Anda di halaman 1dari 30

FERTILITAS DALAM PERSPEKTIF DEMOGRAFI DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN DI INDONESIA

MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH Demografi Yang dibina oleh bapak Singgih Susilo

Oleh Muhammad Nur Fahmi Irwan Supriyono Evrilia Retno Ningtyas Adi Widya Krisnawati Ahmad Yusuf (120721435478) (120721435381) (120721435480) (120721435437) (120721435410)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN GEOGRAFI September 2013

Kata Pengantar

Pada mulanya pengambilan topic bahasan dalam makalah ini didasarkan atas kekurang tahuan banyak Mahasiswa termasuk penulis dalam masalah fertilitas. Penyebabnya adalah fertilitas merupakan suatu hal yang sangat kompleks dan sulit untuk dimengerti. Selain itu kebanyakan buku teks yang membahas masalah fertilitas dalam demografi terkadang sangat sulit dimengerti. Factor-faktor itulah yang melatar belakangi penulis untuk membuat makalah ini dengan tujuan untuk memudahkan mahasiswa untuk mempelajari dan mengerti permasalhan-permasalahan dalam demografi. Persoalan-persoalan kemudian muncul, seberapa dalam makalah ini membahas masalah fertilitas dan seberapa mudah mahasiswa dapat memahami isinya? Oleh karena itu penulis menggunakan bahasabahasa komunikatif namun tidak menghilangkan esensi dari isi tulisan itu sendiri. Dalam menyusun sebuah karya tulis ilmiah, godaan utama yang selalu muncul adalah menambahkan materi yang sebelumnya tidak tercakup dalam suatu bab atau pokok bahasan. Hal semacam ini muncul berkali-kali, khususnya ketika semakin banyak sumber yang penulis baca. Namun puji Tuhan, akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Nantinya Makalah ini merupakan sebuah indicator untuk merepresentasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah kami dapatkan selama masa perkuliahan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ilmu social merupakan ilmu yang cenderung lebih dinamis dibandingkan (ilmu-ilmu alam). Dalam mempelajari ilmu ini tidak hanya dengan mempelajari teoriteori yang dulu sudah pernah ada. Akan tetapi harus mempelajari realita secara langsung yang sedang berkembang di masyarakat. Hal tersebut disebatkan karena sifat manusia itu sendiri yang sangat mobile dan memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi. Kedua sifat itulah yang membuat pemikiran manusia terus berkembang, sehingga mempengaruhi kehidupan social masyarakatnya. Begitu dinamisnya kehidupan social masyarakat dapat dilihat dari jumlah penduduk didalamnya. Sebelum pertengahan abad ke 17 tidak terjadi perubahan yang berarti dalam komposisi kependudukannya hal ini disebabkan tingkat pengusasaan tekhnologi pada zaman ini tergolong masih rendah (bogue : 1950). Akan tetapi setelah itu terjadi perkembangan yang cukup pesat dalam bidang tekhnologi, yang menyebabkan tingkat kehidupan manusia cenderung lebih meningkat. Sehingga, jumlah penduduk ikut meningkat pula. Akan tetapi pada pertengahan abad 20, walaupun tingkat penguasaan tekhnologi semakin tinggi. Dibeberapa Negara, terutama di Negara-negara maju kecenderungan peningkatan jumlah penduduk tidak terjadi bahkan cenderung stagnan. Salah satu factor yang mempengaruhi jumlah penduduk tersebut adalah tingkat fertilitas. Tingkat fertilitas ini berkembang sesuai dengan fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Seperti contohnya pada pertengahan abad 17 dengan penguasaan tekhnologi yang semakin baik dan didukung jumlah SDA yang masih cukup melimpah maka, jumlah penduduk semakin bertambah karena mereka beranggapan sangat muda dan gampang untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Sehingga kebanyakan orang tidak percaya dengan teori-teori yang

dikembangkan para ahli pada waktu itu. Terutama teori Thomas Robert Malthus yang mengungkapkan bahwa laju pertumbuhan manusia akan lebih cepat daripada pertumbuhan makanannya (Ida Bagoes, 2000). Namun setelah pertengahan abad 20 teori tersebut hamper menjadi kenyataan sehingga masyarakat mulai membatasi tingkat fertilitasnya. Mempelajari fertilitas memang lebih kompleks apabila dibandingkan dengan mortalitas, karena seorang perempuan hanya dapat meninggal satu kali. Akan tetapi dapat melahirkan lebih dari sekali. Hal inilah yang menyebabkan fertilitas perlu dikaji secara lebih mendalam agar kedepannya lebih muda dalam mempelajari perkembangan fertilitas itu sendiri.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan fertilitas dan apa pengaruhnya dalam proses demografi? 2. Apa sajakah factor-faktor yang mempengaruhi fertilitas? 3. Bagaimanakah cara menghitung dan mempreediksi tingkat fertilitas? 4. Apakah fungsi mempelajari fertilitas? 5. Bagaimanakah tingkat fertilitas di Indonesia? 6. Apakah pengaruh tingkat fertilitas di Indonesia terhadap kehidupan socialmasyarakatnya? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui hakikat dari fertilitas dan hubungan fertilitas dalam proses demografi 2. Untuk mengetahui factor-faktor yng mempengaruhi fertilitas 3. Untuk mengetahui cara memprediksi dan menghitung tingkat fertilitas 4. Untuk mengetahui fungsi mempelajari tingkat fertilitas 5. Untuk mengetahui tingkat fertilitas di Indonesia

6. Untuk mengetahui pengaruh tingkat fertilitas di Indonesia terhadap kehidupan social-masyarakatnya

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Fertilitas dan Hubungannya dengan Proses Demografi Fertilitas biasa disebut dengan kelahiran, namun hal tersebut sebenarnya kurang tepat. Fertilitas adalah terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan: misalnya menangis, bernafas, jantung berdenyut dan sebagainya (Ida Bagoes, 2000). Sehingga yang menjadi syarat bahwa sebuah kelahiran dianggap menjadi sebuah fertilitas adalah bayi yang dilahirkan harus memiliki tanda-tanda kehidupan walaupun hanya satu detik, atau biasanya disebut kelahiran hidup (live birth). Fertilitas erat kaitannya dengan ilmu-ilmu yang mempelajari kependudukan seperti halnya Demografi ataupun Geografi Penduduk. Kajian utama demografi adalah tentang kependudukan, baik tentang kepadatan penduduk, pertumbuhan penduduk dan juga permasalahan-permasalahan dalam penduduk itu sendiri. Menurut Philip M. Hauser dan Dudley Duncan (1959), Demografi adalah studi tentang jumlah, persebaran wilayah, komposisi penduduk dan perubahan-perubahan yang terjadi didalamnya serta penyebab perubahan-perubahan itu sendiri, yang bisanya meliputi fertilitas, mortalitas, migrasi, dan mobilitas social. Menurut IUSSP terdapat 3 proses dalam kajian Demografi, yaitu : 1. Fertilitas 2. Mortalitas 3. Migrasi Ketiga proses tersebut berperan besar dalam perubahan komposisi kependudukan terutama fertilitas. fertilitas merupakan sebuah komponen yang paling kompleks dalam demografi karena seorang perempuan hanya meninggal satu kali, akan tetapi ia dapat melahirkan lebih dari seorang bayi (Ida Bagoes, 2000). Hal tersebut yang membuat pengkajian dan pemerediksian fertilitas sangat sulit dilakukan oleh demograf. DR. RK sembiring (1985) mengemukakan bahwa mengukur fertilitas

merupakan suatu hal yang sangat kompleks karena berbeda dengan mortalitas yang semua dapat mengalaminya. Pada kasus fertilitas tidak semua penduduk dapat melahirkan selain itu diantara yang dapatpun tidak semua mau atau rela untuk melahirkan Selain itu dalam kajian demografi fertilitas dijadikan sebagai factor

permasalahan utama dalam menangani masalah ledakan penduduk. Karena dengan semakin tingginya fertilitas, jumlah penduduk otomatis juga semakin meningkat. Hal tersebut menyebabkan para ahli demografi menyarankan untuk menekan laju fertilitas, karena untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk hanya itu yang dapat dilakukan. Tidak mungkin mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dengan meningkatkan prosentase kematian. Hal tersebut dianggap tidak manusiawi untuk dilakukan. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa fertilitas itu menyangkut jenis berbeda dari kompleksitas masyarakat jika dibandingkan dengan mortalitas yang membuat analogi mekanitis antara dua proses vital yang secara teoritis tidak memadai dan secara intelektual berbahaya ( Calvin, 1985 : 205). 2.2 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas Diawal telah dibahas bahwa fertilitas merupakan sebuah proses yang sangat kompleks. Hal tersebut dapat dilihat dari factor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi fertilitas itu sendiri. Factor-faktor yang mempengaruhi fertilitaspun sangat beragam. Bahkan para ahli demografi memiliki perbedaan pendapat mengenai faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi fertilitas itu sendiri. Menurut Moni Nag (1968) terdapat 8 faktor yang mempengaruhi fertilitas, yaitu. a. Abstinensi setelah melahirakan b. Anstinensi karena sebab-sebab lainnya c. Pasangan absen untuk sementara d. Umur

e. Frekuensi senggama f. Kehilangan sebagian usia produktif karena berbagai factor g. Mempraktekkan senggama terputus dan aborsi h. Mandul dan penyakit kelamin Kedelapan factor yang dikemukakan Moni Nag tersebut lebih menekankan pada factor-faktor biologisnya namun ada juga beberapa ahli yang menekankan pada factor social dan bahkan agama. Menurut frank lomier (1958) system kekerabatan juga mempengaruhi fertilitas. Frank mengatakan bahwa system kekerabatan lineal, yakni system patrilineal dan matrilineal cenderung memberikan dorongan fertilitas yang tinggi. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa system bilateral juga memiliki tingkat fertilitas yang tinggi pula. Dikaji mengenai hubungan agama dengan fertilitas dikemukakan bahwa Islam cenderung memberikan penekanan pada fertilitas yang tinggi dan struktursosial masyarakat-masyarakat islam cenderung mendukung fertilitas yang tinggi. Sementara itu agama budha lebih netral dalam menentukan fertilitas sedangkan Kristen cukup beragam dalam penyikapannya tergantung setiap sekte / alirannya. Contohnya protestan yang menginginkan pembatasan kelahiran. Sementara katolik cenderung lebih bebas. (Lorimer, 1958: 186-189) Menurut Kingsley Davis & Judith Blake Faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya yang memengaruhi fertilitas akan melalui faktor-faktor yang langsung ada kaitannya dengan ketiga tahap reproduksi, yaitu tahap intercourse (hubungan seksual), conseption (pembuahan sel telur oleh sel sperma) dan gestation (kehamilan). Faktorfaktor yang mempunyai kaitan antara ketiga variabel tersebut disebut variabel antara, yang terdiri dari:

6 variabel yang memengaruhi intercouse, yaitu: Umur mulai berhubungan kelamin/kawin pertama.

Selibat permanen : proporsi wanita yang tak pernah melakukan hubungan kelamin. Lamanya berstatus kawin/lamanya masa melajang. Abstinensi (absen dalam melakukan hubungan seksual) secara sukarela. Abstinensi terpaksa (misal: sakit, berpisah ranjang sementara). Frekuensi senggama.

3 variabel yang memengaruhi conception, yaitu: Fekunditas atau infekunditas yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak disengaja. Pemakaian kontrasepsi. Fekunditas atau infekunditas yang disebabkan oleh hal-hal yang disengaja.

2 variabel yang memengaruhi gestation, yaitu: Mortalitas janin karena hal-hal yang tidak disengaja Mortalitas janin karena hal-hal yang disengaja

2.3 Pola Fertilitas Sampai sejauh ini sudah dibicarakan langkah-langkah untuk memperoleh indeks nilai tunggal untuk mengukur fertilitas. Dipandang dari sudut berbagai variabel sudah tentu semua pergeseran fertilitas tidak mungkin dijumlahkan menjadi satu nilai tunggal. Meskipun demikian indeks nilai tunggal mempunyai kelebihan tertentu karena sifatnya sangat sederhana. Di pihak lain para ahli demografi harus juga menyadari beberapa kelemahan dalam membedakan keadaan demografis. Di bawah ini akan dibahas tabulasi statistik data sterilitas secara lebih luas. Gambarannya yang jelas hanya dapat diketahui apabila pola fertilitas tersebut diselidiki dengan teliti. a. Pola Fertilitas Khusus Menurut Umur

Angka kelahiran (yautu fertilitas, dan bukan fekunditas) dimulai dari nol kira pada umur 15 tahun, kemudian memuncak pada umur mendekati 30 tahun, sesudah itu menurun sampai nol lagi kira-kira pada umur 49 tahun. Puncak umur yang sebenarnya maupun angka penurunan sesudah puncah tersebut untuk masing-masing penduduk maupun didalam lingkungan penduduk itu sendiri ternyata berbeda. Perbedaan itu tergantung dari kebiasaan perkawinan, sterilitas, praktek keluarga berencana, maupun factorfaktor lain. Walaupun demikian perbedaan fertilitas itu lebih sering terjadi dalam tingkat kurva ini, dan bukan didalam bentuk umum yang senantiasa konstan untuk setiap penduduk maupun dari waktu ke waktu. Perbedaan yang terjadi selama perjalanan waktu dapat dipelajari dalam beberapa angka fertilitas khusus menurut umur yang tercantum dalam tabel 6.1. Ini merupakan pola fertilitas yang paling umum digunakan.

b. Lamanya Pola Fertilitas Khusus Menurut Perkawinan Semua ukuran fertilitas yang telah diuraikan dapat memberikan hasil perhitungan yang menyesatkan apabila apabila angka perkawinan ternyata abnormal. Apabila karena beberapa alas an tertentu perkawinan sementara waktu akan tertunda, dan kemudian di sebabkan juga karena banyak fertilitas terjadi lebih awal di dalam perkawinan, maka jumlah kelahiran akan menurun, yang kemudian diikuti pula dengan kenaikan yang merupakan kompensasi dengan syarat bahwa fertilitas perkawinan tetap konstan. Demikian pula apabila perkawinan secara temporer malah agak di percepat, jumlah kelahiran akan meningkat, yang kemudian menurun lagi. Fluktuasi jangka pendek yang disebabkan oleh perkawian ini hendaknya dapat disingkirkan dengan meneliti fertilitas perkawinan, dan bukan fertilitas semua wanita. Di kebanyakan Negara lebih dari 90 persen kelahiran terjadi sebagai hasil ikatan perkawinan dan sisanya dapat dihitung secara terpisah.

Salah satu pola ferilitas yang umum ialah lamanya angka fertilitas yang menunjukkan jumlah kelahiran oleh 1000 wanita selama 0,1,2, tahun sesudah perkawinan. Pola tersebut dapat dihitung dengan cara membagi kelahiran oleh ibu dari pada lamanya perkawinan x dengan jumlah perkawinan x tahun sebelum untuk nilai x = 0,1,2, tabel ini (contohnya pada tabel 6.3) dapat dipelajari menurut dua cara. Apabila tabel tersebut dibaca secara vertical, nilainya mencerminkan kehamilan kohor perkawinan tertentu pada saat melampaui tahap dari tahun ke tahun. Di pihak lain apabila dibaca secara horizontal, nilainya mencerminkan fertilitas yang terjadi selama jangka waktu perkawinan tertentu karena perhitungannya dihitung dari kohor sebelumnya sampai ke kohor berikutnya. TABEL 6.3 Ferilitas menurut lamanya masa perkawinan, Australia (jumlah persalinan per 1000 perkawinan menurut berbagai jangka waktu yang berlainan)

Lamanya perkawinan (tahun) Di bawah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Tahun Perkawinan 1909 1910 500 232 289 318 280 252 218 197 177 152 140 125 108 95 77 1919 1920 468 271 258 282 237 213 182 163 143 114 98 77 65 53 45 1929 1930 443 272 234 198 173 149 133 115 98 84 74 61 54 51 49 1939 1940 280 276 224 210 289 173 169 139 113 95 85 70 59 51 41 1949 1950 322 318 293 271 240 212 185 161 137 116 102 84 71 58 45 1959 1960 389 346 339 303 247 202 167 139 118 1965 1966 332 265 296

15-19 20-24

247 64

136 34

140 36

118 30

105

Total

3.471

2.839

2.364 2.422

2.720

(sumber : Demography Bulletin, beberapa tahun) Apabila pada kedua skala tersebut di gunakan pada tahun-tahun tunggal, tabel tersebut dapat juga dipelajari secara diagonal keatas; dalam hal ini nilainya merupakan angka fertilitas untuk jangka waktu perkawinan berikutnya selama satu tahun kalender tertentu. Pola tersebut tidak memperhitungkan umur ibu; dengan demikian jelas bahwa kemungkinan untuk melahirkan dalam jangka waktu 10 tahun sesudah perkawinan tentu akan sangat berbeda apabila perkawinan dilangsungkan pada umur 20 tahun, dan bukan 30 tahun. Degan demikian dengan kondisi demografis yang abnormal, pola tersebut harus digunakan secara hati-hati. Selain itu, untuk masa perkawinan yang lebih lama, nilainya akan terpengaruh oleh perubahan mortalitas maupun migrasi. c. Umur Perkawina dan Pola Fertilitas Khusus Menurut Lamanya Perkawinan Perkembangan yang nyata mengenai angka yang telah diuraikan di dalam paragraph sebelumnya ialah pengukuran fertilitas menurut umur pada saat perkawinan maupun lamanya masa perkawinan. Metode perhitungan memang sama, tetapi harus di tetapkan terhadap umur khusus pada saat perkawinan, dan bukan terhadap semua umur. Keberatan dalam metode tersebut tidak hanya karena banyaknya nilai yang harus difahami (setiap tahun memerlukan pola yang berlainan), tetapi juga fakta bahwa data dalam bentuk ini pada uumnya tidak dapat diperoleh dari himpunan statistik tahunan yang dapat diumumkan.

d. Pola Fertilitas Khusus Menurut Paritas (Parity Specific Fertility Schedules)

Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan program keluarga berencana yang semakin pesat telah cenderung menyebabkan perhatian semakin ditujukan kearah pembentukan jumlah keluarga yang terakhir. Gangguan ekonomi dan sosial dapat juga mempengaruhi kalahiran selama satu jangka waktu tertentu, tetapi bagaimanapun jumlah keluarga yang dikehendaki akhirnya akan dapat dicapai, dan bahwa penduduk akan cenderung mengarah pada frekuensi distribusi tertentu menurut besarnya keluarga. Jumlah kelahiran pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya per 1000 wanita yang berumur 15-49 tahun, kadang-kadang dinyatakan seperti yang tampak di dalam tabel 6.4. I dengan demikian perubahan fertilitas dapat ditentukan sebagai akibat perubahan jumlah relatif rendahnya angka kelahiran (yang dinamakan juga kelahiran paritas yang rendah / low parity brith) atau berubahan frekuensi keluarga yang besar.

Sementara itu perlu pula diperhatikan bahwa didalam angka fertilitas paritas tersebut tidak terhitung perkawinan atau jumlah anak. Penyebutnya secara sederhana adalah jumlah wanita yang berumur 15-49 tahun. Apabila pada suatu jumlah penduduk hanya terdapat sedikit ibu yang mempunyai x anak, maka beberapa x+1 anak akan dilahirkan. Dengan demikian angka tersebut merupakan refleksi struktur penduduk yang sudah ada, dan menunjukkan juga tingkat fertilitas yang berlaku saat itu. Tabel Angka Fertilitas Khusus Paaritas Australia Tahun Kelahiran Nuptial per 1000 wanita yang berumur 15-49 tahun 1 1920-24 1925-29 1930-34 1935-39 1940-44 1945-49 2 26,4 23,9 20,0 23,2 27,6 31,9 3 4 5-9 10 dan ke atas 20,1 13,6 9,3 17,3 1,7 18,2 12,5 8,4 15,9 1,5 15,3 9,8 6,4 11,8 1,1 15,4 8,9 5,2 8,8 0,8 19,1 10,3 5,4 7,6 0,6 25,1 13,9 6,8 7,8 0,5

1950-54 1955-59 1960-64 1965-69

30,2 28,8 27,7 27,9

26,7 25,4 23,6 21,7

16,7 17,8 16,9 13,3

8,4 9,8 9,8 6,9

7,7 9,3 9,9 6,7

0,5 0,4 0,4 0,3

(sumber : Demography Bulletin, beberapa tahun)

e. Lamanya Masa Perkawinan dan Pola Fertilitas Khusus Menurut Paritas Kahiran di beberarapa Negara kadang-kadang diumumkan menurut paritas dan lamanya masa perkawinan dengan meneliti kohor perkawinan suatu tahun tertentu menurut tahun per tahun akan dapat dihitunhitg (tanpa memperhitungkan mortalitas dan migrasi) jumlah wanita yang menikah menurut lamanya masa perkawinan itu sampai sekarang masih belum mempunyai anak, dengan cara mengurangi jumlah kelahiran pertama dari kohor itu tahun pertahun. Dengan menggunakan nilai terebut sebagai jumlah wanita yang menghadapi resiko kehamilan, jumlah kelahiran pertama oleh kohor itu dan angka kelahiran pertama menurut lamanya masa perkawinan dapat juga dihitung. Kedua, walaupun demikian angka kelahiran ketiga, dan lain-lain untuk setiap lamanya masa perkawinan tidak dapat dihitung menurut prosedur tersebut apabila tidak dilandasi oleh asumsi mengenai distribusi interval antara semua kelahiran. Perhitungannya cukup kompleks, dan mortalitas maupun migrasi harus tidak diperhitungkan, demikian pula harus disusun perkiraan untuk mencocokkan tahun perkawinan dan lamanya masa perkawinan. Dengan demikian menurut sistem pendekatan tersebut jarang diterapkan meskipun secara teoristis memang mungkin.

f. Rasio Deret Paritas (Parity Progression Ratio) Rasio deret paritas ialah suatu istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan suatu proporsi wanita paritas tertentu (x anak) yang menuju ke paritas berikutnya (x+1 anak). Rasio deret paritas tidak dapat diperoleh dari data umum yang diumumkan oleh para pejabat statistik resmi tanpa didukung

oleh asumsi mengenai interval kelahiran. Dengan demikian rasio tersebut jarang diumumkan.

2.4 Perhitungan Tingkat Fertilitas Terdapat dua perhitungan dalam fertilitas yaitu perhitungan fertilitas tahunan (yearly performance) dan Fertilitas kumulatif. A. Perhitungan Fertilitas Tahunan Perhitungan ini menghitung tingkat fertilitas pada suatu kelompok tertentu dan pada tahun tertentu selama satu tahun. Serta dihubungkan dengan penduduk yang memiliki resiko melahirkan pada tahun tersebut.Perhitungan ini terdiri dari 3 perhitungan yaitu : 1. CBR (Crude Birth Rate) Angka kelahiran kasar yaitu jumlah kelahiran per 1000 orang didalam suatu jumlah penduduk tertentu. Pengukuran ini merupakan pengukuran fertilitas paling sederhana karena data yang diperlukan hanya jumlah seluruh kelahiran dan jumlah seluruh penduduk.

CBR =

B = jumlah kelahiran pada tahun x P = jumlah penduduk pada tahun x K = konstanta (1000)

Contoh: Jumlah penduduk Bengkulu pada tahun 2010 1.715.158 jiwa. Jumlah kelahiran pada tahun tersebut sebesar sebesar 24600 jiwa. Maka CBR provinsi Bengkulu adalah CBR =

= 14,34 Dari CBR hanya dapat menyusun penilaian yang bersifat umum saja karena, dari nilai itu tidak mungkin terjadi perbedaan rasio jenis kelamin, perbedaan distribusi umur dan penundaan atau lebih cepatnya perkawinan. Akan tetapi meskipun demikian ketika jumlah data terbatas maka perhitungan ini dapat menjadi perhitungan yang paling relevan untuk digunakan. 2. GFR (General Fertility Rate) Angka kelahiran umum adalah perhitungan jumlah kelahiran per 1000 wanita berumur 15 sampai 49 tahun. GFR = B = jumlah kelahiran pada tahun x Pf(15-49) = jumlah penduduk wanita 15-49 tahun pada tahun x K = konstanta (1000) Contoh: Jumlah kelahiran dibengkulu pada tahun 2010 sebesar 24600 sedangkan jumlah penduduk wanita usia 15-49 tahun sebesar 605.759. hitunglah GFR Bengkulu! GFR = = 39.62 Sampai tingkatan tertentu perhitungan ini dapat memperbaiki kelainan yang terjadi dalam CBR sebagai akibat kelainan rasio jenis kelamin didalam jumlah penduduk atau kelainan distribusi umur. 3. ASFR (Age Specific Fertility Rate) Angka fertilitas khusus menurut umur merupakan perhitungan tingkat fertilitas menurut banyaknya kelahiran dari wanita pada kelompok umur tertentu(umur produktif) per seribu wanita dipertengahan tahun.

ASFRi = Bi = jumlah kelahiran dari wanita pada kelompok umur i Pfi = jumlah wanita kelompok umur I pada pertengahan tahun K = konstanta (1000) Contoh: ASFR penduduk Jakarta pada tahun 2000 Umur wanita Jml penduduk Jumlah (1) wanita (2) kelahiran (3) 15-19 585.414 15.221 20-24 589.946 57.225 25-29 505.509 61.672 30-34 399.754 33.979 35-39 330.342 13.544 40-44 257.850 2.579 45-49 188.589 754 jumlah 2.857.404 187.974

ASFR (4) (3)/(2) x 1000 26 97 122 85 41 10 4

Grafik ASFRi
Angka fertilitas khusus menurut umur per 1000 140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 Series1

Dengan menerapkan ukuran fertilitas semacam ini dapat disingkirkan salah satu klemahan indeks yang terdiri dari satu nilai, yaitu dengan cara menghilangkan distorsi yang disebabkan oleh perbedaab

komposissi umur penduduk. Meskipun demikian tidak urun masih juga diketemukan petunjuk fertilitas yang menyesatkan, terutama apabila angka kelahiran khusus menurut umur diterapkan pada saat perkawinan tertunda atau malah dipercepat. B. Pengukuran Fertilitas Kumulatif Pengukuran ini mengukur rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh wanita pada waktu wanita itu memasuki usia subur hingga melampaui batas reproduksinya (umur 15-49 tahun). menunjukkan kumulatif fertilitas selama masa reproduksinya. Meskipun secara relative bentuk angka fertilitas khusus menurut umur memang cukup cocok apabila didispersikan didalam kelompok umur lima suatu rumus yang cocok agar dapat diterapkan untuk mengkombinasikan berbagai angka khusus menurut individual.

1. TFR (Total Fertility Rate) Merupakan perhitungan jumlah kelahiran hidup tiap 1000 wanita hingga akhir masa reproduksinya. Angka TFR diperoleh dengan

menggabungkan berbagai angka fertilitas khusus umur untuk wanita yang tercakup didalam setiap umur. Apabila kelompok umur lima tahun yang digunakan maka jumlahnya harus dikalikan lima karena, merupakan jumlah angka pada setiap umur individu yang diperlukan. TFR=

5 = kelompok umur ASFRi = total ASFRi Contoh : Umur wanita 15-19 20-24 25-29 ASFR 26 97 122

30-34 35-39 40-44 45-49

85 41 10 4

TFR = 5(26+97+122+85+41+10+4) = 5 x 385 = 1925 per 1000 penduduk wanita Dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap penduduk wanita usia 15-49 rata-rata memiliki dua orang anak. Meskipun TFR mencerminkan penduduk wanita berumur 15-49 tahun yang sama sebagaimana halnya sama dengan ASFR, namun pada hakekatnya angka tersebut merupakan perbaikan atas angka ASFR karena dapat menghilangkan berbagai perbedaan distribusi umur antara 15-49 tahun. 2. GRR (Gross Reproduction Rate) Angka reproduksi bruto merupakan salah satu rumus reproduksi yang paling sering dipergunakan. GRR hanya menunjukkan jumlah angka kelahiran khusus menurut umur 15-49 tahun yang dihitung untuk kelahiran wanita saja, dan mencerminkan jumlah rata-rata anak wanita tanpa memperhitungan kematiannya, yang akan menggantikan ibu mereka dengan dilandasi asumsi bahwa angka untuk tahun yang bersangkutan tetap berlaku dalam jangka waktu tidak tentu. GRR merupakan ukuran tentang jumlah rata-rata anak wanita yang dilahirkan oleh wanita selama masa hidupnya. Perhitungan GRR pada hakikatnya sama dengan TFR. Akan tetapi karena GRR terbatas hanya satu jenis kelamin saja maka angka yang muncul hanya separuh TFR saja. Secara simbolis GRR dapat dinyatakan dengan dua rumus. 1. Menggunakan ASFR bagi perempuan GRR=

ASFRfi : angka kelahiran menurut umur untuk bayi perempuan untuk perempuan pada kelompok umur i

Contoh: Jumlah kelahiran bayi laki-laki dan bayi wanita berturut-turut adalah 105 dan 100.

Umur wanita (1) 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 Jumlah

Jumlah penduduk wanita (2) 585.414 589.946 505.509 399.754 330.342 257.850 188.589 2.857.404

Jumlah kelahiran L+P (3) 15.221 57.225 61.672 33.979 13.544 2.579 754 187.974

Jumlah kelahiran bayi wanita (4)= (3) x (100/205) 7.425 27.915 30.084 16.575 6.607 1.258 368 90.232

ASFR bayi wanita (5)= (4)/(2) x 1000 13 47 60 42 20 4 2 188

GRR= 5 = 5 x 188 = 940

2. Menggunakan TFR dengan rasio jenis kelamin pada saat lahir Dapat menggunakan rumus ini apabila Data yang diketahui adalah TFR dan rasio jenis kelamin bayi laki-laki dan wanita saat lahir GRR = Contoh: TFR per 1000 wanita usia 15-49 tahun di Tasikmalaya tahun 2001 adalah 1925. Adapun rasio jenis kelamin saat lahir adalah 105 (terdapat 105 bayi laki-laki dibanding 100 bayi perempuan). Hitung GRRnya

GRR = = 939 3. NRR (Nett Reproduction Rate) NRR adalah jumlah kelahiran bayi perempuan oleh sebuah kohor hipotesis dari 1000 perempuan dengan memperhitungkan kemungkinan meninggalkan perempuan-perempuan itu sebelum mengakhiri masa reproduksinya. Misalnya sebuah kohor yang terdiri dari 1000 bayi perempuan, beberapa dari perempuan itu memiliki potensi untuk melahirkan hingga umur 20, sebagian hingga umur 30, sebagian hingga umur 40 dan seterusnya dan hanya sebagian yang dapat melewati masa produktif (50 tahun). Jadi dari kohor tersebut dihitung jumlah perempuanperempuan yang dapat bertahan hidup pada umur tertentu dengan mengalikannya dengan kemungkinan hidup dari waktu lahir hingga mencapai usia tersebut. Dalam prakteknya perhitungan NRR dapat didekati dengan rumus: NRR = Contoh: Golongan umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 ASFRfi per 1000 52,99 99,32 82,62 70,65 49,35 23,07

ASFRfi

nLx

ASFRfi x 3,79868 3,70775 3,59285 3,46285 3,34628 3,21670 201,9 386,25 296,84 245,03 165,09 74,21

379.868 370.775 359.285 346.825 334.528 321.670

44-49

7,20

307.228 Jumlah

3,07288

22,12 1.390,83

Sumber : Mantra, 1985 Angka NRR sebesar 1.390,83 beraarti dari 1000 perempuan selama periode masa reproduksinya rata-rata mempunyai 1391 anak perempuan. 2.5 Fungsi Mempelajari Fertilitas Angka kelahiran yang tinggi di Indonesia adalah salah satu faktor yang menjadi pertimbangan bagi pemerintah Indonesia dalam mengambil keputusan serta membuat sebuah kebijakan. Di negara yang memiliki populasi penduduk terbanyak ke-4 di dunia setelah China, India, Amerika sekitar 1,98% pertahun dengan total populasi penduduk mencapai 236.355.303 jiwa. Penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengetahui seberapa tingginya angka kelahiran di wilayah Indonesia. Sehingga bisa diterapkan kebijakan-kebijakan dengan perencanaan yang matang. Tingkat kelahiran adalah salah satu faktor penting yang dianalisa dalam ilmu kependudukan, selain dari faktor tingkat kematian, serta tingkat migrasi. Tingkat kelahiran mempengaruhi tingkat pertumbuhan penduduk secara alami. Dalam penganalisaannya, ada metode-metode yang menggunakan rumus-rumus perhitungan, untuk mengukur secara tepat angka kelahiran dari populasi penduduk di dalam wilayah, sehingga bisa diukur seberapa tingginya tingkat kelahiran di wilayah tersebut. Dengan begitu kita tahu fungsi mempelajari tingkat kelahiran di Indonesia, antara lain: 1. Mengetahui tingkat pertumbuhan penduduk disetiap wilayah di dalam lingkungan negaranya khususnya Indonesia, sehingga dapat secara efektif mampu menerapkan hukum serta aturan-aturan yang dapat digunakan untuk mengawasi dan mengatur hak serta kewajiban dari tiap-tiap anggota masyarakat. 2. Bagi pemerintah informasi tentang pertumbuhan penduduk sangat membantu di dalam menyusun perencanaan baik untuk pendidikan, perpajakan,

kesejahteraan, pertanian, pembuatan jalan-jalan atau bidang-bidang lainnya, yang dilakukan pemerintah menjadi lebih tepat sasaran jika

mempertimbangkan komposisi penduduk yang ada sekarang dan yang akan dating. 3. Menjelaskan pertumbuhan penduduk pada masa lampau, kecenderungannya dan persebarannya dengan sebaik-baiknya dan dengan data yang tersedia. 4. Mengembangkan hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk dengan bermacam-macam aspek organisasi sosial, ekonomi, budaya, lingkungan dan lain-lain. 5. Memperkirakan pertumbuhan penduduk (proyeksi penduduk) pada masa yang akan datang dan kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya. 6. Evaluasi kinerja pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dengan melihat perubahan komposisi penduduk yang ada sekarang dan yang lalu beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. 7. Melihat peningkatan standar kehidupan melalui tingkat harapan hidup ratarata penduduk, sebab tidak ada ukuran yang lebih baik kecuali lamanya hidup sesorang di negara yang bersangkutan 8. Melihat seberapa cepat perkembangan perekonomian yang dilihat dari ketersediaan lapangan pekerjaan, persentase penduduk yang ada di sektor pertanian, industri dan jasa. 9. Sebagai pertimbangan bagi tiap-tiap kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, pada tiap-tiap wilayah negara, supaya tidak terjadi kesalahan dalam penerapan dan realisasi, serta sosialisasinya terhadap masyarakat.

2.6 Tingkat Fertilitas di Indonesia Permasalahan kependudukan terutama mengenai jumlah penduduk memang merupakan permasalahan yang sedang dialami seluruh negara didunia. Bayangkan saja pada tahun 2012 saja penduduk didunia tercatat lebih dari 7 milyar jiwa. Setiap

tahun jumlah itupun terus menerus bertambah dan belum menunjukkan adanya penurunan. Sumbangan terbesar pertambahan penduduk dunia disumbang oleh Negara berkembang, Termasuk didalamnya Indonesia. Indonesia menempati peringkat ke empat setelah China, India, dan Amerika untuk masalah jumlah penduduk. Jumlah penduduk Indonesia menurut sensus tahun 2010 sebesar 237.641.326 jiwa dengan pertumbuhan penduduk sebesar 1,3% per tahun. Besarnya angka pertambahan penduduk Indonesia tersebut disebabkan tingkat fertilitas cukup tinggi hal tersebut dapat diketahui dengan menghitung CBR pada tahun 2010. CBR =

= 24,51 jiwa Hal tersebut mengindikasikan bahwa setiap 1000 penduduk terdapat 25 kelahiran bayi. Fertilitas di Indonesia bias terus bertambah apabila tidak upaya untuk mengendalikan angka kelahiran. Hal ini mengingat piramida penduduk Indonesia yang menunjukkan jumlah perempuan usia produktif (15-49 tahun) berjumlah sangat besar.

Sumber : http://sp2010.bps.go.id/index.php

Selain dapat diketahui melalui perhitungan CBR secara manual, menurut sensus penduduk pada tahun 2010 TFR di Indonesia juga cukup tinggi. Berikut table TFR tiap provinsi Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2010. Tabel Total Fertility Rate pada tiap provinsi di Indonesia pada tahun 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau 2010 2.79 3.01 2.91 2.82 2.51 2.56 2.51 2.45 2.54 2.38

DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA

1.82 2.43 2.20 1.94 2.00 2.35 2.13 2.59 3.82 2.64 2.56 2.35 2.61 2.43 2.94 2.55 3.20 2.76 3.33 3.56 3.35 3.18 2.87 2.41

Sumber: Badan Pusat Statistik (berdasarkan sensus penduduk tahun 2010)

Dari tabel tersebut menunjukkan TFR yang berfariasi antar tiap provinsi pada tahun 2010. TFR terendah dicapai oleh provinsi DKI Jakarta dengan 1,82 dan tertinggi diperoleh oleh NTT dengan 3,82. Dibanding hasil survey tahun 2007 TFR Indonesia memang cenderung mengalami penurunan karena pada tahun 2007 TFR Indonesia

sebesar 2,60. Namun hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai acuan bahwa laju pertumbuhan penduduk akan mengalami penurunan. karena idealnya TFR yang diperoleh sebesar 2,0. Apabila dibandingkan dengan sensus yang dilakukan pada tahun 2000 pada 2010 termasuk mengalami peningkatan karena besarnya TFR pada tahun 2000 adalah 2,27.

2.7 Pengaruh Fertilitas Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat Indonesia

Sangat berbeda dengan perubahan-perubahan mortalitas sesudah perang dunia kedua di Negara-negara berkembang, pola-pola fertilitas di sebagian besar penjuru dunia tidak menunjukkan adanya perubahan ketingkat yang lebih rendah. Memang, yang terjadi adalah fertilitas yang tetap tinggi, dengan relative rendahnya mortalitas karena peningkatan layanan kesehatan dan standard hidup. Selain itu tidak ada migrasi internasional yang berarti, menyebabkan pertumbuhan penduduk di Negaranegara sedang berkembang terus meningkat. Hal tersebut memunculkan masalahmasalah social, ekonomi dan politik (Calvin Goldsckfider, 1985). Permasalahan-permasalahan yang muncul akibat tingginya tingkat fertilitas juga dialami oleh Indonesia sebagai salah satu Negara yang sedang berkembang. Tingginya fertilitas ini mengakibatkan permasalahan seperti kurangnya pemenuhan gizi untuk bayi, kemiskinan, dan konflik social dalam masyarakat, beban tanggungan tinggi. Rasio beban tanggungan penduduk Indonesia tergolong cukup tinggi yaitu sebesar 53,08 tiap 100 penduduk produktif. Menurut Ida Bagoes (2000) tingginya angka dependensi ratio merupakan factor penghambat pembangunan ekonomi Indonesia, karena sebagian pendapatan yang harus diperoleholeh golongan yang produktif terpaksa harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan golongan yang tidak produktif. Terhambatnya pembangunan menyebabkan persebaran penduduk kurang merata, karena konsentrasi penduduk hanya terjadi di daerah dengan tingkat pembangunan tinggi saja. Pulau jawa dengan tingkat pembangunan yang tinggi menjadi tempat utama konsentrasi penduduk. Hal tersebut menimbulkan banyak sekali

masalah seperti kurangnya lahan untuk tempat tinggal, hingga konflik social karena tingginya kebutuhan ekonomi.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Fertilitas adalah terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan: misalnya menangis, bernafas, jantung berdenyut dan sebagainya. Banyak sekali factor-faktor yang mempengaruhi fertilitas antara lain social, ekonomi, kesehatan dan agama. Perbedaan factor tersebut tergantung latar belakang ahli yang mengemukakan. Namun walau bagaimanapun kesemua factor yang disebutkan harus melewati 11 variabel antara yang dikemukakan oleh Kingsley Davis & Judith Blake. Terdapat dua jenis perhitungan untuk menghitung fertilitas yaitu perhitungan fertilitas tahunan, dan kumulatif. Perhitungan fertilitas tahunan terdiri dari CBR, GFR, dan ASFR. Sedangkan perhitungan kumulatif terdiri atas TFR, GRR, NRR. Semua perhitungan dalam fertilitas ini dapat digunakan sesuai kebutuhan data. Fertilitas di Indonesia tergolong tinggi hal tersebut dibuktikan dari perhitungan-perhitungan dan didukung hasil sensus yang dilakukan pemerintah pada tahun 2010. Tingginya fertilitas di Indonesia menimbulkan banyak permasalahan baik disektor ekonomi, politik dan social.

3.2 Saran Dalam pertimbangan mengenai berbagai macam lembaga social dan subsistem masyarakat yang membentuk pola penurunan fertilitas dalam proses modernisasi, salah satu hal yang penting namun diabaikan ialah peranan lembagalembaga politik. Pemerintah sebagai salah satu alat politik seharusnya dapat membuat peraturan yang tegas untuk mengatur pola fertilitas dalam masyarakat. Pengendalian fertilitas juga dapat dilakukan dengan cara meningkatkan taraf hidup masyarakat dan meningkatan pelayanan masyarakat. Dengan meningkatnya standard hidup masyarakat maka akan muncul suatu pola fikir tentang value of children. Pola fikir inilah nantinya yang dapat menekan tingginya tingkat fertilitas dalam masyarakat.

Daftar Pustaka Goldsckfider, Calvin. 1971, Population Modernisation and Social structure, California: University of California. Hauser, Philip M., and Otis Dudley Duncan, 1959. The Study of Population: An Investory and Apprasial. Chicago: The University of Chicago Press Hamim, Syaifullah. 2013. Masalah Kependudukan di Indonesia, (Online), (http://hamimincore.blogdetik.com/2013/05/25/masalah kependudukan-diindonesia/), diakses 19 September 2013. Mantra, Ida Bagoes. 2000, Demografi Umum, Yogyakarta : Pustaka Pelajar Pollard AH, dkk. 1982. Teknik Demografi, Yogyakarta : Bina Aksara Rahardja, Prathama. 2004. Dasar-dasar Demografi. Jakarta: fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sembiring, RK. 1985 : Demografi , Jakarta : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta Singarimbun, Masri, 1996 : Penduduk dan Perubahan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar