/budi pekerti yang kurang. Dalam hal ini yang paling berperan adalah guru Agama, guru PKN

dan Bimbingan Konseling, meskipun semua elemen sekolah bertanggung jawab atas perilaku anak di sekolah. c. Kondisi Masyarakat Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau rawan merupakan faktor yang kondusif bagi anak/remaja untuk berperilaku menyimpang. d. Media Elektronik TV, Video, Film tampakanya ikut berperan merusak mental remaja. Sebuah penelitian lapangan yang pernah dilakukan di Amerika menunjukan bahwa film yang memamerkan tindakan kekerasan sangat berdampak buruk bagi tingkah laku remaja. Karena kita tahu dalam Interaksi Sosial ada tahapan yang dinamakan identifikasi, jadi tidak heran jika remaja berbuat seperti apa yang mereka tonton.

D. Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja Singgih D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : 1. Kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum. 2. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang- undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.
Menurut bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ;

1. Kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit . 2. Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin.

3. Kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian.

E. Cara Mengatasi Kenakalan Remaja Setelah membaca berbagai hal tentang kenakalan remaja yang dewasa ini semakin memprihatinkan, kita perlu adanya solusi untuk menanggulangi kenakalan remaja agar generasi mendatang tidak hancur. Karena, yang akan jadi pemimpin pada masa mendatang adalah anak-anak yang sekarang masih menginjak SMP ataupun SMA. Adapun upaya untuk menanggulangi hal tersebut, yaitu dengan : 1. Tindakan preventif Tindakan preventif yaitu segala tindakan yang bertujuan mencegah timbulnya kenakalan remaja. Oleh karena itu perlu diadakan tindakan pencegahan. Pendidikan Agama adalah salah satu cara yang terbilang ampuh dalam mengatasi kenakalan remaja. Pendidikan Agama dibagi menjadi empat (4) tahapan, yaitu: a. Pendidikan Pranatal Pendidikan Pranatal yaitu pendidikan yang dilakukan pada saat anak masih dalam kandungan ibunya, dimana saat ibu mengandung harus mendapatkan bimbingan kearah kesempurnaan tata kehidupan yang sehat dan menurut agamanya. b. Pendidikan Postnatal Pendidikan postnatal yaitu pendidikan yang dilakukan setelah anak itu lahir, dalam hal ini yang memegang peranan penting adalah keuarga, karena keluarga merupakan unit terkecil yang memberikan pondasi primer bagi perkembangan anak sedangkan metode yang digunakan untuk pendidikan agama dalam keluarga antara lain:

1) Membiasakan anak hidup dalam suasana keagamaan 2) Memberikan contoh dalam perbuatan yang kongkrit

3) Selalu memberikan pimpinan dan bimbingan pada anak 4) Membina hubungan akrab dengan anak 5) Menanamkan sikap disiplin 6) Memanfaatkan waktu luang dengan baik c. Pendidikan di sekolah Sekolah merupakan pembinaan yang telah diletakkan dengan dasar-dasar dalam lingkungan keluarga sekolah menerima tanggung jawab pendidikan berdasarkan kepercayaan keluarga. Di sekolah di bawah asuhan guru- guru pendidik, anak memperoleh pendidikan dan pengajaran. Anak belajar berbagai ilmu pengtahuan dan ketrampilan yang dijadikan sebagai bekal untuk kehidupannya kelak di masyarakat. d. Lingkungan masyarakat Masyarakat turut serta memikul tanggung jawab pendidikan. Secara sederhana masyarakat dapat diartikan sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebuadayaan dan agama. Setiap masyarakat mempunyai cita-cita peraturan-peraturan dan system kekuasaan tertentu. Masyarakat besar pengaruhnya dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada didalamnya. Pemimpin masyarakat muslim tentu saja menghendaki agar setiap anak didik menjadi anggota yang taat dan patuh menjalankan agamanya, baik dalam lingkungan keluarganya, anggota sepermainannya, kelompok kelas dan sekolahnya. Bila anak telah besar diharapkan menjadi anggota yang baik pula sebagai warga desa, warga kota dan warga negara.

2. Tindakan represif

Tindakan represif yaitu tindakan untuk menindas dan menahan kenakalan remaja yang lebih akurat. Tindakan ini lebih mengedepankan punishment atau hukuman dalam pengendalian kenakalan remaja.

3. Tindakan kuratif dan rehabilitasi Tindakan kuratif dan rehabilitasi yakni memperbaiki akibat perbuatan nakal terutama individu yang melakukan perbuatan tersebut (Singgih : 161). Tindakan kuratif dan rehabilitasi dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan diangap perlu mengubah tingkah laku si pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus, hal mana yang sering di tanggulangi oleh lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini. Dari pembahasan mengenai penanggulangan masalah kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat badani dan rokhani, teguh dalam kepercayaan dan iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air. Usaha untuk mengatasi dan mencegah supaya anak jangan nakal atau menjadi anak nakal terletak di lingkungan keluarga. Keluarga merupakan wadah pembentuk pribadi-pribadi anak yang paling dasar, sangat fundamental dan berperan vital bagi pendidikan anak. Bila usaha pendidikan pada keluarga gagal maka akan terbentuk seorang anak yang cenderung melakukan tindakan kenakalan dalam masyarakat. Keluarga dinyatakan gagal dalam mendidik anak bila: a. Tidak adanya keharmonisan dalam keluarga. b. Perhatian orang tua yang kurang atau tidak ada sama sekali. c. Status ekonomi yang kurang atau miskin. d. Jumlah anggota keluarga yang terlalu banyak sehingga kurang mendapat perhatian dari orang tua. Semua bentuk diatas pada intinya anak bisa di kontrol atau di kendalikan jangan sampai nakal yaitu bagaimana orang tua setiap harinya menyempatkan memperhatikan bentuk kegiatannya, kebutuhannya, teman sepermainannya, kebiasaan-kebiasaan yang baik dilakukan atau tidak. Walaupun keluarganya itu miskin, anggota keluarga yang banyak, keakraban antar anggota keluarga yang kurang, dan sebagainya.

Bab III Penutup

Kesimpulan Banyak faktor yang menyebabkan kenakalan pada remaja. Tidak adil jika kita menyalahkan kenakalan remaja ini seluruhnya kepada remaja itu sendiri. Cara paling ampuh dalam mengatasi kenakalan remaja ini terletak pada keluarga dan sistem pendidikan kita, dalam hal ini kurikulum. Orang tua harus mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada sang anak agar tidak ada pelampiasan kearah yang negatif. Dalam hal sistem pendidikan, kurikulum pendidikan kita harus menyeimbangkan antara materi- materi akademik dengan pengajaran-pengajaran moral.

Daftar Pustaka

http://belajarpsikologi.com/cara- mengatasi-kenakalan-remaja/ Kartono, Kartini, Patologi Sosial 2: Kenakalan Remaja, 2003, Jakarta: Raja Grafindo Persada Sudarsono, Kenakalan Remaja, 1991, Jakarta: Rineka Cipta Yusuf, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja , 2001, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset