Anda di halaman 1dari 22

ANEMIA

Definisi dan Klasifikasi Anemia Anemia adalah kondisi umum, terutama pada wanita muda, pada penduduk geriatri, dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di negara-negara berkembang. WHO mendefinisikan anemia sebagai hemoglobin (Hb) dengan kadar < !" g#$ pada wanita dan Hb < %" g#$ pada pria. &efinisi ini 'uga men(akup status pseudoanemik (kehamilan, gagal 'antung dan

hiperproteinemia) dimana ter'adi penurunan konsentrasi Hb sebagai akibat dari peningkatan )olume plasma. *ebaliknya, masa sel darah merah yang menurun dapat ditutupi oleh hemokonsentrasi akibat penurunan )olume plasma. +ekurangan ,at besi adalah penyebab paling sering dari anemia, diikuti oleh anemia penyakit kronis ($ambert and -eris, !"".). Anemia didefinisikan sebagai penurunan 'umlah sel darah merah, penurunan 'umlah hemoglobin dalam sirkulasi, atau penurunan sirkulasi massa sel darah merah. Hal ini menyebabkan gangguan pengiriman oksigen ke 'aringan, sehingga menimbulkan konsekuensi fisiologis hipoksia 'aringan serta mekanisme kompensasi yang diprakarsai oleh tubuh indi)idu tersebut untuk memperbaiki anoksia. /anda dan ge'ala anemia termasuk kelelahan, sinkop, dispnea, atau gangguan fungsi organ akibat penurunan oksigen, pu(at atau hipotensi postural akibat penurunan )olume darah, dan 'antung berdebar, timbulnya murmur 'antung, atau gagal 'antung kongestif akibat peningkatan (urah 'antung. Anemia bukanlah diagnosis, tapi merupakan suatu pertanda yang mendasari suatu

penyakit. Oleh karena itu, e)aluasi pasien dengan anemia diarahkan pada yang men'abarkan penyebab menurunnya masa sel darah merah pasien (0erkins, !""1). /erdapat se'umlah (ara yang berbeda untuk mengklasifikasi anemia hingga saat ini. +lasifikasi didasarkan pada ukuran darah merah, tetapi se'ak diperkenalkannya 'umlah retikulosit se(ara otomatis, yang menyediakan (ara mudah untuk menilai regenerasi sel darah merah (red blood cell#2-3), serta dapat membedakan antara anemia hiporegeneratif dan anemia regeneratif. 0ada dasarnya, pengukuran retikulosit akan menginformasikan dokter apakah anemia ter'adi karena kerusakan sentra produksi 2-3 atau ter'adi karena adanya penghan(uran 2-3 yang diper(epat ($ambert and -eris, !"".).

/abel . +lasifikasi anemia ($ambert and -eris, !"".) **4 Sickle cell disease (homo,igot) 05H4 Paroxysmal Nocturnal Haemoglobinuria . ANEMIA HIPOGENERATIF Anemia hipogeneratif atau anemia aregeneratif didefinisikan dengan se'umlah retikulosit yang hadir kurang dari 6"7 ".#$ dalam nilai absolut (8

retikulosit 7 angka 2-3). Hal ini selalu disebabkan oleh kuranganya produksi 2-3 oleh sumsum tulang. /erdiri atas beberapa kelompok, antara lain9

1.1

Anemia Aplastik Anemia aplastik adalah penyakit langka yang dihasilkan dari

kegagalan sumsum tulang, yang melibatkan tidak hanya prekursor dari sel darah merah, namun 'uga progenitor yang lebih primitif atau sel induk multipoten, dan biasanya timbul dengan anemia yang berhubungan dengan penurunan )ariabel sel-sel darah dan platelet (pansitopenia). *ehingga disebut 'uga sebagai anemia hiporegeneratif parah dengan pansitopenia.

1.2

Aplasia Sel Da a! Me a! "PR#A$ 023A dapat diklasifikasikan sebagai subkelompok anemia aplastik

karena 'uga melibatkan kegagalan dari sumsum tulang, namun hanya produksi 2-3 sa'a yang dipengaruhi. Alasan untuk mengklasifikasikan sebagai entitas yang terpisah adalah bahwa 023A sering dikaitkan dengan infeksi Parvovirus - ., dan biasanya tidak melibatkan garis herediter darah lainnya. 023A 'uga dapat dikaitkan dengan infeksi lain, seperti Cytomegalovirus (3:;), H<; dan hepatitis, serta dapat ter'adi sebagai akibat dari kera(unan obat atau pengembangan antibodi untuk eritropoetin.

1.%

Anemia den&an Sind 'm Miel'displastik *indrom mielodisplastik (:&*) diakibatkan oleh (a(at klonal yang

mempengaruhi sel induk hematopoetik. 0resentasi dari :&* dapat serupa dengan anemia aplastik (pansitopenia), anemia refrakter, neutropenia dan trombositopenia, tetapi memiliki karakteristik tertentu terkait pematangan abnormal sel (displasia), biasanya disertai dengan hiperseluler sumsum tulang dan peningkatan le)el apoptosis intramedula (!). 0ada darah perifer biasanya akan terlihat anisositosis makrositik dengan poikilositosis (bentuk 2-3 abnormal), hiposegmentasi neutrofil dan hipoglanular, namun terkadang 'uga menun'ukkan penampilan semu inti 0elger-Huet (berbentuk inti halter bilobed), dan ukuran trombosit hipogranular yang ber)ariasi. +ondisi kronis ini sering berkembang men'adi leukemia akut. :enurut klasifikasi WHO !""=, sindrom :&* terdiri dari > entitas nosologikal, yaitu9 . Anemia refrakter (2A) !. Anemia refrakter dengan sideroblas ber(in(in (2A2s) %. *itopenia refrakter dengan displasia multilineage (23:&) dengan atau tanpa ber(in(in sideroblas ?. Anemia refrakter dengan blast berlebihan sumsum tulang) 6. Anemia refrakter dengan blast berlebihan - ! (2A@-!, "- .8 blast sumsum tulang) 1. *indrom mielodisplastik A tidak terklasifikasi (2A@- , 6-.8 blast

>. :&* terkait dengan isolasi del (6B). Hingga saat ini, persentase blast di sumsum tulang adalah satu-satunya prediktor transformasi leukemia. *ebuah alat prognostik baru dari

Internasional Prognosis Score System (<0**) telah diran(ang berdasarkan analisis retrospektif lebih dari ="" pasien (?), dan memungkinkan definisi dari tiga kriteria prognostik yang efisien untuk kelangsungan hidup se(ara keseluruhan dan risiko transformasi leukemia. +riteria ini adalah persentase blast sumsum tulang, sitogenetika sumsum tulang dan 'umlah sitopenia darah perifer.

1.(

Anemia Defisiensi Anemia defisiensi adalah anemia yang paling sering ditemukan.

*ebagai penandanya adalah )olume 2-3, yang menun'ukkan bahwa terdapat (a(at maturasi nukleus atau (a(at sintesis hemoglobin. &alam kasus yang pertama, proses pembelahan sel terganggu dan memungkinkan konsentrasi hemoglobin normal intraseluler yang ingin di(apai setelah rendahnya 'umlah pembelahan sel, sehingga mengakibatkan makrositosis. +etika ter'adi sintesis hemoglobin yang rusak, 2-3 yang belum matang akan membagi lebih banyak lagi selama berlangsungnya produksi hemoglobin yang lambat, sehingga mengakibatkan mikrositosis. +ekurangan )itamin - ! ((yano(obalamin) dan asam folat akan ditemukan dengan gambaran makrositik, sedangkan kekurangan ,at besi ditemukan dengan gambaran mikrositik.

+ekurangan ,at besi tetap men'adi penyebab paling umum dari mikrositosis, diikuti dengan thalasemia alpha#beta, Hb @ dan Hb 3 (6). *tatus seseorang dengan kekurangan ,at besi akan hadir dengan anemia hiporegeneratif dan mikrositik. :etabolisme besi yang yang baik akan berpengaruh baik dalam mengatur penyerapan usus dan tingkat ,at besi serum. +ekurangan ,at besi didefinisikan sebagai besi serum rendah, kapasitas mengikat transferin besi yang tinggi (sebagai respon terhadap defisiensi) dan feritin rendah (men(erminkan penyimpanan besi yang rendah). /emuan terbaru men'elaskan bahwa infeksi Helicobacter pylori sering dikaitkan dengan kekurangan ,at besi, baik yang sukar disembuhkan dengan pengobatan besi atau kambuh setelah terapi besi dihentikan. 0ersaingan antara Helicobacter pylori dan flora normal yang bertanggung 'awab untuk penyerapan ,at besi diperkirakan men'adi penyebab deplesi besi dan gastritis kronis. /ubuh menyimpan )itamin - ! se(ara normal adalah sekitar 6 mg, yang memungkinkan seorang indi)idu untuk bertahan hidup ?-6 tahun tanpa pasokan - ! eksogen. ;itamin - ! yang diserap dari produk hewani hanya ter'adi pada ileum terminal dan membutuhkan 'umlah yang (ukup pada faktor intrinsik lambung (.). -eberapa kondisi dapat menyebabkan defisiensi - !, yaitu9 gastritis autoimun (-iermer atau anemia pernisiosa), gastrektomi sebagian atau total, pola konsumsi makanan hewani atau produk susu yang buruk, misalnya pada )egetarian dan )egan terutama yang mengkonsumsi telur atau tak satu pun dari produk susu, status seseorang dengan mal-absorpsi

(ileitis kronis, reseksi ileum, sindrom pertumbuhan bakteri yang berlebihan), dan obat (inhibitor pompa proton, metformin, (holestyramine). 1.) Infilt asi S*ms*m T*lan& dan Fi+ 'sis +eadaan ini menghasilkan gambaran klinis yang sama yaitu kegagalan sumsum tulang dengan beberapa ruptur pada barrier sumsum tulang yang mengakibatkan anemia dengan atau tanpa sitopenia lainnya, dengan sel-sel darah yang belum matang yang beredar di pinggir (mielosit, metamielosit, eritroblasts). *uatu anomali yang sering ter'adi adalah adanya dakriosites (tetesan 2-3). +edua hematologi tersebut dan tumor padat dapat menginfiltrasi sumsum tulang. &alam stadium lan'ut, penyakit seperti multiple myeloma, limfoma, kanker prostat, kanker paru-paru, kanker payudara, dan melanoma biasanya menginfiltrasi sumsum tulang. 0ada mielofibrosis primer, gangguan mieloproliferatif se(ara perlahan 'uga akan menyebabkan fibrosis sumsum tulang lengkap dengan perpindahan yang CmemaksaC hematopoesis menu'u hati dan limpa. &arah perifer akan memperlihatkan anemia dan pada tahap lan'ut menun'ukkan bi-atau pansitopenia dengan sirkulasi sel sumsum pada semua tahap diferensiasi.

1.,

Anemia Pen-akit K 'nis "A#D$ Anemia penyakit kronis diamati dalam berbagai kondisi yang

berhubungan dengan peradangan kronis. 0ola hiporegeneratif, mikrositik, anemia hipokromik dianggap konsisten dengan gangguan metabolisme besi

dan penggabungan besi ke dalam eritroid progenitor. <dentifikasi hepsidin dan regulator pusat homeostasis besi memungkinkan untuk memahami kondisi ini.

1..

Anemia Ga&al Gin/al K 'nis @ritropoetin (@po) terutama disekresi oleh gin'al sebagai respon

terhadap hipoksia. Dungsinya di sumsum tulang dan sel induk eritroid progenitor adalah menginduksi ledakan (epat produksi 2-3. 0ada gagal gin'al, produksi @po se(ara bertahap akan berkurang dan anemia normositik aregeneratif akan ter'adi. /ingkat @po biasanya tetap memadai sampai penurunan kreatinin kurang dari %" m$#menit (serum kreatinin 1"E:,

.=mg#d$). 2ekombinan @po manusia se(ara komersial kini telah tersedia, *eluruh pasien pra-dialisis dan dialisis memanfaatkan pengobatan @po. Anemia dengan tingkat @po rendah 'uga dapat ter'adi dengan adanya antibodi ke @po ( !). +asus seperti itu telah diamati setelah pemberian berulang subkutan 2h @po untuk mengobati gagal gin'al progresif atau terminal.

!. ANEMIA REGENERATIF Anemia regeneratif didefinisikan sebagai anemia dengan 'umlah retikulosit tinggi (lebih dari ""7 ".#$). +ondisi ini dapat mengakibatkan

peningkatan dari penghan(uran 2-3 (hemolisis) maupun dari hemoragik (pendarahan). Anemia hemolitik imun merupakan penyebab sekunder dari mekanisme kekebalan tubuh yang mengarah ke lisis sel darah merah terikat antibodi, dengan atau tanpa akti)asi komplemen. Hemolisis non-imun

diklasifikasikan sebagai kongenital ataupun didapat. Hemolitik kongenital meliputi (a(at membran eritrositik (sferositosis, eliptositosis, akantositosis), anomali hemoglobin tertentu (anemia sel sabit, Hb 3, Hb H, bentuk hemoglobin tidak stabil lainnya dan beberapa thalasemia, serta kekurangan en,im eritrositik (kekurangan glukosa-1-fosfat dehidrogenase, kekurangan piru)at kinase). Anemia hemolitik yang diperoleh dapat ter'adi sebagai efek samping dari obat-obatan, mungkin sekunder terhadap defisit fosfatidil inositol glukosiltransferase (paroxysmal nocturnal hemoglobinuria), atau hasil dari fragmentasi 2-3 dalam mikrosirkulasi atau di pembuluh darah besar. 0eningkatan penghan(uran 2-3 diamati dengan 'elas pada pasien dengan pembesaran limpa (hipersplenisme).

!. .

Anemia Hem'litik Im*n Anemia hemolitik autoimun (AHA) merupakan gangguan produksi sel

darah merah karena autoantibodi terhadap antigen sel darah merah yang menyebabkan singkatnya masa hidup sel darah merah. AHA yang mempengaruhi ","" 8 dari populasi se(ara umum (Doerster, ..% dalam Hashimoto, ..=).

0enderita AHA memiliki antibodi terhadap antigen self pada eritrosit (autoantibodi) yang akan menyebabkan kerusakan eritrosit tersebut sehingga

ter'adi anemia karena hemolisis (2olt et al., ..>). :eskipun banyak dari kasus AHA adalah idiopatik, namun beberapa kondisi AHA diantaranya berhubungan dengan penyakit autoimun, terutama *$@ (Systemic Lupus Erythematosis) dan penyakit kelainan sistem imun lainnya

seperti leukemia limpositik kronis, WaldenstromFs makroglobulinemia dan beberapa limfoma. (*tein, !"" ).

/ipe-tipe Anemia Hemolitik Autoimun (AHA) Anemia hemolitik autoimun (AHA) pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan hubungan antara akti)itas antibodi dan temperatur, yaitu tipe hangat ( arm AHA) dan tipe dingin (cold AHA). *ebanyak ="-."8 kasus AHA merupakan AHA tipe hangat. Hemolisis yang ter'adi pada pasien tipe ini dimediasi oleh reksi autoantibodi hangat, sehingga antibodi akan bereaksi optimal dengan sel darah merah pada suhu %>G3. &alam sebagian besar kasus hemolisis yang tersisa diantaranya dimediasi oleh reaksi autoantibodi dingin yang menun'ukkan afinitas lebih besar dengan sel darah merah pada suhu di bawah %>G3, menyebabkan in'uri pada membran sel darah merah karena aktifasi komplemen. *ebagian besar reaksi autoantibodi dingin bersifat reaktif dengan aglutinin dingin. +asus AHA tipe dingin kurang umum ter'adi. 0ada beberapa pasien bisa didapati kedua tipe AHA ini dengan tingkat keparahan tinggi pada han(urnya sel darah merah (0a(kman, !"">). AHA 'uga dapat diklasifikasikan oleh adanya patofisiologi atau penyebab penyakit yang mendasarinya. +etika tidak ditemukan adanya suatu penyakit yang mendasarinya, AHA disebut penyebab primer atau idiopatik. *edangkan AHA yang bermanifestasi atau men'adi komplikasi dari penyakit yang mendasarinya, AHA disebut sekunder. 0enetapan AHA sebagai penyebab sekunder dapat

digunakan 'ika gabungan dari AHA dengan penyakit yang mendasarinya ter'adi lebih sering dan bukan didapat se(ara kebetulan sa'a, 'ika korelasi penyakit terkait mengarah kembali ke AHA, dan 'ika AHA dan penyakit terkait yang berhubungan berdasarkan hasil penyimpangan sistem imun (Hashimoto, ..=). . Anemia Hemolitik Autoimun /ipe Hangat (!arm AHA) Anemia hemolitik autoimun tipe hangat (WAHA) menyumbang =" 8 dari kasus AHA. <nsiden WAHA adalah 9=".""" (Huinley, !" ). 0atogenesis

biasanya melibatkan autoantibodi yang mengikat eritrosit optimal pada %>G3 dan akan bereaksi dengan antigen eritrosit. Hampir setiap sistem golongan darah dapat terlibat, tetapi sistem 2h lebih mendominasi (Hashimoto, ..=). Autoantibodi pada WAHA yang paling umum adalah <gI, namun 'uga dapat melibatkan <gA atau <g:. Autoantibodi ini umumnya adalah poliklonal (Huinley, !" ). 0atogenisitas antibodi anti-eritrosit tergantung pada titer

antibodi, a)iditas terhadap autoantigen, dan kemampuan untuk mengaktifkan komplemen ( <gI J <gI! J <gI% J <gI? ). *etelah autoantibodi mengikat eritrosit, 3%b atau 3%& terbentuk melalui 3%b inakti)ator yang mendegradasi 3%b men'adi 3%&. :eskipun antibodi autoimun hangat yang paling umum adalah <gI atau <gI% yang mampu mengaktifkan komplemen, WAHA biasanya 'uga ter'adi melalui penghan(uran sel darah merah dalam limpa dan hati (Hashimoto, ..=). :akrofag dari sistem retikulo endotelial (2@*) limpa dan hati memfagosit eritrosit yang dilapisi dengan <gI dan 3%b, 'ika hanya sebagian dari membran eritrosit yang rusak, maka sperosit akan diproduksi sehingga rentan terhadap lisis osmotik ekstra)askuler dalam sinusoid limpa (Huinley, !" ).

Iambar . @liminasi kompleks imun dalam sirkulasi (-aratawid'a'a et al., !"".)

WAHA dikaitkan dengan gangguan limfoproliferatif, penyakit autoimun, keganasan, atau idiopatik. -erdasarkan gangguan limfoproliferatif, leukemia limfositik kronis (3$$) merupakan yang paling umum terkait dengan WAHA. Hingga !6 8 dari pasien 3$$ menderita AHA. 0enyakit $imfoma 5on-Hodgkin dan Hodgkins memiliki ke'adian WA<HA sekitar !-%8. WAHA 'uga menyertai ke'adian tumor padat termasuk tumor o)arium sel germinal o)arium dan tumor

payudara, paru-paru, usus besar, pankreas, testis, gin'al, timus, serta rahim (0a(kman, !"">). 0resentasi klinis ber)ariasi dengan kemungkinan subklinis atau akut dan parah. Ie'ala WAHA antara lain kelelahan, pu(at, palpitasi, dispnea, dan gagal 'antung kongestif. *plenomegali 'uga dapat ter'adi karena hemolisis kronis atau adanya gangguan limfoproliferatif. Hasil laboratorium menemukan adanya )ariabel yang tergantung pada dera'at hemolisis termasuk adanya sphero(ytes, retikulositosis, meningkatnya serum bilirubin tak terkon'ugasi, penurunan haptoglobin serum, dan peningkatan laktat dehidrogenase, tetapi 'arang ter'adi hemoglobinuria dan hemoglobinemia. /es antiglobulin langsung (&A/) adalah assay penting dalam membedakan AHA dengan anemia hemolitik lainnya. &A/ mendeteksi <gI atau komplemen yang terikat pada membran eritrosit (Huinley, !" ). &A/ mengidentifikasi kira-kira ="8 dari kasus AHA tipe hangat. Kntuk

<gI tanpa komplemen dideteksi pada %"-?" 8 kasus, <gI dengan komplemen terdeteksi dalam ?"-6" 8 kasus, dan komplemen sa'a ditemukan pada " 8 kasus (0a(kman, !"">). @)aluasi serologi untuk pemilihan darah untuk transfusi membutuhkan tindakan-tindakan non-rutin. 0emeriksaan antibodi (&A/) mendeteksi klinis antibodi eritrosit yang signifikan dalam pasien. /erdapat kemungkinan ter'adinya aloantibodi bersama dengan autoantibodi dalam pasien dengan A<HA yang memiliki riwayat transfusi sebelumnya atau kehamilan. Kntuk mengidentifikasi aloantibodi, dapat digunakan penyerapan autoantibodi dari serum dengan eritrosit yang tidak akan menyerap aloantibodi. Autoantibodi pada WAHA biasanya tidak

memiliki kekhususan dan bereaksi dengan semua eritrosit. &alam proporsi yang signifikan dari kasus, autoantibodi mengikat semua eritrosit ke(uali yang 2h null (mengandung tidak ada antigen 2h) (Hashimoto, ..=). 0engobatan untuk WAHA tergantung pada situasi klinis. Lika merupakan anemia hemolitik tidak stabil, baik primer atau sekunder, dapat diberikan pengobatan dengan kortikosteroid. 2emisi permanen 'arang ter'adi pada orang dewasa, karena biasanya dibutuhkan perawatan tambahan. /erapi lain yang digunakan dalam situasi klinis tertentu dapat men(akup splenektomi, terapi imunosupresif dengan siklofosfamid atau imuran, pertukaran plasma, infus intra)ena gamma globulin, )in(a alkaloid dan dana,ol (Hashimoto, ..=). /ransfusi darah meliputi pengu'ian rumit pratransfusi dan autoantibodi dapat men(egah identifikasi akurat aloantibodi, dengan demikian ada peningkatan risiko untuk aloantibodi yang diinduksi oleh reaksi transfusi hemolitik. +arena autoantibodi biasanya tidak diketahui se(ara spesifik, transfusi biasanya dihindari dalam 'angka waktu lama. Lika transfusi diperlukan, darah kompatibel harus digunakan dengan membandingkan ke autokontrol. -ersamaan dengan hal tersebut aloantibodi harus dikeluarkan oleh autoabsorpsi hangat, diikuti dengan deteksi antibodi dari serum yang diserap. /eknik ini efektif hanya 'ika pasien tersebut belum ditransfusi (0a(kman, !"">). /ransfusi pada anemia berat dengan pemberian kortikosteroid dapat ditoleransi dan dapat direspon dalam minggu pertama. 0ada anemia dengan kronis stabil, transfusi periodik dapat men'adi pertimbangan untuk meringankan ge'ala. /ransfusi mendesak mungkin diperlukan pada pasien dengan kondisi akut,

hemolisis parah atau anemia yang semakin parah, terutama 'ika fungsi 'antung atau otak teran(am (Hashimoto, ..=).

!. Anemia Hemolitik Autoimun /ipe &ingin (Cold AHA) Anemia hemolitik autoimun tipe dingin (3AHA) memiliki angka ke'adian !"-!68 dari semua kasus AHA. 0resentasi klinis utama dari 3AHA meliputi bentuk transien yang ter'adi pada pasien dewasa muda sebagai komplikasi yang 'arang pada penyakit menular , dan bentuk kronis yang ter'adi pada orang dewasa tua, kadang-kadang dengan neoplasma sel--. 0ada umumnya aglutinin dingin bersifat 'inak dan di(atat dalam serum tanpa ge'ala serta memiliki reakti)itas optimal pada ?G3 dan sedikit atau tidak ada reakti)itas pada %>G3. +ebanyakan aglutinin dingin se(ara klinis tidak signifikan. 5amun, mungkin mengganggu prosedur A-O, atau dengan deteksi dan teknik (rossmat(hing antibodi menggunakan polyspecific globulin antihuman. Aglutinin dingin dapat men'adi signifikan selama prosedur dimana suhu inti pasien menurun men'adi !=G3 seperti dalam operasi bypass cardiopulmonary (Hashimoto, ..=) . Autoantibodi <g: mengikat eritrosit dalam sirkulasi perifer dingin pada ekstremitas dan mengaktifkan komplemen ke tahap 3%b. *elan'utnya, <g: dari eritrosit terangkut pada sirkulasi )is(eral hangat, dan beberapa eritrosit yang dilingkupi 3%b terbebas di hati sehingga menyebabkan hemolisis ekstra)askuler. *istem inakti)ator 3%b mendegradasi 3%b ke 3%dg atau 3%& atau keduanya pada banyak eritrosit. @ritrosit 3%dg berlapis dan 3%& berlapis ini memiliki kelangsungan hidup mendekati normal se(ara in vivo, 'arang ter'adi pada anemia

ringan namun sering ter'adi pada penyakit kronis. Hemolisis dapat dipi(u oleh paparan suhu dingin, dan mungkin bersifat kronis atau episodik (Huinley, !" 3AHA transisi biasanya dikaitkan dengan infeksi ).

"ycoplasma

pneumoniae dan infeksi mononukleosis. Onset tiba-tiba, dan kadang-kadang ter'adi anemia berat dalam waktu !-% minggu. Autoantibodi pengganggu adalah aglutinin dingin poliklonal, paling sering <g:, tetapi mungkin <gI atau <gA. 3AHA transisi biasanya sembuh se(ara spontan dalam beberapa minggu, diikuti dengan langkah-langkah yang mendukungan termasuk hidrasi, menghindari dingin, dan transfusi (Hashimoto, ..=). Antibodi khusus yang berbeda 'uga ter(atat berhubungan dengan berbagai infeksi pada 3AHA. "ycoplasma pneumoniae terkait 3AHA (6"-="8 ke'adian) memiliki antiA< dan anti-*ia-bl spesifik. 3:; terkait 3AHA ('arang ter'adi) memiliki anti-< spesifik. @-; terkait 3AHA (ke'adian %"-6"8) memiliki anti-< spesifik. 0asien mononukleosis infeksiosa sebanyak "8 memiliki titer agglutinin dingin yang signifikan, tetapi hanya sedikit yang berkembang men'adi 3AHA. ;irus rubella dan )ari(ella ('arang ter'adi) memiliki anti-0r spesifik. Anti-H biasanya terlihat sebagai agglutinin dingin 'inak di A atau nonse(retors A dengan reakti)itas optimal pada ?G3. Anti-< biasanya ditemukan sebagai <g: dengan titer rendah agglutinin <g: dingin dalam serum dewasa, dan yang paling banyak berkaitan dengan 3AHA. &alam 3AHA, :y(oplasma mengubah sel darah merah sehingga antigen < tidak diakui sebagai self, tidak seperti titer rendah anti-< dalam orang normal. Akibat titer anti-< yang tinggi mengembangkan

dengan amplitudo termal lebih luas daripada anti-< rendah (-radley et al.. !""!).

-entuk kronis dari 3AHA biasanya ringan sampai sedang, serta anemia stabil. 3AHA mungkin men'adi komplikasi yang 'arang dari kanker dan biasanya diamati pada orang tua dengan penyakit limfoproliferatif termasuk limfoma, leukemia limfositik kronis, myeloma, dan Waldenstroms :a(roglobulinemia, namun 'arang sekali ditemukan pada tumor padat. *etelah paparan dingin, a(ro(yanosis pada ekstremitas distal dan intra)askular hemolisis dapat ter'adi (Hashimoto, ..=). *el-sel darah merah pada 3AHA dikeluarkan oleh hati dan pengangkatan sel <g: terikat bergantung pada komplemen. $impa lebih efektif menghan(urkan sel-sel <gI terikat, dengan demikian hal ini dapat men'elaskan respon yang rendah untuk splenektomi pada 3AHA (Hashimoto, ..=). 0ada 3AHA idiopatik kronis, anemia biasanya ringan dan (ukup di(egah dengan (ara menghindari suhu dingin. 5amun, pada <gI-<g: yang berkaitan dengan 3A<HA atau titer rendah dengan termal amplitudo 3AHA tinggi, pasien mungkin merespon pemberian steroid. *edangkan pertukaran plasma akan berguna dalam situasi akut (-radley et al., !""!). Anemia hemolitik autoimun tipe dingin (3AHA) diklasifikasikan atas ! tipe, yaitu sindrom aglutinin dingin (Cold #gglutinin Syndrom$3A*) dan paroksismal hemoglobinuria dingin (Paroxysmal Cold Hemoglobinuria#03H) (@)a, !" ). 0erbedaan keduanya terletak pada autoantibodi masing-masing. 0ada

3A*, aglutinin spesifik yang umum ditemukan adalah anti-< dan anti-i, sedangkan yang lainnya 'arang atau bahkan tidak pernah ditemukan. :eskipun autoanti-< 'uga bisa ditemukan pada indi)idu sehat, namun tidak bereaksi dengan sel darah

merah pada suhu ruangan. *edangkan pada 03H, autoantibodi yang ditemukan adalah anti-0. Autoantibodi ini ditun'ukkan dalam assay &onath-$andsteiner yang melibatkan inkubasi darah normal dan serum yang normal (adanya komplemen) dengan serum pasien pada suhu ?G3 dan pada suhu %>G3. Antibodi bifasik

mengikat sel-sel darah merah pada ?G3 dan penyiapan pertama dari dua komponen komplemen. +askade komplemen selesai pada %>G3 dan menyebabkan hemolisis. *e(ara in vivo, <gI autoantibodi bereaksi dengan sel-sel darah merah dalam area tubuh dingin dan menyatu dengan sel pada suhu hangat hingga menyebabkan hemolisis (-radley et al., !""!).

Anemia Hemolitik &iinduksi Obat Anemia hemolitik diinduksi obat (&<HA) ter'adi !- =8 dari

semua kasus AHA. /erdapat % mekanisme yanag dapat menyebabkan &<HA, yaitu adsorpsi obat, pembentukan kompleks imun, dan induksi autoimun. *uatu studi menemukan adsorpsi protein non-imunologik dapat menyebabkan &A/ positif, namun tidak ter'adi anemia hemolitik (Hashimoto, ..=). :ekanisme adsorpsi obat melibatkan antibodi terhadap obat yang terikat pada membran sel darah merah. Hemolisis ekstra)askuler ter'adi karena pengambilan sel darah merah dalam sistem retikuloendotelial (2@*). 0enisilin dapat menyebabkan &<HA melalui mekanisme ini. 0ada dosis rendah, penisilin dapat membangkitkan a)iditas rendah <g: antipeni(illin dan mengarah pada &A/ positif tanpa anemia. &osis tinggi penisilin mungkin menyebabkan antibodi <gI terhadap penentu ben,ylpeni(illoyl memi(u hemolisis minggu kemudian.

*etelah penghentian obat, hemolisis akan terhenti. 0emeriksaan laboratorium mengungkapkan &A/ positif untuk <gI, dan kadang-kadang untuk <gI serta komplemen. K'i antiglobulin tidak langsung ( <&A/ ) akan negatif ke(uali reagen sel darah merah yang digunakan telah dilapisi oleh obat (Hashimoto, ..=). :ekanisme komplek imun melibatkan pembentukan kompleks imun antara obat atau metabolit obat dengan antibodi dalam serum. +ompleks imun kemudian mengikat sel-sel darah merah yang menyebabkan akti)asi komplemen dan selan'utnya memi(u hemolisis intra)askular dengan hemoglobinuria, hemoglobinemia dan gagal gin'al (Huinley, !" ).

Iambar !. :ekanisme kompleks imun pada anemia hemolitik diinduksi obat (Huinley, !" ).

0emeriksaan <&A/ akan positif hanya ketika adanya obat dengan reagen sel darah merah. Obat-obatan yang terlibat dalam mekanisme ini antara lain9 diklofenak, stibophen, rifampisin, kina, sefalosporin generasi kedua dan ketiga,

Buinidine , streptomisin, tetrasiklin, turunan sulfonilurea, insektisida, isonia,id, klorproma,in dan antihistamin (Hashimoto, ..=).

!. .!

Anemia Sel Sa+it "Anemia N'n0Im*n K'n&enital$ Anemia sel sabit adalah prototipe dari anemia regeneratif kronis yang

diwariskan. Anemia ini men'adi penyebab sekunder untuk polimerisasi Hb yang mengarah ke deformasi dan lisis 2-3. 0asien homo,igot untuk mutasi ** akan mengembangkan anemia hemolitik kronis dan berulang yang mungkin memerlukan transfusi 2-3 se'ak usia muda. Anemia sel sabit ter'adi karena substitusi nukleotida tunggal pada kodon 1 (glu)al) dari rantai beta hemoglobin. Akibatnya, Hb * (enderung mengalami agregasi ke dalam filamen pan'ang bila terdapat dalam bentuk deoksi, sehingga ter'adi deformasi membran 2-3 dan akhirnya mendorong lisis sel. 0atofisiologi penyakit ini berhubungan dengan oklusi pembuluh darah ke(il oleh agregasi (a(at 2-3, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan iskemia parah dan kritis. *itus utama )eno oklusi adalah sumsum tulang, limpa (menginduksi atrofi limpa spontan selama tahun pertama kehidupan), otak dan paru-paru. +omplikasi utama seperti stroke, nekrosis tulang aseptik dan sindrom dada akut serius akan mengubah kualitas hidup indi)idu yang menderita penyakit ini. 0engobatan yang mendukung terutama selama krisis akut yaitu dengan mengontrol rasa sakit, oksigen, dan hidrasi. 0en(egahan krisis yang sering atau komplikasi parah dapat dilakukan dengan pengobatan dengan transfusi reguler. :eskipun ada risiko yang terkait dengan prosedur, transplantasi sel induk telah berhasil dilakukan pada orang dewasa muda.

!. .%

Anemia En1im'pati dan #a2at Mem+ an Sel Da a! Me a! "Anemia N'n0Im*n -an& Didapat$ *el darah merah memiliki metabolisme anaerobik aktif menggunakan

glukosa

sebagai

pasokan

energi.

Dungsi

utama

metabolisme

meliputi

pemeliharaan membran protein, pelestarian besi hemoglobin dalam status De%M, dan modulasi afinitas hemoglobin untuk oksigen. Dungsi-fungsi ini memerlukan regulasi dari empat komponen9 A/0, 5A&H, 5A&0H, dan !,%-

diphosphogly(erate. 3a(at en,imatik umum termasuk defisiensi piru)at kinase dan glukosa 1-fosfat dehidrogenase (I10&). Hasil defisiensi I10& terlihat pada hemolisis yang ter'adi dalam respon terhadap stres oksidatif seperti obat, dehidrasi dan demam#infeksi, sedangkan defisiensi piru)at kinase ditandai dengan hemolisis berkelan'utan karena akti)itasnya dalam 'alur utama glikolisis anaerobik.

!. .?

Anemia Hem' a&ik Anemia hemoragik menyebabkan pendarahan akut yang dapat dilihat dari

hasil analisis hitung darah lengkap. Anemia ini relatif berat, tidak ditoleransi dengan baik oleh pasien dan pada awalnya tanpa peningkatan regenerasi (yaitu retikulosit normal atau rendah), dan memungkinkan pendarahan. 2espon sekunder retikulosit biasanya akan terdeteksi dalam waktu !? 'am dengan peningkatan retikulosit awal (tingkat fluoresensi, HD2 retikulosit) ($ambert and -eris, !"".).

DAFTAR P3STAKA

-aratawid'a'a, +arnen I. dan <ris 2engganis. !"".. Imunologi %asar& Edisi %elapan. Lakarta 9 D+K<. -radley 3. Iehrs and 2i(hard 3. Driedberg. !""!. Autoimmune Hemolyti( Anemia. #merican 'ournal of Hematology. ;ol. 1.9!6=-!> . Hashimoto, 3laire. ..=. Autoimmune Hemolyti( Anemia. Clinical (evie #llergy and Immunology. ;ol. 1, ..=. Humana 0ress, <n(. in

0a(kman, 3harles H. !""=. Hemolyti( Anemia &ue to Warm Autoantibodies. )lood (evie s (!""=) !!, >-% . K* 9 @lse)ier. 0erkins, *herrie. !""1. 0ra(ti(al &iagnosis of Hematologi( &isorders. Dourth @dition. %iagnosis of #nemia. K* 9 A*30 0ress. Huinley, @)a &. !" . Immunohematology* Principles and Practice . /hird @dition. $ippin(ott Williams N Wilkins.