Anda di halaman 1dari 4

Temen baik gue meninggal minggu lalu. Temen gue selama SMA sampe sekarang..

Kabar duka itu datang sekitar jam 3 sore, sejenak gue bangun dari tidur siang and directly check what happened on my phone, 11 pesan yang berisi informasi yang sama tentang kepergian seorang kawan, Innalillahi wa innailaihi rojiun, teman kita, drummer kita, pemain basket kita, Dandy, telah berpulang ke rahmatullah, dimohon kehadiranya di rumah duka, gue diem, gue mikir, kok secepat itu? Kenapa orang baik, sahabat gue, hal-hal mengejutkan seperti ini ngebuat gue ngerasa bahwa semua yang kita punya sekarang ini bisa aja diambil. Seolah-olah benang yang nyambungin idup kita bisa dipotong begitu aja. Lalu ilang. Gak ada lagi. Nothing matters. tanpa banyak bicara gue ambil motor dan menuju rumah duka Dan sewaktu gue dateng ke pemakaman dia, ada temen-temen gue juga di sana. Di antara temen-temen gue yang dateng, ada yang enggak terlalu kenal sama dia. Ada yang udah kenal banget. Ada yang dulu temen sekelas. Bermacam-macam temen dateng ke sana, tapi mereka punya satu kesamaan: they wanted to see him for the last time. Mereka sayang sama Dandy. Mereka menyayangkan kenapa hidupnya harus selesai secepat itu. Di masjid, diantara ratusan pelayat gue ngeliat sebuah keranda yang ber-cover kain hijau bertuliskan ayat-ayat Al-quran, disana dandy berbaring, sahabat yang tak mungkin dilupakan begitu saja, sahabat yang saat ini disesalkan kepergiannya. Kadang gue ngerasa pengen mati muda, you know, biar gue gak usah ngeliat mereka -semua orang yang gue sayangin meninggal. Duduk di antara pelayat-pelayat itu, imajinasi gue bertanya pemakaman gue nanti? : gimana ya

Iya, kadang gue suka berkhayal, seperti apa pemakaman gue nanti. Apa banyak yang datang? Apa ada yang datang? Apa yang mereka bakal bilang tentang gue? Apa kenangan yang mereka inget tetang gue? Apa ada yang rela nyetir mobil, susah-susah parkir, untuk ngeliat gue untuk terakhir kali ya? Apa iya, ada?

Kadang kita ngerasa, kematian adalah topik yang sensitif untuk kita. Sesuatu yang ada tapi selalu kita deny keberadaannya. Living is constant denying for death. Kadang kita hidup di dunia ini seolah-olah kematian tidak nampak. Mengakui adanya peristiwa kematian adalah mengakui konsekuensi dari eksistensi, seperti kata Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman. Kita ketawa, kita makan, kita bercanda, kita jatuh cinta, kita nyanyi sekencengkencengnya, dandan setampan-tampannya, we fall deeply in our distraction, and forget about the right situation, tapi saat pelajaran kematian menggertak, ini menggertak dengan keras. Gue, masih speechless dengan kepergian Dandy, Gue ngerasa gue harus make something out of life. Badan ini dipinjamkan. Setiap tarikan napas, adalah satu tarikan napas lagi mendekati kematian. Kita harus ngebuat lebih banyak karya, lebih banyak menikmati hidup, lebih banyak mengambil kesempatan. Hidup ini cuman sekali. Akan sangat sayang untuk kita buang begitu aja. I have to enjoy my life, and take lessons on every situations in life, while it is sad situation Kadang kita butuh distraction, kita butuh ilusi dan penipuan-diri, untuk menghindarkan kita terhadap kenyataan menyakitkan dari hidup. Kenyataan, bahwa apa yang kita punya sekarang hanyalah sementara. Engga ada yang kekal, engga ada yang selamanya. Memang, ilusi-ilusi kesenangan yang kita ciptakan ini seperti: jatuh cinta, berpetualang dengan buku-buku, nonton film, marathon sampai pagi, makan sampai kekenyangan, bisa membantu kita dalam menghadapi kenyataan paling pahit dalam hidup dan tetap berkarya untuk dunia.. Kepergian Dandy bener-bener ngebuat gue takut akan kematian, Tapi, memang distraction adalah kata kuncinya untuk tetap jalan seperti biasa tanpa memikirkan kematian dan terus berkarya.

ketika Sabtu kemarin ada temen gue curhat, Gue gak seneng deh ama pacar gue. Berantem mulu kerjaannya. Dia Manja, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah, diem. Gue cuman bisa bilang, Lah, pacaran sama yang gitu-gituan, itu kan hanya distraction (ilusi kesenangan) kita. Pil injeksi kesenangan. Kalo udah kebanyakan gak enak daripada enaknya ngapain diterusin? Hidup terlalu singkat buat dijalanin dengan rasa gak nyaman. Ilusi kesenangan yang berlebihan pun ngebuat kita ngerasa bosan dan gak nyaman Gue suatu hari bakalan mati, tapi gue pengen ngebuat sesuatu yang enggak bakal mati. Katanya Chuck Palahniuk, The goal is not to life forever, but to create something that will life forever. Hidup terus. Dengan apa pun. Dandy tidak akan pernah gue lupain. Gue juga gak mau dilupakan. Gue gak mau hanya menjadi semacam nama yang hilang begitu saja.Nama yang dipajang di atas semacam nisan, yang mungkin pertama-tama sering dikunjungi, namun lama-lama semakin jarang. Hingga pada akhirnya dikunjungi hanya menjelang bulan puasa. Nama di sebuah nisan yang berlumut. Usang. Bau. Ditakuti orang yang lewat. Dan sewaktu hidup, gue gak mau jadi semacam jiwa yang memenuhi bumi ini, menyesaki kota ini, sama-sama makan, minum, berak, bicara. Untuk apakalau gak berguna dan berbagi yang kita punya? Gue mau jadi spesial. Or, I want to die special. kita juga mempunyai Tuhan untuk bersandar, dan menjadi sarana untuk menjalani hal-hal keras dalam hidup. Setidaknya kita saat ini bisa nabung pahala, ketika kematian itu datang dan membawa kita pergi ke alam lain itu, kita bisa berada di tempat yang lebih baik. Tempat yang engga cuman ilusi, tapi kekekalan penuh rasa senang, dan kebanggaan karena kita bisa menaklukan hidup, dan pada akhirnya.. end up eternally happy.

Rest In Peace Dandy, You Give Me Some Precious Lessons that never i found in books and literatures