Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Ortodonsia (Orthodontia, Bld., Orthodontic, Ingg.) berasal dari bahasa Yunani (Greek) yaitu orthos dan dons yang berarti orthos (baik, betul) dan dons (gigi). Jadi ortodonsia dapat diterjemahkan sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan memperbaiki atau membetulkan letak gigi yang tidak teratur atau tidak rata. Keadaan gigi yang tidak teratur disebabkan oleh malposisi gigi, yaitu kesalahan posisi gigi pada masing-masing rahang. Malposisi gigi akan menyebabkan malrelasi, yaitu kesalahan hubungan antara gigi-gigi pada rahang yang berbeda. Lebih lanjut lagi, keadaan demikian menimbulkan maloklusi, yaitu penyimpangan terhadap oklusi normal. Maloklusi dapat terjadi karena adanya kelainan gigi (dental), tulang rahang (skeletal), kombinasi gigi dan rahang (dentoskeletal) maupun karena kelainan otot-otot pengunyahan (muskuler). I.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana Cara Diagnosis Ortodonsia sesuai Kartu Status ? 2. Apa saja Etiologi Maloklusi ? 3. Bagaimana Rencana Perawatan Ortodonsia sesuai Kartu Status ? I.3 Tujuan Masalah 1. Mampu Menjelaskan Cara Diagnosis Ortodonsia sesuai Kartu Status. 2. Mampu Menjelaskan Etiologi Maloklusi. 3. Mampu Menjelaskan Rencana Perawatan Ortodonsia sesuai Kartu Status.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Diagnosis berasal dari bahasa Yunani, yaitu Dia berarti melalui dan Gnosis yang berarti Ilmu pengetahuan. Jadi diagnosis berarti penetapan suatu keadaan yang menyimpang dari keadaan normal melalui dasar pemikiran dan pertimbangan ilmu pengetahuan. Setiap penyimpangan dari keadaan normal ini dikatakan sebagai suatu keadaan abnormal atau anomali atau kelainan.

Diagnosis ortodonsi yaitu diagnosis yang menetapkan suatu kelainan atau anomali oklusi gigi - geligi (bukan penyakit) yang membutuhkan tindakan rehabilitasi. Menurut Salzmann diagnosis ortodonsi ada tiga macam, yang pertama adalah Diagnosis Biogenetik (Biogenetic diagnosis), yaitu diagnosis terhadap kelainan oklusi gigi - geligi (maloklusi) berdasarkan atas faktor-faktor genetik atau sifat-sifat yang diturunkan (herediter) dari orang tua terhadap anak-anaknya. Kemudian ada Diagnosis Sefalometrik (Cephalometric diagnosis), yaitu diagnosis mengenai oklusi gigi-geligi yang ditetapkan berdasarkan atas data-data pemeriksaan dan pengukuran pada sefalogram (Rontgen kepala). Dan yang terakhir Diagnosis Gigi geligi (Dental diagnosis ), yaitu diagnosis yang ditetapkan berdasarkan atas hubungan gigi-geligi hasil pemeriksaan secara klinis atau intra oral atau pemeriksaan pada model studi. Maloklusi didefinisikan sebagai ketidakteraturan gigi-gigi di luar ambang normal. Maloklusi dapat meliputi ketidakteraturan lokal dari gigi-gigi atau malrelasi rahang pada tiap ketiga bidang ruang sagital, vertikal, atau transversal (Huoston, 1989). Faktor penyebab maloklusi adalah karena faktor lokal dan faktor umum. Faktor-faktor penyebab tersebut seringkali secara klinis ditemukan merupakan penyebab-penyebab yang saling berkaitan. Diagnosis maloklusi sangat dibutuhkan untuk menentukan rencana perawatan ortodontia.

Hasil pencegahan dan perawatan ortodonsi sangat tergantung pada bagaimana etiologi maloklusi dapat dikurangi atau dihilangkan. Maloklusi gigi adalah morfologis, tetapi seringkali fisiologis yaitu penyimpangan tanda-tanda dentofasial yang dapat diterima oleh manusia. Rencana perawatan yang baik dan tepat sangat dibutuhkan untuk memperbaiki maloklusi yang ada. Perawatan ortodonsi mencakup memperbaiki anomali dari oklusi dan posisi gigi gigi sejauh dibutuhkan dan sebisa mungkin. Sampai saat ini rencana perawatan yang cermat berperan penting seperti halnya perawatan itu sendiri, karena bila tidak dilakukan perencanaan dengan akurat, perawatan tidak akan berhasil.

BAB III PEMBAHASAN

III.1 Cara Diagnosis Ortodonsia sesuai Kartu Status Prosedur diagnosis ortodonsia diperlukan untuk mendapatkan/

memperoleh diagnosis yang tepat dari suatu maloklusi gigi serta menentukan rencana perawatan. Beberapa analisa yang diperlukan meliputi analisa umum, analisa lokal, analisa fungsional, dan analisa model. A. Analisis umum Biasanya pada bagian status awal suatu pasien tercantum nama, jenis kelamin, umur, dan alamat pasien. Jenis kelamin dan umur pasien selain sebagai identitas pasien juga sebagai data yang berkaitan dengan pertumbuhkembangan dentomaksilofasial pasien, misalnya perubahan fase geligi dari fase geligi sulung ke geligi pergantian akhirnya ke fase geligi permanen. Juga adanya perbedaan pertumbuhkembangan muka pria dan wanita, demikian juga adanya perbedaan pertumbuhkembangan pada umur tertentu pada jenis kelamin yang sama. Keluhan utama pasien biasanya tentang keadaan susunan giginya, yang dirasakan kurang baik sehingga mengganggu estetik dentofasial dan

mempengaruhi status sosial serta fungsi pengunyahannya. Pada tahap ini sebaiknya dokter gigi mendengarkan apa yang menjadi keluhan seorang pasien dan tidak mengambil kesimpulan secara sepihak tentang apa yang menjadi keluhan pasien. 1. Keadaan Sosial Keadaan ini kadang-kadang sukar diperoleh disebabkan orang tua pasien kadang-kadang enggan menjawab kondisi emosional anaknya sehingga bisa diganti dengan menanyakan prestasi anak di sekolah. 2. Riwayat kesehatan pasien dan keluarga

Perlu diketahui riwayat kesehatan pasien sejak lahir sampai pasien datang untuk perawatan. Hal-hal yang perlu ditanyakan pada orang tua pasien / pasien misalnya apakah pasien dilahirkan secara normal atau tidak. Beberapa tindakan persalinan dapat mengakibatkan trauma pada kondili mandibula sehingga menyebabkan maloklusi dikemudian hari. 3. Berat dan tinggi pasien Dengan menimbang berat dan mengukur tinggi pasien diharapkan dapat diketahui apakah pertumbuhkembangan pasien normal sesuai dengan umur dan jenis kelaminnya. 4. Ras Pengertian ras dalam lingkup ini adalah ras dalam pengertian fisik, bukan dalam pengertian budaya. Penetapan ras pasien dimaksudkan untuk mengetahui ciri fisik pasien karena setiap ras mempunyai ciri fisik tertentu. 5. Bentuk skelet Sheldon (1940), seorang antropologis, menggolongkan bentuk skelet berdasar jaringan yang dominan yang mempengaruhi bentuk skelet. Seseorang yang langsing dengan sedikit jaringan otot atau lemak digolongkan sebagai ektomorfik. Pada individu seperti ini yang dominan adalah kulit dan saraf yang berasal dari ektoderm. Seseorang yang berotot digolongkan sebagai mesomorfik dan orang yang pendek dengan otot yang kurang berkembang akan tetapi mempunyai lapisan lemak yang tebal disebut endomorfik. Bentuk skelet ini mempunyai hubungan dengan pertumbuhkembangan. Anak dengan bentuk skelet ektomorfik mencapai kematangan lebih lambat daripada anank dengan tipe endomorfik maupun mesomorfik.

Keterangan : bentuk skelet A. endomorfik, B. mesomorfik, C. ektomorfik 6. Ciri keluarga Ciri keluarga adalah adanya pola-pola tertentu yang selalu ada pada keluarga tersebut. Contoh klasik dibidang ortodontik adalah adanya kelainan skelet yang berupa prognati mandibula pada dinasti Habsburg di Eropa. 7. Penyakit anak Meskipun biasanya anak dapat pernah menderita berbagai penyakit akan tetapi dalam hal ini yang perlu diketahui adalah penyakit anak yang dapat mengganggu pertumbuhkembangan normal seorang anak. Menurut Moyers (1988), penyakit dengan panas badan yang tinggi dapat menyebabkan gangguan jadwal waktu pertumbuhkembangan gigi pada masa bayi dan anak-anak. Penyakit sistemik lebih berpengaruh pada kualitas gigi daripada kuantitas pertumbuhkembangan gigi. Suatu maloklusi merupakan akibat sekunder kelainan otot dan beberapa kelainan neuropati atau merupakan sekuel dari perawatan skoliosis yang berlangsung lama untuk imobilisasi tulang belakang. 8. Alergi Alergi terhadap bahan perlu diketahui oleh operator dengan menanyakan pada pasien atau orang tua pasien. Pada pemeriksaan pasien perlu ditanyakan apakah ada alergi terhadap obat-obatan, produk kesehatan, atau lingkungan. 9. Kelainan endokrin Kelainan endokrin yang terjadi pralahir dapat mewujud pada hipoplasia gigi. Kelainan endokrin pascalahir dapat menyebabkan percepatan atau hambatan pertumbuhan muka, mempengaruhi derajat pematangan tulang, penutupan sutura, resorpsi akar sulung dan erupsi gigi permanen.

10. Tonsil Bila tonsil dalam keadaan radang, dorsum lidah dapat menekan tonsil tersebut. Untuk menghindari keadaan ini mandibula secara reflex diturunkan, gigi tidak kontak sehingga terdapat ruangan yang lebih luas untuk lidah dan biasanya terjadi perdorongan lidah ke depan saat menelan. Tonsil yang besar apalagi bengkak dapat mempengaruhi posisi lidah. Kadang-kadang lidah terletak ke anterior sehingga mengganggu fungsi menelan. 11. Kebiasaan bernafas Seseorang disebut sebagai penapas mulut apabila dalam keadaan istirahat maupun pada saat melakukan kegiatan selalu bernafas melalui mulut. Seorang penapas hidung kadang-kadang bernafas lewat mulut juga pada keadaan tertentu misalnya pada keadaan saluran pernafasan terganggu oleh karena pilek. Pasien yang biasa bernafas melalui mulut akan mengalami kesukaran pada saat dilakukan pencetakan untuk membuat model studi maupun model kerja. B. Analisis local 1. Pemeriksaan ekstraoral a.a Bentuk kepala Bentuk kepala perlu dipelajari karena bentuk kepala ada hubungannya dengan bentuk muka, palatum, maupun bentuk lengkung gigi. Bentuk kepala ada 3, yaitu : a. Dolikosefalik (panjang dan sempit) Bentuk kepala ini akan membentuk muka yang sempit, panjang, dan protrusive. Muka seperti ini disebut leptoprosop / sempit. Fossa krania anterior yang panjang dan sempit akan menghasilkan lengkung maksila dan palatum yang sempit, panjang dan dalam. b. Mesosefalik (bentuk rata-rata) c. Brakisefalik (lebar dan pendek)

Bentuk kepala ini akan membentuk muka yang lebih besar, kurang protrusive dan disebut euriprosop / lebar. Fossa krania anterior yang lebar dan pendek akan menghasilkan lengkung maksila dan palatum yang lebar, pendek, dan lebih dangkal. Untuk mengandalkan menentukan pengamatan tipe tetapi kepala sebaiknya tidak hanya untuk

melakukan

pengukuran

menetapkan indeks sefalik, yang bisa dihitung dengan rumus : Indeks sefalik : Lebar kepala x 100 Panjang kepala Indeks untuk Dolikosefalik adalah < 0,75, sedangkan Brakisefalik > 0,80, dan Mesosefalik antara 0,76 0,79.

Kepala yang brakisefalik

Kepala yang dolikosefalik

a.b Tipe profil Tipe profil dibagi dalam 3 bentuk, yaitu : cekung, lurus, dan cembung. Profil yang cembung mengarah ke maloklusi kelas II yang dapat disebabkan rahang atas yang lebih anterior atau mandibula yang lebih posterior. Muka yang cekung mengarah ke maloklusi kelas III yang dapat disebabkan rahang atas lebih posterior atau rahang bawah lebih anterior.

Tipe profil A. cekung, B. lurus, C. cembung

Tujuan utama dari pemeriksaan profil muka secara seksama, adalah : Menentukan posisi rahang dalam jurusan sagital Evaluasi bibir dan letak insisiv Evaluasi proporsi wajah dalam arah vertical dan sudut mandibula 2. Pemeriksaan intraoral Pemeriksaan intraoral terdiri dari jaringan mukosa mulut, lidah, palatum, kebersihan rongga mulut, frekuensi karies, dan fase geligi. a. Pemeriksaan Lidah Berlebihnya ukuran lidah diindikasikan karena adanya gigi pada margin lateral. Memberikan gambaran scallop pada lidah. b. Pemeriksaan Palatum Palatum harus diperiksaan untuk menemukan hal-hal berikut :

Variasi kedalaman paltum terjadi pada hubungan dengan variasi bentuk facial. Kebanyakan pasien dolicofacial memiliki palatum yang dalam.

Adanya swelling ( lekukan ) pada palatum dapat mengindikasi suatu keadaan gigi impaksi, adanya kista atau patologis tulang lainnya.

Ulcerasi mukosa dan indentation adalah suatu gambaran dari deep bite traumatic.

Adanya celah palatum diasosiasikan dengan diskontinuitas palatum. The third rugae biasanya pada garis dengan caninus. Hal ini berguna dalam perkiraan proklinasi anterior maksilla.

c. Pemeriksaan Gingiva Gingival diperiksa untuk inflamasi, resesi dan lesi mucogingival lainnya.Biasanya temuan gingivitis marginal pada region anterior

disebabkan oleh postur open lip. Adanya oklusi traumatic diindikasikan dengan resesi gingival terlokalisir. d. Pemeriksaan Perlekatan Frenulum Perlekatan frenulum abnormal didiagnosis dengan suatu tes pemutihan dimana bibir atas upward dan outward beberapa lama.Adanya pemutihan pada region papilla unter-dental mendiagnosis suatu frenulum abnormal. e. Taksiran Pertumbuhan Gigi Hal-hal yang perlu dicatat: Gigi geligi yang terdapat / yang ada di dalam rongga mulut. Gigi-gigi yang belum erupsi. Gigi-gigi hilang. Status gigi ( gigi yang erupsi dan tidak erupsi).

10

Adanya karies, restorasi, malformasi, hipoplasia, atrisi dan diskolorasi.

Menentukan relasi molar Overjet dan overbite, variasi seperti peningkatan overjet, deep bite, open bite dan cross bite

Malrelasi transfersal seperti crossbite dan pergeseran pada midline atas dan bawah.

Ketidakteraturan gigi individual seperti rotasi, displacement, intruksi dan ekstruksi

Lengkung atas dan bawah harus diperiksa secara individual untuk mempelajari bentuk lengkungnya dan kesemetrisannya. Bentuk lengkung bisa normal, sempit ( V shaped ) atau square.

C.

Analisis fungsional 1. Path of closure Adalah arah gerakan mandibula dari posisi istirahat ke oklusi sentrik. Idealnya path of closure dari posisi istirahat ke posisi oklusi maksimum berupa gerakan engsel sederhana melewati freeway space yang besarnya 2-3 mm, arahnya ke atas dan ke depan. Ada 2 macam perkecualian path of closure yang bisa dilihat adalah deviasi mandibula dan displacement mandibula, yaitu: Path of closure yang berawal dari posisi kebiasaan mandibula akan tetapi gigi mencapai oklusi maksimum mandibula dalam posisi relasi sentrik. Ini disebut deviasi mandibula. Path of closure yang berawal dari posisi istirahat, akan tetapi oleh karena adanya halangan oklusal maka didapatkan displacement mandibula. 2. Freeway space (interocclusal clearance) Adalah jarak antara oklusal pada saat mandibula dalam posisi istirahat. Nilai normal freeway space menurut Houston (1989) adalah 2-3 mm. 3. Temporo mandibular (TMJ)

11

Adalah gerakan mandibula saat membuka dan menutup mulut. Lebar pembukaan maksimal pada keadaan normal dari TMJ antara 35-40 mm, 7 mm gerakan ke lateral, dan 6 mm ke depan. Tanda-tanda adanya masalah pada TMJ adalah adanya rasa sakit pada sendi, suara, dan keterbatasan pembukaan. 4. Pola Atrisi Pola atrisi dikatakan tidak normal apabila terjadi pengikisan dataran oklusal gigi permanen pada usia fase geligi pergantian.

D. Analisis model 1. Jumlah lebar 4 insisiv rahang atas Cara pengukurannya adalah diukur masing-masing lebar mesiodistal pada lengkung terbesar dari ke- 4 insisiv rahang atas kemudian dijumlahkan. Apabila jumlahnya: 28-36 mm, berarti normal, kurang dari 28 mm disebut mikrodonti dan bila lebih dari 36 mm disebut makrodonti. 2. Diskrepansi model Adalah selisih antara tempat yang tersedia dengan tempat yang dibutuhkan. Tujuan pengukuran ini adalah untuk menentukan adanya kekurangan atau kelebihan tempat dari gigi geligi berdasarkan model studi yang akhirnya untuk menentukan macam perawatan yang dilakukan pada maloklusi yang ada. 3. Kurve of spee Adalah kurva dengan pusat pada titik di tulang lakrimal dengan radius pada orang dewasa 65-70 mm. kurva ini berkontak di 4 lokasi, yaitu permukaan anterior kondili, daerah kontak distoklusal molar ketiga, daerah kontak mesioklusal molar pertama, dan tepi insisal. Lengkung yang menghubungkan insisal insisiv dengan bidang oklusal molar terakhir pada rahang bawah. Pada keadaan normal kedalamannya tidak melebihi 1,5 mm. Pada kurve spee yang positif (bentuk kurvanya jelas dan dalam) biasanya didapatkan gigi insisiv yang supra posisi atau gigi posterior yang infra posisi atau mungkin gabungan kedua keadaan tadi.

12

Kurva Spee 4. Diastema Ruang antara dua gigi yang berdekatan, gingiva diantara gigi-gigi kelihatan. Adanya diastema pada fase geligi pergantian masih merupakan keadaan normal, tetapi adanya diastema pada fase geligi permanen perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui apakah keaadaan tersebut suatu keadaan yang tidak normal.

Diastema Multiple

5. Pergeseran gigi-gigi Cara pemeriksaanya adalah dengan menggunakan simetroskop yang diletakkan ditengah garis median gigi pada model studi, kemudian dibandingkan antara gigi senama kiri dan kanan. 6. Gigi-gigi yang terletak salah

13

Menurut Angle (1907) dengan diketahuinya kelainan letak gigi secara individu dapat direncanakan perawatan untuk meletakkan gigi-gigi tersebut pada letaknya yang benar. Penyebutan letak gigi yang digunakan diantaranya adalah sbb : a. Versi : mahkota gigi miring ke arah tertentu tetapi akar gigi tidak (misalnya mesioversi, distoversi, labioversi, linguoversi). b. Infra oklusi : gigi yang tidak mencapai garis oklusal dibandingkan dengan gigi lain dalam lengkung geligi. c. Supra oklusi : gigi yang melebihi garis oklusal dibandingkan dengan gigi lain dalam lengkung geligi. d. Rotasi : gigi berputar pada sumbu panjang gigi, bias sentries atau eksentris. e. Transposisi : dua gigi yang bertukar tempat, misalnya kaninus menempati tempat insisiv lateral dan insisiv lateral menempati tempat kaninus. f. Eksostema : gigi yang terletak di luar lengkung geligi (misalnya kaninus atas).

Cara penyebutan lain seperti yang dianjurkan Lischer untuk gigi secara individual adalah sbb : a. Mesioversi : mesial terhadap posisi normal gigi. b. Distoversi : distal terhadap posisi normal gigi. c. Linguoversi : lingual terhadap posisi normal gigi. d. Labioversi : labial terhadap posisi normal gigi. e. Infraversi : inferior terhadap garis oklusi. f. Supraversi : superior terhadap garis oklusi. g. Aksiversi : inklinasi aksial yang salah (tipped). h. Torsiversi : berputar menurut sumbu panjang gigi. i. Transversi : perubahan urutan posisi gigi.

14

Kelainan letak gigi dapat juga merupakan kelainan sekelompok gigi : a. Protrusi : kelainan kelompok gigi anterior atas yang sudut inklinasinya terhadap garis maksila > 110 untuk rahang bawah sudutnya > 90 terhadap garis mandibula. b. Retrusi : kelainan kelompok gigi anterior atas yang sudut inklinasinya terhadap garis maksila < 110 untuk rahang bawah sudutnya < 90 terhadap garis mandibula. c. Berdesakan : gigi yang tumpang tindih. d. Diastema : terdapat ruangan diantara dua gigi yang berdekatan.

A. gigi berdesakan, B. protrusi, C. retrusi

7. Pergeseran garis median Pada palatum terdapat beberapa struktur anatomi yang penting untuk menentukan garis median di palatum. Di anterior terdapat papilla insisiva, di posterior terdapat rugae yang jumlahnya 3 pasang tiap sisi dan rafe palatine di tengah palatum dalam arah anteroposterior. Titik pertemuan rugae palatina kiri dan kanan dianggap paling stabil untuk dipakai acuan din anterior sedangkan posterior yang dipakai adalah titik pada rafe palatine. Bila dua titik ini dihubungkan didapat garis median rahang atas. Pada keadaan normal garis ini melewati titik kontak insisivi sentral atas. Penentuan garis median rahang bawah lebih sukar. Cara menentukan adalah

15

dengan membuat titik pada perlekatan frenulum labial dan lingual. Titik ini biasanya melewati titik kontak insisivi sentral bawah. Pada keadaan normal garis median muka / rahang dan garis median lengkung geligi terletak pada satu garis (berimpit). Pada keadaan tidak normal karena sesuatu sebab maka garis median muka dipakai sebagai acuan. Untuk menilai apakah terdapat pergeseran garis median lengkung geligi terhadap median muka dilihat letak insisivi sentral kiri dan kanan. Bila titik kontak insisivi sentral terletak di sebelah kiri garis median muka maka keadaan ini disebut terjadi pergeseran ke kiri, demikian pula sebaliknya. Cara melihat pergeseran garis median adalah dengan melihat apakah garis median muka melewati titik kontak insisivi sentral masingmasing rahang. Bila titik kontak terletak pada garis median berarti tidak terdapat pergeseran akan tetapi bila titik kontak terletak di sebelah kiri atau kanan garis median muka maka terdapat pergeseran ke kiri atau ke kanan.

Pergeseran garis median rahang bawah ke kiri 8. Relasi gigi posterior Relasi gigi adalah hubungan gigi atas dan bawah dalam keadaan oklusi. Gigi yang diperiksa adalah molar pertama permanen, dan kaninus

16

pertama permanen. Pemeriksaan dalam jurusan sagital, transversal, dan vertical. a. Relasi jurusan sagital Kemungkinan relasi molar yang dapat terjadi adalah : Neutroklusi : tonjol mesiobukal molar pertama permanen atas terletak pada lekukan bukal molar pertama permanen bawah. Distoklusi : tonjol distobukal molar pertama permanen atas terletak pada lekukan bukal molar pertama permanen bawah. Mesioklusi : tonjol mesiobukal molar pertama permanen atas terletak pada tonjol distal molar pertama permanen bawah. Gigitan tonjol : tonjol mesiobukal molar pertama permanen atas beroklusi dengan tonjol mesiobukal molar pertama permanen bawah. Tidak ada relasi : bila salah satu molar pertama permanen tidak ada misalnya oleh karena telah dicabut, atau bila kaninus permanen belum erupsi.

Relasi molar pertama permanen jurusan sagital, A. neutroklusi, B. distoklusi, C. mesioklusi, D. gigitan tonjol

17

Relasi molar pertama permanen A. neutroklusi, B. distoklusi, C. mesioklusi, D. gigitan tonjol, E. tidak ada relasi, karena molar bawah fraktur

b. Relasi jurusan transversal Pada keadaan normal relasi transversal gigi posterior adalah gigitan fisura luar rahang atas, oleh karena rahang atas lebih lebar daripada rahang bawah. Apabila rahang atas terlalu sempit atau terlalu lebar dapat menyebabkan terjadinya perubahan relasi gigi posterior dalam jurusan transversal. Perubahan yang dapat terjadi adalah : gigitan tonjol, gigitan fisura dalam atas, dan gigitan fisura luar atas.

A. gigitan fisura luar rahang atas, B. gigitan silang total luar rahang atas, C. gigitan fisura dalam rahang atas, D. gigitan silang total dalam rahang atas

c. Relasi dalam jurusan vertical

18

Kelainan dalan jurusan vertical dapat berupa gigitan terbuka yang berarti tidak ada kontak antara gigi atas dan bawah pada saat oklusi. d. Relasi gigi anterior rahang atas dan rahang bawah Relasi gigi anterior diperiksa dalam jurusan sagital dan vertical. Relasi yang normal dalam jurusan sagital adalah adanya jarak jarak gigit / overjet. Pada keadaan normal gigi insisivi akan berkontak, insisivi atas di depan insisivi bawah dengan jarak selebar ketebalan tepi insisal insisivi atas, kurang lebih 2-3 mm dianggap normal. Bila insisivi bawah lebih anterior daripada atas disebut jarak gigit terbalik atau gigitan silang anterior atau gigitan terbalik.

Jarak gigit dan tumpang gigit normal

Untuk mendapatkan pengukuran yang sama maka di klinik digunakan pengertian jarak gigit adalah jarak horizontal antara insisal atas dengan bidang labial insisivi bawah. Jarak gigit pada gigitan silang anterior diberi tanda negative, misalnya -3 mm. Pada relasi gigitan edge to edge jarak gigitnya 0 mm.

A. Gigitan terbalik B. Edge to edge

19

Pada jurusan vertical dikenal adanya tumpang gigit / over bite yang merupakan vertical overlap of the incisors. Di klinik tumpang gigit diukur dari jarak vertical insisal insisivi atas dengan insisal insisivi bawah, yang normal ukurannya 2 mm. Tumpang gigit yang bertambah menunjukkan adanya gigitan dalam. Pada gigitan terbuka tidak ada overlap dalam jurusan vertical, tumpang gigit ditulis dengan tanda negative, misalnya -5 mm. Pada relasi edge to edge tumpang gigitnya 0 mm.

A. Gigitan dalam B. Edge to edge C. Gigitan terbuka

e. Klasifikasi maloklusi Klasifikasi Angle: 1. Kelas I : terdapat relasi lengkung anteroposterior yang normal dilihat dari relasi molar pertama permanen (neutroklusi). Kelainan yang menyertai dapat berupa, misalnya, gigi berdesakan, gigitan terbuka, protrusi, dll. 2. Kelas II : lengkung rahang bawah paling tidak setengah tonjol lebih ke distal daripada lengkung atas dilihat dari relasi molar pertama permanen (distoklusi). Kelas II divisi 1 : insisivi atas protrusi sehingga didapatkan jarak gigit besar, tumpang gigit besar, dan kurva spee positif.

20

Kelas II divisi 2 : insisivi sentral atas retroklinasi, insisivi lateral atas proklinasi, tumpang gigit besar (gigitan dalam). Jarak gigit bias normal atau sedikit bertambah.

Kelas III : lengkung rahang bawah paling tidak setengah tonjol lebih ke mesial terhadap lengkung atas dilihat dari relasi molar pertama permanen (mesioklusi) dan terdapat gigitan silang anterior.

Maloklusi kelas I Angle disertai A. Gigitan terbuka, B. Berdesakan dan pergeseran garis median, C. Protrusi, D. Gigitan dalam, E. Berdesakan dan edge to edge.

21

Maloklusi kelas II divisi 1

Maloklusi kelas II divisi 2 Angle

Maloklusi kelas III disertai berdesakan

22

E. Hasil Analisis Model pada Skenario a. Bentuk lengkung geligi: normal, berbentuk parabola. b. Relasi molar: relasi kelas I Angle, dengan diastema sentral RA dan gigitan silang anterior dan berdesakan anterior. Atau dapat juga diklasifikasikan sebagai maloklusi kelas I Angle Tipe 1 Dewey. c. Pergeseran garis median: pergeseran 2mm kekiri pada RA dan 3mm kekiri pada RB. d. Relasi caninus: tidak ada relas, karena caninus permanennya hanya ada satu. e. Perpindahan gigi geligi: pada RA, gigi 11 dan 12 bergeser ke mesial, dan pada RB, gigi 41 dan 42 bergeser kearah mesial juga. f. Gigi yang salah letak: gigi 11 (mesio labial rotasi sentrik), gigi 12 (palatoversi), gigi 22 (palatoversi), gigi 41 (rotasi sentrik), gigi 42 (linguoversi). g. Kurve of spee: cekung (positif) yang disebabkan karena adanya kekurangan tempat.

III.2 Etiologi Maloklusi .Keadaan ini terjadi pada awal pertumbuhan atau saat proses pematangan selanjutnya. Menurut Graber, menentukan klasifikasi faktor-faktor etiologi maloklusi yang meliputi : A. Faktor Umum 1. Herediter Lundstorm, meneliti pada anak kembar dan menemukan ciri-ciri yang sama berhubungan dengan keturunan, yaitu:

23

a. ukuran gigi b. panjang dan lebar lengkung c. gigi berdesakan dan diastema d. overjet Faktor keturunan juga berperan pada keadaan-keadaan sebagai berikut ini: a. kelainan kongenital b. asimetri muka c. macrognatia dan micrognatia d. oligodonti dan anodonti e. variasi ukuran gigi f. cleft palate dan harelip g. frenulum h. deep overbite i. gigi berdesakan dan rotasi j. retrusi mandibula k. prognansi mandibula

Pada ras yang berbeda memiliki bentuk kepala yang berbeda. Pada individu dengan bentuk muka yang lebar memiliki bentuk lengkung rahang yang lebar pula, demikian juga pada bentuk muka sempit terdapat lengkung rahang yang sempit pula. 2. Kelainan kongenital Kelainan kongenital sangat berhubungan dengan keturunan. Contoh kelainan kongenital: celah palatum dan celah bibir. Pada unilateral celah gigi-gigi ada daerah/sisi celah ters tetapi biasanya terdapat cross bite, gigi rahang atas malposisi, gigi insisiv lateral mungkin missing tau bentuknya tidak normal. Contoh lain: cerebral palsy, torticollis, cleidocranial dysostosis, dan syphilis congenital. 3. Lingkungan

24

a. Lingkungan prenatal Posisi abnormal pada fetus dapat menyebabkan cacat cranial atau simetri muka. Diet dan metabolism ibu dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan. Obat-obatan, trauma dan German Measles, menyebabkan kelainan kongenital dan maloklusi. b. Lingkungan postnatal Proses kelahiran dengan forceps, kecelakaan, jatuh yang

mengakibatkan fraktur pada kondil dapat menyebabkan asimetri muka. Luka bakar juga dapat menyebabkan maloklusi. 4. Disharmoni Dento Maxilar ( DDM ) Disharmoni dentomaksiler merupakan disproporsi besar gigi dengan lengkung geligi. Faktor utama penyebab DDM adalah faktor herediter atau keturunan, misalnya seorang anak mewarisi ukuran gigi ibunya yang cenderung berukuran kecil dan anak tersebut mewarisi ukuran lengkung geligi ayahnya yang berukuran relatif besar. Sehingga terjadi diastema menyeluruh dikarenakan disproporsi ukuran gigi dan lengkung geligi. Selain itu ada beberapa faktor lain yang juga mendukung timbulnya kelainan ini, yaitu faktor lokal seperti gaya hidup, misalnya anak tersebut kurang mengkonsumsi makanan keras sehingga pertumbuhan rahang kurang maksimal, dan ukuran rahang menjadi lebih kecil dari ukuran yang seharusnya. Hal ini menyebabkan DDM tipe transitoir. Pada DDM tidak harus terjadi pada kedua rahang ataupun pada kedua sisi, DDM bisa terjadi hanya pada salah satu sisi ataupun pada salah satu rahang. Namun pada umumnya DDM lebih sering terlihat pada rahang atas, karena lengkung rahang untuk tempat erupsi gigi permanen pada rahang atas hanya terbatas pada tuberositas maksila saja, sedangkan pada rahang bawah sampai pada ramus ascenden. DDM dibagi menjadi tiga tipe, yaitu: a. Tipe berdesakan, merupakan keadaan yang sering dijumpai yaitu ukuran gigigigi yang berukuran besar pada lengkung geligi yang normal, atau ukuran gigi

25

normal pada lengkung geligi yang kecil sehingga menyebabkan letak gigi berdesakan.

b. Diastema menyeluruh, tidak adanya harmoni antara besar gigi dan lengkung
gigi yaitu ukuran gigi kecil dengan lengkung geligi normal ataupun ukuran gigi normal dengan lengkung geligi yang besar.

c. Tipe transitoir, ketidakharmonisan erupsi gigi dengan pertumbuhan tulang,


yang menyebabkan gigi berdesakan. DDM tipe transitoir ini bias terkoreksi seiring bertambahnya usia karena pertumbuhan tulang rahang dan ukuran gigi tetap, sehingga keterlambatan pertumbuhan, maka tidak dianjurkan melakukan pencabutan karena dapat menyebabkan diastema. Untuk mendiagnosa DDM tipe transitoir bias dilakukan perbandingan antara gambaran normal gigi geligi saat itu dengan gambaran dari gigi pasien.

5. Gangguan metabolisme Exanthematous fevers, dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan gigi, yaitu dapat mempengaruhi waktu erupsi, resorbsi dan tanggal premature. Penyakit-penyakit dengan gangguan fungsi otot seperti dystrophy otot dan serebral palsy, dapat menyebabkan efek pada lengkung gigi. Penyakit dengan efek paralysis seperti poliomyelitis juga dapat menyebabkan maloklusi, yaitu dapat menyebabkan anteroposterior discrepancy. 6. Problema diet Gangguan seperti penyakit rickets, scurvy dan beri-beri dapat menyebabkan maloklusi ringan. Problema utamanya adalah terjadi gangguan waktu pertumbuhan gigi, yaitu akan terjadi tanggal premature, erupsi gigi permanen yang lama, kesehatan jaringan yang buruk dan pola erupsi yang abnormal yang dapat menimbulkan maloklusi. Cronic alcoholism dan gangguan metabolisme yang menyebabkan penggunaan zat-zat esensial oleh tubuh terganggu, yang menyebabkan terjadi malnutrisi. 7. Kebiasaan jelek (abnormal pressure habits)

26

Tulang merupakan jaringan yang responsive terhadap tekanan. Peranan otot sangat menentukan. Bila terjadi malrelasi RA dan RB fungsi normal otot terganggu, akan terjadi aktivitas adaptasi dari otot-otot. Gangguan kseimbangan tekanan intra dan ekstra oral akan menyebabkan maloklusi. Penelanan abnormal dapat menyebabkan gigi anterior terbuka dan gigi anterior terdorong ke labial. 8. Posisi tubuh Posisi tubuh yang kurang baik dapat menimbulkan maloklusi. Posisi dimana kepala menggantung dengan dagu menempel di dada, menyebabkan mandibula retrusi. Kepala diletakkan pada tangan, tidur pada lengan dan guling dapat menyebabkan maoloklusi. 9. Trauma dan kecelakaan Gigi sulung non vital akibat trauma memiliki pola resorbsi abnormal dan dapat mempengaruhi gigi penggantinya. Gigi non vital harus diperiksa secara radiografi pada interval waktu tertentu untuk mengetahui resorbsi akar dan kemungkinan terjadinya infeksi apical. B. Faktor local 1. Anomali jumlah gigi Kelainan jumlah gigi merupakan salah satu penyebab terjadinya maloklusi gigi, dibandingkan dengan faktor etiologi yang faktor ini relatif lebih jarang ditemukan karena etiologi dari adanya kelainan jumlah gigi sangat terpaut dengan adanya faktor herediter atau keturunan. Kelainan jumlah gigi secara garis besar terdiri dari: a. Kelebihan jumlah gigi Kelebihan jumlah gigi pada lengkung rahang biasanya dapat menyebabkan suatu keadaan yang crowded atau berdesakan. Frekuensi terbesar dari kelainan ini adalah adanya kelebihan jumlah gigi yang terdapat diantara kedua insisvus sentral yang biasanya disebut dengan mesiodens, gigi ini bila erupsi tepat pada sutura palatine maka akan 27

menyebabkan terjadinya diastema sentral yang cukup besar, namun bila mesiodens erupsinya dibagian palatinal maka akan menyebabkan crowded. Terkadang ditemukan pula mesiodens yang tidak erupsi, jika terjadi hal yang demikian maka biasanya disebut dengan dentigerous cyst, apabila keberadaannya tidak mengganggu dan tidak terjadi keluhan oleh penderita maka keadaan ini dibiarkan saja. Mesiodens yang mampu erupsi terkadang memiliki bentuk dan ukuran yang tidak normal (konus). Selain mesiodens gigi syang sering mengalami kelainan kelebihan jumlah gigi dalah latordens (terdapat diantara insisivus sentral dan insisivus lateral), para premolar (terdapat diantara gigi premolar) dan para molar (terdapat diantara gigi-gigi molar). b. Kekurangan jumlah gigi Kekurangan jumlah gigi atau hipodonsia adalah tidak tumbuhnya satu atau lebih elemen gigi yang secara normal dijumpai pada gigi geligi akibat agenesis yaitu tidak terbentuknya benih gigi. Agenesis dapat terjadi pada satu atau lebih elemen dimana bila terjadi pada beberapa gigi disebut dengan agenesis soliter (satu atau dua gigi) dan dikatakan oligodonsia bila agenesis terjadi pada multi elemen. Namun kekurangan jumlah gigi yang disebabkan oleh karena retensi (tidak dapat erupsi), ekstraksi atau trauma tidak dikategorikan dalam hipodonsia. Umumnya kelainan ini disebut dengan aginisi. Aginisi yang paling sering terjadi secara berurutan adalah molar ketiga pada rahang atas dan rahang bawah, insisivus lateral rahang atas, premolar kedua rahang bawah, insisivus lateral rahang bawah, dan terakhir premolar kedua rahang atas, namun tidak menutup kemungkinan terjadinya aginisi pada gigi-gigi yang lain mengingat etiologi dari kelainan ini adalah faktor keturunan. Kekurangan jumlah gigi selain aginisi dapat juga disebabkan oleh faktor trauma sehingga gigi permanen tanggal pada usia muda, biasanya sering terjadi pada insisivus sentral rahang atas. 2. Anomali ukuran gigi

28

Sama dengan kelainan jumlah gigi, kelainan ukuran gigi juga disebabkan oleh faktor keturunan. Kelainan ini dapat mempengaruhi perkembangan oklusi gigi geligi karena terdapat ketidakharmonisan antara ukuran gigi dengan ukuran rahang. Secara garis besar kelainan dapat dikelompokkan menjadi: a. Makrodonsi Istilah makrodonsi dapat diartikan gigi yang ukurannya melebihi ukuran gigi normal. Kelainan ini menyebabkan kekurangan tempat pada lengkung rahang sehingga elemen-elemen pengganti terakhir tidak dapat tumbuh pada tempat yang salah. Maloklusi yang ditimbulkan oleh kelainan ini adalah gigi geligi akan tumbuh saling berdesakan. b. Mikrodonsi Merupakan kebalikan dari makrodonsi, gigi-gigi yang mengalami mikrodonsi adalah gigi-gigi yang ukurannya lebih kecil dari normal, biasanya kelainan mikrodonsi ini diikuti oleh kelainan bentuk gigi. Maloklusi yang diakibatkan adalah diastema patologis pada daerah gigi yang mengalami mikrodonsi, bahkan apabila terjadi lebih satu gigi maka akan menyebabkan diastema multiple. 3. Anomali bentuk gigi Kelainan ini sangat erat hubungannya dengan kelainan ukuran gigi. Frekuensi paling sering terjadi adalah insisivus sentral rahang atas dan premolar kedua rahang bawah biasanya terdapatnya extra lingual cusp. Etiologi dari kelainan ini adalah faktor keturunan dan faktor-faktor kelainan pertumbuhan misalnya delelopmental defect, amelogenesis imperfect, hipoplasia, germination dan Hutchinsons. 4. Frenulum labial yang tinggi Frenulum labial yang tinggi pada rahang atas terkadang dapat menyebabkan malposisi dari gigi, terutama pada kedua gigi insisivus sentral. Frenulum labial pada masa bayi, normalnya mempunyai daerah perlekatan yang rendah di dekat puncak prosesus alveolaris diatas garis

29

tengah. Pada fase geligi sulung frenulum labial sering terlihat melekat pada prosesus alveolaris diantara gigi-gigi insisisvus sentral rahang atas. 5. Tanggal premature gigi sulung Salah satu fungsi dari gigi sulung adalah menyediakan tempat bagi gigi permanen penggantinya dan secara tidak langsung juga

mempertahankan panjang lengkung geligi. Penyebab kelainan ini adalah karies dan trauma. 6. Letak salah benih Pada umumnya letak salah benih menyababkan erupsi gigi yang bersangkutan tidak pada lengkung yang benar. Secara klinis letak salah benih biasanya ditandai dengan adanya rotasi atau versi, dimana rotasi merupakan sumbu gigi pada arah vertical sedangkan versi adalah perputaran sumbu gigi dalam arah horizontal. 7. Persistensi Persistensi dapat didefinisikan sebagai gigi sulung yang tidak tanggal dimana gigi permanen penggantinya sudah mulai erupsi, jadi jelas kelainan ini haya terjadi pada gigi sulung saja. 8. Karies proksimal Karies pada daerah proksimal merupakan etiologi local dari terjadinya maloklusi karena apabila daerah proksimal mengalami karies dan tidak dirawat maka akan terjadi pergeseran gigi-gigi sebelahnya menuju daerah yang kosong dan hal ini akan mengakibatkan terjadinya pemendekan lengkung rahang sehingga apabila gigi permanen pengganti telah erupsi semua akan terjadi kekurangan tempat. 9. Pengaruh jaringan lunak Tekanan dari otot bibir, pipi dan lidah memberi pengaruh yang besar terhadap letak gigi. Meskipun tekanan dari otot-otot ini jauh lebih kecil daripada tekanan otot pengunyah tetapi berlangsung lebih lama. Menurut penelitian tekanan yang berlangsung selama 6 jam dapat 30

mengubah letak gigi. Dengan demikian dapat dipahami bahwa bibir, pipi dan lidah yang menempel terus pada gigi hampir selama 24 jam dapat sangat mempengaruhi letak gigi. Tekanan dari lidah, misalnya karena letak lidah pada posisi istrahat tidak benar atau karena adanya makroglosi dapat mengubah keseimbangan tekanan lidah dengan bibir dan pipi sehingga insisivus bergerak ke labial. Dengan demikian patut dipertanyakan apakah tekanan lidah dapat mempengaruhi letak insisivus karena meskipun tekanannya cukup besar yang dapat menggerakkan gigi tetapi berlagsung dalam waktu yang singkat. Bibir yang telah dioperasi pada pasien celah bibir dan langit-langit kadang-kadang mengandung jaringan parut yang selain tekanannya yang besar oleh karena bibir pada keadaan tertentu menjadi pendek sehingga memberi tekanan yang lebih besar dengan akibat insisivus tertekan ke palatal. 10. Faktor iatrogenic Pengertian kata iatrogenik adalah berasal dari suatu tindakan profesional. Perawatan ortodontik mempunyai kemungkinan terjadinya kelainan iatrogenik. Misalnya, pada saat menggerakkan kaninus ke distal dengan peranti lepasan tetapi karena kesalahan desain atau dapat juga saat menempatkan pegas tidak benar sehingga yag terjadi gerakan gigi kedistal dan palatal. Contoh lain adalah pemakaian kekuatan yang besar untuk menggerakkan gigi dapat menyebabkan resobsi akar gigi yang digerakkan, resobsi yang berlebihan pada tulang alveolar selain kematian pulpa gigi. Kelainan jaringan periodontal dapat juga disebabkan adanya perawatan ortodontik, misalnya gerakkan bibir kearah labial/bukal yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya dehiscence dan fenestrasi. III.3 Rencana Perawatan Ortodonsia sesuai Kartu Status 1. Ekstraksi Seri Ekstraksi seri merupakan suatu metode untuk melakukan perawatan orthodonti dalam periode geligi campuran (mixed dentition) untuk mencegah terjadinya maloklusi pada gigi - gigi tetap (permanent

31

dentition) dengan jalan melakukan pencabutan gigi - gigi yang dipilih pada interval waktu yang tertentu serta menurut cara - cara yang telah dilaksanakan dengan observasi dan diagnosa yang tepat dan teliti sehingga merupakan suatu prosedur yang memerlukan kesabaran dan penelitian yang lama tanpa memakai alat orthodonti. Jadi, merupakan suatu cara untuk mendapatkan koereksi sendiri (self correction). (Buku Ajar Orthodonsi 2. 2003. 67) Indikasi dan kontraindikasi Ekstraksi Seri: Indikasi : a. Adanya Disharmony Dento-Maksiler. b. Pada fase geligi pergantian. c. Perawatan hanya dapat dilakukan bila diyakini bahwa basis apical terlalu kecil untuk memuat semua geligi dalam lengkung yang rata. d. Protrusi bimaksilar. e. Pada maloklusi kelas I. f. Pada maloklusi kelas II divisi 1. g. Tanggal gigi sulung satu atau lebih yang mengakibatkan lengkung gigi menjadi pendek.

Kontraindikasi : a. Maloklusiklas I angle dengan kekurangan tempat yang kecil (sedikit berdesakan). b. Ada mutilasi. c. Deep overbite atau open bite. d. Maloklusi kelas II divisi 2 dan kelas III.

Kemungkinan tindakan dalam Ekstraksi Seri: Pelaksanaan ekstraksi seri yang mungkin dilakukan sebagai berikut : a. Kaninus sulung > m1 > P1 b. Kaninus sulung > P1

32

Pencabutan kaninus sulung: a. Untuk member tempat bagi insisif permanen agar dapat terletak baik dalam lengkung. b. Perlu dipikirkan untuk tempat C permanen >setelah + 1 th, I permanen terletak baik, perlu dilakukan foto lokal, bila semua benih ada dan letaknya baik > tentukan rencana perawatan selanjutnya.

Pencabutan m1 & P1: a. Di RA tidak dilakukan pencabutan m1, karena biasanya P1 lebih dulu dari caninus > biarkan erupsi sendiri dengan meresopsi m1. b. Di RB > kaninus sering erupsi lebih dahulu dari P1.

Pencabutan P1 : a. Dilakukan bila kaninus permanen sudah waktunya erupsi, sebab kalau terlalu cepat dicabut kemungkinan besar M1 dan m2 akan bergeser ke mesial sehingga tempat untuk kaninus permanen menjadi berkurang. Dapat dilakukan ekstraksi seri gigi 52 dan 82 sesuai pada kasus. 2. Koreksi berdesakan: dapat digunakan alat kantilever aktif 3. Koreksi garis median 4. Koreksi diastema: dapat digunakan alat kantilever aktif 5. Koreksi gigitan silang: dapat digunakan alat kantilever ganda.

33

BAB IV KESIMPULAN

1. Cara diagnosis ortodonsia sesuai dengan kartu status ada empat macam, yaitu analisis umum, analisis local, analisis fungsional dan juga analisis model. 2. Etiologi maloklusi dapat berupa factor umum, seperti: herediter, kelainan congenital, lingkungan, Disharmoni Dento Maxilar ( DDM ), gangguan metabolism, problema diet, kebiasaan jelek (abnormal pressure habits), posisi tubuh, dan juga trauma dan kecelakaan. Atau dapat berupa factor local, seperti: anomali jumlah gigi, anomali ukuran gigi, anomali bentuk gigi, frenulum labial yang tinggi, tanggal premature gigi sulung, letak salah benih, persistensi, karies proksimal, pengaruh jaringan lunak, dan juga faktor iatrogenic. 3. Rencana perawatan ortodonsia pada scenario sesuai kartu status yaitu ekstraksi seri, dilanjutkan koreksi berdesakan, koreksi garis median, koreksi diastema danyang terkahir koreksi gigitan silang.

34

DAFTAR PUSTAKA

Foster, T.D. 1997. Buku ajar ortodonsi edisi III. Jakarta: EGC. Graber, T.M. 1972. Orthodontics, Principles and Practice, 3rd ED. Philadhelphia, London, Toronto: W.B. Saunders Co. Herniyati, dkk. 2012. Buku Ajar Ortodonsia I Edisi Pertama. Jember: FKG UNEJ. Kusnoto, H. 1977. Penggunaan Sefalometri Radiografi dalam bidang Orthodonti. Jakarta: Bagian Orthodonti, Fakultas Trisakti.

Moyers, R.E. 1988. Handbook of Ortodontics, 4th Ed. Chicago, London, Boca Raton: Year Book Medical Publisher, Inc. Proffit, W.R.,Fields, H.W., Ackermann, J.L., Thomas, P.M. and Camilla Tulloch, J.F. 1986. Contemporary Orthodontics. Toronto, London: The C.V. Mosby Co,. St. Louis. Rahardjo, Pambudi. 2009. Peranti Ortodonti Lepasan. Surabaya: Airlangga University Press. Rahardjo, Pambudi. 2009. Ortodonti Dasar. Surabaya: Airlangga University Press. Salzmann, J.A. 1950. Principles of Orthodontics, 2nd Ed. Philadelphia, London: J.B. Lippincott Co.

35