Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PREEKLAMSIA

Nama : Esti istikomah

BAB I PENDAHULUAN Hipertensi pada kehamilan adalah penyakit yang sudah umum dan merupakan salah satu dari tiga rangkaian penyakit yang mematikan, selain perdarahan dan infeksi, dan juga banyak memberikan kontribusi pada morbiditas dan mortalitas ibu hamil. Pada tahun 2001, menurut National Center for Health Statistics, hipertensi gestasional telah diidentifikasi pada 150.000 wanita, atau 3, ! kehamilan. "elain itu, #erg dan kawan$kawan %2003& melaporkan bahwa hampir 1'! dari 3.201 kematian yang berhubungan dengan kehamilan di (merika "erikat dari tahun 1))1 $ 1)) dengan kehamila. *eskipun telah dilakukan penelitian yang intensif selama beberapa dekade, hipertensi yang dapat menyebabkan atau memperburuk kehamilan tetap menjadi masalah yang belum terpe+ahkan. "e+ara umum, preeklamsi merupakan suatu hipertensi yang disertai dengan proteinuria yang terjadi pada kehamilan. Penyakit ini umumnya timbul setelah minggu ke$20 usia kehamilan dan paling sering terjadi pada primigra,ida. -ika timbul pada multigra,ida biasanya ada faktor predisposisi seperti kehamilan ganda, diabetes mellitus, obesitas, umur lebih dari 35 tahun dan sebab lainnya. *orbiditas janin dari seorang wanita penderita hipertensi dalam kehamilan berhubungan se+ara langsung terhadap penurunan aliran darah efektif pada sirkulasi uteroplasental, juga karena terjadi persalinan kurang bulan pada kasus$kasus berat. .ematian janin diakibatkan hipoksia akut, karena sebab sekunder terhadap solusio plasenta atau ,asospasme dan diawali dengan pertumbuhan janin terhambat %/012&. 3i negara berkembang, sekitar 25! mortalitas perinatal diakibatkan kelainan hipertensi dalam kehamilan. *ortalitas maternal diakibatkan adanya hipertensi berat, kejang grand mal, dan kerusakan end organ lainnya. adalah akibat dari komplikasi$komplikasi hipertensi yang berhubungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Preek am!sia Pre$eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 1405)0 mmHg setelah kehamilan 20 minggu %akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga& atau bisa lebih awal terjadi. Pre$eklampsia adalah salah satu kasus gangguan kehamilan yang bisa menjadi penyebab kematian ibu. .elainan ini terjadi selama masa kehamilan, persalinan, dan masa nifas yang akan berdampak pada ibu dan bayi. Hipertensi %tekanan darah tinggi& di dalam kehamilan terbagi atas pre$eklampsia ringan, preklampsia berat, eklampsia, serta superimposed hipertensi %ibu hamil yang sebelum kehamilannya sudah memiliki hipertensi dan hipertensi berlanjut selama kehamilan&. 6anda dan gejala yang terjadi serta tatalaksana yang dilakukan masing$masing penyakit di atas tidak sama. B. Etio ogi Preek am!sia 7tiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. "e+ara teoritik urutan urutan gejala yang timbul pada preeklamsi ialah edema, hipertensi, dan terakhir proteinuri. "ehingga bila gejala$gejala ini timbul tidak dalam urutan diatas dapat dianggap bukan preeklamsi. 3ari gejala tersebut timbur hipertensi dan proteinuria merupakan gejala yang paling penting. 8amun, penderita serinhkali tidak merasakan perubahan ini. #ila penderita sudah mengeluh adanya gangguan nyeri kepala, gangguan penglihatan atau nyeri epigastrium, maka penyakit ini sudah +ukup lanjut. ". #aktor Risiko Preek amsia .ehamilan pertama 2iwayat keluarga dengan pre$eklampsia atau eklampsia Pre$eklampsia pada kehamilan sebelumnya /bu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun 9anita dengan gangguan fungsi organ %diabetes, penyakit ginjal, migraine, dan tekanan darah tinggi&

.ehamilan kembar

D. $am%aran K inis Preek am!sia a. 1ejala subjektif Pada preeklampsia didapatkan sakit kepala di daerah frontal, skotoma, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah$muntah. 1ejala$gejala ini sering ditemukan pada preeklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul. 6ekanan darah pun akan meningkat lebih tinggi, edema dan proteinuria bertambah meningkat. b. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan meliputi: peningkatan tekanan sistolik 30mmHg dan diastolik 15 mmHg atau tekanan darah meningkat lebih dari 1405)0mmHg. 6ekanan darah pada preeklampsia berat meningkat lebih dari 1'05110 mmHg dan disertai kerusakan beberapa organ. "elain itu kita juga akan menemukan takikardia, takipnu, edema paru, perubahan kesadaran, hipertensi ensefalopati, hiperefleksia, pendarahan otak. E. Pato&isio ogi Preek am!sia Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh ,asospasme dan iskemia. 9anita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen %seperti prostaglandin, trombo;an& yang dapat menyebabkan ,asospasme dan agregasi platelet. Penumpukan trombus dan pendarahan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf lokal dan kejang. 8ekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus dan proteinuria. .erusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. *anifestasi terhadap kardio,askuler meliputi penurunan ,olume intra,askular, meningkatnya +ardia+ output dan peningkatan tahanan pembuluh perifer. Peningkatan hemolisis mi+roangiopati menyebabkan anemia dan trombositopeni. /nfark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim. Perubahan pada organ$organ<

1& Perubahan kardio,askuler. 1angguan fungsi kardio,askuler yang parah sering terjadi pada preeklampsia dan eklampsia. #erbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan peningkatan afterload jantung akibat hipertensi, preload jantung yang se+ara nyata dipengaruhi oleh berkurangnya se+ara patologis hiper,olemia kehamilan atau yang se+ara iatrogenik ditingkatkan oleh larutan onkotik atau kristaloid intra,ena, dan akti,asi endotel disertai ekstra,asasi ke dalam ruang ektra,askular terutama paru. 2& *etabolisme air dan elektrolit Hemokonsentrasi yang menyerupai preeklampsia dan eklampsia tidak diketahui penyebabnya. -umlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak pada penderita preeklampsia dan eklampsia daripada pada wanita hamil biasa atau penderita dengan hipertensi kronik. Penderita preeklampsia tidak dapat mengeluarkan dengan sempurna air dan garam yang diberikan. Hal ini disebabkan oleh filtrasi glomerulus menurun, sedangkan penyerapan kembali tubulus tidak berubah. 7lektrolit, kristaloid, dan protein tidak menunjukkan perubahan yang nyata pada preeklampsia. .onsentrasi kalium, natrium, dan klorida dalam serum biasanya dalam batas normal 3& *ata 3apat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. "elain itu dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan oleh edema intra$okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. 1ejala lain yang menunjukan tanda preeklampsia berat yang mengarah pada eklampsia adalah adanya skotoma, diplopia, dan ambliopia. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan preedaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau di dalam retina. 4& =tak Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan anemia pada korteks serebri, pada keadaan yang berlanjut dapat ditemukan perdarahan.

5& 0terus (liran darah ke plasenta menurun dan menyebabkan gangguan pada plasenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada preeklampsia dan eklampsia sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaan terhadap rangsangan, sehingga terjadi partus prematur. '& Paru$paru .ematian ibu pada preeklampsia dan eklampsia biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. #isa juga karena terjadinya aspirasi pneumonia, atau abses paru. #. Diagnosis Preek am!sia 3iagnosis preeklampsia dapat ditegakkan dari gambaran klinik dan pemeriksaan laboratorium. 3ari hasil diagnosis, maka preeklampsia dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu: 1& Preeklampsia ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut< > 6ekanan darah 1405)0 mmHg, atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu kehamilan dengan riwayat tekanan darah normal. > Proteinuria kuantitatif ? 0,3 gr perliter atau kualitatif 1@ atau 2@ pada urine kateter atau midstream. 2& Preeklampsia berat, bila disertai keadaan sebagai berikut< > 6ekanan darah 1'05110 mmHg atau lebih. > Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam atau kualitatif 3@ atau 4@. > =ligouri, yaitu jumlah urine kurang dari 500 ++ per 24 jam. > (danya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di epigastrium. > 6erdapat edema paru dan sianosis > 6rombositopeni > 1angguan fungsi hati > Pertumbuhan janin terhambat

$. Penata aksanaan Preek am!sia 3iagnosis dini, super,isi medikal yang ketat, waktu persalinan merupakan persyaratan yang mutlak dalam penatalaksanaan preeklamsi. Persalinan merupakan pengobatan yang utama. "etelah diagnosis ditegakkan, penatalaksanaan selanjutnya harus berdasarkan e,aluasi awal terhadap kesejahteraan ibu dan janin. #erdasarkan hal ini, keputusan dalam penatalaksanaan dapat ditegakkan, yaitu apakah hospitalisasi, ekspektatif atau terminasi kehamilan serta harus memperhitungkan beratnya penyakit, keadaan ibu dan janin, dan usia kehamilan. 6ujuan utama pengambilan strategi penatalaksanaan adalah keselamatan ibu dan kelahiran janin hidup yang tidak memerlukan perawatan neonatal lebih lanjut dan lama. Penatalaksanaa pada preeklamsi dibagi berdasarkan beratnya preeklamsi, yaitu < 1. Preeklamsi ringan Pada preeklamsi ringan, obser,asi ketat harus dilakukan untuk mengawasi perjalanan penyakit karena penyakit ini dapat memburuk sewaktu$waktu. (danya gejala seperti sakit kepala, nyeri ulu hati, gangguan penglihatan dan proteinuri meningkatkan risiko terjadinya eklamsi dan solusio plasenta. Pasien$pasien dengan gejala seperti ini memerlukan obser,asi ketat yang dilakukan di rumah sakit. Pasien harus diobser,asi tekanan darahnya setiap 4 jam, pemeriksaan klirens kreatinin dan protein total seminggu 2 kali, tes fungsi hati, asam urat, elektrolit, dan serum albumin setiap minggu. Pada pasien preeklamsi berat, pemeriksaan fungsi pembekuan seperti protrombin time, partial tromboplastin time, fibrinogen, dan hitung trombosit. Perkiraan berat badan janin diperoleh melalui 0"1 saat masuk rumah sakit dan setiap 2 minggu. Perawatan jalan dipertimbangkan bila ketaatan pasien baik, hipertensi ringan, dan keadaan janin baik. Penatalaksanaan terhadap ibu meliputi obser,asi ketat tekanan darah, berat badan, ekskresi protein pada urin 24 jam, dan hitung trombosit begitu pula keadaan janin %pemeriksaan denyut jantung janin 2; seminggu&. "ebagai tambahan, ibu harus diberitahu mengenai gejala pemburukan penyakit, seperti nyeri kepala, nyeri epigastrium, dan gangguan penglihatan. #ila ada tanda$tanda progresi penyakit, hospitalisasi diperlukan. Pasien yang dirawat di rumah sakit dibuat senyaman mungkin. (da persetujuan umum tentang induksi persalinan pada preeklamsi ringan dan keadaan ser,ik yang matang %skor #ishop A'& untuk menghindari komplikasi maternal dan janin. (kan tetapi ada pula yang tidak menganjurkan penatalaksanaan preeklamsi ringan pada kehamilan muda. "aat ini tidak ada ketentuan mengenai tirah baring, hospitalisasi

yang lama, penggunaan obat anti hipertensi dan profilaksis anti kon,ulsan. 6irah baring umumnya direkomendasikan terhadap preeklamsi ringan. .euntungan dari tirah baring adalah mengurangi edema, peningkatan pertumbuhan janin, pen+egahan ke arah preeklamsi berat, dan meningkatkan outcome janin. *edikasi anti hipertensi tidak diperlukan ke+uali tekanan darah melonjak dan usia kehamilan 30 minggu atau kurang. Pemakaian sedatif dahulu digunakan, tatapi sekarang tidak dipakai lagi karena mempengaruhi denyut jantung istirahat janin dan karena salah satunya yaitu fenobarbital mengganggu faktor pembekuan yang tergantung ,itamin . dalam janin. "ebanyak 3 penelitian a+ak menunjukkan bahwa tidak ada keuntungan tirah baring baik di rumah maupun di rumah sakit walaupun tirah baring di rumah menurunkan lamanya waktu di rumah sakit. "ebuah penelitian menyatakan adanya progresi penyakit ke arah eklamsi dan persalinan prematur pada pasien yang tirah baring di rumah. 8amun, tidak ada penelitian yang menge,aluasi eklamsi, solusio plasenta, dan kematian janin. Pada 10 penelitian a+ak yang menge,aluasi pengobatan pada wanita dengan preeklamsi ringan menunjukkan bahwa efek pengobatan terhadap lamanya kehamilan, pertumbuhan janin, dan insidensi persalinan preterm ber,ariasi antar penelitian. =leh karena itu tidak terdapat keuntungan yang jelas terhadap pengobatan preeklamsi ringan. Pengamatan terhadap keadaan janin dilakukan seminggu 2 kali dengan 8"6 dan 0"1 terhadap ,olume +airan amnion. Hasil 8"6 non reaktif memerlukan konfirmasi lebih lanjut dengan profil biofisik dan oksitosin challenge test. (mniosentesis untuk mengetahui rasio lesitin<sfingomielin %B<" ratio& tidak umum dilakukan karena persalinan awal akibat indikasi ibu, tetapi dapat berguna untuk mengetahui tingkat kematangan janin. Pemberian kortikosteroid dilakukan untuk mematangkan paru janin jika persalinan diperkirakan berlangsung 2$ hari lagi. -ika terdapat pemburukan penyakit preeklamsi, maka monitor terhadap janin dilakukan se+ara berkelanjutan karena adanya bahaya solusio plasenta dan insufisiensi uteroplasenter. 2. Preeklamsi berat 6ujuan penatalaksanaan pada preeklamsi berat adalah men+egah kon,ulsi, mengontrol tekanan darah maternal, dan menentukan persalinan. Persalinan merupakan terapi definitif jika preeklamsi berat terjadi di atas 3' minggu atau terdapat tanda paru janin sudah matang atau terjadi bahaya terhadap janin. -ika terjadi persalinan sebelum usia kehamilan 3' minggu, ibu dikirim ke rumah sakit besar untuk mendapatkan 8/C0 yang baik.

Pada preeklamsi berat, perjalanan penyakit dapat memburuk dengan progresif sehingga menyebabkan pemburukan pada ibu dan janin. =leh karena itu persalinan segera direkomendasikan tanpa memperhatikan usia kehamilan. Persalinan segera diindikasikan bila terdapat gejala impending eklamsi, disfungsi multiorgan, atau gawat janin atau ketika preeklamsi terjadi sesudah usia kehamilan 34 minggu. Pada kehamilan muda, bagaimana pun juga, penundaan terminasi kehamilan dengan pengawasan ketat dilakukan untuk meningkatkan keselamatan neonatal dan menurunkan morbiditas neonatal jangka pendek dan jangka panjang. Pada 3 penelitian klinis baru$baru ini, penatalaksanaan se+ara konser,atif pada wanita dengan preeklamsi berat yang belum aterm dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas neonatal. 8amun, karena hanya 11' wanita yang menjalani terapi konser,atif pada penelitian ini dan karena terapi seperti itu mengundang risiko bagi ibu dan janin, penatalaksanaan konser,atif hanya dikerjakan pada pusat neonatal kelas 3 dan melaksanakan obser,asi bagi ibu dan janin. "emua wanita dengan usia kehamilan 40 minggu yang menderita preeklamsi ringan harus memulai persalinan. Pada usia kehamilan 3D minggu, wanita dengan preeklamsi ringan dan keadaan ser,iks yang sesuai harus diinduksi. "etiap wanita dengan usia kehamilan 32$34 minggu dengan preeklamsi berat harus dipertimbangkan persalinan dan janin sebaiknya diberi kortikosteroid. Pada pasien dengan usia kehamilan 23$32 minggu yang menderita preeklamsi berat, persalinan dapat ditunda dalam usaha untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas perinatal. -ika usia kehamilan E 23 minggu, pasien harus diinduksi persalinan untuk terminasi kehamilan. 6ujuan obyektif utama penatalaksanaan wanita dengan preeklamsi berat adalah men+egah terjadinya komplikasi serebral seperti ensefalopati dan perdarahan. /bu hamil harus diberikan magnesium sulfat dalam waktu 24 jam setelah diagnosis dibuat. 6ekanan darah dikontrol dengan medikasi dan pemberian kortikosteroid untuk pematangan paru janin. #atasan terapi biasanya bertumpu pada tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih tinggi. #eberapa ahli menganjurkan mulai terapi pada tekanan diastolik 105 mmHg , sedangkan yang lainnya menggunakan batasan tekanan arteri rata$rata A 125 mmHg. 6ujuan dari terapi adalah menjaga tekanan arteri rata$rata dibawah 12' mmHg %tetapi tidak lebih rendah dari 105 mmHg& dan tekanan diastolik E 105 mmHg %tetapi tidak lebih rendah dari )0 mmHg&. 6erapi inisial pilihan pada wanita dengan preeklamsi berat selama peripartum adalah hidralaFin se+ara /G dosis 5 mg bolus. 3osis tersebut dapat diulangi bila perlu setiap 20 menit sampai total 20 mg. #ila dengan dosis tersebut

hidralaFin tidak menghasilkan perbaikan yang diinginkan, atau jika ibu mengalami efek samping seperti takikardi, sakit kepala, atau mual, labetalol %20 mg /G& atau nifedipin %10 mg oral& dapat diberikan. (kan tetapi adanya efek fetal distres terhadap terapi dengan hidralaFin, beberapa peneliti merekomendasikan penggunaan obat lain dalam terapi preeklamsi berat. Pada ) penelitian a+ak yang membandingkan hidralaFin dengan obat lain, hanya satu penelitian yang menyebutkan efek samping dan kegagalan terapi lebih sering didapatkan pada hidralaFin. #ila ditemukan masalah setelah persalinan dalam mengontrol hipertensi berat dan jika hidralaFin intra ,ena telah diberikan berulang kali pada awal puerperium, maka regimen obat lain dapat digunakan. "etelah pengukuran tekanan darah mendekati normal, maka pemberian hidralaFin dihentikan. -ika hipertensi kembali mun+ul pada wanita post partum, labetalol oral atau diuretik thiaFide dapat diberikan selama masih diperlukan. Pemberian +airan infus dianjurkan ringer laktat sebanyak '0$125 ml perjam ke+uali terdapat kehilangan +airan lewat muntah, diare, diaforesis, atau kehilangan darah selama persalinan. =liguri merupakan hal yang biasa terjadi pada preeklamsi dan eklamsi dikarenakan pembuluh darah maternal mengalami konstriksi %,asospasme& sehingga pemberian +airan dapat lebih banyak. Pengontrolan perlu dilakukan se+ara rasional karena pada wanita eklamsi telah ada +airan ekstraselular yang banyak yang tidak terbagi dengan benar antara +airan intra,askular dan ekstra,askular. /nfus dengan +airan yang banyak dapat menambah hebat maldistribusi +airan tersebut sehingga meninggikan risiko terjadinya edema pulmonal atau edema otak. Pada masa lalu, anestesi dengan +ara epidural dan spinal dihindarkan pada wanita dengan preeklamsi dan eklamsi. Pertimbangan utama karena adanya hipotensi yang ditimbulkan akibat blokade simpatis. (da juga pertimbangan lain yaitu pada keamanan janin karena blokade simpatis dapat menimbulkan ipotensi dan menurunkan perfusi plasenta. .etika teknik analgesi telah mengalami kemajuan beberapa dekade ini, analgesi epidural digunakan untuk memperbaiki ,asospasme dan menurunkan tekanan darah pada wanita penderita preeklamsi berat. "elain itu, klinisi yang lebih menyenangi anestesi epidural menyatakan bahwa pada anestesi umum dapat terjadi penigkatan tekanan darah tiba$tiba akibat stimulasi oleh intubasi trakea dan dapat menyebabkan edema pulmonal, edema serebral dan perdarahan intrakranial. Pada penelitian yang dilakukan oleh 9alla+e dan kawan$kawan menunjukkan bahwa penggunaan anestesi baik metode anestesi umum maupun regional dapat digunakan pada persalinan dengan +ara seksio sesarea pada wanita preeklamsi berat jika langkah$langkah dilakukan dengan pertimbangan yang

hati$hati. 9alaupun anestesi epidural dapat menurunkan tekanan darah, telah dibuktikan bahwa tidak ada keuntungan signifikan dalam men+egah hipertensi setelah persalinan. .esimpulan yang dapat ditarik adalah anestesi epidural aman digunakan selama persalinan pada wanita dengan hipertensi dalam kehamilan, tetapi bukan merupakan terapi terhadap hipertensi. /ndikasi persalinan pada preeklamsi dibagi menjadi 2, yaitu < a. /ndikasi ibu $ 0sia kehamilan ? 3D minggu $ Hitung trombosit E 100.000 sel5mm3 $ .erusakan progresif fungsi hepar $ .erusakan progresif fungsi ginjal $ "uspek solusio plasenta $ 8yeri kepala hebat persisten atau gangguan penglihatan $ 8yeri epigastrium hebat persisiten, nausea atau muntah b. /ndikasi janin $ /012 berat $ Hasil tes kesejahteraan janin yang non reassuring $ =ligohidramnion.

BAB III KESIMPULAN Haktor risiko pada preeklamsi dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu faktor risiko maternal, faktor risiko medikal maternal, dan faktor risiko plasental atau fetal. "ebab potensial yang mungkin menjadi penyebab preeklamsi adalah in,asi trofoblastik abnormal pembuluh darah uterus, intoleransi imunologis antara jaringan plasenta ibu dan janin, maladaptasi maternal pada perubahan kardio,askular atau inflamasi dari kehamilan normal, faktor nutrisi, dan pengaruh genetik. (nti hipertensi diberikan bila tekanan diastol men+apai 110 mmHg. 6ujuan utama pemberian obat anti hipertensi adalah menurunkan tekanan diastolik menjadi )0$100 mmHg.

DA#TAR PUSTAKA 1. Cunningham H, Be,eno ., #loom ", Hauth -, 1ilstrap B, 9enstrom ., Hypertensi,e 3isorders in Pregnan+y, dalam 9illiam =bstetri+s, edisi ke$22, 8ew Iork< *+1raw$ Hill, 2005 < '1$D0D 2. *ariam siti, *akalah pre$eklampsia, 14 april 2013, diakses tanggal 2 juni 20013 dari, http<55sitimaryamhsb.makalah$pre$eklamsia.html

3. 1opar adul, pdf.Preeklampsi, 12 mey 2012, diakses tanggal 2 http<55adulgopar.files.wordpress.+om5preeklampsia.pdf

juni 2013 dari,

4. Prawirohardjo ", Pre$eklampsia dan 7klampsia, dalam /lmu .ebidanan, edisi ke$3, 9iknjosastro H, "aifuddin (, 2a+himhadhi 6, penyunting, -akarta < Iayasan #ina Pustaka "arwono Prawirohardjo, 2005< 2D1$301

3iposkan oleh (sep *ukhlas di 0D.11 .irimkan /ni lewat 7mail#log6hisJ#erbagi ke 6witter#erbagi ke Ha+ebook#agikan ke Pinterest Ti'ak a'a komentar: Poskan Komentar Posting Bebih #aru Posting Bama #eranda Bangganan< Poskan .omentar %(tom&

A%o(t me

(sep *ukhlas Bihat profil lengkapku 6emplate 7thereal. 3iberdayakan oleh #logger.