Anda di halaman 1dari 30

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita. Pada tahun 1974 cakupan vaksinasi baru mencapai 5% sehingga dilaksanakan imunisasi global yang disebut Program Pengembangan Imunisasi (PPI).1,2 Kementerian Kesehatan menargetkan pada tahun 2014 seluruh desa/ kelurahan mencapai 100% UCI (Universal Child Immunization) atau 90% dari seluruh bayi di desa/kelurahan tersebut memperoleh imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG, Hepatitis B, DPT-HB, Polio dan campak. Pencapaian UCI desa/ kelurahan tahun 2009 masih sangat rendah, yaitu 69,6%. Hal ini disebabkan antara lain karena kurang perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah terhadap program imunisasi, kurangnya dana operasional untuk imunisasi baik rutin maupun tambahan, dan tidak tersedianya fasilitas dan infrastruktur yang adekuate. Selain itu juga kurangnya koordinasi lintas sektor termasuk pelayanan kesehatan swasta, kurang sumber daya yang memadai serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang program dan manfaat imunisasi.3,4 Menurut data profil kesehatan Indonesia 2008, di Sumatera Selatan angka kejadian Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) masih tinggi. Penyakit campak, terjadi 766 kasus (7,2%) dengan 232 kasus (2,2%) terjadi pada orang yang telah divaksinasi. C a m p a k ( measles, morblli, rubela) disebabkan oleh virus measles yang termasuk dalam genus Morbillivirus famili Paramyxoviridae. Campak merupakan penyakit akut yang sangat menular, dan ditandai dengan Gejala utama dari campak adalah demam, batuk, coryza, konjungtivitis, dan bercak koplik yang diikuti timbulnya ruam makulopapular pada hari ke tiga sampai hari ke tujuh. Dari data profil Dinas Kesehatan Kota Palembang tahun 2010, didapatkan bahwa cakupan imunisasi campak di kota palembang rata-rata mencapai 93,28%, pada profil Puskesmas Pakjo pada tahun 2012, cakupan imunisasi campak di

Puskesmas Pakjo mencapai 90,7%. Hasil ini sudah mencapai standar UCI Nasional per kecamatan pada tahun 2012 yang seharusnya mencapai 90%.6 Berdasarkan data di atas penulis tertarik untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tercapainya cakupan imunisasi campak di Puskesmas Pakjo sebagai tugas akhir Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas di Puskesmas Pakjo Palembang.

1.2. Rumusan Masalah Apa saja faktor yang mempengaruhi tercapainya cakupan imunisasi campak di Puskesmas Pakjo Palembang?

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mengetahui faktor faktor apa saja yang mempengaruhi tercapainya cakupan imunisasi campak di Puskesmas Pakjo Palembang.

1.3.2. Tujuan Khusus 1. Mengetahui cakupan pemberian imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Pakjo Palembang. 2. Mengetahui upaya KIE dan promosi dalam penyuluhan imunisasi imunisasi campak di Puskesmas Pakjo Palembang.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi peneliti 1. Menambah informasi, pengetahuan, dan wawasan tentang imunisasi dasar pada balita. 2. Menambah pengalaman dalam melakukan penelitian sebagai bekal dalam melakukan penelitian selanjutnya.

1.4.2. Bagi Institusi Memberikan karya bagi almamater sehingga dapat menambah data yang baru yang dapat digunakan oleh mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.

1.4.3. Bagi Masyarakat Dengan meningkatnya kualitas program imunisasi akan menurunkan angka kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Penyakit Campak 2.1.1 Definisi Penyakit campak adalah suatu penyakit berjangkit. Campak atau rubeola adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis dan ruam kulit. Campak ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu: a. stadium kataral, b. stadium erupsi dan c. stadium konvalesensi.4

Campak adalah suatu penyakit akut menular, ditandai oleh tiga stadium: 1. Stadium kataral Di tandai dengan enantem (bercak koplik) pada mukosa bukal dan faring, demam ringan sampai sedang, konjungtivitis ringan, koryza, dan batuk. 2. Stadium erupsi Ditandai dengan ruam makuler yang muncul berturut-turut pada leher dan muka, tubuh, lengan dan kaki dan disertai oleh demam tinggi. 3. Stadium konvalesensi Ditandai dengan hilangnya ruam sesuai urutan munculnya ruam, dan terjadi hiperpigmentasi.

2.1.2 Etiologi Campak disebabkan oleh virus RNA dari famili paramixoviridae, genus Morbillivirus. Selama masa prodormal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virus dapat aktif sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar. Virus campak dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia atau jaringan ginjal kera rhesus. Perubahan sitopatik, tampak dalam 5-10 hari, terdiri dari sel raksasa multinukleus dengan inklusi intranuklear. Antibodi dalam sirkulasi dapat dideteksi bila ruam muncul.

2.1.3 Epidemiologi Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan KLB campak yang dilakukan Subdit Surveilans dan Daerah pada tahun 1998-1999, kasus-kasus campak terjadi karena anak belum mendapat imunisasi cukup tinggi, mencapai sekitar 40100 persen dan mayoritas adalah balita (>70 persen). Frekuensi KLB campak pada tahun 1994-1999 berdasarkan laporan seluruh provinsi se-Indonesia ke Subdit Surveilans, berfluktuasi dan cenderung meningkat pada periode 19981999: dari 32 kejadian menjadi 56 kejadian. Angka frekuensi itu sangat dipengaruhi intensitas laporan dari provinsi atau kabupaten/kota. Daerah-daerah dengan sistern pencatatan dan pelaporan yang cukup intensif dan mempunyai kepedulian cukup tinggi terhadap pelaporan KLB, mempunyai kontribusi besar terhadap kecenderungan meningkatnya frekuensi KLB campak di Indonesia, seperti Jawa Barat, NTB, Jambi, Bengkulu dan Yogyakarta.4

2.1.4 Patofisiologi Lesi campak terdapat di kulit, membran mukosa nasofaring, bronkus, dan saluran cerna dan pada konjungtiva. Eksudat serosa dan proliferasi sel mononuklear dan beberapa sel polimorfonuklear terjadi disekitar kapiler. Ada hiperplasi limfonodi, terutama pada apendiks. Pada kulit, reaksi terutama menonjol sekitar kelenjar sebasea dan folikel rambut. Bercak koplik pada mukosa bukal pipi berhadapan dengan molar II terdiri dari eksudat serosa dan proliferasi sel endotel serupa dengan bercak pada lesi kulit. Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder.

2.1.5 Diagnosis Banding Diagnosis banding penyakit campak yang perlu dipertimbangkan adalah campak jerman, infeksi enterovirus, eksantema subitum, meningokoksemia, demam skarlantina, penyakit riketsia dan ruam kulit akibat obat, dapat dibedakan dengan ruam kulit pada penyakit campak.

1. Campak jerman. Pada penyakit ini tidak ada bercak koplik, tetapi ada pembesaran kelenjar di daerah suboksipital, servikal bagian posterior, belakang telinga.

2. Eksantema subitum. Perbedaan dengan penyakit campak. Ruam akan timbul bila suhu badan menurun.

3. Infeksi enterovirus Ruam kulit cenderung kurang jelas dibandingkan dengan campak. Sesuai dengan derajat demam dan berat penyakitnya.

4. Penyakit Riketsia Disertai batuk tetapi ruam kulit yang timbul biasanya tidak mengenai wajah yang secara khas terlihat pada penyakit campak.

5. Meningokoksemia Disertai ruam kulit yang mirip dengan campak, tetapi biasanya tidak dijumpai batuk dan konjungtivitis. 4

6. Ruam kulit akibat obat Ruam kulit tidak disertai dengan batuk dan umumnya ruam kulit timbul setelah ada riwayat penyuntikan atau menelan obat.

7. Demam skarlantina. Ruam kulit difus dan makulopapuler halus, eritema yang menyatu dengan tekstur seperti kulit angsa secara jelas terdapat didaerah abdomen yang relatif mudah dibedakan dengan campak.

2.1.6 Diagnosis Diagnosis dibuat dari gambaran klinis, selama stadium prodormal, sel raksasa multinuklear dapat ditemukan pada apusan mukosa hidung. Virus dapat diisolasi pada biakan jaringan. Angka leukosit cenderung rendah dengan limfositosis relatif. Pungsi lumbal pada penderita dengan ensefalitis campak biasanya menunjukkan kenaikan protein dan sedikit kenaikan limfosit. Kadar glukosa normal. Bercak koplik dan hiperpigmentasi adalah patognomonis untuk rubeola/campak.

2.1.7 Komplikasi

1. Bronkopnemonia Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh virus campak atau oleh pneumococcus, streptococcus, staphylococcus. Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi yang masih muda, anak dengan malnutrisi energi protein, penderita penyakit menahun seperti tuberkulosis, leukemia dan lain-lain. Oleh karena itu pada keadaan tertentu perlu dilakukan pencegahan.

2. Komplikasi neurologis Kompilkasi neurologis pada morbili seperti hemiplegi, paraplegi, afasia, gangguan mental, neuritis optica dan ensefalitis.

2.1.8 Prognosis Prognosis baik pada anak dengan keadaan umum yang baik, tetapi prognosis buruk bila keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita penyakit kronis atau bila ada komplikasi4. Angka kematian kasus di Amerika Serikat telah menurun pada tahun-tahun ini sampai tingkat rendah pada semua kelompok umur, terutama karena keadaan sosioekonomi membaik.

2.2.1 Pengertian Imunisasi Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit. Vaksinasi adalah suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan dengan antigen yang berasal dari mikoorganisme patogen untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh seseorang.1,8 Kekebalan adalah suatu sistem yang rumit dan interaksi sel di dimana tujuan utamanya adalah mengenali adanya antigen. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu itu sendiri. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Waktu paruh IgG 28 hari, sedangkan waktu paruh imunoglobulin lainya lebih pendek. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan secara ilmiah. Kekebalan aktif berlangsung lebih lama daripada kekebalan pasif karena adanya memori imunologik. Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar variola.2,9

2.2.2. Vaksin 2.2.2.1. Pengertian Vaksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman (bakteri, virus, atau riketsia), atau racun kuman (toxoid) yang telah dilemahkan atau dimatikan dan akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.8,9

2.2.2.2. JenisJenis Vaksin2,8,9 Pada dasarnya, vaksin dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : 1. Vaksin Hidup Attenuated Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar (wild) penyebab penyakit. Virus atau bakteri liar ini dilemahkan (attenuated) di laboratorium, biasanya dengan cara pembiakan berulang-ulang. Misalnya vaksin campak yang dipakai sampai sekarang, diisolasi untuk mengubah virus campak liar menjadi virus vaksin dibutuhkan 10 tahun dengan cara melakukan penanaman pada jaringan media pembiakan secara serial dari seorang anak yang menderita penyakit campak pada tahun 1954.

2. Vaksin Inactivated Vaksin ini dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam media pembiakan (persemaian), kemudian dibuat tidak aktif dengan penanaman bahan kimia (biasanya formalin). Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh, maka seluruh dosis antigen dimasukkan dalam suntikan. Vaksin ini tidak menyebabkan penyakit dan tidak dapat mengalami mutasi menjadi bentuk patogenik. Tidak seperti antigen hidup, antigen inactivated umumnya tidak dipengaruhi oleh antibodi yang beredar. Vaksin inactivated selalu membutuhkan dosis multiple, pada umumnya, pada dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu atau menyiapkan sistem imun. Respons imun protektif baru timbul setelah dosis kedua atau ketiga. Hal ini berbeda dengan vaksin hidup, yang mempunyai respons imun mirip atau sama dengan infeksi alami, respons imun terhadap vaksin inactivated sebagian besar humoral, hanya sedikit atau tak menimbulkan imunitas selular.

2.2.3. Respon Imun pada Imunisasi Pemberian vaksin sama dengan pemberian antigen pada tubuh. Jika terpajan oleh antigen, baik secara alamiah maupun melalui pemberian vaksin, tubuh akan bereaksi untuk menghilangkan antigen tersebut melalui sistem imun.7

10

Secara umum, sistem imun dibagi menjadi 2, yaitu sistem imun nonspesifik dan sistem imun spesifik. Sistem imun non-spesifik merupakan mekanisme pertahanan alamiah. Disebut non-spesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada dan siap berfungsi sejak lahir. Mekanismenya tidak menunjukkan spesifisitas terhadap bahan asing dan mampu melindungi tubuh terhadap banyak patogen potensial. Sistem tersebut merupakan pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroba dan dapat memberikan respons langsung. Jika sistem imun non-spesifik tidak berhasil menghilangkan antigen, barulah sistem imun spesifik berperan.8-10 Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali muncul dalam badan segera dikenal oleh sistem imun spesifik sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imun tersebut. Benda asing yang sama, bila terpajan ulang akan dikenal lebih cepat, kemudian dihancurkan. Sistem imun spesifik diperankan oleh sel T dan sel B. Pertahanan oleh sel T dikenal sebagai imunitas selular, sedangkan pertahanan sel B dikenal sebagai imunitas humoral. Imunitas seluler berperan melawan antigen didalam sel (intrasel), sedangkan imunitas humoral berperan melawan antigen diluar sel (ektrasel). Dalam pemberian vaksin, sistem imun spesifik inilah yang berperan untuk memberikan kekebalan terhadap satu jenis agen infeksi, melalui mekanisme memori. 8-10 Peran utama vaksinasi adalah menimbulkan memori imunologik yang banyak. Sel B memori terbentuk di jaringan limfoid bagian sentral germinal. Antigen asing yang sudah terikat dengan antibodi akan membentuk kompleks Agantibodi dan akan terikat dengan komplemen (C). Kompleks Ag-Ab-C akan menempel pada sel dendrite folikel (FDC=follicular dendritic cells) karena terdapat reseptor C di permukaan sel dendrite. Terjadi proliferasi dan diferensiasi sel limfosit B dan akan terbentuk sel plasma yang menghasilkan antibodi dan sel B memori yang mempunyai afinitas antigen yang tinggi. Sel B memori akan berada di sirkulasi sedangkan sel plasma akan migrasi ke sumsum tulang. Bila sel B memori kembali ke jaringan limfoid yang mempunyai antigen yang serupa

11

maka akan terjadi proses proliferasi dan diferensiasi seperti semula dengan menghasilkan antibodi yang lebih banyak dan dengan afinitas yang lebih tinggi.
8-10

Dengan demikian, diharapkan seseorang yang sudah pernah divaksinasi tidak akan mengalami penyakit akibat pajanan antigen yang sama karena sistem imunnya memiliki kemampuan yang lebih dibanding mereka yang tidak divaksinasi.8-10

2.2.4

Imunisasi Campak Pada saat ini di negara yang sedang berkembang, angka kejadian campak masih tinggi dan seringkali dijumpai penyulit, maka WHO menganjurkan pemberian imunisasi campak pada bayi berumur 9 bulan.

a. Dosis dan tata cara pemberian Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1000 TCID50 atau sebanyak 0,5 ml. Untuk vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID50 mungkin sudah dapat memberikan hasil yang baik. Pemberian yang dianjurkan secara subkutan, walaupun demikian dapat diberikan secara intramuscular.

b. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Reaksi samping dari pemberian imunisasi vaksin campak antara lain demam > 39,5C, ruam, ensefalitis, dan ensefalopati. Kejadian ikutan pasca imunisasi campak telah menurun dengan digunakannya vaksin campak yang dilemahkan.

c. Kontra Indikasi Imunisasi campak tidak dianjurkan pada anak dengan

imunodefisiensi primer, pasien TB yang tidak diobati, pasien kanker, atau transplantasi organ, mereka yang mendapat pengobatan

12

imunosupresif jangka panjang atau anak immunocompromised yang terinfeksi HIV.

2.2.5 Jadwal Pemberian Imunisasi Jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayi dapat dilihat pada tabel 1.

Table 1. Jadwal Pemberian Imunisasi Jenis Vaksin Umur Pemberian Vaksin Bulan

Program Pengembangan Imunisasi (PPI) 0 BCG Hepatitis B Polio DPT Campak Sumber : DepKes RI 0 1 1 1 2 1 2 3 2 3 4 3 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

2.2.6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi Dasar 2.2.6.1 Orang tua 1. Pendidikan Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. Menurut penelitian Feby (2008), semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu maka semakin esar kemungkinan ibu tersebut untuk mengimunisasikan anaknya.10 Karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, pendidikannya dan sebagainya. Mereka juga menjadi lebih mengerti maksud, tujuan, dan manfaat program program kesehatan, khususnya imunisasi, sehingga mereka akan lebih terdorong untuk turut memberikan imunisasi pada anaknya.11

13

2. Pekerjaan Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya, seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya, dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada sesuatu keadaan yang lebih memuaskan dari pada keadaan sebelumnya.12 Berdasarkan asumsi, ibu yang sibuk bekerja untuk mendapatkan tambahan pendapatan keluarganya, maka kesempatan untuk datang ke tempat pelayanan imunisasi semakin berkurang.13

3. Pendapatan Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun yang sekunder.11

4. Jumlah anak Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup, akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak. Menurut Katedi (2010), ibu yang memiliki 2 anak akan cendenrung mengimunisasikan anaknya dibandingkan dengan ibu yang memiliki >2 anak.5 Terlebih lagi jika jarak anak terlalu dekat. Sedangkan pada keluarga dengan keadaan sosial ekonomi yang kurang, jumlah anak yang banyak akan mengakibatkan selain kurangnya kasih sayang dan perhatian pada anak, juga kebutuhan primer seperti makanan, sandang dan perumahan pun tidak terpenuhi. Begitu juga imunisasi.11

14

2.2.6.2 Lingkungan 1. Tersedianya sarana dan prasarana Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya pelayanan kesehatan. Dengan pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat teratasi. Jika upaya kesehatan seperti imunisasi tidak dapat terselenggara dengan baik dan pelayanan kesehatan belum terjangkau secara merata oleh masyarakat, maka sulit diharapkan derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat.1

2. Jarak fasilitas Program kesehatan harus terjangkau masyarakat, baik dari segi dana yang murah sampai tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat.8

3. Penerimaan masyarakat terhadap program kesehatan Kesalahpahaman/miskonsepsi berpengaruh terhadap penerimaan mengenai masyarakat imunisasi terhadap juga program

imunisasi. Kesalahpahaman yang terutama menyebabkan masyarakat tidak berani mengimunisasi anaknya adalah anggapan bahwa imunisasi memiliki efek samping yang justru berbahaya bagi anak, bahkan dapat menyebabkan kematian pada anak.10

4. Petugas kesehatan Sikap dan perilaku petugas kesehatan merupakan faktor penguat seseorang dalam memilih suatu alternative perilaku sehat. Apabila pelayanan petugas imunisasi baik, maka akan lebih membuat ibu puas dan senang akan pelayanan petugas tersebut, sehingga ibu akan berusaha kembali untuk mengimunisasi anaknya sesuai jadwal imunisasi berikutnya.12

15

2.2.6.3 Vaksin Secara umum vaksin terdiri dari vaksin hidup dan vaksin mati (inaktif) yang mempunyai ketahanan dan stabilitas yang berbeda terhadap perbedaan suhu. Oleh karena itu harus diperhatikan syarat-syarat penyimpanan dan transportasi vaksin untuk menjamin potensinya ketika diberikan kepada seorang anak. Bila syarat-syarat tersebut tidak di perhatikan maka vaksin sebagai material biologis mudah rusak atau kehilangan potensinya untuk merangsang kekebalan tubuh, bahkan bisa menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang tidak diharapkan.2

16

BAB III PROFIL PUSKESMAS PAKJO PALEMBANG

3.1. Gambaran Umum Puskesmas Pakjo atau sering disebut Puskesmas Bambu Kuning merupakan salah satu Puskesmas di wilayah Kecamatan Ilir Barat I. Terletak di Jalan Inspektur Marzuki. Wilayah kerjanya membawahi 1 (satu) kelurahan yaitu Kelurahan Siring Agung. 3.2. Letak Geografi Puskesmas Pakjo terletak dikelurahan Siring Agung mempunyai luas 6,4 km , sebagian besar terdiri dari dataran rendah, sebagian kecil rawa-rawa, relatif mudah dijangkau, hanya Dusun Sungai Hitam (Rt.5 Rw.9) yang harus memutar melalui Kabupaten Banyuasin karena ada sungai yang belum ada jembatan penghubung. Batas-batas Kelurahan Siring Agung yaitu : Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Ilir Timur I D IV Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Lorok Pakjo Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Demang Lebar Daun Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Bukit Baru
2

3.3. Keadaan Demografi Berdasarkan data tahun 2011/2012 Puskesmas Pakjo didukung oleh sarana dan prasarana,yaitu : 1. Penduduk Total a. Laki laki b. Perempuan Rumah Kepala Keluarga : 21.293 : 10.761 : 10.532 : 3.893 : 4.140 jiwa. jiwa jiwa Buah KK

17

a. Gakin b. Non Gakin Bayi Balita Lansia a. Laki laki b. Perempuan PUS PUS GAKIN PUS dengan 4T WUS

: 1.240 : 2.900 : 479

KK KK jiwa jiwa jiwa jiwa jiwa. pasangan pasangan pasangan orang

: 2.214 : 1.576 : : 806 770

: 3.619 : 652 : 167 : 4.620

2. Sarana dan prasarana kesehatan Puskesmas Pustu Praktek Dokter Umum : : : 1 2 6 1 7 2 17 buah buah orang orang orang orang orang

Praktek Dokter Spesialis : Praktek Bidan :

Klinik/Balai Pengobatan : Posyandu :

3. Sarana Kesehatan Lingkungan Jumlah - Rumah - Rumah Sehat - Jamban Keluarga - Jamban Sehat Sumber Air bersih - PDAM sambungan - Sumur gali aktif - DAMIU : 2.920 : 1.363 : 8 buah buah buah : 3.893 : 3.425 : 4.140 : 2.536 buah buah buah buah

(Depot Air Minum isi Ulang)

18

4. Sarana pendidikan Taman Kanak kanak - Negeri - Swasta SD / MI - Negeri - Swasta SLTP / MTs - Negeri - Swasta SMU / MA - Negeri - Swasta Universitas - Negeri - Swasta : : 1 buah : : 2 buah 1 buah : : 3 buah 1 buah : : 7 buah : : 5 buah

5. Saran Ibadah dan Tempat-tempat Umum Sarana Ibadah Masjid Mushola Gereja Pura Wihara : : : : : 17 buah 5 buah -

Tempat-Tempat Umum Kantor Hotel/Mess TPM lain Rumah Makan : : : : 4 buah 3 buah 25 buah 12 buah 12 buah -

Salon Kecantikan : Pasar :

19

Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Pakjo Palembang

Puskesmas Pembantu : Dalam pelaksanaan kegiatan, dibantu oleh 2 (dua) Puskesmas Pembantu : 1. Puskesmas Pembantu (Pustu) Talang Masketip Didirikan tahun 1987 dari dana inpres tanah wakaf dari Bapak M. Said, terletak di Jalan Inspektur Marzuki Lr. Lematang Rt. 4 Rw. 9 Kelurahan Siring Agung. 2. Puskesmas Pembantu (Pustu) Siring Agung Didirikan tahun 1980 dari dana inpres. Tanah merupakan hibah dari Stanvac, terletak di Jalan Sei Talo. a. Pustu Siring Agung : Perawat :1 orang

b. Pustu Talang Masketip : Akbid Bidan :1 :1 orang orang

20

3.4. Program Program Yang Dilaksanakan 1. Kesehatan Keluarga (KESGA) Pemeriksaan antenatal, buteki dan nifas Penyuluhan pada bumil, nifas dan buteki Pembinaan Posyandu dan Lansia Pemberian makanan tambahan untuk lansia

2. Keluarga Berencana 3. Gizi 4. Pembinaan Posyandu Pemberian kapsul Vit. A untuk bayi diatas 6 bulan dan balita Pemberian tablet tambah darah (Fe) Penyuluhan pemanfaatan pekarangan Pemberian makanan tambahan untuk balita dengan program JPK-MM Penyuluhan Gilingan Mas Pelayanan KB Penyuluhan KB

Kesehatan Lingkungan Penyuluhan kesehatan lingkungan sekolah, posyandu dan pemukiman Pendataan Rumah Sehat PHBS Pendataan TPM TPU Penyuluhan Gilingan Mas

5. P2P P2 ISPA - Penyuluhan penyakit ISPA - Pengobatan Penderita ISPA P2Diare Penyuluhan Penyakit Diare Penyuluhan Penderita Diare Rehidrasi Rumah Tangga

21

P2TB Paru - Penyuluhan penyakit TB Paru - Pengobatan Penderita TB Paru - Pemeriksaan dahak dirujuk ke PKM Merdeka DHF - Penyuluhan penyakit DHF - Pengobatan Penderita DHF - Rujukan ke Rumah Sakit Imunisasi - Penyuluhan Gilingan Mas - Pelayanan imunisasi bayi, bumil dan caten - Pelayanan imunisasi anak SD 6. Pengobatan termasuk Pelayanan Darurat karena kecelakaan - Pengobatan umum - Pengobatan peserta Askes, Jamsostek - Pengobatan Keluarga Miskin - MTBS - Rujukan 7. Usaha Kesehatan Sekolah ( UKS ) - Pendataan dan penimbangan anak TK - Pendataan dan screening anak SD kelas I - Imunisasi (BIAS) - Penyuluhan kesehatan SD, SMP, SMA - Pelatihan / pembinaan Dokter Kecil 8. Penyuluhan Kesehatan masyarakat - Di dalam gedung Puskesmas - Di luar gedung Puskesmas 9. Perawatan Kesehatan Masyarakat : - Rujukan kasus resiko tinggi - Kunjungan rumah penderita TB paru dan lain-lain - Kunjungan rumah bumil, bayi, balita resiko tinggi

22

10. Kesehatan Gigi dan Mulut : - Pengobatan penyakit gigi dan mulut - UKGS - UKGMD 11. Kesehatan Jiwa - Penyuluahan kesehatan jiwa - Pengobatan dan rujukan penderita 12. Kesehatan Mata : - Penyuluhan Penyakit Mata - Pencarian penderita penyakit katarak - Pengobatan dan rujukan penderita 13. Laboratorium Sederhana : - Pemeriksaan darah rutin dan urine rutin - Pemeriksaan kehamilan dengan grandivica stick - Pembuatan sediaan untuk pemeriksaan dahak suspek TBC. - Kimia Darah Sederhana : Gula Darah, Uric Acid 14. Pencatatan dan Pelaporan : - Laporan Tahunan - Laporan Bulanan - Laporan Mingguan - Laporan PWS KIA, Gizi , Imunisasi - Laporan KB - Laporan P2P - Laporan Kinerja - Laporan Perencanaan Tingkat Puskesmas - Laporan Keuangan

23

3.5 Program Unggulan Puskesmas Pakjo 1. Gizi Kami memilih program unggulan tersebut diatas dikarenakan : Kelurahan Siring Agung merupakan daerah pemukiman yang

perkembangannya sangat cepat. Di Kelurahan Siring Agung masih banyak penduduk yang status sosialnya masih rendah, sehingga masih banyak kami temukan balita BGM. Sejak Tahun 2010-2011 ada bantuan Program NICE yang sangat membantu program ini. 2. Lapas Anak Di wilayah Puskesmas Pakjo ada Lapas Anak, Rutan Dewasa, sehingga Departemen Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Kota Palembang menugaskan untuk lebih memperhatikan Lapas Anak dan selalu dimasukkan kegiatan Puskesmas luar gedung seperti : Kunjungan Rutin setiap bulan (Dokter, Paramedis, dan tenaga kesehatan lainnya) yaitu Rabu minggu ke empat, dan memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada Andiklapas. Kunjungan psikiater yang difasilitasi oleh tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Palembang. Penyuluhan kesehatan dengan topik yang berbeda setiap bulan sesuai kebutuhan Lapas Anak. Antara lain yang difasilitasi oleh Puskesmas Pakjo mengenai penyakit TBC, DBD, dll (yang sudah pernah diberikan) Penyuluhan mengenai Personal Higene, Kesehatan Reproduksi & NAPZA. Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut. Penyuluhan mengenai gizi oleh Petugas Gizi Puskesmas Pakjo. Pemantauan Sanitasi Dasar dan Pemantauan Jentik secara berkala oleh petugas Kesehatan Lingkungan.

24

BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Pembahasan Penyebab pencapaian target bisa berasal dari man, money, material, methode, and environment. Berikut ini analisis dari tiap komponen tersebut dalam pelaksanaan cakupan imunisasi campak di Puskesmas Pakjo yang sudah mencapai target di Puskemas Pakjo tahun 2012 . 4.1.1. Man (Ketenagaan) Program penemuan dan pengobatan campak ini telah dibentuk tim yang beranggotakan 5 orang. Dalam pelaksanaan pelayanan program tersebut setiap anggota bekerja sama. Program imunisasi campak di Puskesmas Pakjo yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas, yang sekaligus sebagai dokter puskesmas, beserta 1 staf yang bertugas memegang program imunisasi yang sudah pernah pelatihan sebelumnya. Dalam pelaksanaan imunisasi campak di Puskesmas Pakjo Palembang sudah maksimal. 4.1.2. Money (Pendanaan) Sistem pendanaan program imunisasi campak berasal dari dana BOK (bantuan operasional kesehatan). Sumber dana untuk mendukung

pelaksanaan program ini sudah berjalan dengan baik seperti dana untuk melakukan pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. 4.1.3. Material Dalam pelaksanaannya, Puskesmas Pakjo dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan kegiatan penunjang, seperti laboratorium, pencatatan dan pelaporan, pemantauan dan penilaian. Puskesmas juga memiliki peralatan untuk diagnosis klinis, peralatan untuk tindakan medis, peralatan untuk penunjang pelayanan medik, dan peralatan penunjang medik. 4.1.4. Metode Metode yang dilakukan dengan pendataan dan penyuluhan kepada masyarakat di wilayah kerja puskesmas pakjo palembang. Selain itu, petugas juga melakukan pelacakan kasus campak.

25

4.1.5. Lingkungan Wilayah kerja Puskesmas Pakjo mudah di akses karena terletak di pinggir jalan dan merupakan daerah yang sering dilalui oleh transportasi umum. Upaya pemberian imunisasi campak juga tidak mengalami kesulitan karena para orang tua mematuhi anjuran dari petugas. 4.2 Prioritas Masalah Mengingat adanya keterbatasan kemampuan mengatasi masalah secara sekaligus, ketidaktersediaan teknologi atau adanya keterkaitan satu masalah dengan masalah lainnya, maka perlu dipilih prioritas masalah yang akan diselesaikan. Berikut ini merupakan penetapan urutan prioritas masalah dengan metode matriks. Berdasarkan permasalahan yang ditemukan diatas, harus ditetapkan satu prioritas masalah yaitu dengan menggunakan metode USG yang menggunakan pertimbangan beberapa aspek yaitu : a. Urgency (dilihat dari mendesak atau tidaknya masalah tersebut) b. Seriousness (tingkat keseriusan masalah) c. Growth (tingkat perkembangan masalah) Masalah yang mempunyai total angka tertinggi dari hasil penjumlahan yang akan menjadi prioritas masalah. Tabel 4.1 Penyebab Palembang No Penyebab Peran aktif petugas 1. 2. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran dalam pemberian imunisasi campak 3. Penyuluhan tentang imunisasi campak 4. Pusat kesehatan yang mudah dijangkau 5. Dana penyuluhan kesehatan yang cukup 6. Dukungan lingkungan dalam pemberian imunisasi campak U 5 5 S 5 4 G 5 4 UxSxG 125 80 tercapainya program TB paru di Puskesmas Pakjo

5 4 3 5

4 4 5 5

3 4 3 4

60 64 45 100

26

Berdasarkan identifikasi diatas, prioritas yang menyebabkan tercapainya program imunisasi campak di Puskesmas Pakjo adalah peran aktif petugas 4.3 Penyelesaian Masalah
Tabel 4.2 Penyelesaian yang dapat menyebabkan tercapainya program imunisasi campak di Puskesmas Pakjo Palembang

Prioritas Penyebab Masalah

Alternatif Penyelesaian Masalah

Penyelesaian Masalah Terpilih Lakukan penyuluhan secara langsung pentingnya imunisasi saat pasien datang ke puskesmas pada saat pemberian imunisasi campak .

Peran aktif petugas 1. Melakukan penjaringan untuk dalam melakukan setiap balita yg akan diberikan program imunisasi imunisasi campak 2. Memperkirakan jumlah balita yang ada di suatu wilayah 3. Promosi aktif dengan penyuluhan 4. Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan dari pemberian imunisasi campak

Tabel 4.2

Penyelesaian masalah dengan USG yang menyebabkan tercapainya program imunisasi campak di Puskesmas Pakjo Palembang

No Penyelesaian Masalah 1. Promosi aktif dengan penyuluhan 2. Melakukan penjaringan untuk setiap balita yg akan diberikan imunisasi Memperkirakan jumlah balita yang ada di suatu wilayah Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan dari pemberian
imunisasi campak

U 5 5

S 5 4

G 5 4

UxSxG 125 80

3. 4.

5 5

4 4

3 4

60 64

Dari tabel di atas prioritas penyelesaian masalah yang terpilih untuk program Imunisasi Campak di Wilayah Kerja Puskesmas Pakjo adalah melakukan penyuluhan secara langsung tentang pentingnya pemberian imunisasi kepada pasien datang ke puskesmas pada saat pemberian imunisasi campak. Pemilihan

27

penyelesaian masalah ini dianggap lebih efektif baik dalam hal biaya dan juga waktu. Penyelesaian masalah ini juga diharapkan memiliki dampak yang lebih cepat dibandingkan penyelesaian masalah yang lainnya sehingga program imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Pakjo tetap memenuhi cakupan.

28

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Penyakit campak disebabkan oleh virus morbilli. Tanda khasnya berupa koplik spot di selaput lendir pipi, dan rash kulit yang muncul pada hari ke-14 setelah terpapar virus campak. Imunisasi campak efektif untuk memberi kekebalan terhadap penyakit campak seumur hidup. Penyakit campak yang disebabkan oleh virus yang ganas ini dapat dicegah jika seseorang mendapatkan imunisasi campak. Jumlah pemberian imunisasi campak diberikan 1 kali pada usia 9 bulan. Imunisasi campak terdiri dari dosis 0.5ml yang disuntik secara subkutan, ia sering dilakukan pada lengan kanan bagian atas. Pada setiap penyuntikan harus menggunakan jarum dan syringe yang steril. Dari pengamatan yang dilakukan di Puskesmas Pakjo, maka dapat disimpulkan bahwa tercapainya target program imunisasi 90% disebabkan terutama baiknya sumber tenaga dan usaha preventif-promotif melalui penyuluhan dan penyebaran informasi kepada masyarakat. Namun terdapat faktor-faktor lain yang juga perlu diperhatikan seperti cukupnya dana yang tersedia untuk melakukan kegiatan.

5.2 Saran Untuk mencegah terjadinya penyakit campak ibu seharusnya memberikan vaksin campak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan agar tidak terjadi penularan penyakit campak dan sebaiknya jika ada satu anak yang terkena penyakit campak, maka anak lain dianjurkan tidak berdekatan dengan anak tersebut. Karena virusnya keluar melalui napas atau semburan ludah ( droplet ) bisa terisap lewat hidung atau mulut dan akan menulari anak lain.

29

Kepala Puskesmas dan petugas puskesmas 1. Secara teratur dan berkala dokter bersama dengan staf puskesmas diharapkan lebih baik lagi dalam memberikan penyuluhan di puskesmas kepada anggota keluarga mengenai pentingnya imunisasi campak, pengenalan tanda-tanda bahaya penyakit campak. 2. Memberikan pelatihan kepada kader untuk bisa memberikan imunisasi campak dan yang lain, melatih mereka agar dapat memberikan peyuluhan kepada anggota keluarga, dan masyarakat mengenai pentingnya imunisasi campak. 3. Memberikan pembinaan, pengawasan serta melakukan evaluasi secara berkala oleh kepala puskesmas dan dinas kesehatan untuk meningkatkan kemampuan, motivasi, dan kesempatan agar kinerja dari petugas kesehatan di Puskesmas Pakjo sehingga menjadi lebih baik lagi. 4. Mendeteksi hambatan dan kekurangan yang ada serta menanggulanginya termasuk aktivitas pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target. a. Pemerintah daerah Peningkatan dukungan, kesempatan dan kemudahan yang sebesarbesarnya kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tentang kesehatan melalui peningkatan penyuluhan tentang pentingnya imunisasi campak. b. Bagi masyarakat 1. Memberikan respon positif terhadap upaya pemerintah dalam mencapai target imunisasi 90% agar semua balita di Indonesia dapat hidup dengan sehat. 2. Segera memeriksakan kepada dokter/petugas puskesmas jika terdapat tanda-tanda penyakit campak. 3. Melaporkan langsung kepada puskesmas setempat, lurah, camat, jika ada balita yang baru lahir atau balita yang belum di imunisasi.

30

DAFTAR PUSTAKA

1. Ali, M., 2002, Pengetahuan, Sikap, Dan Prilaku Ibu Bekerja Dan Tidak Bekerja Tentang Imunisasi, Desember 2008 2. Arni, 2008, Studi Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan WD.Buri di Desa Pebaoa Kecamatan Kulisusu Utara Kabupaten Buton Utara Tahun. 3. Arif, M, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aeculapius, Jakarta. 4. Azwar, A, 2003, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Edisi ke -3, Pustaka Pelajar, Yogyakarta 5. Bengen, D.g. 2000. Sinopsis Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik Sumberdaya Pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB. Bogor 6. Profil Puskesmas Gandus, 2012 7. Benyamin. 1994, Pasien, Citra, Peran dan Prilaku. PT Kansius, Yogyakarta. 8. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT Rineka Cipta, Jakarta 2003 9. Cahyono K.D, Faktor-faktor Mempengaruhi tindakan imunisasi anak usia 12 23 bulan di indonesa. Tahun 2009. htt/www.yongstation.com 10. Brunner and Sudarth : Keserhatan Masyarakat Suatu Pengantar. Jakarta, Buku Kedokteran EGC 2001. 11. Parwati SB. Campak dalam perspektif perkembangan imunisasi dan diagnosis. Pediatri pencegahan mutakhir I, CE IKA Unair, 2000 : 73-92. http://library.usu.ac.id./modules.php. 30