Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Paradigma baru yang terjadi dalam sistem pemerintahan daerah telah membawa banyak perubahan, di antaranya yang terjadi di Propinsi Riau. Dengan pemberlakuan otonomi daerah banyak daerah yang ingin memisahkan diri menjadi daerah otonom sendiri. Berdasarkan Undang-undang Nomor 53 Tahun 1999 telah dibentuk beberapa kabupaten/kota baru yang merupakan pemekaran kabupaten lama. Salah satu kabupaten yang baru dibentuk adalah Kabupaten Siak. Kabupaten Siak merupakan pemekaran dari Kabupaten Bengkalis, sesuai dengan Keputusan gubernur KDH Propinsi Riau No. 253/U/1999 tanggal 26 Mei 1999. Berdasarkan sejarah pada awalnya Siak adalah sebuah kerajaan besar dan termahsyur di Nusantara, kerajaan ini mulai berdiri pada awal abad XVIII. Sultan Siak I bernama Sultan Abdul Djalil Rachmadsjah (1723 - 1746) dan sultan terakhimya adalah Sultan Siak XII bernama Sultan Assjaidis Sjarif Kasim II Abdul Djalil Sjaifuddin (1915-1946). Pada akhirnya setelah Indonesia merdeka kerajaan Siak bergabung dengan negara Republik Indonesia dan termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau. Sejak Kabupaten Siak memiliki Rencana Tata Ruang dan Wilayah, telah banyak wilayah Kabupaten Siak yang dilaksanakan program pembangunan sebagai bentuk penerapan dari acuan pelaksanaan pembangunan. Dengan partisipasi masyarakat di Kabupaten Siak, pemerintah dapat melaksanakan program pembangunan maupun aktivitas yang ekonomi dengan baik untuk

mendapatkan hasil Masyarakat sebagai

pembangunan mitra

berkesinambungan dan optimal. diharapkan mendayagunakan

pemerintah

kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran sertanya dan sebagai perwujudan dari hak dan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang. Peran serta masyarakat dilakukan oleh perorangan, kelompok orang dan badan hukum seperti BUMN atau badan usaha swasta. Sedangkan bentuk peran

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 1

serta berupa usul, pendapat, pertimbangan atau keberatan serta bantuan lain terhadap penyelenggaraan penataan ruang. Namun tidak di setiap sisi dari program pembangunan yang telah direncanakan sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Siak. Beberapa sisi yang diselidiki di lapangan, masih didapati ketidaksesuaian dengan RTRW yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan pembangunan. Studi lapangan ini dimaksudkan sebagai gambaran kondisi aktual pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Siak apakah telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Siak. Dalam hal ini, ditelaah mengenai prasarana lingkungan yang terdapat di Kabupaten Siak dengan pembahasan meliputi air bersih, drainase, dan air limbah. 1.2 Tujuan Studi Lapangan

a. Memantau dan menganalisa rencana-rencana yang telah dilakukan dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Siak, untuk dapat mengetahui sampai seberapa jauh penyimpangan-penyimpangan dalam perencanaan prasarana lingkungan yang telah terjadi. b. Merekomendasikan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam mengatasi penyimpangan (deviasi) atas rencana yang telah ada. 1.3 Metode Studi Lapangan Metode studi lapangan yang di lakukan adalah studi kepustakaan dan studi penelitian langsung. 1.4 Ruang Lingkup Studi Ruang lingkup kegiatan ini meliputi analisa terkait dengan prasarana lingkungan yang terdapat di Kabupaten Siak dengan pembahasan meliputi air bersih, drainase, dan air limbah.

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 2

1.5

Sistematika Penulisan Pada laporan hasil studi lapangan ini, penulis akan menjelaskan hasil

penelitian di lapangan dimulai dengan kata pengantar, daftar isi, dan bab pendahuluan. Bab ini meliputi latar belakang, tujuan studi lapangan, metode studi lapangan, ruang lingkup studi dan sistematika penulisan. Pada bab selanjutnya, bab pembahasan, akan dipaparkan kondisi tata ruang wilayah dalam pembahasan prasarana lingkungan, rencana pengembangan prasarana, dan hasil studi lapangan pada tanggal 2526 Desember 2013 di Kabupaten Siak, Riau. Dan pada bab terakhir disimpulkan hasil studi lapangan yang telah dilakukan.

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 3

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kondisi Tata Ruang Wilayah (Prasarana Lingkungan)

2.2.1 Air Limbah Sebagian kebutuhan air bersih Kabupaten Siak saat ini yang dipergunakan penduduk berasal dari Sungai Siak, Penampungan Air Hujan, dan Air tanah. PDAM Kabupaten Siak saat ini hanya melayani Kota Siak Sri Indrapura dengan kapasitas terpasang 5 l/detik melalui lnstalasi Pengolahan Air Bersih (IPAB). Penyediaan dan pelayanan air bersih penduduk dari PDAM belum sepenuhnya memadai baik secara kualitas maupun kuantitas. Menurut analisis proyeksi kebutuhan air bersih untuk kota besar, dengan perkiraan target pelayanan pada akhir tahun perencanaan sebesar 35% dari jumlah penduduk pada akhir tahun 2010, konsumsi air bersih penduduk adalah sebesar 125 l/detik. 2.1.2 Drainase Wilayah Kabupaten Siak diaiiri Sungai Siak yang berfungsi sebagai drainase utama/primer (drainase makro). Sungai tersebut mempunyai daerah tangkapan air yang cukup luas dengan muara ke arah Timur dan berakhir di Selat Panjang. Di Kabupaten Siak telah terdapat saluran penerus/sekunder dari pusat daerah tangkapan ke badan air penerima dengan lebar dan kedalaman saluran bervariasi. Kondisi sistem drainase yang ada saat ini telah banyak yang rusak dan kurang terpelihara. Kabupaten Siak di masa yang akan datang memiliki potensi banjir yang cukup besar mengingat topografi wilayahnya yang relatif datar. Daerah yang berpotensi mengalami banjir di Kabupaten Siak adalah sepanjang Sungai Siak karena disebabkan oleh: Faktor alamiah Sungai Siak yang mengalami pendangkalan dan sedimentasi yang mengakibatkan terjadinya penyempitan dimensi saluran drainase;

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 4

Faktor pola tingkah laku masyarakat yang membuang sampah ke dalam saluran drainase; Pembangunan fisik yang tidak memperhatikan garis sempadan saluran menyebabkan penyumbatan dan kerusakan saluran drainase; Adanya pengembangan wilayah kota yang merubah tata guna lahan, mengakibatkan bertambahnya debit air di saluran. Luapan/genangan terjadi karena pertambahan debit tersebut tidak disertai dengan perencanaan ulang saluran drainase eksisting. Untuk mencegah terjadinya genangan di suatu kawasan dapat dilakukan

dengan modifikasi pada sistem saluran yang ada tanpa membangun saluran yang baru (seperti penerapan sistem pounding/retensi). Untuk mengatur sistem drainase wilayah Kabupaten Siak, diperlukan adanya pembagian sistem jaringan drainase dan daerah aliran sungai (DAS). 2.1.3 Air Limbah Sampai saat ini Kabupaten Siak belum memiliki sistem jaringan penyaluran air limbah perpipaan maupun lnstalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Prasarana yang digunakan dalam pengelolaan air limbah antara lain berupa jamban keluarga, MCK dan saluran terbuka. Air limbah yang ditangani oleh masyarakat/rumah tangga terbatas pada pembuangan dari WC/Jamban keluarga dengan ditampung dalam tangki septik atau cubluk maupun pembuangan langsung ke saluran atau sungai terdekat tanpa melalui tangki septik atau cubluk. Air bekas dapur dan kamar mandi disalurkan ke saluran drainase, sungai atau dibuang ke lahan kosong/persawahan. Fasilitas pengelolaan air limbah individual penduduk belum dibuat berdasarkan persyaratan teknis, dimana: Belum semua tangki septik dilengkapi dengan bidang resapan dan pipa udara Sebagian dari tangki septik yang ada terletak < 10 m dari sumur dangkal

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 5

Masih ada jamban pribadi dan kakus umum masyarakat yang penyaluran air limbahnya masuk ke saluran drainase dan sungai. Melihat kondisi tersebut, perlu adanya perbaikan dalam konstruksi tangki

septik dan cubluk yang ada. Pada tangki septik dibangun bidang resapan dan pipa udara sedang pada dinding cubluk dibuat lapisan kerikil dan pasir yang dapat menyaring air rembesan sehingga tidak mencemari sumur dangkal yang ada disekitarnya. Pembangunan tangki septik atau cubluk harus berjarak minimal 10 meter dari sumur terdekat, hal ini untuk menghindari pencemaran bibit penyakit terhadap sumur. Kebiasaan penduduk yang membuang air limbahnya ke saluran drainase atau sungai, harus ditiadakan secara perlahan dengan memberikan penyuluhan terus menerus mengenai adanya bibit penyakit yang dapat ditularkan melalui air sehingga membahayakan kesehatan masyarakat. Di samping itu melalui penyuluhan diharapkan penduduk yang belum memiliki tangki septik atau cubluk dapat membangunnya untuk melengkapi jamban yang telah ada. Rencana pengembangan sistem prasarana air limbah yang dapat diterapkan di Kabupaten Siak adalah: 1. Sistem Setempat (On-site Sanitation) dengan menggunakan cubluk individual, cubluk komunal (MCK) dan tangki septik yang dilengkapi bidang resapan, 2. Sistem Terpusat (Off-site Sanitation), pengolahan dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah. 2.2 Rencana Pengembangan Prasarana Rencana pengernbangan sistem prasarana dalam lingkup pembahasan meliputi rencana pengembangan air bersih, drainase dan air limbah. 2.2.1 Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Air Bersih Sebagian kebutuhan air bersih Kabupaten Siak saat ini yang dipergunakan penduduk berasal dari Sungai Siak, Penampungan Air Hujan,

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 6

dan Air tanah. PDAM Kabupaten Siak saat ini hanya melayani Kota Siak Sri Indrapura dengan kapasitas terpasang 5 l/detik melalui lnstalasi Pengolahan Air Bersih (IPAB). Penyediaan dan pelayanan air bersih penduduk dari PDAM belum sepenuhnya memadai baik secara kualitas maupun kuantitas. Menurut analisis proyeksi kebutuhan air bersih untuk kota besar, dengan perkiraan target pelayanan pada akhir tahun perencanaan sebesar 35% dari jumlah penduduk pada akhir tahun 2010, konsumsi air bersih penduduk adalah sebesar 125 l/detik. Oleh karena itu perlu peningkatan pengadaan fasilitas Air Bersih di Kabupaten Siak dimana pembangunan atau pengembangan dapat dilakukan secara bertahap (setiap 5 tahun). Selain itu hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan Sistem prasarana Air Bersih di Kabupaten Siak adalah: Pengembangan pelayanan ke seluruh wilayah kabupaten; Peningkatan kualitas air yang dihasilkan; Pencarian sumber alternatif air baku selain Sungai Siak.

2.2.2 Banjir dan Drainase Wilayah Kabupaten Siak diaiiri Sungai Siak yang berfungsi sebagai drainase utama/primer (drainase makro). Sungai tersebut mempunyai daerah tangkapan air yang cukup luas dengan muara ke arah Timur dan berakhir di Selat Panjang. Di Kabupaten Siak telah terdapat saluran penerus/sekunder dari pusat daerah tangkapan ke badan air penerima dengan lebar dan kedalaman saluran bervariasi. Kondisi sistem drainase yang ada saat ini telah banyak yang rusak dan kurang terpelihara. Pengelolaan Sistem Drainase diprioritaskan untuk mengatasi lokasi genangan/banjir. Untuk mencegah terjadinya genangan di suatu kawasan dapat dilakukan dengan modifikasi pada sistem saluran yang ada tanpa mernbangun saluran yang baru (seperti penerapan sistem pounding/retensi). Untuk mengatur sistem drainase wilayah Kabupaten Siak, diperlukan adanya pengembangan jaringan drainase yang terintegrasi dan pembagian sistem jaringan drainase dan

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 7

daerah aliran sungai (DAS). Selain itu menghilangkan kebiasaan membuang sampah di sungai atau saluran drainase merupakan salah satu upaya pengelolaan sistem drainase tersebut. 2.2.3 Air Limbah Rencana pengembangan sistem prasarana air limbah yang dapat diterapkan di Kabupaten Siak adalah: 1. Sistem Setempat (On-site Sanitation) dengan menggunakan cubluk individual, cubluk komunal (MCK) dan tangki septik yang dilengkapi bidang resapan, untuk: Kepadatan penduduk < 200 jiwa/ha; Merupakan daerah dengan tingkat pendapatan rendah sampai menengah; Penyediaan air bersih sebagian dilayani oleh PDAM dan sumur dangkal; Daya serap tanah (permeabilitas tanah) antara 200 - 300 L/m2/hari; Kedalaman muka air tanah antara 2 - 5 m di bawah permukaan tanah. Jumlah unit on-site yang diperlukan diperkirakan sesuai dengan jumlah rumah dan pelayanan terhadap penduduk, dimana setiap rumah harus memiliki fasilitas tersebut. Penduduk yang tidak mampu mengadakan fasilitas MCK, diatasi dengan menyediakan fasilitas MCK bersama dan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) komunal/bersama. 2. Sistem Terpusat (Off-site Sanitation), pengolahan dilakukan pada Instalasi pengolahan Air Limbah. Diterapkan untuk: Rumah-rumah yang sudah dilayani oleh PDAM; Kepadatan penduduk > 200 jiwa/ha; Tingkat pendapatan masyarakat sedang hingga tinggi; Kedalaman muka air tanah antara 2 - 5 meter dari permukaan tanah; Daya serap tanah (permeabilitas tanah) antara 60 - 120 L/m2/hari.

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 8

Jenis sarana air limbah yang diperlukan ditentukan berdasarkan kepadatan penduduk, sumber air yang digunakan penduduk, daya resap tanah, kedalaman muka air tanah, kemiringan tanah, ketersediaan tahan dan tingkat kemampuan ekonomi masyarakat pemakai. Pemilihan tipe sarana pembuangan air limbah dilakukan berdasarkan petunjuk yang dikeluarkan direktorat Penyehatan Lingkungan dan Pemukiman, Dirjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum. Usulan yang diajukan adalah membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ditargetkan untuk menangani air limbah dari daerah industri dan pemukiman dengan kepadatan penduduk netto diatas 200 jiwa/ha. Selain itu perlu juga dihilangkan kebiasaan menyalurkan air limbah industri ataupun rumah tangga ke saluran drainase dan sungai. Perkiraan spesifikasi IPAL berdasarkan proyeksi pada akhir tahun 2010 dimana tingkat pelayanan mencakup 35% penduduk adalah sebagai berikut: Kapasitas olahan 450 Lt/dt (timbulan air limbah sebesar 80% dari kebutuhan air bersih); Luas lahan yang diperlukan 1,5 Ha; Pengolahan dengan sistem activated sludge; Penanganan lumpur hasil olahan dengan Belt Press; Dilakukan desinfeksi pada air olahan sebelum dialirkan ke sungai. Kelayakan pembangunan IPAL tersebut memerlukan studi lebih lanjut terutama untuk menentukan tingkat keperluan, lokasi dan kemampuan masyarakat mengingat diperlukannya investasi yang sangat besar.

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 9

2.3

Hasil Studi Lapangan

2.3.1 Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Air Bersih Saat ini, kebutuhan air bersih yang dipergunakan penduduk Kabupaten

Siak berasal dari Sungai Siak, Penampungan Air Hujan, dan Air tanah. Hal ini

dibuktikan melalui gambar-gambar yang kami ambil di salah satu rumah warga di Kelurahan Sei. Kayu Ara, Kecamatan Sungai Apit. Gambar di atas merupakan sumur dangkal dengan kedalaman lebih dari 10 meter. Dari hasil pengamatan, kondisi air sumur terlihat keruh dan berminyak. Pemilik rumah mengatakan bahwa untuk kebutuhan MCK mereka

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 10

sering mengalami kekurangan air sehingga untuk mendapatkan air sumur harus menimba sendiri karena pompa air yang mereka miliki tidak menjangkau air sumur yang terkadang surut. Untuk kebutuhan makan dan minum, mereka tidak

menggunakan air sumur karena kondisinya yang begitu buruk. Selain menggunakan air sumur atau air tanah dalam memenuhi kebutuhan MCK, mereka juga menggunakan tangkapan air hujan sebagai pemenuh kebutuhan sekunder mereka. Gambar di atas merupakan seperangkat fasilitas tangkapan air hujan yang ada di rumah mereka. Saat hujan, air dari atap rumah turun menuju talang air di sepanjang sisi atap rumah, kemudian di salurkan menuju pipa yang berakhir di bak penampungan. Dari hasil kunjungan tersebut, terbukti bahwa penyediaan dan pelayanan air bersih penduduk dari PDAM belum sepenuhnya memadai baik secara kualitas maupun kuantitas, ditambah dengan keterbatasan PDAM yang hanya melayani Kota Siak Sri Indrapura. Melalui rencana pengembangan Sistem prasarana Air Bersih di Kabupaten Siak, diharapkan pemerintah Kabupaten Siak dapat mengembangkan pelayanan ke seluruh wilayah kabupaten dengan peningkatan kualitas air yang lebih baik serta dapat mencari sumber alternatif air baku selain Sungai Siak.

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 11

2.3.2 Banjir dan Drainase Di Kabupaten Siak telah terdapat saluran penerus/sekunder dari pusat daerah tangkapan ke badan air penerima (sungai). Namun kondisi sistem drainase yang ada saat ini telah banyak yang rusak dan kurang terpelihara.

Salah satu gambar yang menunjukkan kerusakan yang terjadi adalah seperti gambar yang diambil di daerah pesisir bagian utara Kecamatan Sungai Apit berikut. Terlihat jelas kerusakan yang terjadi pada sistem drainase dengan air yang berwarna coklat akibat sedimentasi dari lahan gambut di sekelilingnya. Tidak berfungsinya sistem drainase diakibatkan tidak berfungsinya lahan sebagai daerah tangkapan air karena sebagian besar lahan merupakan tanah berjenis lempung yang mudah menyerap air, namun sulit melepas air. Kurangnya tumbuhan berakar dalam dan bertajuk lebar merupakan salah satu penyebab awal terjadinya kerusakan sistem drainase. Penyebab lain dari kerusakan sistem drainase adalah kebiasaan

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 12

masyarakat membuang sampah di saluran drainase. Gambar berikut adalah sistem drainase berupa selokan yang airnya terlihat berwarna coklat pekat akibat pencemaran limbah pupuk dan buangan padat. Rencana pengelolaan sistem drainase dengan modifikasi pada sistem saluran dan pengembangan jaringan yang terintegrasi tampaknya memang hal yang tepat untuk mengatasi lokasi genangan/banjir. Namun, dampak yang lebih penting dari itu seperti buruknya kualitas air pada sistem drainase yang sudah ada malah tidak diprioritaskan lebih utama. Hal ini jika dibiarkan akan menimbulkan masalah kesehatan bagi warga yang bertempat tinggal dekat dengan sistem drainase. 2.3.3 Air Limbah Sampai saat ini Kabupaten Siak belum memiliki sistem jaringan penyaluran air limbah perpipaan maupun lnstalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pengelolaan air limbah berupa tangki septik atau cubluk dapat dikatakan belum memenuhi kriteria yang baik secara kesehatan. Pembuangan langsung ke saluran atau sungai terdekat berupa air bekas dapur dan kamar mandi menyebabkan tercemarnya air pada saluran drainase dan dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi warga yang bertempat tinggal dekat

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 13

dengan sistem drainase. Gambar di atas adalah saluran pembuangan air bekas dapur dan kamar mandi yang dimungkinkan dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi warga

yang bertempat tinggal di sekitarnya. Masalah air limbah tidak hanya bersumber dari pembuangan dari rumah tangga, tetapi juga berasal dari air limbah industri atau perkebunan. Gambar di atas diambil di daerah pesisir bagian utara Kecamatan Sungai Apit yang dekat dengan perkebunan kelapa sawit dan jauh dari pemukiman penduduk. Terlihat kondisi perairan pada saluran yang langsung terhubung ke laut ini dalam kondisi yang buruk. Warna coklat pekat disinyalir berasal dari pencemaran limbah pupuk sawit pada perkebunan kelapa sawit yang berada dekat dengan saluran.

Dengan

kondisi

yang

seperti

ini,

diperlukan

sosialisasi

dan

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 14

pemberdayaan masyarakat agar kondisi seperti ini tidak terus dibiarkan. Perlunya sosialisasi kepada masyarakat terhadap kebiasaan mereka

menyalurkan air limbah industri ataupun rumah tangga ke saluran drainase dan sungai agar dapat ditinggalkan. Sebagai petugas dalam mengayomi masyarakat, dalam hal ini pemerintah berperan penting dalam melakukan pembenahan pada berbagai sisi terutama dalam komponen penting di masyarakat, yaitu kebutuhan akan air bersih. Selain itu, masyarakat bukan berpangku tangan saja untuk mendapatkan

perubahan yang berarti dalam hidup mereka. Mereka juga memiliki andil dalam hal tenaga dan pikiran mereka untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi bersama. Bukan saling menyerahkan urusan satu sama lain, antara mereka dengan mereka, atau mereka dengan pemerintah. Koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat merupakan solusi dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi bersama. Dengan segera terealisasinya rencana pengembangan sistem prasarana air limbah Sistem Setempat (On-site Sanitation) dan Sistem Terpusat (Off-site Sanitation) oleh pemerintah Kabupaten Siak akan dapat menangani air limbah dari daerah industri dan pemukiman penduduk.

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 15

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari hasil studi lapangan, disimpulkan bahwa: 1. Penyediaan dan pelayanan air bersih penduduk dari PDAM belum sepenuhnya memadai baik secara kualitas maupun kuantitas, ditambah dengan keterbatasan PDAM yang hanya melayani Kota Siak Sri Indrapura. 2. Rencana pengelolaan sistem drainase dengan modifikasi pada sistem saluran dan pengembangan jaringan yang terintegrasi untuk mengatasi lokasi genangan/banjir bukanlah prioritas utama. Namun, yang lebih diutamakan adalah perbaikan kualitas air pada sistem drainase yang sudah ada. 3. Dengan segera terealisasinya rencana pengembangan sistem prasarana air limbah Sistem Setempat (On-site Sanitation) dan Sistem Terpusat (Off-site Sanitation) oleh pemerintah Kabupaten Siak akan dapat menangani air limbah dari daerah industri dan pemukiman penduduk. 4. Perlunya sosialisasi kepada masyarakat terhadap kebiasaan mereka menyalurkan air limbah industri ataupun rumah tangga ke saluran drainase dan sungai agar dapat ditinggalkan. 3.2 Saran Hendaknya dilakukan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi bersama.

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 16

DAFTAR PUSTAKA Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Siak Tahun 2002-2011 Dokumentasi gambar oleh Tim Teknik Lingkungan 2011 di Kabupaten Siak

TEKNIK LINGKUNGANUNIVERSITAS RIAU 2011 17