Anda di halaman 1dari 23

1

A. Profil Sriwijaya Air Sriwijaya Air merupakan salah satu maskapai penerbangan terbesar di Indonesia yang berdiri sejak tanggal 10 November 2003. Sriwijaya Air telah menerbangkan lebih dari 700.000 penumpang setiap bulannya. Merambah lebih dari 41 destinasi termasuk dua negara di tingkat regional dan daerah-daerah tujuan wisata populer lainnya di seluruh Indonesia. Saat ini, Sriwijaya Air berbasis di Jalan Marsekal Suryadarma No. 1, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Profil dan deskripsi Sriwijaya Air selanjutnya sebagai berikut: 1. Visi dan Misi Motto dari Sriwijaya Air adalah menjadikan semua pihak sebagai rekan kami saat terbang atau yang biasa disingkat menjadi your flying partner. Adapula visi dan misi dari Sriwijaya Air, yakni: a. Visi 1. Mengedepankan layanan berkualitas 2. Menjadi maskapai penerbangan yang mampu bersaing secara nasional maupun regional 3. Siap berekspansi bisnis pada level dunia 4. Mengadopsi tekonologi terkini dan manajemen perusahaan yang efektif dan efisien 5. Mengundang turis domestik dan internasional ke berbagai destinasi 6. Untung secara bisnis. b. Misi Membawa terbang pelanggan-pelanggan kami dengan kebanggaan serta reputasi tinggi yang terimplementasi dalam layanan berkualitas dalam proses prapenerbangan, di dalam pesawat maupun paska-penerbangan.

2. Arti Logo Sriwijaya Air

Gambar 1 Logo Sriwijaya Air Sumber: www.sriwijayaair.co.id (2014) Logo Sriwijaya Air berupa bentuk ru-yi yang berasal dari kepercayaan masyarakat Cina, yang berarti bahwa apa yang kita inginkan atau usahakan harus yakin tercapai. Disamping itu, melambangkan pula bahwa seluruh karyawan Sriwijaya Air harus memiliki hati yang bersih, sebersih warna dasar armada Sriwijaya Air. Adapula bentuk lekukan hati di bagian atas logo yang melambangkan bahwa para pimpinan dan karyawan harus mempunyai rasa memiliki atau sense of belonging dan rasa cinta terhadap perusahaan. Apabila dilihat dari komposisi warna, warna biru pada tulisan Sriwijaya Air melambangkan bahwa maskapai ini berkeinginan melanglang buana ke seluruh pelosok Nusantara. Sedangkan warna merah, melambangkan bahwa para pimpinan dan karyawan Sriwijaya Air harus berani dan bijak dalam menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan. Sedangkan arti dan tujuan dari nama maskapai ini adalah melambangkan bahwa Sriwijaya Air harus menjadi perusahaan yang besar dan terkenal seperti Kerajaan Sriwijaya yang namanya terukir dalam sejarah nasional dan regional. A

3. Sejarah Sriwijaya Air PT Sriwijaya Air lahir sebagai perusahaan swasta murni yang didirikan oleh Chandra Lie, Hendry Lie, Johannes Bunjamin, dan Andy Halim. Sriwijaya air

memulai usahanya dengan bermodalkan satu armada Boeing 737-200. Beberapa tenaga ahli yang turut menjadi pionir berdirinya Sriwijaya Air diantaranya adalah Supardi, Captain Kusnadi, Captain Adil, Captain Harwick, Gabriella, Suwarsono dan Joko Widodo. Pada tanggal 10 November 2003, tepat pada hari Pahlawan, Sriwijaya Air memulai penerbangan perdananya dengan menerbangi rute Jakarta-Pangkalpinang PP, Jakarta-Palembang PP, Jakarta-Jambi PP, dan Jakarta-Pontianak PP.

4. Penghargaan yang Pernah Diraih Sriwijaya Air a. Penghargaan Mitra Pelanggan Penerbangan (2007) b. Penghargaan Merk Service Indonesia (2008) c. Maskapai Penerbangan Pertama dengan Buku Panduan Keselamatan dalam Huruf Braille (2011) dari MURI d. Indonesia Tourism Award 2011: Penerbangan Layanan Ekonomi Terfavorit e. Marketers & Mark Plus (Netizen Brand): Airlines Indonesia Terfavorit (2011) f. Call Center Award 2012 (Category Airlines): Service Excellent g. The Nielsen Indonesia: Superbrand 2012 h. Indonesia Service to Care Champion 2012)

5. Jenis Armada Sriwijaya Air Sriwijaya Air mengoperasikan beberapa pesawat Boeing 737 series, diantaranya sebagai berikut: a. Boeing 737-800W NG

Gambar 2 Sketsa Pesawat Boeing 737-800W NG Sumber: sriwijayaair.co.id (2014)

b. Boeing 737-40

Gambar 3 Sketsa Pesawat Boeing 737-400 Sumber: sriwijayaair.co.id (2014)

c. Boeing 737-30 6.

Gambar 4 Sketsa Pesawat Boeing 737-30 Sumber: sriwijayaair.co.id (2014)

d. Boeing 737-500W

Gambar 5 Sketsa Pesawat Boeing 737-500W Sumber: sriwijayaair.co.id (2014)

7. Keselamatan Penerbangan Pemeliharaan armada dilakukan oleh tim pakar mesin pesawat dari dalam maupun luar negeri. Dilengkapi dengan hanggar, peralatan khusus, serta keseriusan dalam profesionalisme dari departemen teknik, departemen perencanaan dan quality

control, menjadikan Sriwijaya Air mampu meningkatkan pengawasan hingga titik maksimal terhadap pemeliharaan pesawat. Standar pemeliharaan pesawat mengikuti prosedur dari manufaktur dan berpegang teguh pada regulasi dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara. Kerja keras tim pemeliharaan membuahkan penghargaan dari Boeing atas komitmen mempromosikan keamanan penerbangan. Lebih dari itu, Sriwijaya Air juga berhasil meraih penghargaan dari Departemen Transportasi Indonesia tahun 2008. Dalam perawatan dan pemeliharaan armada, Sriwijaya Air melakukan kerjasama dengan PT Aero Nusantara Indonesia (ANI) dan Garuda Maintenance Facility (GMF) sebagai maintenance provider terpercaya di Indonesia yang bertaraf internasional. Kerjasama ini dimaksudkan agar para pelanggan Sriwijaya Air akan mendapatkan keamanan dan kenyamanan yang optimal. Selain itu, tenaga kerja yang dimiliki Sriwijaya Air merupakan sumber daya manusia (SDM) pilihan yang terampil, ramah dan terpercaya.

B. Struktur Organisasi Sriwijaya Air DEWAN KOMISARIS Hendry Lie Andy Halim Fandy Lingga Soenaryo Yosopratomo Johanes Bundjamin Chandra Lie Gabriella Sonia Toto Nursatyo Hasundungan Pandiangan Captain Toto Soebandoro Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris DEWAN DIREKSI Direktur Utama Direktur Keuangan Direktur Niaga Wakil Direktur Niaga Direktur Kualitas, Keselamatan, dan Keamanan

Captain Bambang Haryono Direktur Operasi

Ir. Ananta Widjaja Jefferson Jauwena

Direktur Teknik Direktur Perencanaan Perusahaan dan Pengembangan Bisnis Tabel 1 Struktur Organisasi Sriwijaya Air Sumber: sriwijayaair.co.id (2014)

C. Analisa Rute Penerbangan Menurut UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan Pasal 1 Butir 19, rute penerbangan adalah lintasan pesawat udara dari bandar udara asal ke bandar udara tujuan melalui jalur penerbangan yang telah ditetapkan. Berikut gambar yang akan menjelaskan rute penerbangan Sriwijaya Air:

Gambar 6 Rute Penerbangan Sriwijaya Air Sumber: sriwijayaair.co.id (2014) Seperti yang telah diketahui sebelumnya, Sriwijaya Air memulai penerbangan perdananya dengan menerbangi rute Jakarta-Pangkalpinang PP, Jakarta-Palembang PP, Jakarta-Jambi PP, dan Jakarta-Pontianak PP. Saat ini, Sriwijaya Air memiliki 32 armada Boeing dengan melayani total 41 rute termasuk rute regional Medan-Penang PP dan rute internasional lainnya. Dalam rangka pengembangan rute dan pangsa pasar, Sriwijaya Air akan mendatangkan tambahan armada Boeing seri 737-800 New Generation (NG). Sriwijaya Air berkembang sangat pesat hingga saat ini telah mengembangkan sayapnya dari Banda Aceh hingga Jayapura. Sriwijaya Air yang awalnya beroperasi

hanya dengan satu pesawat berkembang hingga mengoperasikan lebih dari 30 pesawat ke seluruh Indonesia. Sriwijaya Air diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia yang dilihat dari pertumbuhan penumpang yang baik dari tahun ke tahun. Disaat banyak maskapai medium service berjatuhan dan bangkrut, Sriwijaya Air justru melakukan ekspansi ke berbagai kota di Indonesia, terutama di Indonesia Timur. Rute-rute seperti Tanjung Pandan, Luwuk, Tarakan, yang selama ini dilayani oleh maskapai regional dengan pesawat baling-baling kini dilayani oleh Sriwijaya Air dengan pesawat jet mereka. Sriwijaya Air terbang ke Papua dengan mengusung tagline I Love Papua, pada tanggal 4 Juli 2011, Sriwijaya Air resmi membuka rute penerbangan ke Sorong dan Manokwari. Pembukaan rute ke wilayah Papua ini semakin mengkukuhkan komitmen Sriwijaya Air untuk menjadi maskapai penerbangan yang dapat menghubungkan kota kota di Indonesia melalui jalur penerbangan udara. Ekspansi ke wilayah timur Indonesia memang sudah menjadi agenda Sriwijaya Air, seiring dengan rencana Sriwijaya Air untuk memperluas rute penerbangan pada tahun 2011. Sebagai tahap awal, baru dua kota yang akan diterbangi. Dengan adanya penerbangan ke Sorong dan Manokwari, maka rute penerbangan lain dari Indonesia Barat dan Indonesia Tengah pun menjadi tersambungkan dengan lebih mudah, demikian pula sebaliknya. Posisi connecting flight berada di Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Penerbangan dari Indonesia Barat dan sebagian Indonesia Tengah memiliki connecting flight di Jakarta dan Surabaya, sedangkan sebagian lainnya dari Indonesia Tengah memiliki alternatif connecting flight di Makassar. Sriwijaya Air memperluas layanan penerbangan ke Papua dalam upaya untuk memasuki permintaan penerbangan di kawasan timur Indonesia. Selain membuka rute baru, Sriwijaya Air juga menambah frekuensi penerbangan JakartaJogjakarta PP menjadi dua kali sehari. Sedangkan rute baru yang diluncurkan adalah rute Surabaya JogjakartaSurabaya. Rute ini adalah rute khusus dengan jarak pendek, namun menjadi alternatif menarik untuk pelanggan yang selama ini minim pilihan bila menggunakan transportasi udara. Disamping itu, Sriwijaya Air membuka rute internasional baru, yakni JakartaDili PP (via Denpasar). Selain dimaksudkan untuk memperluas pangsa pasar Sriwijaya Air di luar negeri, dibukanya rute baru ini adalah salah satu upaya Sriwijaya Air untuk

memfasilitasi sarana transporasi para pelanggan. Rute ini adalah salah satu rute yang ditinggalkan oleh Batavia Air. Namun saat ini supply penerbangan ke wilayah tersebut terhenti. Rute baru Sriwijaya Air ini akan dilayani dengan menggunakan armada barunya, yaitu pesawat Boeing 737-500, dengan konfigurasi tempat duduk terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksekutif dan kelas ekonomi. Adanya layanan kelas eksekutif ini, maka Sriwijaya Air memberikan pilihan kepada pelanggannya untuk kenyamanan dalam perjalanan. Layanan kelas eksekutif ini menjadi alternatif yang menarik untuk pelanggan, mengingat perjalanan JakartaDili PP adalah perjalanan yang cukup memakan waktu. Dengan kelas eksekutif, tentu perjalanannya akan semakin nyaman. Adapun pesawat Boeing 737-500 yang akan melayani rute ini memiliki kapasitas 120 tempat duduk atau seats, yang terdiri dari 8 seats kelas eksekutif dan 112 seats kelas ekonomi. Berikut tabel yang akan menjelaskan kota tujuan penerbangan Sriwijaya Air: Jawa Sumatera Bandung, Jakarta, Malang, Surabaya, Semarang, Solo, Yogyakarta. Aceh, Bandar Lampung, Batam, Bengkulu, Jambi, Medan, Padang, Palembang, Pangkalpinang, Pekanbaru, Tanjung Pandang, Tanjung Pinang. Kalimantan Sulawesi Tenggara Maluku Papua Internasional Populer dan Ambon, Biak, Jayapura, Manokwari, Merauke, Sorong, Timika, Ternate. Singapura, Malaysia, Thailand, Dili. Bali, Surabaya, Bandung, Makassar, Medan, Padang, Yogya. Tabel 2 Kota Tujuan Sriwijaya Air Sumber: sriwijayaair.co.id (2014) Balikpapan, Banjarmasin, Berau, Palangkaraya, Pangkalan Bun, Pontianak, Tarakan. Gorontalo, Kendari, Luwuk, Makasaar, Manado, Mamuju, Palu. Bali dan Nusa Bali, Kupang, Lombok, Maumere, Waingapu.

D. Target Pasar Berangkat dari segmen medium service, Sriwijaya Air memulai transisi mereka untuk melayani segmen full service. Hal ini dilakukan untuk memberikan persaingan yang sehat di segmen full service carrier di Indonesia, yang pada saat itu hanya dilayani oleh Garuda Indonesia. Sriwijaya Air berkonsentrasi pada bisnis penerbangan penumpang dan layanan pengiriman barang, dengan jangkauan nasional maupun regional. Sejak berdiri pada 10 November 2003, Sriwijaya air berhasil mencapai target-target yang dikemas dalam misi dan visinya, seperti mengedepankan layanan berkualitas, menjadi maskapai penerbangan yang mampu bersaing secara nasional maupun regional, siap berekspansi bisnis pada level dunia, mengadopsi teknologi terkini dan manajemen perusahaan yang efektif dan efisien, mengundang turis domestik dan internasional ke berbagai destinasi, serta untung secara bisnis. Maskapai Sriwijaya Air yang berbasis di Jakarta, berhasil bertahan dan keluar dari krisis global 2008 tanpa kerugian yang berarti. Bahkan terus melakukan ekspansi ke timur Indonesia dengan armada-armada baru. Dengan melayanai segmen full service, artinya Sriwijaya Air memiliki standar pelayanan dengan fasilitas lebih. Sriwijaya membagi kelas penerbangan ke dalam dua kelas, yaitu eksekutif dan ekonomi. Di kelas eksekutif, Sriwijaya Air menawarkan kenyamanan lebih bagi para penumpangnya. Ini meliputi fasilitas seperti bagasi 20 kilogram, priority baggage, airport lounge, private car, welcome drink, seat pitch 31 inch, serta inflight snack. Di kelas ekonomi, Sriwijaya Air menawarkan fasilitas bagasi 20 kilogram dan inflight snack. Sriwijaya Air juga memiliki inflight shop yang cukup lengkap dan menawarkan berbagai merchandise dari Sriwijaya Air dan brand ternama lainnya. E. Manajemen Sumber Daya Manusia Bersumber dari situs resmi Sriwijaya Air yaitu sriwijayaair.co.id, disebutkan bahwa secara garis besar terdapat tiga tingkatan dalam manajemen Sriwijaya Air, yaitu Dewan Komisaris, Dewan Direksi, dan flight crew yang terdiri dari pilot, copilot, serta flight attendant. Dari suatu wawancara yang dipublikasikan di suatu surat kabar elektronik, Chandra Lie selaku Direktur Utama Sriwijaya Air mengungkapkan bahwa maskapai ini merupakan perusahaan keluarga. Ia bersama Hendry Lie (Presiden Komisaris),

10

Andi Halim dan Fandy Lingga (Komisaris) merupakan saudara kakak beradik. Ditambah dengan rekan lainnya yang turut mengembangkan bisnis Sriwijaya Air. Adanya pembagian antara Dewan Komisaris dan Dewan Direksi di manajemen SDM Sriwijaya Air menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tugas dari kedua dewan tersebut, perbedaan tugas tersebut diantaranya: 1. Dewan Komisaris Dewan Komisaris adalah sebuah dewan yang bertugas untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada direktur Perseroan Terbatas (PT), dalam hal ini adalah PT Sriwijaya Air. Dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dijabarkan tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari Dewan Komisaris. Terdapat tiga poin dalam tugas dan kewenangan Dewan Komisaris, yaitu (1) melakukan pengawasan atas jalannya usaha PT dan memberikan nasihat kepada direktur; (2) bertugas sesuai dengan kepentingan, maksud, dan tujuan PT; dan (3) dapat menggantikan tugas-tugas tertentu direktur apabila direktur berhalangan. Sedangkan tanggung jawab atau kewajiban dari Dewan Komisaris adalah (1) membuat notula rapat dewan komisaris dan menyimpan salinannya; (2) melaporkan kepada PT mengenai kepemilikan saham; dan (3) memberikan laporan tentang tugas pengawasan yang telah ditentukan. 2. Dewan Direksi Dari sumber yang sama, yaitu UU No. 40 Tahun 2007, dijelaskan bahwa direktur (tunggal) atau dewan direksi (jamak) merupakan seseorang atau sekelompok orang yang ditunjuk untuk memimpin PT. Dewan Direksi memiliki tugas dan kewenangan baik yang bersifat eksternal dan internal. Tugas eksternal Dewan Direksi adalah mewakili PT atas nama perseroan untuk melakukan bisnis dengan perusahaan lain dan mewakili PT dalam perkara pengadilan. Sedangkan tugas internal Dewan Direksi adalah mengurus dan mengelola PT untuk kepentingan PT yang sesuai dengan maksud dan tujuan PT serta menjalankan kepengurusan PT sesuai dengan kebijakan yang tepat yang telah ditentukan dalam UU tentang PT. Adapula tanggung jawab atau kewajiban dari Dewan Direksi yaitu harus bertanggung jawab baik secara pidana atau perdata atas kerugian PT

11

yang disebabkan tidak menjalankan kepengurusan PT sesuai dengan maksud dan tujuan PT. 3. Flight Crew Rachman et al (2012, 34) menjelaskan bahwa yang termasuk dalam flight crew yaitu pilot, co-pilot, teknisi penerbangan, dan flight attendant. Adapula yang dimaksud dengan flight attendant atau yang umum pula disebut cabin crew dan sterwardess, yakni orang yang bertanggung jawab dalam mengurusi penumpang pada saat sudah menaiki pesawat. Berdasarkan hal tersebut, dari suatu wawancara, Chandra Lie selaku Direktur Utama Sriwijaya Air mengungkapkan bahwa hingga November 2011, karyawan Sriwijaya Air sudah mencapai 4500 orang. Berikut persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin menjadi flight attendant Sriwijaya Air yang didapat dari situs resminya: a. wanita/pria; b. ijazah minimal SMA atau sederajat; c. usia 19-24 tahun d. tinggi badan wanita minimal 165 sentimeter dan pria minimal 168 sentimeter; e. tidak berkaca mata atau kontak lensa; f. berpenampilan menarik dan ramah; g. dapat bekerja dengan cepat, tepat, dan bekerja dalam tim; h. menguasai Bahasa Inggris; i. bersedia mengikuti Basic Ground Course selama 3 bulan; j. bersedia mengikuti Flight Training sampai mendapat lisensi; k. bersedia bekerja di PT Sriwijaya Air dengan ikatan dinas; l. mengajukan surat lamaran dengan melengkapi: - Curriculum Vitae - Surat Dokter untuk Keterangan Berbadan Sehat - Fotokopi identitas diri - Pas foto berwarna - Fotokopi ijazah dan transkrip nilai yang sudah dilegalisir - Surat izin orangtua Setelah lolos tahap interview, akan dilakukan proses Briefing In House Training untuk selanjutnya dilakukan proses In House Training Passasi.

12

Proses briefing umumnya dilaksanakan di Kantor Pusat PT Sriwijaya Air di Tangerang, Banten. Sedangkan proses In House Training Passasi dilaksanakan di area Jakarta Selatan. F. Permasalahan yang Terdapat di Sriwijaya Air Dari situs Wikipedia Indonesia, disebutkan beberapa permasalahan yang termasuk insiden atau kecelakaan yang terjadi pada Sriwijaya Air. Sejalan dengan hal tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa permasalahan yang sering terjadi yaitu pesawat tergelincir. Tercatat hal tersebut pernah terjadi di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin pada 27 Agustus 2008, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 27 Januari 2010, di Bandara Adisutjipto pada 20 Desember 2011, dan di Bandara Internasional Minangkabau pada 27 Maret 2013. Disamping itu, sempat terjadi pula beberapa permasalahan yang cukup menarik dan menggelitik yaitu ketika Penerbangan SJ 0021 rute Medan menuju Padang salah mendarat di Bandara Tabing pada 13 Oktober 2012, padahal seharusnya pesawat ini mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Lucunya lagi, sebenarnya Bandara Tabing merupakan landasan militer dan sudah 5 tahun tidak dipergunakan untuk penerbangan komersil. Hal ini terjadi karena pilot yang berwarga negara asing dan co-pilotnya yang walaupun berwarga negara Indonesia, ternyata sama-sama baru pertama kali melakukan penerbangan di rute ini. Maka dari itu, mereka menerbangkan pesawat melalui jalur selatan padahal seharusnya melalui jalur utara sehingga terjadilah kesalahan pendaratan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Ada pula satu permasalahan yang sempat terjadi pada Sriwijaya Air ketika Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) mengadu ketika salah satu anggotanya yang tuna netra diminta turun oleh seorang pilot yang bertugas pada 31 Juli 2013 rute Jakarta menuju Surabaya setelah diketahui penumpang tersebut tidak membawa pendamping. Pilot tersebut beranggapan bahwa penumpang tuna netra tanpa pendamping melanggar aturan yang berlaku saat itu. Namun di lain sisi, penumpang tersebut pun mengaku pada saat itu bukan pertama kali melakukan penerbangan seorang diri. Pertuni yang membela hak tuna netra pun beranggapan bahwa perlakuan pilot tersebut salah karena poin-poin di bawah ini:

13

1. Menurut UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, dijelaskan bahwa maskapai harus dan telah mengakomodir akses layanan penerbangan bagi penyandang disabilitas atau cacat. 2. Sriwijaya Air telah mencetak Panduan Keselamatan Penerbangan dalam format braille agar informasi tersebut dapat diakses secara mandiri oleh penumpang tuna netra. Berdasarkan hal tersebut, maka Pertuni menarik kesimpulan bahwa tidak ada kebijakan atau peraturan di lingkungan Sriwijaya Air untuk tidak memperbolehkan tuna netra terbang tanpa pendamping. Kabar baiknya, ternyata pihak Sriwijaya Air langsung menanggapi aduan tersebut. Pihak Sriwijaya Air langsung mengadakan pertemuan terbatas membahas kasus tersebut. Hasil dari pertemuan tersebut, pihak Sriwijaya Air berjanji untuk berkunjung ke Kantor Pertuni dan membawa serta seluruh cabin crew yang bertugas pada saat itu untuk meminta maaf secara langsung. Lebih tegas lagi, pimpinan Sriwijaya Air akan memberhentikan pilot tersebut karena dinilai telah melakukan pelanggaran hukum. G. Insiden yang Pernah Terjadi Berikut ini adalah daftar insiden kecelakaan yang pernah terjadi pada maskapai penerbangan Sriwijaya Air: 1. Tanggal 27 Agustus 2008 Pesawat Sriwijaya Air penerbangan 062 tergelincir di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi saat akan mendarat. Kecelakaan diakibatkan kurang berfungsinya rem pesawat sehingga pesawat terperosok sekitar 200 meter ke luar landasan, pesawat mengangkut 123 penumpang dan 13 orang mengalami luka.

14

2. Tanggal 27 Januari 2010 Pesawat Sriwijaya Air B737-200 dengan rute Jakarta-Padang tergelincir di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat ini tergelincir saat landing dan terperosok ke bahu landasan, pesawat mengangkut 136 penumpang dan seluruh penumpang pesawat dalam keadaan selamat.

3. 20 Desember 2011 Sriwijaya Air SJ 230 PK-CKM rute Jakarta-Yogyakarta tergelincir di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, pesawat itu diduga tergelincir karena hujan deras yang mengguyur kota Yogyakarta. Peristiwa bermula ketika pesawat Sriwijaya Air berangkat dari Jakarta pukul 13.45 WIB, sekitar 50 menit kemudian seharusnya sudah mendarat di Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Namun, karena saat itu bandara ditutup akibat cuaca buruk dan jarak pandang hanya 500 meter, maka pendaratan dialihkan ke Surabaya. Pesawat tersebut mengisi bahan bakar di Surabaya dan berangkat lagi menuju Yogyakarta. Pesawat Sriwijaya Air tersebut sebenarnya direkomendasikan mendarat di Bandara Adisutjipto pada pukul 17.05. Namun, karena saat itu ada pesawat Garuda yang mendarat, maka baru pukul 17.13 Sriwijaya Air bisa mendarat. Namun, saat melakukan pendaratan, pesawat Sriwijaya tidak terkendali karena tidak bisa direm sehingga terus melaju hingga sisi timur landasan dan kemudian tergelincir di sisi kiri landasan. Setelah terperosok di area rumput baru pesawat bisa berhenti, diketahui bahwa pesawat mengangkut 131 penumpang dan 5 orang mengalami luka-luka dalam insiden ini.

15

4. 1 Juni 2012 Pesawat Sriwijaya Air SJ-188 rute JakartaPontianak tergelincir di Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat. Pesawat Boeing seri 737-400 beregristrasi PK-CJV yang dioperasikan maskapai Sriwijaya Air tersebut tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Supadio pada pukul 12.35 WIB. Ketika pendaratan itu dilakukan, landasan pacu tengah diguyur hujan lebat dan hempasan angin kencang dengan kecepatan rata-rata 16 knot. Saat itu, pesawat tengah membawa 163 penumpang yang terdiri dari 160 penumpang dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun akibat peristiwa tersebut, roda pendaratan bagian depan pesawat (nose wheel) patah, roda bagian kiri dan kanan (landing gear) masuk ke dalam tanah, serta posisi mesin menempel ke tanah.

16

5. 13 Oktober 2012 Pesawat Sriwijaya Air dengan nomor Penerbangan SJ 0021 MedanPadang salah mendarat di Bandar Udara Tabing. Pesawat Sriwijaya Air dari Kota Medan menuju Kota Padang, Sabtu (13/10) sekitar pukul 17.05 WIB,. Pesawat yang seharusnya mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), malah mendarat di bekas landasan pacu Bandara Tabing yang sudah tidak berfungsi lagi. Tidak ada korban jiwa di dalam insiden ini. 6. 27 Maret 2013 Pesawat Sriwijaya Air SJ 0021 Boeing 737-300 PKCLJ rute penerbangan Medan-Padang-Jakarta tergelincir ketika baru saja mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, pesawat itu mengalami insiden sekitar pukul 18.30 pada Rabu, 27 Maret 2013 kemudian pesawat hampir menabrak garbarata di Bandara Internasional Minangkabau. Akibat kejadian tersebut, pesawat menabrak lampu-lampu di landasan pacu. Kejadian tersebut sempat mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Minangkabau dan tidak ada korban jiwa pada insiden ini. H. Keluhan yang Sering Terjadi Berikut keluhan yang sering terjadi di maskapai Sriwijaya Air yang dikutip dari berbagai sumber: 1. Sering terjadi delay/keterlambatan penerbangan pesawat dengan waktu yang cukup lama. 2. Sulitnya Mendapatkan dana refund. 3. Aduan tentang penutupan rute tanpa adanya informasi yang jelas. 4. Bagasi penumpang yang hilang. I. Contoh Kasus dan Cara Maskapai Menangani Permasalahan Berdasarkan fakta yang kami temukan, Sriwijaya Air mendapatkan berbagai permasalahan yang tentunya terpublikasi di media massa serta elektronik. Berikut contoh kasus dan cara Sriwijaya Air menangani permasalahan tersebut:

17

1. Pesawat Sriwijaya Air Delay Rute Jakarta-Medan

Contoh Kasus Sumber: Video Youtube dipublikasikan pada 6 Desember 2012

Penumpang Sriwijaya Air rute Jakarta-Medan adu mulut dengan petugas maskapai Sriwijaya Air di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 1B ruang tunggu 5B. Penyebabnya pesawat yang hendak ditumpangi ditunda penerbangannya dengan alasan nahwa pesawat Sriwijaya air dari Denpasar Bali tujuan Soekarno Hatta juga mengalami keterlambatan.

Christina, salah satu penumpang pesawat dengan nomor perbangan JU 014 menuturkan, sedianya pesawat take off pukul 18.50 WIB, Rabu (5/12/2012). Pada saat check-in petugas menginformasikan ada keterlambatan

keberangkatan 20 menit kedepan dan di boarding-pass tertulis jam 19.10 WIB. Selanjutnya petugas mengumumkan penundaan kembali 50 menit kedepan dan akan berangkat jam 20.00 WIB, sekitar jam 20.25 petugas mengumumkan kembali bahwa penumpang harus segera memasuki pesawat. Disaat penumpang sudah didalam pesawat dan pramugari sudah

memperagakan peraturan keselamatan penerbangan, tidak ada tanda-tanda pesawat hendak berangkat dan kembali petugas mengumumkan agar penumpang keluar dari pesawat dan kembali ke ruang tunggu dengan membawa seluruh barang bawaanya dikarenakan alasan teknis.

Salah satu penumpang sempat menanyakan perihal alasan teknis tersebut pada pramugari dan dijawab disebabkan electricity problem. Sesudah melalui adu mulut yang panjang antara penumpang dan petugas Sriwijaya Air, akhirnya penumpang diberangkatkan sekitar jam 00:50 WIB dengan pesawat yang lain dengan kode KD dan sampai di Medan hampir pukul 03:00 dini hari.

Cara Maskapai Menangani Permasalahan Artikel: Masalah Delay Sriwijaya Air Sudah Teratasi Dipublikasikan pada Kamis, 06 Desember 2012 Pukul 10:54 WIB

18

Senior

Manajer

Komunikasi

Sriwijaya

Air,

Agus

Sujono,

membenarkan telah terjadi penundaan penerbangan pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 104 rute Jakarta-Medan kemarin petang. Namun, sejumlah 164 penumpang akhirnya telah diberangkatkan dengan pesawat yang sama pada pukul 23.30 WIB. "Penumpang sudah diterbangkan semalam dengan pesawat pengganti sesuai permintaan," kata Agus kepada Tempo, Kamis, 6 Desember 2012. Agus menceritakan, pesawat dengan nomor SJ 104 tersebut semula dijadwalkan berangkat pada pukul 18.50 WIB. Namun, akibat masalah teknis, penerbangan ditunda hingga pukul 20.20 WIB. "Penumpang sudah diminta boarding saat itu," ujarnya. Sayangnya, ketika sudah melakukan push back, ternyata pesawat masih mengalami masalah. "Demi alasan keselamatan, penumpang kami minta turun kembali ke ruang tunggu. Di ruang tunggu, penumpang sudah diberi informasi soal perbaikan tersebut dan telah diberi makan malam, katanya. Selesai perbaikan dan sambil menunggu penumpang tuntas makan, pada pukul 22.00 WIB, penumpang diminta kembali boarding. "Saat itu ada penumpang yang menolak. Mereka minta pesawat diganti," ujar Agus. Pihak Sriwijaya mengabulkan, dengan konsekuensi bahwa persiapan pesawat butuh waktu lagi selama 45 menit. "Dan itu juga sudah kami umumkan." Setelah pesawat diganti, penumpang ternyata masih tidak puas dan meminta ganti rugi sebesar Rp 300 ribu karena penundaan dianggap lebih dari empat jam. "Kami jelaskan, bahwa kalau tadi penumpang boarding dengan pesawat yang sudah siap, waktu terlambat tidak akan lebih dari empat jam," ujarnya. Akibatnya, dari total 168 penumpang, hanya 164 orang yang berangkat dengan pesawat pengganti yang terbang pada pukul 23.30 WIB. Dua orang memutuskan untuk membatalkan penerbangan, sementara dua orang lainnya memutuskan untuk rebook. 2. Diskriminatif Sriwijaya Air terhadap Tuna Daksa Contoh Kasus Surat Pembaca: dari Eko Ramaditya Adikara Dipublikasikan pada 1 Juni 2011

19

Di kesempatan ini saya ingin menyampaikan keprihatinan saya terhadap peristiwa yang saya alami saat terbang dengan sebuah maskapai penerbangan beberapa hari yang lalu, tepatnya 24 dan 25 Mei 2011. Saya melakukan perjalanan dari Jakarta ke Denpasar pada tanggal 24 Mei, dan kembali lagi ke Jakarta pada tanggal 25 Mei. Sebagai informasi, saya adalah seorang penyandang cacat (orang berkebutuhan khusus) tunanetra, dan saya melakukan perjalanan tersebut secara mandiri, tanpa membawa pendamping. Jadi, hal yang akan saya sampaikan sangat berhubungan dengan ketunanetraan yang saya sandang, dan boleh jadi, berdampak pada rekan-rekan sesama orang berkebutuhan khusus lainnya. Masalah saya alami saat hendak melakukan penerbangan. Seperti biasa, petugas maskapai meminta saya untuk menandatangani surat pernyataan, yang menurut saya, sangat diskriminatif bagi penumpang berkebutuhan khusus. Jadi, saya diminta menandatangani surat pernyataan yang di dalamnya menyatakan bahwa saya adalah penumpang berkondisi sakit dan tidak membawa surat dokter. Selanjutnya, ada beberapa poin yang secara singkat kira-kira berbunyi; pihak maskapai dibebaskan dari segala tanggungjawab apabila terjadi sesuatu pada penumpang yang menandatangani surat tersebut (penyakit bertambah parah, hingga mengakibatkan kematian). Selain itu, bahkan sebuah poin menyatakan bahwa sang penumpang yang sakit yang telah tanda tangan surat pernyataan tersebut diharuskan mengganti kerugian apabila terjadi kerugian pada proses penerbangan, termasuk sebab-sebab yang telah saya sebutkan di atas. Detail poin dapat dibaca melalui scan surat pernyataan yang saya sertakan (yang ditandatangani sendiri oleh petugas bandara karena saya tidak mau tanda tangan). Sepintas lalu memang terlihat sepele. Tanpa perlu memusingkan isi surat dan tanda tangan, penumpang seperti saya bisa saja melanjutkan

20

perjalanan. Namun, saya memikirkan dampak negatif yang timbul bila saja pesawat yang ditumpangi orang berkebutuhan khusus mengalami kecelakaan. Pertama, menyamakan penyandang cacat/orang berkebutuhan khusus dengan orang sakit. Pemahaman ini sungguh keliru dan kiranya dapat diluruskan. Orang berkebutuhan khusus adalah mereka yang mengalami kelainan fisik yang menyebabkan hilangnya fungsi fisik orang yang bersangkutan (contohnya tunanetra tidak dapat melihat), jadi berbeda dengan sakit seperti kanker, jantung, hipertensi, epilepsi, dan lain-lainnya. Untuk pemahaman lebih lanjut dapat Googling dengan kata kunci "penyandang cacat bukan orang sakit." Kedua, adalah dampak dari redaksional surat tersebut apabila pesawat yang ditumpangi orang berkebutuhan khusus mengalami kecelakaan. Merujuk pada isi surat terlampir, saya asumsikan maskapai penerbangan mengabaikan hak-hak asasi manusia, yaitu penumpang berkebutuhan khusus, yang seharusnya mendapatkan pelayanan dan perlindungan yang sama dengan penumpang lain, karena kami juga membayar penuh seperti halnya penumpang lain. Saya pun pesimis kalau komplain semacam ini akan dibaca pihak maskapai penerbangan, apalagi sampai dipertimbangkan dan dijadikan acuan untuk merubah kebijakan yang sudah ada. Namun, saya percaya apabila hal ini diketahui orang banyak dan dapat menggugah hati para pembaca untuk lebih peduli terhadap hal semacam ini, maka bukan tidak mungkin perubahan akan dapat dilaksanakan. Harapan saya, semoga maskapai penerbangan di Indonesia dapat lebih bijaksana menentukan kebijakan bagi penumpangnya, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Minimal sediakanlah formulir yang khusus mengakomodasi penumpang berkebutuhan khusus (tanpa menyebut sebagai orang sakit tentunya). Yang terakhir, saya mohon maaf, terutama pada pihak maskapai penerbangan yang tersebut dalam scan surat, apabila surat ini dianggap mencemarkan nama baik atau yang semacamnya. Saya selaku individu hanya ingin menyampaikan keprihatinan atas bunyi surat pernyataan yang menurut hati nurani saya cukup diskriminatif dan kurang adil bagi penumpang berkebutuhan khusus seperti saya. Jadi, saya sama sekali tidak marah, emosi,

21

menuding, apalagi sampai menuntut. Semua ini murni berdasarkan keprihatinan semata. Sekian dan terima kasih. Bila ada pembaca yang berkenan membantu dalam menyelesaikan masalah ini, baik secara hukum maupun advice, dapat juga berkirim e-mail ke ramavgm@gmail.com atau Twitter @ramadityaknight. Cara Maskapai Menangani Permasalahan Surat Pembaca: dari Agus Sudjono (Senior Manager Corporate Communication PT Sriwijaya Air) Dipublikasikan pada 13 Juni 2011 Menanggapi kritikan dari Bapak Eko Ramaditya Adikara yang dimuat di situs www.detik.com pada tanggal 1 Juni 2011, kami dari manajemen Sriwijaya Air mohon maaf atas kejadian tersebut. Hal ini terjadi karena adanya miss communication antara petugas check in kami dengan orang yang membantu proses check in Bapak Eko. Form yang diberikan oleh petugas check in kami memang bukan ditujukan untuk penumpang dengan kebutuhan khusus seperti Bapak, melainkan untuk penumpang yang sakit. Namun, dikarenakan keterangan yang kurang menyakinkan dari pemandu tersebut mengenai kondisi Bapak Eko, maka petugas kami meminta untuk menandatangani surat pernyataan yang ditandatangani sendiri oleh pemandu check in tersebut. Atas kritik yang disampaikan, akan menjadi perhatian kami agar peristiwa yang dialami oleh Bapak Eko dan pelanggan kami lainnya tidak terulang kembali dimasa yang akan datang. Terima kasih. 3. Pegawai Sriwijaya Air Bandara Soekarno-Hatta Menipu Contoh Kasus Surat Pembaca: dari Ningsi Megawati Dipublikasikan pada 8 Mei 2011 Sabtu pagi saya ditolak untuk check in di terminal 1B Bandara Soekarno Hatta untuk penerbangan Sriwijaya Air dengan nomor flight SJ092

22

rute Jakarta-Bengkulu jam 07.00 meskipun di monitor belum tertulis boarding, namun petugas check-in mengatakan sudah closed tanpa penjelasan. Saya tidak naif jika tiket bisa dijual kembali, namun ketika saya tanyakan ke petugas yang bersangkutan, mereka menyangkal sudah menjual kembali tiket tersebut. Mereka tetap menyatakan closed dan menganjurkan pindah jam penerbangan ke jam satu siang. Dengan pasrah dan prasangka baik kepada petugas tersebut saya lakukan sarannya dan kemudian check in penerbangan SJ090 jam 13.00 dan langsung menuju El-John Lounge untuk menunggu 6 jam flight berikutnya. Namun sekitar jam 7.50 (atau sekitar 50 menit setelah jam penerbangan) saya mendengar panggilan untuk boarding bagi penumpang SJ092 tujuan Bengkulu. Saya yang tadinya sudah pasrah jadi mulai bereaksi terhadap tindakan pegawai yang terlibat. Mohon perhatian bagi manajemen bandara Soekarno Hatta dan Manjemen Sriwijaya Air untuk dapat menindak pegawai yang bertugas antara jam 6-7 pagi tanggal 7 Mei 2011 di terminal B1 Soekarno Hatta yang melayani penumpang Sriwijaya Air karena mereka telah melakukan tidakan yang merugikan konsumen.
Cara Maskapai Menangani Permasalahan Surat Pembaca: dari Agus Soejono (Senior Manager Corporate Communication

PT Sriwijaya Air) Menanggapi keluhan Ibu Ningsi Megawati yang dimuat di situs www.detik.com pada tanggal 8 Mei 2011, bersama ini kami sampaikan bahwa pada tanggal 7 Mei 2011, pesawat dengan nomor penerbangan SJ-092 jurusan CengkarengBengkulu dijadwalkan take off pada pukul 07.00 WIB. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, closing time untuk check in pada pukul 06.30 WIB (30 menit sebelum pesawat take off). Berdasarkan DCS yang diterima tanggal 7 Mei 2011, kami mendapat informasi bahwa pada penerbangan SJ-092 tersebut mengalami pergantian pesawat yang jumlah kapasitas seat-nya lebih sedikit dari pesawat sebelumnya, sehingga kami mengalami over pax.

23

Sebagai bentuk tanggung jawab, maka pelanggan yang belum dapat diterbangkan pada penerbangan tersebut kami alihkan ke penerbangan SJ-090 yang take off pukul 13.00 WIB. Pelanggan kami sarankan untuk menunggu di El-John Lounge. Menjelang akan dilakukan boarding, pesawat yang akan digunakan pada penerbangan SJ-092 mengalami masalah, sehingga kami memutuskan untuk menunggu pesawat dari Palembang yang landing pada pukul 07.20 WIB. Pesawat yang akan diterbangkan ke Bengkulu pun akhirnya baru boarding pada pukul 08.12, bukan pukul 07.50 yang Ibu dengar. Sebenarnya, informasi boarding tersebut juga ditujukan kepada pelanggan yang sama yaitu SJ 092, dan bukan ada penambahan flight. Atas kejadian ini, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Ibu alami. Kami ucapkan terima kasih atas kritik yang Ibu sampaikan. Semoga dalam penerbangan Sriwijaya Air lainnya, kami dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.