Anda di halaman 1dari 20

MODUL II

PENGUKURAN POROSITAS BATUAN DENGAN


METODE LIQUID SATURATION
Laporan Praktikum Petrofisika
Nama : Agam Gumelar Soinanda
NIM : 12212034
Kelompok : Kamis 4
Tanggal Praktikum : 6 Maret 2014
Tanggal Penyerahan : 14 Maret 2014
Dosen : Dr. Ir. Taufan Marhaendrajana
Asisten Modul : Rian Irawan (12210001)
Miftah Hidayat (12210030)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Memahami prinsip kerja metode liquid saturation
2. Menentukan porositas suatu batuan sampel dengan metode liqid saturation
3. Mengetahui metode metode pengukuran porositas

II. ALAT dan BAHAN
Alat yang digunakan :
1. Tabung Erlenmeyer yang dilengkapi dengan sumbat karet dan funnel di atasnya
2. Tabung Erlenmeyer yang berisi kapur yang dihubungkan dengan pompa vakum
3. Pompa vakum dan manometer Hg
4. Electric Hg Picnometer dan bola bola penjepit
5. Jangk sorong dan penjepit
6. Picnometer dan neraca analisis
Bahan yang digunakan :
1. Beberapa sampel core
2. Vaseline
3. Air

III. DATA PERCOBAAN
Tekanan atas = 70,7 mmhg
Tekanan bawah = 40,2 mmhg

Pengukuran hari pertama
core k-4 core k-5
panjang 3,97 cm 2,83 cm
lebar 2,60 cm 2,60 cm
massa 32,5 gr 34,4 gr

no. berat picno berat picno + air
1 18 gr 44,9 gr
2 18gr 44,7 gr
3 18gr 44,8 gr

Bola Diameter bola
(cm)
simpangan
awal
simpangan bola delta
simpangan
1 2,23 3,71 9,35 5,64
2 2,01 3,71 8,18 4,47
3 1,67 3,71 6,27 2,56

Pengukuran hari kedua
massa core k-
4
core k-5
1 37,7 35,8
2 37,7 35,8
3 37,7 35,8

core simpangan
awal
simpangan delta
simpangan
k-4 0,82 21,46 20,64
k-5 0,52 15,38 14,56

IV. PENGOLAHAN DATA
Pengukuran picnometer :
Massa Picnometer : 18 gr
Massa Picnometer + air : 44,8 gr
Massa air : 26,8 gr
Penghitungan Densitas Fluida Penjenuh (Air)




p
u
=
H
u
I
pcnomctc

=
26.8
2S
= 1.u72
gr
ml


Densitas fluida pembasah = 1.072


Pengukuran volume bola pejal
Volume bola pejal 1 ( diameter 2,23 cm) = 5.8035
Volume bola pejal 2 ( diameter 2,01 cm) = 4,2497
Volume bola pejal 3 (diameter 1,67 cm) = 2,4374

Pengukuran volume Bulk
Volume bulk core k4 = 21,0672
Volume Bulk core k5 = 15,0176

Perhitungan regresi berdasarkan
y = 1.0794x - 0.3931
R = 0.9913.

y = 1,079x
0
2
4
6
8
0
v
o
l
u
m
e

(
c
m
3
)
Grafik hugungan simpangan dengan
volum sampel pada electric Hg
pembasah = 1.072 gr/mL
Pengukuran volume bola pejal :
Volume bola pejal 1 ( diameter 2,23 cm) = 5.8035 cm
3

bola pejal 2 ( diameter 2,01 cm) = 4,2497 cm
3

Volume bola pejal 3 (diameter 1,67 cm) = 2,4374 cm
3

Pengukuran volume Bulk secara langsung :
Volume bulk core k4 = 21,0672 cm
3

Volume Bulk core k5 = 15,0176 cm
3

Perhitungan regresi berdasarkan tabel simpangan. Didapat hasil regresi
0.3931 Lalu persamaan regresi ini memiliki tingkat kepercayaan
y = 1,079x - 0,393
R = 0,991
1 2 3 4 5
simpangan
Grafik hugungan simpangan dengan
volum sampel pada electric Hg
picnometer
tabel simpangan. Didapat hasil regresi :
Lalu persamaan regresi ini memiliki tingkat kepercayaan ,

6
Grafik hugungan simpangan dengan
Perhitungan Volume Bulk dengan Electric Hg Picnometer masing masing core
Untuk core k4
y = 1.0794x - 0.3931
y = 1.0794 (20,94) - 0.3931
y = 22.2095 cm3

Untuk core k5
y = 1.0794x - 0.3931
y = 1.0794 (14.56) - 0.3931
y = 15.3251 cm3

Pengukuran Volume pori
I
po
=
H
coc ]cnuh
H
coc kcng
p
u

Core K4
I
po
=
S7.7 S2.S
1.u72
= 4.8S1 cm
3

Core K5
I
po
=
SS.8 S4.4
1.u72
= 1.u72 cm
3


Pengukuran Nilai efektif alat :
Pv = 76 (Patas Pbawah)
Pv = 76 (70,7 40,2)
Pv = 45,5

Eff = 1 (Pv/76)
Eff = 1 (45,5/76)
Eff = 0,40131

Pengukuran porositas masing masing core dengan Electric Hg Picnometer
Untuk core k4
eff Volumetric = (Vp/Vb) x 100%
eff Volumetric = (4,851/22.2u9S) x 100% = 21.842%
eff = (1/Eff) x eff Volumetric
eff = (1/0,40131) 21,84%
eff = 54,421 %

Untuk core k5
eff Volumetric = (Vp/Vb) x 100%
eff Volumetric = (1.u72/1S.S2S1) x 100% = 6.99S%
eff = (1/Eff) x eff Volumetric
eff = (1/0,40131) x 6,995 %
eff = 17,430 %

Pengukuran porositas masing masing core
Untuk core k4
eff Volumetric = (Vp/Vb) x 100%
eff Volumetric = (5,2/21,0672) x 100% = 24,6829
eff = (1/Eff) x eff Volumetric
eff = (1/0,40131) x 24,6829
eff = 61,505 %

Untuk core k5
eff Volumetric = (Vp/Vb) x 100%
eff Volumetric = (1,4/15,0176) x 100% = 9,3223
eff = (1/Eff) x eff Volumetric
eff = (1/0,40131) x 9,3223 %
eff = 23,2296 %

V. ANALISIS dan PEMBAHASAN
Dalam Praktikum ini ada beberapa asumsi yang digunakan :
1. Sample core terasurasi sempurna sehingga volume pori efektif batuan sama dengan
Volume fluida yang menjenuhi core tersebut. Selain itu, dengan asumsi ini tidak
akan ada lagi air yang masuk ke dalam core saat pengukuran volume bulk dengan
electric Hg Picnometersehingga simpangannya benar
2. Tidak terjadi kebocoran sehingga tidak ada udara yang masuk ke dalam labu
erlenmeyer selama proses pemvakuman dan penjenuhan. Antisipasi terjadinya
kebocoran dengan melapisi Vaseline pada katup dan sumbat labu Erlenmeyer serta
menjaga aliran air dari funnel selalu kontinu
3. Setelah proses pemvakuman, diasumsikan tidak ada lagi udara yang tersisa di
dalam pori pori batuan sehingga air bisa mensaturasi core 100%
4. Koreksi terhadap kondisi tekanan udara di laboratirium untuk melihat efisiensi
proses pemvakuman
5. Tidak ada air yang tersisa pada ujung paku akibat gaya adhesi air
6. Picno untu pengukuran densitas fluida pensaturasi dalam keadaan bersih dan kering


Pada percobaan modul2 ini, kita akan menentukan porositas core sample
dengan metode liquid saturation. Prinsip dari percobaan modul ini adalah pengukuran
volume pori dan volume bulk suatu batuan sehingga didapatkan harga porositas dari
batuan tersebut. Pengukuran volume pori dilakaukan dengan metode liquid saturation.
Sedangkan untuk pengukuran volume bulk, kita membandingkan dua buah metode,
yaitu dengan metode volumetrik dan metode elektrik Hg Picnometer.
1. Pengukuran Volume Bulk dengan Metode Volumetrik
Metode pertama yang digunakan adalah metode volumetrik yaitu pengukuran secara
langsung dengan menggunakan jangka sorong. Kelemahan dari metode ini adalah
ketidakakuratan hasil pengukuran karena bentuk dari sample core yang tidak
berbentuk silinder sempurna. Dari hail percobaan didapatkan bahwa pengukuran
Volume bulk dengan metode volumetric menghasilkan nilai yang berbeda dengan
metode electric Hg Picnometer. Hal ini dipengaruhi oleh kesempurnaan bentuk
silinder core itu sendiri.
2. PengukuranVolume Bulk dengan Metode Electric Hg Picnometer
Metode kedua adalah dengan menggunakan alat electric Hg picnometer. Prinsip
kerja dari alat ini adalah displacement Hg oleh volume sample core. Hubungan
simpangan dan volume sample core didapat dengan melakukan kalbrasi alat.
Klaibrasi ini dilakukan dengan mencari korelasi antara simpangan yang terjadi
akibat ukuran bola bola kalibrasi. Lalu dari data simpangan dan volume bola
kalibrasi ini dapat dibuat persamaan garis yang menghubungkan simpangan dan
volume bulk, dimana untuk percobaan ini persamaan garisnya adalah
y = 1.0794x - 0.3931 Alat ini menggunakan Hg dalam peninjauan simpangan
karena densitasnya yang besar dan sifat Hg yang selalu merupakan Non-wetting
phase(karena gaya kohesi pada molekul Hg lebih dominan dibanding gaya
adhesinya). Karena sifat Hg yang non wetting phase inilah maka Hg tidak akan
membasahi permukaaan pori pori media berpori. Karena Hg merupakan non-
wetting phase ini juga, maka dibutuhkan suatu tekanan tertentu untuk mendesak
Hg agar masuk kedalam pori pori batuan (threshold pressure). Artinyaapabila
tidak ada tekanan pendesak Hg, maka Hg tidak akan masuk ke dalam pori pori
batuan sehingga nantinya akan didapatkan hasil pengukuran volume bulk yang
akurat. Tetapi pada praktikum modul 2 ini, penggunaan Hg diganti dengan air.
Akibat dari penggunaaan Hg dengan air ini antara lain :
a. wettability batuan memberikan pengaruh yang cukup berarti pada data
simpangan.apabila batuan tersebut merupakan batuan water wet, maka air disini
bertindak sebagai wetting phase, artinya ada kemungkinan air dapat masuk
kedalam pori pori batuan sehingga simpangan yang terjadi tidak terlalu besar.
Namun bila batuannnya bersifat oil wet, maka air disini bertindak sebagai non
wetting phase, artinya tidak akan ada air yang masuk kedalam core tanpa
diberikan tekanan pendesakan sehingga simpangan yang terjadi menjadi lebih
besar dan lebih akurat. Beda halnya jika kita menggunakan Hg, kita tidak perlu
memperdulikan batuan tersebut adalah water-wet maupun oil-wet karena hg selalu
bertindak sebagai non-wetting phase
b. Densitas air lebih kecil dari densitas core dan bola bola besi, sehingga sample
core dan bola besi bisa mencapai dasar kolom. Efek yang ditimbulkan adalah
tersumbatnya penghubung antara kolom yang berisi core dengan kolom yang
digunakan untuk pengukuran simpangan.

Yang perlu menjadi atensi kita selanjutnya adalah persamaan garis simpangan vs
volume bulk, yaitu
y = 1.0794x - 0.3931 Pada persamaan garis tersebut, untuk simpangan yang
terjadi nol vilume bulk-nya adalah -0,3931cc. Akan tetapi hal ini tidak mungkin,
idealnya persamaan garis yang terbentuk memotong titik (0,0) karena tidak
mungkin tidak terjadi simpangan bila kita memasukkan suatu volume bulk
tertentu. Hal ini mungkin dapat terjadi karena sifat air yang mungkin menjadi
wetting phase bagi batuan water wet sehingga mengurangi simpangan yang
harusnya terbentuk. Selain itu gaya adhesi yang dominan dibanding gaya kohesi
mengakibatkan ada sejumlah molekul air yang tertinggal diujung paku pada
electric Hg picnometer sehingga lampu akan menyala sebelum paku tersebut
menyentuh permukaaan yang sebenarnya. Sehingga bisa saja terjadi kesalahan
pada alat serta pengambilan data yang kurang sempurna.

Setelah didapatkan volume pori dan volume bulk, maka porositas dapat dicari
dengan membandingkan harga keduanya dan harga porositas dinyatakan dalam
persen. Dari pengolahan data, maka harga porositas untuk masing masing
sampel adalah sebagai berikut :






Setelah didapatkan volume pori dan volume bulk, maka porositas dapat dicari
dengan membandingkan harga keduanya, kemudian harga porositas dinyatakan
dalam persen. Jika kita mengklasifikasikan harga porositas core k-4 dan k-5
berdasarkan klasifikasi kuantitatif, maka core k-4 termasuk dalam golongan
excellent (>25%) dan core k-5 juga termasuk golongan baik sampai sangat baik
(15%-25%).

Dalam perhitungan volume bulk dengan menggunakan dimensi volumetrik
dan Hg picnometer terlihat perbedaan yang cukup besar. Ini dapat disebabkan
dari penggunaan Hg picnometer yang tidak menggunakan Hg sebagai bahan
percobaan, hal ini seperti yang telah disampaikan diatas bahwa penggunaan
akuades sebagai bahan pengisi Hg picnometer akan menghasilkan error atau galat
terhadap percobaan, sehingga pada saat menggunakan bola-bola besi untuk
membuat plot grafik simpangan akan menghasilkan nilai yang berbeda dengan
seharusnya. Dengan melakukan 2 metode untuk mencari volume bulk, menurut
saya Selain itu juga saat sebelum pengukuran volume bulk dengan metode
Sampel Volumetric Hg Picnometer
eff eff
K4 24,6829 % 61,505 %
21.842% 54,421 %
K5 9,3223 % 23,2296 % 6.99S% 17,430 %
volumetric, sample core yang ingin digunakan sempat terjatuh sehingga
menyebabkan bentuk dari core tersebut tidak sempurna. Hal itu juga sangat
mempengaruhi dalam proses perhitungannya.

VI. KESIMPULAN
1. Prinsip percobaaan metode liquid saturation dalam penentuan volume pori adalah
kita menghitung selisih massa sample core kering dan massa core sample yang
telah dijenuhi fluida. Selisih massa tersebut merupakan massa fluida yang masuk
mengisi pori pori batuan. Dengan mengukur densitas yang mensaturasi core
sample tersebut, maka dapat ditentukan volume fluida yang mengisi pori pori
tersebut. Volume fluida yang mengisi pori pori batuan sama jumlahnya dengan
volume dari pori pori yang saling berhubungan satu sama lain( interconnected)
pada sample core tersebut. Selanjutnya dengan data volume bulk batuan, kita dapat
menentukan porositas core sample.

2. Untuk mencari volume bulk dari sample core, kita memiliki 2 metode yang
digunakan. Yaitu metode volumetric dan metode electric Hg picnometer. Masing
masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
kelebihan dan kekurangan masing mansing, yaitu :
1. Metode Volumetric
Kelebihan :
a. Volume core dapat ditentukan dengan lebih mudah dan lebih cepat
b. Peralatan yang diperlukan pada metode volumetric relatif murah dan lebih
sederhana dibandingkan metode kalibrasi
Kekurangan :
a. Hasil yang diperoleh hanya akurat untuk core yang bentuknya benar benar
sempurna, padahal sampel core yang dipakai bentuknya tidak ada yang
sempurna
2. Metode Kalibrasi
Kelebihan :
a. Hasil yang diperoleh lebih akurat dibandingkan dengan metode volumetric
b. Bentuk sampel tidak mempengaruhi keakuratan hasil perhitungan volume
Kekurangan :
a. prosesnya lebih lama dari metode volumetric
b. Alat yang digunakan relatif mahal
c. Perhitungannya lebih rumit dibandingkan metode volumetric.

3. Hasil pengukuran porositas yang didapat :






4. Klasifikasi secara sederhana membagi-bagi porositas menjadi beberapa kelas
berdasarkan harga dari porositas batuan itu sendiri. Klasifikasinya adalah sebagai
berikut :

Dapat diabaikan (negligible) : untuk porositas 0% - 5%

buruk (poor) : untuk porositas 5% - 10%

cukup baik (fair) : untuk porositas 10%- 15%

baik (good) : untuk porositas 15%- 20%

sangat baik ( very good ) : untuk porositas 20%- 25%

istimewa ( excellent ) : untuk porositas >25%


VII. KESAN DAN PESAN
Praktikumnya memberikan kita pemahaman mengenai metode metode dalam
penentuan porositas batuan, terutama pengukuran volume pori efektif dengan
menggunakan metode liquid saturation
Asistennya memahami modul percobaan dan dapat menyampaikan materi percobaan
dengan baik kepada praktikannya.
Semoga praktikum kedepannya bisa jauh lebih baik lagi

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Sampel Volumetric Hg Picnometer
eff eff
K4 24,6829 % 61,505 %
21.842% 54,421 %
K5 9,3223 % 23,2296 % 6.99S% 17,430 %
Amyx, James W, Petroleum Reservoir Engineering, McGrawhill Book Company,
New York, 1960
Craft, Hawkins, Applied Petroleum Reservoir Engineering, Prentice Hall, New
York, 1959
http://lifetoact.blogspot.com/2010/06/kurva-pc-vs-sw.html diakses 11 Maret 2014
pukul 21.34
http://iatmismmigas.files.wordpress.com/2012/06/113.png diakses, 11 Maret 2014
pukul 21.45

IX. JAWAB PERTANYAAN
Soal
1. Gambar grafik KRSW beserta Penjelesannya !
2. Gambar grafik PCSW beserta penjelasannya !
3. Jelaskan cara penentuan cadangan secara volumetric !
4. Resume paper tentang porositas !

Jawab
1. Klasifikasi tekanan kapiler
Tekanan kapiler dalam grafik hubungannya dengan saturasi air terdapat 2
jenis, yaitu kurva pada proses drainage dan proses imbibisi. Proses drainage adalah
proses saat non-wetting phase mendesak wetting phase. Contoh dari proses ini yaitu
saat terjadinya migrasi minyak dari source rock menuju batuan reservoir. Pada
awalnya pori-pori batuan reservoir terisi 100% oleh air, namun dengan adanya proses
migrasi minyak tersebut akhirnya air sebagai wetting phase terdesak oleh minyak
yang merupakan non-wetting phase. Sedangkan proses imbibisi adalah kebalikannya,
terjadi saat fluida wetting phase mendesak non-wetting phase. Contoh dari proses ini
yaitu saat dilakukan produksi minyak dari suatu reservoir. Kelengkungan dari kurva
Pc vs Sw dipengaruhi oleh berbagai variabel lain, seperti besarnya pore body, besar
dari pore throat, serta permeabilitas batuan.

a. Drainage

Grafik Pc (tekanan kapiler) vs Sw (saturasi air) di atas merupakan contoh
grafik drainage dengan sistem water
sebagai non-wetting phase, sedangkan air sebagai wetting phase. Proses drainage
diawali saat batuan rese
Titik Pcd, capillary displacement pressure atau disebut juga tekanan threshold, yaitu
tekanan minimum yang diperlukan sehingga fluida non
wetting phase.
Seiring dengan se
kapiler dari batuan reservoir meningkat karena besar tegangan permukaan pada pori
semakin besar. Kurva ini berakhir pada titik di mana air sudah tidak dapat didesak
lagi oleh minyak (Swir).

b. Imbibisi
Grafik Pc vs Sw di bawah ini juga untuk sistem water
Batuan reservoir pasti memiliki Swir, di mana Swir yaitu irreducible water saturation,
yaitu saturasi air yang sudah tidak dapat di
reservoir.


Grafik Pc (tekanan kapiler) vs Sw (saturasi air) di atas merupakan contoh
grafik drainage dengan sistem water-wet. Pada sistem tersebut minyak berperan
wetting phase, sedangkan air sebagai wetting phase. Proses drainage
diawali saat batuan reservoir 100% terjenuhi air, sehingga kurva berawal dari Sw = 1.
Titik Pcd, capillary displacement pressure atau disebut juga tekanan threshold, yaitu
tekanan minimum yang diperlukan sehingga fluida non-wetting dapat mendesak
Seiring dengan semakin berkurangnya saturasi air dalam batuan, tekanan
kapiler dari batuan reservoir meningkat karena besar tegangan permukaan pada pori
semakin besar. Kurva ini berakhir pada titik di mana air sudah tidak dapat didesak
lagi oleh minyak (Swir).
Grafik Pc vs Sw di bawah ini juga untuk sistem water-wet, dengan proses imbibisi.
Batuan reservoir pasti memiliki Swir, di mana Swir yaitu irreducible water saturation,
yaitu saturasi air yang sudah tidak dapat di-reduce (didesak) lagi pada kondisi

Grafik Pc (tekanan kapiler) vs Sw (saturasi air) di atas merupakan contoh
wet. Pada sistem tersebut minyak berperan
wetting phase, sedangkan air sebagai wetting phase. Proses drainage
rvoir 100% terjenuhi air, sehingga kurva berawal dari Sw = 1.
Titik Pcd, capillary displacement pressure atau disebut juga tekanan threshold, yaitu
wetting dapat mendesak
makin berkurangnya saturasi air dalam batuan, tekanan
kapiler dari batuan reservoir meningkat karena besar tegangan permukaan pada pori
semakin besar. Kurva ini berakhir pada titik di mana air sudah tidak dapat didesak
wet, dengan proses imbibisi.
Batuan reservoir pasti memiliki Swir, di mana Swir yaitu irreducible water saturation,
reduce (didesak) lagi pada kondisi

Proses imbibisi terjadi setelah terjadi drainage pada migrasi minyak, sehingga grafik
imbibisi dimulai dari saturasi air sebesar Swir. Kemudian semakin bertambah saturasi
dari air, maka semakin kecil tegangan permukaan yang ditimbulkan.
Kurva tersebut akan berakhir pada saat saturasi air sebesar 1 - Sor. Sor ialah residual
oil saturation, saturasi minyak pada kondisi di mana minyak sudah tidak dapat
didorong oleh fluida lain. Besar nilai dari Sor berkisar pada 15-40 %.

Jika grafik Pc vs Sw digabungkan dari kedua proses di atas diperoleh :


Keterangan :
- Titik a dan b menunjukkan batas daerah oil-water contact yang merupakan daerah gradasi
/ bercampurnya minyak dan air (daerah c).
- Pada titik b juga merupakan titik capillary displacement pressure / tekanan threshold, yaitu
tekanan kapiler di mana nilai saturasi air berubah.
- Daerah d menunjukkan zona di mana hanya ada fasa non-wetting pada sistem water-wet.
Pada daerah d air sudah tidak dapat mengalir karena telah melewati titik Swir.
- Garis e merupakan dareah free water level (FWL) di mana hanya tersisa non-wetting
phase pada sistem water wet. Di bawah daerah ini minyak tidak dapat dialirkan lagi karena
telah mencapai Sor.
- Titik f adalah Swir, yaitu saturasi air yang sudah tidak dapat didesak lagi.
- Pundular : suatu komposisi pada batuan reservoir yang terisi fluida multi fasa (wetting dan
non wetting phase) dimana saturasi fluida fasa wetting (misal: air) sedikit. Akibatnya pore
body akan banyak terisi oleh fluida fasa nonwetting (misal: minyak) dan air akan
terakumulasi di pore throat (ruang antar pori) dengan membentuk pola seperti cincin.
- Funicular : suatu kondisi yang berlawanan dengan pendular ring distribution, dimana
saturasi minyak lebih sedikit dibandingkan saturasi air. Minyak berada di dalam pore body
dalam jumlah kecil dan dikelilingi oleh air. Air terhubung antar suatu pori dengan pori
lainnya.
- Titik h menunjukkan nilai Sw = 1 - Sor.

Proses imbibisi dan drainage bukan merupakan proses yang irreversible, sehinggga
setelah terjadi proses imbibisi nilai saturasi air tidak dapat kembali pada Sw = 1 karena
adanya Sor. Perbedaan tersebut disebut sebagai hysterysis.



3. Metode Volumetris
Metode volumetris digunakan untuk memperkirakan besarnya cadangan reservoir
pada suatu lapangan minyak atau gas yang baru, dimana data-data yang tersedia
belum lengkap. Data-data yang diperlukan untuk perhitungan perkiraan cadangan
secara volumetris, yaitu bulk volume reservoir (Vb), porositas batuan (f), saturasi
fluida (Sf), dan faktor volume formasi fluida. Perhitungan perkiraan cadangan secara
volumetris dapat digunakan untuk mengetahui besarnya initial hidrocarbon in place,
ultimate recovery, dan recov

1.1. Penentuan Initial Oil In Place (IOIP)
Pada batuan reservoir yang mengandung satu acre
volume minyak dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut


Sedangkan untuk sejumlah gas mula
dengan persamaan:


Pada persamaan diatas, besaran yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah volume
bulk batuan (Vb). Penentuan volume bulk batuan (Vb) ini dapat dilakukan secara
analitis dan grafis.

1.1.1.1. Penentuan Volu
Langkah pertama yang dilakukan dalam menentukan volume bulk batuan
adalah membuat peta kontur bawah permukaan dan peta isopach. Peta kontur bawah
fluida (Sf), dan faktor volume formasi fluida. Perhitungan perkiraan cadangan secara
volumetris dapat digunakan untuk mengetahui besarnya initial hidrocarbon in place,
ultimate recovery, dan recovery factor.
. Penentuan Initial Oil In Place (IOIP)
Pada batuan reservoir yang mengandung satu acre-feet pada kondisi awal, maka
volume minyak dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
Sedangkan untuk sejumlah gas mula-mula (initial gas in place) dapat ditentukan
Pada persamaan diatas, besaran yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah volume
bulk batuan (Vb). Penentuan volume bulk batuan (Vb) ini dapat dilakukan secara
1.1.1.1. Penentuan Volume Bulk Batuan Secara Analitis
Langkah pertama yang dilakukan dalam menentukan volume bulk batuan
adalah membuat peta kontur bawah permukaan dan peta isopach. Peta kontur bawah
fluida (Sf), dan faktor volume formasi fluida. Perhitungan perkiraan cadangan secara
volumetris dapat digunakan untuk mengetahui besarnya initial hidrocarbon in place,
feet pada kondisi awal, maka


place) dapat ditentukan

Pada persamaan diatas, besaran yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah volume
bulk batuan (Vb). Penentuan volume bulk batuan (Vb) ini dapat dilakukan secara
Langkah pertama yang dilakukan dalam menentukan volume bulk batuan
adalah membuat peta kontur bawah permukaan dan peta isopach. Peta kontur bawah
permukaan merupakan peta yang menggambarkan garis
titik-titik dengan kedalaman yang sama pada setiap puncak formasi. Sedangkan peta
isopach merupakan peta yang menggambarkan garis
titik-titik dengan ketebalan yang sama dari formasi produktif.















(c). Completed Isopach Map of Oil Reservoir
(Amyx, J. W., D. M. Bass, Jr. and R. L. Whiting, 1960,Petroleum Reservoir
1.1.1.2. Penentuan Volume Bulk Bat
Penentuan volume bulk batuan secara grafis dilakukan dengan cara membuat plot
antara ketebalan yang ditunjukkan oleh tiap
masing-masing, seperti terlihat pada Gambar 3.2. Dari gambar tersebut terliha
volume bulk batuan merupakan luas daerah yang ditunjukkan dibawah kurva.


permukaan merupakan peta yang menggambarkan garis-garis yang
titik dengan kedalaman yang sama pada setiap puncak formasi. Sedangkan peta
isopach merupakan peta yang menggambarkan garis- garis yang menghubungkan
titik dengan ketebalan yang sama dari formasi produktif.

Gambar 4.1.
Peta Isopach
(a). Total Net Sand, (b). Net Oil Sand,
(c). Completed Isopach Map of Oil Reservoir
(Amyx, J. W., D. M. Bass, Jr. and R. L. Whiting, 1960,Petroleum Reservoir
Engineering-Physical Properties)

1.1.1.2. Penentuan Volume Bulk Batuan Secara Grafis
Penentuan volume bulk batuan secara grafis dilakukan dengan cara membuat plot
antara ketebalan yang ditunjukkan oleh tiap-tiap garis kontur terhadap luas daerah
masing, seperti terlihat pada Gambar 3.2. Dari gambar tersebut terliha
volume bulk batuan merupakan luas daerah yang ditunjukkan dibawah kurva.
garis yang menghubungkan
titik dengan kedalaman yang sama pada setiap puncak formasi. Sedangkan peta
garis yang menghubungkan
(Amyx, J. W., D. M. Bass, Jr. and R. L. Whiting, 1960,Petroleum Reservoir
Penentuan volume bulk batuan secara grafis dilakukan dengan cara membuat plot
tiap garis kontur terhadap luas daerah
masing, seperti terlihat pada Gambar 3.2. Dari gambar tersebut terlihat bahwa
volume bulk batuan merupakan luas daerah yang ditunjukkan dibawah kurva.




1.1.2. Ultimate Recovery (UR)
Ultimate recovery merupakan jumlah maksimum hidrokarbon yang diperoleh dari
reservoir dengan mekanisme pendorong alamiahnya. Ultimate recovery ini biasanya
dinyatakan dengan parameter unit recovery (UR), yang merupakan hasil
ultimate recovery terhadap volume bulk batuan yang dapat diproduksikan oleh
beberapa pengaruh mekanisme pendorong sampai saat abandonment. Untuk
mengetahui besarnya ultimate recovery harus diketahui data
pendorong yang dominan, saturasi fluida mula
(tekanan abandonment), serta faktor volume formasi minyak dan gas sebagai fungsi
tekanan. Ultimate recovery ini dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

UR = N x RF....(4
Keterangan :
N : initial oil or gas in place, satuan volume
RF : recovery factor, fraksi
Secara volumetris, ultimate recovery ini ditentukan dengan persamaan sebagai
berikut:

Gambar 4.2.
Physical Properties)
1.1.2. Ultimate Recovery (UR)
Ultimate recovery merupakan jumlah maksimum hidrokarbon yang diperoleh dari
reservoir dengan mekanisme pendorong alamiahnya. Ultimate recovery ini biasanya
dinyatakan dengan parameter unit recovery (UR), yang merupakan hasil
ultimate recovery terhadap volume bulk batuan yang dapat diproduksikan oleh
beberapa pengaruh mekanisme pendorong sampai saat abandonment. Untuk
mengetahui besarnya ultimate recovery harus diketahui data- data seperti mekanisme
ominan, saturasi fluida mula-mula, dan akhir dari masa produksi
(tekanan abandonment), serta faktor volume formasi minyak dan gas sebagai fungsi
tekanan. Ultimate recovery ini dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
RF....(4
N : initial oil or gas in place, satuan volume
RF : recovery factor, fraksi
Secara volumetris, ultimate recovery ini ditentukan dengan persamaan sebagai
Gambar 4.2.
Contoh Grafik
Penentuan Volume
Bulk Batuan
(Amyx, J. W., D.
M. Bass, Jr. and R.
L. Whiting,
1960,Petroleum
Reservoir
Engineering-
Ultimate recovery merupakan jumlah maksimum hidrokarbon yang diperoleh dari
reservoir dengan mekanisme pendorong alamiahnya. Ultimate recovery ini biasanya
dinyatakan dengan parameter unit recovery (UR), yang merupakan hasil bagi antara
ultimate recovery terhadap volume bulk batuan yang dapat diproduksikan oleh
beberapa pengaruh mekanisme pendorong sampai saat abandonment. Untuk
data seperti mekanisme
mula, dan akhir dari masa produksi
(tekanan abandonment), serta faktor volume formasi minyak dan gas sebagai fungsi
tekanan. Ultimate recovery ini dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
RF....(4-7)
Secara volumetris, ultimate recovery ini ditentukan dengan persamaan sebagai

Unit recovery pada reservoir gas dengan mekanisme pendorong water drive yaitu:


1.1.3. Recovery Factor (RF)
Untuk jumlah cadangan yang dapat diperoleh dipermukaan, maka terlebih dahulu
perlu diketahui harga recovery factor (RF) yaitu perbandingan antara recoverable
reserve dengan initial oil in place (fraksi), atau dapat ditulis dengan persamaan
sebagai berikut:

y pada reservoir gas dengan mekanisme pendorong water drive yaitu:
1.1.3. Recovery Factor (RF)
Untuk jumlah cadangan yang dapat diperoleh dipermukaan, maka terlebih dahulu
perlu diketahui harga recovery factor (RF) yaitu perbandingan antara recoverable
reserve dengan initial oil in place (fraksi), atau dapat ditulis dengan persamaan
y pada reservoir gas dengan mekanisme pendorong water drive yaitu:

Untuk jumlah cadangan yang dapat diperoleh dipermukaan, maka terlebih dahulu
perlu diketahui harga recovery factor (RF) yaitu perbandingan antara recoverable
reserve dengan initial oil in place (fraksi), atau dapat ditulis dengan persamaan


4. Title of Paper : POROSITY IN LIMESTONE AND DOLOMITE PETROLEU
RESERVOIRS

Paper ini menjelaskan bagaimana batuan kapur dan dolomite dapat terbentukdi
dalam reservoir. Porositas pada batu kapur dan dolomit di dalam reservoir dibentuk
oleh kondisi primer dari proses deposisi yang dilanjutkan kondisi sekunder oleh
pergerakan air tanah. Air tanah ini di sinyalir sebagi alasan utama adanya batu kapur
dan dolomit di dalam reservoir. Porosity primer maupun sekunder dapat diperbesar
oleh pembesaran bukaan , atau mungkin dapat dihancurkan oleh fillinithe bukaan
dengan deposito kimia sekunder . Bukaan primer , seperti patahan , joints , dan jarak
antar kristal secara umum terbentuk dalam batuan karbonat. Oleh karena itu , paparan
pelapukan atau agen Pelarut lainnya adalah semua kondisi yang diperlukan untuk
Meningkatkan akan memperbesar porositas primer. Kondisi dari pemamparan ini
dapat Ditemukan di unconformities . Analisis pori model ruang plastik memberikan
bukti yang meyakinkan bahwa batuan karbonat yang Mampu Mengembangkan
porositas yakni umunya terhubung , tetapi belum tentu seragam . Meskipun sistem
porositas batu kapur dan dolomit porositas berbeda dari pasir dari sudut pandang
geologi , akan muncul masalah yang tidak dapat diselesaikan yang berhubungan
dengan operasi operasi secondary recovery.
.