Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

Bentos merupakan organisme yang mendiami dasar perairan dan tinggal di dalam atau pada sedimen dasar perairan. Payne (1986) menyatakan bahwa zoobentos adalah hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik sesil, merayap maupun menggali lubang. Hewan makrozoobentos lebih banyak ditemukan di perairan yang tergendang (letik) daripada di perairan yang mengalir (lotik). Berdasarkan cara hidupnya, bentos dibedakan atas 2 kelompok yaitu: infauna dan efipauna (Barnes & Mann, 1994). Infauna adalah kelompok makrozoobentos yang hidup terbenam di dalam lumpur (berada di dalam substrat), sedangkan efipauna adalah kelompok makrozoobentos yang hidup menempel di permukaan dasar perairan (Hutchinson, 1993). Hewan bentos dapat dikelompokan berdasarkan ukuran tubuh yang bisa melewati lubang saring yang dipakai untuk memisahkan hewan dari sedimennya. Berdasarkan kategori tersebut bentos dibagi atas tiga kelas yaitu, Makrobentos, Kelompok bentos yang berukuran lebih besar dari 1,0 mm. kelompok ini adalah hewan bentos yang terbesar. Mesobentos, Kelompok yang berukuran Antara 0,1 mm 1,0 mm. kelompok ini adalah hewan kecil yang dapat ditemukan di pasir atau lumpur. Hewan yang termasuk kelompok ini adalah Mollusca kecil, cacing kecil dan Crustacea kecil. Mikrobentos, Kelompok bentos yang berukuran lebih kecil dari 0,1 mm. kelompok ini merupakan hewan terkecil. Hewan yang termasuk ke dalamnya adalah protozoa khususnya Ciliata. Kelompok makrozoobentos yang dominan di perairan bersubstrat lumpur adalah Polychaeta, Bivalvia (kerang) dan Crustacea (Jati, 2003). Zona Subtidal adalah daerah yang terletak antara batas air surut terendah di pantai dengan ujung paparan benua. Zona ini merupakan zona fotik (masih mendapatkan cahaya) kedalaman sekitar 200 m. Terdiri dari sedimen lunak, pasir, lumpur, dan sedikit daerah dengan substrat keras. Pada umumnya dihuni oleh bermacam jenis biota laut yang melimpah dari berbagai komunitas. Zona perairan subtidal di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti Pergerakan ombak, Penetrasi, Cahaya, Suhu, Salinitas, Persediaan makanan, dan Topografi.

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1. Organisme Bentos di Zona Subtidal 2.1.1. Tumbuhan 2.1.1.1. Alga (Kebun Kelp) Merupakan alga cokelat yang sangat besar, menempel pada seubstrat tidak dengan akar, tetapi dengan struktur yang disebut holdfast. Mempunya laju pertumbuhan yang luar biasa, Jenis Nereocystis luetkeana mempunyai pertumbuhan panjang 6cm/hari, jenis Microcystis prrifera umumnya tumbuh 50 cm/hari. Tanaman raksasan ini tumbuh dari dasar dan merentangkan daunnya di permukaan air dimana mereka mendapatkan cahaya yang maksimum. Daun-daun ini membentuk tudung yang mirip dengan hutan-hutan terrestrial dan bisa menghalangi masuknya cahaya ke substrat di bawahnya. Perluasan kebun kelp di berbagai pesisir bergantung pada beberapa factor. Pertama diperlukan substrat keras untuk menempel. Kedua kelp harusmendapat cahaya dan hanya dapat hidup pada kedalaman dimana tumbuhan mudanya yang kecil mendapakan cukup cahaya untuk tumbuh. Jumlah cahaya yang diterima pada tiap kedalaman merupakan fungsi dari kecerahan air. Di tempat terdapat air jernih, kebun kelp meluas dari pantai sampai kedalaman 20-30 m. Jika perairan-dangkal luas, kebu kelp dapat meluas sampai beberapa km dari garis pantai.Pada perairan yang bergelombang dan keruh,kebun ini tidak terlalu dalam. Kebun kelp terdapat di seluruh dunia di perairan yang sejuk,tetapi tidak terdapat di daerah sedang hangat dan tropic.

2.1.1.2. Rumput-rumputan Laut

Tumbuh padat menutupi daerah yang luas di perairan paparan benua. Tumbuhan berakar yang menyerap nutrient dari sedimen atau substra. Mempunyai angka produktivitas yang sangat tinggai dan produksi total meningkat di perairan dekat pantai. Secara ekologi, kebun rumput rumputan laut mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir. Seperti sumber utama produktivitas primer di perairan-dangkal, sumber makanan penting bagi banyak organisme (dalam bentuk detritus), menstabilkan dasar dasar lunak dimana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang, Penstabilan dasar oleh akar ini sangat kuat dan mampu bertahan dalam topan badai sekalipun. Sebaliknya, sistem ini dapat melindungi banyak organisme. Jadi ada terdapat hewan yang umum dijumpai di kebun rumput laut. Pena laut, hidup pada kedalaman 10-50 m di dasar lunak. Ptilosarcus gurneyi merupakan sumber makanan terbesar bagi tujuh predator: (Hippasterias spinosa, Dermasterias imbricata, Crossaster papposus, dan Mediaster aequlis serta tiga moluska opisthobranch (Armina californica, Tritonia festiva, dan Hermissenda crassicornis). Bunga Laut, Pertama kali diteliti oleh Fager ( 1968 ) selama tahun 1957 1963. Pada waktu itu daerah ini didominasi oleh cnidaria : bunga laut Renilla korikeri & anemon Harenactis attenuata, & Zaolutus actius. Fager menemukan pola penyebaran organisme utama yang umumnya berkelompok dan populasi tetap konstan.

2.1.1.3. Mangrove Mangrove umumnya berupa hutan yang terletak di tepi pantai laut di minakat pasut. Hutan ini umumnya lebat dan berawa rawa. Mangrove merupakan komunita zona litoral yang dapat ditemukan di wilayah tropika dan subtropika. Mangrove ini terletak pada wilayah pantai dengan substratum lumpur atau pasir dari tanda pasang tertinggi sampai dengan daerah littoral. Sehingga mangrove ini dipengaruhi oleh

temperature tropika, alluvium dengan butiran halus, gelombang, pasang yang kuat, dan salinitas. Hutan mangrove sering disebut hutan bakau atau hutan payau. Dinamakan

hutan bakau oleh karena sebagian besar vegetasinya didominasi oleh jenis bakau, dan disebut hutan payau karena hutannya tumbuh di atas tanah yang selalu tergenang oleh air payau. Komunitas mengrove memperlihatkan pola zonasi pohon yang berbeda dari satu wilayah dengan wilayah lainnya. Tumbuhan mangrove tumbuh dalam zona zona tertentu sesuai dengan adaptasi tumbuhan dengan substrat dan toleransi terendam air laut. Zona subtidal merupakan zona ter bawah dari wilayah intertidal. 2.1.1.4. Lamun

2.2.2. Hewan 2.2.2.1. Polychaeta Polychaeta (berasal dari kata poly=Banyak; chaeta=rambut) merupakan cacing yang memiliki banyak rambut. Polychaeta adalah kelas cacing annelida yang umumnya hidup di air. Seluruh permukaan tubuh polychaeta mengandung rambut-rambut kaku atau setae yang dilapisi kutikula sehingga licin dan kaku, bersegmen-segmen, tetapi segmen-segmen itu tetap bergandengan dan terkoordinasi yang disebut metameri (Jassin, 1952: 65). Tubuhnya berwarna menarik, seperti ungu kemerah-merahan. Setiap segmen tubuh polychaeta dilengkapi dengan sepasang alat gerak atau alat berenang yang disebut parapodia. Alat ini pun berperan sebagai alat pernafasan. Tubuh cacing ini beruas-ruas, setiap ruas tubuh ada 2 pasang kaki, setiap kaki ada rambut. Cacing ini sering disebut poliket. Tubuh cacing ini terbagi 3, yang terdiri dari kepala, badan, dan ekor. Tubuhnya memanjang dan mempunyai segmen, setiap segmen mempunyai parapodia dan setiap parapodia memiliki setae, kecuali pada segmen terakhir. Ukurannya 2 mm sampai beberapa meter. Cacing ini berkembang biak melalui bertelur yang disimpan dalam ruas tubuh cacing jantan hingga menghasilkan larva. Di samping itu,

poliket juga dapat berkembang biak dengan cara tidak kawin membentuk tunas dan memotong tubuhnya. Cara hidup poliket merayap pada celah batu karang, membuat lubang dalam pasir atau lumpur, serta membentuk selubung. Ruas tubuh cacing jantan berwarna putih dan yang betina berwarna jingga. Polychaeta hidup dalam pasir atau menggali batu-batuan di daerah pasang Surut air laut. Polychaeta berreproduksi dengan cara seksual. Pembuahanya dilakukan di luar tubuh menjadi larva yang di sebut trakofora. Larva akan menuju ke dorsal perairan dan tumbuh menjadi cacing muda.

2.2.2.2. Echinodermata Echinodermata (dalam bahasa yunani, echino = landak, derma = kulit) adalah kelompok hewan triopoblastik selomata yang memilki ciri khas adanya rangka dalam (endoskeleton) berduri yang menembus kulit. Echinodermata merupakan invertebrata berkulit duri yang memuat bintang laut, bintang ular, bulu babi, teripang dan lilia laut. Hidupnya di dasar laut, di daerah pantai hingga laut dalam. Pergerakan umumnya lambat, kecuali pada ophioroidea. Bentuk tubuh dari hewan ini simetri bilateral pada waktu larva, dan simetri radial setelah menjadi dewasa, tubuh tergabi menjadi 5 belahan ada yang bulat, silindris atau bintang. Permukaan Echinodermata umumnya berduri, baik itu pendek tumpul atau runcing panjang. System saluran air dalam rongga tubuhnya disebut ambulakral. System pencernaan terdiri dari mulut, esophagus, lambung, usus, dan anus. System ekresi tidak ada. Pertukaran gas terjadi melalui insang kecil yang merupakan pemanjangan kulit. System sirkulasi belum berkembang baik. Echinodermata melakukan respirasi dan makan pada selom. System saraf Echinodermata terdiri dari cincin pusat saraf dan cabang saraf. Echinodermata tidak memiliki otak. Reproduksi Echinodermata ada yang bersifat hermafrodit dan dioseus. Echinodermata dibagi lima kelas yaitu, Asterioidea, Ophiuroidea, Crinoidea, Echinoidea, Holothuroidea. Asteroidea berbentuk seperti bintang jadi sering disebut bintang laut. Contohnya Achantaster sp., Linkia sp. Memiliki duri dan termodifikasi menjadi bentuk catut (Pedidelaria) berfungsi untuk

menangkap makanan serta melindungi permukaan tubuh dari kotoran. Ophiuroidea, bergerak seperti ular. Bentuknya seperti asteroidean namun lengannya lebih langsing. Crinoidea, berbentuk seperti tumbuhan bertangkai dikenal sebagai lili laut contohnya Metacrinus rotundus dan tidak bertangkai dikenal sebagai bintang laut berbulu Oxycomanthus benefit. Echinoidea, berbentuk bola atau pipih, tanpa lengan. Contohnya bulu babi (Diadema saxatile), landak laut (Arabica punctulata), dolar pasir (Echinarachnius prama). Permukaan tubuh berduri panjang. Memiliki alat pencernaan khas tembolok kompleks yang disebut lentera aristoteles. Holothuroidea, dikenal dengan nama timun laut atau teripang. Contohnya Cucumaria sp., Holothuria sp..

2.2.2.3. Mollusca Filum Mollusca adalah kelompok hewan invretebrata yang memiliki tubuh lunak. Tubuh lunaknya itu dilindungi oleh cangkang, dan tidak bercangkang. Mollusca memiliki 3 bagian utama yaitu kaki yang sebagian mollusca kaki telah termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Massa visceral yang di dalamnya terdapat organ-organ seperti organ pencernaan, ekskresi, dan reproduksi yang dilindungi oleh mantel. Mantel adalah jaringan tebal yang melindungi massa viseral. Mollusca hidup secara heterotrof dengan memakan organisme lain. Mollusca yang hidup di air contohnya sotong dan gurita. Mollusca bereproduksi secara seksual. Namun, jenis siput tertentu ada yang bersifat Hermafrodit. Fertilisasi dilakukan secara internal ataupun eksternal sehingga menghasilkan telur. Berdasarkan bentuk, kedudukan kaki, cangkang, mantel, dan sistem syarafnya mollusca dibagi menjadi beberapa kelas. Polyplacophora, memiliki bentuk bulat telur, pipih, dan simetri bilateral. Mulut terletak di bagian anterior tetapi tidak berkembang dengan baik. Sedangkan anusnya berada di bagian posterior. Polyplacophora tidak memiliki tentakel dan mata. Contoh Chiton sp.. Palecypoda, merupakan kelompok kedua terbesar dari filum tersebut. Palecyopoda dapat disebut juga sebagai kerang. Gastropoda, Siput atau keong adalah nama umum yang diberikan untuk anggota kelas moluska Gastropoda. Gastropoda adalah hewan hemafrodit, tetapi tidak mampu melakukan autofertilisasi. Scaphopoda, Hewan jenis ini pada umumnya bercangkang seperti kerucut atau tanduk. Di kedua ujung cangkang berlubang. Scapopoda biasa hidup di air. contoh: Dentalium vulgare. Cephalopoda, mollusca berkaki di kepala atau

kepalanya dilingkari oleh kaki yang termodifikasi menjadi tentakel. Di dalamnya mencakup semua gurita, cumi-cumi, dan sotong. Contoh hewan kelas ini, antara lain yaitu loligo sp, Sepia sp, Nautilus sp, octopus sp.

Polyplacophora

Palecypoda

Palecypoda

Scaphopoda

Cephalopoda

2.2.2.4. Crustacea Crustacea adalah suatu kelompok besar dari arthropoda. Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen). Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah. Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya. Sisa metabolisme akan diekskresikan melalui sel api. Sistem saraf Crustacea disebut sebagai sistem saraf tangga tali, dimana ganglion kepala (otak) terhubung dengan antena (indra peraba), mata (indra penglihatan), dan statosista (indra keseimbangan). Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang melekat pada anggota tubuhnya dan sistem peredaran darahnya sistem peredaran darah terbuka. Crustacea bersifat diesis (ada jantan dan betina) dan pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina (fertilisasi internal). Untuk dapat menjadi dewasa, larva hewan akan mengalami pergantian kulit (ekdisis) berkali-kali. Crustacea dibagi menjadi 2 sub-kelas, yaitu Entomostraca (udang-udangan rendah) dan Malacostrata (udang-udangan besar). Entomostraca umumnya berukuran kecil dan merupakan zooplankton yang banyak ditemukan di perairan laut atau air tawar. Golongan hewan ini biasanya digunakan sebagai makanan ikan, contohnya adalah ordo Copepoda, Cladocera,

Ostracoda, dan Amphipoda. Sedangkan, Malacostrata umumnya hidup di laut dan pantai. Yang termasuk ke dalam Malacostrata adalah ordo Decapoda dan Isopoda. Contoh dari spesiesnya adalah udang windu (Panaeus), udang galah (Macrobanchium rosenbergi), rajungan (Neptunus pelagicus), dan kepiting (Portunus sexdentalus).

2.3. Metode Penelitian Bentos 2.3.1. Alga Bentik a. Pengumpulan dan Pengawetan Sampel Yang perlu dicatat dalam pengambilan sampel alga bentik adalah tanggal pelaksanaan, lokasi penelitian dan jenis habitat, seperti rataan terumbu karang, pinggiran goba, daerah tubir dan sebagainya. Disamping pengambilan sampel alga, perlu dicatat juga kondisi lingkungan pada saat itu. Untuk mengetahui sebaran, dominasi dan kepadatan alga bentik, digunakan metode transek kuadrat berukuran 1 m2 dan diletakan pada jarak 10 m dari suatu kuadrat ke kuadrat berikutnya dengan arah tegak lurus garis pantai sampai ke tubir. Untuk melengkapi informasi yang terkait dengan penelitian ini, dapat dilakukan wawancara degan penduduk setempat.

b. Analisis Data Data yang diperoleh dari pengumpulan sampel dapat diolah lebih lanjut, misalnya untuk menentukan nilai dominan dan kepadatan dengan menggunakan rumus dibawah ini : D = nilai dominasi C = nilai kepadatan total (%) F = nilai frekuensi krhadiran relative (%)

2.3.2. Lamun Pada penelitian lamun, disamping struktur komunitas yang dikaji, juga akan disebutkan metode-metode penelitian yang berkaitan dengan pertumbuhan dan produksi serta manfaat lamun. Dibawah ini metode penelitian yang sering digunakan : a. Metode Pemetaan Sebaran Lamun b. Pengamatan Struktur Komunitas Padang Lamun c. Pengamatan Pertumbuhan dan Produksi Lamun

d. Pengamatan Aktivitas Merumput (grazing) Bulu Babi pada Padang Lamun 2.3.3. Mangrove a. Pengumpulan dan Pengawetan Sampel Hal pertama yang harus dilakukan sebelum pengamatan sampel adalah dengan pengamatan lapangan yang meliputi keseluruhan kawasan hutan dengan tujuan untuk melihat secara umum keadaan fisiognomi dan komposisi tegakan hutan serta keadaan pasut daerah setempat. Berdasarkan pengamatan tersebut, dipilih beberapa lokasi penelitian yang berbeda. Di setiap lokasi dibuat transek yang memanjang dari tepi laut atau sungai kea rah darat. Pengambilan sampel dilakukan pada jarak antara 0 10 meter, 20 30 meter, dan 40 50 meter dari garis pantai dan seterusnya. Dari setiap transek, data vegetasi diambil dengan menggunakan metode kuadrat berukuran ( 10 x 10 ) m2 untuk pohon berdiameter > 10 cm yang terletak di sebelah kiri atau kanan transek. Pada setiap petak tersebut, dibuat petak yang lebih kecil dengan ukuran ( 5 x 5 ) m2. Di dalam petak ini dikumpulkan data tentang anak pohon berdiameter 2 10 cm. sedangkan untuk tingkat semai, data dikumpulkan dari setiap petak yang berukuran ( 1 x 1 ) m2 yang ditempatkan dalam petak ukuran ( 5 x 5 ) m2. Pada setiap kuadrat tersebut, semua tegakan diidentifikasi jenisnya, diukur diameter dan tingginya serta dihitung jumlah masing masing jenis. Tinggi pohon diukur dengan alat haga altimeter . Derajat keasaman tanah diukur dengan menggunakan pH meter. Sampel tanah juga diambil untuk mengetahui sifat sifat tanah. Koleksi bebas juga dilakukan untuk melengkapi jenis jenis yang tidak termasuk dalam transek kuadrat. Sampel bagian bagian mangrove yang penting untuk identifikasi pada umumnya dijadikan hebarium kering.

b. Analisis Data Data yang diperoleh, dianalisis menggunakan cara COX, yaitu dengan

menghitung nilai kerapatan relatif, dominansi relative, frekuensi relative dan kemudian nilai pentingnya. Untuk mengetahui potensi hutan dilakukan dengan cara kuantitatif maupun kualitatif. Cara kualitatif dilakukan dengan melihat besar kecilnya indeks nilai penting, sedangkan cara kuantitatif dapat dietahui dengan mencari volume pohon berdasarkan rumus : V = Ba . t . 0,75 Dengan,

V t Ba 0,75

= Volume ( m2/ha ) = Tinggi Pohon ( m ) = Luas bidang datar ( m2/ha ) = Konstanta

2.3.4. Fauna Benstik a. Pengumpulan Sample Alat yang digunakan untuk pengambilan sampel in-fauna dapat beru[a corer yang umumnya digunakan pada perairan dangkal. Sedangkan untuk perairan jeluk digunakan grab. Sedangkan untuk epi-fauna digunakan seser yang bertangkai panjang dengan lebar bukaan mulut 0,5 m yang mempunyai kantong jarring berbentuk kerucut dengan mata jarring 1 mm. di ujung kerucut terdapat tabung penampung.untuk jenis fauna bentik dewasa yang berukuran besar yang dapat diambil dengan menggunakan tangan, pengmabilan sampel menggunakan metode transek kuadrat.

b. Pengawetan Sampel Banyak sample yang diambil dituang dalam kantong plastic, diberi label di dalam dengan kertas tahan air, kemudian diberi zat pengawet berupa larutan formalin 10% yang telah dibubuhi zat warna Rose Bengal. Di Labolatorium, satu persatu isi kantong plastic diayak dalam saringan. Kemudian dicuci dengan air tawar berlimpah sehingga diperoleh fauna bentik yang bersih dan kemudian diawetkan dengan alcohol 70% dalam botol-botol kecil yang diberi berlabel. Selanjutnya dilakukan pekerjaan mikroskopis, yaitu identifikasi, perhitungan jumlah jenis per sample dan tubulasi data.

c. Pencacahan Dengan menggunakan mikroskop binokuler, meiofauna dikelompokkan berdasarkan takson terbesarnya atau bahkan sampai ketingkat suku atau jenis, kemudian dihitung jumlahnya dan ditabulasi.