Anda di halaman 1dari 507

Profil Kesehatan indonesia 2012

ii
Katalog dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI
Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Data dan Informasi
Profl Kesehatan Indonesia 2012, -- Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI. 2013
ISBN: 978-602-8937-89-4
1. Judul I. HEALTH STATISTICS
Buku ini diterbitkan oleh :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jalan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432, 5277168
Fax no: 62-21-5203874
E-mail: pusdatn@depkes .go.id
Web site: htp://www.kemkes.go.id
351.770.212
Ind
p
Profil Kesehatan indonesia 2012
iii
TIM PENYUSUN
PENGARAH
dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS (Sekretaris Jenderal Kemenkes RI)
KETUA
drg. Oscar Primadi, MPH (Kepala Pusat Data dan Informasi)
EDITOR
Boga Hardhana, S.Si, MM
Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes
drg. Vensya Sitohang, M.Epid
drg. Tit Aryat Soenardi, M.Kes
ANGGOTA
Ir. Zulf, MM; Farida Sibuea, SKM, MScPH; Marlina Indah Susant, SKM, M.Epid;
Supriyono Pangribowo, SKM, MKM; Athi Susilowat Rois, SKM;
Budi Prihantoro, S.Si ; Margiyono, SKom; Dewi Roro Kumbini, S.Pd, MKM;
Diah Puspitasari, SKM; Doni Hadhi Kurnianto, SKom; B.B. Sigit;
Muslichatul Hidayah, Hanna Endang Wahyuni; Sondang Tambunan;
Hellena Maslinda; Hadi Nuramsyah
KONTRIBUTOR
Biro Perencanaan dan Anggaran; Biro Keuangan dan Perlengkapan;
Pusat Penanggulangan Krisis; Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan;
Pusat Komunikasi Publik; Biro Kepegawaian; Set. Ditjen Bina Gizi dan KIA; Dit. Bina Gizi;
Dit Bina Kesehatan Ibu; Dit Bina Kesehatan Anak; Set. Ditjen Bina Upaya Kesehatan;
Set. Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan;
Dit. Pengendalian Penyakit Menular Langsung;
Dit. Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang; Dit. Surveilans Imunisasi dan Karantna;
Dit. Pengendalian Penyakit Tidak Menular; Set. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan;
Set. Badan Penelitan dan Pengembangan Kesehatan;
Set. Badan PPSDM Kesehatan.
iv
Saya menyambut gembira hadirnya Profl Kesehatan Indonesia
2012 yang terbit untuk merespon tngginya kebutuhan akan
data dan informasi. Di tengah banyaknya tantangan yang
dihadapi terkait pemenuhan data dan informasi sebagai landasan
pengambilan keputusan yang evidence-based, Pusat Data dan
Informasi pada akhirnya berhasil menyusun produk publikasi
Profl Kesehatan Indonesia 2012.
Saya menyadari, bukan hal mudah untuk dapat menyajikan data
yang berkualitas, sesuai kebutuhan dan tepat waktu. Kendala yang
dihadapi dalam pengelolaan data dan informasi baik di tngkat kabupaten/kota, provinsi,
maupun pusat berperan terhadap penyusunan Profl Kesehatan Indonesia. Pemenuhan
kelengkapan data baik dari segi cakupan wilayah maupun indikator merupakan masalah
utama yang ditemui dalam rangka penyusunan profl yang tepat waktu. Selain itu, dalam
menyusun Profl Kesehatan Indonesia diperlukan komitmen bersama antara pusat dan
daerah dalam mewujudkan penyediaan data yang lengkap, akurat dan tepat waktu. Pengelola
data dan informasi di tngkat pusat dan daerah juga harus menjadikan pengelolaan data dan
informasi sebagai komponen prioritas dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan.
Pusat Data dan Informasi telah melakukan banyak upaya agar data dan informasi yang
disajikan pada Profl Kesehatan Indonesia dapat hadir lebih cepat dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya. Saya sangat berharap dengan hadirnya Profl Kesehatan Indonesia 2012 ini,
kebutuhan terhadap data dan informasi kesehatan di semua lini, baik insttusi pemerintah,
insttusi swasta, organisasi profesi, mahasiswa, dan kelompok masyarakat lainnya dapat
terpenuhi dengan baik. Profl Kesehatan ini juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai
bahan dalam mengukur kinerja program pembangunan kesehatan baik di pusat maupun
di daerah yang berguna bagi perencanaan program pembangunan kesehatan berikutnya.
Melalui kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setnggi-
tngginya kepada semua pihak, dalam hal ini pengelola data di tngkat pusat, daerah, serta
lintas sektor yang telah berkontribusi dalam penyusunan Profl Kesehatan Indonesia 2012.
Semoga, Profl Kesehatan Indonesia di masa mendatang dapat menyajikan data yang lebih
berkualitas dan dapat terbit lebih cepat.
Jakarta, Juli 2013

dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS
NIP. 195408112010061001
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI
KATA PENGANTAR
v
SAMBUTAN
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Data dan informasi yang berkualitas adalah landasan pengambilan
keputusan dalam Pembangunan Kesehatan. Di samping itu,
sesuai amanat Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 tahun
2009, setap orang berhak mendapatkan informasi dan edukasi
tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Oleh
karena itu, ketersediaan data dan informasi sangat diperlukan
dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setnggi-
tngginya.
Penyediaan data dan informasi dilaksanakan melalui serangkaian proses panjang mulai
dari hulu sampai hilir. Proses ini dimulai dari pengumpulan data dan informasi dari tngkat
layanan kesehatan masyarakat, dilanjutkan dengan pengelolaan data dan informasi di
tngkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Langkah perbaikan dan penyempurnaan dalam
pelaksanaan proses ini perlu dilakukan dari waktu ke waktu. Sebab, tuntutan terhadap
pemenuhan data dan informasi yang lengkap dan tepat waktu dari hari ke hari semakin
meningkat.
Saya menyambut baik terbitnya Profl Kesehatan Indonesia Tahun 2012 ini dan menyampaikan
apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dan penerbitan
buku ini. Semoga buku ini dapat memenuhi tuntutan ketersediaan data dan informasi untuk
dijadikan landasan pengambilan keputusan yang evidence-based dalam Pembangunan
Kesehatan.
Jakarta, Juli 2013
MENTERI KESEHATAN RI
dr. Nafsiah Mboi, Sp.A., M.P.H
Profil Kesehatan indonesia 2012
vi

F
o
t
o
:

P
u
s
k
o
m

P
u
b
l
i
k
Kunjungan kerja Menkes ke RSUD Mimika - Papua
Profil Kesehatan indonesia 2012
vii
DAFTAR SINGKATAN
ABJ
- Larva Free
Index
: Angka Bebas Jentik
ACT : Artemisinin-based Combination Therapy
AFP : Acute Flaccid Paralysis
AFR Adolescent Fertility Rate
AHH : Angka Harapan Hidup
Jumlah rata-rata usia yang diperkirakan pada seseorang atas dasar
angka kematian pada masa tersebut yang cenderung tidak
berubah di masa mendatang

AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome
AKABA : Angka Kematian Balita
AKB
- Infant
Mortality
Rate (IMR)
: Angka Kematian Bayi
AKI
- Maternal
Mortality
Rate (MMR)
: Angka Kematian Ibu
AKN
- Neonatal
Mortality
Rate
: Angka Kematian Neonatal
AMH : Angka Melek Huruf
API : Annual Parasite Incidence
APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
APK : Angka Partisipasi Kasar
APM : Angka Partisipasi Murni
APS : Angka Partisipasi Sekolah
ARV : Anti Retro Virus
ASEAN : Association of Southeast Asian Nations
ASI
Eksklusif

: Pemberian Air Susu Ibu saja tanpa tambahan
makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai usia 6
bulan.
BAN-PT : Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi
BBLR : Berat Bayi Lahir Rendah
BB/TB : Status gizi berdasarkan Berat Badan menurut Tinggi Badan
Profil Kesehatan indonesia 2012
viii
BB/U : Status gizi berdasarkan Berat Badan menurut Umur
BCG : Bacille Calmette-Gurin
BNN : Badan Narkotika Nasional
BOK : Biaya Operasional Kesehatan
BPS : Badan Pusat Statistik
BSB : Brigade Siaga Bencana
BTA + : Basil Tahan Asam positif
BUMN : Badan Usaha Milik Negara
CBR : Crude Birth Rate = Angka Kelahiran Kasar
CDR : Case Detection Rate
CFR : Case Fatality Rate
CNR : Case Notification Rate
CR : Cure Rate = Angka Kesembuhan
CTKI : Calon Tenaga Kerja Indonesia
CTPS : Cuci Tangan Pakai Sabun
DAK : Dana Alokasi Khusus
DBD : Demam Berdarah Dengue
DBK : Daerah yang Bermasalah Kesehatan
Diknakes : Pendidikan Tenaga Kesehatan
DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
DM : Diabetes Mellitus
DO Rate : Drop Out Rate
DOTS : Directly Observed Treatment Shortcourse
DPT : Diphteri Pertusis Tetanus
DTPK : Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan
FCP : Female Cancer Program
FK : Fakultas Kedokteran
FKG : Fakultas Kedokteran Gigi
GDR : Gross Death Rate = Angka Kematian Umum
GDI : Gender-related Development Index
GEM : Gender Empowerment Measure
GHPR : Gigitan Hewan Penular Rabies
GII : Gender Inequality Index = Indeks Ketidaksetaraan Gender
GNI : Gross National Income
HDI : Human Development Index
HIV : Human Immunodeficiency Virus
ICCP : Indonesian Cancer Control Progam
IDU : Injecting Drug User
IEBA : Industri Ekstrak Bahan Alam
IGME : Inter Agency Group for Child Mortality Estimates
Profil Kesehatan indonesia 2012
ix
IMS : Infeksi Menular Seksual
IMT
Body
Mass Index
(BMI)
: Indeks Massa Tubuh
IMT/U : Status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur
IOT : Industri Obat Tradisional
IPM : Indeks Pembangunan Manusia
IR : Incidence Rate
ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut
IUD : Intra Uterine Device
Jamkesmas : Jaminan Kesehatan Masyarakat
Jampersal : Jaminan Persalinan
K1

: Kunjungan baru ibu hamil, yaitu kunjungan ibu hamil pertama kali
pada masa kehamilan.
K4 : Kontak minimal empat kali selama masa kehamilan untuk
mendapatkan pelayanan antenatal, yang terdiri atas minimal satu
kali kontak pada trimester pertama, satukali pada trimester kedua
dan duakali pada trimester ketiga.
KB : Keluarga Berencana
KEP : Kurang Energi Protein
KF 3 : Kunjungan Nifas; Pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya 3 kali, pada
6 jam pasca persalinan s.d 3 hari; pada minggu ke II, dan pada
minggu ke VI termasuk pemberian vitamin A 2 kali serta persiapan
dan/atau pemasangan KB pasca persalinan.
KIE : Komunikasi, Informasi dan Edukasi
KKI : Konsil Kedokteran Indonesia
KKS : Kabupaten/Kota Sehat
KLB : Kejadian Luar Biasa
KN1 : Kunjungan Neonatus 1; pelayanan kesehatan neonatal dasar,
kunjungan ke-1 (pertama) pada 6-24 jam setelah lahir.
KN Lengkap

: Kunjungan Neonatus Lengkap ; pelayanan kesehatan neonatal
dasar meliputi ASI ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan
mata, tali pusat, pemberian vitamin K1 injeksi bila tidak diberikan
pada saat lahir, pemberian imunisasi hepatitis B1 bila tidak
diberikan pada saat lahir, dan manajemen terpadu bayi muda.
Dilakukan sesuai standar sedikitnya 3 kali, pada 6-24 jam setelah
lahir, pada 3-7 hari dan pada -28 hari setelah lahir yang dilakukan
di fasilitas kesehatan maupun kunjungan rumah.
KONAS : Kebijakan Obat Nasional
KT : Konseling dan Tes HIV
KtA : Kekerasan Terhadap Anak
KTR : Kawasan Tanpa Rokok
Profil Kesehatan indonesia 2012
x
KTS : Konseling Tes HIV Sukarela
LAM-PT Kes : Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan
Lapas : Lembaga Pemasyarakatan
LIL : Lima Imunisasi Dasar Lengkap
LMKM : Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui
LPP : Laju Pertumbuhan Penduduk
LSL : Lelaki Seks dengan Lelaki
MBC : Millenium Challence Coorporation
MDGs : Millenium Development Goals
MNTE : Maternal and Neonatal Tetanus Elimination
MOP

: Metode Operatif Pria; cara kontrasepsi dengan tindakan
pembedahan pada saluran sperma pria.
MOW

: Metode Operatif Wanita; cara kontrasepsi dengan tindakan
pembedahan pada saluran telur wanita.
MP ASI : Makanan Pendamping Air Susu Ibu
MTBM

: ManajemenTerpadu Balita Muda; suatu pendekatan keterpaduan
dalam tata laksana bayi umur 1 hari 2 bulan, baik yang sehat
maupun yang sakit, baik yang datang ke fasilitas rawat jalan
pelayanan kesehatan dasar maupun yang dikunjungi oleh tenaga
kesehatan pada saat kunjungan neonatal.
MTBS

: ManajemenTerpadu Balita Sakit; suatu pendekatan yang
terintegrasi/terpadu dalam tata laksana balita sakit dengan fokus
kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh.
MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu
pendekatan/cara menatalaksana balita sakit.
MTKI : Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia
NAPZA : Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain
NCDR : Newly Case Detection Rate
NHA : National Health Account
NSPK : Norma Standar Prosedur Kriteria
OAT : Obat Anti Tuberkulosis
ODHA : Orang Dengan HIV/AIDS
P4K : Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
PAH : Penampungan Air Hujan
PAK : Penyakit Akibat Kerja
PAUD : Pendidikan Anak Usia Dini
PD3I : Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
PDAM : Perusahaan Daerah Air Minum
PDB : Produk Domestik Bruto
PDBK : Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan
PDP : Layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan
PET : Post Exposure Treatment
Profil Kesehatan indonesia 2012
xi
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
PJK : Penyakit Jantung Koroner
PJPD : Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
PK : Penanganan Komplikasi Maternal
PKH : Program Keluarga Harapan
PKHS : Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat
PKPR : Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
PKRT : Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga
PMO : Pengawas Menelan Obat
PMS : Penyakit Menular Seksual
Poltekkes : Politeknik Kesehatan
Polindes : Pondok Bersalin Desa
POMP : Pemberian Obat Massal Pencegahan; program untuk filariasis
PONED : Pelayanan emergensi Obstetrik dan Neonatal Dasar
PONEK : Pelayanan emergensi Obstetrik dan Neonatal Komprehensif
Posbindu : Pos Pembinaan Terpadu
Poskesdes : Pos Kesehatan Desa
Posyandu : Pos Pelayanan Terpandu
PN
(Salinakes)
: Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
PPA : Project Partnership Agreement
PPIA : Pencegahan Penularan Ibu ke Anak
PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk
PTRM : Program Terapi Rumatan Metadon
PTT : Pegawai Tidak Tetap
PUS : Pasangan Usia Subur
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
PWS KIA : Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak
RAD : Rencana Aksi Daerah
RDT : Rapid Diagnostic Test
RKP : Rencana Kerja Pemerintah
Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar
RITL : Rawat Inap Tingkat Lanjut
RITP : Rawat Inap Tingkat Pertama
RJTL : Rawat Jalan Tingkat Lanjut
RJTP : Rawat Jalan Tingkat Pertama
RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RSK : Rumah Sakit Khusus
RSU : Rumah Sakit Umum
Sakernas : Survei Angkatan Kerja Nasional
Profil Kesehatan indonesia 2012
xii
SBS : Stop Buang Air Besar Sembarangan
SDIDTK : Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang
SDKI : Survei Demografi Kesehatan Indonesia
SDM : Sumber Daya Manusia
SEAR : WHO South-East Asia Regional
SIRS : Sistem Informasi Rumah Sakit
SKN : Sistem Kesehatan Nasional
SKRT : Survei Kesehatan Rumah Tangga
SLB : Sekolah Luar Biasa
SPAL : Saluran Pembuangan Air Limbah
SPAM : Sistem Penyediaan Air Minum
SPM : Standar Pelayanan Minimal
SR : Success Rate = Angka Keberhasilan Pengobatan
Srikandi : Sistem Registrasi Kanker di Indonesia
STBM : Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
STRA : Surat Tanda Registrasi Apoteker
STR : Surat Tanda Registrasi
STRTTK : Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian
SUPAS : Survey Penduduk Antar Sensus
Susenas : Survei Sosial Ekonomi Indonesia
TB : Tuberkulosis
TB/U : Status gizi berdasarkan Tinggi Badan menurut Umur
TFR : Total Fertility Rate = Angka Fertilitas Total; jumlah rata-rata anak
yang dilahirkan setiap wanita selama hidupnya
TKI : Tenaga Kerja Indonesia
TN : Tetanus Neonatorum
TT : Tetanus Toksoid
UCI

: Universal Child Immunization; tercapainya imunisasi dasar secara
lengkap pada bayi (0-11 bulan), ibu hamil, wanita usia subur dan
anak sekolah tingkat dasar. Imunisasi dasar lengkap pada bayi
meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 4 dosis hepatitis B,
1 dosis campak. Pada ibu hamil dan wanita usia subur meliputi 2
dosis TT. Untuk anak sekolah tingkat dasar meliputi 1 dosis DT, 1
dosis campak dan 2 dosis TT.
UKBM : Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat;
Bentuk UKBM yang adalah Poskesdes, Polindes, Pos UKK,
Poskestren, TOGA, Saka Bhakti Husada, dan lain-lain.
UKS : Usaha Kesehatan Sekolah
UMOT : Usaha Mikro Obat Tradisional
UNICEF : United Nations Children's Fund
UPT : Unit Pelaksana Teknis
VAR : Vaksin Anti Rabies
Profil Kesehatan indonesia 2012
xiii
VCT : Voluntary, Counseling, and Testing
WHA : World Health Assembly
WHO : World Health Organization
WPS : Wanita Penjaja Seks
WUS

: Wanita Usia Subur; keadaan organ reproduksinya berfungsi
dengan baik antara umur 20-45 tahun.

Profil Kesehatan Indonesia 2012


xiv
Daftar Gambar
Bab 2. Gambaran Umum & Perilaku Penduduk
GAMBAR 2.1 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2012 ........................................ 7
GAMBAR 2.2 ESTIMASI PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2012 ..................................... 8
GAMBAR 2.3 ESTIMASI KEPADATAN PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2012 ................................. 10
GAMBAR 2.4 LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2005 - 2012 ........................ 13
GAMBAR 2.5 PERSENTASE RATA-RATA PENGELUARAN PER KAPITA INDONESIA TAHUN 2011 .... 14
GAMBAR 2.6 PERSENTASE TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA MENURUT
PENDIDIKAN DI INDONESIA AGUSTUS TAHUN 2012 .............................................. 16
GAMBAR 2.7 GARIS KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN 2007 2012........................................ 18
GAMBAR 2.8 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2006 2012 ................... 19
GAMBAR 2.9 PETA PERSEBARAN PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2012 .................... 20
GAMBAR 2.10 PETA PERSEBARAN KABUPATEN TERTINGGAL DI INDONESIA TAHUN 2012 .......... 21
GAMBAR 2.11 RATA-RATA LAMA SEKOLAH PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS
DI INDONESIA TAHUN 2007 2011 ........................................................................ 24
GAMBAR 2.12 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 5 TAHUN KE ATAS MENURUT
GOLONGAN UMUR DAN PARTISIPASI SEKOLAH TAHUN 2011 ................................ 25
GAMBAR 2.13 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 7-24 KE ATAS YANG MASIH SEKOLAH
TAHUN 2011 ........................................................................................................... 26
GAMBAR 2.14 PERSENTASE PENDUDUK USIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT STTB
TERTINGGI YANG DIMILIKI TAHUN 2011 ................................................................ 27
GAMBAR 2.15 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS YANG BUTA HURUF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 ........................................................................ 28
GAMBAR 2.16 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MELEK HURUF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 ......................................................................... 29
GAMBAR 2.17 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH MENURUT USIA SEKOLAH
DI INDONESIA TAHUN 2007 2011 ........................................................................ 30
GAMBAR 2.18 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR PENDIDIKAN DI INDONESIA
TAHUN 2007 2011 ............................................................................................... 31
GAMBAR 2.19 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI PENDIDIKAN DI INDONESIA
TAHUN 2007 2011 ............................................................................................... 32
GAMBAR 2.20 PERSENTASE HASIL PEMERIKSAAN KUALITAS AIR MINUM PDAM YANG
MEMENUHI SYARAT MIKROBIOLOGI MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2012 ........................................................................................................... 34
GAMBAR 2.21 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT AKSES AIR MINUM LAYAK
DAN AIR KEMASAN/ISI ULANG DI INDONESIA TAHUN 1995 2012 ..................... 36
GAMBAR 2.22 PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN AKSES KE SUMBER AIR MINUM
LAYAK MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012 ....................................... 37
GAMBAR 2.23 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT KEPEMILIKAN FASILITAS
AIR MINUM INDONESIA TAHUN 2011 ................................................................... 38
GAMBAR 2.24 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT KEPEMILIKAN FASILITAS .........................
TEMPAT BUANG AIR BESAR INDONESIA TAHUN 2011 ............................................ 39
GAMBAR 2.25 PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012 ................................................. 40
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
xv
GAMBAR 2.26 PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN AKSES SANITASI LAYAK
DI INDONESIA TAHUN 1995 2012 ........................................................................ 41
GAMBAR 2.27 PERSENTASE RUMAH TANGGA KUMUH DI INDONESIA TAHUN 2012 ................... 42
GAMBAR 2.28 PERSENTASE PENCAPAIAN RUMAH SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2012 ................ 43
GAMBAR 2.29 PERSENTASE DESA/KELURAHAN YANG MELAKSANAKAN SANITASI TOTAL
BERBASIS MASYARAKAT MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012 .......... 46
GAMBAR 2.30 PERSENTASE PENCAPAIAN RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH
SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2012......................................................................... 48
GAMBAR 2.31 PERSENTASE PROVINSI YANG MEMILIKI PERATURAN TENTANG KAWASAN
TANPA ROKOK DI INDONESIA TAHUN 2010 2012 ............................................... 50
Bab 3. Situasi Derajat Kesehatan
GAMBAR 3.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN NEONATAL* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA, SDKI 1991 - 2012 ........................................................................... 55
GAMBAR 3.2 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN NEONATAL* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2012..................................................... 56
GAMBAR 3.3 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN NEONATAL PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2007 DAN SDKI 2012 ........................... 57
GAMBAR 3.4 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA, SDKI 1991 - 2012 ........................................................................... 58
GAMBAR 3.5 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2012..................................................... 59
GAMBAR 3.6 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2007 DAN SDKI 2012 ........................... 59
GAMBAR 3.7 ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA)* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA, SDKI 1991 2012 ........................................................................... 60
GAMBAR 3.8 ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2012..................................................... 61
GAMBAR 3.9 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2007 DAN SDKI 2012 ........................... 62
GAMBAR 3.10 ANGKA KEMATIAN IBU PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA TAHUN 1994-2007 .......................................................................... 63
GAMBAR 3.11 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2011 ........................................................................................................... 64
GAMBAR 3.12 ANGKA HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR DI INDONESIA TAHUN 2006-2011 .......... 65
GAMBAR 3.13 ANGKA HARAPAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2011 ......... 66
GAMBAR 3.14 PROPORSI KASUS BARU BTA+ MENURUT KELOMPOK UMUR TAHUN 2012 ........... 70
GAMBAR 3.15 PROPORSI BTA POSITIF DI ANTARA SELURUH KASUS TB PARU DI INDONESIA
TAHUN 2007-2012 .................................................................................................. 71
GAMBAR 3.16 PROPORSI BTA POSITIF DI ANTARA SELURUH KASUS MENURUT PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................... 72
GAMBAR 3.17 ANGKA NOTIFIKASI KASUS BTA+ DAN SELURUH KASUS PER 100.000
PENDUDUK TAHUN 2007-2012 .............................................................................. 73
GAMBAR 3.18 ANGKA NOTIFIKASI KASUS TB PARU BTA+ PER 100.000 PENDUDUK MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012 ........................................................................................... 74
GAMBAR 3.19 ANGKA PENEMUAN KASUS (CASE DETECTION RATE) TB PARU BTA+ DI INDONESIA
TAHUN 2006-2012 .................................................................................................. 75
Profil Kesehatan Indonesia 2012
xvi
GAMBAR 3.20 JUMLAH KASUS BARU HIV POSITIF DI INDONESIA TAHUN 2005 2012 ................ 76
GAMBAR 3.21 PETA EPIDEMI HIV DI INDONESIA TAHUN 2012...................................................... 77
GAMBAR 3.22 JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS YANG TERDETEKSI
DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2001 2012 ............ 77
GAMBAR 3.23 JUMLAH KASUS BARU PENDERITA AIDS 10 PROVINSI TERTINGGI DI INDONESIA
TAHUN 2012 ........................................................................................................... 78
GAMBAR 3.24 PROPORSI KASUS BARU AIDS MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA SAMPAI
TAHUN 2012 ........................................................................................................... 78
GAMBAR 3.25 PERSENTASE KASUS BARU AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA
TAHUN 2012 ........................................................................................................... 79
GAMBAR 3.26 PERSENTASE KASUS AIDS MENURUT FAKTOR RISIKODI INDONESIA TAHUN 2012 80
GAMBAR 3.27 ANGKA KEMATIAN AKIBAT AIDS YANG DILAPORKAN DI INDONESIA
TAHUN 2000-2012 .................................................................................................. 81
GAMBAR 3.28 CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA
TAHUN 2007-2012 .................................................................................................. 85
GAMBAR 3.29 CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2012 ........................................................................................................... 86
GAMBAR 3.30 ANGKA PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA (NCDR)
TAHUN 2007-2012 ................................................................................................. 87
GAMBAR 3.31 ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA PER 100.000 PENDUDUK MENURUT
PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................. 88
GAMBAR 3.32 PROPORSI CACAT TINGKAT II DAN PROPORSI ANAK DI ANTARA KASUS BARU
KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2001-2012 ............................................................... 89
GAMBAR 3.33 CASE FATALITY RATE (CFR) PADA KLB DIARE DI INDONESIA TAHUN 20072012 ... 90
GAMBAR 3.34 INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK MENURUT PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................... 92
GAMBAR 3.35 PROPORSI KASUS CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK MENURUT KELOMPOK
UMUR DI INDONESIA TAHUN 2012 ....................................................................... 93
GAMBAR 3.36 PROPORSI KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA
TAHUN 2012 ........................................................................................................... 94
GAMBAR 3.37 NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK < 15 TAHUN DI INDONESIA
TAHUN 2012 ........................................................................................................... 95
GAMBAR 3.38 ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE PER 100.000 PENDUDUK
TAHUN 2008-2012 ................................................................................................. 96
GAMBAR 3.39 ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE PER 100.000 PENDUDUK
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................... 97
GAMBAR 3.40 JUMLAH KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD DI INDONESIA TAHUN 2008-2012 . 98
GAMBAR 3.41 JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA TAHUN 2007-2012 ....................... 99
GAMBAR 3.42 JUMLAH KASUS KLINIS FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2008 2012 ............... 100
GAMBAR 3.43 PETA ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA TAHUN 2011 DAN 2012 ................. 101
GAMBAR 3.44 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA MENURUT TINGKAT ENDEMISITAS
TAHUN 2010-2012 ................................................................................................ 102
GAMBAR 3.45 ANGKA KESAKITAN MALARIA (ANNUAL PARACITE INCIDENCE /API)
PER 1.000 PENDUDUK BERISIKO TAHUN 2000-2012 ............................................ 103
GAMBAR 3.46 SITUASI KASUS KONFIRMASI FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2012 .... 104
GAMBAR 3.47 DISTRIBUSI KASUS DAN KEMATIAN FLU BURUNG MENURUT
KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2005-2012 .......................................... 106
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
xvii
GAMBAR 3.48 DISTRIBUSI KASUS FLU BURUNG MENURUT FAKTOR RISIKO DI INDONESIA
TAHUN 2005-2012 ................................................................................................ 106
GAMBAR 3.49 SITUASI RABIES DI INDONESIA TAHUN 2008 - 2012 ............................................. 107
GAMBAR 3.50 SITUASI RABIES (GHPR DAN LYSSA) DI INDONESIA TAHUN 2012.......................... 108
GAMBAR 3.51 SITUASI LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA TAHUN 2005 - 2012 ................................ 110
GAMBAR 3.52 JUMLAH KASUS DAN CFR ANTRAKS DI INDONESIA TAHUN 2008-2012 .............. 111
GAMBAR 3.53 FREKUENSI KEJADIAN BENCANA DI INDONESIA TAHUN 2012 ............................. 114
Bab 4. Situasi Upaya Kesehatan
GAMBAR 4.1 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K1 DAN K4 DI INDONESIA TAHUN 2004 2012 .....120
GAMBAR 4.2 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 DI INDONESIA TAHUN 2012 ...................... 121
GAMBAR 4.3 CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2004 2012 ...................................................................... 123
GAMBAR 4.4 CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 ....................................................................... 124
GAMBAR 4.5 CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF-3) DI INDONESIA TAHUN 2008-2012 .............. 127
GAMBAR 4.6 CAKUPAN PELAYANAN IBU NIFAS (KF-3) MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 ...... 127
GAMBAR 4.7 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI MATERNAL DI INDONESIA
TAHUN 2008-2012 ................................................................................................ 129
GAMBAR 4.8 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL DI INDONESIA TAHUN 2012 .. 131
GAMBAR 4.9 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL PERTAMA (KN1) DI INDONESIA TAHUN 2012 ..... 133
GAMBAR 4.10 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP DI INDONESIA TAHUN 2012 ......... 134
GAMBAR 4.11 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP DI INDONESIA TAHUN 2004-2012 ...... 135
GAMBAR 4.12 CAKUPAN KUNJUNGAN BAYI DI INDONESIA TAHUN 2012 ................................... 136
GAMBAR 4.13 CAKUPAN KUNJUNGAN ANAK BALITA DI INDONESIA TAHUN 2012 ..................... 138
GAMBAR 4.14 CAKUPAN SEKOLAH DASAR YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN
SISWA SD/SETINGKAT KELAS 1 DI INDONESIA TAHUN 2012 ................................ 140
GAMBAR 4.15 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA DENGAN MINIMAL 4 PUSKESMAS MAMPU
TATA LAKSANA PKPR DI INDONESIA TAHUN 2012 ................................................ 142
GAMBAR 4.16 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA DENGAN MINIMAL 2 PUSKESMAS MAMPU
TATA LAKSANA KTA DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................. 144
GAMBAR 4.17 PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012 ... 146
GAMBAR 4.18 PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT ALAT/METODE KONTRASEPSI
TAHUN 2012 ......................................................................................................... 147
GAMBAR 4.19 PERSENTASE PESERTA KB BARU MENURUT TEMPAT PELAYANAN KB
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................. 148
GAMBAR 4.20 PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT 90 TABLET TAMBAH DARAH (Fe3)
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................. 149
GAMBAR 4.21 CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA (6-59 BULAN)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 ....................................................................... 151
GAMBAR 4.22 CAKUPAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 .. 152
GAMBAR 4.23 CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA (D/S) DI INDONESIA TAHUN 2012 .................. 155
GAMBAR 4.24 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK DI INDONESIA TAHUN 2012 ........... 157
GAMBAR 4.25 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP DI INDONESIA TAHUN 2012 ... 158
GAMBAR 4.26 CAKUPAN DESA/KELURAHAN UCI DI INDONESIA TAHUN 2012 ............................ 159
GAMBAR 4.27 ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT/HB1 - CAMPAK PADA BAYI
Profil Kesehatan Indonesia 2012
xviii
DI INDONESIA TAHUN 2006-2012 ........................................................................ 160
GAMBAR 4.28 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA
TAHUN 2012 ......................................................................................................... 161
GAMBAR 4.29 PERSENTASE BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK YANG DIPERIKSA DAHAKNYA
TAHUN 2005-2012 ................................................................................................ 165
GAMBAR 4.30 PERSENTASE PASIEN TB PARU BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK YANG
DIPERIKSA DAHAKNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 .................................. 166
GAMBAR 4.31 PERSENTASE PENEMUAN KASUS BARU DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN
TB PARU DI INDONESIA TAHUN 2001-2012 .......................................................... 167
GAMBAR 4.32 PERSENTASE KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB PARU
(SUCCESS RATE) DI INDONESIA TAHUN 2012 (PENGOBATAN TAHUN 2011) ........ 167
GAMBAR 4.33 PERSENTASE PEMERIKSAAN SEDIAAN DARAH SUSPEK MALARIA
TAHUN 2008 - 2012 .............................................................................................. 169
GAMBAR 4.34 CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA PADA BALITA
DI INDONESIA TAHUN 2005 2012 ...................................................................... 171
GAMBAR 4.35 NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK USIA < 15 TAHUN MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012 ........................................................................................ 174
GAMBAR 4.36 PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT DI INDONESIA TAHUN 2012 .. 175
GAMBAR 4.37 PERSENTASE SPESIMEN ADEKUAT DAN NON POLIO AFP RATE TAHUN 2003-2012 ..... 176
GAMBAR 4.38 ANGKA BEBAS JENTIK/ABJ (%) DI INDONESIA TAHUN 2008-2012 ........................ 177
GAMBAR 4.39 CAKUPAN PEMBERIAN OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2005-2012 ........................................................................ 179
GAMBAR 4.40 PERSENTASE PENATALAKSANAAN KASUS KLINIS FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2006-2012 ........................................................................ 180
GAMBAR 4.41 PERSENTASE KETERSEDIAAN OBAT DAN VAKSIN DI INDONESIA TAHUN 2012 ..... 186
GAMBAR 4.42 PERSENTASE RATA-RATA PENGGUNAAN OBAT GENERIK DI FASILITAS
PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2012 .................................................................. 188
GAMBAR 4.43 PENCAPAIAN JUMLAH KUNJUNGAN RJTP, RITP, RJTL & RITL DI INDONESIA
TAHUN 2012 ......................................................................................................... 190
GAMBAR 4.44 PENCAPAIAN JUMLAH KUNJUNGAN RJTP, RITP, RJTL & RITL DI INDONESIA
TAHUN 2008-2012 ................................................................................................ 191
Bab 5. Situasi Sumber Daya Kesehatan
GAMBAR 5.1 JUMLAH PUSKESMAS TAHUN 2008 2012 .......................................................... 195
GAMBAR 5.2 RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2008 20112 ................... 196
GAMBAR 5.3 RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2012 ................................. 197
GAMBAR 5.4 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN NON PERAWATAN
TAHUN 2008 2012 ............................................................................................. 198
GAMBAR 5.5 JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN OBSTETRIK DAN
NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) DI INDONESIA TAHUN 2012 ................. 199
GAMBAR 5.6 JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN KESEHATA
PEDULI REMAJA DI INDONESIA TAHUN 2012 ...................................................... 200
GAMBAR 5.7 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM
DI INDONESIA TAHUN 2008 2012 ..................................................................... 204
GAMBAR 5.8 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DI INDONESIA
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
xix
TAHUN 2008 2012 ............................................................................................. 205
GAMBAR 5.9 PERSENTASE RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) MENURUT JENIS DI INDONESIA
TAHUN 2012 ......................................................................................................... 206
GAMBAR 5.10 PERSENTASE RUMAH SAKIT MENURUT KELAS DI INDONESIA TAHUN 2012 ........ 206
GAMBAR 5.11 PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT UMUM DAN
RUMAH SAKIT KHUSUS DI INDONESIA TAHUN 2008 2012 ............................... 207
GAMBAR 5.12 JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN RASIONYA PER 100.000
PENDUDUK TAHUN 2008 2012 ......................................................................... 208
GAMBAR 5.13 PERSENTASE INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA SESUAI STANDAR
TAHUN 2012 ......................................................................................................... 211
GAMBAR 5.14 JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2010 2012 ...................................................................... 213
GAMBAR 5.15 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2010 2012 ...................................................................... 213
GAMBAR 5.16 PERSENTASE DESA DAN KELURAHAN SIAGA AKTIF MENURUT TINGKATAN
(STRATA) TAHUN 2012 .......................................................................................... 214
GAMBAR 5.17 RASIO POSYANDU TERHADAP DESA/KELURAHAN MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012 ......................................................................................................... 215
GAMBAR 5.18 PERKEMBANGAN JUMLAH PROGRAM STUDI DIPLOMA III INSTITUSI
POLTEKKES DAN NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2008-2012 .................. 217
GAMBAR 5.19 PERSENTASE PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................. 218
GAMBAR 5.20 PERSENTASE PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI NON-POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................. 219
GAMBAR 5.21 RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2012 ......................................................................................................... 222
GAMBAR 5.22 RASIO PERAWAT TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2012 ......................................................................................................... 223
GAMBAR 5.23 RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012 ............................................... 224
GAMBAR 5.24 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2012 ....... 225
GAMBAR 5.25 KEBERADAAN DOKTER UMUM PTT, DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................. 227
GAMBAR 5.26 PERSENTASE PENGANGKATAN DOKTER/DOKTER GIGI SPESIALIS,
DOKTER UMUM, DOKTER GIGI DAN BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP
(PTT) DI INDONESIA TAHUN 2012 ........................................................................ 228
GAMBAR 5.27 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
TAHUN 2008 2012 ............................................................................................. 232
GAMBAR 5.28 PERSENTASE ANGGARAN KESEHATAN TERHADAP APBD MENURUT
PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012 ................................................................. 233
GAMBAR 5.29 PERSENTASE PENDUDUK YANG DILINDUNGI JAMINAN KESEHATAN
MASYARAKAT/ ASURANSI KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2012 ..................... 234
GAMBAR 5.30 PERSENTASE PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN PESERTA
JAMKESMAS TAHUN 2012 .................................................................................... 235
GAMBAR 5.31 PERSENTASE PENYERAPAN DANA BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN
(BOK) MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 ............................................................. 236
Profil Kesehatan Indonesia 2012
xx
Bab 6. Perbandingan Indonesia Dengan Negara Anggota Asean Dan Sear
GAMBAR 6.1 JUMLAH PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012 ............................ 242
GAMBAR 6.2 KEPADATAN PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEAR (Jiwa per km2)
TAHUN 2011 ......................................................................................................... 243
GAMBAR 6.3 PERKIRAAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PER TAHUN
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2001-2011 ................................................ 244
GAMBAR 6.4 KOMPOSISI PENDUDUK YANG PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 .............................................................. 246
GAMBAR 6.5 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012..... 247
GAMBAR 6.6 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012..... 248
GAMBAR 6.7 INDEKS KETIDAKSETARAAN GENDER DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012 .. 251
GAMBAR 6.8 ANGKA KESUBURAN WANITA DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012 .............. 253
GAMBAR 6.9 ANGKA KELAHIRAN KASAR DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 .................. 254
GAMBAR 6.10 PENDAPATAN NASIONAL BRUTO DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 ......... 256
GAMBAR 6.11 ANGKA KEMATIAN BAYI DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 ....................... 257
GAMBAR 6.12 ANGKA KEMATIAN BALITA (PER 1000 KELAHIRAN HIDUP)
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 .............................................................. 259
GAMBAR 6.13 ANGKA KEMATIAN IBU DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2010 ........................ 260
GAMBAR 6.14 ANGKA KEMATIAN KASAR (PER 1000 PENDUDUK) DI NEGARA
ASEAN & SEAR TAHUN 2011 ................................................................................. 262
GAMBAR 6.15 ANGKA HARAPAN HIDUP DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012 ................... 264
GAMBAR 6.16 PREVALENSI TUBERKULOSIS PER 100.000 PENDUDUK
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 .............................................................. 265
GAMBAR 6.17 KEMATIAN AKIBAT TUBERKULOSIS PER 100.000 PENDUDUK
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 .............................................................. 266
GAMBAR 6.18 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT FLU BURUNG
DI NEGARA ASEAN DAN SEAR TAHUN 2003-2012 ............................................... 267
GAMBAR 6.19 JUMLAH KASUS POLIO DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2004-2012 ................ 270
GAMBAR 6.20 CAKUPAN IMUNISASI BCG DAN CAMPAK DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012 ... 273
GAMBAR 6.21 PENEMUAN PENDERITA TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 ........ 275
GAMBAR 6.22 ANGKA KESEMBUHAN TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2010.......... 275
GAMBAR 6.23 PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN AIR MINUM LAYAK
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 ............................................... 276
GAMBAR 6.24 PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SARANA SANITASI LAYAK
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 ............................................... 277
GAMBAR 6.25 PERSENTASE PENGELUARAN KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2010 ......................................................................................................... 279
GAMBAR 6.26 PREVALENSI BALITA STUNTING DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2007-2011 ................................................................................................ 281

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL


xxi

daftar tabel
TABEL 2.1 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK DAN ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT
JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK USIA PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................... 11
TABEL 2.2 ESTIMASI PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2012 .................................................................................... 12
TABEL 2.3 PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA, PENDUDUK YANG BEKERJA
DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2010 2012 .................. 15
TABEL 2.4 PERSEBARAN DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT KELOMPOK
BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2010 2012 ................................................. 19
TABEL 2.5 JUMLAH KABUPATEN PERBATASAN DAN PUSKESMAS PRIORITAS DTPK
DI INDONESIA TAHUN 2011 .................................................................................... 23
TABEL 3.1 PERSENTASE WANITA UMUR 15-49 TAHUN DAN PRIA KAWIN 15-541 TAHUN
YANG PERNAH MENDENGAR TENTANG HIV AIDS MENURUT KARAKTERISTIK
LATAR BELAKANG TAHUN 2012 ............................................................................. 82
TABEL 3.2 PERSENTASE WANITA UMUR 15-49 TAHUN DAN PRIA KAWIN 15-541 TAHUN
TENTANG CARA MENGURANGI RISIKO TERKENA HIV AIDS MENURUT
KARAKTERISTIK LATAR BELAKANG TAHUN 2012 .................................................... 84
TABEL 3.3 SITUASI FLU BURUNG MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2005-2012 ... 105
TABEL 3.4 DISTRIBUSI KASUS LEPTOSPIROSIS DI 5 PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2005 2012 ............................................................................................. 109
TABEL 4.1 PENEMUAN PENDERITA HIV DAN AIDS DI INDONESIA TAHUN 2005 2012 ........ 162
TABEL 4.2 ANGKA PENEMUAN KASUS BARU (NCDR) DAN ANGKA CACAT TINGKAT II
KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2004 2012 ........................................................... 172
TABEL 4.3 PROVINSI DENGAN KABUPATEN/KOTA YANG MENGEMBANGKAN DETEKSI
DINI KANKER PAYUDARA DAN KANKER LEHER RAHIM ......................................... 182
TABEL 5.1 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS)
DI INDONESIA TAHUN 2008 2012 ...................................................................... 204
TABEL 5.2 JUMLAH FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KEDOKTERAN GIGI ................................. 216
SAMPAI DENGAN 31 MARET 2013 ....................................................................... 216
TABEL 5.3 JUMLAH LULUSAN PROGRAM DIPLOMA III POLTEKKES DAN NON POLTEKKES
TAHUN 2008-2012 ................................................................................................ 220
TABEL 6.1 JUMLAH KASUS POLIO NEGARA ASEAN DAN SEAR TAHUN 2005-2011 ............... 269
Profil Kesehatan Indonesia 2012
xxii
DAFTAR LAMPIRAN
BAB 2. GAMBARAN UMUM & PERILAKU PENDUDUK
LAMPIRAN 2.1 PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
LAMPIRAN 2.2 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA MENURUT KELOMPOK UMUR
DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2012 287
LAMPIRAN 2.3 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DAN RASIO JENIS
KELAMIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 288
LAMPIRAN 2.4 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DAN KEPADATAN
PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 289
LAMPIRAN 2.5 ESTIMASI JUMLAH LAHIR HIDUP, JUMLAH BAYI (0 TAHUN), JUMLAH BATITA
(0-2 TAHUN), JUMLAH ANAK BALITA (1 - 4 TAHUN), JUMLAH BALITA (0 - 4
TAHUN) MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 290
LAMPIRAN 2.6 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN, KELOMPOK
UMUR TERTENTU, ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012 291
LAMPIRAN 2.7 ESTIMASI JUMLAH WANITA USIA SUBUR (15 - 49 TAHUN), WUS IMUNISASI
(15 - 39 TAHUN), IBU HAMIL, IBU BERSALIN DAN IBU NIFAS MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 2.8 ESTIMASI JUMLAH ANAK PRA-SEKOLAH, JUMLAH ANAK USIA KELAS 1 SD/
SETINGKAT, DAN JUMLAH ANAK USIA SD/SETINGKAT MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
LAMPIRAN 2.9 IN DIKATOR KONSUMSI TERPILIH DI INDONESIA TAHUN 2007 - 2012
LAMPIRAN 2.10 INDEKS GINI MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 - 2012
LAMPIRAN 2.11 PERSENTASE PENGELUARAN RATA-RATA PER KAPITA SEBULAN MENURUT
KELOMPOK BARANG MAKANAN DAN NON MAKANAN INDONESIA TAHUN
2007-2012
LAMPIRAN 2.12 PENGELUARAN RATA-RATA PER KAPITA SEBULAN DI DAERAH PERKOTAAN
DAN PERDESAAN MENURUT KELOMPOK BARANG DAN GOLONGAN
PENGELUARAN PER-KAPITA SEBULAN TAHUN 2011
LAMPIRAN 2.13 PERSENTASE PENGELUARAN RATA-RATA PER KAPITA SEBULAN DI DAERAH
PERKOTAAN DAN PERDESAAN MENURUT KELOMPOK BARANG TAHUN 2010
- 2011
LAMPIRAN 2.14 PERSENTASE PENGELUARAN RATA-RATA PER KAPITA SEBULAN MENURUT
KELOMPOK BARANG INDONESIA TAHUN 2010 - 2011
LAMPIRAN 2.15 GARIS KEMISKINAN, JUMLAH PENDUDUK MISKIN, DAN PERSENTASE
PENDUDUK MISKIN TAHUN 1996 - 2012
LAMPIRAN 2.16 GARIS KEMISKINAN, JUMLAH, DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI
DAERAH PERKOTAAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2011-2012
LAMPIRAN 2.17 GARIS KEMISKINAN, JUMLAH, DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI
DAERAH PERDESAAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 - 2012
LAMPIRAN 2.18 GARIS KEMISKINAN, JUMLAH, DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI
DAERAH PERKOTAAN DAN PERDESAAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 -
2012
LAMPIRAN 2.19 JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI DAN
TIPE DAERAH TAHUN 2010 - 2012
LAMPIRAN 2.20 INDEKS KEDALAMAN KEMISKINAN (P1) DAN INDEKS KEPARAHAN
KEMISKINAN (P2) MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 - 2012
LAMPIRAN 2.21.1 INDIKATOR PENDIDIKAN DI INDONESIA TAHUN 2007 - 2011
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
xxiii
LAMPIRAN 2.21.2 INDIKATOR PENDIDIKAN DI INDONESIA (LANJUTAN) TAHUN 2007 - 2011
LAMPIRAN 2.22 PERSENTASE PENDUDUK 15 TAHUN KE ATAS MENURUT DAERAH TEMPAT
TINGGAL, JENIS KELAMIN DAN JENJANG PENDIDIKANSTTB TERTINGGI
YANG DIMILIKI TAHUN 2011
LAMPIRAN 2.23 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 5 TAHUN KE ATAS MENURUT GOLONGAN
UMUR DAN PARTISIPASI SEKOLAH TAHUN 2011
LAMPIRAN 2.24 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 7 - 24 TAHUN KE ATAS MENURUT STATUS
PENDIDIKANTAHUN 2011
LAMPIRAN 2.25 ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH (APS) PENDIDIKANMENURUT PROVINSI
TAHUN 2007 - 2011
LAMPIRAN 2.26 ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) PENDIDIKANMENURUT PROVINSI TAHUN
2007 - 2011
LAMPIRAN 2.27 ANGKA PARTISIPASI MURNI (APM) PENDIDIKANMENURUT PROVINSI TAHUN
2007 - 2011
LAMPIRAN 2.28 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI,
JENIS KELAMIN, KEPANDAIAN MEMBACA DAN MENULIS TAHUN 2011
LAMPIRAN 2.29 PERSENTASE PENDUDUK BUTA HURUF MENURUT KELOMPOK UMUR TAHUN
2007 - 2011
LAMPIRAN 2.30 JUMLAH KECAMATAN, JUMLAH PENDUDUK DAN PUSKESMAS DI
45 KABUPATEN PERBATASAN DAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR
BERPENDUDUK SASARAN PRIORITAS DALAM PENGEMBANGAN PELAYANAN
KESEHATAN DTPK* TAHUN 2011
LAMPIRAN 2.31 JUMLAH DAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL MENURUT PROVINSI
TAHUN 2008 - 2012
LAMPIRAN 2.32 DAFTAR KABUPATEN/KOTA PENYELENGGARA KABUPATEN/KOTA SEHAT (KKS)
DI INDONESIA SAMPAI DESEMBER 2012**
LAMPIRAN 2.33 PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG AKSES AIR MINUM LAYAK DAN AIR
KEMASAN/ISI ULANG TAHUN 1993 - 2012
LAMPIRAN 2.34 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT PROVINSI, DAERAH TEMPAT
TINGGAL DAN SUMBER AIR MINUM LAYAK DI INDONESIA TAHUN 2008 -
2012
LAMPIRAN 2.35 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT PROVINSI DAN SUMBER AIR
MINUM TAHUN 2011
LAMPIRAN 2.36 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT PROVINSI, DAERAH TEMPAT
TINGGAL DAN FASILITAS AIR MINUM DI INDONESIA TAHUN 2011
LAMPIRAN 2.37 REKAPITULASI HASIL PEMERIKSAAN KUALITAS AIR MINUM PDAM TAHUN
2012
LAMPIRAN 2.38 PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN AKSES SANITASI LAYAK TAHUN 1993
- 2012
LAMPIRAN 2.39 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT PROVINSI, DAERAH TEMPAT
TINGGAL DAN SANITASI LAYAK DI INDONESIA TAHUN 2008 - 2012
LAMPIRAN 2.40 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT PROVINSI, DAERAH TEMPAT
TINGGAL DAN FASILITAS TEMPAT BUANG AIR BESAR DI INDONESIA TAHUN
2011
LAMPIRAN 2.41 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR
TINJA MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, TAHUN 2011
LAMPIRAN 2.42 PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT PROVINSI, DAERAH TEMPAT
TINGGAL DAN RUMAH TANGGA KUMUH DI INDONESIA TAHUN 2008 - 2012
LAMPIRAN 2.43 INDEKS PEMBANGUNAN GENDER DAN INDEKS PEMBERDAYAAN GENDER
MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 - 2011
LAMPIRAN 2.44 JUMLAH LOKASI SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT BERDASARKAN IN
DIKATOR INPRES NOMOR 3 TAHUN 2011 DAN 2012
Profil Kesehatan Indonesia 2012
xxiv
LAMPIRAN 2.45 PENCAPAIAN RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT (PHBS)
TAHUN 2012
LAMPIRAN 2.46.1 PERATURAN TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK TINGKAT PROVINSI DAN
KABUPATEN/KOTA TAHUN 2012
LAMPIRAN 2.46.2 PERATURAN TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK TINGKAT PROVINSI DAN
KABUPATEN/KOTA (LANJUTAN 1) TAHUN 2012
LAMPIRAN 2.46.3 PERATURAN TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK TINGKAT PROVINSI DAN
KABUPATEN/KOTA (LANJUTAN 2) TAHUN 2012
BAB 3. SITUASI DERAJAT KESEHATAN
LAMPIRAN 3.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN NEONATAL, ANGKA KEMATIAN BAYI, ANGKA
KEMATIAN BALITA TAHUN 2012 DAN ANGKA HARAPAN HIDUP MENURUT
PROVINSI TAHUN 2011
LAMPIRAN 3.2 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KOMPONEN MENURUT PROVINSI
TAHUN 2010- 2011
LAMPIRAN 3.3 PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT
UMUR (BB/U) MENURUT PROVINSI TAHUN 2010
LAMPIRAN 3.4 PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN TINGGI BADAN MENURUT
UMUR (TB/U) MENURUT PROVINSI TAHUN 2010
LAMPIRAN 3.5 PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN BERAT BADAN MENURUT
TINGGI BADAN (BB/TB MENURUT PROVINSI TAHUN 2010
LAMPIRAN 3.6 BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN (TB/U DAN BB/TB) MENURUT
PROVINSI TAHUN 2010 PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN
TINGGI BADAN MENURUT UMUR DAN BERAT BADAN MENURUT TINGGI
BADAN (TB/U DAN BB/TB) MENURUT PROVINSI TAHUN 2010
LAMPIRAN 3.7 PREVALENSI STATUS GIZI PENDUDUK DEWASA (>18 TAHUN) BERDASARKAN
KATEGORI INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DAN PROVINSI TAHUN 2010
LAMPIRAN 3.8 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT JENIS KELAMIN DAN
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.9 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT KELOMPOK UMUR,
JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.10 HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS PENYAKIT TB PARU MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.11 CAKUPAN TB PARU BTA POSITIF SEMBUH, PENGOBATAN LENGKAP DAN
ANGKA KEBERHASILAN PENGOBATAN (SUCCESS RATE) MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.12 JUMLAH KASUS BARU AIDS DAN KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT
PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2012
LAMPIRAN 3.13 JUMLAH KASUS BARU INFEKSI HIV MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 - 2012
LAMPIRAN 3.14 JUMLAH DAN PERSENTASE KASUS AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIKAN
(IDU) MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2012
LAMPIRAN 3.15 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI DAN
KELOMPOK UMUR TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.16 CASE FATALITY RATE PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI DAN
KELOMPOK UMUR TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.17 KEJA DIAN LUAR BIASA (KLB) DIARE MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 - 2012
LAMPIRAN 3.18 PENEMUAN KASUS DIARE DITANGANI MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.19 JUMLAH KASUS BARU KUSTA DAN CASE DETECTION RATE (CDR) PER 100.000
PENDUDUK MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.20 PROPORSI KECACATAN KUSTA TINGKAT 2 DAN KASUS KUSTA PADA ANAK
0-14 TAHUN MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
xxv
LAMPIRAN 3.21 JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM DAN FAKTOR RISIKO MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.22 JUMLAH KASUS, MENINGGAL, DAN INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.23 JUMLAH KASUS CAMPAK PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.24 JUMLAH KASUS CAMPAK DAN KASUS CAMPAK YANG DIVAKSINASI
MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.25 FREKUENSI KLB DAN JUMLAH KASUS PADA KLBCAMPAK MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.26 MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 KLBCAMPAK BERDASARKAN KONFIRMASI
LABORATORIUM
LAMPIRAN 3.27 JUMLAH KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI
TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.28 JUMLAH KASUS DIFTERI PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.29 MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 JUMLAH KASUS NON POLIO AFP DAN
NON POLIO AFP RATE PER 100.000 PENDUDUK USIA < 15 TAHUN
LAMPIRAN 3.30 JUMLAH KASUS, MENINGGAL DAN CASE FATALITY RATE (%) FLU BURUNG
MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 - 2012
LAMPIRAN 3.31 JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN MALARIA PER 1.000 PENDUDUK
BERISIKO MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.32 ANNUAL PARASITE INSIDENCE (API) MALARIA MENURUT PROVINSI TAHUN
2008-2012
LAMPIRAN 3.33 JUMLAH PENDERITA, INCIDENCE RATE PER 100.000 PENDUDUK, KASUS
MENINGGAL, DAN CASE FATALITY RATE (%) DEMAM BERDARAH DENGUE
(DBD/DHF)MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.34 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG TERJANGKIT DEMAM BERDARAH DENGUE
MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 - 2012
LAMPIRAN 3.35 SITUASI RABIES MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2010-2012
LAMPIRAN 3.36 JUMLAH PENDERITA FILARIASIS MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN
2008-2012
LAMPIRAN 3.37 SITUASI PENYAKIT BERSUMBER BINATANG DI INDONESIA TAHUN 2012
LAMPIRAN 3.38 REKAPITULASI KEJA DIAN BENCANA DAN JUMLAH KORBAN TAHUN 2012
BAB 4. SITUASI UPAYA KESEHATAN
LAMPIRAN 4.1 CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K1, K4, PERSALINAN DITOLONG TENAGA
KESEHATAN, DAN KUNJUNGAN IBU NIFAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.2 CAKUPAN PESERTA KB BARU DAN KB AKTIF MENURUT PROVINSI TAHUN
2012
LAMPIRAN 4.3 PERSENTASE PESERTA KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.4 PERSENTASE PESERTA KB BARU MENURUT TEMPAT PELAYANAN DAN
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.5 PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.6 PERSENTASE WANITA BERSTATUS KAWIN UMUR 15-49 TAHUN MENURUT
ALAT ATAU CARA KB YANG DIPAKAI DAN PROVINSI HASIL SDKI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.7 JUMLAH FASILITAS KESEHATAN KELUARGA BERENCANA (KB) MENURUT
PROVINSI TAHUN 2010-2012
LAMPIRAN 4.8 CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL DENGAN KOMPLIKASI DAN OBSTETRI
DENGAN KOMPLIKASI MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.9 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.10 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI DAN ANAK BALITA MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
Profil Kesehatan Indonesia 2012
xxvi
LAMPIRAN 4.11 CAKUPAN SEKOLAH DASAR (SD) YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN
SISWA SD/MI KELAS 1 MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.12 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA DENGAN MINIMAL 4 PUSKESMAS MAMPU
LAKSANA PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR) MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.13 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA DENGAN MINIMAL 2 PUSKESMAS MAMPU
TATALAKSANA KASUS KEKERASAN TERHADAP ANAK MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.14 JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKUKAN PEMBINAAN KESEHATAN ANAK DI
PANTI ANAK TERLANTAR MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.15 PUSKESMAS MEMBINA LAPAS/RUTAN ANAK MENURUT PROVINSI TAHUN
2012
LAMPIRAN 4.16 PUSKESMAS MEMBINA KESEHATAN ANAK PENYAN DANG CACAT MELALUI
PROGRAM UKS DI SEKOLAH LUAR BIASA SAMPAI DENGAN TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.17 CAKUPAN PEMBERIAN 90 TABLET BESI (FE3) PADA IBU HAMIL MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.18 CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BAYI, ANAK BALITA, DAN
BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.19 PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.20 PERSENTASE ANAK USIA 2 - 4 TAHUN YANG MENDAPAT ASI EKSLUSIF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2011
LAMPIRAN 4.21 CAKUPAN BALITA DITIMBANG MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.22 KASUS GIZI BURUK DITEMUKAN DAN MENDAPAT PERAWATAN MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.23 CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.24 CAKUPAN DESA/KELURAHAN UNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION (UCI)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009-2012
LAMPIRAN 4.25 DROP OUT RATE CAKUPAN IMUNISASI DPT/HB(1) - CAMPAK PADA BAYI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2007-2012
LAMPIRAN 4.26 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.27 CAKUPAN IMUNISASI ANAK SEKOLAH MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.28 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.29 JUMLAH LAYANAN DAN KUNJUNGAN KONSELING DAN TES HIV MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.30 JUMLAH LAYANAN PERAWATAN, DUKUNGAN, DAN PENGOBATAN (PDP),
PENCEGAHAN DAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (PPIA) INFEKSI
MENULAR SEKSUAL (IMS), PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON (PTRM),
DAN TB-HIV MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.31 CAKUPAN TB PARU BTA POSITIF, SEMBUH, PENGOBATAN LENGKAP, DAN
SUCCESS RATE (SR) MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.32 PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.33 TOTAL AFP RATE, NON POLIO AFP RATE, SPESIMEN ADEKUAT, DAN
KUNJUNGAN ULANG 60 HARI MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.34 JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMKESMAS DI PUSKESMAS MENURUT
PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.35 JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL) PESERTA
JAMKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.36 JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT INAP TINGKAT LANJUT (RJTL) PESERTA
JAMKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
xxvii
LAMPIRAN 4.37 JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMINAN PERSALINAN (JAMPERSAL)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.38 JUMLAH KABUPATEN/KOTA MELAKSANAKAN PELAYANAN KESEHATAN TRA
DISIONAL, ALTERNATIF, DAN KOMPLEMENTER MENURUT PROVINSI SAMPAI
DENGAN TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.39 PERSENTASE KETERSE DIAAN OBAT DAN VAKSIN DI SELURUH INDONESIA
BULAN DESEMBER 2012
LAMPIRAN 4.40 PENGGUNAAN OBAT GENERIK PADA SARANA PELAYANAN KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 4.41 JUMLAH JEMAAH HAJI WAFAT DAN PERSENTASE KABUPATEN/KOTA YANG
MELAKSANAKAN PEMERIKSAAN DAN PEMBINAAN KESEHATAN HAJI SESUAI
STANDAR MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
BAB 5. SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
LAMPIRAN 5.1 JUMLAH PUSKESMAS DAN RASIONYA TERHADAP PENDUDUK MENURUT
PROVINSI TAHUN 2008 - 2012
LAMPIRAN 5.2 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN PUSKESMAS NON PERAWATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 - 2012
LAMPIRAN 5.3 JUMLAH PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT DENGAN PELAYANAN
PENGEMBANGAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.4 MENURUT PENGELOLA DAN PROVINSI TAHUN 2012 JUMLAH RUMAH SAKIT
DI INDONESIA
LAMPIRAN 5.5 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MENURUT PENGELOLA
TAHUN 2008 - 2012
LAMPIRAN 5.6 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DAN TEMPAT TIDUR MENURUT JENIS
RUMAH SAKIT TAHUN 2008 - 2012
LAMPIRAN 5.7 JUMLAH RUMAH SAKIT DAN TEMPAT TIDUR MENURUT KELAS RUMAH
SAKIT DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.8 JUMLAH TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT MENURUT KELAS PERAWATAN
DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.9 JUMLAH SARANA PRODUKSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2010-2012
LAMPIRAN 5.10 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2010-2011
LAMPIRAN 5.11 JUMLAH UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT (UKBM)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.12 JUMLAH RW, DESA DAN KELURAHAN SIAGA AKTIF SERTA POSYANDU
MENURUT PROVINSI DAN TINGKATAN (STRATA) DI INDONESIA TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.13 LAYANAN PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON (TRM) MENURUT
PROVINSI SAMPAI DENGAN TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.14 LAYANAN PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (PPIA)
MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.15 JUMLAH PROGRAM STU DI DIPLOMA IV INSTITUSI POLITEKNIK KESEHATAN
(POLTEKKES) MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER TAHUN
2012
LAMPIRAN 5.17 JUMLAH JURUSAN/PROGRAM STUDI DIPLOMA III INSTITUSI POLITEKNIK
KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT JURUSAN DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.16 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES)
JENJANG PENDIDIKAN TINGGI (JPT) MENURUT JURUSAN/PROGRAM STU DI
DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.18 JUMLAH INSTITUSI DIKNAKES NON-POLTEKKES JENJANG PENDIDIKANTINGGI
(JPT) MENURUT STATUS KEPEMILIKAN TAHUN 2012
Profil Kesehatan Indonesia 2012
xxviii
LAMPIRAN 5.19 REKAPITULASI PESERTA DI DIK DIPLOMA III POLTEKKES MENURUT JENIS
TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2012/2013
LAMPIRAN 5.20 REKAPITULASI PESERTA DI DIK NON POLTEKKES JENJANG PENDIDIKANTINGGI
(JPT) MENURUT JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2012/2013
LAMPIRAN 5.21 REKAPITULASI LULUSAN DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES
MENURUT JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.22 JUMLAH LULUSAN DIKNAKES POLTEKKES MENURUT JURUSAN/PROGRAM
STU DI DAN PROVINSI TAHUN AJARAN 2012/2013
LAMPIRAN 5.23 JUMLAH LULUSAN DIKNAKES NON POLTEKKES JENJANG PENDIDIKAN
TINGGI (JPT) MENURUT PROGRAM STU DI DAN PROVINSI TAHUN AJARAN
2012/2013
LAMPIRAN 5.24 REKAPITULASI SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) KESEHATAN MENURUT
PROVINSI MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.25 JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) KESEHATAN DI PUSKESMAS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.26 RASIO DOKTER UMUM, DOKTER GIGI, PERAWAT DAN BI DAN TERHADAP
JUMLAH PUSKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.27 JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.28 REKAPITULASI DOKTER UMUM, DOKTER SPESIALIS, DOKTER GIGI DAN
DOKTER GIGI SPESIALIS YANG MEMILIKI SURAT TANDA REGISTRASI (STR)
MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.29 REKAPITULASI TENAGA KESEHATAN YANG MEMILIKI SURAT TANDA
REGISTRASI (STR) MENURUT PROVINSI TAHUN 2011 SAMPAI DENGAN
DESEMBER TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.30 REKAPITULASI TENAGA KESEHATAN INDONESIA YANG BEKERJA DI LUAR
NEGERI MENURUT JENIS TENAGA DAN NEGARA TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.31 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER SPESIALIS DAN DOKTER GIGI
SPESIALIS SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF MENURUT KRITERIA
WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.32 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER UMUM SEBAGAI PEGAWAI TIDAK
TETAP (PTT) AKTIF MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN
2012 (KON DISI 31 DESEMBER 2012)
LAMPIRAN 5.33 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER GIGI SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP
(PTT) AKTIF MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI KON DISI 31
DESEMBER 2012
LAMPIRAN 5.34 REKAPITULASI KEBERADAAN BI DAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)
AKTIF MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI KON DISI 31 DESEMBER
2012
LAMPIRAN 5.35 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER SPESIALIS DAN DOKTER GIGI
SPESIALIS SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) MENURUT KRITERIA
WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.36 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM SEBAGAI PEGAWAI TIDAK
TETAP (PTT) MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.37 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI SEBAGAI PEGAWAI TIDAK
TETAP (PTT) MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.38 REKAPITULASI PENGANGKATAN BI DAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP
(PTT) MENURUT KRITERIA WILAYAH DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.39 REKAPITULASI PENGANGKATAN TENAGA RESIDEN DAN TENAGA
PENUGASAN KHUSUS D-III KESEHATAN DI KABUPATEN PRIORITAS DTPK
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
xxix
DAN DBK MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.40 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
MENURUT ESELON I TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.41 ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) PEMERINTAH
PROVINSI MENURUT FUNGSI DAN PROVINSI TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.42 DATA CAKUPAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2012
LAMPIRAN 5.43 ALOKASI DAN REALISASI BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
BAB 6. PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA ASEAN DAN SEAR
LAMPIRAN 6.1 PERBANDINGAN BEBERAPA DATA KEPENDUDUKAN DI NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2012
LAMPIRAN 6.2 ANGKA KELAHIRAN, ANGKA KEMATIAN, DAN INDEKS PEMBANGUNAN
MANUSIA DI NEGARA ASEAN & SEAR
LAMPIRAN 6.3 HUMAN DEVELOPMENT INDEX (HDI) DAN GENDER INEQUALITY INDEX (GII) DI
NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011 - 2012
LAMPIRAN 6.4 PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN AIR MINUM LAYAK DAN YANG
MENGGUNAKAN SARANA SANITASI LAYAK DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN
2011
LAMPIRAN 6.5 PERBANDINGAN DATA TUBERKULOSIS DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN
2010/2011
LAMPIRAN 6.6 ANGKA ESTIMASI HIV DAN AIDS DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011
LAMPIRAN 6.7 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA DI NEGARA-
NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2004-2012
LAMPIRAN 6.8 JUMLAH KASUS PENYAKIT MENULAR YANG DAPAT DICEGAH DENGAN
IMUNISASI DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012
LAMPIRAN 6.9 PERBANDINGAN CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DI NEGARA ASEAN &
SEAR TAHUN 2011
LAMPIRAN 6.10 PERBANDINGAN UPAYA KESEHATAN DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2005 -
2012
LAMPIRAN 6.11 PEMBIAYAAN KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2010
LAMPIRAN 6.12 PREVALENSI BALITA MENURUT STATUS GIZI DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN
2007 - 2011

Profil Kesehatan indonesia 2012


xxx
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN RI ..................... iv
SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA .................................................... v
DAFTAR SINGKATAN ............................................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ xiv
DAFTAR TABEL .................................................................................................................. xxi
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................................... xxii
BAB 1. PENDAHULUAN .....................................................................................................2
BAB 2. GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK .............................................6
A. KEADAAN PENDUDUK ........................................................................................7
B. KEADAAN EKONOMI ........................................................................................13
C. KEADAAN PENDIDIKAN ....................................................................................23
D. KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN ............................................................33
1. Sarana dan Akses Air Minum Berkualitas .....................................................33
2. Sarana dan Akses Terhadap Sanitasi Dasar ..................................................38
3. Rumah Tangga Kumuh .................................................................................42
4. Rumah Sehat ...............................................................................................43
E. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT ................................................................44
1. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) .................................................44
2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ......................................................47
3. Kabupaten/Kota Sehat (KKS) ........................................................................48
4. Kawasan Tanpa Rokok (KTR) ........................................................................49
BAB 3. SITUASI DERAJAT KESEHATAN ...............................................................................54
A. MORTALITAS .....................................................................................................54
1. Angka Kematan Neonatal (AKN) .................................................................54
2. Angka Kematan Bayi (AKB) ..........................................................................57
3. Angka Kematan Balita (AKABA) ...................................................................60
4. Angka Kematan Ibu (AKI) ............................................................................62
B. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA ..................................................................64
C. STATUS GIZI ......................................................................................................67
1. Status Gizi Balita ..........................................................................................67
2. Status Gizi Penduduk Dewasa ......................................................................68
D. MORBIDITAS ......................................................................................................69
1. Penyakit Menular .........................................................................................79
a. Tuberkulosis Paru .................................................................................69
i. Kasus Baru dan Prevalensi BTA Positf .........................................70
ii. Proporsi Pasien Baru BTA Positf di antara Semua Kasus .............71
iii. Angka Notfkasi Kasus atau Case Notfcaton Rate (CNR) ..........73
iv. Angka Penemuan Kasus ...............................................................75
b. HIV & AIDS ...........................................................................................76
i. Jumlah Kasus HIV Positf dan AIDS ..............................................76
ii. Angka Kematan Akibat AIDS ......................................................81
iii. Pengetahuan AIDS .......................................................................81
Profil Kesehatan indonesia 2012
xxxi
c. Pneumonia ...........................................................................................85
d. Kusta ..................................................................................................87
e. Diare ..................................................................................................90
2. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) ...............................91
a. Tetanus Neonatorum ...........................................................................91
b. Campak ..............................................................................................92
c. Diferi ..................................................................................................94
d. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut) ................95
3. Penyakit Bersumber Binatang ......................................................................96
a. Demam Berdarah Dengue (DBD) .........................................................96
b. Chikungunya .......................................................................................98
c. Filariasis ...............................................................................................99
d. Malaria ...............................................................................................100
e. Angka Kesakitan Malaria ....................................................................102
f. Flu Burung ..........................................................................................104
g. Rabies ................................................................................................107
h. Leptospirosis .....................................................................................108
i. Antraks ...............................................................................................111
4. Penyakit Tidak Menular ............................................................................112
a. Diabetes Melitus ................................................................................112
b. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah .............................................112
E. DAMPAK KESEHATAN AKIBAT BENCANA .....................................................114
BAB 4. SITUASI UPAYA KESEHATAN .................................................................................118
A. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK ..............................................................118
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil .................................................................119
2. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin .............................................................123
3. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas .................................................................126
4. Penanganan Komplikasi Maternal ..............................................................128
5. Penanganan Komplikasi Neonatal ..............................................................130
6. Kunjungan Neonatal ..................................................................................132
7. Pelayanan Kesehatan pada Bayi .................................................................135
8. Pelayanan Kesehatan pada Anak Balita .....................................................137
9. Pelayanan Kesehatan pada Siswa SD dan Setngkat ...................................138
10. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) ..............................................141
11. Pelayanan Kesehatan pada Kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA) ...........143
12. Pelayanan Kesehatan Anak Terlantar dan Anak Jalanan di Pant ...............144
13. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)...........................................................146
B. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT .....................................................................148
1. Pemberian Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil (Fe) ..............................148
2. Pemberian Kapsul Vitamin A .....................................................................150
3. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif ..............................................................152
4. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S) .......................................154
C. PELAYANAN IMUNISASI .................................................................................156
1. Imunisasi Dasar pada Bayi .........................................................................156
2. Imunisasi pada Ibu Hamil ...........................................................................160
Profil Kesehatan indonesia 2012
xxxii
D. UPAYA PENGENDALIAN PENYAKIT ...............................................................162
1. Pengendalian HIV AIDS ..............................................................................162
2. Pengendalian Penyakit TB Paru ..................................................................164
a. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positf di Antara Suspek yang Diperiksa .....164
b. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA+ (Case Detecton Rate/CDR)
dan Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate/SR) ..................166
3. Pengendalian Penyakit Malaria ..................................................................168
4. Pengendalian Penyakit ISPA .......................................................................170
5. Pengendalian Penyakit Kusta .....................................................................172
6. Pengendalian Penyakit Polio ......................................................................173
7. Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ..........................176
8. Pengendalian Penyakit Filariasis ................................................................178
9. Pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah ...............................180
10. Pengendalian Penyakit Kanker ...................................................................181
11. Pengendalian Penyakit Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik ............184
E. UPAYA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN ...........................................185
1. Ketersediaan Obat dan Vaksin ...................................................................185
2. Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan .....................188
F. PELAYANAN JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT .....................................189
BAB 5. SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN ....................................................................194
A. SARANA KESEHATAN ......................................................................................194
1. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) ................................................194
a. Puskesmas dengan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal
Emergensi Dasar (PONED) .................................................................198
b. Puskesmas dengan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).......200
c. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Kerja .......................................201
d. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Olahraga .................................202
e. Puskesmas dengan Tatalaksana Kasus Kekerasan
terhadap Anak (KtA) ..........................................................................202
2. Rumah Sakit ...............................................................................................203
a. Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi
Komprehensif (PONEK) ......................................................................208
b. Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) .......................................209
c. Layanan Pencegahan Penularan HIV ..................................................209
d. Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatf dan Komplementer ......210
3. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan ........211
4. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat ..........................................214
5. Insttusi Pendidikan Tenaga Kesehatan ......................................................216
a. Jumlah, Jenis dan Persebaran Insttusi ..............................................216
b. Akreditasi Insttusi .............................................................................219
c. Peserta Didik ......................................................................................220
d. Lulusan ..............................................................................................220
B. TENAGA KESEHATAN..........................................................................................221
1. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan ..........................................................222
a. Tenaga Kesehatan di Puskesmas ........................................................223
Profil Kesehatan indonesia 2012
xxxiii
b. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit..........................................................225
2. Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT) ....................226
3. Tenaga Kesehatan dengan Status Penugasan Khusus ................................229
4. Registrasi Tenaga Kesehatan ......................................................................229
C. PEMBIAYAAN KESEHATAN ...........................................................................231
1. Anggaran Kementerian Kesehatan .............................................................231
2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bidang Kesehatan .....232
3. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Masyarakat ...........................................234
4. Bantuan Operasional Kesehatan ................................................................235
BAB 6. PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA
ASEAN DAN SEAR ..............................................................................................240
A. KEPENDUDUKAN ............................................................................................241
1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk .............................................................241
2. Laju Pertumbuhan Penduduk ....................................................................243
3. Penduduk Menurut Kelompok Umur ........................................................245
4. Indeks Pembangunan Manusia ..................................................................247
5. Gender Inequality Index .............................................................................249
6. Total Fertlity Rate .....................................................................................252
7. Angka Kelahiran Kasar ...............................................................................253
8. Sosial Ekonomi ..........................................................................................254
B. DERAJAT KESEHATAN .....................................................................................257
MORTALITAS ....................................................................................................257
1. Angka Kematan Bayi .................................................................................257
2. Angka Kematan Balita ..............................................................................258
3. Angka Kematan Ibu ...................................................................................260
4. Angka Kematan Kasar ...............................................................................262
5. Angka Harapan Hidup ................................................................................263
MORBIDITAS ....................................................................................................264
1. Prevalensi Tuberkulosis .............................................................................264
2. Flu Burung (Avian Infuenza) ......................................................................267
3. Polio ...........................................................................................................269
4. Campak ......................................................................................................271
5. Tetanus Neonatorum .................................................................................271
C. UPAYA KESEHATAN..........................................................................................272
1. Cakupan Imunisasi ....................................................................................272
2. Pengendalian TB Paru ................................................................................274
3. Air Minum Layak dan Sanitasi ..................................................................276
4. Pelayanan Kesehatan Ibu ..........................................................................278
D. PEMBIAYAAN KESEHATAN .............................................................................279
E. STATUS GIZI .....................................................................................................280
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................282
LAMPIRAN ......................................................................................................................285

PENDAHULUAN
Menkes berdialog santai dengan ibu-ibu kader di Ternate
BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN

F
o
t
o
:

P
u
s
k
o
m

P
u
b
l
i
k
rofl Kesehatan Indonesia yang pertama diterbitkan pada tahun 1988. Sejak
saat itu Profl Kesehatan Indonesia terbit setap tahunnya hingga saat ini.
Profl diterbitkan dalam bahasa Indonesia, dan pada tahun 2003, selain
berbahasa Indonesia, diterbitkan juga dalam bahasa Inggris. Profl kesehatan Indonesia
membahas beberapa topik yang terdapat dalam setap bab yang disajikan dalam urutan
sebagai berikut:
BAB GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK
Bab ini menyajikan tentang gambaran umum, yang meliput kependudukan,
perekonomian, dan lingkungan fsik serta perilaku penduduk yang terkait dengan
kesehatan. Indonesia tergolong struktur penduduk muda dengan masih banyak
penduduk yang berumur 0-14 sebesar 28,87% dan juga ditopang oleh penduduk usia
produktf sebanyak 66% merupakan potensi besar bagi Indonesia untuk membangun
lebih maju. Selain itu jumlah penduduk usia tua juga menjadi perhatan bagi kebijakan
pemerintah dalam menangani usia lanjut karena pada tahun 2012 jumlah penduduk
lanjut usia (>65 tahun) juga mengalami peningkatan karena umur harapan hidup
semakin tnggi, dari 69,09 pada tahun 2007 menjadi 69,65 tahun 2012.
BAB SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Bab ini berisi uraian tentang berbagai indikator derajat kesehatan, yang mencakup
tentang angka kematan, indeks pembangunan manusia termasuk angka harapan
hidup, angka kesakitan, dan status gizi masyarakat. Angka kematan pada bayi, balita,
BAB 1. PENDAHULUAN
P
pendahuluan
3
dan maternal selama beberapa tahun ini menggunakan data SDKI 2007. Sedangkan
pada Profl Kesehatan Indonesia 2012 angka kematan menggunakan data mutakhir
yang merupakan hasil SDKI 2012. Angka kematan neonatal, bayi, dan balita mengalami
penurunan walaupun tdak setajam hasil SDKI sebelumnya.
BAB SITUASI UPAYA KESEHATAN
Bab ini berisi uraian tentang upaya kesehatan yang merupakan pelaksanaan program
pembangunan di bidang kesehatan. Upaya kesehatan yang diuraikan pada Profl
Kesehatan Indonesia Tahun 2012 mencakup program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),
perbaikan gizi masyarakat, imunisasi, pengendalian penyakit, kefarmasian dan alat
kesehatan, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat. Upaya kesehatan ibu dan anak
diharapkan mampu menurunkan angka kematan ibu dan angka kematan anak
sebagaimana yang telah disepakat dalam komitmen global MDGs.
BAB SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Bab ini menguraikan tentang sumber daya pembangunan bidang kesehatan sampai
tahun 2012. Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang keadaan
sarana/fasilitas kesehatan, sarana produksi/distribusi obat dan perbekalan kesehatan,
insttusi pendidikan tenaga kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan kesehatan.
Salah satu yang dibahas dalam bab ini adalah ketersedian puskesmas dan rumah sakit
beserta rasionya.
BAB PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA ASEAN DAN SEAR
Bab ini menyajikan perbandingan antar negara anggota ASEAN dan negara anggota
SEAR dimana Indonesia menjadi anggota dari kedua organisasi tersebut. Beberapa
indikator yang dibandingkan meliput data kependudukan, Angka Kelahiran, Angka
Kematan, Indeks Pembangunan Manusia, Gender Inequality Index, data tuberkulosis,
angka estmasi HIV/AIDS, kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi,
dan cakupan imunisasi pada bayi.
GAMBARAN UMUM
DAN PERILAKU PENDUDUK
Anak-anak sehat berkat Jamkesmas di Ambon - 2012
GAMBARAN UMUM
DAN PERILAKU PENDUDUK
F
o
t
o
:

P
u
s
k
o
m

P
u
b
l
i
k
Profil Kesehatan indonesia 2012
6
ndonesia secara geografs terletak di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan
Australia serta di antara dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera
Pasifk. Kondisi ini membuat letak Indonesia sangat strategis karena posisi
Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudra memungkinkan menjadi
persimpangan lalu lintas dunia, baik lalu lintas udara maupun laut dan sebagai ttk
persilangan kegiatan perekonomian dunia, antara perdagangan negara-negara industri
dan negara-negara yang sedang berkembang. Secara astronomis, Indonesia terletak
antara 6
o
Lintang Utara sampai 11
o
Lintang Selatan dan 95
o
sampai 141
o
Bujur Timur
yang meliput rangkaian pulau antara Sabang sampai Merauke.
Menurut data dari Badan Informasi Geospasial (BIG), Indonesia adalah negara
kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau 13.466, luas daratan 1.922.570
km
2
dan luas perairan 3.257.483 km
2
. Luasan wilayah dalam peta NKRI dari masa ke
masa memperlihatkan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mengalami
beberapa perubahan. Saat ini peta NKRI yang terbaru memperlihatkan penambahan
luas wilayah yurisdiksi Kelautan Republik Indonesia di luar 200 mil laut seluas 4.209
Km
2
yang terletak di sisi barat laut Pulau Sumatera, yang disetujui dan disahkan oleh
PBB tanggal 17 Agustus 2010 lalu, saat menggelar sidang di New York Amerika Serikat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2011 tentang Kode dan
Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Kementerian Dalam Negeri menunjukkan
bahwa pada tahun 2012 secara administratf wilayah Indonesia terbagi atas 33 provinsi,
497 kabupaten/kota (399 kabupaten dan 98 kota), 6.994 kecamatan, 8.216 kelurahan
BAB 2. GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU
PENDUDUK
I
gambaran umum dan perilaku penduduk
7
dan 69.249 desa. Fakta ini membuat Indonesia memiliki keragaman budaya dan adat
istadat dengan karakteristk yang berbeda satu sama lain. Keragaman dalam berbagai
aspek tersebut juga terkait dengan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan.
Pembagian wilayah Indonesia secara administratf menurut provinsi pada tahun 2012
dapat dilihat pada Lampiran 2.1.
Pada bab ini akan diuraikan tentang gambaran umum Indonesia dan perilaku penduduk
pada tahun 2012 yang meliput: keadaan penduduk, keadaan ekonomi, keadaan
pendidikan, keadaan kesehatan lingkungan, dan keadaan perilaku penduduk.
A. KEADAAN PENDUDUK
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia sebesar
237.641.326 jiwa, yang terdiri dari 119.630.913 penduduk laki-laki dan 118.010.413
penduduk perempuan. Estmasi jumlah penduduk tahun 2012 dilaksanakan oleh Pusat
Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan dengan bantuan dari Badan Pusat Statstk.
Estmasi dilakukan dengan metode geometrik yang berasumsi bahwa laju pertumbuhan
penduduk konstan setap tahunnya. Laju pertumbuhan penduduk yang digunakan
adalah Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2000-2010 (LPP 2000-2010). Pertumbuhan
penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu
tertentu dibandingkan waktu sebelumnya.
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2012, Hasil Estimasi
GAMBAR 2.1
ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2012
Profil Kesehatan indonesia 2012
8
Hasil estmasi jumlah penduduk pada tahun 2012 sebesar 244.775.797 jiwa, yang terdiri
dari jumlah penduduk laki-laki sebesar 123.222.475 dan jumlah penduduk perempuan
121.553.322 dengan rasio jenis kelamin 101. Angka ini berart bahwa terdapat 101 laki-
laki di antara 100 perempuan. Rincian menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran
2.3.
Estmasi jumlah penduduk tahun 2012 berasumsi bahwa laju/angka pertumbuhan
penduduk bersifat konstan setap tahunnya. Laju pertumbuhan penduduk yang
digunakan adalah laju pertumbuhan penduduk provinsi. Pada Gambar 2.1, estmasi
jumlah penduduk tertnggi di Indonesia terdapat di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah
penduduk sebesar 44.655.786, Jawa Timur sebesar 38.006.413 dan Jawa Tengah
sebesar 32.586.588. Estmasi jumlah penduduk terendah terdapat di Provinsi Papua
Barat dengan jumlah penduduk sebesar 816.986, Gorontalo sebesar 1.086.506 dan
Maluku Utara sebesar 1.088.794.
Struktur umur penduduk menurut jenis kelamin dapat digambarkan dalam bentuk
piramida penduduk. Berdasarkan estmasi jumlah penduduk yang telah dilakukan,
dapat disusun sebuah piramida penduduk tahun 2012. Dasar piramida menunjukkan
jumlah penduduk, badan piramida bagian kiri menunjukkan banyaknya penduduk laki-
laki dan badan piramida bagian kanan menunjukkan jumlah penduduk perempuan.
GAMBAR 2.2
ESTIMASI PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2012, Hasil Estimasi
gambaran umum dan perilaku penduduk
9
Piramida tersebut merupakan gambaran struktur penduduk yang terdiri dari struktur
penduduk muda, dewasa, dan tua. Struktur penduduk ini menjadi dasar bagi kebijakan
kependudukan, sosial, budaya, dan ekonomi.
Pada Gambar 2.2 ditunjukkan bahwa struktur penduduk di Indonesia termasuk
struktur penduduk muda. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya jumlah penduduk usia
muda (014 tahun) yang masih tnggi, walaupun jumlah kelahiran telah menurun jika
dibandingkan dengan lima tahun yang lalu. Angka harapan hidup semakin meningkat
yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk usia tua, untuk laki-laki dan
perempuan. Badan piramida membesar, ini menunjukkan banyaknya penduduk usia
produktf terutama pada kelompok umur 25-29 tahun dan 30-34 tahun, baik laki-laki
maupun perempuan. Jumlah golongan penduduk usia tua juga cukup besar. Hal ini
dapat dimaknai dengan semakin tngginya usia harapan hidup, kondisi ini mengharuskan
adanya kebijakan terhadap penduduk usia tua, karena golongan penduduk ini relatf
tdak produktf. Rincian estmasi jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok
umur di Indonesia tahun 2012 dapat dilihat pada Lampiran 2.2.
Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) per tahun
selama tahun 19711980 sebesar 2,31% dan menurun secara tajam selama rentang
tahun 19902000. Pada tahun 2000 LPP sebesar 1,40%, penurunan laju pertumbuhan
penduduk ini dimungkinkan karena berhasilnya program keluarga berencana yang
dicanangkan oleh pemerintah pada masa itu. Kebijaksanaan kependudukan yang
diambil pemerintah tdak hanya menurunkan angka fertlitas tetapi diharapkan ikut
meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.
Hal berbeda terjadi di periode 20002010, LPP sebesar 1,49% per tahun, sedikit
meningkat jika dibandingkan dengan LPP pada tahun 19902000. Peningkatan yang
terjadi masih relatf kecil, dimungkinkan karena program keluarga berencana tdak
mampu lagi menghambat angka kelahiran di Indonesia. Semakin tnggi laju pertumbuhan
penduduk menyebabkan jumlah penduduk yang semakin banyak di masa yang akan
datang.
Kepadatan penduduk menunjukkan banyaknya penduduk per kilometer persegi. Hasil
estmasi penduduk menunjukkan pada tahun 2012 kepadatan penduduk di Indonesia
sebesar 128 penduduk per km2. Estmasi kepadatan penduduk paling besar terdapat
di Provinsi DKI Jakarta dengan kepadatan penduduk 14.864, Jawa Barat sebesar 1.262
dan Banten 1.161. Estmasi kepadatan penduduk paling kecil terdapat di Provinsi Papua
Barat dengan kepadatan penduduk 8, Papua sebesar 9 dan Kalimantan Tengah sebesar
14,91. Rincian kepadatan penduduk menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.4.
Profil Kesehatan indonesia 2012
10
Indikator pentng terkait distribusi penduduk menurut umur yang sering digunakan untuk
mengetahui produktvitas penduduk adalah Angka Beban Tanggungan atau Dependency
Rato. Angka Beban Tanggungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara
banyaknya orang yang tdak produktf (umur di bawah 15 tahun dan umur 65 tahun
ke atas) dengan banyaknya orang yang termasuk umur produktf (umur 1564 tahun).
Secara kasar perbandingan angka beban tanggungan menunjukkan dinamika beban
tanggungan umur produktf terhadap umur nonproduktf. Semakin tnggi rasio beban
tanggungan, semakin tnggi pula jumlah penduduk nonproduktf yang ditanggung oleh
penduduk umur produktf.
Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur yang ditunjukkan oleh Tabel
2.1, menunjukkan bahwa penduduk yang berusia 0-14 tahun sebesar 28,87% yang
berusia 15-64 tahun sebesar 66,08% dan yang berusia 65 tahun sebesar 5,05%.
Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan penduduk Indonesia pada tahun 2012
sebesar 51,33%. Hal ini berart bahwa 100 orang Indonesia yang masih produktf akan
menanggung 51 orang yang belum/sudah tdak produktf lagi. Apabila dibandingkan
antar jenis kelamin, maka Angka Beban Tanggungan laki-laki lebih besar jika dibandingkan
GAMBAR 2.3
ESTIMASI KEPADATAN PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2012, Hasil Estimasi
gambaran umum dan perilaku penduduk
11
TABEL 2.1
ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK DAN ANGKA BEBAN TANGGUNGAN
MENURUT JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK USIA PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2012, Hasil Estimasi
dengan Angka Beban Tanggungan perempuan, yaitu 51,50% untuk laki-laki dan 51,15%
untuk perempuan. Rincian menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.6.
Penduduk sebagai determinan pembangunan harus mendapat perhatan yang
serius. Program pembangunan, termasuk pembangunan di bidang kesehatan, harus
didasarkan pada dinamika kependudukan. Upaya pembangunan di bidang kesehatan
tercermin dalam program kesehatan melalui upaya promotf, preventf, kuratf maupun
rehabilitatf. Untuk mendukung upaya tersebut diperlukan ketersediaan data mengenai
penduduk sebagai sasaran program pembangunan kesehatan.
Profil Kesehatan indonesia 2012
12
TABEL 2.2
ESTIMASI PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2012, Hasil Estimasi
Penduduk sasaran program pembangunan kesehatan sangatlah beragam, sesuai dengan
karakteristk kelompok umur tertentu atau didasarkan pada kondisi siklus kehidupan
yang terjadi. Beberapa upaya program kesehatan memiliki sasaran ibu hamil, ibu
melahirkan, dan ibu nifas. Beberapa program lainnya dengan penduduk sasaran
terfokus pada kelompok umur tertentu, meliput: bayi, batta, balita, anak balita, anak
usia sekolah SD, wanita usia subur, penduduk produktf, dan usia lanjut.
gambaran umum dan perilaku penduduk
13
B. KEADAAN EKONOMI
Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan
keberhasilan pembangunan suatu negara. Berdasarkan data dari BPS, Nilai Produk
Domestk Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp 2.618,1
triliun dan apabila dilihat berdasarkan atas dasar harga berlaku menjadi Rp 8.241,9
triliun pada tahun 2012. Laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2005-2011
belum stabil, yang antara lain dipengaruhi oleh kondisi politk dan iklim investasi yang
ada.
GAMBAR 2.4
LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2005 - 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013
Perekonomian Indonesia pada tahun 2012 tumbuh sebesar 6,23% dibanding tahun
2011, dimana semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan. Saat terjadi krisis
ekonomi global pada tahun 2008, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 4,50%.
Pada tahun 2012, pertumbuhan tertnggi terjadi pada sektor pengangkutan dan
komunikasi yang tumbuh mencapai 9,98%, diikut oleh sektor perdagangan, hotel, dan
restoran tumbuh 8,11%, sektor konstruksi 7,50%, sektor keuangan, real estat dan jasa
perusahaan tumbuh 7,15%, sektor listrik, gas, dan air bersih 6,40%, sektor industri
pengolahan tumbuh 5,73%, sektor jasa-jasa 5,24%, sektor pertanian tumbuh 3,97%,
dan sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 1,49 %. Pertumbuhan PDB tanpa
migas pada tahun 2012 mencapai 6,81% yang berart lebih tnggi dari pertumbuhan
PDB. Sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap total
Profil Kesehatan indonesia 2012
14
pertumbuhan PDB, dengan sumber pertumbuhan sebesar 1,47%. Selanjutnya diikut
oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor pengangkutan dan komunikasi
yang memberikan sumber pertumbuhan masing-masing sebesar 1,44% dan 0,98%.
PDB per kapita merupakan PDB atas dasar harga berlaku dibagi dengan jumlah penduduk
pertengahan tahun. Pada tahun 2012, nilai PDB per kapita diperkirakan mencapai Rp.
33,3 juta dengan laju peningkatan sebesar 9,58 persen dibandingkan dengan PDB per
kapita tahun 2011 yang sebesar Rp. 30,4 juta. Sementara itu Produk Nasional Bruto
(PNB) per kapita juga meningkat dari Rp. 29,6 juta pada tahun 2011 menjadi Rp. 32,4
juta pada tahun 2012 atau terjadi peningkatan sebesar 9,52 persen.
Besarnya pendapatan yang diterima rumah tangga dapat menggambarkan kesejahteraan
suatu masyarakat. Namun data pendapatan yang akurat sulit diperoleh, sehingga dalam
kegiatan Susenas, dilakukan pendekatan melalui data pengeluaran rumah tangga.
Pengeluaran rumah tangga yang terdiri dari pengeluaran makanan dan bukan makanan
dapat menggambarkan bagaimana penduduk mengalokasikan kebutuhan rumah
GAMBAR 2.5
PERSENTASE RATA-RATA PENGELUARAN PER KAPITA INDONESIA TAHUN 2011
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
gambaran umum dan perilaku penduduk
15
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
tangganya. Walaupun harga antar daerah berbeda, namun nilai pengeluaran rumah
tangga masih dapat menunjukkan perbedaan tngkat kesejahteraan penduduk antar
provinsi khususnya dilihat dari segi ekonomi.
Pengeluaran per kapita untuk non makanan mengalami kenaikan pada tahun 2011
jika dibandingkan dengan tahun 2010. Pada tahun 2011 persentase pengeluaran yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan non makanan sebesar 50,55% dan pengeluaran
yang dilakukan oleh makanan sebesar 49,45%. Pengeluaran makanan terbesar untuk
makanan jadi dan padi-padian. Pengeluaran non makanan terbesar untuk perumahan,
bahan bakar, penerangan dan air. Biaya kesehatan per kapita sebulan hanya sebesar
3,04% dari total pengeluaran per kapita sebulan. Nilai ini masih lebih kecil jika
dibandingkan dengan kebutuhan terhadap perumahan, bahan bakar, penerangan dan
air. Rincian lengkap pengeluaran per kapita sebulan menurut kelompok barang dapat
dilihat pada Lampiran 2.14.
Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan kesempatan kerja di Indonesia.
Penggolongan usia kerja di Indonesia mengikut standar internasional yaitu usia 15 tahun
ke atas. Penduduk dilihat dari sisi ketenagakerjaan merupakan suplai bagi pasar tenaga
kerja, namun tdak semua penduduk mampu melakukannya karena hanya penduduk
yang masuk usia kerja yang dapat menawarkan tenaganya di pasar kerja. Penduduk
usia kerja dibagi menjadi dua golongan yaitu yang termasuk angkatan kerja dan yang
bukan angkatan kerja. Angkatan kerja sendiri terdiri dari mereka yang aktf bekerja
dan mereka yang sedang mencari pekerjaan. Mereka yang sedang mencari pekerjaan,
sedang mempersiapkan suatu usaha dan mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetapi
belum mulai bekerja itulah yang dinamakan sebagai pengangguran terbuka.
TABEL 2.3
PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA, PENDUDUK YANG BEKERJA
DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2010 2012
Profil Kesehatan indonesia 2012
16
Untuk mengetahui tngkat pengangguran, dilakukan Survei Angkatan Kerja Nasional
(Sakernas). Konsep pengangguran adalah angkatan kerja yang tdak bekerja/tdak
mempunyai pekerjaan, yang mencakup angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan,
mempersiapkan usaha, tdak mencari pekerjaan karena merasa tdak mungkin
mendapatkan pekerjaan/putus asa (sebelumnya dikategorikan sebagai bukan angkatan
kerja) dan yang punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (sebelumnya dikategorikan
sebagai bekerja).
Persentase pengangguran terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja
dengan jumlah angkatan kerja. Pengangguran terbuka di sini didefnisikan sebagai
orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan usaha atau
juga yang tdak mencari pekerjaan karena merasa tdak mungkin lagi mendapatkan
pekerjaan, termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi belum mulai bekerja.
Pengangguran terbuka tdak termasuk orang yang masih sekolah atau mengurus
rumah tangga.Pada Tabel 2.3 dapat diketahui keadaan ketenagakerjaan di Indonesia
pada Tahun 2012. Agustus tahun 2012 menunjukkan adanya sedikit perbaikan yang
digambarkan dengan adanya penurunan tngkat pengangguran. Jumlah angkatan kerja
pada Agustus 2012 turun sebesar 2,4 juta orang dibanding keadaan Februari 2012.
Penduduk yang bekerja pada Agustus 2012 berkurang sebesar 2,0 juta orang dibanding
keadaan Februari 2012 .Jumlah penganggur pada Agustus 2012 mengalami penurunan
sekitar 370 ribu orang jika dibanding keadaan Februari 2012.
Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk telah menyebabkan peningkatan jumlah
angkatan kerja. Peningkatan jumlah angkatan kerja menyebabkan semakin sempitnya
peluang kerja karena minimnya lapangan pekerjaan. Pertumbuhan lapangan kerja lebih
lambat dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk. Hal inilah yang menyebabkan
tmbulnya pengangguran terbuka yang cukup tnggi. Hal yang menggembirakan
adalah turunnya jumlah pengangguran terbuka dari tahun ke tahun, walaupun angka
pengangguran masih cukup tnggi.
Proporsi pengangguran terbuka dari angkatan kerja berguna untuk acuan pemerintah
dalam pembukaan lapangan kerja baru di masa mendatang. Angka ini juga menunjukkan
tngkat keberhasilan pembangunan program ketenagakerjaan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan publikasi data hasil Sakernas BPS tahun 2012 ada penurunan angka
pengangguran. Jumlah pengangguran pada Agustus 2012 mencapai 7,2 juta orang,
dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) cenderung menurun, dimana pada Agustus
2012 sebesar 6,14% turun dari kondisi Februari 2012 yang sebesar 6,32% dan kondisi
Agustus 2011 yang sebesar 6,56%.
gambaran umum dan perilaku penduduk
17
GAMBAR 2.6
PERSENTASE TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA MENURUT PENDIDIKAN
DI INDONESIA AGUSTUS TAHUN 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
Pembahasan yang cukup menarik tentang pengangguran adalah pengangguran
berdasarkan tngkat pendidikan. Pada Gambar 2.6, dapat ditunjukkan bahwa
pengangguran tertnggi ada pada penduduk yang menamatkan pendidikan pada tngkat
SMA dengan persentase sebesar 39,66%. Pengangguran tertnggi kedua ada pada
penduduk dengan tngkat pendidikan SMP sebesar 23,48%. Tingkat pengangguran
tertnggi ketga adalah penduduk dengan tngkat pendidikan SD sebesar 20,01%.
Tingkat pengangguran pada tngkat pendidikan diploma/universitas sebesar 8,76%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2012 masih terdapat pengangguran yang
berpendidikan.
Kemiskinan menjadi isu yang harus mendapatkan perhatan dari berbagai kalangan
termasuk kesehatan. Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terkait
dengan daya beli dan akses dari masyarakat. Kemiskinan juga menjadi hambatan besar
dalam pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat dan bergizi sehingga
dapat melemahkan daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk
terserang penyakit-penyakit tertentu. Fenomena gizi buruk dan kurang seringkali
dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang buruk jika merujuk pada fakta keterbatasan
pemenuhan pangan dan gizi masyarakat.
Pengukuran kemiskinan dari BPS menggunakan konsep memenuhi kebutuhan dasar
(basic need approach) dalam mengukur kemiskinan di Indonesia. Secara umum
Profil Kesehatan indonesia 2012
18
kemiskinan didefnisikan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tdak
mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan
kehidupan yang bermartabat. Defnisi yang sangat luas ini menunjukkan bahwa
kemiskinan merupakan masalah mult dimensional, sehingga tdak mudah untuk
mengukur kemiskinan dan perlu kesepakatan pendekatan pengukuran yang dipakai.
Kemiskinan dipahami sebagai ketdakmampuan ekonomi penduduk untuk memenuhi
kebutuhan dasar makanan maupun non makanan yang diukur dari pengeluaran.
Pengukuran kemiskinan dilakukan dengan cara menetapkan nilai standar kebutuhan
minimum, baik untuk makanan maupun untuk non makanan yang harus dipenuhi
seseorang untuk hidup secara layak. Nilai standar kebutuhan minimum tersebut
digunakan sebagai garis pembatas untuk memisahkan antara penduduk miskin dan
tdak miskin. Garis pembatas tersebut yang sering disebut dengan garis kemiskinan.
Kategori penduduk miskin adalah penduduk dengan tngkat pengeluaran per kapita per
bulan kurang dari garis kemiskinan. Perhitungan Garis Kemiskinan tersebut dilakukan
secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Tahun 2012, dilakukan 2 kali
pengukuran penduduk miskin, yaitu bulan Maret dan September. Pada September
2012, kategori penduduk miskin di desa adalah mereka dengan tngkat pengeluaran
per kapita per bulan kurang dari Rp 240.441,00 dan penduduk miskin di kota adalah
mereka dengan tngkat pengeluaran per kapita per bulan kurang dari Rp 277.382,00.
Garis kemiskinan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Rincian lengkap mengenai
garis kemiskinan per tahun desa dan kota dapat dilihat pada Lampiran 2.15.
GAMBAR 2.7
GARIS KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN 2007 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
gambaran umum dan perilaku penduduk
19
TABEL 2.4
PERSEBARAN DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN
MENURUT KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2010 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
GAMBAR 2.8
PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2006 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
Gambar 2.8 menunjukkan tentang jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia
dari tahun 2006 2012. Jumlah dan persentase penduduk miskin semakin menurun
dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012, jumlah penduduk miskin berjumlah 28,59 juta
penduduk miskin, turun jika dibandingkan dengan tahun 2011 yang berjumlah 30,01 juta
penduduk miskin dan 31,02 juta penduduk miskin pada tahun 2010. Secara persentase,
penduduk miskin tahun 2012 sebesar 11,66%, tahun 2011 sebesar 12,49% dan tahun
2010 sebesar 13,33%. Secara persentase kemiskinan semakin turun jika dibandingkan
per tahun, tetapi jumlah penduduk miskin di Indonesia masih cukup besar. Secara
lengkap jumlah dan persentase penduduk miskin terdapat pada Lampiran 2.19.
Profil Kesehatan indonesia 2012
20
Berdasarkan data jumlah dan persentase penduduk miskin menurut provinsi dari BPS
terdapat persebaran penduduk miskin antar pulau yang nyata perbedaannya. Dari Tabel
2.4 dapat diketahui lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau
Jawa yaitu 55,83% tahun 2010 dan tahun 2012 menurun menjadi 55,33%. Separuh
penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau Jawa. Persebaran jumlah penduduk
miskin pada tahun 2011 di Sumatera 21,49%, Jawa 55,72%, Kalimantan 3,23%, Bali
dan Nusa Tenggara 6,91%, Sulawesi 7,14%, Maluku dan Papua 5,50%. Pada tahun 2012
persentase penduduk miskin di Sumatera 21,60%, Sulawesi 7,15%, Kalimantan 3,26%,
Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 6,96%, Maluku dan Papua 5,69%. Selama rentang
tahun 2010 2012, penurunan persentase penduduk miskin terjadi di Pulau Jawa dan
kenaikan persentase penduduk miskin tertnggi terjadi di Pulau Maluku dan Papua.
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
GAMBAR 2.9
PETA PERSEBARAN PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2012
Pada Gambar 2.9 ditunjukkan persebaran penduduk miskin di Indonesia. Persentase
penduduk miskin terbesar pada tahun 2012 terdapat di Provinsi Papua dengan persentase
penduduk miskin 30,66% dan Provinsi Papua Barat dengan persentase penduduk miskin
sebesar 27,04%. Penduduk miskin terendah di Indonesia terdapat di Provinsi Bali dengan
persentase penduduk miskin sebesar 3,95% dan Provinsi DKI Jakarta dengan persentase
penduduk miskin sebesar 3,70%.
Masalah kemiskinan bukan hanya sekedar jumlah dan persentase penduduk miskin
saja, ada dimensi lain yang perlu diperhatkan yaitu tngkat kedalaman dan keparahan
kemiskinan. Selain menekan jumlah penduduk miskin, kebijakan kemiskinan juga
sekaligus mengurangi tngkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Rincian mengenai
indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan dapat dilihat pada
Lampiran 2.20.
gambaran umum dan perilaku penduduk
21
Distribusi pendapatan merupakan salah satu aspek kemiskinan yang perlu dilihat karena
pada dasarnya merupakan ukuran kemiskinan relatf. Karena data pendapatan sulit
diperoleh, pengukuran distribusi pendapatan selama ini didekat dengan menggunakan
data pengeluaran. Ukuran yang dapat menggambarkan ketmpangan pendapatan ini
adalah koefsin Gini/Indeks Gini (Gini Rato). Indeks Gini adalah suatu koefsien yang
menunjukkan tngkat ketmpangan atau kemerataan distribusi pendapatan secara
menyeluruh. Nilai indeks Gini ada diantara 0 dan 1. Semakin tnggi nilai indeks Gini
menunjukkan ketdakmerataan pendapatan yang semakin tnggi. Apabila nilai indeks
Gini adalah 0 artnya terdapat kemerataan sempurna pada distribusi pendapatan,
sedangkan jika bernilai 1 berart terjadi ketdakmerataan pendapatan yang sempurna.
Rincian mengenai indeks Gini dapat dilihat pada Lampiran 2.10.
Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu mendorong kemajuan,
baik fsik, sosial, mental dan spiritual di segenap pelosok negeri terutama wilayah yang
tergolong daerah tertnggal. Suatu daerah dikategorikan menjadi daerah tertnggal
karena beberapa faktor penyebab, yaitu: geografs, sumber daya alam, sumber daya
manusia, prasarana dan sarana, daerah rawan bencana dan konfik sosial, dan kebijakan
pembangunan. Keterbatasan prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya
kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah tertnggal mengalami kesulitan untuk
melakukan aktvitas ekonomi dan sosial.
Unit terkecil daerah tertnggal yang digunakan dalam Strategi Nasional Percepatan
Pembangunan Daerah Tertnggal (STRANAS PPDT) adalah wilayah administrasi
kabupaten. Menurut defnisinya, daerah tertnggal adalah daerah kabupaten yang relatf
kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional dan berpenduduk
relatf tertnggal. Penetapan kriteria daerah tertnggal dilakukan dengan menggunakan
pendekatan berdasarkan pada perhitungan enam kriteria dasar yaitu: perekonomian
masyarakat, sumber daya manusia, prasarana (infrastruktur), kemampuan keuangan
lokal (celah fskal), aksesibilitas dan karakteristk daerah, serta berdasarkan kabupaten
yang berada di daerah pedalaman, kepulauan (pulau kecil dan gugus pulau), perbatasan
antar negara, daerah rawan bencana dan daerah rawan konfik, dan sebagian besar
wilayah daerah pesisir.
Kementerian Pembangunan Daerah Tertnggal (KPDT) telah menetapkan 183 kabupaten
yang dikategorikan sebagi kabupaten tertnggal. Ketetapan ini berdasarkan Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010 2014. Saat ini di
Indonesia terdapat 45 kabupaten perbatasan, 33 pulau-pulau kecil terluar berpenduduk,
Profil Kesehatan indonesia 2012
22
183 daerah tertnggal dan 158 Kabupaten Prioritas Percepatan Pembangunan Kualitas
Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertnggal. Pada tahun 2012 persentase daerah
tertnggal adalah 36,8% (183 kabupaten dari 497 kabupaten/kota) yang terdapat di 27
provinsi.
GAMBAR 2.10
PETA PERSEBARAN KABUPATEN TERTINGGAL DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, 2012
Gambar 2.10 menunjukkan provinsi dengan persentase kabupaten tertnggal tertnggi
adalah Sulawesi Barat, yaitu sebesar 100%, Nusa Tenggara Timur sebesar 95,24% dan
Provinsi Papua sebesar 93,10%. persentase kabupaten tertnggal terendah terdapat di
Kalimantan Tengan sebesar 7,14% dan Jawa Barat sebesar 7,69%. Terdapat 6 provinsi di
Indonesia yang tdak memiliki kabupaten tertnggal yaitu: Riau, Jambi, DKI Jakarta, Jawa
Tengah, DI Yogyakarta, dan Bali. Rincian kabupaten tertnggal per provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 2.31.
Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar juga
memprioritaskan pembangunan pada Daerah Tertnggal, Perbatasan dan Kepulauan
(DTPK). Salah satu agenda kegiatan adalah pembangunan kesehatan di 45 Kabupaten
Prioritas Nasional di Perbatasan dengan Negara Tetangga. Dengan menggunakan skala
prioritas, terdapat 45 kabupaten prioritas dan 101 puskesmas prioritas kabupaten
prioritas nasional di perbatasan dengan negara tetangga.
Pada Tabel 2.5 dapat diketahui bahwa pulau dengan jumlah kabupaten perbatasan
dengan negara lain terbanyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua
yang berjumlah 17 kabupaten atau 37,78%. Sedangkan di Pulau Jawa tdak terdapat
kabupaten yang berbatasan dengan wilayah asing. 101 puskesmas prioritas nasional
terbesar berada dalam wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua dengan jumlah
gambaran umum dan perilaku penduduk
23
TABEL 2.5
JUMLAH KABUPATEN PERBATASAN DAN PUSKESMAS PRIORITAS DTPK
DI INDONESIA TAHUN 2011
Sumber: Direktorat BUK Dasar, Kemenkes RI, 2011
puskesmas prioritas sebesar 55 puskesmas. Puskesmas prioritas di Pulau Kalimantan
sebesar 29 puskesmas dan puskesmas prioritas tdak terdapat di Pulau Jawa. Dengan
ditetapkannya skala prioritas ini diharapkan dapat mengoptmalkan kinerja Kementerian
Kesehatan untuk menciptakan masyarakat yang sehat, mandiri dan berkeadilan.
Rincian jumlah kecamatan, jumlah penduduk, dan jumlah puskesmas di 45 kabupaten
perbatasan dapat dilihat pada Lampiran 2.30.
C. KEADAAN PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus
berkembang. Hal ini sejalan dengan karakter manusia yang memiliki potensi kreatf
dan inovatf dalam segala bidang kehidupan. Kondisi pendidikan merupakan salah satu
indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tngkat pembangunan manusia suatu
negara. Melalui pengetahuan, pendidik an berkontribusi terhadap perubahan perilaku
kesehatan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tngkat pendidikan merupakan salah
satu faktor yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku
sehat.
Pendidikan memiliki peran pentng dalam proses pembangunan. Laju perubahan sebagai
akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus disejajarkan dengan
penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan kemudian menjadi
pelopor utama dalam rangka penyiapan sumber daya manusia. Pendidikan merupakan
salah satu aspek pembangunan yang merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan
tujuan pembangunan nasional. Dalam upaya peningkatan peran pendidikan dalam
Profil Kesehatan indonesia 2012
24
pembangunan, maka kualitas pendidikan harus ditngkatkan. Beberapa program
pemerintah telah diupayakan sebagai sebuah alternatf dalam rangka menyiapkan dan
meningkatkan mutu pendidikan, sebagai contoh adalah dari program wajib belajar 9
tahun.
GAMBAR 2.11
RATA-RATA LAMA SEKOLAH PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS
DI INDONESIA TAHUN 2007 2011
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
Pada Gambar 2.11 dapat diketahui bahwa pada tahun 2011 rata-rata lama sekolah
penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia adalah 7,9 tahun. Nilai ini sama jika
dibandingkan dengan tahun 2010, tetapi semakin meningkat jika dibandingkan dengan
rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2007 yang sebesar
7,4 tahun dan pada tahun 2008 sebesar 7,5 tahun. Apabila dibandingkan dengan
program wajib belajar 9 tahun, maka pada tahun 2011 program ini belum berjalan
optmal. Rincian mengenai indikator pendidikan dapat dilihat pada Lampiran 2.21.1 dan
Lampiran 2.21.2.
Pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan yang mencakup seluruh
aspek kehidupan masyarakat, termasuk aspek sosial, ekonomi, politk dan kultural,
dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan warga bangsa serta keseluruhan.
Dalam proses pembangunan tersebut peranan pendidikan sangat strategis. Pendidikan
merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan
manusia. Kualitas sumber daya manusia tercermin dari kualitas pendidikan. Dengan
gambaran umum dan perilaku penduduk
25
GAMBAR 2.12
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 5 TAHUN KE ATAS MENURUT
GOLONGAN UMUR DAN PARTISIPASI SEKOLAH TAHUN 2011
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
demikian program pendidikan mempunyai andil besar terhadap kemajuan sosial
ekonomi. Partsipasi penduduk bersekolah disajikan dalam persentase penduduk
berumur 5 tahun ke atas yang tdak/belum pernah sekolah, masih sekolah dan tdak
sekolah lagi.
Secara total, persentase penduduk berumur 5 tahun ke atas di Indonesia yang tdak/
belum pernah sekolah sebesar 8,38%, masih sekolah 24,88% dan 66,74% sudah tdak
bersekolah lagi. Pada Gambar 2.12 dapat diketahui bahwa golongan umur 10-14 status
sekolahnya 95,24% masih bersekolah dan golongan umur 15-19 tahun status sekolahnya
57,48% masih bersekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk usia
muda (kelompok umur 5-9 dan 10-14 tahun) telah/sedang menempuh pendidikan dasar
(telah memenuhi wajib belajar 9 tahun). Semakin tua golongan umur maka semakin
kecil persentase penduduk tersebut untuk bersekolah lagi, karena banyak dari golongan
umur ini yang telah masuk dalam golongan bekerja atau mencari pekerjaan. Rincian
menurut golongan umur dan status sekolah dapat dilihat pada Lampiran 2.23.
Pada Gambar 2.13 persentase penduduk berumur 7-24 tahun ke atas yang masih sekolah
tertnggi di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 75,12%. Lengkapnya sarana dan prasarana
pendidikan telah membuat predikat bagi provinsi ini sebagai kota pendidikan. Pada
Profil Kesehatan indonesia 2012
26
provinsi ini juga sebagai kota tujuan penduduk dari luar provinsi untuk menimba ilmu.
Persentase penduduk berumur 7-24 tahun ke atas yang masih sekolah terendah ada di
Provinsi Papua sebesar 54,22%. Kondisi ini dimungkinkan karena kurangnya sarana dan
prasaran pendidikan. Provinsi DKI Jakarta 58,74% penduduk umur 7-24 tahun ke atas
masih sekolah, nilai ini terendah kedua setelah Provinsi Papua. Rincian menurut provinsi
dan status sekolah dapat dilihat pada Lampiran 2.24.
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
GAMBAR 2.13
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 7-24 KE ATAS YANG MASIH SEKOLAH TAHUN 2011
Ijazah/STTB tertnggi yang dimiliki seseorang merupakan indikator pokok kualitas
pendidikan formal. Semakin tnggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk
suatu negara semakin tnggi taraf intelektualitas negara tersebut. Pada Gambar 2.14,
ijazah/STTB tertnggi yang dimiliki tertnggi pada tngkat pendidikan SMU/SMA/SMK
dengan persentase 22,71% dan SMP/MTs sebesar 20,74%. Penduduk dengan tngkat
pendidikan Diploma I/II sebesar 0,77% dan persentase penduduk dengan ijazah/
STTB tertnggi Akademi/Diploma III/IV/S1/S2/S3 sebesar 5,96%. Penduduk yang tdak
memiliki ijazah/STTB masih cukup tnggi, yaitu 21,10%. Rincian persentase penduduk
usia 15 tahun ke atas menurut jenjang pendidikan STTB yang dimiliki tahun 2011 dapat
dilihat pada Lampiran 2.22
gambaran umum dan perilaku penduduk
27
GAMBAR 2.14
PERSENTASE PENDUDUK USIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT STTB
TERTINGGI YANG DIMILIKI TAHUN 2011
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
Kemampuan membaca dan menulis merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan
oleh penduduk untuk menuju kehidupan yang lebih sejahtera. Kemampuan membaca
dan menulis tercermin dari angka melek huruf dan angka buta huruf. Angka buta huruf
berkorelasi dengan angka kemiskinan. Sebab, penduduk yang tdak dapat membaca
secara tdak langsung mendekatkan mereka pada kebodohan, sedangkan kebodohan
itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan.
Secara nasional persentase penduduk yang buta huruf sebesar 7,19%. Gambar 2.15
menunjukan persentase penduduk yang buta huruf terkecil terdapat di Provinsi Sulawesi
Utara sebesar 1,15% dan tertnggi terdapat di Provinsi Papua sebesar 35,92%. Terdapat
21 provinsi yang angka buta hurufnya lebih rendah jika dibandingkan dengan angka
nasional. Enam provinsi di Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang buta huruf
relatf tnggi, di atas 10%, yaitu Provinsi Papua, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Barat,
Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Bali. Papua mempunyai angka
buta huruf terbesar, hal ini menunjukkan bahwa sarana dan prasarana yang menunjang
pendidikan di provinsi ini masih sangat kurang. Rincian per provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 2.28.
Profil Kesehatan indonesia 2012
28
Indikator pendidikan lainnya adalah Angka Melek Huruf (AMH) yaitu persentase
penduduk berumur 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis serta mengert
sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Penggunaan AMH adalah untuk:
1. Mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, terutama di
daerah perdesaan yang masih tnggi jumlah penduduk yang tdak pernah bersekolah
atau tdak tamat SD,
2. Menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi
dari berbagai media,
3. Menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.
Sehingga angka melek huruf berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi
perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah. Semakin
besar angka melek huruf diharapkan dapat mengurangi tngkat kemiskinan sehingga
tngkat kesejahteraan dapat semakin meningkat.
Pada Gambar 2.16, persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang melek huruf
tertnggi di Sulawesi Utara dengan persentase penduduk melek huruf 98,85% dan DKI
Jakarta dengan persentase penduduk melek huruf 98,83%. Persentase penduduk melek
huruf terendah di Provinsi Papua dengan persentase 64,08% dan Provinsi Nusa Tenggara
Barat dengan persentase 83,24. Rincian per provinsi dan per jenis kelamin dapat dilihat
pada Lampiran 2.28.
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
GAMBAR 2.15
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS YANG BUTA HURUF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2011
gambaran umum dan perilaku penduduk
29
GAMBAR 2.16
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MELEK HURUF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2011
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
Secara nasional, persentase penduduk yang melek huruf sebesar 92,91% pada tahun
2010 dan sedikit menurun menjadi 92,81% pada tahun 2011. Angka melek huruf pada
tahun 2011 di perkotaan sebesar 95,68% dan angka melek huruf di perdesaan sebesar
89,89%. Angka ini apabila dibandingkinkan dengan kondisi tahun 2010 terjadi penurunan
di tngkat perkotaan dan terjadi peningkatan di perkotaan. Apabila dibandingkan antar
daerah perkotaan dan perdesaan, persentase penduduk yang melek huruf relatf
lebih tnggi di daerah perkotaan. Hal ini dimungkinkan dengan relatf majunya fasilitas
pendidikan dan relatf baiknya akses sarana menuju tempat pendidikan.
Angka Partsipasi Sekolah (APS) didefnisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid
kelompok usia sekolah tertentu yang bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan
dengan penduduk kelompok usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase.
Indikator ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang masih
bersekolah di semua jenjang pendidikan. APS dari BPS secara umum dikategorikan
menjadi 3 kelompok umur, yaitu 7-12 tahun mewakili umur setngkat SD, 13-15 tahun
mewakili umur setngkat SMP/MTs, dan 16-18 tahun mewakili umur setngkat SMA/
SMK. Makin tnggi APS berart makin banyak anak usia sekolah yang bersekolah pada
suatu daerah. Berdasarkan angka ini dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tnggi
jenjang pendidikan, semakin rendah APS.
Profil Kesehatan indonesia 2012
30
Gambar 2.17 merupakan APS nasional menurut usia sekolah dari tahun 2007-2011.
Berdasarkan 4 kelompok umur dimana kelompok umur 712 tahun mewakili umur
setngkat sekolah dasar, 13-15 tahun mewakili umur setngkat SMP, 16-18 tahun
mewakili umur setngkat SMA, dan 1924 tahun mewakili umur setngkat perguruan
tnggi. Pada gambar dapat diketahui bahwa semakin tnggi kelompok umur maka tngkat
partsipasi sekolahnya semakin kecil. Hal ini dimungkinkan pada kelompok umur 16-
18 tahun dan 19-24 tahun telah masuk dalam angkatan kerja dan bekerja. APS pada
kelompok umur 712 tahun dan 1315 tahun semakin meningkat dari tahun ke tahun
menunjukkan bahwa program pendidikan 9 (sembilan) tahun semakin baik dijalankan.
Rincian per provinsi dan per tahun dapat dilihat pada Lampiran 2.25.
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
GAMBAR 2.17
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH MENURUT USIA SEKOLAH
DI INDONESIA TAHUN 2007 2011
Untuk memahami dan melakukan analisis tentang kondisi pendidikan di Indonesia,
dapat menggunakan dua indikator tentang partsipasi sekolah. Terdapat dua ukuran
partsipasi sekolah yang utama, yaitu Angka Partsipasi Kasar (APK) dan Angka Partsipasi
Murni (APM). Kedua ukuran tersebut mengukur partsipasi penduduk usia sekolah oleh
sektor pendidikan. Perbedaan di antara keduanya adalah penggunaan kelompok usia
"standar" di setap jenjang pendidikan. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia
yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setap jenjang pendidikan.
APK adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tngkat
pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan
gambaran umum dan perilaku penduduk
31
GAMBAR 2.18
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR PENDIDIKAN
DI INDONESIA TAHUN 2007 2011
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
jenjang pendidikan tertentu. APK menunjukkan tngkat partsipasi penduduk secara
umum di suatu jenjang pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana
untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang
pendidikan. Hasil perhitungan APK ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak
yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan tertentu pada wilayah tertentu. Semakin
tnggi APK berart semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu jenjang
pendidikan pada suatu wilayah.
APK membagi jumlah siswa dengan tngkat pendidikan tanpa menggunakan batasan
kelompok umur. Kondisi ini memungkinkan nilai APK yang melebihi 100%, hal ini sering
terjadi pada jenjang pendidikan SD/MI. Nilai di atas 100% ini terjadi karena masih banyak
penduduk dengan kelompok usia di bawah 7 tahun yang sudah bersekolah di tngkat
sekolah dasar, atau penduduk yang berusia lebih dari 12 tahun yang masih bersekolah
pada tngkat SD/MI.
Pada Gambar 2.18 diketahui nilai APK untuk SD/MI melebihi 100%, sedangkan untuk
pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA lebih rendah dari nilai APK SD. Pada tahun
2011 nilai APK untuk tngkat SD sebesar 102,58%, SMP 89,57% dan SMA 64,66%. Kondisi
pada tahun 2011 ini lebih tnggi jika dibandingkan dengan tahun 2010 pada jenjang
pendidikan SMP/MTS dan SMA/SMK/MA tetapi menurun pada jenjang pendidikan SD/
MI. Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.26.
Profil Kesehatan indonesia 2012
32
Nilai APK ini kurang bagus untuk mencerminkan kondisi pendidikan, karena memasukkan
semua penduduk dalam jenjang pendidikan tanpa dibatasi dengan kelompok umur
yang sesuai dengan tngkat pendidikannya. Sehingga diperlukan indikator yang lebih
mencerminkan partsipasi sekolah, yaitu APM.
APM didefnisikan sebagai perbandingan antara jumlah siswa kelompok usia sekolah pada
jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk usia sekolah yang sesuai dengan usianya
dan dinyatakan dalam persentase. Indikator APM ini digunakan untuk mengetahui
banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan yang sesuai
dengan usianya. Semakin tnggi APM berart banyak anak usia sekolah yang bersekolah
di suatu daerah. Jika dibandingkan APK, APM merupakan indikator pendidikan yang
lebih baik karena APM melihat partsipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang
pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut.
APM membagi jumlah siswa dengan jenjang pendidikan dengan menggunakan batasan
kelompok umur. Kondisi ini tdak memungkinkan nilai APM yang melebihi 100%. Nilai
APM lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai APK. Pada Gambar 2.19, tahun 2011
nilai APM untuk tngkat SD/MI sebesar 91,03%, SMP/MTs 68,12% dan SMA/SMK
47,97%. Nilai APM ini jika dibandingkan dengan tahun 2010 mengalami kenaikan pada
jenjang pendidikan SMP/MTs dan pada jenjang pendidikan SMA/SMK tetapi mengalami
penurunan pada jenjang pendidikan SD/MI. Kondisi APM ini lebih mencerminkan kondisi
partsipasi sekolah. Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.27.
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
GAMBAR 2.19
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI PENDIDIKAN
DI INDONESIA TAHUN 2007 2011
gambaran umum dan perilaku penduduk
33
D. KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Lingkungan merupakan salah satu variabel yang perlu mendapat perhatan khusus dalam
menilai kondisi kesehatan masyarakat. Bersama dengan faktor perilaku, pelayanan
kesehatan dan genetk, lingkungan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
Menurut Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) kesehatan lingkungan
adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang
dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas
hidup manusia yang sehat dan bahagia
Masalah kesehatan lingkungan merupakan masalah kompleks yang harus diatasi
bersama. Untuk menggambarkan keadaan lingkungan, akan disajikan indikator-
indikator sepert: akses air minum berkualitas, akses terhadap sanitasi layak, rumah
tangga kumuh dan rumah sehat.
1. Sarana dan Akses Air Minum Berkualitas
Salah satu tujuan pembangunan prasarana penyediaan air baku untuk memastkan
komitmen pemerintah terhadap Millenium Development Goals (MDGs) yaitu memastkan
kelestarian lingkungan hidup dengan menurunkan target hingga setengahnya proporsi
rumah tangga tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar
hingga 2015.
Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan
yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Penyelenggara air
minum dapat berasal dari badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, koperasi,
badan usaha swasta, usaha perorangan, kelompok masyarakat, dan/atau individual
yang melakukan penyelenggaraan penyediaan air minum. Syarat-syarat kualitas air
minum sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010,
diantaranya adalah sebagai berikut :
Parameter mikrobiologi E Coli dan total Bakteri Kolifrom, kadar maksimum yang di
perbolehkan 0 jumlah per 100 ml sampel,
Syarat Fisik : Tidak berbau, tdak berasa, dan tdak berwarna,
Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan
(maks 500 mg/l), pH 6,5-8,5.
Profil Kesehatan indonesia 2012
34
Dalam rangka pencapaian target Renstra tentang persentase kualitas air minum
berkualitas dengan salah satu target prioritas adalah persentase kualitas air minum
yang memenuhi syarat kesehatan, dalam hal ini adalah air minum yang didistribusikan
oleh PDAM dengan target tahun 2012 adalah 95%. Hal tersebut di atas merupakan
salah satu upaya pencegahan terjadinya kemungkinan munculnya penyakit berbasis air
(waterborne disease) karena air merupakan salah satu media lingkungan yang berperan
dalam penyebaran penyakit melalui media pertumbuhan mikrobiologi serta adanya
kemungkinan terlarutnya unsur kimia yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
Sebagai salah satu pengawasan kualitas air minum PDAM, dilakukan uji petk
terhadap kualitas air minum PDAM secara eksternal. Penghitungan dilakukan dengan
membandingkan jumlah sampel air minum yang memenuhi syarat dibanding dengan
jumlah seluruh sampel air minum yang diambil pada jaringan distribusi PDAM.
GAMBAR 2.20
PERSENTASE HASIL PEMERIKSAAN KUALITAS AIR MINUM PDAM YANG MEMENUHI
SYARAT MIKROBIOLOGI MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Direktorat Penyehatan Lingkungan, 2012
Pada Gambar 2.20 persentase hasil pemeriksaan kualitas air minum PDAM yang
memenuhi syarat mikrobiologi di Indonesia sebesar 95,39%, lebih tnggi dibandingkan
target Renstra tahun 2012. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 20 provinsi di
Indonesia mempunyai kualitas air minum PDAM yang baik, karena dari jumlah sampel
gambaran umum dan perilaku penduduk
35
yang diuji nilainya 100% memenuhi syarat mikrobiologi. Persentase terendah terjadi
di Provinsi Bali, hasil pengujian sampel hanya sebesar 34,78% yang memenuhi syarat
mikrobiologi, sedangkan di Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 62,47%. Rincian lengkap
terdapat di Lampiran 2.37.
Amanat Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang selanjutnya
dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan
Sistem Penyediaan Air Minum pada Pasal 6 disebutkan bahwa :
1. Air minum yang dihasilkan dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang
digunakan oleh masyarakat pengguna/pelanggan harus memenuhi syarat kualitas
berdasarkan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kesehatan,
2. Air minum yang tdak memenuhi syarat kualitas sebagaimana dimaksud pada Ayat
1 dilarang didistribusikan kepada masyarakat.
Upaya pengawasan kualitas air sebagaimana yang diatur di dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 736/MENKES/PER/VI/2010 tentang Tata Laksana Pengawasan Kualitas
Air Minum, dilaksanakan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sebagai pengawasan
eksternal dan penyelenggara air minum sebagai pengawasan internal. Selain itu
diatur pula mengenai adanya upaya penyampaian informasi tentang data kualitas air
minum oleh penyelenggara air minum ke dinas kesehatan kabupaten/kota serta upaya
penyampaian kondisi kualitas air oleh pemerintah daerah di wilayahnya.
Seiring dengan kemajuan teknologi serta semakin tnggi tngkat kesadaran masyarakat
terhadap kesehatan terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih untuk minum,
sementara itu persediaan air tanah yang selama ini menjadi sumber utama air minum
telah mengalami pencemaran, rumah tangga kini mulai beralih kepada produk air minum
dalam kemasan/isi ulang. Produk ini merupakan salah satu solusi untuk konsumsi air
minum karena produk dapat langsung diminum karena telah melalui proses produksi.
Sementara menurut defnisi MDGs air minum kemasan dan isi ulang tdak termasuk
dalam sumber air minum layak. Hal ini dikarenakan air kemasan tdak dapat dipastkan
keberlanjutannya dan sumbernya berasal dari wilayah lain.
Pada Gambar 2.21, persentase rumah tangga yang dapat mengakses air minum
layak dengan air kemasan/isi ulang di Indonesia menunjukkan tren yang berlawanan.
Persentase penduduk yang mengkonsumsi air minum layak semakin menurun jika
dibandingkan dengan penduduk yang mengkonsumsi air kemasan/isi ulang. Penduduk
yang mengkonsumsi air dalam kemasan semakin meningkat.
Profil Kesehatan indonesia 2012
36
GAMBAR 2.21
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT AKSES AIR MINUM LAYAK
DAN AIR KEMASAN/ISI ULANG DI INDONESIA TAHUN 1995 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012 (Susenas 2012, Triwulan I)
Tahun 2011 persentase penggunaan air minum layak sebesar 42,76% dan persentase
penggunaan air minum kemasan/isi ulang sebesar 22,13%, sedangkan pada tahun 2012
triwulan I, persentase penggunaan air minum layak sebesar 41,66% dan persentase
penggunaan air minum kemasan/isi ulang sebesar 23,33%. Secara kuanttas pengguna
air minum layak masih tnggi tetapi persentasenya semakin menurun, sedangkan
penggunaan air minum kemasan/isi ulang persentasenya semakin meningkat. Rincian
per tahun dapat dilihat pada Lampiran 2.33.
Sumber air minum mempengaruhi kualitas air minum. Untuk sumber air minum yang
berasal dari sumber air minum layak, konsep yang digunakan meliput air leding (kran,
kran umum, hidran umum), terminal air, Penampungan Air Hujan (PAH), sumur bor/
pompa, sumur terlindung, dan mata air terlindung. Khusus untuk sumur bor/pompa,
sumur terlindung, dan mata air terlindung harus memenuhi syarat jarak ke tempat
penampungan kotoran/tnja minimal 10 meter.
Pada Gambar 2.22, persentase rumah tangga menurut sumber air minum layak di
Indonesia sebesar 41,66%. Provinsi dengan persentase tertnggi untuk sumber air
minum layak terdapat di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 61,38%, DI Yogyakarta sebesar
59,39 dan Jawa Tengah sebesar 56,31%%. Persentase terendah terdapat di Provinsi
Banten sebesar 20,40%, Kepulauan Riau sebesar 22,80% dan DKI Jakarta sebesar
22,87%. Terdapat 16 provinsi yang persentasenya berada diatas persentase nasional
gambaran umum dan perilaku penduduk
37
GAMBAR 2.22
PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN AKSES KE SUMBER AIR MINUM LAYAK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012 (Susenas 2012, Triwulan I)
dan 17 provinsi yang persentase rumah tangga menurut sumber air minum layak kurang
dari persentase nasional.
Upaya untuk dapat meningkatkan akses air minum layak secara nasional terus menerus
dilakukan. Masih banyak kendala dalam pencapaiannya, antara lain :
1. Rencana Aksi Daerah (RAD) pencapaian target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan
Renstra tdak didukung dengan skema pembiayaan yang jelas untuk implementasi,
2. Belum optmalnya peran pemerintah provinsi dalam menggalang kerjasama antar
pemerintah kabupaten/kota dalam mengembangkan SPAM untuk mencapai
sasaran RKP dan Renstra,
3. Belum optmalnya keterpaduan antara program dengan pembiayaan pengembangan
SPAM perpipaan dan bukan perpipaan terlindungi untuk percepatan pencapaian
sasaran air minum layak,
4. Penanganan pembangunan SPAM di pulau-pulau kecil, daerah terpencil termasuk
daerah pesisir belum dilaksanakan secara terpadu, berbasis teknologi tepat guna
dan berkelanjutan,
5. Perilaku masyarakat dan pelaku usaha masih kurang memperhatkan efsiensi dan
efektvitas pemanfaatan air minum dan air hasil daur ulang serta sanitasi.
Profil Kesehatan indonesia 2012
38
Pada Gambar 2.23, persentase rumah tangga menurut fasilitas air minum sendiri di
Indonesia sebesar 58,69%, bersama 25,92%, umum 11,74% dan tdak ada fasilitas air
minum sebesar 3,65%. Persentase tertnggi rumah tangga dengan fasilitas air minum
sendiri terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 79,64%, persentase tertnggi rumah
tangga dengan fasilitas air minum bersama terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat
sebesar 49,57%. Provinsi dengan persentase rumah tangga dengan fasilitas air minum
milik umum terbesar terdapat di Provinsi Maluku sebesar 43,31% dan yang provinsi
dengan rumah tangga yang tdak ada fasilitas air minum terbesar terdapat di Provinsi
Kalimantan Barat sebesar 39,95%. Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran
2.36.
GAMBAR 2.23
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT KEPEMILIKAN FASILITAS AIR MINUM
INDONESIA TAHUN 2011
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
2. Sarana dan Akses Terhadap Sanitasi Dasar
Akses terhadap air bersih dan sanitasi merupakan salah satu fondasi int dari masyarakat
yang sehat. Air bersih dan sanitasi yang baik merupakan elemen pentng yang
menunjang kesehatan manusia. Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan
yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Buruknya kondisi sanitasi akan
berdampak negatf di banyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas lingkungan
hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum bagi masyarakat, meningkatnya
jumlah kejadian diare dan munculnya penyakit.
gambaran umum dan perilaku penduduk
39
Berbagai alasan digunakan oleh masyarakat untuk buang air besar sembarangan,
diantaranya adalah anggapan membangun jamban itu mahal, lebih enak buang air besar
di sungai, tnja dapat digunakan sebagai pakan ikan, dan lain-lain. Perilaku ini harus
diubah karena dapat meningkatkan risiko masyarakat untuk terkena penyakit menular.
Pada Gambar 2.24, persentase rumah tangga menurut fasilitas tempat buang air besar
sendiri di Indonesia sebesar 65,20%, bersama 13,37%, umum 3,65% dan tdak ada
fasilitas tempat buang air besar sebesar 17,78%. Persentase tertnggi rumah tangga
dengan fasilitas tempat buang air besar sendiri terdapat di Provinsi Riau sedangkan
persentase tertnggi rumah tangga dengan fasilitas tempat buang air besar bersama
terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah. Provinsi dengan persentase rumah tangga yang
tdak ada fasilitas tempat buang air besar terdapat di Provinsi Sulawesi Barat. Rincian
per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.40.
GAMBAR 2.24
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT KEPEMILIKAN FASILITAS
TEMPAT BUANG AIR BESAR INDONESIA TAHUN 2011
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012
Sesuai dengan konsep dan defnisi MDGs, disebut akses sanitasi layak apabila penggunaan
fasilitas tempat buang air besar milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan
jenis leher angsa dan tempat pembuangan akhir tnjanya menggunakan tangki septk
atau Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL). Metode pembuangan tnja yang baik yaitu
dengan jamban dengan syarat sebagai berikut :
1. Tanah permukaan tdak boleh terjadi kontaminasi
2. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air
atau sumur
Profil Kesehatan indonesia 2012
40
3. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
4. Tinja tdak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
5. Tidak boleh terjadi penanganan tnja segar, atau bila memang benar-benar
diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin
6. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tdak sedap dipandang
7. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tdak mahal.
Pada Gambar 2.25 persentase rumah tangga menurut akses terhadap sanitasi layak di
Indonesia sebesar 56,24%, lebih rendah dari target Renstra Tahun 2012 sebesar 69%.
Provinsi dengan persentase tertnggi untuk menurut akses terhadap sanitasi layak
terdapat di Provinsi Bali sebesar 87,86% dan Provinsi DI Yogyakarta sebesar 80,37%.
Terdapat 12 provinsi yang persentase rumah tangga menurut akses terhadap sanitasi
layak berada diatas persentase nasional. Persentase terendah terdapat di Provinsi
Papua sebesar 25,92% dan Nusa Tenggara Timur sebesar 27,33%. Terdapat 21 provinsi
yang persentase rumah tangga menurut akses terhadap sanitasi layak dari persentase
nasional.
GAMBAR 2.25
PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012 (Susenas 2012, Triwulan I)
Upaya meningkatkan akses air bersih dan sanitasi dasar yang layak juga dilakukan
melalui kerjasama dengan donor agency internasional sepert WHO dan World Bank
yang diimplementasikan melalui kegiatan Pamsimas, ICWRMIP, MCC (Millenium
Challence Coorporaton) untuk mengatasi stuntng pada anak-anak dengan intervensi
gambaran umum dan perilaku penduduk
41
GAMBAR 2.26
PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN AKSES SANITASI LAYAK
DI INDONESIA TAHUN 1995 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012 (Susenas 2012, Triwulan I)
nutrisi dan kesehatan lingkungan. Selain itu beberapa lembaga internasional melakukan
kegiatan berorientasi pada pembinaan, penyediaan sarana air minum dan sanitasi dasar
bagi masyarakat khusunya bagi yang berpenghasilan rendah di perdesaan.
Pada Gambar 2.26, persentase rumah tangga dengan akses sanitasi layak lebih tnggi
di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. Persentase ini sejak tahun 2007
semakin meningkat setap tahunnya, baik pada daerah perkotaan maupun perdesaan.
Persentase rumah tangga dengan akses sanitasi layak di perkotaan sebesar 71,66% dan
di perdesaan 41,25%. Hal ini dimungkinkan karena pembangunan sarana dan prasarna
sanitasi di perkotaan lebih baik. Secara total perkotaan dan perdesaan, persentase rumah
tangga dengan akses sanitasi layak sebesar 56,24%. Nilai ini semakin meningkat jika
dibandingkan dengan nilai tahun sebelumnya. Pada tahun 2011 dan 2010, persentase
rumah tangga dengan akses sanitasi layak di Indonesia sebesar 55,60% dan 55,54%.
Secara umum kendala yang dihadapi dalam upaya pencapain target, yaitu :
1. Proses peningkatan perubahan perilaku tdak dapat dilakukan secara instan,
cenderung membutuhkan waktu yang relatve lama agar masyarakat dapat
mengadopsi perilaku yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun
demikian, kondisi sosial budaya yang sangat bervariasi dapat mempengaruhi cepat
lambatnya perubahan perilaku,
Profil Kesehatan indonesia 2012
42
2. Belum meratanya ketersediaan sarana air minum dan sanitasi yang mudah, murah
dan terjangkau oleh masyarakat,
3. Kondisi geografs yang sangat bervariasi mengakibatkan sulitnya menentukan
pilihan teknologi sanitasi yang dapat diterapkan di daerah tersebut.

3. Rumah Tangga Kumuh
Rumah tangga kumuh merupakan indikator komposit yang disusun dari banyaknya
rumah tangga dengan kategori air minum tdak layak (bobot 15%), sanitasi tdak
layak (bobot 15%), sufcient living area (bobot 35%) dan durability of housing (bobot
35%). Suatu rumah tangga dinyatakan sebagai rumah tangga kumuh apabila nilai hasil
penghitungan indikator komposit rumah tangga lebih dari 35%.
Sufcient living area adalah luas lantai hunian per kapita > 7,2m2 (Peraturan Menteri
Perumahan Rakyat). Durability of housing dihitung dari rumah tangga yang menghuni
bangunan dengan kriteria: (i) jenis atap terluas terbuat ijuk/rumbia dan lainnya, (ii) jenis
dinding terluas dari bambu dan lainnya, (iii) jenis lantai terluas tanah. Apabila minimal
2 kriteria terpenuhi, maka rumah tangga tersebut dapat dikategorikan sebagai rumah
tangga kumuh. Persentase rumah tangga kumuh di Indonesia sebesar 14,60%.
Pada Gambar 2.27, persentase tertnggi terdapat di Provinsi Papua dengan persentase
57,80% dan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 47,89%. Persentase terendah untuk
GAMBAR 2.27
PERSENTASE RUMAH TANGGA KUMUH DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012 (Susenas 2012, Triwulan I)
gambaran umum dan perilaku penduduk
43
rumah tangga kumuh terdapat di Provinsi DI Yogyakarta dengan persentase sebesar
4,12% dan Provinsi Jawa Tengah dengan persentase sebesar 6,90%.
Apabila dibandingkan dengan rata-rata nasional, 15 provinsi di Indonesia mempunyai
persentase rumah tangga kumuh kurang dari persentase nasional, sedangkan 18 provinsi
lainnya masih berada diatas angka nasional.
4. Rumah Sehat
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan pasal 162 dan 163
mengamanatkan bahwa upaya kesehatan lingkungan ditujukan untu mewujudkan
kualitas lingkungan yang sehat, baik fsik, kimia, biologi maupun sosial yang
memungkinkan setap orang mencapai derajat kesehatan yang setnggi-tngginya.
Pada pasal 163 ayat 2 mengamanatkan bahwa lingkungan sehat antara lain mencakup
lingkungan permukiman.
Untuk menjalankan amanat dari pasal tersebut, maka untuk penyelenggaraan
penyehatan permukiman difokuskan pada peningkatan rumah sehat. Rumah sehat
adalah rumah yang memenuhi kriteria minimal : akses air minum, akses jamban
sehat, lantai, ventlasi, dan pencahayaan (Kepmenkes Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999
tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan dan Permenkes Nomor 1077/PER/V/
MENKES/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah).
GAMBAR 2.28
PERSENTASE PENCAPAIAN RUMAH SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Direktorat Penyehatan Lingkungan, Kemenkes RI, 2012
Profil Kesehatan indonesia 2012
44
Pencapaian rumah sehat di Indonesia sebesar 68,69%, lebih tnggi jika dibandingkan
dengan target nasional yang ditetapkan sebesar 60%. Pada Gambar 2.29, pencapaian
tertnggi rumah sehat terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 98,99%, Maluku
sebesar 96,54% dan Bali sebesar 85,11%. Capaian terendah rumah sehat terdapat di
Sulawesi Tenggara sebesar 18,35%, Kalimantan Tengah sebesar 35,1% dan Kalimantan
Selatan sebesar 43%.
Salah satu strategi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan rumah sehat adalah
memperkuat jejaring penyehatan permukiman hingga tngkat daerah (provinsi dan
kabupaten/kota) bekerja sama dengan tm penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan
Keluarga (PKK). Kader PKK tersebut dapat diberdayakan sebagai kader kesehatan
lingkungan yang menilai rumah dengan instrument kartu rumah.
E. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT
Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap
kesehatan, akan disajikan beberapa indikator yang berkaitan dengan perilaku
masyarakat, diantaranya Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat, Kabupaten/Kota Sehat, dan Kawasan Tanpa Rokok.
1. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
Peningkatan akses terhadap air minum yang berkualitas perlu diikut dengan perilaku
yang higienis untuk mencapai tujuan kesehatan, melalui pelaksanaan STBM. Dalam
kerangka pembangunan kesehatan, sektor air minum, sanitasi dan higienis merupakan
satu kesatuan dalam prioritas pembangunan bidang kesehatan dengan ttk berat pada
upaya promotf-preventf dalam perbaikan lingkungan untuk mencapai salah satu
sasaran MDGs. STBM menjadi ujung tombak keberhasilan pembangunan air minum dan
penyehatan lingkungan secara keseluruhan. Sanitasi total berbasis masyarakat sebagai
pilihan pendekatan, strategi dan program untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi
melalui pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan metode pemicuan dalam
rangka mencapai target MDGs. Dalam pelaksanaan STBM mencakup 5 (lima) pilar yaitu:
1. Stop buang air besar sembarangan,
2. Cuci tangan pakai sabun,
3. Pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga,
4. Pengelolaan sampah dengan benar, dan
gambaran umum dan perilaku penduduk
45
5. Pengelolaan limbah cair rumah tangga dengan aman.
Pemerintah memberikan prioritas dan komitmen yang tnggi terhadap kegiatan STBM,
hal ini tercantum pada Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 yang mempertegas
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 dan Surat Edaran
Menteri Kesehatan Nomor 132 Tahun 2012 terkait dengan STBM. Tujuan dari STBM
adalah untuk mencapai kondisi sanitasi total dengan mengubah perilaku higienis dan
sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan 3 komponen strategi yaitu:
1. Menciptakan lingkungan yang mendukung terlaksananya kegiatan STBM melalui:
a. Advokasi dan sosialisasi kepada pemerintah dan pemangku kepentngan secara
berjenjang;
b. Peningkatan kapasitas insttusi pelaksana di daerah; dan
c. Meningkatkan kemitraan mult pihak.
2. Peningkatan kebutuhan akan sarana sanitasi melalui peningkatan kesadaran
mayarakat tentang konsekuensi dari kebiasaan buruk sanitasi (buang air besar) dan
dilanjutkan pemicuan perubahan perilaku komunitas:
a. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilih teknologi, material
dan biaya sarana sanitasi yang sehat; dan
b. Mengembangkan kepemimpinan di masyarakat (natural leader) untuk
memfasilitasi pemicuan perubahan perilaku masyarakat dan mengembangkan
sistem penghargaan kepada masyarakat untuk meningkatkan dan menjaga
keberlanjutan STBM melalui deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan
(SBS).
3. Peningkatan penyediaan melalui peningkatan kapasitas produksi swasta lokal
dalam penyediaan sarana sanitasi, yaitu melalui pengembangan kemitraan dengan
kelompok masyarakat, koperasi, pengusaha lokal dalam penyediaan sarana sanitasi.
Suatu desa/kelurahan dikatakan telah melaksanakan STBM didasarkan pada kondisi:
1. Minimal telah ada intervensi melalui pemicuan di salah satu dusun dalam desa/
kelurahan tersebut,
2. Adanya masyarakat yang bertanggung jawab untuk melanjutkan aksi intervensi
STBM baik individu atau dalam bentuk komite dan sebagai respon dari aksi
intervensi STBM, dan
3. Masyarakat menyusun suatu rencana aksi kegiatan dalam rangka mencapai
komitmen-komitmen perubahan perilaku pilar-pilar STBM yang telah disepakat
bersama.
Profil Kesehatan indonesia 2012
46
Pelaksanaan STBM dilakukan secara bertahap dengan prioritas pada pilar ke-1 yaitu
Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) dan adopsi perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun
(CTPS), dan secara bertahap mengembangkan pilar-pilar lain dari STBM.
Dalam Renstra Kemenkes 2010 2014 ditargetkan pelaksanaan STBM di 20.000 desa
pada tahun 2014. Pada tahun 2012 ditargetkan sebanyak 11.000 desa/kelurahan telah
melaksanakan STBM dan sebanyak 11.165 desa/kelurahan telah melaksanakan STBM
atau 101,5% dibandingkan target.
Berdasarkan data dari Kementerian Dalam Negeri tahun 2011, jumlah desa/kelurahan
di Indonesia mencapai 77.468. Persentase desa/kelurahan yang telah melaksanakan
STBM sebesar 11.165 atau 14,41%.
Pada Gambar 2.29, persentase desa/kelurahan yang telah melaksanakan STBM terbesar
di Nusa Tenggara Barat sebesar 86,69%, Sumatera Barat sebesar 63,02% dan Nusa
Tenggara Timur sebesar 37,06%. Persentase desa/kelurahan terkecil yang melakukan
STBM terdapat di DKI Jakarta sebesar 0,75%, Papua sebesar 0,90% dan Aceh sebesar
1,35%. Berdasarkan jumlah, lokasi STBM terbanyak ada di Jawa Timur dengan jumlah
desa/kelurahan mencapai 2.838 desa/kelurahan, Jawa Tengah dengan jumlah lokasi
STBM 1.423 desa/kelurahan. Jumlah terkecil lokasi STBM terkecil terdapat di DKI Jakarta
sejumlah 2 desa/kelurahan dan Bali dengan jumlah 10 desa/kelurahan. Rincian menurut
provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.44.
GAMBAR 2.29
PERSENTASE DESA/KELURAHAN YANG MELAKSANAKAN SANITASI TOTAL
BERBASIS MASYARAKAT MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Direktorat Penyehatan Lingkungan, Kemenkes RI, 2012
gambaran umum dan perilaku penduduk
47
Kendala dan hambatan dalam pelaksanaan STBM adalah masih belum optmalnya
investasi bidang air minum dan sanitasi khususnya di daerah perkotaan sepert investasi
untuk PDAM serta disparitas capaian antar provinsi untuk pelayanan air minum dan
sanitasi di perdesaan dan akselerasi edukasi perilaku sehat melalui pelaksanaan STBM.
Untuk mengatasi kendala tersebut, maka dilakukan upaya peningkatan advokasi untuk
meningkatkan investasi bidang air minum dan sanitasi terutama untuk masyarakat
miskin, perluasan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat melalui
program Air Bersih untuk Rakyat serta meningkatkan edukasi perilaku sehat dengan
akselerasi STBM.
2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Keluarga mempunyai peran pentng dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,
karena dalam keluarga terjadi komunikasi dan interaksi antara anggota keluarga yang
menjadi awal pentng dari suatu proses pendidikan perilaku. Pelaksanaan perilaku hidup
bersih dan sehat sejak dini dalam keluarga dapat menciptakan keluarga yang sehat dan
aktf dalam setap upaya kesehatan di masyarakat. Dalam upaya meningkatkan kesehatan
anggota keluarga, Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes berupaya meningkatkan
persentase rumah tangga ber-PHBS.
PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar
tahu, mau dan mampu mempraktkkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan
aktf dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Untuk mencapai rumah tangga ber-
PHBS, terdapat 10 perilaku hidup bersih dan sehat yang dipantau, yaitu: (1) persalinan
ditolong oleh tenaga kesehatan, (2) memberi ASI ekslusif, (3) menimbang balita setap
bulan, (4) menggunakan air bersih, (5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun,
(6) menggunakan jamban sehat, (7) memberantas jentk di rumah sekali seminggu, (8)
makan buah dan sayur setap hari, (9) melakukan aktvitas fsik setap hari, dan (10)
tdak merokok di dalam rumah.
Dalam Renstra Kemenkes 2010 2014 ditargetkan persentase rumah tangga yang
telah PHBS sebesar 70% pada tahun 2014. Pada tahun 2012 ditargetkan sebanyak 60%
rumah tangga telah melaksanakan PHBS. Hasil kegiatan pada tahun 2012 menunjukkan
sebanyak 56,70% rumah tangga telah melaksanakan PHBS atau 94,5% dibandingkan
target. Secara nasional persentase pencapaian rumah tangga yang ber-PHBS mencapai
56,70%.
Profil Kesehatan indonesia 2012
48
Pada Gambar 2.30, persentase tertnggi rumah tangga ber-PHBS terdapat di Provinsi
Jawa Tengah dengan persentase sebesar 76,42%, Kalimantan Timur dengan persentase
sebesar 75,26% dan Kalimantan Selatan dengan persentase sebesar 72,62%. Terdapat 9
provinsi di Indonesia yang berada di atas target Renstra 2012 persentase rumah tangga
ber-PHBS di Indonesia, yaitu : Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, DKI
Jakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Bali, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan.
Sedangkan provinsi yang persentase rumah tangga ber-PHBS terendah terdapat di
Papua Barat dengan persentase 25,50%, Papua dengan persentase 25,80% dan Sulawesi
Barat dengan persentase 30,85%. Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.45.
GAMBAR 2.30
PERSENTASE PENCAPAIAN RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Pusat Promosi Kesehatan, Kemenkes RI, 2012
3. Kabupaten/Kota Sehat (KKS)
Kabupaten/Kota Sehat (KKS) merupakan salah satu indikator pelaksanaan kegiatan
penyehatan lingkungan dalam RPJMN dan Renstra 2010-2014. KKS adalah suatu kondisi
kabupaten/kota yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk, yang
dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang
terintegrasi yang disepakat masyarakat dan pemerintah kabupaten/kota.
Penyelenggaraan KKS merupakan pendekatan terpadu, menyeluruh, lintas sektor
berbasis masyarakat, masyarakat sebagai pelaku utama. Selain itu juga merupakan
operasionalisasi pembangunan berkelanjutan, berbasis pembangunan berwawasan
gambaran umum dan perilaku penduduk
49
lingkungan dan pembangunan berwawasan kesehatan sepert yang diatur dalam
Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun
2005 dan Nomor 1138/MENKES/PB/VIII/2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Kabupaten/Kota Sehat.
Pendekatan KKS tdak hanya mengutamakan pada terselenggaranya upaya peningkatan
lingkungan fsik tapi juga sosial dan budaya, serta perilaku dan pelayanan kesehatan
agar dilaksanakan secara adil, merata, dan terjangkau dengan memaksimalkan seluruh
potensi sumber daya di kabupaten/kota tersebut secara mandiri sehingga diharapkan
dapat mewujudkan kondisi yang kondusif bagi masyarakat untuk meningkatkan
produktvitas dan ekonomi wilayah dan masyarakat dalam meningkatkan kehidupan
masyarakat yang lebih baik.
Pencapaian KKS tahun 2011 sebesar 55% per provinsi, dan diharapkan pada tahun 2013
sudah mencapai 65% per provinsi. Sampai dengan tahun 2012 sebanyak 309 kabupaten/
kota (62,17%) tersebar di 33 provinsi dari keseluruhan kabupaten/kota yang ada (497
kab/kota) di Indonesia telah melaksanakan pendekatan KKS. Terdapat 3 provinsi yang
sudah melaksanakan program KKS sebesar 100%, yaitu Jawa Timur, DI Yogyakarta dan
Nusa Tenggara Barat. Penilaian KKS dilaksanakan 2 tahun sekali, jadi penilaian KKS
berikutnya dilaksanakan tahun 2013.
4. Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk
melakukan kegiatan produksi, penjualan, iklan, promosi dan atau penggunaan rokok.
Penetapan KTR merupakan upaya perlindungan untuk masyarakat terhadap risiko
ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok. KTR merupakan
tanggung jawab seluruh komponen bangsa baik individu, masyarakat, parlemen,
maupun pemerintah, untuk melindungi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Komitmen bersama dari lintas sektor dan berbagai elemen akan sangat berpengaruh
terhadap keberhasilan KTR. Ruang lingkup KTR meliput, tempat-tempat umum, tempat
kerja tertutup, sarana kesehatan, tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak,
tempat ibadah, dan angkutan umum.
Pemerintah telah menetapkan/mengupayakan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok untuk
melindungi seluruh masyarakat dari bahaya asap rokok melalui Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 115 ayat 1 dan Pemerintah Daerah
wajib menetapkan dan menerapkan KTR di wilayahnya sesuai Pasal 115 ayat 2, serta
Profil Kesehatan indonesia 2012
50
GAMBAR 2.31
PERSENTASE PROVINSI YANG MEMILIKI PERATURAN TENTANG KAWASAN
TANPA ROKOK DI INDONESIA TAHUN 2010 2012
Sumber: Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI, 2012

Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 188/Menkes/
PB/I/2011 dan Nomor 7 tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa
Rokok, dikuatkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang
Pengamanan Bahan yang mengandung Zat Adiktf berupa Produk Tembakau Bagi
Kesehatan. Pada tahun 2011 sudah ada 21 provinsi di wilayah kerjanya yang memiliki
peraturan perundang-undangan tentang pencegahan dan penanggulangan dampak
merokok terhadap kesehatan (Surat Edaran/ Instruksi/SK/Peraturan Gubernur/ Perda/
Perwali/Perbub).
Sedangkan pada tahun 2012 bertambah menjadi 27 provinsi di wilayah kerjanya yang
memiliki peraturan perundang-undangan tentang pencegahan dan penanggulangan
dampak merokok terhadap kesehatan. Selain itu jumlah kab/kota yang memiliki
peraturan perundang-undangan tentang pencegahan dan penanggulangan dampak
merokok terhadap kesehatan (surat Edaran/Instruksi/ SK/ Peraturan Gubernur/Perda/
Perwali/Perbub) pada tahun 2011, sebanyak 50 kab/kota, dan bertambah pada tahun
2012 menjadi 85 kab/kota.
gambaran umum dan perilaku penduduk
51

F
o
t
o
:

A
r
i
f

W
i
b
o
w
o
Membiasakan cuci tangan sejak dini
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Pemberian ASI Sebagai Pilihan Utama untuk Bayi
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
F
o
t
o
:

M
.

S
y
a
f
r

M
a
k
k
i
Profil Kesehatan Indonesia 2012
54
erajat kesehatan masyarakat dinilai dengan menggunakan beberapa
indikator yang mencerminkan kondisi mortalitas (kematan), status gizi dan
morbiditas (kesakitan). Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di
Indonesia digambarkan melalui Angka Mortalitas; terdiri atas angka kematan neonatal,
Angka Kematan Bayi (AKB), dan Angka Kematan Balita (AKABA), Indeks Pembangunan
Manusia termasuk angka harapan hidup, Angka Morbiditas; angka kesakitan beberapa
penyakit balita dan dewasa.
Selain dipengaruhi oleh faktor kesehatan sepert pelayanan kesehatan dan ketersediaan
sumber daya kesehatan, derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor lain
sepert faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, serta faktor lain yang kondisinya
telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
A. MORTALITAS
Mortalitas adalah kejadian kematan yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu
yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya.
Mortalitas yang disajikan pada bab ini yaitu angka kematan neonatal, angka kematan
bayi, dan angka kematan balita serta kematan yang disebabkan oleh penyakit dan
bencana.
1. Angka Kematian Neonatal (AKN)
Angka Kematan Neonatal (AKN) adalah jumlah penduduk yang meninggal satu bulan
pertama setelah kelahiran (0-28 hari) yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup
BAB 3. SITUASI DERAJAT KESEHATAN
D
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
55
pada tahun yang sama. Angka kematan neonatal periode 5 tahun terakhir mengalami
stagnasi. Berdasarkan laporan SDKI 2007 dan 2012 diestmasikan sebesar 19 per 1.000
kelahiran hidup. Kematan neonatal menyumbang lebih dari setengahnya kematan bayi
(59,4%), sedangkan jika dibandingkan dengan angka kematan balita, kematan neonatal
menyumbangkan 47,5%.
Hasil estmasi angka kematan neonatal di atas merupakan AKN dalam periode 5 tahun
terakhir sebelum survei, misalnya pada SDKI tahun 2012 menggambarkan AKN untuk
periode 5 tahun sebelumya yaitu tahun 2008-2012 yang sebesar 19 per 1.000 kelahiran
hidup. Keadaan kematan neonatal sejak tahun 1991 diperlihatkan pada gambar berikut
ini.
GAMBAR 3.1
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN NEONATAL* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA, SDKI 1991 - 2012
Sumber: BPS, Laporan SDKI
Keterangan: *periode 5 tahun terakhir sebelum survei
Pada grafk di atas tampak penurunan yang tajam antara tahun 1991 sampai 2003,
hal ini didukung kebijakan penempatan tenaga bidan di desa serta peningkatan
cakupan persalinan tenaga kesehatan. Antara tahun 2003 sampai 2012 menunjukkan
kecenderungan penurunan yang landai, dikarenakan antara lain pelayanan kesehatan
belum menjangkau seluruh neonatus. Data menunjukkan indikator kunci dari intervensi
penurunan kematan neonatus masih belum tnggi cakupannya, diantaranya inisiasi
menyusui dini menunjukkan cakupan 28%, pelayanan kesehatan neonatal pertama
71%, dan perlindungan tetanus neonatorum sebesar 79% (berdasarkan Riskesdas
Profil Kesehatan Indonesia 2012
56
GAMBAR 3.2
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN NEONATAL* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2012
Sumber: BPS, Laporan Pendahuluan SDKI 2012
Keterangan: *periode 10 tahun terakhir sebelum survei
Sebanyak 5 provinsi yang mencapai Angka Kematan Neonatal kurang sama dengan
15/1.000 kelahiran hidup yaitu Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, DKI
Jakarta, dan Riau. Provinsi dengan AKN terendah yaitu Kalimantan Timur sebesar 12
per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKN tertnggi terdapat di Provinsi Maluku Utara
sebesar 37 per 1.000 kelahiran hidup, diikut oleh Papua Barat sebesar 35 per 1.000
kelahiran hidup dan Nusa Tenggara Barat sebesar 33 per 1.000 kelahiran hidup.
2010). Sementara itu cakupan persalinan tenaga kesehatan juga tdak menunjukkan
peningkatan yang tajam antara periode 2003 2012. Cakupan persalinan menurut
Riskesdas 2010 sebesar 82%. Capaian tersebut baru mengindikasikan akses yang baik,
tetapi belum mengindikasikan kualitas pelayanan.
Grafk 3.2 berikut ini menggambarkan AKN periode 10 tahun terakhir sebelum survei
menurut provinsi.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
57
GAMBAR 3.3
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN NEONATAL PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2007 DAN SDKI 2012
Sumber: BPS, Hasil Survei Demograf dan Kesehatan Indonesia 2007 dan 2012
Pada Gambar 3.3 terdapat 39% provinsi (13 provinsi) menunjukkan peningkatan Angka
Kematan Neonatal antara tahun 2007-2012 yaitu Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu,
Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara,
Gorontalo, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.
2. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematan Bayi (AKB) adalah jumlah penduduk yang meninggal sebelum mencapai
usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Usia
bayi merupakan kondisi yang rentan baik terhadap kesakitan maupun kematan.
Menurut hasil SDKI terjadi penurunan AKB cukup tajam antara tahun 1991 sampai 2003
yaitu dari 68 per 1.000 kelahiran hidup menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup. Berbagai
faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB diantaranya dukungan peningkatan
akses pelayanan kesehatan antara lain peningkatan cakupan imunisasi dasar sehubungan
penyebab kematan bayi pada periode 1990an antara lain diphteri dan campak. Pada
gambar 3.4 dapat dilihat penurunan AKB dari tahun 1991 sampai tahun 2012.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
58
GAMBAR 3.4
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA, SDKI 1991 - 2012
Sumber: BPS, Laporan Pendahuluan SDKI 2012
Keterangan: *periode 5 tahun terakhir sebelum survei
Capaian AKB 32 di tahun 2012 kurang menggembirakan dibandingkan target Renstra
Kemenkes yang ingin dicapai yaitu 24 di tahun 2014 juga target MDGs sebesar 23 per
1.000 kelahiran hidup di tahun 2015. Penurunan AKB yang melambat antara tahun
2003 sampai 2012 yaitu dari 35 menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup, memerlukan
akses seluruh bayi terhadap intervensi kunci sepert ASI eksklusif atau imunisasi
dasar, sementara berdasarkan Riskesdas 2010 cakupan ASI eksklusif sebesar 15%,
imunisasi DPT-HB3 sebesar 62%, dan imunisasi campak 74%.Gambar 3.5 berikut ini
memperlihatkan AKB per 1.000 kelahiran hidup periode 10 tahun terakhir sebelum
survei menurut provinsi tahun 2012. Dari 33 provinsi di Indonesia, terdapat dua provinsi
yang telah mencapai target MDGs 2015 untuk AKB yaitu Kalimantan Timur dan DKI
Jakarta. Provinsi dengan AKB tertnggi terdapat di Papua Barat sebesar 74 per 1.000
kelahiran hidup, diikut oleh Gorontalo sebesar 67 dan Maluku Utara sebesar 62 per
1.000 kelahiran hidup.
Terdapat 27% provinsi (9 provinsi) menunjukkan peningkatan kematan bayi antara
tahun 2007-2012 yaitu Aceh, Jateng, Yogyakarta, Kalteng, Sulawesi Tenggara, Gorontalo,
Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
59
GAMBAR 3.5
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2012
Sumber: BPS, Laporan Pendahuluan SDKI 2012
Keterangan: *periode 10 tahun terakhir sebelum survei
GAMBAR 3.6
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2007 DAN SDKI 2012
Sumber: BPS, Hasil Survei Demograf dan Kesehatan Indonesia 2007 dan 2012
Profil Kesehatan Indonesia 2012
60
3. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematan Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai
usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. Berikut ini
merupakan gambar perkembangan AKABA sejak tahun 1991 sampai tahun 2012.
Sumber: BPS, Laporan Pendahuluan SDKI 2012
Keterangan: *periode 5 tahun terakhir sebelum survei
GAMBAR 3.7
ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA)* PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA, SDKI 1991 2012
Gambar 3.7 memperlihatkan kecenderungan penurunan AKABA cukup tajam antara
tahun 1991 sampai 2003 yaitu dari 97 per 1.000 kelahiran hidup menjadi 46 per 1.000
kelahiran hidup. Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKABA
diantaranya dukungan peningkatan akses pelayanan kesehatan meliput peningkatan
akses balita terhadap pelayanan kesehatan dan peningkatan cakupan imunisasi dasar
(sehubungan proporsi kematan balita sebagian besar merupakan kematan neonatal
dan kematan bayi).
Selanjutnya penurunan AKABA melandai antara tahun 2003 sampai 2012 yaitu dari
46/1.000 menjadi 40/1.000 kelahiran hidup. Untuk mempertajam penurunan diperlukan
peningkatan akses balita terhadap sanitasi, air bersih, dan penanganan segera terhadap
gejala penyakit. Sementara berdasarkan Riskesdas 2010 cakupan balita diare mendapat
oralit hanya 35%, cakupan balita demam ke fasilitas kesehatan sebesar 56%, dan cakupan
balita mendapat pengobatan malaria hanya 22%.
Target MDGs 2015 = 32
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
61
Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatf AKABA, yaitu sangat
tnggi dengan nilai > 140 per 1.000 kelahiran hidup, tnggi dengan nilai 71-140 per 1.000
kelahiran hidup, sedang dengan nilai 20-70 per 1.000 kelahiran hidup, dan rendah
dengan nilai < 20 per 1.000 kelahiran hidup. SDKI tahun 2012 mengestmasikan nilai
AKABA periode 5 tahun terakhir sebelum survei sebesar 40 per 1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan kategori tersebut, maka secara nasional Indonesia masuk dalam kategori
AKABA sedang. Sedangkan gambaran AKABA periode 10 tahun terakhir sebelum survei
di Indonesia menurut provinsi sepert terlihat pada Gambar 3.8 berikut ini.
GAMBAR 3.8
ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2012
Sumber : BPS, Laporan Pendahuluan SDKI 2012
Berdasarkan estmasi terhadap nilai AKABA pada tngkat provinsi, diketahui bahwa tdak
terdapat satu pun provinsi di Indonesia yang masuk kategori AKABA rendah. Demikian
juga tdak ada provinsi yang masuk kategori AKABA sangat tnggi. Sebagian besar
provinsi di Indonesia masuk ke dalam kategori AKABA sedang yaitu sebanyak 27 provinsi
(81,8%), sama sepert laporan SDKI sebelumnya pada tahun 2007. Sebanyak 6 provinsi
selebihnya masuk dalam kategori AKABA tnggi, berturut-turut dari yang tertnggi yaitu
Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Nusa Tenggara
Barat.
Provinsi yang telah mencapai target MDGs 2015 sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup
sebanyak 5 provinsi yaitu Riau, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, DI Yogyakarta,
dan Kalimantan tmur. Berikut ini perkembangan AKABA tahun 2007 dan 2012 menurut
Profil Kesehatan Indonesia 2012
62
GAMBAR 3.9
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, SDKI 2007 DAN SDKI 2012
Sumber: BPS, Hasil Survei Demograf dan Kesehatan Indonesia 2007 dan 2012
provinsi.Provinsi yang menunjukkan tren penurunan lebih banyak dibanding yang
mengalami peningkatan. Terdapat 27% provinsi (9 provinsi) menunjukkan peningkatan
kematan balita antara tahun 2007-2012 yaitu Aceh, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan
Tengah, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.
4. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematan Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator pentng dari derajat
kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu
penyebab kematan terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tdak
termasuk kecelakaan atau kasus insidentl) selama kehamilan, melahirkan dan dalam
masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per
100.000 kelahiran hidup.
AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematan terkait dengan kehamilan.
Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan
selama kehamilan dan melahirkan. Sensitvitas AKI terhadap perbaikan pelayanan
kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.
Data kematan ibu yang digunakan saat ini masih menggunakan Survei Demograf dan
Kesehatan Indonesia Tahun 2007. SDKI 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
63
5 tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka
ini lebih rendah dibandingkan AKI hasil SDKI tahun 2002-2003 yang sebesar 307 per
100.000 kelahiran hidup.
Pada Gambar 3.10 berikut nampak adanya kecenderungan penurunan AKI sejak tahun
1994 sampai dengan tahun 2007.
GAMBAR 3.10
ANGKA KEMATIAN IBU PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA TAHUN 1994-2007
Sumber: BPS, Hasil SDKI 2007
Profil Kesehatan Indonesia 2012
64
B. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indeks yang mengukur pencapaian
keseluruhan suatu negara yang direpresentasikan tga dimensi pembangunan manusia
yaitu indeks kesehatan; panjang umur dan menjalani hidup sehat yang diukur dari angka
harapan hidup waktu lahir, indeks pendidikan; diukur dari tngkat kemampuan baca tulis
seseorang dan rata-rata lama sekolah, serta indeks daya beli; memiliki standar hidup
yang layak diukur dengan pengeluaran riil per kapita. Berikut ini disajikan capaian IPM di
33 provinsi di Indonesia tahun 2011.
GAMBAR 3.11
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2011
Sumber: BPS, Indeks Pembangunan Manusia 2010-2011
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
65
Pada tahun 2011 IPM di Indonesia sebesar 72,77, sedikit lebih tnggi dibandingkan tahun
2010 yang sebesar 72,27. Gambar 3.11 memperlihatkan provinsi dengan IPM tertnggi
yaitu DKI Jakarta, Sulawesi Utara, dan Riau. Sedangkan provinsi dengan IPM terendah
yaitu Papua, diikut oleh Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
IPM dikategorikan menjadi 3, yaitu IPM tnggi (IPM 80), IPM sedang (IPM 50-79,99),
dan IPM rendah (IPM <50). Berdasarkan kategori tersebut keadaan IPM di Indonesia
sama sepert tahun 2010 yaitu belum ada satu provinsi mencapai IPM tnggi, begitu pula
tdak ada satu provinsi pun memiliki IPM rendah. Artnya, seluruh provinsi di Indonesia
memiliki IPM berkategori sedang. IPM menurut provinsi beserta komponennya dapat
dilihat pada Lampiran 3.2.
Angka Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam
meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat
kesehatan pada khususnya. Selain itu, AHH juga menjadi salah satu indikator yang
digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). AHH yaitu rata-
rata jumlah tahun yang akan dijalani seseorang sejak orang tersebut lahir. Gambar 3.12
menunjukkan perubahan AHH tahun 2006 sampai tahun 2011.
GAMBAR 3.12
ANGKA HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR
DI INDONESIA TAHUN 2006-2011
Sumber: BPS, Indeks Pembangunan Manusia 2010-2011
Profil Kesehatan Indonesia 2012
66
Angka harapan hidup di Indonesia meningkat dari 68,5 tahun pada tahun 2006 menjadi
69,65 tahun pada tahun 2011. Provinsi dengan AHH tertnggi DKI Jakarta sebesar 73,35
tahun yang diikut oleh DI Yogyakarta sebesar 73,27 tahun dan Sulawesi Utara sebesar
72,33 tahun. Sedangkan AHH terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar
62,41 tahun, yang diikut oleh Kalimantan Selatan sebesar 64,17 tahun dan Banten
sebesar 65,05 tahun sepert yang ditampilkan pada Gambar 3.13 berikut ini :
GAMBAR 3.13
ANGKA HARAPAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2011
Sumber : BPS, Indeks Pembangunan Manusia 2010-2011
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
67
C. STATUS GIZI
1. Status Gizi Balita
Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs
adalah status gizi balita. Status gizi balita dapat diukur berdasarkan umur, berat badan
(BB), dan tnggi badan/panjang badan (TB). Variabel umur, BB, dan TB ini disajikan dalam
bentuk tga indikator antropometri, yaitu: berat badan menurut umur (BB/U), tnggi
badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tnggi badan (BB/TB). Indikator
BB/U memberikan indikasi masalah gizi secara umum. Indikator ini tdak memberikan
indikasi tentang masalah gizi yang sifatnya kronis ataupun akut karena berat badan
berkorelasi positf dengan umur dan tnggi badan. Dengan kata lain, berat badan yang
rendah dapat disebabkan karena tubuh yang pendek (kronis) atau karena diare atau
penyakit infeksi lain (akut). Pada tahun 2010 terdapat 17,9% balita kekurangan gizi yang
terdiri dari 13,0% balita berstatus gizi kurang dan 4,9% berstatus gizi buruk. Sebesar 5,8%
balita dengan status gizi lebih. Dibandingkan tahun 2007, terjadi penurunan kekurangan
gizi balita pada tahun 2010 dari 18,4% menjadi 17,9%.
Berdasarkan prevalensi menurut provinsi, prevalensi balita kekurangan gizi terendah
dicapai Sulawesi Utara (10,6%), Bali (10,9%) dan DKI Jakarta (11,3%). Sedangkan provinsi
dengan prevalensi tertnggi terjadi di Nusa Tenggara Barat (30,5%), Nusa Tenggara Timur
(29,4%) dan Kalimantan Barat (29,2%). Target MDGs yang harus dicapai pada tahun 2015
untuk indikator ini sebesar 15,5%. Dengan demikian dari 33 provinsi terdapat 9 provinsi
di antaranya telah mencapai target tersebut pada tahun 2010. .
Indikator gizi yang lain yaitu tnggi badan menurut umur (TB/U) memberikan indikasi
masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama,
misalnya kemiskinan, perilaku hidup tdak sehat dan pola asuh/pemberian makan
yang kurang baik dari sejak anak dilahirkan yang mengakibatkan anak menjadi pendek.
Indikator BB/TB dan Indeks Massa Tubuh (IMT) memberikan indikasi masalah gizi
yang sifatnya akut sebagai akibat dari peristwa yang terjadi dalam waktu yang tdak
lama (singkat), misalnya mengidap penyakit tertentu dan kekurangan asupan gizi yang
mengakibatkan anak menjadi kurus.
Pada tahun 2010 terdapat 35,6% balita dengan tnggi badan di bawah normal yang
terdiri dari 18,5% balita sangat pendek dan 17,1% balita pendek. Dibandingkan tahun
2007, terjadi sedikit penurunan persentase balita pendek dan sangat pendek pada
tahun 2010 dari 36,8% menjadi 35,6%.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
68
Menurut provinsi, prevalensi balita pendek terendah terjadi di Provinsi DI Yogyakarta
(22,5%), DKI Jakarta (26,6%) dan Kepulauan Riau (26,9%). Sedangkan provinsi dengan
prevalensi tertnggi terjadi di Nusa Tenggara Timur (58,4%), Papua Barat (49,2%) dan
Nusa Tenggara Barat (48,3%).
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 2014 menetapkan 4
sasaran pembangunan kesehatan, dimana salah satu sasaran yang harus dicapai adalah
menurunkan prevalensi balita pendek menjadi 32%, sehingga ada sebanyak 11 provinsi
di Indonesia (33,3%) yang telah mencapai target tersebut pada tahun 2010.Indikator
antropometri lain untuk menilai status gizi balita yaitu berat badan menurut tnggi badan
(BB/TB). Pada tahun 2010 terdapat 13,3% balita wastng (kurus) yang terdiri dari 7,3%
balita kurus dan 6,0% sangat kurus. Dibandingkan tahun 2007, terjadi sedikit penurunan
persentase balita kurus pada tahun 2010 dari 13,6% menjadi 13,3%.
Standar prevalensi balita kurus pada suatu populasi menurut WHO sebesar 5%. Hal
itu berart masalah kekurusan di Indonesia belum memenuhi standar WHO. Demikian
juga berdasarkan prevalensi menurut provinsi, seluruh provinsi di Indonesia belum
memenuhi standar WHO karena memiliki prevalensi balita kurus lebih dari 5%. Provinsi
dengan prevalensi balita kurus terendah yaitu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
(7,5%), Kepulauan Riau (8,0%) dan Sumatera Barat (8,2%). Sedangkan provinsi dengan
prevalensi tertnggi terjadi di Jambi (20,0%), Bengkulu (17,8%) dan Maluku Utara
(17,7%).
2. Status Gizi Penduduk Dewasa
Gambaran status gizi pada kelompok umur >18 tahun dapat diketahui melalui prevalensi
gizi berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT). Status gizi pada kelompok dewasa
berusia di atas 18 tahun didominasi dengan masalah obesitas, walaupun masalah kurus
juga masih cukup tnggi. Prevalensi obesitas pada kelompok umur dewasa sebanyak
11,7% dan berat badan lebih sebesar 10,0%. Dengan demikian prevalensi kelompok
dewasa kelebihan berat badan sebesar 21,7%. Angka kelebihan berat badan pada
perempuan lebih tnggi dibanding laki-laki yaitu 26,9% pada perempuan dan 16,3% pada
laki-laki. Pada semua kelompok umur penduduk dewasa, kelebihan berat badan lebih
tnggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Rata-rata prevalensi kelebihan berat
badan relatf tnggi terdapat pada usia 35-59 tahun pada laki-laki maupun perempuan.
Pada usia tersebut, sekitar sepertganya mengalami kelebihan berat badan di kelompok
perempuan dan sekitar seperlimanya di kelompok laki-laki.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
69
Menurut laporan Riskesdas tahun 2010 provinsi dengan prevalensi kelebihan berat
badan pada penduduk >18 tahun terendah yaitu Nusa Tenggara Timur (13,0%), Sulawesi
Tenggara (16,3%), dan Nusa Tenggara Barat (16,8%). Provinsi dengan prevalensi
kelebihan berat badan tertnggi yaitu Sulawesi Utara (37,1%), Kepulauan Riau (30,8%),
dan Kalimantan Timur (29,4%). Sedangkan provinsi dengan prevalensi IMT normal
tertnggi yaitu Sulawesi Tenggara (72,8%), Lampung (70,7%) dan Riau (69,4%).
Berdasarkan karakteristk, masalah obesitas cenderung lebih tnggi pada penduduk yang
tnggal di perkotaan, berpendidikan lebih tnggi dan pada kelompok status ekonomi yang
tertnggi. Rincian status gizi pada balita dan dewasa menurut provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 3.3 sampai dengan Lampiran 3.7.
D. MORBIDITAS
Morbiditas adalah angka kesakitan, dapat berupa angka insiden maupun angka
prevalensi dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam
suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian
terhadap derajat kesehatan masyarakat.
1. Penyakit Menular
a. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah
terinfeksi basil tuberkulosis. Bersama dengan malaria dan HIV/AIDS, tuberkulosis
menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam
MDGs.
Beban penyakit yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat diukur dengan insiden
(didefnisikan sebagai jumlah kasus baru dan kasus kambuh tuberkulosis yang muncul
dalam periode waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam satu tahun), prevalensi
(didefnisikan sebagai jumlah kasus tuberkulosis pada suatu ttk waktu tertentu) dan
mortalitas/kematan (didefnisikan sebagai jumlah kematan akibat tuberkulosis dalam
jangka waktu tertentu).
Profil Kesehatan Indonesia 2012
70
i. Kasus Baru dan Prevalensi BTA Positf
Jumlah kasus baru BTA+ yang ditemukan pada tahun 2012 sebanyak 202.301
kasus. Jumlah tersebut sedikit lebih rendah bila dibandingkan kasus baru BTA+
yang ditemukan tahun 2011 yang sebesar 197.797 kasus.
Jumlah kasus tertnggi yang dilaporkan terdapat di provinsi dengan jumlah
penduduk yang tnggi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kasus baru
di tga provinsi tersebut sekitar 40% dari jumlah seluruh kasus baru di Indonesia.
Menurut jenis kelamin, kasus BTA+ pada laki-laki hampir 1,5 kali dibandingkan
kasus BTA+ pada wanita. Sebesar 59,4% kasus BTA+ yang ditemukan berjenis
kelamin laki-laki dan 40,6% kasus berjenis kelamin perempuan. Seluruh kasus
di 33 provinsi di Indonesia lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan
perempuan. Disparitas paling tnggi antara laki-laki dan perempuan terjadi
di Aceh, kasus pada laki-laki hampir 3/2 dari kasus perempuan, yaitu 66,1%
penderita laki-laki dan 33,9%-nya merupakan penderita perempuan.
GAMBAR 3.14
PROPORSI KASUS BARU BTA+ MENURUT KELOMPOK UMUR
TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
71
Menurut kelompok umur, kasus baru yang ditemukan paling banyak pada
kelompok umur 25-34 tahun yaitu sebesar 21,72% diikut kelompok umur 35-44
tahun sebesar 19,38% dan pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 19,26%.
Proporsi kasus baru BTA+ menurut kelompok umur dapat dilihat pada Gambar
3.14.
Kasus baru BTA+ kelompok umur 0-14 tahun merupakan proporsi yang paling
rendah. Dari gambar di atas terlihat bahwa kasus tuberkulosis rata-rata terjadi
pada orang dewasa. Pada seluruh kelompok umur tersebut penderita laki-laki
lebih banyak dibandingkan perempuan, kecuali pada kelompok umur 0-14 tahun
penderita perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.
ii. Proporsi Pasien Baru BTA Positf di antara Semua Kasus
Proporsi pasien baru BTA positf di antara semua kasus adalah persentase
pasien baru BTA positf di antara semua pasien TB paru tercatat. Indikator
ini menggambarkan prioritas penemuan pasien TB yang menular di antara
seluruh pasien TB paru yang diobat. Angka ini diharapkan tdak lebih rendah
dari 65%. Apabila proporsi pasien baru BTA positf di bawah 65% maka hal itu
menunjukkan mutu diagnosis yang rendah dan kurang memberikan prioritas
untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positf).
GAMBAR 3.15
PROPORSI BTA POSITIF DI ANTARA SELURUH KASUS TB PARU
DI INDONESIA TAHUN 2007-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
72
Pada Gambar 3.15, terlihat bahwa sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2012
proporsi pasien baru BTA positf di antara seluruh kasus belum mencapai target
yang diharapkan meskipun tdak terlalu jauh berada di bawah target minimal
(yang sebesar 65%). Hal itu mengindikasikan kurangnya prioritas menemukan
kasus BTA positf. Namun, menurut provinsi, terdapat beberapa provinsi yang
telah mencapai target tersebut sepert yang terlihat pada Gambar 3.16.
GAMBAR 3.16
PROPORSI BTA POSITIF DI ANTARA SELURUH KASUS
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Pada tahun 2012 proporsi BTA positf di antara seluruh kasus TB Paru tertnggi
dicapai oleh Provinsi Sulawesi Tenggara (94%), Sulawesi Utara dan Jambi masing-
masing 92%. Sedangkan capaian terendah yaitu Provinsi Papua Barat (31%),
DKI Jakarta (33%) dan Papua (38%). Sebanyak 21 dari 33 provinsi (63,6%) telah
mencapai target minimal 65%.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
73
iii. Angka Notfkasi Kasus atau Case Notfcaton Rate (CNR)
Angka notfkasi kasus adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang
ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu.
Angka ini apabila dikumpulkan serial akan menggambarkan kecenderungan
penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Angka ini berguna
untuk menunjukkan kecenderungan (trend) meningkat atau menurunnya
penemuan pasien pada wilayah tersebut.
GAMBAR 3.17
ANGKA NOTIFIKASI KASUS BTA+ DAN SELURUH KASUS
PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2007-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Gambar 3.17 menunjukkan angka notfkasi kasus baru TB paru BTA positf
dari tahun 2007-2011 mengalami peningkatan kecuali tahun 2012 yang sedikit
menurun menjadi 82 per 100.000 penduduk. Sedangkan angka notfkasi seluruh
kasus BTA positf semenjak 2007 sampai 2012 cenderung meningkat.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
74
GAMBAR 3.18
ANGKA NOTIFIKASI KASUS TB PARU BTA+ PER 100.000 PENDUDUK MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Gambar 3.18 menunjukkan besarnya angka notfkasi atau case notfcaton rate
(CNR) semua kasus tuberkulosis per provinsi tahun 2012 yang secara nasional
terjadi peningkatan dibandingkan dengan tahun 2011. Sebaliknya, CNR TB BTA+
pada tahun 2012 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011. Provinsi
dengan angka notfkasi kasus TB BTA+ tertnggi yaitu Sulawesi Utara sedangkan
yang terendah D.I.Yogyakarta.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
75
iv. Angka Penemuan Kasus
Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detecton
Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positf yang ditemukan dan
diobat terhadap jumlah pasien baru BTA positf yang diperkirakan ada dalam
wilayah tersebut. Berikut ini ditampilkan angka penemuan kasus tahun 2006-
2012.
GAMBAR 3.19
ANGKA PENEMUAN KASUS (CASE DETECTION RATE) TB PARU BTA+
DI INDONESIA TAHUN 2006-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Pada Gambar 3.19 terlihat kecenderungan peningkatan angka penemuan
kasus BTA+ sejak 2007 sampai tahun 2012. WHO menetapkan standar angka
penemuan kasus sebesar 70%. Dengan demikian sejak tahun 2006 sampai
tahun 2012, Indonesia telah mencapai standar tersebut. Sedangkan Kemenkes
menetapkan target Renstra minimal 80% untuk angka penemuan kasus pada
tahun 2012. Berdasarkan hal tersebut, capaian angka penemuan kasus tahun
2012 yang sebesar 82,3% juga telah memenuhi target Renstra.
Informasi mengenai Tuberkulosis menurut provinsi secara rinci dapat dilihat
pada Lampiran 3.8-3.11.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
76
b. HIV & AIDS
HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human
Immunodefciency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut
menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat
mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.
Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positf.
Jumlah HIV positf yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu
pada layanan Voluntary, Counseling, and Testng (VCT), sero survey, dan Survei Terpadu
Biologis dan Perilaku (STBP).
i. Jumlah kasus HIV positf dan AIDS
Perkembangan kasus HIV positf sejak 2005 sampai dengan tahun 2012 disajikan
pada Gambar 3.20 berikut ini.
GAMBAR 3.20
JUMLAH KASUS BARU HIV POSITIF
DI INDONESIA TAHUN 2005 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Sampai dengan tahun 2005 kasus baru HIV positf sebesar 859 kasus kemudian
meningkat menjadi 21.511 kasus pada tahun 2012. Pemetaan epidemi HIV di
Indonesia dibagi menjadi lima kategori, yaitu <90 kasus, 90-206 kasus, 207-323
kasus, 324-440 kasus, dan > 440 kasus. Gambar 3.21 berikut ini memperlihatkan
distribusi HIV di Indonesia.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
77
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
GAMBAR 3.21
PETA EPIDEMI HIV DI INDONESIA
TAHUN 2012
Berdasarkan gambar di atas, sebanyak 11 provinsi (33,3%) di Indonesia memiliki
kasus HIV > 440, sebanyak 8 provinsi (24,2%) dengan kasus HIV < 90 kasus,
sebanyak 7 provinsi (21,2%) dengan kasus HIV 206-323. Provinsi dengan jumlah
HIV tertnggi yaitu DKI Jakarta, Papua, dan Jawa Timur. Sedangkan estmasi
jumlah ODHA dewasa tahun 2012 sebesar 591.823.
Gambar berikut menampilkan kasus baru dan kumulatf penderita AIDS yang
terjadi sampai dengan tahun 2012.
GAMBAR 3.22
JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS YANG TERDETEKSI DARI BERBAGAI
SARANA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2001 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
78
Menurut provinsi, Jawa Timur merupakan provinsi dengan penemuan kasus
baru AIDS tertnggi pada tahun 2012, yaitu sebesar 822 kasus, diikut oleh Jawa
Tengah dan Bali yang masing-masing sebesar 798 dan 650 kasus.
Menurut jenis kelamin, persentase kasus baru AIDS tahun 2012 pada kelompok
laki-laki lebih besar dibandingkan persentase pada kelompok perempuan yaitu
sebesar 51,6% berbanding 33,0% sepert digambarkan di bawah ini.
GAMBAR 3.23
JUMLAH KASUS BARU PENDERITA AIDS
10 PROVINSI TERTINGGI DI INDONESIA TAHUN 2012
GAMBAR 3.24
PROPORSI KASUS BARU AIDS MENURUT JENIS KELAMIN
DI INDONESIA SAMPAI TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
79
GAMBAR 3.25
PERSENTASE KASUS BARU AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Gambaran kasus baru AIDS menurut kelompok umur menunjukkan bahwa
sebagian besar kasus baru AIDS terdapat pada usia 20-29 tahun, 30-39 tahun,
dan 40-49 tahun. Kelompok umur tersebut memang termasuk ke dalam
kelompok usia produktf yang juga aktf secara seksual dan termasuk kelompok
umur yang menggunakan NAPZA suntk.
HIV/AIDS dapat ditularkan melalui beberapa cara penularan, yaitu hubungan
seksual lawan jenis (heteroseksual), hubungan sejenis melalui Lelaki Seks
dengan Lelaki (LSL), penggunaan alat suntk secara bergantan, transfusi darah
Walaupun pada tahun 2012 proporsi kasus baru AIDS pada kelompok penderita
laki-laki masih lebih besar daripada perempuan, namun gambar di atas
memperlihatkan proporsi penderita perempuan semakin lama cenderung
semakin meningkat. Sebaliknya, proporsi penderita laki-laki semakin lama
semakin menurun. Hal itu menunjukkan laju peningkatan penderita baru AIDS
perempuan lebih tnggi dibandingkan pada laki-laki.
Pada Gambar 3.25 berikut ini disajikan penderita AIDS menurut kelompok umur.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
80
GAMBAR 3.26
PERSENTASE KASUS AIDS MENURUT FAKTOR RISIKO
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Pada gambar di atas nampak bahwa hubungan heteroseksual masih merupakan
cara penularan dengan persentase tertnggi pada kasus AIDS yaitu sebesar
77,75%, diikut oleh penasun atau Injectng Drug User (IDU) sebesar 9,16% dan
dari ibu ke anak sebesar 3,76%.
dan dari ibu ke anak. Berikut ini disajikan persentase kasus AIDS menurut cara
penularan tersebut.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
81
iii. Pengetahuan AIDS
Pengetahuan merupakan domain yang sangat pentng untuk membentuk
tndakan seseorang, sebab dari pengalaman dan hasil penelitan ternyata
perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dibandingkan dengan
perilaku yang tdak didasari oleh pengetahuan.
Hasil SDKI 2012 menunjukan bahwa persentase wanita umur 15-49 tahun yang
pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 76,7%. Sedangkan pria kawin umur
15-54 tahun yang pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 82,3%. Tabel
berikut ini memperlihatkan persentase responden yang pernah mendengar
tentang HIV AIDS menurut karakteristk latar belakang.
Data pada Tabel 3.1 menunjukkan bahwa wanita umur 15-24 tahun cenderung
memiliki pengetahuan tentang HIV-AIDS lebih tnggi dibandingkan wanita pada
kelompok umur 30 tahun keatas. Wanita belum kawin memiliki pengetahuan
yang lebih tnggi dari wanita kawin. Di antara wanita yang belum kawin, mereka
GAMBAR 3.27
ANGKA KEMATIAN AKIBAT AIDS YANG DILAPORKAN
DI INDONESIA TAHUN 2000-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
ii. Angka kematan akibat AIDS
Angka kematan (Case Fatality Rate) akibat AIDS pada periode 2000-2012 secara
umum cenderung menurun sepert Gambar 3.27 berikut ini. Pada tahun 2012
CFR AIDS di Indonesia sebesar 3,17%.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
82
t.a.d = tidak sesuai

1
Termasuk pria berstatus hidup bersama
yang pernah melakukan hubungan seksual mempunyai pengetahuan mengenai
HIV-AIDS yang lebih rendah dibandingkan dengan wanita belum kawin dan
belum pernah melakukan hubungan seksual. Pengetahuan tentang HIV-AIDS di
antara wanita perkotaan lebih tnggi dibanding wanita perdesaan. Pengetahuan
mengenai HIV-AIDS meningkat sejalan dengan tngkat pendidikan wanita.
Persentase wanita kelompok umur 15-19 tahun yang mengetahui tentang HIV-
AIDS lebih tnggi dibandingkan dengan persentase pria kawin pada kelompok
umur yang sama. Tingkat pengetahuan pria kawin di perkotaan lebih tnggi dari
di perdesaan.
Hasil SDKI 2012 juga menunjukan bahwa persentase wanita umur 15-49
TABEL 3.1
PERSENTASE WANITA UMUR 15-49 TAHUN DAN PRIA KAWIN 15-54
1
TAHUN YANG PERNAH
MENDENGAR TENTANG HIV AIDS MENURUT KARAKTERISTIK LATAR BELAKANG
TAHUN 2012
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
83
tahun yang memiliki pengetahuan tentang cara mengurangi risiko HIV AIDS
dengan menggunakan kondom dan membatasi berhubungan seks dengan satu
pasangan sebesar 37,3%. Sedangkan pria kawin umur 15-54 tahun yang memiliki
pengetahuan yang sama sebesar 49,1%. Tabel berikut ini memperlihatkan
persentase responden yang memiliki pengetahuan tentang cara mengurangi
HIV AIDS menurut karakteristk latar belakang.
Tingginya persentase wanita umur 15-49 tahun dan pria kawin umur 15-
54 tahun yang pernah mendengar tentang HIV-AIDS, tdak sesuai dengan
tngkat pengetahuan tentang cara mengurangi risiko tertular HIV-AIDS. Secara
keseluruhan, 57,6% wanita mengetahui bahwa membatasi seks hanya dengan
satu partner (pasangan) sebagai cara mengurangi risiko penularan, 42,9%
mengatakan bahwa menggunakan kondom secara teratur akan mengurangi
kemungkinan terinfeksi, dan 37,3% dengan menggunakan kondom dan
membatasi berhubungan seks hanya dengan satu pasangan akan mengurangi
risiko tertular HIV-AIDS.
Pengetahuan pria mengenai HIV-AIDS sedikit lebih tnggi dibanding wanita.
Untuk pria kawin, 62,8% mengatakan HIV-AIDS dapat dihindari dengan
membatasi hubungan seks hanya dengan satu pasangan, 58,5% menggunakan
kondom, dan 49,1% menggunakan kondom dan membatasi berhubungan seks
hanya dengan satu pasangan.
Menurut kelompok umur, wanita umur 25-29 tahun cenderung memiliki
pengetahuan tentang cara mengurangi risiko HIV-AIDS lebih tnggi dibandingkan
wanita pada kelompok umur yang lain, namun pada sub kelompok umur 20-
24 tahun persentasenya paling tnggi dibandingkan kelompok umur lain yaitu
sebesar 42,5%.
Wanita belum kawin memiliki pengetahuan yang lebih tnggi dari wanita kawin.
Di antara wanita yang belum kawin, mereka yang pernah melakukan hubungan
seksual mempunyai pengetahuan tentang cara mengurangi risiko terkena HIV-
AIDS (menggunakan kondom dan membatasi berhubungan seks hanya dengan
satu pasangan) yang lebih tnggi dibandingkan dengan wanita belum kawin dan
belum pernah melakukan hubungan seksual.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
84
TABEL 3.2
PERSENTASE WANITA UMUR 15-49 TAHUN DAN PRIA KAWIN 15-54
1
TAHUN TENTANG CARA
MENGURANGI RISIKO TERKENA HIV AIDS MENURUT KARAKTERISTIK LATAR BELAKANG
TAHUN 2012
t.a.d = tidak sesuai
1 Termasuk pria yang berstatus hidup bersama
2 Menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks
3 Pasangan yang tidak memiliki pasangan lain
Pengetahuan tentang cara mengurangi risiko terkena HIV-AIDS (menggunakan
kondom dan membatasi berhubungan seks hanya dengan satu pasangan) di
antara wanita perkotaan lebih tnggi dibanding wanita perdesaan. Pengetahuan
mengenai HIV-AIDS meningkat sejalan dengan tngkat pendidikan wanita.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
85
Berbeda dengan persentase pernah mendengar HIV AIDS yang lebih tnggi pada
wanita, persentase pria kawin kelompok umur 15-19 tahun yang mengetahui
cara mengurangi risiko terkena HIV-AIDS (menggunakan kondom dan membatasi
berhubungan seks hanya dengan satu pasangan) tentang HIV-AIDS lebih tnggi
dibandingkan dengan persentase wanita kawin pada kelompok umur yang sama.
Tingkat pengetahuan pria kawin di perkotaan lebih tnggi dari di perdesaan.
c. Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat
disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang
pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun
dan orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
ISPA, khususnya pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia terutama pada balita. Menurut hasil Riskesdas 2007, pneumonia merupakan
penyebab kematan nomor dua pada balita (13,2%) setelah diare (17,2%). Data cakupan
penemuan pneumonia balita pada kurun waktu enam tahun terakhir disajikan pada
gambar berikut ini.
GAMBAR 3.28
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA PADA BALITA
DI INDONESIA TAHUN 2007-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
86
GAMBAR 3.29
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sejak tahun 2007 sampai 2012, angka cakupan penemuan pneumonia balita tdak
mengalami perkembangan berart yaitu berkisar antara 23%-27,71%. Selama kurun
waktu tersebut cakupan penemuan pneumonia tdak pernah mencapai target nasional,
termasuk target tahun 2012 yang sebesar 80%.
Berikut ini ditampilkan angka cakupan penemuan pneumonia balita menurut provinsi
tahun 2012.
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Pada tahun 2012 tdak ada satupun provinsi yang mencapai target program penemuan
pneumonia pada balita. Provinsi dengan cakupan penemuan pneumonia pada balita
tertnggi berturut-turut yaitu Provinsi DKI Jakarta sebesar 73,35%, Nusa Tenggara Barat
sebesar 59,24%, dan Jawa Barat sebesar 43,16%. Sedangkan tga provinsi dengan
cakupan terendah yaitu Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 1,75%, Aceh sebesar
3,84%, dan Sulawesi Utara sebesar 4,19%. Provinsi Papua Barat dan Papua sepert tahun
sebelumnya, tdak melaporkan data pneumonia pada balita. Data cakupan masing-
masing provinsi menurut kelompok umur beserta angka kematan penderita pneumonia
terdapat pada Lampiran 3.15 dan Lampiran 3.16
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
87
d. Kusta
Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium
leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif,
menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata.
Pada tahun 2000, dunia (termasuk Indonesia) telah berhasil mencapai status eliminasi.
Eliminasi didefnisikan sebagai pencapaian jumlah penderita terdafar kurang dari 1
kasus per 10.000 penduduk. Dengan demikian, sejak tahun tersebut di tngkat dunia
maupun nasional, kusta bukan lagi menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat.
Sejak tercapainya status eliminasi kusta, situasi kusta di Indonesia menunjukkan kondisi
yang relatf stats. Hal ini dapat terlihat dari angka penemuan kasus baru kusta yang
berkisar antara 7 hingga 8 per 100.000 penduduk per tahunnya. Begitu pula halnya
dengan angka prevalensi kusta yang berkisar antara 8 hingga 10 per 100.000 penduduk
dan telah mencapai target < 10. Situasi tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.
GAMBAR 3.30
ANGKA PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA (NCDR)
TAHUN 2007-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
88
Pada tahun 2012 dilaporkan terdapat 16.123 kasus baru kusta, terdiri dari kasus tpe
Mult Basiler sebanyak 13.268 kasus dan tpe Pausi Basiler sebanyak 2.855 kasus dengan
Newly Case Detecton Rate (NCDR) sebesar 6,6 per 100.000 penduduk. NCDR tahun
2012 relatf lebih kecil dibandingkan 5 tahun sebelumnya.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan telah menetapkan
33 provinsi di Indonesia ke dalam 2 kelompok beban kusta, yaitu provinsi dengan beban
kusta tnggi (high endemic) dan beban kusta rendah (low endemic). Provinsi dengan
high endemic jika NCDR > 10 per 100.000 penduduk atau jumlah kasus baru lebih dari
1.000, sedangkan low endemic jika NCDR < 10 per 100.000 penduduk atau jumlah kasus
baru kurang dari 1.000 kasus.
Pada Gambar 3.31 terlihat bahwa terdapat sebanyak 13 provinsi (39,4%) yang termasuk
dalam beban kusta tnggi. Sebanyak 20 provinsi lainnya (60,6%) termasuk dalam beban
kusta rendah. Hampir seluruh provinsi di bagian tmur Indonesia merupakan daerah
dengan beban kusta tnggi.
GAMBAR 3.31
ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
89
Proporsi cacat tngkat II menunjukkan keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru kusta,
sedangkan untuk mengetahui tngkat penularan di masyarakat digunakan indikator
proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. Proporsi cacat tngkat II pada tahun
2012 sebesar 5,8%. Sedangkan proporsi anak di antara penderita baru pada tahun 2012
sebesar 5,66%.
GAMBAR 3.32
PROPORSI CACAT TINGKAT II DAN PROPORSI ANAK
DI ANTARA KASUS BARU KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2001-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Pada kurun waktu 2001-2012 terjadi kecenderungan peningkatan proporsi cacat tngkat
II, pada tahun 2012 sebesar 11,4%. Menurut provinsi, Sumatera Selatan, Kep Bangka
Belitung, dan Jawa Barat merupakan 3 provinsi dengan proporsi cacat pada anak
tertnggi yaitu masing-masing sebesar 23,88%, 23,68%, dan 23,27%. Sedangkan proporsi
kusta pada anak cenderung meningkat sampai dengan tahun 2011. Namun pada tahun
2012 sedikit menurun menjadi sebesar 11,4%. Papua Barat, Papua, dan NTB merupakan
provinsi dengan proporsi kusta anak tertnggi. Data/informasi terkait penyakit kusta
menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3.19 dan Lampiran 3.20.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
90
e. Diare
Penyakit Diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit
potensial KLB yang sering disertai dengan kematan. Laporan Riskesdas tahun 2007
menunjukkan bahwa penyakit Diare merupakan penyebab kematan nomor satu pada
bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua umur merupakan
penyebab kematan yang ke empat (13,2%).
Hasil survei morbiditas diare menunjukan penurunan angka kesakitan penyakit diare
yaitu dari 423 per 1.000 penduduk pada tahun 2006 turun menjadi 411 per 1.000
penduduk pada tahun 2010.
Jumlah penderita pada KLB diare tahun 2012 menurun secara signifkan dibandingkan
tahun 2011 dari 3.003 kasus menjadi 1.585 kasus pada tahun 2012. KLB diare terjadi di
15 provinsi dengan penderita terbanyak terjadi di Sumatera Selatan, Sumatera Barat,
dan Sumatera Utara masing-masing sebanyak 292, 274 dan 241 penderita. Pada Gambar
3.33 disajikan kecenderungan CFR Diare pada periode tahun 2007-2012.
GAMBAR 3.33
CASE FATALITY RATE (CFR) PADA KLB DIARE
DI INDONESIA TAHUN 20072012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
91
Pada gambar di atas terlihat adanya kecenderungan penurunan CFR diare sejak tahun
2008 sampai tahun 2011, dari 2,94% menjadi 0,4%. Walaupun terjadi penurunan
penderita pada KLB diare pada tahun 2012, namun terjadi peningkatan CFR pada tahun
2012 menjadi 1,45%. CFR KLB diare tertnggi terjadi di Provinsi Papua sebesar 5%.
Target CFR KLB Diare diharapkan <1%. Dengan demikian secara nasional, CFR KLB
diare tdak memenuhi target program. Hal ini terjadi pada umumnya karena penderita
terlambat memperoleh pertolongan, yang antara lain akibat letak geografs yang sulit
dan biasanya jauh dari sarana pelayanan kesehatan.
Penanganan diare sesuai standar di fasilitas kesehatan pada tahun 2012 sebesar 36,6%
dengan capaian tertnggi di Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur yang masing-masing
sebesar 100%.
2. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
a. Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke tubuh
melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan
oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tdak steril. Kasus Tetanus Neonatorum
banyak ditemukan di negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh
tenaga kesehatan yang rendah.
Pada tahun 2012, dilaporkan terdapat 119 kasus Tetanus Neonatorum dengan jumlah
meninggal 59 kasus. Dengan demikian, Case Fatality Rate (CFR) Tetanus Neonatorum
pada tahun 2012 sebesar 49,6%, relatf menurun dibandingkan tahun 2011 yang sebesar
60,5%. Kasus yang meninggal tersebut dilaporkan dari 20 provinsi.
Gambaran kasus menurut faktor risiko status imunisasi menunjukkan bahwa sebagian
kasus terjadi pada kelompok yang tdak diimunisasi yaitu 77 kasus (65%). Sebanyak 64
kasus (53,8%) melakukan pemeriksaan kehamilan dengan bidan. Namun, menurut faktor
penolong persalinan, 81 kasus (68%) ditolong oleh penolong persalinan tradisional,
misalnya dukun. Untuk pemotongan tali pusat, sebagian besar kasus dilakukan
pemotongan tali pusat dengan guntng yaitu 71 kasus (60%). Gambaran kasus Tetanus
Neonatorum beserta persentase kasus menurut faktor risiko dan provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 3.21.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
92
b. Campak
Penyakit campak disebabkan oleh virus campak, golongan Paramyxovirus. Penularan
dapat terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi oleh droplet (ludah) orang yang
telah terinfeksi. Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak usia pra sekolah
dan usia SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka dia akan mendapatkan
kekebalan terhadap penyakit tersebut seumur hidupnya.
Pada tahun 2012, dilaporkan terdapat 15.987 kasus campak dari 32 provinsi yang
melaporkan adanya kasus. Jumlah kasus meninggal sebanyak 4 kasus, yang dilaporkan
dari 2 provinsi, yaitu Kalimantan Barat 3 kasus dan Sulawesi Selatan 1 kasus. Incidence
Rate pada tahun 2012 sebesar 6,5 per 100.000 penduduk, lebih rendah dibandingkan
dengan tahun 2011 yang sebesar 9,22 per 100.00 penduduk.
GAMBAR 3.34
INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
93
GAMBAR 3.35
PROPORSI KASUS CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Campak dinyatakan sebagai KLB apabila terdapat 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu
4 minggu berturut-turut yang terjadi mengelompok dan dibuktkan adanya hubungan
epidemiologis. Pada tahun 2012, jumlah KLB campak yang terjadi sebanyak 160 KLB
dengan jumlah kasus sebanyak 2.303 kasus. Berdasarkan konfrmasi laboratorium,
73 kejadian (45,6%) diantaranya merupakan rubella. Frekuensi KLB campak tertnggi
terjadi di Jawa Barat (21 kejadian) dan Jambi (17 kejadian). Untuk jumlah kasus KLB
campak, kasus terbanyak terdapat di Jawa Barat (315 kasus) dan Sulawesi Tengah (208
kasus). Jumlah kasus yang meninggal pada KLB campak tersebut sebanyak 4 kasus yang
dilaporkan dari Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara.
Data/informasi mengenai penyakit campak menurut provinsi terdapat pada Lampiran
3.22 sampai Lampiran 3.26.
Menurut kelompok umur, kasus campak pada kelompok umur 5-9 tahun merupakan yang
terbesar yaitu sebesar 31%. Namun jika dihitung rata-rata umur tunggal, kasus campak
pada bayi (1 tahun), merupakan yang tertnggi. Gambar 3.35 berikut memperlihatkan
proporsi kasus campak per kelompok umur.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
94
c. Diferi
Penyakit diferi disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang
sistem pernapasan bagian atas. Penyakit diferi pada umumnya menyerang anak-anak
usia 1-10 tahun.
Jumlah kasus diferi pada tahun 2012 sebanyak 1.192 kasus dengan jumlah kasus
meninggal sebanyak 76 kasus sehingga CFR diferi sebesar 6,38%. Dari 18 provinsi
yang melaporkan adanya kasus diferi, kasus tertnggi terjadi di Jawa Timur sebanyak
954 kasus (80%), diikut oleh Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan masing-masing
sebanyak 61 kasus (5,1%) dan 50 kasus (4,2%).
Gambaran kasus menurut kelompok umur pada tahun 2012 menunjukkan jumlah
kasus pada kelompok umur 5-9 bulan sebanyak 30%, pada kelompok umur > 14 bulan
sebanyak 29,9%. Pada tahun 2012 sebanyak 47,32% kasus telah mendapatkan vaksinasi.
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
GAMBAR 3.36
PROPORSI KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR
DI INDONESIA TAHUN 2012
Gambaran penyakit diferi menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.27 dan
Lampiran 3.28.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
95
d. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)
Polio adalah salah satu penyakit menular yang termasuk PD3I. Penyakit ini disebabkan
oleh infeksi virus yang menyerang sistem syaraf hingga penderita mengalami kelumpuhan.
Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berusia 0-3 tahun ini ditandai dengan
munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher, serta sakit di tungkai dan
lengan.
AFP merupakan kelumpuhan yang sifatnya faccid yang bersifat lunglai, lemas atau layuh
(bukan kaku), atau terjadi penurunan kekuatan otot, dan terjadi secara akut (mendadak).
Sedangkan Non Polio AFP adalah kasus lumpuh layuh akut yang diduga kasus Polio
sampai dibuktkan dengan pemeriksaan laboratorium bukan kasus Polio. Kementerian
Kesehatan menetapkan Non Polio AFP Rate minimal 2/100.000 populasi anak usia <
15 tahun. Pada tahun 2012, secara nasional Non Polio AFP Rate sebesar 2.77/100.000
populasi anak < 15 tahun yang berart telah mencapai standar minimal penemuan.
GAMBAR 3.37
NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK < 15 TAHUN
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Pada tahun 2012 sebagian besar provinsi telah mencapai target non polio AFP rate > 2
per 100.000 penduduk (87,9%). Sebanyak 4 provinsi belum mencapai target non polio
AFP rate yaitu Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua. Provinsi
dengan non polio AFP rate tertnggi yaitu Gorontalo sebesar 7,33 dan NTT sebesar 5,33
per 100.000 penduduk <15 tahun. Informasi lebih rinci mengenai AFP menurut provinsi
terdapat pada Lampiran 3.29.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
96
3. Penyakit Bersumber Binatang
Beberapa penyakit dapat menular melalui binatang yang biasa disebut penyakit
bersumber binatang. Penyakit bersumber binatang di antaranya adalah Malaria,
Demam Berdarah Dengue (DBD), Chikungunya, dan Rabies. Penyakit tersebut dapat
mengakibatkan kerugian secara ekonomi bahkan beberapa menyebabkan kematan.
a. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang
masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya
Aedes aegypt atau Aedes albopictus. Aedes aegypt adalah vektor yang paling banyak
ditemukan menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah
menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa inkubasi virus
di dalam nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus
dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya.
Pada tahun 2012, jumlah penderita DBD yang dilaporkan sebanyak 90.245 kasus
dengan jumlah kematan 816 orang (Incidence Rate/Angka kesakitan= 37,11 per
100.000 penduduk dan CFR= 0,90%). Terjadi peningkatan jumlah kasus pada tahun 2012
dibandingkan tahun 2011 yang sebesar 65.725 kasus dengan IR 27,67. Target Renstra
angka kesakitan DBD tahun 2012 sebesar 53 per 100.000 penduduk, dengan demikian
Indonesia telah mencapai target Renstra 2012. Berikut tren IR DBD selama kurun waktu
2007-2012.
GAMBAR 3.38
ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE
PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2008-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
97
Pemetaan Angka Kesakitan (Incidence Rate) DBD menurut provinsi tahun 2012 dapat
dilihat pada Gambar 3.39 berikut ini.
GAMBAR 3.39
ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE PER 100.000 PENDUDUK
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Target rencana strategi Kementerian Kesehatan untuk angka kesakitan DBD tahun 2014
sebesar <35 per 100.000 penduduk. Dengan demikian, berdasarkan gambar di atas,
pada tahun 2012 terdapat 15 provinsi (45,45%) yang mencapai target renstra tahun
2012. Sedangkan berdasarkan target rencana strategi Kementerian Kesehatan tahun
2012 yang sebesar <53 per 100.000 penduduk, sebanyak 22 provinsi (66,67%) telah
mencapai target 2012.
Pada tahun 2012 terdapat 5 provinsi yang memiliki CFR akibat DBD tnggi (> 2%) yaitu
Provinsi Papua Barat, Maluku, Gorontalo, Kep. Bangka Belitung, dan Jambi. Hal ini
menunjukkan bahwa masih perlu upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan,
manajemen tata laksana penderita di sarana-sarana pelayanan kesehatan, peningkatan
kualitas dan kuanttas SDM kesehatan di rumah sakit dan puskesmas (dokter, perawat
dan lain-lain) termasuk peningkatan sarana-sarana penunjang diagnostk dan
penatalaksanaan bagi penderita di sarana-sarana pelayanan kesehatan.
Sejalan dengan peningkatan jumlah/angka kesakitan, jumlah kabupaten/kota terjangkit
DBD pada tahun 2012 juga mengalami peningkatan, dari 374 (75,25%) menjadi 417
Kabupaten/Kota (83,9%) pada tahun 2012. Peningkatan ini menunjukkan semakin
luasnya penyebaran DBD. Berikut ini gambaran jumlah kabupaten/kota terjangkit tahun
2008-2012. Selama periode tahun 2005 sampai tahun 2012 jumlah kabupaten/kota
terjangkit DBD cenderung meningkat.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
98
GAMBAR 3.40
JUMLAH KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD
DI INDONESIA TAHUN 2008-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013

Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait dengan penyakit DBD dapat dilihat pada
Lampiran 3.33 dan Lampiran 3.34.
b. Chikungunya
Chikungunya adalah penyakit infeksi akut yang ditandai gejala utama demam, ruam/
bercak-bercak kemerahan di kulit dan nyeri persendian, penyakit ini disebabkan oleh
infeksi virus Chik yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypt dan Aedes albopictus.
Demam chik dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan
epidemi. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya demam chik yaitu rendahnya
status kekebalan kelompok masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena
banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan.
Pada Gambar 3.41 tampak terjadinya penurunan jumlah kasus chikungunya yang
signifkan pada tahun 2012 dibandingkan 3 tahun sebelumnya yaitu sebesar 1.831 kasus.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
99
GAMBAR 3.41
JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA
TAHUN 2007-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Hingga saat ini belum pernah dilaporkan adanya kematan akibat Chikungunya. Faktor
penyebab turunnya kasus antara lain kondisi cuaca yang relatve kering dengan curah
hujan yang rendah, adanya imunitas pada daerah yang pernah terjangkit, sebagian
daerah tdak melaporkan kasus Chikungunya dan lain-lain.
c. Filariasis
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing flaria, yang terdiri
dari 3 (tga) spesies yaitu Wuchereria bancrofi, Brugia malayi dan Brugia tmori. Penyakit
ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening). Filariasis menular melalui gigitan nyamuk
yang mengandung cacing flaria dalam tubuhnya. Dalam tubuh manusia, cacing tersebut
tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan
pembengkakan di kaki, tungkai, payudara, lengan dan organ genital.
Gambar 3.42 menunjukan dari tahun 2008 sampai dengan 2011 kasus klinis flariasis
meningkat dari tahun ke tahun, namun pada tahun 2012 kasus klinis flariasis ada
penurunan sebesar 163 kasus, hal ini disebabkan adanya penderita yang meninggal
karena penyakit lain atau faktor lain.
Provinsi Aceh, NTT, dan Papua merupakan provinsi dengan kasus klinis tertnggi.
Pada tahun 2012 sebanyak 300 kabupaten/kota dari 497 kabupaten/kota (60,4%)
Profil Kesehatan Indonesia 2012
100
GAMBAR 3.42
JUMLAH KASUS KLINIS FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2008 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
di Indonesia merupakan endemis flariasis. Penentuan endemisitas kabupaten/kota
tersebut didasarkan pada hasil survei darah jari dengan mikroflaria ratenya (mf rate)
>1%. Dari 300 kabupaten/kota endemis tersebut, dilaporkan sebanyak 87 kabupaten/
kota telah melaksanakan Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) Filariasis dan
32 Kabupaten/Kota yang telah selesai POMP Filariasis selama 5 tahun berturut-turut.
Upaya pengendalian flariasis lebih lanjut akan dibahas di bagian Upaya Kesehatan.
d. Malaria
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi
komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs). Malaria disebabkan
oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah
manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betna, dapat menyerang semua
orang baik laki-laki ataupun perempuan pada semua golongan umur dari bayi, anak-
anak dan orang dewasa.
Indonesia merupakan salah satu negara yang masih terjadi transmisi malaria (Berisiko
Malaria/Risk-Malaria), dimana pada tahun 2011 terdapat 422.477 kasus dan pada tahun
2012 terjadi penurunan kasus malaria positf menjadi 417.819 kasus.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
101
Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratfkasi endemisitas malaria
suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu :
a. Endemis Tinggi bila API >5 per 1.000 penduduk.
b. Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 - 5 per 1.000 penduduk.
c. Endemis Rendah bila API 0 - 1 per 1.000 penduduki.
d. Non Endemis adalah daerah yang tdak terdapat penularan malaria (Daerah
pembebasan malaria) atau API = 0.
Dari data yang dilaporkan ke Subdit Malaria diperoleh gambaran peta endemisitas
malaria sebagai berikut ini.
GAMBAR 3.43
PETA ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA
TAHUN 2011 DAN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Tahun 2011
Tahun 2012
Profil Kesehatan Indonesia 2012
102
Dari gambaran peta dan tabel endemisitas malaria di kabupaten/kota terlihat penurunan
jumlah daerah endemis tnggi dimana pada tahun 2010 kabupaten/kota yang termasuk
daerah endemis tnggi sebanyak 16,97 %, pada tahun 2011 sebanyak 12% dan sedikit
meningkat pada tahun 2012 sebanyak 12,88 %. Data kasus tahun 2012 mempunyai
tngkat kelengkapan laporan sebesar 80%. Gambar 3.44 berikut ini memperlihatkan
perubahan persentase endemisitas malaria tahun 2010-2012.
GAMBAR 3.44
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA MENURUT TINGKAT ENDEMISITAS
TAHUN 2010-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
e. Angka Kesakitan Malaria
Secara nasional angka kesakitan malaria selama tahun 2005 2012 cenderung menurun
yaitu dari 4,1 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2005 menjadi 1,69 per 1.000
penduduk pada tahun 2012. Sementara target Rencana Strategi Kementerian Kesehatan
untuk API tahun 2012 <1,5 per 1.000 penduduk. Dengan demikian cakupan API 2012
tdak mencapai target Renstra 2012. Penurunan API tersebut dapat dilihat pada gambar
berikut ini.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
103
GAMBAR 3.45
ANGKA KESAKITAN MALARIA (ANNUAL PARACITE INCIDENCE /API)
PER 1.000 PENDUDUK BERISIKO TAHUN 2000-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Sebanyak 20 dari 33 provinsi di Indonesia (60,6%) telah mencapai target Renstra
Kemenkes 2012. Tiga provinsi dengan API tertnggi yaitu Papua (60,56%), Papua Barat
(52,27%) dan Nusa Tenggara Timur (19,41%). Sedangkan DKI Jakarta, Bali, dan Jawa
Barat, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta merupakan provinsi dengan
API < 0,1.
Terdapat 2 jenis tes sediaan darah untuk mendeteksi penyakit malaria yaitu pemeriksaan
mikroskopis dan Rapid Diagnostc Test (RDT). Pemeriksaan mikroskopis menghasilkan
hasil tes sediaan darah lebih akurat dibandingkan RDT. Provinsi Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Banten telah melakukan tes seluruh sediaan darah dengan pemeriksaan
mikroskopis. Secara nasional, sebesar 75,2% sediaan darah dites dengan pemeriksaan
mikroskopis dan 24,8% dites dengan RDT.
Informasi lengkap mengenai jumlah kasus malaria, jenis tes sediaan darah, dan angka
kesakitan per provinsi tahun 2012 dapat dilihat pada Lampiran 3.31 dan Lampiran 3.32.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
104
GAMBAR 3.46
SITUASI KASUS KONFIRMASI FLU BURUNG
DI INDONESIA TAHUN 2005-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Dari gambar di atas dapat dilihat jumlah kasus konfrmasi fu burung di Indonesia paling
banyak dilaporkan pada tahun 2006, setelah itu jumlah kasus fu burung terus menurun
dari tahun ke tahun dari 55 pada tahun 2006 menjadi 9 kasus pada tahun 2012.
Sampai tahun 2012 jumlah kasus terdapat 15 provinsi yang tertular Flu Burung, yaitu
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi
Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Terdapat 2 provinsi yang baru tertular pada tahun
2012 yaitu Bengkulu dan Nusa Tenggara Barat. Distribusi kasus dan kasus meninggal per
provinsi dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut ini
f. Flu Burung
Pada tahun 2012 terdapat 9 kasus fu burung dengan kematan sebesar 100%. Gambar
3.46 berikut ini memperlihatkan kecenderungan kasus dan kematan akibat fu burung
sejak tahun 2005 sampai tahun 2012.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
105
TABEL 3.3
SITUASI FLU BURUNG MENURUT PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2005-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Keterangan: K = Kasus M = Meninggal
Secara kumulatf jumlah kasus fu burung pada manusia dari tahun 2005 sampai
Desember 2012 sebanyak 192 kasus dengan 160 di antaranya meninggal (rata-rata
case fatality rate sebesar 83,3%). Menurut jenis kelamin, sebanyak 57,4% (105 orang)
terkonfrmasi berjenis kelamin perempuan dan 45,3% (87 orang) pada jenis kelamin
laki-laki. Perbedaan sekitar 10% ini perlu ditelit lebih lanjut apakah jenis kelamin
mempengaruhi kekuatan imunitas seseorang terhadap virus Flu Burung.
Distribusi kasus dan kematan akibat fu burung selama tahun 2005-2012 diperlihatkan
pada Gambar 3.47 Grafk di bawah menunjukkan kasus Flu Burung banyak terjadi pada
kelompok balita (< 5 tahun), anak anak (5 14 tahun), remaja (15 19 tahun) dan
dewasa muda (20 39 tahun). Ini berart semua kelompok umur bisa terinfeksi virus
Flu Burung. Kelompok umur dengan kematan relatf rendah yaitu kelompok umur 45
tahun dan kelompok balita dengan CFR masing-masing 60% dan 68%.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
106
GAMBAR 3.47
DISTRIBUSI KASUS DAN KEMATIAN FLU BURUNG
MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2005-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
GAMBAR 3.48
DISTRIBUSI KASUS FLU BURUNG MENURUT FAKTOR RISIKO
DI INDONESIA TAHUN 2005-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Terdapat 2 (dua) faktor risiko terbesar yang dapat menyebabkan terjadinya kasus Flu
Burung yaitu kontak langsung 45 % dan kontak lingkungan 41 % sepert terlihat pada
gambar 3.48:
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
107
g. Rabies
Rabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan
melalui gigitan hewan sepert anjing, kucing, kelelawar, kera, musang dan serigala yang
di dalam tubuhnya mengandung virus rabies.
Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian
rabies, yaitu: GHPR (kasus Gigitan Hewan Penular Rabies), kasus yang divaksinasi dengan
Vaksin Ant Rabies (VAR), dan kasus yang positf rabies dan mat berdasarkan uji Lyssa.
Tahun 2012 terdapat 24 provinsi tertular rabies dari 33 provinsi di Indonesia (sesuai
SK Menteri Pertanian). Saat ini terdapat 9 provinsi yang masih dinyatakan sebagai
daerah bebas rabies, yaitu Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta,
Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, Papua Barat dan Papua. Penentuan suatu
daerah dikatakan tertular rabies berdasarkan ditemukannya positf hasil pemeriksaan
laboratorium terhadap hewannya, kewenangan ini ditentukan oleh Kementerian
Pertanian.
Dari tahun 2008 sampai tahun 2012 jumlah spesimen positf Hewan Penular Rabies
(HPR) menunjukkan peningkatan. Tahun 2012 GPHR sebesar 84.750. Jumlah spesimen
yang diperiksa pada tahun 2012 sebanyak 1.155 spesimen, sedangkan kematan karena
lyssa sebanyak 135 kasus. Jumlah kasus Lyssa pada tahun 2012 terjadi di 16 provinsi, 62
kabupaten/kota.
GAMBAR 3.49
SITUASI RABIES DI INDONESIA
TAHUN 2008 - 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
108
Dari Gambar 3.49 terlihat bahwa persentase penatalaksanaan kasus gigitan/Post
Exposure Treatment (PET) meningkat dari 71.843 dari 84.010 (85,52%) pada tahun 2011
menjadi 74.331 dari 84.750 (87,71%) pada tahun 2012.
Gambar 3.50 berikut ini merupakan sebaran kasus rabies di Indonesia selama tahun
2012.
GAMBAR 3.50
SITUASI RABIES (GHPR DAN LYSSA) DI INDONESIA
TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Pada tahun 2012 terdapat 79.192 kasus gigitan hewan penular rabies yang dilaporkan
terjadi di (23) provinsi. Kasus GHPR paling banyak terjadi di Bali yaitu sebanyak 55.836
kasus dengan kasus meninggal berdasarkan tes lyssa yang positf rabies dan mat
berjumlah 8 orang. Menyusul kemudian Nusa Tenggara Timur dengan 5.564 GHPR dan
8 positf rabies serta Sumatera Utara sebanyak 4.563 GHPR dan 18 positf.
h. Leptospirosis
Leptospira merupakan zoonosis yang diduga paling luas penyebarannya di dunia.
Sumber infeksi pada manusia biasanya akibat kontak secara langsung atau tdak langsung
dengan urine hewan yang terinfeksi. Penyakit ini bersifat musiman, di daerah yang
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
109
beriklim sedang masa puncak insidens dijumpai pada musim panas dan musim gugur
karena temperatur adalah faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup Leptospira,
sedangkan di daerah tropis insidens tertnggi selama musim hujan.
Provinsi yang masih melaporkan adanya kasus leptopirosis dari tahun 2005 sampai
tahun 2012 adalah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Sedangkan
di Jawa Barat, tahun 2005-2009 dilaporkan tdak ada kasus leptospirosis. Provinsi Jawa
Timur juga melaporkan tdak adanya kasus leptospirosis pada tahun 2005, 2006, dan
2009 sepert terlihat pada tabel di bawah ini.
TABEL 3.4
DISTRIBUSI KASUS LEPTOSPIROSIS DI 5 PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2005 2012
Terdapat lonjakan kasus Leptospirosis yang terjadi di beberapa provinsi. Tahun 2007,
lonjakan terjadi di DKI Jakarta akibat terjadinya banjir besar di pada bulan Februari.
Pada tahun 2011 terjadi pula peningkatan yang cukup tnggi yang terjadi di Provinsi DIY
akibat terjadinya KLB leptospirosis di Kabupaten Bantul. Secara nasional pada tahun
2012 terjadi penurunan kasus leptospirosis yang cukup tajam dari 855 kasus pada tahun
2011 menjadi 239 kasus. Angka kematan leptospirosis 8 tahun terakhir dapat dilihat
pada Gambar 3.51.
Walaupun jumlah kasus pada tahun 2012 relatf rendah dibandingkan tujuh tahun
sebelumnya, namun angka kematan akibat leptospirosis meningkat pada tahun 2012
yaitu sebesar 12,13%, yang merupakan CFR paling besar selama periode 2006-2012.
Beberapa masalah dalam kegiatan penanggulangan Leptospirosis di Indonesia
diantaranya sebagian besar pasien Leptospirosis datang ke rumah sakit dalam keadaan
terlambat, masih rendahnya sensitvitas kemampuan petugas kesehatan dasar dalam
mendiagnosa leptospirosis, terbatasnya ketersediaan RDT serta managemen dan
pelaporan yang belum baik.
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
110
GAMBAR 3.51
SITUASI LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA
TAHUN 2005 - 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) leptospirosis ditujukan pada upaya penemuan
dini serta pengobatan segera penderita untuk mencegah kematan. Intervensi lingkungan
untuk mencegah munculnya sarang-sarang atau tempat persembunyaian tkus. Vaksinasi
hewan peliharaan terhadap leptospira.
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
111
GAMBAR 3.52
JUMLAH KASUS DAN CFR ANTRAKS
DI INDONESIA TAHUN 2008-2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2012
i. Antraks
Penyakit antraks merupakan salah satu penyakit zoonosa yang menjadi masalah
kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh kuman antraks
(Bacillus anthracis). Kuman ini dapat membentuk spora yang tahan terhadap perubahan
lingkungan dan dapat bertahan hidup selama 60 tahun didalam tanah, sehingga sulit
untuk dimusnahkan. Sumber penularan antraks adalah hewan peliharaan sepert sapi,
kerbau, kambing dan domba yang terinfeksi Bacillus anthracis.
Pada tahun 2012 telah dilaporkan sebanyak 18 kasus antraks kulit di Kabupaten Ende
Provinsi Nusa Tenggara Timur dan 4 kasus di Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan.
Sehingga total kasus pada tahun 2012 sebanyak 22 kasus dan tdak ada kematan (CFR=
0). Berikut ini digambarkan distribusi kasus antraks selama lima tahun terakhir.
Pengendalian kasus antraks dapat dilakukan dengan peningkatan kegiatan surveilans
yang intensif terhadap kasus antraks dengan fokus daerah endemis atau daerah rawan
lainnya. Kegiatan surveilans diintensifan pada hari-hari perayaan agama sepert Hari
Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal ataupun perayaan hari besar lainnya dan juga saat
dimungkinkan konsumsi daging meningkat.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
112
4. Penyakit Tidak Menular
a. Diabetes Melitus
Diabetes Mellitus (DM) adalah salah satu penyebab utama kematan yang disebabkan
oleh karena pola makan/nutrisi, perilaku tdak sehat, kurang aktftas fsik dan stres.
Menurut laporan Riskesdas 2007, DM menyumbang 4,2% kematan pada kelompok
umur 15-44 tahun di daerah perkotaan dan merupakan penyebab kematan tertnggi
ke-6. Selain pada kelompok tersebut, DM juga merupakan penyebab kematan tertnggi
ke-2 pada kelompok umur 45-54 tahun di perkotaan (14,7%) dan tertnggi ke-6 di daerah
perdesaan (5,8%).
Menurut riset yang sama, prevalensi DM di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0,7%
berdasarkan diagnosis dan sebesar 1,1% berdasarkan diagnosis atau gejala. Berikut
ini disajikan prevalensi diabetes mellitus berdasarkan doagnosis atau gejala menurut
provinsi tahun 2007.Berdasarkan diagnosis atau gejala, DKI Jakarta merupakan provinsi
dengan prevalensi DM tertnggi yaitu sebesar 2,6%, diikut oleh Aceh sebesar 1,7%.
Sedangkan provinsi dengan prevalensi terendah yaitu Lampung sebesar 0,4% serta
Sumatera, Bengkulu, dan Maluku yang masing-masing memiliki prevalensi DM sebesar
0,5%. Berdasarkan kategori, terdapat 5 provinsi (15,2%) dengan prevalensi lebih dari
1,5%, sebanyak 15 provinsi (45,5%) dengan prevalensi 1%-1,5%, dan sebanyak 13
provinsi (39,4%) dengan prevalensi kurang dari 1%.
Diabetes mellitus sangat berkaitan dengan obesitas. Prevalensi obesitas penduduk
> 18 tahun di Indonesia sebesar 11,7%, sebesar 7,8% pada laki-laki dan 15,5% pada
perempuan.
Menurut data morbiditas pada pasien rawat inap RS di seluruh Indonesia pada tahun
2009, jumlah penderita DM tertnggi terdapat pada kelompok umur 45-64 tahun,
diikut kelompok umur 65 tahun ke atas dan kelompok umur 25-44 tahun. Sedangkan
data mortalitas DM di RS menggambarkan 74,3% merupakan pasien DM yang tdak
bergantung pada insulin dan 25,7% selebihnya merupakan pasien DM yang bergantung
pada insulin.
b. Penyakit jantung dan pembuluh darah
Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7,2% berdasarkan wawancara,
sementara berdasarkan riwayat diagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
113
0,9%. Cakupan kasus jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar
12,5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektf menyerupai gejala
penyakit jantung.
Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi, berkisar antara 0,4% di Sulawesi Barat
sampai 2,0% di Aceh.
Pengukuran tekanan darah sebelum melakukan senam jantung sehat
F
o
t
o
:

s
b
a
c
h
r
u
n
@
g
m
i
a
l
.
c
o
m
Profil Kesehatan Indonesia 2012
114
E. DAMPAK KESEHATAN AKIBAT BENCANA
Menurut UU no 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana dikategorikan
menjadi bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Bencana yang
diakibatkan oleh peristwa atau serangkaian peristwa yang disebabkan oleh alam antara
lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan
tanah langsor. Bencana non alam antara lain kebakaran hutan yang disebabkan oleh
manusia, kecelakan transportasi, kegagalan konstruksi, dampak industri, ledakan nuklir,
pencemaran lingkungan dan kegiatan keantariksaan. Bencana sosial antara lain berupa
kerusuhan sosial dan konfik sosial dalam masyarakat yang sering terjadi.
Di Indonesia selama tahun 2012 tercatat 489 kali kejadian bencana yang menimbulkan
krisis kesehatan terdiri dari 22 jenis bencana. Lebih tnggi dibandingkan tahun 2011
yang sebanyak 211 kali.
Jika pada tahun 2011 banjir merupakan bencana yang paling tnggi frekuensinya, pada
GAMBAR 3.53
FREKUENSI KEJADIAN BENCANA
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Pusat Penanggulangan Krisis, 2013
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
115
tahun 2012 bencana yang paling sering terjadi yaitu kebakaran sebanyak 16% kejadian
(76 kali) bencana dengan jumlah total korban meninggal sebanyak 88 orang, luka berat/
rawat inap sebanyak 129 orang, luka ringan/rawat jalan sebanyak 247 orang. Adapun
jumlah pengungsi akibat kebakaran mencapai 8.130 orang. Gambar 3.53 adalah
frekuensi kejadian bencana selama tahun 2012.
Korban meninggal dunia pada tahun 2012 paling banyak disebabkan oleh kejadian
kecelakaan transportasi dengan jumlah 314 jiwa dari 675 kematan (46,5%). Jumlah
pengungsi terbanyak diakibatkan banjir yaitu sebanyak 34.454 dari 74.141 jiwa (46,5%).
Rincian jumlah korban dan pengungsi berdasarkan jenis bencana dan keadaan korban
selama tahun 2012 dapat dilihat pada Lampiran 3.38.

F
o
t
o
:

P
u
s
a
t

K
o
m
u
n
i
k
a
s
i

P
u
b
l
i
k
Posko Kesehatan untuk korban bencana di Aceh
SITUASI UPAYA KESEHATAN
Imunisasi Dasar
SITUASI UPAYA KESEHATAN
F
o
t
o
:

A
n
d
i

S
a
h
r
i
a
l


-

P
u
s
k
o
m
Profil Kesehatan Indonesia 2012
118
ecara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama, yaitu upaya
kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Upaya kesehatan
masyarakat adalah setap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau
masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah
dan menanggulangi tmbulnya masalah kesehatan di masyarakat. Upaya kesehatan
masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan,
pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tdak menular, penyehatan
lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan jiwa,
pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat aditf
dalam makanan dan minuman, pengamanan narkotka, psikotropika, zat adiktf dan
bahan berbahaya, serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Upaya kesehatan perorangan adalah setap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah
dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan.
Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan
penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan
kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan.
Berikut ini diuraikan upaya kesehatan yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir,
khususnya pada tahun 2012.
A. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK
Salah satu komponen pentng dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah
pelayanan kesehatan dasar. Pelayanan kesehatan dasar yang dilakukan secara tepat
dan cepat diharapkan dapat mengatasi sebagian besar masalah kesehatan masyarakat.
Pada uraian berikut dijelaskan jenis pelayanan kesehatan dasar yang diselenggarakan di
Indonesia.
BAB 4. SITUASI UPAYA KESEHATAN
S
SITUASI UPAYA KESEHATAN
119
UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanatkan bahwa upaya kesehatan
ibu ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi
yang sehat dan berkualitas serta mengurangi angka kematan ibu. Upaya kesehatan
ibu sebagaimana dimaksud pada Undang-Undang tersebut meliput upaya promotf,
preventf, kuratf dan rehabilitatf.
Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan untuk mempersiapkan
generasi yang akan datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan
angka kematan bayi dan anak. Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak
janin masih dalam kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan, dan sampai berusia 18
(delapan belas) tahun.
Upaya kesehatan ibu dan anak diharapkan mampu menurunkan angka kematan.
Indikator angka kematan yang berhubungan dengan ibu dan anak adalah Angka
Kematan Ibu (AKI), Angka Kematan Neonatal (AKN), Angka Kematan Bayi (AKB), dan
Angka Kematan Balita (AKABA). Berdasarkan hasil Survei Demograf dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2007, AKI sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan SDKI
tahun 2012 menyebutkan bahwa AKB sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup AKN sebesar
19 per 1.000 kelahiran hidup, dan AKABA sebesar 40 per 1.000 kelahiran hidup.
Komitmen global dalam MDGs menetapkan target terkait kematan ibu dan kematan
anak yaitu menurunkan Angka Kematan Ibu hingga tga per empat dalam kurun waktu
1990-2015 dan menurunkan angka kematan anak hingga dua per tga dalam kurun
waktu 1990-2015.
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil
Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan antenatal
sekurang-kurangnya 4 kali selama masa kehamilan, dengan distribusi waktu minimal 1
kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), 1 kali pada trimester kedua
(usia kehamilan 12-24 minggu), dan 2 kali pada trimester ketga (usia kehamilan 24-36
minggu). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan
terhadap ibu hamil dan atau janin, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan
penanganan dini komplikasi kehamilan.
Pelayanan antenatal diupayakan agar memenuhi standar kualitas 7 T, yaitu :
1. Penimbangan berat badan dan pengukuran tnggi badan;
2. Pengukuran tekanan darah;
Profil Kesehatan Indonesia 2012
120
3. Pengukuran tnggi puncak rahim (fundus uteri);
4. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid
sesuai status imunisasi;
5. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan;
6. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling,
termasuk keluarga berencana); serta
7. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb) dan
pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya).
Capaian pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator
Cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh
pelayanan antenatal pertama kali, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu
wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Sedangkan Cakupan K4 adalah jumlah ibu
hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit
4 kali sesuai jadwal yang dianjurkan, dibandingkan sasaran ibu hamil di satu wilayah
kerja pada kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan
kesehatan terhadap ibu hamil dan tngkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan
kehamilannya ke tenaga kesehatan.
Gambaran kecenderungan Cakupan K1 dan Cakupan K4 dari tahun 2004 sampai dengan
tahun 2012 nampak pada Gambar 4.1 berikut ini.
GAMBAR 4.1
CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K1 DAN K4
DI INDONESIA TAHUN 2004 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
SITUASI UPAYA KESEHATAN
121
Pada Gambar 4.1 di atas nampak adanya kecenderungan peningkatan cakupan K1 dan
cakupan K4 mulai dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2012. Hal ini menunjukkan
semakin membaiknya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu hamil yang
diberikan oleh tenaga kesehatan.
Pada tahun 2012, capaian indikator kinerja Persentase Ibu Hamil Mendapat Pelayanan
Antenatal (Cakupan K4) dapat terealisasi dengan baik yaitu mencapai 90,18%.
Walaupun secara nasional, capaian tersebut telah melampaui target Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan Tahun 2012 sebesar 90%, namun masih terdapat disparitas
cakupan antar provinsi. Data cakupan K4 menurut distribusi provinsi menunjukkan
adanya kesenjangan cakupan antar provinsi dengan capaian tertnggi terdapat di Provinsi
DKI Jakarta sebesar 96,37%, diikut oleh Jawa Tengah sebesar 95,65% dan Kepulauan
Bangka Belitung sebesar 95,43%. Sedangkan provinsi dengan capaian terendah adalah
Papua sebesar 34,48%, diikut oleh Papua Barat sebesar 64,34%, dan Nusa Tenggara
Timur sebesar 67,67%.
GAMBAR 4.2
CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
122
Pada gambar 4.2 dapat diketahui bahwa, sebagian besar provinsi telah memenuhi target
Renstra 2012 yaitu sebanyak 19 provinsi (57,6%). Sedangkan 14 provinsi lainnya belum
mencapai target Renstra 2012.
Berbagai program dan kegiatan telah dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan untuk
semakin mendekatkan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat
hingga ke pelosok desa, termasuk untuk meningkatkan cakupan pelayanan antenatal.
Dari segi sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan, hingga Desember 2012, tercatat
9.510 Puskesmas di seluruh Indonesia. Dengan demikian rasio Puskesmas terhadap
30.000 penduduk sudah mencapai rasio ideal 1:30.000 penduduk. Demikian pula dengan
Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) sepert Poskesdes dan Posyandu.
Sampai dengan tahun 2012, tercatat terdapat 54.142 Poskesdes yang beroperasi dan
276.392 Posyandu di Indonesia.
Upaya meningkatkan cakupan K4 juga makin diperkuat dengan telah dikembangkannya
Kelas Ibu Hamil. Sampai saat ini telah terdapat 7.074 Puskesmas yang melaksanakan
dan mengembangkan Kelas Ibu Hamil di wilayah kerjanya. Kelas Ibu Hamil akan
meningkatkan demand creaton di kalangan ibu hamil dan keluarganya, dengan
meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil dan keluarganya dalam
memperoleh pelayanan kesehatan ibu secara paripurna.
Adanya Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) sejak tahun 2010 dan diluncurkannya
Jaminan Persalinan (Jampersal) sejak tahun 2011 juga semakin bersinergi dalam
berkontribusi meningkatkan cakupan K4. BOK dapat dimanfaatkan untuk kegiatan
luar gedung, sepert pendataan, pelayanan di Posyandu, kunjungan rumah, sweeping
kasus drop out, serta kemitraan bidan dan dukun. Sementara itu Jampersal mendukung
paket pelayanan antenatal, termasuk yang dilakukan pada saat kunjungan rumah atau
sweeping. Semakin kuatnya kerja sama dan sinergi berbagai program yang dilakukan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat termasuk sektor swasta diharapkan
mampu mendorong tercapainya target cakupan K4.
Informasi lebih rinci terkait pelayanan kesehatan ibu hamil menurut provinsi terdapat
pada Lampiran 4.1.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
123
2. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin
Upaya kesehatan ibu bersalin dilaksanakan dalam rangka mendorong agar setap
persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlath dan dilakukan di fasilitas pelayanan
kesehatan. Pertolongan persalinan adalah proses pelayanan persalinan dimulai pada
kala I sampai dengan kala IV persalinan. Pencapaian upaya kesehatan ibu bersalin diukur
melalui indikator persentase persalinan ditolong tenaga kesehatan terlath (Cakupan
Pn). Indikator ini memperlihatkan tngkat kemampuan Pemerintah dalam menyediakan
pelayanan persalinan berkualitas yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlath.
Persentase persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terlath (cakupan Pn) di Indonesia
pada tahun 2012 mencapai 88,64%. Angka ini telah berhasil memenuhi target Renstra
Kementerian Kesehatan Tahun 2012 sebesar 88%. Capaian indikator ini dalam 9 tahun
terakhir menunjukkan kecenderungan peningkatan, yaitu dari 74,27% pada tahun 2004
menjadi 88,64% pada tahun 2012.
GAMBAR 4.3
CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN
OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004 2012
Secara nasional indikator ini memang telah berhasil memenuhi target Renstra tahun
2012, namun demikian masih terdapat kesenjangan antar provinsi. Provinsi dengan
cakupan tertnggi adalah DI Yogyakarta sebesar 98,62%, diikut oleh Kepulauan Riau dan
Kepulauan Bangka Belitung masing-masing sebesar 97,95%. Sedangkan Provinsi Papua
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
124
GAMBAR 4.4
CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Berdasarkan Gambar 4.4 dapat diketahui bahwa terdapat 17 provinsi (51,5%) dengan
capaian melebihi target Renstra 2012 sebesar 88%. Sedangkan 16 provinsi lainnya
memiliki capaian di bawah Renstra 2012.
Kematan ibu terkait erat dengan penolong persalinan dan tempat/fasilitas persalinan.
Persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terbukt berkontribusi terhadap turunnya
risiko kematan ibu. Demikian pula dengan tempat/fasilitas, jika persalinan dilakukan
di fasilitas kesehatan, juga akan semakin menekan risiko kematan ibu. Oleh karena itu,
kebijakan Kementerian Kesehatan adalah seluruh persalinan harus ditolong oleh tenaga
kesehatan dan diupayakan dilakukan di fasilitas kesehatan. Kebijakan DAK Bidang
Kesehatan menggariskan bahwa pembangunan Puskesmas harus satu paket dengan
memiliki capaian terendah sebesar 43,54% diikut oleh Papua Barat sebesar 65,15%,
dan Nusa Tenggara Timur sebesar 69,41%.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
125
rumah dinas tenaga kesehatan. Demikian pula dengan pembangunan Poskesdes yang
harus bisa sekaligus menjadi rumah tnggal bidan di desa. Sampai tahun 2012, terdapat
54.142 Poskesdes di seluruh Indonesia. Dengan disediakan rumah tnggal, maka tenaga
kesehatan termasuk bidan akan siaga di daerah tempat tugasnya. Bidan yang tnggal di
desa memberikan kontribusi positf dalam penurunan kematan ibu.
Upaya pentng dalam program kesehatan ibu di Indonesia adalah Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) yang menitkberatkan fokus totalitas
pemantauan yang menjadi salah satu upaya deteksi dini, menghindari risiko kesehatan
pada ibu hamil serta menyediakan akses dan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan
dan bayi baru lahir dasar di tngkat Puskesmas (PONED) dan pelayanan kegawatdaruratan
obstetri dan neonatal komprehensif di Rumah Sakit (PONEK). Dalam implementasinya,
P4K merupakan salah satu unsur dari Desa Siaga. Sampai dengan tahun 2011, tercatat
61.731 desa (80%) telah melaksanakan P4K.
Di sebagian daerah di Indonesia, cakupan persalinan ditolong tenaga kesehatan masih
rendah dikarenakan masih adanya kepercayaan masyarakat untuk melahirkan ditolong
dukun. Selain itu, di daerah dengan kondisi geografs sulit, masyarakat menghadapi
kendala untuk dapat mengakses fasilitas pelayanan kesehatan secara cepat. Pada daerah-
daerah tersebut, kebijakan Kementerian Kesehatan adalah dengan mengembangkan
program Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu Kelahiran. Para dukun
diupayakan bermitra dengan bidan dengan hak dan kewajiban yang jelas. Pemeriksaan
kehamilan dan pertolongan persalinan tdak lagi dikerjakan oleh dukun, namun dirujuk
ke bidan. Sampai dengan tahun 2011, tercatat sudah 72.963 dukun (68,6%) yang
bermitra dengan bidan.
Ibu hamil yang di daerahnya tdak ada bidan atau memang memiliki kondisi penyulit,
maka menjelang hari taksiran persalinan diupayakan sudah berada di dekat fasilitas
kesehatan, yaitu di Rumah Tunggu Kelahiran. Rumah Tunggu Kelahiran tersebut dapat
berupa rumah tunggu khusus maupun di rumah sanak saudara yang dekat dengan
fasilitas kesehatan. Sampai tahun 2011, tercatat 6 Rumah Tunggu Kelahiran di wilayah
Puskesmas DTPK dan 2.700 Rumah Tunggu Kelahiran di luar wilayah Puskesmas DTPK.
Salah satu hal yang menjadi alasan seorang ibu melahirkan di rumah dan dibantu oleh
dukun adalah hambatan fnansial. Menyadari hal tersebut, Kementerian Kesehatan sejak
tahun 2011 meluncurkan program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang merupakan
jaminan paket pembiayaan sejak pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan,
hingga pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
126
Penyediaan Jampersal diyakini turut meningkatkan cakupan Pn di seluruh wilayah Tanah
Air.
Keberhasilan pencapaian target indikator Pn merupakan buah dari kerja keras dan
pelaksanaan berbagai program yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat termasuk sektor swasta. Informasi lebih rinci terkait pelayanan kesehatan
ibu bersalin menurut provinsi terdapat pada Lampiran 4.1.
3. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Nifas adalah periode mulai dari 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan. Pelayanan
kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan pada ibu nifas sesuai standar yang
dilakukan sekurang-kurangnya 3 (tga) kali sesuai jadwal yang dianjurkan, yaitu pada 6
jam sampai dengan 3 hari pasca persalinan, pada hari ke-4 sampai dengan hari ke-28
pasca persalinan, dan pada hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 pasca persalinan.
Jenis pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliput :
a. Pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas, dan suhu);
b. Pemeriksaan tnggi puncak rahim (fundus uteri);
c. Pemeriksaan lokhia dan cairan per vaginam lain;
d. Pemeriksaan payudara dan pemberian anjuran ASI eksklusif;
e. Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kesehatan ibu nifas dan bayi
baru lahir, termasuk keluarga berencana;
f. Pelayanan keluarga berencana pasca persalinan.
Keberhasilan upaya kesehatan ibu nifas diukur melalui indikator cakupan pelayanan
kesehatan ibu nifas (Cakupan Kf-3). Indikator ini menilai kemampuan negara dalam
menyediakan pelayanan kesehatan ibu nifas yang berkualitas sesuai standar.
Capaian indikator Kf-3 dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 menggambarkan
kecenderungan yang semakin meningkat, yaitu mulai dari 17,90% pada tahun 2008
menjadi 85,16% pada tahun 2012.
Capaian indikator Kf-3 yang meningkat dalam 5 tahun terakhir merupakan hasil dari
berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat termasuk sektor
swasta. Program penempatan Pegawai Tidak Tetap (PTT) untuk dokter dan bidan
terus dilaksanakan. Selain itu, dengan diluncurkannya Bantuan Operasional Kesehatan
(BOK) sejak tahun 2010, Puskesmas, Poskesdes, dan Posyandu lebih terbantu dalam
mengintensifan implementasi upaya kesehatan termasuk di dalamnya pelayanan
kesehatan ibu nifas, diantaranya kegiatan sweeping atau kunjungan rumah bagi yang
tdak datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Dukungan Pemerintah makin meningkat
SITUASI UPAYA KESEHATAN
127
GAMBAR 4.5
CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF-3) DI INDONESIA TAHUN 2008-2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI
sejak diluncurkannya Jampersal pada tahun 2011, dimana pelayanan nifas termasuk
paket manfaat yang dijamin oleh Jampersal.
GAMBAR 4.6
CAKUPAN PELAYANAN IBU NIFAS (KF-3) MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Gambaran capaian indikator Kf-3 di 33 provinsi disajikan pada Gambar 4.6 berikut ini.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
128
Pada gambar di atas nampak bahwa cakupan pelayanan ibu nifas di Indonesia pada tahun
2012 adalah 85,16%. Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (SPM) menetapkan
target pelayanan nifas pada tahun 2015 sebesar 90%. Pada tahun 2012, terdapat 7
Provinsi dengan capaian di atas 90% yaitu Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah,
Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, dan Bali. Capaian indikator pelayanan nifas
pada tahun 2015 diharapkan telah memenuhi target SPM 90%.
Provinsi dengan capaian Kf-3 tertnggi pada tahun 2012 adalah Jambi sebesar 95,77%
diikut oleh Jawa Barat sebesar 95,61%, dan Jawa Timur sebesar 94,3%. Sedangkan
provinsi dengan capaian terendah adalah Papua sebesar 27,61%, diikut oleh Papua
Barat sebesar 57,06%, dan Kalimantan Timur sebesar 63,91%. Informasi lebih rinci
menurut provinsi terkait pelayanan kesehatan ibu nifas menurut provinsi terdapat pada
Lampiran 4.1.
4. Penanganan Komplikasi Maternal
Komplikasi maternal adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan atau
janin dalam kandungan, baik langsung maupun tdak langsung, termasuk penyakit
menular dan tdak menular yang dapat mengancam jiwa ibu dan atau janin, yang tdak
disebabkan oleh trauma/kecelakaan. Pencegahan dan penanganan komplikasi maternal
adalah pelayanan kepada ibu dengan komplikasi maternal untuk mendapatkan
perlindungan/pencegahan dan penanganan defnitf sesuai standar oleh tenaga
kesehatan kompeten pada tngkat pelayanan dasar dan rujukan.
Indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pencegahan dan penanganan
komplikasi maternal adalah cakupan penanganan komplikasi maternal (Cakupan PK).
Indikator ini mengukur kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan
kesehatan secara profesional kepada ibu (hamil, bersalin, nifas) dengan komplikasi.
Capaian indikator penanganan komplikasi maternal dari tahun 2008 sampai dengan
tahun 2012 disajikan pada Gambar 4.7.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
129
Pada Gambar 4.7 dapat diketahui bahwa terjadi penurunan cakupan penanganan
komplikasi maternal, yaitu dari 44,84% pada tahun 2008 menjadi 42,29% pada tahun
2009. Capaian ini kemudian terus meningkat hingga mencapai 69,15% pada tahun 2012.
Berdasarkan Laporan Rutn Program Kesehatan Ibu Dinas Kesehatan Provinsi Tahun
2012, penyebab kematan ibu di Indonesia masih didominasi oleh Perdarahan (32%)
dan Hipertensi dalam Kehamilan (25%), diikut oleh infeksi (5%), partus lama (5%), dan
abortus (1%). Selain penyebab obstetrik, kematan ibu juga disebabkan oleh penyebab
lain-lain (non obstetrik) sebesar 32%.
Walaupun sebagian komplikasi maternal tdak dapat dicegah dan diperkirakan
sebelumnya, tdak berart bahwa komplikasi tersebut tdak dapat ditangani. Mengingat
bahwa setap ibu hamil/bersalin/nifas berisiko mengalami komplikasi, maka mereka
perlu mempunyai akses terhadap pelayanan kegawatdaruratan maternal/obstetrik.
Terdapat tga jenis area intervensi yang dilakukan untuk menurunkan angka kematan
dan kesakitan ibu dan neonatal yaitu melalui : 1) peningkatan pelayanan antenatal yang
mampu mendeteksi dan menangani kasus risiko tnggi secara memadai; 2) pertolongan
persalinan yang bersih dan aman oleh tenaga kesehatan terampil, pelayanan pasca
persalinan dan kelahiran; serta 3) pelayanan emergensi obstetrik dan neonatal dasar
(PONED) dan komprehensif (PONEK) yang dapat dijangkau.
Upaya terobosan dalam penurunan AKI dan AKB di Indonesia adalah melalui Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) yang menitkberatkan fokus
GAMBAR 4.7
CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI MATERNAL
DI INDONESIA TAHUN 2008-2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
130
totalitas monitoring yang menjadi salah satu upaya deteksi dini, menghindari risiko
kesehatan pada ibu hamil serta menyediakan akses dan pelayanan kegawatdaruratan
obstetri dan neonatal dasar di tngkat Puskesmas (PONED) dan pelayanan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal komprehensif di Rumah Sakit (PONEK). Dalam
implementasinya, P4K merupakan salah satu unsur dari Desa Siaga. Sampai dengan
tahun 2011, tercatat 61,731 (80%) desa/kelurahan telah melaksanakan P4K.
Sesuai Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014, ditargetkan pada
akhir tahun 2014 di setap kabupaten/kota terdapat minimal 4 (empat) Puskesmas
rawat inap mampu PONED dan 1 (satu) Rumah Sakit Kabupaten/Kota yang mampu
melaksanakan PONEK. Melalui pengelolaan pelayanan PONED dan PONEK, Puskesmas
dan Rumah Sakit diharapkan bisa menjadi insttusi terdepan dimana kasus komplikasi
dan rujukan dapat diatasi dengan cepat dan tepat.
Standardisasi PONEK untuk rumah sakit dilakukan oleh Direktorat Bina Upaya Kesehatan
Rujukan bekerjasama dengan Jaringan Nasional Pelathan Klinik-Kesehatan Reproduksi
(Badan Khusus POGI yang menghimpun unit-unit pelathan klinik organisasi profesi
POGI, IDAI, IBI dan PPNI). Lokakarya PONEK dilakukan selama 5 hari, meliput materi
manajemen dan klinik PONEK yang kemudian diikut dengan lathan on the job training
PONEK untuk mengenalkan cara melakukan bimbingan teknis untuk perbaikan kinerja
Tim PONEK rumah sakit. Jumlah rumah sakit siap PONEK di Indonesia sampai dengan
tahun 2011 sebanyak 388 (87,39%) rumah sakit dari 444 rumah sakit umum milik
Pemerintah.
Selain itu dilakukan pula kegiatan Audit Maternal Perinatal (AMP), yang merupakan
upaya dalam penilaian pelaksanaan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu
dan bayi baru lahir melalui pembahasan kasus kematan ibu atau bayi baru lahir sejak
di level masyarakat sampai di level fasilitas pelayanan kesehatan. Kendala yang tmbul
dalam upaya penyelamatan ibu pada saat terjadi kegawatdaruratan maternal dan bayi
baru lahir akan dapat menghasilkan suatu rekomendasi dalam upaya peningkatan mutu
pelayanan kesehatan ibu dan bayi di masa mendatang. Data dan informasi tentang
penanganan komplikasi maternal menurut provinsi terdapat pada Lampiran 4.8.
5. Penanganan Komplikasi Neonatal
Neonatal komplikasi adalah neonatal dengan penyakit dan atau kelainan yang dapat
menyebabkan kecacatan dan atau kematan, sepert asfksia, ikterus, hipotermia, tetanus
SITUASI UPAYA KESEHATAN
131
GAMBAR 4.8
CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir, BBLR (Berat Lahir < 2.500 gram), sindroma
gangguan pernafasan, dan kelainan kongenital maupun yang termasuk klasifkasi kuning
pada pemeriksaan dengan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM).
Yang dimaksud dengan penanganan Neonatal komplikasi adalah neonatal sakit dan
atau neonatal dengan kelainan yang mendapat pelayanan sesuai standar oleh tenaga
kesehatan (dokter, bidan atau perawat) baik di rumah, sarana pelayanan kesehatan
dasar maupun sarana pelayanan kesehatan rujukan. Pelayanan sesuai standar antara
lain sesuai dengan standar MTBM, manajemen Asfksia Bayi Baru Lahir, manajemen
Bayi Berat Lahir Rendah, pedoman pelayanan neonatal essensial di tngkat pelayanan
kesehatan dasar, PONED, PONEK atau standar operasional pelayanan lainnya.
Pada Gambar 4.8 berikut ini disajikan gambaran cakupan penanganan neonatal
komplikasi tahun 2012 di 33 provinsi di Indonesia.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
132
Pada Gambar 4.8 di atas nampak bahwa capaian penanganan neonatal komplikasi pada
tahun 2012 sebesar 48,58%. Indikator ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun
2011 sebesar 39,46%.
Meskipun terjadi peningkatan capaian, namun masih terdapat disparitas antar provinsi.
Provinsi Jawa Timur memiliki capaian tertnggi sebesar 74,16% diikut oleh Bengkulu
sebesar 71,89%, dan DI Yogyakarta sebesar 71,88%. Capaian terendah terdapat di
Provinsi Papua Barat sebesar 11,52%, diikut oleh Papua sebesar 19,45%, dan Sulawesi
Tenggara sebesar 21,02%.
Cakupan penanganan komplikasi neonatal yang rendah dapat disebabkan oleh beberapa
permasalahan diantaranya sistem pencatatan dan pelaporan penanganan neonatal
dengan komplikasi yang belum mengakomodir semua laporan fasilitas kesehatan dasar
dan rujukan swasta. Rendahnya cakupan penanganan juga dapat disebabkan masih
terdapat tenaga kesehatan yang belum memahami defnisi operasional dari terminologi
penanganan neonatal dengan komplikasi. Informasi lebih rinci menurut provinsi tentang
penanganan komplikasi neonatal terdapat pada Lampiran 4.8.
6. Kunjungan Neonatal
Bayi baru lahir atau yang lebih dikenal dengan neonatal merupakan salah satu kelompok
yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan. Beberapa upaya kesehatan dilakukan
untuk mengendalikan risiko pada kelompok ini diantaranya dengan mengupayakan agar
persalinan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan serta menjamin
tersedianya pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjungan bayi baru lahir.
Menurut Riskesdas tahun 2007, diketahui bahwa sebagian besar kematan neonatal
(78,5%) terjadi pada minggu pertama kehidupan (0-7 hari). Dengan melihat adanya
risiko kematan yang tnggi pada minggu pertama ini, maka setap bayi baru lahir harus
mendapatkan pemeriksaan sesuai standar lebih sering dalam minggu pertama. Langkah
ini dilakukan agar penyakit dan tanda bahaya dapat dideteksi sedini mungkin sehingga
intervensi dapat segera dilakukan untuk mengendalikan risiko kematan. Terkait
hal tersebut, pada tahun 2008 ditetapkan perubahan kebijakan dalam pelaksanaan
kunjungan neonatal, dari 2 kali yaitu satu kali pada minggu pertama dan satu kali
pada 8-28 hari, menjadi 3 kali yaitu dua kali pada minggu pertama dan satu kali pada
8 28 hari. Dengan demikian, jadwal kunjungan neonatal yang dilaksanakan saat ini
adalah pada umur 6-48 jam, umur 3-7 hari dan umur 8-28 hari. Indikator ini mengukur
SITUASI UPAYA KESEHATAN
133
GAMBAR 4.9
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL PERTAMA (KN1)
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan neonatal
yang komprehensif.
Pelayanan kesehatan neonatal sesuai standar adalah pelayanan kesehatan neonatal saat
lahir dan pelayanan kesehatan saat kunjungan neonatal sebanyak 3 kali. Pelayanan yang
diberikan saat kunjungan neonatal adalah pemeriksaan sesuai standar Manajemen
Terpadu Bayi Muda (MTBM) dan konseling perawatan bayi baru lahir termasuk ASI
eksklusif dan perawatan tali pusat. Pada kunjungan neonatal pertama (KN1), bayi baru
lahir mendapatkan vitamin K1 injeksi dan imunisasi hepatts B0 bila belum diberikan
pada saat lahir. Cakupan indikator kunjungan neonatal pertama di 33 provinsi,
digambarkan pada Gambar 4.9.
Gambar 4.9 menunjukkan bahwa cakupan KN1 tahun 2012 telah memenuhi target Renstra
2012 yaitu 92,31% dari target 88%. Dengan demikian, terdapat 23 provinsi (69,7%) telah
memenuhi target Renstra Kemenkes. Pada Gambar 4.9 juga diketahui bahwa provinsi
dengan capaian tertnggi adalah Bali sebesar 99,49% diikut oleh DI Yogyakarta sebesar
Profil Kesehatan Indonesia 2012
134
GAMBAR 4.10
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
99,33%, dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 99,15%. Sedangkan Papua memiliki
capaian terendah sebesar 33,75%, diikut Papua Barat sebesar 66,63%, dan Kepulauan
Riau sebesar 74,03%. Cakupan kunjungan neonatal pertama menunjukkan peningkatan
dalam 4 tahun terakhir, yaitu dari 80,6% pada tahun 2009 menjadi 92,31% pada tahun
2012.
Selain KN1, indikator yang menggambarkan pelayanan kesehatan bagi neonatal adalah
KN Lengkap yang mengharuskan agar setap bayi baru lahir mendapatkan pelayanan
kesehatan sesuai standar sedikitnya 3 kali. Capaian KN lengkap di Indonesia pada
tahun 2012 sebesar 87,79%. Capaian ini telah memenuhi target program tahun 2012
sebesar 84%. Terdapat 20 provinsi telah memenuhi target tersebut. Gambaran cakupan
kunjungan KN Lengkap menurut provinsi di Indonesia terdapat pada Gambar 4.10.
Pada gambar 4.10 terlihat bahwa terjadi disparitas capaian yang lebar, dimana capaian
tertnggi terdapat di Provinsi Bali sebesar 97,42%, diikut oleh Kepulauan Bangka Belitung
sebesar 95,77%, dan Jawa Tengah sebesar 95,75%. Sedangkan provinsi dengan capaian
SITUASI UPAYA KESEHATAN
135
terendah adalah Papua sebesar 29,7%, diikut oleh Papua Barat sebesar 57,42%, dan
Kepulauan Riau sebesar 66,83%.
Pada tngkat nasional, capaian KN Lengkap mengalami peningkatan dibandingkan
tahun 2011, yaitu dari 84,18% menjadi 87,79% pada tahun 2012. Gambar berikut ini
menampilkan cakupan KN lengkap dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012. Pada
tahun 2008, mulai ditetapkan kebijakan KN lengkap yang mensyaratkan 3 kali kunjungan.
GAMBAR 4.11
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP
DI INDONESIA TAHUN 2004-2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Cakupan KN lengkap nampak mengalami sedikit penurunan dari 78,04% pada tahun
2009 menjadi 71,5% pada tahun 2010. Cakupan ini kembali meningkat menjadi 87,79%
pada tahun 2012. Sejak tahun 2008 ketka kebijakan KN lengkap yang mensyaratkan 3
kali kunjungan diimplementasikan, cakupan KN lengkap menunjukkan kecenderungan
peningkatan.
Informasi lebih lanjut mengenai kunjungan neonatal dapat dilihat pada Lampiran 4.9.
7. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi
Bayi juga merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap gangguan kesehatan
maupun serangan penyakit. Oleh karena itu dilakukan upaya pelayanan kesehatan yang
ditujukan pada bayi usia 29 hari sampai dengan 11 bulan dengan memberikan pelayanan
kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi
klinis kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) minimal 4 kali. Program ini terdiri dari
pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/ HB1-3, Polio 1-4, dan Campak), Stmulasi Deteksi
Profil Kesehatan Indonesia 2012
136
GAMBAR 4.12
CAKUPAN KUNJUNGAN BAYI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) bayi, pemberian vitamin A pada bayi, dan
penyuluhan perawatan kesehatan bayi serta penyuluhan ASI Eksklusif, MP ASI dan lain-
lain.
Cakupan pelayanan kesehatan bayi dapat menggambarkan upaya pemerintah dalam
meningkatan akses bayi untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar, mengetahui
sedini mungkin adanya kelainan atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan
penyakit serta peningkatan kualitas hidup bayi. Cakupan pelayanan kesehatan bayi pada
tahun 2012 mencapai 87,73% yang berhasil memenuhi target Renstra Kementerian
Kesehatan tahun 2012 sebesar 86%. Capaian ini lebih tnggi dibandingkan tahun 2011
dan tahun 2010 yaitu masing-masing sebesar 84,04% dan 85,21%.
Gambaran capaian indikator ini di 33 provinsi menunjukkan bahwa sebagian besar
provinsi telah memenuhi target Renstra tahun 2012 sepert yang disajikan pada gambar
berikut ini.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
137
Pada Gambar 4.12 di atas dapat dilihat bahwa terdapat 18 provinsi (54,5%) dengan
capaian melebihi 86%. Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki capaian tertnggi sebesar
95,82% diikut oleh Jawa Tengah sebesar 95,43% dan Jawa Timur sebesar 95,13%.
Provinsi Papua memiliki capaian terendah sebesar 29,47% diikut oleh Kepulauan Riau
sebesar 56,14%, dan Kalimantan Selatan sebesar 57,23%. Informasi lebih rinci menurut
provinsi terkait pelayanan kesehatan pada bayi tahun 2012 terdapat pada Lampiran
4.10.
8. Pelayanan Kesehatan pada Anak Balita
Salah satu indikator yang ditetapkan pada Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
terkait dengan upaya kesehatan anak adalah pelayanan kesehatan pada anak balita.
Adapun batasan anak balita adalah setap anak yang berada pada kisaran umur 12
sampai dengan 59 bulan. Pelayanan kesehatan pada anak balita dilakukan oleh tenaga
kesehatan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup anak balita dengan melakukan
beberapa kegiatan antara lain ;
1. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan dan stmulasi tumbuh kembang
pada anak dengan menggunakan instrumen SDIDTK
2. Pembinaan posyandu, pembinaan anak prasekolah termasuk Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) dan konseling keluarga pada kelas ibu balita dengan memanfaatkan
Buku KIA
3. Perawatan anak balita dengan pemberian ASI sampai 2 tahun, makanan gizi
seimbang, dan vitamin A
Capaian indikator ini pada tahun 2012 sebesar 73,52% yang mengalami penurunan
dibandingkan tahun 2011 sebesar 80,96%. Indikator ini juga belum memenuhi target
Renstra pada tahun 2012 yang sebesar 81%. Capaian indikator menurut provinsi juga
menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi memiliki capaian di bawah 81% sepert
yang terdapat pada gambar berikut.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
138
Pada Gambar 4.13 dapat diketahui bahwa hanya 7 provinsi yang memiliki capaian
melebihi target 81%, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, Jawa Tengah, DI Yogyakarta,
Sumatera Selatan, dan Sulawesi Utara. DKI Jakarta memiliki capaian tertnggi sebesar
89,96%, diikut oleh Jawa Barat sebesar 85,74%, dan Bali sebesar 83,92%. Sedangkan
provinsi dengan capaian terendah adalah Papua sebesar 18,95%, diikut oleh Gorontalo
sebesar 46,91%, dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 51,62%. Data dan informasi
menurut provinsi terkait upaya pelayanan kesehatan anak balita disajikan pada Lampiran
4.10.
9. Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan Setingkat
Salah satu upaya kesehatan anak adalah intervensi pada anak usia sekolah. Upaya
kesehatan pada kelompok ini yang dilakukan melalui penjaringan kesehatan terhadap
murid SD/MI kelas I juga menjadi salah satu indikator yang dievaluasi keberhasilannya
melalui Renstra Kementerian Kesehatan. Melalui kegiatan penjaringan kesehatan
diharapkan bisa mengatasi permasalahan kesehatan pada anak usia sekolah yaitu
pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sepert menggosok gigi dengan
baik dan benar, mencuci tangan menggunakan sabun, karies gigi, kecacingan, kelainan
refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi.
GAMBAR 4.13
CAKUPAN KUNJUNGAN ANAK BALITA DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
SITUASI UPAYA KESEHATAN
139
Kegiatan penjaringan kesehatan ini terdiri dari :
1. Pemeriksaan kebersihan perorangan (rambut, kulit dan kuku)
2. Pemeriksaan status gizi melalui pengukuran antropometri
3. Pemeriksaan ketajaman indera (penglihatan dan pendengaran)
4. Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut
5. Pemeriksaan laboratorium untuk anemia dan kecacingan
6. Pengukuran kebugaran jasmani
7. Deteksi dini masalah mental emosional.
Melalui penjaringan kesehatan diharapkan siswa SD/sederajat kelas 1 yang memiliki
masalah kesehatan mendapatkan penanganan sedini mungkin. Penjaringan kesehatan
dinilai dengan menghitung persentase SD/MI yang melakukan penjaringan kesehatan
terhadap seluruh SD/MI yang menjadi sasaran penjaringan. Cakupan SD atau sederajat
yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk siswa kelas 1 pada tahun 2012 di
Indonesia sebesar 83,95%. Cakupan ini lebih tnggi dibandingkan tahun 2011 yang
sebesar 74,86%. Meskipun terjadi peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya,
capaian tersebut belum memenuhi target Renstra 2012 sebesar 92%.
Pemeriksaan kesehatan pada anak-anak
F
o
t
o
:

P
u
s
k
o
m

P
u
b
l
i
k
Profil Kesehatan Indonesia 2012
140
GAMBAR 4.14
CAKUPAN SEKOLAH DASAR YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN
SISWA SD/SETINGKAT KELAS 1 DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Gambar 4.14 menunjukkan bahwa hanya 8 provinsi yang telah mencapai target Renstra
2012 yaitu DI Yogyakarta, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Barat, Kepulauan Riau,
Bali, Banten, Lampung, dan DKI Jakarta. Provinsi dengan capaian tertnggi adalah DI
Yogyakarta sebesar 100%, diikut oleh Kepulauan Bangka Belitung sebesar 99,75%, dan
Sumatera Barat sebesar 97,54%. Sedangkan capaian terendah terdapat di Provinsi Nusa
Tenggara Timur sebesar 13,52%, diikut oleh Papua sebesar 26,8%, dan Sulawesi Barat
sebesar 54,07%.
Sulit terpenuhinya target penjaringan SD/MI disebabkan oleh beberapa masalah.
Masalah utama yang sering ditemukan di daerah adalah tenaga yang sudah dilath
dipindahkan ke bidang/tempat lain dan juga kurangnya tenaga di Puskesmas untuk
melaksanakan penjaringan, sehingga untuk melaksanakan penjaringan kesehatan
membutuhkan waktu lebih lama. Data dan informasi tentang cakupan penjaringan
siswa SD/sederajat kelas 1 menurut provinsi terdapat pada Lampiran 4.11.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
141
10. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
Salah satu upaya kesehatan anak yang ditetapkan melalui Instruksi Presiden
adalah Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas. Program ini
mulai dikembangkan pada tahun 2003 yang bertujuan khusus untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan remaja tentang kesehatan reproduksi dan perilaku
hidup sehat serta memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada remaja.
Puskesmas yang memiliki PKPR memberikan layanan baik di dalam maupun di luar
gedung yang ditujukan bagi kelompok remaja berbasis sekolah ataupun masyarakat. Hal
ini dilakukan agar layanan yang diberikan dapat menjangkau semua kelompok remaja
(10-19 tahun). Kriteria yang ditetapkan bagi Puskesmas yang mampu laksana PKPR yaitu
:
1. Melakukan pembinaan pada minimal 1 sekolah (sekolah umum, sekolah berbasis
agama) dengan melaksanakan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) di
sekolah binaan minimal 2 kali dalam setahun;
2. Melath Kader Kesehatan Remaja di sekolah minimal sebanyak 10% dari jumlah
murid di sekolah binaan; dan
3. Memberikan pelayanan konseling pada semua remaja yang memerlukan konseling
yang kontak dengan petugas PKPR.
Layanan PKPR merupakan upaya komprehensif yang menekankan pada langkah
promotf/preventf berupa pembekalan kesehatan dan peningkatan keterampilan
psikososial dengan Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS). Layanan konseling
menjadi ciri dari PKPR mengingat permasalahan remaja yang tdak hanya berhubungan
dengan fsik tetapi juga psikososial. Upaya penjangkauan terhadap kelompok remaja
juga dilakukan melalui kegiatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE), Focus Group
Discussion (FGD), dan penyuluhan ke sekolah-sekolah dan kelompok remaja lainnya.
Fenomena peer groups (kelompok sebaya) juga menjadi perhatan pada program PKPR.
Oleh karena itu, program ini juga memberdayakan remaja sebagai konselor sebaya yang
diharapkan mampu menjadi agen pengubah di kelompoknya. Konselor sebaya ini sangat
potensial karena adanya kecenderungan pada remaja untuk memilih teman sebaya
sebagai tempat berdiskusi dan rujukan informasi.
Persentase kabupaten/kota dengan minimal 4 puskesmas mampu tata laksana PKPR
pada tahun 2012 terdapat pada Gambar 4.15.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
142
GAMBAR 4.15
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA
DENGAN MINIMAL 4 PUSKESMAS MAMPU TATA LAKSANA PKPR
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Berdasarkan target tahun 2012 yang ditentukan oleh program yaitu 70%, terdapat 26
provinsi telah melampaui target tersebut. Hanya 7 provinsi yang belum mencapai target
tahun 2012. Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2012 terdapat
77,67% kabupaten/kota di Indonesia yang telah memiliki 4 puskesmas mampu laksana
PKPR. Pada tahun 2012 terdapat 10 provinsi dengan persentase 100%, jumlah ini lebih
tnggi dibandingkan tahun 2011 yang sebanyak 7 provinsi. Provinsi dengan persentase
100% artnya seluruh kabupaten telah memiliki sedikitnya 4 Puskesmas mampu PKPR.
Provinsi tersebut yaitu Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Banten, Bali,
Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi
Barat. Data dan informasi lebih rinci menurut provinsi terkait persentase kabupaten/
kota dengan puskesmas mampu laksana PKPR disajikan pada Lampiran 4.12.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
143
11. Pelayanan Kesehatan pada Kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA)
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Azasi Manusia menyebutkan
bahwa hak anak merupakan bagian dari hak asasi manusia sepert hak sipil, kesehatan,
pendidikan, politk, sosial, ekonomi, dan budaya. Hak-hak tersebut wajib dijamin,
dilindungi, dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara
agar anak dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartsipasi secara optmal sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan
dan diskriminasi.
Berbagai permasalahan sepert kemiskinan yang belum teratasi, rendahnya tngkat
pendidikan orang tua, banyaknya anak dalam keluarga kerap menjadi faktor pemicu
terjadinya peningkatan tndakan kekerasan terhadap anak baik fsik, mental, seksual
maupun penelantaran. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefnisikan kekerasan
terhadap anak sebagai semua bentuk tndakan/perlakuan menyakitkan secara fsik
ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi, komersial
atau lainnya, yang mengakibatkan cedera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap
kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak,
yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggungjawab.
Dalam bidang kesehatan, tndakan kekerasan melakukan intrevensi dalam bentuk
penyediaan akses pelayanan kesehatan bagi korban kekerasan pada anak yang terdiri dari
pelayanan di tngkat dasar melalui puskesmas mampu tatalaksana kekerasan terhadap
anak dan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) di rumah sakit untuk penanganan kasus
rujukan. Puskesmas yang mampu tatalaksana kekerasan terhadap anak memberikan
pelayanan penanganan gawat darurat, konseling, medikolegal dan rujukan (medis dan
psikososial). Rumah sakit sebagai penyedia pelayanan kesehatan rujukan juga memiliki
peran terhadap penatalaksanaan kasus kekerasan terhadap anak melalui pelayanan
terpadu. Pelayanan terpadu di Rumah Sakit memberikan pelayanan spesialistk, IGD,
perawatan, medikolegal dan psikososial (bantuan hukum dan perlindungan sosial bagi
anak melalui panggilan telepon pada saat diperlukan).
Puskesmas mampu tatalaksana kasus kekerasan terhadap anak memiliki 2 kriteria yaitu :
1. Memiliki tenaga kesehatan terlath /terorientasi tata laksana kasus KtA
2. Melaksanakan rujukan medis maupun psikososial
Persentase kabupaten/kota dengan minimal 2 Puskesmas mampu tatalaksana KtA di
Indonesia pada tahun 2012 sebesar 71,63%. Capaian ini telah memenuhi target tahun
Profil Kesehatan Indonesia 2012
144
GAMBAR 4.16
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA
DENGAN MINIMAL 2 PUSKESMAS MAMPU TATA LAKSANA KTA
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
Pada gambar 4.16 di atas dapat diketahui bahwa terdapat 13 provinsi dengan persentase
100%. Data dan informasi mengenai persentase kabupaten/kota dengan puskesmas
mampu tatalaksana KtA yang dirinci berdasarkan provinsi terdapat pada Lampiran 4.13.
12. Pelayanan Kesehatan Anak Terlantar dan Anak Jalanan di Panti
Upaya kesehatan anak juga dilakukan untuk menjangkau kelompok yang terpinggirkan
yaitu anak terlantar dan anak jalanan. Kelompok umur remaja merupakan bagian terbesar
dari kelompok anak jalanan (usia 14 18 tahun). Masalah kesehatan yang dihadapi anak
jalanan terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini tdak terlepas dari fakta
bahwa kondisi anak jalanan yang tdak memiliki tempat tnggal yang sehat. Anak jalanan
menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan yang meningkatkan kerentanan
2012 sebesar 60%. Sebagian besar provinsi telah memenuhi target tersebut sepert
yang disajikan pada gambar berikut ini.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
145
mereka terhadap gangguan kesehatan sepert infeksi saluran pernapasan, diare, kulit
dan lain sebagainya.
Anak jalanan secara psikologis memiliki konsep diri negatf, tdak atau kurang percaya
diri, mudah tersinggung, ketergantungan pada orang lain, dan emosi yang tdak stabil.
Kondisi ini menyebabkan mereka mudah terpengaruh orang lain dan cenderung
berperilaku antsosial (berkelahi, mencuri, merampas, menggunakan NAPZA dan
menjalankan bisnis NAPZA, dan perilaku seks bebas). Selain itu, anak dapat mengalami
berbagai bentuk kekerasan baik fsik, psikis dan seksual. Mereka juga dapat mengalami
eksploitasi fsik dan seksual terutama oleh orang dewasa hingga kehilangan nyawa,
sehingga tmbul masalah kesehatan yang terkait kesehatan reproduksi sepert Infeksi
Menular Seksual (IMS/PMS) dan HIV/AIDS.
Upaya kesehatan bagi anak terlantar dilakukan pada kelompok-kelompok sasaran
sepert di pant anak terlantar/anak jalanan, shelter, rumah singgah dan lain-lain. Upaya
kesehatan yang dilakukan mencakup aspek promotf, preventf, kuratf dan rehabilitatf
melalui pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas bekerjasama
dengan unsur dari sektor terkait dan LSM memberikan pelayanan kesehatan bagi anak
terlantar dan anak jalanan.
Puskesmas yang dianggap melakukan pembinaan terhadap Pant Anak Terlantar jika
melaksanakan paket pembinaan kesehatan anak di pant yang terdiri dari beberapa
kegiatan, yaitu :
1. Penyuluhan tentang PHBS, bahaya penyalahgunaan NAPZA, kesehatan reproduksi
dan Infeksi Menular Seksual (IMS);
2. Pemberian tablet Fe pada remaja putri;
3. Konseling termasuk pre test dan post test HIV;
4. Imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada remaja putri;
5. Pengobatan;
6. Pelathan peer konselor remaja; dan
7. Rujukan apabila diperlukan.
Pada tahun 2012 terdapat 1.751 puskesmas yang memiliki pant anak terlantar di
wilayah kerjanya. Dari seluruh puskesmas yang memiliki pant anak terlantar, terdapat
1.003 (57,28%) yang telah melakukan pembinaan. Data dan informasi berdasarkan
provinsi terkait puskesmas yang melakukan pembinaan di Pant Anak Terlantar dapat
dilihat pada Lampiran 4.14.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
146
13. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan dalam rangka mengatur jumlah kelahiran
atau menjarangkan kelahiran. Sasaran program KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS)
yang lebih dittkberatkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada pada
kisaran usia 15-49 tahun.
Keberhasilan program KB dapat diukur dengan melihat cakupan KB aktf dan KB baru.
Cakupan KB aktf menggambarkan proporsi pasangan usia subur (PUS) yang sedang
menggunakan alat/metode kontrasepsi terhadap jumlah PUS yang ada. Sedangkan
cakupan KB baru adalah jumlah PUS yang baru menggunakan alat/metode kontrasepsi
terhadap jumlah PUS. Gambar 4.17 berikut ini menampilkan persentase peserta KB aktf
menurut provinsi di Indonesia pada tahun 2012.
GAMBAR 4.17
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional 2013
Cakupan peserta KB aktf di Indonesia pada tahun 2102 sebesar 76,39%. Gambaran
distribusi provinsi menunjukkan bahwa persentase tertnggi adalah Provinsi Bengkulu
sebesar 87,91%, diikut oleh Provinsi Gorontalo sebesar 86,96%, dan Provinsi Bali
SITUASI UPAYA KESEHATAN
147
sebesar 86,11%. Provinsi dengan persentase terendah adalah Papua sebesar 67,7%,
diikut oleh Sumatera Utara sebesar 67,99%, dan Banten sebesar 69,95%.
Penggunaan metode kontrasepsi pada KB terdiri dari beberapa jenis. Kepesertaan
KB menurut penggunaan metode kontrasepsi pada tahun 2012 menunjukkan bahwa
sebagian besar peserta KB memilih untuk menggunakan metode kontrasepsi jangka
pendek melalui suntkan. Hanya sedikit PUS yang memilih untuk menggunakan Metode
Operatf Pria (MOP) pada tahun 2012. Persentase peserta KB aktf menurut metode
kontrasepsi ditampilkan pada Gambar 4.18 berikut ini.
GAMBAR 4.18
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF
MENURUT ALAT/METODE KONTRASEPSI TAHUN 2012
Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2012
Gambaran peserta KB baru pada tahun 2012 menunjukkan bahwa sebagian besar peserta
KB baru cenderung memanfaatkan klinik KB pemerintah untuk mendapatkan layanan KB
dengan persentase sebesar 67,34%. Selain klinik KB milik pemerintah, peserta KB yang
lain memilih memanfaatkan bidan praktek swasta sebanyak 23,22%, klinik KB swasta
sebesar 7,59%, dan dokter praktk swasta sebanyak 1,86%. Perbandingan persentase
antar jenis layanan terdapat pada Gambar 4.19 berikut ini.
Data dan informasi terkait kepesertaan KB, pemanfaatan layanan KB, dan jumlah fasilitas
kesehatan KB pada tahun 2012 yang digambarkan secara rinci menurut provinsi dapat
dilihat pada Lampiran 4.2-4.7.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
148
GAMBAR 4.19
PERSENTASE PESERTA KB BARU MENURUT TEMPAT PELAYANAN KB
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2013
B. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
Permasalahan gizi masyarakat merupakan salah satu isu kesehatan masyarakat yang
menyita perhatan sektor kesehatan. Status gizi juga merupakan salah satu penentu
kondisi derajat kesehatan masyarakat. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan
melakukan upaya perbaikan gizi masyarakat dalam rangka merespon permasalahan gizi
yang sering ditemukan sepert anemia gizi besi, kekurangan vitamin A, dan gangguan
akibat kekurangan yodium.
1. Pemberian Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil (Fe)
Salah satu permasalahan gizi masyarakat adalah anemia gizi, yaitu suatu kondisi ketka
kadar Haemoglobin (Hb) dalam darah tergolong rendah. Rendahnya kadar Hb ini terjadi
karena kekurangan asupan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan komponen Hb
terutama zat besi (Fe). Sebagian besar anemia yang ditemukan di Indonesia adalah
anemia gizi besi yaitu anemia yang disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe). Dalam
rangka penanggulangan permasalahan anemia gizi besi, telah dilakukan program
pemberian tablet Fe. Pemberian tablet besi ini diintegrasikan dengan pelayanan
kunjungan ibu hamil (antenatal care).
SITUASI UPAYA KESEHATAN
149
Cakupan pemberian tablet Fe di Indonesia pada tahun 2012 sebesar 85%. Persentase
ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2011 yang sebesar 83,3%. Provinsi
dengan cakupan tertnggi adalah Kalimantan tengah sebesar 115,3% diikut oleh DKI
Jakarta sebesar 101,9%, dan Bali sebesar 92,7%. Sedangkan cakupan terendah adalah
Provinsi Papua Barat sebesar 32%, diikut oleh Papua sebesar 33,3%, dan Kalimantan
Timur sebesar 69,1%. Cakupan pemberian tablet besi pada tahun 2012 di 33 provinsi
disajikan pada gambar berikut ini.
GAMBAR 4.20
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT 90 TABLET TAMBAH DARAH (Fe3)
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen Gizi dan KIA Kemenkes RI, 2013
Efektvitas upaya pemberian tablet besi juga sangat bergantung pada seberapa besar
kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet besi yang diberikan. Cakupan
pemberian tablet besi yang tnggi bisa tdak berdampak pada penurunan anemia besi
jika kepatuhan ibu hamil dalam menelan tablet besi masih rendah.
Program pemberian tablet besi sangat terkait dengan pelayanan kesehatan pada ibu
hamil (K1-K4) karena diberikan pada saat ibu hamil melakukan kunjungan ke pelayanan
Profil Kesehatan Indonesia 2012
150
kesehatan. Pemberian tablet besi juga menjadi salah satu syarat terpenuhinya kunjungan
ibu hamil K4. Namun demikian, capaian kunjungan K4 ibu hamil pada tahun 2012 sebesar
90,18%, yaitu lebih besar dibandingkan dengan capaian pemberian tablet besi pada ibu
hamil sebesar 85%. Secara ideal, seharusnya capaian dua indikator tersebut sama atau
tdak jauh berbeda. Oleh karena itu diperlukan perbaikan pada sistem pencatatan dan
pelaporan serta koordinasi antar pengelola program terkait. Data dan informasi lebih
rinci menurut provinsi mengenai pemberian tablet besi pada ibu hamil di tahun 2012
terdapat pada Lampiran 4.17.
2. Pemberian Kapsul Vitamin A
Selain anemia gizi besi, kekurangan vitamin A juga menjadi perhatan dalam upaya
perbaikan gizi masyarakat. Oleh karena itu dilakukan pemberian kapsul Vitamin A dalam
rangka mencegah dan menurunkan prevalensi kekurangan vitamin A (KVA) pada balita.
Cakupan yang tnggi dari pemberian kapsul vitamin A dosis tnggi terbukt efektf untuk
mengatasi masalah KVA pada masyarakat. Vitamin A berperan terhadap penurunan
angka kematan, pencegahan kebutaan, serta pertumbuhan dan kelangsungan hidup
anak.
Masalah vitamin A pada balita secara klinis bukan lagi masalah kesehatan masyarakat
(prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada 10
provinsi tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0,13%, sedangkan
hasil survey vitamin A pada tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar
0,33%.
Namun demikian KVA subklinis, yaitu tngkat yang belum menampakkan gejala nyata,
masih ada pada kelompok balita. KVA tngkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan
memeriksa kadar vitamin A dalam darah di laboratorium. Selain itu, sebaran cakupan
pemberian vitamin A pada balita menurut provinsi masih ada yang dibawah 75%. Dengan
demikian kegiatan pemberian vitamin A pada balita masih perlu dilanjutkan, karena
bukan hanya untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, namun lebih pentng lagi,
vitamin A meningkatkan kelangsungan hidup, kesehatan dan pertumbuhan anak.
Pemberian kapsul vitamin A dilakukan terhadap bayi (6-11 bulan) dengan dosis 100.000
SI, anak balita (12-59 bulan) dengan dosis 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul
vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui
ASI. Pemberian Kapsul Vitamin A diberikan secara serentak setap bulan Februari dan
Agustus pada balita usia 6-59 bulan.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
151
GAMBAR 4.21
CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA (6-59 BULAN)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
Sumber: Ditjen Gizi dan KIA Kemenkes RI, 2013
Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita usia 6-59 bulan di Indonesia tahun
2012 mencapai 82,8%. Capaian ini sedikit lebih tnggi dibandingkan tahun 2011 yang
sebesar 82,66%. Dengan peningkatan yang tdak terlalu tnggi, maka masih diperlukan
upaya untuk meningkatkan cakupan pemberian kapsul vitamin A. Upaya tersebut antara
lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan anak, sweeping pada daerah
yang cakupannya masih rendah dan kampanye pemberian kapsul vitamin A.
Provinsi dengan cakupan pemberian vitamin A tertnggi pada tahun 2012 adalah DI
Yogyakarta sebesar 99,12%, diikut oleh Jawa Tengah sebesar 98,39% dan Nusa Tenggara
Barat sebesar 96,46%. Sedangkan cakupan terendah terdapat di Provinsi Papua sebesar
41,84%, diikut oleh Papua Barat sebesar 47,9% dan Maluku Utara sebesar 54,42%.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut distribusi provinsi ditampilkan pada
gambar 4.21.
Data dan informasi tentang pemberian vitamin A pada balita yang dirinci menurut
provinsi pada tahun 2012 dapat dilihat pada Lampiran 4.18.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
152
3. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif
Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara
eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak
sampai umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI
yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
Persentase pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Indonesia pada tahun 2012
sebesar 48,6%. Persentase pemberian ASI eksklusif tertnggi terdapat di Nusa Tenggara
Barat sebesar 69,84%, diikut oleh Gorontalo sebesar 67,01%, dan Bali sebesar 66,94%.
Sedangkan persentase pemberian ASI eksklusif terendah terdapat di Provinsi Papua
Barat sebesar 20,57%, diikut oleh Sulawesi Tengah 30,41% dan Sumatera Utara sebesar
32,22%. Gambaran pemberian ASI eksklusif menurut provinsi disajikan pada gambar
berikut.
GAMBAR 4.22
CAKUPAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
SITUASI UPAYA KESEHATAN
153
Permasalahan terkait pencapaian cakupan ASI Eksklusif antara lain :
a. Pemasaran susu formula masih gencar dilakukan untuk bayi 0-6 bulan yg tdak ada
masalah medis
b. Masih banyaknya perusahaan yang mempekerjakan perempuan tdak memberi
kesempatan bagi ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan untuk melaksanakan pemberian
ASI secara eksklusif. Hal ini terbukt dengan belum tersedianya ruang laktasi dan
perangkat pendukungnya
c. Masih banyak tenaga kesehatan ditngkat layanan yang belum peduli atau belum
berpihak pada pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif, yaitu masih
mendorong untuk memberi susu formula pada bayi 0-6 bulan.
d. Pemasaran susu formula masih banyak yang ditujukan pada bayi yang tdak punya
masalah kesehatan.
e. Masih sangat terbatasnya tenaga konselor ASI
f. Belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait
pemberian ASI, dan belum semua rumah sakit melaksanakan 10 Langkah Menuju
Keberhasilan Menyusui (LMKM).
Upaya yang dilakukan dalam memecahkan masalah tersebut yaitu:
a. Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI
Eksklusif
b. Melakukan pelathan konseling menyusui dan konseling Makanan Pendamping ASI
(MP-ASI). Sampai tahun 2012 telah dilakukan pelathan konseling menyusui kepada
3.929 orang dan MP-ASI 416 orang.
c. Melaksanakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM), yaitu:
1. Membuat kebijakan tertulis tentang menyusui dan dikomunikasikan kepada
semua staf pelayanan kesehatan ;
2. Melath semua staf pelayanan dalam keterampilan menerapkan kebijakan
menyusui tersebut;
3. Menginformasikan kepada semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen
menyusui;
4. Membantu ibu menyusui dini dalam 30 menit pertama persalinan;
5. Membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu
dipisah dari bayinya;
6. Memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis;
7. Menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam);
Profil Kesehatan Indonesia 2012
154
8. Menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi;
9. Tidak memberi dot kepada bayi;
10. Mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu
kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan;
d. Sosialisasi dan kampanye ASI Eksklusif
e. KIE melalui media cetak dan elektronik
f Mengembangkan Strategi Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif
g. Menciptakan lingkungan yang kondusif terhadap perilaku menyusui melalui
peraturan perundang-undangan dan kebijakan atau PP
h. Penguatan sarana pelayanan kesehatan (RS/RSIA, Puskesmas perawatan, klinik
bersalin) dalam menerapkan 10 LMKM
i. Peningkatan komitmen dan kapasitas stakeholder dalam meningkatan, melindungi,
dan mendukung pemberian ASI
j. Pemberdayaan ibu, keluarga, dan masyarakat dalam praktek pemberian ASI
k. Menjamin terlaksananya strategi pemberian ASI
l. Pengembangan peraturan perundangan-undangan dan kebijakan atau PP
m. Pelaksanaan revitalisasi RS dan sarana pelayanan kesehatan sayang bayi
n. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan
o. Pemberdayaan ibu, bapak, dan keluarga, serta masyarakat
p. Perlindungan pekerja perempuan
q. Bekerjasama dengan lintas sektor terkait dalam pengawasan pemasaran susu
formula dan produk makanan bayi sesuai standar produk makanan (codex
alimentarius)
r. Advokasi dan promosi peningkatan pemberian ASI
Data dan informasi mengenai pemberian ASI Eksklusif pada tahun 2012 terdapat pada
Lampiran 4.19 dan Lampiran 4.20.
4. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S)
Kegiatan penimbangan balita di Posyandu (D/S) menjadi salah satu indikator yang
ditetapkan pada Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. Indikator ini
berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita, cakupan pelayanan kesehatan
dasar khususnya imunisasi serta penanganan prevalensi gizi kurang pada balita. Dengan
cakupan cakupan D/S yang tnggi, diharapkan semakin tnggi pula cakupan vitamin A,
cakupan imunisasi dan semakin rendah prevalensi gizi kurang.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
155
GAMBAR 4.23
CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA (D/S)
DI INDONESIATAHUN 2012
Sumber: Ditjen Gizi dan KIA Kemenkes RI, 2013
Pada gambar di atas diketahui bahwa provinsi yang memiliki capaian tertnggi adalah
Jawa Timur sebesar 87,8%, diikut oleh Jawa Barat sebesar 83,6%, dan Jawa Tengah
sebesar 82,1%. Sedangkan cakupan terendah terdapat di Provinsi Papua sebesar 31%,
diikut oleh Papua Barat sebesar 48,9% dan Maluku Utara sebesar 52,5%.
Kunjungan balita ke posyandu sangat berkaitan dengan indikator D/S. Namun demikian
terdapat beberapa kendala yang dihadapi terkait dengan kunjungan balita ke posyandu.
Permasalahan tersebut antara lain : dana operasional dan sarana prasarana untuk
menggerakkan kegiatan Posyandu, tngkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas
dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling, tngkat pemahaman keluarga dan
Cakupan penimbangan balita di posyandu (D/S) di Indonesia pada tahun 2012 sebesar
75,1%. Cakupan ini lebih tnggi dibandingkan tahun 2011 sebesar 71,4%. Capaian pada
tahun 2012 telah memenuhi target Renstra 2012 sebesar 75%. Pada tngkat provinsi
terdapat 10 provinsi dengan capaian melebihi target 75% sepert yang ditampilkan pada
gambar berikut.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
156
masyarakat terhadap manfaat Posyandu, serta pelaksanaan pembinaan kader. Data
dan informasi tentang penimbangan balita di posyandu pada tahun 2012 terdapat pada
Lampiran 4.21.
C. PELAYANAN IMUNISASI
Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk terhadap
penyakit tertentu. Beberapa penyakit menular yang termasuk ke dalam Penyakit yang
Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) antara lain : Diferi, Tetanus, Hepatts B, radang
selaput otak, radang paru-paru, pertusis, dan polio.
Proses perjalanan penyakit diawali ketka virus/ bakteri/ protozoa/ jamur, masuk ke
dalam tubuh. Setap mahluk hidup yang masuk ke dalam tubuh manusia akan dianggap
benda asing oleh tubuh atau yang disebut dengan antgen. Secara alamiah sistem
kekebalan tubuh akan membentuk zat ant yang disebut antbodi untuk melumpuhkan
antgen. Pada saat pertama kali antbodi berinteraksi dengan antgen, respon yang
diberikan tdak terlalu kuat. Hal ini disebabkan antbodi belum mengenali antgen.
Pada interaksi antbodi-antgen yang ke-2 dan seterusnya, sistem kekebalan tubuh sudah
memiliki memori untuk mengenali antgen yang masuk ke dalam tubuh, sehingga
antbodi yang terbentuk lebih banyak dan dalam waktu yang lebih cepat.
Proses pembentukan antbodi untuk melawan antgen secara alamiah disebut imunisasi
alamiah. Sedangkan program imunisasi melalui pemberian vaksin adalah upaya stmulasi
terhadap sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antbodi dalam upaya melawan
penyakit dengan melumpuhkan antgen dilemahkan yang berasal dari vaksin. Program
imunisasi diberikan kepada populasi yang dianggap rentan terjangkit penyakit menular,
yaitu bayi, anak usia sekolah, wanita usia subur, dan ibu hamil.
1. Imunisasi Dasar pada Bayi
Sebagai salah satu kelompok yang menjadi sasaran program imunisasi, setap bayi
wajib mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap (LIL) yang terdiri dari : 1 dosis BCG, 3
dosis DPT, 4 dosis polio, 1 dosis hepatts B, dan 1 dosis campak. Dari kelima imunisasi
dasar lengkap yang diwajibkan tersebut, campak merupakan imunisasi yang mendapat
perhatan lebih yang dibuktkan dengan komitmen Indonesia pada lingkup ASEAN dan
SEARO untuk mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%. Hal ini terkait
dengan realita bahwa campak adalah penyebab utama kematan pada balita. Dengan
demikian pencegahan campak memiliki peran signifkan dalam penurunan angka
kematan balita.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
157
GAMBAR 4.24
PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa Provinsi Jambi memiliki capaian tertnggi
sebesar 113,2% diikut oleh Nusa Tenggara Barat sebesar 110,4% dan Jawa Barat sebesar
110,3%. Sedangkan provinsi dengan cakupan terendah adalah Papua Barat sebesar
72,7%, diikut oleh Papua sebesar 74,3% dan Kalimantan Selatan sebesar 75%.
Program imunisasi pada bayi mengharapkan agar setap bayi mendapatkan kelima
jenis imunisasi dasar lengkap. Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan 5 jenis
imunisasi dasar tersebut diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap. Capaian
indikator ini di Indonesia pada tahun 2012 sebesar 86,8%. Angka ini telah memenuhi
Indonesia memiliki cakupan imunisasi campak pada tahun 2012 sebesar 99,3%. Capaian
tersebut telah memenuhi target 90% yang menjadi komitmen Indonesia pada lingkup
regional. Cakupan pada tahun 2012 juga menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun
2011 sebesar 93,6%. Pada tngkat provinsi, terdapat 21 provinsi yang telah berhasil
mencapai target 90% sepert yang disajikan pada Gambar 4.24 berikut.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
158
GAMBAR 4.25
PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Berdasarkan distribusi provinsi pada gambar di atas, capaian imunisasi dasar lengkap
tertnggi pada tahun 2012 terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 107,4%
diikut oleh Jawa Barat sebesar 102,1%, dan Lampung sebesar 98,7%. Sedangkan
provinsi dengan capaian terendah adalah Maluku sebesar 36,5%, diikut oleh Papua
sebesar 45,7%, dan Papua Barat sebesar 48,2%. Data dan informasi terkait imunisasi
dasar pada bayi yang dirinci menurut provinsi tahun 2012 terdapat pada Lampiran 4.23.
Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi adalah
Universal Child Immunizaton atau yang biasa disingkat UCI. UCI adalah gambaran suatu
desa/kelurahan dimana 80% dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada di desa/kelurahan
tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Target UCI pada Renstra tahun 2012
adalah sebesar 90%. Pada tahun 2012 terdapat 9 provinsi yang memiliki persentase
desa UCI melebihi target 90% sepert yang nampak pada gambar berikut ini.
target Renstra pada tahun 2012 sebesar 85%. Dengan demikian terdapat 15 provinsi
(45,5%) yang telah memenuhi target Renstra tahun 2012.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
159
GAMBAR 4.26
CAKUPAN DESA/KELURAHAN UCI
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Pada Gambar 4.26 dapat diketahui bahwa Provinsi DIY dan DKI Jakarta memiliki capaian
tertnggi sebesar 100%, diikut oleh Jawa Tengah sebesar 98,8%. Sedangkan Provinsi
Papua memiliki capaian terendah sebesar 16,6%, diikut oleh Papua Barat sebesar
29,6%, dan Kalimantan Timur sebesar 65,2%. Informasi terkait capaian desa UCI pada
tahun 2012 menurut provinsi terdapat pada Lampiran 4.24.
Imunisasi dasar pada bayi seharusnya diberikan pada anak sesuai dengan umurnya. Pada
kondisi ini, diharapkan sistem kekebalan tubuh dapat bekerja secara optmal. Namun
demikian, pada kondisi tertentu beberapa bayi tdak mendapatkan imunisasi dasar
secara lengkap. Kelompok inilah yang disebut dengan drop out (DO) imunisasi. Bayi
yang mendapatkan imunisasi DPT/HB1 pada awal pemberian imunisasi, namun tdak
mendapatkan imunisasi campak, disebut Drop Out Rate DPT/HB1- Campak. Indikator ini
diperoleh dengan menghitung selisih penurunan cakupan imunisasi campak terhadap
cakupan imunisasi DPT/HB1.
Drop Out Rate imunisasi DPT/HB1-Campak pada tahun 2012 sebesar 3,6%. Angka
Profil Kesehatan Indonesia 2012
160
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
ini lebih rendah dibandingkan tahun 2011 sebesar 4,4%. DO Rate DPT/HB1-Campak
menunjukkan kecenderungan penurunan sejak tahun 2006 sampai dengan tahun
2012 yang artnya semakin sedikit bayi yang tdak mendapatkan imunisasi dasar secara
lengkap. Kecenderungan penurunan tersebut dijelaskan pada gambar berikut.
GAMBAR 4.27
ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT/HB1 - CAMPAK PADA BAYI
DI INDONESIA TAHUN 2006-2012
DO rate DPT/HB1-campak diharapkan agar tdak melebihi 5%. Batas minimum tersebut
telah berhasil dipenuhi sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2012. Pada tahun 2012
terdapat 15 provinsi dengan DO rate 5. Data dan informasi lebih rinci mengenai drop
out rate cakupan imunisasi pada tahun 2012 DPT/HB1-campak tahun 2012 terdapat
pada Lampiran 4.25.
2. Imunisasi pada Ibu Hamil
Ibu hamil juga merupakan populasi yang rentan terhadap infeksi penyakit menular,
oleh karena itu program imunisasi juga ditujukan bagi kelompok ini. Salah satu penyakit
menular yang dapat berakibat fatal dan berkontribusi terhadap kematan ibu dan
kematan anak adalah Tetanus Maternal dan Neonatal. Pemerintah Indonesia melalui
Kementerian Kesehatan berkomitmen terhadap program Eliminasi Tetanus Maternal dan
Neonatal (Maternal and Neonatal Tetanus Eliminaton atau MNTE). Badan Kesehatan
Dunia (WHO) menetapkan status eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal jika terdapat
kurang dari satu kasus tetanus neonatal per 1.000 kelahiran hidup di setap kabupaten
di suatu negara.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
161
Maternal and Neonatal Tetanus Eliminaton (MNTE) merupakan program eliminasi
tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil. Strategi yang dilakukan
untuk mengeliminasi tetanus neonatorum dan maternal adalah :
1. pertolongan persalinan yang aman dan bersih;
2. cakupan imunisasi rutn TT yang tnggi dan merata; dan
3. penyelenggaraan surveilans Tetanus Neonatorum.
Pada tahun 2011 telah dilaksanakan Survei Validasi MNTE di regional Kalimantan,
Sulawesi, NTB dan NTT dengan hasil yaitu eliminasi tetanus maternal dan neonatal di
regional tersebut pada periode 1 Juni 2010 sampai dengan 31 Mei 2011 telah tercapai.
Begitu juga dengan regional Jawa dan Bali serta regional Sumatera yang juga telah
mencapai eliminasi.
Cakupan imunisasi TT2+ (ibu hamil yang telah mendapat imunisasi TT minimal 2 dosis)
pada ibu hamil di Indonesia pada tahun 2012 sebesar 71,19%. Gambaran cakupan
imunisasi TT2+ untuk ibu hamil menurut provinsi disajikan pada Gambar 4.28.
GAMBAR 4.28
PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI TT2+ PADA IBU HAMIL
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
162
Pada Gambar 4.28 dapat diketahui bahwa pada tahun 2012, provinsi dengan cakupan
imunisasi tertnggi adalah Jawa Barat sebesar 107,63%, diikut oleh Bali sebesar
100,02%, dan Jambi sebesar 99,71%. Sedangkan cakupan terendah terdapat di Provinsi
Papua sebesar 8,63%, diikut oleh Jawa Timur sebesar 23,01%, dan Nusa Tenggara Timur
sebesar 24,83%. Data dan informasi tentang cakupan imunisasi TT pada ibu hamil yang
dirinci menurut provinsi pada tahun 2012 dapat dilihat pada Lampiran 4.26.
D. UPAYA PENGENDALIAN PENYAKIT
1. Pengendalian HIV AIDS
HIV dan AIDS menjadi salah satu penyakit menular yang pengendaliannya dipantau
melalui komitmen global MDGs. Kegiatan pengendalian penyakit ini dilakukan melalui
pencegahan infeksi, penularan, penemuan penderita secara dini yang kemudian
dilanjutkan dengan kegiatan konseling hingga perawatan dan pengobatan.
Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV dan AIDS terhadap darah
donor, pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS)
sepert Wanita Penjaja Seks (WPS), penyalahguna NAPZA dengan suntkan (IDUs),
penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau penelitan pada kelompok berisiko
rendah sepert ibu rumah tangga dan sebagainya.
Hasil pelaksanaan surveilans HIV dan AIDS selama delapan tahun terakhir terlihat pada
tabel berikut ini.
TABEL 4.1
PENEMUAN PENDERITA HIV DAN AIDS DI INDONESIA TAHUN 2005 2012
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
SITUASI UPAYA KESEHATAN
163
Pada tabel di atas dapat diketahui adanya peningkatan penemuan kasus baru HIV dan
kasus baru AIDS dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2012. Kasus baru infeksi HIV
meningkat dari 859 kasus menjadi 21.511 kasus. Kasus baru AIDS meningkat dari 2.639
kasus pada tahun 2005 menjadi 5.686 kasus pada tahun 2012. Case Fatality Rate dalam
delapan tahun terakhir menunjukkan penurunan yaitu dari 13,51% pada tahun 2005
menjadi 3,17% pada tahun 2012. Penurunan ini dapat mengindikasikan adanya perbaikan
pada aspek pelayanan kesehatan dalam menyediakan perawatan dan pengobatan.
Dalam rangka mengendalikan penyebaran dan menurunkan jumlah kasus baru HIV dan
AIDS, diperlukan upaya khusus yang difokuskan pada kelompok remaja. Upaya yang
dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja terkait HIV dan AIDS adalah melalui
kampanye "Aku Bangga Aku Tahu" (ABAT). Kampanye ABAT merupakan sosialisasi
mengenai perilaku seksual yang harus dihindari sebelum ada komitmen melalui
pernikahan dan penyadaran tentang cara penularan penyakit HIV dan AIDS. Kegiatan
kampanye untuk tahap pertama dilaksanakan di 10 provinsi terpilih, yaitu DKI Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat,
Sulawesi dan Papua. Selanjutnya, akan diperluas untuk seluruh provinsi di Indonesia.
Dengan demikian diharapkan, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, khususnya
generasi muda, dapat lebih mengenal HIV danAIDS, serta melindungi diri dan orang
lain dari risiko penularan HIVdan AIDS.
Upaya lain yang dilakukan dalam rangka pengendalian HIV dan AIDS yaitu peningkatan
akses masyarakat terhadap pengobatan dan penyediaan layanan terpadu/komprehensif
HIV dan AIDS. Dengan upaya penyediaan layanan terpadu tersebut, upaya pencegahan,
perawatan, dan pelayanan kasus HIV dan AIDS termasuk layanan konseling dan tes,
layanan perawatan, dukungan dan pengobatan, serta pengurangan dampak buruk
dapat dilakukan di satu ttk layanan. Upaya terpadu ini disepakat akan diterapkan di
seluruh ASEAN. Di Indonesia, pilot project untuk menerapkan upaya terpadu ini telah
diterapkan di Bogor, Tangerang, dan Singkawang. Jumlah layanan HIV dan AIDS yang
terdapat di Indonesia sampai dengan tahun 2012 yaitu :
1. Layanan konseling tes HIV sukarela (KTS) sebanyak 503 layanan termasuk
konseling dan tes HIV yang diprakarsai oleh petugas kesehatan
2. Layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP) sebanyak 338 layanan
yang aktf melakukan pengobatan ARV terdiri dari 239 RS rujukan PDP (induk)
dan 89 satelit
3. Layanan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) sebanyak 83 layanan
Profil Kesehatan Indonesia 2012
164
4. Layanan Pencegahan Penularan Ibu ke Anak (PPIA) sebanyak 105 layanan
5. Layanan Infeksi Menular Seksual (IMS) sebanyak 257 layanan
6. Layanan kolaborasi TB-HIV sebanyak 223 layanan.
Data dan informasi lebih rinci menurut provinsi terkait dengan pengendalian HIV dan
AIDS terdapat pada Lampiran 4.29 dan 4.30.
2. Pengendalian Penyakit TB Paru
Selain HIV AIDS dan Malaria, Tuberkulosis (TB) juga menjadi salah satu penyakit menular
yang upaya pengendaliannya dinilai pada komitmen global Millenium Development
Goals. MDGs menetapkan TB sebagai bagian dari tujuan di bidang kesehatan yang
terdiri dari :
1. Menurunkan insidens TB Paru pada tahun 2015;
2. Menurunkan prevalensi TB Paru dan angka kematan akibat TB Paru menjadi
setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990;
3. Sedikitnya 70% kasus TB Paru BTA+ terdeteksi dan diobat melalui program DOTS
(Directly Observed Treatment Shortcource Chemotherapy) atau pengobatan
TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO);
dan
4. Sedikitnya 85% tercapai Succes Rate (SR).
Upaya pengobatan kasus TB dilakukan dengan menerapkan strategi DOTS, yaitu strategi
penatalaksanaan TB yang menekankan pentngnya pengawasan terhadap pasien
TB untuk memastkan pasien menyelesaikan pengobatan sesuai ketentuan sampai
dinyatakan sembuh. Strategi ini direkomendasikan oleh WHO secara global untuk
menanggulangi TB, karena menghasilkan angka kesembuhan yang tnggi yaitu mencapai
85%.
a. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positf di Antara Suspek yang Diperiksa
Upaya Pemerintah dalam menanggulangi TB Paru setap tahunnya semakin menunjukkan
kemajuan. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya jumlah penderita yang ditemukan
dan disembuhkan setap tahun.
Gambar berikut memperlihatkan persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru
selama tahun 2005-2012. Selama delapan tahun terakhir persentase TB Paru BTA+
terhadap suspek TB Paru tertnggi terjadi pada tahun 2005 yaitu 13% dan terendah
terjadi pada tahun 2011 dan tahun 2012 sebesar 10%.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
165
GAMBAR 4.29
PERSENTASE BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK YANG DIPERIKSA DAHAKNYA
TAHUN 2005-2012
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Persentase BTA positf terhadap suspek yang diperiksa dahaknya menggambarkan mutu
dari proses penemuan sampai diagnosis pasien, serta kepekaan menetapkan kriteria
suspek. Angka proporsi pasien baru TB paru BTA positf di antara suspek yang diperiksa
ini sekitar 5-15%. Angka ini bila terlalu kecil (<5%) kemungkinan disebabkan antara lain
karena penjaringan suspek terlalu longgar, banyak orang yang tdak memenuhi kriteria
suspek, atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatf palsu). Sedangkan
bila angka ini terlalu besar (>15%) kemungkinan disebabkan antara lain karena
penjaringan terlalu ketat atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positf
palsu).
Proporsi pasien TB Paru BTA Positf di antara suspek yang diperiksa menurut provinsi
tahun 2012 dapat dilihat pada Gambar 4.30 .
Profil Kesehatan Indonesia 2012
166
Pada gambar ini diketahui bahwa sebagian besar provinsi memiliki persentase BTA
positf terhadap suspek yang diperiksa dahaknya pada kisaran 5-15%. Terdapat 1
provinsi dengan persentase di atas 15% yaitu Maluku Utara sebesar 16%.
b. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA+ (Case Detecton Rate/CDR) dan Angka
Keberhasilan Pengobatan (Success Rate/SR)
Case Detecton Rate atau angka penemuan kasus TB Paru BTA+ merupakan indikator
yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan upaya pendeteksian kasus. Indikator ini
menggambarkan proporsi antara penemuan TB Paru BTA+ terhadap jumlah perkiraan
kasus TB Paru. Indikator lain yang digunakan dalam upaya pengendalian TB adalah
Success Rate atau angka keberhasilan pengobatan.
CDR menunjukkan peningkatan yang signifkan sejak tahun 2001 sampai dengan
tahun 2012, yaitu dari 21% menjadi 82,38%. Angka ini telah melampaui target Renstra
Kemenkes tahun 2012 sebesar 80%. Indikator angka keberhasilan (SR) juga menunjukkan
peningkatan, yaitu dari 87% pada tahun 2001 menjadi 90,2% pada tahun 2012. Angka
keberhasilan pengobatan (SR) ini juga telah memenuhi target keberhasilan pengobatan
yang distandarkan oleh WHO yaitu minimal 85%. Keberhasilan pengobatan TB paru
ditentukan oleh kepatuhan dan keteraturan dalam berobat, pemeriksaan fsik dan
laboratorium.
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
GAMBAR 4.30
PERSENTASE PASIEN TB PARU BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK YANG DIPERIKSA DAHAKNYA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
SITUASI UPAYA KESEHATAN
167
Gambaran capaian SR pada tngkat provinsi menunjukkan bahwa terdapat 23 provinsi
memiliki capaian melebihi target minimal WHO sebesar 85%. Capaian SR pada tahun
2012 di 33 provinsi disajikan pada gambar berikut.
GAMBAR 4.32
PERSENTASE KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB PARU
(SUCCESS RATE) DI INDONESIA TAHUN 2012 (PENGOBATAN TAHUN 2011)
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
GAMBAR 4.31
PERSENTASE PENEMUAN KASUS BARU DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU
DI INDONESIA TAHUN 2001-2012
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2012
Profil Kesehatan Indonesia 2012
168
Pada gambar di atas nampak bahwa Provinsi Banten memiliki capaian tertnggi sebesar
98,3% diikut oleh Gorontalo sebesar 96,6%, dan Sulawesi Utara sebesar 95,4%.
Sedangkan provinsi dengan capaian terendah adalah Papua Barat sebesar 43,7% diikut
oleh Papua sebesar 76% dan Kepulauan Riau sebesar 77,8%. Data dan Informasi lebih
rinci menurut provinsi terkait pengendalian TB paru, terdapat pada Lampiran 4.31.
3. Pengendalian Penyakit Malaria
Millenium Development Goals (MDGs) juga memantau keberhasilan pengendalian
penyakit malaria melalui tujuan ke-6 yaitu memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit
menular lainnya. Malaria masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat khususnya
yang terkait dengan resistensi Plasmodium falciparum terhadap pengobatan klorokuin.
Permasalahan lainnya yang menyebabkan malaria masih menjadi beban kesehatan
masyarakat adalah meluasnya daerah perindukan vektor akibat perubahan lingkungan,
penambahan jumlah vektor akibat perubahan iklim yang menyebabkan musim hujan
lebih panjang daripada musim kemarau, dan peningkatan penularan karena mobilitas
penduduk yang tnggi.
Salah satu bentuk komitmen pemerintah terhadap upaya pengendalian malaria, telah
diterbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/
SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia. Eliminasi
malaria bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat, yang terbebas
dari penularan malaria secara bertahap sampai dengan tahun 2030. Penetapan sasaran
wilayah eliminasi malaria dilaksanakan secara bertahap. Wilayah tersebut yaitu :
1. Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta), Pulau Bali, dan pulau Batam pada
tahun 2010;
2. Pulau Jawa, Provinsi Aceh, dan Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2015;
3. Pulau Sumatera (kecuali Provinsi Aceh dan Kepulauan Riau), Provinsi NTB,
Pulau Kalimantan, dan Pulau Sulawesi pada tahun 2020; dan
4. Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara
pada tahun 2030.
Eliminasi malaria memiliki kegiatan utama yang terdiri dari :
1. Peningkatan kualitas dan akses terhadap penemuan dini dan pengobatan
malaria
2. Penjaminan kualitas diagnosis malaria melalui pemeriksaan laboratorium
SITUASI UPAYA KESEHATAN
169
GAMBAR 4.33
PERSENTASE PEMERIKSAAN SEDIAAN DARAH SUSPEK MALARIA
TAHUN 2008 - 2012
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Setap tersangka malaria diharapkan menjalani pemeriksaan sediaan darah dan apabila
hasilnya positf maka diobat menggunakan Artemisinin-based Combinaton Therapy
(ACT). Cakupan kasus yang dinyatakan positf dan mendapatkan pengobatan, diukur
melalui indikator persentase penderita malaria yang diobat. Persentase penderita
malaria yang diobat adalah persentase penderita malaria yang diobat sesuai pengobatan
standar dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan dengan jumlah kasus malaria positf
dalam tahun tersebut. Capaian indikator ini pada tahun 2012 sebesar 81,78%. Angka
maupun Rapid Diagnostc Test (RDT)
3. Perlindungan terhadap kelompok rentan terutama ibu hamil dan balita di
daerah endemis tnggi
4. Penguatan penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan surveilens kasus malaria
5. Intervensi vektor termasuk surveilans vektor
6. Penguatan sistem pengelolaan logistk Malaria
Berdasarkan cakupan konfrmasi laboratorium belum semua suspek malaria dilakukan
pemeriksaan sediaan darahnya baik secara mikroskopis (laboratorium) maupun dengan
Rapid Diagnosis Test (RDT) Malaria. Dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012,
pemeriksaan sediaan darah terhadap jumlah suspek malaria terus meningkat secara
signifkan yaitu pada tahun 2008 sebesar 48% meningkat menjadi 93% pada tahun 2012
sepert yang ditampilkan pada gambar berikut ini.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
170
ini lebih besar dibandingkan tahun 2010 yang sebesar 66,3%. Pengobatan terhadap
penderita positf malaria belum 100% karena masih adanya pengobatan malaria dengan
menggunakan obat selain ACT (misal khloroquin) dan larangan konsumsi ACT bagi ibu
hamil trimester pertama.
4. Pengendalian Penyakit ISPA
Pneumonia merupakan penyebab utama kematan balita di dunia, terutama di negara
berkembang, di mana 1 orang balita meninggal tap 20 detk atau 3 orang per menit
(Unicef, 2006). Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematan pada bayi (post
neonatal) karena pneumonia sebesar 12,7% dan pada anak balita sebesar 13,2%.
Pada klasifkasi pengendalian ISPA berdasarkan golongan umur terdapat 2 kelompok,
yaitu golongan umur 2 bulan s/d < 5 tahun, dan golongan umur < 2 bulan. Pneumonia
pada golongan umur 2 bulan s/d < 5 tahun ditetapkan 3 klasifkasi yaitu ; Pneumonia,
Pneumonia Berat dan Batuk Bukan Pneumonia. Pada golongan umur < 2 bulan ditetapkan
2 klasifkasi yaitu Pneumonia Berat dan Batuk Bukan Pneumonia.
Semua kasus ISPA yang ditemukan harus ditatalaksana sesuai standar, dengan demikian
angka penemuan kasus pneumonia juga menggambarkan penatalaksanaan kasus
ISPA. Cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita merupakan persentase
jumlah penderita pneumonia pada balita baik Pneumonia Berat maupun Pneumonia
terhadap jumlah target penemuan pneumonia balita. Target penemuan pneumonia
balita tersebut ditentukan berdasarkan proporsi 10% dari jumlah seluruh balita. Upaya
penemuan pneumonia balita sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2012 disajikan
pada gambar berikut.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
171
Gambar di atas menunjukkan bahwa cakupan penemuan pneumonia pada balita tahun
2012 sebesar 23,42%. Cakupan ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan cakupan
penemuan tahun 2011 yang sebesar 23,98%%.
Cakupan penemuan penderita pneumonia belum memenuhi target yang ditentukan
sejak tahun 2005 hingga tahun 2012. Hambatan yang ditemui dalam meningkatkan
cakupan penemuan Pneumonia balita di puskesmas yaitu:
1. Sebagian besar pengelola program dan petugas ISPA di poliklinik belum terlath
karena keterbatasan dana dan mutasi petugas yang tnggi.
2. Manajemen data:
a. Under reported yang disebababkan karena kerancuan antara diagnosa kerja
dan klasifkasi ISPA (Pneumonia, Pneumonia Berat, Batuk Bukan Pneumonia/
ISPA biasa), sehingga banyak kasus pneumonia dimasukkan ke dalam ISPA
biasa.
b. Keterlambatan pelaporan secara berjenjang
3. Pengendalian pneumonia balita masih berbasis Puskesmas. Data kasus pneumonia
belum mencakup RS Pemerintah dan swasta, klinik, praktek, dan sarana kesehatan
lain.
4. Pada beberapa kabupaten dan provinsi masih terjadi kesalahan perhitungan target
cakupan.
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
GAMBAR 4.34
CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA PADA BALITA
DI INDONESIA TAHUN 2005 2012
Profil Kesehatan Indonesia 2012
172
Informasi lebih rinci mengenai penemuan pneumonia pada balita dapat dilihat pada
Lampiran 4.32.
5. Pengendalian Penyakit Kusta
Dalam upaya pengendalian penyakit kusta digunakan dua indikator utama yaitu angka
penemuan kasus baru atau New Case Detecton Rate (NCDR),dan angka cacat tngkat II.
Indikator NCDR menggambarkan besarnya masalah kusta dalam satu wilayah dan satu
waktu sedangkan angka cacat tngkat II menggambarkan perubahan dalam penemuan
kasus baru kusta. Tabel berikut menampilkan indikator NDCR per 100.000 penduduk
dan angka kecacatan tngkat II.
TABEL 4.2
ANGKA PENEMUAN KASUS BARU (NCDR)
DAN ANGKA CACAT TINGKAT II KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2004 2012
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Catatan : MB = Multi Basiller, PB = Pausi Basiller, NCDR = New Case Detection Rate
Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa NCDR per 100.000 penduduk tahun 2012
mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011, yaitu dari 8,3 per 100.000 penduduk
menjadi 7,76 per 100.000 penduduk. Sedangkan angka cacat tngkat II menunjukkan
peningkatan yaitu dari 0,84 pada tahun 2011 menjadi 0,87 per 100.000 penduduk pada
tahun 2012. Penurunan angka penemuan kasus baru dan peningkatan angka cacat
tngkat II ini dapat diartkan semakin terlambat kasus baru ditemukan maka kecacatan
yang terjadi pada kasus baru akan semakin tnggi.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
173
6. Pengendalian Penyakit Polio
Pada tahun 1988, sidang ke-41 WHA (World Health Assembly) telah menetapkan program
eradikasi polio secara global (global polio eradicaton initatve) yang ditujukan untuk
mengeradikasi penyakit polio pada tahun 2000. Kesepakatan ini diperkuat oleh sidang
World Summit for Children pada tahun 1989, di mana Indonesia turut menandatangani
kesepakatan tersebut.
Eradikasi Polio adalah apabila tdak ditemukan virus Polio liar indigenous selama 3
tahun berturut-turut di suatu region yang dibuktkan dengan surveilans AFP yang sesuai
standar sertfkasi. Dasar pemikiran Eradikasi Polio adalah:
a. Manusia satu-satunya reservoir dan tdak ada longterm carrier pada manusia.
b. Sifat virus polio yang tdak tahan lama hidup di lingkungan.
c. Tersedianya vaksin yang mempunyai efektvitas >90% dan mudah dalam
pemberian.
d. Layak dilaksanakan secara operasional.
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit polio dilakukan melalui imunisasi rutn,
imunisasi tambahan, surveilans AFP, dan pengamanan virus polio liar di laboratorium.
Surveilans AFP adalah pengamatan yang dilakukan terhadap semua kasus lumpuh
layuh akut (AFP) pada anak usia < 15 tahun yang merupakan kelompok rentan terhadap
penyakit polio. Tujuan surveilans AFP antara lain mengidentfkasi daerah risiko
tnggi untuk terjadinya transmisi virus polio, memantau kemajuan program eradikasi
polio, dan membuktkan Indonesia bebas polio. Penemuan kasus dalam surveilans
AFP dilaksanakan melalui surveilans aktf di RS dan surveilans berbasis masyarakat.
Surveilans AFP dilaksanakan secara intensif pada tahun 1997. Pada tahun 2002, Ditjen
PPPL menetapkan adanya Petugas Surveilans Khusus AFP di tngkat provinsi.
Salah satu indikator untuk mengukur kinerja surveilans AFP adalah Non Polio AFP rate
2 per 100.000 anak usia < 15 tahun. Pada tahun 2012, Non Polio AFP rate di Indonesia
sebesar 2,77 per 100.000 anak usia < 15 tahun. Meskipun mengalami penurunan
dibandingkan tahun 2011, indikator ini telah memenuhi target. Terdapat 32 provinsi
yang telah memenuhi target tersebut pada tahun 2012 sepert yang ditampilkan pada
gambar berikut ini.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
174
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa provinsi dengan capaian penemuan tertnggi
adalah Gorontalo sebesar 7,33 per 100.000 penduduk, diikut oleh Nusa Tenggara
Timur sebesar 5,33 per 100.000 penduduk, dan DI Yogyakarta sebesar 5 per 100.000
penduduk. Provinsi dengan cakupan penemuan terendah adalah Maluku Utara sebesar
1,5 per 100.000 penduduk diikut oleh Sulawesi Barat dan Kalimantan Tengah masing-
masing sebesar 2 per 100.000 penduduk.
Indikator lain yang juga digunakan untuk menilai penemuan kasus AFP adalah persentase
spesimen adekuat 80%, artnya minimal 80% spesimen tnja penderita harus sesuai
dengan persyaratan yaitu diambil 14 hari setelah kelumpuhan dan suhu spesimen
2-8C sampai di laboratorium. Capaian indikator spesimen adekuat secara nasional
pada tahun 2012 telah mencapai target yaitu sebesar 89,6%.
GAMBAR 4.35
NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK USIA < 15 TAHUN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
SITUASI UPAYA KESEHATAN
175
GAMBAR 4.36
PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Dari 33 provinsi, terdapat 3 provinsi yang spesimen adekuatnya mencapai 100%, yaitu
Sumatera Utara, Bengkulu, dan Maluku. Namun, ada 6 provinsi dengan spesimen adekuat
< 80% yaitu Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Barat, Maluku Utara,
Papua, dan Papua Barat.
Pencapaian indikator surveilans AFP dan persentase spesimen adekuat selama tahun
20032012 dapat dilihat pada gambar 4.37.
Gambar 4.37 menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan non polio AFP rate
per 100.000 anak usia < 15 tahun. Non polio AFP rate pada tahun 2003 sebesar
1,21 meningkat menjadi 2,77 pada tahun 2012. Indikator penemuan kasus ini telah
memenuhi target dalam kurun waktu tersebut. Keterwakilan kondisi lapangan pada
hasil pemeriksaan yang tercermin dalam persentase spesimen yang adekuat juga
menunjukkan peningkatan sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2012, dari 79,1%
menjadi 89,6%. Indikator ini telah memenuhi target minimal 80% sejak tahun 2003
sampai dengan tahun 2012.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
176
GAMBAR 4.37
PERSENTASE SPESIMEN ADEKUAT
DAN NON POLIO AFP RATE TAHUN 2003-2012
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Untuk kasus AFP dengan spesimen tdak adekuat atau hasil laboratorium menunjukan
virus polio vaksin positf, perlu dilakukan kunjungan ulang 60 hari setelah kelumpuhan
untuk memastkan ada/tdaknya residual paralysis (sisa kelumpuhan). Pada tahun 2012,
capaian indikator kunjungan ulang 60 hari secara nasional belum mencapai target
( 80%) yaitu sebesar 76%. Namun, di beberapa provinsi, indikator tersebut telah
mencapai 100%. Data dan informasi lebih rinci terkait upaya pengendalian AFP terdapat
pada Lampiran 4.33.
7. Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus
Dengue yang menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypt. Penyakit
ini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat karena fatalitasnya dalam
menyebabkan kematan dan kerapnya Kejadian Luar Biasa (KLB) yang terjadi pada bulan
tertentu.
Upaya pengendalian penyakit DBD secara umum terdiri dari :
1. Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor;
2. Diagnosis dini dan pengobatan dini; dan
SITUASI UPAYA KESEHATAN
177
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
3. Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD.
Upaya pemberantasan vektor dilakukan melalui kegiatan Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN). Kegiatan ini dilakukan melalui pengasapan dengan insektsida dalam 2
siklus. Pada siklus pertama semua nyamuk yang mengandung virus dengue dan nyamuk-
nyamuk lainnya akan mat. Namun, akan muncul nyamuk-nyamuk baru yang berasal
dari jentk yang memang tdak dapat dibasmi pada siklus pertama. Oleh karena itu perlu
dilakukan penyemprotan siklus kedua. Penyemprotan yang kedua dilakukan 1 minggu
sesudah penyemprotan yang pertama agar nyamuk yang baru tersebut akan terbasmi
sebelum sempat menularkan kepada orang lain. Untuk mengetahui efektvitas PSN
maka dilakukan pemeriksaan jentk berkala (PJB). Kegiatan PJB menghasilkan indikator
Angka Bebas Jentk (ABJ) yang menggambarkan kepadatan jentk. Capaian ABJ pada
tahun 2012 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2011 yaitu dari 76,2% menjadi
79,3%. Gambaran capaian ABJ dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 ditampilkan
pada gambar berikut ini.
GAMBAR 4.38
ANGKA BEBAS JENTIK/ABJ (%) DI INDONESIA
TAHUN 2008-2012
Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa ABJ dalam 5 tahun terakhir belum
memenuhi target 95%. Namun demikian pelaporan data ABJ belum mencakup seluruh
wilayah kabupaten/kota di Indonesia. Selain itu, belum semua puskesmas melaksanakan
kegiatan Pemantauan Jentk Berkala (PJB) secara rutn karena keterbatasan alokasi
anggaran di daerah.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
178
8. Pengendalian Penyakit Filariasis
Filariasis merupakan salah satu penyakit menular yang termasuk ke dalam (NTD/
Neglelected Tropical Disease). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cacing flaria dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini tersebar luas di perdesaan dan perkotaan
dan menyerang semua golongan tanpa mengenal usia dan jenis kelamin.
Dengan berbagai akibat tersebut, saat ini penyakit kaki gajah telah menjadi salah satu
penyakit yang diprioritaskan untuk dieliminasi dan diprakarsai oleh WHO sejak tahun
1999. Komitmen tersebut diperkuat pada tahun 2000 melalui keputusan WHO dengan
mendeklarasikan The Global Goal of Eliminaton of Lymphatc Filariasis as a Public
Health Problem by the Year 2020. Indonesia sepakat untuk memberantas flariasis
sebagai bagian dari eliminasi flariasis global melalui 2 pilar kegiatan yaitu :
1. Pemberian obat massal pencegahan (POMP) flariasis kepada semua penduduk
di kabupaten endemis flariasis dengan menggunakan DEC 6 mg/kg BB
dikombinasikan dengan Albendazole 400 mg sekali setahun selama minimal 5
tahun berturut-turut, guna memutus rantai penularan.
2. Tatalaksana kasus klinis flariasis guna mencegah dan mengurangi Kecacatan.
Dengan ditetapkannya kabupaten/kota sebagai Implementaton Unit (IU) dalam program
eliminasi flariasis sejak tahun 2005, maka ketka suatu kabupaten/kota dinyatakan
endemis flariasis, dengan demikian kegiatan POMP flariasis harus segera dilaksanakan
untuk memutus rantai penularan. Sasaran pengobatan massal adalah semua penduduk
di kabupaten/kota tersebut kecuali anak berumur < 2 tahun, ibu hamil, orang yang
sedang sakit berat, penderita kronis flariasis yang dalam serangan akut, dan balita
dengan marasmus/kwasiorkor dapat ditunda pengobatannya.
Pada tahun 2012 terdapat 300 kabupaten/kota yang dinyatakan endemis flariasis. Dari
jumlah tersebut, hanya 87 kabupaten/kota yang melaksanakan Pemberian Obat Massal
Pencegahan (POMP) Filariasis dan 32 kabupaten/kota yang telah selesai melaksanakan
POMP Filariasis selama 5 tahun berturut-turut. Belum semua kabupaten endemis
flariasis melaksanakan POMP, hal ini disebabkan masih belum maksimalnya komitmen
Pemerintah Daerah dalam menyediakan biaya operasional POMP Filariasis selama
minimal 5 tahun berturut- turut yang menjadi tanggung jawab Pemda, sedangkan
tanggung jawab Pemerintah Pusat adalah menyediakan obat.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
179
GAMBAR 4.39
CAKUPAN PEMBERIAN OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2005-2012
Berdasarkan gambar 4.39 diketahui bahwa terdapat peningkatan cakupan pengobatan
massal pada tahun 2012 dibandingkan tahun 2011. Target POMP flariasis pada tahun
2012 adalah 33.688.840 dan cakupan yang dicapai adalah 19.0490.000 (56,5%). Advokasi
kepada pemangku kebijakan di kabupaten/kota diperlukan untuk mendapatkan
komitmen dan kesinambungan penganggaran sehingga cakupan pengobatan dapat
ditngkatkan. Dengan demikian tujuan eliminasi flariasis di Indonesia tahun 2020 dapat
dicapai.
Kegiatan tatalaksana kasus klinis flariasis harus dilakukan pada semua penderita.
Tatalaksana ini bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecacatan penderita dan
agar penderita menjadi mandiri dalam merawat dirinya. Setap penderita dibuatkan
status rekam medis yang disimpan di Puskesmas dan mendapatkan kunjungan dari
petugas kesehatan minimal 6 kali dalam setahun.
Jumlah kasus ditatalaksana pada tahun 2012 sebanyak 5.409 kasus dari 11.903 jumlah
kasus. Gambaran penatalaksanaan kasus klinis flariasis dari tahun 2006 sampai dengan
tahun 2012 disajikan pada gambar berikut ini.
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
180
GAMBAR 4.40
PERSENTASE PENATALAKSANAAN KASUS KLINIS FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2006-2012
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Gambar di atas menunjukan adanya penurunan persentase kasus klinis flariasis yang
ditatalaksana, yaitu dari 45,57% pada tahun 2011 menjadi 45,44% pada tahun 2012.
Kasus klinis flariasis yang ditatalaksana masih dibawah 50%, hal ini memperlihatkan
kegiatan penatalaksanaan kasus klinis kurang berjalan dengan baik.
9. Pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Ruang lingkup pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (PJPD) yang
menjadi tanggung jawab Subdirektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Ditjen
PPPL meliput sebagai berikut : hipertensi essensial, penyakit ginjal hipertensi, penyakit
jantung hipertensi, stroke, gagal jantung, penyakit jantung koroner (PJK), kardiomiopathy,
penyakit jantung rheumatc, penyakit jantung bawaan, dan infark miocard akut. Prioritas
program pengendalian tahun 2012 memperhatkan pada pengendalian faktor risiko PJPD
berbasis masyarakat, deteksi dini, dan jejaring kerja dengan tahapan kegiatan sebagai
berikut :
1. Penyusunan Norma Standar Prosedur Kriteria (NSPK). Sampai dengan tahun 2012,
NSPK yang telah disusun berupa :
a. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor854/MENKES/SK/IX/2009 Tentang
Pedoman Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
SITUASI UPAYA KESEHATAN
181
b. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 853/MENKES/SK/IX/2009 Tentang
Jejaring Kerja Nasional
c. Buku pedoman Pengendalian Hipertensi pada Ibu Hamil
d. Buku Deteksi Dini Faktor Risiko penyakit Jantung dan pembuluh Darah
e. Revisi Pedoman Pengendalian Penyakit Jantung (Hipertensi, Stroke)
f. Pedoman Asupan Kadar Gula, Garamdan Lemak dalam Rangka Pengendalian
PJPD
2. Pengembangan SDM yang terdiri dari Training of Trainers (TOT) di 17 wilayah, dan
kalakarya di lokasi pelaksanaan bimbingan teknis dan sosialisasi.
3. Penyediaan alat stmulan berupa masscrening yang terdiri dari tmbangan badan,
alat ukur tnggi badan, lingkar pinggang, tekanan darah, cardiochek, dan EKG yang
didistribusikan ke 33 provinsi.
4. Surveilans Epidemiologi. Kegiatan ini berupa penemuan dan tatalaksana penyakit
jantung dan pembuluh darah. Salah satu kegiatan pokok pengendalian penyakit
jantung dan pembuluh darah yaitu penemuan dan tatalaksana yang dilaksanakan
melalui deteksi dini faktor risiko. Lokasi deteksi dini yang dilakukan pada tahun
2010 adalah Bireuen, Kota Cimahi, Pontanak, Lamongan, Badung, Kota Balikpapan,
Kota Pare Pare, dan Kota Banjar Baru.
5. Pengendalian factor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah berbasis
masyarakat melalui peningkatan pemberdayaan peran serta masyarakat. Kegiatan
ini dilakukan dengan melath kader-kader Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) di 17
provinsi dan 36 kabupaten/kota.
6.. Jejaring kerja berdasarkan faktor risiko PJPD. Kegiatan ini dilakukan dengan menjalin
kerjasama dengan lintas sektor, lintas program dan Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM).
10. Pengendalian Penyakit Kanker
Program pengedalian penyakit kanker dilakukan untuk semua jenis kanker, tetapi saat ini
masih diprioritaskan pada dua kanker tertnggi di Indonesia yaitu kanker leher rahim dan
kanker payudara. Kegiatan yang dilakukan meliput pencegahan primer, sekunder, dan
tersier. Pencegahan primer dilakukan melalui pengendalian faktor risiko dan peningkatan
komunikasi, informasi dan edukasi. Pencegahan sekunder dilakukan melalui deteksi dini
dan tatalaksana yang dilakukan di Puskesmas dan rujukan ke rumah sakit. Deteksi dini
kanker leher rahim menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan
Profil Kesehatan Indonesia 2012
182
krioterapi untuk IVA (lesi pra kanker leher rahim) positf, sedangkan deteksi dini kanker
payudara menggunakan metode Clinical Breast Examiniaton (CBE). Pencegahan tersier
dilakukan melalui perawatan paliatf dan rehabilitatf di unit-unit pelayanan kesehatan
yang menangani kanker dan pembentukan kelompok survivor kanker di masyarakat.
Pada tahun 2011, program deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim telah
dikembangkan di 87 kabupaten/kota di 17 provinsi, dan pada tahun 2012 meningkat
menjadi 115 kabupaten/kota di 23 provinsi. Provinsi yang sebagian kabupaten/kotanya
telah mengembangkan program deteksi dini tersebut sejak tahun 2010 sampai dengan
tahun 2012 disajikan pada tabel berikut ini.
TABEL 4.3
PROVINSI DENGAN KABUPATEN/KOTA
YANG MENGEMBANGKAN DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA
DAN KANKER LEHER RAHIM
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2013
Menurut data Sistem Registrasi Kanker di Indonesia (SriKanDI) tahun 2005-2007
menunjukkan bahwa estmasi insiden kanker pada anak (0-17 tahun) sebesar 9 per
100.000 anak-anak. Leukemia merupakan kanker tertnggi pada anak sebesar 2,8 per
100.000, kanker bola mata/retnoblastoma 2,4 per 100.000, osteosarkoma 0,97 per
100.000, limfoma 0,75 per 100.000, kanker nasopharing 0,43 per 100.000. Kasus kanker
pada anak-anak sebesar 4,7% dari kanker pada semua umur. Angka kematan akibat
kanker ini mencapai 50-60% karena pada umumnya penderita datang terlambat atau
sudah dalam stadium lanjut.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
183
Sejak tahun 2011 dikembangkan program deteksi dini kanker pada anak yang meliput
6 jenis kanker pada anak, yaitu leukemia (kanker darah), retnoblastoma (kanker bola
mata), kanker nasopharink (nasofaring), neuroblastoma (kanker pada saraf), lymphoma
malignum (kanker kelenjar getah bening), dan osteosarcoma (kanker tulang). Program
ini dikembangkan dengan deteksi dini yaitu mengenal tanda dan gejala sejak dini yang
dilaksanakan di puskesmas dan rujukan ke rumah sakit untuk setap temuan kelainan
curiga kanker pada anak. Pengembangan dimulai dengan membuat NSPK untuk
pengendalian kanker anak, sepert pedoman dan buku saku. Sedangkan pada tahun
2012 dilakukan sosialisasi dan peningkatan SDM di 7 provinsi.
Kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengendalian penyakit kanker antara lain :
1. Pencegahan dan pengendalian faktor risiko.
Sampai dengan tahun 2012 telah banyak disusun Pedoman Pengendalian Penyakit
Kanker yang menjadi acuan bagi petugas kesehatan dan berbagai pihak yang terlibat
dalam pengendalian kanker. Pengendalian faktor risiko kanker juga dilakukan
dengan memberikan konseling dan penyuluhan bagi perempuan yang melakukan
deteksi dini kanker leher rahim dan payudara di Puskesmas. Sampai tahun 2012
terdapat layanan konseling di 115 kabupaten/kota pada 23 provinsi.
2. Penemuan dan tatalaksana kasus.
Program deteksi dini dan tatalaksana yang dilakukan masih diprioritaskan pada
2 kanker tertnggi di Indonesia yaitu kanker payudara dan kanker leher rahim.
Program ini dimulai sejak tahun 2007 dan telah dicanangkan sebagai program
nasional yang dicanangkan oleh Ibu Negara pada 21 April 2008. Program tersebut
dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan dan Female Cancer Program (FCP).
Program deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim telah dikembangkan
di 16 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung,
DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istmewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten,
Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan
Sulawesi Selatan.
3. Peningkatan surveilans epidemiologi.
Dalam upaya meningkatkan kualitas surveilans epidemiologi penyakit kanker, agar
diperoleh data kanker yang valid dan tdak ada duplikasi pencatatan di masyarakat,
maka dikembangkan modeling registrasi kanker berbasis populasi di DKI Jakarta.
Program tersebut akan dikembangkan ke daerah lain di Indonesia. Sampai tahun
2012, registrasi di DKI Jakarta telah dilaksanakan di 79 Rumah Sakit, 2 klinik, 90
Profil Kesehatan Indonesia 2012
184
laboratorium patologi, dan 34 Puskesmas kecamatan yang membawahi 301
Puskesmas kelurahan.
4. Peningkatan jejaring kerja dan kemitraan.
Dalam mengembangkan program pengendalian kanker di Indonesia, Kementerian
Kesehatan bekerja sama dengan lintas sektor terkait, pemerintah daerah, organisasi
profesi, LSM dalam dan luar negeri, dan pihak-pihak lainnya. Kerjasama ini
diantaranya diwujudkan dalam penyusunan rencana kerja 5 tahun (2010-2014), yaitu
Indonesian Cancer Control Program (ICCP) yang disusun dari rencana kerja semua
pihak yang diintegrasikan. Rencana kerja tersebut meliput aspek pencegahan,
deteksi dini, diagnosis dan pengobatan, pelayanan paliatf, surveilans epidemiologi,
riset/penelitan, support dan rehabilitasi. Rencana kerja ini diharapkan menjadi
acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun rencana kegiatan pengendalian
kanker di masing-masing daerah.
11. Pengendalian Penyakit Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik
Ruang lingkup pengendalian penyakit diabetes melitus dan penyakit metabolik yang
ditangani oleh Subdirektorat Pengendalian Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik
adalah : diabetes melitus, obesitas, gangguan kelenjar troid, dislipidemia, gangguan
metabolisme kalsium, gangguan sekresi korteks adrenal, dan gangguan kelenjar
hipotalamus.
Diabetes melitus disebabkan oleh pola makan/nutrisi, kebiasaan tdak sehat, kurang
aktftas fsik, dan stress. Tujuan program pengendalian diabetes melitus dan penyakit
metabolik adalah terselenggaranya peningkatan kemandirian masyarakat dalam
pencegahan dan penanggulangan faktor risiko penyakit tdak menular dengan melibatkan
pengelola program pusat, daerah, UPT, lintas program, lintas sektor, organisasi profesi,
LSM dan masyarakat.
Kegiatan pengendalian diabetes melitus dan penyakit metabolik yang telah dilaksanakan
terdiri dari pokok-pokok kegiatan yaitu :
1. Penyusunan pedoman
Tahun 2010 telah disusun 7 pedoman dengan revisi sebanyak 3 kali. Pada tahun
2012 dilakukan penyusunan tga Pedoman Pengendalian DM yaitu : Pengendalian
DM Tipe 1 di Puskesmas, Pedoman Pengendalian DM Gestasional di Puskesmas dan
Petunjuk Teknis Pengendalian DM di Puskesmas.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
185
2. Peningkatan kapasitas SDM.
Upaya ini telah dilakukan melalui TOT deteksi dini dan tatalaksana diabetes melitus
dan penyakit metabolik di 16 provinsi. Selain itu juga dilaksanakan pelathan
terhadap 180 dokter spesialis penyakit dalam dan 180 dokter umum di 6 kota, yaitu
Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar.
3. Menjalin kemitraan
Upaya lain terkait pencegahan dan penanggulangan faktor risiko adalah menjalin
kemitraan dengan lintas program/lintas sektor melalui pembentukan jejaring
kelompok kerja diabetes melitus, pengembangan partsipasi masyarakat dalam
pengendalian diabetes dan penyakit metabolik di 33 provinsi, serta pengembangan
Forum Diabetes Melitus di Indonesia. Pada tahun 2010 di bentuk Project Partnership
Agreement (PPA) antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui
Ditjen PPPL dengan World Diabetes Foundaton (WDF) yaitu lembaga swasta
dunia yang berdedikasi dalam pencegahan dan pengobatan diabetes melitus di
negara berkembang. Tujuan dari kerja sama ini adalah melakukan intervensi pada
masyarakat dalam rangka pencegahan dan pengendalian diabetes melitus beserta
faktor risikonya.
E. UPAYA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
1. Ketersediaan Obat dan Vaksin
Kebijakan Pemerintah terhadap peningkatan akses obat telah ditetapkan antara
lain dalam Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Sistem Kesehatan
Nasional (SKN), dan Kebijakan Obat Nasional (KONAS). Dalam upaya pelayanan
kesehatan, ketersediaan obat dalam jenis yang lengkap, jumlah yang cukup, terjamin
khasiatnya, aman, efektf, dan bermutu dengan harga terjangkau serta mudah diakses
adalah sasaran yang harus dicapai.
Di dalam Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014, dinyatakan bahwa sasaran
hasil program kefarmasian dan alat kesehatan adalah meningkatnya sediaan farmasi
dan alat kesehatan yang memenuhi standar dan terjangkau oleh masyarakat. Indikator
tercapainya sasaran hasil tersebut pada tahun 2014 yaitu persentase ketersediaan obat
dan vaksin sebesar 100%. Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, salah satu kegiatan
yang dilakukan yaitu peningkatan ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan
kesehatan dasar.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
186
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut dibutuhkan data manajemen pengelolaan
obat publik dan perbekalan kesehatan dari tap provinsi yang dittkberatkan kepada
ketersediaan obat esensial generik di seluruh wilayah Indonesia.
Pemantauan ketersediaan obat digunakan untuk mengetahui kondisi tngkat ketersediaan
obat di berbagai unit sarana kesehatan sepert Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota dan
Puskesmas. Kegiatan ini dilakukan untuk mendukung pemerintah pusat dan daerah
dalam rangka menentukan langkah-langkah kebijakan yang akan diambil di masa
yang akan datang. Di era otonomi daerah, pengelolaan obat merupakan salah satu
kewenangan yang diserahkan ke kabupaten/kota, akibatnya sulit bagi pemerintah pusat
untuk mengetahui kondisi ketersediaan obat di seluruh Indonesia. Dengan tdak adanya
laporan secara periodik yang dikirim oleh provinsi, maka relatf sulit bagi pemerintah
pusat untuk menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan. Adanya data
ketersediaan obat di provinsi atau kabupaten/kota akan mempermudah penyusunan
prioritas bantuan maupun intervensi program di masa yang akan datang.
GAMBAR 4.41
PERSENTASE KETERSEDIAAN OBAT DAN VAKSIN
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
SITUASI UPAYA KESEHATAN
187
Untuk mendapatkan gambaran ketersediaan obat dan vaksin di Indonesia dilakukan
pemantauan ketersediaan obat dan vaksin. Obat yang dipantau ketersediaannya
merupakan obat indikator yang digunakan untuk pelayanan kesehatan dasar dan obat
yang mendukung pelaksanaan program kesehatan. Jumlah item obat yang dipantau
adalah 144 item obat dan vaksin yang terdiri dari 135 item obat untuk pelayanan
kesehatan dasar dan 9 jenis vaksin untuk imunisasi dasar.
Indikator persentase ketersediaan obat dan vaksin tahun 2012 memiliki target sebesar
90%, dari data dan perhitungan yang dilakukan oleh Ditjen Binfar dan Alkes didapatkan
persentase ketersediaan rata-rata nasional pada tahun 2012 sebesar 92,85%. Dengan
demikian apabila dibandingkan dengan target Tahun 2012 sebesar 90%, maka capaian
kinerja indikator persentase ketersediaan obat dan vaksin tersebut adalah sebesar
103,17%.
Data yang dilaporkan adalah data per tanggal 30 November tahun 2012. Terdapat
sebanyak 26 Provinsi yang melaporkan data, sedangkan 7 provinsi tdak melaporkan
datanya. Gambaran ketersediaan obat dan vaksin di tap provinsi dapat dilihat pada
gambar 4.41.
F
o
t
o
:

P
u
s
a
t

K
o
m
u
n
i
k
a
s
i

P
u
b
l
i
k
Proses pengujian tanaman obat di Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Tawangmangu - Jawa Tengah
Profil Kesehatan Indonesia 2012
188
2. Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Indikator terkait pemanfaatan obat yang juga dinilai dalam Renstra Kementerian
Kesehatan adalah persentase penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan
yaitu di puskesmas dan rumah sakit. Pada tahun 2012, rata-rata penggunaan obat
generik di fasilitas pelayanan kesehatan adalah 82,8%. Angka ini telah memenuhi target
Renstra tahun 2012 sebesar 70%. Sebanyak 32 provinsi telah memenuhi target tersebut
sepert yang disajikan pada gambar 4.42.
Persentase penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan menurut provinsi
menunjukkan gambaran bahwa penggunaan tertnggi terdapat di Provinsi Sulawesi
Barat sebesar 93,4% diikut oleh Riau sebesar 92,6%, dan Kepulauan Riau sebesar
92%. Persentase penggunaan obat generik terendah terdapat di Provinsi DI Yogyakarta
sebesar 69,1% diikut oleh Kalimantan Selatan sebesar 71,9 dan DKI Jakarta sebesar
73,6%. Data dan informasi mengenai ketersedian obat dan vaksin serta penggunaan
obat generik menurut provinsi terdapat pada Lampiran 4.39, dan 4.40.
GAMBAR 4.42
PERSENTASE RATA-RATA PENGGUNAAN OBAT GENERIK
DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2012
Sumber : Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
SITUASI UPAYA KESEHATAN
189
F. PELAYANAN JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT
Tujuan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu untuk
meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat
miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optmal
secara efektf dan efsien. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
diharapkan dapat menurunkan angka kematan ibu, menurunkan angka kematan bayi
dan balita serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus
kesehatan bagi masyarakat miskin. Program ini telah memberikan banyak manfaat
bagi peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan hampir miskin di
Puskesmas dan jaringannya, pelayanan kesehatan di rumah sakit serta memberikan
perlindungan fnasial dari pengeluaran kesehatan akibat sakit.
Pelaksanaan program Jamkesmas 2012 merupakan kelanjutan pelaksanaan tahun 2011
dengan penyempurnaan dan peningkatan terhadap aspek kepesertaan, pelayanan
kesehatan, pendanaan dan organisasi manajemen. Penyelenggarannya diatur dalam
Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 40
tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat.
Jumlah peserta Jamkesmas pada tahun 2012 berjumlah 76.400.000 jiwa yang terdiri
dari masyarakat sangat miskin, miskin dan tdak mampu. Jumlah tersebut terdiri atas
73.726.290 jiwa kepesertaan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupat/Walikota dan
selebihnya adalah peserta di luar SK Bupat/Walikota yang berjumlah 2.673.710 jiwa.
Kepesertaan di luar SK Bupat/Walikota terdiri dari gelandangan, pengemis, anak
terlantar, pant sosial, penghuni rutan/lapas, korban bencana pasca tanggap darurat,
peserta program keluarga harapan (PKH), dan penderita thalasemia mayor.
Sejak tahun 2008 hingga 2012 sasaran Jamkesmas adalah tetap yaitu 76,4 juta jiwa.
Provinsi dengan jumlah sasaran terbesar adalah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa
Barat. Program Jamkesmas melingkupi pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dan
pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit. Kunjungan di pelayanan kesehatan di
Puskesmas terdiri dari Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan Rawat Inap Tingkat
Pertama (RITP). Sedangkan kunjungan di pelayanan kesehatan di Rumah Sakit terdiri
dari Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) dan Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL). Gambar
berikut ini menyajikan jumlah kunjungan peserta Jamkesmas di puskesmas dan rumah
sakit.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
190
Pada Gambar 4.43 nampak bahwa jumlah kunjungan peserta Jamkesmas pada pelayanan
kesehatan tngkat pertama di Puskesmas menggambarkan bahwa jumlah kunjungan
rawat jalan jauh lebih besar dibandingkan rawat inap. Pola yang sama juga nampak pada
layanan kesehatan tngkat lanjut di rumah sakit, yaitu jumlah kunjungan rawat jalan
lebih besar dibandingkan rawat inap.
Pada tahun 2012, terdapat 74,01 juta peserta jamkesmas ke pelayanan kesehatan
rawat jalan, meliput 68,33 juta kunjungan rawat jalan tngkat pertama dan 5,69 juta
kunjungan rawat jalan tngkat lanjut. Sedangkan gambaran pada pelayanan kesehatan
rawat inap adalah sebanyak 4,38 juta yang terdiri dari 3,15 juta kunjungan rawat inap
tngkat pertama dan 1,23 juta kunjungan rawat inap tngkat lanjut. Secara umum, jumlah
kunjungan di pelayanan kesehatan tngkat pertama dan tngkat lanjut pada tahun 2012
lebih tnggi dibandingkan jumlah kunjungan pada tahun 2011, sepert yang tampak
pada gambar 4.44.
Sejak tahun 2011 telah dilakukan perluasan program Jamkesmas dengan diluncurkannya
Jaminan Persalinan (Jampersal) sesuai dengan surat edaran Menkes RI Nomor TU/
Menkes/E/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan. Jampersal adalah pembiayaan
pelayanan persalinan yang meliput pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan,
GAMBAR 4.43
PENCAPAIAN JUMLAH KUNJUNGAN
RJTP, RITP, RJTL & RITL DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
SITUASI UPAYA KESEHATAN
191
GAMBAR 4.44
PENCAPAIAN JUMLAH KUNJUNGAN
RJTP, RITP, RJTL & RITL DI INDONESIA TAHUN 2008-2012
Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2013

pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru
lahir. Jampersal melingkupi seluruh ibu yang belum memiliki jaminan kesehatan.
Jumlah kunjungan Jampersal tertnggi terdapat pada pelayanan pasca persalinan
sebanyak 5.458.072 kunjungan, diikut oleh pelayanan pada Ante Natal Care (K1 dan
K4) sebesar 4.694.819 kunjungan. Sedangkan persalinan normal berada di urutan ke-3
tertnggi yaitu 1.718.001 kunjungan. Kunjugan pada ANC yang tnggi diharapkan dapat
membantu menurunkan komplikasi maternal dan neonatal serta kematan ibu dan
anak melalui pendeteksian dini kehamilan berisiko tnggi. Data dan informasi lebih rinci
menurut provinsi mengenai cakupan pelayanan Jamkesmas dan Jampersal terdapat
pada Lampiran 4.34-4.37.
Pelayanan Kesehatan Siaga di Pelabuhan
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
F
o
t
o
:

P
u
s
a
t

K
o
m
u
n
i
k
a
s
i

P
u
b
l
i
k
Profil Kesehatan Indonesia 2012
194
alah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan
yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada bab sumber daya
kesehatan menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan, tenaga kesehatan, dan
pembiayaan kesehatan.
A. SARANA KESEHATAN
Sarana kesehatan yang disajikan dalam bab ini meliput: Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas), Rumah Sakit (RS), sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat
kesehatan, sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), serta insttusi
pendidikan tenaga kesehatan.
1. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
Puskesmas, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128 Tahun 2004
tentang Kebijakan Dasar Puskesmas, merupakan unit pelaksana teknis (UPT) dinas
kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas memiliki fungsi sebagai: 1) pusat
pembangunan berwawasan kesehatan; 2) pusat pemberdayaan masyarakat; 3) pusat
pelayanan kesehatan masyarakat primer; dan 4) pusat pelayanan kesehatan perorangan
primer. Wilayah kerja Puskesmas meliput wilayah kerja administratf, yaitu satu
wilayah kecamatan, atau beberapa desa/kelurahan di satu wilayah kecamatan dan di
BAB 5. SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
S
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
195
setap kecamatan harus ada minimal satu unit Puskesmas. Dasar pertmbangan untuk
membangun dan menentukan wilayah kerja Puskesmas antara lain faktor luas wilayah,
kondisi geografs, dan kepadatan penduduk.
Sampai dengan akhir tahun 2012, jumlah Puskesmas di Indonesia yang tercatat
sebanyak 9.510 unit, dengan rincian Puskesmas perawatan sejumlah 3.152 unit dan
Puskesmas non perawatan sejumlah 6.358 unit. Jumlah ini meningkat dari tahun 2011
dengan peningkatan jumlah Puskesmas berkisar 2-4% setap tahunnya. Kecenderungan
kenaikan jumlah Puskesmas terjadi hampir di seluruh provinsi di Indonesia, meskipun
terdapat beberapa provinsi yang tdak mengalami kenaikan jumlah Puskesmas dalam
kurun waktu 2 tahun terakhir yaitu Provinsi Bengkulu dan DI Yogyakarta. Dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Puskesmas dibantu satu
atau beberapa Puskesmas pembantu. Gambar 5.1 memperlihatkan jumlah Puskesmas
tahun 2008 sampai dengan 2012.
GAMBAR 5.1
JUMLAH PUSKESMAS TAHUN 2008 2012
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013
Untuk mengetahui keterjangkauan penduduk terhadap Puskesmas, salah satu indikator
yang digunakan yaitu rasio Puskesmas per 100.000 penduduk. Dalam kurun waktu 2008
hingga 2012, rasio Puskesmas menunjukkan adanya peningkatan. Rasio Puskesmas per
100.000 penduduk pada tahun 2008 sebesar 3,74 dan pada tahun 2012 meningkat
menjadi 3,89 Puskesmas. Peningkatan ini merupakan salah satu upaya pemerataan
Puskesmas dalam menjangkau penduduk sasaran di wilayah kerjanya, sepert terlihat
pada Gambar 5.2.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
196
GAMBAR 5.2
RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2008 2012
Sumber : Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013
Rasio Puskesmas per 100.000 penduduk menurut provinsi menunjukkan bahwa rasio
tertnggi pada tahun 2012 adalah di Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 15,67, sedangkan
rasio terendah di Provinsi Banten, yaitu sebesar 2,03. Provinsi-provinsi di kawasan tmur
Indonesia menunjukkan rasio yang cukup tnggi di atas angka rata-rata nasional, hal ini
diperkirakan karena wilayah kerja yang luas namun jumlah penduduk relatf sedikit.
Terdapat 5 lima provinsi dengan rasio Puskesmas per 100.000 penduduk berada di
bawah 3,0 yaitu Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. Angka
tersebut menunjukkan bahwa satu Puskesmas di 5 provinsi tersebut rata-rata melayani
lebih dari 30.000 penduduk. Upaya untuk mengatasi hal tersebut dimungkinkan untuk
penambahan Puskesmas, meskipun di 5 provinsi tersebut banyak fasilitas pelayanan
kesehatan dasar lainnya, namun yang perlu menjadi perhatan adalah fungsi Puskesmas
sebagai penanggungjawab penyelenggaraan pembangunan kesehatan masyarakat di
wilayah kerjanya. Gambaran rasio Puskesmas per 100.000 penduduk menurut provinsi
pada tahun 2012 terdapat pada Gambar 5.3. Rincian jumlah dan rasio Puskesmas per
100.000 penduduk menurut provinsi pada tahun 2008-2012 terdapat pada Lampiran
5.1.
Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di Puskesmas,
beberapa Puskesmas non perawatan telah ditngkatkan statusnya menjadi Puskesmas
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
197
GAMBAR 5.3
RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2012
Sumber : Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013
perawatan. Jumlah Puskesmas perawatan pada tahun 2011 sebanyak 3.019 unit
meningkat menjadi 3.152 unit pada tahun 2012. Kementerian Kesehatan RI memberikan
dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) kepada dinas kesehatan kabupaten/kota
untuk pembangunan Puskesmas perawatan, termasuk penyediaan peralatan kesehatan
dan rumah dinas tenaga medis, bidan dan perawat. Peningkatan jumlah Puskesmas
perawatan yang menyelenggarakan upaya promotf, preventf, kuratf dan rehabilitatf
telah terbukt mempunyai daya ungkit yang lebih besar terhadap peningkatan derajat
kesehatan masyarakat, bila diselenggarakan secara baik, melibatkan secara aktf
masyarakat, konsisten, dan berkesinambungan. Perkembangan jumlah Puskesmas
perawatan dan non perawatan pada tahun 2008-2012 dapat dilihat pada Gambar 5.4.
Rincian mengenai jumlah Puskesmas perawatan dan non perawatan menurut provinsi
terdapat pada Lampiran 5.2.
Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan pertama dan terdepan dalam sistem
pelayanan kesehatan melaksanakan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan
pengembangan. Upaya kesehatan wajib harus diselenggarakan oleh setap Puskesmas
dan upaya kesehatan pengembangan diselenggarakan sesuai dengan masalah, kondisi,
kebutuhan, kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah daerah setempat.
Upaya kesehatan pengembangan di Puskesmas antara lain Pelayanan Obstetrik dan
Neonatal Emergensi Dasar (PONED), Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), upaya
kesehatan kerja, upaya kesehatan olahraga, dan tatalaksana kasus Kekerasan terhadap
Anak (KtA).
Profil Kesehatan Indonesia 2012
198
GAMBAR 5.4
JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN NON PERAWATAN
TAHUN 2008 2012
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2013
a. Puskesmas dengan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED)
Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) yang dilaksanakan
Puskesmas merupakan upaya mempercepat penurunan Angka Kematan Ibu (AKI) dan
Angka Kematan Bayi (AKB) sebagai salah satu target pencapaian MDGs 2015. Puskesmas
PONED bertujuan mendekatkan akses masyarakat kepada pelayanan kegawatdaruratan
obstetri dan neonatal dasar.
Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun
20102014 serta dijabarkan dalam indikator Rencana Strategis (Renstra) Kementerian
Kesehatan 2010-2014 telah ditetapkan target Puskesmas PONED yaitu persentase
Puskesmas rawat inap yang mampu PONED dari tahun 2010 sampai dengan 2014. Pada
akhir tahun 2014 diharapkan 100% Puskesmas rawat inap mampu PONED. Strategi dan
kebijakan yang diambil Kementerian Kesehatan RI dalam mencapai target tersebut yaitu
di masing-masing kabupaten/kota minimal terdapat 4 Puskesmas PONED (mengacu
standar WHO). Maka jumlah Puskesmas PONED yang ada pada tahun 2014 minimal
sejumlah 1.988 unit, dengan asumsi jumlah kabupaten/kota tetap (497 kabupaten/
kota).
Puskesmas PONED sampai tahun 2012 tercatat berjumlah 2.570 unit terdiri dari
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
199
Puskesmas perawatan 1.960 unit (76,41%) dan Puskesmas non perawatan 605 unit
(23,59%). Masih terdapat 5 provinsi yang rasio Puskesmas PONED terhadap jumlah
kabupaten/kota masih di bawah 4 yaitu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (2,86), DKI
Jakarta (2,83), Maluku Utara (3,11), Papua Barat (1,73), Papua (0,72). Konsep istlah
rawat inap yang digunakan dalam PONED berbeda dengan Puskesmas perawatan.
Konsep rawat inap yang digunakan dalam Puskesmas PONED adalah Puskesmas yang
dapat melakukan perawatan inap kepada pasien pasca tndakan emergensi (one day
care). Sehingga memungkinkan Puskesmas non perawatan yang memiliki tempat
tdur dan mampu melakukan tndakan emergensi obstetri dan neonatal dasar, dapat
menyelenggarakan PONED. Gambar 5.5 memperlihatkan jumlah Puskesmas PONED
menurut provinsi tahun 2012.
GAMBAR 5.5
JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN OBSTETRIK DAN NEONATAL EMERGENSI
DASAR (PONED) DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen. Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Sampai dengan tahun 2012 kabupaten/kota yang memiliki Puskesmas PONED lebih dari
atau sama dengan 4 unit sejumlah 304 kabupaten/kota (61,17%), 1 sampai dengan 3
unit sejumlah 150 kabupaten/kota (30,18%), dan yang belum mempunyai Puskesmas
PONED sejumlah 43 kabupaten/kota (8,65%).
Profil Kesehatan Indonesia 2012
200
b. Puskesmas dengan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas telah dikembangkan
sejak tahun 2003. Puskesmas PKPR memberikan layanan di dalam dan di luar gedung
Puskesmas, dengan sasaran kelompok remaja sekolah dan kelompok luar sekolah
sepert kelompok anak jalanan, karang taruna, remaja masjid/gereja/vihara/pura,
pondok pesantren, asrama dan kelompok remaja lainnya. Jenis kegiatan PKPR meliput
penyuluhan, pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang, konseling,
Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) pelathan pendidik sebaya dan konselor
sebaya serta pelayanan rujukan.
Sejak tahun 2009 diupayakan setap kabupaten/kota minimal memiliki 4 Puskesmas
mampu tata laksana Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja. Sampai dengan tahun 2012
Puskesmas PKPR berjumlah 3.191 unit. Rincian jumlah Puskesmas PKPR menurut
provinsi tahun 2012 dapat dilihat pada Gambar 5.6.
GAMBAR 5.6
JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen. Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
201
c. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Kerja
Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 120,4 juta orang,
bertambah sekitar 3,0 juta orang dibanding angkatan kerja Agustus 2011. Dari jumlah
angkatan kerja tersebut yang bekerja sebanyak 112,8 juta orang, bertambah sekitar 3,1
juta orang dibanding angkatan kerja Agustus 2011. Angkatan kerja ini bekerja di kegiatan
formal sebesar 42,1 juta (37,29%) dan di kegiatan informal sebesar 70,7 juta (62,71%).
Kebijakan pembangunan kesehatan ditujukan untuk mewujudkan derajat kesehatan
yang optmal bagi seluruh masyarakat termasuk masyarakat pekerja. Undang-undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan bahwa upaya kesehatan kerja
ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan
kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Upaya kesehatan
kerja juga berlaku bagi setap orang selain pekerja yang berada di lingkungan tempat
kerja dan juga bagi kesehatan pada lingkungan Tentara Nasional Indonesia baik darat,
laut, maupun udara serta Kepolisian Republik Indonesia.
Penyelenggaraan upaya kesehatan kerja di Puskesmas merupakan bagian dari upaya
pencapaian tujuan di atas dan merupakan upaya pengembangan sesuai dengan keadaan
dan permasalahan yang ada di wilayah Puskesmas atau spesifk lokal sehingga untuk
saat ini upaya kesehatan kerja lebih difokuskan pada Puskesmas di kawasan industri.
Upaya kesehatan kerja diharapkan dapat diintegrasikan dalam pokok kegiatan yang
wajib dilaksanakan di Puskesmas.
Pembinaan upaya kesehatan kerja dilaksanakan melalui kegiatan penguatan pelayanan
kesehatan kerja, sepert pelathan peningkatan kapasitas petugas kesehatan dalam
bidang kesehatan kerja, pelathan diagnosa Penyakit Akibat Kerja (PAK), peningkatan
fasilitas pelayanan kesehatan bidang kesehatan kerja, gerakan pekerja perempuan sehat
dan produktf termasuk kesehatan reproduksi di tempat kerja dan pembinaan pelayanan
kesehatan kerja di sektor informal dan formal termasuk perkantoran serta pembinaan
Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) dengan fokus kegiatan pembinaan pelayanan
kesehatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Puskesmas yang melaksanakan kesehatan kerja di kawasan/sentra industri sampai
dengan tahun 2012 berjumlah 764 Puskesmas di 116 kabupaten/kota yang tersebar di 18
provinsi, jumlah ini meningkat dari tahun 2011. Jumlah tersebut merupakan Puskesmas
yang melaksanakan upaya kesehatan kerja yang dibuktkan dengan adanya Laporan
Bulanan Kesehatan Pekerja (LBKP) tap bulan. Jumlah Puskesmas yang melaksanakan
upaya kesehatan kerja menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.3.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
202
d. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Olahraga
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 menyatakan tujuan upaya kesehatan olahraga
yaitu meningkatkan kesehahatan dan kebugaran jasmani masyarakat sebagai upaya
dasar dalam meningkatkan prestasi belajar, prestasi kerja dan prestasi olahraga melalui
aktvitas fsik, lathan fsik dan olahraga. Upaya kesehatan olahraga lebih mengutamakan
pendekatan preventf dan promotf tanpa mengabaikan pendekatan kuratf dan
rehabilitatf. Upaya kesehatan olahraga dapat dilaksanakan di berbagai insttusi
pelayanan kesehatan termasuk di Puskesmas.
Upaya kesehatan olahraga di Puskesmas meliput pembinaan dan pelayanan kesehatan
olahraga. Pembinaan kesehatan olahraga berupa pendataan kelompok, pemeriksaan
kesehatan dan penyuluhan kesehatan olahraga, ditujukan pada kelompok olahraga di
sekolah, klub jantung sehat, Posyandu usia lanjut, kelompok senam ibu hamil, kelompok
senam diabetes, kelompok senam pencegahan osteoporosis, pembinaan kebugaran
jasmani jemaah calon haji, ftness center dan kelompok olahraga/lathan fsik lain.
Pelayanan kesehatan olahraga antara lain konsultasi kesehatan olahraga, pengukuran
tngkat kebugaran jasmani, penanganan cedera olahraga akut dan sebagai tm kesehatan
pada event olahraga.
Sampai dengan tahun 2012, upaya kesehatan olahraga telah dilakukan di 466 Puskesmas
pada 91 kabupaten/kota di 17 provinsi. Jumlah tersebut merupakan Puskesmas yang
melaksanakan kesehatan olahraga yang membina kelompok/klub olahraga di wilayah
kerjanya yang dibuktkan dengan adanya Laporan Bulanan Kesehatan Olahraga (LBKO)
tap bulan. Untuk provinsi, kabupaten/kota dan Puskesmas lainnya akan dikembangkan
secara bertahap untuk melaksanakan upaya kesehatan olahraga sesuai dengan kondisi
wilayah kerja masing-masing. Rincian jumlah Puskesmas yang melaksanakan upaya
pengembangan kesehatan olahraga menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.3.
e. Puskesmas dengan Tatalaksana Kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA)
Kasus kekerasan terhadap anak mempengaruhi kesehatan anak yang menjadi korban
karena masih berada dalam proses tumbuh kembang sehingga akan berdampak pada
penurunan kualias Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena itu dibutuhkan pelayanan
kesehatan secara komprehensif dan berkualitas. Pelayanan kesehatan bagi korban KtA
dilakukan melalui pelayanan di tngkat dasar yaitu Puskesmas. Puskesmas yang mampu
tatalaksana kasus Kekerasan terhadap Anak merupakan salah satu indikator dalam
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
203
Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014, setap kabupaten/kota harus memiliki
minimal 2 (dua) Puskesmas mampu tatalaksana kasus Kekerasan terhadap Anak.
Sampai dengan tahun 2012, Puskesmas mampu tatalaksana kasus Kekerasan terhadap
Anak berjumlah 1.599 Puskesmas dan sejumlah 71,63% kabupaten/kota telah memiliki
minimal 2 Puskemas yang mampu tatalaksana kasus Kekerasan terhadap Anak. Rincian
jumlah Puskesmas yang mampu tatalaksana kasus Kekerasan terhadap Anak menurut
provinsi terdapat pada Lampiran 5.3.
2. Rumah Sakit
Ruang lingkup pembangunan kesehatan selain upaya promotf dan preventf, di
dalamnya juga terdapat pembangunan kesehatan bersifat kuratf dan rehabilitatf.
Rumah Sakit (RS) merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang utamanya
menyelenggarakan upaya kuratf dan rehabilitatf. Rumah sakit juga berfungsi sebagai
sarana pelayanan kesehatan rujukan.
Sejak tahun 2011, berdasarkan kepemilikan, rumah sakit dikelompokkan menjadi
rumah sakit publik dan rumah sakit privat. Pengelompokan ini berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 147/Menkes/PER/I/2010 tentang Perizinan Rumah Sakit.
Rumah sakit publik adalah rumah sakit yang dikelola Pemerintah, Pemerintah Daerah
dan Badan Hukum yang bersifat nirlaba. Sedangkan rumah sakit privat adalah rumah
sakit yang dikelola oleh bahan hukum dengan tujuan proft yang berbentuk perseroan
terbatas atau persero.
Pada tahun 2012 jumlah rumah sakit publik di Indonesia sebanyak 1.540 unit, yang
terdiri atas Rumah Sakit Umum (RSU) berjumlah 1.240 unit dan Rumah Sakit Khusus
(RSK) berjumlah 300 unit. Rumah sakit publik tersebut dikelola oleh Kementerian
Kesehatan, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, TNI/Polri, kementerian
lain serta swasta non proft (organisasi keagamaan dan organisasi sosial). Sedangkan
jumlah rumah sakit privat sebanyak 543 unit, yang terdiri atas 368 unit RSU dan 175 unit
RSK. Rumah sakit privat dikelola oleh BUMN dan swasta (perorangan, perusahaan dan
swasta lainnya). Jumlah rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit yang telah terdata
dan mendapatkan kode rumah sakit melalui Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS).
Tabel 5.1 menampilkan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di Indonesia tahun
2008-2012. Sedangkan jumlah seluruh rumah sakit pada tahun 2012 menurut pengelola
dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.4.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
204
TABEL 5.1
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS)
DI INDONESIA TAHUN 2008 2012
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2008-2012) jumlah rumah sakit (umum dan
khusus) baik yang dikelola oleh insttusi pemerintah maupun sektor swasta mengalami
peningkatan, pada tahun 2008 terdapat 1.371 unit menjadi 2.083 unit pada tahun 2012.
Jumlah RSU di Indonesia menurut pengelola dapat dilihat pada Lampiran 5.4 dan jumlah
tempat tdur di RSU terdapat pada Lampiran 5.5. Perkembangan RSU di Indonesia
selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.7 berikut ini.
GAMBAR 5.7
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM
DI INDONESIA TAHUN 2008 2012
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
205
Jumlah RSK dalam kurun waktu tahun 2008-2012 menunjukkan adanya peningkatan.
Pada tahun 2008 terdapat 292 unit rumah sakit khusus, meningkat menjadi 475 unit
pada tahun 2012. Perkembangan jumlah RSK selama 5 tahun terakhir terdapat pada
Gambar 5.8 berikut ini.
GAMBAR 5.8
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS
DI INDONESIA TAHUN 2008 2012
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Sebagian besar rumah sakit khusus pada tahun 2012 adalah RS Ibu dan Anak sebanyak
169 unit, RS Bersalin sebanyak 94 unit, dan RS Jiwa sebanyak 53 unit, sepert dapat
dilihat pada Gambar 5.9. Adapun yang termasuk dalam RS Khusus lainnya yaitu RS Mata,
RS Tuberkulosis Paru, RS Kanker, RS Penyakit Infeksi, RS Ortopedi, RS Khusus Penyakit
Dalam, RS Khusus Bedah, RS Jantung, RS Khusus THT, RS Stroke, RS Khusus Anak, RS
Khusus Ginjal, RS Khusus Gigi dan Mulut serta RS Khusus Kusta. Jumlah rumah sakit
khusus beserta jumlah tempat tdurnya menurut provinsi tahun 2008-2012 terdapat
pada Lampiran 5.6.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
206
GAMBAR 5.9
PERSENTASE RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) MENURUT JENIS DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Pada tahun 2012 sebagian besar rumah sakit tergolong kelas C. Dari jumlah 2.083 unit
RS, terdapat 630 unit RS kelas C, 415 unit RS kelas D, 255 RS kelas B, 56 unit RS kelas A
dan 727 unit RS belum ditetapkan kelasnya. Gambar 5.10 menyajikan persentase RSU
dan RSK menurut kelas. Informasi lebih rinci mengenai jumlah rumah sakit dan tempat
tdur yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan RI dan pemerintah daerah menurut
kelas rumah sakit dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.7.
GAMBAR 5.10
PERSENTASE RUMAH SAKIT MENURUT KELAS DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
207
Jumlah dan rasio tempat tdur rumah sakit terhadap penduduk dapat digunakan untuk
menggambarkan kemampuan rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat, khususnya dalam hal daya tampung pasien rawat inap
yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan rujukan. Jumlah tempat tdur pada rumah
sakit umum dan rumah sakit khusus dalam 5 tahun terakhir menunjukkan adanya
kecenderungan peningkatan. Gambaran peningkatan tersebut dapat dilihat pada
Gambar 5.11.
GAMBAR 5.11
PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR
RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS
DI INDONESIA TAHUN 2008 2012
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Rasio tempat tdur rumah sakit terhadap penduduk dari tahun 2008-2012 cenderung
mengalami peningkatan, rasio pada tahun 2008 sebesar 65,38 naik menjadi 94,55 per
100.000 penduduk pada tahun 2012. Gambar 5.12 menyajikan jumlah tempat tdur dan
rasio tempat tdur per 100.000 penduduk di rumah sakit pada tahun 2008-2012.
Proporsi tempat tdur di rumah sakit umum dan rumah sakit khusus menurut kelas
perawatan menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar adalah kelas III sebesar
40,19%, kemudian tempat tdur kelas II sebesar 24,91%, tempat tdur kelas I sebesar
14,28%, tempat tdur kelas VIP sebesar 9,07%, serta tempat tdur kelas VVIP sebesar
3,64%. Rincian mengenai jumlah dan persentase tempat tdur di rumah sakit menurut
kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.8.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
208
GAMBAR 5.12
JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN
RASIONYA PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2008 2012
Sumber: Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
a. Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK)
Angka Kematan Ibu (AKI) 40-70% terjadi di rumah sakit, 20-35% terjadi di rumah dan
10-18% terjadi di perjalanan (Lancet, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa masih tngginya
kematan ibu yang terjadi di rumah sakit, sehingga diperlukan upaya penurunan AKI yang
difokuskan di rumah sakit. Data lain yang menunjukkan bahwa rumah sakit atau fasilitas
pelayanan kesehatan dianggap berperan terhadap tngginya AKI didapat dari penelitan
Matlab-Bangladesh, yaitu risiko kematan ibu tertnggi (100 kali dari kondisi normal)
terjadi pada hari persalinan. Untuk itu Kementerian Kesehatan RI melaksanakan upaya
dalam rangka mempercepat penurunan AKI yaitu rumah sakit melaksanakan Pelayanan
Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 mencantumkan persentase
rumah sakit kabupaten/kota yang melaksanakan PONEK (dengan target 100% dari 444
rumah sakit kabupaten/kota). Sampai dengan tahun 2012 terdapat 410 rumah sakit
umum melaksanakan PONEK dari 1.608 rumah sakit umum yang tercatat. Jumlah rumah
sakit PONEK tahun 2012 meningkat dari tahun 2011 namun perlu juga diperhatkan
sumber daya manusia (dokter spesialis kebidanan dan dokter spesialis anak), sarana
dan prasarana serta peralatannya. Rincian PONEK menurut provinsi tahun 2012 dapat
dilihat pada Lampiran 5.3.
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
209
b. Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)
Penyalahgunaan narkotka, psikotropika, dan zat adiktf (NAPZA) sudah menjadi masalah
di tngkat nasional, regional maupun global. Survei Badan Narkotka Nasional (BNN)
tahun 2011 menyatakan sekitar 3,8 juta penduduk Indonesia adalah pengguna NAPZA.
Bagi pengguna Napza, penyalahgunaannya berdampak bagi fsik, mental, emosional
serta sosial.
Upaya penanggulangan penyalahgunaan Napza melalui 3 pilar yaitu reduksi suplai,
reduksi permintaan dan pengurangan dampak buruk (harm reducton). Salah satu
komponen dari pengurangan dampak buruk adalah program terapi yaitu program terapi
substtusi yang di antaranya Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM). Tujuan PTRM
yaitu untuk mengurangi risiko terkait penyakit infeksi (HIV/AIDS, hepatts), memperbaiki
kesehatan fsik dan psikologis, mengurangi perilaku kriminal, dan memperbaiki fungsi
sosial pasien. Sampai dengan tahun 2012 terdapat 83 unit layanan rawat jalan terapi
rumatan metadon di 17 provinsi, yang terdiri atas 34 rumah sakit, 40 Puskesmas dan 9
Lapas/Rutan. Rincian PTRM menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.13.
c. Layanan Pencegahan Penularan HIV
Dalam mendukung upaya pelayanan kesehatan untuk penanggulangan HIV dan AIDS,
perlu disediakan sumber daya yang mendukung upaya tersebut, diantaranya adalah
Layanan Pencegahan Penularan HIV Dari Ibu Ke Anak (PPIA) dan Pelayanan Perawatan,
Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV dan AIDS.
Proporsi penderita baru AIDS pada kelompok jenis kelamin perempuan memperlihatkan
kecenderungan semakin meningkat. Persentase kasus baru AIDS pada kelompok umur
0-1 tahun juga meningkat. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penularan
HIV dari ibu ke anak. Pada tahun 2012, tersedia 106 sarana kesehatan yang menyediakan
layanan PPIA. Sebanyak 13 layanan PPIA terdapat di puskesmas, 90 layanan PPIA
terdapat di RS, dan 3 layanan PPIA terdapat di klinik. Provinsi Kalimantan Tengah dan
Gorontalo merupakan provinsi yang tdak memiliki layanan PPIA, sedangkan Provinsi
Papua memiliki layanan PPIA terbanyak di Indonesia, yaitu 18 layanan. Provinsi DKI
Jakarta sebagai provinsi dengan jumlah kasus HIV tertnggi hanya memiliki 7 sarana
kesehatan dengan layanan PPIA. Sedangkan Provnsi Jawa Timur sebagai provinsi dengan
jumlah kasus AIDS tertnggi memiliki 13 sarana kesehatan dengan layanan PPIA. Rincian
menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.14.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
210
Upaya lain yang dilakukan dalam rangka pengendalian HIV dan AIDS adalah pelayanan
Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) HIV/AIDS. Pelayanan PDP merupakan
layanan terpadu yang meliput konseling dan tes, layanan perawatan, dukungan dan
pengobatan. Di Indonesia terdapat 248 rumah sakit yang memberikan layanan PDP
melakukan pengobatan ARV, dengan jumlah layanan terbanyak di Provinsi Jawa Timur
berjumlah 29 rumah sakit. Rincian menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.3.
d. Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatf dan Komplementer
Program pelayanan kesehatan tradisional terus berkembang dan mendapat perhatan
khusus dari pemerintah. Pelayanan kesehatan tradisional merupakan pengobatan dan/
atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan
turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai
dengan norma yang berlaku di masyarakat. Pengobatan secara tradisional dilakukan
penelitan dan bila dapat dibuktkan secara ilmiah menjadi pengobatan tradisional
yang aman dan bermanfaat sehingga dapat diterapkan di fasilitas kesehatan sebagai
pengobatan alternatf dan komplementer.
Unit yang melakukan penelitan/pengkajian/pengujian ini yaitu Sentra Pengembangan
dan Penerapan Pengobatan Tradisional (Sentra P3T). Fungsi lainnya dari Sentra P3T
yaitu pelayanan kesehatan tradisional, insttusi pendidikan dan pelathan pelayanan
kesehatan tradisional yang aman dan bermanfaat dan menyelenggarakan jaringan
informasi dan dokumentasi pelayanan kesehatan tradisional. Sampai dengan tahun
2012 sudah terdapat 33 provinsi yang memiliki Sentra P3T.
Sampai dengan tahun 2012 terdapat 150 kabupaten/kota yang memiliki minimal 2
Puskesmas yang melaksanakan pembinaan terhadap pengobatan tradisional dan
pembinaan kepada masyarakat dalam memanfatkan TOGA (tanaman obat keluarga), dan
terdapat 54 rumah sakit pemerintah yang menyelenggarakan pelayanan tradisional yang
aman dan bermanfaat sebagai pelayanan alternatf dan komplementer (melaksanakan
pelayanan komplementer dan atau alternatf berupa hiperbarik dan atau media
akupunktur dan atau medik herbal yang ditetapkan oleh direktur RS dan dilaksanakan
oleh dokter/dokter gigi dan atau tenaga kesehatan lain yang telah mendapatkan
pendidikan terstruktur dan atau pelathan terakreditasi). Jumlah Puskesmas dan rumah
sakit yang melaksanakan pelayanan kesehatan tradisional, alternatf dan komplementer
menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.3.
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
211
3. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantkan dalam pelayanan kesehatan.
Akses terhadap obat terutama obat esensial merupakan salah satu hak asasi manusia.
Dengan demikian penyediaan obat esensial merupakan kewajiban bagi pemerintah
dan insttusi pelayanan kesehatan baik publik maupun privat. Sebagai komodit khusus,
semua obat yang beredar harus terjamin keamanan, khasiat dan mutunya agar dapat
memberikan manfaat bagi kesehatan. Oleh karena itu salah satu upaya yang dilakukan
untuk menjamin mutu obat hingga diterima konsumen adalah menyediakan sarana
penyimpanan obat dan alat kesehatan yang dapat menjaga keamanan secara fsik serta
dapat mempertahankan kualitas obat di samping tenaga pengelola yang terlath.
Instalasi farmasi merupakan unit pengelola perbekalan kefarmasian dan alat kesehatan
yang ada di tngkat provinsi dan kabupaten/kota, sebagai sarana pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, administrasi dan pelaporan
serta evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan kefarmasian. Persentase Instalasi
Farmasi Kabupaten/kota sesuai standar merupakan salah satu indikator dalam Rencana
Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun 20102014. Sampai dengan tahun
2012 Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota berjumlah 497 unit dan 71,63% telah sesuai
standar. Rincian menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 5.13.
GAMBAR 5.13
PERSENTASE INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA SESUAI STANDAR TAHUN 2012
Sumber: Ditjen. Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
212
Salah satu kebijakan pelaksanaan dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan adalah
pengendalian obat dan perbekalan kesehatan diarahkan untuk menjamin keamanan,
khasiat dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan. Hal ini bertujuan untuk melindungi
masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penyalahgunaan sediaan farmasi dan
alat kesehatan atau penggunaan yang salah/tdak tepat serta tdak memenuhi mutu
keamanan dan pemanfaatan yang dilakukan sejak proses produksi, distribusi hingga
penggunaannya di masyarakat. Cakupan sarana produksi bidang kefarmasian dan alat
kesehatan menggambarkan tngkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan yang
melakukan upaya produksi di bidang kefarmasian dan alat kesehatan. Yang termasuk
sarana produksi di bidang kefarmasian dan alat kesehatan antara lain Industri Farmasi,
Industri Obat Tradisional (IOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), Industri Kosmetka,
Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), Produksi
Alat Kesehatan dan Produksi Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT).
Jumlah sarana produksi dan distribusi yang tersebar di 33 provinsi menggambarkan
variasi sarana di bidang farmasi dan alat kesehatan memiliki disparitas jumlah yang
masih relatf tnggi antara wilayah Indonesia bagian Barat, Tengah dan Timur. Umumnya
sarana produksi maupun distribusi berlokasi di Indonesia bagian Barat (Pulau Sumatera
dan Jawa), yaitu sebesar 94,4% sarana produksi dan 78,4% sarana distribusi. Kondisi
ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam kebijakan untuk mengembangkan
jumlah sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat kesehatan di Indonesia
bagian Tengah dan Timur, sehingga terjadi pemerataan jumlah sarana tersebut di seluruh
Indonesia. Selain itu, hal ini bertujuan untuk membuka akses terhadap keterjangkauan
masyarakat terhadap sarana kesehatan di bidang kefarmasian dan alat kesehatan.
Selama kurun waktu 3 tahun terakhir, sejak tahun 2010 hingga 2012 terlihat adanya
kecenderungan peningkatan jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan.
Pada tahun 2012 sebanyak 239 industri farmasi di Indonesia tersebar di 9 provinsi dan
terdapat 24 provinsi yang belum mempunyai sarana industri farmasi. Sementara sarana
UKOT tersebar di 22 provinsi dan hanya 11 provinsi yang belum memiliki sarana UKOT.
Gambar 5.14. menyajikan jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan di
Indonesia pada tahun 2012 dan rincian menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran
5.9.
Sementara yang termasuk sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan antara lain
Pedagang Besar Farmasi (PBF), Apotek, Toko Obat dan Penyalur Alat Kesehatan (PAK).
Jumlah sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan tahun 2010-2012 terdapat
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
213
GAMBAR 5.14
JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2010 2012
Sumber: Ditjen. Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
pada Gambar 5.15. Jumlah sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan di Indonesia
pada tahun 2012 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.10.
GAMBAR 5.15
JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2010 2012
Sumber: Ditjen. Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
214
4. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
Dalam mewujudkan masyarakat sehat, diperlukan kesadaran setap anggota masyarakat
akan pentngnya perilaku sehat, berkeinginan, serta berdaya untuk hidup sehat.
Masyarakat bersinergi membangun kondisi lingkungan yang kondusif untuk hidup
sehat. Langkah tersebut tercermin dalam pengembangan sarana Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) di desa dan kelurahan, sepert adanya Pos
Kesehatan Desa (Poskesdes) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
UKBM yang ada di desa dan kelurahan menjadi ciri khas bahwa desa dan kelurahan
tersebut telah menjadi Desa dan Kelurahan Siaga Aktf. Dinyatakan demikian karena
penduduk di desa dan kelurahan tersebut dapat mengakses dengan mudah pelayanan
kesehatan dasar dan mengembangkan UKBM serta melaksanakan survailans berbasis
masyarakat (pemantauan penyakit, kesehatan ibu dan anak, gizi, lingkungan dan
perilaku), kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana, serta penyehatan
lingkungan sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS).
GAMBAR 5.16
PERSENTASE DESA DAN KELURAHAN SIAGA AKTIF MENURUT
TINGKATAN (STRATA) TAHUN 2012
Sumber: Pusat Promosi Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Pada tahun 2012 terdapat 52.804 Desa dan Kelurahan Siaga Aktf dari 77.465 desa
dan kelurahan di Indonesia, atau sebesar 68,2%. Terdapat 2 provinsi yang seluruh
desa/kelurahannya telah menjadi desa siaga aktf yaitu Provinsi Sumatera Barat dan
Kepulauan Riau. Persentase Desa dan Kelurahan Siaga Aktf terendah di Provinsi Papua
Barat (2,3%). Jumlah Desa Siaga Aktf di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
215
Siaga Aktf dan jumlah Desa Siaga Aktf di Provinsi Sumatera Barat merupakan jumlah
Desa Siaga Aktf ditambah Nagari Siaga Aktf. Gambar 5.16 memperlihatkan persentase
Desa dan Kelurahan Siaga Aktf menurut strata (tngkatan).
Poskesdes merupakan UKBM yang dibentuk di desa untuk mendekatkan pelayanan
kesehatan dasar bagi masyarakat desa sehingga mempermudah akses masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan utama Poskesdes yaitu pelayanan
kesehatan bagi masyarakat desa berupa pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan
kesehatan ibu menyusui, pelayanan kesehatan anak, pengamatan dan kewaspadaan
dini (surveilans penyakit, surveilans gizi, surveilans perilaku berisiko, surveilans
lingkungan dan masalah kesehatan lainnya), penanganan kegawatdaruratan kesehatan
serta kesiapsiagaan terhadap bencana. Poskesdes merupakan pendorong dalam
menumbuhkembangkan terbentuknya UKBM lain di masyarakat serta meningkatkan
partsipasi masyarakat dan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentngan terkait.
Pada tahun 2012 terdapat 54.142 unit Poskesdes.
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang dikelola dan diselenggarakan
dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan
kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar
bagi masyarakat terutama ibu, bayi dan anak balita. Dalam menjalankan fungsinya,
GAMBAR 5.17
RASIO POSYANDU TERHADAP DESA/KELURAHAN MENURUT PROVINSI
TAHUN 2012
Sumber: Pusat Promosi Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
216
Posyandu diharapkan dapat melaksanakan 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan
anak, keluarga berencana, imunisasi, gizi serta pencegahan dan penanggulangan diare.
Pada tahun 2012 terdapat 276.392 Posyandu di seluruh Indonesia yang terdiri dari
21,9% Posyandu Pratama, 36,3% Posyandu Madya, 33% Posyandu Purnama dan 8,7%
Posyandu Mandiri. Rasio Posyandu terhadap desa/kelurahan sebesar 3,57 Posyandu per
desa/kelurahan dan rasio Posyandu menurut provinsi pada tahun 2012 dapat dilihat
pada Gambar 5.17. Untuk melakukan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan,
diperlukan peran serta kader dan tokoh masyarakat sebagai penggerak masyarakat.
Jumlah kader dan tokoh masyarakat yang telah dilath sampai tahun 2012 adalah 381.734
orang. Data jumlah UKBM menurut provinsi tahun 2012 terdapat pada Lampiran 5.11
dan Lampiran 5.12.
5. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan
a. Jumlah, Jenis dan Persebaran Insttusi
Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang memadai
baik dari segi jenis, jumlah maupun kualitas. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan
yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula.
Kementerian Kesehatan RI merupakan insttusi dari sektor pemerintah yang berperan di
dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut.
Menurut data Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), sampai dengan 31
Maret 2013 insttusi pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi (tenaga medis) yang
diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta di Indonesia berjumlah 73 Fakultas
Kedokteran (FK) dan 30 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG).
TABEL 5.2
JUMLAH FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KEDOKTERAN GIGI SAMPAI DENGAN 31 MARET 2013
Sumber : Sekretariat KKI, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
217
Tabel 5.2 memperlihatkan jumlah fakultas kedokteran dan fakultas kedokteran gigi
di Indonesia. Data tersebut memperlihatkan insttusi pendidikan tenaga medis masih
terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia, sehingga perlu upaya peningkatan di wilayah
lainnya.
Insttusi pendidikan tenaga kesehatan selain tenaga medis dikelompokkan menjadi 2 (dua)
yaitu Politeknik Kesehatan (Poltekkes) dan Non Politeknik Kesehatan (Non Poltekkes)
dengan status kepemilikan pemerintah daerah, TNI/Polri dan Swasta. Menurut data
Badan PPSDM Kesehatan, sampai dengan Desember 2012 jumlah Program Diploma IV
sebanyak 132 program studi, sedangkan jumlah insttusi Diknakes Program Diploma III
sebanyak 1.082 insttusi, yang terdiri dari 262 jurusan/program studi (yang berada pada
38 Poltekkes) dan 820 insttusi Non Poltekkes. Perkembangan jumlah program studi
(prodi) Diploma III pada insttusi Poltekkes dan Non Poltekkes terdapat pada Gambar
5.18.
GAMBAR 5.18
PERKEMBANGAN JUMLAH PROGRAM STUDI DIPLOMA III INSTITUSI POLTEKKES
DAN NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2008-2012
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Pada Gambar 5.18 dapat dilihat tdak terjadi penambahan jumlah jurusan/prodi Diploma
III Poltekkes pada tahun 2012. Jumlah insttusi Non Poltekkes sampai dengan tahun
2011 mengalami penambahan. Pada tahun 2012, insttusi Non Poltekkes yang dibina
oleh Kementerian Kesehatan yang termasuk jenjang pendidikan tnggi yaitu berjumlah
820 insttusi.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
218
Gambar 5.19 menunjukkan program studi pada insttusi Diknakes Diploma III Poltekkes
dengan urutan prodi yang terbanyak yaitu 151 prodi Keperawatan (57,60%), 36 prodi
Keteknisian Medis (13,74%), 32 prodi Gizi (12,20%), 26 prodi Kesehatan Masyarakat
(9,90%), 12 prodi Kefarmasian (4,60%) dan 5 prodi Keterapian Fisik (1,91%). Rincian
menurut Poltekkes dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.16.
GAMBAR 5.19
PERSENTASE PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Gambar 5.20 menunjukkan persentase jurusan/program studi pada insttusi Diknakes
Non Poltekkes; jurusan/prodi keperawatan terdiri dari keperawatan, kebidanan dan
kesehatan gigi; jurusan/prodi keterapian fsik terdiri dari fsioterapi, okupasi terapi,
terapi wicara dan akupunktur; dan jurusan/prodi keteknisian medis terdiri dari analis
kesehatan, teknik elektromedik, teknik radiodiagnostk, teknik gigi, ortotk prostetk dan
perekam informasi kesehatan.
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
219
GAMBAR 5.20
PERSENTASE PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI NON-POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Jumlah insttusi Diknakes Non Poltekkes menurut status kepemilikan menunjukkan
sebagian besar insttusi dimiliki oleh swasta yaitu sebesar 87,90%, sedangkan
kepemilikan pemerintah daerah sebesar 8,70% dan TNI/Polri sebesar 3,40%. Informasi
lebih rinci mengenai jumlah dan persentase insttusi Diknakes Non Poltekkes menurut
kepemilikan dapat dilihat pada Lampiran 5.18.
b. Akreditasi Insttusi
Akreditasi insttusi Diknakes Poltekkes dan Non Poltekkes yang dilakukan oleh
Kementerian Kesehatan RI dilaksanakan terakir pada bulan Desember 2011 sesuai
dengan Surat Ditjen Dikt Kemendikbud Nomor. 1862/E/T/2011 tanggal 22 November
2011 Tentang Pengakuan Hasil Akreditasi yang Dilakukan Kementerian Kesehatan
terhadap Prodi Poltekkes Sampai Masa Berlakunya Berakhir. Selanjutnya mulai tahun
2012 insttusi Diknakes milik Kementerian Kesehatan/Pemda/TNIPori/swasta dilakukan
oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tingi (BAN-PT) atau Lembaga Akreditasi
Mandiri Bidang Kesehatan (LAM-PT Kes) yang saat ini masih dalam proses pembentukan.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
220
c. Peserta Didik
Jumlah peserta didik insttusi pendidikan tenaga kesehatan Poltekes maupun Non
Poltekkes tahun ajaran 2012/2013 sebanyak 295.579 orang. Jumlah tersebut terdiri dari
insttusi Diknakes Poltekkes sejumlah 70.890 orang dan Non Poltekkes sejumlah 224.689
orang. Peserta didik insttusi Diknakes Poltekkes terdiri dari 26.285 peserta didik tngkat
I, 22.405 peserta didik tngkat II dan 22.200 peserta didik tngkat III. Peserta didik insttusi
Diknakes Non Poltekkes terdiri dari 69.945 peserta didik tngkat I, 78.716 peserta didik
tngkat II dan 76.028 peserta didik tngkat III. Informasi lebih rinci mengenai jumlah
peserta didik menurut jenis insttusi pendidikan dapat dilihat pada Lampiran 5.19 dan
Lampiran 5.20.
d. Lulusan
Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes pada tahun 2012 sebanyak 75.232 orang,
yang terdiri dari lulusan Poltekkes sebanyak 21.630 orang (28,8%) dan lulusan Non
Poltekkes sebanyak 53.602 orang (71,2%). Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes
terbanyak pada jurusan keperawatan, yaitu sebanyak 34.150 orang, kemudian jurusan
kebidanan sebanyak 21.387 orang.
TABEL 5.3
JUMLAH LULUSAN PROGRAM DIPLOMA III POLTEKKES DAN NON POLTEKKES
TAHUN 2008-2012
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
221
Dari Tabel 5.3 terlihat bahwa selama 5 tahun terakhir jumlah lulusan Diknakes Diploma
III Poltekkes dan Non Poltekkes sebanyak 75.232 orang per tahun, dengan lulusan
terbanyak adalah tenaga Keperawatan (rata-rata 32.150 orang per tahun), yang tersebar
hampir di semua provinsi. Tiga provinsi yang menghasilkan lulusan tenaga kesehatan
terbanyak (Poltekkes dan Non Poltekkes) tahun 2012 adalah Provinsi Jawa Tengah
(10.769 orang), Sumatera Utara (7.048) dan DKI Jakarta (6.711). Rekapitulasi jumlah
lulusan Diknakes Poltekkes dan Non Poltekkes menurut jenis tenaga dapat dilihat pada
Lampiran 5.21. Sedangkan rincian menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.22
dan 5.23.
B. TENAGA KESEHATAN
Amanat Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pada pasal 21
menyebutkan bahwa Pemerintah mengatur perencanaan, pengadaan, pendayagunaan,
pembinaan, dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dalam rangka penyelenggaraan
pelayanan kesehatan. Dalam Peraturan Presiden nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem
Kesehatan Nasional dijelaskan bahwa untuk melaksanakan upaya kesehatan dalam
rangka pembangunan kesehatan diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang
mencukupi dalam jumlah, jenis dan kualitasnya serta terdistribusi secara adil dan
merata. Sumber daya manusia kesehatan termasuk diantaranya kelompok tenaga
kesehatan, yang terdiri dari tenaga medis, tenaga kefarmasian, tenaga keperawatan dan
kebidanan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga gizi,
tenaga keterapian fsik, tenaga keteknisian medis, dan tenaga kesehatan lainnya.
Untuk mendapatkan gambaran mengenai jumlah, jenis, dan kualitas, serta penyebaran
tenaga kesehatan di seluruh wilayah Indonesia dilakukan pengumpulan data pada
sarana pelayanan kesehatan baik di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maupun
Dinas Kesehatan Provinsi. Pengumpulan data tenaga kesehatan tdak terbatas pada
tenaga kesehatan yang berstatus PNS Pusat tetapi juga termasuk yang berstatus PNS
Daerah, PTT, TNI/POLRI, dan Swasta. Metode pengumpulan data yang digunakan
melalui mekanisme pemutakhiran data secara berjenjang mulai dari Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, kemudian Dinas Kesehatan Provinsi dan secara nasional dikelola oleh
Badan PPSDMK melalui Sistem Informasi SDMK.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
222
1. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan
Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah
tenaga kesehatan yang bertugas di sarana pelayanan kesehatan di masyarakat. Menurut
pendataan Badan PPSDMK, pada tahun 2012 jumlah SDM Kesehatan yang tercatat
sebanyak 707.234 orang yang terdiri atas 567.422 tenaga kesehatan dan 139.812 tenaga
non kesehatan. Tenaga kesehatan terdiri atas 76.523 tenaga medis, 235.496 perawat,
126.276 bidan, 31.223 tenaga farmasi, dan 97.904 tenaga kesehatan lainnya.
Sekretariat KKI mencatat jumlah dokter umum yang memiliki STR berjumlah 88.309,
sehingga rasio dokter umum sebesar 36,1 dokter per 100.000 penduduk. Provinsi
dengan rasio tertnggi yaitu DKI Jakarta sebesar 149,5 dokter umum per 100.000
penduduk, sedangkan yang terendah yaitu Sulawesi Barat dengan rasio 8,9 dokter umum
per 100.000 penduduk. Jumlah dokter gigi pada tahun 2012 tercatat sebanyak 23.262
orang dengan rasio sebesar 9,5 dokter gigi per 100.000 penduduk. Provinsi dengan rasio
tertnggi yaitu DKI Jakarta sebesar 50,5 dokter gigi per 100.000 penduduk, sedangkan
terendah yaitu Sulawesi Tengah dengan rasio 2,5 dokter gigi per 100.000 penduduk.
Rasio dokter umum terhadap jumlah penduduk menurut provinsi pada tahun 2012
terlihat pada Gambar 5.21 berikut ini.
GAMBAR 5.21
RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2012
Sumber : Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
223
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Jumlah bidan pada tahun 2012 tercatat sebanyak 126.276 orang, sehingga rasionya
terhadap penduduk sebesar 51,6 bidan per 100.000 penduduk. Provinsi dengan rasio
tertnggi yaitu Aceh sebesar 193,4 bidan per 100.000 penduduk sedangkan terendah
yaitu DKI Jakarta sebanyak 21,9 bidan per 100.000 penduduk.
Jumlah perawat pada tahun 2012 tercatat sebanyak 235.496 orang, sehingga rasionya
terhadap penduduk sebesar 96,2 perawat per 100.000 penduduk. Provinsi dengan
rasio tertnggi yaitu Maluku sebesar 275,5 perawat per 100.000 penduduk sedangkan
terendah yaitu Jawa Barat sebanyak 49,3 perawat per 100.000 penduduk. Rasio perawat
terhadap jumlah penduduk menurut provinsi pada tahun 2012 terlihat pada Gambar
5.22 berikut ini. Jumlah sumber daya manusia kesehatan tahun 2012 menurut provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 5.24.
GAMBAR 5.22
RASIO PERAWAT TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2012
a. Tenaga Kesehatan di Puskesmas
Puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat,
kinerjanya sangat dipengaruhi ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki,
terutama ketersediaan tenaga kesehatan. Pada tahun 2012, terdapat 337.093 orang
yang bertugas di Puskesmas dengan rincian 302.215 tenaga kesehatan dan 34.878
Profil Kesehatan Indonesia 2012
224
Jumlah dokter gigi yang bertugas di Puskesmas pada tahun 2012 sebanyak 6.884 orang.
Bila dibandingkan dengan jumlah seluruh Puskesmas (9.510) maka dapat diartkan
bahwa belum seluruh Puskesmas memiliki dokter gigi (Rasio 0,72). Terdapat 145 dokter
spesialis yang bertugas di Puskesmas, sebagian besar dokter spesialis tersebut berada di
Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah 34 orang (23,4%).
Jumlah perawat di seluruh Puskesmas sebanyak 105.870 orang, sehingga rata-rata
tap Puskesmas memiliki 11-12 orang perawat. Jumlah tenaga bidan sebanyak 102.384
tenaga non kesehatan. Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan, dokter umum yang
bertugas di Puskesmas sebanyak 17.791 orang, dengan rasio 1,87 dokter umum per
Puskesmas. Rasio dokter umum terhadap Puskesmas tertnggi terdapat di Provinsi
Kepulauan Riau sebesar 4,67, DI Yogyakarta sebesar 3,02 dan Riau sebesar 2,79 dokter
umum per Puskesmas. Sedangkan rasio yang terendah di Provinsi Papua Barat sebesar
0,48 dan Sulawesi Tenggara serta Papua sebesar 1,03 dokter umum per Puskesmas.
Beberapa provinsi memiliki tenaga dokter spesialis yang bertugas di Puskesmas. Rasio
dokter umum di Puskesmas terhadap jumlah Puskesmas tahun 2012 menurut provinsi
dapat dilihat pada Gambar 5.23 berikut ini.
GAMBAR 5.23
RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
225
orang, sehingga rata-rata tap Puskesmas memiliki 10-11 orang bidan. Jumlah masing-
masing tenaga kesehatan di Puskesmas dapat dilihat pada Gambar 5.24 berikut ini.
Rincian jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5.25,
sedangkan rasio dokter umum, dokter gigi, perawat dan bidan terhadap jumlah
Puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5.26.

GAMBAR 5.24
JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
b. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit
Sumber daya manusia kesehatan yang bertugas di rumah sakit tahun 2012 berjumlah
303.370 dengan rincian 220.776 tenaga kesehatan dan 82.594 tenaga non kesehatan.
Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan, dokter spesialis yang bertugas di rumah sakit
sebanyak 26.629 orang, dengan rata-rata 12 dokter spesialis per rumah sakit; dokter
umum yang bertugas di rumah sakit sebanyak 16.673 orang, dengan rata-rata 8 dokter
umum per rumah sakit dan dokter gigi yang bertugas di rumah sakit sebanyak 4.242
orang, dengan rata-rata 2 dokter gigi per rumah sakit. Perawat yang bertugas di rumah
sakit sebanyak 110.782 orang, dengan rata-rata 53 perawat per rumah sakit dan bidan
yang bertugas di rumah sakit sebanyak 20.109 orang, dengan rata-rata 9 bidan per
rumah sakit. Rincian jumlah tenaga kesehatan di rumah sakit pemerintah dapat dilihat
pada Lampiran 5.27.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
226
2. Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT)
Pemenuhan tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan terutama puskesmas dan
jaringannya di daerah terpencil/sangat terpencil, tertnggal, perbatasan dan kepulauan
(DTPK), daerah bermasalah kesehatan (DBK) antara lain diisi melalui pengangkatan
Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan Penugasan Khusus.
Kontribusi pemenuhan tenaga kesehatan dengan status PTT terdiri dari dokter umum,
dokter gigi, dokter spesialis, dokter gigi spesialis dan bidan cukup besar pengaruhnya
dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Pada tahun 2012 lama penugasan untuk tenaga medis PTT di
wilayah dengan kriteria biasa selama 3 tahun dan kriteria terpencil/sangat terpencil
selama 1 tahun. Sampai dengan 31 Desember 2012 tercatat sebanyak 45.777 tenaga
kesehatan PTT Pusat yang masih aktf bertugas dengan komposisi dokter spesialis
sejumlah 62 orang, dokter umum sejumlah 3.473 orang, dokter gigi sejumlah 1.080
orang dan bidan sejumlah 41.162 orang.
Dokter umum PTT dan dokter gigi PTT sebagian besar ditempatkan di fasilitas pelayanan
kesehatan dengan kriteria sangat terpencil yaitu 2.114 orang dokter umum dan 622
orang dokter gigi. Dokter spesialis PTT ditempatkan di RSUD kabupaten/kota dengan
kriteria terpencil sejumlah 54 orang, kriteria biasa sejumlah 7 orang dan kriteria sangat
terpencil 1 orang. Dari 41.162 bidan PTT sebagian besar bertugas di daerah dengan
kriteria biasa, yaitu sejumlah 21.137 orang (51,4%), yang bertugas di daerah terpencil
sebanyak 16.570 bidan (40,3%), dan yang bertugas di daerah sangat terpencil sebanyak
3.455 bidan (8,4%).
Distribusi keberadaan dokter umum PTT terbanyak di Nusa Tenggara Timur sejumlah
427 orang, diikut oleh Aceh sejumlah 332 orang dan Papua sejumlah 220 orang. Dokter
gigi PTT terbanyak bertugas di Provinsi Nusa Tenggara Timur sejumlah 103 orang, diikut
oleh Sulawesi Tenggara sejumlah 80 orang dan Aceh sejumlah 74 orang. Dokter spesialis
PTT terbanyak bertugas di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kepulauan Riau masing-
masing sejumlah 7 orang, dan Papua sejumlah 5 orang. Bidan PTT terbanyak bertugas
di Provinsi Sumatera Utara, yaitu sejumlah 5.974 orang, diikut Jawa Tengah sejumlah
5.074 orang, dan Aceh sejumlah 4.330 orang.
Gambar 5.25 menampilkan keberadaan tenaga kesehatan PTT di Indonesia sampai
dengan 31 Desember 2012 di fasilitas pelayanan kesehatan dengan kriteria biasa,
terpencil, dan sangat terpencil. Distribusi tenaga kesehatan PTT dapat dilihat secara
rinci pada Lampiran 5.31, 5.32, 5.33 dan 5.34.
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
227
GAMBAR 5.25
KEBERADAAN DOKTER UMUM PTT, DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT
DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2013
Pada tahun 2012 telah diangkat tenaga kesehatan PTT untuk daerah dengan kriteria
biasa, terpencil, dan sangat terpencil sebanyak 19.403 orang, yang terdiri dari dokter
spesialis PTT sejumlah 54 orang, dokter umum PTT sejumlah 3.568 orang, dokter gigi
PTT sebanyak 1.221 orang dan bidan PTT sejumlah 14.560 orang. Adapun pengangkatan
dokter umum PTT dan dokter gigi PTT terbanyak berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur
dengan jumlah 453 orang dokter umum dan 119 orang dokter gigi, dengan pengangkatan
di kriteria sangat terpencil adalah sejumlah 402 orang untuk dokter umum dan 109 orang
untuk dokter gigi. Pengangkatan dokter PTT di Pulau Jawa dan Bali, merupakan realisasi
dari pengangkatan dokter PTT sebagai Brigade Siaga Bencana (BSB) dan pengangkatan
kembali/perpanjangan dengan kriteria biasa. Gambar 5.26 menampilkan pengangkatan
dokter spesialis/dokter gigi spesialis, dokter umum dan dokter gigi PTT di Indonesia
tahun 2012.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
228
GAMBAR 5.26
PERSENTASE PENGANGKATAN DOKTER/DOKTER GIGI SPESIALIS, DOKTER UMUM,
DOKTER GIGI DAN BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)
DI INDONESIA TAHUN 2012
Pengangkatan bidan PTT terbanyak berada di Provinsi Jawa Tengah sejumlah 1.786
orang dengan jumlah pengangkatan 1.785 orang di kriteria biasa dan 1 orang di kriteria
terpencil, diikut provinsi kedua terbanyak adalah Aceh sejumlah 1.659 orang dengan
jumlah pengangkatan 182 orang di kriteria biasa, 1.063 orang di kriteria terpencil dan
414 orang di kriteria sangat terpencil. Data selengkapnya mengenai pengangkatan
tenaga kesehatan PTT menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.35, 5.36, 5.37
dan 5.38.
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
229
3. Tenaga Kesehatan dengan Status Penugasan Khusus
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 09 tahun 2013 tentang penugasan khusus
tenaga kesehatan, penugasan khusus adalah pendayagunaan secara khusus tenaga
kesehatan dalam kurun waktu tertentu guna meningkatkan akses dan mutu pelayanan
kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan di Daerah Tertnggal, Perbatasan dan
Kepulauan, Daerah Bermasalah Kesehatan serta Rumah Sakit Kelas C dan Kelas D di
kabupaten yang memerlukan pelayanan medik spesialistk. Tenaga kesehatan yang
dapat diangkat dalam Penugasan Khusus pada fasilitas pelayanan kesehatan terdiri
dari Residen dan tenaga kesehatan dengan pendidikan diploma III. Residen merupakan
dokter/dokter gigi yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis/dokter gigi
spesialis. Tenaga kesehatan dengan pendidikan diploma III terdiri dari bidan, perawat,
santarian, tenaga gizi, dan analis kesehatan. Tenaga kesehatan penugasan khusus
ditempatkan pada (1) Puskesmas dan jejaringnya, (2) Rumah Sakit Kelas C dan Kelas D
yang telah memiliki peralatan kesehatan, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi serta
fasilitas lain sesuai kebutuhan medik spesialistk (tdak termasuk Rumah Sakit Bergerak),
dan (3) Rumah Sakit yang membutuhkan jenis pelayanan medik spesialistk tertentu.
Pada tahun 2012 telah dilakukan pengangkatan penugasan khusus sebanyak 2.298
orang, yang terdiri dari 658 residen, 1.009 perawat, 228 tenaga gizi, 196 sanitarian/
kesehatan lingkungan, 114 analis kesehatan, 17 bidan, 52 farmasi, 21 tenaga kesehatan
gigi, selanjutnya fsioterapi, radiologi, perekam dan info kesehatan masing-masing
sejumlah 1 orang. Jumlah ini meningkat dari tahun 2011. Adapun penugasan khusus
terbanyak berada di Provinsi Aceh dengan jumlah 320 orang, diikut oleh Sulawesi
Tenggara sejumlah 245 orang, dan Nusa Tenggara Timur sejumlah 237 orang. Data
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.39.

4. Registrasi Tenaga Kesehatan
Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 23 menyatakan tenaga
kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, dan dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan tenaga kesehatan wajib memiliki izin dari
pemerintah. Kewenangan yang dimaksud diberikan berdasarkan pendidikannya setelah
melalui proses registrasi dan pemberian izin dari pemerintah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Pelaksanaan pemberian izin dan registrasi tenaga kesehatan
dijabarkan dalam beberapa peraturan perundangan-undangan.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
230
Registrasi tenaga kesehatan (selain tenaga medis dan kefarmasian) dijabarkan dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 161/Menkes/Per/I/2010 dan direvisi dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1796/Menkes/Per/VIII/2011 tentang registrasi
tenaga kesehatan. Setap tenaga kesehatan yang akan menjalankan pekerjaannya wajib
memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Untuk mendapatkan STR, tenaga kesehatan
harus memiliki ijazah dan sertfkat kompetensi. STR berlaku selama 5 tahun dan dapat
diperpanjang setap 5 tahun. Menurut data Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI),
pada tahun 2012 terdapat 91.165 tenaga kesehatan yang telah memiliki STR. Rincian
jumlah tenaga kesehatan yang telah memiliki STR menurut provinsi terdapat pada
Lampiran 5.29.
Registrasi tenaga medis diatur pelaksanaannya dalam Undang-undang Nomor 29
Tahun 2004 tentang Praktk Kedokteran. Praktk kedokteran bertujuan memberikan
perlindungan kepada pasien; mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
medis yang diberikan oleh dokter dan dokter gigi; dan memberikan kepastan hukum
kepada masyarakat. Setap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktk kedokteran di
Indonesia wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) dokter dan STR dokter gigi termasuk
dokter dan dokter gigi lulusan luar negeri. STR dokter dan dokter gigi diterbitkan oleh
Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan berlaku selama lima tahun dan diregistrasi ulang
setap lima tahun sekali. Data yang tercatat di KKI sampai dengan 31 Desember 2012
yaitu dokter dan dokter gigi yang telah melakukan registrasi dan memiliki Surat Tanda
Registrasi (STR) sejumlah 135.739 orang yang terdiri dari dokter umum 88.309 orang,
dokter spesialis 22.212 orang, dokter gigi 23.262 orang dan dokter gigi spesialis 1.956
orang. Dokter dan dokter gigi lulusan luar negeri yang akan melaksanakan praktk
kedokteran di Indonesia juga harus memiliki STR Sementara atau STR Bersyarat. STR
Sementara diberikan kepada dokter dan dokter gigi WNA yang akan melakukan
kegiatan dalam rangka pendidikan, pelathan, penelitan, pelayanan kesehatan di bidang
kedokteran atau kedokteran gigi yang bersifat sementara di Indonesia. STR Sementara
berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang untuk satu tahun berikutnya. STR
bersyarat diberikan kepada peserta program pendidikan dokter spesialis atau dokter gigi
spesialis WNA yang mengikut pendidikan dan pelathan di Indonesia. Sampai dengan
akhir tahun 2012, data STR dokter dan dokter gigi WNA, yaitu STR Sementara sebanyak
4 orang dan STR Bersyarat sebanyak 12 orang. Rincian jumlah dokter, dokter spesialis,
dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang telah memiliki STR menurut provinsi terdapat
pada Lampiran 5.28.
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
231
Registrasi tenaga kefarmasian diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 889/
Menkes/Per/V/2011 tentang registrasi, izin praktk dan izin kerja tenaga kefarmasian.
Setap tenaga kefarmasian yang menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki
surat tanda registrasi. Tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan
kefarmasian, yang terdiri atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Pekerjaan
kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat,
pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Surat Tanda Registrasi Apoteker
(STRA) dan Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK) berlaku selama
5 (lima) tahun. Surat tanda registrasi juga diperlukan untuk apoteker warga negara
asing lulusan luar negeri yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian di Indonesia
(surat tanda registrasi apoteker khusus/STRA Khusus). STRA, STRTTK dan STRA Khusus
dikeluarkan oleh Komite Farmasi Nasional.
C. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Salah satu komponen sumber daya yang diperlukan dalam menyelenggarakan
pembangunan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan. Dalam Undang-undang Nomor
36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 170 menyebutkan pembiayaan kesehatan
bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan
jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan.
Pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah dan pembiayaan yang bersumber
dari masyarakat. Berikut ini diuraikan anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk
Kementerian Kesehatan RI, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bidang
kesehatan, pembiayaan jaminan kesehatan masyarakat, dan Bantuan Operasional
Kesehatan (BOK).
1. Anggaran Kementerian Kesehatan
Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terdapat peningkatan alokasi dan realisasi anggaran
Kementerian Kesehatan RI. Pada Tahun 2008 Kementerian Kesehatan RI memiliki alokasi
anggaran sebesar Rp 18,55 trilyun dengan realisasi Rp 15,89 trilyun (85,62%), jumlah
tersebut meningkat pada tahun 2012 menjadi Rp 33,29 trilyun dengan realisasi Rp 30,65
trilyun (92,08%). Alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan RI tahun 2008
sampai dengan 2012 dijelaskan pada Gambar 5.27.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
232
GAMBAR 5.27
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
TAHUN 2008 2012
Distribusi anggaran Kementerian Kesehatan RI menurut unit kerja eselon I menunjukkan
bahwa alokasi terbesar untuk Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan (Ditjen
BUK) sejumlah Rp 21.876.967.294.000 (65,71%), sedangkan alokasi terendah untuk
Inspektorat Jenderal sebesar Rp 83.000.000.000 (0,25%). Anggaran pada Ditjen BUK
sebesar jumlah tersebut didistribusikan pada 429 satuan kerja (kantor pusat, kantor
daerah, dekonsentrasi dan tugas pembantuan), sedangkan anggaran pada Inspektorat
Jenderal hanya untuk satu Satker (1 DIPA). Realisasi anggaran tertnggi adalah Sekretariat
Jenderal dengan persentase penyerapan sebesar 95,22%, sedangkan realisasi terendah
adalah Inspektorat Jenderal dengan persentase penyerapan sebesar 81,97%. Informasi
selengkapnya tentang alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan RI tahun
2012 terdapat pada Lampiran 5.40.
2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bidang Kesehatan
Pembiayaan kesehatan bertujuan untuk menyediakan pembiayaan kesehatan yang
berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan
termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk menjamin terselenggaranya
pembangunan kesehatan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setnggi-
tngginya. Sumber pembiayaan kesehatan berasal dari pemerintah, pemerintah daerah,
masyarakat, swasta dan sumber lain.
Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
233
GAMBAR 5.28
PERSENTASE ANGGARAN KESEHATAN TERHADAP APBD
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran,Kemenkes RI, 2013
Undang-Undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 mengamanatkan besar anggaran
kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10%
(sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji.
Gambar 5.28 berikut ini memperlihatkan persentase APBD yang dialokasikan untuk
anggaran kesehatan menurut provinsi.
Penghitungan persentase anggaran kesehatan terhadap APBD tersebut menyertakan
gaji pegawai. Sedangkan sesuai dengan UU No 36 standar biaya kesehatan 10% yang
dimaksud tdak menyertakan gaji pegawai. Sebanyak 6 provinsi memiliki anggaran
kesehatan terhadap APBD lebih dari 10%, yaitu Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Bali,
Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Barat. Dengan demikian sebagian besar provinsi
belum memenuhi standar minimal persentase anggaran kesehatan terhadap APBD.
Data lebih rinci mengenai anggaran APBD pemerintah provinsi terdapat pada Lampiran
5.41.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
234
3. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Masyarakat
Menurut data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, sampai dengan bulan
Desember 2012 jumlah penduduk yang mempunyai jaminan/asuransi kesehatan
sebanyak 163.547.921 orang (68,82% dari jumlah penduduk). Persentase penduduk
yang memiliki jaminan kesehatan oleh program jaminan/asuransi disajikan pada Gambar
5.29 berikut ini.
GAMBAR 5.29
PERSENTASE PENDUDUK YANG DILINDUNGI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT/ ASURANSI
KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2012
Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Peserta Jamkesmas mendapatkan pelayanan kesehatan komprehensif dan berjenjang
dari pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya hingga pelayanan
kesehatan rujukan di rumah sakit. Pada tahun 2012 terdapat 9.510 unit Puskesmas di
seluruh Indonesia yang melayani peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Untuk pelayanan kesehatan rujukan tersedia 1.240 rumah sakit/balai/klinik terdiri dari
613 rumah sakit milik pemerintah, 502 rumah sakit swasta, 85 rumah sakit TNI/POLRI
dan 40 balai kesehatan. Secara keseluruhan peserta Jamkesmas dilayani oleh 10.750
PPK (Pemberi Pelayanan Kesehatan). Gambar 5.30 menunjukkan persentase pemberi
pelayanan kesehatan rujukan peserta Jamkesmas tahun 2012.
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
235
GAMBAR 5.30
PERSENTASE PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN PESERTA JAMKESMAS
TAHUN 2012
Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI, 2013
Dalam upaya meningkatkan keterjangkauan masyarakat miskin dan hampir miskin
terhadap pelayanan kesehatan, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI dan
beberapa pemerintah daerah menanggung biaya pelayanan kesehatan di Puskesmas
dan kelas III di rumah sakit bagi peserta Jamkesmas.
Data cakupan kepesertaan jaminan kesehatan menurut provinsi sampai tahun 2012
terdapat pada Lampiran 5.42.
4. Bantuan Operasional Kesehatan
Bantuan Operasional Kesehatan merupakan bantuan dana dari Pemerintah melalui
Kementerian Kesehatan RI dalam membantu pemerintahan kabupaten/kota untuk
meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat melalui kegiatan
Puskesmas untuk mendukung tercapainya target Millennium Development Goals
(MDGs) bidang kesehatan tahun 2015. Selain itu diharapkan dengan bantuan ini dapat
meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas, terutama dalam perencanaan tngkat
Profil Kesehatan Indonesia 2012
236
Puskesmas dan lokakarya mini Puskesmas, meningkatkan upaya untuk menggerakkan
potensi masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatannya, dan meningkatkan
cakupan pelayanan kesehatan yang bersifat promotf dan preventf yang dilakukan oleh
Puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu.
Pada tahun 2012 pemanfaatan dana BOK difokuskan pada beberapa upaya kesehatan
promotf preventf meliput KIA-KB, imunisasi, perbaikan gizi masyarakat, promosi
kesehatan, kesehatan lingkungan dan pengendalian penyakit, dan upaya kesehatan lain
sesuai risiko dan masalah utama kesehatan di wilayah setempat dengan tetap mengacu
pada pencapaian target Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta target MDGs Bidang
Kesehatan tahun 2015.
Pada proses pelaksanaan, penyaluran dana BOK melalui Tugas Pembantuan telah
dilakukan berbagai upaya penyempurnaan. Realisasi pemanfaatan dana BOK pada
tahun 2012 menunjukan peningkatan dibandingkan tahun 2011. Penyerapan dana BOK
sebesar 96,70% (alokasi dana sebesar Rp 1.095.133.850.000,- dan realisasi sebesar Rp
1.058.945.729.977,-). Realisasi tngkat Puskesmas pun cukup baik yaitu 97,46%.
GAMBAR 5.31
PERSENTASE PENYERAPAN DANA BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2012
Sumber : Ditjen. Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2013
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
237
Pada Gambar 5.31 penyerapan dana BOK tertnggi Provinsi Maluku Utara (99,6%) dan
terendah Provinsi Kalimantan Timur (77,0%). Terdapat 1 kabupaten yang penyerapan
dana BOK-nya rendah yaitu Kabupaten Penajam Paser Utara Provinsi Kalimantan Timur
dengan penyerapan sebesar 6,08%. Data alokasi serta realisasi dana BOK menurut
provinsi tahun 2012 terdapat pada Lampiran 5.43.
BOK sebagai salah satu program strategis Kementerian Kesehatan di samping
Jamkesmas/Jampersal sehingga terus diupayakan perbaikan agar BOK dimanfaatkan
dengan optmal oleh Puskesmas. Dinas kesehatan provinsi sebagai perpanjangan tangan
Kementerian Kesehatan juga memiliki peran serta yaitu melakukan pembinaan dan
evaluasi pelaksanaan BOK di kabupaten/kota.
Dengan kehadiran BOK diharapkan petugas kesehatan/kader kesehatan tdak lagi
mengalami kendala dalam melakukan kegiatan untuk mendekatkan akses pada
masyarakat. Hal pentng yang perlu dipahami, BOK bukan merupakan dana utama
penyelenggaraan upaya kesehatan di kabupaten/kota, namun hanya dana tambahan
yang bersifat bantuan sehingga tdak dapat menjawab semua permasalahan kesehatan.
Sumber pembiayaan kesehatan yang utama tetap harus disediakan oleh pemerintah
daerah kabupaten/kota.

Profil Kesehatan Indonesia 2012


238
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
239
Perbandingan Indonesia dengan
negara Anggota Asean dan Sear
Profil Kesehatan Indonesia 2012
240
SEAN (Associaton of Southeast Asian Natons) merupakan sebuah organisasi
geo-politk dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara,
yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967 melalui Deklarasi Bangkok oleh
Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini bertujuan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan
negara-negara anggota, serta memajukan perdamaian di tngkat regional. Organisasi
ASEAN terdiri atas 10 negara yaitu Brunei Darussalam, Filipina (Philippines), Indonesia,
Kamboja (Cambodia), Laos (Lao Peoples Democratc Republic), Malaysia, Myanmar,
Singapura (Singapore), Thailand, dan Vietnam.
Berdasarkan pengelompokan negara menurut WHO, Indonesia termasuk dalam negara
SEAR (South East Asia Region) bersama 10 negara lainnya, yaitu Bangladesh, Bhutan,
Korea Utara (Democratc Peoples Republic of Korea), India, Maladewa (Maldives),
Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Timor Leste.
Perbandingan data/indikator kesehatan yang terkait antar negara, baik dengan negara-
negara ASEAN maupun SEAR, dilakukan untuk melihat posisi Indonesia terhadap
negara-negara lain dalam kawasan yang sama. Bab ini akan membahas perbandingan
antara Indonesia dengan negara ASEAN dan SEAR dari aspek yang berhubungan dengan
kesehatan yaitu aspek kependudukan, derajat kesehatan, dan upaya kesehatan.
BAB 6. Perbandingan Indonesia dengan
negara Anggota Asean dan Sear
A
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
241
A. KEPENDUDUKAN
Data atau informasi tentang penduduk merupakan aspek yang sangat pentng dalam
pembangunan nasional karena penduduk merupakan subjek dan objek pembangunan.
Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal
dalam pembangunan. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui keadaan
penduduk yaitu jumlah penduduk, kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk,
angka beban tanggungan, angka kelahiran, dan angka kematan.
1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Indonesia merupakan negara terluas dengan jumlah penduduk terbanyak di antara 10
negara anggota ASEAN. Berdasarkan data Badan Informasi Geospasial (BIG) tahun 2012
dan Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan tahun 2011-2014, luas
negara Indonesia sebesar 1.922.570 km2 dengan jumlah populasi sebanyak 244.775.797
orang. Jumlah kepadatan penduduk per km2 sebesar 128 orang. Dengan wilayah negara
terluas, di antara negara ASEAN, Indonesia selalu menempat peringkat pertama sebagai
negara dengan jumlah penduduk tertnggi. Sedangkan Brunei Darussalam memiliki
jumlah penduduk paling rendah di kawasan ASEAN yaitu sekitar 0,4 juta jiwa dengan
kepadatan penduduk per km2 sebesar 72 orang.
Sedangkan di kawasan SEAR Indonesia menempat peringkat kedua dengan jumlah
penduduk terbesar setelah India (dengan jumlah penduduk 1.259,7 juta jiwa). Jumlah
penduduk terbesar ketga di kawasan SEAR adalah Bangladesh yang berpenduduk 152,9
juta jiwa. Delapan negara lainnya berpenduduk kurang dari 70 juta jiwa. Sedangkan dua
negara menempat peringkat terakhir untuk penduduk terkecil di SEAR, dengan jumlah
penduduk kurang dari 1 juta, yaitu Bhutan (0,7 juta), dan Maladewa (0,3 juta). Jumlah
penduduk di kawasan ASEAN dan SEAR dapat dilihat pada Gambar 6.1.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
242
GAMBAR 6.1
JUMLAH PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2012
Sumber: Population Reference Bureau, World Population Data Sheet 2012 dan Data Penduduk Sasaran Program
Pembangunan Kesehatan 2011-2014
Kepadatan penduduk menunjukkan banyaknya penduduk per kilometer persegi.
Hasil estmasi penduduk (Pusdatn, Kemenkes 2011) menunjukkan pada tahun 2012
kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 128 penduduk per km2 dan menempatkan
Indonesia pada peringkat ke-5 terpadat di kawasan ASEAN.
Negara yang menempat peringkat pertama di ASEAN dengan kepadatan penduduk
tertnggi adalah Singapura, dengan angka jauh melebihi 9 negara anggota ASEAN
lainnya yakni dengan kepadatan 7.751 penduduk per km2. Peringkat kedua tertnggi
adalah Filipina dengan kepadatan 321 penduduk per km2. Sedangkan Laos menempat
peringkat terakhir untuk kepadatan penduduk terendah di ASEAN yakni 28 penduduk
per km2.
Di kawasan SEAR, Maladewa yang memiliki luas negara terkecil memiliki kepadatan
penduduk tertnggi dengan 1.110 jiwa per km2. Negara dengan kepadatan penduduk
terendah adalah Bhutan yaitu 15 jiwa per km2. Sementara Indonesia dengan luas
negara terbesar menempat peringkat ke-8 dengan penduduk terpadat di kawasan
SEAR. Tingkat kepadatan penduduk negara-negara ASEAN dan SEAR tahun 2012 dapat
dilihat pada Gambar 6.2 berikut ini.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
243
GAMBAR 6.2
KEPADATAN PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEAR (Jiwa per km2)
TAHUN 2011
Sumber: World Health Statistics 2013 dan Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2011-2014
2. Laju Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk baik pertambahan
maupun penurunannya di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan
waktu sebelumnya. Indikator tngkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk
memprediksi jumlah penduduk di suatu wilayah atau negara dimasa yang akan datang.
Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang, diketahui pula kebutuhan
dasar penduduk tersebut, tdak hanya di bidang sosial dan ekonomi tetapi juga di bidang
politk suatu daerah atau negara maupun dunia.
Indikator tersebut diatas biasa dikenal dengan laju pertumbuhan penduduk. Laju
pertumbuhan penduduk dipengaruhi tga faktor, yakni kelahiran, kematan dan migrasi
penduduk. Semakin tnggi laju pertumbuhan penduduk menyebabkan jumlah penduduk
yang semakin banyak di masa yang akan datang. Perkiraan laju pertumbuhan penduduk
di negara-negara ASEAN dan SEAR dapat dilihat pada Gambar 6.3 di bawah ini.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
244
GAMBAR 6.3
PERKIRAAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PER TAHUN
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2001-2011
Sumber: World Health Statistics 2013
Laju pertumbuhan penduduk lebih tnggi di negara berkembang dibandingkan dengan
negara maju. Salah satu penyebabnya adalah angka fertlitas di negara maju lebih
rendah dari negara berkembang, akibatnya laju pertumbuhan juga lebih lambat.
Selain itu menurut Carl Hub (1999: World Populaton Data Sheet), 98% peningkatan
jumlah penduduk dunia terjadi di negara-negara berkembang. Tingkat kelahiran di
negara berkembang umumnya masih tnggi. Sebaliknya, sejumlah negara maju justru
mengalami penyusutan atau penurunan jumlah penduduk.
Timor Leste sebagai salah satu negara berkembang di kawasan SEAR memiliki perkiraan
laju pertumbuhan penduduk per tahun tertnggi di antara negara-negara di SEAR dengan
perkiraan laju pertumbuhan penduduk 3,0% pada periode 2001-2011, sedangkan Nepal
merupakan negara dengan perkiraan laju pertumbuhan penduduk paling rendah yaitu
0,2%.
Di negara-negara ASEAN, beberapa negara pertumbuhan penduduknya masih
tergolong tnggi. Akan tetapi secara keseluruhan persentase pertumbuhan penduduk
telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pada periode 2001-2011, di
kawasan ASEAN, Singapura, sebagai satu-satunya negara maju di kawasan ASEAN,
memiliki perkiraan laju pertumbuhan penduduk per tahun di kawasan ASEAN yang
tertnggi dengan perkiraan laju pertumbuhan penduduk 2,6% pada periode 2001-2011,
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
245
sedangkan Myanmar merupakan negara dengan perkiraan laju pertumbuhan penduduk
paling rendah yaitu 0,6%.
Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan ASEAN, memiliki perkiraan laju
pertumbuhan penduduk 1,1 %. Indonesia menduduki peringkat ke-8 tertnggi untuk
perkiraan laju pertumbuhan penduduk. Sedangkan bila dilihat dari kawasan SEAR,
Indonesia menduduki peringkat ke-7 tertnggi dari 11 negara. Data kependudukan
negara-negara ASEAN dan SEAR tahun 2012 dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
3. Penduduk Menurut Kelompok Umur
Informasi tentang jumlah penduduk untuk kelompok usia tertentu pentng diketahui
agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai pelaku
pembangunan. Keterangan atau informasi tentang penduduk menurut umur yang terbagi
dalam kelompok umur lima tahunan, sangat pentng dan dibutuhkan berkaitan dengan
pengembangan kebijakan kependudukan terutama berkaitan dengan pengembangan
sumber daya manusia. Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban
sekaligus juga modal dalam pembangunan.
Dengan mengetahui jumlah dan persentase penduduk di tap kelompok umur, dapat
diketahui berapa besar penduduk yang berpotensi sebagai beban yaitu penduduk yang
belum produktf (usia 0-14 tahun) termasuk bayi dan anak (usia 0-4 tahun) dan penduduk
yang dianggap kurang produktf (65 tahun ke atas). Juga dapat dilihat berapa persentase
penduduk yang berpotensi sebagai modal dalam pembangunan yaitu penduduk usia
produktf atau yang berusia 15-64 tahun.
Untuk persentase penduduk menurut kelompok umur non produktf (kelompok umur
0-14 tahun dan kelompok umur 65 tahun ke atas) pada keadaan tahun 2012, Laos
merupakan negara yang tertnggi untuk kelompok umur tersebut dibandingkan negara-
negara lain di kawasan ASEAN yaitu 42% dari total penduduk. Sebaliknya Singapura
merupakan negara dengan komposisi penduduk kelompok umur non produktf terendah
yaitu 26%.
Di antara negara-negara di kawasan SEAR, Timor Leste adalah negara dengan komposisi
penduduk usia non produktf tertnggi yaitu 45%. Sebaliknya, negara dengan penduduk
non produktf terendah di kawasan tersebut adalah Thailand yaitu 30%, yang dapat
dilihat pada Gambar 6.4 di bawah ini.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
246
Indonesia berada pada peringkat ke 4 tertnggi di kawasan ASEAN untuk kelompok umur
non produktf yaitu 33%. Sedangkan di antara negara-negara SEAR, Indonesia berada
pada posisi ke 6 tertnggi untuk kelompok umur non produktf.
Di satu pihak, Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar di ASEAN dan lebih separuh
penduduk yang dengan usia produktf, akan terus menikmat keuntungan demograf
dan potensi perkembangan ekonomi sangat besar, tetapi di pihak lain, perkembangan
ekonomi tdak dapat mengejar pertambahan jumlah penduduk, sementara jumlah
penduduk yang sangat besar membawa banyak masalah sosial antara lain bahan
pangan, energi, layanan kesehatan dan pendidikan.
GAMBAR 6.4
KOMPOSISI PENDUDUK YANG PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF
DI NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2011
Sumber: Population Reference Bureau, World Population Data Sheet 2012 dan Data Penduduk Sasaran Program
Pembangunan Kesehatan 2011-2014
Salah satu indikator pentng terkait distribusi penduduk menurut umur yang sering
digunakan untuk mengetahui produktvitas penduduk adalah, Angka Beban Tanggungan
(Dependency Rato). Dependency Rato juga indikator yang secara kasar dapat
menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau
negara yang sedang berkembang. Semakin tnggi persentase Angka Beban Tanggungan
menunjukkan semakin tngginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktf
untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktf (kelompok umur 0-14 tahun)
dan tdak produktf lagi (kelompok umur 65 tahun ke atas).
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
247
Dengan distribusi penduduk sepert yang telah digambarkan di gambar 6.4, Laos
merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertnggi di kawasan ASEAN
yaitu 72%. Sedangkan Singapura merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan
terendah yaitu 35%.
Di kawasan SEAR, Timor Leste merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan
tertnggi yaitu 82% sedangkan Thailand merupakan negara dengan Angka Beban
Tanggungan terendah yaitu 43%. Sementara Indonesia memiliki Angka Beban
Tanggungan sebesar 49%. Ini berart setap 100 penduduk usia produktf di Indonesia
menanggung 49 penduduk yang belum produktf dan yang dianggap tdak produktf lagi.
Komposisi penduduk menurut kelompok umur serta besar Angka Beban Tanggungan di
negara-negara kawasan ASEAN dan SEAR dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
4. Indeks Pembangunan Manusia
Human Development
Index (HDI) atau Indeks
Pembangunan Manusia
(IPM) adalah indeks
pencapaian kemampuan
dasar pembangunan
manusia yang dibangun
melalui pendekatan
tga dimensi dasar yaitu
meliput: panjang umur
dan menjalani hidup sehat
yang diukur dari angka
harapan hidup waktu
lahir, tngkat pendidikan
yang diukur dari tngkat
kemampuan baca tulis
seseorang dan rata-rata
lama sekolah, serta indeks
daya beli yaitu memiliki
standar hidup yang layak diukur dengan pengeluaran riil per kapita.
GAMBAR 6.5
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012
Sumber: UNDP, Human Development Report 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
248
Selain tga dimensi dasar tersebut diatas, masih banyak indikator lain yang turut
berpengaruh terhadap kualitas pembangunan manusia, sepert jumlah tenaga dan
fasilitas pendidikan dan kesehatan serta kemudahan untuk mengaksesnya, kesadaran
masyarakat akan art pentng pendidikan, pengetahuan tentang kesehatan, distribusi
pendapatan, kesempatan kerja, dan indikator-indikator lainnya.
Berdasarkan standar internasional, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikategorikan
sebagai berikut: kategori tnggi, jika IPM > 0,800; kategori sedang, jika IPM 0,500-0,799;
dan kategori rendah, jika IPM <0,500.Berdasarkan kategori tersebut di atas, pada tahun
2012 ada 2 negara anggota ASEAN masuk dalam kategori tnggi yaitu Brunei Darussalam
dan Singapura. Sedangkan 7 negara, termasuk Indonesia, masuk kategori sedang, dan
hanya 1 negara masuk kategori rendah. Bila dilihat dari peringkat di negara ASEAN pada
tahun yang sama, Singapura merupakan negara dengan peringkat IPM tertnggi yaitu
pada peringkat ke-18 dari 187 negara di dunia, dan yang terendah adalah Myanmar
dengan peringkat ke-149, sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-121.
Di Indonesia, meskipun semua komponen IPM menunjukkan peningkatan dari tahun ke
tahun, tetapi sepertnya daya ungkitnya masih lemah. Terbukt dari masih bertahannya
IPM Indonesia pada kategori menengah atas, belum mampu naik kelas pada kategori
IPM tnggi. Peringkat IPM Indonesia belum dapat menembus 100 besar dan berada
dibawah peringkat negara anggota ASEAN lainnya sepert: Singapura, Brunei Darussalam,
Malaysia, Thailand, dan Filipina.
GAMBAR 6.6
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012
Sumber: UNDP, Human Development Report 2013
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
249
Gambar 6.6 menunjukkan bahwa IPM Indonesia pada tahun 2012 sebesar 0,629. Bila
dibandingkan dengan tahun 2012, secara urutan negara Indonesia mengalami kenaikan
(dari peringkat ke-124 pada tahun 2011 menjadi peringkat ke-121 pada tahun 2012),
dan secara nilai Indonesia mengalami sedikit peningkatan (IPM 2011 adalah 0,617). Di
kawasan ASEAN, dari 10 negara, Indonesia berada pada urutan ke 6 tertnggi di bawah
Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand dan Filipina.
Untuk kawasan SEAR, dari 10 negara (Korea Utara tdak ada data), tdak ada negara yang
memiliki IPM dengan kategori tnggi. Sedangkan 7 negara memiliki IPM dengan kategori
sedang, dan 2 negara yaitu Myanmar dan Nepal masuk dalam kategori rendah. Dari 10
negara SEAR, hanya Korea Utara yang tdak memiliki data IPM. Data IPM negara-negara
di kawasan ASEAN dan SEAR tahun 2011 - 2012 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.
5. Gender Inequality Index
Diskriminasi berdasarkan gender masih terjadi pada seluruh aspek kehidupan, di
seluruh dunia. Sifat dan tngkat diskriminasi sangat bervariasi di berbagai negara atau
wilayah. Meskipun ada kemajuan, ketdaksetaraan gender dalam hak, sumber daya dan
aspirasi masih banyak ditemukan di negara-negara berkembang, bahkan di sebagian
negara berkembang tdak terjadi kemajuan yang berart. Oleh sebab itu, kesetaraan
gender merupakan persoalan pokok pembangunan atau tujuan pembangunan yang
memiliki nilai tersendiri. Kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara
untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektf.
Kesetaraan gender adalah kesetaraan di bidang hukum, kesempatan (termasuk
kesetaraan upah kerja, kesetaraan akses terhadap sumber daya manusia, dan
sumber-sumber produktf lainnya yang memperluas kesempatan) dan aspirasi (untuk
mempengaruhi pengambilan keputusan dalam proses pembangunan).
Human Development Report 1995 memperkenalkan dua langkah baru pembangunan
manusia yang menyorot status perempuan. Dua langkah ini merupakan indikator makro
kesenjangan gender: pertama, Indeks Pembangunan Gender-related Development Index
(GDI) dan kedua, Gender Empowerment Measure (GEM).
GDI mengukur kesenjangan gender dilihat dari bidang kesehatan, pendidikan, dan
ekonomi, sedangkan GEM mengukur kesenjangan gender dalam hal keterlibatan
perempuan dalam pengambilan keputusan. Komponen GDI adalah : Indeks kesehatan
Profil Kesehatan Indonesia 2012
250
(rata-rata usia harapan hidup), indeks pendidikan (angka melek huruf orang dewasa, rata-
rata lama pendidikan), dan Indeks perekonomian (sumbangan pendapatan. Sedangkan
komponen GEM adalah, bidang politk (anggota parlemen) dan bidang ekonomi (tenaga
profesional, angkatan kerja dan rata-rata upah di sektor non pertanian).
Namun baik GDI maupun GEM masih belum dapat mengukur ketdaksetaraan gender
karena komponen yang digunakan adalah komponen yang sama dengan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).
Selanjutnya, Human Development Report 2013 memperkenalkan Gender Inequality
Index (GII) atau Indeks Ketdaksetaraan. GII dihasilkan dari 3 dimensi variabel, yaitu
kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan partsipasi dalam lapangan pekerjaan.
Dimensi kesehatan reproduksi terdiri dari AKI (Maternal Mortality Rato=MMR) dan
AFR (Adolescent Fertlity Rate). AKI merupakan alat ukur akses wanita terhadap layanan
kesehatan, dan AFR menunjukkan tngkat kelahiran pada usia dini. Rendahnya AKI
mengindikasikan bahwa ibu hamil sudah memiliki akses untuk mendapatkan layanan
kesehatan yang tepat. Sementara tngginya AFR dapat mengakibatkan tngginya risiko
kesehatan ibu dan bayi.
Dimensi pemberdayaan perempuan dilihat dari variabel jumlah kursi perempuan dalam
parlemen dan variabel tngkat pendidikan. Dengan jumlah perempuan yang berimbang
dalam parlemen, keputusan yang dibuat dapat lebih menyuarakan kepentngan
perempuan. Sementara besarnya akses perempuan pada pendidikan tnggi akan
meningkatkan akses perempuan terhadap informasi dan memperluas peran dalam
urusan publik. Tingginya akses perempuan terhadap pendidikan akan membantu
mengurangi AFR dan AKB.
Dimensi terakhir adalah lapangan pekerjaan, yang diukur dengan partsipasi tenaga kerja
perempuan dalam dunia kerja. Keempat dimensi tersebut menjadi dasar penghitungan
Indeks Ketdaksetaraan Gender (GII).
Human Development Report 2013 selain menerbitkan angka Indeks Pembangunan
Manusia (HDI) 2013 juga Indeks Ketdaksetaraan Gender (GII) 2013. Dari 18 negara
ASEAN dan SEAR, Korea Utara tdak memiliki data GII, sementara Brunei Darussalam
dan Timor Leste tdak memiliki data nilai GII.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
251
Sumber: UNDP, Human Development Report 2013
Nilai (value) GII berbanding terbalik dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI).
Semakin besar nilai HDI maka semakin tnggi posisi ranking, sementara semakin kecil
nilai GII maka semakin tnggi posisi ranking.
Sepert halnya pada Gambar 6.7 menunjukkan bahwa di antara 10 negara anggota
ASEAN, negara dengan nilai GII tertnggi adalah Singapura dengan nilai GII 101, nilai
terkecil diantara 10 negara ASEAN. Indonesia dengan angka GII sebesar 0,494 menempat
urutan ke-9 terendah di ASEAN dan urutan ke-106 di dunia. Tampaknya ketdaksetaraan
gender masih menjadi masalah di Indonesia, dengan ditunjukkannya nilai GII Indonesia
berada pada tngkat terakhir di ASEAN, dengan Brunei Darussalam tdak memiliki data
GII.
Berdasarkan 3 dimensi variabel yang dihasilkan oleh GII, yaitu kesehatan reproduksi,
pemberdayaan, dan partsipasi dalam lapangan pekerjaan, maka ketga nilai yang
dimiliki Indonesia untuk ketga dimensi tersebut masih menunjukkan nilai rendah
apabila dibandingkan dengan 8 anggota negara ASEAN lainnya.
Sementara untuk di kawasan SEAR, negara dengan angka GII tertnggi adalah Maladewa
(0,357), dan negara dengan angka GII terendah adalah India (0,610). Indonesia dengan
angka GII sebesar 0,494 menempat urutan ke-7 tertnggi di SEAR.
Data GII negara-negara di kawasan ASEAN dan SEAR tahun 2011 - 2012 dapat dilihat
pada Lampiran 6.3.
GAMBAR 6.7
INDEKS KETIDAKSETARAAN GENDER
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012
Profil Kesehatan Indonesia 2012
252
6. Total Fertility Rate
Angka Fertlitas Total (AFT) atau Total Fertlity Rate (TFR) merupakan gambaran mengenai
rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan dari usia 15 sampai 49 tahun.
Perbandingan TFR antar negara pentng untuk diketahui karena dapat membantu
para perencana program pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin,
meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan Ibu
hamil dan perawatan anak, serta untuk mengembangkan program penurunan tngkat
kelahiran. Selain itu, angka fertlitas total tentu saja menunjukkan tngkat keberhasilan
program keluarga berencana yang dilaksanakan di negara tersebut.
TFR yang tnggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah, tngkat
pendidikan yang rendah (terutama perempuannya) tngkat sosial ekonomi rendah atau
tngkat kemiskinan yang tnggi. Angka Fertlitas Total dapat diklasifkasikan menjadi 3
tngkatan yaitu rendah, sedang, dan tnggi (ADB, Key Indicators 2002). Kesuburan rendah
terjadi ketka angka kesuburan wanita 2,1 atau kurang; kesuburan sedang antara 2,2 -
3,9; dan kesuburan tnggi jika angka kesuburan wanita 4 atau lebih.
Berdasarkan klasifkasi tersebut, maka pada tahun 2011, di kawasan ASEAN, terdapat 4
negara yang termasuk dalam kategori angka kesuburan wanita rendah, yaitu Singapura
(1,3), Thailand (1,6), serta Vietnam (1,8). Sedangkan ada 4 negara masuk kategori angka
kesuburan wanita sedang, dan Indonesia masuk ke dalam kategori tersebut dengan
angka kesuburan wanita 2,1 yang berart untuk setap wanita di Indonesia rata-rata
memiliki anak 1 orang selama masa suburnya.
Masih di pada tahun yang sama, untuk kawasan SEAR, Timor Leste merupakan satu-
satunya negara di SEAR yang masuk dalan kategori tnggi yaitu sebesar 6,1. Sedangkan
Indonesia beserta tujuh negara lainnya yakni, Myanmar, Sri Lanka, Bangladesh, Korea
Utara, Bhutan, India, dan Nepal termasuk dalam kategori sedang. Hanya Thailand dan
Maladewa termasuk negara dengan Angka Fertlitas Total berkategori rendah. Besaran
Angka Fertlitas Total di negara ASEAN dan SEAR dapat dilihat pada Gambar 6.8 berikut
ini.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
253
Sumber: Population Reference Bureau, World Population Data Sheet 2012
GAMBAR 6.8
ANGKA KESUBURAN WANITA DI NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2012
Data Angka Fertlitas Total di negara ASEAN dan SEAR dapat dilihat pada Lampiran 6.2.
7. Angka Kelahiran Kasar
Crude Birth Rate (CBR) atau Angka Kelahiran Kasar (AKK) adalah angka yang menunjukkan
banyaknya kelahiran hidup pada tahun tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan
tahun yang sama.
Angka Kelahiran Kasar pada tahun 2011 di negara-negara ASEAN pada rentang 9 sampai
31 per 1.000 penduduk. Negara dengan angka kelahiran terendah yakni Singapura yaitu
9,2 kelahiran per 1.000 penduduk. Angka Kelahiran Kasar tertnggi di ASEAN terjadi di
negara Filipina dengan angka 24,8 per 1.000 penduduk, kemudian tertnggi kedua adalah
Laos, yaitu 23,1 per 1.000 penduduk. Sedangkan Indonesia memiliki Angka Kelahiran
Kasar sebesar 17 kelahiran untuk setap 1.000 penduduk.
Masih di tahun yang sama, Angka Kelahiran Kasar di negara-negara SEAR berkisar antara
14 sampai 38 per 1.000 penduduk. Terendah di Thailand yakni 11,9 per 1.000 penduduk
dan tertnggi di Timor Leste (38,1) per 1.000 penduduk.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
254
Dengan 17 kelahiran per 1.000 penduduk, di kawasan ASEAN Indonesia menempat
peringkat ke-6 terendah, sedangkan di kawasan SEAR menempat peringkat ke-6
terendah untuk Angka Kelahiran Kasar.
Gambar 6.9 memperlihatkan perbandingan Angka Kelahiran Kasar negara-negara
kawasan ASEAN dan SEAR. Data Angka Kelahiran Kasar di negara ASEAN dan SEAR tahun
2011 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.
GAMBAR 6.9
ANGKA KELAHIRAN KASAR DI NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2011
Sumber: World Health Statistics 2013
8. Sosial Ekonomi
Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan
keberhasilan pembangunan suatu negara. Pendapatan Nasional merupakan salah satu
indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pendapatan Nasional
Bruto perkapita (Gross Natonal Income) adalah pendapatan yang diterima oleh setap
penduduk dalam suatu negara selama kurun waktu setahun, atau ditentukan oleh
besarnya pendapatan nasional dan jumlah penduduk. Pendapatan per kapita besarnya
ditentukan oleh Produk Domestk Bruto (PDB) dan Produk Nasional Bruto (PNB).
Penyajian PDB dan PNB dari berbagai sektor dirinci menurut nilai tambah dari seluruh
sektor ekonomi, yang mencakup sektor pertanian, pertambangan, industri, listrik, gas
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
255
dan air, konstruksi, perdagangan, pengangkutan, lembaga keuangan, dan jasa-jasa.
Sedangkan PDB dan PNB menurut penggunaan dirinci menurut komponen pengeluaran
konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap
bruto, dan ekspor neto.
Produk Domestk Bruto adalah nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang
diproduksikan oleh faktor- faktor produksi milik warga negara tersebut dan negara
asing. Sedangkan Produk Nasional Bruto mempuyai art yang bersamaan dengan GDP,
tetapi memperkirakan jenis jenis pendapatan yang sedikit berbeda. Dalam perhitungan
pendapatan Nasional Bruto, nilai barang dan jasa yang dihitung dalam pendapatan
nasional hanyalah barang dan jasa yang diproduksikan oleh faktor- faktor produksi yang
dimiliki oleh warga negara dari negara yang pendapatan nasionalnya dihitung. Faktor-
faktor produksi yang dimiliki warga negara suatu negara yang terdapat di negara itu
sendiri maupun diluar negeri juga dihitung didalam Produk Nasional Bruto.
Tinggi rendahnya PDB atau PNB dan pendapatan per kapita suatu negara oleh Bank
Dunia dikelompokkan ke dalam empat kelompok berdasarkan pendapatan per kapita
pada tahun 2003, yaitu sebagai berikut.
1. Kelompok negara berpendapatan rendah (low income economies), yaitu negara-
negara yang memiliki PNB per kapita sekitar US$ 675 atau kurang.
2. Kelompok negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income
economies), yaitu negara-negara yang mempunyai PNB per kapita sekitar US$ 675
sampai dengan US$ 2.695.
3. Kelompok negara berpendapatan menengah tnggi (upper middle income
economies), yaitu negara-negara yang mempunyai PNB per kapita sekitar US$ 2.696
sampai dengan US$ 8.335.
4. Kelompok negara berpendapatan tnggi (high income economies), yaitu negara-
negara yang mempunyai PNB per kapita sekitar US$ 8.335 atau lebih.
Pendapatan per kapita suatu negara dinyatakan dengan nilai tukar uang luar negeri atau
dalam dolar Amerika Serikat. Dengan cara demikian dapat dibandingkan pendapatan
per kapita suatu negara dengan negara lain, terutama negara-negara sekitar yang
berdekatan, misalnya Indonesia di antara negara-negara ASEAN. Perbandingan ini
dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran kedudukan negara yang bersangkutan di
antara negara-negara lain.
Di antara negara ASEAN (Brunei Darussalam dan Myanmar tdak ada data), PNB per
Profil Kesehatan Indonesia 2012
256
kapita tertnggi pada tahun 2010 adalah Singapura dengan US$ 55.790 per kapita
dan terendah adalah Myanmar dengan US$ 1.950 per kapita. Indonesia memiliki PNB
perkapita sebesar US$ 4.200 dan menempat urutan ke-5 tertnggi.
GAMBAR 6.10
PENDAPATAN NASIONAL BRUTO DI NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2011
Sumber: Population Reference Bureau, World Population Data Sheet USAID, 2012
Sementara itu, di antara negara SEAR (tdak ada data untuk Korea Utara dan Myanmar),
negara dengan pendapatan nasional bruto per kapita tertnggi adalah Thailand yaitu
sebesar US$ 8.190 dan terendah adalah Nepal dengan US$ 1.210. Jika dibandingkan
dengan seluruh negara di ASEAN dan SEAR, Indonesia berada di peringkat ke-8 tertnggi
pendapatan nasional bruto per kapita.
Gambar 6.10 memperlihatkan perbandingan pendapatan nasional bruto di negara-
negara kawasan ASEAN dan SEAR. Data PNB per kapita 2011 di negara ASEAN dan SEAR
dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
257
B. DERAJAT KESEHATAN
MORTALITAS
1. Angka Kematian Bayi
Angka Kematan Bayi diklasifkasikan menjadi empat kelompok yaitu rendah jika AKB
kurang dari 20; sedang 20-49; tnggi 50-99; dan sangat tnggi jika AKB di atas 100 per
1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan klasifkasi Angka Kematan Bayi, gambar 6.11 menunjukkan pada tahun 2011,
Myanmar merupakan negara yang memiliki angka kematan bayi tertnggi di kawasan
ASEAN dengan angka 47,9 per 1.000 kelahiran hidup. Empat negara termasuk Indonesia
diantara Filipina, Laos
dan Kamboja termasuk
kelompok sedang.
Sedangkan ke lima
negara lainnya yaitu
Singapura, Malaysia,
Brunei Darussalam,
Thailand dan Vietnam
termasuk negara
dengan Angka Kematan
Bayi rendah. Dari 10
negara anggota ASEAN,
tdak ada yang masuk
dalam kelompok angka
kematan bayi sangat
tnggi (>100 per 1.000
kelahiran hidup).
Menurut The UN-Inter
agency Group for Child
Mortality Estmates
(IGME), Tahun 2011,
Angka Kematan Bayi yang dimiliki Indonesia adalah 24,8 kematan per 1.000 kelahiran
hidup pada 2011. Meski Angka Kematan Bayi di Indonesia terus menurun tap tahun,
GAMBAR 6.11
ANGKA KEMATIAN BAYI DI NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2011
Sumber: The UN-Inter agency Group for Child Mortality Estimates (IGME), 2012
Profil Kesehatan Indonesia 2012
258
namun tngkat kematan bayi di Indonesia masih tergolong tnggi jika dibandingkan
dengan negara-negara anggota ASEAN, yaitu 4,2 kali lebih tnggi dari Malaysia, 1,2 kali
lebih tnggi dari Filipina, dan 2,2 kali lebih tnggi dari Thailand.
Menurut data World Health Organizaton (WHO) 2003, Angka Kematan Bayi di Indonesia
sebagian besar terkait dengan faktor nutrisi yaitu sebesar 53%. Beberapa penyakit yang
tmbul akibat malnutrisi antara lain pneumonia (20%), diare (15%), dan perinatal (23%).
Bukt empiris tentang adanya hubungan antara tngkat fertlitas dengan tngkat kematan
anak adalah sangat kuat. Negara-negara yang memiliki angka kematan bayi kurang dari
20, mempunyai angka rata-rata tngkat fertlitas (Total Fertlity Rate) sebesar 1,7 anak.
Negara-negara dengan tngkat kematan bayi diatas 100 mempunyai angka rata-rata
tngkat fertlitas 6,2 anak. Hal ini mengindikasikan bahwa negara-negara yang mempunyai
tngkat kematan bayi yang tnggi mempunyai tngkat pertumbuhan penduduk tercepat
di dunia.
Berdasarkan klasifkasi yang sama maka 3 negara di SEAR, yaitu Maladewa, Thailand,
dan Sri Lanka masuk dalam kategori negara dengan Angka Kematan Bayi rendah dengan
angka 9, 11 dan 11 per 1.000 kelahiran hidup. Tujuh negara masuk kategori sedang dan
satu negara (Myanmar) masuk kategori tnggi.
Besaran Angka Kematan Bayi di negara-negara ASEAN dan SEAR berkisar antara 2 dan
50. Singapura merupakan negara dengan AKB terendah, yaitu 2 per 1.000 kelahiran
hidup, sedangkan AKB tertnggi di Myanmar, yaitu sebesar 48 per 1.000 kelahiran hidup.
Indonesia memiliki Angka Kematan Bayi 37 per 1.000 kelahiran hidup dan berada di
peringkat 10 terendah di antara 18 negara tersebut. Data Angka Kematan Bayi di negara
ASEAN dan SEAR tahun 2011 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.
2. Angka Kematian Balita
Penurunan kasus kematan pada anak merupakan salah satu hal yang dianggap pentng
dalam tujuan pembangunan milenium. Pada kasus kematan yang tnggi biasanya
jumlah kematan terbanyak terjadi pada usia balita saat mereka rentan terhadap
penyakit. Statstk menunjukkan bahwa lebih dari 70% kematan balita disebabkan diare,
pneumonia, campak, malaria, dan malnutrisi.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
259
GAMBAR 6.12
ANGKA KEMATIAN BALITA (PER 1000 KELAHIRAN HIDUP)
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011
Sumber: The UN-Inter agency Group for Child Mortality Estimates (IGME), 2012
Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatf AKABA, yaitu sangat
tnggi dengan nilai > 140 per 1.000 kelahiran hidup, tnggi dengan nilai 71-140 per 1.000
kelahiran hidup, sedang dengan nilai 20-70 per 1.000 kelahiran hidup, dan rendah
dengan nilai < 20 per 1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan klasifkasi Angka Kematan Balita diatas, Angka Kematan Balita terendah
dicapai Singapura yaitu 2,6 kematan per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan ke-9 negara
ASEAN lainnya masuk dalam kategori sedang, termasuk didalamnya Indonesia dengan
Angka Kematan Balita sebesar 31,8 kematan per 1.000 kelahiran hidup. Myanmar
dengan Angka Kematan Balita tertnggi di ASEAN berada dalam kategori sedang dengan
62,4 kematan per 1.000 kelahiran hidup. Hampir semua negara ASEAN memiliki Angka
Kematan Balita kurang dari 50 per 1.000 kelahiran hidup kecuali Myanmar.
Angka Kematan Balita di SEAR berkisar antara 11 sampai 62 per 1.000 kelahiran hidup.
Sebagaimana di ASEAN, di SEAR Myanmar juga merupakan negara dengan AKABA
tertnggi. Sedangkan Thailand dan Maladewa adalah negara dengan AKABA terendah,
dengan AKABA 11 per 1.000 kelahiran hidup. Jika di ASEAN hanya terdapat 1 negara
(dari 10 negara) dengan AKABA lebih dari 50 per 1.000 kelahiran hidup, di SEAR ada
3 negara dengan AKABA lebih dari 50, yaitu: Timor Leste, India, dan Myanmar. Tidak
ada negara di ASEAN dan SEAR dengan angka kematan balita masuk ke dalam kategori
tnggi berdasarkan klasifkasi MDGs.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
260
Pada Gambar 6.12 terlihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki AKABA relatf lebih
rendah jika dibandingkan dengan negara-negara SEAR. Telah dipaparkan sebelumnya
bahwa sebagian besar kematan balita disebabkan oleh diare, pneumonia, dan
malnutrisi. Hal itu berart negara-negara ASEAN mungkin memiliki sanitasi dan keadaan
ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara-negara SEAR.
Pada tahun 2011, di Indonesia terdapat 31,8 kematan balita per 1.000 kelahiran hidup.
Di kawasan ASEAN, Indonesia menempat peringkat ke-4 tertnggi kematan balitanya,
sedangkan pada kawasan SEAR, Indonesia menempat peringkat ke-7 tertnggi kematan
balita per 1.000 kelahiran hidup. Data Angka Kematan Balita di negara ASEAN dan SEAR
tahun 2011 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.
3. Angka Kematian Ibu
Angka Kematan Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator pentng dari derajat kesehatan
masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab
kematan terkait dengan
gangguan kehamilan
atau penanganannya
(tdak termasuk
kecelakaan atau kasus
insidentl) selama
kehamilan, melahirkan
dan dalam masa
nifas (42 hari setelah
melahirkan) tanpa
memperhitungkan lama
kehamilan per 100.000
kelahiran hidup.
Berdasarkan klasifkasi
Angka Kematan Ibu dari
WHO adalah sebagai
berikut; <15 per 100.000
kelahiran hidup; 15-199
per 100.000 kelahiran
GAMBAR 6.13
ANGKA KEMATIAN IBU DI NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2010
Sumber: WHO, World Health Statistics 2013
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
261
hidup; 200-499 per 100.000 kelahiran hidup; 500-999 per 100.000 kelahiran hidup;
dan 1.000 per kelahiran hidup. Pada tahun 2011 di kawasan ASEAN hanya Singapura
yang memiliki Angka Kematan Ibu rendah, yakni mencapai Angka Kematan Ibu <15
yaitu 3 per 100.000 kelahiran hidup. Ada 5 negara memiliki Angka Kematan Ibu 15-
199 per 100.000 kelahiran hidup, yakni: Brunei Darussalam (24), Filipina (99), Malaysia
(29), Vietnam (59), dan Thailand (48) serta 4 negara memiliki Angka Kematan Ibu 200-
499 per 100.000 kelahiran hidup, termasuk Indonesia. Laos merupakan negara dengan
Angka Kematan Ibu tertnggi di ASEAN dengan angka 470 per 100.000 kelahiran hidup.
AKI di Indonesia mencapai 228/100.000 kelahiran hidup. Angka ini jauh lebih tnggi
dibandingkan Vietnam (59/100.000), dan Cina (37/100.000). Ini menempatkan
Indonesia sebagai salah satu negara dengan AKI tertnggi asia, tertnggi ke-3 di kawasan
ASEAN dan ke-2 tertnggi di kawasan SEAR. Untuk satu ibu yang akan melahirkan anak
di Indonesia, risiko ibu tersebut meninggal dunia sepuluh kali lipat dari seorang ibu di
Malaysia dan Sri Lanka. Angka Kematan Ibu masih sangat tnggi di Indonesia. Sebanyak
228 ibu meninggal dunia pada setap 100.000 kelahiran hidup. Angka itu lebih dari
sepuluh kali AKI Malaysia (19) dan Sri Lanka (24). Target Pemerintah adalah menurunkan
Angka Kematan Ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.
Pada tahun yang sama, negara-negara di SEAR tdak ada yang mencapai Angka Kematan
Ibu <15 kelahiran hidup dan Angka Kematan Ibu > 500 kelahiran hidup. Lima negara
memiliki Angka Kematan Ibu antara 15-199 per 100.000 kelahiran hidup, yakni :
Thailand, Bhutan, Korea Utara, Maladewa, Nepal dan Srilanka. Serta lima negara memiliki
Angka Kematan Ibu 200-499 per 100.000 kelahiran hidup, yaitu : Indonesia, Myanmar,
Bangladesh, India, dan Timor Leste. Negara dengan Angka Kematan Ibu tertnggi adalah
Timor Leste dengan angka 300 per 100.000 kelahiran hidup.
Menurut hasil kajian kinerja IGD Obstetri-Ginekologi dari RSUP Cipto Mangunkusumo,
yang merupakan Rumah Sakit rujukan nasional, lima besar penyebab kematan ibu di
Indonesia adalah perdarahan, eklampsia, sepsis, infeksi dan gagal paru.
Data Angka Kematan Ibu di negara ASEAN dan SEAR tahun 2010 dapat dilihat pada
Lampiran 6.2.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
262
4. Angka Kematian Kasar
Crude Death Rate (CDR) atau Angka Kematan Kasar adalah angka yang menunjukkan
berapa besarnya kematan yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setap 1.000
penduduk. Pada umumnya penduduk tua mempunyai risiko kematan yang lebih tnggi
dibandingkan dengan penduduk yang masih muda. Jika tdak ada indikator kematan yang
lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan
penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan.
GAMBAR 6.14
ANGKA KEMATIAN KASAR (PER 1000 PENDUDUK)
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011
Sumber: WHO, World Health Statistics 2013
Gambar 6.14 menunjukkan bahwa, pada tahun 2011, Myanmar memiliki Angka Kematan
Kasar tertnggi di kawasan ASEAN, dengan 8,5 per 1.000 penduduk. Sementara Angka
kematan terendah dimiliki oleh Brunei Darussalam dengan 3,3 kematan per 1.000
penduduk. Masih di tahun yang sama, Angka Kematan Kasar di antara negara-negara
kawasan SEAR tdak terlalu berbeda dengan di ASEAN. Korea Utara dengan 10 kematan
per 1.000 penduduk merupakan negara dengan Angka Kematan Kasar tertnggi,
sementara terendah adalah Maladewa dengan 4 kematan per 1.000 penduduk.
Pada tahun 2011, di Indonesia terdapat 7 kematan per 1.000 penduduk. Di kawasan
ASEAN, Indonesia menduduki peringkat ke-7 terendah Angka Kematan Kasar;
sedangkan di kawasan SEAR, Indonesia bersama-sama Sri Lanka menduduki peringkat
ke-6 terendah. Data Angka Kematan Kasar di negara ASEAN dan SEAR tahun 2011 dapat
dilihat pada Lampiran 6.2.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
263
5. Angka Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup (AHH) merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah
dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan
derajat kesehatan pada khususnya. Selain itu, AHH juga menjadi salah satu indikator
yang digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). AHH yaitu rata-
rata jumlah tahun yang akan dijalani seseorang sejak orang tersebut lahir. Peningkatan
usia harapan hidup penduduk dari suatu negara merupakan efek keberhasilan program
kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi dinegara tersebut.
Dalam membandingkan tngkat kesejahteraan antar kelompok masyarakat, sangatlah
pentng untuk melihat angka harapan hidup, sepert halnya dengan tngkat pendapatan
tahunan. Di negara-negara yang tngkat kesehatannya lebih baik, setap individu
memiliki rata-rata hidup lebih lama, dengan demikian secara ekonomis mempunyai
peluang untuk untuk memperoleh pendapatan lebih tnggi. Keluarga yang usia harapan
hidupnya lebih panjang, cenderung untuk menginvestasikan pendapatannya di bidang
pendidikan dan menabung. Dengan demikian, tabungan nasional dan investasi akan
meningkat, dan pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Gambar 6.15 memperlihatkan bahwa pada tahun 2012 di antara sepuluh negara
anggota ASEAN, Singapura merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir
(Expectaton of Life at Birth) paling tnggi yaitu 82 tahun. Selain kesejahteraan, salah
satu faktor dalam memperlama usia harapan hidup rata-rata di Singapura adalah bahwa
di awal 1980-an, pemerintah mengakui bahwa negara itu memiliki populasi usia tua
yang banyak, dengan rata-rata usia warga yang semakin meningkat terus. Pemerintah
Singapura berencana dan menargetkan Singapura memiliki fasilitas perawatan
kesehatan yang sangat baik untuk orang tua. Sementara negara yang memiliki Angka
Harapan Hidup waktu lahir terendah adalah Kamboja yaitu 62 tahun.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
264
GAMBAR 6.15
ANGKA HARAPAN HIDUP DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012
Sumber: Population Reference Bureau, World Population Data Sheet 2012
Untuk kawasan SEAR, Sri Lanka merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu
lahir (Expectaton of Life at Birth) paling tnggi yaitu 78 tahun. Negara yang memiliki
umur harapan hidup waktu lahir terendah adalah Timor Leste yaitu 63 tahun.
Di kawasan ASEAN, Indonesia dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir 72 tahun
menempat peringkat ke-6 tertnggi, sedangkan di kawasan SEAR menempat peringkat
ke-6 tertnggi. Data Angka Harapan Hidup di negara ASEAN dan SEAR tahun 2012 dapat
dilihat pada Lampiran 6.2.
MORBIDITAS
1. Prevalensi Tuberkulosis
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya
menjadi perhatan di dunia dan menjadi salah satu indikator dalam pencapaiaan tujuan
pembangunan global. Data dari World Health Statstcs 2013 menunjukkan tngginya
angka prevalensi tuberkulosis per 100.000 penduduk di beberapa negara ASEAN dan
SEAR.
Beban penyakit yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat diukur dengan insiden
(didefnisikan sebagai jumlah kasus baru dan kasus kambuh tuberkulosis yang muncul
dalam periode waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam satu tahun), prevalensi
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
265
(didefnisikan sebagai jumlah kasus tuberkulosis pada suatu ttk waktu tertentu) dan
mortalitas/kematan (didefnisikan sebagai jumlah kematan akibat tuberkulosis dalam
jangka waktu tertentu)
Tiga negara dengan prevalensi tuberkulosis tertnggi di ASEAN adalah Kamboja dengan
817 per 100.000 penduduk, Laos dengan 540 per 100.0000 penduduk, dan Myanmar
dengan 506 per 100.000. Singapura merupakan negara dengan prevalensi tuberkulosis
terendah yaitu sebesar 46 per 100.000 penduduk. Sedangkan Indonesia berada di posisi
keenam untuk prevalensi tuberkulosis dengan 281 per 100.000 penduduk.
GAMBAR 6.16
PREVALENSI TUBERKULOSIS PER 100.000 PENDUDUK
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011
Sumber: WHO, World Health Statistics 2013
Untuk kawasan SEAR, Timor Leste memiliki prevalensi tuberkulosis paling tnggi, yaitu
701 per 100.000 penduduk diikut oleh Myanmar dengan 506 per 100.000 penduduk.
Maladewa adalah negara dengan prevalensi terendah dengan angka 44 per 100.000
penduduk. Sedangkan Indonesia berada di posisi kelima untuk prevalensi tuberkulosis
dengan 281 per 100.000 penduduk di antara negara-negara SEAR.
Baik untuk kawasan ASEAN maupun SEAR, kesenjangan prevalensi tuberkulosis antar
negara cukup tnggi, dimana untuk kawasan ASEAN kisaran prevalensi tuberkulosis tahun
2011 adalah 46-817 per 100.000 penduduk. Dan kesenjangan prevalensi tuberkulosis
antar negara SEAR adalah 44-701 per 100.000 penduduk.
Masih menurut sumber yang sama, kematan akibat tuberkulosis pada tahun 2011
tertnggi di ASEAN terjadi di Kamboja yaitu 63 per 100.000 penduduk. Sedangkan kasus
Profil Kesehatan Indonesia 2012
266
GAMBAR 6.17
KEMATIAN AKIBAT TUBERKULOSIS PER 100.000 PENDUDUK
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011
Sumber: WHO, World Health Statistics 2013
Di antara 10 negara di ASEAN angka kematan akibat tuberkulosis di Indonesia merupakan
peringkat kelima (27 per 100.000 penduduk) sejalan dengan prevalensi tuberkulosis.
Berbeda dengan posisi Indonesia di antara negara SEAR, untuk angka kematan akibat
tuberkulosis Indonesia merupakan peringkat ketga tertnggi setelah Timor Leste dan
Bangladesh, padahal prevalensi tuberkulosis Indonesia di antara negara SEAR adalah
peringkat kelima. Selengkapnya mengenai Tuberkulosis di ASEAN dan SEAR dapat dilihat
pada Lampiran 6.5.
kematan akibat tuberkulosis terendah terjadi di Singapura dan Brunei Darussalam
masing-masing 2,3 dan 2,7 kematan per 100.000 penduduk.
Sedangkan kematan akibat tuberkulosis di negara-negara kawasan SEAR berkisar antara
3,4 sampai 46 per 100.000 penduduk. Sepert angka prevalensi tuberkulosis, angka
kematan tertnggi akibat tuberkulosis juga terjadi di Timor Leste yaitu 46 kematan per
100.000 penduduk. Namun untuk angka kematan akibat tuberkulosis yang terendah
juga di Nepal (2,3 per 100.000 penduduk).
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
267
2. Flu Burung (Avian Influenza)
Kemunculan strain virus fu burung yang baru pada manusia (strain H5N1) pertama kali
terdeteksi di Hongkong. Akibatnya sebanyak 18 orang harus dirawat di rumah sakit,
dan 6 di antaranya meninggal dunia. Ditemukan fakta pertama kali bahwa virus fu
burung dapat menular langsung dari unggas ke manusia. Sebelum tahun 1997, ilmuwan
meyakini penularan virus infuenza dari unggas ke manusia tdak terjadi secara langsung.
Flu burung pertama kali masuk ke wilayah ASEAN pada tahun 2003 melalui Vietnam,
3 orang dinyatakan menderita penyakit tersebut dan seluruhnya meninggal. Sampai
dengan akhir tahun 2012, 6 negara di wilayah ASEAN telah terinfeksi fu burung yaitu
Vietnam, Thailand, Indonesia, Laos, Myanmar dan Kamboja.
GAMBAR 6.18
JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT FLU BURUNG
DI NEGARA ASEAN DAN SEAR TAHUN 2003-2012
Sumber: http://www.who.int/infuenza/human_animal_interface/EN_GIP_20130426CumulativeNumberH5N1c
ases.pdf (diakses 20 Mei 2013)
Gambar 6.18 memperlihatkan jumlah kasus dan kematan akibat fu burung di wilayah
ASEAN sejak tahun 2003 sampai 2012. Kasus pertama kali menyerang Vietnam dengan
3 korban yang keseluruhannya berakhir pada kematan. Tahun 2004 jumlah kasus
meningkat menjadi 46 dengan 32 kematan. Pada tahun tersebut selain Vietnam,
Thailand pun telah terinfeksi virus H5N1 ini. Akhir tahun 2005 jumlah penderita dan
negara yang terinfeksi fu burung terus bertambah, 90 orang menjadi korban. Namun
kali ini jumlah kematan dapat ditekan, jika sebelumnya hampir 100% berakhir pada
Profil Kesehatan Indonesia 2012
268
kematan, tahun 2005 dari 90 penderita 38 meninggal (CFR = 42,22%). Semenjak
itu jumlah kasus fu burung terus menurun, namun tdak demikian dengan angka
kematannya (CFR). Pada tahun 2009 terdapat 27 kasus dari 3 negara di ASEAN dengan
24 kematan (CFR = 88,89%). Tahun 2010, terjadi penurunan CFR menjadi 58,82% (17
kasus dengan 10 kematan), namun meningkat kembali pada tahun 2011 dengan CFR
sebesar 90% (20 kasus dengan 18 kematan) dan turun sedikit pada tahun 2012 menjadi
87,5% (16 kasus dengan 14 kematan).
Penyakit fu burung mulai menyerang manusia di kawasan SEAR pada tahun 2004, yaitu
di Thailand. Negara-negara di SEAR yang terjangkit fu burung sejak 2005 adalah negara-
negara yang juga tergabung dalam ASEAN. Negara-negara tersebut adalah Thailand
dan Indonesia, serta Myanmar pada tahun 2007 dengan 1 kasus. Selain negara SEAR
yang juga negara ASEAN tersebut (Indonesia, Myanmar, dan Thailand), Bangladesh
merupakan satu Negara SEAR yang memiliki kasus fu burung. Sejak munculnya kasus
fu burung tahun 2003, Bangladesh tercatat 2 kali terinfeksi, yaitu 1 kasus pada tahun
2008 dan 2 kasus pada tahun 2011. Selama 2 tahun tersebut, tdak ada kematan akibat
fu burung di Bangladesh. Namun di Indonesia CFR kasus fu burung pada tahun 2012
naik menjadi 100% (9 kasus dengan 9 kematan).
Selengkapnya mengenai kasus dan kematan akibat fu burung (Avian Infuenza) di
Negara ASEAN dan SEAR dapat dilihat pada Lampiran 6.7.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
269
3. Polio
Polio merupakan penyakit yang dapat berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa.
Namun, di antara penyakit-penyakit tersebut terdapat penyakit yang dapat dicegah
dengan melakukan imunisasi, atau biasa disebut dengan PD3I (Penyakit yang Dapat
Dicegah Dengan Imunisasi). Polio merupakan salah satu penyakit yang termasuk dalam
PD3I, sedangkan penyakit lainnya adalah Tuberkulosis, Hepatts B, Diferi, Pertusis,
Tetanus, Tetanus Neonatorum, dan Campak. Berikut adalah jumlah kasus polio yang
terjadi di negara ASEAN dan SEAR.
TABEL 6.1
JUMLAH KASUS POLIO
NEGARA ASEAN DAN SEAR TAHUN 2005-2011
Sumber: WHO, (http://apps.who.int/immunization_monitoring/globalsummary)
Sejak tahun 2001 kasus polio tdak ditemukan di negara-negara di ASEAN, Brunei
Darussalam, Filipina, Malaysia, Singapura dan Vietnam merupakan negara yang sudah
bebas polio di kawasan ASEAN. Pada tahun 2004 virus polio liar kembali menyerang
penduduk di kawasan ASEAN, yaitu di Laos. Pada tahun 2005 jumlah kasus polio
mencapai puncaknya, sebanyak 350 penduduk dari 2 negara di ASEAN yaitu Kamboja
dan Indonesia terserang penyakit polio, 349 di antaranya terjadi di Indonesia. Tahun
2006 penularan penyakit polio mulai dapat dikendalikan, sehingga hanya ditemukan
4 penderita di kawasan ini, 2 penderita berasal dari Indonesia dan masing-masing 1
penderita berasal dari Kamboja dan Myanmar. Pada tahun 2007, di antara negara-negara
anggota ASEAN, hanya Myanmar yang masih ditemukan kasus polio bahkan jumlahnya
meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 1 kasus menjadi 15
kasus.
Indonesia, yang pada tahun 2005 terjadi kejadian luar biasa dengan ditemukannya
349 kasus polio, telah mampu mengendalikan kejadian tersebut sehingga sejak 2007
Profil Kesehatan Indonesia 2012
270
tdak ditemukan lagi kasus polio. Akhirnya pada tahun 2008 hingga 2012 sudah tdak
ditemukan lagi kasus polio di wilayah ASEAN.
Di kawasan SEAR, Thailand, Bhutan, Korea Utara, Maladewa, dan Sri Lanka merupakan
negara yang bebas polio sebelum tahun 2004. Sedangkan pada tahun 2008 ditemukan
sebanyak 565 kasus dari 2 negara, yaitu India dengan 559 kasus dan Nepal dengan 6
kasus. India mengalami penurunan 36% dari tahun sebelumnya, sementara Nepal
mengalami kenaikan 20%. Tahun 2009 terjadi peningkatan kembali kasus polio di India
menjadi 756 kasus. Namun, tahun 2010 terjadi penurunan tajam menjadi 49 kasus
(India 43 kasus, Nepal 6) diikut penurunan pada tahun 2011 menjadi 1 kasus polio, dan
pada tahun 2012 tdak ditemukan lagi kasus polio di India.
GAMBAR 6.19
JUMLAH KASUS POLIO DI NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2004-2012
Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system, 2012 global summary (http://apps.who.int/immunization_
monitoring/globalsummary/)
Jika dibandingkan dengan kawasan ASEAN, jumlah seluruh kejadian polio di kawasan
SEAR cukup tnggi dan terjadi kenaikan hingga tahun 2007. Tingginya angka kejadian ini
karena kontribusi jumlah kasus yang sangat besar oleh India yang merupakan salah satu
dari 4 negara endemis polio. Walau sempat turun dan kembali naik di tahun 2009, tahun
2010 kasus polio di India menurun tajam dan nyaris hilang di tahun 2011 dan menjadi
0 kasus pada tahun 2012.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
271
4. Campak
Penyakit campak dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk kebutaan, ensefalits,
diare parah, infeksi telinga dan radang paru-paru, terutama pada anak yang kekurangan
gizi serta orang-orang dengan daya tahan tubuh rendah. Tidak ada pengobatan khusus
untuk penyakit campak dan kebanyakan penderita mengalami kesembuhan dalam 2-3
minggu. Namun, penyakit campak dapat dicegah dengan imunisasi.
Pada tahun 2012, Indonesia merupakan negara ASEAN yang memiliki kasus penyakit
campak terbanyak dengan jumlah 15.489 kasus, sedangkan urutan kedua terbanyak
adalah Thailand dengan 5.197, sedangkan 8 negara ASEAN lainnya memiliki jumlah
lebih sedikit dan tdak lebih dari 3.000 kasus. Brunei Darussalam hanya dengan 1 kasus,
dimana pada tahun 2011 kasus campak yang dilaporkan sebanyak 4 kasus.
Di wilayah SEAR, pada tahun 2012 kasus campak terbanyak ditemukan di India dengan
jumlah total 18.668 kasus. Tiga negara memiliki kasus di bawah 100, yaitu Bhutan
dengan 1 kasus, Timur Leste 15 kasus, dan Sri Lanka dengan 51 kasus. Di antara negara
SEAR, hanya di Maladewa dan Korea Utara yang tdak ditemukan kasus campak.
Bila dibandingkan kasus campak di ASEAN dan SEAR, jumlah kasus campak di Indonesia
adalah yang tertnggi di ASEAN dan penyumbang kedua setelah India untuk kawasan
SEAR.
5. Tetanus Neonatorum
Pada tahun 2012, Tetanus Neonatorum terjadi di 8 negara ASEAN, dengan jumlah kasus
tertnggi di Filipina dan Indonesia yang melebihi 100 orang. Dimana di Thailand dan
Brunei Darussalam dilaporkan tdak ada kasus Tetanus Neonatorum.
Berdasarkan Vaccine-Preventable Disease Monitoring System 2012, tahun 2012 pada
kawasan SEAR jumlah kasus tetanus neonatorum yang terjadi di India jauh melebihi
kasus di negara lain di kawasan ASEAN, yaitu 653 kasus. Bangladesh menempat urutan
kedua terbesar dengan 109 kasus. Thailand, Bhutan, Maladewa, Korea Utara dan Sri
Lanka dilaporkan tdak memiliki kasus tetanus neonatorum.
Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi di negara ASEAN
dan SEAR tahun 2012 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.8.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
272
C. UPAYA KESEHATAN
1. Cakupan Imunisasi
Di antara penyakit pada anak-anak yang dapat dicegah dengan imunisasi, campak adalah
penyebab utama kematan anak. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan
faktor pentng dalam mengurangi Angka Kematan Balita. Dari 22 tujuan yang disepakat
dalam pertemuan dunia tentang anak, salah satunya adalah mempertahankan cakupan
imunisasi campak sebesar 90%. Di seluruh negara ASEAN dan SEAR, imunisasi campak
diberikan pada bayi usia 9-12 bulan dan merupakan imunisasi terakhir yang diberikan
kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya (BCG, DPT, Polio, Hepatts, dan Campak).
Dengan demikian, diasumsikan bayi yang mendapatkan imunisasi campak telah
mendapatkan imunisasi lengkap. Berart besarnya cakupan imunisasi campak juga
menggambarkan besarnya cakupan bayi yang telah mendapat imunisasi lengkap.
Jika dibandingkan dengan imunisasi lainnya, sepert dapat dilihat pada Gambar 6.21,
cakupan imunisasi BCG pada bayi umumnya lebih tnggi. Hal tersebut terjadi karena
jadwal pemberian imunisasi BCG yang relatf lebih awal dibandingkan dengan imunisasi
yang lain, bahkan beberapa negara memberikan imunisasi BCG sesaat setelah bayi
dilahirkan. Pada tahun 2012 cakupan imunisasi BCG tertnggi di antara negara anggota
ASEAN dicapai Brunei Darussalam dan Thailand dengan masing-masing 100% dan
terendah Myanmar 87%. Untuk tahun 2012, Singapura tdak melaporkan cakupan
imunisasinya.
Di kawasan SEAR, 8 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi BCG 90%. Negara-
negara tersebut adalah Thailand, Bangladesh, Bhutan, India, Korea Utara, Maladewa,
Nepal, dan Sri Lanka. Tiga negara belum mencapai target 90%. Timor Leste merupakan
negara dengan cakupan imunisasi BCG terendah yaitu 71%.
Terkait dengan imunisasi campak, pada tahun 2012 sebanyak 4 negara anggota ASEAN
telah mencapai target imunisasi campak yaitu 90%. Negara-negara tersebut adalah
Brunei Darussalam (99%), Thailand (98%), Vietnam (96%), dan Kamboja (93%). Brunei
Darussalam merupakan negara dengan cakupan imunisasi campak tertnggi di ASEAN,
sedangkan yang terendah adalah Laos dengan cakupan imunisasi campak sebesar 72%.
Cakupan imunisasi campak di Indonesia 2012 sebesar 84%. Pada tahun 2011, Singapura
telah mencapai target imunisasi campak, namun untuk tahun 2012 Singapura tdak
melaporkan cakupan imunisasi.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
273
GAMBAR 6.20
CAKUPAN IMUNISASI BCG DAN CAMPAK
DI NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2012
Sumber : WHO Immunization Summary, 2013: A Statistical Reference Containing Data through 2012
Di kawasan SEAR, 5 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi campak 90%. Negara-
negara tersebut adalah Korea Utara (99%), Sri Lanka (99%), Thailand (98%), Maladewa
(98%), dan Bhutan (95%), sedangkan Timor Leste merupakan negara dengan cakupan
imunisasi campak terendah yaitu 73%. Sedangkan Indonesia berada di urutan kedua
terendah bersama dengan Myanmar dengan cakupan imunisasi sebesar 84%.
Pada tahun 2012, 5 dari 10 negara anggota ASEAN telah mencapai target cakupan
imunisasi polio3 sebesar 90%. Cakupan tertnggi dicapai oleh Malaysia (100%), Thailand
(99%), Vietnam (97%), dan Kamboja (95%), sedangkan Singapura tdak ada data.
Cakupan imunisasi polio3 terendah adalah Laos dan Indonesia yaitu sebesar 78%.
Menurut sumber yang sama, 7 dari 11 negara di kawasan SEAR telah mencapai cakupan
imunisasi polio3 sebesar 90%. Cakupan imunisasi polio tertnggi adalah Thailand, Korea
Utara, Maladewa, dan Sri Lanka dengan 99% dan terendah adalah Timor Leste dengan
83%.
Hampir di seluruh negara ASEAN dan SEAR imunisasi hepatts merupakan imunisasi
dasar yang diberikan pada bayi, namun tdak demikian halnya dengan di India, dimana
imunisasi hepatts bukan merupakan imunisasi dasar. Di kawasan ASEAN persentase
bayi yang mendapat imunisasi hepatts paling rendah terjadi di Filipina (70%) dan
Profil Kesehatan Indonesia 2012
274
Indonesia (73%). Sedangkan untuk kawasan SEAR cakupan imunisasi hepatts3 paling
rendah adalah India (70%) dan Indonesia (73%). Cakupan 5 imunisasi dasar di ASEAN
dan SEAR tahun 2012 lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.9.
2. Pengendalian TB Paru
Pengobatan kasus TB merupakan salah satu strategi utama dalam pengendalian TB
karena dapat memutuskan rantai penularan. Pada 1994 WHO meluncurkan strategi
pengendalian TB untuk diimplementasikan secara internasional, disebut DOTS (Direct
Observed Treatment Short-course). Lima elemen strategi DOTS sebagai berikut: (1)
Komitmen polits yang berkesinambungan; (2) Akses terhadap pemeriksaan mikroskopis
dahak yang berkualitas; (3) Kemoterapi standar jangka pendek untuk semua kasus TB
dengan manajemen kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan;
(4) Keteraturan penyediaan obat yang dijamin kualitasnya; (5) Sistem pencatatan dan
pelaporan yang memungkinkan penilaian hasil pada semua pasien dan penilaian kinerja
keseluruhan program.
WHO telah menetapkan target untuk temuan kasus TB Paru melalui strategi DOTS
(Directly Observed Treatment Short-course) sebesar 70% dan angka kesembuhan 85%.
Sementara pencapaian secara global temuan kasus untuk semua bentuk TB Paru pada
tahun 2011 adalah 66% (rentang: 64-69%), meningkat dari 53-59% pada tahun 2005
dan 38-43% di tahun 1995. Sedangkan secara global, tngkat keberhasilan pengobatan
(angka kesembuhan) berada pada tngkat tnggi selama beberapa tahun. Pada tahun
2010 (tahun terakhir dimana data hasil pengobatan tersedia), tngkat pencapaian
keberhasilan pengobatan di antara semua kasus baru didiagnosa adalah 85% dan 87%
di antara pasien dengan BTA positf TB paru. Hal tersebut berart pencapaian indikator
temuan kasus TB paru belum mencapai target dan untuk indikator angka kesembuhan
telah mencapai target.
Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detecton
Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positf yang ditemukan dan diobat
terhadap jumlah pasien baru BTA positf yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.
Angka penemuan penderita tertnggi di dunia di tahun 2011 adalah di wilayah Amerika
(84%, dengan rentang 79-89%), kemudian wilayah Pasifk Barat (81%, dengan rentang
75-89%), dan wilayah Eropa (73%: rentang 69-78%). Sedangkan angka keberhasilan
(success rate) adalah persentase kasus baru BTA positf yang sembuh plus pengobatan
lengkap di antara kasus baru TB paru BTA positf yang diobat.
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
275
Pada tahun 2010 terdapat 7 negara di kawasan ASEAN telah mencapai target penemuan
penderita yang ditetapkan WHO yaitu 70%, termasuk Indonesia dengan angka penemuan
penderita 78%. Tiga negara ASEAN lainnya belum mencapai target penemuan penderita
penyakit paru karena masih berkisar 32 - 64%. Brunei Darussalam merupakan negara
dengan angka penemuan penderita tertnggi (81%) dan Laos merupakan negara dengan
angka penemuan penderita terendah (32%).
Dari 10 negara-negara di kawasan SEAR (Timor Leste tdak ada data), hampir semua
negara di kawasan SEAR sudah mencapai target penemuan penderita Tuberkulosis.
Negara dengan angka cakupan penemuan tertnggi adalah Korea Utara dengan 110%.
Penemuan penderita tuberkulosis terendah terdapat di Bangladesh dengan cakupan
45%.
Pada tahun 2009 terdapat 5 negara di ASEAN dengan angka kesembuhan mencapai
target (85%). Indonesia termasuk salah satu negara yang mencapai target untuk angka
kesembuhan ini, yaitu 91%. Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura termasuk
negara yang belum mencapai target penyembuhan penderita. Angka kesembuhan
tertnggi dicapai Kamboja dengan 94% dan terendah adalah Malaysia dan Singapura
dengan 80%.
GAMBAR 6.21
PENEMUAN PENDERITA TB PARU DI NEGARA
ASEAN & SEAR TAHUN 2011
GAMBAR 6.22
ANGKA KESEMBUHAN TB PARU DI NEGARA
ASEAN & SEAR TAHUN 2010
Sumber: World Health Statistics 2013 Sumber: World Health Statistics 2013
Pada Gambar 6.22 terlihat bahwa 7 negara di kawasan SEAR telah mencapai angka
penyembuhan penderita. Tertnggi dicapai Bangladesh dengan angka kesembuhan
masing-masing 92% dan terendah adalah Thailand dengan angka kesembuhan 85%.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
276
Sementara itu, dari Gambar 6.21 dan 6.22 terlihat bahwa Indonesia telah mencapai
target yang ditetapkan terhadap indikator Success Rate (Angka Kesembuhan), dan telah
mencapai target pada indikator Case Detecton Rate (Angka Penemuan Penderita).
Bahkan untuk angka kesembuhan, Indonesia mencapai angka tertnggi ke-2 di kawasan
SEAR setelah Bangladesh.
3. Air Minum Layak dan Sanitasi
Berdasarkan data World Health Statstcs, pada tahun 2011 di kawasan ASEAN hanya
negara Singapura dan Malaysia yang persentase penduduknya menggunakan air minum
layak mencapai 100% (Brunei Darussalam tdak ada data), penduduk yang menggunakan
air minum layak yang telah mencapai 80% atau lebih sebanyak 7 negara. Kamboja
merupakan negara dengan persentase penduduk yang memiliki akses terhadap air
minum layak paling rendah di ASEAN, yaitu hanya 67%. Sedangkan Indonesia bersama-
sama dengan Myanmar menempat urutan ketga terendah dengan cakupan air minum
layak sebesar 84%.
Pada tahun yang sama, hampir seluruh negara di kawasan SEAR memiliki persentase
penduduk yang menggunakan air minum layak sudah mencapai 80% atau lebih, kecuali
Timor Leste dengan persentase sebesar 69%. Negara dengan persentase tertnggi adalah
Maladewa yaitu 99%.
GAMBAR 6.23
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN AIR MINUM LAYAK
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011
Sumber: World Health Statistics 2013
Sumber: World Health Statistics 2013
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
277
Sumber: WHO, World Health Statistics 2013
Sepert terlihat pada Gambar 6.23, baik di antara negara-negara ASEAN maupun SEAR,
Indonesia menmpat urutan ketga terendah penggunaan air minum layak bersama-
sama dengan Myanmar.
Untuk cakupan penduduk yang menggunakan sarana sanitasi layak di kawasan ASEAN
berkisar 33% sampai 100%. Persentase tertnggi adalah Singapura dan terendah adalah
Kamboja, sedangkan Brunei Darussalam tdak ada data. Hanya tga negara yang memiliki
persentase penduduk menggunakan sarana sanitasi layak yang mencapai 80%, yaitu
Singapura (100%), Malaysia (96%), dan Thailand (93%). Untuk sanitasi layak Indonesia
merupakan negara terendah kedua setelah Kamboja dengan cakupan hanya 59%.
GAMBAR 6.24
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN
SARANA SANITASI LAYAK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEAR TAHUN 2011
Sedangkan untuk kawasan SEAR, tga negara dengan persentase penduduk yang
menggunakan sarana sanitasi layak adalah India (35%), Nepal (38%), dan Timor Leste
(39%). Adapun negara dengan cakupan tertnggi adalah Maladewa sebesar 98%. Jika di
kawasan ASEAN posisi Indonesia ada diperingkat yang rendah, namun jika di bandingkan
dengan negara-negara SEAR posisi Indonesia ada di tengah. Persentase penduduk yang
menggunakan air minum layak dan sarana sanitasi layak di negara ASEAN dan SEAR
tahun 2011 dapat dilihat pada Lampiran 6.4.
Profil Kesehatan Indonesia 2012
278
4. Pelayanan Kesehatan Ibu
Angka Kematan Ibu (AKI) dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perdarahan,
preeklampsia, dan infeksi. Selain itu, penyebab kematan ibu secara tdak langsung
antara lain gangguan pada kehamilan sepert Kurang Energi Protein (KEP), Kurang
Energi Kronis (KEK), dan anemia. Angka kematan dan komplikasi dalam kehamilan
dapat dikurangi dengan pemeriksaan kehamilan/ ntenatal Care (ANC) secara teratur,
yang bermanfaat untuk memonitor kesehatan ibu hamil dan bayinya, sehingga bila
terdapat permasalahan dapat diketahui secepatnya dan diatasi sedini mungkin. Selain
itu, upaya menurunkan AKI juga pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis
Empat Pilar Safe Motherhood dimana 3 diantaranya adalah keluarga berencana,
pelayanan antenatal dan persalinan yang aman.
Kunjungan pemeriksaan kehamilan ibu hamil ke sarana kesehatan minimal 4 kali (K4)
selama kehamilan: 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua dan 2 kali
pada trimester ketga. Menurut World Health Statstcs 2013, untuk periode 2005-2012,
dari 7 anggota ASEAN (Laos, Malaysia, dan Singapura tdak ada data), Brunei Darussalam
merupakan negara dengan persentase pemeriksaan ibu hamil (K4) tertnggi yaitu
sebesar 100%. Sedangkan yang terendah tercatat di Myanmar yaitu sebesar 43%. Untuk
kawasan SEAR cakupan pemeriksaaan ibu hamil (K4) tertnggi dicapai oleh Korea Utara
yaitu sebesar 94%, diikut oleh Sri Lanka (93%), dan yang terendah adalah Bangladesh
sebesar 23 %. Indonesia dengan persentase 82% berada pada peringkat ke-2 tertnggi
dari 10 negara untuk pemeriksaan ibu hamil (K4).
Cakupan pertolongan persalinan di negara ASEAN bervariasi dengan cakupan tertnggi
di Brunei Darussalam dan Singapura masing-masing sebesar 100% dan yang terendah
di Laos dengan cakupan 37%. Indonesia dengan cakupan salinakes 80% berada pada
peringkat ke-5 dari 10 negara. Untuk kawasan SEAR cakupan salinakes tertnggi dicapai
oleh Korea Utara sebesar 100% dan yang terendah di Bangladesh sebesar 26%. Sama
halnya dengan ASEAN, di kawasan SEAR, Indonesia juga menempat peringkat ke-5
tertnggi untuk cakupan salinakes.
Persentase peserta KB aktf pada wanita subur tahun 2012 di negara anggota ASEAN
(Brunei Darussalam dan Malaysia tdak ada data) yang tertnggi dicapai oleh Thailand
dengan cakupan sebesar 80%, untuk all methods dan 77% untuk modern methods dan
yang terendah di Timor Leste sebesar 21% untuk modern methods dan 22% untuk
all methods. Indonesia dengan cakupan peserta KB aktf sebesar 57% untuk modern
methods dan 61% untuk all methods berada pada peringkat ke-4 dari 10 negara ASEAN.
Sedangkan di antara negara- negara SEAR, Indonesia berada pada peringkat ke-6 untuk
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
279
cakupan peserta KB aktf all methods. Untuk negara-negara anggota SEAR cakupan
peserta KB aktf tertnggi dicapai oleh Thailand sebesar 77% dan yang terendah di Timor
Leste sebesar 21%.
D. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Pembiayan kesehatan yang disajikan dalam lampiran 6.11 lebih kepada pembelanjaan
atau pengeluaran kesehatan, baik dari sektor pemerintah maupun swasta. Pengeluaran
pemerintah dalam hal ini mencakup pengeluaran untuk jaminan kesehatan masyarakat
(social secutry expenditure), sedangkan pengeluaran swasta mencakup pengeluaran
pribadi (out-of-pocket expenditure) dan pengeluaran yang berkaitan dengan asuransi,
baik untuk pembayaran premi maupun untuk perawatan kesehatan.
Data yang komprehensif dan konsisten untuk pembiayan kesehatan adalah yang
dihasilkan dari Perhitungan Kesehatan Nasional (Natonal Health Account). NHA merekam
aliran dana mulai dari sumber ke para pengambil keputusan, penyedia pelayanan
kesehatan dan penerima manfaat, namun tdak semua negara mempertahankan atau
memperbaharui NHAnya.
GAMBAR 6.25
PERSENTASE PENGELUARAN KESEHATAN
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2010
Sumber: WHO, World Health Statistics 2013
Profil Kesehatan Indonesia 2012
280
Gambar 6.25 menunjukkan persentase pengeluaran kesehatan yang bersumber dari
pemerintah di Myanmar (12%) adalah terendah di antara negara ASEAN lainnya.
Berbeda dengan Brunei Darussalam yang pengeluaran kesehatannya 85% bersumber
dari pemerintah dan hanya 15% yang bersumber dari swasta. Indonesia berada pada
peringkat kelima terendah bersama dengan Filipina yang hanya 36% pengeluaran
kesehatan bersumber dari pemerintah dan 64% bersumber swasta.
Di antara negara SEAR, Bhutan merupakan negara tertnggi yang pengeluaran
kesehatannya bersumber dari pemerintah yaitu 85%. Sedangkan tga negara dengan
pengeluaran kesehatan bersumber dari pemerintah paling rendah di SEAR adalah
Myanmar (12%), India (28%), dan Indonesia (36%). Semakin besar pengeluaran
kesehatan yang bersumber dari pemerintah dibandingkan dengan yang bersumber dari
swasta, dapat disimpulkan bahwa sistem jaminan kesehatan di negara tersebut sudah
berjalan baik.
Data selengkapnya mengenai pengeluaran kesehatan di negara ASEAN dan SEAR dapat
dilihat pada lampiran 6.11.
E. STATUS GIZI
Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs
adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan
tnggi badan (TB). Variabel BB dan TB disajikan dalam bentuk tga indikator antropometri,
yaitu berat badan per umur (BB/U) atau underweight, tnggi badan per umur (TB/U)
atau stuntng, dan berat badan per tnggi badan (BB/TB) atau wastng. Underweight
mengindikasikan masalah gizi secara umum karena berat badan berkorelasi positf
dengan umur dan tnggi badan; stuntng merupakan masalah gizi yang sifatnya kronis
sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama dan mengindikasikan malnutrisi; dan
wastng merupakan masalah gizi bersifat akut sebagai akibat dari peristwa yang terjadi
dalam waktu yang tdak lama (wabah penyakit, kelaparan).Gambar 6.26 menunjukkan
prevalensi balita menurut status gizi stuntng di 10 negara ASEAN dan 11 negara SEAR.
Tiga angka prevalensi stuntng tertnggi di ASEAN adalah Laos (48%), Kamboja (40%),
dan Indonesia (36%). Sedangkan Brunei Darussalam tdak melaporkan data prevalensi
menurut status gizi. Untuk kawasan SEAR prevalensi stuntng terbanyak terdapat di
Timor Leste (58), diikut Laos dan India (masing-masing 48) serta Nepal (41).
Perbandingan Indonesia dengan negara Anggota Asean dan Sear
281
GAMBAR 6.26
PREVALENSI BALITA STUNTING
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEAR
TAHUN 2007-2011
Sumber: WHO, World Health Statistics 2013

Stuntng seringkali dikaitkan dengan masalah kemiskinan, perilaku hidup sehat dan pola
asuh/makan yang memiliki hubungan erat dengan malnutrisi. Singapura dan Thailand
merupakan negara dengan prevalensi stuntng terendah di ASEAN dan SEAR dan jika
dikaitkan dengan Gross Natonal Income (GNI) per kapita, maka Singapura memiliki
GNI tertnggi di ASEAN dan Thailand memiliki GNI tertnggi di SEAR. Data selengkapnya
mengenai prevalensi balita menurut status gizi di negara ASEAN dan SEAR dapat dilihat
pada lampiran 6.12.
282
Profil Kesehatan Indonesia 2012
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statstk. 2009. Analisis dan Perhitungan Tingkat Kemiskinan 2009. BPS,
Jakarta
________. 2011. Hasil Sensus Penduduk 2010, Data Agregat Per Provinsi. BPS, Jakarta.
________. 2011. Data Strategis BPS. BPS, Jakarta.
________. 2011. Statstk Indonesia 2011. BPS, Jakarta.
________. 2012. Indeks Pembangungan Manusia 2010-2011. BPS, Jakarta.
________. 2012. Statstk Kesejahteraan Rakyat 2011. BPS, Jakarta.
________. 2012. Statstk Indonesia 2012. BPS, Jakarta.
________. 2012. Berita Resmi Statstk, BPS, No. 75/11/Th. XV, 5 November 2012. BPS,
Jakarta.
________. 2012. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia,
November 2012. BPS, Jakarta.
________. 2013. Berita Resmi Statstk, BPS, No. 14/02/Th. XVI, 5 Februari 2013. BPS,
Jakarta.
Badan Pusat Statstk dan Macro Internatonal. 2008. Survei Demograf dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2007. Calverton, Maryland, USA.
Badan Pusat Statstk, BKKBN, Kemenkes RI, Measure DHS. 2012. Survei Demograf dan
Kesehatan Indonesia 2012. Calverton, Maryland, USA.
Bank Dunia, 2000. Rangkuman Pembangunan Berperspektf Gender (Melalui Kesetaraan
Gender dalam hak, sumber daya dan Kebebasan Berpendapat).
Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar. 2011. Data 101 Puskesmas Prioritas Nasional
DTPK Tahun 2007-2010 Edisi 5. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Kementerian Dalam Negeri. 2011. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun
2011 Tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan. Kementerian
Dalam Negeri, Jakarta.
Kementerian Dalam Negeri RI. 2010. Pedoman Pengembangan Puskesmas Mampu
Tatalaksana Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. Kementerian
Kesehatan RI, Jakarta.
___________. 2010. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/
MENKES/SK/IX/2008 Tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
___________. 2008. Riset Kesehatan Dasar 2007, Laporan Nasional 2007. Kementerian
Kesehatan RI, Jakarta.
283
DAFTAR PUSTAKA
___________. 2010. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS Indonesia Tahun
2010. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
___________. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/
MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Kementerian
Kesehatan RI, Jakarta.
___________. 2012. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 736/
MENKES/PER/VI/2010 Tentang Tata Laksana Pengawasan Kualitas Air Minum.
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta
___________. 2011. Pedoman Penyelenggaraan Pelathan Kader Kesehatan Kerja.
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertnggal RI, 2010. Peraturan Presiden
Nomor 5 tahun 2010, Tentang RPJMN 2010 2014. Jakarta.
Pusat Data dan Informasi. 2011. Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan
Kesehatan 2011-2014. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
The United Natons Development Programme. 2013. Human Development Report
2012/2013. UNDP, New York.
The UN-Inter Agency Group for Child Mortality Estmates (IGME), 2011
UNAIDS, WHO. 2012. Global report: UNAIDS report on the global AIDS 2012. UNAIDS,
Geneva
UNICEF. 2013. The State of the Worlds Children 2013. UNICEF, New York.
UNICEF. 2012. The State of the Worlds Children 2012. UNICEF/WHO, New York.
UNICEF.2013. Immunizaton Summary: A Statstcal Reference Containing Data Through
2011 (The 2012 Editon). UNICEF/WHO, New York.
USAID, 2012. World Populaton Data Sheet 2012. Populaton Reference Bureau.
USAID, 2012. The Worlds Youth Data Sheet 2012. Populaton Reference Bureau.
WHO, 2012. Global Tuberculosis Report 2012.
WHO. 2013. World Health Statstcs 2012. WHO Press, Geneva.
WHO. 2013. WHO Vaccine Preventable Disease, Monitoring System 2013. WHO, New
York. (htp://apps.who.int/immunizaton_monitoring/globalsummary/).
htp://hdr.undp.org/en/statstcs/indices/gdi_gem/
www.who.int. 2010. Cumulatve Number of Confrmed Human Cases of Avian Infuenza
A (H5N1) Reported to WHO 13 May 2011 (htp://www.who.int/csr/disease/
avian_infuenza/country/cases_table_2011_05_13/en/index.html) diakses 20
Mei 2013.
www.bps.go.id. 2012. www.bps.go.id /brs_fle/naker_07mei2012.pdf
284
LAMPIRAN
285
LAMPIRAN
Bab 2. Gambaran Umum DAN Perilaku Penduduk
286
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
K
a
b
u
p
a
t
e
n
K
o
t
a
K
a
b
u
p
a
t
e
n

+

K
o
t
a
K
e
c
a
m
a
t
a
n
K
e
l
u
r
a
h
a
n
D
e
s
a
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
1

A
c
e
h

1
8










5










2
3








2
8
6









1
0
8






6
.
3
2
1










2

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
2
5










8










3
3








4
1
4









6
6
2






5
.
0
2
5










3

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
1
2










7










1
9








1
7
6









3
0
3






7
1
1










4

R
i
a
u
1
0










2










1
2








1
5
4









2
0
3






1
.
4
2
6










5

J
a
m
b
i
9










2










1
1








1
2
8









1
5
3






1
.
2
5
3










6

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
1
1










4










1
5








2
2
3









3
7
1






2
.
7
5
5










7

B
e
n
g
k
u
l
u
9










1










1
0








1
2
3









1
4
8






1
.
3
0
0










8

L
a
m
p
u
n
g
1
2










2










1
4








2
0
6









1
7
4






2
.
2
4
9










9

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
6










1










7








4
4









6
1






3
0
0










1
0

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
5










2










7








5
9









1
3
3






2
1
8










1
1

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
1










5










6








4
4









2
6
7






-
1
2

J
a
w
a

B
a
r
a
t
1
7










9










2
6








6
2
5









6
3
6






5
.
2
2
7










1
3

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
2
9










6










3
5








5
7
3









7
6
9






7
.
8
2
0










1
4

D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
4










1










5








7
8









4
6






3
9
2










1
5

J
a
w
a

T
i
m
u
r
2
9










9










3
8








6
6
2









7
8
2






7
.
7
4
1










1
6

B
a
n
t
e
n

4










4










8








1
5
4









2
6
2






1
.
2
7
3










1
7

B
a
l
i
8










1










9








5
7









8
0






6
3
4










1
8

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
8










2










1
0








1
1
6









1
3
6






8
2
6










1
9

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
2
0










1










2
1








2
9
3









3
1
3






2
.
6
1
2










2
0

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
1
2










2










1
4








1
7
5









8
9






1
.
8
6
9










2
1

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
1
3










1










1
4








1
3
1









1
3
0






1
.
3
3
9










2
2

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
1
1










2










1
3








1
5
1









1
4
2






1
.
8
4
2










2
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
1
0










4










1
4








1
4
0









2
1
5






1
.
2
4
5










2
4

S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
1
1










4










1
5








1
5
6









3
2
7






1
.
3
0
7










2
5

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
1
0










1










1
1








1
4
9









1
4
7






1
.
5
9
3










2
6

S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n
2
1










3










2
4








3
0
4









7
6
8






2
.
1
8
7










2
7

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
1
0










2










1
2








2
0
4









3
4
5






1
.
6
2
6










2
8

G
o
r
o
n
t
a
l
o
5










1










6








7
0









7
2






6
2
8










2
9

S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
5










0










5








6
9









6
3






5
0
7










3
0

M
a
l
u
k
u

9










2










1
1








7
7









3
3






8
6
9










3
1

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
7










2










9








1
1
2









1
1
2






9
5
0










3
2

P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
1
0










1










1
1








1
6
0









7
8






1
.
2
9
5










3
3

P
a
p
u
a
2
8










1










2
9








3
8
1









8
8






3
.
9
0
9










3
9
9










9
8










4
9
7








6
.
6
9
4









8
.
2
1
6






6
9
.
2
4
9










S
u
m
b
e
r
:

K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

D
a
l
a
m

N
e
g
e
r
i
K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

:

B
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

P
P

N
o
m
o
r

6
6

T
a
h
u
n

2
0
1
1
I
n
d
o
n
e
s
i
a
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
1
P
E
M
B
A
G
I
A
N

W
I
L
A
Y
A
H

A
D
M
I
N
I
S
T
R
A
S
I

P
E
M
E
R
I
N
T
A
H
A
N

M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
1
2
P
e
m
b
a
g
i
a
n

W
i
l
a
y
a
h

287
N
o
K
e
l
o
m
p
o
k

U
m
u
r
L
a
k
i
-
L
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
L
a
k
i

d
a
n

P
e
r
e
m
p
u
a
n
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
1
0

-

4
1
2
.
0
1
3
.
4
1
6






















1
1
.
3
4
7
.
3
5
3




















2
3
.
3
6
0
.
7
6
9










2
5

-

9
1
2
.
3
3
4
.
8
5
0






















1
1
.
6
1
8
.
5
0
0




















2
3
.
9
5
3
.
3
5
0










3
1
0

-

1
4
1
2
.
0
1
3
.
8
8
3






















1
1
.
3
5
2
.
4
8
0




















2
3
.
3
6
6
.
3
6
3










4
1
5

-

1
9
1
0
.
9
3
2
.
7
8
6






















1
0
.
5
7
2
.
2
9
2




















2
1
.
5
0
5
.
0
7
8










5
2
0

-

2
4
1
0
.
1
8
2
.
4
9
1






















1
0
.
2
9
9
.
7
4
8




















2
0
.
4
8
2
.
2
3
9










6
2
5

-

2
9
1
0
.
9
4
9
.
6
2
1






















1
0
.
9
9
7
.
4
7
5




















2
1
.
9
4
7
.
0
9
6










7
3
0

-

3
4
1
0
.
2
4
7
.
6
5
7






















1
0
.
1
7
6
.
6
6
4




















2
0
.
4
2
4
.
3
2
1










8
3
5

-

3
9
9
.
6
1
7
.
5
6
9






















9
.
4
4
1
.
8
1
8




















1
9
.
0
5
9
.
3
8
7










9
4
0

-

4
4
8
.
5
7
2
.
4
5
8






















8
.
4
4
7
.
7
7
9




















1
7
.
0
2
0
.
2
3
7










1
0
4
5

-

4
9
7
.
2
4
3
.
9
6
4






















7
.
2
1
8
.
3
4
4




















1
4
.
4
6
2
.
3
0
8










1
1
5
0

-

5
4
6
.
0
4
2
.
0
8
0






















5
.
8
6
5
.
8
3
6




















1
1
.
9
0
7
.
9
1
6










1
2
5
5

-

5
9
4
.
5
3
2
.
5
7
8






















4
.
1
6
9
.
3
0
6




















8
.
7
0
1
.
8
8
4










1
3
6
0

-

6
4
3
.
0
1
5
.
0
5
8






















3
.
2
2
5
.
2
1
2




















6
.
2
4
0
.
2
7
0










1
4
6
5

-

6
9
2
.
2
9
1
.
9
1
6






















2
.
5
4
2
.
7
5
4




















4
.
8
3
4
.
6
7
0










1
5
7
0

-

7
4
1
.
5
7
7
.
4
9
6






















1
.
9
8
2
.
6
3
0




















3
.
5
6
0
.
1
2
6










1
6
7
5
+
1
.
6
5
4
.
6
5
2






















2
.
2
9
5
.
1
3
1




















3
.
9
4
9
.
7
8
3










1
2
3
.
2
2
2
.
4
7
5






















1
2
1
.
5
5
3
.
3
2
2




















2
4
4
.
7
7
5
.
7
9
7










S
u
m
b
e
r
:

D
i
o
l
a
h

P
u
s
d
a
t
i
n
,

K
e
m
e
n
k
e
s

R
I

(
d
e
n
g
a
n

b
i
m
b
i
n
g
a
n

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
)

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

h
a
s
i
l

S
P

2
0
1
0
E
S
T
I
M
A
S
I

J
U
M
L
A
H

P
E
N
D
U
D
U
K

I
N
D
O
N
E
S
I
A

M
E
N
U
R
U
T

K
E
L
O
M
P
O
K

U
M
U
R

D
A
N

J
E
N
I
S

K
E
L
A
M
I
N

T
A
H
U
N

2
0
1
2
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
2
J
u
m
l
a
h
288
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
L
a
k
i
-
L
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
L
a
k
i

d
a
n

P
e
r
e
m
p
u
a
n
R
a
s
i
o

J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
1

A
c
e
h
2
.
3
0
6
.
9
8
8



















2
.
3
0
5
.
3
8
5

















4
.
6
1
2
.
3
7
3






1
0
0
,
1












2

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
6
.
6
1
8
.
4
3
9



















6
.
6
3
6
.
2
4
3

















1
3
.
2
5
4
.
6
8
2






9
9
,
7












3

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
2
.
4
6
5
.
5
1
9



















2
.
5
0
6
.
6
4
3

















4
.
9
7
2
.
1
6
2






9
8
,
4












4

R
i
a
u
3
.
0
5
6
.
7
2
9



















2
.
8
7
8
.
7
0
1

















5
.
9
3
5
.
4
3
0






1
0
6
,
2












5

J
a
m
b
i
1
.
6
6
0
.
2
6
5



















1
.
5
8
8
.
7
4
7

















3
.
2
4
9
.
0
1
2






1
0
4
,
5












6

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
3
.
9
2
8
.
9
2
2



















3
.
7
9
1
.
1
2
3

















7
.
7
2
0
.
0
4
5






1
0
3
,
6












7

B
e
n
g
k
u
l
u
9
0
4
.
7
0
5



















8
6
6
.
6
2
5

















1
.
7
7
1
.
3
3
0






1
0
4
,
4












8

L
a
m
p
u
n
g
4
.
0
0
8
.
9
1
7



















3
.
7
8
0
.
7
0
6

















7
.
7
8
9
.
6
2
3






1
0
6
,
0












9

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
6
7
3
.
8
6
4



















6
2
6
.
0
1
9

















1
.
2
9
9
.
8
8
3






1
0
7
,
6












1
0

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
9
4
7
.
5
6
5



















8
9
9
.
9
0
1

















1
.
8
4
7
.
4
6
6






1
0
5
,
3












1
1

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
5
.
0
0
2
.
7
2
6



















4
.
8
6
6
.
9
6
4

















9
.
8
6
9
.
6
9
0






1
0
2
,
8












1
2

J
a
w
a

B
a
r
a
t
2
2
.
7
2
1
.
2
2
2



















2
1
.
9
3
4
.
5
6
4

















4
4
.
6
5
5
.
7
8
6






1
0
3
,
6












1
3

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
1
6
.
1
9
1
.
4
5
5



















1
6
.
3
9
5
.
1
3
3

















3
2
.
5
8
6
.
5
8
8






9
8
,
8












1
4

D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
1
.
7
4
1
.
7
1
6



















1
.
7
8
4
.
1
5
4

















3
.
5
2
5
.
8
7
0






9
7
,
6












1
5

J
a
w
a

T
i
m
u
r
1
8
.
7
6
4
.
0
3
3



















1
9
.
2
4
2
.
3
8
0

















3
8
.
0
0
6
.
4
1
3






9
7
,
5












1
6

B
a
n
t
e
n
5
.
7
3
8
.
4
1
0



















5
.
4
8
0
.
6
7
7

















1
1
.
2
1
9
.
0
8
7






1
0
4
,
7












1
7

B
a
l
i
2
.
0
4
3
.
3
3
4



















2
.
0
1
2
.
0
2
6

















4
.
0
5
5
.
3
6
0






1
0
1
,
6












1
8

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
2
.
2
3
1
.
5
7
5



















2
.
3
6
9
.
4
5
5

















4
.
6
0
1
.
0
3
0






9
4
,
2












1
9

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
2
.
4
2
0
.
1
2
3



















2
.
4
5
4
.
2
1
5

















4
.
8
7
4
.
3
3
8






9
8
,
6












2
0

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
2
.
2
8
4
.
4
5
6



















2
.
1
8
6
.
9
3
8

















4
.
4
7
1
.
3
9
4






1
0
4
,
5












2
1

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
1
.
1
9
3
.
1
0
1



















1
.
0
9
6
.
3
5
0

















2
.
2
8
9
.
4
5
1






1
0
8
,
8












2
2

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
1
.
9
0
6
.
9
1
1



















1
.
8
6
1
.
3
0
2

















3
.
7
6
8
.
2
1
3






1
0
2
,
5












2
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
2
.
0
1
3
.
8
0
4



















1
.
8
1
1
.
0
0
5

















3
.
8
2
4
.
8
0
9






1
1
1
,
2












2
4

S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
1
.
1
8
7
.
4
7
7



















1
.
1
3
9
.
0
3
9

















2
.
3
2
6
.
5
1
6






1
0
4
,
3












2
5

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
1
.
4
0
1
.
4
9
4



















1
.
3
3
4
.
2
4
9

















2
.
7
3
5
.
7
4
3






1
0
5
,
0












2
6

S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n
4
.
0
1
1
.
3
5
8



















4
.
2
0
3
.
4
2
1

















8
.
2
1
4
.
7
7
9






9
5
,
4












2
7

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
1
.
1
6
6
.
6
9
3



















1
.
1
5
7
.
1
5
8

















2
.
3
2
3
.
8
5
1






1
0
0
,
8












2
8

G
o
r
o
n
t
a
l
o
5
4
4
.
1
7
5



















5
4
2
.
3
3
1

















1
.
0
8
6
.
5
0
6






1
0
0
,
3












2
9

S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
6
1
1
.
4
4
3



















6
0
8
.
7
9
1

















1
.
2
2
0
.
2
3
4






1
0
0
,
4












3
0

M
a
l
u
k
u
8
1
7
.
6
1
2



















8
0
1
.
1
7
7

















1
.
6
1
8
.
7
8
9






1
0
2
,
1












3
1

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
5
5
6
.
3
5
8



















5
3
2
.
4
3
6

















1
.
0
8
8
.
7
9
4






1
0
4
,
5












3
2

P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
4
3
1
.
3
3
9



















3
8
5
.
6
4
7

















8
1
6
.
9
8
6






1
1
1
,
8












3
3

P
a
p
u
a
1
.
6
6
9
.
7
4
7



















1
.
4
7
3
.
8
1
7

















3
.
1
4
3
.
5
6
4






1
1
3
,
3












1
2
3
.
2
2
2
.
4
7
5



















1
2
1
.
5
5
3
.
3
2
2

















2
4
4
.
7
7
5
.
7
9
7






1
0
1
,
4












S
u
m
b
e
r
:

D
i
o
l
a
h

P
u
s
d
a
t
i
n
,

K
e
m
e
n
k
e
s

R
I

(
d
e
n
g
a
n

b
i
m
b
i
n
g
a
n

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
)

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

h
a
s
i
l

S
P

2
0
1
0
E
S
T
I
M
A
S
I

J
U
M
L
A
H

P
E
N
D
U
D
U
K

M
E
N
U
R
U
T

J
E
N
I
S

K
E
L
A
M
I
N

D
A
N

R
A
S
I
O

J
E
N
I
S

K
E
L
A
M
I
N

M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
1
2
I
n
d
o
n
e
s
i
a
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
3
289
n
a
u
p
m
e
r
e
P

n
a
d

i
k
a
L
-
i
k
a
L
n
a
u
p
m
e
r
e
P
i
k
a
L
-
i
k
a
L
i
s
n
i
v
o
r
P
o
N
K
e
p
a
d
a
t
a
n

P
e
n
d
u
d
u
k








(
J
i
w
a

p
e
r

K
m
2
)
)
6
(
)
5
(
)
4
(
)
3
(
)
2
(
)
1
(




















8
5
,
9
7




3
7
3
.
2
1
6
.
4















5
8
3
.
5
0
3
.
2

















8
8
9
.
6
0
3
.
2
h
e
c
A

1




















2
6
,
1
8
1




2
8
6
.
4
5
2
.
3
1















3
4
2
.
6
3
6
.
6

















9
3
4
.
8
1
6
.
6
a
r
a
t
U

a
r
e
t
a
m
u
S

2




















5
3
,
8
1
1




2
6
1
.
2
7
9
.
4















3
4
6
.
6
0
5
.
2

















9
1
5
.
5
6
4
.
2
t
a
r
a
B

a
r
e
t
a
m
u
S

3




















0
2
,
8
6




0
3
4
.
5
3
9
.
5















1
0
7
.
8
7
8
.
2

















9
2
7
.
6
5
0
.
3
u
a
i
R

4




















0
9
,
4
6




2
1
0
.
9
4
2
.
3















7
4
7
.
8
8
5
.
1

















5
6
2
.
0
6
6
.
1
i
b
m
a
J

5




















9
2
,
4
8




5
4
0
.
0
2
7
.
7















3
2
1
.
1
9
7
.
3

















2
2
9
.
8
2
9
.
3
n
a
t
a
l
e
S

a
r
e
t
a
m
u
S

6




















3
9
,
8
8




0
3
3
.
1
7
7
.
1















5
2
6
.
6
6
8

















5
0
7
.
4
0
9
u
l
u
k
g
n
e
B

7




















8
9
,
4
2
2




3
2
6
.
9
8
7
.
7















6
0
7
.
0
8
7
.
3

















7
1
9
.
8
0
0
.
4
g
n
u
p
m
a
L

8




















5
1
,
9
7




3
8
8
.
9
9
2
.
1















9
1
0
.
6
2
6

















4
6
8
.
3
7
6
g
n
u
t
i
l
e
B

a
k
g
n
a
B

n
a
u
a
l
u
p
e
K

9




















5
2
,
5
2
2




6
6
4
.
7
4
8
.
1















1
0
9
.
9
9
8

















5
6
5
.
7
4
9
u
a
i
R

n
a
u
a
l
u
p
e
K

0
1
7
7
,
3
6
8
.
4
1



















0
9
6
.
9
6
8
.
9















4
6
9
.
6
6
8
.
4

















6
2
7
.
2
0
0
.
5
a
t
r
a
k
a
J

I
K
D

1
1
6
2
,
2
6
2
.
1




















6
8
7
.
5
5
6
.
4
4















4
6
5
.
4
3
9
.
1
2

















2
2
2
.
1
2
7
.
2
2
t
a
r
a
B

a
w
a
J

2
1




















7
4
,
3
9
9




8
8
5
.
6
8
5
.
2
3















3
3
1
.
5
9
3
.
6
1

















5
5
4
.
1
9
1
.
6
1
h
a
g
n
e
T

a
w
a
J

3
1
4
3
,
5
2
1
.
1




















0
7
8
.
5
2
5
.
3















4
5
1
.
4
8
7
.
1

















6
1
7
.
1
4
7
.
1
a
t
r
a
k
a
y
g
o
Y

I
D

4
1




















2
1
,
5
9
7




3
1
4
.
6
0
0
.
8
3















0
8
3
.
2
4
2
.
9
1

















3
3
0
.
4
6
7
.
8
1
r
u
m
i
T

a
w
a
J

5
1
5
0
,
1
6
1
.
1




















7
8
0
.
9
1
2
.
1
1















7
7
6
.
0
8
4
.
5

















0
1
4
.
8
3
7
.
5
n
e
t
n
a
B

6
1




















1
6
,
1
0
7




0
6
3
.
5
5
0
.
4















6
2
0
.
2
1
0
.
2

















4
3
3
.
3
4
0
.
2
i
l
a
B

7
1




















4
7
,
7
4
2




0
3
0
.
1
0
6
.
4















5
5
4
.
9
6
3
.
2

















5
7
5
.
1
3
2
.
2
t
a
r
a
B

a
r
a
g
g
n
e
T

a
s
u
N

8
1




















5
0
,
0
0
1




8
3
3
.
4
7
8
.
4















5
1
2
.
4
5
4
.
2

















3
2
1
.
0
2
4
.
2
r
u
m
i
T

a
r
a
g
g
n
e
T

a
s
u
N

9
1




















5
3
,
0
3




4
9
3
.
1
7
4
.
4















8
3
9
.
6
8
1
.
2

















6
5
4
.
4
8
2
.
2
t
a
r
a
B

n
a
t
n
a
m
i
l
a
K

0
2




















1
9
,
4
1




1
5
4
.
9
8
2
.
2















0
5
3
.
6
9
0
.
1

















1
0
1
.
3
9
1
.
1
h
a
g
n
e
T

n
a
t
n
a
m
i
l
a
K

1
2




















6
2
,
7
9




3
1
2
.
8
6
7
.
3















2
0
3
.
1
6
8
.
1

















1
1
9
.
6
0
9
.
1
n
a
t
a
l
e
S

n
a
t
n
a
m
i
l
a
K

2
22
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
2
.
0
1
3
.
8
0
4

















1
.
8
1
1
.
0
0
5















3
.
8
2
4
.
8
0
9




1
8
,
7
0







































6
9
,
7
6
1




6
1
5
.
6
2
3
.
2















9
3
0
.
9
3
1
.
1

















7
7
4
.
7
8
1
.
1
a
r
a
t
U

i
s
e
w
a
l
u
S

4
2




















4
2
,
4
4




3
4
7
.
5
3
7
.
2















9
4
2
.
4
3
3
.
1

















4
9
4
.
1
0
4
.
1
h
a
g
n
e
T

i
s
e
w
a
l
u
S

5
2




















4
8
,
5
7
1




9
7
7
.
4
1
2
.
8















1
2
4
.
3
0
2
.
4

















8
5
3
.
1
1
0
.
4
n
a
t
a
l
e
S

i
s
e
w
a
l
u
S

6
2




















5
0
,
1
6




1
5
8
.
3
2
3
.
2















8
5
1
.
7
5
1
.
1

















3
9
6
.
6
6
1
.
1
a
r
a
g
g
n
e
T

i
s
e
w
a
l
u
S

7
2




















2
5
,
6
9




6
0
5
.
6
8
0
.
1















1
3
3
.
2
4
5

















5
7
1
.
4
4
5
o
l
a
t
n
o
r
o
G

8
2




















9
6
,
2
7




4
3
2
.
0
2
2
.
1















1
9
7
.
8
0
6

















3
4
4
.
1
1
6
t
a
r
a
B

i
s
e
w
a
l
u
S

9
2




















1
5
,
4
3




9
8
7
.
8
1
6
.
1















7
7
1
.
1
0
8

















2
1
6
.
7
1
8
u
k
u
l
a
M

0
3




















4
0
,
4
3




4
9
7
.
8
8
0
.
1















6
3
4
.
2
3
5

















8
5
3
.
6
5
5
a
r
a
t
U

u
k
u
l
a
M

1
3




















0
2
,
8




6
8
9
.
6
1
8















7
4
6
.
5
8
3

















9
3
3
.
1
3
4
t
a
r
a
B

a
u
p
a
P

2
3




















5
8
,
9




4
6
5
.
3
4
1
.
3















7
1
8
.
3
7
4
.
1

















7
4
7
.
9
6
6
.
1
a
u
p
a
P

3
3
1
2
3
.
2
2
2
.
4
7
5

















1
2
1
.
5
5
3
.
3
2
2















2
4
4
.
7
7
5
.
7
9
7




1
2
7
,
9
2




















S
u
m
b
e
r
:

P
u
s
d
a
t
i
n
,

K
e
m
e
n
k
e
s

R
I
,

K
e
m
e
n
d
a
g
r
i
,

2
0
1
1

L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
4
E
S
T
I
M
A
S
I

J
U
M
L
A
H

P
E
N
D
U
D
U
K

M
E
N
U
R
U
T

J
E
N
I
S

K
E
L
A
M
I
N

D
A
N

K
E
P
A
D
A
T
A
N

P
E
N
D
U
D
U
K

M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
1
2
I
n
d
o
n
e
s
i
a
290

N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
(
9
)
(
1
0
)
(
1
1
)
(
1
2
)
(
1
3
)
(
1
4
)
(
1
5
)
(
1
6
)
(
1
7
)
1

A
c
e
h
5
1
.
1
0
7
4
8
.
2
5
8
9
9
.
3
6
5
5
0
.
0
9
9
4
7
.
3
0
6
9
7
.
4
0
5
1
5
6
.
2
3
5
1
4
7
.
5
5
9
3
0
3
.
7
9
4
2
0
9
.
8
2
1
1
9
8
.
3
2
1
4
0
8
.
1
4
2
2
5
9
.
9
2
9
2
4
5
.
6
1
8
5
0
5
.
5
4
7
2

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
1
5
4
.
0
1
3
1
4
7
.
6
5
4
3
0
1
.
6
6
7
1
4
7
.
8
9
3
1
4
1
.
7
8
7
2
8
9
.
6
8
0
4
4
8
.
6
7
8
4
2
7
.
4
6
0
8
7
6
.
1
3
8
6
1
0
.
8
2
5
5
7
8
.
1
9
1
1
.
1
8
9
.
0
1
6
7
5
8
.
7
2
2
7
1
9
.
9
7
2
1
.
4
7
8
.
6
9
4
3

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
5
4
.
4
7
9
5
2
.
2
7
5
1
0
6
.
7
5
4
5
2
.
3
1
3
5
0
.
1
9
8
1
0
2
.
5
1
1
1
5
6
.
3
2
0
1
4
8
.
1
8
1
3
0
4
.
5
0
1
2
1
3
.
0
1
5
1
9
9
.
7
2
0
4
1
2
.
7
3
5
2
6
5
.
3
6
2
2
4
9
.
8
8
3
5
1
5
.
2
4
5
4

R
i
a
u
7
0
.
3
9
7
6
6
.
0
6
6
1
3
6
.
4
6
3
6
8
.
3
0
4
6
4
.
1
0
2
1
3
2
.
4
0
6
2
1
1
.
9
7
1
1
9
9
.
7
0
0
4
1
1
.
6
7
1
2
8
7
.
1
8
7
2
7
1
.
3
9
3
5
5
8
.
5
8
0
3
5
5
.
5
0
3
3
3
5
.
4
8
5
6
9
0
.
9
8
8
5

J
a
m
b
i
3
4
.
8
6
1
3
3
.
0
3
6
6
7
.
8
9
7
3
3
.
8
2
5
3
2
.
0
5
4
6
5
.
8
7
9
1
0
3
.
4
5
7
9
8
.
0
6
7
2
0
1
.
5
2
4
1
3
9
.
4
9
0
1
3
2
.
2
2
6
2
7
1
.
7
1
6
1
7
3
.
3
2
2
1
6
4
.
2
7
2
3
3
7
.
5
9
4
6

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
8
2
.
7
9
0
7
8
.
5
1
2
1
6
1
.
3
0
2
7
9
.
5
0
0
7
5
.
3
9
3
1
5
4
.
8
9
3
2
4
3
.
5
0
8
2
3
0
.
7
3
2
4
7
4
.
2
4
0
3
2
8
.
1
1
2
3
1
0
.
1
5
6
6
3
8
.
2
6
8
4
0
7
.
6
1
9
3
8
5
.
5
4
1
7
9
3
.
1
6
0
7

B
e
n
g
k
u
l
u
1
9
.
0
5
5
1
8
.
0
4
3
3
7
.
0
9
8
1
8
.
2
9
7
1
7
.
3
2
7
3
5
.
6
2
4
5
5
.
1
0
1
5
2
.
0
3
9
1
0
7
.
1
4
0
7
4
.
8
9
0
7
0
.
5
5
0
1
4
5
.
4
4
0
9
3
.
1
9
4
8
7
.
8
6
9
1
8
1
.
0
6
3
8

L
a
m
p
u
n
g
8
2
.
9
1
5
7
7
.
4
1
6
1
6
0
.
3
3
1
7
9
.
6
2
0
7
4
.
3
4
0
1
5
3
.
9
6
0
2
3
5
.
8
6
7
2
2
1
.
9
3
2
4
5
7
.
7
9
9
3
0
8
.
9
1
8
2
9
2
.
0
0
8
6
0
0
.
9
2
6
3
8
8
.
5
2
9
3
6
6
.
3
5
2
7
5
4
.
8
8
1
9

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
1
4
.
3
7
0
1
3
.
4
9
3
2
7
.
8
6
3
1
3
.
9
4
2
1
3
.
0
9
2
2
7
.
0
3
4
4
1
.
8
9
4
3
9
.
5
1
4
8
1
.
4
0
8
5
5
.
7
2
9
5
2
.
8
4
3
1
0
8
.
5
7
2
6
9
.
6
7
7
6
5
.
9
2
9
1
3
5
.
6
0
6
1
0

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
2
4
.
0
5
8
2
2
.
2
4
3
4
6
.
3
0
1
2
3
.
3
4
2
2
1
.
5
8
2
4
4
.
9
2
4
7
0
.
1
8
6
6
5
.
3
5
1
1
3
5
.
5
3
7
9
0
.
7
1
3
8
5
.
1
6
2
1
7
5
.
8
7
5
1
1
4
.
0
6
1
1
0
6
.
7
3
8
2
2
0
.
7
9
9
1
1

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
8
6
.
4
9
9
8
6
.
0
7
2
1
7
2
.
5
7
1
8
4
.
7
9
2
8
4
.
3
7
4
1
6
9
.
1
6
6
2
6
2
.
1
1
1
2
5
1
.
4
0
2
5
1
3
.
5
1
3
3
5
3
.
1
9
2
3
2
8
.
5
4
0
6
8
1
.
7
3
2
4
3
7
.
8
8
1
4
1
3
.
0
1
5
8
5
0
.
8
9
6
1
2

J
a
w
a

B
a
r
a
t
4
3
5
.
9
1
8
4
1
3
.
0
4
2
8
4
8
.
9
6
0
4
2
2
.
9
5
6
4
0
0
.
7
6
1
8
2
3
.
7
1
7
1
.
2
8
9
.
5
4
6
1
.
2
2
0
.
6
6
1
2
.
5
1
0
.
2
0
7
1
.
7
7
0
.
8
2
0
1
.
6
7
3
.
7
4
8
3
.
4
4
4
.
5
6
8
2
.
1
9
3
.
7
8
9
2
.
0
7
4
.
4
9
7
4
.
2
6
8
.
2
8
6
1
3

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
2
9
1
.
8
4
4
2
7
0
.
5
1
7
5
6
2
.
3
6
1
2
8
6
.
0
8
6
2
6
5
.
1
8
1
5
5
1
.
2
6
7
8
4
5
.
2
0
9
7
9
2
.
6
6
7
1
.
6
3
7
.
8
7
6
1
.
1
1
5
.
7
1
2
1
.
0
5
6
.
8
9
2
2
.
1
7
2
.
6
0
4
1
.
4
0
1
.
6
8
6
1
.
3
2
2
.
1
7
3
2
.
7
2
3
.
8
5
9
1
4

D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
2
7
.
5
5
6
2
6
.
2
4
0
5
3
.
7
9
6
2
7
.
0
1
2
2
5
.
7
2
3
5
2
.
7
3
5
8
2
.
0
0
0
7
7
.
3
7
4
1
5
9
.
3
7
4
1
0
7
.
7
1
9
1
0
1
.
0
8
7
2
0
8
.
8
0
6
1
3
4
.
7
3
1
1
2
6
.
8
0
9
2
6
1
.
5
4
0
1
5

J
a
w
a

T
i
m
u
r
2
9
5
.
6
8
0
2
8
2
.
9
1
6
5
7
8
.
5
9
6
2
8
9
.
8
4
6
2
7
7
.
3
3
4
5
6
7
.
1
8
0
8
8
8
.
3
9
3
8
4
7
.
0
2
9
1
.
7
3
5
.
4
2
2
1
.
2
2
6
.
0
2
6
1
.
1
6
5
.
1
8
1
2
.
3
9
1
.
2
0
7
1
.
5
1
5
.
8
8
2
1
.
4
4
2
.
5
0
9
2
.
9
5
8
.
3
9
1
1
6

B
a
n
t
e
n
1
1
1
.
7
7
7
1
0
5
.
5
2
0
2
1
7
.
2
9
7
1
0
7
.
3
3
6
1
0
1
.
3
2
7
2
0
8
.
6
6
3
3
3
4
.
0
8
4
3
1
5
.
1
9
5
6
4
9
.
2
7
9
4
6
2
.
1
3
1
4
3
5
.
6
1
6
8
9
7
.
7
4
7
5
6
9
.
4
7
3
5
3
6
.
9
4
0
1
.
1
0
6
.
4
1
3
1
7

B
a
l
i
3
5
.
3
4
4
3
2
.
2
9
6
6
7
.
6
4
0
3
4
.
6
4
6
3
1
.
6
6
0
6
6
.
3
0
6
1
0
7
.
9
7
7
9
9
.
7
1
7
2
0
7
.
6
9
4
1
4
5
.
9
0
2
1
3
6
.
0
6
7
2
8
1
.
9
6
9
1
8
0
.
5
5
1
1
6
7
.
7
2
5
3
4
8
.
2
7
6
1
8

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
5
2
.
6
5
5
4
9
.
4
3
1
1
0
2
.
0
8
6
5
0
.
5
6
3
4
7
.
4
6
7
9
8
.
0
3
0
1
4
7
.
0
3
5
1
3
8
.
7
4
1
2
8
5
.
7
7
6
1
9
8
.
7
4
9
1
8
8
.
4
9
9
3
8
7
.
2
4
8
2
4
9
.
3
1
7
2
3
5
.
9
5
9
4
8
5
.
2
7
6
1
9

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
6
1
.
9
6
7
5
9
.
0
6
3
1
2
1
.
0
3
0
5
9
.
5
0
5
5
6
.
7
1
6
1
1
6
.
2
2
1
1
8
3
.
3
2
4
1
7
4
.
6
5
8
3
5
7
.
9
8
2
2
5
7
.
5
1
1
2
4
4
.
7
9
3
5
0
2
.
3
0
4
3
1
7
.
0
2
5
3
0
1
.
5
0
2
6
1
8
.
5
2
7
2
0

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
4
6
.
5
5
6
4
4
.
0
5
7
9
0
.
6
1
3
4
4
.
7
0
5
4
2
.
3
0
7
8
7
.
0
1
2
1
3
8
.
8
5
5
1
3
1
.
3
6
1
2
7
0
.
2
1
6
1
9
1
.
1
3
8
1
8
1
.
1
0
4
3
7
2
.
2
4
2
2
3
5
.
8
5
0
2
2
3
.
4
0
4
4
5
9
.
2
5
4
2
1

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
2
3
.
0
1
5
2
1
.
7
4
1
4
4
.
7
5
6
2
2
.
5
6
0
2
1
.
3
1
3
4
3
.
8
7
3
7
2
.
0
1
1
6
8
.
0
7
4
1
4
0
.
0
8
5
1
0
1
.
0
9
5
9
5
.
5
7
3
1
9
6
.
6
6
8
1
2
3
.
6
6
4
1
1
6
.
8
7
9
2
4
0
.
5
4
3
2
2

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
4
0
.
1
1
9
3
7
.
7
4
2
7
7
.
8
6
1
3
8
.
5
2
4
3
6
.
2
4
3
7
4
.
7
6
7
1
1
4
.
5
3
0
1
0
7
.
6
1
8
2
2
2
.
1
4
8
1
5
2
.
1
0
4
1
4
2
.
8
2
9
2
9
4
.
9
3
3
1
9
0
.
6
3
6
1
7
9
.
0
6
2
3
6
9
.
6
9
8
2
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
4
3
.
2
9
4
4
0
.
8
2
4
8
4
.
1
1
8
4
2
.
4
4
0
4
0
.
0
1
9
8
2
.
4
5
9
1
3
0
.
4
0
8
1
2
2
.
7
7
0
2
5
3
.
1
7
8
1
7
4
.
2
7
0
1
6
3
.
6
3
6
3
3
7
.
9
0
6
2
1
6
.
7
1
6
2
0
3
.
6
4
8
4
2
0
.
3
6
4
2
4

S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
2
0
.
9
2
6
1
9
.
9
0
4
4
0
.
8
3
0
2
0
.
3
0
3
1
9
.
3
1
3
3
9
.
6
1
6
6
2
.
2
8
4
5
8
.
8
1
2
1
2
1
.
0
9
6
8
6
.
3
3
5
8
0
.
8
0
1
1
6
7
.
1
3
6
1
0
6
.
6
5
2
1
0
0
.
1
0
1
2
0
6
.
7
5
3
2
5

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
2
9
.
6
0
1
2
8
.
1
2
5
5
7
.
7
2
6
2
8
.
4
2
4
2
7
.
0
0
8
5
5
.
4
3
2
8
8
.
9
8
1
8
4
.
2
0
3
1
7
3
.
1
8
4
1
2
5
.
8
2
2
1
1
8
.
7
5
9
2
4
4
.
5
8
1
1
5
4
.
2
5
9
1
4
5
.
7
5
6
3
0
0
.
0
1
5
2
6

S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n
8
3
.
9
8
2
8
0
.
0
3
1
1
6
4
.
0
1
3
8
0
.
6
4
5
7
6
.
8
5
1
1
5
7
.
4
9
6
2
4
4
.
2
2
2
2
3
1
.
2
8
1
4
7
5
.
5
0
3
3
3
4
.
4
8
3
3
1
5
.
2
5
0
6
4
9
.
7
3
3
4
1
5
.
1
6
0
3
9
2
.
0
6
8
8
0
7
.
2
2
8
2
7

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
2
9
.
0
6
2
2
7
.
6
3
2
5
6
.
6
9
4
2
7
.
9
0
7
2
6
.
5
3
4
5
4
.
4
4
1
8
4
.
0
6
5
7
9
.
5
2
6
1
6
3
.
5
9
1
1
1
5
.
5
7
3
1
0
8
.
8
6
7
2
2
4
.
4
4
0
1
4
3
.
4
8
9
1
3
5
.
3
9
2
2
7
8
.
8
8
1
2
8

G
o
r
o
n
t
a
l
o
1
1
.
4
2
7
1
0
.
8
3
4
2
2
.
2
6
1
1
0
.
9
7
3
1
0
.
4
0
4
2
1
.
3
7
7
3
3
.
6
4
8
3
1
.
7
5
3
6
5
.
4
0
1
4
6
.
2
2
9
4
3
.
6
5
2
8
9
.
8
8
1
5
7
.
2
1
1
5
4
.
0
4
7
1
1
1
.
2
5
8
2
9

S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
1
4
.
3
7
5
1
3
.
6
7
6
2
8
.
0
5
1
1
3
.
8
0
4
1
3
.
1
3
4
2
6
.
9
3
8
4
2
.
9
3
6
4
0
.
6
2
0
8
3
.
5
5
6
6
0
.
7
6
1
5
7
.
3
7
1
1
1
8
.
1
3
2
7
4
.
5
7
5
7
0
.
4
9
7
1
4
5
.
0
7
2
3
0

M
a
l
u
k
u
1
9
.
5
5
6
1
8
.
8
1
4
3
8
.
3
7
0
1
8
.
7
7
9
1
8
.
0
6
7
3
6
.
8
4
6
5
8
.
9
7
3
5
6
.
2
5
0
1
1
5
.
2
2
3
8
2
.
7
0
7
7
8
.
0
8
9
1
6
0
.
7
9
6
1
0
1
.
4
9
3
9
6
.
1
5
0
1
9
7
.
6
4
3
3
1

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
1
2
.
7
8
7
1
2
.
3
1
2
2
5
.
0
9
9
1
2
.
2
7
8
1
1
.
8
2
4
2
4
.
1
0
2
3
9
.
2
6
3
3
7
.
6
5
6
7
6
.
9
1
9
5
5
.
9
3
0
5
3
.
4
1
0
1
0
9
.
3
4
0
6
8
.
2
1
4
6
5
.
2
2
9
1
3
3
.
4
4
3
3
2

P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
1
0
.
2
5
1
9
.
6
9
6
1
9
.
9
4
7
9
.
8
4
4
9
.
3
1
1
1
9
.
1
5
5
3
0
.
7
8
1
2
8
.
9
6
3
5
9
.
7
4
4
4
1
.
9
7
1
3
9
.
3
7
5
8
1
.
3
4
6
5
1
.
8
2
0
4
8
.
6
8
1
1
0
0
.
5
0
1
3
3

P
a
p
u
a


2
5
.
8
9
5
2
3
.
5
1
3
4
9
.
4
0
8
2
5
.
1
2
5
2
2
.
8
1
4
4
7
.
9
3
9
9
6
.
4
6
0
8
7
.
0
0
9
1
8
3
.
4
6
9
1
5
7
.
7
9
5
1
4
1
.
2
8
3
2
9
9
.
0
7
8
1
8
2
.
8
8
6
1
6
4
.
1
4
1
3
4
7
.
0
2
7
2
.
3
9
8
.
1
3
1
2
.
2
7
0
.
9
9
4
4
.
6
6
9
.
1
2
5
2
.
3
2
6
.
1
8
8
2
.
2
0
2
.
8
6
6
4
.
5
2
9
.
0
5
4
7
.
1
0
0
.
3
1
3
6
.
7
1
3
.
8
7
5
1
3
.
8
1
4
.
1
8
8
9
.
6
8
2
.
6
7
5
9
.
1
4
0
.
9
9
2
1
8
.
8
2
3
.
6
6
7
1
2
.
0
0
8
.
8
7
8
1
1
.
3
4
3
.
8
4
3
2
3
.
3
5
2
.
7
2
1
S
u
m
b
e
r

:

D
i
o
l
a
h

P
u
s
d
a
t
i
n
,

K
e
m
e
n
k
e
s

R
I


(
d
e
n
g
a
n

b
i
m
b
i
n
g
a
n

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
)

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

h
a
s
i
l

S
P

2
0
1
0
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
5
E
S
T
I
M
A
S
I

J
U
M
L
A
H

L
A
H
I
R

H
I
D
U
P
,

J
U
M
L
A
H

B
A
Y
I

(
0

T
A
H
U
N
)
,

J
U
M
L
A
H

B
A
T
I
T
A

(
0
-
2

T
A
H
U
N
)
,

J
U
M
L
A
H

A
N
A
K

B
A
L
I
T
A

(
1

-

4

T
A
H
U
N
)
,

J
U
M
L
A
H

B
A
L
I
T
A

(
0

-

4

T
A
H
U
N
)

M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
1
2
J
u
m
l
a
h

L
a
h
i
r

H
i
d
u
p
I
n
d
o
n
e
s
i
a
J
u
m
l
a
h

B
a
y
i

(
0

t
a
h
u
n
)
J
u
m
l
a
h

B
a
t
i
t
a

(
0
-
2

t
a
h
u
n
)
J
u
m
l
a
h

A
n
a
k

B
a
l
i
t
a

(
1

-

4

t
a
h
u
n
)
J
u
m
l
a
h

B
a
l
i
t
a

(
0

-

4

t
a
h
u
n
)
291
A
n
g
k
a

B
e
b
a
n
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
T
a
n
g
g
u
n
g
a
n

(
%
)
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
(
9
)
(
1
0
)
(
1
1
)
(
1
2
)
1

A
c
e
h
7
5
7
.
0
5
1
7
1
6
.
9
2
5
1
.
4
7
3
.
9
7
6
1
.
4
7
3
.
9
2
0
1
.
4
8
7
.
5
4
7
2
.
9
6
1
.
4
6
7
7
6
.
0
1
7
1
0
0
.
9
1
3
1
7
6
.
9
3
0



5
5
,
7
5


2

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
2
.
2
6
2
.
7
7
1
2
.
1
3
7
.
8
8
1
4
.
4
0
0
.
6
5
2
4
.
1
3
9
.
0
4
1
4
.
1
9
5
.
8
2
5
8
.
3
3
4
.
8
6
6
2
1
6
.
6
2
7
3
0
2
.
5
3
7
5
1
9
.
1
6
4



5
9
,
0
3


3

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
8
1
6
.
6
2
8
7
6
7
.
9
3
0
1
.
5
8
4
.
5
5
8
1
.
5
3
4
.
5
4
4
1
.
5
6
8
.
8
0
0
3
.
1
0
3
.
3
4
4
1
1
4
.
3
4
7
1
6
9
.
9
1
3
2
8
4
.
2
6
0



6
0
,
2
2


4

R
i
a
u
1
.
0
1
1
.
3
3
1
9
5
3
.
6
4
2
1
.
9
6
4
.
9
7
3
1
.
9
7
1
.
6
6
1
1
.
8
4
6
.
4
7
9
3
.
8
1
8
.
1
4
0
7
3
.
7
3
7
7
8
.
5
8
0
1
5
2
.
3
1
7



5
5
,
4
5


5

J
a
m
b
i
5
0
8
.
9
1
3
4
8
2
.
2
0
2
9
9
1
.
1
1
5
1
.
0
9
5
.
6
1
9
1
.
0
4
6
.
4
6
8
2
.
1
4
2
.
0
8
7
5
5
.
7
3
3
6
0
.
0
7
7
1
1
5
.
8
1
0



5
1
,
6
8


6

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
1
.
1
9
9
.
0
4
1
1
.
1
3
3
.
7
5
7
2
.
3
3
2
.
7
9
8
2
.
5
8
4
.
0
1
6
2
.
4
8
6
.
5
3
3
5
.
0
7
0
.
5
4
9
1
4
5
.
8
6
5
1
7
0
.
8
3
3
3
1
6
.
6
9
8



5
2
,
2
5


7

B
e
n
g
k
u
l
u
2
7
7
.
9
9
9
2
6
2
.
6
2
2
5
4
0
.
6
2
1
5
9
4
.
2
0
7
5
6
7
.
4
7
4
1
.
1
6
1
.
6
8
1
3
2
.
4
9
9
3
6
.
5
2
9
6
9
.
0
2
8



5
2
,
4
8


8

L
a
m
p
u
n
g
1
.
1
7
8
.
1
9
5
1
.
1
1
1
.
4
8
2
2
.
2
8
9
.
6
7
7
2
.
6
4
0
.
5
9
3
2
.
4
7
7
.
7
1
0
5
.
1
1
8
.
3
0
3
1
9
0
.
1
2
9
1
9
1
.
5
1
4
3
8
1
.
6
4
3



5
2
,
1
9


9

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
1
9
6
.
1
2
6
1
8
6
.
5
1
6
3
8
2
.
6
4
2
4
5
6
.
0
3
6
4
1
3
.
3
7
5
8
6
9
.
4
1
1
2
1
.
7
0
2
2
6
.
1
2
8
4
7
.
8
3
0



4
9
,
5
1


1
0

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
2
7
9
.
0
7
0
2
6
2
.
2
8
0
5
4
1
.
3
5
0
6
4
9
.
6
8
9
6
1
8
.
2
9
0
1
.
2
6
7
.
9
7
9
1
8
.
8
0
6
1
9
.
3
3
1
3
8
.
1
3
7



4
5
,
7
0


1
1

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
1
.
2
1
0
.
3
8
9
1
.
1
4
7
.
0
0
1
2
.
3
5
7
.
3
9
0
3
.
6
4
8
.
6
5
6
3
.
5
5
9
.
2
1
2
7
.
2
0
7
.
8
6
8
1
4
3
.
6
8
1
1
6
0
.
7
5
1
3
0
4
.
4
3
2



3
6
,
9
3


1
2

J
a
w
a

B
a
r
a
t
6
.
7
0
2
.
5
3
9
6
.
3
4
4
.
8
5
8
1
3
.
0
4
7
.
3
9
7
1
5
.
0
5
3
.
9
0
4
1
4
.
4
8
1
.
4
0
7
2
9
.
5
3
5
.
3
1
1
9
6
4
.
7
7
9
1
.
1
0
8
.
2
9
9
2
.
0
7
3
.
0
7
8



5
1
,
1
9


1
3

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
4
.
3
9
8
.
6
6
0
4
.
1
6
0
.
3
0
2
8
.
5
5
8
.
9
6
2
1
0
.
7
5
0
.
8
8
9
1
0
.
9
3
1
.
1
5
9
2
1
.
6
8
2
.
0
4
8
1
.
0
4
1
.
9
0
6
1
.
3
0
3
.
6
7
2
2
.
3
4
5
.
5
7
8



5
0
,
2
9


1
4

D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
3
9
7
.
8
4
5
3
7
5
.
5
5
1
7
7
3
.
3
9
6
1
.
1
9
5
.
7
8
4
1
.
2
1
9
.
5
9
4
2
.
4
1
5
.
3
7
8
1
4
8
.
0
8
7
1
8
9
.
0
0
9
3
3
7
.
0
9
6



4
5
,
9
8


1
5

J
a
w
a

T
i
m
u
r
4
.
7
8
5
.
5
2
1
4
.
5
4
4
.
5
7
1
9
.
3
3
0
.
0
9
2
1
2
.
8
3
1
.
5
3
1
1
3
.
1
4
2
.
0
8
1
2
5
.
9
7
3
.
6
1
2
1
.
1
4
6
.
9
8
1
1
.
5
5
5
.
7
2
8
2
.
7
0
2
.
7
0
9



4
6
,
3
3


1
6

B
a
n
t
e
n
1
.
7
2
9
.
3
4
9
1
.
6
2
4
.
4
2
7
3
.
3
5
3
.
7
7
6
3
.
8
6
4
.
2
5
3
3
.
6
8
2
.
6
1
6
7
.
5
4
6
.
8
6
9
1
4
4
.
8
0
8
1
7
3
.
6
3
4
3
1
8
.
4
4
2



4
8
,
6
6


1
7

B
a
l
i
5
4
2
.
2
0
4
5
0
6
.
3
5
2
1
.
0
4
8
.
5
5
6
1
.
3
7
7
.
1
3
8
1
.
3
6
1
.
0
0
2
2
.
7
3
8
.
1
4
0
1
2
3
.
9
9
2
1
4
4
.
6
7
2
2
6
8
.
6
6
4



4
8
,
1
1


1
8

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
7
3
4
.
1
6
0
6
9
7
.
2
8
4
1
.
4
3
1
.
4
4
4
1
.
3
9
9
.
5
0
7
1
.
5
5
8
.
8
8
4
2
.
9
5
8
.
3
9
1
9
7
.
9
0
8
1
1
3
.
2
8
7
2
1
1
.
1
9
5



5
5
,
5
2


1
9

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
9
3
3
.
9
0
6
8
8
2
.
6
4
4
1
.
8
1
6
.
5
5
0
1
.
3
6
9
.
7
4
2
1
.
4
4
4
.
4
8
4
2
.
8
1
4
.
2
2
6
1
1
6
.
4
7
5
1
2
7
.
0
8
7
2
4
3
.
5
6
2



7
3
,
2
0


2
0

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
7
2
9
.
3
5
3
6
9
3
.
1
3
7
1
.
4
2
2
.
4
9
0
1
.
4
7
5
.
4
4
1
1
.
4
1
1
.
9
6
4
2
.
8
8
7
.
4
0
5
7
9
.
6
6
2
8
1
.
8
3
7
1
6
1
.
4
9
9



5
4
,
8
6


2
1

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
3
6
4
.
0
8
0
3
4
3
.
4
6
8
7
0
7
.
5
4
8
7
9
5
.
8
4
0
7
1
8
.
9
7
7
1
.
5
1
4
.
8
1
7
3
3
.
1
8
1
3
3
.
9
0
5
6
7
.
0
8
6



5
1
,
1
4


2
2

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
5
6
5
.
0
5
7
5
3
0
.
7
4
0
1
.
0
9
5
.
7
9
7
1
.
2
8
4
.
1
7
5
1
.
2
5
1
.
4
4
5
2
.
5
3
5
.
6
2
0
5
7
.
6
7
9
7
9
.
1
1
7
1
3
6
.
7
9
6



4
8
,
6
1


2
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
6
0
3
.
0
8
7
5
6
5
.
3
1
0
1
.
1
6
8
.
3
9
7
1
.
3
6
4
.
0
4
0
1
.
2
0
0
.
5
9
1
2
.
5
6
4
.
6
3
1
4
6
.
6
7
7
4
5
.
1
0
4
9
1
.
7
8
1



4
9
,
1
4


2
4

S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
3
3
4
.
8
3
4
3
1
2
.
3
6
2
6
4
7
.
1
9
6
7
9
5
.
4
6
5
7
5
3
.
2
5
7
1
.
5
4
8
.
7
2
2
5
7
.
1
7
8
7
3
.
4
2
0
1
3
0
.
5
9
8



5
0
,
2
2


2
5

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
4
6
7
.
2
3
1
4
4
0
.
5
2
1
9
0
7
.
7
5
2
8
8
5
.
6
9
6
8
4
2
.
8
0
1
1
.
7
2
8
.
4
9
7
4
8
.
5
6
7
5
0
.
9
2
7
9
9
.
4
9
4



5
8
,
2
7


2
6

S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n
1
.
3
0
3
.
8
3
8
1
.
2
3
1
.
1
9
7
2
.
5
3
5
.
0
3
5
2
.
5
1
6
.
1
1
2
2
.
7
0
9
.
7
5
1
5
.
2
2
5
.
8
6
3
1
9
1
.
4
0
8
2
6
2
.
4
7
3
4
5
3
.
8
8
1



5
7
,
1
9


2
7

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
4
1
9
.
0
2
9
3
9
4
.
1
8
2
8
1
3
.
2
1
1
7
0
7
.
2
8
9
7
1
4
.
2
7
1
1
.
4
2
1
.
5
6
0
4
0
.
3
7
5
4
8
.
7
0
5
8
9
.
0
8
0



6
3
,
4
7


2
8

G
o
r
o
n
t
a
l
o
1
7
7
.
9
7
9
1
6
9
.
6
0
5
3
4
7
.
5
8
4
3
4
8
.
9
5
8
3
5
0
.
6
6
9
6
9
9
.
6
2
7
1
7
.
2
3
8
2
2
.
0
5
7
3
9
.
2
9
5



5
5
,
3
0


2
9

S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
2
2
5
.
9
8
0
2
1
3
.
3
2
4
4
3
9
.
3
0
4
3
6
2
.
5
0
2
3
6
8
.
2
9
5
7
3
0
.
7
9
7
2
2
.
9
6
1
2
7
.
1
7
2
5
0
.
1
3
3



6
6
,
9
7


3
0

M
a
l
u
k
u
3
0
2
.
1
4
9
2
8
2
.
4
7
7
5
8
4
.
6
2
6
4
8
4
.
3
3
7
4
8
3
.
9
9
1
9
6
8
.
3
2
8
3
1
.
1
2
6
3
4
.
7
0
9
6
5
.
8
3
5



6
7
,
1
7


3
1

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
1
9
9
.
2
7
4
1
8
7
.
7
5
0
3
8
7
.
0
2
4
3
4
1
.
9
3
9
3
2
8
.
1
5
1
6
7
0
.
0
9
0
1
5
.
1
4
5
1
6
.
5
3
5
3
1
.
6
8
0



6
2
,
4
8


3
2

P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
1
4
4
.
2
4
0
1
3
4
.
3
3
3
2
7
8
.
5
7
3
2
7
9
.
5
8
2
2
4
4
.
9
7
4
5
2
4
.
5
5
6
7
.
5
1
7
6
.
3
4
0
1
3
.
8
5
7



5
5
,
7
5


3
3

P
a
p
u
a


5
9
0
.
5
9
4
5
1
1
.
0
7
6
1
.
1
0
1
.
6
7
0
1
.
0
6
1
.
3
9
2
9
4
9
.
1
6
8
2
.
0
1
0
.
5
6
0
1
7
.
7
6
1
1
3
.
5
7
3
3
1
.
3
3
4



5
6
,
3
5


3
6
.
3
4
8
.
4
2
3
3
4
.
3
0
7
.
7
0
9
7
0
.
6
5
6
.
1
3
2
8
1
.
3
3
3
.
4
9
8
8
0
.
4
1
7
.
2
4
5
1
6
1
.
7
5
0
.
7
4
3
5
.
5
4
0
.
5
5
4
6
.
8
2
8
.
3
6
8
1
2
.
3
6
8
.
9
2
2
5
1
,
3
3


S
u
m
b
e
r
:

D
i
o
l
a
h

P
u
s
d
a
t
i
n
,

K
e
m
e
n
k
e
s

R
I


(
d
e
n
g
a
n

b
i
m
b
i
n
g
a
n

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
)

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

h
a
s
i
l

S
P

2
0
1
0
I
n
d
o
n
e
s
i
a
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

U
s
i
a

M
u
d
a

(
<
1
5

T
a
h
u
n
)
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

U
s
i
a

P
r
o
d
u
k
t
i
f

(
1
5
-
6
4

T
a
h
u
n
)
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
6
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

U
s
i
a

N
o
n

P
r
o
d
u
k
t
i
f

(
6
5
+

T
a
h
u
n
)
E
S
T
I
M
A
S
I

J
U
M
L
A
H

P
E
N
D
U
D
U
K

M
E
N
U
R
U
T

J
E
N
I
S

K
E
L
A
M
I
N
,

K
E
L
O
M
P
O
K

U
M
U
R

T
E
R
T
E
N
T
U
,

A
N
G
K
A

B
E
B
A
N

T
A
N
G
G
U
N
G
A
N

M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
1
2




































































292
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
1

A
c
e
h
1
.
2
8
0
.
9
4
6






1
.
0
2
5
.
8
7
2






1
0
9
.
3
0
2








1
0
4
.
3
3
4





1
0
4
.
3
3
4








2

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
3
.
5
2
9
.
9
9
4






2
.
7
3
9
.
9
4
5






3
3
1
.
8
3
4








3
1
6
.
7
5
1





3
1
6
.
7
5
1








3

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
1
.
2
7
8
.
1
3
3






9
7
9
.
9
1
0






1
1
7
.
4
2
9








1
1
2
.
0
9
1





1
1
2
.
0
9
1








4

R
i
a
u
1
.
6
3
4
.
0
4
1






1
.
3
1
9
.
6
2
4






1
5
0
.
1
1
0








1
4
3
.
2
8
7





1
4
3
.
2
8
7








5

J
a
m
b
i
9
0
2
.
9
2
9






7
1
5
.
4
5
5






7
4
.
6
8
7








7
1
.
2
9
2





7
1
.
2
9
2








6

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
2
.
1
1
9
.
5
6
9






1
.
6
6
7
.
1
4
3






1
7
7
.
4
3
3








1
6
9
.
3
6
8





1
6
9
.
3
6
8








7

B
e
n
g
k
u
l
u
4
8
9
.
6
3
9






3
8
6
.
0
1
7






4
0
.
8
0
8








3
8
.
9
5
3





3
8
.
9
5
3








8

L
a
m
p
u
n
g
2
.
1
0
0
.
2
7
5






1
.
6
2
4
.
1
6
3






1
7
6
.
3
6
4








1
6
8
.
3
4
7





1
6
8
.
3
4
7








9

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
3
5
0
.
2
6
7






2
7
8
.
6
5
2






3
0
.
6
4
9








2
9
.
2
5
6





2
9
.
2
5
6








1
0

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
5
6
0
.
9
4
7






4
7
7
.
0
5
1






5
0
.
9
3
1








4
8
.
6
1
6





4
8
.
6
1
6








1
1

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
3
.
0
7
0
.
7
1
2






2
.
4
3
6
.
3
4
3






1
8
9
.
8
2
8








1
8
1
.
1
9
9





1
8
1
.
1
9
9








1
2

J
a
w
a

B
a
r
a
t
1
2
.
1
8
3
.
3
9
9






9
.
4
2
1
.
2
2
8






9
3
3
.
8
5
6








8
9
1
.
4
0
8





8
9
1
.
4
0
8








1
3

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
8
.
7
5
0
.
3
3
5






6
.
3
7
1
.
9
0
4






6
1
8
.
5
9
8








5
9
0
.
4
8
0





5
9
0
.
4
8
0








1
4

D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
9
6
1
.
4
7
2






6
9
8
.
6
4
7






5
9
.
1
7
6








5
6
.
4
8
6





5
6
.
4
8
6








1
5

J
a
w
a

T
i
m
u
r
1
0
.
5
0
3
.
5
5
9






7
.
6
3
2
.
3
5
6






6
3
6
.
4
5
6








6
0
7
.
5
2
6





6
0
7
.
5
2
6








1
6

B
a
n
t
e
n
3
.
2
4
1
.
7
5
5






2
.
5
9
5
.
0
7
8






2
3
9
.
0
2
7








2
2
8
.
1
6
2





2
2
8
.
1
6
2








1
7

B
a
l
i
1
.
1
0
8
.
9
8
6






8
2
5
.
0
2
7






7
4
.
4
0
4








7
1
.
0
2
2





7
1
.
0
2
2








1
8

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
1
.
3
1
6
.
3
7
8






1
.
0
4
0
.
1
5
2






1
1
2
.
2
9
5








1
0
7
.
1
9
1





1
0
7
.
1
9
1








1
9

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
1
.
2
0
2
.
1
2
6






9
3
0
.
5
5
0






1
3
3
.
1
3
3








1
2
7
.
0
8
2





1
2
7
.
0
8
2








2
0

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
1
.
2
0
1
.
8
3
1






9
4
9
.
8
2
9






9
9
.
6
7
4








9
5
.
1
4
3





9
5
.
1
4
3








2
1

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
6
3
1
.
6
8
5






5
0
7
.
2
3
7






4
9
.
2
3
1








4
6
.
9
9
3





4
6
.
9
9
3








2
2

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
1
.
0
7
1
.
2
8
0






8
3
4
.
3
5
0






8
5
.
6
4
7








8
1
.
7
5
4





8
1
.
7
5
4








2
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
1
.
0
5
7
.
8
8
6






8
3
7
.
5
1
0






9
2
.
5
3
0








8
8
.
3
2
4





8
8
.
3
2
4








2
4

S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
6
0
7
.
4
0
6






4
5
1
.
7
1
2






4
4
.
9
1
3








4
2
.
8
7
2





4
2
.
8
7
2








2
5

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
7
1
9
.
9
7
9






5
6
5
.
6
7
7






6
3
.
4
9
8








6
0
.
6
1
2





6
0
.
6
1
2








2
6

S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n
2
.
2
4
4
.
6
1
3






1
.
7
3
1
.
9
3
6






1
8
0
.
4
1
4








1
7
2
.
2
1
3





1
7
2
.
2
1
3








2
7

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
6
1
4
.
9
0
5






4
9
4
.
5
9
9






6
2
.
3
6
3








5
9
.
5
2
8





5
9
.
5
2
8








2
8

G
o
r
o
n
t
a
l
o
2
9
4
.
8
3
2






2
2
9
.
1
5
1






2
4
.
4
8
7








2
3
.
3
7
4





2
3
.
3
7
4








2
9

S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
3
1
4
.
3
9
0






2
5
1
.
1
5
3






3
0
.
8
5
7








2
9
.
4
5
4





2
9
.
4
5
4








3
0

M
a
l
u
k
u
4
0
9
.
3
7
5






3
2
4
.
4
3
8






4
2
.
2
0
7








4
0
.
2
8
9





4
0
.
2
8
9








3
1

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
2
8
3
.
5
7
8






2
2
9
.
8
2
5






2
7
.
6
0
9








2
6
.
3
5
4





2
6
.
3
5
4








3
2

P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
2
1
7
.
9
7
0






1
7
7
.
4
8
0






2
1
.
9
4
2








2
0
.
9
4
5





2
0
.
9
4
5








3
3

P
a
p
u
a


8
7
8
.
1
5
5






7
2
2
.
0
5
5






5
4
.
3
4
9








5
1
.
8
7
9





5
1
.
8
7
9








6
7
.
1
3
3
.
3
4
7





5
1
.
4
7
2
.
0
6
9





5
.
1
3
6
.
0
4
1








4
.
9
0
2
.
5
8
5





4
.
9
0
2
.
5
8
5








S
u
m
b
e
r
:

D
i
o
l
a
h

P
u
s
d
a
t
i
n
,

K
e
m
e
n
k
e
s

R
I


(
d
e
n
g
a
n

b
i
m
b
i
n
g
a
n

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
)

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

h
a
s
i
l

S
P

2
0
1
0
J
u
m
l
a
h

W
U
S

I
m
u
n
i
s
a
s
i







(
1
5

-

3
9

t
a
h
u
n
)
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
7
I
n
d
o
n
e
s
i
a
J
u
m
l
a
h

I
b
u

H
a
m
i
l
J
u
m
l
a
h

I
b
u

B
e
r
s
a
l
i
n
J
u
m
l
a
h

I
b
u

N
i
f
a
s
E
S
T
I
M
A
S
I

J
U
M
L
A
H

W
A
N
I
T
A

U
S
I
A

S
U
B
U
R

(
1
5

-

4
9

T
A
H
U
N
)
,

W
U
S

I
M
U
N
I
S
A
S
I

(
1
5

-

3
9

T
A
H
U
N
)
,

I
B
U

H
A
M
I
L
,

I
B
U

B
E
R
S
A
L
I
N






















D
A
N

I
B
U

N
I
F
A
S

M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
1
2
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
J
u
m
l
a
h

W
a
n
i
t
a

U
s
i
a

S
u
b
u
r

(
1
5

-
4
9

t
a
h
u
n
)
293
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i
P
e
r
e
m
p
u
a
n
L
a
k
i
-
l
a
k
i

+

P
e
r
e
m
p
u
a
n
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
(
9
)
(
1
0
)
(
1
1
)
1

A
c
e
h
9
6
.
1
8
1
9
1
.
0
4
2
1
8
7
.
2
2
3
4
9
.
7
3
6
4
7
.
0
8
2
9
6
.
8
1
8
3
0
2
.
4
3
2
2
8
6
.
2
7
1
5
8
8
.
7
0
3
2

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
3
0
5
.
8
9
8
2
8
7
.
8
1
4
5
9
3
.
7
1
2
1
5
3
.
1
6
5
1
4
4
.
0
0
2
2
9
7
.
1
6
7
9
0
4
.
3
4
1
8
5
0
.
7
7
2
1
.
7
5
5
.
1
1
3
3

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
1
1
0
.
0
2
7
1
0
2
.
4
7
8
2
1
2
.
5
0
5
5
5
.
2
6
1
5
1
.
5
3
8
1
0
6
.
7
9
9
3
3
2
.
9
1
4
3
1
1
.
8
8
2
6
4
4
.
7
9
6
4

R
i
a
u
1
4
1
.
1
4
8
1
3
3
.
3
5
1
2
7
4
.
4
9
9
6
9
.
1
9
3
6
5
.
2
6
1
1
3
4
.
4
5
4
3
9
3
.
5
8
7
3
7
0
.
8
8
0
7
6
4
.
4
6
7
5

J
a
m
b
i
6
8
.
3
1
6
6
4
.
6
5
9
1
3
2
.
9
7
5
3
4
.
3
9
0
3
2
.
5
2
3
6
6
.
9
1
3
2
0
2
.
7
6
4
1
9
1
.
9
3
2
3
9
4
.
6
9
6
6

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
1
6
1
.
7
7
7
1
5
2
.
0
2
7
3
1
3
.
8
0
4
8
0
.
9
3
2
7
6
.
0
0
2
1
5
6
.
9
3
4
4
7
5
.
6
2
2
4
4
9
.
5
8
4
9
2
5
.
2
0
6
7

B
e
n
g
k
u
l
u
3
7
.
1
5
2
3
4
.
9
0
7
7
2
.
0
5
9
1
8
.
5
4
1
1
7
.
4
3
1
3
5
.
9
7
2
1
1
1
.
4
5
7
1
0
5
.
3
1
3
2
1
6
.
7
7
0
8

L
a
m
p
u
n
g
1
4
9
.
8
7
3
1
4
1
.
0
0
3
2
9
0
.
8
7
6
7
6
.
5
8
8
7
1
.
8
8
4
1
4
8
.
4
7
2
4
7
6
.
6
8
0
4
5
0
.
6
1
7
9
2
7
.
2
9
7
9

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
2
6
.
9
2
2
2
5
.
6
5
7
5
2
.
5
7
9
1
3
.
4
3
9
1
2
.
8
2
1
2
6
.
2
6
0
7
6
.
0
8
6
7
2
.
6
8
5
1
4
8
.
7
7
1
1
0

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
4
0
.
9
0
2
3
8
.
7
1
4
7
9
.
6
1
6
1
9
.
0
7
2
1
8
.
0
3
5
3
7
.
1
0
7
9
8
.
0
0
8
9
2
.
0
8
6
1
9
0
.
0
9
4
1
1

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
1
6
5
.
5
7
9
1
5
3
.
7
8
5
3
1
9
.
3
6
4
8
2
.
8
6
0
7
7
.
7
9
8
1
6
0
.
6
5
8
4
6
7
.
6
2
8
4
3
9
.
5
5
7
9
0
7
.
1
8
5
1
2

J
a
w
a

B
a
r
a
t
8
9
3
.
2
2
9
8
4
2
.
4
4
5
1
.
7
3
5
.
6
7
4
4
5
7
.
7
8
5
4
3
1
.
8
4
8
8
8
9
.
6
3
3
2
.
7
2
6
.
6
0
2
2
.
5
8
1
.
3
8
5
5
.
3
0
7
.
9
8
7
1
3

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
5
5
6
.
9
3
6
5
2
9
.
2
8
7
1
.
0
8
6
.
2
2
3
2
9
0
.
7
0
2
2
7
5
.
6
3
8
5
6
6
.
3
4
0
1
.
8
1
4
.
7
5
0
1
.
7
1
9
.
9
2
4
3
.
5
3
4
.
6
7
4
1
4

D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
5
1
.
3
0
4
4
8
.
4
5
5
9
9
.
7
5
9
2
6
.
1
8
5
2
4
.
8
2
5
5
1
.
0
1
0
1
5
7
.
7
1
4
1
4
8
.
6
8
8
3
0
6
.
4
0
2
1
5

J
a
w
a

T
i
m
u
r
6
1
8
.
1
2
8
5
8
6
.
1
0
2
1
.
2
0
4
.
2
3
0
3
2
2
.
9
3
7
3
0
6
.
0
4
4
6
2
8
.
9
8
1
1
.
9
7
9
.
9
6
5
1
.
8
7
4
.
7
4
3
3
.
8
5
4
.
7
0
8
1
6

B
a
n
t
e
n
2
2
6
.
0
5
7
2
1
2
.
5
7
7
4
3
8
.
6
3
4
1
1
6
.
0
0
5
1
0
8
.
9
0
0
2
2
4
.
9
0
5
7
0
5
.
4
4
1
6
6
0
.
5
7
2
1
.
3
6
6
.
0
1
3
1
7

B
a
l
i
7
2
.
5
3
6
6
8
.
0
6
2
1
4
0
.
5
9
8
3
7
.
2
9
1
3
4
.
9
6
9
7
2
.
2
6
0
2
2
1
.
3
7
0
2
0
7
.
4
5
2
4
2
8
.
8
2
2
1
8

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
9
4
.
1
5
2
8
9
.
5
3
6
1
8
3
.
6
8
8
4
8
.
8
8
4
4
6
.
4
2
2
9
5
.
3
0
6
2
9
6
.
3
4
7
2
8
1
.
2
5
6
5
7
7
.
6
0
3
1
9

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
1
3
5
.
1
5
0
1
2
7
.
5
3
5
2
6
2
.
6
8
5
6
5
.
3
4
9
6
1
.
4
8
2
1
2
6
.
8
3
1
3
7
0
.
8
8
5
3
4
9
.
1
2
0
7
2
0
.
0
0
5
2
0

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
9
9
.
4
5
2
9
4
.
7
0
8
1
9
4
.
1
6
0
5
1
.
1
8
8
4
8
.
8
0
2
9
9
.
9
9
0
3
0
0
.
9
0
1
2
8
6
.
0
6
6
5
8
6
.
9
6
7
2
1

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
5
0
.
3
0
8
4
7
.
4
3
0
9
7
.
7
3
8
2
5
.
6
2
2
2
4
.
1
2
5
4
9
.
7
4
7
1
4
7
.
0
1
0
1
3
8
.
5
4
1
2
8
5
.
5
5
1
2
2

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
7
6
.
2
6
5
7
1
.
6
1
4
1
4
7
.
8
7
9
3
9
.
5
2
0
3
7
.
1
0
4
7
6
.
6
2
4
2
2
8
.
0
0
8
2
1
3
.
9
0
3
4
4
1
.
9
1
1
2
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
8
3
.
5
8
7
7
8
.
0
7
9
1
6
1
.
6
6
6
4
1
.
3
9
5
3
8
.
6
2
9
8
0
.
0
2
4
2
3
3
.
4
8
1
2
1
8
.
5
9
9
4
5
2
.
0
8
0
2
4

S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
4
7
.
8
4
5
4
4
.
2
5
2
9
2
.
0
9
7
2
3
.
8
6
4
2
2
.
0
4
4
4
5
.
9
0
8
1
3
6
.
6
6
8
1
2
7
.
0
9
0
2
6
3
.
7
5
8
2
5

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
6
8
.
0
0
2
6
4
.
1
5
6
1
3
2
.
1
5
8
3
3
.
9
0
2
3
1
.
9
8
1
6
5
.
8
8
3
1
9
1
.
3
0
4
1
7
9
.
9
4
9
3
7
1
.
2
5
3
2
6

S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n
1
7
3
.
3
6
5
1
6
3
.
1
7
6
3
3
6
.
5
4
1
9
0
.
5
2
8
8
5
.
2
5
1
1
7
5
.
7
7
9
5
4
7
.
3
5
9
5
1
5
.
3
8
6
1
.
0
6
2
.
7
4
5
2
7

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
5
8
.
5
0
4
5
4
.
9
4
2
1
1
3
.
4
4
6
2
8
.
8
2
2
2
7
.
0
4
8
5
5
.
8
7
0
1
6
7
.
2
0
5
1
5
6
.
6
4
5
3
2
3
.
8
5
0
2
8

G
o
r
o
n
t
a
l
o
2
5
.
8
0
1
2
4
.
6
3
1
5
0
.
4
3
2
1
2
.
5
2
2
1
2
.
0
0
2
2
4
.
5
2
4
7
2
.
2
3
5
6
8
.
9
8
4
1
4
1
.
2
1
9
2
9

S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
3
1
.
8
7
1
3
0
.
2
0
8
6
2
.
0
7
9
1
6
.
0
5
5
1
5
.
2
2
5
3
1
.
2
8
0
9
2
.
4
3
8
8
6
.
9
7
2
1
7
9
.
4
1
0
3
0

M
a
l
u
k
u
4
2
.
6
4
7
3
9
.
6
6
6
8
2
.
3
1
3
2
1
.
1
4
1
1
9
.
5
8
5
4
0
.
7
2
6
1
2
2
.
0
8
1
1
1
3
.
1
9
1
2
3
5
.
2
7
2
3
1

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
2
8
.
7
7
0
2
7
.
2
4
6
5
6
.
0
1
6
1
3
.
9
0
8
1
3
.
1
0
6
2
7
.
0
1
4
7
8
.
6
5
2
7
3
.
4
2
7
1
5
2
.
0
7
9
3
2

P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
2
0
.
5
5
9
1
9
.
2
8
5
3
9
.
8
4
4
9
.
7
9
1
9
.
1
7
2
1
8
.
9
6
3
5
5
.
8
6
8
5
1
.
7
2
7
1
0
7
.
5
9
5
3
3

P
a
p
u
a


7
9
.
8
5
4
7
0
.
4
2
7
1
5
0
.
2
8
1
4
1
.
2
1
2
3
5
.
9
1
4
7
7
.
1
2
6
2
5
6
.
3
1
0
2
1
7
.
3
4
8
4
7
3
.
6
5
8
4
.
8
3
8
.
0
9
7
4
.
5
5
9
.
2
5
6
9
.
3
9
7
.
3
5
3
2
.
4
6
7
.
7
8
5
2
.
3
2
4
.
4
9
3
4
.
7
9
2
.
2
7
8
1
4
.
7
4
4
.
1
1
3
1
3
.
8
9
2
.
5
4
7
2
8
.
6
3
6
.
6
6
0
S
u
m
b
e
r
:

D
i
o
l
a
h

P
u
s
d
a
t
i
n
,

K
e
m
e
n
k
e
s

R
I


(
d
e
n
g
a
n

b
i
m
b
i
n
g
a
n

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
)

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

h
a
s
i
l

S
P

2
0
1
0
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
8
I
n
d
o
n
e
s
i
a
J
u
m
l
a
h

A
n
a
k

U
s
i
a

K
e
l
a
s

1

S
D
/
S
e
t
i
n
g
k
a
t

(
7

T
a
h
u
n
)
J
u
m
l
a
h

A
n
a
k

U
s
i
a

S
D
/
S
e
t
i
n
g
k
a
t

(
7

-

1
2

T
a
h
u
n
)
E
S
T
I
M
A
S
I

J
U
M
L
A
H

A
N
A
K

P
R
A

S
E
K
O
L
A
H
,

J
U
M
L
A
H

A
N
A
K

U
S
I
A

K
E
L
A
S

1

S
D
/
S
E
T
I
N
G
K
A
T
,

D
A
N

J
U
M
L
A
H

A
N
A
K

U
S
I
A

S
D
/
S
E
T
I
N
G
K
A
T

M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
1
2
J
u
m
l
a
h

A
n
a
k

P
r
a
s
e
k
o
l
a
h

(
5
-
6

t
a
h
u
n
)
294
N
o
I
n
d
i
k
a
t
o
r
2
0
0
7
2
0
0
8
2
0
0
9
2
0
1
0
2
0
1
2
M
a
r
e
t
S
e
p
t
e
m
b
e
r
M
a
r
e
t
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
(
9
)
I
R
a
t
a
-
r
a
t
a

P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

P
e
r

K
a
p
i
t
a
1
P
e
r
s
e
n
t
a
s
e

p
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n

r
u
m
a
h
t
a
n
g
g
a

u
n
t
u
k

m
a
k
a
n
a
n
4
9
,
2
4
5
0
,
1
7
5
0
,
6
2
5
1
,
4
3
4
9
,
4
5
4
8
,
4
6
5
1
,
0
8
2
P
e
r
s
e
n
t
a
s
e

p
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n

r
u
m
a
h
t
a
n
g
g
a

u
n
t
u
k

b
u
k
a
n

m
a
k
a
n
a
n
5
0
,
7
6
4
9
,
8
3
4
9
,
3
8
4
8
,
5
7
5
0
,
5
5
5
1
,
5
4
4
8
,
9
2
I
I
D
i
s
t
r
i
b
u
s
i

P
e
n
d
a
p
a
t
a
n
1
4
0

%

p
e
n
d
u
d
u
k

d
e
n
g
a
n

p
e
n
d
a
p
a
t
a
n

t
e
r
e
n
d
a
h
1
9
,
1
0
1
9
,
5
6
2
1
,
2
2
*
1
8
,
0
5
*
1
6
,
8
5
*
1
7
,
6
7
*
1
6
,
9
8
*
2
4
0

%

p
e
n
d
u
d
u
k

d
e
n
g
a
n

p
e
n
d
a
p
a
t
a
n

m
e
n
e
n
g
a
h
3
6
,
1
1
3
5
,
6
7
3
7
,
5
4
*
3
6
,
4
8
*
3
4
,
7
3
*
3
5
,
8
9
*
3
4
,
4
1
*
3
2
0

%

p
e
n
d
u
d
u
k

d
e
n
g
a
n

p
e
n
d
a
p
a
t
a
n

t
e
r
t
i
n
g
g
i
4
4
,
7
9
4
4
,
7
7
4
1
,
2
4
*
4
5
,
4
7
*
4
8
,
4
2
*
4
6
,
4
5
*
4
8
,
6
1
*
I
I
I
G
i
n
i

I
n
d
e
k
s
0
,
3
6
0
,
3
5
0
,
3
7
*
0
,
3
8
*
0
,
4
1
*
0
,
3
9
*
0
,
4
1
*
I
V
R
a
t
a
-
R
a
t
a

K
o
n
s
u
m
s
i

K
a
l
o
r
i

P
e
r

K
a
p
i
t
a

S
e
h
a
r
i
1
T
a
n
p
a

m
a
k
a
n
a
n

j
a
d
i
1
.
7
6
8
,
8
7
1
.
7
4
8
,
3
2
1
.
6
4
9
,
1
7
1
.
6
5
1
,
7
7
1
.
6
4
7
,
6
7
1
.
5
8
6
,
8
2
1
.
5
8
7
,
0
9
2
D
e
n
g
a
n

m
a
k
a
n
a
n

j
a
d
i
2
.
0
1
4
,
9
1
2
.
0
3
8
,
1
7
1
.
9
2
7
,
6
3
1
.
9
2
5
,
6
1
1
.
9
5
2
,
0
1
1
.
8
5
2
,
8
4
1
.
8
5
2
,
6
4
I
V
R
a
t
a
-
R
a
t
a

K
o
n
s
u
m
s
i

P
r
o
t
e
i
n

P
e
r

K
a
p
i
t
a

S
e
h
a
r
i
1
T
a
n
p
a

m
a
k
a
n
a
n

j
a
d
i
5
0
,
3
3
4
9
,
1
4
4
6
,
2
5
4
6
,
9
9
4
7
,
2
5
4
5
,
4
1
4
5
,
2
1
2
D
e
n
g
a
n

m
a
k
a
n
a
n

j
a
d
i
5
7
,
6
6
5
7
,
4
9
5
4
,
3
5
5
5
,
0
1
5
6
,
2
5
5
3
,
1
2
5
3
,
1
4
K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

:

*

D
i
h
i
t
u
n
g

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

d
a
t
a

i
n
d
i
v
i
d
u

b
u
k
a
n

d
a
t
a

k
e
l
o
m
p
o
k

p
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n

s
e
p
e
r
t
i

p
a
d
a

t
a
h
u
n

s
e
b
e
l
u
m
n
y
a
.
2
0
1
1
S
u
m
b
e
r
:

S
u
r
v
e
i

S
o
s
i
a
l

E
k
o
n
o
m
i

N
a
s
i
o
n
a
l

,

M
o
d
u
l

K
o
n
s
u
m
s
i

1
9
9
9
,

2
0
0
2

d
a
n

2
0
0
5

(
2
0
0
3
,

2
0
0
4

d
a
n

2
0
0
6

h
a
n
y
a

m
e
n
c
a
k
u
p

p
a
n
e
l

1
0
.
0
0
0

r
u
m
a
h
t
a
n
g
g
a
,

s
e
d
a
n
g
k
a
n

2
0
0
7
,

2
0
0
8
,

2
0
0
9
,

d
a
n

2
0
1
0

m
e
n
c
a
k
u
p

p
a
n
e
l

6
8
.
8
0
0

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a
)
,

I
N
D
I
K
A
T
O
R

K
O
N
S
U
M
S
I

T
E
R
P
I
L
I
H

D
I

I
N
D
O
N
E
S
I
A

T
A
H
U
N

2
0
0
7

-

2
0
1
2
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
9














T
a
h
u
n

2
0
1
1
-
2
0
1
2

m
e
r
u
p
a
k
a
n

d
a
t
a

S
u
s
e
n
a
s

T
r
i
w
u
l
a
n

I

d
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

I
I
I

(
M
a
r
e
t

d
a
n

S
e
p
t
e
m
b
e
r

)

d
e
n
g
a
n

s
a
m
p
e
l

7
5
.
0
0
0

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a
.
295
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
2
0
0
8
2
0
0
9
2
0
1
0
2
0
1
1
2
0
1
2
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
1
A
c
e
h
0
,
2
7










0
,
2
9










0
,
3
0










0
,
3
3










0
,
3
2















2
S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
0
,
3
1










0
,
3
2










0
,
3
5










0
,
3
5










0
,
3
3















3
S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
0
,
2
9










0
,
3
0










0
,
3
3










0
,
3
5










0
,
3
6















4
R

i

a

u
0
,
3
1










0
,
3
3










0
,
3
3










0
,
3
6










0
,
4
0















5
J

a

m

b

i
0
,
2
8










0
,
2
7










0
,
3
0










0
,
3
4










0
,
3
4















6
S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
0
,
3
0










0
,
3
1










0
,
3
4










0
,
3
4










0
,
4
0















7
B
e
n
g
k
u
l
u
0
,
3
3










0
,
3
0










0
,
3
7










0
,
3
6










0
,
3
5















8
L
a
m
p
u
n
g
0
,
3
5










0
,
3
5










0
,
3
6










0
,
3
7










0
,
3
6















9
K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
0
,
2
6










0
,
2
9










0
,
3
0










0
,
3
0










0
,
2
9















1
0
K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
0
,
3
0










0
,
2
9










0
,
2
9










0
,
3
2










0
,
3
5















1
1
D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
0
,
3
3










0
,
3
6










0
,
3
6










0
,
4
4










0
,
4
2















1
2
J
a
w
a

B
a
r
a
t
0
,
3
5










0
,
3
6










0
,
3
6










0
,
4
1










0
,
4
1















1
3
J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
0
,
3
1










0
,
3
2










0
,
3
4










0
,
3
8










0
,
3
8















1
4
D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
0
,
3
6










0
,
3
8










0
,
4
1










0
,
4
0










0
,
4
3















1
5
J
a
w
a

T
i
m
u
r
0
,
3
3










0
,
3
3










0
,
3
4










0
,
3
7










0
,
3
6















1
6
B
a
n
t
e
n
0
,
3
4










0
,
3
7










0
,
4
2










0
,
4
0










0
,
3
9















1
7
B

a

l

i
0
,
3
0










0
,
3
1










0
,
3
7










0
,
4
1










0
,
4
3















1
8
N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
0
,
3
3










0
,
3
5










0
,
4
0










0
,
3
6










0
,
3
5















1
9
N
u
s
a

T
e
n
g
a
r
a

T
i
m
u
r
0
,
3
4










0
,
3
6










0
,
3
8










0
,
3
6










0
,
3
6















2
0
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
0
,
3
1










0
,
3
2










0
,
3
7










0
,
4
0










0
,
3
8















2
1
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
a
n
g
a
h
0
,
2
9










0
,
2
9










0
,
3
0










0
,
3
4










0
,
3
3















2
2
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
0
,
3
3










0
,
3
5










0
,
3
7










0
,
3
7










0
,
3
8















2
3
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
0
,
3
4










0
,
3
8










0
,
3
7










0
,
3
8










0
,
3
6















2
4
S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
0
,
2
8










0
,
3
1










0
,
3
7










0
,
3
9










0
,
4
3















2
5
S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
0
,
3
3










0
,
3
4










0
,
3
7










0
,
3
8










0
,
4
0















2
6
S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n
0
,
3
6










0
,
3
9










0
,
4
0










0
,
4
1










0
,
4
1















2
7
S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
0
,
3
3










0
,
3
6










0
,
4
2










0
,
4
1










0
,
4
0















2
8
G
o
r
o
n
t
a
l
o
0
,
3
4










0
,
3
5










0
,
4
3










0
,
4
6










0
,
4
4















2
9
S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
0
,
3
1










0
,
3
0










0
,
3
6










0
,
3
4










0
,
3
1















3
0
M
a
l
u
k
u
0
,
3
1










0
,
3
1










0
,
3
3










0
,
4
1










0
,
3
8















3
1
M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
0
,
3
3










0
,
3
3










0
,
3
4










0
,
3
3










0
,
3
4















3
2
P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
0
,
3
1










0
,
3
5










0
,
3
8










0
,
4
0










0
,
4
3















3
3
P

a

p

u

a
0
,
4
0










0
,
3
8










0
,
4
1










0
,
4
2










0
,
4
4















0
,
3
5










0
,
3
7










0
,
3
8










0
,
4
1










0
,
4
1















S
u
m
b
e
r

:

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
,

2
0
1
2
K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

:

I
n
d
e
k
s

G
i
n
i

a
d
a
l
a
h

s
u
a
t
u

k
o
e
f
i
s
i
e
n

y
a
n
g

m
e
n
u
n
j
u
k
k
a
n

t
i
n
g
k
a
t

k
e
t
i
m
p
a
n
g
a
n

a
t
a
u

k
e
m
e
r
a
t
a
a
n

d
i
s
t
r
i
b
u
s
i

p
e
n
d
a
p
a
t
a
n
,

n
i
l
a
i

k
o
e
f
i
s
i
e
n

a
d
a
l
a
h

0

-

1
I
n
d
o
n
e
s
i
a





















N
i
l
a
i

0

m
e
n
u
n
j
u
k
k
a
n

d
i
s
t
r
i
b
u
s
i

y
a
n
g

s
a
n
g
a
t

m
e
r
a
t
a

d
a
n

n
i
l
a
i

1

m
e
n
u
n
j
u
k
k
a
n

d
i
s
t
r
i
b
u
s
i

y
a
n
g

t
i
m
p
a
n
g
T
a
h
u
n
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
1
0
I
N
D
E
K
S

G
I
N
I

M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
0
8

-

2
0
1
2
296
R
a
t
a
-
r
a
t
a

p
e
r
N
o
K
e
l
o
m
p
o
k

B
a
r
a
n
g
K
u
r
a
n
g

d
a
r
i

1
0
0
.
0
0
0
1
0
0
.
0
0
0

-

1
4
9
.
9
9
9
1
5
0
.
0
0
0

-

1
9
9
.
9
9
9
2
0
0
.
0
0
0

-

2
9
9
.
9
9
9
3
0
0
.
0
0
0

-

4
9
9
.
9
9
9
5
0
0
.
0
0
0

-

7
4
9
.
9
9
9
7
5
0
.
0
0
0

-

9
9
9
.
9
9
9


1
.
0
0
0
.
0
0
0

d
a
n

l
e
b
i
h


K
a
p
i
t
a
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
(
9
)
(
1
0
)
(
1
1
)
A
M
a
k
a
n
a
n


1
P
a
d
i
-
p
a
d
i
a
n
3
0
.
7
2
2
3
4
.
7
3
7
3
9
.
7
1
7
4
3
.
5
3
6
4
5
.
5
7
4
4
6
.
8
1
8
4
6
.
1
0
0
4
2
.
4
7
0
4
4
.
4
2
7
2
U
m
b
i
-
u
m
b
i
a
n
4
.
7
0
8
2
.
8
0
1
2
.
4
2
0
2
.
4
5
3
2
.
7
0
7
3
.
3
1
9
4
.
0
2
0
3
.
8
8
4
3
.
0
0
8
3
I
k
a
n
4
.
3
2
2
6
.
7
4
0
8
.
6
3
3
1
2
.
8
4
9
2
1
.
3
2
9
3
2
.
3
2
7
4
1
.
1
3
2
4
7
.
8
7
8
2
5
.
3
6
9
4
D
a
g
i
n
g
7
6
1
1
.
0
3
9
1
.
4
7
2
3
.
1
4
4
7
.
0
1
7
1
3
.
7
0
4
2
0
.
3
6
6
3
0
.
5
8
1
1
0
.
9
7
2
5
T
e
l
u
r

d
a
n

s
u
s
u
6
6
8
1
.
9
6
5
3
.
9
9
4
6
.
3
9
0
1
1
.
7
0
5
2
0
.
4
5
6
2
9
.
2
4
2
4
5
.
3
4
5
1
7
.
1
0
6
6
S
a
y
u
r
-
s
a
y
u
r
a
n
7
.
7
5
3
1
0
.
0
4
2
1
3
.
4
3
1
1
8
.
1
3
0
2
4
.
1
6
8
3
1
.
0
1
3
3
5
.
2
6
8
3
6
.
1
0
2
2
5
.
5
6
3
7
K
a
c
a
n
g
-
k
a
c
a
n
g
a
n
1
.
0
6
0
2
.
8
9
4
4
.
4
7
8
6
.
1
3
2
7
.
4
1
5
8
.
5
2
4
9
.
3
7
3
9
.
6
4
1
7
.
5
0
0
8
B
u
a
h
-
b
u
a
h
a
n
1
.
4
9
1
1
.
9
3
5
2
.
6
5
3
4
.
2
3
2
8
.
1
3
2
1
5
.
2
6
9
2
2
.
8
9
8
3
5
.
5
6
1
1
2
.
7
5
9
9
M
i
n
y
a
k

d
a
n

l
e
m
a
k
3
.
2
7
0
4
.
2
9
2
5
.
8
2
4
7
.
8
6
9
1
0
.
8
5
2
1
3
.
9
2
5
1
5
.
5
0
2
1
5
.
9
5
9
1
1
.
3
4
2
1
0
B
a
h
a
n

m
i
n
u
m
a
n
3
.
8
6
0
4
.
9
0
7
6
.
6
1
1
8
.
3
3
4
1
0
.
1
8
0
1
2
.
2
6
5
1
3
.
4
2
4
1
4
.
8
7
0
1
0
.
6
8
1
1
1
B
u
m
b
u
-
b
u
m
b
u
a
n
1
.
5
7
5
2
.
1
3
7
2
.
9
5
8
4
.
0
0
7
5
.
6
8
0
7
.
7
9
9
9
.
1
8
7
9
.
7
8
6
6
.
2
6
8
1
2
K
o
n
s
u
m
s
i

l
a
i
n
n
y
a
1
.
2
3
9
1
.
9
7
0
2
.
9
1
7
4
.
0
4
2
5
.
7
7
8
7
.
8
5
4
9
.
1
9
3
1
0
.
3
7
2
6
.
3
8
1
1
3
M
a
k
a
n
a
n

d
a
n

m
i
n
u
m
a
n

j
a
d
i
2
.
1
0
6
9
.
0
5
3
1
5
.
8
7
6
2
7
.
8
3
9
5
3
.
6
3
5
9
3
.
1
6
7
1
3
6
.
9
9
5
2
3
6
.
3
1
3
8
1
.
5
3
6
1
4
T
e
m
b
a
k
a
u

d
a
n

s
i
r
i
h
3
.
6
5
7
6
.
8
5
7
1
0
.
9
2
9
1
6
.
8
5
6
2
8
.
5
0
7
3
9
.
8
7
2
4
7
.
7
2
6
4
8
.
7
6
4
3
0
.
6
4
7
6
7
.
1
9
4
9
1
.
3
6
9
1
2
1
.
9
1
3
1
6
5
.
8
1
3
2
4
2
.
6
7
9
3
4
6
.
3
1
2
4
4
0
.
4
2
8
5
8
7
.
5
2
8
2
9
3
.
5
5
6
B
B
u
k
a
n

M
a
k
a
n
a
n
1
P
e
r
u
m
a
h
a
n
,

b
a
h
a
n

b
a
k
a
r
,

p
e
n
e
r
a
n
g
a
n
,

a
i
r
1
4
.
6
3
8
2
2
.
2
5
7
2
9
.
0
1
7
4
1
.
2
9
3
6
9
.
9
4
6
1
2
1
.
6
4
7
1
8
1
.
7
3
9
3
8
8
.
2
3
6
1
1
8
.
2
1
8
2
A
n
e
k
a

b
a
r
a
n
g

d
a
n

j
a
s
a
4
.
3
3
3
8
.
0
7
7
1
2
.
6
8
4
2
0
.
3
9
9
3
6
.
3
9
3
6
2
.
2
9
3
9
6
.
4
7
7
2
4
9
.
0
8
5
6
6
.
7
5
7
3
B
i
a
y
a

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n
2
.
2
2
6
5
.
0
8
8
6
.
0
9
3
8
.
1
0
4
1
2
.
4
4
6
1
9
.
7
1
4
2
9
.
7
4
7
7
6
.
3
5
1
2
1
.
5
8
0
4
B
i
a
y
a

k
e
s
e
h
a
t
a
n
1
.
0
3
8
1
.
7
0
1
2
.
9
7
3
4
.
6
4
6
8
.
1
3
6
1
4
.
6
2
3
2
4
.
9
9
5
7
7
.
8
3
4
1
8
.
0
7
5
5
P
a
k
a
i
a
n
,

a
l
a
s

k
a
k
i

d
a
n

t
u
t
u
p

k
e
p
a
l
a
9
8
8
1
.
6
7
1
2
.
7
2
4
3
.
9
8
4
6
.
9
6
0
1
2
.
6
1
3
1
9
.
6
5
7
3
8
.
9
6
1
1
1
.
9
8
7
6
B
a
r
a
n
g

y
a
n
g

t
a
h
a
n

l
a
m
a
1
6
1
8
9
9
1
.
2
1
7
2
.
5
1
3
6
.
6
6
6
1
9
.
5
0
8
4
5
.
7
5
9
2
8
2
.
3
1
7
4
4
.
6
5
7
7
P
a
j
a
k

p
e
m
a
k
a
i
a
n

d
a
n

p
r
e
m
i

a
s
u
r
a
n
s
i
3
0
9
6
0
5
1
.
1
6
8
1
.
9
3
1
3
.
5
9
9
7
.
0
6
4
1
2
.
3
1
5
4
7
.
1
9
4
9
.
7
3
1
8
K
e
p
e
r
l
u
a
n

p
e
s
t
a

d
a
n

u
p
a
c
a
r
a
2
1
2
5
4
5
5
8
3
9
4
3
1
.
9
6
8
5
.
0
8
8
1
0
.
3
7
6
5
2
.
5
6
1
9
.
1
0
1
2
3
.
9
0
5
4
0
.
8
4
3
5
6
.
4
5
9
8
3
.
8
1
2
1
4
6
.
1
1
4
2
6
2
.
5
4
9
4
2
1
.
0
6
4
1
.
2
1
2
.
5
4
0
3
0
0
.
1
0
8
J
u
m
l
a
h

T
o
t
a
l
9
1
.
0
9
9
1
3
2
.
2
1
2
1
7
8
.
3
7
3
2
4
9
.
6
2
5
3
8
8
.
7
9
3
6
0
8
.
8
6
2
8
6
1
.
4
9
2
1
.
8
0
0
.
0
6
8
5
9
3
.
6
6
4
S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

I
n
d
o
n
e
s
i
a

2
0
1
2
,

B
P
S
J
u
m
l
a
h

B
u
k
a
n

M
a
k
a
n
a
n
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
1
2
P
E
N
G
E
L
U
A
R
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

P
E
R

K
A
P
I
T
A

S
E
B
U
L
A
N

D
I

D
A
E
R
A
H

P
E
R
K
O
T
A
A
N

D
A
N

P
E
R
D
E
S
A
A
N

M
E
N
U
R
U
T

K
E
L
O
M
P
O
K

B
A
R
A
N
G























D
A
N

G
O
L
O
N
G
A
N

P
E
N
G
E
L
U
A
R
A
N

P
E
R

K
A
P
I
T
A

S
E
B
U
L
A
N

T
A
H
U
N

2
0
1
1
G
o
l
o
n
g
a
n

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n

p
e
r

K
a
p
i
t
a

S
e
b
u
l
a
n

(
R
p
)
J
u
m
l
a
h

M
a
k
a
n
a
n
297
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
1
3
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
2
0
1
0
2
0
1
1
2
0
1
0
2
0
1
1
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
1
A
c
e
h
6
1
,
0
3
5
9
,
4
3
3
8
,
9
7
4
0
,
5
7
2
S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
5
3
,
4
7
5
6
,
0
3
4
6
,
5
3
4
3
,
9
7
3
S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
5
6
,
8
7
5
5
,
9
6
4
3
,
1
3
4
4
,
0
4
4
R

i

a

u
5
2
,
9
5
5
1
,
1
4
4
7
,
0
5
4
8
,
8
6
5
J
a
m
b
i
5
6
,
3
4
5
5
,
2
5
4
3
,
6
6
4
4
,
7
5
6
S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
5
6
,
9
7
5
7
,
8
6
4
3
,
0
3
4
2
,
1
4
7
B
e
n
g
k
u
l
u
5
4
,
5
8
5
5
,
3
7
4
5
,
4
2
4
4
,
6
3
8
L
a
m
p
u
n
g
5
3
,
4
2
5
3
,
3
5
4
6
,
5
8
4
6
,
6
5
9
K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
5
3
,
3
7
5
3
,
1
6
4
6
,
6
3
4
6
,
8
4
1
0
K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
5
3
,
6
8
4
7
,
6
6
4
6
,
3
2
5
2
,
3
4
1
1
D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
3
8
,
9
4
3
3
,
7
6
6
1
,
0
6
6
6
,
2
4
1
2
J
a
w
a

B
a
r
a
t
5
2
,
3
3
4
8
,
8
9
4
7
,
6
7
5
1
,
1
1
1
3
J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
5
1
,
7
9
4
9
,
5
3
4
8
,
2
1
5
0
,
4
7
1
4
D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
4
4
,
0
5
4
4
,
2
1
5
5
,
9
5
5
5
,
7
9
1
5
J
a
w
a

T
i
m
u
r
5
2
,
2
4
5
0
,
5
2
4
7
,
7
6
4
9
,
4
8
1
6
B
a
n
t
e
n
4
6
,
0
9
4
7
,
3
5
5
3
,
9
1
5
2
,
6
5
1
7
B

a

l

i
4
4
,
7
8
4
1
,
5
6
5
5
,
2
2
5
8
,
4
4
1
8
N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
5
2
,
7
5
5
5
,
9
3
4
7
,
2
5
4
4
,
0
7
1
9
N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
5
8
,
9
6
5
7
,
9
6
4
1
,
0
4
4
2
,
0
4
2
0
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
5
6
,
3
5
5
3
,
3
0
4
3
,
6
5
4
6
,
7
0
2
1
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
5
9
,
9
5
5
8
,
4
5
4
0
,
0
5
4
1
,
5
5
2
2
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
5
3
,
0
4
5
3
,
3
7
4
6
,
9
6
4
6
,
6
3
2
3
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
4
7
,
2
1
4
5
,
3
5
5
2
,
7
9
5
4
,
6
5
2
4
S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
5
2
,
6
9
4
9
,
5
6
4
7
,
3
1
5
0
,
4
4
2
5
S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
5
2
,
0
8
5
3
,
2
9
4
7
,
9
2
4
6
,
7
1
2
6
S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n
5
3
,
1
2
5
1
,
4
0
4
6
,
8
8
4
8
,
6
0
2
7
S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
5
2
,
7
0
5
0
,
1
2
4
7
,
3
0
4
9
,
8
8
2
8
G
o
r
o
n
t
a
l
o
5
1
,
5
8
4
9
,
6
1
4
8
,
4
2
5
0
,
3
9
2
9
S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
5
5
,
6
6
5
9
,
0
6
4
4
,
3
4
4
0
,
9
4
3
0
M
a
l
u
k
u
5
7
,
9
8
5
0
,
1
9
4
2
,
0
2
4
9
,
8
1
3
1
M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
5
4
,
5
0
5
3
,
2
0
4
5
,
5
0
4
6
,
8
0
3
2
P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
5
6
,
8
0
4
9
,
0
3
4
3
,
2
0
5
0
,
9
7
3
3
P
a
p
u
a
6
1
,
1
0
5
9
,
4
6
3
8
,
9
0
4
0
,
5
4
5
1
,
4
3
4
9
,
4
4
4
8
,
5
7
5
0
,
5
5
S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

I
n
d
o
n
e
s
i
a

2
0
1
2
,

B
P
S
I
n
d
o
n
e
s
i
a
M
a
k
a
n
a
n
N
o
n

M
a
k
a
n
a
n
P
E
R
S
E
N
T
A
S
E

P
E
N
G
E
L
U
A
R
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

P
E
R

K
A
P
I
T
A

S
E
B
U
L
A
N

D
I

D
A
E
R
A
H

P
E
R
K
O
T
A
A
N

D
A
N

P
E
R
D
E
S
A
A
N

M
E
N
U
R
U
T

K
E
L
O
M
P
O
K

B
A
R
A
N
G

T
A
H
U
N

2
0
1
0

-

2
0
1
1
298
N
o
K
e
l
o
m
p
o
k

B
a
r
a
n
g
P
e
r
k
o
t
a
a
n
P
e
r
d
e
s
a
a
n
P
e
r
k
o
t
a
a
n

+

P
e
r
d
e
s
a
a
n
P
e
r
k
o
t
a
a
n
P
e
r
d
e
s
a
a
n
P
e
r
k
o
t
a
a
n

+

P
e
r
d
e
s
a
a
n
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
A
M
a
k
a
n
a
n


1
P
a
d
i
-
p
a
d
i
a
n
6
,
2
4




1
3
,
0
7




8
,
8
9




5
,
3
5




1
1
,
0
9




7
,
4
8




2
U
m
b
i
-
u
m
b
i
a
n
0
,
3
1




0
,
7
7




0
,
4
9




0
,
3
0




0
,
8
6




0
,
5
1




3
I
k
a
n
3
,
6
6




5
,
4
1




4
,
3
4




3
,
4
7




5
,
6
3




4
,
2
7




4
D
a
g
i
n
g
2
,
1
8




1
,
9
6




2
,
1
0




1
,
8
7




1
,
8
2




1
,
8
5




5
T
e
l
u
r

d
a
n

s
u
s
u
3
,
4
0




2
,
8
8




3
,
2
0




3
,
0
5




2
,
5
9




2
,
8
8




6
S
a
y
u
r
-
s
a
y
u
r
a
n
3
,
0
4




5
,
0
9




3
,
8
4




3
,
3
8




5
,
8
6




4
,
3
1




7
K
a
c
a
n
g
-
k
a
c
a
n
g
a
n
1
,
3
2




1
,
7
7




1
,
4
9




1
,
1
3




1
,
5
0




1
,
2
6




8
B
u
a
h
-
b
u
a
h
a
n
2
,
3
6




2
,
6
9




2
,
4
9




2
,
0
3




2
,
3
5




2
,
1
5




9
M
i
n
y
a
k

d
a
n

l
e
m
a
k
1
,
5
5




2
,
4
9




1
,
9
2




1
,
5
0




2
,
6
1




1
,
9
1




1
0
B
a
h
a
n

m
i
n
u
m
a
n
1
,
7
6




3
,
0
6




2
,
2
6




1
,
3
8




2
,
5
0




1
,
8
0




1
1
B
u
m
b
u
-
b
u
m
b
u
a
n
0
,
9
1




1
,
3
8




1
,
0
9




0
,
8
5




1
,
4
0




1
,
0
6




1
2
K
o
n
s
u
m
s
i

l
a
i
n
n
y
a
1
,
1
5




1
,
5
0




1
,
2
9




0
,
9
6




1
,
2
8




1
,
0
7




1
3
M
a
k
a
n
a
n

j
a
d
i

1
4
,
2
3




1
0
,
5
1




1
2
,
7
9




1
4
,
9
0




1
1
,
7
7




1
3
,
7
3




1
4
T
e
m
b
a
k
a
u

d
a
n

s
i
r
i
h
4
,
3
9




6
,
6
1




5
,
2
5




4
,
2
3




6
,
7
4




5
,
1
6




4
6
,
5
2




5
9
,
1
9




5
1
,
4
3




4
4
,
3
9




5
8
,
0
0




4
9
,
4
5




B
B
u
k
a
n

M
a
k
a
n
a
n
1
P
e
r
u
m
a
h
a
n
,

b
a
h
a
n

b
a
k
a
r
,

p
e
n
e
r
a
n
g
a
n
,

a
i
r
2
3
,
0
0



1
6
,
1
9



2
0
,
3
6



2
2
,
2
3



1
6
,
0
0



1
9
,
9
1



2
A
n
e
k
a

b
a
r
a
n
g

d
a
n

j
a
s
a
1
1
,
6
5



8
,
6
2



1
0
,
4
7



1
2
,
5
5



9
,
0
5



1
1
,
2
4



3
B
i
a
y
a

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n
4
,
3
8



2
,
4
8



3
,
6
4



4
,
2
8



2
,
5
5



3
,
6
4



4
B
i
a
y
a

k
e
s
e
h
a
t
a
n
2
,
7
9



2
,
4
7



2
,
6
7



3
,
2
0



2
,
7
9



3
,
0
4



5
P
a
k
a
i
a
n
,

a
l
a
s

k
a
k
i

d
a
n

t
u
t
u
p

k
e
p
a
l
a
3
,
2
8



3
,
5
5



3
,
3
8



1
,
9
5



2
,
1
3



2
,
0
2



6
B
a
r
a
n
g

y
a
n
g

t
a
h
a
n

l
a
m
a
5
,
1
4



5
,
1
5



5
,
1
4



7
,
8
3



7
,
0
1



7
,
5
2



7
P
a
j
a
k

p
e
m
a
k
a
i
a
n

d
a
n

p
r
e
m
i

a
s
u
r
a
n
s
i
1
,
9
8



0
,
9
3



1
,
5
7



2
,
0
3



0
,
9
7



1
,
6
4



8
K
e
p
e
r
l
u
a
n

p
e
s
t
a

d
a
n

u
p
a
c
a
r
a
1
,
2
6



1
,
4
3



1
,
3
2



1
,
5
5



1
,
5
1



1
,
5
3



5
3
,
4
8



4
0
,
8
1



4
8
,
5
7



5
5
,
6
1



4
2
,
0
0



5
0
,
5
5



1
0
0
,
0
0



1
0
0
,
0
0



1
0
0
,
0
0



1
0
0
,
0
0



1
0
0
,
0
0



1
0
0
,
0
0



S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

I
n
d
o
n
e
s
i
a

2
0
1
2
,

B
P
S
J
u
m
l
a
h

B
u
k
a
n

M
a
k
a
n
a
n
2
0
1
0
T
o
t
a
l
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
1
4
P
E
R
S
E
N
T
A
S
E

P
E
N
G
E
L
U
A
R
A
N

R
A
T
A
-
R
A
T
A

P
E
R

K
A
P
I
T
A

S
E
B
U
L
A
N

M
E
N
U
R
U
T

K
E
L
O
M
P
O
K

B
A
R
A
N
G























I
N
D
O
N
E
S
I
A

T
A
H
U
N

2
0
1
0

-

2
0
1
1
J
u
m
l
a
h

M
a
k
a
n
a
n
2
0
1
1
299
N
o
T
a
h
u
n
K
o
t
a
D
e
s
a
K
o
t
a
D
e
s
a
K
o
t
a

+

D
e
s
a
K
o
t
a
D
e
s
a
K
o
t
a

+

D
e
s
a
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
(
9
)
(
1
0
)
1
1
9
9
6
4
2
.
0
3
2




3
1
.
3
6
6




9
,
4
2








2
4
,
5
9








3
4
,
0
1






1
3
,
3
9






1
9
,
7
8






1
7
,
4
7






2
1
9
9
8
9
6
.
9
5
9




7
2
.
7
8
0




1
7
,
6
0








3
1
,
9
0








4
9
,
5
0






2
1
,
9
2






2
5
,
7
2






2
4
,
2
3






3
1
9
9
9
9
2
.
4
0
9




7
4
.
2
7
2




1
5
,
6
4








3
2
,
3
3








4
7
,
9
7






1
9
,
4
1






2
6
,
0
8






2
3
,
4
3






4
2
0
0
0
9
1
.
6
3
2




7
3
.
6
4
8




1
2
,
3
0








2
6
,
4
0








3
8
,
7
0






1
4
,
6
0






2
2
,
3
8






1
9
,
1
4






5
2
0
0
1
1
0
0
.
0
1
1




8
0
.
3
8
2




8
,
6
0








2
9
,
3
0








3
7
,
9
0






9
,
7
6






2
4
,
8
4






1
8
,
4
1






6
2
0
0
2
1
3
0
.
4
9
9




9
6
.
5
1
2




1
3
,
3
0








2
5
,
1
0








3
8
,
4
0






1
4
,
4
6






2
1
,
1
0






1
8
,
2
0






7
2
0
0
3
1
3
8
.
8
0
3




1
0
5
.
8
8
8




1
2
,
2
0








2
5
,
1
0








3
7
,
3
0






1
3
,
5
7






2
0
,
2
3






1
7
,
4
2






8
2
0
0
4
1
4
3
.
4
5
5




1
0
8
.
7
2
5




1
1
,
4
0








2
4
,
8
0








3
6
,
1
0






1
2
,
1
3






2
0
,
1
1






1
6
,
6
6






9
2
0
0
5
1
5
0
.
7
9
9




1
1
7
.
2
5
9




1
2
,
4
0








2
2
,
7
0








3
5
,
1
0






1
1
,
6
8






1
9
,
9
8






1
5
,
9
7






1
0
2
0
0
6
1
7
4
.
2
9
0




1
3
0
.
5
8
4




1
4
,
4
9








2
4
,
8
1








3
9
,
3
0






1
3
,
4
7






2
1
,
8
1






1
7
,
7
5






1
1
2
0
0
7
1
8
7
.
9
4
2




1
4
6
.
8
3
7




1
3
,
5
6








2
3
,
6
1








3
7
,
1
7






1
2
,
5
2






2
0
,
3
7






1
6
,
5
8






1
2
2
0
0
8
2
0
4
.
8
9
6




1
6
1
.
8
3
1




1
2
,
7
7








2
2
,
1
9








3
4
,
9
6






1
1
,
6
5






1
8
,
9
3






1
5
,
4
2






1
3
2
0
0
9
2
2
2
.
1
2
3




1
7
9
.
8
3
5




1
1
,
9
1








2
0
,
6
2








3
2
,
5
3






1
0
,
7
2






1
7
,
3
5






1
4
,
1
5






1
4
2
0
1
0
2
3
2
.
9
8
9




1
9
2
.
3
5
4




1
1
,
1
0








1
9
,
9
3








3
1
,
0
2






9
,
8
7






1
6
,
5
6






1
3
,
3
3






1
5
2
0
1
1
2
5
3
.
0
1
6




2
1
3
.
3
9
5




1
1
,
0
5








1
8
,
9
7








3
0
,
0
2






9
,
2
3






1
5
,
7
2






1
2
,
4
9






1
6
2
0
1
2

*
2
7
7
.
3
8
2




2
4
0
.
4
4
1




1
0
,
5
1








1
8
,
0
8








2
8
,
5
9






8
,
6
0






1
4
,
7
0






1
1
,
6
6






S
u
m
b
e
r

:

S
u
s
e
n
a
s
,

B
P
S
K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

:

*
)

S
e
p
t
e
m
b
e
r

2
0
1
2
G
A
R
I
S

K
E
M
I
S
K
I
N
A
N
,

J
U
M
L
A
H

P
E
N
D
U
D
U
K

M
I
S
K
I
N
,

D
A
N

P
E
R
S
E
N
T
A
S
E

P
E
N
D
U
D
U
K

M
I
S
K
I
N

T
A
H
U
N

1
9
9
6

-

2
0
1
2
G
a
r
i
s

K
e
m
i
s
k
i
n
a
n

(
R
p
/
B
u
l
a
n
/
K
a
p
i
t
a
)
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

M
i
s
k
i
n

(
d
a
l
a
m

J
u
t
a
a
n
)
P
e
r
s
e
n
t
a
s
e

P
e
n
d
u
d
u
k

M
i
s
k
i
n
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
1
5
300
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
2
0
1
1
2
0
1
2

*
2
0
1
1
2
0
1
2

*
2
0
1
1
2
0
1
2

*
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
1

A
c
e
h

3
3
3
.
3
5
5




3
5
2
.
0
5
6




1
7
6
,
0
0







1
6
5
,
4
0







1
3
,
7
0








1
2
,
4
7








2

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
2
7
1
.
7
1
3




2
9
5
.
0
8
0




6
9
1
,
1
0







6
6
9
,
4
0







1
0
,
7
0








1
0
,
2
8








3

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
2
9
3
.
0
1
8




3
2
1
.
1
2
8




1
4
0
,
5
0







1
2
4
,
3
0







7
,
4
0








6
,
4
5








4

R
i
a
u
3
0
6
.
5
0
4




3
3
3
.
9
3
3




1
4
1
,
9
0







1
5
6
,
4
0







6
,
4
0








6
,
6
8








5

J
a
m
b
i
2
9
4
.
5
2
2




3
2
8
.
5
0
4




1
0
8
,
2
0







1
0
5
,
3
0







1
1
,
2
0








1
0
,
5
3








6

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
2
7
5
.
0
0
6




2
9
6
.
9
3
3




4
0
9
,
1
0







3
6
7
,
6
0







1
5
,
1
0








1
3
,
2
9








7

B
e
n
g
k
u
l
u
2
8
4
.
3
3
7




3
1
8
.
8
8
1




9
5
,
3
0







9
2
,
7
0







1
7
,
7
0








1
6
,
8
9








8

L
a
m
p
u
n
g
2
7
0
.
3
0
3




2
9
7
.
4
2
1




2
4
1
,
9
0







2
3
7
,
9
0







1
2
,
3
0








1
1
,
8
8








9

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
3
2
3
.
3
2
8




3
7
4
.
2
8
4




2
5
,
3
0







2
4
,
0
0







4
,
1
0








3
,
7
3








1
0

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
3
5
0
.
8
2
8




3
7
3
.
7
2
5




1
0
6
,
4
0







1
0
6
,
6
0







7
,
3
0








6
,
7
7








1
1

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
3
5
5
.
4
8
0




3
9
2
.
5
7
1




3
6
3
,
4
0







3
6
6
,
8
0







3
,
7
0








3
,
7
0








1
2

J
a
w
a

B
a
r
a
t
2
2
8
.
4
0
1




2
4
9
.
1
7
0




2
.
6
5
4
,
7
0







2
.
5
6
0
,
0
0







9
,
3
0








8
,
7
1








1
3

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
2
2
2
.
4
3
0




2
4
5
.
8
1
7




2
.
0
9
2
,
5
0







1
.
9
4
6
,
5
0







1
4
,
1
0








1
3
,
1
1








1
4

D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
2
6
5
.
7
5
2




2
8
4
.
5
4
9




3
0
4
,
3
0







3
0
6
,
5
0







1
3
,
2
0








1
3
,
1
0








1
5

J
a
w
a

T
i
m
u
r
2
3
4
.
5
4
6




2
5
3
.
9
4
7




1
.
7
6
8
,
2
0







1
.
6
0
6
,
0
0







9
,
9
0








8
,
9
0








1
6

B
a
n
t
e
n
2
3
6
.
6
7
2




2
6
2
.
3
7
1




3
3
5
,
5
0







3
3
3
,
5
0







4
,
6
0








4
,
4
1








1
7

B
a
l
i
2
4
8
.
4
3
1




2
7
0
.
0
2
0




9
3
,
0
0







9
3
,
2
0







3
,
9
0








3
,
8
1








1
8

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
2
4
4
.
9
6
0




2
7
4
.
8
7
9




4
4
8
,
1
0







4
1
5
,
4
0







2
3
,
7
0








2
1
,
6
5








1
9

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
2
6
7
.
6
6
9




2
9
3
.
9
0
6




1
1
7
,
0
0







1
1
7
,
4
0







1
2
,
5
0








1
2
,
2
1








2
0

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
2
2
5
.
2
4
5




2
5
4
.
9
7
2




8
4
,
5
0







7
4
,
2
0







6
,
3
0








5
,
4
9








2
1

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
2
4
4
.
3
1
2




2
7
4
.
2
2
2




2
9
,
4
0







3
2
,
3
0







3
,
9
0








4
,
2
1








2
2

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
2
5
6
.
8
5
0




2
8
6
.
8
4
4




5
9
,
5
0







5
6
,
5
0







3
,
8
0








3
,
5
6








2
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
3
3
9
.
3
9
2




3
8
4
.
4
1
3




9
2
,
1
0







9
1
,
5
0







4
,
1
0








3
,
8
2








2
4

S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
2
2
0
.
8
0
5




2
3
1
.
7
9
4




7
7
,
3
0







6
6
,
8
0







7
,
5
0








6
,
3
6








2
5

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
2
6
3
.
3
2
6




2
9
2
.
5
7
8




6
1
,
9
0







6
0
,
2
0







9
,
5
0








9
,
0
2








2
6

S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n
2
0
0
.
7
8
1




2
1
5
.
7
9
0




1
3
7
,
0
0







1
3
3
,
6
0







4
,
6
0








4
,
4
4








2
7

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
1
9
4
.
2
3
4




2
1
5
.
0
5
0




2
9
,
8
0







2
9
,
6
0







4
,
8
0








4
,
6
2








2
8

G
o
r
o
n
t
a
l
o
1
9
4
.
1
6
1




2
1
7
.
0
7
3




1
9
,
3
0







1
7
,
8
0







5
,
4
0








4
,
8
0








2
9

S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
1
9
6
.
2
6
1




2
1
2
.
5
7
9




2
9
,
7
0







2
9
,
1
0







1
0
,
8
0








1
0
,
0
3








3
0

M
a
l
u
k
u
2
6
5
.
4
7
5




3
1
4
.
8
5
5




5
9
,
6
0







5
1
,
1
0







1
0
,
2
0








8
,
3
9








3
1

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
2
5
1
.
4
2
9




2
7
6
.
1
1
7




8
,
1
0







8
,
7
0







2
,
8
0








2
,
9
2








3
2

P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
3
4
2
.
7
0
9




3
7
4
.
3
8
2




1
0
,
8
0







1
3
,
3
0







6
,
0
0








5
,
3
6








3
3

P
a
p
u
a
3
1
4
.
6
0
6




3
4
4
.
4
1
5




3
5
,
3
0







4
8
,
1
0







4
,
6
0








5
,
8
1








2
5
3
.
0
1
6




2
7
7
.
3
8
2




1
1
.
0
4
6
,
8
0







1
0
.
5
0
7
,
8
0







9
,
2
0








8
,
6
0








K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

:

*
)

S
e
p
t
e
m
b
e
r

2
0
1
2
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
1
6
I
n
d
o
n
e
s
i
a
S
u
m
b
e
r

:

S
u
s
e
n
a
s

,

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
G
A
R
I
S

K
E
M
I
S
K
I
N
A
N
,

J
U
M
L
A
H
,

D
A
N

P
E
R
S
E
N
T
A
S
E

P
E
N
D
U
D
U
K

M
I
S
K
I
N

D
I

D
A
E
R
A
H

P
E
R
K
O
T
A
A
N


M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
1
1
-
2
0
1
2
G
a
r
i
s

K
e
m
i
s
k
i
n
a
n






















(
R
p
/
K
a
p
i
t
a
/
B
u
l
a
n
)
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

M
i
s
k
i
n

















(
d
a
l
a
m

R
i
b
u
a
n
)
P
e
r
s
e
n
t
a
s
e

P
e
n
d
u
d
u
k

M
i
s
k
i
n
301
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
2
0
1
1
2
0
1
2

*
2
0
1
1
2
0
1
2

*
2
0
1
1
2
0
1
2

*
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
1

A
c
e
h
2
9
2
.
0
8
5
3
1
0
.
0
8
9
7
1
8
,
8
0










7
1
1
,
1
0










2
1
,
9
0











2
0
,
9
7











2

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
2
2
2
.
2
2
6
2
4
9
.
1
6
5
7
9
0
,
2
0










7
0
9
,
1
0










1
1
,
9
0











1
0
,
5
3











3

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
2
4
1
.
9
2
4
2
7
3
.
6
5
5
3
0
1
,
6
0










2
7
3
,
6
0










1
0
,
1
0











8
,
9
9











4

R
i
a
u
2
6
7
.
0
0
7
2
9
5
.
5
8
2
3
4
0
,
1
0










3
2
4
,
9
0










9
,
8
0











8
,
9
4











5

J
a
m
b
i
2
1
9
.
1
4
4
2
4
8
.
8
1
2
1
6
4
,
5
0










1
6
4
,
7
0










7
,
5
0











7
,
2
9











6

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
2
1
4
.
7
2
7
2
3
8
.
9
0
1
6
6
5
,
7
0










6
7
4
,
4
0










1
3
,
7
0











1
3
,
5
8











7

B
e
n
g
k
u
l
u
2
3
5
.
9
8
3
2
6
7
.
2
7
3
2
0
8
,
3
0










2
1
7
,
8
0










1
7
,
4
0











1
7
,
8
0











8

L
a
m
p
u
n
g
2
2
1
.
5
4
3
2
5
1
.
2
0
2
1
.
0
5
6
,
8
0










9
8
1
,
1
0










1
8
,
5
0











1
6
,
9
6











9

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
3
2
3
.
9
3
8
3
9
0
.
2
9
4
4
6
,
7
0










4
6
,
2
0










7
,
4
0











6
,
9
6











1
0

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
2
9
1
.
6
9
3
3
1
6
.
9
6
3
2
3
,
2
0










2
4
,
6
0










7
,
6
0











7
,
0
8











1
1

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
-
-
-
-
-
-
1
2

J
a
w
a

B
a
r
a
t
2
0
4
.
1
9
9
2
2
8
.
5
7
7
1
.
9
9
3
,
9
0










1
.
8
6
1
,
5
0










1
3
,
3
0











1
2
,
1
3











1
3

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
1
9
8
.
8
1
4
2
2
3
.
6
2
2
3
.
0
1
4
,
8
0










2
.
9
1
6
,
9
0










1
7
,
1
0











1
6
,
5
5











1
4

D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
2
1
7
.
9
2
3
2
4
1
.
9
7
5
2
5
6
,
5
0










2
5
5
,
6
0










2
1
,
8
0











2
1
,
2
9











1
5

J
a
w
a

T
i
m
u
r
2
0
6
.
2
7
5
2
3
4
.
5
5
6
3
.
5
8
8
,
0
0










3
.
3
5
4
,
6
0










1
8
,
2
0











1
6
,
8
8











1
6

B
a
n
t
e
n
2
0
6
.
6
3
9
2
2
8
.
7
9
4
3
5
5
,
0
0










3
1
4
,
8
0










9
,
7
0











8
,
3
1











1
7

B
a
l
i
2
1
0
.
1
4
7
2
3
0
.
3
8
9
7
3
,
3
0










6
7
,
7
0










4
,
6
0











4
,
1
7











1
8

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
1
9
4
.
5
1
8
2
3
0
.
0
5
4
4
4
6
,
6
0










4
1
2
,
9
0










1
6
,
9
0











1
5
,
4
1











1
9

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
1
8
1
.
6
7
9
2
0
5
.
0
8
3
8
9
5
,
9
0










8
8
2
,
9
0










2
3
,
4
0











2
2
,
4
1











2
0

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
1
9
8
.
8
8
6
2
3
2
.
3
0
3
2
9
5
,
6
0










2
8
1
,
5
0










9
,
6
0











9
,
0
4











2
1

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
2
4
0
.
1
2
1
2
7
9
.
0
0
8
1
1
7
,
5
0










1
0
9
,
6
0










7
,
9
0











7
,
1
9











2
2

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
2
2
5
.
2
3
5
2
5
7
.
2
8
2
1
3
5
,
2
0










1
3
2
,
7
0










6
,
3
0











6
,
0
7











2
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
2
7
9
.
9
2
0
3
3
0
.
3
2
9
1
5
5
,
8
0










1
5
4
,
6
0










1
1
,
2
0











1
0
,
5
6











2
4

S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
2
0
6
.
2
4
1
2
1
7
.
3
5
5
1
1
7
,
6
0










1
1
0
,
7
0










9
,
4
0











8
,
6
9











2
5

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
2
2
6
.
5
0
9
2
5
8
.
3
9
3
3
6
1
,
7
0










3
4
9
,
4
0










1
7
,
9
0











1
6
,
8
5











2
6

S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n

1
6
7
.
8
6
2
1
8
3
.
9
5
9
6
9
5
,
9
0










6
7
2
,
3
0










1
3
,
6
0











1
2
,
9
3











2
7

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
1
7
6
.
7
9
9
1
9
8
.
9
0
2
3
0
0
,
2
0










2
7
4
,
7
0










1
8
,
2
0











1
6
,
2
4











2
8

G
o
r
o
n
t
a
l
o
1
8
3
.
6
3
7
2
1
0
.
1
0
1
1
7
9
,
0
0










1
6
9
,
9
0










2
5
,
7
0











2
3
,
6
3











2
9

S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
1
8
2
.
9
5
1
2
0
5
.
3
8
3
1
3
5
,
2
0










1
3
1
,
5
0










1
4
,
8
0











1
3
,
9
2











3
0

M
a
l
u
k
u
2
3
3
.
0
8
4
2
8
4
.
6
2
9
3
0
0
,
7
0










2
8
7
,
8
0










3
0
,
5
0











2
8
,
1
2











3
1

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
2
1
5
.
4
0
9
2
4
0
.
4
4
7
8
9
,
2
0










7
9
,
6
0










1
1
,
6
0











9
,
9
8











3
2

P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
3
1
1
.
7
3
7
3
4
6
.
1
5
7
2
3
9
,
1
0










2
1
0
,
0
0










3
9
,
6
0











3
6
,
3
3











3
3

P
a
p
u
a

2
6
2
.
6
2
6
2
8
1
.
0
2
2
9
0
9
,
5
0










9
2
8
,
3
0










4
1
,
6
0











3
9
,
3
9











2
1
3
.
3
9
5
2
4
0
.
4
4
1
1
8
.
9
7
2
,
2
0










1
8
.
0
8
6
,
9
0










1
5
,
7
0











1
4
,
7
0











K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

:

*
)

S
e
p
t
e
m
b
e
r

2
0
1
2
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
1
7
S
u
m
b
e
r

:

S
u
s
e
n
a
s
,

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
I
n
d
o
n
e
s
i
a
G
A
R
I
S

K
E
M
I
S
K
I
N
A
N
,

J
U
M
L
A
H
,

D
A
N

P
E
R
S
E
N
T
A
S
E

P
E
N
D
U
D
U
K

M
I
S
K
I
N

D
I

D
A
E
R
A
H

P
E
R
D
E
S
A
A
N

M
E
N
U
R
U
T

P
R
O
V
I
N
S
I

T
A
H
U
N

2
0
1
1

-

2
0
1
2

G
a
r
i
s

K
e
m
i
s
k
i
n
a
n

(
R
p
/
K
a
p
i
t
a
/
B
u
l
a
n
)







J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k

M
i
s
k
i
n

(
d
a
l
a
m

R
i
b
u
a
n
)

P
e
r
s
e
n
t
a
s
e

P
e
n
d
u
d
u
k

M
i
s
k
i
n

302
N
o
P
r
o
v
i
n
s
i
2
0
1
1
2
0
1
2

*
2
0
1
1
2
0
1
2

*
2
0
1
1
2
0
1
2

*
(
1
)
(
2
)
(
3
)
(
4
)
(
5
)
(
6
)
(
7
)
(
8
)
1

A
c
e
h
3
0
3
.
6
9
2
3
2
1
.
8
9
3
8
9
4
,
8
1

















8
7
6
,
6
0










1
9
,
5
7











1
8
,
5
8













2

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
2
4
6
.
5
6
0
2
7
1
.
7
3
8
1
.
4
8
1
,
3
1

















1
.
3
7
8
,
4
0










1
1
,
3
3











1
0
,
4
1













3

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
2
6
1
.
7
1
9
2
9
2
.
0
5
2
4
4
2
,
0
9

















3
9
7
,
9
0










9
,
0
4











8
,
0
0













4

R
i
a
u
2
8
2
.
4
7
9
3
1
0
.
6
0
3
4
8
2
,
0
5

















4
8
1
,
3
0










8
,
4
7











8
,
0
5













5

J
a
m
b
i
2
4
2
.
2
7
2
2
7
3
.
2
6
7
2
7
2
,
6
7

















2
7
0
,
1
0










8
,
6
5











8
,
2
8













6

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
2
3
6
.
2
9
8
2
5
9
.
6
6
8
1
.
0
7
4
,
8
1

















1
.
0
4
2
,
0
0










1
4
,
2
4











1
3
,
4
8













7

B
e
n
g
k
u
l
u
2
5
0
.
9
4
9
2
8
3
.
2
5
2
3
0
3
,
6
0

















3
1
0
,
5
0










1
7
,
5
0











1
7
,
5
1













8

L
a
m
p
u
n
g
2
3
4
.
0
7
3
2
6
3
.
0
8
8
1
.
2
9
8
,
7
1

















1
.
2
1
9
,
0
0










1
6
,
9
3











1
5
,
6
5













9

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g
3
2
3
.
6
3
8
3
8
2
.
4
1
2
7
2
,
0
6

















7
0
,
2
0










5
,
7
5











5
,
3
7













1
0

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
i
a
u
3
4
0
.
5
8
1
3
6
3
.
4
5
0
1
2
9
,
5
6

















1
3
1
,
2
0










7
,
4
0











6
,
8
3













1
1

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
3
5
5
.
4
8
0
3
9
2
.
5
7
1
3
6
3
,
4
2

















3
6
6
,
8
0










3
,
7
5











3
,
7
0













1
2

J
a
w
a

B
a
r
a
t
2
2
0
.
0
9
8
2
4
2
.
1
0
4
4
.
6
4
8
,
6
3

















4
.
4
2
1
,
5
0










1
0
,
6
5











9
,
8
9













1
3

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
2
0
9
.
6
1
1
2
3
3
.
7
6
9
5
.
1
0
7
,
3
6

















4
.
8
6
3
,
4
0










1
5
,
7
6











1
4
,
9
8













1
4

D
I

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
2
4
9
.
6
2
9
2
7
0
.
1
1
0
5
6
0
,
8
8

















5
6
2
,
1
0










1
6
,
0
8











1
5
,
8
8













1
5

J
a
w
a

T
i
m
u
r
2
1
9
.
7
2
7
2
4
3
.
7
8
3
5
.
3
5
6
,
2
1

















4
.
9
6
0
,
5
0










1
4
,
2
3











1
3
,
0
8













1
6

B
a
n
t
e
n
2
2
6
.
6
6
2
2
5
1
.
1
6
1
6
9
0
,
4
9

















6
4
8
,
3
0










6
,
3
2











5
,
7
1













1
7

B
a
l
i
2
3
3
.
1
7
2
2
5
4
.
2
2
1
1
6
6
,
2
3

















1
6
1
,
0
0










4
,
2
0











3
,
9
5













1
8

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t
2
1
5
.
5
7
6
2
4
8
.
7
5
8
8
9
4
,
7
7

















8
2
8
,
3
0










1
9
,
7
3











1
8
,
0
2













1
9

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

T
i
m
u
r
1
9
8
.
5
5
3
2
2
2
.
5
0
7
1
.
0
1
2
,
9
0

















1
.
0
0
0
,
3
0










2
1
,
2
3











2
0
,
4
1













2
0

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
r
a
t
2
0
6
.
8
5
0
2
3
9
.
1
6
2
3
8
0
,
1
1

















3
5
5
,
7
0










8
,
6
0











7
,
9
6













2
1

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
h
2
4
1
.
5
2
5
2
7
7
.
4
0
7
1
4
6
,
9
1

















1
4
1
,
9
0










6
,
5
6











6
,
1
9













2
2

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
t
a
n
2
3
8
.
5
3
5
2
6
9
.
7
1
4
1
9
4
,
6
2

















1
8
9
,
2
0










5
,
2
9











5
,
0
1













2
3

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
3
1
6
.
8
1
9
3
6
3
.
8
8
7
2
4
7
,
9
0

















2
4
6
,
1
0










6
,
7
7











6
,
3
8













2
4

S
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
2
1
2
.
8
2
3
2
2
3
.
8
8
3
1
9
4
,
9
0

















1
7
7
,
5
0










8
,
5
1











7
,
6
4













2
5

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
h
2
3
5
.
5
1
2
2
6
6
.
7
1
8
4
2
3
,
6
3

















4
0
9
,
6
0










1
5
,
8
3











1
4
,
9
4













2
6

S
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
n

1
7
9
.
9
3
3
1
9
5
.
6
2
7
8
3
2
,
9
1

















8
0
5
,
9
0










1
0
,
2
9











9
,
8
2













2
7

S
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
a
r
a
1
8
1
.
5
7
7
2
0
3
.
3
3
3
3
3
0
,
0
0

















3
0
4
,
3
0










1
4
,
5
6











1
3
,
0
6













2
8

G
o
r
o
n
t
a
l
o
1
8
7
.
2
1
5
2
1
2
.
4
7
6
1
9
8
,
2
7

















1
8
7
,
7
0










1
8
,
7
5











1
7
,
2
2













2
9

S
u
l
a
w
e
s
i

B
a
r
a
t
1
8
6
.
0
4
1
2
0
7
.
0
7
2
1
6
4
,
8
7

















1
6
0
,
6
0










1
3
,
8
9











1
3
,
0
1













3
0

M
a
l
u
k
u
2
4
5
.
1
2
0
2
9
5
.
9
0
4
3
6
0
,
3
2

















3
3
8
,
9
0










2
3
,
0
0











2
0
,
7
6













3
1

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
2
2
5
.
2
4
2
2
5
0
.
1
8
4
9
7
,
3
1

















8
8
,
3
0










9
,
1
8











8
,
0
6













3
2

P
a
p
u
a

B
a
r
a
t
3
1
8
.
7
9
6
3
5
4
.
6
2
6
2
4
9
,
8
4

















2
2
3
,
2
0










3
1
,
9
2











2
7
,
0
4













3
3

P
a
p
u
a

2
7
6
.
1
1
6
2
9
7
.
5
0
2
9
4
4
,
7
9

















9
7
6
,
4
0










3
1
,
9
8











3
0
,
6
6













2
3
3
.
7
4
0
2
5
9
.
5
2
0
3
0
.
0
1
8
,
9
3

















2
8
.
5
9
4
,
6
0










1
2
,
4
9











1
1
,
6
6













K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

:

*
)

S
e
p
t
e
m
b
e
r

2
0
1
2
S
u
m
b
e
r

:

S
u
s
e
n
a
s
,

B
a
d
a
n

P
u
s
a
t

S
t
a
t
i
s
t
i
k
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.
1
8
G
A
R
I
S

K
E
M
I
S
K
I
N
A
N
,

J
U
M
L
A
H
,

D
A
N

P
E
R
S
E
N
T
A
S
E

P
E
N
D
U
D
U
K

M
I
S
K
I
N

D
I

D
A
E
R
A
H

P
E
R
K
O
T
A
A
N

D
A
N