Anda di halaman 1dari 28

11

II. TINJAUAN PUSTAKA



2.1. Pengaruh Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman
Salah satu bentuk modifikasi iklim mikro pada tanaman yaitu dengan
penggunaan naungan rumah plastik. Rumah plastik atau rumah kaca (greenhouse)
adalah suatu bangunan yang ditutup dengan benda transparan untuk melindungi
tanaman dari pengaruh negatif lingkungan. Akibat penutupan ini akan diatur jenis
spektrum matahari yang dibutuhkan oleh tanaman dengan menggunakan jenis
penutup.
Struktur greenhouse berinteraksi dengan parameter iklim di sekitar
greenhouse dan menciptakan iklim mikro di dalamnya berbeda dengan parameter
iklim di sekitar greenhouse. Hal ini disebut sebagai peristiwa efek rumah kaca
(greenhouse effect). Suhardiyanto (2009) menyebutkan greenhouse effect
disebabkan oleh dua hal, yaitu:
1. Pergerakan udara di dalam greenhouse yang relatif sangat sedikit atau
cenderung stagnan. Karena struktur greenhouse yang tertutup dan laju
pertukaran udara di dalam greenhouse dengan lingkungan luar yang sangat
kecil. Hal ini menyebabkan suhu udara di dalam greenhouse cenderung lebih
tinggi daripada di luar.
2. Radiasi matahari gelombang pendek yang masuk ke dalam greenhouse melalui
atap diubah menjadi radiasi gelombang panjang. Radiasi gelombang panjang
ini tidak dapat keluar dari greenhouse dan terperangkap di dalamnya. Hal ini
menimbulkan greenhouse effect yang menyebabkan meningkatnya suhu udara
di dalam greenhouse.
Radiasi gelombang pendek yang masuk ke dalam greenhouse diubah
menjadi gelombang panjang karena melewati bahan penutup, yaitu atap dan
dinding serta dipantulkan oleh lantai maupun bagian konstruksi greenhouse.
Radiasi gelombang panjang yang terperangkap di dalam greenhouse
menyebabkan naiknya suhu udara di dalam greenhouse. Untuk mengatasi masalah
tersebut, perlu diperhatikan bentuk greenhouse maupun sirkulasi udara di
dalamnya (Suhardiyanto 2009).
Pada mulanya greenhouse di kawasan yang beriklim subtropika banyak
digunakan dengan menggunakan kaca sebagai atap dan dinding. Hal ini terutama
12

jika greenhouse tersebut dibangun untuk fasilitas produksi tanaman sepanjang
tahun. Kaca merupakan bahan utama dalam pembuatan greenhouse (Suhardiyanto
2009).
Begitu juga yang terjadi di Indonesia, greenhouse pada umumnya
dibangun menggunakan kaca sebagai atap dan dinding. Itulah sebabnya
greenhouse kemudian identik dengan glasshouse dan diterjemahkan sebagai
rumah kaca. Namun dalam perkembangannya, penggunaan kaca sebagai bahan
penutup greenhouse sudah jauh tertinggal dibandingkan dengan penggunaan
plastik. Sehingga, istilah rumah kaca sebagai terjemahan dari greenhouse sudah
kurang tepat lagi. Agar lebih mencerminkan fungsi greenhouse sebagai bangunan
perlindungan tanaman maka digunakan istilah rumah tanaman sebagai
terjemahan dari greenhouse (Suhardiyanto 2009).
Rumah tanaman merupakan suatu bangunan yang berfungsi untuk
melindungi tanaman dari berbagai macam gangguan cuaca seperti hujan, angin,
dan intensitas radiasi matahari yang tinggi serta melindungi tanaman dari
serangan hama penyakit. Pada umumnya rumah tanaman diperlukan untuk
tanaman yang memiliki nilai ekonomi yang cukup penting seperti berbagai jenis
tanaman bunga-bungaan (diantaranya mawar, anyelir, gladiol, anggrek, dan
krisan), tanaman sayur-sayuran (diantaranya tomat, kapri, brokoli, sawi, dan
paprika), tanaman buah-buahan (diantaranya melon, anggur, dan semangka).
Selain itu, rumah tanaman di Indonesia sangat sesuai diterapkan untuk tanaman
komoditas ekspor yang menghendaki kualitas baik dan ukuran yang seragam
(Noor 2006).
Penggunaan rumah tanaman di kawasan yang beriklim tropika semakin
banyak, sebagai bangunan pelindung tanaman dalam budidaya sayuran daun,
sayuran buah, dan bunga. Tingginya suhu udara di dalam rumah tanaman dapat
mencapai tingkat yang memicu cekaman pada tanaman. Masalah lainnya adalah
tingginya kelembaban udara serta seringnya kerusakan atap rumah tanaman akibat
angin yang kencang (Suhardiyanto 2009). Selanjutnya disebutkan bahwa
tingginya kelembaban udara dapat rnengganggu pertumbuhan tanaman karena
merangsang pertumbuhan jamur yang rnenimbulkan penyakit pada tanaman. Oleh
karena itu, konsep rumah tanaman untuk kawasan yang beriklim tropika basah
13
perlu dikembangkan sesuai dengan kondisi iklim yang panas dan lembab tersebut.
Hal ini akan meningkatkan efisiensi penggunaan energi dalam pengendalian iklim
mikro di dalam rumah tanaman agar mendekati kondisi optimum bagi
pertumbuhan tanaman.
Di kawasan yang beriklim tropika basah, rumah tanaman berfungsi
sebagai bangunan pelindung tanaman pada budidaya tanaman dengan media tanah
maupun dengan sistem hidroponik. Untuk kawasan yang beriklim tropika basah
seperti di Indonesia konsep rumah tanaman dengan umbrella effect dipandang
lebih sesuai. Rumah tanaman lebih ditujukan untuk melindungi tanaman dari
hujan, angin, dan hama. Selain itu, rumah tanaman dibangun untuk mengurangi
intensitas radiasi matahari yang berlebihan, mengurangi penguapan air dari daun
dan media, serta memudahkan perawatan tanaman (Suhardiyanto 2009).
Berdasarkan fungsi tersebut maka tidak tepat jika rancangan rumah
tanaman di kawasan yang beriklim tropika basah menggunakan rancangan rumah
tanaman subtropika yang umumnya dikembangkan dengan konsep greenhouse
effect. Untuk kawasan yang beriklim tropika basah, rancangan rumah tanaman
yang telah dikembangkan di kawasan yang beriklim subtropika perlu diadaptasi
dengan konsep umbrella effect tersebut. Rancangan rumah tanaman untuk
kawasan yang berikim tropika basah sering disebut juga adapted greenhouse
(Suhardiyanto 2009).
Ketika rumah tanaman mulai diperkenalkan di kawasan yang beriklim
tropika, terjadi adaptasi rancangan atap dari berbagai rumah tanaman yang umum
digunakan di kawasan yang beriklim subtropika. Adaptasi tersebut menjadi tiga
jenis rumah tanaman yang kemudian umum digunakan di kawasan yang beriklim
tropika, yaitu semi monitor, modified standard peak, dan modified arch. Masing-
masing tipe rumah tanaman tersebut dilengkapi dengan bukaan ventilasi pada
bubungan. Bukaan ventilasi ini dibuat agar udara di dalam rumah tanaman yang
suhunya lebih tinggi dibandingkan dengan udara luar dapat mengalir keluar
melalui bukaan tersebut secara lancar (Suhardiyanto, 2009).
Suhardiyanto (2009) mengemukakan bahwa rancangan rumah tanaman
yang paling sesuai dan banyak digunakan di kawasan yang beriklim tropika
seperti Indonesia adalah modified standard peak dengan jumlah bentangan satu
14

atau lebih. Tipe atap tersebut memungkinkan bukaan ventilasi pada bubungan
rumah tanaman dapat dibuat dengan mudah dan strukturnya cukup stabil menahan
angin yang kencang. Untuk kawasan yang beriklim tropika orientasi rumah
tanaman sebaiknya memanjang ke timur dan barat sehingga atap rumah tanaman
menghadap ke utara dan selatan. Hal ini rnemungkinkan cahaya matahari dapat
mengenai tanaman secara lebih merata sepanjang hari. Namun, perbedaan yang
diakibatkan oleh perbedaan orientasi rumah tanaman ini tidak besar.
Modified standard peak greenhouse banyak digunakan di Indonesia karena
sesuai dengan kondisi iklim Indonesia yang memiliki intensitas radiasi matahari
dan curah hujan yang tinggi. Bentuk atap berundak dengan kemiringan tertentu
mempercepat aliran air hujan ke arah ujung bawah atap. Bentuk atap standard
peak dengan kemiringan sudut 25
0
- 35
0
tergolong optimal dalam
mentransmisikan radiasi matahari (Suhardiyanto 2009).
Dengan bukaan ventilasi pada bagian bubungan, suhu udara di dalam
rumah tanaman tipe ini dapat dipertahankan pada tingkat yang dapat ditolerir oleh
tanaman. Hal ini terjadi karena pertukaran udara berlangsung melalui bukaan
ventilasi pada bubungan dan dinding yang ditutup dengan screen. Ketika tidak ada
angin bertiup, udara masih dapat keluar dari rumah tanaman melalui bukaan pada
atap. Perbedaan kerapatan udara terjadi karena perbedaan suhu udara. Suhu udara
di bagian atas rumah tanaman cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan suhu
udara di bagian bawah. Hal ini menyebabkan terjadinya aliran udara ke atas, yaitu
ke arah bukaan pada atap, sehingga berlangsunglah ventilasi alamiah. Ketika
angin bertiup, ventilasi alamiah berlangsung secara lebih lancar (Suhardiyanto
2009).
Ventilasi alamiah perlu menjadi salah satu aspek pertimbangan yang
penting dalam perancangan struktur rumah tanaman di kawasan yang beriklim
tropika basah. Hal ini karena ventilasi alamiah merupakan metode yang sangat
murah untuk menjaga lingkungan di dalam rumah tanaman berada pada tingkat
yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, rancangan struktur rumah
tanaman sangat berpengaruh terhadap laju pertukaran udara dari dalam ke luar
atau sebaliknya melalui ventilasi alamiah. Pertukaran udara tersebut menentukan
kondisi iklim mikro di dalam rumah tanaman (Suhardiyanto 2009).
15
Ventilasi alamiah adalah pertukaran udara di dalam suatu bangunan
dengan udara di luarnya tanpa mengunakan kipas atau peralatan mekanik lainnya.
Pertukaran udara pada rumah tanaman sangat diperlukan untuk mencegah terlalu
tingginya suhu dan kelembaban udara. Selain itu, ventilasi alamiah juga menjaga
tersedianya CO
2
yang sangat penting bagi proses fotosintesis pada daun tanaman
(Suhardiyanto 2009).
Tujuan penggunaan rumah tanaman adalah menciptakan iklim mikro yang
kondusif untuk pertumbuhan tanaman ketika kondisi iklim tidak kondusif. Atap
rumah tanaman sangat menentukan iklim mikro dalam rumah tanaman tersebut.
Pemilihan atap harus mempertimbangkan karakteristik fisik, termal, optik, dan
harga bahan tersebut (Suhardiyanto, 2009). Selanjutnya disebutkan bahwa
karakteristik termal atap rumah tanaman terhadap radiasi matahari meliputi
transmissivity, absorptivity, dan reflectivity. Dari segi optik, atap rumah tanaman
perlu mempunyai karakteristik dapat meneruskan sebanyak mungkin sinar tampak
yang diperlukan tanaman untuk fotosintesis.
Bahan dalam pembuatan sebuah rumah tanaman beraneka ragam.
Pemilihannya sangat ditentukan oleh banyak faktor, demikian pula mengenai
bentuk, konstruksi, dan sistem pengontrol lainnya disesuaikan dengan kondisi
iklim suatu daerah, tujuan penggunaan, jenis tanaman, dan biaya. Secara umum
bangunan rumah tanaman terdiri atas bagian kerangka sebagai penopang kekuatan
yang dapat terbuat dan besi, kayu atau bambu tergantung dari ketersediaan bahan
baku setempat. Masing-masing bahan baku tersebut mencerminkan ketahanan dan
kekuatan bangunan serta umur ekonomisnya.
Atap rumah tanaman terbuat dari bahan tembus pandang seperti kaca,
plastik film, fiberglass, panel aknilik dan panel polykarbonat (Noor 2006).
Konstruksi atap dan bahan plastik yang sesuai untuk Indonesia yang beriklim
tropis sehingga dapat mengurangi dari pengaruh negatif intensitas radiasi
matahari yang berlebihan. Jenis plastik terdiri atas plastik berproteksi UV dan
plastik biasa. Jika petani atau pengusaha ingin berinvestasi untuk jangka waktu
yang pendek, misalnya untuk beberapa tahun saja maka bahan penutup dari
plastik film dapat menjadi pilihan. Ada beberapa plastik film yang dapat
digunakan untuk bahan penutup rumah tanaman, yaitu polyethylene (PE), atau
16

polyvinyichloride (PVC) (Suhardiyanto 2009). Selanjutnya disebutkan bahwa PE
memiliki sifat fisik yang fleksibel dan ringan sehingga sering digunakan pada
rumah tanaman dengan atap melengkung. PE dapat mentransmisikan PAR 85-
87%. Kelemahan PE adalah umur pakainya yang hanya dua sampai empat tahun.
PE lebih popular sebagai bahan penutup rumah tanaman dibandingkan dengan
PVC. PE dengan UV stabilizer merupakan bahan penutup yang paling banyak
digunakan di Indonesia karena harganya relatif murah dan daya tahannya cukup
baik. Jenis plastik tersebut memiliki transmisivitas cahaya matahari yang baik,
serta tidak terlalu kedap terhadap radiasi gelombang panjang dibandingkan
dengan bahan kaca (Suhardiyanto 2009).
Naungan secara langsung berpengaruh terhadap intensitas cahaya yang
sampai di permukaan tajuk tanaman. Pemberian naungan pada tanaman selain
mengurangi intensitas cahaya juga spektrum cahaya yang diterima daun di bawah
naungan akan berbeda dengan spektrum cahaya langsung (Noor 2006). Bagian
energi matahari yang paling bermanfaat untuk fotositesis adalah spektrum cahaya
tampak (0.4 - 0.7 m). Pada daerah tropik spektrum cahaya tampak dapat
mencapai 50 % dari total radiasi (Jones 1992).
Pemberian naungan akan menyebabkan iklim mikro di sekitamya berubah.
Pada siang hari sinar matahari yang masuk terhalang oleh naungan. Hal tersebut
menyebabkan berkurangnya akumulasi radiasi matahari yang sampai ke
permukaan tanah. Pada malam hari naungan dapat menahan radiasi gelombang
panjang yang dilepaskan permukaan tanah sehingga energi dari pelepasan radiasi
akan terakumulasi yang menyebabkan meningkatnya suhu udara di bawah
naungan. Keadaan masing-masing iklim mikro ini akan mempengaruhi proses
pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Pemberian naungan berpengaruh terhadap produksi tanaman. Hasil
penelitian terhadap tanaman lada menunjukkan secara umum tanaman di bawah
naungan 50% (tingkat radasi surya 50%) memperlihatkan hasil produksi tertinggi
dibandingkan dengan tingkat radiasi 75% dan tanpa naungan (Faisal 1984).
Sumiati dan Filman (1994) mengemukakan bahwa hasil bobot buah cabai paprika
varietas Blue Star tertinggi dihasilkan dari tanaman yang dibudidayakan secara
konvensional di bawah naungan plastik transparan dengan kerangka naungan
17
berbentuk kubus setengah lingkaran dengan arah memanjang menghadap ke arah
timur-barat di Lembang, Jawa Barat. Sebaliknya, hasil penelitian Syakur et al.
(2003) menunjukkan bahwa penggunaan naungan plastik UV tidak berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat, namun keunggulan dari
plastik ini yaitu memiliki waktu pemakaian yang lebih lama dan ketahanan yang
lebih baik dibanding plastik biasa.
Hasil penelitian Noor (2006) menunjukkan bahwa perlakuan naungan
27.5% dapat menurunkan intensitas radiasi matahari hingga 155 W/m
2
(49%)
sehingga memberikan kondisi lingkungan yang sesuai untuk mendukung
pertumbuhan, produktivitas, dan mutu hasil paprika.
Kondisi optimum di dalam rumah plastik sebagaimana hasil penelitian
Yushardi (2007) yaitu pada penggunaan plastik polyetylena berproteksi ultraviolet
(UV) 14% dapat menurunkan suhu udara di dalam rumah plastik sebesar 3.0 C
(7.4%).
Sumiati dan Filman (1994) mengemukakan penggunaan naungan plastik
bening dapat menekan evaporasi yang mungkin terjadi akibat tiupan angin,
sehingga kelembaban tanah tetap terjamin untuk pertumbuhan dan perkembangan
tanaman tomat. Selanjutnya dikemukakan bahwa naungan dapat menahan
percikan air hujan yang deras, sehingga dapat menekan gugurnya bunga dan buah
tomat serta menekan kemungkinan timbulnya penyakit. Hasil penelitian Sumiati
dan Filman (1994) menunjukkan bahwa naugan plastik bening secara nyata dapat
meningkatkan bobot buah per hektar. Selain itu, manfaat rumah plastik di daerah
tropis antara lain yaitu melindungi tanaman dari curah hujan, angin dan sinar
matahari yang terlalu kuat serta mengatur kelembaban ruang. Rumah plastik dapat
menyerap sinar UV yang berlebihan yang tidak menguntungkan bagi tanaman.

2.2. Pengaruh Radiasi Surya Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Radiasi surya sangat diperlukan oleh komunitas tanaman karena memiliki
energi untuk proses fotosintesis, terutama energy dari cahaya tampak (400 700
nm) yang disebut Photosintetically Active Radiation (PAR). Interaksi antara
radiasi surya dan tanaman hidup dapat dibagi atas tiga kategori yaitu efek termal,
18

efek foto-energi, dan efek fotostimulus yang dapat diringkaskan seperti pada
Tabel 2.
Tabel 2. Panjang gelombang radiasi dan pengaruhnya pada tumbuhan (Ross 1975)

Tipe Radiasi Wilayah
Spektral
Persen
Radiasi
Surya
Termal Fotosintesis Fotomor
fogenetik
Ultraviolet 0 - 4 - - Moderate +
PAR 0.38-0.71 21-46 + + +
Infra merah
dekat
0.71-4.0 50-79 + - +
Radiasi
gelombang
panjang
3.0-100 - - - +

Keterangan : - = tidak nyata berpengaruh; + = nyata berpengaruh

Pengaruh interaksi radiasi surya terhadap tumbuhan terdiri atas tiga bagian
(Ross 1975) :
1). Pengaruh termal radiasi hampir 70% diserap oleh tanaman dan diubah sebagai
bahang dan energi untuk transpirasi serta untuk pertukaran panas dengan
lingkungannya.
2). Pengaruh fotosintesis karena hampir 28% dari energi yang ada diserap untuk
fotosintesis dan disimpan dalam bentuk energi kimia.
3). Pengaruh fotomorfogenetik yaitu sebagai regulator dan pengendali proses
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Contoh dalam proses ini adalah
untuk proses gerakan nastik, orientasi, pembentukan pigmen dan
pembungaan.
Tiga karakteristik radiasi surya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan perkembangan tanaman adalah intensitas, lama penyinaran, dan panjang
gelombang cahaya seperti dapat dilihat pada Tabel 3.





19
Tabel 3. Pengaruh spektrum cahaya terhadap pertumbuhan tanaman

Band (mikron) Pengaruh terhadap tanaman
1 >1.02 Tidak ada pengaruh spesifik yang diketahui. Radiasi
diserap dan diubah menjadi panas tanpa mempengaruhi
proses biokimia.

2 1.0-0.72 Pengaruh khas terhadap aktivitas pemanjangan organ
tanaman. Wilayah infra merah jauh penting bagi
fotoperiodeisme, perkecambahan biji, kontrol
pembungaan, dan warna buah.

3 0.72 0.61 Diserap oleh klorofil. Menghasilkan proses aktivitas
fotosintesis yang kuat. Terkadang menunjukkan adanya
aktivitas fotoperiodik yang kuat.

4 0.61 0.51 Wilayah spektrum hijau dengan efektivitas fotosintesis
rendah dan aktivitas formatif lemah.

5 0.51 0.40 Wilayah serapan terkuat oleh klorofil dan pigmen kuning.
Merupakan wilayah aktivitas fotosintesis yang kuat pada
cahaya biru violet. Mempunyai pengaruh formatif yang
kuat.
6 0. 40 0.315 Menghasilkan pengaruh formatif. Tanaman menjadi
lebih pendek dan daun lebih tebal.
7 0.315 0.28 Umumnya merugikan tanaman.
8 <0.28 Secara cepat mematikan tanaman. Mempunyai aksi
germisidal
Sumber : Chang (1968)

Radiasi atau cahaya matahari dapat dinyatakan dalam hal : 1). panjang
gelombang atau kualitas cahaya. 2). intensitas cahaya. 3). panjang hari. Ketiga
komponen radiasi tersebut mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan tanaman melalui berbagai proses fisiologi :1). fotosintesis
(intensitas, panjang gelombang). 2). fotorespirasi (intensitas). 3). fotoperiodisme
(panjang hari, fotoperiode). 4). fototropisme (arah datang cahaya). 5).
perkecambahan benih (panjang gelombang) 7). pembentukan anthocyanin
(intensitas, panjang gelombang). Pengurangan intensitas cahaya antara lain
dengan naungan akan meningkatkan kelembaban udara, tetapi menurunkan suhu
(Gardner et al. 1991).

20

2.3. Pengaruh Suhu Udara Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman

Perkembangan maupun pertumbuhan tanaman sangat ditentukan oleh
unsur-unsur cuaca seperti suhu udara. Namun faktor yang paling berpengaruh
terhadap perkembangan tanaman adalah suhu dan panjang hari, sedangkan pada
pertumbuhan hampir semua unsur cuaca sangat mempengaruhinya (Handoko
1994).
Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh suhu udara. Sering
perubahan beberapa derajat saja sudah menyebabkan perubahan yang nyata dalam
laju pertumbuhan. Pada tahap tertentu dalam daur hidup tanaman, tiap spesies
atau varietas mempunyai suhu minimum, (rentang) suhu optimum dan suhu
maksimum. Di bawah suhu minimum ini tanaman tidak akan tumbuh; pada
rentang suhu optimum, laju tumbuhnya paling tinggi; dan di atas suhu maksimum
tanaman tidak akan tumbuh bahkan mati (Salisbury dan Ross 1995). Selanjutnya
disebutkan bahwa suhu tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan jaringan. Sering
selang suhu tertentu mengawali tahap kritis pada daur hidup tanaman :
perkecambahan biji, awal pembungaan, dan induksi atau berakhirnya dormansi
pada tanaman tahunan. Respon perkembangan tanaman itu sering dipengaruhi
oleh faktor lingkungan selain suhu, antara lain tingkat cahaya, lama cahaya, dan
kelembaban udara.
Pengaruh suhu udara terhadap pertumbuhan terutama pada proses respirasi
dan kecepatan proses biokimia dalam fotosintesis. Dalam proses respirasi, hasil
fotosintesis akan diubah menjadi CO
2
dan H
2
O, sehingga semakin besar respirasi
laju pertumbuhan tanaman menjadi berkurang. Fotosintesis dan respirasi
merupakan reaksi kimia yang dikenal dengan nama proses biokimia.
Intensitas/kecepatan reaksinya sangat ditentukan oleh aktivitas katalisator. Hanya
saja pada proses biokimia katalisatornya adalah enzim, yang daya toleransinya
terhadap suhu lingkungan sangat terbatas dan bervariasi untuk tiap varietas
tanaman karena enzim tersebut dari protein yang spesifik. Pada batas kisaran
toleransi optimum, semakin tinggi suhu akan semakin meningkatkan aktivitas dari
enzim, yang akhirnya akan meningkatkan produk fotosintesis dan respirasi.
Meningkatnya cahaya dari angka optimumnya akan mengakibatkan penurunan
produk, karena mulai terjadi perusakan enzim, yang akhirnya proses fotosintesis
21
dan respirasi akan berhenti bila seluruh enzim rusak oleh suhu yang terlalu tinggi
(Nasir 1999).
Produk fotosintesis bruto sangat ditentukan oleh intensitas radiasi PAR
dan tingginya suhu daun yang diakibatkan oleh penyerapan radiasi gelombang
pendek tersebut. Terutama pada daun yang memperoleh radiasi surya langsung di
puncak tajuk, laju fotosintesis tidak terlalu terpengaruh oleh suhu udara.
Sedangkan untuk respirasi berlangsung terus menerus selama 24 jam dan
kecepatannya sangat dipengaruhi oleh suhu udara dan radiasi infra merah.
Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi suhu. Perubahan suhu beberapa
derajat menyebabkan perubahan yang tajam terhadap laju pertumbuhan. Pada
tahap tertentu dalam daur hidupnya dan pada kondisi tertentu, tiap spesies atau
varietas memiliki suhu minimum, suhu optimum dan suhu maksimum. Di bawah
suhu minimum, tumbuhan tidak akan tumbuh; pada rentang suhu optimum laju
pertumbuhannya paling tinggi; dan di atas suhu maksimum, tumbuhan tidak akan
tumbuh bahkan mati.
Kurva laju pertumbuhan sebagai fungsi suhu (gambar 1) memperlihatkan
pertumbuhan berbagai spesies lazimnya menyesuaikan diri dengan lingkungan
alaminya. Spesies alpin dan spesies kutub utara mempunyai suhu minimum,
optimum dan maksimum yang rendah; spesies tropika mempunyai suhu utama
yang jauh lebih tinggi. Tumbuhan yang tumbuh mendekati suhu minimum atau
maksimum akan sering mengalami cekaman (Salisbury dan Ross 1995).
22


Gambar 2. Pertumbuhan tanaman sebagai fungsi suhu pada empat spesies
tumbuhan (Sumber : Salisbury dan Ross 1995)
Suhu tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan jaringan. Selang suhu
tertentu mengawali tahap kritis pada daur hidup pertumbuhan : perkecambahan
biji, awal pembungaan dan induksi dan berakhirnya dormansi pada tumbuhan
tahunan. Respons perkembangan itu sering dipengaruhi oleh faktor lingkungan
selain suhu, antara lain : tingkat cahaya, lama cahaya dan kelembaban. Interaksi
ini sangat beragam dan rumit.
Respon pertumbuhan terhadap suhu yang mendalilkan reaksi enzim yang
dipengaruhi oleh dua faktor yang berlawanan. Kenaikan suhu meningkatkan
energi kinetik molekul yang bereaksi dan hal ini meningkatkan laju reaksi; tetapi
kenaikan suhu juga menaikkan laju denaturasi enzim. Selisih antara kurva reaksi
dan kurva perombakan menghasilkan kurva yang setangkup yang mempunyai
suhu minimum, optimum dan maksimum sendiri (Gambar 2.). Kurva tersebut
berlaku untuk respirasi, fotosintesis dan berbagai respon tumbuhan lainnya,
disamping pertumbuhan (Salisbury dan Ross 1995).
23

Gambar 3. Aktivitas enzim dan suhu. I laju reaksi dengan Q
10
= 2 khas
untuk berbagai reaksi kimia yang dikendalikan enzim.
III reaksi dengan Q
10
= 6 khas untuk denaturasi protein.
II kurva perkiraan selisih antara laju reaksi enzim dan
Denaturasi (Sumber : Salisbury dan Ross 1995).


Selain respons positif bila suhu meningkat dari minimum ke optimum,
sebaliknya beberapa proses tertentu ternayata meningkat bila suhu menurun
mendekati titik beku. Pada vernalisasi, pemajanan tumbuhan tertentu pada suhu
rendah selama beberapa minggu memyebabkan tumbuhan mampu berbunga,
biasanya setelah dikembalikan ke suhu normal. Suhu rendah pada musim gugur
sering menyebabkan atau membantu berlangsungnya dormansi pada banyak biji,
tunas atau organ bawah tanah,
Perkembangan tanaman merupakan suatu kombinasi dari sejumlah proses
yang kompleks, yaitu pertumbuhan dan diferensiasi yang mengarah pada
akumulasi bobot kering. Proses diferensiasi ini mensyaratkan : (1) hasil asimilasi
yang tersedia dalam keadaan berlebihan untuk dimanfaatkan pada banyak
kegiatan metabolik; (2) temperatur yang menguntungkan; dan (3) terdapat sistem
enzim yang memperantarai proses diferensiasi (Gardner et al. 1991).
24

Intensitas cahaya tinggi di siang hari berakibat meningkatkan hasil
fotosintesis bruto. Bila siang hari cahaya surya terik kemudian diikuti oleh suhu
udara rendah di malam hari, hal tersebut menguntungkan bagi tanaman karena
meningkatkan produk fotosintesis neto. Pengurangan produk fotosintesis oleh
respirasi sangat ditentukan oleh suhu udara. Suhu udara yang terus menerus
tinggi akan mengurangi fotosintesis neto. Suhu udara akan mempengaruhi
kecepatan reaksi metabolisme (fotosintesis dan respirasi), sehingga pertumbuhan
generative untuk menghasilkan biji menurun. Ditinjau terhadap respon suhu
udara, terdapat tiga batas suhu penting (suhu kardinal) pada tanaman yaitu suhu
minimum, suhu optimum, dan suhu maksimum. Untuk tanaman tomat, suhu
optimumnya adalah 18 24
o
C, suhu minimum 14
o
C, dan suhu maksimum 26
o
C
(Nasir 1999).
Tanaman mengalami dua proses hidup yakni tumbuh (bertambah ukuran
panjang, luas, volume dan bobot) dan berkembang yakni mengalami penggandaan
dan pemisahan fungsi organ melalui fase-fase benih, kecambah, pertumbuhan
vegetatif dan pertumbuhan generatif bunga, buah dan biji untuk memperoleh
generasi baru (benih baru). Dalam batas kisaran toleransi kenaikan suhu udara
akan diikuti oleh laju pertumbuhan dan semakin pendeknya periode antar fase
perkembangan. Dalam hal ini untuk tanaman semusim peningkatan suhu udara
akan ,menyebabkan semakin pendek umurnya.
2.3.1. Hubungan Suhu dengan Fotosintesis
Fiksasi CO
2
dalam peristiwa fotosintesis merupakan reaksi yang
dikendalikan oleh enzim, dan meningkat dengan laju penambahan semakin tinggi
sejalan dengan meningkatnya suhu, hingga mencapai temperatur yang
menyebabkan denaturasi enzim
Semua reaksi di dalam tumbuhan sangat dipengaruhi oleh suhu luar. Pada
umumnya reaksi yang dikatalis oleh enzim akan meningkat dengan kenaikan suhu
dari 0
o
C sampai 35
o
C atau 40
o
C. Nilai Q
10
umumnya antara 2 sampai 3 dalam
rentang suhu 0
o
C sampai 30
o
C, sebagian karena panas akan meningkatkan
jumlah molekul yang mempunyai energi setara dengan atau lebih besar daripada
energi pengaktifan. Karena laju reaksi sangat bergantung pada katalis oleh enzim,
suhu juga mempengaruhi reaksi dengan mengubah bentuk enzim. Bentuk enzim
25
menentukan kemampuannya, baik untuk bergabung dengan substratnya maupun
untuk katalis. Berbagai enzim, bahkan yang berasal dari spesies yang sama,
responsnya terhadap suhu sering sangat berbeda. Hal ini berarti bahwa pada suhu
tertentu beberapa enzim berfungsi optimum, sedangkan yang lain tidak.
Pertumbuhan dan reproduksi organisme sangat beragam pada suhu yang
berlainan. Pada suhu tertentu hal ini mungkin bergantung pada suhu optimum
bagi kerja enzim tertentu yang mengendalikan reaksi pembatas laju pertumbuhan.
Perbedaan suhu optimum enzim akan menentukan di lingkungan mana
spesies akan hidup. Sebagai contoh, suhu optimum bagi proses fotosintesis pada
tumbuhan alpina dan tundra adalah 10 15
o
C, sedangkan suhu optimum bagi
jagung sekitar 30
o
C.
Tanaman budidaya bervariasi menurut kisaran suhu pertumbuhannya.
Tanaman budidaya yang tumbuh dalam kondisi dingin (tumbuh pada suhu utama
antara 0 5
o
C) seperti gandum mempunyai keuntungan mampu menghasilkan
indeks luas daun (ILD) kritis cukup dini agar dapat bertepatan dengan saat energi
matahari maksimum. Tanaman budidaya musim hangat (tumbuh pada suhu
utama antara 5 15
o
C) seperti jagung, harus menunggu suhu cukup tinggi untuk
bisa menunjang pertumbuhan, karena tanaman ini tidak dapat menghasilkan luas
daun secara cukup cepat untuk mencapai ILD kritis pada energi matahari
maksimum.
Tingkat energi radiasi dan suhu tanah serta udara merupakan dua variabel
lingkungan utama yang cenderung berfluktuasi sama. Peningkatan suhu
permukaan pada lokasi mana saja sangat dipengaruhi oleh energi radiasi yang
diterima (Gardner et al. 1991).
2.3.2. Hubungan Suhu dengan Respirasi dan Transpirasi
Respirasi tanaman juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu.
Peningkatan suhu sebesar 10
o
C akan meningkatkan laju reaksi 2 3 kali lipat
(Darmawan dan Baharsjah 2010). Demikian pula halnya dengan transpirasi.
Kehilangan uap air melalui stomata (80 90 %) dan kutikula ( 10%) akibat
adanya gradien tekakanan uap air antara rongga daun dan udara sekitarnya,
dipengaruhi oleh suhu. Radiasi matahari (cahaya) menimbulkan panas bumi yang
26

kemudian dipantulkan kembali ke udara daun, menyebabkan makin tingginya
suhu daun dan transpirasi semakin meningkat.
Transpirasi tidak hanya mempengaruhi proses fisika penguapan dan difusi,
tetapi juga mempengaruhi membuka dan menutupnya stomata pada permukaan
daun yang dilalui air yang ditranspirasikan dan lalulintas CO
2
. Naiknya suhu
daun misalnya, sangat meningkatkan penguapan dan sedikit difusi, namun
mungkin menyebabkan stomata tertutup atau terbuka lebar, bergantung pada
spesies dan faktor lain. Saat matahari terbit, stomata membuka karena
meningkatnya pencahayaan dan cahaya meningkatkan suhu daun, sehingga air
menguap lebih cepat. Naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih
banyak kelembaban, maka transpirasi meningkat, dan bukaan stomata
terpengaruh. Angin membawa CO
2
dan mengusir uap air. Hal ini menyebabkan
penguapan dan penyerapan CO
2
meningkat, meskipun semakin meningkatnya
kadar CO
2
akan menyebabkan stomata menutup sebagian. Bila daun dipanaskan
oleh sinar matahari dengan panas yang melebihi suhu udara, angin akan
menurunkan suhunya. Akibatnya transpirasi menurun (Salisbury dan Ross 1995).
Meningkatnya suhu daun yang meningkatkan pula respirasi dan transpirasi.
Respirasi mengubah heksosa menjadi bahan-bahan struktural, cadangan makanan
dan metabolik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman
(Campbell et al. 2003).

2.3.3. Pengaruh Suhu terhadap Perkecambahan
Selain imbibisi, proses perkecambahan juga meliputi sejumlah proses
katabolisme dan anabolisme yang dikendalikan enzim, dan karena sangat
responsif terhadap suhu. Suhu kardinal (maksimum, optimum dan minimum)
untuk perkecambahan pada kebanyakan biji tanaman budidaya pada dasarnya
merupakan suhu kardinal untuk pertumbuhan vegetatif yang normal. Suhu
optimum adalah suhu yang memberikan persentase perkecambahan yang paling
tinggi dalam periode waktu yang paling pendek (Gardner et al. 1991).
Biji yang belum mengalami masak lanjutan yang dormansinya sebagian atau
relatif berkecambah dalam rentangan waktu yang sempit, misalnya 5 15
o
C bagi
spesies yang bertemperatur rendah. Biji yang mengalami masak lanjutan (kultivar
27
kebanyakan tanaman budidaya) tidak memiliki rentang perkecambahan yang
sempit. Temperatur kardinal untuk perkecambahan biji tanaman budidaya saling
menelumpang, tetapi kecepatan berkecambah pada seluruh tanaman budidaya
lebih lambat pada suhu yang rendah (Gardner et al. 1991).
2.3.4. Hubungan Suhu dengan Ketinggian Tempat
Suhu udara kering atmosfer bumi lebih dingin sekitar 1
o
C setiap kenaikan
tegak 100 m. Jadi, jika udara kering pada suhu 30
o
C di lembah. Suhu udara pada
ketinggian tegak 1.500 m akan mendingin menjadi 15
o
C, kecuali jika dipanaskan
atau didinginkan oleh lereng gunung dan atau sinar matahari dalam perjalanan ke
atas. Hal disebabkan karena udara yang naik akan memuai karena tekanan lebih
rendah pada elevasi yang lebih tinggi (Salisbury dan Ross 1995).
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh suhu, yang
berkaitan dengan reaksi enzim yang terlibat dalam metabolisme tanaman. Laju
reaksi enzim terhadap suhu merupakan rentang suhu kardinal, yaitu suhu
minimum, optimum dan maksimum.

2.4. Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman Tomat
Morfologi atau penampilan fisik tanaman tomat bisa dibedakan menjadi
beberapa bagian, yakni akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. Tanaman tomat
memiliki akar tunggang yang bisa menembus tanah sekaligus akar serabut (akar
samping) yang bisa tumbuh menyebar ke segala arah. Kemampuannya menembus
lapisan tanah terbatas, yakni pada kedalaman 30 70 cm. Sesuai sifat
perakarannya, tomat bisa tumbuh dengan baik di tanah yang gembur dan mengikat
air.
Batang berwarna hijau dengan bentuk persegi empat hingga bulat.
Sewaktu masih muda batangnya memiliki tekstur yang lunak, tapi setelah tua
berubah menjadi bulu atau rambut halus. Diantara bulu-bulu tersebut terdapat
rambut kelenjar yang mampu mengeluarkan bau khas.
Daun tomat berbentuk oval dengan panjang 20 30 cm. Tepi daun
bergerigi dan membentuk celah-celah yang menyirip. Diantara daun-daun yang
bersirip besar terdapat sirip kecil dan ada pula yang bersirip besar lagi. Umumnya
28

daun tomat tumbuh di dekat ujung dahan atau cabang, memiliki warna hijau dan
berbulu.
Bunga tanaman tomat tergolong sempurna (hermaphrodite), yakni
memiliki benang sari dan kepala putik pada bunga yang sama. Dengan demikian
tomat bisa melakukan penyerbukan sendiri, sekaligus mampu melakukan
penyerbukan silang dengan bantuan serangga. Penyerbukan silang lebih umum
terjadi di daerah tropis dibandingkan dengan di daerah beriklim sedang. Ukuran
bunga relative kecil dengan diameter sekitar 2 cm. Bunga berwarna kuning dan
tersusun dalam satu rangkaian dengan jumlah 5 10 bunga tergantung
varietasnya. Dalam satu kuntum bunga terdapat 5 6 helai mahkota yang
berwarna kuning cerah dan berukuran sekitar 1 cm, bertangkai pendek dengan
kepala sari yang panjangnya 5 mm. Kelopak berjumlah lima buah, berwarna hijau
dan terletak di bagian bawah atau pangkal bunga. Benang sari berjumlah enam
buah, bertangkai pendek dengan kepala sari yang panjangnya 5 mm, dan berwarna
sama dengan mahkota bunga. Pada benang sari terdapat kantong yang letaknya
menjadi satu dan membentuk bumbung yang mengelilingi tangkai kepala putik.
Bunga tomat tumbuh dari cabang yang masih muda dengan letak menggantung.
Buah tomat memiliki bentuk bervariasi, mulai bulat lonjong, bulat halus,
bulat beralur, bulat dengan bentuk datar pada ujung atau pangkalnya, hingga
bentuk yang tidak teratur. Bentuk dan ukuran tersebut tergantung varietas.
Sewaktu masih muda buahnya berwarna hijau muda sampai hijau tua. Setelah tua
buahnya menjadi sedikit kuning, merah cerah atau gelap, merah kekuningan, atau
kuning atau merah gelap.
Tanaman tomat merupakan tanaman hari netral (day-natural vegetable)
yang tidak terpengaruh oleh panjang hari (Yamaguchi 1983). Karena tanaman
tomat adalah tanaman netral; laju perkembangan dan kejadian fenologinya
didekati dengan konsep degree-day atau heat unit. Heat unit tidak dipengaruhi
oleh perbedaan lokasi dan waktu tanam (Koesmaryono et al. 2002). Laju
perkembangan tanaman terjadi bila suhu udara rata-rata harian melebihi suhu
dasar.
Idealnya tanaman tomat tumbuh di tempat yang dingin, cuaca kering dan
dataran tinggi (1000 - 1250 m dpl). Tanaman tomat tergolong kedalam warm
29
season crop yang memerlukan suhu optimum 20 C - 28 C dengan variasi
pergantian suhu sebesar 18 C pada malam hari dan 25 C pada siang hari pada
masa pembungaannya. Nasir (1999) mengemukakan bahwa suhu udara optimum
untuk tanaman tomat yaitu 18 - 24
o
C dengan suhu minimum dan maksimum
masing-masing 14 C dan 26 C. Suhu udara yang terlalu panas dan kering akan
menyebabkan kepala putik cepat kering dan tabung sari tidak banyak terjadi
pembentukan buah. Suhu dibawah 12 C dapat menyebabkan chilling injury, dan
suhu diatas 27 C akan meghambat pertumbuhan dan pembentukan buah,
kerusakan pollen dan sel telur ketika suhu harian 38 C atau lebih selama 5 - 10
hari.
Tanaman tomat akan tumbuh optimal bila tanah dan iklim dimana tanaman
ini tumbuh sesuai yang diinginkan. Tekstur tanah yang baik yaitu medium dengan
kedalaman akar medium (60 - 90 cm). Tingkat kesuburan tanah tinggi dengan pH
5.0 7.0. Tingkat kedalaman air tanah minimum selama periode pertumbuhan
yaitu 50 cm. Bila target penanaman tomat adalah kegenjahannya, maka tanaman
tomat cocok ditanam di tanah lempung berpasir yang baik drainasenya. Namun
bila yang ditargetkan adalah jumlah total produksi yang tinggi maka yang cocok
adalah tanah lempung liat dan lempung berdebu.
Tanaman tomat sangat rentan terhadap lingkungan secara menyeluruh
yaitu cahaya, temperatur, dan lingkungan sekitar akar tanaman. Selain faktor
tanah, iklim yang bervariasi perlu modifikasi yang mengarah pada keadaan
lingkungan yang diinginkan tanaman tomat.
Tanaman tomat menyenangi tempat yang terbuka dan cukup sinar
matahari. Kurangnya sinar matahari menyebabkan pertumbuhan memanjang
(etiolasi), lemah dan pucat karena pembentukan kloroplas tidak sempurna. Namun
radiasi surya yang terlalu terik kurang baik karena transpirasi akan meningkat
serta bunga dan buah mulai gugur. Tanaman tomat tergolong tanaman C3 yang
cepat jenuh radiasi.






30

2.5. Artificial Neural Network (ANN)

2.5.1. Jaringan Syaraf Biologi
Sistem syaraf merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang
bertugas menerima rangsangan, menghantarkan rangsangan ke seluruh bagian
tubuh, dan memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut. Sistem syaraf
dengan pusat kendali di otak manusia memiliki struktur yang sangat kompleks
dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Otak terdiri dari neuron-neuron dan
penghubung yang disebut sinapsis. Neuron bekerja berdasarkan impuls/sinyal
yang diberikan pada neuron. Neuron meneruskannya pada neuron lain.
Diperkirakan manusia memiliki 10
12
neuron (Kristanto, 2004) dan 6.10
18
sinapsis
(Siang 2005). Dengan jumlah neuron dan sinapsis yang begitu banyak, otak
mampu mengenali pola, melakukan perhitungan dan mengontrol organ-organ
tubuh dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan komputer (Siang, 2005).
Neuron memiliki tiga komponen penting yaitu dendrit, soma dan axon
(Fausett 1994). Adapun susunannya diperlihatkan pada Gambar 4. Dendrit
menerima sinyal dari neuron lain, sinyal tersebut berupa impuls elektrik yang
dikirim melalui celah sinaptik melalui proses kimiawi. Sinyal tersebut
dimodifikasi di celah sinapsis. Berikutnya, soma menjumlahkan semua sinyal-
sinyal yang masuk. Apabila jumlahan tersebut cukup kuat dan melebihi batas
ambang (threshold), maka sinyal tersebut akan diteruskan ke sel lain melalui
axon.
Bagian-bagian neuron manusia seperti yang diperlihatkan pada Gambar 5
yaitu inti sel, dendrit, akson, dan sinapsis. Inti sel berfungsi memproses informasi
yang masuk ke dalam otak, dendrit merupakan serabut syaraf yang keluar dari
badan sel, strukturnya pendek. Dendrit berfungsi mengirimkan pesan (impuls) dari
badan sel ke jaringan lain. Akson merupakan serabut syaraf yang keluar dari
badan sel, strukturnya memanjang. Akson berfungsi mengirimkan impuls dari
badan sel ke jaringan yang lain. Sinapsis merupakan titik temu antara terminal
akson neuron satu dengan neuron yang lain.
31

Gambar 4. Susunan neuron manusia (a)

Informasi yang dikirimkan antar neuron berupa rangsangan yang dilewatkan
melalui dendrit. Informasi yang datang dan diterima oleh dendrit dijumlahkan dan
dikirimkan melalui akson menuju dendrit neuron lain. Pengiriman informasi ini
disertai dengan bobot sinapsis. Informasi akan diterima neuron lain jika
memenuhi batasan tertentu yang disebut nilai ambang (threshold), pada kondisi
ini neuron dikatakan teraktivasi . Struktur pada Gambar 4 diperjelas pada Gambar
5 berikut.

Gambar 5. Susunan neuron manusia (b)

2.5.2. Artificial Neural Network (ANN)
Artificial Neural Network (ANN) atau Jaringan syaraf tiruan (JST) adalah
sistem pemroses informasi yang memiliki karakteristik mirip dengan jaringan
syaraf biologi di dalam otak. ANN dapat digambarkan sebagai model matematis
dendrit
inti sel
akson
sinapsis
badan sel
32

dan komputasi untuk fungsi aproksimasi nonlinear, klasifikasi data, kluster dan
regresi nonparametrik (Kristanto 2004). Model matematika dari ANN ditunjukkan
pada Gambar 6 yang menunjukkan model yang disederhanakan dari sebuah
neuron tiruan yang merupakan dasar dari ANN.










Gambar 6. Model matematika ANN

Gambar 6 menunjukkan bahwa input dalam jaringan adalah
m
x x x ,..., ,
2 1
yang
analog dengan jumlah rangsangan yang diterima dan nilai bobot koneksi
m
w w w ,..., ,
2 1
yang analog dengan kekuatan sinapsis. Perkalian antara masing-
masing input dan nilai bobot koneksi akan dijumlahkan kemudian disimpan dalam
neuron, selanjutnya dimasukkan dalam fungsi nonlinier f. Fungsi f dapat
menghasilkan output y jika input melebihi atau sama dengan threshold, sebaliknya
jika input kurang dari threshold maka fungsi f tidak menghasilkan output. Model
matematika yang diperoleh dari ANN adalah
) ... (
2 2 1 1 m m
w x w x w x f y + + + = atau ) (
1

=
=
m
i
i i
w x f y
... (2.1)

fungsi f selanjutnya disebut fungsi aktivasi (Kristanto 2004).

f
w x y . =
1
x
2
x
m
x
1
w
2
w
m
w
33
Pada dasarnya ANN tersusun dari beberapa lapisan node (layer) yaitu
lapisan masukan (input layer), satu atau lebih lapisan terselubung (hidden layer)
dan lapisan keluaran (output layer). Node merupakan suatu unit komputasi yang
paling sederhana pada setiap lapisan yang dihubungkan dengan setiap node pada
lapisan berikutnya, hubungan antarnode (unit) diekspresikan oleh suatu bilangan
yang disebut bobot (weight). Setiap unit pada input layer akan menjadi masukan
pada hidden layer dan keluarannya akan menjadi masukan bagi layer berikutnya
sampai akhirnya menghasilkan keluaran pada output layer. Bentuk ANN dengan
multilayer neural network menurut Rich dan Knight (1983) dapat dilihat pada
Gambar 7.













Gambar 7. Model multilayer neural network (Rich dan Knight 1983)

Keterangan :
X

= variabel input node i pada lapisan input, i = u,1,2, , i


b
]
= output node j pada lapisan hidden, j = 0, 1, 2, ..,j
0
k
= output node k pada lapisan output
w
]
= nilai bobot yang menghubungkan node I pada lapisan input dengan
node j pada lapisan hidden
V
jk
= nilai bobot yang menghubungkan node j pada lapisan hidden
dengan node k pada lapisan output

x
0
= h
0
=
x
1
x
2

x
i

h
1
h
2
h
j
O
l
O
k

Wi
input layer hidden output
Vj
Yk
34

2.5.3. Arsitektur Jaringan
Pada jaringan syaraf, neuron-neuron dikumpulkan dalam lapisan yang
disebut lapisan neuron atau neuron layer. Neuron-neuron yang terletak dalam satu
lapisan memiliki fungsi aktivasi yang sama. Faktor terpenting dalam menentukan
kelakuan suatu neuron adalah fungsi aktivasi dan pola bobotnya. Ada empat jenis
arsitektur ANN yaitu jaringan lapisan tunggal (singlelayer network), jaringan
lapisan jamak (multilayer networks), jaringan dua lapisan dengan umpan balik,
dan jaringan lapisan kompetitif (competitive layer networks). Menurut Siang
(2005), arsitektur jaringan ini dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan
yang lebih rumit daripada singlelayer feedforward network karena dapat
mengenali data nonlinier dalam time-series.

Gambar 8. Multilayer feedforward networks

Gambar 8 menunjukkan arsitektur multilayer feedforward networks yang terdiri
dari lapisan input, lapisan hidden dan lapisan output. Perbedaan arsitektur ini
dengan singlelayer feedforward network terletak pada lapisan hidden. Pada
singlelayer feedforward network tidak terdapat lapisan hidden. Tidak ada aturan
baku mengenai penentuan jumlah neuron pada lapisan hidden. Berdasarkan
beberapa penelitian, untuk lapisan hidden tunggal jumlah neuron yang disarankan
adalah n n n n ,..., 2
2
1
, 1
2
1
,
2
1

dimana n adalah jumlah neuron pada lapisan input. Menurut Yao dan Tan (1999)
aturan yang digunakan untuk menentukan jumlah neuron pada lapisan hidden
adalah

n m k . = (2.2)


lapisan input
lapisan hidden
lapisan output
35
dengan k : jumlah neuron pada lapisan hidden,
n : jumlah neuron pada lapisan input,
m : jumlah neuron pada lapisan output.

2.5.6. Proses Pelatihan
Proses pelatihan dimulai dengan memberikan input ke dalam jaringan,
jaringan akan melakukan perhitungan sehingga diperoleh output sementara.
Selisih antara nilai aktual dengan output sementara digunakan untuk
memperbaharui seluruh bobot koneksi dalam jaringan. Algoritma
backpropagation terdiri dari tiga fase. Fase pertama yaitu pelatihan pola input
secara feedforward. Fase kedua adalah fase mundur, kesalahan yang terjadi adalah
selisih antara output jaringan dengan target. Kesalahan tersebut dipropagasikan
mundur, dimulai dari garis yang berhubungan dengan unit output yaitu unit
hidden. Fase ketiga adalah memodifikasi bobot untuk menurunkan kesalahan yang
terjadi. Ketiga fase tersebut diulang-ulang sampai kondisi penghentian dipenuhi.
Iterasi akan berhenti jika jumlah iterasi yang dilakukan sudah melebihi jumlah
maksimum iterasi yang ditentukan, atau jika eror yang terjadi lebih kecil dari
batas toleransi yang ditentukan.
Selama kondisi feedforward, unit input
i
X menerima sinyal input
i
x dan
mengirimkan sinyal tersebut ke unit hidden
j
Z . Sinyal input pada lapisan hidden
adalah

+ =
n
i
ji i j j
v x v net z
0
_ ... (2.3)
dengan
0 j
v adalah bobot garis yang menghubungkan bias pada unit input dengan
unit hidden
j
Z . Pada unit hidden dihitung aktivasi kemudian sinyal
j
z dikirimkan
ke unit output yaitu
) ( ) _ (
1
0
=
+ = =
n
i
ji i j j j
v x v f net z f z . (2.4)
Masing-masing unit output
k
Y menghitung aktivasinya
k
y , sinyal input dan sinyal
output pada lapisan output adalah
36

=
+ =
p
j
kj j k k
w z w net y
1
0
_ . (2.5)
) ( ) _ (
1
0
=
+ = =
p
j
kj j k k k
w z w f net y f y (2.6)
dengan
0 k
w adalah bobot garis yang menghubungkan bias pada unit hidden
dengan unit output
k
Y . Kemudian hasil perhitungan
k
y dibandingkan dengan
nilai target
k
t . Berdasarkan hasil perbandingan ditentukan himpunan kesalahan
untuk menghitung nilai faktor
k
(k=1,...,m). Faktor
k
digunakan untuk
mendistribusikan kesalahan pada
k
Y ke lapisan sebelumnya. Nilai faktor
j

dengan j = 1,..., p dihitung untuk masing-masing
j
Z , tetapi tidak diperlukan
pendistribusian kesalahan ke
i
X . Faktor
j
digunakan untuk memperbaiki bobot
antara lapisan hidden dan lapisan input. Penyesuaian bobot
kj
w (dari
j
Z ke
k
Y )
didasarkan pada faktor
k
dan aktivasi
j
z pada
j
Z . Penyesuaian bobot
ji
v (dari
i
X ke
j
Z ) didasarkan pada faktor
j
dan aktivasi
i
x pada
i
X .
Algoritma backpropagation menggunakan metode pencarian titik
minimum untuk mencari bobot dengan eror minimum. Eror output digunakan
untuk mengubah nilai bobot dalam arah mundur. Menurut Siang (2005) dalam
proses pencarian titik minimum dikenal dua macam mode yaitu mode incremental
dan mode kelompok (batch). Dalam mode incremental, bobot diubah setiap kali
pola input diberikan ke jaringan. Sebaliknya, dalam mode batch bobot diubah
setelah semua pola input diberikan ke jaringan. Eror yang diperoleh dalam setiap
pola input dijumlahkan untuk menghasilkan bobot baru. Menurut Fausett (1994),
eror (fungsi dari bobot dan bias) yang harus diminimalkan dalam proses pelatihan
adalah eror kuadrat. Fungsi yang dimaksudkan adalah

=
=
m
k
k k
y t E
1
2
) ( 5 . 0 .. (2.7)
Metode paling sederhana untuk merubah bobot adalah metode penurunan gradien
(gradient descent). Besarnya gradien dari fungsi eror terhadap bobot
kj
w adalah
37

m
k
k k
kj kj
y t
w w
E
1
2
) ( 5 . 0 (2.8)
Bobot diubah pada arah dimana unjuk kerja fungsi eror menurun paling cepat,
yaitu dalam arah negatif gradiennya. Sedangkan perubahan bobot dari neuron
pada lapisan output ke neuron pada lapisan hidden adalah

kj
kj
w
E
w

= (2.9)
dengan
kj
w : bobot dari lapisan neuron ke-k ke neuron ke-j,
: laju belajar (learning rate).
Besarnya gradien dari fungsi eror terhadap bobot
ji
v adalah

m
k
k k
ji ji
y t
v v
E
1
2
) ( 5 . 0 .. (2.10)
sedangkan perubahan bobot dari neuron pada lapisan output ke hidden pada
lapisan input adalah

ji
ji
v
E
v

= . (2.11)
dengan
ji
v : bobot dari lapisan neuron ke-j ke neuron ke-i.
: learning rate.

2.5.7. Prediksi
Prediksi merupakan suatu proses yang menghasilkan himpunan output dari
himpunan variabel yang diberikan. Pada umumnya variabel yang dimaksud
adalah data di masa lampau. Ide dasar dari prediksi yakni mencari pendekatan
pemetaan antara data input dan output (Yao dan Tan 1999). Selanjutnya,
diasumsikan bahwa
i
u adalah data hari ini dan
i
v adalah data n hari kemudian.
Jika data n hari kemudian dapat diramalkan dengan menggunakan data hari ini,
maka terdapat pemetaan fungsional dari
i
u ke
i
v dimana ) (
i i i
u v = . Dengan
menggunakan pasangan data lampau ) , (
i i
v u maka sebuah fungsi umum ) ( yang
memuat ) (
i
dapat diperoleh. Fungsi ) ( dapat diperoleh dari simulasi ANN.
38

Secara umum, masalah peramalan dimulai dengan diketahuinya sejumlah data
time-series
n
x x x ,..., ,
2 1
. Permasalahannya adalah memperkirakan berapa harga
1 + n
x berdasarkan
n
x x x ,..., ,
2 1
. Dengan backpropagation, record data digunakan
sebagai data pelatihan.