Anda di halaman 1dari 20

EVALUATION OF BODY COMPOSITION INDICES (INCI INTERPRETATION)

MAKALAH
Ditulis untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Nutrition Assessment

oleh Fardani Maknun (135070301111051)

PROGRAM STUDI GIZI KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014

KATA PENGANTAR
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Nutrition Assessment yang berjudul ASSESSMENT OF BODY COMPOSITION (CIRCUMFERENCE : HEAD CIRCUMFERENCE, MUAC, WHR, CALF AND CHEST CIRCUMFERENCE). Pemilihan judul makalah ini bertujuan untuk menjelaskan cara pengukuran komposisi tubuh dengan menggunakan metode lingkar yang benar dan tepat. Adapun makalah ini berisi penjelasan mengenai cara atau langkah dalam mengukur komposisi tubuh dengan menggunakan metode lingkar. Pada proses penyusunan makalah, penulis berusaha menguraikan dan mengemukakan masalah sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan penulis serta didukung oleh beberapa literatur yang relevan. Metode kajian yang digunakan oleh penulis yaitu metode kajian pustaka. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik berupa bimbingan, dorongan, dan sebagainya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Harapan penulis agar makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun masyarakat di Indonesia. Namun penulis sadar makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan masukan baik kritik maupun saran dari pembaca.

Malang, Maret 2014

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Status gizi merupakan suatu hal penting yang harus dipahami oleh tiap-tiap individu. Status gizi tersebut menjadi penting karena merupakan salah satu indikator untuk mendeteksi besarnya peluang sakit pada seseorang. Pengukuran status gizi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara langsung dan tidak langsung. Salah satu macam pengukuran status gizi dengan cara langsung adalah dengan menggunakan pengukuran antropometri. Pengukuran antropometri biasanya digunakan untuk mengukur ukuran tubuh (body size) dan komposisi tubuh (body composition). Pada pengukuran body composition, seseorang dapat mengukur massa lemak yang akan dikaitkan dengan peluang orang tersebut terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan massa lemak dalam tubuh. Tentunya ada banyak macam pengukuran body composition beserta dengan kelemahan dan kelebihannya dalam masingmasing cara pengukuran. 1.2 Rumusan Masalah a. Apa saja metode yang dapat digunakan untuk pengukuran body composition? b. Apa saja kekurangan dan kelebihan dari masing-masing metode yang dapat digunakan dalam pengukuran body composition? c. Bagaimana cara mengevaluasi data yang diperoleh dari pengukuran body composition? d. Bagaimana cara menginterpretasikan data yang diperoleh dari pengukuran body composition? 1.3 Tujuan Penulisan a. Mengetahui macam metode dalam pengukuran body composition. b. Mengetahui kekurangan dan kelebihan dari masing-masing metode pengukuran body composition. c. Mengetahui cara mengevaluasi data yang diperoleh dari pengukuran body composition. d. Mengetahui cara menginterpretasikan data yang diperoleh dari pengukuran body composition. 1.4 Manfaat Penulisan Penulisan makalah diharapkan dapat menjadi bahan kajian Ahli Gizi maupun pembaca mengenai cara pengukuran komposisi tubuh, sekaligus cara mengevaluasi dan menginterpretasikan dari data hasil pengukuran tersebut. Selain itu melalui penulisan makalah juga diharapkan dapat memberikan informasi dan pertimbangan mengenai cara pengukuran komposisi tubuh dan cara mengevaluasi serta menginterpretasikan data hasil pengukuran.

BAB II PEMBAHASAN Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthoropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran tubuh. Pengertian ini bersifat sangat umum sekali (Supariasa, dkk, 2002). Sedangkan sudut pandang gizi, Jelliffe (1966) mengungkapkan bahwa antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Ada 2 metode pengukuran body composition yang biasa dilakukan, yaitu: A. 2 compartment model yang membagi berat tubuh menjadi 2 komponen yaitu massa lemak dengan massa non-lemak. 2 compartment model ini paling banyak digunakan untuk mengukur komposisi tubuh. 2 compartment model dapat dihitung dengan rumus: Body weight = Fat Mass + Fat Free Mass B. 4 compartment model yang membagi berat tubuh menjadi 4 komponen yaitu massa lemak, total cairan dalam tubuh, massa protein, massa tulang dan glikogen ( dalam jumlah sedikit, sehingga sering kali diabakikan ). 4 compartment model dapat dihitung dengan rumus: Body Wieght = Fat Mass + Total Body Water + Protein Mass + Bone Mass + Glycogen Dari dua metode pengukuran komposisi tubuh tersebut, massa lemak selalu menjadi perhatian utama. Hal ini karena lemak adalah komposisi tubuh yang bersifat buruk sehingga dijadikan sebagai prediktor untuk menentukan resiko terjadinya penyakit degenerative. Lemak tubuh juga merupakan komponen terbanyak dalam tubuh kita. Komposisi lemak dalam tubuh setiap manusia berbeda. Tabel 1. Distribusi Lemak dalam Tubuh Pria dan Wanita (Gibson, 1993) Fat Location Men Women Essential fat (lipids of the bone marrows, CNS, 2,1 4,9 mammary glands, and other organs) Storage fat (depot) 8,2 10,4 Subcutaneous 3,1 5,1 Intermuscular 3,3 3,5 Intramuscular 0,8 0,6 Fat of thoracic and abdominal cavity 1,0 1,2 Total fat 10,5 15,3 Body weight 70,0 56,8 Percentage fat 14,7 26,9

Pengukuran Massa Lemak Pengukuran massa lemak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Selain kita harus mengetahui cara perhitungan dari data yang telah dihasilkan, tentunya kita juga harus kemudahan dan kesulitan dari masing-masing cara. Cara perhitungan lemak tubuh tersebut disesuaikan oleh jenis pengukuran, jenis kelamin dan usia. 1. Triceps Skinfolds Triseps skinfold merupakan pengukuran lemak pada titik tengah bagian belakang lengan atas tangan yang jarang digunakan.Tebal lemak pada triseps ini merupakan suatu area yang sering digunakan untuk mengestimasi secara tidak langsung ukuran dari tempat penyimpanan lemak subkutan karena pada area ini dianggap yang paling memprosentasikan lemak tubuh. Anggapan ini sebenarnya tidak benar, karena distribusi lemak subkutan tidak seragam pada seluruh tubuh dan bervariasi pada setiap jenis kelamin, ras, dan usia. Namun, pengukuran triseps sering digunakan karena mudah, sopan. Setelah mendapatkan data ketebalan trisep, maka dapat dicari persamaan median, sebagai berikut : % median = Tabel 2. Median Ketebalan Trisep Berdasar Umur dan Jenis Kelamin (Gibson, 1993)

Setelah mendapatkan persentase median, maka kita bisa menginterpretasikan hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi antropometri.

Tabel 3. Klasifikasi Evaluasi Fat Status (Frisancho,1990)

Contoh soal : Ny. X berumur 23 tahun, memiliki tebal trisep 17 mm. Berapa persentil ketebalan trisep dan bagaimana status lemaknya? % median = = 91,8%. Status lemak Ani adalah excess fat atau lemak berlebih.

2. Subscapular Skinfolds Bagian subscapular terletak di daerah belakang tubuh di bawah tulang belikat pada bagian punggung kiri. Subscapular skinfold digunakan untuk mengukur jaringan adipose subkutan dan ketebalan kulit. Subscapular skinfold memungkinkan untuk memprediksi total lemak tubuh, tekanan darah dan kadar lemak dalam darah. Pada subscapular setidaknya dilakukan 2 kali pengukuran dan perbedaan diantara keduanya harus kurang dari 1 mm. Setelah mendapatkan data ketebalan trisep, maka dapat dicari persamaan median, sebagai berikut : % median =

Tabel 4. Persentil Ketebalan Subscapular Berdasarkan Usia dan Kelamin (Gibson, 1993 )

Setelah mendapatkan persentase median, maka kita bisa menginterpretasikan hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi antropometri. Tabel 5. Klasifikasi Evaluasi Fat Status ( Frisancho, 1990 )

Contoh soal : Lala berumur 18 tahun, memiliki tebal subscapular 10mm. Berapa persentil ketebalan subscapular dan bagaimana status lemaknya ? % median = = = 76,9%. Status lemak Lala adalah above average.

3.

Triceps and Subscapular Contoh pengukuran massa lemak multiple ini adalah pada penjumlahan antara hasil pengukuran trisep dan hasil pengukuran subskapula, dengan rumus :

% median = Tabel 6. Persentil Ketebalan Trisep+Subscapular ( Gibson, 1993 )

Tabel 7. Klasifikasi Evaluasi Fat Status ( Frisancho, 1990 )

Contoh soal : Seorang wanita berusia 43 tahun memiliki ketebalan trisep 12 mm dan subscapular 16 mm. Bagaimanakah status gizi wanita tersebut ? % median =

= 65,11 %

Dengan nilai 65,11 %, status gizi dan jumlah lemak wanita tersebut adalah normal. 4. Triseps, Suprailliac, Abdomen, Paha Lemak tubuh dapat juga diukur melalui pengukuran bisep, suprailiac, abdomen, dan paha (thigh). Namun, sebenarnya semua jenis pengukuran lemak melalui kulit menghasilkan perhitungan untuk persamaan penghitungan lemak tubuh dengan rumus : Tabel 8. Tabel Pengukuran Persentase Lemak Jika Diketahui Ketebalan Triseps, Suprailliac, Abdomen, dan Paha Rumus Laki- Laki % F = 0,29288 (sum) 0,0005 (sum)2 + 0,15845 (usia) 5,76377 % F = = 0.29669 (sum) 0.00043 (sum)2 + 0.02963 (usia) + 1.4072 Ket :Sum = jumlah 4 komponen pengukuran

Perempuan

Cara perhitungan lemak tubuh tersebut disesuaikan oleh jenis pengukuran, jenis kelamin dan usia.

5.

Bayi dan anak usia 4 11 tahun Pada dasarnya perhitungan pada bayi dan anak usia 4 11 tahun itu sama dengan orang dewasa. Dapat menggunakan triceps skinfold, subscapular skinfold, atau pun menggunakan multiple skinfold. Setelah pengukuran skinfold thicknes, hasilnya bisa digunakan untuk menghitung persentase median sesuai dengan skinfold yang digunakan menggunakan rumus yang telah ada di atas. Dan kemudian hasil persentase median tersebut dapat kita interpretasikan kedalam tabel berikut : Tabel 9. Klasifikasi Evaluasi Fat Status ( Frisancho, 1990 )

Namun, pada bayi dibawah 4 tahun sebaiknya tidak menggunakan pengukuran skinfold, karena pengukuran skinfold dapat menyakiti bayi tersebut. Untuk bayi kurang dari 4 tahun sebaiknya digunakan BIA (Bioelectrical Impedance Assay), DXA (X-Ray spechtrophometry), atau alat yang tidak perlu mencubit bayi. Jika menggunakan alat tersebut akan lebih mahal tetapi akan sangat mudah. Sedangkan untuk anak usia 4 11 tahun ada rumus tersendiri untuk mengestimasi jumlah lemak tubuh. Slaughter et al. dan Goran et al. menggunakan rumus untuk menghitung fat mass pada anak yaitu : FM (kg) = 0,38x body weight + (0,30 x triceps) + (0,87 x gender) + (0,81 x etnichity) - 9,42 Keterangan : 6. Gender = 1 untuk laki-laki, 2 untuk perempuan Etnichity = 1 untuk Caucasians, 2 untuk African-Americans

Waist Hip Ratio (WHR) WHR dilakukan untuk mengetahui distribusi dari lemak pada subkutan dan pada jaringan adipose intra-abdomen. Pengukuran waist dilakukan pada pinggang sedangkan pengukuran hip dilakukan pada pinggul. Yang disebut lingkar pinggang adalah bagian di atas pusar dan di bawah dada, yakni bagian terkecil dari tubuh. Pinggul adalah bagian paling lebar dari tubuh. WHR digunakan untuk mengukur banyaknya cadangan lemak pada perut, pinggul dan pantat.Berat badan yang terpusat di sekitar abdomen sering disebut apple shape, sedangkan yang terkonsentrasi di sekitar pinggul disebut pear shape. Orang dengan berat badan berlebih yang terpusat di daerah abdomen berresiko lebih besar untuk mengidap penyakit-penyakit degenerative dibanding dengan orang yang berat badannya terpusat di daerah pinggul dan paha

Contoh gambar pengukuran waist hip ratio

Apple shape vs. Pear shape

Pengukuran massa lemak tubuh dengan metode waist hip ratio ini dianggap lebih presisi daripada menggunakan metode skinfold. Pengukuran waist hip ratio dapat dilakukan dengan rumus : WHR = Nilai batas ambang pada pria dan wanita berbeda. Ambang batas (cut-off) resiko terhadap penyakit untuk laki-laki (WHR) 1 sedangkan untuk wanita (WHR) 0,85. Nilai batas ini dapat digunakan untuk menginterpretasikan kemungkinan atau resiko terkena penyakit degenerative. Tabel 10. Nilai ambang batas WHR berdasarkan jenis kelamin Pria Wanita Pengukuran Resiko Resiko Sangat Resiko Resiko Sangat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Lingkar pinggang > 94 cm > 102 cm > 80 cm > 88 cm Perbandingan liingkar pinggang 0,9 1,0 0,8 0,9 dan lingkar pinggul Tabel 11. WHR berdasarkan usia dan jenis kelamin Jenis Kelamin Pria Usia Rendah 20 29 30 39 40 49 50 59 60 69 20 29 30 39 40 49 50 59 60 69 < 0,83 < 0,84 < 0,88 < 0,90 < 0,91 < 0,71 < 0,72 < 0,73 < 0,74 < 0,76 Tingkat Resiko Sedang Tinggi 0,83 0,88 0,84 0,91 0,88 0,95 0,90 0,96 0,91 0,98 0,71 0,77 0,72 0,78 0,73 0,79 0,74 0,81 0,76 0,83 0,89 0,94 0,92 0,96 0,96 0,10 0,97 1,02 0,98 1,03 0,78 0,82 0,79 0,84 0,80 0,87 0,82 0,88 0,84 0,90 Sangat Tinggi > 0,94 > 0,96 > 0,10 > 1,02 > 1,03 > 0,82 > 0,84 > 0,87 > 0,88 > 0,90

Wanita

Contoh soal : Seorang remaja putri berusia 29 tahun memiliki lingkar pinggang sebesar 82 cm dan mempunyai lingkar pinggul sebesar 103 cm. Bagaimana tingkat resiko ibu tersebut ? WHR = = = 0,79. Dengan melihat tabel WHR berdasarkan usia

dan jenis kelamin, ibu tersebut memiliki resiko tinggi terhadap penyakit degeneratif.

7. Total Body Fat Prosentase lemak tubuh dapat dihitung menggunakan data dari pengukuran skinfold tunggal (single) atau jumlah dua-empat pengukuran skinfold. Prosedur pengukurannya adalah : 1. Melakukan pengukuran skinfold. Pengukuran skinfold yang dimaksud adalah pengukuran pada salah satu tempat, seperti trisep, subscapular, bisep atau suprailiac. 2. Menghitung body density ( D ) menggunakan rumus : D = c m (log hasil skinfold) Nilai c dan m dapat dilihat pada tabel yang ada. Tabel 11. Nilai m dan c dalam tabel Durnin dan Womersley

3. Menghitung prosentase lemak tubuh. Kita dapat menghitung proporsi lemak tubuh dengan rumus Siri ( 1961 ) % fat = { }

Siri menggunakan persamaan yang mengasumsikan bahwa berat jenis lemak adalah 0.900 gr/cc dan berat jenis pada jaringan bebas lemak adalah 1.100 gr/cc.

Setelah kita mendapatkan prosentase jumlah lemak, kita dapat menginterpretasikannya sebagai berikut : Tabel 12. Klasifikasi Lemak Tubuh ( Lee and Nieman, 1996 ) Klasifikasi Slightly Overfat 16 20 % 24 27 %

No. 1. 2.

Jenis Kelamin Pria Wanita

Lean <8% < 13 %

Optimal 8 15 % 13 23 %

Fat 21 24 % 28 32 %

Obese >= 25 % >= 33 %

4. Menghitung berat lemak tubuh total dengan persamaan:

Dan apabila ingin mengetahui total berat bebas lemak (fat-free mass):

Contoh soal : Seorang pria berusia 29 tahun dan berat badan 53 kg memiliki tebal lemak triseps 14 mm. Berapa total berat lemak tubuhnya, dan bagaimana interpretasinya? BODY DENSITY (D)= c m x (log skinfold) Untuk nilai c dan m dilihat pada tabel Durnin JVGA, Womersley J (1974) Untuk nilai c = 1,11131 Untuk nilai m = 0,0530 D = 1,11131 0,0530 x (log 14) = 1,11131 0,0530 x 1,146 = 1,11131 0,060738 = 1,050572 ( Siri ) % fat ={ } =( - 4,50 ) x 100 %

= 0,211719 x 100 % = 21,1719 % Berdasarkan hasil persentase lemak, dapat diinterpretasikan bahwa pria tersebut termasuk dalam kategori fat.

Pengukuran Massa Bebas Lemak Massa bebas lemak terdiri dari otot rangka, non-otot rangka, jaringan tanpa lemak dan rangka tubuh. Pada otot tubuh, komponen terbanyak adalah protein. Oleh sebab itu, penilaian otot tubuh dapat menggambarkan simpanan protein dalam tubuh. Beberapa cara pengukuran massa bebas lemak dalam tubuh adalah mid-upper-arm circumference (MUAC), mid-upper-arm-muscle circumference (MUAMC), mid-upper-arm muscle area (MUAMA) 1. Mid-upper-arm circumference ( MUAC ) MUAC digunakan untuk menggambarkan pengurangan lemak dan atau otot pada lengan. MUAC juga digunakan sebagai prediktor dari kematian anak-anak di negara berkembang, terutama pada penggunaan MUAC sesuai umur. MUAC yang dikombinasikan dengan metode skinfold thickness dapat digunakan untuk menghitung lemak dan jaringan lemak pada lengan. Setelah mendapatkan data hasil MUAC, maka dapat dicari persamaan median, sebagai berikut: % median =

Tabel 13. Tabel Persentil Tabel MUAC Berdasarkan Usia dan Kelamin ( Gibson, 1993 )

Setelah mendapatkan persentase median, maka kita bisa menginterpretasikan hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi dibawah ini Tabel 14. Klasifikasi dan Evaluasi Muscle Status ( Frisancho, 1990 )

Contoh soal : Seorang pria berusia 35 tahun memiliki data MUAC sebesar 240 mm. Berapakah prosentase median pria tersebut ? Bagaimana muscle status pria tersebut ? % median =

= 72,9 %

Dengan hasil 72,9 %, pria tersebut memiliki muscle status average.

2.

Mid-upper-arm muscle circumference ( MUAMC ) Pengukuran MUAMC ini didapatkan dari hasil pengukuran MUAC dan hasil pengukuran triceps skinfold. Pengukuran MUAMC ini dapat digunakan untuk menilai total massa otot dan dapat juga digunakan untuk menilai atau menghitung perubahan besar yang terjadi dalam total massa otot pada tubuh. Karena otot merupakan pusat penyimpanan protein, maka dengan pengukuran ptotein otot, kita dapat mengetahui cadangan protein dalam tubuh. Sayangnya, rasio MUAMC tergantung pada usia dan penyakit tertentu yang diderita subyek. Kita dapat menghitung MUAMC dengan rumus sebagai berikut : MUAMC = MUAC (mm) ( x Triceps Skinfold (mm)) Setelah mendapatkan data hasil MUAMC, maka dapat dicari persamaan median, sebagai berikut : % median =

Tabel 14. Tabel MUAMC Berdasarkan Usia dan Kelamin ( Gibson, 1993 )

Setelah mendapatkan persentase median, maka kita bisa menginterpretasikan hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi dibawah ini Tabel 15. Klasifikasi dan Evaluasi Muscle Status (Frisancho, 1990)

Contoh soal : Seorang wanita berumur 24 tahun dengan ketebalan trisep 25 mm dan MUAC 240 mm. Berapakah prosentase MUAMC wanita tersebut?

MUAMC = MUAC (mm) ( x Triceps Skinfold (mm) ) = 240 (3,14 x 25 ) = 240 78,5 = 161,5 mm % median =

= 78,01 %

3.

Mid-upper-arm muscle area (AMA) Dengan mengukur arm muscle area (AMA), kita dapat menghitung dan mengestimasi cadangan protein dalam tubuh. Penggunaan AMA ini didapatkan dari hasil pengukuran MUAC dan hasil pengukuran triceps skinfold. Kita dapat menghitung nilai AMA dengan rumus sebagai berikut : AMA = MUAC dan triceps skinfold dalam satuan mm. Setelah mendapatkan data hasil AMA, maka dapat dicari persamaan median, sebagai berikut : % median = Tabel 16. Tabel Persentil Tabel AMA Berdasarkan Usia dan Kelamin ( Gibson, 1993 )

Setelah mendapatkan persentase median, maka kita bisa menginterpr etasikan hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi dibawah ini

Tabel17. Tabel Klasifikasi dan Evaluasi Muscle Status (Frisancho, 1990)

Contoh soal : Seorang remaja putri berusia 16 tahun memiliki tebal trisep sebesar 23 mm dan MUAC sebesar 27 cm. Berapakah AMA remaja tersebut ? AMA =

= 3114,40

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Status gizi seseorang dapat dilihat dengan menggunakan pengukuran antropometri. Banyak metode antropometri yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kerawanan seseorang terjangkit atau beresiko terhadap suatu penyakit tertentu, terutama melalui pengukuran komposisi tubuh yang dihubungkan dengan jumlah lemak dalam tubuh dengan resiko berbagai penyakit. Data-data yang didapat dalam pengukuran lemak dalam tubuh, kemudian diolah dan dianalisis seberapa rawan seseorang terjangkit penyakit. B. Saran 1. Kesalahan pengukuran dan menganalisa sangatlah mungkin terjadi. Maka dari itu pengukuran hendaknya dilakukan oleh tenaga kesehatan terkait. 2. Hendaknya setiap individu memperhatikan komposisi tubuh, karena dengan komposisi tubuh yang buruk berarti tingkat kesehatan orang tersebut juga buruk.

DAFTAR PUSTAKA

Fahmida, Umi, Drupadi, HSD. 2007. Handbook Nutritional Assessment. Jakarta: UI Press Frisancho, A.R. 1990. Anthropometric Standards for the Assessment of Growth and Nutritional Status.Michigan: University of Michigan Press Gee, David Lee. 2006. Gibson, Rosalind S. 1993. Nutrition Assessment for Laboratory Manual. New York: Oxford University Press. P. Hills, Andrew., Lyell, Linda., M. Byrne, Nuala. 2001. An Evaluation of the Methodology for the Assessment of Body Composition in Children and Adolescent. Queensland University of Technology : Australia. Siervogel, RM., Roche, AF., WC Chumlea, JG Morris, P Webb and JL Knittle. 1982. Blood pressure, body composition, and fat tissue cellularity in adults. Sloan, A.W., Burt A.J., Blyth C.S.: Estimating body fat in young women., J. Appl. Physiol. (1962);17:p967-970) Susilowati. 2009. Pengukuran Status Gizi dengan Antropometri Gizi.