Anda di halaman 1dari 6

Judul Jurnal

Management of complicated multicurrent pterygia using multimicroporous expanded polytetrafluroethylene

Kyoung Woo Kim, Jae Chan Kim, Jun Hyung Moon, Hyun Koo, Tae Hyung Kim, Nam Ju Moon Br J Ophtalmol 2013;97:694-700 Latar Belakang Tantangan dalam penanganan ptergium berulang termasuk kambuhan pasca operasi dan berkaitan dengan komplikasi seperti symblepharon dan keterbatasan motilitas. Pada pterigium kambuhan, pertumbuhan fibrovaskular lebih panjang ketimbang pterigium primer. Sebagai hasil, terdapat kecenderungan untuk lebih agresif atau metode yang dikombinasi untuk penghilangan pterigium termasuk penggunaan mitomycin C (MMC), autograft konjungtiva. Transplantasi membran amniotik yang dikombinasi dengan autograft konjungtiva limbus. Meskipun begitu banyak usaha yang dilakukan bagaimanapun juga sulit untuk menerima hasil memuaskan dengan kambuhan yang agresif dan

kecenderungan pertumbuhan fibrovaskuler. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa e-PTFE dapat menunjukkan epitelisasi, sedikit menimbulkan respon inflamasi, dan membuktikan kekambuhan symblepharon pada sikatriks permukaan okular. Pendekatan saat ini untuk manajemen pterigium kambuhan adalah melakukan eksisi pterigium dengan operasi penyisipan dari multimicroporous e-PTFE didalam ruang subkonjungtiva nasal. Cara ini dibuat untuk memudahkan pasokan oksigen dari udara bebas kedalam luka operasi untuk menghindari hipoksia-pencetus pembentukan scar selama fase awal proliferasi penyembuhan luka.

Tujuan

Untuk mengevaluasi efisiensi dari penyisipan multimicroporous expanded polytetrafluoroethylene (e-PTFE) pada pterygia multirekuren kompleks.

Metodelogi

Sampel berjumlah 62 pasang mata dari 62 pasien dengan pterygium yang berkaitan dengan symblepharon atau

keterbatasan motilitas-terkait dengan diplopia binocular yang cepat. Semua sampel yang sedang menjalani eksisi pterigium dengan membran penggunaan amniotik 0.033% dan mitromycin C, transplantasi konjungtiva.

autograft

limbus

Multimicroporous e-PFTE yang disisipkan secara operatif pada 30 pasang mata diantara transplantasi membran amniotik (grup A), tapi tidak disisipkan pada 32 pasang mata lainnya (grup B). pengukuran hasil yang utama adalah bentukan symblepharon, keterbatasan motilitas, diplopia binokular, skala subjektif dari hiperemia konjungtiva dan pterigium berulang pasca operasi.

Hasil

Pada

hasil

follow-up,

bentukan

symblepharon,

keterbatasan motilitas, diplopia, dan hiperemia konjungtiva terbukti membaik secara signifikan. Setelah pembedahan pada sampel grup A (p=0.000, 0.000, 0.008 dan 0.000). Bentukan symblepharon pasca operasi, keterbatasan motilitas dan hiperemia konjungtiva secara signifikan lebih sedikit pada kelompok A dibanding kelompok B (p=0.024, 0.027, 0.000). setelah pembedahan, kambuhan kornea mulai berkembang pada satu mata di grup A (3.3%), dimana jauh lebih rendah dibandingkan dengan delapan mata pada grup B (p=0.027) Bentukan Symblepharon menunjukkan hasil signifikan (p=0.024, p0.05) pada sampel grup A tidak terjadi pasca operasi (0 dari 30 sampel, p=0.000) dan pada sampel grup B terjadi bentukan symblepharon pada 6 orang (6 dari 32, p=0.002). Kemudian variabel berikutnya adalah motilitas okular menunjukkan hasil signifikan (p=0.027, p0.05) pada sampel grup A yang terjadi hambatan motilitas okular berat hanya satu orang (1 dari 30 sampel, p=0.000) dan pada sampel grup B terjadi hambatan motilitas berat pada 8 orang (8 dari 32, p=0.549).

Variabel diplopia menggunakan dua penilaian, untuk penilaian ringan-sedang dan berat tidak menunjukkan hasil signifikan (p=0.197, p0.05). Variabel hiperemia konjungtiva menunjukkan hasil yang signifikan (p=0.000, p0.05). Lalu, variabel kambuhan pterigium menunjukkan hasil yang cukup signifikan (p=0.027, p0.05) kambuhan kornea pada grup A hanya satu orang (1 dari 30 sampel, 3,3%) dan pada sampel grup B terjadi kambuhan kornea pada delapan orang (8 dari 32 sampel, 25%). Dengan demikian, yang menunjukkan hasil signifikan pada percobaan klinis multimicroporous e-PTFE dengan 62 sampel ini adalah bentukan symblepharon, hambatan motilitas okular, hiperemia konjungtiva, dan kamburan pterigium pada kornea. Hanya satu variabel yang tidak menunjukkan hasil yang signifikan yaitu diplopia.

Subjek dari total 62 mata dari 62 pasien yang mendaftar pada percobaan klinis prospektif pada rumah sakit Universitas ChungAng, Seoul, Korea Selatan. Kriteria inklusi meliputi pterigium multirekuren ( 2 kali kambuh), derajat T3 (kegemukan) berdasarkan sistem penilaian Tan dkk, serta manifestasi seperti symblepharon atau hambatan motilitas-binokular diplopia semua hal ini dan yang menandatangani persetujuan dilakukan penyisipan e-PTFE termasuk pada sampel grup A. Sedangkan yang tidak menyetujui termasuk sampel grup B. sebelum operasi dilakukan, setiap pasien menjalani pemeriksaan okular lengkap, dan pasien dengan glaukoma, skleromalacia atau riwayat bedah yang lama sembuh nya pada mata yang sama tidak termasuk dalam sampel ini. Persiapan multimicroporous e-PTFE 0.1 mm lembar tipis ePTFE digunting dan diletakkan pada karunkel dan konjungtiva nasal, dan dipanjangkan melebihi titik tengah antara karunkel dan limbus korne nasal pada sampel grup A. setelah pemotongan,

multiple microporous dibuat dengan meniupkan angin dengan menusuk e-PTFE dengan jarum 30 G. Prosedur Pembedahan semua pasien yang dianastesi dengan memblok retrobulbar. Pelepasan symblepharon dan jaringan fibrotik secara extensif dibedah untuk membuka sklera dan stroma kornea. Jaringan fibrovaskular konjungtiva, termasuk kapsul Tenon, yang di buang menggunakan gunting dari sklera dan otot rektus medial pada forniks superior dan inferior dan karunkel nasal. Kemudaian cryopreserved human amniotic membrane diletakkan dan diarahkan masuk sklera dan otot

rekstus medial dengan epitel menghadap keatas, dan dijahit dengan benang nylon 10-0. Spons weckel direndam dengan 0.33% MMC yang disisipkan pada area forniks selama minimal 2 menit, lalu irigasi dengan 200 ml larutan garam fisiologis. Hal ini dilakukan pada sampel grup A. Manajemen Pascaoperasi dan Evaluasi obat topikal yang diberikan pascaoperasi adalah levofloxacin tetes 0,1% yang diberikan empat kali perhari, dexamethasone salep 0,1% dicampur dengan 0.35% neomycin sulfate yang diberikan dua kali perhari. Serta 40% autoserum tetes setiap akan dan bangun tidur (2 kali sehari) selama 4 minggu. Setelah 4 minggu, levofloxacin dihentikan, dan salep serta autoserum diturunkan dosisnya secara bertahap menjadi satu kali sehari. Kemudian, membran amniotic dilepas setelah satu minggu, dan jahitan autograft konjungtiva limbus dibuka setelah dua minggu pascaoperasi. Setelah tiga sampai empat minggu, pada sampel grup A sisipan multimicroporous e-PTFE diekstraksi

menggunakan forsep setelah jahitan dibuka. Semua pasien diobservasi dua hari sekali pada minggu pertama, seminggu sekali pada bulan pertama, sebulan sekali pada tiga bulan selanjutnya, dan setiap dua bulan setelah dua tahun pasca operasi. Pengukuran hasil klinis dimana kambuhan

lanjutan seperti terbentuknya symblepharon yang direkam dengan slit lamp biomicroscop. Diplopia, diukur dengan menggunakan snellen chart. Keterbatasan motilitas diukur menggunakan tabel Prabhasawat. Kemudaian untuk evaluasi perubahan subjektif seperti konjungtiva hiperemia, digunakan kuessioner dengan menanyakan kepada pasien untuk menilai gejala menggunakan skala visual analog dengan 0 berarti tanpa gejala dan 10 gejala yang tak tertahankan. Analisis Statistik menggunakan software SPSS versi 19, dengan p value > 0.05 menunjukkan hasil signifikan. Kesimpulan Penyisipan multimicrocorporous e-PTFE dapat dipertimbangkan sebagai ide baru untuk menangani pterigium multirekuren kompleks. Rangkuman & Hasil Pembelajaran Pterigium multirekuren dengan mudah kompleks karena cenderung proliferasi dengan cepat yang diwakili oleh fibroplasia aktif, kontraksi luka, dan percabangan pembuluh darah. Dua hal utama dilakukannya operasi adalah untuk menenangkan

hiperproliferasi yang meluas pada multirekuren pterigium. Pertama, meminimalkan inflamasi pasca operasi, dimana memperpanjang proliferasi dan angiogenesis. Kedua adalah memaksimalkan ablasi dari fibroblast redual pada area luka. Penelitian yang dilakukan Solomon dkk, mengatakan bahwa menekankan bahwa pemngangkatan jaringan fibrovaskular dengan teliti sebelum transplantasi membran amniotic dapat menurunkan angka rekuren pterigium. Untuk mencegah kambuhan pterigium pascaoperasi, memperbaiki karakteristik morfologi karankula adalah penting karena jaringan fibrovaskular yang banyak. Lalu sebelum operasi dilakukan, penggunaan mitomycin C dan autograft limbus konjungtiva juga menunjukkan hasil sangat baik pada pasca operasi dengan tanpa adanya kambuhan pterigium. e-PTFE adalah bahan kimia non-reaktif dan non-antigenik sehingga dapat

ditoleransi oleh sel, oleh karena itu dapat digunkan pada area mata untuk berbagai tujuan. Pada studi ini, memiliki keterbatasan karena tidak dilakukan follow-up lanjutan yang dibutuhkan untuk evaluasi komplikasi lanjutan dari penggunaan MMC yaitu skleritis nekrotik. Namun bagaimanapun juga studi ini merupakan laporan pertama dari penggunaan e-PTFE pada pterigium multirekuren kompleks dengan maksud memperbaiki komplikasi dan

menurunkan kambuhan. Idealnya dilakukan follow-up selama 14 bulan atau lebih, dimana membutuhkan waktu yang panjang. Meskipun beberapa tahapan teknik pembedahan dan pasca operasi tidak popular pada beberapa ahli bedah, hasil dari pembedahan metode ini baik dan signifikan dalam memunculkan teknik pengobatan baru pada pterigium multirekuren kompleks. Kesimpulannya, multimicroporous operasi yang penyisipan dapat dengan

e-PTFE,

mengembalikan

karakteristik karunkel dengan efektif, tampaknya memberikan ide baru untuk mengatasi pterigium multirekuren kompleks, terlebih lagi ketika didampingi dengan metode konvensional seperti penggunaan mitomycin C, transplantasi membran amniotik, dan autograft limbus konjungtiva. Saran untuk kedepannya

penggunaan sisipan multimicroporous e-PTFE mungkin dapat digunakan untuk berbagai kelainan permukaan okular dengan bentukan skar yang berat seperti sindrom Steven-Johnson, sikatrik okular pemfigoid, atau karena bahan kimia.