Anda di halaman 1dari 8

Alexander Agus Santosa F1C012022 Ilmu Komunikasi Teknologi Komunikasi Internet: Tontonan Baru Indonesia

Koesnandar (2008:12) dalam Suroso dan Adi Winanto (2009:3) menjelaskan bahwa internet mempunyai peran yang besar dalam pembelajaran, yaitu sebagai referensi ilmu

pengetahuan terkini, alat manajemen pengetahuan, jaringan pakar beragam ilmu, jaringan antar institusi pendidikan, pusat pengembangan materi ajar, wahana pengembangan

kurikulum, dan komunitas perbandingan standar kompetensi. Hal yang disayangkan adalah banyak kalangan remaja khususnya para siswa belum mengoptimalkannya sebagai sumber belajar. MANFAAT INTERNET Beberapa manfaat Internet antara lain: 1. Dalam dunia bisnis a. Adanya Electronic Comercee (perdagangan secara elektronik) Electronic Comercee yaitu perdagangan yang memanfaatkan jaringan komunikasi terutama internet. Manfaatnya : 1. Perusahaan dapat menjangkau pasar dengan lebih luas. 2. Perusahaan tidak perlu membuka banyak cabang distribusi. 3. Perusahaan dapat menghemat biaya, sehingga harga barang yang dijual dapat menjadi lebih rendah. 4. Konsumen tidak perlu mendatangi toko untuk mendapatkan barang yang di inginkan. 5. Konsumen dapat menghemat waktu dan biaya.

6. Konsumen dapat membeli barang di Negara lain. b. Adanya Internet Bangking Internet Bangking yaitu perbankan yang dilakukan dari tempat manapun dengan memanfaatkan internet. Manfaatnya : 1. Nasabah tidak perlu datang ke bank untuk melakukan transaksi perbangkan. 2. Nasabah dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan. 3. Pihak bank dapat mengurangi biaya operasional.

2. Dalam dunia pendidikan a. Memudahkan akses sumber informasi. Informasi-informasi yang dapat di akses secara online antara lain : Library, Online journal, danOnline Curse. Perpustakaan konvensional memerlukan biaya yang mahal. Buku-buku, Jurnal-jurnal, dan pengolahannya diperlukan biaya yang tidak sedikit. Sedangakan, dengan internet akan memungkinkan akses sumber informasi yang lebih lengkap dangan biaya yang lebih murah. b. Memudahkan akses ke pakar. Seorang siswa dapat berkomunikasi atau berdiskusi dengan guru/pakar di tempat lain tanpa adanya batas ruang dan waktu. c. Media kerja sama Adanya kerja sama dari pihak-pihak di bidang pendidikan akan terjadi dengan lebih efisien.1 Ferguson & Perse (2000) dalam Giles (2003:267) menemukan bahwa para remaja tidak

menggunakan internet untuk kepentingan pencarian informasi tentang pelajaran. Young (1998) dan Griffiths (1999) dalam Giles (2003:268) menemukan bahwa penggunaan internet

Anas (2009),. Manfaat Internet!. http://anas-pelajar.blogspot.com/2009/11/manfaat-internet.html. Diakses pada 28 Maret 2014

yang berlebih ditujukan lebih banyak untuk kepentingan penjalinan hubungan sosial dari pada pengumpulan informasi tentang pelajaran. Hasil penelitian Astutik Nur Qomariah (2009:13) untuk mengungkap perilaku penggunaan internet di kalangan remaja perkotaan menemukan bahwa penggunaan internet oleh kalangan remaja di perkotaan lebih banyak ditujukan untuk aktivitas kesenangan (leisure/fun activities) dari pada untuk kepentingan lainnya seperti pencarian informasi (transactions).2 Perkembangan internet di Indonesia yang sudah berjalan selama beberapa tahun cenderung berjalan di tempat, masyarakat Indonesia kurang bisa memanfaatkan kehadiran Internet secara maksimal khususnya dalam dunia pendidikan. Padahal Menurut (Koesnandar 2008:12) internet mempuyai peran yang besar dalam pembelajaran, yaitu sebagai referensi ilmu pengetahuan. Contohnya kita bisa memindahkan ribuan buku, jurnal, penelitian yang ada di perpustakan ke internet agar bisa di akses semua orang. Sebagai contoh referensi yang paling sering dan mudah dimanfaatkan adalah jurnal. Salah satu kriteria umum sebuah jurnal digolongkan sebagai jurnal internasional versi DIKTI, bahasa yang digunakan adalah bahasa PBB (Inggris, Perancis, Spanyol, Arab, Cina) 3 sebagai bahasa international yang bisa di akses oleh semua pengguna internet di seluruh dunia. Namun, sayangnya jumlah jurnal internasional yang di diunggah ke internet dari tahun ke tahun masih sedikit dan masih kalah dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Pada tahun 2000, jumlah publikasi penelitian dari Indonesia hampir sama dengan publikasi dari Malaysia. Bahkan tahun 2011, jumlah publikasi dari Malaysia lima kali lipat dari publikasi Indonesia.4 (information utility), komunikasi (communication), dan transaksi

Prastiyo, Hendi Rama (2012). NIAT PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA KELAS III SMK N 3 YOGYAKARTA. Skripsi Sarjana pada Pendidikan Teknik Elektro UNY: Yogyakarta. 3 DIKTI (2007),.Kriteria Jurnal Internasional. http://www.dikti.go.id/Archive2007/p3m/files/akreditasi_jurnal/KJI.doc. diakses pada 29 maret 2014 4 Kompas.com, 30 Januari 2013,. Publikasi di Jurnal Internasional Sangat Minim. http://tekno.kompas.com/read/2014/01/30/0844338/internet.indonesia.paling.pelan.nomor.dua. Diakses pada 29 Maret 2014

Gambar 1. Jumlah Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional: ASEAN. Sumber: http://fe.unpad.ac.id

Gambar 2. Jumlah Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional: ASEAN dan AS. Sumber: http://fe.unpad.ac.id Fakta ini sangat memperihatinkan ditengah kebutuhan akan perkembangan pendidikan Indonesia di era globalisasi. Sudah seharusnya para akademis di seluruh Indonesia berusaha meningkatkan kapasitasnya baik pengembangan ilmu maupun pemberdayaan. Publikasi pada jurnal ilmiah yang

merupakan nilai tambah terhadap pengayaan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tidak bisa berjalan maksimal apalagi yang lain. Hal ini baru berbicara pada jurnal saja belum menyangkut indikator lainnya seperti perpustakaan elektronik (e-library), buku elektronik (e-book), dan forum diskusi elektronik dengan pakar-pakar ilmu pengetahuan (Simanjutak, 1995). Para pencari informasi ilmu pengetahuan di Internet dalam hal ini siswa, mahasiswa, bahkan masyarakat umum perlu ruang khusus yang memudahkan mereka mendapatkan informasi. Namun, sedikitnya ruang di internet yang menampung infomormasi yang berguna bagi pendidikan ditambah kendala bahasa yang tidak dikuasai oleh seluruh masyarakat Indonesia menjadi kendala utama. Akhirnya mereka lebih suka bermain jejaring sosial dan game online. Regulasi Internet Menurut (Ajzen, 2006:1) Niat untuk melakukan suatu perilaku yang dalam hal ini adalah Penggunaan Internet Sebagai Sumber Belajar (PISB) terbentuk dari kombinasi sikap terhadap perilaku tersebut, norma subyektif tentang perilaku tersebut dan persepsi kontrol perilaku yang berkaitan dengan perilaku itu. Hasil akhirnya adalah ketika derajat kekuatan niat mencapai level tertentu yang dirasa cukup, seseorang dimungkinkan dapat mewujudkan niat tersebut menjadi perilaku itu dengan catatan bahwa sepanjang terdapat peluang. Pendapat Ajzen tersebut menjelaskan pengguna internet membutuhkan suatu motivasi mengapa yang membuat mereka mau menggunakan internet sebagai sarana pendidikan. Keinginan mereka harus didukung oleh fasilitas dan kemampuan diri. Dalam hal ini regulasi internet adalah suatu hal yang penting dan pokok. Menurut Purbo W. Onno ada enam entitas yang mempengaruhi perkembangan Internet di Indonesia, yaitu: 1. pengguna Internet 2. Internet Service Provider (ISP) 3. Internet Content Provider (ICP) 4. Penyelenggara Telekomunikasi (Telkom & Indosat) 5. Pemerintah

6. konsensus Internasional.5 Keenam hal membentuk interaksi yang saling mengisi antara satu dengan lainnya. Hasil dari interaksi tersebut menghasilkan realitas yang saat ini kita alami di Indonesia. Dimana ada pemerintah, masyarakat, penyedia jasa, dan interaksi dengan dunia luar. Sudah dibahaskan bahwa jurnal internasional Indonesia di tingkatan ASEAN masih kalah dengan negara-negara lain seperti Malaysia dan Singapore. Selain karena faktor bahasa, ada pula factor lainnya seperti proses yang lama dan sedikitnya media publikasi. Pemerintah dalam hal ini seharusnya mendukung upaya pemanfaatan internet sebagai media pendidikan dengan membuat peraturan yang tegas bagi seluruh pendidik agar bisa dimanfaatkan oleh semua peserta didik dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi bahkan dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Pemerintah sebagai salah satu simpul interaksi, seperti yang dikatakan oleh (Sanjaya, Bobby Nazief dan Onno) bahwa interaksi tersebut dapat digolongkan dalam lima (5) bagian besar, yaitu (1) masalah hukum / legal, (2) isi (content), (3) tarif, (4) penyelenggara telekomunikasi, dan (5) aspek sosial (seperti Masyarakat Informasi Indonesia / ISOC). Pemerintah menjadi penting adanya sebagai pembuat landasan hukum dan sebagai pilar dalam membangun kualitas pendidikan Indonesia dengan memanfaatkan internet secara maksimal. dengan menjalin interaksi antar pelaku internet yang baik. Pemerintah harus segera membuat solusi cerdas menghadapi perkembangan dan keterbukaan informasi yang semakin cepat ini. Di mulai dari pendidikan sekolah dasar, bahasannya pun bukan hanya tataran pengenalan saja namun sudah harus bisa memanfaatkannya atau bahkan ikut terlibat dalam penciptaan karya. Undang-Undang No.11 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang baru keluar di Tahun 2008 dan Undang-Undang No.20 tentang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2002 saja belum cukup untuk menerima arus informasi yang sedang gencar-gencarnya menerpa negara kita. Salah sedikit, bisa-bisa informasi tak berguna yang banyak di terima pelajar/mahasiswa/masyarakat Indonesia. Jika rata-rata pelajar/mahasiswa di seluruh Indonesia tidak memiliki kemampuan yang mumpuni dalam berbahasa inggris bukan tidak mungkin mereka akan kesulitan untuk mengakses informasi

Purbo, Onno W, (2000). Regulasi Internet di Indonesia. http://bebas.vlsm.org/v09/onno-ind1/application/regulasi-internet-di-indonesia-08-1999.rtf. Diakses pada 28 Maret 2014

tersebut. Apalagi rata-rata perguruan tinggi di Indonesia tidak menggencarkan dan memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran yang bisa di akses siapapun.6 Jika terus menerus keadaannya seperti ini bukan tidak mungkin masyarakat Indonesia akan mengikuti arus dan hanya bisa diam dan menonton saja perkembangan dunia tanpa bisa terlibat dan memaksimalkan manfaatnya.

Wibirama, Sunu,. (2013). Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia di Scopus. http://wibirama.com/2013/01/24/sunu-wibirama-peringkat-perguruan-tinggi-indonesia-di-scopus/. Diakses pada 29 Maret 2014

Daftar Pustaka Ajzen, I. (1991). The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes. Nomor 50. Hlm. 179-211. Diakses dari http://people.umass.edu/psyc661/pdf/tpb.obhdp.pdf pada 28 Maret 2014 Anas (2009),. Manfaat Internet!. http://anas-pelajar.blogspot.com/2009/11/manfaatinternet.html. Artikel. Diakses pada 28 Maret 2014. DIKTI (2007),.Kriteria Jurnal Internasional. http://www.dikti.go.id/Archive2007/p3m/files/akreditasi_jurnal/KJI.doc. Berita. Diakses pada 29 maret 2014. Giles, D. (2003). Media Psycholgy.New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates. Kompas.com, 30 Januari 2013,. Publikasi di Jurnal Internasional Sangat Minim. http://tekno.kompas.com/read/2014/01/30/0844338/internet.indonesia.paling.pelan.nomor.d ua. Berita. Diakses pada 29 Maret 2014 Prastiyo, Hendi Rama (2012). NIAT PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA KELAS III SMK N 3 YOGYAKARTA. Skripsi Sarjana pada Pendidikan Teknik Elektro UNY: Yogyakarta. Purbo, Onno W, (2000). Regulasi Internet di Indonesia. http://bebas.vlsm.org/v09/onno-ind1/application/regulasi-internet-di-indonesia-08-1999.rtf. Diakses pada 28 Maret 2014. Suroso dan Adi Winanto. (2009). Pemanfaatan ICT dalam Pembelajaran dan Peningkatan Profesionalisme Guru. Artikel. Diakses dari http://pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repository/dikti/BA_DIPBPJJ_BATCH_1/Manajemen% 20Berbasis%0Sekolah/UNIT%209.pdf pada 28 Maret 2014. Wibirama, Sunu,. (2013). Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia di Scopus. http://wibirama.com/2013/01/24/sunu-wibirama-peringkat-perguruan-tinggi-indonesia-discopus/. Diakses pada 29 Maret 2014.