Anda di halaman 1dari 10

Transmigran dan Trauma Konflik Aceh (Fadjri Alihar)

TRANSMIGRAN DAN TRAUMA KONFLIK ACEH TRANSMIGRANTS AND ACEH CONFLICT TRAUMA
Fadjri Alihar Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Gedung Widya Graha, Lantai 10 Jalan Jend. Gatot Subroto 10, Jakarta Selatan 12710 Telp/faks. (021) 5221687, Email : fadjri_alihar@yahoo.com Tanggal diterima 19 September 2012, direvisi 8 Oktober 2012 disetujui terbit 29 Nopember 2012

Abstrak Aceh termasuk salah satu provinsi yang paling belakangan menerima transmigran khususnya dari pulau Jawa. Sebelum konflik, jumlah transmigran di Aceh mencapai 40.705 KK atau sekitar 200 ribu jiwa. Tulisan ini mencoba mengkaji kehidupan transmigran ketika berlangsungnya konflik di Aceh. Data yang digunakan dalam tulisan ini menggunakan data sekunder dan hasil-hasil penelitian tentang konflik dan transmigrasi yang pernah dilakukan di Aceh, terutama yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ketika terjadi konflik, lebih dari separuh transmigran mengungsi ke luar Aceh. Sebagian besar transmigran tidak lagi kembali ke Aceh karena trauma konflik akan terjadi kembali dan dapat mengancam kehidupan mereka. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan mengingat sejarah Aceh yang sarat dengan konflik. Seharusnya setelah MoU Helsinki pemerintah daerah Aceh segera mengembalikan para transmigran ke tempat asalnya di lokasi transmigrasi, dan ini merupakan parameter suksesnya program reintegrasi dan rekonsiliasi. Kata Kunci: Gerakan Aceh Merdeka (GAM), konflik, transmigrasi, migrasi, reintegrasi, rekonsiliasi Abstract Aceh was the latest site of Javanese transmigrant settlement. Before the Aceh conflict occured, around 40.705 family heads (200.000 lives) occupied transmigrants settlements. This writing is to examine the livelihood of transmigrants in Aceh during the period of social-conflict, in particular involving the Aceh Rebellion Movement (GAM). The reason of this assessment concerns about half of the transmigrants who had been settled there, were moving out of Aceh. They were afraid that miseries of conflicts could occur again and again at any time in the future. Their fear if quite reasonable since Aceh has a long conflict history. This social-conflict should have been stopped after the Helsinki MoU, and return the transmigrants to their homes. This state of uncertainty and mistrust should be a relevance parameter for a successful program of reintegration as well as the effort of reconciliation. Keywords: Aceh Rebellion Movement (GAM), conflict, transmigration, migration, reintegration, reconciliation

I. PENDAHULUAN Program kolonisasi merupakan titik awal bagi pemerintah Indonesia memindahkan penduduk secara bertahap dari Jawa keseluruh pelosok tanah air (Syamsu, 1976). Pada mulanya program kolonisasi tersebut bertujuan untuk mengurangi tekanan penduduk di Jawa. Setelah Indonesia merdeka, program transmigrasi merupakan program yang dilaksanakan secara masal tidak

hanya memindahkan penduduk dari daerah-daerah yang padat di Jawa, melainkan sekaligus memberikan stimulus bagi pembangunan dan pengembangan wilayah, khususnya di daerahdaerah luar Jawa. Tidak dapat dipungkiri bahwa bahwa program transmigrasi telah membawa perubahan yang signifikan bagi perkembangan daerah di luar Jawa. Sejak pemerintah Belanda pada tahun 1905 memindahkan penduduk Jawa sebanyak 100 kepala

118

Jurnal Ketransmigrasian Vol. 29 No. 2 Desember 2012. 69-78

keluarga (KK) melalui program kolonisasi ke Gedong Tataan, Lampung telah memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan daerah tersebut dimasa kini (Syamsu, 1976). Terlepas dari istilah yang dipergunakan oleh pemerintah Belanda dapat dijelaskan bahwa Gedong Tataan dengan komunitas Jawanya telah membuat Lampung berkembang sangat pesat. Ditinjau dari sejarahnya diketahui Aceh termasuk salah satu daerah yang paling akhir menerima transmigran. Lokasi transmigrasi pertama kali dibuka di Aceh pada tahun 1964 di daerah Blang Peutek, Padang Tiji, Kabupaten Pidie dengan jumlah transmigran sebanyak 100 kepala keluarga (KK). Perkembangan transmigrasi di Aceh terus mengalami kemajuan dengan dibukanya berbagai lokasi transmigrasi lainnya di Aceh. Pada tahun 1973 pemerintah kembali membuka lokasi transmigrasi di Aceh Utara. Pada tahun 1976 sekitar 300 KK transmigran dari Jawa ditempatkan di Cot Girek. Selanjutnya pada tahun 1980 pemerintah kembali membuka berbagai lokasi transmigrasi di daerah Aceh Singkil. Jumlah transmigran di Aceh sebelum memuncaknya konflik (tahun 1999-20003) mencapai 40.705 KK atau sekitar 200 ribu KK (Rakyataceh.com, 2005). Mereka tersebar di berbagai unit pemukiman transmigrasi yang ada pada masing-masing kabupaten di Aceh. Kehidupan para transmigran di Aceh berjalan cukup baik, terutama dari segi sosial ekonomi. Transmigran khususnya yang berasal dari Jawa sangat mudah beradaptasi dengan masyarakat lokal dan bahkan hingga saat ini telah banyak terjadi perkawinan campur diantara kedua kelompok masyarakat tersebut. Namun yang lebih penting lagi bahwa kehadiran para transmigran di Aceh telah menghidupkan perekonomian masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Lokasi-lokasi transmigrasi yang tersebar diseluruh Aceh tumbuh menjadi sentra-sentra produksi dan menjadi pemasok sayur-sayuran, buah-buahan dan juga ternak bagi masyarakat. Sejarah transmigrasi di Aceh sempat mengalami masa suram sebagai akibat terjadinya konflik berkepanjangan antara GAM dan pemerintah Republik Indonesia (pusat). Pada mulanya konflik tersebut tidak ada kaitannya dengan para transmigran, namun karena eskalasi konflik semakin meningkat mengakibatkan sebagian besar lokasi transmigrasi di Aceh berada ditengah-tengah konflik. Sebagai akibatnya banyak diantara transmigran yang merasa

kehidupannya berada dibawah ancaman tindak kekerasan. Kondisi inilah yang menyebabkan para transmigran memutuskan untuk mengungsi ke luar Aceh. Jumlah transmigran yang mengungsi ke daerah lain ketika terjadinya konflik mencapai 21.270 KK atau lebih separuh dari jumlah transmigran yang ada di Aceh. Setelah MoU Helsinki ternyata kurang dari separuh diantara transmigran yang kembali ke Aceh. Hal ini terutama disebabkan karena tidak adanya jaminan keamanan bagi transmigran jika kembali ke Aceh. Namun yang lebih penting lagi bahwa para transmigran mengalami trauma dengan berbagai tindak kekerasan yang mereka saksikan selama konflik. Adanya berbagai pemeriksaanpemeriksaan ( sweeping ) yang dilakukan oleh anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan juga oleh TNI serta Brimob selama konflik berlangsung telah mengakibatkan kehidupan transmigran menjadi tidak tenang. Mereka lebih memilih hidup di daerah pengungsian karena keamanannya terjamin sambil mencari peluang untuk membuka usaha baru. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi transmigran tidak mau kembali ke Aceh. Pertama, terbatasnya dana pemerintah, sehingga tidak memungkinkan memobilisasi transmigran dalam jumlah yang besar. Kedua, adanya pernyataan beberapa pejabat Aceh yang mengatakan bahwa transmigran merupakan sumber konflik (Media.com, 2012). Dijelaskan bahwa untuk menyelesaikan konflik, transmigran harus segera ditarik dari Aceh. Ketiga, kemungkinan adanya konspirasi dari pihak-pihak tertentu agar transmigran tetap berada di daerah pengungsian di luar Aceh. Hal ini kiranya dapat dikaitkan dengan upaya untuk menguasai sumberdaya ekonomi yang selama ini dimiliki transmigran. Keempat, faktor psikologi yang berkaitan dengan trauma masa lalu yang kemungkinan menjadi faktor penghambat kembalinya transmigran ke Aceh. Tulisan ini mencoba mengkaji sejauh mana konflik yang melibatkan GAM berpengaruh terhadap kehidupan transmigran di Aceh. Konflikkonflik yang selama ini terjadi di Aceh apakah juga berpengaruh terhadap ingatan kognitif para transmigran. Artinya apakah konflik tersebut mengakibatkan trauma bagi transmigran untuk kembali ke Aceh. Disamping itu, juga akan dilihat peran transmigran memberikan kontribusi bagi pembangunan wilayah di Aceh, khususnya di daerah pedesaan.

119

Transmigran dan Trauma Konflik Aceh (Fadjri Alihar)

II. METODE Penulisan sebuah artikel ilmiah dapat menggunakan data primer dan data sekunder (Singarimbun dan Effendi, 1984). Data primer merupakan data yang dikumpulkan secara langsung. Sementara data sekunder merupakan data yang telah tersedia baik dalam bentuk data mentah maupun data yang telah diterbitkan. Data yang dipakai dalam tulisan ini umumnya adalah data sekunder. Data-data tersebut banyak tersedia dan mudah diakses, baik jurnal ilmiah, hasil penelitian, media cetak maupun elektronik (internet). Sejak kolonisasi penduduk Jawa pada tahun 1905 banyak sekali data tentang transmigrasi di Indonesia. Secara rutin Biro Pusat Statistik (BPS) mengumpulkan data sensus penduduk sekali dalam sepuluh tahun. Data tersebut kaya dengan informasi mengenai perpindahan ( migrasi ) penduduk di seluruh provinsi di Indonesia, baik masuk maupun keluar. Dari data sensus penduduk dapat dianalisa tren perpindahan penduduk, khususnya yang menuju daerah pedesaan. Penduduk Jawa yang berpindah dalam jumlah besar ke pulau Sumatera terutama ke daerah pedesaan hampir dapat dipastikan sebagian besar diantaranya adalah transmigran. Berdasarkan data sensus penduduk tersebut dapat diketahui perkembangan transmigrasi secara periodik. Sementara itu, banyak hasil-hasil studi empirik tentang transmigran yang dikumpulkan, baik oleh lembaga-lembaga penelitian maupun universitas. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama 5 tahun berturut-turut (1988-1993) pernah melakukan penelitian tentang transmigrasi di Provinsi Riau dan Kalimantan Selatan. Hasil penelitian LIPI tersebut banyak membahas kohesikohesi sosial dalam relasi antara transmigran dan masyarakat lokal dalam kehidupan sehari-hari. Transmigran dan masyarakat lokal telah lama berinteraksi terutama dari segi ekonomi ( pekerjaan ). Khusus untuk studi transmigran di Aceh banyak sekali data yang tersedia apalagi jika dikaitkan dengan konflik. Konflik Aceh dimulai sejak perang Cumbok (Lentara, 2004), pemberontakan Darul Islam (Dijck, 1988) dan gerakan bersenjata yang dilakukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) (Sulaiman, 2000; Nurhasyim, dkk, 2003; Ju Lan, dkk 2006). Sebelum MoU Helsinki pada bulan Agustus 2005, LIPI secara terus menerus melakukan kajian dan penelitian tentang konflik

Aceh. Namun konflik-konflik tersebut lebih difokuskan dengan konflik yang melibatkan gerakan bersenjata yang dilakukan GAM. Secara bergelombang tim peneliti LIPI diterjunkan hampir keseluruh wilayah Aceh untuk mengkaji secara mendalam berbagai persepsi masyarakat tentang konflik. Hasil penelitian tentang konflik Aceh telah dipublikasikan dan dijadikan bahan rujukan untuk mengetahui anatomi konflik Aceh secara lebih mendalam. Sementara itu banyak juga peneliti dari kalangan akademisi Aceh dan peneliti asing yang melakukan penelitian tentang konflik Aceh. Data konflik Aceh sangat menarik jika dikaitkan dengan keberadaan transmigran karena mereka termasuk salah satu kelompok korban akibat Aceh yang berkepanjangan. Beberapa transmigran menyaksikan langsung berbagai bentuk kekerasan yang diperlihatkan dalam konflik. Berbagai data hasil penelitian tersebut dipergunakan untuk memperkaya informasi tentang trauma transmigran dan pendatang lainnya dalam menghadapi konflik Aceh. Trauma tersebut merupakan ingatan kognitif transmigran yang kadang-kadang timbul ketika menghadapi atau mendengar isu-isu konflik. III.HASIL DAN PEMBAHASAN A. Volume dan Arah Menurut Sulaiman, 2000; Nurhasyim, dkk, 2003; Ju Lan, dkk, 2006, perkembangan transmigrasi di Aceh sangat berfluktuasi karena adanya konflik Aceh yang berkepanjangan. Pertama, konflik Aceh akibat perang saudara (perang Cumbok) yang terjadi pada tahun 1958. Kedua, konflik yang terjadi akibat pemberontakan DI dibawah pimpinan Daud Bereueh yang terjadi pada tahun 1960. Ketiga, munculnya gerakan bersenjata dibawah komando Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dari semua konflik tersebut ternyata konflik yang dilakukan GAM yang paling banyak berpengaruh terhadap kehidupan para transmigran di Aceh. Usia transmigrasi di Aceh memasuki ke 47 tahun. Lokasi transmigrasi di Aceh dibuka pertama kali pada tahun 1964 di daerah Blang Peutek, Padang Tiji, Kabupaten Pidie dengan menampung sekitar 100 kepala keluarga (KK). Kemudian pada tahun 1973 pemerintah kembali membuka lokasi transmigrasi di Aceh Utara. Pada tahun 1976 sekitar 300 KK transmigran dari Jawa ditempatkan di Cot Girek. Jumlah transmigran di Aceh sebelum terjadi konflik mencapai sekitar 40.705 KK atau

120

Jurnal Ketransmigrasian Vol. 29 No. 2 Desember 2012. 69-78

200 ribu jiwa. Namun pada saat terjadi konflik telah mengakibatkan jumlah transmigran berkurang menjadi 25.682 KK atau sekitar 130 ribu jiwa (aceh.tribunnews.com, 2012). Setelah MoU Helsinki ternyata jumlah transmigran yang ada di Aceh tetap tidak bertambah. Para transmigran di Aceh tersebar pada 163 unit pemukiman transmigrasi (UPT). Sebanyak 126 UPT telah menjadi desa (geumpong) definitif, sedangkan sisanya sebanyak 37 UPT masih dalam proses. Munculnya berbagai pemukiman transmigrasi di Aceh secara tidak langsung telah menghidupkan perekonomian, terutama di daerah pedesaan (Swasono, 1985). Pemukiman transmigrasi tersebut kemudian berkembang menjadi sentra-sentra produksi yang menghasilkan berbagai kebutuhan bagi masyarakat Aceh, seperti sayur-sayuran, buah-buah dan ternak. Fenomena yang sangat menarik adalah jika migrasi masuk ke Aceh dikaitkan dengan daerah asal. Sebagian besar penduduk yang bermigrasi ke Aceh menuju ke daerah pedesaan berasal dari daerah di Jawa, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun lebih dari tiga perempat dari pendatang tersebut berasal dari Jawa Tengah. Kebanyakan diantara mereka adalah para transmigran yang pada era tahun 1980 digalakkan di Aceh untuk membantu kegiatan pembangunan, khusususnya di daerah pedesaan (koranjakarta.com, 2011). Pada tahun 1980 diketahui jumlah penduduk Jawa Tengah yang pindah ke Aceh sebanyak 52 ribu orang dan 40 ribu orang diantaranya menuju ke daerah pedesaan (BPS, 1980). Pada tahun 1990 jumlah penduduk Jawa Tengah yang bermigrasi ke Aceh mengalami penurunan menjadi 46 ribu orang, dan sebagian besar menuju ke daerah pedesaan Aceh mencapai 41 ribu orang (BPS, 1990). Selanjutnya pada tahun 2000 turun secara drastis menjadi 22 ribu orang (BPS, 2000), dan jumlah tersebut sekitar 19 ribu orang tetap menuju ke daerah pedesaan. Sebagian besar penduduk Jawa khususnya Jawa Tengah yang menuju ke daerah pedesaan Aceh adalah trasmigran dan sebagian diantaranya merupakan pekerja perkebunan. Kebijakan pemerintah membuka berbagai lokasi transmigrasi di Aceh pada awal tahun 1980 telah berdampak terbukanya sebuah daerah dan sekaligus menjadi stimulus bangkitnya perekonomian masyarakat. Salah satu daerah yang sebelumnya terisolir adalah daerah Kabupaten Aceh Singkil. Sebelum tahun 1980 untuk mencapai

daerah tersebut harus melalui kota Sibolga, Sumatera Utara dengan kapal laut kurang lebih 10 jam. Sementara jalur darat menuju perbatasan antara Sumatera Utara dan daerah Subulussalam masih terputus. Namun sejak pemerintah mencanangkan bahwa di wilayah Aceh Singkil akan dibuka beberapa lokasi transmigrasi, berbagai sarana dan prasarana mulai dibangun. Antara lain sarana transportasi yaitu membuka dan membangun kembali jalan antara kota Subulussalam dan Sidikalang. Jalan tersebut putus dan tidak pernah dibangun lagi semenjak peristiwa pemberontakan G.30S/PKI. Pada tahun 1960-an jalan tersebut merupakan jalan yang sangat vital bagi perekonomian wilayah Aceh Singkil karena langsung terhubung dengan kota Medan. Semenjak dibukanya beberapa lokasi transmigrasi di Aceh Singkil telah mengakibatkan perekonomian masyarakat mengalami peningkatan yang signifikan. Masyarakat lokal dan transmigran saling mengambil keuntungan. Selama ini masyarakat Aceh Singkil sangat tergantung kepada daerah Sumatera Utara untuk memenuhi kebutuhan sayur-sayuran dan buah-buahan. Namun saat ini segala kebutuhan tersebut dipasok oleh para transmigran. Setelah 30 tahun berada di Aceh Singkil terlihat kondisi kehidupan para transmigran semakin makmur. Hal ini mengingat banyak diantara mereka yang memiliki perkebuhan kelapa sawit dengan luas minimal dua hektar per keluarga. Perkebunan kelapa sawit merupakan ikon perkembangan perekonomian masyarakat pedesaan karena merupakan komoditi yang mudah dijual. Sementara itu pabrik pengolahan kelapa sawit tersebar dimanamana dan siap menampung setiap hasil produksi masyarakat transmigran dalam berbagai kualitas. Saat ini jumlah transmigran di Aceh Singkil merupakan yang terbanyak di seluruh Aceh. Hal ini dapat dimaklumi karena ketika terjadinya konflik tidak ada transmigran di Aceh Singkil yang mengungsi ke daerah lain. Dengan masuknya transmigran tersebut telah mengakibatkan komposisi penduduk Aceh Singkil menjadi berubah. Jumlah penduduk yang bersukubangsa Jawa di Aceh Singkil mencapai separuh dari jumlah penduduk keseluruhan. Sebelum Indonesia merdeka banyak orang Jawa yang didatangkan pemerintah Belanda ke Aceh Singkil untuk dipekerjakan di perkebunan (Fokker, 1935). Penduduk yang berasal dari etnis Jawa tersebut selalu diperhitungkan setiap ada pemilihan kepala daerah di Aceh Singkil.

121

Transmigran dan Trauma Konflik Aceh (Fadjri Alihar)

Kehidupan para transmigran di Aceh tidak dapat dilepaskan dari sektor pertanian dan pekebunan. Hal ini kiranya berkaitan dengan latar belakang kehidupan mereka sebelumnya di Jawa yang umunya bekerja di sektor pertanian. Sebelum terjadi konflik, kehidupan transmigran relatif lebih baik, apalagi di daerah daerah yang bebas konflik, seperti transmigran di Aceh Singkil. Biasanya setiap KK transmigran memperoleh jatah lahan pertanian sebanyak 2 Ha. Lahan-lahan tersebut dimanfaatkan transmigran tidak hanya untuk lahan pertanian, melainkan juga untuk perkebunan kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi yang paling banyak ditanam oleh para transmigran dan juga masyarakat Aceh yang lain karena cepat mendatangkan keuntungan. Sejalan dengan meningkatnya roda perekonomian di lokasi transmigrasi berdampak terhadap meningkatnya kualitas SDM anak-anak para transmigran. Banyak diantara mereka yang berpendidikan sarjana dan kemudian bekerja sebagai pegawai negeri di kantor-kantor pemerintahan. Diantara mereka banyak juga yang secara rutin berkunjung ke daerah asalnya di Jawa sekaligus secara tidak langsung menunjukkan keberhasilannya setelah mengikuti program transmigrasi (Hasil observasi dan wawancara dengan beberapa transmigran di Aceh Singkil). B. Konflik dan Pengungsi Kehidupan transmigran sempat pasang surut sejalan dengan meningkatnya konflik di Aceh, khususnya ketika maraknya kegiatan bersenjata yang dilakukan GAM. Pada saat konflik banyak sekali diantara transmigran yang meninggalkan Acek karena khawatir jiwa mereka terancam. Namun sebelum terjadinya konflik Aceh diketahui ada beberapa lokasi transmigrasi yang di tutup. Hal ini berkaitan dengan terjadinya peristiwa pemberontakan G.30S/PKI pada tahun 1965 yang mengakibatkan transmigran yang pertama kali bermukim di Blang Peutek tidak dapat bertahan lama, sehingga harus meninggalkan lokasi tersebut. Sebagai dampak meletusnya G.30S/PKI telah mengakibatkan lokasi transmigrasi di daerah Blang Petutek bubar dan sebagian transmigran pindah ke daerah Saree, Aceh Besar. Sebagian diantara mereka ada yang pindah ke Aceh Barat dan Aceh Pidie. Transmigran yang pindah ke Aceh Barat kemudian bekerja di perusahaan perkebunan milik P.T. Sucofindo. Sementara mereka yang pindah ke Pidie membaur dan berasimilasi dengan masyarakat setempat (koran-jakarta.com, 2011).

Pada saat terjadi konflik, wilayah Aceh terbagi dalam tiga bagian, pertama, daerah merah, kedua, daerah abu-abu dan ketiga, daerah putih. Wilayah merah dikatagorikan daerah yang selalu dilanda konflik, seperti kawasan pesisir pantai timur Aceh yang terdiri dari Kabupaten Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur. Wilayah abu-abu dikenal sebagai daerah dengan intensitas konflik yang rendah, seperti wilayah pesisir pantai barat Aceh, seperti Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya dan Aceh Selatan. Sementara daerah putih merupakan daerah tidak tersentuh oleh konflik terletak di daerah pedalaman, seperti Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Gayo Lues dan Aceh Singkil. Jumlah transmigran yang mengungsi keluar Aceh pada saat terjadi konflik sekitar 21.270 KK. Banyak diantara mereka mengungsi ke berbagai daerah di Provinsi Sumatera Utara. Kebanyakan transmigran yang mengungsi berasal dari daerah zona merah. Hal ini mengingat intensitas konflik di daerah tersebut tinggi sekali, seperti di Aceh Utara, Aceh Timur dan Pidie. Akibat konflik tersebut tidak hanya para transmigran yang mengungsi, melainkan juga masyarakat lokal ikut menghindar dari konflik. Setelah MoU Helsinki ternyata jumlah transmigran yang berhasil dikembalikan kurang dari separuh dari jumlah transmigran yang mengungsi yaitu hanya sekitar 6.248 KK. Hingga saat ini jumlah transmigran yang belum kembali sekitar 15.022 KK. Kebanyakan diantara mereka masih bertahan di luar Aceh, terutama di provinsi Sumatera Utara. Meningkatnya eskalasi konflik di Aceh berkaitan erat dengan berubahnya pemerintahan orde baru ke pemerintahan era reformasi. Seperti diketahui sejak zaman reformasi (tahun 1998) telah mengakibatkan euforia kebebasan muncul di segala pelosok tanah air. Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan oleh GAM untuk meningkatkan kekuatan bersenjatanya. Pada saat itu hampir seluruh pemerintahan di Aceh mengalami kelumpuhan atau tidak berfungsi karena adanya ancaman dari GAM. Hampir separuh pemerintahan di Aceh, khususnya mulai tingkat kecamatan ke bawah diambil alih oleh GAM. Hal yang sama juga terjadi pada kantor-kantor aparat keamanan, khususnya kantor komando rayon militer (Koramil) dan kantor polisi sektor (Polsek) banyak yang tidak berfungsi. Bahkan kantor aparat keamanan sengaja melepas papan namanya agar tidak diketahui oleh GAM. Strategi ini kemungkinan dimaksudkan sebagai kontra intelijen untuk

122

Jurnal Ketransmigrasian Vol. 29 No. 2 Desember 2012. 69-78

mengetahui besarnya kekuatan GAM sebenarnya yang ada di lapangan. Kekuatan GAM sedikit berkurang setelah diberlakukannya status darurat militer di Aceh pada tahun 2003 (koran-jakarta.com, 2011). Setelah status darurat militer berakhir terlihat GAM mengubah strategi perjuangan dari jalur militer ke jalur politik dan diplomasi. Jalur perundingan semakin terbuka antara pemerintah RI dan GAM setelah Aceh dilanda bencana tsunami pada akhir tahun 2004. Selanjutnya pada tanggal 5 Agustus 2005 ditandatangani MoU Helsinki untuk mengakhiri konflik Aceh yang telah berlangsung selama 37 tahun. Pada tahun 2000 banyak pendatang termasuk transmigran melakukan eksodus secara besarbesaran ke daerah lain karena eskalasi konflik di Aceh semakin meningkat. Tindakan tersebut mereka lakukan untuk menghindari berbagai ancaman, baik dalam bentuk intimidasi maupun kekerasan. Banyak diantara mereka terpaksa mengungsi keluar Aceh dengan meninggalkan seluruh harta bendanya di lokasi transmigrasi, baik sawah, kebun maupun ternak. Banyak pula diantara mereka adalah pekerja-pekerja swasta yang telah mapan yang terpaksa mengungsi demi keselamatan jiwa dan keluarganya. Sebelum terjadinya konflik terlihat interaksi yang saling menguntungkan antara transmigran dan penduduk lokal, terutama dari segi ekonomi (Tjondronegoro, 1985). Transaksi kedua kelompok masyarakat tersebut melalui kegiatan jual-beli atau perdagangan dalam keseharian cukup tinggi. Hal ini dikarenakan adanya kegiatan yang saling menguntungkan mengingat masyarakat lokal mendapat pasokan bahan-bahan pertanian dan perkebunan dari lokasi transmigrasi. Sementara para transmigran membeli berbagai kebutuhan pokok pada masyarakat lokal. Dalam proses transaksi tersebut terlihat adanya saling menghargai antara transmigran dan masyarakat lokal karena mereka menyadari jika sampai terjadi konflik tentu yang rugi kedua belah pihak. Namun dalam perjalanannya ternyata konflik Aceh telah mengakibatkan kehidupan para transmigran menjadi berantakan. Konflik yang semula bertujuan menarik perhatian pemerintah pusat kemudian berubah seolah bertujuan mengusir semua pendatang, khususnya para transmigran keluar dari Aceh (Sulaiman, 2000). Mereka terpaksa meninggalkan rumah dan kebun, bahkan banyak yang terpaksa menjual harta bendanya termasuk kebun dan ternak dengan harga yang sangat

murah1. Konflik tidak hanya berdampak terhadap para transmigran, melainkan juga berpengaruh terhadap para pendatang pada umumnya yang bekerja di Aceh dan juga penduduk lokal. C. Pengembalian Pengungsi Transmigran Seperti diketahui belum semua transmigran yang mengungsi ketika konflik berhasil dikembalikan ke Aceh. Ada sekitar 3.436 KK transmigran yang berhasil dikembalikan ke lokasi transmigran asal mereka semula. Daerah yang paling banyak menerima transmigran kembali adalah Kabupaten Nagan Raya dengan jumlah 897 KK. Selanjutnya Kabupaten Aceh Selatan menerima transmigran kembali sebanyak 572 KK, Aceh Jaya (460 KK) dan Aceh Barat (412 KK). Daerah yang paling sedikit menerima transmigran kembali adalah Kabupaten Bireuen dan Aceh Singkil masingmasing sebanyak 75 KK dan 100 KK. Sementara itu, sekitar 1.288 KK transmigran lagi direlokasi ke berbagai daerah di Aceh, dan 1.544 KK transmigran ditempatkan di luar Provinsi Aceh (www.sereambinews,com. 2010). Ada beberapa kendala mengembalikan para transmigran yang mengungsi karena konflik. Pertama, berkaitan dengan masalah dana. Dibutuhkan dana yang cukup besar untuk mengembalikan pengungsi transmigran ke tempat asalnya di Aceh. Pemerintah Aceh tidak mempunyai dana yang cukup untuk mengembalikan mereka yang jumlah mencapai 15.022 KK. Pada tahun 2006-2007 pernah dilakukan dua kali pemulangan pengungsi yang dibiayai sepenuhnya oleh Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA). Namun pada tahun 2008-2009 Pemerintah Daerah Aceh tidak mempunyai dana untuk mengembalikan pengungsi transmigran ke Aceh (www.sereambinews,com. 2010). Jika para transmigran tersebut kembali ke Aceh tentunya mereka harus diberikan jatah hidup (Menurut Kepala dinas Kependukan Provinsi NAD). Hal ini mengingat mereka harus memulai hidup dari nol karena lokasi transmigrasi yang ditinggal telah bertahun-tahun tidak terurus dan ditumbuhi semakbelukar. Kondisi para pengungsi transmigran yang dikembalikan hampir sama dengan kondisi ketika mereka pertama kali datang ke Aceh. Dengan
1

Para transmigran yang mengungsi dari Gampong Alue Leuhop, Cot Girek, Aceh Utara yang mengungsi ketika konflik mengharapkan kepada pimpinan Aceh terpilih dapat mewujudkan harapan rakyat tanpa pandang bulu, apakah mereka suku Aceh, Jawa, Batak dan suku-suku lainnya.

123

Transmigran dan Trauma Konflik Aceh (Fadjri Alihar)

demikian para transmigran perlu diberi modal berupa jatah hidup sambil menunggu lokasi pemukimannya dibersihkan. Pemerintah daerah Aceh sepertinya tidak mempunyai political will untuk mengembalikan transmigran. Hal ini terlihat dari pernyataan gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang mengatakan bahwa pemerintah daerah Aceh tidak bisa mencampuri transmigran yang menjadi pengungsi karena berada di daerah Provinsi Sumatera Utara. Secara moral pemerintah daerah Aceh bertanggung jawab untuk mengembalikan para transmigran karena mereka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Aceh secara keseluruhan. Bahkan keberadaan mereka telah menjadi simbol bangkitnya perekonomian Aceh, khususnya di daerah pedesaan. Abdullah Puteh ketika menjabat sebagai gubernur mengeluarkan pendapat bahwa salah satu penyebab konflik Aceh disebabkan oleh kehadiran para transmigran (mediaindo.com, 2012). Dijelaskan bahwa keberadaan para transmigran tersebut dijadikan alasan GAM untuk memperpanjang konflik dengan pemerintah pusat. Kemudian ditambahkan bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik adalah menarik keluar transmigran yang tersebar di seluruh Aceh. Pernyataan Abdullah Puteh tersebut kiranya perlu dipertanyakan karena para transmigran merupakan korban dan bukan penyebab terjadinya konflik. Jauh sebelum konflik terjadi para transmigran telah menetap di Aceh dan berasimilasi dengan masyarakat lokal. Sepanjang sejarah transmigrasi Indonesia belum pernah terjadi konflik, khususnya antara transmigran dan masyarakat lokal. Transmigran khususnya yang berasal dari Jawa merupakan kelompok masyarakat yang suka bekerja keras dan sangat mudah menyesuaikan diri dengan adat istiadat masyarakat setempat. Biasanya para transmigran jarang sekali melibatkan diri dalam dunia politik, walaupun mereka lebih dari satu generasi berada di lokasi transmigrasi. Berkaitan dengan eksodusnya transmigran ke luar Aceh ketika terjadinya konflik kiranya dapat dijelaskan sekaligus membantah apa yang disampaikan oleh Abdullah Puteh. Pertama, tujuan dan motif gerakan bersenjata GAM untuk mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah pusat, terutama dari segi sosial, politik dan ekonomi (mediaindo.com, 2012). Jika tujuannya untuk menguasai sumberdaya ekonomi yang selama ini dimiliki para transmigran ternyata banyak sekali

kebun-kebun yang dibiarkan terlantar setelah mereka mengungsi2. Kiranya terlalu kecil keuntungannya bagi GAM kalau hanya sekedar mengusir para transmigran keluar dari Aceh dan menguasai lahan pertanian dan perkebunan yang mereka miliki. Jika ini yang dilakukan GAM tentu akan memperburuk citra mereka sendiri karena tujuannya bukanlah mengusir para transmigran, melainkan tujuannya menekan pemerintah pusat untuk memperhatikan Aceh secara adil. Namun kemungkinan bisa saja ada pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan untuk menguasai kebun-kebun dan sawah-sawah para transmigran setelah mereka mengungsi. Namun perlu dicatat bahwa mengurus harta benda yang ditinggalkan transmigran tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa bekerja di bidang pertanian atau perkebunan. Kedua, ketika eskalasi konflik sedang meningkat telah mengakibatkan kehidupan masyarakat di Aceh mengalami keresahan yang luar biasa. Banyak diantara kelompok masyarakat kalangan menengah keatas berbondong-bondong membeli rumah di Medan untuk menyelamatkan diri dari konflik. Berdasarkan fenomena tersebut dapat dimengerti mengapa transmigran eksodus ke luar Aceh, terutama setelah menyaksikan upaya yang dilakukan masyarakat lokal dalam menghindari konflik. Jika masyarakat lokal saja takut dan khawatir menjadi korban konflik apalagi para transmigran yang berstatus pendatang di Aceh. Mengungsinya para transmigran tersebut untuk mengantisipasi segala kemungkinan jangan sampai mereka menjadi korban konflik. Perlu ditambahkan bahwa menurut catatan sejarah tidak pernah timbul konflik antara orang Jawa dan masyarakat lokal di Aceh. Sebagai contoh pada tahun 1927 pemerintah Belanda mendatangkan orang dari Jawa sebanyak 100 KK ke Lae Butar, Singkil untuk bekerja di perkebunan (J.J. Van de Velde, 1987). Mereka dapat dikatagorikan orang Jawa yang pertama datang ke Aceh. Kedatangan orang Jawa terus meningkat sejalan dengan meningkatnya luas perkebunan kelapa sawit di Singkil dan juga di daerah Aceh lainnya.
2

Pada saat musim buah-buahan terlihat disepanjang jalan raya di kabupaten Aceh Utara banyak ditemui para pedagang yang berjualan buah mangga. Menurut informasi yang diperoleh buah mangga tersebut berasal dari kebun para transmigran yang dulunya ditransmigrasikan ke Aceh Utara. Kebun-kebun tersebut banyak yang tidak terurus, padahal merupakan potensi pemasok buah-buahan di Aceh tanpa harus mendatang dari Provinsi Sumatera Utara.

124

Jurnal Ketransmigrasian Vol. 29 No. 2 Desember 2012. 69-78

Setelah bermukim hampir 100 tahun di daerah Singkil tidak pernah terjadi perselisihan atau konflik antara pendatang dari Jawa tersebut dengan masyarakat lokal. Bahkan banyak diantara mereka tidak jelas lagi garis keturunannya karena telah berasimilasi melalui perkawinan dengan masyarakat lokal. Tingginya tingkat interaksi telah mengakibatkan semakin tipisnya sekat-sekat budaya antara masyarakat Jawa dan masyarakat lokal. Dalam kehidupan sehari-hari banyak diantara keturunan masyarakat Jawa tersebut menggunakan bahasa setempat. Besar sekali harapan masyarakat agar para transmigran yang eksodus selama masa konflik kembali ke Aceh. Masyarakat juga berharap setelah MoU Helsinki semua kehidupan masyarakat di Aceh normal kembali termasuk jaminan keselamatan bagi transmigran yang ingin kembali. Bahkan mereka sangat berharap pada saat Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar memimpin Aceh kiranya para transmigran telah dapat kembali dan melakukan berbagai aktivitas di berbagai lokasi transmigrasi seperti sediakala. Harapan masyarakat tersebut bukannya tanpa alasan karena mereka merasakan manfaat keberadaan transmigran di Aceh. Berbagai lokasi transmigrasi yang tersebar di seluruh Aceh berdampak terhadap tumbuhnya sentra-sentra produksi yang berfungsi sebagai pemasok sayursayuran dan buah-buahan bagi masyarakat lokal. Dengan keberadaan lokasi transmigrasi tersebut di harapkan dapat mengurangi ketergantungan dengan daerah Provinsi Sumatera Utara, terutama dalam memenuhi kebutuhan sekunder masyarakat Aceh. Namun dalam kenyataannya hingga berakhirnya masa jabatan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar pada bulan Juni 2012 yang lalu terlihat para transmigran yang pernah mengungsi karena konflik belum juga mau kembali ke Aceh. Hal ini mengingat banyak diantara mereka menganggap pemerintah daerah Aceh tidak serius mengurus kepulangan mereka dan sekaligus menjamin keselamatannya. Hal ini terbukti dari sikap pemerintah daerah Aceh yang sengaja tidak menganggarkan dana untuk mengembalikan para pengungsi transmigran ke daerah asalnya yang tersebar di berbagai lokasi transmigrasi (w.w.w.serambinews.com, 2012). Sebenarnya setelah MoU Helsinki banyak diantara transmigran yang mengharapkan dapat kembali karena mereka menganggap Aceh seperti tanah kelahirannya sendiri (Arifin, 2012). Selain terikat dengan tanah pertanian dan faktor

kekerabatan, kemungkinan banyak diantara leluhur mereka yang telah meninggal dikubur di permukiman transmigran. Faktor inilah yang menyebabkan transmigran selalu terikat dan merindukan kembali ke permukimani transmigrasi di Aceh untuk menjalani kehidupan seperti semula. Upaya pengembalian transmigran pasca konflik tidak hanya berkaitan dengan anggaran, melainkan juga berkaitan dengan alasan kemanusiaan. Kembalinya para pengungsi transmigran tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa sebenarnya mereka bukanlah penyebab terjadinya konflik di Aceh. Namun yang lebih penting lagi dengan kembalinya para transmigran merupakan indikator berhasilnya perdamaian di Aceh. Diperlukan usaha keras untuk mengembalikan para pengungsi transmigran karena akan menjadi tolok ukur keberhasilan program reintegrasi dan rekonsiliasi di Aceh. Salah satu faktor yang diperhitungkan para transmigran kembali ke Aceh adalah faktor keamanan. Hal ini mengingat kondisi keamanan Aceh yang sewaktu-waktu bergolak, walaupun MoU Helsinki telah ditandatangani. Ingatan kognitif para transmigran ketika menghadapi konflik selalu dijadikan pedoman untuk membaca situasi dan kondisi keamanan di Aceh. Kiranya faktor inilah yang menyebabkan sebagian besar diantara pengungsi transmigran tidak bersedia kembali ke Aceh. Apa yang mereka khawatirkan ternyata menjadi kenyataan. Pada saat menjelang pilkada Aceh tahun 2012 terjadi lagi konflik, terutama antara masing-masing pendukung calon gubernur dan wakil gubernur. Berbagai tindak kekerasan dan teror kembali marak di Aceh. Kekerasan juga terjadi terhadap warga pendatang yang telah mengakibatkan 7 orang tewas ditembak oleh orang tidak dikenal (Serambi Indonesia, 2012). Mereka adalah pekerja-pekerja dari Jawa yang bekerja ke Aceh, khususnya di sektor konstruksi. Semua tindak kekerasan yang berlangsung pada saat pilkada Aceh 2012 menjadi catatan sendiri bagi para transmigran untuk kembali ke Aceh. Trauma dalam menghadapi konflik pada masa lalu membangkitkan kembali ingatan kognitif para transmigran bahwa Aceh merupakan daerah yang tidak aman karena sering bergolak dan selalu diiringi berbagai tindak kekerasan. IV. KESIMPULAN Sejak awal kemerdekaan Aceh selalu diwarnai dengan konflik. Baik antara sesama rakyat Aceh maupun antara rakyat Aceh dengan pemerintah

125

Transmigran dan Trauma Konflik Aceh (Fadjri Alihar)

pusat. Konflik yang paling banyak menelan korban dan membuat rakyat Aceh menderita adalah konflik bersenjata yang dilakukan GAM melawan pemerintah Republik Indonesia, dan baru berakhir setelah ditandanganinya MoU Helsinki tanggal 5 Agustus 2005. Walaupun sarat dengan konflik, namun masyarakat Aceh tidak resisten terhadap masyarakat pendatang. Lokasi transmigrasi di Aceh yang dibuka pada tahun 1964 mendapat sambutan positif dari masyarakat lokal. Program transmigrasi di Aceh memberikan nuansa lain karena berkaitan dengan konflik, khususnya ketika munculnya gerakan bersenjata yang dilakukan GAM. Program transmigrasi di Aceh mempunyai karakteristik yang berbeda dengan daerah lain karena banyak permukiman transmigrasi berada di tengah-tengah daerah konflik. Selama 22 tahun (1976-1998) keberadaan GAM mengganggu kehidupan transmigran. Namun setelah reformasi intensitas konflik meningkat cukup tajam, membuat para transmigran merasa khawatir karena sewaktu-waktu konflik bisa menjalar sampai ke permukiman transmigrasi. Eforia reformasi dimanfaatkan GAM untuk kembali menunjukkan jati dirinya. Kondisi keamanan Aceh berada dalam titik kritis, terjadi tindak kekerasan, penculikan dan pembunuhan. Kondisi tersebut mengakibatkan transmigran mengungsi ke daerah lain, dan sebanyak 15.022 ribu KK tidak ingin lagi kembali ke Aceh. Akibatnya permukiman transmigrasi mengalami stagnasi karena banyak sawah dan kebun transmigran yang terbengkalai, khususnya di daerah zona merah. MoU Helsinki belum dapat memberikan rasa aman bagi transmigran untuk kembali ke lokasi transmigrasi di Aceh, karena adanya berbagai kendala, baik dana, keamanan, psikologi, politik maupun kebijakan. Transmigran bertahan di pengungsian karena khawatir konflik akan terjadi lagi. Pengembalian pengungsi transmigran menjadi salah satu pekerjaan rumah gubernur dan wakil gubernur Aceh yang terpilih pada bulan April 2012 dan diharapkan dapat segera menyusun kebijakan dan mengalokasikan anggaran pengembalian pengungsi transmigran ke Aceh. Keberhasilan pengembalian pengungsi transmigran diharapkan dapat menghilangkan stigma bahwa tidak bermaksud untuk mengusir orang Jawa dari tanah Aceh. Program transmigrasi tetap diperlukan di Aceh untuk membantu proses pembangunan, khususnya

di daerah pedesaan. Pemerintah daerah Aceh perlu segera menyiapkan dana untuk merevitalisai lokasilokasi transmigrasi, dan segera mendatangkan transmigran pengganti untuk menggantikan transmigran yang tidak bersedia kembali
DAFTAR PUSTAKA Arifin, Syamsul. 2012.Kisah Eks Transmigran Ketika Konflik Aceh. The Globe Journal, 23 Mei 2012. Jakarta. Biro Pusat Statistik. 1980. Sensus Penduduk Indonesia 1980. Biro Pusat Statistik (BPS). Jakarta. Biro Pusat Statistik. 1990. Sensus Penduduk Indonesia 1990. Biro Pusat Statistik (BPS). Jakarta. Biro Pusat Statistik. 2000. Sensus Penduduk Indonesia 2000. Biro Pusat Statistik (BPS). Jakarta. Dijck, Van C. 1988. Darul Islam; Sebuah Pemberontakan. Grafity Press. Jakarta Fokker, G.A.1935. Memorie van Overgave van der Controleuer bij het Binnen-Landische van der Onderafdeeling Singkil (mimeo). Ju Lan, Thung, dkk. 2006. Penyelesaian Konflik Aceh: Aceh Dalam Proses Rekonstruksi dan Rekonsiliasi . Lembaga Ilmu Pengetahuan Indnesia-LIPI. Jakarta Lentara, Gerhan. 2004. Aceh Menggugat. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh Proses Rekonstruksi dan Rekonsiliasi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indnesia-LIPI. Jakarta Nurhasyim, Moch, dkk. 2003. Konflik Aceh: Analisis Atas Sebab-sebab Konflik, Aktor Konflik, Kepentingan dan Upaya Penyelesaian. LIPI. Jakarta. Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, 1984. Metode Penelitian Survai. Gramedia. Jakarta. Sjamsu, Amaral. 1976. Transmigrasi di Indonesia . Jembatan. Jakarta. Sulaiman, Muhammad Isa. 2000. GAM; Idiologi dan Gerakannya. Grasindo. Jakarta. Swasono, Sri-Edi dan Masri Singarimbun (ed). 1985. Sepuluh Windhu Transmigrasi di Indonesia 1905-1985. Universitas Indonesia Press. Jakarta Tjondronegoro. 1985. Migrasi Berencana dan Tolok Ukur Keberhasilan dan Misi Departemen di Masa Depan. Dalam Swasono dan Singarimbun (eds). Transmigrasi di Indonesia 1905-1985. UI Press. Jakarta. Van de Velde, J.J. 1987. Surat-surat dari Sumatera (terjemahan). Grafity Press. Jakarta Sumber Internet Mediaindo. 2004. Transmigran Penyebab Konflik Aceh. http://korpri. Dephan.go.id/modules.php? name=News&File=article&sid=2387. Diunduh, Selasa 25 September 2012.

126

Jurnal Ketransmigrasian Vol. 29 No. 2 Desember 2012. 69-78

Nurdin F. Joes. 2011. Transmigrasi di Indonesia 61 Tahun. http://w.w.w. aceh.tribunnews.com/2011/ 12/12/transmigrasi-indonesia-61-tahun. Diunduh, Senin, 17 September 2012. Rakyataceh. 2005. Transmigran Eksodus Mulai Kembali ke Aceh. http://w.w.w.rakyat aceh.com/index.php/ open=view&newsid=52. Diunduh, Senin 1 Oktober 2012. Koran-Jakarta.com.2011. Menata Ulang Program Transmigrasi http://tto.depnakertrans.go.id/

trams_update/index.php. Diunduh, Senin 10 September 2012. Serambinews.com. 2010. Belasan Ribu Transmigran Aceh Masih Mengungsi . http:// disnakermobduk.acehprov.go.id/index.php/ infoberita/45-umum/76-belasan rib pengungsi aceh masih mengungsi.htiml. Diunduh, Sabtu 1 September 2012.

127