Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 17.

504 pulau dan garis pantai lebih dari 81.000 km dengan luas perairan laut sekitar 5,8 juta km2 (75% dari total Wilayah Indonesia). Kondisi alam dan iklim yang tidak fluktuatif menjadikan Indonesia mempunyai potensi sumber daya laut dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar walaupun belum terdayagunakan sepenuhnya (Reina, 2004). Komponen-komponen kimia yang terkandung didalam senyawa seperti yang terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan dan hewan biota laut sangat dibutuhkan oleh keperluan hidup manusia. Dimana seiring dengan berkembangnya zaman, banyak para peneliti farmasi yang mengkaji berbagai tumbuhan dan hewan biota laut yang digunakan sebagai bahan obat dalam hal ini ditinjau berdasarkan jenis zat aktif yang terkandung didalamnya. Zat aktif tersebut kemudian akan diisolasi dan dijadikan sebagai komponen utama dalam sediaan famasi dengan berbagai bentuk sediaan. Komponen tersebut dapat diperoleh dengan metode ekstraksi, dimana ekstraksi merupakan proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari tumbuhan atau biota laut dengan menggunakan pelarut dan metode yang sesuai (Harbone, 1987). Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, ekstraksi dibagi menjadi dua yaitu ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair. Pada ekstraksi cair-cair, bahan yang menjadi analit berbentuk cair dengan pemisahannya menggunakan dua pelarut yang tidak saling bercampur sehingga terjadi distribusi sampel di antara kedua pelarut tersebut. Pendistribusian sampel dalam kedua pelarut tersebut dapat ditentukan dengan perhitungan KD (koefisien distribusi). Sedangkan ekstraksi padat-cair terdiri atas ekstraksi panas dan dingin. Teripang pasir (Holothuria scabra), bintang laut (Linckia laevigata), dan bulu babi (Diadema setosum) adalah hewan biota laut yang telah

diekstraksi padat cair sehingga mendapatkan ekstrak. Dimana ektrak ini berperan penting dalam menentukan senyawa yang terkandung didalam tumbuhan tersebut. Dan dengan adanya ekstraksi cair-cair maka identifikasi yang akan dilakukan enjadi lebih mudah. Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka dilakukanlah percobaan untuk melakukan ekstraksi secara caircair. 1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan Mengetahui dan mengidentifikasi senyawa yang terdapat pada sampel biota laut 1.2.2 Tujuan Percobaan Untuk mengetahui identifikasi senyawa alkaloid, steroid dan saponin yang terdapat pada Teripang (Halothuria scabra), Bintang Laut (Linchia laevigata) dan Bulu Babi (Diadema Setosum)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Ekstraksi Ekstraksi dapat didefisinikan sebagai suatu proses penarikan keluar atau proses pemisahan suatu bahan dari campurannya, biasanya dengan menggunakan pelarut. Komponen yang dipisahkan dalam ekstraksi dapat berupa padatan dari suatu sistem campuran padat-cair, berupa cairan dari suatu sistem campuran cairan-cairan, atau padatan dari suatu sistem padatanpadatan. Ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara, tetapi umumnya menggunakan pelarut berdasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran (Suyitno, 1989). Hal-hal yang penting diperhatikan dalam melakukan ekstrasi yaitu pemilihan pelarut yang sesuai dengan sifat-sifat polaritas senyawa yang ingin diekstraksi ataupun sesuai dengan sifat kepolaran kandungan kimia yang diduga dimiliki simplisia tersebut, hal lain yang perlu diperhatikan adalah ukuran simplisia harus diperkecil dengan cara perajangan untuk memperluas sudut kontak pelarut dan simplisia, tapi jangan terlalu halus karna dikhawatirkan menyumbat pori-pori saringan menyebabkan sulit dan lamanya poses ekstraksi (Khamidinal, 1989). Pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi pengumpulan ekstrak dalam pelarut. Ekstraksi akan lebih menguntungkan jika dilaksanakan dalam jumlah tahap yang banyak. Setiap tahap menggunakan pelarut yang sedikit. Kerugiannya adalah konsentrasi larutan ekstrak makin lama makin rendah, dan jumlah total pelarut yang dibutuhkan menjadi besar, sehingga untuk mendapatkan pelarut kembali biayanya menjadi mahal (Khamidinal, 1989). Semakin kecil partikel dari bahan ekstraksi, semakin pendek jalan yang harus ditempuh pada perpindahan massa dengan cara difusi, sehingga semakin rendah tahanannya. Pada ekstraksi bahan padat, tahanan semakin besar jika

kapiler-kapiler bahan padat semakin halus dan jika ekstrak semakin terbungkus di dalam sel (misalnya pada bahan-bahan alami) (Anonim, 2011). Ekstraksi dibagi menjadi dua, yaitu (Anonim, 2011): 1) Ekstraksi padat-cair Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat larut dipisahkan dari bahan padat dengan bantuan pelarut. Pada ekstraksi, yaitu ketika bahan ekstraksi dicampur dengan pelarut, maka pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan melarutkan ekstrak. Larutan ekstrak dengan konsentrasi yang tinggi terbentuk di bagian dalam bahan ekstraksi. Dengan cara difusi akan terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan tersebut dengan larutan di luar bahan padat. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai unjuk kerja ekstraksi atau kecepatan ekstraksi yang tinggi pada ekstraksi padat-cair, yaitu: a. Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara fase padat dan fase cair, maka bahan itu perlu sekali memiliki permukaan yang seluas mungkin. b. Kecepatan alir pelarut sedapat mungkin besar dibandingkan dengan laju alir bahan ekstraksi. c. Suhu yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan ekstrak lebih besar) pada umumnya menguntungkan unjuk kerja ekstraksi. 2) Ekstraksi cair-cair Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri dari sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair itu sesempurna mungkin.

2.2 Ekstraksi Cair-Cair Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): yaitu pemisahan solute dari cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran diluen dan solven tersebut bersifat heterogen (immiscible, tidak saling campur), dan jika dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase diluen (rafinat) dan fase solven (ekstrak) (Anonim, 2011).

Gambar 1. Rangkaian Alat Ekstraksi Cair-Cair Fase rafinat = fase residu, berisi diluen dan sisa solut. Fase ekstrak = fase yang berisi solut dan solven. Pemilihan solven menjadi sangat penting. Dipilih solven yang memiliki sifat antara lain: a. Solut mempunyai kelarutan yang besar dalam solven, tetapi solven sedikit atau tidak melarutkan diluen, b. Tidak mudah menguap pada saat ekstraksi, c. Mudah dipisahkan dari solut, sehingga dapat dipergunakan kembali, d. Tersedia dan tidak mahal. Dalam hal yang paling sederhana, bahan ekstraksi. Yang cair dicampur berulangkali dengan pelarut segar dalam sebuah tangki pengaduk (sebaiknya dengan saluran keluar di bagian bawah). Larutan ekstrak yang dihasilkan setiap kali dipisahkan dengan cara penjernihan (pengaruh gaya berat). Yang konstruksinya lebih menguntungkan bagi proses pencampuran dan pernisahan

adalah tangki yang bagian bawalmya runcing (yang dilengkapi dengan perkakas pengaduk, penyalur bawah, maupun kaca Intip yang tersebar pada seluruh ketinggiannya) (Harbone, 1987). Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap, produk-produk minyak bumi dan garam-garam. logam. Proses ini pun digunakan untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat cair. Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti halnya pada proses ekstraksi padat-cair, ekstraksi caircair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna mungkin (Harbone, 1987). Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara distilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaltu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna mungkin. Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak meninggalkan pelarut yang pertarna (media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut tidak saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi perpindahan masa yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah diusahakan agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut. Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi tetestetes kecil (misalnya dengan bantuan perkakas pengaduk) (Anonim 2011). Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh, karena akan menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar sekali

dipisah. Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar. Yang penting perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan yang telah terlarutkan sedapat mungkin segera disingkirkan dari bidang batas. Pada saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi menjadi tetes-tetes hanis menyatu kembali menjadi sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan kerapatan yang cukup besar dapat dipisahkan dari cairan yang lain (Anonim 2011). Berbagai jenis metode pemisahan yang ada, ekstraksi pelarut atau juga disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan popular. Pemisahan ini dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Prinsip distribusi ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua zat pelarut yang tidak saling bercampur. Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase terlarut. Teknik ini dapat digunakan untuk kegunaan preparatif, pemurnian, pemisahan serta analisis pada semua kerja. Berbeda dengan proses retrifikasi, pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi pengumpulan ekstrak (dalam pelarut). Suatu proses ekstraksi biasanya melibatkan tahap-tahap berikut: 1. Mencampurkan bahan ekstrak dengan pelarut dan membiarkannya saling kontak. Dalam hal ini terjadi perpindahan massa dengan cara difusi pada bidang antar muka bahan ekstraksi dan pelarut. Dengan demikian terjadi ekstraksi yang sebenarnya, yaitu pelarut ekstrak. 2. Memisahkan larutan ekstrak dari refinat, kebanyakan dengan cara penjernihan atau filtrasi. 3. Mengisolasi ekstrak dari larutan ekstrak dan mendapatkan kembali pelarut. Umumnya dilakukan dengan mendapatkan kembali pelarut. Larutan ekstrak langsung dapat diolah lebih lanjut atau diolah setelah dipekatkan.

2.3 Fitokimia dan Golongan Senyawa Metabolit Sekunder A. Uji Fitokimia Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya komponenkomponen bioaktif yang terdapat pada sampel uji. Uji fitokimia ini dilakukan agar diketahui komponen bioaktif apa yang terdapat didalam sampel uji sehingga sampel uji nantinya diharapkan dapat digunakan sebagaimana fungsi dan peranannya. Uji fitokimia meliputi uji alkaloid, uji steroid, uji saponin, (Dwi, 2010). Fitokimia adalah untuk menentukan ciri senyawa aktif penyebab efek racun atau efek yang bermanfaat, yang ditunjukan oleh ekstrak tumbuhan kasar bila diuji dengan sistem biologis. Pemanfaatan prosedur fitokimia telah mempunyai peranan yang mapan dalam semua cabang ilmu tumbuhan dan hewan biota laut. Meskipun cara ini penting dalam semua telaah kimia dan biokimia juga telah dimanfaatkan dalam kajian biologis (Harbone, 1987). B. Golongan Senyawa Metabolit Sekunder Metabolit atau metabolisme adalah keseluruhan proses sintesis senyawa-senyawa oleh organ dalam jaringan atau sel individu dalam kelangsungan hidupnya. (Dwi, 2010), menyatakan bahwa proses ini berlangsung selama individu atau organisme masih hidup bahkan pada jaringan organisme yang telah mati dan pada umumnya metabolisme primer dan metabolisme sekunder. Menurut (Harborne,1987) senyawa metabolit sekunder yang umum terdapat pada tanaman adalah : alkaloid, flavanoid, steroid, saponin, terpenoid dan tannin. 1. Alkaloid Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan. Selain itu ada beberapa

pengecualian, dimana termasuk golongan alkaloid tapi atom N (Nitrogen)nya terdapat di dalam rantai lurus atau alifatis (Nadjeb, 2010). Alkaloid di bagi menjadi beberapa kelompok menurut atom Nitrogennya. Yaitu Alkaloid sebenarnya, protoalkaloid dan

pseudoalkaloid. Berdasarkan intinya penyusunnya (basa organiknya) diklasifikasikan menjadi 12 kelompok yaitu; Benzena, Piridina, Piperidina, Kuinolina, Isokuinolina, Fenantren, Pirolidina Siklo pentano perhidro fenantren, Imidazol, Indol, Purin dan Tropan. Bervariasinya skema untuk klasifikasi alkaloid didasarkan pada konstitusinya, telah disarankan dalam hal ini tata nama untuk alkaloid. Karena luasnya variasi kelompok alkaloid, akan tetapi tidak satu pun yang sangat memuaskan (Nadjeb, 2010). Karena alkaloid sebagai suatu kelompok senyawa yang terdapat sebagian besar pada tanaman berbunga, maka para ilmuwan sangat tertarik pada sistematika aturan tanaman. Kelompok tertentu alkaloid dihubungkan dengan famili atau genera tanaman tertentu.

Berdasarkan sistem Engler dalam tanaman yang tinggi terdapat 60 order. Sekitar 34 dari padanya mengandung alkaloid. 40% dari semua famili tanaman paling sedikit mengandung alkaloid. Namun demikian, dilaporkan hanya sekitar 8,7% alkaloid terdapat pada disekitar 10.000 genus. Kebanyakan famili tanaman yang

mengandung alkaloid yang penting adalah Liliaceae, solanaceae dan Rubiaceae (Nadjeb, 2010). 2. Saponin Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut dalam eter (Hartono, 2009).

Saponin memberikan rasa pahit pada bahan pangan nabati. Sumber utama saponin adalah biji-bijian khususnya kedele. Saponin dapat menghambat pertumbuhan kanker kolon dan membantu kadar kolesterol menjadi normal. Tergantung pada jenis bahan makanan yang dikonsumsi, seharinya dapat mengkonsumsi saponin sebesar 10200 mg (Arnelia, 2011). 3. Steroid Semua kerangka steroid mempunyai kerangka steran, yaitu siklopentano-fenantrena yang terhidrogenasi penuh. Biasanya cincin rangka ini diberi nama A, B, C dan D. Penomoran atom karbonnya mempunyai konformasi kursi pada steroid yang berada di alam. Cincin B, C dan D selalu trans terhadap lainnya, sedangkan cincin A dan B dapat trans atau cis (Soewolo, 1996). Penomoran atom karbonnya mempunyai konformasi kursi pada steroid yang berada di alam. Cincin B, C dan D selalu trans terhadap lainnya, sedangkan cincin A dan B dapat trans atau cis (Soewolo, 1996). 2. 4 Uraian Bahan

2.4.1 Uraian Sampel 1. Teripang Klasifikasi Teripang Kingdom : Animalia Phylum Class Genus Spesies 2. : Echinodermata : Holothuroidea : Holothuria : Holothuria scabra

Bintang laut Klasifikas bintang laut Kingdom Filum Kelas Ordo : : : : Animalia Echinodermata Asteroidea Valvatida

Famili Genus Spesies 3. Bulu Babi

: : :

Ophidiasteridae Linckia Linckia laevigata

Klasifikasi Bulu babi Kingdom : Animalia filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Echinodermata : Echinoidae : Camiodonia : Echinoiceae : Deadema : Deadema Setosum

2.4.2 Uraian Pelarut 1. Kloroform (Dirjen POM, 1979) Nama resmi Nama lain RM / BM Pemerian : Chloroform : Kloroform : CHCl3 / 119,38 : Cairan tidak berwarna, mudah menguap, bau khas, rasa manis dan membakar Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut dalam etanol mutlak P, dalam eter P, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

2. Asam Sulfat (Dirjen POM, 1979) Nama Resmi Nama Lain RM / BM : Acidum Sulfuricum : Asam Sulfat : H2SO4 / 98,07

Rumus struktur

Pemerian

: Cairan kental seperti minyak, korosif ; tidak berwarna ; jika ditambahkan kedalam air menimbulkan panas

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup rapat : Sebagai pereaksi

3. Asam asetat glacial (FI edisi III, hal 42) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Berat molekul Pemerian : Acidum Aceticum Glaciale : Asam asetat glacial : C2H4O2 : 60,05 : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, tajam, jika diencerkan dengan air, rasa asam Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan dengan gliserol P Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat : Zat tambahan

4. Aqua destilata (Dirjen POM, 1979) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Berat molekul Rumus struktur : Aqua Destilata : Air Suling : H2O : 18,02 :

Pemerian

: Cairan Jernih, tidak berwarna , tidak mempunyai rasa.

Kelarutan

: Tidak mempunyai kelarutan karena secara umumnya air merupakan pelarut pembanding suatu larutan. dan

Stabilitas Penyimpanan Kegunaan 5. N-heksana Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian (Ditjen

: Stabil di udara. : Dalam wadah tertutup baik. : Sebagai zat tambahan. POM edisi III 1979 : 283)

: Hexaminum : Heksamina : C6H12N4 / 140,19 : hablur mengkilap, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa membakar an manis kemudian agak pahit. Jika di panaskan dalam suhu 260 menyublim.

Kelarutan

: larut dalam 1,5 bagian air, dalam 12,5 ml etanol (95 %) P dan dalam lebih kurang 10 bagian kloroform P

Penyimpanan Kegunaan 6.

: dalam wadah tertutup baik : antiseptikum

Alkohol (Dirjen POM, 1979) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Berat molekul Rumus struktur : Aethanolum : Etanol, alkohol : C2 H5OH : 46,07 :

Pemerian

: Cairan

tak

berwarna,

jernih,

mudah

menguap danmudah bergerak, bau khas,

rasa

panas.

Mudah

terbakardengan

memberikan nyala biru yang tidak berasap Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform dan dalam eter Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api. Kegunaan : Sebagai zat pelarut dan tambahan, juga dapat membunuh kuman serta dapat

mematikan dan menghambat pertumbuhan jamur

BAB III METODE KERJA 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat 1. Batang Pengaduk 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Botol Vial Corong Pisah Gelas bening Gelas Kimia Gelas Ukur Lemari asam Mangkuk bening Pipet tetes

10. Rak tabung 11. Sendok tanduk 12. Statif dan kleim 13. Tabung reaksi 14. Vorteks 15. Waterbath 3.1.2 Bahan 1. Asam sulfat 2. 3. 4. 5. 6. Asam asetat glacial Aluminium Foil Alkohol 70% Aqua destillata Ekstrak kental bintang laut (Linckia laevigata), bulu babi (Diadema setosum) dan Teripang pasir (Holothuria scabra) 7. 8. 9. kloroform N-heksana Pereaksi Dragendorff

10. Pereaksi Mayer 11. Tissue

3.2

Cara Kerja a. Partisi Cair-Cair 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Ditimbang maserat etanol sebanyak 100 ml 3. Dimasukkan kedalam corong pisah 4. Ditambahakan n-heksan sebanyak 100 ml 5. Dikocok dengan kecapatan yang konstan selama beberapa menit 6. Didiamkan sampai terbentuk 2 lapisan yang jelas 7. Lapisan n-heksan yang berada dibawah dikeluarkan dan ditapung dalam gelas 8. Lapisan etanol dikeluarkan dan ditampung dalam gelas 9. Diukur masing-masing larutan tersebut 10. Lapisan n-heksan dimasukkan kembali kedalam corong pisah 11. Ditambahkan akuades sejumlah larutan n-heksan yang telah dimasukkan kedalam corong pisah 12. Dikocok selama beberapa menit dengan konstan 13. Didiamkan selama beberapa menit sehingga terbentuk 2 lapisan yang jelas 14. Lapisan n-heksan yang berada dibawah dikeluarkan dan ditampung kedalam gelas 15. Lapisan aquades dikeluarkan dan ditampung di gelas 16. Diukur masing-masing larutan tersebut 17. Dimasukkan kembali aquades kedalam corong pisah 18. Ditambahkan kloroform dengan jumlah yang sama dengan aquades yang telah dimasukkan kedalam corong pisah 19. Dikocok hingga kecepatan konstan selama beberapa menit 20. Didiamkan selama beberapa menit 21. Ditampung kedalam cawan porselin kecepatan yang

b.

Preparasi sampel 1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan 2. Dibersihkan alat yang digunakan dengan alkohol 70% 3. Diukur etanol sebanyak 50 mL 4. Dilarutkan sampel 0,5 gram kedalam etanol 50 mL 5. Disaring larutan dengan ketas saring 6. Dimasukan larutan kedalam 3 tabung reaksi masing-masing sebanyak 5 mL (steroid, alkaloid, saponin)

c.

Uji fitokimia alkaloid 1. Diletakan larutan alkaloid dalam lemari asam (ruang peraksi) 2. Ditambahkan asam sulfat sebanyak 2 mL 3. Dibagi menjadi dua larutan alkaloid dan dimasukan kedalam tabung reaksi laiinya 4. Ditambahkan 2 tetes pereaksi mayer pada tabung reaksi 1 5. Ditambahkan 2 tetes pereaksi dragendorff pada tabung reaksi 2 6. Diamati terbentuknya endapan yang berwarna

d.

Uji fitokimia saponin 1. Diletakkan larutan saponin dalam lemari asam (ruang peraksi) 2. Ditambahkan aquadest panas sebanyak 10 mL 3. Dikocok larutan selama 30 detik 4. Diamati busa yang terbentuk

e.

Uji fitokimia steroid 1. Diletakan larutan steroid dalam lemari asam (ruang pereaksi) 2. Ditambahkan 10 tetes asam asetat glacial 3. Ditambahkan 3 tetes asam sulfat pekat 4. Diamati perubahan warna yang terjadi

f.

Uji fitokimia Hasil Partisi cair-cair 1. Fraksi 1 (Etanol) : Diambil fraksi 1 etanol Dimasukkan fraksi kedalam 3 tabung reaksi (untuk alkaloid, steroid dan saponin) masing-masing 5 mL

Diletakan masing-masing larutan (alkaloid, steroid dan saponin) kedalam lemari asam Dilakukan uji fitokimia untuk masing-masing larutan (alkaloid, steroid dan saponin) berdasarkan prosedur kerja diatas Diamati perubahan warna, terbentuknya endapan dan busa 2. Fraksi 2 (n-heksan) : Diambil fraksi 1 etanol Dimasukkan fraksi kedalam 3 tabung reaksi (untuk alkaloid, steroid dan saponin) masing-masing 5 mL Diletakan masing-masing larutan (alkaloid, steroid dan saponin) kedalam lemari asam Dilakukan uji fitokimia untuk masing-masing larutan (alkaloid, steroid dan saponin) berdasarkan prosedur kerja diatas Diamati perubahan warna, terbentuknya endapan dan busa

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 4.1.1 Hasil Pengamatan Partisi Cair-Cair Perlakuan Hasil Pengamatan Maserat teripang Sampel + Pelarut etanol + Pelarut n-heksan + Dipartisi Fraksi n-heksan Fraksi n-heksan + air Lapisan atas : etanol Lapisan bawah : n-heksan Lapisan atas : air Lapisan bawah : n-heksan Fraksi air Fraksi air + kloroform 4.1.2 Identifikasi Senyawa Identifikasi Alkaloid No Sampel Perlakuan Hasil Pengamatan 1 Ekstrak kental Bintang Laut (Culcita sp) Sampel + Dilarutkan dalam etanol + 5 ml Kloroform + 2 ml H2SO4 + Pereaksi Dragendorff Sampel + Dilarutkan dalam etanol + 5 ml Kloroform + 2 ml H2SO4 + Pereaksi Mayer 2 Ekstrak Kental Bulu Sampel + Dilarutkan dalam etanol + 5 ml Tidak Terbentuk Endapan (-) Tidak Mengandung Terbentuk Sedikit Endapan (+) Terbentuk Sedikit Endapan (+) Mengandung Alkaloid (+) Keterangan Tidak terjadi pemisahan Fraksi 2 : lapisan bawah (n-heksan) Tidak diperoleh fraksi Fraksi 1 : lapisan atas (etanol) Keterangan

Sampel

Babi (Echinoidea sp)

Kloroform + 2 ml H2SO4 + Pereaksi Dragendorff

Alkaloid (-)

Sampel + Dilarutkan dalam etanol + 5 ml Kloroform + 2 ml H2SO4 + Pereaksi Mayer

Tidak Terbentuk Endapan (-)

Fraksi 1 Ekstrak Kental Teripang (Holothuria scabra)

Sampel + Dilarutkan dalam etanol + 5 ml Kloroform + 2 ml H2SO4 + Pereaksi Dragendorff Sampel + Dilarutkan dalam etanol + 5 ml Kloroform + 2 ml H2SO4 + Pereaksi Meyer

Terbentuk Endapan (+)

Mengandung Alkaloid (-)

Tidak Terbentuk Endapan (-)

Fraksi 2 Ekstrak Kental Teripang (Holothuria scabra)

Sampel + Dilarutkan dalam etanol + 5 ml Kloroform + 2 ml H2SO4 + Pereaksi Dragendorff Sampel + Dilarutkan dalam etanol + 5 ml Kloroform + 2 ml H2SO4 + Pereaksi Mayer

Tidak Terbentuk Endapan (-)

Tidak Mengandung Alkaloid (-)

Tidak Terbentuk Endapan (-)

Identifikasi Steroid No Sampel Perlakuan Hasil Pengamatan 1 Ekstrak kental Bintang Laut (Culcita sp) 2 Ekstrak Kental Bulu Babi (Echinoidea sp) 3 Fraksi 1 Ekstrak Kental Teripang (Holothuria scabra) 4 Fraksi 2 Ekstrak Kental Teripang (Holothuria scabra) Sampel + 10 tetes asam asetat glacial + 3 tetes asam sulfat pekat Terjadi perbubahan warna menjadi warna merah Mengandung Steroid (+) Sampel + 10 tetes asam asetat glacial + 3 tetes asam sulfat pekat Terjadi perbubahan warna menjadi warna merah Mengandung Steroid (+) Sampel + 10 tetes asam asetat glacial + 3 tetes asam sulfat pekat Tidak terjadi Tidak Sampel + 10 tetes asam asetat glacial + 3 tetes asam sulfat pekat Tidak terjadi Tidak Keterangan

perubahan warna Mengandung Steroid (-)

perubahan warna Mengandung Steroid (-)

Identifikasi Saponin No Sampel Perlakuan Hasil Pengamatan 1 Ekstrak kental Bintang Laut (Culcita sp) 2 Ekstrak Kental Bulu Babi (Echinoidea sp) 3 Fraksi 1 Ekstrak Kental Teripang (Holothuria scabra) 4 Fraksi 2 Ekstrak Kental Teripang (Holothuria scabra) Sampel + aquadest panas sebanyak 10 mL Dikocok selama 30 detik Tidak terbentuk busa Tidak Mengandung Saponin (-) Sampel + aquadest panas sebanyak 10 mL + Dikocok selama 30 detik Terbentuk busa Mengandung Saponin (+) Sampel + aquadest panas sebanyak 10 mL + Dikocok selama 30 detik Tidak terbentuk busa Tidak Mengandung Saponin (-) Sampel + aquadest panas sebanyak 10 mL + Dikocok selama 30 detik Tidak terbentuk busa Tidak Mengandung Saponin (-) Keterangan

IV.2

Pembahasan Pada praktikum ini, kami akan melakukan pemisahan senyawa dari ekstrak kental dengan menggunakan partisi cair-cair serta identifikasi senyawa metabolit sekunder.

Partisi cair-cair menurut (Anonim, 2011) adalah Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): yaitu pemisahan solute dari cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran diluen dan solven tersebut bersifat heterogen (immiscible, tidak saling campur), dan jika dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase diluen (rafinat) dan fase solven (ekstrak) Menurut Harborne (1987) senyawa metabolit sekunder yang umum terdapat pada tanaman/hewan adalah : alkaloid, flavanoid, steroid, saponin, terpenoid. Dan pada praktikum kali ini kami hanya mengidentifikasi senyawa alkaloid,steroid dan saponin pada ekstrak Teripang (Halothuria scabra), Bintang Laut (Linchia laevigata) dan Bulu Babi (Diadema Setosum). 1. Partisi cair-cair Terdiri atas empat langkah, dalam memisahkan senyawa dengan cara partisi cair-cair. Dimana sebelum memulai langkah awal, disiapkan alat dan bahan. Untuk alat dibersihkan dengan menggunakan alkohol 70%, agar terhindari dari bakteri atau zat pengotor lain yang akan mempengaruhi hasil akhir pada ektraksi. Sedangkan, untuk bahan disediakan pelarut yang akan dipakai, antara lain Etanol 96%, N-Heksan, Kloroform, dan Etil asetat. Langkah pertama yaitu ekstrak kental teripang dilarutkan kedalam 50 mL perlarut etanol 96% dan diaduk hingga larut, kemudian disaring dan ditambahkan etanol 96% hingga 100 mL, dan dimasukan kedalam corong pisah. Selanjutnya diukur N-heksan 100 mL dan dimasukan kedalam corong pisah. Setelah itu dikocok dengan gaya yang konstan. Fungsi pengocokan disini ialah membantu proses pemisahan sedangkan tujuan dibukanya penutup bagian bawah untuk mengeluarkan udara di dalam corong pisah sehingga mencegah pecahnya corong pisah. Kemudian didiamkan kurang lebih beberapa menit hingga terbentuk dua lapisan, dimana lapisan bagian atas adalah etanol sedangkan lapisan

bagian bawah adalah n-heksan. Hal ini dikarenakan perbedaan berat molekul dari kedua pelarut. Dimana berat molekul dari etanol lebih kecil dibandingkan berat molekul dari heksan, maka dari itu etanol berada dilapisan atas sedangkan N-heksan pada lapisan bawah. Langkah kedua, dipisahkan kedua lapisan tersebut dengan cara mengeluarkan lapisan n-heksan melewati keran pada bagian bawah corong pisah dan ditampung n-heksan dalam gelas setelah itu diukur volume dari n-heksan (volume N-heksan setelah diukur sebanyak 120 mL). Sedangkan, lapisan etanol juga dikeluarkan dengan cara yang sama, dan diberi label sebagai fraksi 1. Langkah ketiga, yaitu dimasukkan kembali 120 mL n-heksan ke dalam corong pisah dan diukur volume air sebanyak volume n-heksan, selanjutnya ditambahkan ke dalam corong pisah. Setelah itu, dikocok sambil dibuka penutup bagian bawah. Kemudian didiamkan selama beberapa menit dan akan terbentuk dua lapisan, dimana lapisan bagian atas adalah air sedangkan lapisan bagian bawah adalah nheksan. Dimana berat molekul dari air lebih kecil dibandingkan berat molekul dari n-heksan sehingga air berada di lapisan atas dan n-heksan di lapisan bawah. Selanjutnya dipisahkan dua lapisan tersebut dengan cara dikeluarkan lapisan n-heksan melewati keran pada bagian bawah corong pisah dan ditampung n-heksan dalam gelas serta diberi label sebagai fraksi 2. Kemudian lapisan air juga dikeluarkan dengan cara yang sama setelah itu diukur volume dari air. (volume air setelah diukur sebanyak 1 mL). Selanjutnya, dimasukkan kembali 1 mL air ke dalam corong pisah dan diukur volume kloroform sebanyak volume air, lalu ditambahkan ke dalam corong pisah. Setelah itu dikocok sambil dibuka penutup bagian bawah. Kemudian didiamkan selama beberapa menit. Hasil yang diperoleh menunjukkan tidak terbentuk lapisan hal ini dikarenakan kloroform dan air saling bercampur. Dan langkah terakhir partisi tersebut lalu diuapkan.

2. Identifikasi senyawa Pada praktikum ini, disamping partisi cair-cair kami juga melakukan percobaan tentang identifikasi senyawa atau yang disebut juga dengan skrining fitokimia. Skrining fitokimia (Fitokimia Screen) merupakan cara yang sederhana untuk melakukan analisis kualitatif kandungan senyawa yang terdapat dalam simplisia tumbuhan maupun hewan. Skrining yang dilakukan pada praktimum kali ini terbatas pada identifikasi senyawa alkaloid, identifikasi senyawa steroid, dan identifikasi senyawa sampel. Sampel yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu Ekstrak kental Bintang Laut (Culcita sp), Ekstrak Kental Bulu Babi (Echinoidea sp), dan Ekstrak Kental Teripang (Holothuria scabra). Terlebih dahulu, dilakukan preparasi sampel atau penyiapan dari sampel tersebut dengan cara melarutkan masing-masing sampel tersebut dalam pelarut etanol. Digunakan pelarut etanol karena pelarut ini merupakan pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi sampel tersebut sebelumnya. a. Identifikasi senyawa alkaloid Terdapat beberapa tahap dalam mengidentifikasi alkaloid dari Ekstrak kental Bintang Laut (Culcita sp), Ekstrak Kental Bulu Babi (Echinoidea sp), dan Ekstrak Kental Teripang (Holothuria scabra). Langkah awal dimasukkan 5 ml dari masing-masing sampel yang sebelumnya telah dilarutkan dalam etanol tersebut ke dalam 3 tabung reaksi yang berbeda. Langkah berikutnya masing-masing tabung reaksi tersebut ditambahkan 5 mL kloroform. Pada saat ditambahkan kloroform tidak tampak adanya perubahan apapun pada larutan sampel. Selanjutnya pada masing-masing tabung reaksi tersebut, ditambahkan 2 ml H2SO4. Menurut teori, penambahan pereaksi H2SO4 akan menyebabkan terbentuknya 2 lapisan pada larutan. Akan tetapi, pengamatan tidak terlihat adanya 2 lapisan tersebut. berdasarkan

Langkah selanjutnya, masing-masing sampel tersebut dibagi menjadi 2 tabung. Untuk tabung reaksi pertama, ditambahkan pereaksi Mayer sebanyak 3 tetes, dan tabung reaksi kedua ditambahkan pereaksi Dragendorff sebanyak 3 tetes. Dari hasil pengamatan, terlihat bahwa untuk sampel ekstrak bintang laut, pada tabung reaksi pertama yang ditambahkan pereaksi Mayer, terlihat adanya endapan yang terbentuk namun hanya sedit. Begitu pula, pada tabung reaksi kedua yang ditambahkan pereaksi Dragendorff, terlihat adanya endapan yang terbentuk tetapi hanya sedikit. Terbentuknya endapan ini menandakan bahwa pada sampel bintang laut mengandung alkaloid. Dalam hal ini endapan terbentuk karena adanya penambahan H2SO4 yang berfungsi untuk membentuk garam alkaloid sehingga alkaloid dapat tertarik dari larutannya. Alkaloid dalam bentuk garamnya inilah yang bereaksi dengan reagent atau larutan pereaksi dan membentuk endapan. Selanjutnya berdasarkan pengamatan uji alkaloid pada sampel ekstrak bulu babi, pada tabung pertama yang ditambahkan pereaksi Mayer, tidak terlihat adanya endapan yang terbentuk. Begitu pula pada tabung reaksi yang kedua, setelah ditambahkan pereaksi Dragendorff, tidak terlihat adanya endapan yang terbentuk. Hal tersebut menandakan bahwa sampel tersebut tidak mengandung alkaloid. Langkah berikutnya dilakukan pula uji alkaloid pada hasil fraksinasi dari ekstrak teripang, yang meliputi fraksi etanol, fraksi nheksan. Berdasarkan hasil pengamatan, terlihat bahwa pada tabung reaksi yang berisi fraksi etanol dan ditambahkan pereaksi Mayer, tidak terlihat adanya endapan yang terbentuk. Sedangkan pada tabung reaksi kedua yang berisi fraksi etanol dan ditambahkan pereaksi dragendorf, terlihat adanya endapan yang terbentuk. Sedangkan berdasarkan hasil terlihat bahwa pada tabung reaksi yang berisi fraksi n-heksan dan ditambahkan pereaksi Mayer, tidak terlihat adanya endapan yang terbentuk.

Langkah terakhir pada tabung reaksi kedua yang ditambahkan pereaksi dragendorf, juga tidak terlihat adanya endapan yang terbentuk. Perbedaan hasil pengamatan alkaloid antara fraksi etanol dan heksan, menunjukkan bahwa pada fraksi etanol terkandung alkaloid, sedangkan pada fraksi n-heksan tidak terkandung senyawa alkaloid. b. Identifikasi senyawa saponin Identifikasi senyawa saponin juga dilakukan terhadap sampel ekstrak bulu babi, bintang laut, fraksi etanol sampel teripang serta fraksi n-heksan teripang. Pada masing-masing tabung reaksi yang berisi sampel tersebut ditambahkan air panas sebanyak 10 ml, lalu didinginkan selama beberapa saat. Setelah itu, dikocok masing-masing ketiga sampel tersebut selama 30 detik dengan kecepatan konstan. Apabila terbentuk buih (busa) dari permukaan cairan, maka menunjukkan adanya saponin. Dari hasil pengamatan, bahwa untuk sampel bintang laut, sampel bulu babi dan fraksi n-heksan teripang tidak terlihat adanya busa yang terbentuk. Hal ini berarti bahwa pada ketiga sampel tersebut tidak mengandung senyawa saponin. Sedangkan pada fraksi etanol, terlihat adanya busa yang terbentuk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada fraksi etanol terkandung senyawa saponin. c. Identifikasi senyawa Steroid Untuk identifikasi senyawa steroid dilakukan terhadap sampel ekstrak bulu babi, bintang laut, fraksi etanol teripang serta fraksi nheksan teripang. Pada masing-masing tabung reaksi yang berisi sampel tersebut kemudian ditambahkan 10 tetes asam asetat glacial dan 3 tetes asam sulfat pekat. Selanjutnya, diamati perubahan warna yang terjadi. Apabila terjadi perubahan warna menjadi warna merah, biru, atau hijau, maka menunjukkan bahwa sampel tersebut positif mengandung steroid.

Dari pengamatan yang dilakukan, diperoleh hasil untuk sampel bintang laut dan sampel bulu babi tidak terjadi adanya perubahan warna. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sampel tersebut tidak mengandung steroid. Sedangkan untuk fraksi etanol teripang dan fraksi n-heksan teripang terlihat adanya perubahan warna menjadi warna merah, yang menandakan bahwa kedua fraksi tersebut positif mengandung steroid.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Identifikasi senyawa yang terdapat pada sampel biota laut setelah di uji dengan menggunakan metode partisi cair-cair, maka senyawa yang di dapat dari sampel masing-masing sampel yaitu : 1. Sampel Bulu Babi (Diadema Setosum) Dengan menggunakan larutan Mayer menghasilkan senyawa alkaloid sedangkan dengan larutan Dragendroff tidak menghasilkan senyawa alkaloid Tidak terdapat senyawa steroid tetapi terdapat juga senyawa saponin

2. Sampel Bintang Laut (Linchia laevigata) Dengan menggunakan larutan mayer dan Dragendroff menghasilkan senyawa alkaloid Tidak terdapat senyawa steroid tetapi terdapat juga senyawa saponin

3. Sampel Teripang (Halothuria scabra) Untuk identifikasi senyawa alkaloid berdasarkan fraksi dan untuk fraksi etanol dengan menggunakan larutan Mayer menghasilkan senyawa alkaloid dan larutan Dragendroff tidak menghasilkan senyawa alkaloid Untuk fraksi Kloroform dengan menggunakan larutan Mayer dan Dragendroff menghasilkan senyawa alkaloid 5.2 Saran Untuk mengefektifkan kegiatan praktikum di laboratorium, diharapkan : Laboratorium dapat memperbaiki sarana dan prasana di laboratorium, seperti alat-alat praktikum, bahan-bahan (pelarut) agar dapat Tidak terdapat senyawa steroid dan saponin

mengefektifkan kegiatan praktikum.

Untuk jurusan agar dapat lebih memperhatikan bagaimana kondisi di dalam laboratorium yang kurang efektif karena kurangnya fasilitas (alat, bahan-bahan praktikum) yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2011. Ekstraksi Cair-Cair (http://www.chem-is-try-org/materikimia/kimia-industri/teknologi- proses/ekstraksi.cair), diakses 2 januari 2012. Armelia. 2011. Fito-Kimia Komponen Ajaib Cegah PJK, DM dan Kanker. (Online) (http://www.kimianet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1100397943&2 diakses tanggal 21 november 2013). Ditjen POM, 1979.Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta. Ditjen POM, 1995.Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta Dwi. 2010. Uji Fitokimia pada Buah Pedada (Sonneratia caseolaris). (Online) (http://dwio08.student.ipb.ac.id/2010/06/19/uji-fitokimia-pada-buah-pedadasonneratia-caseolaris/ diakses tanggal 21 november 2013). Harbone, J.B, 1987. Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Mengekstraksi Tumbuhan, Terjemahan Padmawinata, K. Penerbit ITB : Bandung. Hartono. 2009. Saponin. (Online) (http://www.farmasi.asia/tag/saponin/ diakses tanggal21 november 2013). Khamidinal. 2009. Teknik Laboratorium Kimia. Pustaka Pelajar : Yogyakarta Nadjeb. 2010. Alkaloid. (Online) (http://nadjeeb.files.wordpress.com/2009/03/alka loid.pdf, diakses tanggal 21 november 2013). Reina, 2004. Potensi dari Laut Belum dimaksimalkan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi: Jakarta. Soewolo. 1996. Pengaruh Anabolik Steroid terhadap Pembentukan Otot dan Kesehatan. (Online) (http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/12961324.pdf diakses tanggal 21 november 2013). Suyitno. Haryadi dan Supriyanto. 1989. Rekayasa Pangan. Universitas Gajah Mada : Yogyakarta